Anda di halaman 1dari 35

Usulan Penelitian Skripsi

PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI PROBIOTIK


DAN ZINC TERHADAP DURASI DAN FREKUENSI
DIARE PADA PASIEN ANAK DI RUMAH SAKIT
ISLAM FATIMAH CILACAP

Diajukan oleh:
Oktafiani wulandari
15.02.00052

Kepada :
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI (S1)
STIKES PAGUWARMAS MAOS
CILACAP
2019
HALAMAN PENGESAHAN USULAN SKRIPSI

1. Judul Usulan Skripsi : Pengaruh pemberian kombinasi probiotik dan zink


terhadap durasi dan frekuensi diare pada pasien
anak di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap
2. Nama Penyusun : Oktafiani wulandari
3. NIM Penyusun : 15.02.00052
4. Alamat rumah : Dusun Jenggalan Desa Sidamulya rt 004/rw 002
Kecamatan Sidareja
5. Nomer hp : 081351573657
6. Alamat email : Oktafianiwulandari1997@gmail.com
7. Nama Pembimbing Utama : Definingsih yuliastuti M.,Farm., Apt
8. Nama pembimbing Pendamping : Wahyunita Yuliasari M.,Farm., Apt

Cilacap, 3 Desember 2018


Pengusul

Oktafiani wulandari
15.02.00052

Menyetujui :
Pembimbing Pendamping : Pembimbing Utama :

Wahyunita yuliasari M.,Farm., Apt Definingsih yuliastuti M.,Farm.,Apt


NIK. 93140889 NIK. 96150789
PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Oktafiani wulandari
NIM : 15.02.00052
Program study : S-1 Farmasi
Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Kombinasi Probiotik dan Zink
Terhadap Durasi dan Frekuensi Diare pada Paseien Anak
Di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa penelitian ini adalah hasil karya
sendiri dan sepanjang pengetahuan saya tidak bersifat materi yang dipublikasikan
atau ditulis oleh orang lain kecuali pada bagian-bagian tertentu yang saya ambil
sebagai acuan. Apabila terbukti pernyataan ini tidak benar, sepenuhnya menjadi
tanggung jawab saya.

Maos, 3 Desember 2018

Oktafiani wulandari
15.02.00052
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan, atas rahmat dan
karunian-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penyelesaian
skripsi ini dapat diselesaikan dengan bantuan berbagai pihak, dengan demikian
perlu penulis ucapkan terima kasih kepada :
1. Definingsih Yuliastuti,M.Farm.,Apt selaku pembimbing utama dan
Wahyunita Yuliasari,M.Farm.,Apt selaku pembimbing pendamping.
2. Wahyunita yuliasari,M.Farm.,Apt selaku Ketua Program Studi S1 Farmasi
beserta jajaranya.
3. Norif Didik Nur Imanah,M.Kes selaku Ketua STIKES Paguwarmas Maos-
Cilacap beserta jajaranya.
4. Kedua orang tua papah, mamah, kaka, adik serta keluarga besar prawiro
hutomo atas jasa, kesabaran dan doanya.
5. Teman-teman 12 srikandi (Dita, firoh, intan, lika, putri, beo, cabe, mba inung,
mba kurnia, ida, tiyul) yang selalu mendukung dan membantu dalam
menyelesaikan skripsi ini.
6. Dudik astono, Citra eka wulansari, Maryam mardiatul khasanah dan om
yunan yang selalu menssuport dan memotivasi dalam menyelesaikan skripsi
ini.

Maos, 3 Desember 2018

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................................ 1


HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................................... 2
USULAN SKRIPSI .................................................................................................................. 2
KATA PENGANTAR............................................................................................................... 4
DAFTAR ISI........................................................................................................................... 5
INTISARI............................................................................................................................... 7
ABSTRACT ............................................................................................................................ 8
BAB I
PENDAHULUAN ................................................................................................................... 9
A.Latar Belakang ............................................................................................................. 9
B.Rumusan Masalah...................................................................................................... 13
C.Tujuan Penelitian ....................................................................................................... 13
D.Manfaat Penelitian .................................................................................................... 13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................................... 14
A.Definisi ....................................................................................................................... 14
B.Klasifikasi Diare .......................................................................................................... 15
Patifisiologi .................................................................................................................... 18
C.Manifestasi Klinis ....................................................................................................... 19
D.Terapi ......................................................................................................................... 22
E.Probiotik ..................................................................................................................... 24
F.Zink ............................................................................................................................. 26
BAB III
METODE PENELITIAN ........................................................................................................ 31
A.Desain Penelitian ....................................................................................................... 31
B.Sampel ....................................................................................................................... 32
C.Prosedur Penelitian.................................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 34
DAFTAR GAMBAR
INTISARI

Berdasarkan data World Healt Organization (WHO) diare merupakan salah satu
penyakit dengan insiden tinggi di dunia. Diare sendiri adalah gangguan pada
saluran pencernaan yang menyebabkan buang air besar dengan konsistensi tinja
yang lembek biasanya disertai dengan peningkatan frekuensi dan apabila diukur
berat feses lebih dari 200 g perhari. Dinyatakan akut bila berlangsung kurang dari
14 hari, dinyatakan persisten bila terjadi antara 14-28 hari dan kronik bila lebih
dari 4 minggu. Dilaporkan terdapat 1,7 milyar kasus setiap tahunya, penyakit ini
sering menyebabkan kematian pada anak usia dibawah 5 tahun. Salah satu
tatalaksana diare menurut WHO adalah pemberian zinc. Zinc berperan
memelihara inegritas mukosa usus dan memperbaiki sistem imunitas. Probiotik
terbukti efektif dalam saluran cerna. Probiotik menginduksi kolonisasi dan
pertumbuhan flora normal usus, mencegah perlengketan bakteri patogen pada
mukosa, dan mengaktivasi sistem imun. Tujuan dari penelitian ini adalah
mengetahui dan menilai efektivitas pemberian kombinasi zinc dan probiotik
dengan terapi standar terhadap durasi dan frekuensi BAB pada penderita diare
selama perawatan di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan desain kohort
dengan pengambilan data dilakukan secara prospektif pada pasien diare pada anak
di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Islam Cilacap. Subjek yang diamati adalah
pasien yang mendapatkan terapi standar diare (cairan rehidrasi dan zinc) sebagai
kelompok I, dan yang mendapatkan terapi standar diare (cairan rehidrasi dan zinc)
yang dikombinasikan dengan probiotik sebagai kelompok II. Variabel
pengamatan utama adalah frekuensi dan durasi diare.

Kata kunci : Diare, probiotik, zinc, prospektif


ABSTRACT

Based on data from the World Healt Organization (WHO) diarrhea is one of the
diseases with high incidence in the world. Diarrhea itself is a disorder of the
digestive tract that causes defecation with the consistency of soft stools usually
accompanied by an increase in frequency and if measured by the weight of feces
more than 200 g per day. Acutely stated if it lasts less than 14 days, is declared
persistent if it occurs between 14-28 days and chronic if more than 4 weeks.
Reportedly there are 1.7 billion cases every year, this disease often causes death in
children under the age of 5 years. One of the treatments for diarrhea according to
WHO is zinc administration. Zinc plays a role in maintaining the integrity of the
intestinal mucosa and improving the immune system. Probiotics have proven
effective in the gastrointestinal tract. Probiotics induce colonization and growth of
normal intestinal flora, prevent adhesion of pathogenic bacteria to the mucosa,
and activate the immune system. The purpose of this study was to determine and
assess the effectiveness of the combination of zinc and probiotics with standard
therapy on the duration and frequency of bowel movements in patients with
diarrhea during hospital treatment. This study used a cohort design with data
collection conducted prospectively on diarrhea patients in children in the Inpatient
Unit of the Islamic Hospital of Cilacap. The subjects observed were patients who
received standard diarrhea therapy (rehydration and zinc fluids) as group I, and
those who received standard diarrhea therapy (rehydration fluid and zinc)
combined with probiotics as group II. The main observation variables are the
frequency and duration of diarrhea.
Keywords: Diarrhea, probiotics, zinc, prospective
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare merupakan salah satu penyakit dengan insiden tinggi di dunia definisi

diare sendiri adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan

dapat berupa air saja dengan frekuensi lebih sering dari biasanya (tiga kali atau

lebih) dalam satu hari (Depkes RI 2011).

Sedangkan menurut Setiati S, dkk (2014) Diare adalah buang air besar

dengan konsistensi tinja yang lembek biasanya disertai dengan peningkatan

frekuensi dan apabila diukur berat feses lebih dari 200g perhari. Dinyatakan akut

bila berlangsung kurang dari 14 hari, dinyatakan persisten bila terjadi antara 14-28

hari dan kronik bila lebih dari 4 minggu.

Menurut Hartati S dan Nurazila (2018) Dilaporkan terdapat 1,7 milyar kasus

setiap tahunya, penyakit ini sering menyebabkan kematian pada anak usia

dibawah lima tahun (balita). Dalam satu tahun sekitar 760.000 anak usia balita

meninggal karena penyakit ini (World Health Organization (WHO), 2013).

Didapatkan 99% dari seluruh kematian pada anak balita terjadi di negara

berkembang, sekitar ¾ dari kematian anak terjadi di dua wilayah WHO yaitu

Afrika dan Asia Tenggara. Sebanyak ¾ kematian anak umumnya disebabkan

penyakit yang dapat dicegah seperti kondisi neonatal, pneumonia, diare, malaria,

dan measles (WHO, 2013). Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di

negara berkembang seperti Indonesia diperkirakan diare yang masuk dalam data
pasien diare di fasilitas kesehatan Indonesia yaitu 6.897.463 dan diare yang

ditangani 2.544.084 setiap tahunya, maka prosentase diare yang dapat ditangani

yaitu 36,9 % (Profil Kesehatan Indonesia, 2016). Jadi dengan kata lain prosentase

kasus pada diare anak yang tidak dapat ditangani lebih besar, dari data tersebut di

simpulkan bahwa banyak kasus gagal ditangani dengan cepat dapat menyebabkan

kematian. Kematian tersebut terutama disebabkan karena penderita mengalami

dehidrasi berat. 70-80% penderita adalah mereka yang berusia balita (bawah 5

tahun).

Dari penemuan kasus diare di provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015 angka

kejadian diare yang ditemukan dan ditangani memperoleh prosentase sebesar

67,7% (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2015). Sedangkan pada data

kesehatan Kabupaten Cilacap pada tahun 2015 penyakit diare dan gastroenteritis

non spesifik masuk kedalam 10 besar penyakit terbanyak di wilayah puskesmas

Kabupaten Cilacap sejumlah 12.389 kasus (Profil Kesehatan Cilacap, 2015).

Faktor–faktor yang mempengaruhi kejadian diare antara lain usia, asupan

diet, status gizi dan keadaan mukosa usus. Usia kurang dari 2 bulan, asupan diet,

pemberian ASI atau gizi yang buruk dapat mempengaruhi frekuensi dan durasi

diare. Terapi baku pada diare akut sesuai pedoman WHO adalah pemberian cairan

rehidrasi (oral atau parenteral), pemberian zink selama 10-14 hari serta

meneruskan pemberian dietetik (Shinta dkk., 2011). Zink juga meningkatkan

sistem kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah resiko terulangnya diare selama

2-3 bulan setelah anak sembuh dari diare (Nursa’in, 2017).


Penatalaksanaan diare akut menurut WHO terdiri dari rehidrasi (cairan oralit

osmolaritas rendah), diet, zink, antibiotik selektif (sesuai indikasi), dan edukasi

kepada orang tua pasien. Selain itu, beberapa randomized controlled tialis (RCT)

dan meta analisis menyatakan bahwa probiotik efektif untuk pencegahan primer

maupun sekunder serta untuk mengobati diare (Yonata, 2016).

Organisasi pangan dunia FAO (Food and Agriculture Organization),

probiotik adalah suatu mikroorganisme hidup yang bermanfaat bagi kesehtan

inang (baik itu hewan maupun manusia). Prinsip kerja probiotik yaitu dengan

memanfaatkan kemampuan organisme tersebut dalam menguraikan rantai panjang

karbohidrat, protein dan lemak. Kemampuan ini diperoleh karena adanya enzim

enzim khusus yang dimiliki oleh mikroorganisme untuk memecahkan ikatan.

Pemecahan molekul kompleks menjadi molekul sederhana mempermudah

penyerapan oleh saluran pencernaan manusia. Disisi lain, mikroorganisme

pemecah ini mendapat keuntungan berupa energi yang diperoleh dari hasil

perombakan molekul kompleks (Widiyaningsih, 2011).

Bakteri probiotik dapat membantu proses absorpsi nutrisi dan menjaga

gangguan dalam penyerapan air yang akan berpengaruh pada perbaikan kosistensi

feses. Mekanisme yang sama pada zink yaitu dapat memperbaiki atau

meningkatkan absorbsi air dan elektrolit dengan cara mengurangi kadar air dalam

lumen usus yang menghasilkan perbaikan pada kosistensi feses. Perbaikan

kosistensi feses dapat mengurangi frekuensi buang air besar (BAB) yang timbul

sehingga hal tersebut dapat pula mempersingkat lama diare pada anak. Hal ini

sesuai dengan penelitian Manopo (2010), yang menyatakan bahwa suplementasi


zink dan probiotik pada diare akut efektif mengurangi keluaran tinja (Yonata,

2016). Penelitian tentang penatalaksanaan diare yang menggunakan preparat zinc

maupun penelitian yang menggunakan preparat probiotik secara terpisah telah

banyak dilakukan di berbagai negara, dan dari penelitian tersebut membuktikan

baik preparat zink maupun probiotik secara terpisah mampu menurunkan lama

diare (Huda, dkk., 2017).

Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk melihat dampak suplementasi

zink dan probiotik terhadap kejadian diare anak seperti penelitian yang dilakukan

oleh Shamir di Israel, yaitu mengkombinasikan antara probiotik, zink serta

placebo pada diet bayi usia 6-12 bulan terbukti secara signifikan mengurangi

derajat berat dan lama diare akut pada kelompok perlakuan (Rahmayani, dkk.,

2014).

Berdasarkan tingginya angka pasien diare pada anak dan kebutuhan pelayanan

pasien berdasarkan pada bukti yang kuat, serta masih sangat minim dilakukanya

penelitian tentang penggunaan zinc, probiotik maupun kombinasi keduanya dalam

pengelolaan diare di fasilitas kesehatan khusunya di Kabupaten Cilacap yang pada

tahun 2015 berdasarkan data Profil Kesehatan Cilacap Diare masuk ke dalam 10

penyakit terbanyak di fasilitas kesehatan Puskesmas, maka perlu dilakukan

penelitian untuk mengetahui apakah penambahan probiotik terhadap terapi standar

diare akan memberikan efek yang lebih baik terhadap penurunan frekuensi dan

durasi diare pada pasien anak, serta terhadap kejadian diare beulang.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan beberapa

masalah diantaranya :

1. Apakah pengobatan yang diberikan pada pasien diare anak sudah sesuai

dengan standar pengobatan ?

2. Apakah ada perbedaan frekuensi dan durasi diare pada penderita diare bila

diberikan kombinasi terapi zink dan probiotik dari pada terapi zink saja ?

3. Apakah pemberian kombinasi obat antara zink dan probiotik pada pasien

diare anak dapat meningkatkan efektivitas terapi yang dilakukan ?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi peranan zink pada pasien diare anak

2. Mengetahui pengobatan yang diberikan sudah sesuai dengan standar

3. Mengevaluasi pengaruh pemberian zink pada penderita diare anak

4. Mengevaluasi penggunaan probiotik dan zink pada pasien diare anak

D. Manfaat Penelitian

1. Memberikan bukti ilmiah tentang terapi penggunaan kombinasi probiotik dan

zink dapat memperpendek frekuensi dan durasi diare dibandingkan dengan

terapi zink atau probiotik saja pada terapi diare pada anak

2. Menerapkan penggunaan kombinasi probiotik dan zink pada pasien diare

disuatu instalasi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan

dapat berupa air saja dengan frekuensi lebih sering dari biasanya (tiga kali atau

lebih) dalam satu hari (Depkes, RI 2011).

Menurut Tjay TH dan Kirana Rahardja (2013) penyebab diare adalah terdapat

gangguan dari resorpsi, sedangkan sekresi getah lambung-usus dan motilitas usus

meningkat. Menurut teori klasik diare disebabkan oleh meningkatnya peristaltik

usus tersebut, sehingga pelintasan chymus sangat dipercepat dan masih

mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja. Penelitian

dalam bertahun-tahun terakhir menunjukan bahwa penyebab utamanya adalah

bertumpukanya cairan di usus akibat terganggunya resorpsi air atau dan terjadinya

hipersekresi. Pada keadaan normal proses resorpsi dan sekresi dari air dan

elektrolit-elektrolit berlangsung pada waktu yang sama di sel-sel epitel mukosa.

Biasanya resorpsi melebihi sekresi, tetapi karena sesuatu sebab sekresi menjadi

lebih besar daripada resorpsi dan terjadilah diare. Keadaan ini sering kali terjadi

pada gastroenteritis (radang lambung-usus) yang disebabkan oleh virus, kuman

dan toksinnya.
B. Klasifikasi Diare

Suharyono (2008) membuat klasifikasi berdasarkan pada ada atau tidak

adanya infeksi ; gastroenteritis (diare dan muntah) diklasifikasikan menurut dua

golongan :

a. Diare infeksi spesifik : tifus abdomen dan paratifus, disentri basil (shigella),

enterokolitis stafilokok.

b. Diare non-spesifik : diare dietetik.

Disamping itu diklasifikasikan lain diadakan berdasarkan organ yang terkena

infeksi :

a. Diare infeksi enteral atau diare karena infeksi di usus (bakteri,virus, parasit).

b. Diare infeksi parenteral atau diare karena infeksi di luar usus (otitis media,

infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran urin dan lainya).

Sedangkan menurut Lama waktu diarenya :

a. Diare akut atau diare karena infeksi usus yang bersifat mendadak. Diare

karena infeksi usus dapat terjadi pada setiap umur dan bila menyerang bayi

umumnya disebut gastroenteritis infantil dan timbul secara mendadak dan

berhenti cepat atau maksimal berlangsung sampai 2 minggu.

b. Diare kronik yang umumnya bersifat menahun ; diantara diare akut dan

kronik disebut diare subakut, diare ini biasanya berlangsung 2 minggu atau

lebih (Suharyono, 2008).


Aspek mikrobiologi :

1. Virus penyebab gastroenteritis

Dalam biakan tinja penderita gastroenteritis sering tidak ditemukan bakteri

patogen ; sebelum tahun 1950 dengan tidak adanya dasar, disangka bahwa

gastroenteritis disebabkan karena virus. Baru sejak tahun 1950-an di Amerika

Utara dilakukan penelitian virus pada diare. Meskipun adenovirus dan virus

ECHO dalam biakan tinja bayi yang menderita gastroenteritis, tetapi kedua vitrus

ini didapat juga dalam biakan tinja anak kontrol yang sehat. Ahli-ahli di Inggris

menanggapi bahwa virus sebagai penyebab gastroenteritis belum terbukti pada

saat itu (Suharyono, 2008).

2. Rotavirus

Rotavirus penyebab gastroenteritis, Rotavirus yang ditemukan di berbagai

negara merupakan etiologi yang paling penting dari gastroenteris bayi dan anak.

Di Melbourne, Toronto, Canada, dan Washington DC, pada anak yang dirawat

dengan gastroenteristis akut ditemukan rotavirus sebagai penyebab pada 50-80%

kasus.

Angka kejadian Rotavirus, infeksi rotavirus biasanya terdapat pada anak-anak

umur 6 bulan- 2 tahun. Angka kejadian penyakit ini berkurang dengan

bertambahnya umur. Dikatakan bahwa gastroenteritis akibat rotavirus terdapat

lebih sering pada anak laki-laki daripada anak perempuan (Suharyono, 2008).

3. Norwalk agent
Pada permulaan tahun 1970 ditemukan sebagia penyebab diare, virus ini

dikenal sebagai Norwalk. Virus lain yang morfologi sama, tapi imunologi berbeda

telah ditemukan pula, yaitu Motgomery Country dan Hawaii agents (Suharyono,

2008).

Bakteri penyebab Gastroenteritis :

Bakteri penyebab gastroenteritis tradisional adalah Escherichid coli,

Salmonella, Shigella, Vibrio, (termasuk non cholergenic forms), Clostridia

perfringens, Staphylococcus (Suharyono, 2008).

Kuman Sumber Masa Gejala Pemulihan

Inkubasi (Recovery)

Bacillus Makanan 1-6 jam Muntaber,dehidrasi Cepat

cereus

Clostrid. Makanan 8-22 jam Diare, nyeri kejang 2-3 hari

Perfring.

E.coli Daging sapi, 12-48 jam Diare darah 10-12 hari

susu

Camylob. Daging sapi/ 48-96 jam Diare dengan 3-5 hari

jejuni unggas, susu darah, demam,

nyeri perut

Clostrid. Makanan 18-24jam Diare dengan 10-14 hari

botulin dikaleng/botol gangguan syaraf

Salmon. Daging 12-48 jam Muntaber,demam 3-6 hari sp 2


sapi/unggas, minggu

susu

Shigella. Makanan/air 24-48 jam Diare dengan Kurang dari

darah 24 jam

Staphyl. Makanan/air 2-4 jam Muntaber,

Aur. dehidrasi

Gambar 1.00 Contoh Kuman-Kuman penyebab keracunan Makanan

C. Patofisiologi

Menurut Sukanandar E, dkk (2013) patofisologi diare yaitu :

a. Diare adalah kondisi ketidakseimbangan absorpsi dan sekresi air dan

elektrolit.

b. Terdapat 4 mekanisme patofisiologi yang menganggu keseimbangan air dan

elektrolit yang mengakibatkan terjadinya diare yaitu :

1. Perubahan transport ion aktif yang disebabkan oleh penurunan absorbsi

natrium atau peningkatan sekresi klorida.

2. Perubahan motilitas usus.

3. Peningkatan osmolaritas luminal.

4. Peningkatan tekanan hidrostatik jaringan.

c. Mekanisme tersebut sebagai dasar pengelompokan diare secara klinik, yaitu :


1. Secretory diarrhea, terjadi ketika senyawa yang strukturnya mirip (contoh :

vasoactive Intestinal Peptide (VIP) atau toksin bakteri) meningkatkan sekresi

atau menurunkan absorbsi air dan elektrolit dalam jumlah besar.

2. Osmotic diarrhea, disebabkan oleh absorbsi zat-zat yang memperahankan

cairan intestinal.

3. Eksudativ diarrhea, disebabkan oleh absorbsi penyakit infeksi saluran

pencernaan yang mengeluarkan mukus, protein atau darah ke dlaam saluran

pencernaan.

4. Mortalitas usus dapat berubah dengan mengurangi waktu kontak di usus

halus, pengosongan usus besar yang prematur dan pertumbuhan bakteri yang

berlebihan (Sukanandar E, dkk., 2013).

D. Manifestasi Klinis

Menurut Sukanandar E, dkk ( 2013) Manifestasi diare yaitu :

1. Diare dikelompokan menjadi akut dan kronis. Umunya episode diare akut

hilang dalam waktu 72 jam dari onset. Diare kronis melibatkan serangan yang

lebih sering selama 2-3 periode yang lebih panjang.

2. Penderita diare akut umumnya mengeluhkan onset yang tak terduga dari

buang air besar yang encer, gas-gas dalam perut, rasa tidak enak, dan nyeri

peurt. Karakteristik penyakit usus halus adalah terjadinya internittent

periumbilical atau nyeri pada kuadran kanan bawah disertai kram dan bunyi

pada perut. Pada diare kronis ditemukan adanya penyakit sebelumnya,

penurunan berat badan dan nafsu makan.


3. Diare dapat disebabkan oleh bebrapa senyawa termasuk antibiotik dan obat

lain, selain itu penyalahgunaan pencahar untuk menurunkan berat badan juga

dapat menyebabkan diare.

4. Pada diare pemeriksaan fisik abdomen dapat mendeteksi hiperperistaltik

dengan borborygymi (bunyi pada lambung). Pemeriksaan rektal dapat

mendeteksi massa atau kemungkinan fecal impaction, penyebab utama diare

pada usia lanjut.

5. Pemeriksaan turgor kulit dan tingkat keberadaan saliva oral berguna dalam

memperkirakan status cairan tubuh. Jika terdapat hipotensi, takikardia, denyut

lemah, diduga terjadi dehidrasi. Adanya demam mengindikasikan adanya

infeksi.

6. Untuk diare yang tidak dapat dijelaskan terutama pada situasi kronis dapat

dilakukan pemeriksaan parasit dan ova pada feses, darah, mukus dan lemak.

Selain itu juga dapat diperiksa osmolaritas feses, ph, dan elektrolit

(Sukanandar E, dkk., 2013).

E. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan melalui amnesis mengenai hal berikut (Setiati S, dkk.,

2014).

1. Tanyakan gejala dan tanda yang sesuai dengan kemungkinan penyebab (non

inflamasi atau inflamasi).

2. Adanya kontak dengan sumber yang berpotensi tercemar patogen penyebab

diare.
3. Riwayat perjalanan, aktivitas seperti berenang, kontak dengan orang yang

sakit serupa, tempat tinggal, juga pola kehidupan seksual.

4. Adanya riwayat pengobatan dan diketahui penyakit lain seperti infeksi HIV.

Pemeriksaan fisik secara general tidak mengarah ke diagnosis secara spesifik

namun lebih untuk menilai status hidrasi pasien. Termasuk pemeriksaan ada

tidaknya tanda bahaya seperti nyeri perut hebat terutama pada pasien usia lanjut

atau dengan kondisi imun menurun (Setiati S, dkk., 2014).

Pemeriksaan penunjang meliputi Darah : darah perifer lengkap, ureum, kreatinin,

elektrolit, (Na+, K+, Cl-). Analisis Gas Darah (bila dicurigai ada gangguan

keseimbangan asam basa), pemeriksaan toksin (C. Difficile), antigen (E.

Hystolitica) (Setiati S, dkk., 2014).

Pemeriksaan Feses : analisis feses (rutin : leukosit di feses. Pemeriksaan parasit :

amoeba, hifa. Pemeriksaan kultur) (Setiati S, dkk., 2014).

Pada kasus ringan, diare bisa teratasi dalam waktu <24 jam. Pemeriksaan lanjut

diutamakan pada kondisi yang berat seperti diare yang tidak teratasi sehingga

menyebabkan hipotensi, disentri, disertai demam, diare pada usia lanjut, atau

pasien dengan kondisi imun yang rendah (HIV, pasien dengan penggunaan obat

kemoterapi) (Setiati S, dkk., 2014).


F. Terapi

a. Tujuan Terapi

Tujuan terapi pada pengobatan diare adalah untuk mengatur diet ; mencegah

pengeluaran air berlebihan, elektrolit, dan gangguan asam basa; menyembuhkan

gejala; mengatasi penyebab diare; dan mengatur gangguan sekunder yang

menyebabkan diare (Sukanandar E, dkk., 2013).

b. Pendekatan Umum

Pengaturan diet merupakan prioritas utama untuk pengobatan diare. Klinisi

merekomendasikan untuk menghentikan makanan padat selama 24 jam dan

menghindari produk-produk yang mangandung susu (Sukanandar E, dkk., 2013).

Apabila terjadi mual dan muntah tingkat sedang, diberikan diet residu rendah

yang mudah dicerna selama 24 jam (Sukanandar E, dkk., 2013).

Jika terjadi muntah dan tidak dapat dikontrol dengan pemberian antiematik tidak

ada yang diberikan melalui mulut. Pemberian diet makanan lunak dimulai seiring

adanya penurunan gerakan usus. Pemberian makanan sebaiknya diteruskan pada

anak-anak dengan diare akibat bakteri akut (Sukanandar E, dkk., 2013).

Rehidrasi dan perbaikan air dan elektrolit adalah perawatan primer sampai diare

berakhir. Apabila muntah dan dehidrasi tidak parah, pemberian makanan enteral

merupakan metode yang terpilih (Sukanandar E, dkk., 2013).

c. Terapi Farmakologi
Obat-obat yang digunakan dalam pengobatan diare dikelompokkan manjadi

beberapa kategori yaitu antimotilitas, adsorben, antisekresi, antibiotik, enzim, dan

mikroflora usus. Obat-obatan tesebut tidak menyembuhkan tetapi hanya

meringankan.

d. Obat-obat antidiare :

1. Opiat dan turunan opioid menunda transit isi intraluminal atau meningkatkan

kapasitas saluran cerna, memperpanjang waktu kontak kontak dan absorbsi

keterbatasan penggunaan opiat adalah potensi terjadinya adikasi dan

memperburuk penyakit pada diare yang disebabkan oleh infeksi.

2. Loperamid sering direkomendasikan untuk terapi diare akut dan kronis.

3. Adsorben (seperti kaolin peptin) digunakan untuk meringankan gejala, tetapi

kerjanya tidak spesifi, sehingga dapat mengabsorbsi nutrisi, toksin, obat dan

getah pencernaan. Pemberian bersama dengan obat lain akan mengurangi

bioavailabilitas.

4. Bismut subsalisilat sering digunakan untuk pengobatan atau pencegahan diare

dan memiliki efek antisekresi, antiinflamsi, dan antibakteri.

5. Sediaan lactobacillus merupakan pengobatan kontroversional yang

diharapkan dapat mengganti koloni mikrofag. Hal ini diduga dapat

mengembalikan fungsi usus dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme

patogen. Diet produk susu yang mengandung laktosa 200-400 g atau dekstrin,

efektif dalam rekolonisasi mikroflora.


6. Obat-obat antikolinergik seperti antropin, dapat menghambat vagal tone dan

memperpanjang waktu transit saluran cerna.

7. Antibiotik dapat menyembuhkan diare apabila organisme penyebabnya peka

terhadap antibiotik tersebut, tetapi infeksi diare sangat terbatas dan diobati

dengan terapi pendukung.

8. Oktreotida, suatu analog oktapeptid sintetik dari somatostatin yang

diresepkan untuk pengobatan genjala tumor karsinoid dan tumor sekresi VIP.

Oktreopeptid menghambat pelepasan seratonin dan ppetida aktif lain serta

efektif dalam mengontrol diare. Interval dosis untuk penanganan diare yang

disertai tumor karsinoid adalah 100-600 nm/hari dalam 2-4 dosis terbagi

secara subkutan (Sukanandar E, dkk., 2013).

e. Probiotik

Probiotik didefinisikan sebagai mikroorganisme hidup yang bila diberikan

dalam jumlah adekuat dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan pejamu,

probiotik berperan sebagai strain non patogenik dari organisme yang dimasukan

ke dalam diet untuk memodifikasi mikroba usus, menyebabkan perubahan

struktural (ekologi usus) dan fungsional (ekologi usus) yang menguntungkan

dalam usus (Mulyani, dkk., 2016)

Probiotik merupakan suplemen makanan berupa bakteri hidup yang non

patogen, tidak toksik, tahan terhadap asam lambung dan dapat berkoloni pada

usus besar (kolon). Jenis bakteri probiotik yang paling dikenal adalah golongan

bakteri asam laktat dan Bifidobacteria. Probiotik yang telah diproduksi secara
komersial adalah camputan Lactobacilus dan Bifidobacteria, walaupun kadang

kadang khamir seperti saccharomyces juga digunakan. Bakteri ini dapat memecah

karbohidrat yang tidak tercena oleh saluran pencernaan manusia dan langsung

berinteraksi dengan metabolisme inang (Feliatra, 2018).

Sejarah probiotik dimulai dari awal peradaban manusia : keju dan susu

fermentasi amat dikenal oleh bangsa Yunani dan Romawi dan diberikan pada

anak dan orang yang baru sembuh dari penyakit. Probiotik adalah

mikroorganisme yang bila di konsumsi peroral akan memberikan dampak positif

bagi kesehatan manusia dan merupakan galur flora usus normal yang dapat

diisolasi dari tinja manusia sehat. Kaitan ilmiah antara probiotik dan manfaatnya

bagia kesehatan manusia diungkapkan pertama kali oleh ahli mikrobiologi Rusia

bernama Metchnikoff (1907). Ia menyatakan bahwa, asam laktat yang dihasilkan

oleh Lactobacillus dalam yogurt dapat menghambat pertumbuhan bebrapa spesies

bakteri patogen. Probiotik bekerja secara aman, karena probiotik bekerja dengan

beberapa cara diantaranya mikroba yang berperan sebagai probiotik memiliki

kemampuan memangsa organisme yang merugikan inang seperti parasit atau

mikroba patogen (Feliatra, 2018).

Mikroba penyusun probiotik yang aktiv disaluran pencernaan bagian

belakang pada umumnya adalah bakteri yang berasal dari genus Strepcoccus,

Leuconostok, Pediokokus, Propionibakterium, Bacillus, dan Enlerococcu. Spesies

dari genus Streptococcus yang digunakan sebagai probiotik adalah Streptococcus

salivarius, Streptococcus Lactis, Streptococcus Cremoris, Strepcoccus Diacetil

Lactis, dan Streptococcus Intermedius. Spesies khamir yang digunakan sebagai


probiotik adalah Saccharoinycs cerevisereae dan Khandida Pentolopesii,

sedangkan spesies jamur yang digunakan sebagai probiotik adalah Aspergillus

niger dan Aspergillus orizae (Feliatra, 2018).

f. Zink

Zink sebagau salah satu mineral esensial mempunyai fungsi yang penting

didalam tubuh manusia, diantaranya adalah sebagai kofaktor lebih dari 100

metaloenzim untuk sintesis DNA, integritas seluler, berperan dalam metabolisme

tulang dan hati, berguna untuk proses transkipsi dan regulasi ekpresi gen, untuk

poliferasi dan diferensiasi jaringan misalnya pada saluran pencernaan (Latif,

2015). Pertimbangan pemberian Zink sebagai salah satu terapi pada diare akut

berdasarkan pada hubungan timbal balik yaitu bila terjadi defisiensi zink akan

menyebabkan diare dan bila terjadi diare bisa menimbulkan defisiensi zink,

Mekanisme yang sama pada zink yaitu dapat memperbaiki atau meningkatkan

absorbsi air dan elektrolit dengan cara mengurangi kadar air dalam lumen usus

yang menghasilkan perbaikan pada kosistensi feses, perbaikan kosistensi feses

akan dapat mengurangi frekuensi BAB yang timbul sehingga hal tersebut dapat

pula mempersingkat lama diare pada anak (Latif, 2015). Tubuh mempunyai

kemampuan untuk memelihara homeostatik zink dalam keadaan diet dengan

kandungan zink rendah maupun normal pada manusia berkisar antara 107-231

mol/hari (6-15mg/hari). Asupan zink kurang dari 10 mg/kg atau lebih dari 15/kg

akan membentuk mekanisme mekanisme homeostatik tidak cukup untuk

memelihara kandungan zink tubuh, sehingga terjadi zink loss atau akumulasi zink

dalam tubuh (Latif, 2015). Zink baik dan aman untuk pengobatan diare
berdasarkan hasil penelitian Departement of Cild and Adolesent Health and

Development, World Health Organization (2010) yaitu :

a. Zink sebagai obat pada diare.

b. Zink dan pengobatan diare akut

c. Zink dan pengobatan diare presisten

d. Zink sebagai obat pencegah diare akut dan persisten

e. Zink sebagai pencegahan dan pengobatan diare berdarah

f. Zink dan penggunaan antibiotik irasional

g. Zink aman diberikan kepada anak.

Cara pemberian obat zink :

a. Pastikan semua anak yang menderita diare mendapat obat zink selama 10 hari

berturut-turut.

b. Larutkan tablet dalam 1 sendok air minum atau ASI (tablet mudah larut kira-

kira 30 detik, segera berikan ke anak.

c. Bila anak muntah sekitar setengah jam setelah jam setelah pemberian obat

zink, ulang pemberian dengan cara potongan lebih kecil dilarutkan beberapa

kali hingga 1 dosis penuh.

d. Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus, tetap

berikan obat zink segera setelah anak bisa minum atau makan (Dinkes, 2010).
G. Penatalaksanaan

a. Penggantian cairan dan elektrolit

Aspek paling penting adalah menjaga hidrasi yang adekuat dan keseimbangan

elektrolit, dengan melakukan rehidrasi oral yang terdiri dari 3,5 gram natrium

klorida 2,5 gram natrium bikarbonat, 1,5 gram kalium klorida dan 20 gram

glukosa perliter air. Alternatif cairan rehidrasi oral pengganti dapat dibuat ½

sendok teh garam, ½ sendok teh baking soda, dan 2-4 sendok gula perliter. Dua

pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk pengganti kalium. Status hidrasi

harus dipantau dengan baik dengan memperhatikan tanda-tanda vital, pernapasan,

dan urin, serta penyesuaian infus jika diperlukan, pemberian harus diubah ke

cairan rehidrasi oral sesegera mungkin (Amin LZ, 2015).

Jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar.

Kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan memakai rumus.

Kebutuhan cairan = BD plasma-1,025 x Berat Badan (kg) x 4ml


0,001
Metode Pierce berdasarkan keadaan klinis :

1. Dehidrasi ringan : kebutuhan cairan 5% x Kg/BB

2. Dehidrasi sedang : kebutuhan cairan 8% x Kg/BB

3. Dehidrasi berat : kebutuhan cairan 10% x Kg/BB (Amin LZ, 2015).

b. Pengaturan Asupan Makanan

Pemberian asupan makanan diberikan secara normal, sebaiknya dalam porsi

kecil namun dengan frekuensi yang lebih sering. Pilih makanan yang mengandung
mikronutrien dan energi (pemenuhan kebutuhan kalori dapat diberikan bertahap

sesuai toleransi pasien). Menghindari makanan atau minuman yang mengandung

susu karena dapat terjadinya intoleransi laktosa, semikian juga makanan yang

pedas ataupun mengandung lemak yang tinggi (Setiati S, dkk., 2014).

c. Pemberian Terapi Simtomatik

Pemberian antimotilitas, atau pemberian antisektori seperti bismuth

subsalisillat dapat diberikan dengan dosis 2 tablet yang boleh diulang bila

masih ada diare tidak lebih dari 8 tablet per hari (Setiati S, dkk., 2014).

d. Komplikasi

Bila tidak diatasi bisa menjadi diare kronis (terjadi sekitar 1% pada diare akut

pada wisatawan). Bisa timbul defisiensi laktase, pertumbuhan bakteri di usus

secara berlebihan, sindrom malabsorbsi. Merupakan gejala awal pada

infammatory bowel disease. Menjadi predisposisi sindroma reiter’s atau

sindroma hematolitik-uremikum (Setiati S, dkk., 2014).

e. Pencegahan

1. Menjaga kebersihan air, sanitasi makanan dari vektor penyebab kuman

seperti lalat, kebiasaan mencuci tangan sebelum kontak dengan makanan.

2. Mengonsumsi makanan yang dimasak secara matang.

3. Vaksinasi (terutama untuk wisatawan), namun belum tersedia untuk semua

patogen yang ada (Setiati S, dkk., 2014).

f. Prognosis

Pada pasien dewasa yang tidak mengalami keterlambatan penangana,

sebagian besar kasus memiliki prognosis yang baik. Kematian bisa terjadi
terutama pada kasus yang terjadi pada usia lanjut atau pasien dengan kondisi

imunokompromais dengan status dehidrasi berat saat awal didiagnosis atau

dengan penyulit (Setiati S, dkk., 2014).


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian yang dilakukan masuk dalam jenis penelitian deskriptif

observasional dengan rancangan kohort. Pengumpulan data dilakukan secara

prospektif pada pasien anak dengan diagnosis diare akut maupun diare kronis

yang dirawat inap di pelayanan fasilitas kesehatan. Pemilihan subjek dilakukan

dengan teknik aksidental yaitu pengambilan sampel berdasarkan kebetulan, data

lansung dikumpulkan dari unit sampling yang ditemui.

Skema Desain Penelitian

Pasien Diare anak

Kelompok I Kelompok II
cairan
rehidrasi + Rehidrasi+seng
seng +probiotik

Frekuensi Durasi Frekuensi Durasi


Diare diare Diare Diare

Gambar 2.0 Skema Desain Penelitian


B. Sampel

Data Rekam Medik pasien selama di rawat di pelayanan fasilitas kesehatan

dan hasil wawancara dengan keluarga pasien atau petugas kesehatan yang

merawat pasien.

C. Prosedur Penelitian

Data hasil wawancara, RM serta informasi status


dari petugas kesehatan yang merawat pasien
tersebut ataupun pihak keluaraga pasien

Priode 2018

Pasien yang menjalani rawat inap dan memiliki


data rekam medik yang lengkap

Data pasien dengan diagnosis diare spesifik


maupun nonspesifik

Evaluasi pengaruh pemberian zink, probiotik, dan


kombinasi zink dan probiotik pada kasus diare
anak

Gambar 3.0 Prosedur Penelitian


1. Penulis wawancara bersama keluarga pasien atau petugas kesehatan yang

merawat pasien, melihat data RM pasien dari pertama masuk Rumah Sakit.

2. Rekam medik yang digunakan yaitu rekam medik yang memiliki data

lengkap pasien dari awal masuk rumah sakit dan rawat inap di RS tersebut.

3. Karakteristik diare yang di cari yaitu pasien dengan diagnosis spesifik

maupun nonspesifik yang menggunakan probiotik, dan zink dalam terapi

pengobatanya.

4. Setelah mendapatkan data pasien lewat rekam medik pasien dan wawancara

yang telah dilakukan yang memenuhi kriteria, dievaluasi apakah pengaruh

pemberian zink, probiotik, atau kombinasi probiotik dan zink pada kasus

diare anak dapat menurunkan durasi dan frekuensi diare.


DAFTAR PUSTAKA

Amin, Lukman Zulkifli. 2015. Tatalaksana Diare Akut. Continuing Medical


Education (IDI).CKD-230 Vol. 42 No.7 hlm 507-508.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Lima Langkah Tuntaskan
Diare.
Feliatra. 2018. Probiotik. Kencana. Jakarta.
Hartantyo, Ken Shinta dan Noor Wijayahadi. 2011. Pengaruh Probiotik pada
Diare Akut : penelitian dengan 3 preparat probiotik. Sari Pediatri, Vol.13, No.
2.
Hartati S, Nurazila. 2018. Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare Pada Balita
Di Wilayah Kerja Puskesmas Rejosari Pekanbaru. Jurnal Endurance 3(2).
(400-407)
Huda N, Dyah AP, Irma Risdiana. 2017. Pengaruh Pemberian Kombinasi
Probiotik dan Seng terhadap Frekuensi dan Durasi pada Pasien Anak di Rumah
Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia.
Vol. 6 No.1 hlm 11-21 ISSN: 2252-6218
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Profil Kesehatan Kabupaten
Cilacap.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Situasi Diare di Indonesi.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Profil Kesehatan Jawa Tengah.
Latif, Hanif Abdurrachman. 2015.Terapi Suplementasi Zink dan Probiotik pada
Pasien Diare. Jurnal Agromed Unila. Vol. 2 No. 4
Nursa’in, Siti Hajar. 2017. Gambaran penggunaan oralit dan zink pada kasus
diare. Jurnal Farmasetis.Vol. 6 No. 1 Hal : 25-28. ISSN : 2252-9721.
Mulyani S, Dyah Aryani P, Nurcholid Umam. 2016. Efektifitas Pemberian
Probiotik Terhadap Durasi Diare Anak Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Bantul Yogyakarta. Pharmaciana. Vol. 6 No. 1 hlm 71-78
Rahmayani, Hasri Salwa, Achirul Bakri, Syarif Husi. 2014. Efek Pemberian
Kombinasi Zinc dan Probiotik Terhadap Lama dan Frekuensi Diare pada
Penderita Diare Akut. MKS. Th. 46 No. 3.
Riskesdas, (2013), Laporan Riset Kesehatan Dasar. Jakarta.
Setiati S, Idrus A, Aru W. Sudoyo, Marcellus SK, Bambang S, Ari Fahrial S.
2014. Ilmu Penyakit Dalam Jilid.Edisi VI.Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam.
Suharyono. 2008. Diare Akut Klinik dan Laboratorik. Rineka Cipta. Jakarta.
Sukanandar EY, Retnosari Andrajati, Joseph I Sigit, I Ketut Adnyana, A. Adji
Prayitno Setiadi, Kusnandar. 2014. ISO Farmakoterapi Buku 1. PT. ISFI
Penerbitan. Jakarta
Supardi, Sudibyo, Surahman. 2014. Metodologi Penelitian Untuk Mahasiswa
Farmasi, Trans Info Media, Jakarta.
Notoatmojo S. 2014. Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta. Jakarta.
Tjay Tan Hoan, dan Kirana Rahardja. 2014. Obat-obat Penting. Pt.Gramedia.
Jakarta.
Yonata A, Agus Fathul Muin F. 2016. Penggunaan Probiotik sebagai Terapi
Diare. Majority. Volume 5 no.2.