Anda di halaman 1dari 20

Hipertensi Intrakranial Idiopatik

Sebagai Tanda Yang Menunjukan


Insufisien Adrenal
PENGANTAR
Hipertensi intracranial idiopatik (IIH) adalah
diagnosa eksklusi yang didefinisikan oleh
tekanan intracranial tanpa adanya bukti lesi
massa atau hidrosefalus.

Nyeri kepala persisten, mual muntah dan


papiledema adalah karakteristik tanda dan
gejala kondisi ini
Secara klasik dikaitkan dengan
• wanita gemuk usia produktif
• IIH juga dapat terjadi pada anak-anak
• gangguan vitamin, antibiotik tertentu,
kortikosteroid, gangguan autoimun. Gangguan
endokrin tertentu yaitu Cushing disease dan
Addison disease juga di kaitkan dengan IIH
• Insufisiensi adrenal sekunder setelah
penarikan inhalasi kortikosteroid relative
umum ditemukan.
• Dalam study retrospektif 20.5 % pasien dalam
inhalasi kortikosteroid di temukan gagal tes
stimulasi adrenocorticotropic (ACTH) setelah
pemberhentian steroid.
LAPORAN KASUS

Seorang anak laki-laki ras kaukasian usia 11


tahun dengan riwayat penyakit asma berat
yang didiagnosa saat usia 7 bulan di terima di
pelayanan anak karena nyeri kepala yang
berat dan terus menerus.
• Nyeri kepala sudah sering dan dan parah
selama 2 bulan terakhir. Dan perburukan
yang signifikan terjadi 2 minggu sebelum
masuk rumah sakit.

• Nyeri kepala digambarkan seperti rasa pegal


dan bitemporal. Dan dikaitkan dengan rasa
mual dan fotofobia
• Tinjauan catatan medis pasien menunjukan
penggunaan kronik dari multiple inhalasi
kortikosteroid untuk penyakit asmanya yang
berat.

• Pasien menggunakan fluticasone inhaler


selama 5 tahun dan steroid inhaler tambahan
beclometasone dipropionate di mulai 7 bulan
sebelum masuk rumah sakit.
• 2 bulan sebelum masuk rumah sakit sekarang
ini. Pasien di mulai dengan tiotropium
bromide inhale, sebagai upaya untuk
menghentikan penggunaan inhalasi
kortikosteroid.

• Hasil MRI nya menunjukan sebuah kista pineal


dan malformasi chiari type I
• Dilakukan lumbal pungsi dan memperlihatkan
tekanan pembukaan pada cairan
serebrospinal (CSF) yang lebih besar dari 55
cm.

• 35 mL CSF di buang selama lumbal pungsi dan


tekanan penutupan CSF tercatat menjadi 15
cm
• konsultasi ophthalmology, ditemukan adanya
disk edema ringan sampai sedang.

• Pada hari ketiga dirumah sakit pasien mulai


mengeluh serangan baru, nyeri perut
menyeluruh dan pemeriksaan fisik
memperlihatkan nyeri perut difus tanpa
rebound atau guarding.
• Denyut jantung dan tekanan darah secara
hemodinamik stabil dan dalam batas normal.
Laboratorium awal termasuk elektrolit,
amylase dan lipase ditemukan dalam batas
normal.

• Computerid tomography (CT) biasa saja dan


Xray abdominal memperlihatkan sedikit
konstipasi
• Karena kecurigaan ini dilakukan tes stimulasi
ACTH dan menunjukan produksi yang
menurun dari kortisol.

• Kadar kortisol 8 AM sebelum pemberian


cosyntropin di temukan 3.5 μg/dL

• Kadar ACTH awal juga di peroleh sebelum


penelitian dan ditemukan 14.4 pg/mL.
• kadar kortisol 30 dan 60 menit setelah
pemberian yamg diberikan cosyntropin
standard dosis tinggi (250 μg IV) di temukan
masing-masing 7.9 dan 8.4 μg/dL.

• Setelah itu pasien dimulai dengan dosis


fisiologik hidrokortison 5 mg 3x sehari. Dosis
hidrokortison kemudian ditingkatkan 10 mg 3x
sehari karena tegangan yang terus berlanjut
dari muntah yang persisten
• Lumbal pungsi ulang dilakukan setelah 4 hari
memulai pengobatan dan menunjukan
perbaikan yang nyata tekanan pembukaan CSF
pada 29.8 cm.

• 20 mL CSF di buang dan tekanan penutupan


CSF tercatat 17 cm
• Pemeriksaan ulang ophthalmology hasilnya
normal dan tanpa adanya bukti papiledema.

• Kedua tes stimulasi cosyntropin dosis tinggi


dan dosis rendah diulang dan ditemukan tidak
normal. Ia di mulai dengan steroid dan di
taper setelah 2 hari di fasilitas baru dan di
pulangkan 2 hari kemudian,
DISKUSI

• Pasien dengan asma di temukan memiliki


insufisensi adrenal tidak hanya dengan
inhalasi kortikosteroid dosis tinggi tapi juga
dengan inhalasi kortikosteroid dosis rendah
sampai sedang ketika kortikosteroid inhalasi
diberikan dalam periode waktu yang lama
• Dalam kasus kami pasien telah di beri inhalasi
kortikosteroid dosis tinggi selama 5 tahun,
• Ia pertama memakai fluticasone propionate
(advair 230-21, dua kali isapan 2 kali sehari)
• Ia kemudian memakai Flovent HFA 220, 2
isapan 2 kali sehari, dengan flovent dosis
maksimum untuk usia 4-11 tahun adalah 176
mcg/hari. Pasien kami menerima 880 mcg
flovent per hari
• 7 bulan sebelum masuk rumah sakit
ditambahkan beclometasone dipropionate
(Qvar) 80 mcg 1 isapan 2 kali sehari.

• Penarikan inhalasi kortikosteroid akut


menginduksi penurunan penyerapan CSF dan
meningkatkan resistensi terhadap aliran CSF
KESIMPULAN
• Karena prevalensi yang signifikan dalam
penggunaan kortikosteroid inhalasi pada anak.
Sangat penting bagi dokter untuk mewaspadai
potensi dari penarikan obat obat ini untuk
menginduksi supresi aksis hipotalamus
pituitary adrenal.
• Karena kerusakan dari kondisi ini berpotensi
menyebabkan kebutaan yang ireversibel