Anda di halaman 1dari 3

Tantangan terapeutik urosepsis

Abstrak
Urosepsis menyumbang sekitar 25% dari semua kasus sepsis dan dapat berkembang dari infeksi saluran kemih
(ISK) pada masyarakat atau secara nosokomial. Penyebab mendasar dari ISK sangat rumit dengan keterlibatan
organ urogenital parenchymatous (misalnya ginjal, prostat). Dalam urosepsis, seperti dalam jenis lain dari sepsis,
tingkat keparahan sepsis sebagian besar tergantung pada respon host. Pengobatan urosepsis terdiri dari empat
aspek utama: menetapkan tujuan awal terapi, kerja optimal farmakodinamik yang cepat dari antimikroba,
mengatasi faktor penyebab kompllikasi dari saluran kemih dan terapi sepsis tertentu. Sesuai prasyarat ini muncul
dua tantangan utama yang perlu ditangani:
Pertama, waktu saat pasien masuk sampai diberi terapi sangat penting; semakin pendek waktu untuk pengobatan
yang efektif, semakin tinggi tingkat keberhasilan. Aspek ini harus menjadi dimasukkan ke dalam proses
organisasi. Kedua, terapi antibiotik awal yang adekuat/memadai harus dipastikan. Tujuan ini menunjukan
beragam langkah-langkah untuk memastikan keputusan pemberian antibiotik yang rasional. Kedua tantangan
dapat mencapai sasaran dengan baik jika pendekatan interdisipliner pada setiap tingkat proses telah ditegakkan,
meliputi urolog, spesialis perawatan intensif, ahli radiologi, ahli mikrobiologi dan farmasi klinis yang bekerja erat
bersama-sama setiap saat.
Kata kunci pengobatan sepsis, SIRS, infeksi saluran kemih, urosepsis.

Pengantar
Infeksi saluran kemih (ISK) dapat bermanifestasi dalam berbagai manifestasi klinis yang luas dari bakteriuria
dengan gejala klinis yang terbatas sampai sepsis, sepsis berat atau syok septik, tergantung pada penyebaran lokal
atau sistemik. Dalam 20-30% dari semua pasien septik fokus infeksi terlokalisir pada saluran urogenital [1].
Namun hanya 3 - 5% dari kasus urosepsis dengan kasus resisten di sebuah rumah sakit veteran yang terjadi
disebuah pusat pelayanan urologi [2]. Dalam satu studi, [3] 59 pasien (54% wanita) dengan syok uroseptic
dianalisis selama sepuluh tahun di departemen urologi. Tujuh puluh delapan persen dari pasien menunjukkan
obstruksi pada saluran kemih sebagai faktor predisposisi dan sisanya 22% menunjukkan uropati dengan dampak
signifikan atau berarti pada urodinamik. Tujuh belas persen dari pasien berkembang menjadi urosepsis setelah
intervensi urologi. Penyakit obstruktif saluran kemih yang menyebabkan pielonefritis obstruktif disebabkan 65%
oleh batu ureter, 21% oleh tumor, 5% kehamilan, 5% oleh anomali saluran kemih dan di 4% akibat operasi [4].
Dalam studi lain, dari 205 riwayat kasus urosepsis yang dianalisis, 43% akibat urolithiasis, 25% akibat adenoma
prostat, 18% kanker terkait urologi dan 14% menderita penyakit urologi lainnya yang berkomplikasi menjadi
urosepsis [5]. Pada pasien dengan ISK nosokomial yang dirawat di departemen urologi, prevalensi urosepsis
adalah, rata-rata, sekitar 12% [6], sedangkan pada pasien dengan ISK nosokomial dirawat di spesialisasi lain,
prevalensi untuk sepsis berat adalah 2% dan untuk syok septik 0 - 3% [7].

Sepsis berat adalah situasi kritis dengan tingkat kematian dilaporkan berkisar antara 20% sampai 42% [8]. Kasus
sepsis paling parah dilaporkan dalam literatur terkait dengan paru (50%) atau infeksi abdomen (24%), dengan
penyebab ISK terhitung sekitar 5% sampai 7%. Sepsis biasanya terjadi pada pria dibandingkan pada wanita [8].
Dalam beberapa tahun terakhir, kejadian sepsis telah meningkat [8,11], tetapi angka terkait kematian telah
menurun yang menunjukkan perbaikan pengelolaan pasien [8,11]. Urosepsis juga dapat menunjukkan tingkat
kematian yang tinggi dari 25% sampai 60% pada kelompok pasien khusus [12]. Namun terdapat temuan yang
konsisten bahwa kematian terkait dengan syok septik yang berasal dari sistem kemih secara substansial lebih
rendah dibanding semua sumber-sumber lain. Hal ini mungkin mencerminkan adanya kemudahan saat berurusan
dengan sumber infeksi melalui drainase, meskipun hal ini belum ditetapkan.

Definisi Urosepsis
Urosepsis didefinisikan sebagai sepsis yang disebabkan oleh infeksi saluran kemih dan / atau organ kelamin laki-
laki (misalnya prostat). Para pasien terpapar oleh mikro-organisme yang mampu merangsang terjadinya inflamasi
dalam saluran kencing dan traktus genital laki-laki.

Dalam urosepsis, seperti dalam jenis lain dari sepsis, tingkat keparahan sepsis sebagian besar bergantung pada
respon host. Pasien yang lebih mungkin untuk mengembangkan urosepsis termasuk pasien usia lanjut, penderita
diabetes, pasien imunosupresi seperti penerima transplantasi, pasien yang menerima kemoterapi kanker atau
kortikosteroid dan pasien dengan acquired immunodeficiency syndrome. Sepsis adalah respon inflamasi sistemik
terhadap infeksi. Tanda-tanda dan gejala SIRS (sindrom respon inflamasi sistemik), yang awalnya dianggap
'diagnosa pasti' untuk sepsis [13,14], sekarang dianggap gejala peringatan [15]. Banyak gejala klinis atau biologis
lainnya harus diperhatikan. Klasifikasi dari sindrom sepsis memiliki berbagai tingkat kriteria:

Kriteria i:
Bukti bakteremia atau kecurigaan klinis sepsis.
Kriteria ii:
Sindrom Respon Inflamasi Sistemik (SIRS)
Suhu tubuh ≥ 38 ° c atau ≤ 36 ° c
Takikardia ≥ 90 denyut min-1
Takipnea ≥ 20 napas min-1
Respiratory alcalosis Paco2 ≤ 32 mm hg
Leukosit ≥ 12 000 ul-1 atau ≤ 4000 ul-1
Atau bandforms> 10%
Kriteria iii:
Sindrom Gangguan Organ Multipel/ Multiple Organ Dysfunction Syndrome (MODS)
Jantung, sirkulasi tekanan darah sistolik arteri ≤ 90 mm hg atau mean arterial blood pressure ≤ 70 mm hg, ≥ 1
jam meskipun telah diberi agen resusitasi yang adekuat seperti cairan atau vasopressur.
Ginjal produksi urin <0,5 ml kg-1 berat badan / jam meskipun telah diberi resusitasi cairan yang adekuat.
Paru-paru PaO2 ≤ 75 mm Hg (udara ruangan) atau PaO2 / FiO2 ≤ 250 (pernapasan dibantu) [(PaO2, arteri O2
tekanan parsial FiO2, konsentrasi inspirasi O2)].
Trombosit trombosit <80 000 ul-1 atau menurun ≥ 50% dalam 3 hari.
Metabolik asidosis pH-darah ≤ 7,30 atau melebihi ≥ 5 mmol l-1; plasma laktat ≥ 1,5 kali lipat dari normal.
Encephalopathy somnolen, agitasi, kebingungan, koma.

Menurut kriteria ini sindrom sepsis diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan:

Sepsis: kriteria i + ≥ 2 kriteria ii. Terkait untuk mematikan: 2 kriteria ii - 7%; 3 kriteria ii - 10%; 4 kriteria
Ii - 17%.
Sepsis berat: kriteria i + ≥ 2 kriteria ii + ≥ 1 kriteria iii. Terkait untuk mematikan: untuk setiap organ terpengaruh:
+ 15 - 20%.
Syok septik: kriteria i + kriteria ≥ 2 ii + hipotensi arteri refrakter ≤ 90 mm hg. Terkait kematian: 50-80%.

Untuk tujuan terapeutik, kriteria diagnostik sepsis harus dikenali pada pasien pada tahap awal dari sindrom, agar
mendorong urolog dan spesialis perawatan intensif untuk mencari, dan mengobati, infeksi, menerapkan terapi
yang tepat dan memantau untuk kegagalan organ dan komplikasi lainnya. Dalam kasus urosepsis bukti klinis ISK
didasarkan pada gejala, pemeriksaan fisik, sonografi dan fitur radiologi dan data laboratorium, seperti bakteriuria
dan leukosituria.

Diagnosis Dan Manajemen Urosepsis


Diagnosis yang cepat sangat penting untuk memenuhi tujuan awal terapi [16]. Algoritma diagnosis dan
manajemen karena itu dapat membantu (gambar 1.):

Aspek klinis yang mendukung untuk sepsis berat



Kriteria sepsis positif

Pemberian oksigen + resusitasi cairan


Gejala dan tanda yang mengindikasikan urosepsis (analisis urin/kultur)

Evaluasi sonografi dari traktus urogenital



Mencapai tujuan terapi (CVP 8-12 mmHg; MAP ≥ 65 mmHg; CVO2 ≥ 70%

+
Terapi antibiotik empiris
Jika
Jika diindikasikan,
diindikasikan, evaluasi
evaluasi radiografi
radiografi dari
dari saluran
saluran kemih
kemih

Kontrol/eliminasi faktor komplikasi



Terapi spesifik sepsis, bila diperlukan

Manajemen Awal
Tanda awal pada pasien sering direktif/mengarah pada gejala sepsis. Gambaran klinis dari pasien septik sering,
namun tidak selalu, melibatkan kulit yang menjadi hangat, nadi yang tidak beraturan dan hiperdinamik sirkulasi.
Jika pasien hipovolemik, memiliki disfungsi miokard, atau pada tahap akhir dari proses septik, hipotensi,
vasokonstriksi dan sianosis perifer dapat muncul. Dokter pada saat melihat pasien masuk harus cepat memeriksa
jika terdapat kriteria diagnosis sepsis, untuk memulai pemeriksaan lebih lanjut. Jika sepsis dicurigai, memiliki
tujuan terapi awal (segera) telah terbukti menurunkan angka kematian [16,17].