Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Berkembangnya prinsip back to nature dewasa ini, meningkatkan


kecenderungan manusia untuk memanfaatkan bahan alam terutama yang berasal
dari tumbuh-tumbuhan sebagai obat bagi kesehatannya. Kecenderungan ini
meningkat karena beberapa alasan, antara lain kearifan tradisional yaitu
pengetahuan turun temurun tentang pemanfaatan tumbuhan obat untuk mengatasi
penyakit, lebih aman untuk dikonsumsi dengan efek samping yang lebih kecil
dibandingkan obat-obatan modern yang diproduksi secara kimia sintetik, juga
seiring dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia beberapa tahun
belakangan ini, menyebabkan harga obat-obatan modern tidak terjangkau oleh
masyarakat umum, karena bahan baku obat-obatan, bahan pembantu dan
teknologi hampir semuanya berasal dari luar negeri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa-senyawa fitokimia yang
terdapat di dalam tanaman sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kadar fitokimia di
dalam tanaman umumnya sangat rendah, tetapi senyawa ini tetap saja
dibutuhkan, misalnya sebagai pemberi warna daun, buah dan bunga, pemberi
aroma serta pencegah kerusakan akibat bakteri atau virus.
Fitokimia amat beragam jenisnya, beberapa diantaranya sudah mulai
dikenal oleh masyarakat. Misalnya β-karoten, kurkumin, gingerol, asam elegat,
isoflavon, antosianin, kuersetin dan flavonoid. Jenis sayuran maupun buah-
buahan yang berwarna biasanya memiliki kandungan fitokimia yang tinggi.
Kanker atau tumor ganas merupakan salah satu penyakit yang sampai saat
ini masih belum dapat secara tuntas ditanggulangi oleh ilmu kedokteran dan
masih merupakan penyakit yang sangat ditakuti oleh masyarakat. Dewasa ini
telah banyak berkembang penelitian-penelitian untuk mencari obat yang dapat
mencegah dan mengobati kanker. Pengobatan secara modern baik berupa
kemoterapi, radioterapi dan operasi memerlukan biaya pengobatan yang tidak
sedikit, sehingga banyak yang mencoba mencari pengobatan alternatif lain
dengan memanfaatkan tumbuhan obat.
Berbagai macam tumbuhan telah digunakan oleh masyarakat sebagai
ramuan penyembuh kanker, diantaranya tumbuhan tapak dara, tabat barito, teh
hijau, temu putih, keladi tikus, sambiloto, sambung nyawa dan daun dewa serta
banyak lagi tumbuhan lainnya. Melalui berbagai penelitian yang disarikan oleh
Zee-Cheng dari Pusat Medik Universitas Kansas diketahui senyawa bioaktif
yang berperan sebagai antikanker adalah peptida, oligosakarida, alkaloid, dan
polifenol (Winarno 2003). Polifenol meliputi beberapa golongan senyawa, salah
satu diantaranya adalah golongan flavonoid.
Banyak penelitian yang membuktikan bahwa beberapa senyawa golongan
flavonoid yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan mempunyai kandungan
bioaktivitas yang berpotensi sebagai obat, diantaranya dapat membantu
mencegah kanker dengan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker pada jaringan
tubuh yang dikenainya, seperti mirisetin, kuersetin, luteolin, apigenin, rutin,
kaemferol, dan antosianin (Miller 1996; Madhavi et al. 1998; Katsube et al.
2003; Knekt et al. 2002; Yoshie 2002; Abdel-Aal ESM dan P Hucl. 2003; Zhang
et al. 2005; dan Liu et al. 2005).
Diantara tumbuhan obat yang digunakan masyarakat sebagai bahan ramuan
obat alternatif untuk menghambat pertumbuhan sel-sel kanker adalah tanaman
daun dewa. Beberapa senyawa aktif yang terdapat dalam tanaman ini antara lain
flavonoid, saponin, terpenoid, tanin, alkaloid, dan minyak atsiri (Ratnaningsih et
al. 1985; Depkes RI 1989; Wijayakusuma et al. 1992; Siregar dan Utami 2000;
Winarto 2003). Penelitian Soetarno et al. (2000) menunjukkan bahwa, senyawa
flavonoid yang terkandung dalam daun dewa termasuk golongan glikosida
kuersetin. Permukaan bagian belakang daun yang berwarna ungu memungkinkan
adanya senyawa antosianin yang tergolong senyawa flavonoid.
Kuersetin merupakan senyawa flavonoid golongan flavonol, yang
berpotensi sebagai antikanker. Lamson et al. (2000) melaporkan pemberian
kuersetin dengan dosis 60-1700 mg/m2 pada pasien penderita kanker dapat
menghambat kerja tirosin kinase, juga menghambat produksi heat shock proteins
dalam beberapa sel line kanker meliputi kanker payudara, leukemia dan kanker
usus. Zang et al. (2005) melaporkan beberapa aglikon antosianin bertpotensi
menghambat pertumbuhan kanker. Sianidin berpotensi menghambat 35 dan 47%,
delfinidin 27 dan 64% pertumbuhan kanker payudara pada pemberian 100 dan
200 μg/mL. Malvidin menghambat proliferasi sel kanker usus dan payudara 75,7
dan 74,7% pada pemberian 100 μg/mL. Pada pemberian 200 μg/mL
pelargonidin berpotensi menghambat 62 dan 63% kanker usus dan payudara.
Hasil penelitian antikanker menggunakan parameter volume kanker dan
pengamatan histopatologi jaringan kanker menunjukkan pada dosis 11,6 dan
23,2 mg/mL dari ekstrak daun dewa dapat menghambat pertumbuhan kanker.
Kemampuan tersebut didukung oleh data histopatologi adanya nekrosis (matinya
sel-sel akibat adanya serangan penyakit) sel-sel kanker. Hasil penelitian Winarto
(2003) menunjukkan fraksi dari ekstrak etanol dan n-heksan tanaman daun dewa
memiliki toksisitas yang tinggi terhadap larva udang.
Uji toksisitas merupakan uji pendahuluan untuk mengamati aktivitas
farmakologi suatu senyawa. Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
merupakan suatu metode uji pendahuluan dengan mengamati tingkat kematian
larva Artemia salina Leach yang disebabkan oleh ekstrak tumbuhan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan tanaman yang mempunyai toksisitas
tinggi terhadap larva A. salina Leach adalah tanaman yang mengandung
komponen antineoplastik (Leswara et al. 1986). Tirosin kinase memiliki peranan
vital dalam pengaturan pertumbuhan sel dan diferensiasi. Aktivitas tirosin kinase
sebagai reseftor faktor pertumbuhan dan produk protein onkogen sangat penting
bagi perbanyakan sel. Kanker atau tumor ganas merupakan penyakit genetik.
Kerusakan dasar yang menyebabkan timbulnya sel kanker adalah perbanyakan
sel yang tidak teratur akibat akumulasi perubahan genetik dan epigenetik yang
berlangsung sedikit demi sedikit (Wang 2000). Saccharomyces cerevisiae
merupakan salah satu mikroorganisme penghasil enzim tirosin kinase
(Adamikova et al. 1996). Dengan mengetahui pengaruh ekstrak tanaman
terhadap pertumbuhan S. cerevisiae akan memberikan informasi mengenai
kecenderungan penghambatan enzim tirosin kinase oleh ekstrak tanaman
tersebut.
Dalam pengembangan obat tradisional menjadi sediaan fitofarmaka,
kepastian akan kandungan zat aktif yang berkhasiat merupakan tuntutan kriteria
yang harus dipenuhi. Meskipun telah banyak telaahan mengenai khasiat daun
dewa, namun belum banyak diketahui tentang khasiat senyawa flavonoid yang
terkandung di dalamnya. Untuk itu diperlukan penelitian lebih mendalam tentang
senyawa aktif flavonoid tersebut, agar pemanfaatannya terutama di bidang obat-
obatan lebih sesuai dengan peruntukkannya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan isolasi terhadap senyawa
golongan flavonoid dari tanaman daun dewa, dan ditelusuri potensi bioaktivitas
senyawa tersebut sebagai bahan antitumor melalui uji toksisitasnya terhadap
larva A. salina Leach, dan uji antikhamir terhadap khamir S. cerevisiae. Standar
kuersetin digunakan sebagai senyawa pembanding pada karakterisasi komponen
yang didapat.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mengisolasi senyawa bioaktif golongan flavonoid


dari daun dan umbi tanaman daun dewa (Gynura pseudochina (Lour) DC)
dengan uji kematian larva A. salina Leach atau Brine Shrimp Lethality Test
(BSLT) dan uji antikhamir terhadap khamir S. cerevisiae.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang


golongan senyawa flavonoid dari daun dan umbi tanaman daun dewa, yang
diharapkan dapat memberikan alternatif yang baik dalam pencegahan atau
pengobatan penyakit kanker.

Hipotesis

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan hipotesis yang diajukan pada


penelitian ini ialah senyawa flavonoid dari tanaman daun dewa mempunyai
kemampuan membunuh larva A. salina Leach dan menghambat pertumbuhan
khamir S. cerevisiae.