Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan salah satu negara terpadat di dunia, penduduk

Indonesia dengan jumlah populasi sekitar 260 juta penduduk dan luas wilayah

1.904.569 km2. Menurut CIA World Factbook pada tahun 2017 Indonesia

menduduki urutan keempat terpadat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika,

penduduk Indonesia dengan jumlah penduduknya 260.580.739 jiwa atau sekitar

3,5% dari keseluruhan jumlah penduduk dunia.


Kepadatan penduduk semakin meningkat di beberapa kota besar negara

Indonesia terutama di ibu kota negara Indonesia. Jakarta merupakan ibu kota

Indonesia yang banyak menarik pendatang dari dalam negeri maupun luar negeri.

Jakarta merupakan pusat pemerintahan, pusat bisnis dan keuangan, tidak heran

jika kota ini terpadat karena banyaknya transmigran yang bertransmigrasi ke kota

jakarta hanya untuk sekedar mencari lapangan pekerjaan.


Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, pada tahun 2017 telah

terjadi kenaikan jumlah pengangguran di Indonesia sebesar 10.000 orang menjadi

7,04 juta orang pada Agustus 2017 dari Agustus 2016 sebesar 7,03 juta orang

(bps.go.id). Menurut kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto

mengatakan, bahwa pertambahan jumlah pengangguran tersebut disebabkan oleh

peningkatan jumlah angkatan kerja di Indonesia.


Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah angkatan kerja

Indonesia pada Februari 2017 sebanyak 131,55 juta. Jumlah tersebut naik 6,11

juta bila dibandingkan dengan Agustus 2016 dan naik 3,03% atau 3,38 juta

dibanding Februari 2016. Menurut kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk

1
2

Suhariyanto mengatakan penduduk pekerja di Indonesia pada Februari 2017

sebanyak 124,54 juta, naik menjadi 6,13 juta dibanding tahun lalu, dan bertambah

3,89 juta dibanding Februari tahun 2017.


Jumlah para pencari kerja dari tahun ke tahun senantiasa mengalami

peningkatan, tidak sedikit lulusan yang telah dihasilkan oleh lembaga pendidikan

tingkat menengah sampai dengan perguruan tinggi, baik secara formal maupun

non formal. Hal ini tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah kesempatan kerja

yang tersedia atau mampu disediakan oleh pemerintah untuk dapat menyerap

jumlah pencari kerja yang terus bertambah.


Bila dilihat dari kondisi seperti diatas, banyak masyarakat yang ingin

menjadi pegawai dibandingkan mereka harus membuka usaha sendiri

mengindikasikan rendahnya semangat entrepreneur dikalangan generasi muda,

menjadi salah satu faktor pemicu tingginya angka pengangguran (Purnomo,

2005). Menurut (Tilaar, 1993) sistem pendidikan Nasional selama ini masih lebih

menekankan pada fungsi sebagai pemasok tenaga kerja terdidik daripada

penghasil tenaga penggerak pembangunan. Sementara sektor negara dan swasta

belum atau tidak mampu menyediakan lapangan kerja sebanyak yang diperlukan

oleh lulusan pendidikan perguruan tinggi, akibatnya pengangguran sarjana terus

meningkat.
Pendidikan orang tua adalah pendidikan formal yang ditempuh oleh orang

tua. Latar belakang pendidikan orang tua akan membantu anak dalam

mengarahkan dirinya untuk terlibat ke dunia kewirausahaan. Bahwa orang tua

mampu menasehati dan memberi arahan yang tepat untuk anaknya. Menurut

Ngalim (Purwanto, 2009) pendidikan keluarga adalah fundamen atau dasar dari

pendidikan anak selanjutnya, hasil-hasil yang diperoleh anak dalam keluarga

menentukan pendidikan anak itu selanjutnya dikemudian hari, baik disekolah


3

maupun masyarakat. Dalam pendidikan keluarga, orang tua mempunyai tugas

penting yaitu sebagai pendidik di dalam keluarga. Pendidikan yang diberikan

meliputi penanaman sikap, perilaku maupun nilai-nilai yang didalamnya juga

membentuk keterampilan hidup.


Pendidikan orang tua memegang peranan penting dalam meningkatkan

sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan suatu proses yang

mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan dalam bertingkah laku. Terkait

dengan kemampuan mahasiswa, pendidikan yang mendasar yang memiliki

peranan penting dalam membentuk sikap wirausaha, terutama pada pengambilan

keputusan wirausaha adalah pendidikan berwirausaha yang dimulai dalam

lingkungan keluarga.
Dari beberapa aspek yang mencakup pendidikan di lingkungan keluarga,

bahwa berwirausaha memiliki pengaruh yang besar dalam pendewasaan anak

untuk menjadi pribadi yang mandiri, hal ini berkaitan dengan aktivitas manusia

yang tidak terlepas dari masalah ekonomi. Menurut Wahyono (dalam Januar

Kustandi, 2011), ketidakmampuan anak dalam ekonomi mengakibatkan orang tua

harus menanggung hidup anaknya meskipun mereka telah membentuk keluarga

sendiri sehingga aspek ekonomi perlu mendapatkan tekanan dalam proses

pendidikan anak dalam keluarga. Dalam sebuah keluarga karena pendidikan orang

tua didalam keluarga merupakan salah satu cara untuk membentuk sumberdaya

manusia yang akan menjadi mandiri dimasa depan. Untuk menumbuhkan

pengetahuan kewirausahaan bagi seseorang maka sikap berwirausaha sangat

dibutuhkan bagi yang ingin berwirausaha agar mampu mengidentifikasi peluang

usaha, agar mampu meciptakan peluang usaha untuk peluang kerja baru.
Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Faktor-faktor

yang mempengaruhi sikap adalah pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang
4

dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan

lembaga agama, dan pengaruh faktor emosional (Yurdik Jahja, 2011). Selain itu,

menurut (Syah, 2006) sikap adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk

bereaksi dengan cara baik atau buruk. Untuk meningkatkan dan mengembangkan

sikap berwirausaha pada mahasiswa maka diperlukan suatu usaha nyata, agar para

lulusan lembaga pendidikan perguruan tinggi lebih menjadi pencipta lapangan

kerja dari pada pencari kerja. Kementrian Pendidikan Nasional telah

mengembangkan berbagai kebijakan dan program untuk mendukung terciptanya

lulusan yang siap bekerja dan menciptakan pekerjaan. Menurut (Boulton dan

Turner, 2005) semakin tinggi index aktivitas kewirausahaan maka semakin tinggi

level kewirausahaan suatu negara.


Berdasarkan definisi sikap, dapat dikatakan bahwa sikap bisa dibentuk

dengan adanya pengaruh dari lingkungan luar, salah satunya adalah dari lembaga

pendidikan dan lingkungan keluarga. Melalui pendidikan diantaranya adalah

dengan mempelajari mata kuliah kewirausahaan dengan harapan bisa

meningkatkan sikap berwirausaha pada mahasiswa. Pada hasil penelitian Shinta

(2017) dinyatakan bahwa sikap berwirausaha pada mahasiswa diawal perkuliahan

menunjukan sikap yang rendah, akan tetapi setelah mengikuti mata kuliah

kewirausahaan sikap berwirausaha pada mahasiswa meningkat. Selain lingkungan

luar pada kenyataannya bahwa lingkungan keluarga dan dukungan orang tua

berperan sangat penting dalam menentukan sikap pada anak-anaknya, terutama

pada karakteristik pendidikan orang tua dan pekerjaan orang tua akan dapat

mempengaruhi mahasiswa ingin menjadi apa dimasa depannya.


Universitas Negeri Jakarta sebagai universitas yang mempunyai misi

memfungsikan universitas yang mampu menerapkan prinsip-prinsip


5

entrepreneurship dalam kinerjanya secara berkesinambungan. Dengan adanya

berbagai proses pembelajaran yang dibuat untuk membangkitkan adanya minat

wirausaha agar dapat mengembangkan sikap berwirausaha pada mahasiswa IKK.


Berdasarkan uraian latar belakang di atas menarik untuk di teliti

bagaimana atau seberapa besar Hubungan Pendidikan Orang Tua Terhadap Sikap

Berwirausaha Pada Mahasiswa.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dapat dibuat identifikasi

masalahnya sebagai berikut:


1. Pemahaman lulusan perguruan tinggi yang menganggap mencari pekerjaan

adalah peluang sedikit resiko.


2. Berwirausaha menjadi salah satu pilihan jika tidak mendapatkan pekerjaan

yang tetap.
3. Pengetahuan orang tua tentang sikap berwirausaha yang membuat mahasiswa

berpikir tentang kemandirian untuk berwirausaha.

1.3 Batasan Masalah

Pembatasan masalah dalam penelitian ini hanya dibatasi pada pendidikan

orang tua terhadap sikap berwirausaha pada mahasiswa. Subjek penelitian kali ini

adalah mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Jurusan Ilmu Kesejahteraan

Keluarga.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, identifikasi dan

pembatasan masalah, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: “Adakah

hubungan pendidikan orang tua terhadap sikap berwirausaha pada mahasiswa”

1.5 Tujuan Penelitian


6

Tujuan yang ingin dicapai peneliti dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui hubungan pendidikan orang tua dengan sikap

berwirausaha.
2. Untuk menganalisis hubungan pendidikan orang tua terhadap sikap

berwirausaha pada mahasiswa.

1.6 Manfaat Penelitian

Adapun dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat,

baik secara teoritis maupun praktis bagi berbagai pihak. Adapun manfaat tersebut

antara lain:

1.6.1. Manfaat Teoritis


Hasil penelitian ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu kesejahteraan

keluarga terutama tentang pendidikan orang tua dan sikap berwirausaha pada

mahasiswa.
1.6.2. Manfaat Praktis
Penelitian ini secara praktis diharapkan bermanfaat bagi orang tua dan

mahasiswa yaitu memberikan gambaran bagaimana pendidikan orang tua

berpengaruh terhadap sikap berwirausaha mahasiswa.