Anda di halaman 1dari 10

1.

Jelaskan klasifikasi kecepatan yang perlu diketahui dalam perencanaan geometrik jalan
rel!
 Kecepatan Rencana
Kecepatan rencana adalah kecepatan yang digunakan untuk merencanakan
konstruksi jalan rel. Adapun beberapa bentuk kecepatan rencana digunakan untuk :
a. Untuk perencanaan struktur jalan rel
Vrencana = 1.25 x Vmaksimum
b. Untuk perencanaan jari-jari lengkung lingkaran dan peralihan
Vrencana = V maksimum
c. Untuk perencanaan peninggian rel
∑𝑁1 𝑉1
Vrencana = c x
∑𝑁1

dimana :
c = 1.25

Ni = Jumlah kereta api yang lewat

Vi = Kecepatan operasi

 Kecepatan Maksimum
Kecepatan maksimum adalah kecepatan tertinggi yang diizinkan untuk operasi
suatu rangkaian kereta pada lintas tertentu. Ketentuan pembagian kecepatan
maksimum dalam perencanaan geometrik dapat dilihat pada Tabel Klasifikasi Jalan
Rel.
 Kecepatan Operasi
Kecepatan operasi adalah kecepatan rata-rata kereta api pada petak jalan tertentu.
 Kecepatan Komersial
Kecepatan komersial adalah kecepatan rata-rata kereta api sebagai hasil pembagian
jarak tempuh dengan waktu tempuh.
Beban gandar maksimum yang dapat diterima oleh struktur jalan rel di Indonesia
untuk semua kelas jalan adalah 18 ton (PD. No. 10 tahun 1986).
2. Jelaskan konsep ruang bebas dan ruang bangun pada jalur tunggal dalam perencanaan
jalan rel!
Ruang bebas merupakan ruang di atas sepur yang harus bebas dari segala rintangan dan
benda penghalang. Ruang ini disediakan untuk lalu lintas rangkaian kereta api.
Ruang bangun merupakan ruang di sisi sepur yang harus bebas dari segala bangunan
(tiang semboyan, tiang listrik, pagar). Ruang bangun diukur dari sumbur sepur pada
tinggi 1 – 3.55 m.
 Menurut R-10, batas ruang untuk jalur lurus dan lengkung dibedakan sebagai
berikut :
1. Batas ruang bebas untuk jalur lurus dan lengkung dengan jari-jari lebih besar
dari 3000 m.
2. Untuk lengkung dengan jari-jari 300 sampai dengan 3000 m.
3. Untuk lengkung dengan jari-jari kurang dari 300 m.

 Menurut JNR, batas ruang untuk jalur lurus dan lengkung dibedakan sebagai
berikut :
1. Batas ruang bebas untuk jalur lurus dan lengkung dengan jari-jari lebih besar
dari 1100 m.
2. Untuk lengkung dengan jari-jari kurang dari 1000 m, lebar dari ruang bebas
bertambah besar sesuai dengan jari-jarinya yang ditunjukkan dengan
hubungan :

22.5
M=
𝑅

3. Untuk lengkung dengan jari-jari kurang dari 300 m.


 Pada bagian bawah dari ruang bebas di stasiun disesuaikan dengan tinggi
peron yang terdiri dari :
a.) Untuk Penumpang :
i. Peron tinggi, dengan ukuran tinggi 1000 mm di atas kepala rel
(elevasi 0.00)
ii. Peron rendah, dengan ukuran tinggi 200 mm di atas kepala rel
(elevasi 0.00)
b.) Untuk Barang :
i. Tinggi peron 1000 mm di atas kepala rel (elevasi 0.00).
 Untuk kereta listrik
Kereta listrik disediakan ruang bebas untuk memasang saluran-saluran
kawat listrik beserta tiang pendukungnya dan pantograph listrik di kereta.
 Untuk peti kemas
Ruang bebas didasarkan pada ukuran gerbong peti kemas standar ISO
dengan ukuran standard height. Standar ini digunakan karena banyak
negara yang menggunakannya dan cenderung untuk dipakai pada masa
yang panjang.

3. Mengapa diperlukan pelebaran sepur? Jelaskan! Dan metode apa saja yang dapat
digunakan untuk menghitungnya?
 Perlu pelebaran sepur untuk mengurangi gaya tekan akibatnya terjepitnya roda
kereta, agar rel dan roda tidak cepat aus. Pada saat gerbong dengan dua gandar
kokoh melalui suatu tikungan, maka roda di muka bagian sisi terluar (pada rel
luar) dapat menekan rel. Oleh karena gandar muka dan belakang gerbong
merupakan satu kesatuan yang kaku (rigid wheel base), maka gandar belakang
berada pada posisi yang sejajar dengan gandar muka yang akan memungkinkan
tertekannya rel dalam oleh roda belakang. Flens roda luar akan membentuk sudut
dalam posisi ditikungan, namun sumbu memanjang gerbong letaknya selalu tegak
lurus terhadap gandar depan.
 Metode yang digunakan untuk menghitung pelebaran sepur :
a. Pendekatan Indonesia (Peraturan Dinas No. 10 tahun 1986)
Gambar di samping merupakan
skematik pendekatan matematis
model Indonesia.
 d = 3 m & e = 4 mm (S = 1067 mm)
4500
w= – 8 (mm)
𝑅
 d = 4 m & e = 4 mm (S = 1067 mm)
4500
w= – 8 (mm)
𝑅
Pelebaran sepur yang diiziinkan
maksimum adalah 20 mm.
b. Pendekatan Jepang (JNR)
JNR melakukan pendekatan terhadap besar pelebaran sepur dengan :
 Kondisi Maksimum
 Kondisi maksimum terjadi apabila gandar roda muka tepat berada di
rel sedangkan gandar roda belakang telah bergeser ke luar.
(1.5𝑑)2
 Kondisi Max :w=
8𝑅
 Kalibrasi terhadap ukuran yang digunakan di Indonesia :
2532
Kondisi Max :w= – 4 (mm)  untuk d = 3 m
𝑅
4500
Kondisi Max :w= – 4 (mm)  untuk d = 4 m
𝑅

 Kondisi Minimum
 Kondisi minimum dicapai bila flens rel luar sedemikian sehingga
memungkinkan roda belakang melalui flens rel dalam.
(𝑑)2
 Kondisi Min :w=
4𝑅
 Kalibrasi terhadap ukuran yang digunakan di Indonesia :
2391
Kondisi Min :w= – 6 (mm)  untuk d = 3 m
𝑅
4250
Kondisi Min :w= – 6 (mm)  untuk d = 4 m
𝑅

4. Jelaskan konsep persamaan turunan unutk menentukan jari-jari minimum alinyemen


horizontal berdasarkan anggapan bahwa gaya sentrifugal kereta didukung oleh gaya
berat dan komponen rel!

Skematik gaya pada


kondisi gaya
sentrifugal hanya
diimbangi oleh gaya
berat dan gaya
dukung komponen rel
𝑚𝑉 2
G sin α + H cos α = cos α
𝑅

𝐺𝑉 2
G sin α = [ − 𝐻] cos α
𝑔𝑅

𝐺𝑉 2
G tan α = [ − 𝐻]
𝑔𝑅

ℎ 𝐺 𝑉2 ℎ
Jika, tan α = dan, H = m x a = a maka, a = −𝑔
𝑊 𝑔 𝑅 𝑊

Dimana a : percepatan sentrifugal (m/𝑠 2 )


Percepatan sentrifugal maksimum ditentukan : 0.0478 g, dengan mempertimbangkan
faktor kenyamanan pada saat kereta di tikungan.
Dengan peninggian maksimum, ℎ𝑚𝑎𝑥 = 110 mm, maka  𝑅𝑚𝑖𝑛 = 0.054 𝑉 2

5. Jalan rel direncanakan untuk kondisi topografi pada daerah datar sebagaimana
dijelaskan pada gambar di bawah. Mengingat tidak ada landai curam dalam perencanaan
maka setiap rangkaian kereta penumpang dan barang hanya cukup dilayani oleh 1
lokomotif saja. Trase jalan dibuat titik perpotong dengan membentuk sudut 21°12’18”.
Jika digunakan kelas jalan II dengan kecepatan operasi rata-rata 109.3 km/jam.
a. Kelas jalan II (10 x 106 – 20 x 106 ton/tahun)
Kecepatan operasi rata-rata : 109.3 km/jam
Kecepatan max kelas jalan II : 110 km/jam
b. Kecepatan rencana untuk perencanaan jari-jari lengkung dan lengkung peralihan
dan lengkung peralihan : 𝑉𝑟𝑒𝑛𝑐𝑎𝑛𝑎1 = Vmax = 110 km/jam
c. Perencanaan jari-jari horizontal
 Rmin = 0.076 x 𝑉 2 = 0.076 x 1102 = 919.6 m  gaya berat sepenuhnya
 Rmin = 0.054 x 𝑉 2 = 0.054 x 1102 = 653.4 m  gaya berat & daya dukung
komponen rel
 Rmin dari tabel PD 10 tahun 1986 = 660 m
 Rrencana = 800 m
d. Perencanaan peninggian rel
 Kecepatan rencana untuk peninggian rel = 1.25 x kecepatan operasi rata-rata
𝑉𝑟𝑒𝑛𝑐𝑎𝑛𝑎2 = 1.25 x 109.3 = 136.625 km/jam
- ℎ𝑚𝑎𝑥 = 110 mm
𝑉𝑟𝑒𝑛𝑐𝑎𝑛𝑎22 136.6352
- ℎ𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 = 5.95 x = 5.95 x = 138.83 mm > 110 mm
𝑅 800
*harus lebih kecil dari ℎ𝑚𝑎𝑥 , maka Rrencana diperbesar  1100 m
𝑉𝑟𝑒𝑛𝑐𝑎𝑛𝑎22 136.6352
- ℎ𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 = 5.95 x = 5.95 x = 100.96 mm < 110 mm
𝑅 1100
8.8 𝑥 𝑉 2 8.8 𝑥 136.6252
- ℎ𝑚𝑖𝑛 = – 53.5 = – 53.5 = 95.831 mm
𝑅 1100
- Memenuhi syarat  ℎ𝑚𝑖𝑛 < ℎ𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 < ℎ𝑚𝑎𝑥
*peninggian rel direncanakan = 100.968  105 mm
e. Perencanaan lengkung peralihan
Ls = Lh = 0.01 x h x Vmax
= 0.01 x 105 x 110 = 115.5 m
f. Perencanaan lengkung lingkaran
90 𝑥 𝐿𝑠 90 𝑥 115.5
𝜃𝑠 = = = 3.00955414 = 3° 0' 34.39"
𝜋𝑥𝑅 3.14 𝑥 1100

𝜃𝑐 = △s - 2𝜃𝑠 = 21° 12' 18" – (2 x 3° 0' 34.39") = 15° 11' 9.21"

𝑐 𝜃 15° 11′ 9.21"


Lc = 360° 𝑥 2𝜋𝑅 = x 2 x 3.1 x 1100 = 291.400  291 m
360°

L = 2Ls + Lc = 2 x (115.5) + 291 = 522 m

g. Perencanaan komponen lengkung lingkaran


𝐿𝑠 3 115.53
Xc = Ls - = 115.5 - = 115.468  115.5 m
40 𝑥 𝑅 2 40 𝑥 11002

𝐿𝑠 2 115.52
Yc = = = 2.021 m
6𝑥𝑅 6 𝑥 1100

p = Yc – R x (1 – cos𝜃𝑠 ) = 2.021 – 110 x (1 – cos (3° 0' 34.39"))

= 0.503  0.5 m

k = Xc – R x sin𝜃𝑠 = 115.5 – 1100 x sin (3° 0' 34.39")

= 57.74  58 m

h. Perencanaan komponen lengkung lingkaran


△s = 264.003  264 m
Tt = (R + p) tg +k
2
△s
Et = (R + p) sec –R
= (1100 + 0.5) tg 2

21° 12′ 18"


( 2
) + 58
= (1100 + 0.5) sec = 19.61  20 m

21° 12′ 18"


( 2
) – 1100

6. Dari soal nomor 5 tentukan perubahan peninggian rel luar pada daerah lengkung
peralihan dan diagram superelevasinya!
Data untuk diagram superelevasi
Peninggian rencana rel = 105 mm
Ls = 115.5 m
Lc = 291.0 m
Diagram :

Perubahan peninggian rel pada lengkung peralihan :


Panjang lengkung peralihan yang ditinjau adalah titik ¼ Ls (titik 1), ½ Ls (titik 2), ¾ Ls
(titik 3), dan Ls (titik 4)
1⁄ 𝐿𝑠
4
- Titik 1 = x 105 mm = 26.25 mm
𝐿𝑠

1⁄ 𝐿𝑠
2
- Titik 2 = x 105 mm = 52.50 mm
𝐿𝑠

3⁄ 𝐿𝑠
4
- Titik 3 = x 105 mm = 78.75 mm
𝐿𝑠

𝐿𝑠
- Titik 4 = x 105 mm = 105.0 mm
𝐿𝑠
7. Rencanakan lengkung vertikal apabila ditentukan selisih kelandaian 4.5‰ dengan kelas
jalan rencana tipe I.
Vrencana = 100 km/jam
= 4.5‰ - 0‰ = 4.5‰
Dari PD No.10 tahun 1986 ddapat ditentukan R rencana = 7000 m
Lv = R = 4.5‰ x 7000 = 31.5 m
𝑅 7000
Ev = Ym = x φ2 = x 4.5‰2 = 17.718 x 10−3 m
8 8

8. Tentukan panjang trase jalan berlandai curam dengan kecepatan kereta api sebelum
memasuki landai 98 km/jam, dan kecepatan setelah mencapai landai 65 km/jam. Landai
penentu ditetapkan sebagai 8.9‰ dan landai curam rencana 20‰!
Diketahui :
a. Va = 98 km/jam  27.2 m/s
b. Vb = 65 km/jam  18.1 m/s
c. Landai penentu (Sm) = 8.9‰
d. Landau curam (Sk) = 20‰
e. g = 9.81 m/𝑠 2

Ditanya : panjang trase jalan berlandai curam

Jawaban :

2
𝑉𝑎2 − 𝑉𝑏
Panjang trase =
2𝑔 (𝑆𝑘−𝑆𝑚)

27.22 − 18.12
=
2 𝑥 9.81 𝑥 (20‰−8.9‰)

= 1892.856 m
9. Rencanakan kelas jalan dan kecepatan operasional, untuk perencanaan geometrik
apabila data lalu lintas kereta sebagaimana diberikan dalam tabel berikut ini :
Kecepatan Jumlah Tonase Lokomotif
Jumlah Kereta
Operasi Jenis Lintas Dan Kereta
Penumpang/Barang
Rata-Rata Kereta Api Operasi Penumpang/Barang
Pada Rangkaian
(km/jam) Per Hari (Ton)
KA Gatot Kaca Lokomotif : 72
2 kali 15 kereta
K.penumpang : 106
KA Pundawa Lokomotif : 90
102.5 3 kali 12 kereta
K.penumpang : 108
KA Muda Lokomotif : 75
1 kali 12 kereta
K.penumpang : 108
KA Tratas Lokomotif : 80
4 kali 10 kereta
K.penumpang : 107
106.2
KA Kencana Lokomotif : 82
2 kali 14 kereta
K.penumpang : 109
KA Ekonomi 1 Lokomotif : 80
92 4 kali 12 kereta
K.penumpang : 108
KA Ekonomi 2 Lokomotif : 85
86 3 kali 15 kereta
K.penumpang : 109

A. Perhitungan Kelas Jalan


TE = Tp + (Kb x Tb) + (𝑲𝟏 x 𝑻𝟏 )
1. Perhitungan Tonase Kereta Penumpang Harian (Tp)
KA Gatot Kaca : 2 x 15 x 106 = 3180 ton
KA Pundawa : 3 x 12 x 108 = 3888 ton
KA Muda : 1 x 12 x 108 = 1296 ton
KA Tratas : 4 x 10 x 107 = 4280 ton
KA Kencana : 2 x 14 x 109 = 3052 ton
KA Ekonomi 1 : 4 x 12 x 108 = 5184 ton
KA Ekonomi 2 : 3 x 15 x 109 = 4905 ton
Total = 25785 ton

2. Perhitungan Tonase Lokomotif (𝑇1 )


KA Gatot Kaca : 2 x 72 = 144 ton
KA Pundawa : 3 x 90 = 270 ton
KA Muda : 1 x 75 = 75 ton
KA Tratas : 4 x 80 = 320 ton
KA Kencana : 2 x 82 = 164 ton
KA Ekonomi 1 : 4 x 80 = 320 ton
KA Ekonomi 2 : 3 x 85 = 255 ton
Total = 1548 ton

TE = Tp + (Kb x Tb) + (𝑲𝟏 x 𝑻𝟏 ) T = 360 x S x TE

= 25785 + (1.4 x 1548) = 360 x 1.1 x 27952.2

= 27952.2 ton = 11069071.2 ton/tahun

B. Perhitungan Kecepatan Operasional


Kecepatan rata-rata operasi
(𝑁𝑖 𝑥 𝑉𝑖)
=
𝑁𝑖
[(2 𝑥 102.5) + (3 𝑥 102.5) + (1 𝑥 102.5) + (4 𝑥 106.2) + (2 𝑥 106.2) + (4 𝑥 92) + (3 𝑥 86)]
=
2+3+1+4+2+4+3
1878.2
=
19
= 98.85 km/jam

Oleh karena itu, berdasarkan data lalu lintas kereta api, jalan rel rencana memiliki :
1. Kelas Jalan III (5 x 106 – 10 x 106 ton/tahun)
2. Kecepatan Operasional  98.85 km/jam