Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

KEBUDAYAAN SUKU BADUY

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah


Ilmu Sosial dan Budaya Dasar

Disusun Oleh:
Nama : - Bony Cahya (115010007)
- Nabiilah Khairunnisa (115010011)
- Ayu Agustin (115010023)
- Agina Putri Asysyaffa (115010027)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
2015

i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT,


atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Kebudayaan Suku Baduy”, makalah ini
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Ilmu
Sosial dan Budaya Dasar.
Makalah disusun berdasarkan hasil pembelajaran yang
diharapkan berguna untuk mengembangkan kreatif, daya pikir
dan untuk menambah pengetahuan tentang kebudayaan.
Segala petunjuk, arahan dan bantuan dari berbagai pihak
yang penulis terima dalam menyusun maklah ini sangatlah besar
artinya. Untuk itu, dalam kesempatan ini kami menyampaikan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................ 1
1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 1
1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................... 1
BAB II LANDASAN TEORI .......................................................... 2
2.1 Suku Baduy .................................................................................. 2
2.2 Pembagian Kelompok Masyarakat Suku Baduy ......................... 2
BAB III PEMBAHASAN ................................................................ 5
3.1 Asal-Usul Kebudayaan Suku Baduy ........................................... 5
3.2 Mata Pencaharian Suku Baduy .................................................... 6
3.3 Hukum Di Dalam Masyarakat Baduy ......................................... 7
3.4 Segi Pakaian Suku Baduy ............................................................ 8
BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ........................ 9
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 10

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah


Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi
ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit,
termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga
budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia
sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan
secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan
orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-
perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat
kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut
menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini
tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

1.2Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran kehidupan Suku Baduy ?
2. Ada berapa kelompok masyarakat pada suku Baduy ?
3. Bagaimana Sistem Pemerintahan Suku Baduy ?
1.3Tujuan Penelitian
Dalam makalah ini akan di jelaskan mengenai asal usul Suku
Baduy, dan perkembangan kebudayaan Suku Baduy.

1
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Suku Baduy


Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk
luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para
peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan
kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-
pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy
dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka
sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang
Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu
kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993 ).
Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok
masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi
mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu
suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga
memiliki keyakinan tabu untuk difoto.
2.2 Pembagian Kelompok Masyarakat Suku Baduy

Orang Kanekes masih memiliki hubungan sejarah dengan orang


Sunda. Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang
Sunda pada umumnya. Satu-satunya perbedaan adalah kepercayaan dan cara
hidup mereka. Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan
secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional, sedangkan orang
Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.
Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok
yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001).

Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes


Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang
tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas
Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua

2
serta memakai ikat kepala putih. Mereka dilarang secara adat untuk bertemu
dengan orang asing (non WNI).

Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. Tidak


seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-
istiadat nenek moyang mereka.

Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:

 Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi


 Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
 Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah
sang Pu'un atau ketua adat)
 Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
 Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun
dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian
modern.

Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka


yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai
kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti
Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya.
Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala
berwarna hitam.

Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan
wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan
dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:

 Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam.


 Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam
 Menikah dengan anggota Kanekes Luar

Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar

 Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik, meskipun


penggunaannya tetap merupakan larangan untuk setiap warga Kanekes,

3
termasuk warga Kanekes Luar. Mereka menggunakan peralatan tersebut
dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan pengawas dari
Kanekes Dalam.
 Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah
menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang
sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes Dalam.
 Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk
laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang
menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
 Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal,
piring & gelas kaca & plastik.
 Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.

Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes,


maka "Kanekes Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat
ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan
Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai
semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).

4
BAB III
PEMBAHASAN

3.1Asal Usul Kebudayaan Suku Baduy

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku


keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang
diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi
Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka,
Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas
bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan


pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara
sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan
pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda'
yang cukup minim keberadaannya.

Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang


sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan
Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan
Banten, Wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting
dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup
besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai
digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman.
Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai
Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu
dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan
yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan
lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan
pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal
bakal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami
wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja,
2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa
pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup,
5
yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari
serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan


pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes
adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat
terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146).

Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka


berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan
Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy
merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci)
secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara
kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama
Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan
Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitanasli, asal,
pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama
Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala
adalah Rakeyan Darmasiksa.

3.2Mata Pencaharian Suku Baduy


Mata pencarian masyarakat Baduy yang paling utama adalah
bercocok tanam padi huma dan berkebun serta membuat kerajinan koja
atau tas dari kulit kayu, mengolah gula aren, tenun dan sebagian kecil
telah mengenal berdagang.
Kepercayaan yang dianut masyarakat Kanekes adalah Sunda
Wiwitan. Didalam baduy dalam, ada semacam ketentuan tidak tertulis
bahwa ras keturunan Mongoloid, Negroid dan Kaukasoid tidak boleh
masuk ke wilayah Baduy Dalam. Jika semua ketentuan adat ini di langgar
maka akan kena getahnya yang disebut kuwalat atau pamali adalah suku
Baduy sendiri.
Inti dari kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh
atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari
orang Kanekes. Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes
tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apapun”, atau perubahan
6
sesedikit mungkin:“Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu
beunang disambung”
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh
disambung) suku Baduy memiliki tata pemerintahan sendiri dengan
kepala suku sebagai pemimpinnya yang disebut Puun berjumlah tiga
orang. Pelaksanaan pemerintahan adat kepuunan dilaksanakan oleh jaro
yang dibagi kedalam 4 jabatan yang setiap jaro memiliki fungsi dan
tugasnya masing-masing. Yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro
tanggungan, dan jaro pamarentah.
Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada
warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka bertugas
menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di
dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9 orang, yang apabila
ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro duabelas.
Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan.
Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara
masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam
tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua
kampong.

3.3Hukum di Dalam Masyarakat Baduy


Hukuman disesuaikan dengan kategori pelanggaran, yang terdiri atas
pelanggaran berat dan pelanggaran ringan. Hukuman ringan biasanya
dalam bentuk pemanggilan sipelanggar aturan oleh Pu’un untuk
diberikan peringatan. Yang termasuk ke dalam jenis pelanggaran ringan
antara lain cekcok atau beradu-mulut antara dua atau lebih warga Baduy.
Hukuman Berat diperuntukkan bagi mereka yang melakukan
pelanggaran berat. Pelaku pelanggaran yang mendapatkan hukuman ini
dipanggil oleh Jaro setempat dan diberi peringatan. Selain mendapat
peringatan berat, si terhukum juga akan dimasukan ke dalam lembaga
pemasyarakatan (LP) atau rumah tahanan adat selama 40 hari. Selain itu,
jika hampir bebas akan ditanya kembali apakah dirinya masih mau

7
berada di Baduy Dalam atau akan keluar dan menjadi warga Baduy Luar
di hadapan para Pu’un dan Jaro. Masyarakat Baduy Luar lebih longgar
dalam menerapkan aturan adat dan ketentuan Baduy.
Menariknya, yang namanya hukuman berat disini adalah jika ada
seseorang warga yang sampai mengeluarkan darah setetes pun sudah
dianggap berat. Berzinah dan berpakaian ala orang kota.
Banyak larangan yang diatur dalam hukum adat Baduy, di antaranya
tidak boleh bersekolah, dilarang memelihara ternak berkaki empat, tak
dibenarkan bepergian dengan naik kendaraan, dilarang memanfaatkan
alat eletronik, alat rumah tangga mewah dan beristri lebih dari satu.

3.4Segi Pakaian Suku Baduy


Dari segi berpakain, didalam suku baduy terdapat perbedaan dalam
berbusana yang didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan
pada adat saja, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Untuk Baduy
Dalam, para pria memakai baju lengan panjang yang disebut jamang
sangsang, Potongannya tidak memakai kerah, tidak pakai kancing dan
tidak memakai kantong baju. Warna busana mereka umunnya adalah
serba putih.
Untuk bagian bawahnya menggunakan kain serupa sarung warna biru
kehitaman, yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. Serta pada
bagian kepala suku baduy menggunakan ikat kepala berwarna putih.
Bagi suku Baduy Luar, busana yang mereka pakai adalah baju kampret
berwarna hitam. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak
batik. Terlihat dari warna, model ataupun corak busana Baduy Luar,
menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya
luar. Sedangkan, untuk busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy
dalam maupun Baduy Luar tidak terlalu menampakkan perbedaan yang
mencolok. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru
kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Bagi wanita yang sudah
menikah, biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas,
sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup.

8
BAB IV
Kesimpulan dan Rekomendasi

Orang Baduy tidak mengenal poligami dan perceraian.


Mereka hanya diperbolehkan untuk menikah kembali jika salah
satu dari mereka telah meninggal.
Di dalam proses pernikahan suku baduy pasangan yang akan
menikah selalu dijodohkan dan tidak ada yang namanya pacaran.
Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua
perempuan dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-
masing

9
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Orang Kanekes/Suku Baduy


http.//id.shvoong.com › Ilmu Sosial
perpustakaan.untirta.ac.id/berita-112-asal-usul-suku-baduy.html

10