Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

GANGGUAN PSIKOLOGI PADA MASA REPRODUKSI


(MENSTRUASI)

DISUSUN OLEH:
RESKI
02171276

TUGAS
PSIKOLOGI KEBIDANAN
DOSEN : ANDI SITTI UMRAH, S.ST., M.Keb.

AKADEMI KEBIDANAN MUHAMMADIYAH


PALOPO
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehairat Allah SWT, berkat rahmat dan
hidayahnya kami sebagai penulis telah berhasil menyelesaikan makalah yang
membahas tentang “Gangguan Psikologi pada Masa Reproduksi Menstruasi”
dengan baik dan semaksimal mungkin dalam penyusunan makalah ini tidak
sedikit masalah hambatan-hambatan yang penulis hadapi namun penulis sadar
bahwa kelancaran dari penyusunan dari makalah ini juga di dorong oleh adanya
bantuan dari internet dan teman-teman seperjuangan sehingga berbagai kendala-
kendala penulis akhirnya dapat teratasi oleh karena itu kami sebagai penulis saling
berterima kasih sesama teman seperjuangan karna berkat adanya kekompakan
dalam menyelsaikan makalah sehingga berbagai kesulitan dan hambatan dapat
teratasi.
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengeahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik. Oleh karena itu saya
sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Palopo, 19 November 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

JUDUL HALAMAN
KATA PENGANTAR…………………………………………………… i
DAFTAR ISI…………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN…………………………….…………………. 1
A. Latar Belakang………………………………………………………... 1
B. Tujuan Penulisan……………………………………………………... 2
C. Manfaat Penulisan…………………………………………………… 2
D. Sistematika Penulisan………………………………………………... 2
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………… 4
A. Pengertian Menstruasi……………………………..………………….. 4
B. Gejala Patologi yang Menyertai Menstruasi ………………………… 6
1. Komplek Kastrasi ……………………………………………… 6
2. Teori Cloaca ……………………………………………………… 7
3. Phobia …………………………………………………………… 7
4. Hypochondria …………………………………………………… 9
5. Paranoid ………………………………………………………… 11
6. Psychogen aminore ……………………………………………… 12
BAB III PENUTUP………………………………………………………. 13
A. Kesimpulan…………………………………………………………… 13
B. Saran …………………………………………………………………. 13
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menstruasi adalah perdarahan dari uterus karena perubahan
hormonal yang teratur, kira-kira 4 minggu sekali. Menstruasi atau haid
mengacu pada pengeluaran secara periodik darah dan sel-sel tubuh dari
vagina yang berasal dari dinding rahim wanita. Menstruasi dimulai saat
pubetas dan menandai kemampuan seorang wanita untuk mengandung
anak, walaupun mungkin faktor-faktor kesehatan lain yang membatasi
kapasitas ini. Akhir dari kemampuan wanita untuk menstruasi
disebutmenopause dan menandai akhir dari masa-masa kehamilan seorang
wanita.
Menstruasi merupakan bagian dari proses reguler yang
mempersiapkan tubuh wanita setiap bulannya untuk kehahilan. Daur ini
melibatkan beberapa hormon yang di keluarkan oleh hipotalamus, kelenjar
bagian bawah otak depan, lapisan sel rahim mulai berkembang dan
menebal. lapisan ini berperan sebagai penyokong bagi janin yang sedang
tumbuh bila wanita tersebut hamil. Hormon memberi sinyal pada telur
didalam rahim indung telur untuk mulai bergerak menuju tuba fallopi terus
kerahim. Bila telur dibuahi oleh sperma pada saat berhubungan intim
lapisan rahim akan terpisah dari dinding uterus dan mulai meluruh serta
akan di keluarkan melalui vagina. Periode pengeluran darah disebut
mentruasi yang berlangsung 3 hingga 7 hari.
Bila seorang wanita menjadi hamil, menghilangnya menstruasi
bulanan merupakan tanda (walaupun tidak selalu) bahwa seorang wanita
sedang hamil. menstruasi merupakan siklus bulanan yang normal pada
wanita. untuk mengenal premenstruasi lebih dalam perlu dimengerti juga
bagaimana siklus menstruasi itu bekerja. Hal itu sangat penting
diperlukan untuk membantu memprediksi dan mengatasi gejala.

1
2

Secara normal menstruasi berlangsung kurang lebih pada usia 12-


16 tahun. Bahkan ada wanita yang telah mendapat menstruasi pertama
pada usia 8 atau 9 tahun. Presentasi sebesar menstruasiterjdi pada usia 12
tahun. Cepat atau lambatnya kematangan seksual (menstruasi,kematangan
fisik) ini kecuali ditentukan oleh konsitusi fisik individual, juga
dipengaruhi faktor ras, suku bangsa, iklim, cara hidup. badan yang lemah
atau penyakit yang mendera seorang anak gadis, umpamanya bisa
memperlambat tibanya menstruasi
Setiap wanita normal dan sehat yang berusia kurang lebih 12-52
tahun akanMengalami masa menstruasi. Siklus menstruasi yang terjadi
pada setiap wanita tidak sama. Ada yang mengalaminya setiap 28 hari, 25
hari atau 30 hari. Meskipun ada yang mengatakan normalnya 28 hari,dan
masa datangnya sekitar 7 hari, namun kurang atau lebih dari itu, apabila
memang sudah menjadi kebiasaan bagi wanita yang bersangkutan masih di
anggap normal.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas lebih dalam
tentang gangguan psikologi pada masa reproduksi.
kami menulis makalah ini bertujuan untuk membahas lebih dalam
tentang gangguan psikologi pada masa reproduksi.

C. Manfaat Penulisan
1. untuk mengetahui pengertian menstruasi
2. untuk mengetahui apa saja gejala yang menyertai menstruasi.

D. Sistematika Penulisan
1. BAB I PENDAHULUAN
a. Latar belakang
b. Tujuan penulisan
3

c. Manfaat penulisan
d. Sistematika penulisan
2. BAB II PEMBAHASAN
a. Gangguan psikologi pada masa reproduksi
1) Pengertian menstruasi
2) Pengertian komplek kastrasi ( tarauma genetalia)
3) Pengertian Teori cloaca
4) Pengertian Fhobia
5) Pengertian Hypochondria
6) Pengertian Paranoid
7) Pengertian Psychogenaminore
3. BAB III PENUTUP
a. Kesimpulan
b. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Menstruasi (HAID)


Menurut kartini (1995), peristiwa ini paling penting pada masa
pubertas anak gadis ialah gejala menstruasi atau haid yang terjadi
pertanda biologis dari kematangan seksual. Timbullah kini bermacam-
macam peristiwa, yaitu: reaksi hormonal, reaksi biologis dan reaksi
psikis:proses-proses somatis (asmaniah,lawan rokhaniah) atau psikis yang
berlangsung secara siklis/cyclis, dan terjadi penggulangan secara periodik
peristiwa menstruasi. Semua ini bisa berproses dalam suasana hati yang
normal pada anak gadis. Tetapi kadang kala juga bisa berjalan tidak lancar
atau tidak normal (oleh banyak hambatan), dan bisa menimbulkan macam-
macam masalah psikosomatis (penyimpangan-penyimpangandan
gangguan psikis yang menimbulkan gangguan pada kesehatan jasmani).
Secara normal menstruasi berlangsung kurang lebih pada usia 11-16 tahun.
Cepat atau lambatnya kematangan seksual (menstruasi, kematangan fisik)
ini kecuali ditentukan oleh kostitusi fisik imduvidua, Juga dipengaruhi
oleh faktor ras suku bangsa, faktor iklim, cara hidup, dan milieu yang
melingkungi anak. Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang
anak gadis, umpamanya bisa memperlambat tibanyamenstruasi.
Selanjutnya,rangsangan-rangsangan kuat dari luar, umpamanya
saja berupa film-film seks (blue film), buku bacaan dan majalah-majalah
bergambar seks godaan dan ransangan dari kaum pria pengamatan secara
langsung terhadap perbuatan seksual/coitus, semua itu tidak hanya
mengakibatkan memuncaknya atau semakin panasnya reaksi – reaksi
seksual saja, akan tetapi juga, mengakibatkan kematangan seksual
(Suryani & Widyasih, 2009).
Hal yang penting bagi psikologis dalam membahas menstruasi
adalah menstruasi sebagai suatu pengalaman spikis, karena jauh sebelum

4
5

menstruasi itu mulai, setiap anak gadis sudah mempunyai anti sipasi.
Periode antisipasi ini disebut juga periode penantian.Ini segera diakhiri
oleh kematangan dan tibanya haid atau menstruasi (Marmi &Margiyat
2013).
Fase tibanya haid ini merupakan suatu periode dimana wanita
sudah siap secara biologis menjalani fungsi kewanitaannya dan di
terimanya masa kematangan seksual ini dengan senang dan bangga, karena
secara biologis ia sudah dewasa. Namun semakin muda usia si gadis dan
semakin belum siap ia menerima peristiwa haid, akan semakin terasa
kejam mengancam, karena pengalaman menstruasi terasa pahit
menyebalkan sebagai ngangguan sebagai reaksi ketakutakan dalam
anggapan dan fantasi anak gadis tersebut (Marmi & Margiyati 2013).
Gambaran-gambaran khayal yang serba menakutkan dan keliru
mengenai menstruasi itu pada galibahnya mulai timbul pada masa kanak-
kanak. Gambaran-gambaran tersebut merupakan pengertian yang salah dan
kliru terhadap informasi-informasi yang tidak ril, yaitu informasi dari
orang tua yang salah atau kenalan yang penuh tahayul menakutkan yang
sifatnya mengenai pendarahan atau haid.
Menstruasi atau haid atau datang bulang adalah perubahan fisiologi
dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh
hormone reproduksi baik estrogen atau progesteron. Periode ini penting
dalam hal reproduksi .Pada manusia hal ini biasanya terjadi setiap bulan
antara usia remaja sampai menepousei (Marmi & Margiyanti, 2013).
Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari,
walaupun hal ini berlaku umum, tetapi tidak semua wanita memiliki siklus
yang sama, kadang-kadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga tiga puluh
hari. Biasanya menstruasi rata-rata terjadi 5 hari, kadang-
kadangmenstruasi juga dapat terjadi sekitar 2 hari sampai 7 hari
(Psikologi).
Menstruasi merupakan proses biologis yang terkait dengan
pencapain kematangan seks, kesuburan, ketidak hamilan normalitas,
6

kesehatan tubuh, dan bahkan pembahruan tubuh itu sendiri (Abdullah,


2009).
Menstruasi adalah suatu proses pelepasan lapisan dalam dinding
rahim akibat pengaruh hormone yang terjadi secara berkala pada
perempuan usiasubur (Candraadinata, 2009).

B. Gejala Patologi yang Menyertai Mestruasi.


1. Komplek Kastrasi
Komplek kastrasi atau troma genetalia yaitu rekasi psikis
tertentu pada saat haid tertentu.dalam psikoanalisa, trauma genetalia
adalah shock emosional (Dr. Helena Deutsch).
Pada beberapa peristiwa komplek kastrasi ini muncul
gambaran-gambaran fantasi yang aneh-aneh yang darengi kecemasan
dan kekuatan yang tidak riil disertai perasaan yang bersalah pada
kela,im dan proses haidnya. Mesntruasi itu juga di anggap sebagai
kotoran dan hal-hal yang haram dan di pautkan dengan dosa dan hal-
hal yang menjijikan (Marmi & Margiyati, 2013).
Oleh adanya informasi yang salah, kemudian di kembangkan
menjadi suatu reaksi fantasi yang tidak riil, maka proses mensrtuasi
itu kemudian senantiasa dikaitkan dengan bahaya-bahaya tertentu.
Juga dihubungkan dengan kotoran dan hal-hal yang najis haram serta
di pautka dengan dosa dan hal-hal yang menjijikan. Peristiwa ini
sering kita jumpai pada sikap-sikap penuh tahayul.Juga bentuk
kecemasan yang terdapat pada wanita-wanita infantile dan
kecemasan-kecemasan pada penderita neurosa, di penuhi oleh fantasi-
fantasi dan mimpi-mimpi serba menakutkan.Semuanya ada sangkut
pautnya dengan masalah haid (Marmi & Margiyati, 2013).
Gejala yang sering terjadi dan sangat mencolot pada peristiwa
haid pertama ialah kecemasan atau ketakutan di perkuat oleh
keiinginan untuk menolak proses fisologi tadi. Maka pada banyak
7

peristiwa, menstruasi pertama ini di khayati oleh anak gadis sebagai


satu pengalaman traumatis (Marmi & Margiyanti, 2013).

2. Teori Cloaca
Sewaktu haid pertama itu kadang-kadang muncul anggapan
yang keliru, yaitu anggapan yang sesuai dengan teori “cloaca”
(saluran buang atau membuang kotoran tempat bermuaranya saluran
kencing dan usus) yang menyatakan segala sesuatu yang keluar dari
rongga tubuh itu adalah kotor, najis, menjijikan, dan merupakan
tanda-tanda dan tidak suci (Marmi & Margiyanti, 2013).
Atas dasar pandangan yang keliru ini timbul kemudia rasa
malu, rasa diri tidak bersih dan tidak suci, merasa dari kotor bernoda
dan diliputi emosi-emosi negatif lainnya. Dari perasaan negatif
tersebut mungkin akan timbul pula perasaan sangat lemah karena
merasa kehilangan banyak darah dan merasa sakit-sakitan sehingga
tidak berani keluar rumah. Untuk selanjutnya saat menstruasi tersebut
senantiasa di pakai sebagai alas an untuk exeuus agar ia dibebaskan
dari tugas-tugas tertentu atau dipakain untuk menghindari kewajiban-
kewajiban tertentu (Marmi & Margiyanti, 2013).
Dalam situasi demikian haid pertama itu mungkin di khayati
oleh anak sebagai satu proses “mengeluarkan darah kotor dari
tubuhnya” dengan mana ia menyingkir, menyendari atau harus di
isolir (Marmi & Margiyanti, 2013).

3. Phobia
Phobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal
atau fenomena.Phobia bisa di katakana dapat menghambat kehidupan
orang yang menghidapnya.Bagi sebagian orang, perasaan takut
seorang pengidap phobia sulit di mengerti.Itu sebabnya, pengidap
tersebut sering dijadikan bulan-bulanan oleh teman sekitarnya. Ada
perbedaan “bahasa” antar pengamat phobia dengan seorang pengidap
8

phobia. Pengabat phobia menggunakan bahasa logika sementara


seorang pengidap phobia biasanya menggunakan bahasa rasa.Bagi
pengamat terasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan
hewan kecil seperti kecoa atau tikus. Sementara dibayangan mental
seorang pengidap phobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat
besar, berwarna, sangat menjijikan atau menakutkan (Marmi &
Margiyanti, 2013).
Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan
mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus
menerus dengan subjek phobia,hal tersebut berpotensi menyebabkan
terjadinya fiksas-fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental
seseorang menjadi terkunci, yang di sebabkan oleh ketidak mampuan
orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya.
Penyebab lain terjadi fiksasi dapat bula di sebabkan oleh suatu
keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan
sebagainya. Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami
fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian
harinya. Hal tersebut dikarena orang tersebut tidak memiliki saluran
pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut
berinteraksi dengan sumber phobia secara otomatis akan merasa
cemas dan agar “nyaman” maka cara yang paling mudah dan cepat
adalah dengan cara “mundur kembali”/rekresi kepada keadaan fiksasi.
Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi
menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus di
tekan kembali ke bawah sadar (represi).Pola respon tersebut dapat
berkembang terhadap subjek phobia lainnya dan intensitasnya
semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut
akan di pakaian terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu
sebabnya seseorang penderita phobia semakin rentan dan semakin
tidak produktif. Phobia merupakan salah satu dari jenis-jenis
hambatan sukses lainnya (Marmi & Margiyanti,2013).
9

Penyebab phobia belum di ketahui dengan pasti. Para ahli


menduga phobia berkembang dari pengalaman tidak menyenangkan
dimasa kanak-kanak yang berhungan dengan sesuatu yang
menakutkan. Pengalaman ini lalu tersimpan dalam memori dan ketika
ada faktor pencetusnya, ketakutan itu akan muncul kembali. Adapun
jenis-jenis phobia adalah sebagai berikur:
a. Phobia spesifik
Phobia spesifik adalah penyakit kecemasan yang sering
terjadi. Beberapa phobia spesifik antara lain sperti taku binatang,
kegelapan, orang asing, ketinggian dan lain-lain.
b. Phobia sosial
Kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang
serasi dengan lainya melibatkan berbagai aspek kehidupan.
Kecemasan tertentu dalam situasi sosial adalah normal, tetapi
penderita phobia sosial merupakan kecemasan yang berlebihan,
sehingga mereka menghindari situasi sosial atau menghadapinya
dengan penuh tekanan (Marmi & Margiyanti, 2013).

4. Hypochondria
Hypochondria adalah rasa batin atau hati yang sangat tertekan
dan kemurungan yang bersifat patologis, kadang-kadang dibarengi
dengan kekuatan-kekuatan yang tidak beralasan terhdap kesehatannya
dan di ikuti fantasi-fantasi sakit mengenai kegagalan diri (Marmi &
Margiyanti, 2013).
Hypochondriasis juga dapat di artikan sebagai gangguan
dimana seseorang di sibukkan dengan rasa takut mengalami penyakit
serius (Marmi & Margiyanti, 2013).
Hypochondriasis terjadi paling sering di anatar usia 20 dan 30
tahun dan tampak mempengaruhi dua jenis kelamin secara seimbang.
Beberapa orang dengan hypochondriasis juga mengalami depresi atau
kegelisahan.
10

Pada hypochondriasis, perhatian orang tersebut mengenai


penyakit serius sering kali di dasarkan pada salah tafsir pada fungsi
normal tubuh. pemeriksaan dan penetraman hati kembali oleh dokter
untuk menghilangkan perhataian mereka, orang dengan
hypochondriasis cenderung untuk percaya bahwa dokter bagaimana
pun juga telah gagal menemukan penyakit yang mendasari (Marmi &
Margiyanti, 2013).
a. Penyebab
Tubuh manusia normal secara terus menerus menghasilkan
berbagai sensasi dan gejala sakit disini, kedutan disana.kebanyakan
orang tidak pernah meliahat ini, mengabaikannya atau
memperlakukan mereka seabagai, sensasi umum sehari hari yang
mereka rasakan seperti biasanya. Tapi bila anda memiliki penyakit
hypochondria, setiap sensasi atau gejala, tidak peduli seberapa
kecil, adalah bukti kepada anda bahwa anda memiliki penyakit
yang serius atau mengancam jiwa. Sakit kepala misalnya, sinyal
tumor otak. Sebuah tangan gemetar sinyal penyakit Parkinson
bentuk kanker paru paru (Marmi & Margiyanti, 2013).
Kenapa satu orang bisa mengabaikan sensasi tubuh umum
sementara yang lain dengan hypochondria menjadi murung tidak
diketahui tidak diketahi penyebabnya secara spesifik.beberapa
ahli percaya bahwa penyakit hypochondria adalah jenis gangguan
obsesif-kompulsif, dan penelitian lebih lanjut dapat mengunkap
koneksi dan kemunkinan penyebabnya (Marmi & Margiyanti,
2013).
Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa
perlawanan alami tubuh-atau-respon mungkin sebabagai
bertanggung jawab yang menyebabkan penyakit hypochondria.
Orang dengan keadaan murung sering merasa cemas.kecemasan
dapat menyebabkan rangsangan fisiologi dalam tubuh (Marmi &
Margiyanti, 2013).
11

Yang mengcangkuppeningkatan, denyut jantung, sesak


nafas, berkeringat, mual, pusing dan sensasi lainnya.bila anda
memiliki penyakit hypochondria, anda salah menafsirkan tanda
tanda dan gejala sebagai bukti lebih lanjut dari penyakit, yang
meningkatkan kecemasan, dan pada gilirannya, mengitensifkan
gejala anda, menciptakan lingkaran (Marmi & Margiyanti, 2013).

b. Pengobatan
Pengobatan hypochondriasis adalah sulit, karena seseorang
dengan hypochondriasis diyakinkan bahwa sesuatu di dalam tubuh
adalah kesalahan serius. Penentraman hati tidak menghilangkan
perhatian ini. Meskipun begitu, hubungan kepercayaaan dengan
dokter yang perduli adalah bermanfaat, khususnya jika jadwal
kunjungan yang teratur. Jika gejala gejala orang tersebut tidak
cukup hilang,orang tersebut bisa menerima manfaat dari referral
kepada terapis untuk penelitian dan pengobatan lebih lanjut,dengan
melanjutkan perawatan dokter primer.pengobatan dengan
penghambat reuptoke-serotonin, kelas anti depresan,kemunkinan
efektif. Terapi cognitive-behavior bisa juga meringankan gejala
gejal (Marmi & Margiyanti, 2013).

5. Paranoid
Paranoid adalah bentuk gejala delusi diman seseorang
memiliki keyakinan palsu yang berproses menjadi rasa curiga
berlanjut dan tidak terkendali, dimana hal tersebut hanya dilandasi
alur logika yangabserut serta berlawanan dengan kondisi nyata.
Pengertian paranoid juga dapat berarti kelainan jiwa yang
disebabkan oleh ketakutan yang amat sangat. Ketakutan dapat muncul
karena seseorang membayangkan kejadian yang sudah terjadi dimasa
lalu, atau kejadian yang mungkin terjadi dimasa depan (Marmi &
Margiyanti, 2013).
12

Gangguan paranoid dapat ditimbulakan oleh lingkungan yang


mencekam dan mengharuskan pribadi itu hidup dalam ketakutan yang
berkepanjangan. Gangguan kepribadain paranoid juga dapat
disebabkan oleh pengalaman masa kcil yang buruk di tamba dengan
keadaan lingkunganyang dirasa mengancam. Pola asuh dari orang tua
yang cenderung tidak menumbuhkan rasa percaya antara anak dengan
orang lain juga dapat menjadi penyebab dari berkembangnya
gangguan ini.pada akhirnya benaknya penuh kekuatan dan untuk
melindunggi diri kemudian kemungkinan datangnya bahaya, maka ia
senan tiasa berjaga jaga mencurigai orang lain (Marmi & Margiyanti,
2013).

Beberapa gejala yang ditunjukkan dalam gangguan


kepribadian paranoid antara lain adalah:
a. Kecuriagaan yang sangat berlebihan.
b. Meyakini akan adanya motif motif tersembunyi dari orang lain.
c. Merasa akan dimanfaatkan atau dihianati oleh orang lain.
d. Ketidak mampuan dalam melakukan kerja sama dengan orang
lain.
e. Isolasi sosial.
f. Gambaran yang buruk mengenai diri sendiri.
g. Sikap tidak terpengaruh.
h. Rasa permusuhan.
i. Secara terus menerus menanggung dendam yaitu dengan tidak
memafkan kerugian, cedera tau kelalaian.
j. Mersakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak
tampak dari orang lain dan dengan cepat bereaksi secara marah
dan balas menyerang.
k. Enggan untuk menceritakan rahasia orang lain karena rasa takut
yang tidak perlu bhawa informasi akan digunakan secara jahat
untuk melawan dirinya.
13

l. Kurang memiliki rasa humor (Marmi & Margiyanti, 2013).


6. Psychogene amonorrhe
Psychogene amonorrhe adalah tertundaknya atau terhentinya
haid yang bersifat patologis karena gangguan psikis. Jika anak gadis
pada haid pertamanya terjadi penolakan, maka kejadian ini bisa
mengakibatkan proses pengereman fungsional dan pengereman tadi
berubah jadi retensi pada menstruasi (keberhentian haid). hal ini
diakibatkan oleh reaksi dari kejutan atau reaksi shcok yang dialami
oleh gadis remaja ketika mengalami perdarahan atau menstruasi yang
pertama. Tapi pada usia yang lebih tua penolakan tersebut bisa
menimbulkan penyakit psychogene amenorrhea. Gangguan fungsional
pada psychogene amenorrhea pada umumnya sulit di sembuhkan
dengan pengobatan fisik atau pengobatan organis. Biasanya penyakit
ini hanya dapat diobati dengan terapi psikis (Marmi & Margiyanti,
2013).
14

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut kartini (1995), peristiwa ini paling penting pada masa
pubertas anak gadis ialah gejala menstruasi atau haid, yang terjadi
pertanda biologis dari kematangan seksual. Timbullah kini bermacam-
macam peristiwa, yaitu: reaksi hormonal, reaksi biologis dan reaksi
psikis:proses-proses somatis (asmaniah,lawan rokhaniah) atau psikis yang
berlangsung secara siklis/cyclis, dan terjadi penggulangan secara periodik
peristiwa menstruasi. Beberapa gejalan patologi yang menyertai mestruasi.
1. Komplek kastrasi
2. Teori cloaca
3. Phobia
4. Hypochondria
5. Paranoid
6. Psychogene amenorrhe
B. Saran
Diharapkan dapat mengetahui tentang beberapa pengertian
menstruasi dan beberapa gejala patologi yang menyertai menstruasi.
15

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. (2009). Mitos menstruasi :Yogyakarta. Pustaka pelajar

Marmi,& Margiyanti. (2013). Pengantar psikologi kebidanan.Yogyakarta. Pustaka


pelajar.

Proverawati, A., & Misaroh, S. (2009). Menarche Menstruasi pertama penuh


makna. Yogyakarta: Nuha Medika.

Chandraadinata. (2009) Psikologi. Bandung. Erlangga.

Suryani, E., & Widyasih, H. (2009).Psikologi ibu dan anak.yogyakarta: fitramaya.