Anda di halaman 1dari 10

Tahapan dalam persalinan

Proses persalinan dibagi dalam 4 kala, yaitu :

1. Kala I persalinan
Kala I persalinan, tahap dilatasi servik dimulai dengan awitan kontraksi persalinan
yang teratur dan diakhiri dengan dilatasi serviks secara lengkap. Tahap ini dibagi dalam 3
fase yaitu : laten, aktif dan transisi.

Selama kala I persalinan, dilatasi lengkap pada serviks (10 cm) secara perlahan
diperoleh. Kemajuan diltasi serviks lebih cepat pada multipara dibandingkan primipara.
Kala I persalinan dibagi dalam 3 fase, yaitu :
1.) Fase Laten
Fase laten diawali dengan kontraksi uterus, berlangsung selama beberapa dan
mencapai pelunakan, penipisan, dan sedikit dilatasi (3-4 cm) serviks
2.) Fase Aktif
Dengan mulainya fase aktif, intensitas dan lama kontraksi terjadi lebih sering
yaitu setiap 3-5 menit. Fase ini berakhir ketika dilatasi serviks mencapai sekitar 7
cm. Ketika dilatasi serivks 5 cm, ibu telah memasuka setengah waktu persalinan,
meskipun 10 cm mewakili dilatasi penuh. Pada saat itu rata-rata lebih dari 2/3
proses persalinan telah dilalui
3.) Fase Transisi
Fase transisi dimulai ketika serivks mengalami dilatasi lengkap, yaitu 8-10 cm dan
dicirikan dengan kontraksi uterus yang intens terjadi setiap 2-3 menit

Dua perubahan penting yang terjadi dalam serivks selama kala II persalinan, yaitu
penipisan dan dilatasi :

1.) Penipisan serviks


Penipisan serviks adalah penipisan dan pemendekan saluran serviks dari strukturnya
sepanjang 2-3 cm dan tebal sekitar 1 cm sampai menjadi struktur yang sama sekali
tidak memiliki saluran, kecuali sebuah lubang melingkar dengan tepi hamper setipis
kertas. Akan tetapi, lubang serviks internal terbaik beberapa sentimeter ke atas,
sehingga bentuk saluran endoserviks menjadi bagian dari segmen bawah uterus.
Pada primigravida, penipisan seringkali lengkap sebelum dilatasi dimulai,
tetapi ada multipara penipisan jarang terjadi secara lengkap, dilatasi berlangsung
dengan tepi serviks yang agak tebal.
Istilah obliterasi dan taking up pada serviks memiliki persamaan dengan
penipisan. Penipisan serviks diukur selama pemeriksaan panggul dengan
memperkirakan pada serviks yang memiliki panjang 2 cm sebelum persalinan,
menunjukkan telah terjadi 50% penipisan saat panjang serviks menjadi 1 cm.

2.) Dilatasi Serviks


Dilatasi serviks adalah pelebaran lubang servikal dari sebuah lubang berukuran
beberapa mili-liter sampai cukup besar untuk melewati janin yaitu diameter sekitar 10
cm. saat serviks tidak dapat lagi diraba, dilatasi dikatakan lengkap.
Pengukuran dilatasi serviks dalam sentimeter dilakukan selama pemeriksaan panggul
dengan memperkirakan diameter lubang serviks melalui pemeriksaan digital
(menggunakan jari). Karena dilatasi serviks pada kala I persalinan semata-mata
merupakan hasil konstruksi uterus secara involunter, proses ini tidak dapat dipercepat
oleh maternal dengan mengejan. Ibu harus dicegah agar tidak mengejan samapai
dilatasi serviks 10 cm, sebab upaya mengejan dapat membuatnnya lelah dan
menyebabkan serviks menjadi edema.

2. Kala II Persalinan

Kala II persalinan, tahap panggul dimulai dengan dilatasi serviks secara


lengkap dan diakhiri dengan pelahiran atau kelahiran bayi. Selama kala II
persalinan, intensitas kontraksi meningkat, berlangsung selama 50-70 detik,
dan terjadi pada interval 2 atau 3 menit. Jika ketuban belum pecah, maka
pecah ketuban sering kali terjadi pada awal kala ini dengan semburan cairan
ketuban dari vagina. Pada kasus yang jarang, bayi baru lahir dilahirkan dalam
“caul”, yaitu bagian selaput ketuban yang membungkus kepala bayi baru lahir.
Saat kepala janin atau bagian presentasi, janin menurun dan mencapai
dasar perineum, bagian peresentasi janin menekan saraf sakralis dan sarag
obturatorius, sehingga menyebabkan ibu merasakan desakan untuk mengejan,
dan otot abdomen dibuat menegang. Saat kontraksi berlangsung, wanita
menegang atau “mengejan” dengan seluruh kekuatannya, sehingga wajah
memerah dan pembuluh besar dilehernya mengalami distensi. Akibat
pengerahan tenaga ini, ia akan berkeringat sangat banyak.
Selama kala ini, wanita mengerahkan seluruh tenaganya untuk
melahirkan bayi. Terdapat tekanan yang jelas pada area perineum dan rectum,
dan desakan untuk mengejan biasanya diluar control wanita. Ketika bagian
presentasi fetal mendistesinkan dasar panggul, reseptop regangan memicu
pelepasan oksitosin endogen. Dengan demikian, desakan untuk mengejan
lebih dipengaruhi oleh letak janin dibandingkan dengan dilatasi serviks
Menjelang akhir kala II, tekanan kepala janin kebawah pada vagina
menyebabkan menjadi meregang dan menonjol dan seringkali pertikel kecil
dari materi feses dikeluarkan dari rectum pada setiap kontraksi. Setelah kepala
lebih jauh turun, daerah perineum mulai menggembung dan kulit perineum
menjadi tegang dan berkilau. Pada saat ini, kulit kapala janin dapat dideteksi
melalui lubang vulva yang menyerupai celah.
Pada setiap kontraksi berikutnya, perineum menjadi lebih
menggembung dan vulva menjadi lebih terdilatasi dan terdistensi oleh kepala,
lubang vulva secara bertahap berubah bentuk menjadi oval kemudian terakhir
menjadi berbentuk lingkaran. Setiap kontraksi berhenti, lubang vulva menjadi
lebih kecil dan kepala janin masuk kembali sampai kemudian kembali keluar
saat terjadi kontraksi berikutnya.
Selanjutnya, kontraksi lebih cepat, hampir tidak ada interval
diantaranya. Saat kepala semakin jelas terlihat, vulva menjadi semakin tertarik
dan akhirnya melingkari diameter terbesar kepala janin. Kondisi ini dikenal
dengan crowning. Episiotomy dapat dilakukan pada saat ini, sementara
jaringan disekitar perineum ditopang dan kepala dilahirkan. Satu atau dua
kontraksi lagi normalnya cukup untuk mencapai kelahiran.

3. Kala III Persalinan

Kala III persalinan, tahap plasenta, dimulai dengan kelahiran bayi dan diakhiri
dengan pelahiran plasenta. Segera setalah lahir, sisa cairan amniom keluar,
kemudian biasanya diikuti dengan sedikit aliran darah. Uterus dapat dirasakan
sebagai massa berbentuk globular yang keras tepat dibawah umbilicus. Sesaat
kemudian, uterus relaks dan berbentuk seperti kepingan (discoid). Dengan
setiap kontraksi atau relaksasi berikutnya, bentuk uterus berubah dari globular
ke bentuk kepingan sampai plasenta terpisah, setelah itu berbetuk uterus tetap
globular.
Kala III persalinan terdiri atas 2 fase, yaitu Pelepasan Plasenta dan
Ekspulsi (pengeluaran) plasenta :
1.) Pelepasan PLasenta.
Saat uterus yang isinya telah berkurang berkontaksi pada interval teratur,
area tempat menempelnya plasenta menjadi sangat berkurang. Perbedaan
proporsi yang besar, antara menurunnya ukuran tempat penempelan
plasenta dan ukuran plasenta menyebabkan pelipatan atau penggantungan
plasenta dipermukaan maternal, dan pelepasan pun terjadi. Sementara itu,
perdarahan terjadi dalam lipatan plasenta ini yang mempercepat pelepasan
organ. Plasenta masuk ke segmen bawah uterus atau vagina atas sebagai
badan yang terpisah. Tanda pelepasan plasenta biasanya terjadi dalam 5
menit setelah kelahiran bayi.

2.) Pengeluaran Plasenta


Pengeluaran plasenta bisa terjadi dengan upaya mengejan ibu jika ia tidak
dianestesi. Jika tidak dapat dilakukan, pelepasan plasenta biasanya dicapai
dengan tangan yang menekan fundus uterus secara lembut. Jangan
memberikan tekanan berlebihan pada fundus untuk mencegah
kemungkinan terjadinya inversi uterus.
Kontraksi uterus sesudah kelahiran tidak hanya menghasilkan pemisahan
plasenta, tetapa juga mengontrol perdarahan uterus. Kontraksi serat otot
uterus ini menghasilakan penutupan banyak pembuluh darah yang berada
didalam celah otot uterus. Meskipun demikian kehilangan darah di kala III
tidak dapat dihindari biasanya mencapai 500 ml atau kurang.

4. Kala IV Persalinan
Kala IV persalinan, tahap pemulihan, dimulai dengan kelahiran plasenta dan berlanjut
sampai 1 hingga 4 jam pertama pascapartum. Empat jam pertama pascapartum atau kala
IV persalinan merupakan waktu pengembalian stabilitas fisiologis. Selama periode ini,
kontraksi dan retraksi myometrium, disertai dengan thrombosis pembuluh darah, bekerja
secara efektif untuk mengontrol perdarahn dari tempat plasenta. Bagaimanapun, terdapat
kemungkinan resiko terjadinya perdarahan, retensi urine, hipotensi, dan efek samping
anestesis.
Periode ini juga penting untuk pembentukan awal hubungan ibu-bayi dan konsolidasi
keluarga. Interaksi awal orang tua dengan bayi baru lahir dan bayi baru lahir dengan
orang tua diyakini memengaruhi kualitas hubungan mereka selnajunta.

Ringkasan Kala Persalinan

PERILAKU
AKTIVITAS
KALA DEFINISI DURASI MATERNAL DAN
UTERUS
MANIFETASI
Kala I Periode dari Bervariasi
(tahap kontraksi pertama sesuai
dilatasi) persalinan sejati dengan fase
sampai dilatasi paritas
serviks yang
lengkap
Fase Dimulai awal Sekitar 8,6 Ringan, seringkali Ibu bersalinan secara
Laten persalinan aktif jam untuk kontraksi tidak umum merasa gembira,
dan maju ke fase nulipara dan teratur setiap 50- waspada, banyak bicara
transisi 4-7 cm 5,3 jam 30 menit, atau diam, tenang atau
untuk lamanya 10-30 cemas, dapat mengalami
multipara detik, serviks kram abdomen, nyeri
menjadi lebih punggung, pecah ketuban,
lunak dan tipis, nyeri dapat dikontrol
dilatasi 0 sampai dengan baik, dapat berjalan
3-4 cm
Fase Dimulai dari awal Sekitar 4,5 Kontraksi uterus Ibu bersalin secara umum
Aktif persalinan aktif jam untuk sedang sampai merasakan peningkatan
dengan maju ke nulipara dan kuat setiap 2-5 ketidaknyamanan,
fase transisi 4-7 2,4 jam menit, lamanya berkeringat, mual dan
cm untuk 30-90 detik, muntah, kemerahan,
multipara dilatasi serviks mengalami gemetar pada
untuk nulipara 1,2 paha dan kaki, tekanan
cm/jam dan untuk pada kandung kemih dan
multipara 1,5 rectum, nyeri punggung,
cm/jam, begitu pucat disekitar mulut,
juga pada fase amnesia antar kontraksi,
transisi fase transisi mungkin lebih
mencemaskan, takut
kehilangan control,
berfocus pada diri sendiri,
lebih sensitive, terdapat
desakan untuk mengejan,
tekanan rectum.
Kala II Periode dari Sekitar 1 Kontraksi uterus Dapat mengalami
(tahap dilatasi serviks jam untuk kuat setiap 2-3 penurunan rasa nyeri,
panggul) lengkap sampai nulipara dan menit, lamanya tekanan pada rectum,
1/
pelahiran bayi 4-1/2 jam 45-90 detik, perineum menggembung,
untuk tekanan desakan untuk mengejan,
multipara intraabdomen seringkali bersemangat dan
dilakukan tidak sabar, suara merintih
atau terdengar suara
hembusan nafas
Kala III Periode dari 5-30 menit Kontraksi uterus Focus pada bayi baru lahir,
(tahap pelahiran bayi kuat, uterus bahagia terhadap kelahiran,
plasenta) sampai pelahiran berubah ke rasa lega
plasenta dan bentuk globular,
membran tekanan intra
abdomen
dilakukan
Kala IV Periode dari 4 jam Uterus keras pada Eksplorasi bayi baru lahir,
pelahiran plasenta 2 jari diatas integrasi keluarga dimulai,
dan membrane umbilikus bayi baru lahir terjaga dan
sampai 4 jam responsif
pertama
pascapartum
A. Fisiologi Persalinan
1. Pengertian
Persalinan adalah proses untuk mendorong keluar janin dan plasenta dari
dalam saluran Rahim oleh kontraksi otot-otot Rahim. Persalinan normal adalah
persalinan dengan persentasi vertex, aterm, selesai dalam tempo 4-24 jam, dan tidak
melibatkan bantuan artifisial maupun komplikasi (Forrer, 2001)
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serivks, dan janin turun ke
dalam jalan lahir. Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisologis yang normal
adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-24
minggu), lahir spontan dengan persentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18
jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Prawirihardjo, 2006)
Persalinan adalah suatu proses yang dialami, peristiwa normal, namun apabila
tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal (Mufdillah & Hidayat,
2008)

2. Fisiologi Persalinan
Persalinan normal adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan aterm (bukan
prematus atau postmatur) , mempunyai omset yang spontan (tidak diinduksi), selesai
setelah 4 jam dan sebelum 24 jam sejak saat awitnya (bukan partus presipitatus atau
partus lama), mempunyai janin (tunggal) dengan persentasi vertex (puncak kepala)
dan oksiput pada bagian anterior pelvis, terlaksana tanpa bantuan artifisial (Seperti
forceps), tidak mencakup komplikasi (seperti perdarahan hebat), mencakup kelahiran
plasenta yang normal (Forrer, 2001)
Kehamilan secara umum ditandai dengan aktivitas otot polos meometrium
yang relative tenang yang memungkinkan perumbuhan dan perekembangan janin
intrauterine sampai dengan kehamilan aterm. Menjelang persalinan, otot polos uterus
mulai menunjukan aktivitas kontraksi secara terkoordinasi, diselingi dengan suatu
periode relksasi, dan mencapai puncaknya menjelang persalinan, serta secara
berangsur menghilang pada periode postpartum. Mekanisme regulasi yang mengatur
aktivitas kontraksi myometrium selama kehamilan, persalinan, dan kelahiran
(Prawihardjo, 2008)

3. Faktor penyebab persalinan


1.) Faktor Hormonal
1-2 minggu sebelum persalinan terjadi penurunan hormonestrogen dan
progesterone. Dimana progesterone bekerja sebagai relaksasi otot polos. Sehingga
airan darah berkurang dan hal ini menyebabkan atau merangsang dilepaskannya
oksitosin. Hal ini juga merangsang kobtraksi uterus. Factor struktur uterus atau
Rahim membesar dan menekan, menyebabkan iskemia, otot-otot Rahim sehingga
mengganggu sirkulasi otot plasenta yang berakibat degenerasi
2.) Factor Syaraf
Karena pembesaran janin dan masuknya janin ke panggul maka akan menekan
dan menggeser ganglion servikalis yang akan merangsang timbulnya kontraksi
uterus
3.) Factor kekuatan plasenta
Plasenta yang mengalami degenerasi akan mengakibatkan penurunan produksi
hormone progesterone dan estrogen
4.) Factor nutrisi
Suplai nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan dikeluarkan
5.) Factor partus
Partus sengaja ditimbulkan oleh penolong dengan menggunakan oksitosin,
amniotomo gagang laminaria (Prawirohardjo, 1997)

4. Mekanisme Persalinan
Mekanisme persalinan normal ditentukan oleh beberapa factor utama, yaitu :
1.) Power
2.) Passage : Jalan lahir (tulang dan otot)
3.) Passage : Janin, plasenta dan selaput ketuban (Rustam, 1998)

Ketiga factor utama sangat menentukan jalannya persalinan sehingga akan terjadi
proses persalinan :

1.) Spontan belakang kepala


2.) Persalinan buatan dengan tambahan tenaga dari luar
3.) Induksi persalinan
4.) Persalinan operatif (Manuaba, 2007)
5. Tanda permulaan persalinan
1.) Lightening yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul (PAP) terutama pada
primi para
2.) Perut kelihatan lebih membesar/melebar, fundus uteri menurun
3.) Pola kesuria dan sasuk miksi karena kandung kemih terkena bagian bawah janin
4.) False labair pain yaitu perasaan sakit diperut dan pinggung karena adanya
kontraksi lemah dari uterus
5.) Serviks menjadi lembek, mendatar dan mengeluarkan sekresi lender, darah dari
vagina (blocdy show). (Praworohardjo, 2000)