Anda di halaman 1dari 4

 DEFINISI KEPUASAN KERJA

Pembahasanmengenaikepuasankerjaperludidahuluiolehpenegasanbahw
amasalahkepuasankerjabukanlahhal yang sederhana,
baikdalamartikonsepnyamaupundalamartianalisinya, karena “kepuasan”
mempunyaikonotasi yang beranekaragam. Meskipundemikian,
tetaprelevanuntukmengatakanbahwakepuasankerjamerupakansuatucarapandan
gseseorang – tentangpekerjaannya. Karenatidaksederhana, banyakfaktor yang
perlumendapatperhatiandalammenganalisiskepuasankerjaseseorang.Bagikarya
wankepuasankerjaakanmenimbulkanperasaan yang
menyenangkandalambekerja. Sedangkanbagiperusahaan,
kepuasankerjabermanfaatdalamusahameningkatkanproduksi,
perbaikansikapdantingkahlakukaryawan.
 David and Newstrom (2005:2009) : “Job satisfaction is the way
employee feels about his or her job. A person attitude toward his job
reflect pleasant and unpeasantexperiencies in the job and his
expectations about future
experiences.Kepuasankerjaadalahperasaanseseorangterhadappekerjaan
nya. Kepuasankerjasecaraumummerupakansikapterhadappekerjaan
yang didasarkanpadaevaluasiterhadapaspek-aspek yang
berbedadaripekerjaan. ”
 Menurut Osborn (Yuli T, 2003:56) : “Job satisfaction is the degree to
which an individual feels positively or negatively about the various
facets of the jobs tasks, the work setting and relationship with co-
worker.
Kepuasankerjaadalahderajatataunegatifnyaperasaanseseorangmengena
iberbagaisegitugas-tugaspekerjaan,
tempatkerjadanhubungandengansesamapekerja.”
Berdasarkanbeberapabatasan yang diberikanoleh para
ahlitersebutdapatdisimpulkanbahwakepuasankerjaadalahcaraindividumerasakanpe
kerjaannya yang dihasilkandarisikapindivisutersebutterhadapberbagaiaspek yang
terkandungdalampekerjaan. Cara
individumerasakanpekerjaaanjugadipengaruhiolehkarakteristikindividusertasituasi
-situasibaik di dalammaupun di luarlingkunganpekerjaannya.
Kepuasankerjabersifat individual, setiap orang memilikitingkatkepuasan yang
berbeda-bedasesuaidengan system nilai yang berlakupadadirinya.
Semakinbanyakaspek-aspekdalampekerjaaannya yang
sesuaidengankeinginanindividu, semakintinggitingkatkepuasan yang dirasakan,
begitujugasebaliknya.

 URAIAN TEORI KEPUASAN KERJA


Secara umum, terdapat tiga teori kepuasan kerja yang sudah
dikenal yaitu discrepancy theory, equity theory, dan two factor theory
(Yuli T, 2003:56), yang diuraikan sebagai berikut :
 Discrepancy Theory,
Teori ini pertama kali dipelopori oleh Porter pada tahun 1961.
Porter mengukur kepuasan kerja dengan menghitung selisih antara
apa yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan (difference
between how much of something there should be and how much
there is now). Kemudian Locke pada tahun 1969 menerangkan
bahwa kepuasan kerja seseorang bergantung pada desrepancy
antara (expectation, needs, or values) dengan apa yang menurut
perasaannya atau persepsinya telah diperoleh atau dicapai melalui
pekerjaan. Dengan demikian, orang akan merasa puas bila tidak
ada perbedaan antara yang diinginkan telah terpenuhi. Aapabila
yang didapat ternyata lebih besar dari pada yang diinginkan,
maka orang akan menjadi lebih puas lagi walupun terdapat
discrepancy, tetapi merupakan discrepancy yang positif.
Sebaliknya semakin jauh kenyataan yang dirasakan itu di bawah
standar minimum hingga menjadi discrepancy yang negative,
maka makin besar pula ketidakpuasan seseorang pekerjanya.

 Equity Theory
Equity theory dikembangkan oleh Adam padatahun 1963. Adapun
pendahulu dari teori ini adalah Zaleznik di tahun 1958. Prinsip
teori ini adalah bahwa seseorang akan merasa puas atau tidak puas
tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan (equity) atau
tidak (inequity) atas situasi tertentu. Perasaan equity dan inequity
atas situasi diperoleh individu dengan cara membandingkan dirinya
dengan orang lain yang sekelas, sekantor, maupun di tempat lain.

 Two Factor Theory


Teori ini dikembangkan dan dikemukakan oleh Frederick
Herzberg. Teori Herzberg ini sebagian besar didasarkan pada
rumusan hierarki kebutuhan (Hierarchy of need) dari Maslow.
Tingkah laku manusia didasari oleh dua macam kebutuhan yang
berbeda satu sama lain yaitu kebutuhan fisiologis dan kebutuhan
psikologis. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan seperti makan,
minum sedangkan kebutuhan psikologis lebih merupakan
kebutuhan individu untuk mengembangkan diri. Menurut teori ini,
manusia adalah makhluk yang need oriented dengan kebutuhan
dalam jenjang mulai dari yang terendah sampai yang paling
tinggi. Dengan titik acuan inilah kemudian Herzberg mengadakan
penelitian dan mengusulkan apa yang disebut dengan Motivator-
Hygiene Theory yang berhubungan dengan kebutuhan individu.

 PENJELASAN HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN


KEPUASAN KERJA
Terdapat empat kemungkinan yang menunjukkan hubungan antara
kepuasan kerja dengan motivasi :
A. Kepuasan tinggi, motivasi tinggi, menunjukkan nilai positif untuk
organiasi dan pegawai (situasi yang paling ideal).
B. Kepuasan rendah, motivasi tinggi, menunjukkan nilai positif untuk
organisasi tetapi negatif untuk pegawai.
C. Motivasi rendah, kepuasan tinggi, menunjukkan nilai negatif untuk
organisasi tetapi negatif untuk pegawai.
D. Motivasi rendah, kepuasan rendah, menunjukkan nilai negative untuk
organisasi dan pegawai.
Gambar berikut menunjukkan kemungkinan hubungan antara
kepuasan dan motivasi pegawai. Para pegawai yang memiliki
motivasi berada pada kuadran I. Kuadran I ini adalah merupakan
situasi yang ideal bagi pemimpin dan pegawainya.

TinggiKepuasanRendah

I. Nilai positif untuk Organisasi dan II. Nilai positif untuk Organisasi,
Pegawai negatif untuk pegawai
III. Nilai negatif untuk Organisasai, IV. Nilai negatif untuk organisasi,
Positif untukPegawai negatif untuk pegawai

Pada berbagai penelitian membuktikan bahwa seorang karyawan yang


”puas” tidak dengan sendirinya merupakan karyawan yang berprestasi tinggi,
melainkan sering hanya berprestasi “biasa-biasa saja.” Jika demikian halnya,
dapat pula dikatakan bahwa kepuasan kerjatidakselalumenjadi factor
motivasionalkuatuntuberprestasi. Seorangkaryawan yang
puasbelumtantuterdoronguntukberprestasikarena ”kepuasannya”
tidakterletakpadamotivasinya, akantetapidapatterletakpada factor-faktorlain,
misalnyapadaimbalan yang diperolehnya.
Mungkinpulaterjadibahwaseseorangmerasa“ puas ” dalampekerjaannyakarena
yang bersangkutanmenyadaribahwaapa yang dicapainyasudahmaksimal.
Dalamsituasidemikiandiaberusahaberprestasisebaikmungkin.

 PENTINGNYA PENGETAHUAN HUBUNGAN MOTIVASI dengan


KEPUASAN KERJA bagi para MANAJER