Anda di halaman 1dari 27

DENGUE DAN CHIKUNGUNYA

1. Dengue
Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh
virus Dengue yang termasuk kelompok B Arthtropod Borne Virus (Arbovirus) yang
sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviridae, dan mempunyai 4
jenis serotipe, yaitu : DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Serotipe virus dengue (DEN-
1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4) secara antigenik sangat mirip satu dengan lainnya,
tetapi tidak dapat menghasilkan proteksi silang yang lengkap setelah terinfeksi oleh
salah satu tipe. Keempat serotipe virus dapat ditemukan di berbagai daerah di
Indonesia. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan
banyak yang menunjukkan manifestasi klinik yang berat.

Gambar 1.1 Virus Dengue dengan TEM micrograph


1.1 Epidemiologi
Infeksi virus dengue telah ada di Indonesia sejak abad ke-18 seperti yang
dilaporkan oleh David Bylon, dokter berkebangsaan Belanda. Saat itu infeksi virus
dengue menimbulkan penyakit yang dikenal sebagai penyakit demam lima hari
(vijfdaagse koorts) kadang juga disebut sebagai demam sendi (knokkel koorts).
Disebut demikian karena demam yang terjadi menghilang dalam 5 hari disertai
dengan nyeri pada sendi, nyeri otot, dan nyeri kepala.
Di Indonesia, pertama sekali dijumpai di Surabaya pada tahun 1968 dan
kemudian disusul dengan daerah-daerah yang lain. Jumlah penderita menunjukkan
kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun, dan penyakit ini banyak terjadi di
kota-kota yang padat penduduknya. Akan tetapi dalam tahun-tahun terakhir ini,
penyakit ini juga berjangkit di daerah pedesaan.
Berdasarkan penelitian di Indonesia dari tahun 1968-1995 kelompok umur yang
paling sering terkena ialah 5 – 14 tahun walaupun saat ini makin banyak kelompok
umur lebih tua menderita DBD. Saat ini jumlah kasus masih tetap tinggi rata-rata 10-
25/100.000 penduduk, namun angka kematian telah menurun bermakna < 2%

Gambar 1.4 Penyebaran infeksi virus dengue di dunia tahun 2006. Merah : epidemic
dengue, Biru : nyamuk Ae.aegypti

1.2 Patogenitas
Virus merupakan mikroorganisme yang hanya dapat hidup di dalam sel hidup.
Maka demi kelangsungan hidupnya virus harus bersaing dengan sel manusia sebagai
penjamu terutama dalam mencukupi kebutuhan akan protein. Beberapa faktor resiko
yang dilaporkan pada infeksi virus dengue antara lain serotipe virus, antibodi dengue
yang telah ada oleh karena infeksi sebelumnya atau antibodi maternal pada bayi,
genetic penjamu, usia penjamu, resiko tinggi pada infeksi sekunder, dan resiko tinggi
bila tinggal di tempat dengan 2 atau lebih serotipe yang bersirkulasi tinggi secara
simultan.
Ada beberapa patogenesis yang dianut pada infeksi virus dengue yaitu hipotesis
infeksi sekunder (teori secondary heterologous infection), teori virulensi, dan
hipotesis antibody dependent enhancement(ADE). Hipotesis infeksi sekunder
menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yang mengalami infeksi yang kedua
kalinya dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai resiko berat yang
lebih besar untuk menderita DBD/berat. Antibodi heterolog yang ada tidak akan
menetralisasi virus dalam tubuh sehingga virus akan bebas berkembang biak dalam
sel makrofag. Hipotesis antibody dependent enhancement (ADE) adalah suatu proses
dimana antibodi non netralisasi yang terbentuk pada infeksi primer akan membentuk
kompleks antigen-antibodi dengan antigen pada infeksi kedua yang serotipenya
heterolog. Kompleks antigen-antibodi ini akan meningkatkan ambilan virus yang
lebih banyak lagi yang kemudian akan berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel
monosit. Teori virulensi menurut Russel, 1990, mengatakan bahwa DBD berat terjadi
pada infeksi primer dan bayi usia < 1 tahun, serotipe DEN-3 akan menimbulkan
manifestasi klinis yang berat dan fatal, dan serotype DEN-2 dapat menyebabkan
syok. Hal-hal diatas menyimpulkan bahwa virulensi virus turut berperan dalam
menimbulkan manifestasi klinis yang berat.
Patogenesis terjadinya syok berdasarkan hipotesis infeksi sekunder yang
dirumuskan oleh Suvatte tahun 1977. Sebagai akibat infeksi sekuder oleh tipe virus
dengue yang beralinan pada seorang pasien, respon antibody anamnestik yang akan
terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi
limfosit dengan menghasilkan titer antibody IgG anti dengue. Disamping itu,
replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan akibat
etrdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya
kompleks antigen-antibodi yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi system
komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan
peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari
ruang intravascular ke ruang ekstravaskular. Perembesan plasma ini terbeukti dengan
adanya peningkatan kadar hematokrit, penurunan kadar natrium, dan terdapatnya
cairan di dalam rongga serosa (efusi pleura, asites). Syok yang tidak ditanggulangi
secara adekuat akan menimbulkan asidosis dan anoksia yang dapat berakhir dengan
kematian.
Kompleks antigen-antibodi selain mengaktivasi komplemen dapat juga
menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivasi sistem koagulasi melalui
kerusakan sel endotel pembuluh darah. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari
perlekatan kompleks antigen-antibodi pada membran trombosit mengakibatkan
pengeluaran ADP (adenosine difosfat) sehingga trombosit melekat satu sama lain.
Adanya trombus ini akan dihancurkan oleh RES (retikuloendotelial system) sehingga
terjadi trombositopenia. Agregasi trombosit juga menyebabkan pengeluaran platelet
faktor III mengakibatkan terjadinya koagulasiintravskular deseminata yang ditandai
dengan peningkatan FDP (fibrinogen degradation product) sehingga terjadi
penurunan factor pembekuan. Agregasi trombosit juga mengakibatkan gangguan
fungsi trombosit sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak, tidak
berfunsgi baik. Di sisi lain aktivasi koagulasi akan menyebabkan aktivasi faktor
Hageman sehingga terjadi aktivasi kinin sehingga memacu peningkatan permeabilitas
kapiler yang dapat mempercepat terjadinya syok. Jadi perdarahan massif pada DBD
disebabkan oleh trombositopenia, penurunan factor pembekuan (akibat koagulasi
intravascular deseminata), kelainan fungsi trombosit, dan kerusakan dinding endotel
kapiler. Akhirnya perdarahan akan memperberat syok yang terjadi.

1.3 Manifestasi klinik


Manifestasi dari penyakit ini dapat berupa gejala demam yang tidak khas,
demam dengue, atau demam berdarah dengue, dan kondisi terberat adalah demam
berdarah dengue dengan syok.
Masa inkubasi dalam tubuh manusia sekitar 4 – 6 hari (rentang 3 – 14 hari) timbul
gejala awal seperti : nyeri kepala, nyeri tulang belakang dan perasaan lelah.
Demam dengue
Merupakan penyakit demam akut selama 2 – 7 hari. Ditandai dengan dua atau lebih
manifestasi klinis sebagai berikut :
• Nyeri kepala
• Nyeri retro-orbital
• Mialgia / atralgia
• Ruam kulit
• Tanda-tanda perdarahan (petekie atau uji bendung positif)
• Penurunan jumlah sel darah putih
Demam Berdarah Dengue (DBD)
Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakan bila semua hal di bawah
ini :
• Demam atau riwayat demam akut, antara 2 – 7 hari
• Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut :
- Uji bendung positif
- Petekie (bintik-bintik kemerahan di lipat tangan atau kaki), ekimosis (kemerahan
pada kulit dengan batas tidak tegas) atau purpura (kemerahan atau ungu pada kulit
yang tidak hilang pada tekanan)
Petekie
- Perdarahan mukosa (tersering epitaksis atau perdarahan gusi), atau perdarahan
dari tempat lain
- BAB berdarah atau BAB hitam
• Trombositopenia ( trombosit < 100.000 / ul )
• Terdatap tanda-tanda kebocoran plasma (minimal satu ) :
- Peningkatan Ht >20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis
kelamin.
- Penurunan Ht > 20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan nilai
hematokrit sebelumnya.
- Tanda kebocoran plasma seperti : efusi pleura, asites atau hipoproteinemia

Sindroma Syok Dengue (SSD)


Seluruh kriteria diatas ditandai dengan DBD disertai kegagalan sirkulasi dengan
manifestasi nadi yang cepat dan lemah, tekanan darah turun (< 20 mmHg), hipotensi
dibandingkan standar sesuai umur, kulit dingin dan lembab serta gelisah.

1.4. Pemeriksaan Laboratorium


Pemeriksaan rutin dapat dilakukan berupa pemeriksaan : haemoglobin, hematokrit,
leukosit, dan trombosit. Pemeriksaan antibodi yang lebih spesifik adalah IgG dan
IgM dengue.
• Trombosit : umumnya terdapat penurunan pada hari ke 3 – 8. Angka trombosit
kurang dari 100.000 merupakan indikasi untuk perawatan.
• Hematokrit : kebocoran plasma menyebabkan pengentalan dari darah, ditentukan
dengan peningkatan kadar hematokrit yaitu > 20% yang biasanya terjadi pada hari ke
3.
• Faktor pembekuan darah (PT, aPTT) : akan meningkat apabila di curigai sudah
terjadi fase perdarahan.
• Ureum/kreatinin : merupakan pemeriksaan fungsi ginjal, dapat terjadi peningkatan
akibat perdarahan yang hebat tanpa terapi yang adekuat.
• Elektrolit : melihat kekurangan cairan dalam tubuh akibat demam yang
berkepanjangan dan asupan cairan yang kurang.
• Golongan darah : apabila diperlukan tambahan darah akibat pendarahan yang
cukup banyak.
Pemeriksaan IgG dan IgM pada Demam Berdarah Dengue
Pemeriksaan antibodi IgG dan IgM yang spesifik berguna dalam diagnosis
infeksi virus dengue. Kedua antibodi ini muncul 5-7 hari setelah infeksi. Hasil negatif
bisa saja muncul mungkin karena pemeriksaan dilakukan pada awal terjadinya
infeksi. IgM akan tidak terdeteksi 30-90 hari setelah infeksi, sedangkan IgG dapat
tetap terdeteksi seumur hidup. IgM yang positif memiliki nilai diagnostik bila disertai
dengan gejala yang mendukung terjadinya demam berdarah. Pemeriksaan IgG dan
IgM ini juga bisa digunakan untuk membedakan infeksi dengue primer atau sekunder.
• IgM : terdeteksi setelah hari ke 3 – 5, meningkat sampai minggu ke-3 dan
menghilang setelah hari ke 60-90.
• IgG : pada infeksi primer terdeteksi pada hari ke 14, sedangkan infeksi sekunder
terdeteksi pada hari ke 2.

1.5 Dengue primer


Dengue primer terjadi pada pasien tanpa riwayat terkena infeksi dengue
sebelumnya. Pada pasien ini dapat dideteksi IgM muncul secara lambat dengan titer
yang rendah.
1.6 Dengue Sekunder
Dengue sekunder terjadi pada pasien dengan riwayat paparan virus dengue
sebelumnya. Kekebalan terhadap virus dengue yang sama atau homolog muncul
seumur hidup. Setelah beberapa waktu bisa terjadi infeksi dengan virus dengue yang
berbeda. Pada awalnya akan muncul antibodi IgG, sering pada

masa demam, yang merupakan respon memori dari sel imun. Selain itu juga muncul
respon antibodi IgM terhadap infeksi virus dengue yang baru.

Untuk mudahnya bisa dilihat pada tabel di bawah :

Selain itu juga bisa digunakan rasio IgM/IgG. Rasio > 1,8 lebih mendukung infeksi
dengue primer, sedangkan raso ≤ 1,8 lebih ke arah infeksi dengue sekunder.

Pemeriksaan NS1
Pemeriksaan Non Struktural 1 (NS1) ditujukan untuk mendeteksi virus
dengue lebih awal. Virus dengue memiliki 3 protein structural dan 7 protein non
structural. NS1 adalah glikoprotein non structural yang diperlukan untuk
kelangsungan hidup virus.
Keuntungan mendeteksi antigen NS1 yaitu untuk mengetahui adanya infeksi
dengue pada penderita tersebut pada fase awal demam, tanpa perlu menunggu
terbentuknya antibodi.
Dengan demikian kita dapat segera melakukan terapi suportif dan pemantauan
pasien . Hal ini tentunya akan mengurangi risiko komplikasi seperti demam berdarah
dengue dan dengue shock syndrome yang dapat berakibat kematian.
Pemeriksaan Dengue NS1 Antigen sebaiknya dilakukan pada penderita yang
mengalami demam disertai gejala klinis infeksi virus dengue (pada hari 1-3 mulai
demam) untuk mendeteksi infeksi akut disebabkan virus dengue.

Menurut Dr.Aryati,dr, MS, Sp.PK(K), positivitas dan kadar Ag NS1 Dengue


tertinggi pada hari-hari awal demam dan akan menurun dengan bertambahnya hari
demam, sehingga sebaiknya dilakukan sebelum hari keempat demam.

1.7 Pengobatan
Pengobatan penderita Demam Berdarah adalah dengan cara:
- Penggantian cairan tubuh.
- Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter -2 liter dalam 24 jam (air the dan gula
sirup atau susu).
- Gastroenteritis oral solution/Kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit), kalau perlu
1 sendok makan setiap 3-5 menit. Sampai saat ini obat untuk membasmi virus dan
vaksin untuk mencegah penyakit Demam Berdarah belum tersedia
Fokus pengobatan pada penderita penyakit DBD adalah mengatasi perdarahan,
mencegah atau mengatasi keadaan syok / persyok, yaitu dengan mengusahakan agar
penderita banyak minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh dan gula
sirup atau susu) penambahan cairan tubuh melalui infus (intravena) mungkinb di
perlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi
platelet di lakukan jika jumlah platelet menurun drastis. Terhadap keluhan yang
timbul, selanjutnya adalah pemberian obat – obatan misalnya :
• Parasetamol membantu menurunkan demam
• Garam elektrolit (oralit) jika di sertai diare
• Antibiotik berguna untuk mencegah infeksi sekunder, lakukan kompres dingin,
tidak perlu dengan es karena bisa berdampak syok • Antibiotik berguna untuk
mencegah infeksi sekunder, lakukan kompres dingin, tidak perlu dengan es karena
bisa berdampak syok.

2. CHIKUNGUNYA
2.1 DEFINISI
Chikungunya berasal dari bahasa Swahili berdasarkan gejala pada penderita,
yang berarti “posisi tubuh meliuk atau melengkung” (that which contorts or bends
up),mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat
(arthralgia). Nyeri sendi ini, menurut lembar data keselamatan (MSDS) Kantor
Keamanan Laboratorium Kanada, terutama terjadi pada lutut, pergelangan kaki,
persendian tangan dan kaki.
Chikungunya ialah sejenis demam dan boleh dikatakan ‘bersaudara’ dengan
demam berdarah, karena ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty maupun albopictus.
Bedanya, jika virus demam berdarah menyerang pembuluh darah, sedangkan virus
Chikungunya menyerang sendi dan tulang. Penyakit demam Chikungunya ini
merupakan penyakit endemik. Wabah penyakit ini pertama kali menyerang di
Tanzania, Afrika pada tahun 1952.

2.2 ETIOLOGI
Penyakit chikungunya disebabkan oleh sejenis virus yang disebut virus
Chikungunya. Virus ini termasuk keluarga Togaviridae, genus alphavirus atau “group
A” antropho borne viruses. Virus ini telah berhasil diisolasi di berbagai daerah di
Indonesia. Sejarah Chikungunya di Indonesia Penyakit ini berasal dari daratan Afrika
dan mulai ditemukan Indonesia tahun 1973.
Strain asia merupakan genotype yang berbeda dengan yang di afrika. Virus
Chikungunya disebut juga Arbovirus AChikungunya Type CHIK, CK
Vektor penular utamanya adalah Aedes aegypti (the yellow fever mosquito),
nyamuk yang sama juga menularkan penyakit demam berdarah dengue. Meski masih
“bersaudara” dengan demam berdarah, penyakit ini tidak mematikan, namun virus ini
juga dapat diisolasi dari nyamuk Aedes africanus, Culex fatigans dan Culex
tritaeniorrhynchus. Aedes albopictus (the Asian tiger mosquito) mungkin juga
berperanan dalam penyebaran penyakit ini di kawasan Asia. Dan beberapa jenis
spesies nyamuk tertentu di daerah Afrika juga ternyata dapat menyebarkan penyakit
Chikungunya.
Akan tetapi, nyamuk yang membawa darah bervirus didalam tubuhnya akan
kekal terjangkit sepanjang hayatnya. Tidak ada bukti yang menunjukkan virus
Chikungunya dipindahkan oleh nyamuk betina kepada telurnya sebagaimana virus
demam berdarah.

2.3 MORFOLOGI
Virus chikungunya termasuk kelompok virus RNA yang mempunyai selubung,
merupakan salah satu anggota grup A dari arbovirus, yaitu alphavirus dari famili
Togaviridae. Dengan mikroskop elektron, virus ini menunjukkan gambaran virion
yang sferis yang
kasar atau berbentuk poligonal dengan diameter 40-45 nm (nanometer) dengan
intibidiameter 25-30 nm.

2.4 CARA PENULARAN


Penularan demam Chikungunya terjadi apabila penderita yang sakit digigit oleh
nyamuk penular , kemudian nyamuk penular tersebut menggigit orang lain. Virus
menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis (berlaku
dengan kerap di suatu kawasan atau populasi dan senantiasa ada). Selain manusia,
primata lainnya diduga dapat menjadi sumber penularan. Selain itu, pada uji
hemaglutinasi inhibisi, mamalia, tikus, kelelawar, dan burung juga bisa mengandung
antibodi terhadap virus Chikungunya.
Seseorang yang telah dijangkiti penyakit ini tidak dapat menularkan
penyakitnya itu kepada orang lain secara langsung. Proses penularan hanya berlaku
pada nyamuk pembawa. Masa inkubasi dari demam Chikungunya berlaku di antara
satu hingga tujuh hari, biasanya berlaku dalam waktu dua hingga empat hari.
Manifestasi penyakit berlangsung tiga sampai sepuluh hari.
2.5 GEJALA
Gejala penyakit ini sangat mirip dengan demam berdarah. Hanya saja kalau
Chikungunya akan membuat semua persendian terasa ngilu.
a. Demam
Biasanya demam tinggi, timbul mendadak disertai menggigil dan muka kemerahan.
Demam penyakit ini ditandai dengan demam tinggi mencapai 39-40 derajat C. Secara
mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga
dikenal pula istilah demam lima hari.
b. Sakit persendian
Nyeri sendi merupakan keluhan yang sering muncul sebelum timbul demam dan
dapat bermanifestasi berat, sehingga kadang penderita “merasa lumpuh” sebelum
berobat. Sehingga ada beberapa orang yang menamainya sebagai demem tulang atau
flu tulang. Sendi yang sering sering dikeluhkan: sendi lutut, pergelangan , jari kaki
dan tangan serta tulang belakang.
c. Nyeri otot
Nyeri bisa pada seluruh otot atau pada otot bagian kepala dan daerah bahu. Kadang
terjadi pembengkakan pada otot sekitar mata kaki.
d. Bercak kemerahan (ruam) pada kulit
Bercak kemerahan ini terjadi pada hari pertama demam, tetapi lebih sering pada hari
ke 4-5 demam. Lokasi biasanya di daerah muka, badan, tangan, dan kaki, terutama
badan dan lengan. Kadang ditemukan perdarahan pada gusi.
e. Sakit kepala
Sakit kepala merupakan keluhan yang sering ditemui, conjungtival injection dan
sedikit fotophobia.
f. Kejang dan penurunan kesadaran
Kejang biasanya pada anak karena panas yang terlalu tinggi, jadi bukan secara
langsung oleh penyakitnya.
g. Gejala lain
Gejala lain yang kadang dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening di bagian
leher dan kolaps pembuluh darah kapiler. Selain itu, kadang dijumpai mata merah
yang diikuti dengan gejala flu. Sehingga banyak orang awam yang mengira ini adalah
penyakit demam biasa.
Gejala yang timbul pada anak-anak sangat berbeda seperti nyeri sendi tidak terlalu
nyata dan berlangsung singkat. Ruam juga lebih jarang terjadi. Tetapi pada bayi dan
anak kecil timbul:
Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan
hebat, renjatan (shock) maupun kematian. Pada virus DBD akan ada produksi racun
yang menyerang pembuluh darah dan menyebabkan kematian. Sedangkan pada virus
penyebab chikungunya akan memproduksi virus yang menyerang tulang
Demam Chikungunya dikenal sebagai flu tulang (break-bone fever) dengan
gejala mirip dengan demam dengue, tetapi lebih ringan dan jarang menimbulkan
demam berdarah. Artralgia, pembuluh darah konjungtiva tampak nyata, dengan
demam mendadak yang hanya berlangsung 2-4 hari. Pemeriksaan serum penderita
untuk uji netralisasi menunjukkan adanya antibodi terhadap virus Chikungunya.
Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa
demam diikuti dengan linu di persendian. Bahkan, karena salah satu gejala yang khas
adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang,
ada yang menamainya sebagai demam tulang atau flu tulang. Dalam beberapa kasus
didapatkan juga penderita yang terinfeksi tanpa menimbulkan gejala sama sekali atau
silent virus chikungunya.
Virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini akan berkembang biak di
dalam tubuh manusia. Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa
di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama
lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari.
Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-
ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda
seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Gejala lain yang ditimbulkan adalah
mual, muntah kadang disertai diare.
Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan
sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala
nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan
sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai
muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama tiga hari
dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok.
Penyakit ini tidak sampai menyebabkan kematian. Nyeri pada persendian tidak
akan menyebabkan kelumpuhan. Setelah lewat lima hari, demam akan berangsur-
angsur reda, rasa ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot berkurang, dan
penderitanya akan sembuh seperti semula. Penderita dalam beberapa waktu kemudian
bisa menggerakkan tubuhnya seperti sedia kala. Meskipun dalam beberapa kasus
kadang rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari sampai berbulan-bulan.
Biasanya kondisi demikian terjadi pada penderita yang sebelumnya mempunyai
riwayat sering nyeri tulang dan otot.
Pada pendertita demam Chikungunya akut tipikal mengalami gejala klinis
dalam beberapa hari hingga 2 minggu. Tetapi seperti infeksi dengue, West Nile fever,
o'nyong-nyong fever dan demam arbovirus lainnya, beberapa penderita mengalami
kelelahan berkepanjangan (prolonged fatigue) dalam beberapa minggu. Dalam
beberapa literatur tidak pernah dilaporkan kejadian kematian, kasus neuroinvasive,
dan kasus perdarahan dalam penyakit ini.
Meskipun ditularkan oleh nyamuk yang sama dengan penyakit demam
berdarah, tetapi karakteristik penyakit ini berbeda. Bedanya pada Chikungunya tidak
ada perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian.
Setelah terjadi infeksi virus ini tubuh penderita akan membentuk antibodi yang
akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan
demikian, dalam jangka panjang penderita relatif kebal terhadap penyakit virus ini.

h. CARA PENGOBATAN
Tidak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. Pengobatan
terhadap penderita ditujukan terhadap keluhan dan gejala yang timbul. Perjalanan
penyakit ini umumnya cukup baik, karena bersifat “self limited disease”, yaitu akan
sembuh sendiri dalam waktu tertentu. Tetapi apabila kecurigaan penyakit adalah
termasuk campak atau demam berdarah dengue, maka perlu kesiapsiagaan
tatalaksana yang berbeda, penderita perlu segera dirujuk apabila terdapat tanda-tanda
bahaya.
Chikungunya tidak menyebabkan kematian atau kelumpuhan. Dengan istirahat
cukup, obat demam, kompres, serta antisipasi terhadap kejang demam, penyakit ini
biasanya sembuh sendiri dalam tujuh hari. Masih banyak anggapan di kalangan
masyarakat, bahwa demam Chikungunya atau flu tulang atau demam tulang sebagai
penyakit yang berbahaya, sehingga membuat panik. Tidak jarang pula orang
meyakini bahwa penyakit ini dapat mengakibatkan kelumpuhan. Memang,
sewaktu virus berkembang biak di dalam darah, penderita merasa nyeri pada tulang-
tulangnya terutama di seputar persendian sehingga tidak berani menggerakkan
anggota tubuh. Namun, perlu diperhatikan bahwa hal ini bukan berarti terjadi
kelumpuhan. Melainkan lebih dari sekedar keengganan si penderita melakukan
gerakan karena rasa ngilu pada persendian.
Bagi penderita sangat dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup
karbohidrat dan terutama protein dapat meningkatkan daya tahan tubuh, serta minum
air putih sebanyak mungkin untuk menghilangkan gejala demam. Perbanyak
mengkonsumsi buah-buahan segar (sebaiknya minum jus buah segar). Vitamin
peningkat daya tahan tubuh juga bermanfaat untuk untuk menghadapi penyakit ini,
karena daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa membuat rasa ngilu
pada persendian cepat hilang.
Belum ditemukan imunisasi yang berguna sebagai tindakan preventif. Namun
pada penderita yang telah terinfeksi timbul imunitas / kekebalan terhadap penyakit ini
dalam jangka panjang. Pengobatan yang diberikan umumnya untuk menghilangkan
atau meringankan gejala klinis yang ada saja (symptomatic therapy), seperti
pemberian obat panas, obat mual/muntah, maupun analgetik untuk menghilangkan
nyeri sendi.
I. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Isolasi Virus (paling akurat)
1) 2-5 ml darah dalam minggu I perjalanan penyakit
2) Virus CHIK (efek sitopatik) dikonfirmasi dengan antiserum CHIK spesifik
3) Hasil didapat dalam 1-2 minggu
b. Pemeriksaan Serologi
1) 10-15 ml darah pada fase akut (segera setelah onset klinik terjadi) dan
padafase penyembuhan (10-14 hari) setelah sampel I diambil.
2) Pemeriksaan IgM dilanjutkan MAC-ELISA, hasil dalam 2-3 hari
3) Reaksi silang sering terjadi, konversi dengan uji neutralisasi dan HIA
4) Diagnosa (+):
a) Peningkatan antibody 4x pada fase akut dan fase penyembuhan
b) Antibody IgM spesifik CHIKV (+)
5) Polymerase Chain Reaction (PCR)
a) Melalui enzim reserve transcriptase = tes RT-PCR
b) Specimen sama dengan untuk isolasi virus
c) Hasil didapat dalam 1-2 hari I
Cara Pemberantasan Demam Berdarah dan Chikungunya

Departemen kesehatan telah mengupayakan berbagai strategi dalam mengatasi


kasus ini. Pada awalnya strategi yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa
melalui pengasapan, kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida
yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Akan tetapi
kedua metode tersebut sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang
memuaskan. Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian
vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti (Rozendaal JA., 1997).
Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan
beberapa metode yang tepat, yaitu:
a. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat
perkembangbiakan nyamuk dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh : menguras
bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu, mengganti dan
menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali, menutup dengan
rapat tempat penampungan? air, mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban
bekas di sekitar rumah?. Tumpah atau bocornya air dari pipa distribusi, katup air,
meteran air dapat menyebabkan air menggenang dan menjadi habitat yang penting
untuk larva Aedes aegypti jika tindakan pencegahan tidak dilakukan.
b. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik
(ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14). Peran pemangsa yang dimainkan oleh
copepod crustacea (sejenis udang-udangan) telah didokumentasikan pada tahun 1930-
1950 sebagai predator yang efektif terhadap Aedes aegypti (Kay BH., 1996). Selain
itu juga digunakan perangkap telur autosidal (perangkap telur pembunuh) yang saat
ini sedang dikembangkan di Singapura.
c. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan pengasapan (fogging) (dengan
menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan
penularan sampai batas waktu tertentu. Memberikan bubuk abate (temephos) pada
tempat-tempat penampungan air seperti gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Fogging merupakan salah satu bentuk upaya untuk dapat memutus rantai
penularan penyakit DHF, dengan adanya pelaksanaan fogging diharapkan jumlah
penderita Demam Berdarah DHF dapat berkurang. Sebelum pelaksanaan fogging
pada masyarakat telah diumumkan agar menutup makanannya dan tidak berada di
dalam rumah ketika dilakukan fogging termasuk orang yang sakit harus diajak ke luar
rumah dahulu, selain itu semua ternak juga harus berada di luar. Namun demikian
untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan maka dalam pelaksanaannya
fogging dilakukan oleh 2 orang operator. Operator I (pendamping) bertugas membuka
pintu, masuk rumah dan memeriksa semua ruangan yang ada untuk memastikan
bahwa tidak ada orang dalam rumah termasuk bayi, anak-anak maupun orang tua dan
orang yang sedang terbaring sakit, selain itu ternak-ternak sudah harus dikeluarkan
serta semua makanan harus sudah ditutup. Setelah siap operator pendamping ke luar
dan operator II (Operator swing Fog) memasuki rumah dan melakukan fogging pada
semua ruangan dengan cara berjalan mundur. Setelah selesai operator pendamping
baru menutup pintu. Rumah yang telah di fogging ini harus dibiarkan tertutup selama
kurang lebih satu jam dengan harapan nyamuk-nyamuk yang berada dalam rumah
dapat terbunuh semua, dengan cara ini nyamuk-nyamuk akan terbunuh karena
malathion bekerja secara “knoc donw”. Setelah itu fogging dilanjutkan di luar rumah
/ pekarangan. Setelah satu rumah beserta pekarangannya selesai difogging maka
fogging dilanjutkan ke rumah yang lain, sampai semua rumah dan pekarangan milik
warga difogging.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan fogging dengan swing fog untuk
mendapatkan hasil yang optimal adalah sebagai berikut :
a. Konsentrasi larutan dan cara pembuatannya. Untuk malation, konsentrasi larutan
adalah 4 – 5 %.
b. Nozzle yang dipakai harus sesuai dengan bahan pelarut yang digunakan dan debit
keluaran yang diinginkan.
c. Jarak moncong mesin dengan target maksimal 100m, efektif 50m.d) Kecepatan
berjalan
d. Ketika memfogging, untuk swing fog kurang lebih 500 m2 atau 2 – 3 menit untuk
satu rumah dan halamannya.
e. Waktu fogging disesuaikan dengan kepadatan/aktivitas puncak dari nyamuk,
yaitu jam 09.00 – 11.00.
Dalam pelaksanaan fogging inipun telah diperhatikan hal-hal di atas sehingga
diharapkan hasilnya juga optimal. Berdasarkan hasil survei jentik ternyata masih
ditemukan jentik di 5 rumah penduduk. Jentik tersebut berada di kamar mandi, satu
kamar mandi ditemukan di luar rumah dengan kondisi kurang bersih dan kurang
terawat, sedang 4 kamar mandi yang lain berada di dalam rumah. Bahkan satu kamar
mandi terbuat dari keramik, namun demikian kamar mandi ini berhubungan langsung
dengan pekarangan yang cukup luas dengan tanaman-tanaman besar yang cukup
banyak, sehingga dimungkinkan nyamuk berasal dari pekarangan. Bagi penduduk
yang kamar mandinya masih ditemukan jentik, maka pada saat itu juga team yang
bertugas langsung memberikan pengarahan dan penyuluhan pada pemilik rumah
untuk membersihkan kamar mandinya agar tidak menjadi sarang nyamuk.
Pendapat masyarakat bahwa fogging merupakan cara yang paling tepat untuk
mencegah penyebaran penyakit demam berdarah sebenarnya kurang tepat, karena
cara ini sesungguhnya hanya bertujuan untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti
dewasa, sehingga jika di beberapa rumah penduduk masih diketemukan jentik
nyamuk, maka dimungkinkan penularan demam berdarah masih berlanjut dengan
dewasanya jentik yang menjadi nyamuk. Apalagi siklus perubahan jentik menjadi
nyamuk hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu. Sehingga jika di
daerah tersebut terdapat penderita demam berdarah baru maka dimungkinkan akan
cepat menyebar pula. Langkah yang dianggap lebih efektif adalah dengan PSN
(Pemberantasan Sarang Nyamuk).
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD dan Chikungunya
adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus,
yaitu menutup, menguras dan mengubur barang-barang yang bisa dijadikan sarang
nyamuk. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan
jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa,
menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk
dan memeriksa jentik berkala sesuai dengan kondisi setempat (Deubel V et al., 2001).
Kegiatannya dapat berupa kerja bakti untuk membersihkan rumah dan
pekarangannya, selokan selokan di samping rumah serta melakukan 3M ( Menguras
kamar mandi (termasuk mengganti air untuk minuman burung dan air dalam vas
bunga), menutup tampungan / tandon air dan mengubur barang-barang bekas yang
mungkin menjadi tempat sarang nyamuk, termasuk pecahan botol dan potongan ban
bekas). Jika diperlukan dapat ditaburkan abate dengan dosis 10 gr/ 100 liter air, untuk
membunuh jentik-jentik pada bak kamar mandi maupun kolam-kolam ikan di rumah,
dalam hal ini masyarakat tidak perlu takut kalau-kalau terjadi keracunan karena abate
ini hanya membunuh jentik nyamuk dan aman bagi manusia maupun ikan. Untuk
mendapatkan hasil yang terbaik dalam memutus rantai penularan penyakit demam
berdarah adalah dengan pelaksanaan PSN oleh masyarakat, kemudian dilakukan
fogging oleh petugas dan kembali dilaksanakan PSN oleh masyarakat. Jika cara ini
telah dilakukan oleh seluruh masyarakat secara merata di berbagai wilayah, artinya
tidak hanya satu Rt atau Rw saja, tetapi telah meluas di semua wilayah maka
pemberantasan demam berdarah akan lebih cepat teratasi. Sebab jika hanya satu
daerah saja yang melaksanakan program tersebut namun daerah lainnya tidak, maka
dimungkinkan orang yang berasal dari wilayah yang telah bebas namun berkunjung
ke daerah yang masih terdapat penderita demam berdarah dan tergigit oleh nyamuk
Aedes aegypti akan tertular demam berdarah pula dan dengan cepat penyakit inipun
akan tersebar luas kembali.
Pemerintah juga memberdayakan masyarakat dengan mengaktifkan kembali
(revitalisasi) pokjanal DBD di Desa/Kelurahan maupun Kecamatan dengan fokus
pemberian penyuluhan kesehatan lingkungan dan pemeriksaan jentik berkala.
Perekrutan warga masyarakat sebagai Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dengan fungsi
utama melaksanakan kegiatan pemantauan jentik, pemberantasan sarang nyamuk
secara periodik dan penyuluhan kesehatan. Peran media massa dalam
penanggulangan KLB DBD dan sebagai peringatan dini kepada masyarakat juga
ditingkatkan. Dengan adanya sistem pelaporan dan pemberitahuan kepada khalayak
yang cepat diharapkan masyarakat dan departemen terkait lebih wasapada.
Intensifikasi pengamatan (surveilans) penyakit DBD dan vektor dengan dukungan
laboratorium yang memadai di tingkat Puskesmas Kecamatan/Kabupaten juga perlu
dibenahi (Kristina et al., 2004).

Pencegahan Penyakit Demam Berdarah dan Chikungunya

Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk diwaktu pagi


sampai sore, karena nyamuk aedes aktif di siang hari (bukan malam hari). Misalnya
hindarkan berada di lokasi yang banyak nyamuknya di siang hari, terutama di daerah
yang ada penderita DBD nya. Beberapa cara yang paling efektif dalam mencegah
penyakit DBD melalui metode pengontrolan atau pengendalian vektornya adalah :

1. Pengendalian Non Kimiawi :


a. Pada Larva / jentik nyamuk:
1. dilakukan dengan cara menjaga sanitasi / kebersihan lingkungan yaitu pada
umumnya 3M: Menguras dan menyikat dinding bak penampungan air kamar
mandi; karena jentik / larva nyamuk demam berdarah (Aedest Aegypti) akan
menempel pada dinding bak penampungan air setelah dikuras dengan ciri-ciri
berwarna kehitam-hitaman pada dinding, hanya dengan menguras tanpa
menyikat dinding maka jentik / larva nyamuk demam berdarah (Aedest
Aegypti) tidak akan mati karena mampu hidup dalam keadaan kering tanpa air
sampai dengan 6 (enam) bulan, jadi setelah dikuras diding tersebut harus
disikat. Menutup rapat – rapat bak – bak penampungan air; yaitu seperti
gentong untuk persediaan air minum, tandon air, sumur yang tidak terpakai
karena nyamuk demam berdarah (Aedest Aegypti) mempunyai ethology lebih
menyukai air yang jernih untuk reproduksinya,Mengubur barang-barang yang
tidak berguna tetapi dapat menyebabkan genangan air yang berlarut-larut ini
harus dihindari karena salah satu sasaran tempat nyamuk untuk bereproduksi.
2. Dilakukan dengan cara pencegahan preventive yaitu memelihara ikan pada
tempat penampungan air
b. Pada Nyamuk Dewasa :
1. Dengan memasang kasa nyamuk atau screening yang berfungsi untuk
pencegahan agar nyamuk dewasa tidak dapat mendekat pada linkungan sekitar
kita.
2. Dengan menggunkan Insect Light Killer yaitu perangkap untuk nyamuk yang
menggunakan lampu sebagai bahan penariknya (attractan) dan untuk
membunuhnya dengan mengunakan aliran listrik. Cara kerja tersebut sama
dengan Electric Raket.
2. Pengendalian Kimiawi :
a. Pada Larva / jentik nyamuk:
Yaitu dikakukan dengan menaburkan bubuk larvasida atau yang biasa
disebut dengan ABATE Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin atau
sulit dikuras, taburkan bubuk ABATE ke dalam genangan air tersebut untuk
membunuh jentik-jentik nyamuk. Ulangi hal ini setiap 2-3 bulan sekali.
Selama 3 bulan bila tempat penampungan air tersebut akan
dibersihkan/diganti airnya, hendaknya jangan menyikat bagian dalam dinding
tempat penampungan air tersebut Air yang telah dibubuhi ABATE dengan
takaran yang benar, tidak membahayakan dan tetap aman bila air tersebut
diminum
Takaran penggunaan bubuk ABATE adalah sebagai berikut :
Untuk 10 liter air, ABATE yang diperlukan = (100/10) x 1 gram = 10 gram
ABATE
Untuk menakar ABATE digunakan sendok makan. Satu sendok makan peres
berisi 10 gram ABATE.
b. Pada Nyamuk Dewasa :
1. Dilakukan Space Treatment : Pengasapan (Fogging) dan Pengkabutan
(Ultra Low Volume) dengan insectisida yang bersifat knock down
mampun menekan tingkat populasi nyamuk dengan cepat.
2. Dilakukan Residual treatment : Penyemprotan (Spraying) pada tempat
hinggapnya nyamuk biasanya bekisaran antara 0 – 1 meter diatas
permukaan lantai bangunan.
3. Dengan memasang obat nyamuk bakar maupun obant nyamuk semprot
yang siap pakai dan bisa juga memakai obat oles anti nyamuk yang
memberikan daya fungsi menolak (repellent) pada nyamuk yang akan
mendekat.

Beberapa upaya untuk menurunkan, menekan dan mengendalikan nyamuk


dengan cara pengelolaan lingkungan adalah sebagai berikut:

1. Modifikasi Lingkungan
Yaitu setiap kegiatan yang mengubah fisik lingkungan secara
permanen agar tempat perindukan nyamuk hilang. Kegiatan ini termasuk
penimbunan, pengeringan, pembuatan bangunan (pintu, tanggul dan
sejenisnya) serta pengaturan sistem pengairan (irigasi). Kegiatan ini di
Indonesia populer dengan nama kegiatan pengendalian sarang nyamuk ”3M”
yaitu dari kata menutup, menguras dan menimbun berbagai tempat yang
menjadi sarang nyamuk.
2. Manupulasi Lingkungan
Yaitu suatu bentuk kegiatan untuk menghasilkan suatu keadaan
sementara yang tidak menguntungkan bagi keberadaan nyamuk seperti
pengangkatan lumut dari laguna, pengubahan kadar garam dan juga sistem
pengairan secara berkala di bidang pertanian.
3. Mengubah atau Memanipulasi Tempat Tinggal dan Tingkah Laku
Yaitu kegiatan yang bertujuan mencegah atau membatasi
perkembangan vektor dan mengurangi kontak dengan manusia. Pendekatan
ini dilakukan dengan cara menempatkan dan memukimkan kembali penduduk
yang berasal dari sumber nyamuk (serangga) penular penyakit, perlindungan
perseorangan (personal protection), pemasangan rintangan-rintangan terhadap
kontak dengan sumber serangga vektor, penyediaan fasilitas air, pembuangan
air, sampah dan buangan lainnya.
4. Pengendalian Hayati
Yaitu cara lain untuk pengendalian non kimiawi dengan
memanfaatkan musuh-musuh alami nyamuk. Pelaksanaan pengendalian ini
memerlukan pengetahuan dasar yang memadai baik mengenai bioekologi,
dinamika populasi nyamuk yang akan dikendalikan dan juga bioekologi
musuh alami yang akan digunakan. Dalam pelaksanaanya metode ini lebih
rumit dan hasilnyapun lebih lambat terlihat dibandingkan dengan penggunaan
insektisida. Pengendalian hayati baru dapat memperlihatkan hasil yang
optimal jika merupakan bagian suatu pengendalian secara terpadu.
5. Musuh alami yang yang digunakan dalam pengendalian hayati adalah
predator, patogen dan parasit.
a. Predator
Adalah musuh alami yang berperan sebagai pemangsa dalam suatu
populasi nyamuk. Contohnya beberapa jenis ikan pemakan jentik atau
larva nyamuk.Ikan pemakan jentik nyamuk yang telah lama digunakan
sebagai pengendali nyamuk adalah ikan jenis guppy dan ikan kepala
timah. Jenis ikan lain yang dikembangkan adalah ikan mas, mujahir dan
ikan nila di persawahan. Selain ikan dikenal pula larva nyamuk yang
bersifat predator yaitu jentik nyamuk Toxorrhynchites yang ukurannya
lebih besar dari jentik nyamuk lainnya ( sekitar 4-5 kali ukuran larva
nyamuk Aedes aegypti). Di beberapa negara pemanfaatan larva
Toxorrhynchites telah banyak dilakukan dalam rangkaian usaha
memberantas nyamuk demam berdarah secara tepadu.
b. Patogen
Merupakan jasad renik yang bersifat patogen terhadap jentik
nyamuk. Sebagai contoh adalah berbagai jenis virus (seperti virus yang
bersifat cytoplasmic polyhedrosis), bakteri (seperti Bacillus thuringiensis
subsp.israelensis, B. sphaericus), protozoa (seperti Nosema vavraia,
Thelohania) dan fungi (seperti Coelomomyces, Lagenidium,
Culicinomyces)
c. Parasit
Yaitu mahluk hidup yang secara metabolisme tergantung kepada
serangga vektor dan menjadikannya sebagai inang. Contohnya adalah
cacing Nematoda seperti Steinermatidae (Neoplectana), Mermithidae
(Romanomermis) dan Neotylenchidae (Dalandenus) yang dapat digunakan
untuk mengendalikan populasi jentik nyamuk dan serangga pengganggu
kesehatan lainnya. Nematoda ini memerlukan serangga sebagai inangnya,
masuk ke dalam rongga tubuh, merusak dinding dan jaringan tubuh
serangga tersebut. Jenis cacing Romanomermis culiciforax merupakan
contoh yang sudah diproduksi secara komersial untuk mengendalikan
nyamuk.
Meskipun demikian pemanfaatan spesies Nematoda sampai saat
ini masih terbatas pada daerah-daerah tertentu karena sebaran spesiesnya
terbatas, hanya menyerang pada fase dan spesies serangga tertentu dan
memerlukan dasar pengetahuan bioekologi yang kuat.
Daftar Pustaka

Anonym,2009,Demam Dengue, adulgopar.files.wordpress.com/2009/12/demam-


dengue.pdf
Anonym,2012, Pemeriksaan NS1 Dengue Pada Penderita Demam,
http://infosehat09hartonoprasetyo.wordpress.com/2012/10/23/pemeriksaan-ns1-
dengue-pada-penderita-demam/
Keri Lestari,2007, Epidemiologi Dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD)
Di Indonesia, K Lestari, FFU Padjadajaran-Jatinangor - Jurnal Farmaka, 2007 -
farmasi.unpad.ac.id

Dinkes,_____,Demam Berdarah Dengue, http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/


index.php/informasi-penyakit/180-demam-berdarah-dengue.html

Andimblitar,2010,Biomolekuler Virus Dengue,http://andimblitar.blogspot.com


/2010/09/biomolekuler-virus dengue.html─
Demam Chikungunya 2.1.1 …repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23166/…/Ch
apter%20II.pd diakses pada tgl 7/4/2012
─ Indonesia merupakan …etd.eprints.ums.ac.id/16086/2/BAB_I.pdf diakses pada
tgl 7/4/2012
─ http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/2011/03/chikungunya.html diakses
pada tgl 7/4/2012
─ pengertian chikungunya « Blognya Ummu
Kautsarummukautsar.wordpress.com/tag/pengertian-chikungunya diakses pada tgl
9/4/2012
─ Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah)
Penyakit …kgm.bappenas.go.id/document/makalah/18_makalah diakses pada tgl
11/4/2012
─ HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK
…repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20945/…/Chapter%20II.pdf diakses
pada tgl 10/4/2012
─ ANALISIS FAKTOR…lib.unnes.ac.id/7989/4/8571.pdf diakses pada tgl
10/4/2012
─ http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20945/4/Chapter%20IIchikun
gunya.pdfdiakses pada tgl 10/04/2012
─ Makalah Chikungunya | Pengertian | Makalah | Kesehatan …kesmas-
unsoed.blogspot.com/2010/06/chikungunya.htm diakses pada tgl 10/4/2012
Setianingsih Maria,2009,Virus
Dengue,http://mariaryoma.blogspot.com/2009/03/virus-dengue.htm