Anda di halaman 1dari 268

GAMBARAN SISTEM PELAPORAN NEAR MISS, UNSAFE ACT DAN

UNSAFE CONDITION DI PROYEK MASS RAPID TRANSIT JAKARTA

(MRTJ) TOKYU-WIKA JOINT OPERATION TAHUN 2016

SKRIPSI

OLEH :

NURANI FITRI

NIM : 1111101000055

PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1437 H/2016 M
LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar strata satu (S1) di Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya

atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Juni 2016

Nurani Fitri

i
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Skripsi, Agustus 2015 – Juni 2016

Nurani Fitri, NIM : 1111101000055

Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek
Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016
xvii + 186 halaman, 5 tabel, 7 bagan, 20 gambar, 14 lampiran

ABSTRAK

Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) merupakan perusahaan kerjasama antara Tokyu


Construction Co., Ltd dengan DSU I WIKA yang bergerak di bidang konstruksi Mass Rapid
Transit Jakarta (MRTJ) Surface Section CP 101 & CP 102. Kasus kecelakaan kerja yang terjadi di
sektor konstruksi meliputi semua jenis pekerjaan proyek dan menimbulkan kerugian serius bagi
perusahaan. Melaporkan semua kejadian yang tidak diinginkan seperti near miss merupakan aspek
yang paling penting dari setiap program keselamatan. Semakin banyak near miss yang dilaporkan
maka semakin banyak kesempatan untuk menyelidiki, mengidentifikasi dan memperbaiki akar
penyebab sebelum kerugian serius terjadi. Sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe
condition di TWJO belum memenuhi secara keseluruhan sistem pelaporan near miss (NEMIR
System).
Penelitian ini dimulai sejak bulan Agustus 2015 sampai dengan Juni 2016 untuk
mengetahui gambaran sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di Proyek
MRTJ TWJO Tahun 2016. Pendekatan sistem (input, proses, output) dan teori NEMIR system
digunakan untuk mengetahui sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition
perusahaan yang terdiri dari material, SDM, metode, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi
pelaksanaan pelaporan dan kemudian memperoleh laporan. Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif dengan mengumpulkan data primer melalui wawancara kepada informan, observasi dan
mengumpulkan data sekunder melalui telaah dokumen. Validasi data menggunakan triangulasi
sumber dan triangulasi metode.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe
condition di Proyek MRTJ TWJO belum terlaksana dengan baik sesuai dengan NEMIR system.
Terdapat beberapa kekurangan pada masing-masing tahapan sistem input-proses-output
(komponen standar belum maksimal, belum terdapat amnesti dan laporannya belum tercatat dan
terdokumentasi dengan lengkap).
Rekomendasi diberikan kepada pihak Divisi SHE dan Top Manajemen perusahaan yaitu
membuat SOP terkait pelaporan dan form pelaporan unsafe act pada standar, memberlakukan
punishment dan reward berkaitan dengan aktivitas pelaporan. Sedangkan untuk konsultan
perusahaan rekomendasinya yaitu meningkatkan pemantauan dan pengawasan, memeriksa serta
mengevaluasi kembali laporan-laporan SHE perusahaan.

Daftar Bacaan : 59 (1990-2016)


Kata Kunci : Near Miss, Sistem Pelaporan, TWJO, Unsafe act, Unsafe Condition

ii
STATE ISLAMIC UNIVERSITY OF SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM

Undergraduate Thesis, June 2016

Nurani Fitri, NIM : 1111101000055

A Descriptive of Near miss, Unsafe Act and Unsafe Condition Reporting System in
Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Project TOKYU-WIKA Joint Operation 2016
xvi + 183 pages, 5 tables, 7 charts, 20 pictures, 14 attachments

ABSTRACT

Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) is a collaboration between Tokyu Construction Co.,


Ltd and DSU I WIKA company works in construction Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Project
Surface Section CP 101 and CP102. Cases of occupational accidents that occurred in construction
sector covering all types of project work and cause serious harm to the company. Reporting all
undesired incidents such as near miss is the most important aspect of any safety programs. The
more near miss are reported, the more opportunities to investigating, identifying and correcting
the root causes before serious loss occur. Near miss, unsafe act and unsafe condition reporting
system in TWJO wasn’t filled to the overall near miss reporting system (NEMIR System).
This research was began in August 2015 until June 2016 to find out a description of near
miss, unsafe act and unsafe condition reporting system in TWJO MRTJ Project 2016. The system
approach (input, process, output) and NEMIR System theory were used to determined near miss,
unsafe act and unsafe condition reporting system in the company consisting of material, human
resources, method, implementation, monitoring, evaluation and then to get a report. This research
is a qualitative research by collecting primary data through the interview with informants,
observation and then collecting secondary data through review of documents. Data validation was
using triangulation sources and methods.
The result showed that near miss, unsafe act and unsafe condition reporting system in
TWJO MRTJ Project 2016 hasn’t done well in implementation with NEMIR System. There are
some lack on each stage of the input-process-output system (standard document is not
maximized,there hasn’t been amnesty and the reports haven’t been recorded and full documented.
The recommendations are given to SHE Division and Top Management of company to make
SOP related to reporting and unsafe act reporting form on the standard, applying the punishment
and reward related to reporting activities. And recommendation for consulting firm is to improve
monitoring and observation, checking and re-evaluting SHE company reports.

References : 59 (1990-2016)
Keyword : Near Miss, Reporting System, TWJO, Unsafe act, Unsafe Condition

iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

IDENTITAS DIRI
Nama : Nurani Fitri
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 25 Maret 1994
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Maluku Blok C72 No 19 RT 02/RW 08
Perumahan Sarua Permai Benda Baru Pamulang,
Tangerang Selatan.
Telp : 085693253949
Email : nuranifitriboo@gmail.com

PENDIDIKAN FORMAL
 1998 - 1999 : TK Islam Al-Hilal, Ambon
 1999 - 2000 : SD Negeri Bawakaraeng 03, Makassar
 2000 - 2005 : SD Negeri Sarua 06
 2005 - 2008 : SMP Negeri 1 Pamulang
 2008 - 2011 : SMA Negeri 1Ciputat (1 Kota Tangerang Selatan)
 2011 - Sekarang : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta

PENGALAMAN ORGANISASI
 Anggota KIR SMP Negeri 1 Pamulang : 2005 - 2007
 Bendahara Mading SMA Negeri 1 Ciputat : 2009 - 2011
 Anggota Paduan Suara FKIK (PASIFIK) UIN Jakarta : 2011 – Sekarang
 Staff Public Relation, Forum Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2012 – 2014

PELATIHAN
 Peserta Orientasi Akademik dan Kebangsaan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta tahun 2011
 Peserta Workshop Paduan Suara FKIK (PASIFIK) UIN Jakarta “Satukan
Hati PASIFIK dengan Harmonisasi Musik” tahun 2011
 Peserta Seminar “Lokakarya Nasional Rancangan UU Tenaga Kesehatan
2013” tahun 2012
 Peserta Talkshow Nasional “Peringatan Hari AIDS se-Dunia 2012 Say Hi
to AIDS!” tahun 2012
 Peserta Seminar Profesi Kesehatan Lingkungan “Eco Driving : Smart
Sollution to Reduce Poluttion” tahun 2012

vi
 Peserta Seminar Profesi Gizi “Body Image : Bongkar Kebiasaan Lama
Ganti dengan Diet yang Tepat” tahun 2012
 Peserta Seminar Profesi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
“Gambaran Budaya K3 di Rumah Sakit tahun 2013” tahun 2013
 Peserta Basic Fire Fighting FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun
2013
 Peserta Workshop “Ergonomi di Tempat Kerja” tahun 2014
 Peserta Workshop “Investigasi dan Pencegahan Kecelakaan Kerja” tahun
2014
 Peserta Workshop “Manajemen Kebakaran dan Ledakan” tahun 2014
 Peserta Workshop “Manajemen Risiko dan Pengendalian Kerugian” tahun
2014
 Peserta Training “SMK3 Based on OHSAS 18001 dan PP No. 50 tahun
2012” tahun 2014

KEPANITIAAN
 Penanggung Jawab Divisi Acara Bakti Sosial Pengobatan Gratis UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012
 Ketua Divisi Publikasi Dekorasi dan Dokumentasi Workshop PASIFIK
UIN Jakarta ”Satu Melodi, Satu Irama Jiwa dalam Harmonisasi Suara”
tahun 2012
 Panitia Ketok 1000 Pintu ”Aksi Tanggap Darurat Peduli Kesehatan
Keluarga” tahun 2012
 Panitia Workshop PASIFIK UIN Jakarta Interpidezza tahun 2013
 Panitia Seminar Profesi K3 “Optimalisasi Pemenuhan Regulasi Prasarana
Perlintasan Kereta Api Demi Stabilitas Transportasi Nasional” tahun 2014

vii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Alhamdulillah, karena


atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan
skripsi ini dengan judul “Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act
dan Unsafe Condition di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-
WIKA Joint Operation Tahun 2016”. Shalawat beserta salam yang teriring doa
semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang senantiasa atas
izin Allah SWT mengajarkan umatnya untuk terus memperoleh ilmu pengetahuan
yang kelak bermanfaat bagi sesamanya.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mahasiswa/i peminatan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Adapun di dalam proses
penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh banyak dukungan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Kedua orang tua saya yang tercinta Papa dan Mama (H. Rahim Laema dan
Hj. Hajerah Rahim), Kak Ari (Nurharij Apriani R. Laema) dan Fitrah (M.
Fitrah Habibullah) karena atas doa dan dukungan yang tak henti-hentinya
sehingga saya mampu menyelesaikan, memperoleh dan menjalani
pendidikan hingga saat ini S1 di jenjang universitas;
2. Bapak Prof. Dr. H. Arif Sumantri, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta;
3. Ibu Fajar Ariyanti, M. Kes, Ph.D selaku Ketua Program Studi Kesehatan
Masyarakat dan Para Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta;
4. Bapak Dr. M. Farid Hamzens, M.Si selaku pembimbing I dan Ibu
Minsarnawati, S.KM, M.Kes selaku pembimbing II yang telah memberikan

viii
berbagai arahan dan motivasi kepada penulis agar berupaya dengan
maksimal dalam melaksanakan dan menyelesaikan skripsi ini dengan baik;
5. Ibu Dr. Iting Shofwati, S.T, M.KKK selaku Dosen Peminatan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) terima kasih atas motivasinya, ilmunya,
pengetahuan dan pengalaman yang telah diberikan kepada penulis;
6. Tokyu-WIKA Joint Operation (SHE Division dan semua yang terlibat) dan
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (QSHE Departemen Power Plant dan
Energi) yang telah memberikan kesempatan untuk memperoleh izin terkait
penelitian, memperoleh banyak informasi, dukungan, ilmu, pengalaman
maupun arahan selama proses penyusunan skripsi ini;
7. Semua Dosen Penguji, terima kasih atas kritik, saran dan kesediaan
waktunya telah menjadi penguji dalam skripsi ini;
8. Sahabat-sahabat tersayang (Nauval, Rika, Obin dan Urukucup; Ridwan,
Mumu, Aji, Ega, Farah, Bremi, Raya, Flo) yang selalu memberikan
dukungan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini dan atas keseruan
kalian hingga saat ini;
9. Kawan Sholihah, K3 2011 dan Kesehatan Masyarakat 2011 UIN Jakarta,
dsb yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, dengan doa dan harapan
bahwa segala kebaikan yang mereka berikan dapat bermanfaat bagi penulis.
Penulis menyadari bahwa di dalam penulisan skripsi ini masih terdapat berbagai
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun agar kelak dapat menjadi lebih baik lagi,
Aamiin.Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Jakarta, Juni 2016

Nurani Fitri
(Penulis)

ix
DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ..................................................................................................... i


ABSTRAK ............................................................................................................................... ii
ABSTRACT ............................................................................................................................. iii
PERNYATAAN PERSETUJUAN........................................................................................ iv
LEMBAR PENGESAHAN .....................................................................................................v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP .............................................................................................. vi
KATA PENGANTAR .......................................................................................................... viii
DAFTAR ISI .............................................................................................................................x
DAFTAR TABEL ................................................................................................................ xiv
DAFTAR BAGAN..................................................................................................................xv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ xvi
DAFTAR ISTILAH ............................................................................................................ xvii
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................................1
A. Latar Belakang .........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................................7
C. Pertanyaan Penelitian ...............................................................................................8
D. Tujuan ......................................................................................................................9
1. Tujuan Umum ......................................................................................................9
2. Tujuan Khusus......................................................................................................9
E. Manfaat Penelitian .................................................................................................10
1. Bagi Peneliti .......................................................................................................10
2. Bagi Institusi Pendidikan ...................................................................................10
3. Bagi Perusahaan Tokyu-WIKA Joint Operation ................................................11
F. Ruang Lingkup .......................................................................................................11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................13
A. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Pekerjaan Konstruksi ......................13
B. Program K3 ............................................................................................................14
C. Perilaku dan Kondisi Tempat Kerja .......................................................................20
1. Perilaku Aman ....................................................................................................21

x
2. Perilaku Tidak Aman .........................................................................................22
3. Kondisi Tempat Kerja ........................................................................................23
D. Near Miss ...............................................................................................................24
E. Accident ..................................................................................................................25
1. Teori Kecelakaan Kerja ......................................................................................25
F. Accident or Near Miss Incident Ratio ....................................................................29
G. Definisi Sistem, Pendekatan Sistem dan Pelaporan ...............................................30
1. Sistem .................................................................................................................30
2. Pendekatan Sistem..............................................................................................31
3. Pelaporan ............................................................................................................35
H. Definisi Near Miss Incident Report (NEMIR) System...........................................35
I. Kerangka Teori.......................................................................................................40
BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH ........................................43
A. Kerangka Berpikir ..................................................................................................43
B. Definisi Istilah ........................................................................................................48
BAB IV METODE PENELITIAN........................................................................................51
A. Jenis Penelitian .......................................................................................................51
B. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................................51
C. Informan Penelitian ................................................................................................51
D. Instrumen Penelitian...............................................................................................53
E. Metode Pengumpulan Data ....................................................................................54
F. Validasi Data ..........................................................................................................56
1. Triangulasi Sumber ............................................................................................56
2. Pendekatan Metode ............................................................................................57
G. Pengolahan dan Analisa Data.................................................................................59
H. Penyajian Data .......................................................................................................61
BAB V HASIL ........................................................................................................................62
A. Gambaran Umum Perusahaan ................................................................................62
1. Lokasi dan Rute MRT Jakarta ...........................................................................62
2. Jenis Kegiatan ....................................................................................................63
3. Ruang Lingkup Pekerjaan ..................................................................................64
4. Struktur Organisasi Perusahaan .........................................................................68

xi
B. Hasil Gambaran Tahap Input dalam Sistem Pelaporan Near Miss,
Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ...............................69
1. Material ..............................................................................................................69
2. Sumber Daya Manusia (SDM) ...........................................................................97
3. Metode ..............................................................................................................109
C. Hasil Gambaran Tahap Proses dalam Sistem Pelaporan Near Miss,
Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 .............................111
1. Pelaksanaan Pelaporan .....................................................................................112
2. Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan.................................................................131
3. Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan ......................................................................135
D. Hasil Gambaran Tahap Output dalam Sistem Pelaporan Near Miss,
Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 .............................142
1. Laporan Near Miss ...........................................................................................142
2. Laporan Unsafe Act ..........................................................................................145
3. Laporan Unsafe Condition ...............................................................................147
BAB VI PEMBAHASAN .....................................................................................................154
A. Keterbatasan Penelitian ........................................................................................154
B. Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe
Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ...................................................................154
C. Gambaran Tahap Input dalam Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act
dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ...............................................156
1. Material ............................................................................................................157
2. Sumber Daya Manusia (SDM) .........................................................................163
3. Metode ..............................................................................................................164
D. Gambaran Tahap Proses dalam Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe
Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 .........................................166
1. Pelaksanaan Pelaporan .....................................................................................166
2. Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan.................................................................170
3. Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan ......................................................................171
E. Gambaran Output dalam Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan
Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 ......................................................171
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ..................................................................................177
A. Simpulan ..............................................................................................................177
B. Saran .....................................................................................................................178

xii
1. Saran untuk Divisi SHE Perusahaan ................................................................179
2. Saran untuk Top Manajemen Perusahaan ........................................................180
3. Saran untuk Konsultan Perusahaan ..................................................................180
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................182
LAMPIRAN ................................................................................................................................

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Istilah .......................................................................................... 48

Tabel 4.1 Informan Penelitian .................................................................................. 53

Tabel 4.2 Matriks Triangulasi Sumber..................................................................... 57

Tabel 4.3 Matriks Triangulasi Metode ..................................................................... 58

Tabel 4.4 Daftar Dokumen ....................................................................................... 59

xiv
DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Accident/Near Miss Ratio Study .............................................................. 30

Bagan 2.2 Diagram Alir Sederhana Elemen Sistem ................................................. 31

Bagan 2.3 Diagram Alir Elemen Sistem dengan Feedback ...................................... 33

Bagan 2.4 Kerangka Teori ........................................................................................ 42

Bagan 3.1 Kerangka Berpikir.................................................................................... 47

Bagan 5.1 Struktur Organisasi Tokyu-WIKA Joint Operation ................................. 68

Bagan 5.2 Struktur Organisasi Divisi SHE .............................................................. 104

xv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Teori Loss Causation Model ............................................................... 28


Gambar 2.2 Near Miss Reporting Form .................................................................. 37
Gambar 2.3 Teori Loss Causation Model ................................................................ 46
Gambar 5.1 Lokasi dan Rute MRT Jakarta.............................................................. 63
Gambar 5.2 Lokasi Proyek CP 101 dan CP 102 ...................................................... 65
Gambar 5.3 Daily Safety Patrol Form ..................................................................... 75
Gambar 5.4 Near Miss Form ................................................................................... 76
Gambar 5.5 Kebijakan K3 TWJO ............................................................................ 85
Gambar 5.6 Dokumentasi Kebijakan K3 TWJO ..................................................... 86
Gambar 5.7 Lampiran Standar Operasional Prosedur pada Dokumen Site
Safety Plan ............................................................................................. 89
Gambar 5.8 Unsafe Act pada Pekerjaan Fabrikasi Besi dan Pengelasan
(Penggunaan APD)............................................................................... 96
Gambar 5.9 Unsafe Condition (Penempatan Material Scaffolding dan
Kebersihan Lokasi Kerja ...................................................................... 97
Gambar 5.10 Statistic Safety record........................................................................ 102
Gambar 5.11 Monthly HSE Performance Report .................................................... 102
Gambar 5.12 Kebijakan Terhadap Pelanggaran Disiplin Pemakaian Alat
Pelindung Diri.................................................................................... 129
Gambar 5.13 Foto Site Inspection dari JMCMC...................................................... 134
Gambar 5.14 Weekly Meeting SHE with Construction and Subcontractor ............. 139
Gambar 5.15 Tabel Kejadian Near Miss pada HSE Monthly Report
January-April 2016 ........................................................................... 144
Gambar 5.16 Record Kejadian Near Miss pada HSE Monthly Report .................... 145
Gambar 5.17 Daily Safety Patrol Record pada HSE Monthly Report ..................... 149

xvi
DAFTAR ISTILAH

APD : Alat Pelindung Diri


CP : Contract Package
DSM : Deputy Safety Manager
DSU I : Departemen Sipil Umum I
EPC : Engineering, Procurement and Construction
ILO : International Labour Organization
JMCMC : Jakarta Mass Rapid Transit Construction Management Consultant
K3 : Keselamatan dan Kesehatan Kerja
K3L : Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan
LTI : Lost Time Injury
MTI : Media Treatment Injury
MRTJ : Mass Rapid Transit Jakarta
NEMIR : Near Miss Reporting
NSC : National Safety Council
OHSAS : Occupational Health and Safety Advisory Services
OSHA : Occupational Safety and Health Administration
PAK : Penyakit Akibat Kerja
PM : Project Manager
QA : Quality Assurance
QSHE : Quality, Safety, Health and Environment
SDM : Sumber Daya Manusia
SHE : Safety, Health and Environment
SMK3 : Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
SO : Safety Officer
TWJO : Tokyu-WIKA Joint Operation
WIKA : Wijaya Karya

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia perindustrian saat ini bergerak di berbagai bidang atau

sektor, sektor industri jasa konstruksi merupakan salah satunya. Pada

umumnya semua jenis pekerjaan melibatkan sejumlah pekerja dalam

melakukan proses pekerjaan, begitu pula dengan pekerjaan konstruksi.

Kejadian yang banyak terjadi adalah kecelakaan kerja akibat belum

dilakukan penanganan terhadap pengawasan keselamatan dan kesehatan

kerja di tempat kerja secara mantap dan menyeluruh pada setiap

pekerjaan konstruksi bangunan.

Menurut International Labour Organization secara global

diperkirakan 337 juta kecelakaan kerja terjadi dan 2,3 juta kematian

akibat kerja terjadi setiap tahunnya (ILO, 2014). Di dunia, hampir setiap

tahunnya pada tempat kerja terdapat 250 juta pekerja yang mengalami

cidera, 150 juta pekerja yang terkena penyakit akibat kerja dan lebih dari

1,1 juta pekerja yang meninggal dunia (Titas, 2013).

Berdasarkan hasil perhitungan U.S BLS (United State Bureau of

Labour Statistics) yang dilaporkan menyebutkan bahwa kecelakaan kerja

fatal di konstruksi tahun 2011 yaitu sebanyak 4.383 kasus, naik sebesar

5% menjadi 4.628 kasus di tahun 2012 (BLS, 2014). Kecelakaan kerja

tersebut diantaranya adalah cidera fatal pada pekerja penuh kontraktor

1
2

yang menyebabkan 715 kematian (15,45%) dan pekerja kontrak

menyumbang sebanyak 15% (BLS, 2014). Sedangkan di tahun 2013

kecelakaan kerja mengalami penurunan menjadi 4.585 kasus dan

kemudian mengalami peningkatan kembali di tahun 2014 menjadi 4.679

kasus (BLS, 2015).

Angka kecelakaan kerja di Indonesia termasuk yang paling tinggi

di kawasan Asia Tenggara. Di tahun 2010, hampir 32% kasus

kecelakaan kerja yang ada terjadi di sektor konstruksi yang meliputi

semua jenis pekerjaan proyek gedung, jalan, jembatan, terowongan,

irigasi bendungan dan sejenisnya (Jamsostek, 2010). PT Jaminan Sosial

Tenaga Kerja (Persero) mencatat sepanjang tahun klaim terhadap

program jaminan kecelakaan kerja (JKK).

Klaim terhadap program jaminan kecelakaan kerja (JKK) di

tahun 2013 sebesar 563 miliar rupiah yaitu sebanyak 103.285 kasus yang

diantaranya berupa cacat fungsi, cacat sebagian, cacat total tetap,

sembuh dan meninggal dunia. Sedangkan di tahun 2014 kasus

kecelakaan yang terjadi sebanyak 105.383 kasus dan program JKK yaitu

sebesar 652 miliar rupiah (BPJS Ketenagakerjaan, 2015). Klaim

terhadap program JKK mengalami peningkatan dari tahun 2013 ke tahun

2014.

National Safety Council (2013) menyatakan bahwa insiden yang

terjadi setiap hari di tempat kerja dapat mengakibatkan cidera atau

kerusakan serius. Pelaporan near miss dapat membantu mencegah


3

insiden terjadi di kemudian hari dan perusahaan perlu membuat proses

pelaporan near miss semudah mungkin dapat dipahami.

Beberapa perusahaan mungkin tidak memiliki budaya pelaporan

dimana para pekerjanya didorong untuk melaporkan kejadian near miss.

Namun sejarah memperlihatkan bahwa setiap kerugian atau kecelakaan

kerja berulang kali terjadi dipicu oleh kejadian near miss. Maka dengan

mengenali dan melaporkan setiap kejadian near miss secara signifikan

dapat meningkatkan keselamatan pekerja dan meningkatkan budaya

keselamatan (NSC, 2013).

Menurut Bird dan Germain (1990), unsafe act, unsafe condition

dan near miss merupakan hal yang patut dipelajari dan dicegah agar

tidak terjadi kecelakaan kerja yang mampu mengakibatkan sejumlah

kerugian. McKinnon (2012) menyatakan bahwa banyak peristiwa yang

tampaknya tidak penting memiliki potensi untuk cidera dan kerugian

lainnya. Namun jika diakui, dilaporkan dan diperbaiki akar penyebab

kejadian near miss dapat mengeliminasi terjadinya cidera dan

kecelakaan kerja.

Di dalam penelitian Annishia (2011) pada pekerja konstruksi di

PT PP (Persero) menyatakan bahwa perilaku tidak aman (unsafe act)

memegang pengaruh yang besar terhadap terjadinya kecelakaan kerja

dibandingkan dengan kondisi tidak aman (unsafe condition). Hasil

penelitian lainnya menyatakan bahwa terdapat 52% pekerja yang

berperilaku tidak aman dibandingkan dengan pekerja yang berperilaku

aman di tempat kerja (Putri dkk., 2013). Selain itu, setiap perusahaan
4

harus memastikan bahwa setiap unsafe act dan unsafe condition

dilaporkan agar kemudian dapat ditindaklanjuti (Bird and Germain,

1990).

Terdapat dua alasan utama pekerja berperilaku tidak aman di

tempat kerja yaitu karena ketidaktahuan atau kurangnya informasi

tentang keselamatan dan ketidakpedulian akan pentingnya keselamatan

(Titas, 2013). Peraturan yang terdapat di proyek dan ketersediaan APD

sangat memungkinkan pekerja konstruksi berperilaku dalam bekerja.

Adanya pengawasan dari pengawas dan SHE Officer juga memberikan

pengaruh terhadap perilaku pekerja konstruksi dalam bekerja, karena

pekerja selalu merasa diawasi saat bekerja (Annishia, 2011).

Kecelakaan yang terjadi di site konstruksi umumnya dapat

dikatakan sebagai kelemahan Sistem Manajemen K3 perusahaan yang

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor teknis, teknologi

(peralatan) dan organisasi (Titas, 2013). Organisasi atau manajemen

perusahaan melaksanakan program K3 disamping untuk memberikan

perlindungan terhadap kecelakaan kerja, juga untuk mencegah kerugian

yang besar bagi perusahaan (Riantiwi, 2012).

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk merupakan Badan Usaha Milik

Negara (BUMN) Indonesia yang bergerak di bidang Engineering,

Procurement & Construction (EPC) serta Investasi. Terdapat sejumlah

departemen yang bergerak di berbagai bidang konstruksi. Tokyu-WIKA

Joint Operation (TWJO) merupakan perusahaan kerjasama antara

Perusahaan Jepang (Tokyu Construction Co., Ltd) dengan Departemen


5

Sipil Umum I WIKA yang bergerak di bidang konstruksi Mass Rapid

Transit Jakarta (MRTJ). Bertanggung jawab pada pelaksanaan proyek

MRTJ Surface Section area CP101 dan CP102.

WIKA memiliki kebijakan K3 yang berkomitmen untuk

mencegah kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan pencemaran

lingkungan, dengan sasaran tercapainya zero accident, efisiensi

penggunaan sumber daya dan pencegahan environmental incident.

Sedangkan TWJO memiliki kebijakan K3 yang berkomitmen untuk

mendorong praktik kerja yang aman pada Proyek Konstruksi MRT

Jakarta sesuai dengan undang-undang K3 serta aturan dan peraturan

Pemerintah Indonesia dan otoritas terkait yang memiliki kewenangan

hukum.

Menurut Data Statistik Kinerja Keselamatan PT Wijaya Karya

(Persero) Tbk selama kurun waktu 3 tahun terakhir, terdapat sejumlah

kecelakaan kerja. Di tahun 2012 terdapat kecelakaan kerja No Loses

Time Injury (NLTI) sebanyak 83 kasus. Meskipun di tahun 2013

mengalami penurunan menjadi 50 kasus, namun di tahun 2014

mengalami kenaikan menjadi 189 kasus (WIKA, 2015)

Sedangkan kejadian kecelakaan kerja yang membutuhkan

perawatan medis atau Medical Treatment Injury (MTI) di tahun 2012

sebanyak 12 kasus. Di tahun 2013 dan 2014 mengalami peningkatan

yaitu sebanyak 20 dan 38 kasus. Sejauh ini di perusahaan tidak terdapat

kecelakaan yang berakibat Loses Time Injury (LTI) maupun Fatality

atau Kematian (WIKA, 2015).


6

Berdasarkan Laporan Kecelakaan Kerja, Near miss dan Penyakit

Akibat Kerja (PAK) bulan Januari hingga Desember 2015 pada Proyek

MRTJ TWJO diperoleh bahwa terdapat sejumlah kecelakaan kerja yaitu

sebanyak 7 kasus, 4 kasus diantaranya merupakan kategori ringan dan 3

kasus lainnya merupakan kategori berat yang menyebabkan LTI dan

MTI. Selain itu, sepanjang tahun 2015 untuk pelaporan terkait Near miss

hanya terdapat satu kejadian yang dilaporkan, dan untuk pelaporan

terkait kondisi mekanik fisik berbahaya (unsafe condition) dan tindakan

berbahaya (unsafe act) yang terjadi diperusahaan tidak terdapat

rekapitulasi data pelaporannya (TWJO, 2015).

Pada laporan bulanan proyek TWJO dan fakta yang diuraikan

sebelumnya menjelaskan bahwa masih terdapat sejumlah kasus

kecelakaan kerja pada site konstruksi MRTJ. Selain itu, masih terdapat

pekerja konstruksi yang berperilaku tidak aman (unsafe act) diantaranya

adalah memuat dan menempatkan secara tidak aman, menggunakan

peralatan yang tidak aman atau tanpa peralatan, mengambil posisi atau

sikap tubuh yang tidak ergonomi, tidak menggunakan APD, melakukan

pekerjaan tanpa wewenang serta tindakan berbahaya lainnya yaitu

merokok di area kerja.

Terdapat pula kondisi tidak aman (unsafe condition) berupa

penyimpanan dan peletakkan yang tidak aman, kondisi yang tidak

semestinya (licin, tajam, kasar, retak, dll), pengamanan yang tidak

sempurna, peralatan atau bahan yang tidak seharusnya dan kondisi

berbahaya lainnya. Hal-hal tersebut masih ditemukan saat dilakukan


7

inspeksi pada site konstruksi namun data pelaporan terkait unsafe act

belum dilaporkan dan minimnya data pelaporan terkait near miss dan

unsafe condition.

Perilaku, kondisi tidak aman dan kejadian near miss yang terjadi

dapat memberikan peluang kecelakaan kerja dapat terulang. TWJO

memiliki form pelaporan yang berkaitan dengan perilaku pekerja,

kondisi tidak aman dan kejadian near miss yang mengacu pada dokumen

Site Safety Plan (TWJO-PLN-0003-revD). Namun Divisi SHE belum

melakukan pencatatan dan pelaporan terkait unsafe act, minimnya data

unsafe condition dan data pelaporan near miss. Hal ini yang membuat

penulis tertarik untuk melakukan penelitian terkait “Gambaran Sistem

Pelaporan Near miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek Mass

Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO)

Tahun 2016”.

B. Rumusan Masalah

WIKA merupakan industri yang bergerak di bidang engineering,

procurement dan construction. Setiap departemen yang terdapat di

WIKA memiliki bahaya dan tingkat risiko yang berbeda-beda.

Komitmen WIKA untuk mencegah kecelakaan kerja, PAK dan

pencemaran lingkungan, dengan sasaran tercapainya zero accident,

efisiensi penggunaan sumber daya dan pencegahan environmental

incident masih belum optimal.

TWJO merupakan perusahaan kerjasama antara pihak jepang

(Tokyu) dengan Departemen Sipil Umum I WIKA yang bergerak di


8

bidang konstruksi Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ). Bertanggung

jawab pada pelaksanaan proyek MRTJ CP101 dan CP102. Berdasarkan

Laporan Kecelakaan Kerja, Near miss dan Penyakit Akibat Kerja (PAK)

bulan Januari hingga Desember 2015 pada Proyek MRTJ TWJO

diperoleh bahwa terdapat sejumlah kecelakaan kerja yaitu sebanyak 7

kasus, 4 kasus diantaranya merupakan kategori ringan dan 3 kasus

lainnya merupakan kategori berat yang menyebabkan LTI dan MTI.

Sepanjang tahun 2015 untuk pelaporan near miss hanya terdapat satu

kejadian yang dilaporkan. Sedangkan untuk pelaporan terkait kondisi

mekanik fisik berbahaya (unsafe condition) dan tindakan berbahaya

(unsafe act) yang terjadi diperusahaan tidak terdapat rekapitulasi data

pelaporannya (TWJO, 2015).

Minimnya pelaporan near miss dan belum maksimalnya data

pelaporan terkait perilaku tidak aman dan kondisi tidak aman pada

proyek serta adanya komitmen perusahaan demi mencegah terjadinya

kecelakaan kerja terulang, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai “Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe

Act dan Unsafe Condition di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta

(MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) Tahun 2016”.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran input sistem pelaporan near miss, unsafe

act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid Transit Jakarta

(MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) Tahun 2016?


9

2. Bagaimana gambaran proses sistem pelaporan near miss, unsafe

act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid Transit Jakarta

(MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) Tahun 2016?

3. Bagaimana hasil atau output dari sistem pelaporan near miss,

unsafe act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid Transit

Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) Tahun

2016?

D. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mengetahui sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition di proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-

WIKA Joint Operation (TWJO) Tahun 2016.

2. Tujuan Khusus

a. Diperolehnya gambaran input sistem pelaporan near miss,

unsafe act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid

Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation

(TWJO) Tahun 2016.

b. Diperolehnya gambaran proses sistem pelaporan near miss,

unsafe act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid

Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation

(TWJO) Tahun 2016.

c. Diperolehnya hasil atau output dari sistem pelaporan near

miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek Mass Rapid


10

Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation

(TWJO) Tahun 2016.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

a. Memperoleh pengetahuan, menambah wawasan dan

mengetahui bagaimana sistem pelaporan near miss,

pelaporan unsafe act dan unsafe condition dalam langkah

mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja, mengamati

perilaku pekerja konstruksi dan kondisi di tempat kerja

serta membantu pelaksanaan SMK3 di proyek Mass Rapid

Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation

(TWJO).

b. Menerapkan ilmu K3 yang diperoleh pada bangku

perkuliahan ke dalam dunia pekerjaan atau tempat kerja.

c. Berkontribusi secara nyata pada perusahaan dan

memperoleh pengalaman di lapangan sebagai bentuk

kesiapan dalam menghadapi dunia kerja.

2. Bagi Institusi Pendidikan

a. Menjalin kerjasama yang baik antara pihak instansi

perusahaan dengan pihak institusi pendidikan.

b. Membuka peluang baru sebagai rekomendasi tempat

magang atau penelitian skripsi bagi para mahasiswa

kesehatan masyarakat khususnya K3.


11

c. Memperoleh referensi baru dari penelitian skripsi yang

dilakukan untuk pengembangan penelitian selanjutnya

dan dapat dijadikan sebagai masukan atau saran dalam

meningkatkan kurikulum yang telah diterapkan.

3. Bagi Perusahaan Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO)

a. Memperoleh masukan dan rekomendasi yang positif

dalam mengevaluasi berbagai kekurangan terkait

pelaksanaan K3 yang ada di perusahaan dan yang

berkaitan dengan pencatatan dan pelaporan.

b. Menjalin kerjasama yang baik dengan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi

Kesehatan Masyarakat Peminatan K3 Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dalam menerapkan

kemampuan dan meningkatkan kualitas SDM yang baik.

c. Penelitian atau skripsi dapat dijadikan sebagai bahan

referensi dalam mengevaluasi kebijakan dan prosedur

yang berkaitan dengan K3 di perusahaan sebagai upaya

peningkatan berkelanjutan.

F. Ruang Lingkup

Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode pendekatan

kualitatif deskriptif dalam memperoleh data-data dan menggali informasi

terkait sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di

proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint

Operation (TWJO). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2015


12

sampai dengan bulan Mei 2016. Pengambilan data yang diperlukan

untuk penelitian ini adalah memperoleh data primer dengan melakukan

wawancara (in-depth interview) kepada informan utama, kunci dan

pendukung, melakukan observasi dan memperoleh data sekunder dengan

melakukan telaah dokumen pada perusahaan terkait penelitian.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Pekerjaan


Konstruksi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala kegiatan

untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja

melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja

(PP RI No. 50, 2012). Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan

Kerja (SMK3) harus dimulai dari membuat suatu kebijakan yang dapat

dilaksanakan dan ditindaklanjuti oleh manajemen. Kebijakan

keselamatan dan kesehatan kerja adalah komitmen bahwa tim

manajemen dan karyawan setuju dalam menciptakan keselamatan

(McKinnon, 2012).

Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian

kegiatan perencanaan dan atau pelaksanaan beserta pengawasan yang

mencakup bangunan gedung, bangunan sipil, instalasi mekanikal dan

elektrikal serta jasa pelaksanaan lainnya untuk mewujudkan suatu

bangunan atau bentuk fisik lain dalam jangka waktu tertentu (PERMEN

PU No. 5, 2014).

Menurut Occupational Safety and Health Administration

(OSHA, 2016) konstruksi adalah industri dengan bahaya tinggi yang

terdiri dari berbagai kegiatan yang melibatkan pembangunan, perubahan,

13
14

dan atau perbaikan. Contoh pekerjaan konstruksi adalah pembangunan

perumahan, pembuatan jembatan dan jalan, penggalian, dll.

Tenaga kerja merupakan aset perusahaan yang harus diberikan

perlindungan terhadap aspek K3 mengingat ancaman bahaya potensial

yang berhubungan dengan pekerjaan (PP RI No. 50, 2012). Pekerja

konstruksi terlibat dalam banyak kegiatan dengan bahaya yang serius

seperti jatuh dari ketinggian, mesin yang terjaga tanpa pelindung,

tersambar alat berat, bahaya listrik, paparan debu, dsb (OSHA, 2016)

Pada pekerjaan konstruksi sebagian besar bahaya-bahayanya

adalah nyata dan dapat ditemukan hampir setiap hari. Penyebab dari

kecelakaan-kecelakaan dapat diketahui dengan baik dan seringkali

terulang kembali. Maka tindakan yang dilakukan adalah dengan

mengontrol risiko-risiko yang timbul dalam setiap proses pekerjaan

(Rijanto, 2010).

Pekerjaan konstruksi di dalam pelaksanaannya terdapat kontrol

terhadap para pekerjanya. Standar peraturan yang dibuat oleh perusahaan

tidak memberikan jaminan bahwa pekerja akan bekerja dengan cara

yang aman. Namun kebiasaan bekerja dengan aman merupakan hasil

dari upaya pelatihan terhadap pekerja dan supervisi yang efektif dalam

melakukan pengawasan (Rijanto, 2010).

B. Program K3

Perusahaan konstruksi yang sadar akan keselamatan, melakukan

pekerjaannya dengan merancang suatu program K3L yang baik sebelum

memulai pekerjaannya. Tingkat kegiatan program K3L ditentukan oleh


15

berbagai situasi yang berkaitan dengan bahaya dan tingkat risiko pada

situasi tersebut. Semakin besar risiko maka akan semakin banyak

diperlukannya kontrol terhadap pekerjaan yang dilakukan (Rijanto,

2010).

Pekerjaan untuk mengidentifikasi bahaya terhadap K3 di tempat

kerja harus dilakukan secara terencana, menyeluruh dan dengan teknik

yang akurat. Metode yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan

inspeksi, pengamatan terhadap pekerjaan, survei dan penilaian teknis,

serta pengawasan. Perusahaan semakin mencari cara dalam

meningkatkan keterlibatan karyawan terhadap keselamatan dengan

melakukan pengembangan program yang inovatif untuk keselamatan

(Suryatno dkk., 2015).

Program pencegahan cidera dan penyakit merupakan alat yang

efektif dalam mengurangi cidera, penyakit dan kematian akibat

pekerjaan. Program pencegahan cidera dan penyakit harus termasuk

sistematika identifikasi, evaluasi dan pencegahan atau pengendalian pada

bahaya-bahaya yang umum di tempat kerja dan bahaya-bahaya dari

tugas dan pekerjaan yang khusus (OSHA, 2013).

Elemen-elemen kunci dari semua program-program pencegahan

cidera dan penyakit adalah kepemimpinan manajemen, partisipasi

pekerja, identifikasi dan penilaian bahaya, pencegahan dan pengendalian

bahaya, pendidikan dan pelatihan, serta program evaluasi dan

peningkatan (OSHA, 2012). Program efektif yang termasuk didalam

elemen-elemen utama tersebut diantaranya (OSHA, 2013) :


16

1. Kepemimpinan Manajemen (Management Leadership)

a. Menetapkan tujuan keselamatan dan kesehatan yang jelas

untuk program dan menentukan tindakan yang diperlukan

untuk mencapai tujuan tersebut

b. Menunjuk satu atau lebih individu dengan tanggung jawab

secara keseluruhan untuk menerapkan dan memelihara

program

c. Menyediakan sumber daya yang cukup untuk menjamin

pelaksanaan program yang efektif

Manajemen K3 di tempat kerja bertanggung jawab secara

penuh dalam mengatur dan mengontrol seluruh manajemen

organisasi. Dengan kata lain Near Miss Reporting (NEMIR)

System dapat mencapai kesuksesan jika dipimpin, didukung dan

berdasarkan inisiatif dari manajemen (McKinnon, 2012).

2. Partisipasi Pekerja (Worker Participation)

a. Berkonsultasi dengan pekerja dalam mengembangkan dan

melaksanakan program serta melibatkan mereka dalam

memperbarui dan mengevaluasi program

b. Mengikutsertakan pekerja untuk inspeksi dan investigasi

insiden di tempat kerja

c. Mendorong para pekerja untuk melaporkan kekhawatiran

seperti bahaya, cidera, penyakit dan near misses

d. Melindungi hak-hak pekerja yang berpartisipasi dalam

program ini
17

3. Identifikasi dan Penilaian Bahaya (Hazard Identification and

Assessment)

a. Mengidentifikasi, menilai dan mendokumentasikan bahaya di

tempat kerja, memeriksa tempat kerja dan meninjau informasi

yang tersedia terkait bahaya yang ada di tempat kerja

b. Menyelidiki cidera dan penyakit untuk mengidentifikasi

bahaya yang mungkin dapat menyebabkan hal tersebut

c. Menginformasikan kepada pekerja terkait bahaya di tempat

kerja

4. Pencegahan dan Pengendalian Bahaya (Hazard Prevention and

Control)

a. Menetapkan dan melaksanakan rencana untuk

memprioritaskan dan mengendalikan bahaya yang

teridentifikasi di tempat kerja

b. Memberikan kontrol sementara untuk melindungi pekerja

dari bahaya yang tidak dapat dikontrol secara langsung

c. Memverifikasi bahwa semua tindakan pengendalian bahaya

dilaksanakan dan efektif

d. Membahas rencana pengendalian bahaya dengan pekerja

yang terkena dampak

5. Pendidikan dan Pelatihan (Education and Training)

a. Memberikan pendidikan dan pelatihan kepada pekerja dengan

bahasa yang dapat mereka pahami untuk memastikan bahwa

mereka tahu bagaimana prosedur untuk melaporkan cidera,


18

penyakit dan masalah yang berkaitan dengan keselamatan

dan kesehatan, bagaimana mengenali bahaya, cara untuk

menghilangkan, mengurangi atau mengontrol bahaya,

elemen-elemen program dan bagaimana berpartisipasi dalam

program

b. Melakukan pendidikan dan pelatihan program secara berkala

6. Program Evaluasi dan Peningkatan (Program Evaluation and

Improvement)

a. Melakukan penelaahan berkala terhadap program untuk

menentukan apakah program sudah diimplementasikan sesuai

rancangan dan membuat kemajuan dalam mencapai tujuan

b. Modifikasi program jika diperlukan untuk memperbaiki

kekurangan

c. Terus mencari cara untuk meningkatkan program

Pada umumnya, elemen-elemen tersebut yang mendasari dan

terdapat di dalam program manajemen keselamatan dan kesehatan.

Setiap elemen yang ada itu penting dalam mencapai keberhasilan dari

keseluruhan program yang dijalankan karena elemen-elemen tersebut

saling bergantung dan saling berhubungan.

Berkaitan dengan elemen identifikasi dan penilaian bahaya

dimana hasil dari identifikasi bahaya-bahaya dengan program yang

ditetapkan oleh perusahaan melalui program pengamatan yang kemudian

harus dilaporkan. Setiap proyek harus mengimplementasikan sistem


19

pelaporan dan pencatatan dengan menggunakan beberapa form dan

format yang telah dibentuk oleh perusahaan (OSHA, 2013).

Sistem penyimpanan catatan dan proses pelaporan menyediakan

data dan informasi yang diperlukan untuk mengukur peningkatan dan

keefektifan program K3L. Bentuk pelaporan yang mencakup diantaranya

adalah :

1) Laporan bulanan (K3L)

2) Laporan inspeksi

3) Pemberitahuan berkala (K3L)

4) Laporan tindakan (K3L) berkala

5) Pelaporan kejadian bahaya yang terjadi (near miss)

6) Laporan kecelakaan awal

7) Laporan investigasi kecelakaan

8) Laporan pertolongan pertama/medis

9) Laporan mengenai kerusakan/kerugian

10) Laporan pelanggaran

Pada dasarnya bentuk upaya perusahaan dalam melakukan

pengelolaan terhadap keselamatan kerja adalah dengan membuat

program keselamatan kerja. Sejalan dengan hal tersebut, program

observasi atau pengamatan memiliki tujuan untuk mencegah dan

mengurangi kecelakaan serta mengenali near miss, perilaku dan kondisi

berisiko ditempat kerja.

Program K3 memiliki pencapaian terhadap targetnya. Outcome

dari implementasi program K3 adalah dapat menurunkan angka


20

kecelakaan atau kejadian, nearmiss dan kerusakan properti,

meningkatkan perilaku keselamatan, memperbaiki sistem, melihat

efisiensi dari sistem keselamatan dalam mengidentifikasi unsafe

condition, unsafe act, dan kesalahan sistem manajemen, meningkatkan

pelaporan, meningkatkan kemampuan seseorang dalam berperilaku

aman (Byrd, 2007).

C. Perilaku dan Kondisi Tempat Kerja

Perilaku dapat diartikan sebagai cara seseorang memperlakukan

dirinya, sikap yang dimiliki individu dan tindakan yang dapat diamati

oleh seseorang. Perilaku manusia dipengaruhi oleh sikap, kepribadian,

motivasi dan memori serta karakteristik fisik dan mental yang

membentuk seseorang serta lingkungannya (Stranks, 2007). Menurut

Stranks, setiap orang berperilaku dengan cara yang berbeda dalam

berbagai situasi. Lebih jelasnya setiap individu memiliki cara dan pola

perilaku sendiri berdasarkan situasi tertentu.

Aspek-aspek dari perilaku yang berkaitan dengan berbagai faktor

psikologis berkontribusi terhadap cara orang berperilaku dan didalamnya

terdapat elemen-elemen seperti sikap, motivasi, ingatan, memori,

kepribadian seseorang dan persepsi. Terdapat faktor-faktor lain yang

juga berpengaruh seperti pola asuh, pengalaman di masa lalu,

lingkungan, tingkat pengetahuan dan pemahaman serta emosi terhadap

cara seseorang berperilaku (Stranks, 2007).


21

Berdasarkan teori Lawrence Green, Green (1980) menyatakan

bahwa terdapat tiga faktor yang membentuk perilaku seseorang

diantaranya yairu predisposing factors (faktor pendorong), enabling

factors (faktor pemungkin) dan reinforcing factors (faktor penguat).

Dimana faktor predisposisi merupakan faktor yang mempermudah

terjadinya perilaku, misalnya pengetahuan, persepsi, sikap dsb. Faktor

pemungkin adalah faktor-faktor yang memfasilitasi perilaku seseorang

yang ditandai dengan tersedianya sarana dan prasarana. Sedangkan

faktor penguat adalah faktor-faktor yang mendukung terjadinya perilaku

pekerja, terwujud dalam sebuah pengawasan (Green and Kreuter, 2005).

1. Perilaku Aman

Perilaku aman adalah tindakan yang tidak menyebabkan

terjadinya kecelakaan atau insiden (near miss). Seperti yang kita

ketahui bahwa berperilaku aman tidak akan menyebabkan

terjadinya kerugian. Dibawah ini terdapat jenis-jenis perilaku

aman berdasarkan Teori Loss Causation Model yaitu (Bird and

Germain, 1990) :

a. Melakukan pekerjaan sesuai dengan wewenang yang

diberikan

b. Berhasil memberikan peringatan terhadap adanya bahaya

c. Berhasil mengamankan area kerja dan orang-orang

disekitarnya

d. Bekerja sesuai dengan kecepatan yang telah ditentukan

e. Menjaga alat pengaman agar tetap berfungsi


22

f. Tidak menghilangkan alat pengaman keselamatan

g. Menggunakan peralatan yang seharusnya

h. Menggunakan peralatan yang sesuai

i. Menggunakan APD dengan benar

j. Pengisian alat atau mesin yang sesuai dengan aturan yang

berlaku

k. Penempatan material atau alat-alat sesuai dengan

tempatnya dan caranya

l. Mengangkat dengan benar

m. Memperbaiki peralatan dalam kondisi alat yang telah

dimatikan

n. Tidak bersenda gurau atau bercanda ketika bekerja

2. Perilaku Tidak Aman

Meskipun sulit untuk mengontrol perilaku, hampir 80%

hingga 95% dari semua kecelakaan pencetusnya adalah perilaku

tidak aman. Perilaku tidak aman adalah tindakan yang dapat

menyebabkan terjadinya kecelakaan atau insiden (near miss).

Konsekuensinya dapat membuat perusahaan mengeluarkan biaya

yang besar jika hal tersebut terjadi (Cooper, 2001). Perilaku tidak

aman menurut Bird dan Germain (1990) antara lain mencakup :

a. Bekerja atau mengoperasikan peralatan tanpa

kewenangan

b. Gagal dalam memperingatkan

c. Gagal dalam mengamankan


23

d. Beroperasi dengan kecepatan yang salah atau tidak tepat

e. Membuat alat pengaman tidak berfungsi

f. Menggunakan peralatan yang tidak dapat digunakan atau

cacat

g. Menggunakan APD secara tidak benar

h. Mengangkat dengan tidak tepat

i. Salah menempatkan

j. Mengangkut dengan tidak tepat

k. Posisi yang salah dalam bekerja

l. Bersenda gurau

m. Dibawah pengaruh obat-obatan atau alkohol

3. Kondisi Tempat Kerja

Unsafe Condition merupakan suatu kondisi tidak aman

atau berbahaya yang dapat menimbulkan accident atau nearmiss

sedangkan pengertian kondisi yang aman adalah sebaliknya.

Unsafe Condition (kondisi tidak aman) adalah desain kondisi

tempat kerja yang buruk dimana terdapat bahaya mekanik dan

fisik (Rausand dkk., 2011).

Menurut Bird dan Germain (1990), kategori kondisi tidak

aman diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Barrier atau pengaman yang tidak memadai

b. Alat Pelindung Diri (APD) yang tidak memadai atau

tidak layak

c. Peralatan atau material yang cacat


24

d. Proses yang tersendat

e. Sistem peringatan yang tidak memadai

f. Terdapat bahaya api dan ledakan

g. Housekeeping atau tata ruang yang buruk, tempat kerja

yang berantakan

h. Kondisi lingkungan yang berbahaya (terdapat debu, gas,

asap, uap)

i. Paparan kebisingan

j. Paparan radiasi

k. Paparan suhu tinggi atau rendah

l. Pencahayaan yang kurang atau lebih

m. Ventilasi yang tidak memadai

D. Near miss

Near miss merupakan kejadian yang dapat mengakibatkan

berbagai bentuk kerugian karena adanya aliran atau perubahan energi

dari sumber yang melebihi atau kurang dari ambang batas normal yang

aman. Near miss juga dikenal dengan sebutan incident, close calls,

warnings, near collision atau near hit (McKinnon, 2012).

McKinnon (2012) di dalam bukunya mendefinisikan Near miss

yaitu sebagai berikut :

a) Sebuah kejadian yang tidak diinginkan dalam keadaan yang

sedikit berbeda, dapat mengakibatkan kerugian bagi manusia,

atau kerusakan properti atau gangguan bisnis atau kombinasi.

b) Kecelakaan tanpa cidera atau kerusakan.


25

c) Sebuah peristiwa yang hampir menyebabkan cidera atau

kerusakan.

Sedangkan menurut National Safety Council (2013), Near miss

adalah kejadian yang tidak direncanakan, tidak mengakibatkan cidera,

sakit atau kerusakan tetapi memiliki potensi untuk mengakibatkan hal-

hal tersebut.

E. Accident (Kecelakaan)

Semua kecelakaan dapat dicegah merupakan prinsip dasar ilmu

K3. Karena semua kecelakaan ada penyebabnya maka penyebab tersebut

dapat dihilangkan sehingga kecelakaan tidak terjadi. Tujuan utama

penerapan sistem manajemen K3 adalah untuk mengurangi atau

mencegah kecelakaan yang mengakibatkan cidera atau kerugian materi.

Kecelakaan kerja merupakan kejadian yang dapat menimbulkan

berbagai kerugian. Kecelakaan dapat diklasifikasikan dalam beragam

konteks dan juga dapat dikaitkan dengan berbagai kejadian (Rausand

dkk., 2011). Terdapat beberapa model atau teori-teori yang berkaitan

dengan kecelakaan kerja, antara lain :

1. Teori kecelakaan kerja

a. Teori Domino Heinrich

Teori yang dikemukakan oleh Heinrich (1980) ini

merupakan salah satu teori pertama yang menjelaskan terjadinya

kecelakaan yang mengidentifikasi lima faktor penyebab dan

kejadian-kejadian yang berhubungan dengan terjadinya

kecelakaan, diantaranya adalah (Rausand dkk., 2011) :


26

1) Social Environmental and Ancestry, yakni dengan

pengaruh lingkungan, bagaimana seseorang sebelumnya

dididik berdasarkan pendidikan yang diberikan dan sifat

yang dimiliki karena faktor keturunan dapat

menyebabkan seorang pekerja banyak melakukan

kesalahan dalam bekerja.

2) Fault of person or carelessness, yakni terbentuk dari

rangkaian faktor sebelumnya yaitu keturunan dan

lingkungan sosial yang mengarah kepada suatu tindakan

yang salah dalam melakukan pekerjaan.

3) Unsafe act or Unsafe Condition. Unsafe act merupakan

suatu tindakan yang berbahaya atau tidak aman yang

dilakukan seseorang. Sedangkan Unsafe Condition

merupakan desain kondisi tempat kerja yang buruk atau

terdapat bahaya mekanik dan fisik memudahkan

terjadinya faktor ini.

4) Accident, merupakan peristiwa yang disebabkan karena

faktor Unsafe Act or Unsafe Condition di tempat kerja.

Hal tersebut pada umumnya disertai dengan kerugian.

5) Injury merupakan cidera ringan atau berat, kecacatan dan

bahkan kematian yang diperoleh rangkaian sebelumnya

yaitu kecelakaan.

Kelima faktor diatas tersusun dengan teratur layaknya

sebuah kartu domino. Jika salah satu kartu terjatuh, maka kartu
27

tersebut akan menimpa kartu lain. Ilustrasi ini mirip dengan efek

domino yang kita kenal, jika satu bangunan roboh kejadian ini

akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya

bangunan lain. Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah

kecelakaan adalah dengan menghilangkan faktor ketiga yaitu

tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman dari kelima faktor

yang ada agar tidak mengakibatkan sebuah kecelakaan.

b. Teori Loss Causation Model

Model ini berisi tentang petunjuk yang memudahkan

penggunanya dalam memahami bagaimana menemukan faktor

penting dalam rangka mengendalikan kecelakaan dan kerugian

agar tidak meluas termasuk persoalan manajemen. Bird dan

Germain (1990) menjelaskan bahwa suatu kerugian (loss)

disebabkan oleh serangkaian faktor-faktor yang terdiri dari :

1) Lack of Management Control (kurangnya kendali

manajemen). Pengendalian merupakan salah satu faktor

penting di dalam mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Penyebab dari lack of management control yaitu berupa

Inadequate programme, dikarenakan program yang tidak

menunjang yang berhubungan dengan ruang lingkup

perusahaan. Lalu Inadequate programme standards,

dikarenakan tidak spesifiknya standar, standar tidak jelas

atau standar yang ada tidak sesuai. Selain itu juga

Inadequate compliance-with standards yaitu kurangnya


28

pemenuhan terhadap standar, hal ini merupakan penyebab

yang sering terjadi.

2) Basic Causes (Penyebab Dasar). Pada teori ini penyebab

dasar terbagi atas Personal Factors (faktor personal) dan

Job Factors (faktor pekerjaan) yang dimiliki seseorang.

3) Immediate Causes (Penyebab Langsung), biasanya dapat

dilihat atau dirasakan. Penyebab langsung terbagi atas

substandars acts and conditions. Pada umumnya

dikatakan sebagai perilaku seseorang dan kondisi yang

ada ditempat kerja. Faktor ini merupakan faktor yang

menjadi penyebab terjadinya insiden bila terjadi.

4) Incident, yaitu peristiwa kontak dengan energi atau

substansi tertentu yang dapat membahayakan atau

mengakibatkan kerusakan.

5) Loss (Kerugian), kerugian dapat berupa kerusakan pada

properti, kerusakan lingkungan, menurunnya kualitas,

cacat atau bahkan kematian seseorang.

Gambar 2.1
Teori Loss Causation Model (Bird and Germain, 1990)
29

Berdasarkan teori-teori yang dijelaskan sebelumnya,

mencegah terjadinya kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan

fokus dalam mengurangi unsafe act dan unsafe condition serta

mengidentifikasi near miss (Suryatno dkk., 2015).

F. Accident or Near Miss Incident Ratio

Para profesional safety mendeskripsikan accident ratio dengan

gambar segitiga keselamatan (safety triangle) atau iceberg theory. Di

dalam accident/near miss incident ratio, high risk unsafe condition atau

unsafe act atau kombinasi dari keduanya yang dapat menyebabkan

terjadinya kerugian (McKinnon, 2012).

Menurut Bird dan Germain (1990), studinya mendeskripsikan

bahwa dalam membantu seseorang untuk memahami mengapa sebuah

kecelakaan menimbulkan kerusakan properti yaitu seharusnya dengan

diberikan perhatian yang khusus. Beberapa studi mengatakan, mengingat

bahwa setiap kecelakaan kerja yang dilaporkan, setiap cidera yang

tercatat atau kerugian yang terjadi terdapat banyak kejadian near miss

yang tidak tercatat (McKinnon, 2012).

Pada setiap cidera serius dari kecelakaan kerja terdapat beberapa

cidera ringan, banyaknya kejadian kerusakan properti dan banyaknya

kejadian near miss dengan rasio 1:10:30:600. Terdapat sebanyak 600

near miss di permukaan, 30 kerusakan properti dan 10 cidera ringan

untuk setiap satu cidera serius, lihat bagan 2.1 (Bird and Germain, 1990).
30

Serious or Major Injury


1
Accident
Minor Injury
10

Property Damage
30

Without Injury or Property Near Miss


600
Damage

Bagan 2.1 Accident/Near Miss Ratio Study

Bird and Germain (1990) menyatakan bahwa You can’t be

accident free until you are near miss incident free – Kamu tidak dapat

terbebas dari kecelakaan sampai kamu terbebas dari kejadian near miss.

Karena pada kenyataannya, kecelakaan kerja dan near miss yang

dilaporkan bukanlah jumlah kejadian yang terjadi sebenarnya.

G. Definisi Sistem, Pendekatan Sistem dan Pelaporan

1. Sistem

Sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan dari unsur,

komponen atau variabel-variabel yang terorganisasi, terpadu,

saling berinteraksi dan bergantung satu sama lain. Sebuah sistem

dibuat untuk menangani suatu yang berulang kali atau secara

rutin terjadi. Suatu sistem dapat dirumuskan sebagai kumpulan

komponen atau subsistem yang dirancang dalam mencapai suatu

tujuan (Kelly, 2007).

Keberhasilan komponen-komponen yang dipertimbangkan

secara bersama sebagai suatu sistem mungkin jauh lebih besar

daripada komponen-komponen yang dipertimbangkan secara


31

terpisah. Tujuan sistem merupakan tujuan yang dibuat dari sistem

tersebut yang dapat berupa tujuan organisasi, kebutuhan

organisasi, permasalahan yang ada dalam suatu organisasi

maupun urutan prosedur untuk mencapai tujuan organisasi

(Kelly, 2007).

2. Pendekatan Sistem

Pencapaian sebuah manajemen dapat terlihat melalui

pendekatan sistem, bagaimana elemen-elemen didalamnya

terhubung dengan organisasi perusahaannya. Sistem yang paling

mendasar dikategorikan dengan tiga elemen, yaitu input

(masukan), process (proses) dan output (keluaran). Dimana

ketiga elemen ini digambarkan melalui diagram sederhana

sebagai berikut (Kelly, 2007) :

Input(s) Process Output(s)

Bagan 2.2 Diagram Alir Sederhana Elemen Sistem (Kelly, 2007)

Berikut adalah definisi dari komponen dan elemen-

elemen sistem (Kelly, 2007) :

a. Input

Input yaitu sumber daya yang diperlukan untuk pelaksanaan

suatu kegiatan yang bertujuan untuk mencapai tujuan sistem.

b. Proses

Proses merupakan elemen dari sistem yang bekerja

membentuk suatu aliran kegiatan dan cara kegiatan yang

dikoordinasikan dan saling terkait. Misalnya sistem produksi


32

akan mengolah bahan baku yang berupa bahan mentah

menjadi bahan jadi yang siap untuk digunakan.

c. Output

Output yaitu hasil dari input yang telah diproses oleh bagian

pengolah dan merupakan tujuan akhir sistem, output

merupakan barang dan jasa yang dihasilkan. Outcome yang

diperoleh berkaitan dengan output yang dihasilkan untuk

perkembangan dari waktu ke waktu secara berkelanjutan.

d. Umpan Balik (Feedback)

Umpan Balik merupakan elemen dalam sistem yang bertugas

mengevaluasi bagian dari output yang dikeluarkan, dimana

elemen ini sangat penting demi kemajuan sebuah sistem.

Umpan balik dapat diperoleh pada setiap tahap pelaksanaan

program yang dapat berupa perbaikan sistem, pemeliharaan

sistem, dan sebagainya.

Efektivitas dari suatu sistem harus merefleksikan

keseluruhan siklus input-proses-output. Dalam organisasi

pelayanan kesehatan, contoh input adalah pasien, petugas

kesehatan, perlengkapan, peralatan, fasilitas, dan modal. Contoh

proses adalah proses diagnosa, perawatan klinis, operasional

kegiatan, dan fungsi manajemen bisnis. Contoh output adalah

status kesehatan pasien dan kinerja bisnis organisasi. Pengelolaan

elemen dari sistem merupakan upaya yang dilakukan. Sebagai

contoh hal diatas, cara untuk mengontrol kualitas petugas


33

kesehatan (input) mencakup persyaratan lisensi, pendidikan

berkelanjutan, dan penilaian kinerja. Sedangkan untuk

mengontrol kualitas teknologi (input) seperti terapi obat termasuk

uji klinis dan administrasi oleh lembaga kesehatan. Cara untuk

mengontrol kualitas proses mencakup pedoman klinis dan

perbaikan proses. Mengontrol kualitas input dan proses ini

dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas output, seperti status

klinis pasien, kepuasan layanan, efektivitas biaya, perilaku

petugas kesehatan, dan budaya organisasi (Kelly, 2007).

Input(s) Processes Output(s)

Feedback

Bagan 2.3 Diagram Alir Elemen Sistem dengan Feedback (Kelly, 2007)

Berdasarkan bagan diatas (bagan 2.3), menambahkan

umpan balik sebagai upaya meningkatkan kualitas perubahan

sistem dasar untuk lebih dinamis. Tujuan, batasan dan kontrol

sistem akan berpengaruh pada input, proses dan output. Input

yang masuk dalam sistem akan diproses dan diolah sehingga

menghasilkan output. Output tersebut akan di analisa dan akan

menjadi umpan balik bagi si penerima dan dari umpan balik ini

akan muncul segala macam pertimbangan untuk input

selanjutnya, dan siklus ini akan berlanjut dan berkembang sesuai

dengan permasalahan yang ada. Dari Output yang dihasilkan

memberikan umpan balik sebagai upaya untuk meningkatkan


34

kualitas input dan proses. Umpan balik terus menerus melakukan

perbaikan secara berkelanjutan (Kelly, 2007).

Manajemen memiliki beberapa unsur atau sarana di

dalamnya yang dikenal dengan istilah 5M yaitu Man, Money,

Machine, Method dan Material. Kelima unsur-unsur tersebut

adalah sebagai berikut (Purnastuti and Mustikawati, 2007) :

a. Manusia (Man)

Manajemen melibatkan sumber daya manusia. Peran sumber

daya manusia sangat penting dalam upaya mencapai tujuan

organisasi. Sumber daya manusia mencakup keseluruhan

manusia yang ada di dalam organisasi perusahaan yaitu

mereka yang secara keseluruhan terlibat dalam operasional

perusahaan.

b. Uang (Money)

Input yang digunakan untuk diproses menjadi barang atau

jasa pada organisasi meliputi bahan baku, bahan pembantu,

tenaga kerja atau sumber daya manusia, dana atau modal,

sistem atau metode serta kewirausahaan. Uang atau dana

merupakan bagian dari input dalam proses menghasilkan

barang atau jasa.

c. Mesin (Machine)

Mesin merupakan salah satu alat bantu yang sangat vital

yang dibutuhkan dalam berbagai aktivitas produksi.


35

d. Metode (Method)

Metode merupakan salah satu unsur manajemen yang

berperan penting dalam kelangsungan organisasi. Unsur

yang satu ini berkaitan dengan metode apa yang akan

diterapkan guna menjalankan organisasi agar dapat berjalan

dengan efektif dan efisien.

e. Material

Material merupakan unsur manajemen yang perlu dikelola

dengan benar agar dapat berjalan secara efisien.

3. Pelaporan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015) kata

melaporkan berarti memberitahukan, laporan adalah segala

sesuatu yang dilaporkan; berita. Laporan berkala merupakan

laporan rutin yang diberikan secara berkala. Sedangkan

pelaporan adalah proses, cara, perrbuatan melaporkan. Maka

pelaporan merupakan proses atau cara memberitahukan untuk

memperoleh laporan.

H. Definisi Near Miss Incident Reporting (NEMIR) System

Kegiatan keselamatan banyak yang bersifat reaktif dan tidak

proaktif, beberapa organisasi menunggu kerugian terjadi sebelum

mengambil langkah-langkah pencegahan. Kejadian near miss sering

menjadi pemicu untuk menimbulkan kerugian namun seringkali pula

diabaikan karena tidak terdapat cidera ataupun kerusakan yang terjadi.

Padahal sebagian besar kerugian serius berulangkali terjadi didahului


36

oleh kejadian near miss (NSC, 2013). Mengenali dan melaporkan near

miss dapat meningkatkan keselamatan pekerja dan meningkatkan budaya

keselamatan organisasi (NSC, 2013).

Melaporkan semua kejadian yang tidak diinginkan seperti near

miss merupakan aspek yang paling penting dari setiap program

keselamatan. Semakin banyak near miss yang dilaporkan maka semakin

banyak kesempatan untuk menyelidiki, mengidentifikasi dan

memperbaiki akar penyebab sebelum kerugian serius terjadi.

Berdasarkan perspektif safety management, tujuan spesifik di dalam

mengumpulkan dan menganalisis data near miss yaitu untuk

mengidentifikasi faktor kemungkinan atau elemen sistem yang dapat

menimbulkan kejadian near miss maupun sebagai prekursor kecelakaan

kerja di masa mendatang (McKinnon, 2012).

Metode di dalam mengumpulkan data near miss yaitu dengan

reporting-based methods dan observation-based methods. Reporting-

based methods merupakan metode yang melibatkan pegawai untuk

melaporkan kejadian near miss sebagai bagian dari pekerjaannya dalam

mencegah terjadinya kecelakaan di masa mendatang atau untuk melatih

dirinya (McKinnon, 2012).

Sedangkan observation-based methods merupakan metode yang

melibatkan pegawai yang tidak hanya melaporkan namun melakukan

pengamatan terlebih dahulu untuk menyadari dan memahami tindakan

dan kondisi apa saja yang ada dalam mengurangi kecelakaan di tempat

kerja (McKinnon, 2012).


37

Informasi tentang sistem pelaporan near miss harus dibuat dan

diketahui oleh setiap orang. Sistem komunikasi internal dapat dilakukan

sesuai dengan metode yang diterapkan perusahaan. Selain itu, tersedia

form untuk melakukan pelaporan sehingga feedback dari sistem yang

diimplementasikan berjalan dengan baik (McKinnon, 2012).

Form pelaporan dan pencatatan sebaiknya sederhana atau simple,

mudah dibawa dan selalu tersedia. Lembar pelaporan dalam jumlah yang

banyak akan menyulitkan pelapor dalam mengisi form. Selain itu,

perusahaan perlu memberikan edukasi atau training kepada pekerjanya

yang terlibat dalam pelaporan near miss. Berikut ini adalah contoh form

pelaporan near miss pada gambar 2.2 (McKinnon, 2012) :

Gambar 2.2 Near Miss Reporting Form (McKinnon, 2012)


38

Terdapat kesempatan nyata untuk meningkatkan

keselamatan dengan fokus terhadap critical level kejadian near

miss. Baik manajer maupun pekerja di perusahaan perlu untuk

mengembangkan sistem yang komprehensif yang mampu untuk

dapat mendokumentasikan, menganalisis dan memperbaiki

kejadian near miss agar dapat mencegah kecelakaan kerja

dikemudian hari (McKinnon, 2012).

Di dalam mengimplementasikan sistem pelaporan near

miss terdapat beberapa hal sebagai berikut (McKinnon, 2012) :

1) Kebijakan (Policy) merupakan pernyataan resmi organisasi

atau perusahaan yang merefleksikan tekad dan komitmen

yang dijadikan sebagai landasan utama dan acuan organisasi

dalam rangka pencapaian visi dan misi organisasi. Kebijakan

yang dibuat berisi tentang bagaimana komitmen perusahaan

yang berkaitan untuk melakukan pelaporan.

2) Standar (Standard), terdapat dokumen-dokumen yang

mengacu pada standar sistem pelaporan near miss, dimana

mendeskripsikan tentang komitmen perusahaan untuk

melaporkan dan melakukan investigasi serta tanggung jawab

apa saja yang ada. Di dalam menentukan standar terdapat

beberapa penjelasan sebagai berikut :

a. Objektif (Objective) adalah menjelaskan metodologi

untuk melaporkan dan menginvestigasi non injury

(loss-producing) accident dan near misses, sehingga


39

penyebab langsung dan penyebab dasar dari kejadian

teridentifikasi serta merekomendasikan pencegahan.

b. Referensi (References) dapat berupa kebijakan

organisasi, mengacu pada local safety legislation

(peraturan perundangan tentang keselamatan) dan

referensi terkait elemen-elemen safety program yang

ada.

c. Definisi (Definitions), mendefinisikan atau

menjelaskan istilah-istilah yang terdapat di dalam

standar agar mudah dipahami.

d. Peran dan tanggung jawab, setiap pegawai yang

diberikan tanggung jawab atau terlibat di dalam

pelaporan seharusnya segera memberitahukan

supervisor dan menyiapkan temuan bukti atau

dokumentasi di lapangan.

e. Isi dan alur prosedur yang berupa urutan langkah

pelaksanaan aktivitas.

3) Amnesti (Amnesty), jika manajemen menginginkan sistem

pelaporan dapat berjalan dan berkontribusi dengan baik

maka mekanisme pelaporan sebaiknya diberlakukan

punishment apabila tidak melaporkan kejadian near miss dan

begitu pula sebaliknya akan diberikan reward bila kejadian

near miss dilaporkan dengan baik.


40

4) Kredibilitas (Credibility), perusahaan membangun dan

mengkomunikasikan dengan jelas tujuan dari program K3

dengan meningkatkan keterlibatan top management didalam

implementasi program. Sistem yang kredibel dan diterima

oleh semua pegawai atau pekerja harus mendapatkan

dukungan dari pemimpin perusahaan, dimana terdapat

partisipasi dari manajemen untuk memperbaiki proses.

Sehingga terdapat feedback dan follow up action dalam

laporan bahaya yang ditemukan.

I. Kerangka Teori

Setiap perusahaan memiliki kebijakan K3 yang mendukung

setiap pelaksanaan kegiatan kerjanya. Tenaga kerja merupakan aset

perusahaan yang harus diberikan perlindungan terhadap aspek K3

mengingat ancaman bahaya potensial yang berhubungan dengan

pekerjaan. Upaya perusahaan dalam melakukan manajemen terhadap

keselamatan kerja salah satunya dengan menerapkan program K3.

Tujuan dari program K3 adalah mengurangi cidera, penyakit dan

kematian akibat pekerjaan.

Elemen-elemen yang terdapat didalam program yang efektif

adalah kepemimpinan manajemen, partisipasi pekerja, identifikasi dan

penilaian bahaya, pencegahan dan pengendalian bahaya, pendidikan dan

pelatihan, serta program evaluasi dan peningkatan (OSHA, 2013).

Melaporkan semua kejadian yang tidak diinginkan seperti unsafe act,

unsafe condition dan near miss merupakan aspek yang paling penting
41

dari setiap program keselamatan. Semakin banyak kejadian yang

dilaporkan maka semakin banyak kesempatan untuk menyelidiki,

mengidentifikasi dan memperbaiki akar penyebab sebelum kerugian

serius terjadi (McKinnon, 2012).

Berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan berupa

gambaran sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di

perusahaan maka peneliti menggunakan pendekatan sistem dan NEMIR

System. Near Miss Incident Reporting (NEMIR) System merupakan

bagian dari program K3 untuk mencegah terjadinya kerugian yang besar

atau terjadinya accident. Di dalam mengimplementasikannya diperlukan

beberapa hal berikut yaitu kebijakan, standar, amnesti dan kredibilitas

(McKinnon, 2012). Sedangkan pendekatan sistem merupakan suatu

filsafat atau persepsi tentang struktur yang mengkoordinasikan kegiatan-

kegiatan dalam suatu organisasi dengan cara yang efisien dan yang

paling baik (Kelly, 2007).

Pencapaian sebuah manajemen dapat terlihat melalui pendekatan

sistem, bagaimana elemen-elemen didalamnya terhubung dengan

organisasi perusahaannya. Sistem yang paling mendasar dikategorikan

dengan tiga elemen yaitu input (masukan), process (proses) dan output

(keluaran) dimana ketiga elemen ini digambarkan melalui diagram

sederhana (Bagan 2.4). Pada tahap awal peneliti menentukan komponen-

komponen tahap input, selanjutnya terdapat tahap proses dan

memperoleh output yang berupa laporan. Berikut ini adalah bagan

kerangka teori penilitian (Kelly, 2007) :


42

Input Proses
1) Material (Kebijakan K3, Standar, Output
Form Pelaporan Near Miss, Unsafe
Act dan Unsafe Condition) 1) Pelaksanaan Pelaporan Laporan Near Miss,
2) Sumber Daya Manusia/Man (Pekerja 2) Pemantauan Pelaksanaan Unsafe Act dan
Proyek, Pihak Manajemen 3) Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan Unsafe Condition
diantaranya Manajer dan Staff Divisi
SHE TWJO)
3) Metode (Metode Pelaporan)

Bagan 2.4 Kerangka Teori

(Kelly, 2007, McKinnon, 2012)


BAB III

KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH

A. Kerangka Berpikir

Perlindungan terhadap tenaga kerja berdasarkan aspek K3 harus

dilakukan mengingat bahwa terdapat ancaman bahaya potensial yang

berhubungan dengan pekerjaan. Upaya perusahaan dalam melakukan

manajemen terhadap keselamatan kerja salah satunya dengan

menerapkan program K3. Dimana tujuan dari program K3 adalah

mengurangi cidera, penyakit dan kematian akibat pekerjaan.

Di dalam program keselamatan salah satu aspek yang paling

penting adalah melaporkan semua kejadian yang tidak diinginkan seperti

unsafe act, unsafe condition dan near miss. Semakin banyak kejadian

yang dilaporkan maka semakin banyak kesempatan untuk

mengidentifikasi, menyelidiki dan memperbaiki akar penyebab sebelum

kerugian serius terjadi.

Sehubungan dengan penelitian yang akan dilakukan mengenai

bagaimana gambaran sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition yang terdapat di perusahaan untuk menghindari kecelakaan

kerja (accident) yang terjadi dapat terulang di perusahaan yaitu peneliti

menggunakan NEMIR System dan pendekatan sistem. NEMIR System

merupakan bagian dari program K3 untuk mencegah terjadinya kerugian

yang besar atau accident. Di dalam mengimplementasikannya diperlukan

43
44

beberapa hal berikut yaitu kebijakan, standar, amnesti dan kredibitas dan

sistem yang paling mendasar dikategorikan dengan tiga elemen, yaitu

input (masukan), process (proses) dan output (keluaran)

Pada tahap awal peneliti menentukan komponen-komponen input

berupa sumber daya apa saja yang diperlukan dalam penelitian

diantaranya yaitu material, SDM dan metode. Material yang digunakan

dalam pelaporan adalah kebijakan K3, standar dan form pelaporan.

Metode yang digunakan perusahaan dapat berupa reporting-based methods

dan observation-based methods. Sedangkan SDM yaitu pekerja dan pihak

manajemen, baik manajer maupun pekerja di perusahaan perlu untuk

terlibat di dalam mengembangkan sistem yang komprehensif yang

mampu untuk dapat mendokumentasikan, menganalisis dan

memperbaiki kejadian near miss.

Selanjutnya terdapat tahapan proses berupa pelaksanaan,

pemantauan dan evaluasi dari pelaporan. Dalam tahapan proses untuk

mengimplementasikan sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition terdapat beberapa hal sebagai berikut :

1) Kebijakan (Policy) yang dibuat berisi tentang bagaimana komitmen

perusahaan yang berkaitan untuk melakukan pelaporan.

2) Standar (Standard), terdapat dokumen-dokumen yang mengacu

pada standar sistem pelaporan near miss, dimana mendeskripsikan

tentang komitmen perusahaan untuk melaporkan dan melakukan

investigasi serta tanggung jawab apa saja yang ada. Di dalam

menentukan standar terdapat beberapa penjelasan sebagai berikut :


45

a. Objektif (Objective) adalah menjelaskan metodologi untuk

melaporkan dan menginvestigasi non injury (loss-producing)

accident dan near misses, sehingga penyebab langsung dan

penyebab dasar dari kejadian teridentifikasi serta

merekomendasikan pencegahan.

b. Referensi (References) dapat berupa kebijakan organisasi,

mengacu pada local safety legislation (peraturan perundangan

tentang keselamatan) dan referensi terkait elemen-elemen

safety program yang ada.

c. Definisi (Definitions), mendefinisikan atau menjelaskan istilah-

istilah yang terdapat di dalam standar agar mudah dipahami.

d. Peran dan tanggung jawab, setiap pegawai yang diberikan

tanggung jawab atau terlibat di dalam pelaporan seharusnya

segera memberitahukan supervisor dan menyiapkan temuan

bukti atau dokumentasi di lapangan.

e. Isi dan alur prosedur yang berupa urutan langkah pelaksanaan

aktivitas.

3) Amnesti (Amnesty), jika manajemen menginginkan sistem

pelaporan dapat berjalan dan berkontribusi dengan baik maka

mekanisme pelaporan sebaiknya diberlakukan punishment apabila

tidak melaporkan kejadian near miss dan begitu pula sebaliknya

akan diberikan reward bila kejadian near miss dilaporkan dengan

baik.
46

4) Kredibilitas (Credibility), perusahaan membangun dan

mengkomunikasikan dengan jelas tujuan dari program K3 dengan

meningkatkan keterlibatan top management didalam implementasi

program. Sistem yang kredibel dan diterima oleh semua pegawai

atau pekerja harus mendapatkan dukungan dari pemimpin

perusahaan, dimana terdapat partisipasi dari manajemen untuk

memperbaiki proses. Sehingga terdapat feedback dan follow up

action dalam laporan bahaya yang ditemukan.

Setelah tahapan proses kemudian peneliti akan memperoleh

output yang berupa laporan near miss, unsafe act dan unsafe condition.

Berikut ini adalah bagan kerangka berpikir penelitian (Bagan 3.1) :


47

Input Proses

1) Material (Form Pelaporan Near


Miss, Unsafe Act dan Unsafe Output
Condition, Kebijakan K3, Standar) 1) Pelaksanaan Pelaporan
2) Sumber Daya Manusia (Pekerja 2) Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan Laporan Near Miss,
Proyek, Pihak Manajemen 3) Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan Unsafe Act dan
diantaranya Manajer dan Staff Divisi Unsafe Condition
SHE TWJO)
3) Metode (Metode Pelaporan)

Bagan 3.1 Kerangka Berpikir


48

B. Definisi Istilah
Tabel 3.1

Definisi Istilah

No Substansi Definisi Metode Instrumen Hasil

Sumber daya yang diperlukan untuk pelaksanaan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mencapai tujuan sistem. Input
1. Input
dalam penelitian ini pada penelitian yaitu material, SDM dan metode
Ketersediaan material sangat
vital dalam suatu proses. Diperolehnya informasi terkait
Material terdiri dari bahan Wawancara dan telaah Pedoman wawancara dan material berupa form
a. Material
setengah jadi dan bahan jadi. dokumen dokumen perusahaan pelaporan, kebijakan K3 dan
Tanpa material tidak akan standar perusahaan
tercapai hasil yang diinginkan
Peran SDM sangat penting
dalam upaya mencapai tujuan Diperolehnya informasi terkait
organisasi. Manajemen pekerja proyek, pihak
Sumber
melibatkan sumber daya manajemen diantaranya
Daya Wawancara dan telaah Pedoman wawancara dan
b. mencakup keseluruhan manajer dan staff divisi SHE
Manusia dokumen dokumen perusahaan
manusia yang ada di dalam TWJO, tugas dan tanggung
perusahaan yaitu mereka yang jawab, jumlah sumber daya
secara keseluruhan terlibat manusia yang diperlukan
dalam operasional perusahaan
49

No Substansi Definisi Metode Instrumen Hasil

Cara untuk melaksanakan suatu Diperolehnya informasi


pekerjaan dalam rangka mencapai Pedoman wawancara terkait metode yang
Wawancara dan telaah
c. Metode tujuan yang telah ditetapkan dan dan dokumen digunakan untuk melakukan
dokumen
amat menentukan kelancaran perusahaan tahapan proses dari sistem
jalannya manajemen pelaporan
Elemen dari sistem yang bekerja membentuk suatu aliran kegiatan dan cara kegiatan yang dikoordinasikan dan saling
2. Proses
terkait. Proses pada penelitian ini yaitu pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi
Aktivitas atau usaha-usaha yang
dilaksanakan untuk melaksanakan
semua rencana yang telah
Diperolehnya informasi
ditetapkan dengan dilengkapi Pedoman wawancara,
Wawancara, observasi terkait bagaimana proses
a. Pelaksanaan kebutuhan dan alat-alat yang pedoman observasi dan
dan telaah dokumen pelaksanaan pelaporan di
diperlukan, siapa yang dokumen perusahaan
perusahaan
melaksanakannya, dimana
pelaksanaannya dan bagaimana cara
melaksanakannya
Aktivitas untuk menemukan, Wawancara, observasi Pedoman wawancara, Diperolehnya informasi
b. Pemantauan
mengoreksi penyimpangan- dan pedoman observasi, terkait bagaimana proses
50

No Substansi Definisi Metode Instrumen Hasil

penyimpangan penting dalam telaah dokumen dan dokumen perusahaan pemantauan pelaksanaan
hasil yang dicapai dari aktivitas- pelaporan di perusahaan
aktivitas yang direncanakan
Salah satu tahap penting dalam
manajemen yang berguna untuk
memberikan feed-back atas
Pedoman wawancara, Diperolehnya informasi
pelaksanaan suatu kegiatan Wawancara, observasi
c. Evaluasi pedoman observasi dan terkait evaluasi pelaksanaan
yang telah direncanakan agar dan telaah dokumen
dokumen perusahaan pelaporan di perusahaan
pelaksanaan tersebut tetap
berada pada jalur yang telah
ditetapkan
Hasil dari input yang telah diproses oleh bagian pengolah dan merupakan tujuan akhir sistem, output merupakan barang
3. Output
dan jasa yang dihasilkan. Output pada penelitian ini yaitu laporan

Diperolehnya laporan near


Segala sesuatu yang dilaporkan; Wawancara dan telaah Pedoman wawancara dan
a.. Laporan miss, unsafe act dan unsafe
berita dokumen dokumen perusahaan
condition
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan

pendekatan kualitatif. Dimana penelitian kualitatif bermaksud untuk

memahami fenomena yang dialami subjek penelitian misalnya perilaku,

persepsi, motivasi, tindakan, dll secara holistik dengan cara deskripsi

(kata-kata dan bahasa) pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan

berbagai metode alamiah. Pendekatan kualitatif ini dipilih dengan

maksud untuk memperoleh data dan menggali informasi yang

dibutuhkan oleh peneliti terkait penelitian yang dilakukan yaitu tentang

gambaran sistem pelaporan nearmiss, unsafe act dan unsafe condition

di Proyek MRT Jakarta.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Tokyu-WIKA Joint Operation

(TWJO) Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Lebak Bulus-

Fatmawati-Cipete Raya, Jakarta Selatan. Pada area konstruksi Surface

Section Contract Package CP 101 dan CP 102. Waktu pelaksanaan

penelitian di mulai dari bulan Agustus 2015 hingga Mei 2016.

C. Informan Penelitian

Informan adalah orang yang memberikan informasi tentang

situasi dan kondisi tempat penelitian (Moleong, 2007). Pemilihan

51
52

informan pada penelitian ini ditetapkan secara langsung dengan metode

purposive yang bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang melatar

belakangi dan menggali data serta informasi terkait sistem pelaporan

yang dilaksanakan oleh proyek. Pemilihan informan didasarkan pada

suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri

berdasarkan tujuan dan masalah penelitian. Selain itu dalam

menentukan jumlah informan penelitian dilakukan pembatasan hingga

peneliti menilai data yang dikumpulkan telah memenuhi syarat

kecukupan dan kesesuaian serta tidak terdapat hal baru yang dapat

dikembangkan. Berikut merupakan informan dalam penelitian :

1) Informan Utama

Informan utama pada penelitian ini merupakan seseorang yang

paling mengetahui informasi dan terlibat langsung dalam

interaksi sosial komponen objek yang diteliti di proyek MRTJ

TWJO. Informan tersebut diantaranya adalah, SHE Manager,

Deputy Safety Manager CP 101 & CP 102, SHE Engineer (Safety

and Environmental Engineer) dan Safety Officer.

2) Informan Kunci

Informan kunci pada penelitian ini merupakan seseorang

profesional yang memiliki pengetahuan secara mendalam tentang

penelitian ini namun tidak terlibat secara langsung dengan objek

penelitian. Informan kuncinya adalah Konsultan Proyek MRTJ

TWJO yaitu Jakarta Mass Rapid Transit Construction

Management Consultant (JMCMC).


53

3) Informan Pendukung

Informan pendukung pada penelitian ini merupakan seseorang

yang dapat memberikan informasi walaupun tidak terlibat secara

langsung dalam interaksi sosial komponen objek yang diteliti di

proyek MRTJ TWJO. Informan tersebut diantaranya adalah

Quality Assurance dan Risk Engineer.

Tabel 4.1 Informan Penelitian

Kategori Jumlah
No. Jabatan
Informan (Kode) Informan
SHE Manager 1
Deputy Safety Manager 2
1. Informan Utama (IU)
SHE Engineer 2
Safety Officer 3
Konsultan Proyek
2. Informan Kunci (IK) 1
MRTJ (JMCMC)
Informan Pendukung Quality Assurance 1
3.
(IP) Risk Engineer 1

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk

melakukan pengumpulan data. Instrumen di dalam melakukan

penelitian kualitatif ini adalah peneliti sendiri karena ia menjadi

segalanya dari keseluruhan proses penelitian yang dilakukan. Dalam

memperoleh dan mengumpulkan data-data terkait penelitian kualitatif

peneliti menggunakan pedoman wawancara, pedoman observasi,

pedoman telaah dokumen, alat perekam suara berupa smartphone, alat

tulis, kamera dan laptop.


54

E. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data sebagai salah satu bagian yang

penting dalam suatu penelitian. Di dalam penelitian ini, pengumpulan

data yaitu dilakukan dengan menggunakan data Primer dan data

sekunder. Kedua data tersebut kemudian dikumpulkan dengan

menggunakan beberapa teknik atau metode, sebagai berikut :

1. Data primer

Data primer diperoleh melalui kegiatan yang secara

langsung dilakukan oleh peneliti pada tempat penelitian untuk

mencari dan memperoleh data yang lengkap terkait penelitian.

Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan

beberapa metode, diantaranya yaitu dengan :

a. Wawancara

Wawancara adalah suatu metode yang digunakan

untuk mengumpulkan data, dimana peneliti memperoleh

informasi secara lisan dari seseorang yang merupakan

sasaran penelitian (informan). Wawancara ini dilakukan

secara langsung oleh peneliti yang mengacu pada pedoman

wawancara yang telah disusun terlebih dahulu sebelumnya

untuk memperoleh informasi yang sebenarnya, aktual dan

akurat.

Pedoman wawancara yang telah disusun sifatnya

tidak kaku, maksudnya bahwa pedoman tersebut dapat

dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan situasi dan


55

informasi yang diperoleh oleh peneliti saat melakukan

wawancara. Alat bantu lain yang digunakan yaitu alat

perekam suara berupa smartphone untuk merekam isi

wawancara agar tidak ada informasi yang terlewatkan.

Wawancara ini dilakukan terhadap semua

komponen yang terlibat dalam sistem pelaporan di

departemen SHE TWJO maupun diluar departemen SHE

TWJO. Wawancara mendalam (in-depth Interview) pun

akan dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih

mendalam terkait penelitian.

b. Observasi

Observasi adalah suatu kegiatan berencana yang

meliputi melihat, mendengar dan mencatat sejumlah

aktivitas atau situasi tertentu yang berhubungan dengan

masalah penelitian sebagaimana kejadian yang terjadi

sebenarnya (Hidayat, 2010). Di dalam penelitian ini,

observasi yang dilakukan yaitu dengan mengamati secara

langsung dan mencatat aktivitas pekerjaan tertentu yang

berkaitan dengan masalah yang diteliti saat berada di

proyek. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar

observasi/lembar checklist dengan bantuan alat tulis dan

kamera.
56

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui telaah dokumen. Dalam

pengumpulan data sekunder digunakan dokumen berupa data-

data yang terdapat di perusahaan yaitu berupa data terkait

program-program K3, kebijakan perusahaan khususnya kebijakan

K3, prosedur-prosedur yang berkaitan dengan sistem pelaporan

near miss, unsafe act dan unsafe condition dan laporan mengenai

kejadian near miss, unsafe act dan unsafe condition serta laporan

kecelakaan kerja yang terjadi di proyek yang diperoleh melalui

divisi SHE TWJO MRT Jakarta.

F. Validasi Data

Peneliti akan melakukan validasi terhadap data yang diperoleh

untuk menjaga keabsahan dan keakuratan data dari penelitian yang

telah dilakukan. Di dalam penelitian kualitatif, validasi data dilakukan

dengan melakukan triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan

keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain untuk keperluan

pengecekan atau sebagai pembanding data. Triangulasi yang digunakan

dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan triangulasi metode.

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber berarti membandingkan dan melakukan

pengecekan kembali informasi dan fakta yang diperoleh melalui

sumber lainnya untuk menggali hal yang sama. Misalnya,

membandingkan data hasil observasi atau pengamatan dengan data

hasil wawancara, membandingkan hasil wawancara dengan isi


57

dokumen yang berkaitan. Triangulasi sumber yang akan dilakukan

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 4.2

Matriks Triangulasi Sumber

Data
No Informan
1 2 3
1 SHE Manager   -
2 Deputy Safety Manager   -

3 SHE Engineer   

4 Safety Officer   

5 Konsultan Proyek MRTJ (JMCMC)   -

6 Quality Assurance   -

7 Risk Engineer   -

Keterangan :
1 = Input (SDM, material dan metode)
2 = Proses (Pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pelaporan)
3 = Output (Laporan)

2. Triangulasi Metode

Triangulasi metode dilakukan dengan melakukan pengecekan

pada hasil penelitian dengan beberapa metode pengumpulan data

lainnya dan pengecekan pada beberapa sumber data dengan metode

yang sama. Triangulasi metode yang akan dilakukan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :


58

Tabel 4.3

Matriks Triangulasi Metode

Metode Pengumpulan Data

No Data Telaah
Wawancara Observasi
Dokumen

Input

Material  - 
1
Sumber Daya Manusia  - 

Metode  - 

Proses

Pelaksanaan   
2
Pemantauan   

Evaluasi   

Output
3
Laporan  - 
59

Tabel 4.4

Daftar Dokumen

No. Dokumen yang Dibutuhkan Nama Dokumen

1. Kebijakan Perusahaan Kebijakan K3, Kebijakan


Lingkungan dan Kebijakan
Mutu
2. Program-program SHE
TWJO SHE Program 2016
3. Prosedur-prosedur SHE yang
Site Safety Plan
berkaitan dengan sistem pelaporan

4. Laporan unsafe act proyek HSE Monthly Report January-


April 2016
5. Laporan unsafe condition proyek HSE Monthly Report January-
April 2016
6. Laporan near miss HSE Monthly Report January-
April 2016
7. Laporan kecelakaan kerja proyek HSE Monthly Report January-
April 2016
8. Aktivitas Pekerjaan Proyek
Method Statement
9. Dokumen-dokumen lainnya Company profile, V3
Employer’s Requirement,
Reward & Punishment Policy

G. Pengolahan dan Analisa Data

Pengolahan data dilakukan dengan melakukan pencatatan,

membuat transkrip dan selanjutnya melakukan kajian isi (content

analysis) yaitu :

1) Melakukan sorting data yaitu dengan mencatat kembali dan

memilah-milah data yang diperoleh secara sistematis,

memperjelas catatan yang tidak jelas dan menuliskan kembali

kekurangannya dari seluruh informan melalui wawancara,

observasi dan telaah dokumen.


60

2) Memberikan catatan tambahan atau komentar terhadap data

untuk meningkatkan mutu data berikutnya. Komentar yang

berupa catatan substansi, metode dan analitik.

3) Menyusun transkrip verbatim dari data yang diperoleh dan

melakukan coding secara urut dan kontinyu pada garis-garis

transkrip atau catatan lapangan.

4) Kemudian membuat data narasi menjadi dan membandingkan

dengan teori yang ada atau relevan.

Analisa data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan cara

menyusun data, memilah-milah data, mensintesiskannya, menemukan

pola dan menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari

(Moleong, 2007). Analisa data terfokus pada jawaban informan utama,

kunci dan pendukung dari berbagai metode pengumpulan data yang

dilakukan saat penelitian. Kajian isi (content analysis) merupakan

suatu teknik yang digunakan dalam menarik kesimpulan melalui usaha

untuk menemukan karateristik pesan yang dilakukan secara obyektif

dan sistematis. Berikut ini adalah tahapan yang dilakukan dalam proses

analisa data :

1. Mempelajari dan menelaah seluruh data yang tersedia dari

sumber informasi, yaitu dari hasil wawancara, observasi dan

telaah dokumen. Kemudian informasi yang diperoleh dapat

dibuat perbandingannya.

2. Mereduksi data dengan membuat rangkuman sesuai dengan

data yang akan diteliti. Rangkuman diolah secara manual dan


61

disajikan dalam bentuk matriks data kualitatif untuk

memudahkan klasifikasi data yang diperlukan.

3. Membuat klasifikasi data agar data dapat terlihat dengan jelas

dan terperinci.

4. Menganalisa data secara content analysis agar dapat membuat

kesimpulan dengan cara menemukan karateristik pesan yang

dilakukan secara obyektif dan sistematis.

H. Penyajian Data

Penyajian data dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk

narasi atau uraian dengan teks sebagai upaya untuk memperoleh arti dan

makna yang lebih mendalam dan meluas terhadap hasil penelitian yang

dilakukan. Pembahasan hasil penelitian pun dilakukan dengan meninjau

hasil secara kritis dengan teori yang relevan dan informasi yang

diperoleh dari lapangan secara akurat.


BAB V

HASIL

A. Gambaran Umum Perusahaan

Tokyu Construction Co., Ltd merupakan Perusahaan Jepang yang

bergerak di bidang General Contractor seperti pembangunan

infrastruktur, transportasi dan pariwisata yang berpusat di Shibuya,

Shibuya-ku Tokyo, Japan. Sedangkan WIKA merupakan Badan Usaha

Milik Negara (BUMN) Indonesia yang bergerak di bidang Engineering,

Procurement & Construction (EPC) serta Investasi. Terdapat sejumlah

departemen didalamnya yang bergerak di berbagai bidang konstruksi.

Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) merupakan suatu bentuk

kerjasama antara dua perusahaan yaitu perusahaan Jepang (Tokyu

Construction Co., Ltd) dengan Indonesia, PT Wijaya Karya (Persero)

Tbk yaitu Departemen Sipil Umum I (DSU I) yang bergerak di bidang

konstruksi Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) tahap pertama.

Bertanggung jawab pada pelaksanaan proyek MRTJ Surface Section area

CP 101 dan CP 102.

1. Lokasi dan Rute MRT Jakarta

Rencana pembangunan MRTJ Lebak Bulus-Bundaran HI

(gambar 5.1) sepanjang 15,74 km merupakan tahap pertama dari MRT

Jakarta Lebak Bulus-Kota. Rute ini terletak dalam wilayah kota Jakarta

Selatan dan Jakarta Pusat, melalui koridor jalan yang telah ada dimulai

62
63

dari Jl. Pasar Jum’at sampai dengan Bundaran HI. Rute ini melintasi

daerah perumahan, perkantoran, perdagangan, perhotelan dan pusat

perbelanjaan.

Gambar 5.1 Lokasi dan Rute MRT Jakarta

2. Jenis Kegiatan

Jenis kegiatan MRTJ ini meliputi 3 (tiga) segmen yaitu

Pembangunan Area Depo, Pembangunan Segmen Elevated (Layang)

dan Pembangunan Segmen Underground (Bawah Tanah).

a. Pembangunan Area Depo berlokasi di Terminal Lebak Bulus

dengan areal seluas 9,44 ha.

b. Pembangunan Segmen Elevated (Layang), pembangunan jalur rel

layang dimulai dari Stasiun Lebak Bulus sampai ke Stasiun

Sisingamangaraja sepanjang 9,954 km termasuk 7 stasiun layang


64

dan jalur transisi (transition section) antara Stasiun

Sisingamangaraja dan Stasiun Senayan sepanjang 0,990 km.

c. Pembangunan Segmen Underground (Bawah Tanah),

pembangunan jalur rel bawah tanah dimulai dari jalur transisi,

Stasiun Senayan dan berakhir di Stasiun Bundaran HI sepanjang

4,796 km termasuk 6 stasiun bawah tanah.

3. Ruang Lingkup Pekerjaan

TWJO bertanggung jawab pada pekerjaan konstruksi Surface

Section area Contract Package CP 101 dan CP 102 yaitu pembangunan

area depo sampai dengan pembangunan segmen elevated (layang).

Lokasi proyek MRTJ TWJO CP 101 dan CP 102 yaitu terletak di Lebak

Bulus-Fatmawati-Cipete Raya, Jakarta Selatan. Terdapat tiga aktivitas

pekerjaan yang utama yaitu Viaduct (PC box girder, general span),

pembangunan depo (Lebak Bulus) dan tiga stasiun layang (Lebak

Bulus, Cipete dan Fatmawati). Berikut ini adalah gambar lokasi proyek

CP 101 dan CP 102 (Gambar 5.2) :


65

Gambar 5.2 Lokasi Proyek CP 101 dan CP 102

Pembangunan depo MRTJ di lokasi Lebak Bulus (CP 101)

terhubung dengan jalur utama MRTJ melalui jalur di dalam “shop” dan

memiliki tempat penyimpanan untuk 90 “Advanced Electric Rail Cars”

(= 16 set kereta). Depo ini nantinya akan berfungsi untuk inspeksi

harian, inspeksi bulanan, pemeriksaan, pemeliharaan dan pencucian

lokomotif dan kereta api yang dilengkapi dengan fungsi pemeliharaan

infrastruktur, pusat pengendalian operasi dan operator pengemudi

sebagai sistem depo sintetik dari MRTJ. Pekerjaan yang dilakukan oleh

TWJO di area depo meliputi penebangan pohon, pemasangan pagar

sepanjang batas proyek, menghancurkan dan atau merelokasi fasilitas

utilitas umum, survei tes pit.

Pembangunan Segmen Elevated (Layang) di lokasi Lebak Bulus

Jl. Pasar Jum’at-Fatmawati (CP 101 dan CP 102). Pekerjaan yang


66

dilakukan TWJO pada pembangunan jalur rel layang meliputi

penebangan pohon, pemasangan pagar sepanjang batas proyek,

menghancurkan dan atau merelokasi fasilitas utilitas umum, survei tes

pit, pekerjaan struktur viaduct yaitu bored piling for permanent

structure, pile cap and pier work permanent (pier coloumn dan pier

head) dan PC box girder erection using VG4 gantry.

Pembangunan struktur layang terutama berupa box type PC

girder dengan pier tunggal. Selama pembangunan bagian layang,

diperkirakan akan menghasilkan tanah galian (pekerjaan excavation)

untuk konstruksi pile dan pondasi untuk struktur. Berikut adalah ruang

lingkup (scope) pekerjaan divisi SHE TWJO, diantaranya yaitu :

a. Desain dan konstruksi + 6,2 km struktur viaduct.

b. Desain dan konstruksi 3 stasiun layang termasuk pekerjaan

mekanikal dan elektrikal.

c. Desain dan konstruksi 1 depot termasuk pengembangan tanah,

pekerjaan struktur dan instalasi alat-alat depot.

d. Pekerjaan sementara (temporary works) yang berhubungan

dengan konstruksi.

e. Perencanaan dan implementasi pengalihan lalu lintas yang

berhubungan dengan konstruksi.

f. Pengalihan dan dukungan terhadap utilitas selama konstruksi

berlangsung.
67

g. Desain, suplai dan instalasi semua pemeliharaan bangunan stasiun

termasuk AC, proteksi kebakaran atau api, drainase, memompa

dan membongkar pipa-pipa pekerjaan.

h. Suplai, instalasi dan mengawasi signage dan grafik alat-alat yang

digunakan.

i. Memeriksa dan mengawasi pekerjaan pemeliharaan bangunan dan

alat-alat depo.

j. Mengadakan pelatihan atau training.


68

4. Struktur Organisasi Perusahaan

PROJECT MANAGEMENT

QUALITY ASSURANCE QUALITY CONTROL SHE (SAFETY, HEALTH &


(QA) DIVISION (QC) DIVISION ENVIRONMENT) DIVISION

PROJECT CONTROL CONSTRUCTION CONSTRUCTION ENGINEERING COMMERCIAL ADMINISTRATION


DIVISION DIVISION CP 101 DIVISION CP 102 DIVISION DIVISION DIVISION

CONTRACT QS DEPARTMENT MC DEPARTMENT


DEPARTMENT

Bagan 5.1 Struktur Organisasi Tokyu-WIKA Joint Operation


69

B. Hasil Gambaran Tahap Input dalam Sistem Pelaporan Near miss,


Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016

Hasil ini merupakan gambaran tahap input di dalam penelitian

untuk mengetahui gambaran sistem pelaporan near miss, unsafe act dan

unsafe condition di perusahaan. Informasi yang diperoleh berdasarkan

hasil observasi peneliti dengan melihat secara langsung kegiatan-

kegiatan yang berkaitan dengan penelitian, wawancara kepada informan

dengan mengajukan sejumlah pertanyaan dan telaah dokumen.

Pada tahap input ini, informasi yang diperoleh melalui

wawancara kepada sebelas informan dan telaah dokumen. Saat

melakukan telaah dokumen beberapa data dan informasi diperoleh dari

dokumen-dokumen dan rekaman-rekaman yang ada di perusahaan.

Komponen input penelitian ini terdiri dari sumber daya yang berupa

material, sumber daya manusia (SDM) dan metode pelaporannya.

1. Material

Material didalam penelitian ini terdiri dari Form Pelaporan,

Kebijakan K3 Perusahaan dan Standar Perusahaan.

a. Form Pelaporan

Berdasarkan hasil wawancara, proses penyusunan form

pelaporan yang digunakan tersebut dalam melakukan pelaporan near

miss, unsafe act dan unsafe condition diketahui bahwa proses

penyusunan form-form pelaporan tersebut sudah ada standarnya yang

diadopsi dari perusahaan. Hal ini sejalan dengan pernyataan dari

pihak manajemen K3 yaitu SHE manager (informan utama 1) yang

menyatakan bahwa :
70

“Jadi kalau form itu kita kan sudah ada formatnya ya, sudah ada
standar bakunya dari kita inikan 2 perusahaan besar, TOKYU dan
WIKA nah masing-masing punya standar baku sendiri-sendiri. Di
TWJO ini format itu intinya disatukan standar bakunya WIKA sama
TOKYU terbentuk jadilah format khusus untuk form” – (IU1)

Pernyataan dari informan utama 1 bahwa proses penyusunan

form-form pelaporan tersebut sudah ada standar bakunya masing-

masing yang diadopsi dari kedua perusahaan TOKYU dan WIKA.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Deputy Safety Manager (DSM)

CP 101 (informan utama 2) menyatakan bahwa :

“Proses penyusunan form menggunakan form yang dari awal sudah


ada dan digunakan oleh WIKA. Hal ini dikarenakan saya sebagai
deputy safety officer berasal dari WIKA maka saya menggunakan
form yang dibuat oleh WIKA. Karena proyek ini bersifat joint
operation antara WIKA dengan TOKYU akan tetapi dua perusahaan
ini belum mengeluarkan satu kebijakan form yang akan disubmit ke
konsultan, jadi proyek ini menggunakan pengadopsian form dari
WIKA” – (IU2)

Pernyataan wawancara informan utama diatas menyatakan bahwa

proses penyusunan form dari awal sudah ada dan digunakan oleh

perusahaan WIKA jadi menggunakan form yang dibuat perusahaan

WIKA. Karena kedua perusahaan yaitu TOKYU dan WIKA belum

mengeluarkan satu kebijakan form yang di submit ke konsultan. Hal

ini tidak sejalan dengan pernyataan dari informan utama 1 yang

menyatakan bahwa standar baku masing-masing perusahaan

disatukan dan terbentuklah form khusus.

Berdasarkan hasil wawancara dengan deputy safety manager

(DSM) CP 102 (informan utama 3) dan SHE engineer (informan

utama 4) menyatakan bahwa :


71

“Ya tim yang menyusun menentukan tanggal, kapan


pelaksanaannya, lokasi, pelapor dan deskripsinya setelah itu baru di
submit ke konsultan” – (IU3)

“Kalo sebelumnya hmm… bikin form itukan dapetnya dari atasan


saya, saya dikirimin trus dikasih tau abis itu saya baru jabarin ke
SO-SO gitu nanti untuk pelaporannya dan masuknya ke laporan
bulanan. Kalo dasar-dasarnya sih soal apa namanya form-form kaya
gitu sih saya ngga ngerti”– (IU4)

Pernyataan wawancara dari informan utama 3 tersebut

menyatakan bahwa proses penyusunan form pelaporan disusun oleh

tim yang menyusun tidak disebutkan dari perusahaan WIKA atau

TOKYU. Hal ini sejalan dengan pernyataan wawancara informan

utama 4 dimana form pelaporannya diperoleh dari atasannya yaitu

SHE manager dan DSM. Hasil wawancara informan-informan diatas

diperjelas dengan pernyataan dari konsultan JMCMC (informan

kunci) bahwa dia menyerahkan tanggung jawab proses pembuatan

dan penyusunan form kepada pihak perusahaan TWJO apabila keluar

dari sasaran yang diharapkan oleh konsultan maka akan diarahkan

kembali secara lebih umum atau general sesuai dengan pernyataan

wawancara berikut :

“Jadi masing-masing kontraktor termasuk TWJO karena ini dalam


bentuk kontrak yaitu desain DNC design and construction. Itu
diselesaikan sama kontraktor semua saya serahkan pada mereka,
karena banyak yang lari dari dari sasaran pelan-pelan saya arahkan
jadi generalik” – (IK)

Berdasarkan hasil wawancara dengan SHE engineer (informan

utama 5), tahapan penyusunan form tersebut yaitu pembuatan,

penomoran, pengajuan ke konsultan, persetujuan dari konsultan


72

formnya. Setelah penyusunan form selesai baru dapat didistribusikan

dan diterapkan sesuai dengan pernyataan berikut:

“…dibuat koordinasi dengan QA untuk penomoran dan formatnya


trus biasanya juga kita submit dulu ke konsultan kalo form ini
disetujui baru bisa kita terapkan. Kalo udah diterapkan distribusiin
ke SO baru form itu bisa diisi dan setelah diisi biasanya dikumpulin
terus setiap akhir bulan itu kan kita bikin laporan direkap” – (IU5)

Pernyataan diatas sejalan dengan hasil wawancara kepada quality

assurance (informan pendukung 1) dan risk engineer (informan

pendukung 2) yang menyatakan bahwa :

“Ya menurut saya sih divisi kami yang menyusun dan harus
dilibatkan dengan divisi yang berwenang pada proses penyusunan
tersebut karna dari situ kita tau nantinya masukan baru nanti kita
bisa bongkar lagi. Tahapannya mulai dari penomoran form kalau
sudah sesuai akan kita submit ke konsultan setelah di setujui baru
dapat didistribusikan oleh pihak yang berwenang” – (IP1)

Kalau misalnya untuk penyusunan form, dokumentasi gitu yang


mengerjakan itu disini quality assurance ya. Disini salah satu aspek
quality adalah dokumentasi” – (IP2)

Bentuk form pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition yang digunakan sesuai dengan dokumen yang ada di

perusahaan. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara SHE manager

(informan utama 1) dan DSM 101 (informan utama 2) yang

menyatakan bahwa :

“Rani bisa lihat sendiri di dokumen kita” – (IU1)

“Bentuk form yang digunakan sama dengan yang dibuat dan


digunakan oleh WIKA kamu bisa liat sendiri formnya di admin
saya” – (IU2)

Bentuk form secara umum yang digunakan perusahaan didalam

melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition

diketahui terdiri dari tanggal pelaksanaan, lokasi, kategori, pelapor


73

dan deskripsinya. Hal ini sejalan dengan pernyataan atau kutipan

wawancara dari informan utama DSM CP 102 (informan utama 3),

SHE engineer (informan utama 4 dan 5) dan konsultan JMCMC

(informan kunci) dibawah ini :

“Ya dalam sistem pelaporan itu jelas. Kapan, tanggal, kapan


pelaksanaannya, lokasinya, trus kategori. Berikutnya pelapornya
siapa, deskripsinya seperti apa. Kenapa perlu tanggal? kita harus
spesifik terhadap tanggal dan lokasi, karena apa? itu untuk
menunjang akurasi data kita.” – (IU3)

“Ya. Yang ada di kita, seperti tanggal ya kan, lokasi, deskripsinya


kan.” – (IU4)

“Terdiri dari tanggal, lokasi dan deskiripsi kejadiannya” – (IU5)

“Bentuknya ya jelas nomor, tanggal, lokasi kejadian, sumber


penyebab, dll” – (IK)

Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengan informan

pendukung yaitu QA (informan pendukung 1) dan risk engineer

(informan pendukung 2) menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui

dan memperhatikan detail dari bentuk form pelaporan yang ada. Hal

ini sejalan dengan pernyataan wawancara berikut :

“Kalau untuk detail formnya saya kurang memperhatikan” – (IP1)

“Kalau bentuk formnya saya kurang tau detailnya karena divisi


safety yang sehari-hari terlibat untuk pelaporannya” – (IP2)

Berdasarkan pernyataan sebelumnya tiga informan utama (3, 4

dan 5) mengkategorikan secara umum bentuk form pelaporan namun

dua informan pendukung tidak mengetahui dan memperhatikan

bentuk form pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition.
74

Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengan safety officer

(informan utama 7 dan 8), mereka menyatakan bahwa :

“Misalnya suatu kejadian seperti kejadiannya jam berapa, waktunya


apa dibuat ya kan kalau near miss. Kalau unsafe condition
pelaporannya bisa di daily patrol” – (IU7)

“Saya ngga hafal yang jelas disitu ada lokasi, deskripsi dan kejadian
kalau untuk near miss. Kalau unsafe act ngga ada formnya cuma
kita biasanya langsung lapor. Unsafe condition seperti yang anda
tau itu form daily safety patrol” – (IU8)

Pernyataan safety officer (informan utama 8) sebelumnya bahwa

untuk form pelaporan near miss terdiri dari lokasi, deskripsi dan

waktu kejadiannya secara umum sejalan dengan pernyataan dari

informan utama 3, 4 dan 5. Menurutnya form pelaporan unsafe

condition berupa form daily safety patrol sedangkan form pelaporan

untuk unsafe act tidak ada. Pernyataan wawancara safety officer

(informan utama 8) sebelumnya terkait form pelaporan unsafe act

yang tidak ada, tidak sejalan dengan pernyataan dari informan utama

3, 4 dan 5. Namun pernyataan safety officer (informan utama 8)

didukung dengan pernyataan wawancara safety officer (informan

utama 6) yang juga menyatakan bahwa untuk form pelaporan unsafe

act adalah bahwa formnya tidak ada. Hal ini sejalan dengan kutipan

berikut :

“Bentuk formnya near miss ada tapi belum baca saya, tapi untuk
perilaku pekerja ngga ada formnya. Untuk kondisi tidak aman itu
ada formnya daily safety patrol” – (IU6)

Berdasarkan pernyataan diatas juga safety officer (informan

utama 6) sejauh ini belum membaca form pelaporan near miss yang
75

dimiliki perusahaan berbeda dengan kedua safety officer (informan

utama 7 dan 8).

Form pelaporan unsafe act yang dijelaskan sebelumnya tidak

didukung dengan hasil telaah dokumen perusahaan. Berdasarkan hasil

telaah dokumen, form pelaporan yang dimiliki perusahaan berupa

daily safety patrol form dan near miss form. Daily safety patrol form

biasa digunakan oleh divisi SHE yaitu tim safety officer (SO) di

dalam melakukan pencatatan dari hasil patroli mereka setiap hari

dilapangan yang berkaitan dengan pelaporan untuk unsafe condition.

Form daily safety patrol terdiri dari judul, tanggal/waktu, nomor,

lokasi, checklist angka, keterangan dari angka 1-17 terkait kondisi alat

maupun lingkungan kerja, PIC nya siapa, dan diperiksa oleh siapa.

Berikut ini adalah bentuk formnya (Gambar 5.3) :

Gambar 5.3 Daily Safety Patrol Form


76

Sedangkan near miss form digunakan SO untuk melaporkan

kejadian near miss. Form pelaporannya terdiri dari judul,

waktu/tanggal kejadian, nama korban, sumber near miss, faktor

penyebab (sumber, tipe, kategori unsafe act atau unsafe condition),

kronologis kejadian, tindak lanjut dan status. Berikut ini adalah

bentuk formnya (Gambar 5.4) :

Gambar 5.4 Near Miss Form

Di dalam menentukan kesesuaian form yang digunakan

perusahaan untuk melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan

unsafe condition itu divisi SHE akan melibatkan divisi quality

assurance (QA). Hal ini sejalan dengan hasil wawancara SHE

manager (informan utama 1 yang menyatakan bahwa :

“Ya nanti disitu dipilah-pilah sama QA jadi laporan apa dan nanti
muncul kategorinya apa gitu tetep kerjasama sama SHE. Karena
saya disini juga proyek sudah berjalan satu tahun ya jadi kalo form-
form gitu yang bikin orang QA ya quality assurance sama project
control” – (IU1)
77

Pernyataan informan utama 1 yaitu SHE manager sejalan dengan

hasil wawancara DSM CP 101 (informan utama 2) dan SHE engineer

(informan utama 4) yang menyatakan bahwa :

“Pada dasarnya kesesuaian form digunakan secara global atau


keseluruhan dan bekerja sama dengan divisi QA. Adanya QA yang
akan mensortir atau review laporansebelum dikirim ke konsultan” –
(IU2)
“Kalau kesesuaian dasar-dasar formnya saya ngga ngerti, sesuai
dengan orang-orang QC eh QA sorry ya maksudnya QA. Orang QA
yang dilibatkan dalam arti kan kita tetep kerja sama, yang penting
kan kita meeting-in gimana nih kekurangan atau masukannya” –
(IU4)

Selain itu, kesesuaian form mengacu kepada dokumen kontrol

yang ada di perusahaan. Semua form diatur dengan terdapatnya

nomer register, tahun pembuatan dan divisi yang menggunakan form

tersebut. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan informan

utama yaitu DSM CP 102 (informan utama 3) yang menyatakan

bahwa :

“Kesesuaian form itu seharusnya mengacu kepada dokumen kontrol


yang ada di perusahaan. Jadi didalam perusahaan itu mengatur
bagaimana semua form diatur, nomer registernya, tahun
pembuatannya serta divisi yg memakai form tersebut.” – (IU3)

Kemudian kesesuaian dan kelayakan form tersebut harus

disetujui oleh pihak konsultan agar dapat diterapkan di perusahaan.

Hal ini sejalan dengan pernyataan wawancara dari SHE engineer

(informan utama 5) yang menyatakan bahwa :

“Konsultasi dulu ke QA baru submit ke konsultan kalo konsultan ok


ini bisa dipake. Contohnya kalo form ceklis, ceklis safety juga seperti
itu jadi kita bikin trus koordinasi ke QA dilihat, dikasih nomer itu
baru kita submit persetujuan dari konsultan setelah itu baru kita
terapkan dan sampai saat ini udah berjalan.” – (IU5)
78

Semua form yang dibuat seperti yang dijelaskan sebelumnya

melibatkan divisi QA dalam menentukan kesesuaiannya.

Pendokumentasian yang rapih, terstruktur dan dokumennya akan di

audit internal oleh QA. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara risk

engineer (informan pendukung 2) yang menyatakan bahwa :

“Pendokumentasian yang rapih terstruktur itu karna ada


standarnya. Kalau ngga salah standar ISO, makanya yang meng-
handle itu adalah orang quality. Karena orang quality assurance
juga yang akan mengaudit internal project ini, salah satu yang di
audit itu adalah dokumennya” – (IP2)

Berdasarkan hasil wawancara dengan QA (informan pendukung

1), form pelaporan yang sudah sesuai dengan dokumen QA

selanjutnya akan diajukan ke pihak konsultan. Hal ini sejalan dengan

pernyataan wawancara bahwa :

“Jika form nya sudah sesuai dengan dokumen kami penyusunannya


maka sudah boleh di submit ke konsultan nantinya” – (IP1)

Hasil wawancara dengan informan pendukung diatas sejalan

dengan pernyataan wawancara konsultan JMCMC (informan kunci)

yang menyatakan bahwa :

“Biasanya kami yang akan meng-accept form yang dibuat dari


perusahaan” – (IK)

Jadi, komponen input material berupa form pelaporan pada

perusahaan didalam proses penyusunannya dan kesesuaian isinya

melibatkan divisi yang berwenang yaitu divisi SHE dan divisi QA Di

mulai dari tahapan penomoran, pengajuan ke konsultan persetujuan

dari konsultan terkait form pelaporannya. Form tersebut dapat

didistribusikan dan diterapkan apabila telah mendapatkan persetujuan


79

dari pihak konsultan. Untuk form pelaporan unsafe act perusahaan

tidak memiliki form tersendiri untuk melakukan record. Adapun form

yang dimiliki perusahaan saat ini untuk pelaporan unsafe condition

yaitu berupa form daily safety patrol (Gambar 5.3) dan untuk

pelaporan near miss yaitu berupa form near miss (Gambar 5.4) sesuai

dengan dokumen form atau bentuk format yang dimiliki.

b. Kebijakan K3 Perusahaan

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Kalau kebijakan K3 yang jelas tujuan utamanya adalah zero


accident karena manajemen kami komit dari mulai PM sampe ke
konstruksi cuma kalo di kontruksi ini kan K3 baru mulai kan tahun
2006, mulai di galakkan dan mewajibkan” – (IU1)

“Kebijakan K3 ya secara umum mencegah terjadinya kecelakaan.


Sistem pelaporan baru berjalan 30% “– (IU2)

“Oh ya jadi TWJO sudah berkomitmen terhadap keselamatan


artinya artinya apapun yang kita laporkan itu adalah membawa
nama baik dari K3 di perusahaan. Setiap pelaporan, setiap ada
kejadian wajib dilaporkan baik besar dan kecil, hanya tergantung
klasifikasinya saja apakah itu recordable atau just reportable” –
(IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa kebijakan K3 perusahaan adalah top manajemen

berkomitmen terhadap K3 dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan SHE engineer

(informan utama 4 dan 5) yang mengumpulkan, mengolah dan

membuat laporan yang menyatakan bahwa :


80

“Saya sih belum baca kebijakan K3 kita disini, hmmm.. sama sekali
belum baca jadi belum bisa dijabarkan” – (IU4)

“Kalau kebijakan K3 nya ngga lebih ke safety secara umum ya.


Kalau untuk unsafe act sama near miss-nya kan ngga tercantum di
kebijakan yang tertulis gitu. Jadi kebijakannya lebih bersifat safety
secara umum tapi keterkaitan cuman ngga tertulis secara detail
harus pelaporan ini, atau dilaporkan dan sekarang konsultan juga
cukup ketat lagi sekarang udah ada surat yang keluar unsafe act
unsafe condition ya harus dilaporkan” – (IU5)

Pernyataan wawancara dari salah satu SHE engineer (informan

utama 5) kebijakan K3 perusahaan adalah lebih ke K3 secara umum

sejalan dengan pernyataan wawancara dari informan utama

sebelumnya. Namun pernyataan wawancara dari SHE engineer

(informan utama 4) adalah belum mengetahui isi kebijakan K3 di

perusahaan. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara kepada informan

pendukung yang menyatakan bahwa :

“Wah kalau kebijakan K3 saya ngga taulah, kebijakan disini kalau


spesifik diperusahaan ini saya jujur ngga tau…” – (IP2)

Pernyataan wawancara dari informan pendukung bahwa dia tidak

mengetahui kebijakan K3 di perusahaan. Berdasarkan hasil

wawancara kepada safety officer yang menyatakan bahwa :

“Dari kebijakannya, perusahaanya kurang terlalu fokus mengenai


K3. Ada dalam arti kurang untuk pelatihan ada tapi tidak mengerti
tentang K3” – (IU6)

“Kalo kebijakannya setau saya kalau diperusahaan ya sesuai


dengan UU yang berlaku ya misalnya ketenagakerjaan ada
keselamatan juga ya kalau kita contohkan ada di UU no.1 tahun
1970 tentang keselamatan” – (IU7)

“Kebijakan yang dibuat TWJO tetep ya kita istilahnya menerapkan


seperti basic-basic aja sih sebenarnya. Kaya APD gitu emang itu
wajib ya tapi istilahnya sih kebijakan yang basic-basic. Ya kalau
kebijakan untuk kita ya namanya safety itu udah ngga bisa tawar
81

menawar gitu ya jadi sekarang kita menggunakan punishment” –


(IU8)

Pernyataan wawancara dari dua safety officer menyatakan bahwa

kebijakan K3 perusahaan itu berkaitan dengan K3 yang dasar dan

sesuai dengan UU no tahun 1970 yang sejalan dengan pernyataan

wawancara keempat informan utama sebelumnya. Sedangkan satu

safety officer menyatakan bahwa kebijakannya kurang fokus terhadap

K3 hal ini tidak sejalan dengan pernyataan informan-informan

sebelumnya. Namun sejalan dengan hasil wawancara kepada

informan pendukung 2 yang menyatakan bahwa :

“Jadi kebijakan yang kita terapkan itu di lapangan masih belum


memenuhilah masih minim untuk di lapangan. Tapi kebijakan itu
menurut saya sudah baik tapi personal yang dilapangan ini yang
masih susah– (IP1)

Pernyataan wawancara dari informan pendukung 2 sejalan

dengan safety officer (informan utama 6) yang menyatakan bahwa

kebijakan K3 perusahaan itu masih belum memenuhi dan masih

minim untuk di lapangan. Sedangkan berdasarkan hasil wawancara

kepada informan kunci yang menyatakan bahwa :

“Ya masih accept lah, masih bisa diterima karena sudah mengarah
ke sasaran yang diinginkan dari SMK3 itu sendiri sekalipun mereka
masih abu-abu. Di dalam SMK3 perusahaannya karna mengartikan
bahwasanya itu konkret. Ya intinya SMK3 kalau ngeliat kebijakan
udah accept lah form nya masih diterima” – (IK)

Pernyataan wawancara dari informan kunci hampir sejalan

dengan pernyataan wawancara dari informan pendukung 2 dan safety

officer (informan utama 6) yang menyatakan bahwa kebijakan K3

masih abu-abu namun masih bisa diterima. Pernyataan-pernyataan


82

wawancara dari beberapa informan yang menyatakan bahwa top

manajemen berkomitmen terhadap kebijakan K3 dan mencegah

kecelakaan kerja sejalan dan didukung dengan dokumen kebijakan

perusahaan.

Berdasarkan hasil telaah dokumen perusahaan, kebijakan

perusahaan (Company Policy) TWJO terdiri atas Kebijakan K3

(Gambar 5.5), Kebijakan Lingkungan dan Kebijakan Mutu. Kebijakan

K3 tertulis TWJO yaitu berisi tentang TWJO memiliki komitmen

yang kuat untuk mendorong praktek kerja yang aman pada Proyek

Konstruksi Jakarta Mass Rapid Transit CP 101 dan CP 102 sesuai

dengan Undang-Undang keselamatan dan kesehatan kerja serta aturan

dan Peraturan Pemerintah Indonesia dan otoritas terkait yang

memiliki kewenangan hukum.

Keselamatan dan kesehatan diperlakukan sebagai bagian integral

dari manajemen konstruksi yang akan menyatu dengan produksi dan

kualitas yang merupakan kebijakan TWJO untuk mencapai standar

tertinggi dalam K3 konstruksi dan secara efektif mengontrol

kecelakaan dan kualitas dengan cara yaitu :

a. Membuat kesehatan dan keselamatan menjadi tanggung jawab

manajemen;

b. Termasuk semua orang yang peduli dengan proyek khususnya

pada program keselamatan kontraktor;

c. “Keselamatan adalah tanggung jawab semua orang “;


83

d. Termasuk keselamatan dan kesehatan dalam tahap perencanaan

untuk semua aktivitas kerja;

e. Melakukan penilaian risiko untuk semua operasi kerja, dan

f. Menyediakan promosi keselamatan tingkat tinggi dan

melaksanakan pelatihan keselamatan dan kesehatan yang sesuai

sebagai bagian dari program pelatihan kontraktor.

TWJO bermaksud untuk memenuhi komitmen tersebut dengan

memastikan praktek dan prosedur kerja yang aman yang diadopsi

memenuhi semua persyaratan UU keselamatan dan kesehatan industri

dari Pemerintah Indonesia. Pengaturan umum dan spesifik untuk

mencapai tujuan tersebut tercantum dalam rencana keselamatan.

Semua pegawai TWJO diwajibkan untuk melakukan perlindungan

terhadap K3 diri sendiri dan pegawai lainnya. TWJO akan

mendukung manajer dan supervisor yang bertindak untuk kepentingan

K3.
84

Gambar 5.5 Kebijakan K3 TWJO


85

Gambar 5.6 Dokumentasi Kebijakan K3 TWJO

Jadi, komponen input material berupa kebijakan K3 perusahaan

yang berkaitan dengan sistem pelaporan near miss, unsafe act dan

unsafe condition diketahui bahwa perusahaan memiliki kebijakan K3

yang sesuai dimana berkomitmen untuk mencapai standar tertinggi

dalam K3 konstruksi dan secara efektif mengontrol kecelakaan kerja

dan kualitas sejalan dengan sebagian besar pernyataan wawancara

dari informan. Karena di dalam suatu kebijakan harus terdapat visi,

tujuan perusahaan, komitmen dan tekad melaksanakan kebijakan,

kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan

yang menyeluruh.
86

c. Standar Perusahaan

Standar yang dimiliki oleh perusahaan berdasarkan hasil

wawancara dengan pihak manajemen divisi SHE TWJO yaitu SHE

manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan utama 1-3)

menyatakan bahwa :

“Hmm.. yang berkaitan dengan SOP near miss ya? Mereka tidak
spesifik kesitu, intinya zero accident ya. Standar SOP disini ada tapi
lebih spesifik ke alat-alat saja kalau untuk safety kita ada dokumen
site safety plan yang sudah di submit dari konsultan” – (IU1)

“Masih berstandar pada standar WIKA. Memakai standar


internasional akan tetapi implementasinya banyak yang belum
memenuhi atau mengena pada standar-standar internasional
tersebut” – (IU2)

“Kalau standar kita mengacu pada apa yang menjadi kesepakatan


yang kita submit ke MRT. Jadi sistem pelaporan near miss kita itu
hanya selembar pelaporan near miss saja yang paling sebenarnya
dan yang paling penting adalah hasil observasi setiap SO itu
melaporkan unsafe condition sama unsafe position setiap harinya
karena near miss itu adalah berawal dari unsafe condition dan
unsafe position” – (IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa standar sistem pelaporan near miss, unsafe act

dan unsafe condition perusahaan adalah menggunakan standar WIKA

dan mengacu pada kesepakatan dengan MRT dan konsultan yaitu

dokumen site safety plan namun tidak spesifik. Hal ini sejalan dengan

hasil wawancara dengan SHE engineer (informan utama 4 dan 5)

yang mengumpulkan, mengolah dan membuat laporan yang

menyatakan bahwa :

“Oh, pelaporan standarnya kita ngikutin konsultan. Dokumen


standarnya itu aduh kalo untuk standarnya sih saya ngga tau kalo
konsultan pake apa, tak paham” – (IU4)
87

“Kalau disini kita masih pake form punya WIKA karena manajemen
101-103 sampe ke MRT pun ngga mengarah harus pake standar apa.
Jadi dengan komitmen kita kalau di TOKYU ngga ada, di WIKA ada
ya kita pake punya WIKA. Kita koordinasi dengan TOKYU jadi
yaudah kita gunakan” – (IU5)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa standar sistem

pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition perusahaan

adalah menggunakan mengacu pada standar WIKA dan kesepakatan

dengan konsultan. Hal ini belum sejalan dengan hasil wawancara

kepada safety officer (informan utama 6-8) yang menyatakan bahwa :

“Standarnya ya harus ada prosedur. Selama ini prosedurnya masih


agak susah dalam arti pihak yang ada diperusahaan dan dilapangan
kurang. SOP nya belum ada” – (IU6)

“Kalo standarnya yang digunakan saya liat disini kalau form itu
udah sesuai dengan standar mengacu kepada UU kemudian bisa
dikatakan sudah keputusan daripada kita disini kita mengacunya ke
MK3LH ya kan itu bisa dikatakan itu mutu, keselamatan kesehatan
kerja, lingkungan hidup kaya gitu sistemnya” – (IU7)

“Belum ada, misalnya standar alat yang kita gunakan itu harusnya
kan sesuai terhadap safety” – (IU8)

Pernyataan wawancara dari safety officer (informan utama 7)

bahwa standar sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition perusahaan adalah mengacu pada undang-undang.

Sedangkan pernyataan wawancara dari dua safety officer lainnya

bahwa standar atau prosedur yang digunakan belum ada. Berdasarkan

hasil wawancara kepada informan kunci dan informan pendukung

yang menyatakan bahwa :

“Mendekatin, belum tapi udah mendekatinlah ke K3” – (IK)

“Masih kuranglah ya soalnya disini kebanyakan masih ngga tau


apasih standarnya itu, misalnya standar APD aja ngga tau” – (IP1)
88

“Standar ISO, OHSAS biasanya yang mengetahui detail orang SHE


yang pasti dan bisa juga QA” – (IP2)

Pernyataan wawancara dari informan kunci dan informan

pendukung 1 tersebut bahwa standar sistem pelaporan near miss,

unsafe act dan unsafe condition perusahaan adalah belum dan masih

kurang terhadap K3, belum sejalan dengan pernyataan wawancara

dari informan pendukung 2 yang menyatakan bahwa standarnya

mengacu pada ISO dan OHSAS. Jadi, pernyataan wawancara dari

informan utama 1-5 sudah sejalan yang menyatakan bahwa standar

yang digunakan mengacu pada standar WIKA, MRT dan konsultan

namun belum sejalan dengan pernyataan wawancara dari informan

utama 6-7, informan kunci dan informan pendukung.

Perusahaan memiliki standar K3 yang mengacu pada dokumen

site safety plan. Dokumen perencanaan ini menghubungkan

perencanaan dan prosedur-prosedur lain proyek untuk membentuk

keseluruhan sistem manajemen proyek. Dokumen tersebut disusun

untuk memenuhi unsur-unsur yang berlaku pada OHSAS 18001:2007

yang mencakup perencanaan, organisasi dan manajemen kemudian

dikembangkan untuk memberikan pedoman yang memadai kepada

tim proyek dalam melaksanakan tugasnya dan memenuhi persyaratan

kontrak. Dokumen ini mengelola, memantau dan merekam kegiatan

K3 yang didukung dengan standar-standar operasional prosedur dan

form-form yang dimiliki perusahaan.

Berdasarkan hasil telaah dokumen site safety plan bahwa standar

operasional prosedur yang terdapat di perusahaan dan terlampir hanya


89

spesifik pada standar operasional prosedur penggunaan alat dan jenis-

jenis pekerjaan dalam melaksanakan pekerjaan belum spesifik

terhadap standar pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition

di konstruksi yaitu sebagai berikut (Gambar 5.7):

Gambar 5.7 Lampiran Standar Operasional Prosedur pada Dokumen Site Safety
Plan
90

Berdasarkan hasil telaah dokumen site safety plan bahwa standar

yang terlampir hanya spesifik pada standar operasional prosedur

penggunaan alat dan jenis-jenis pekerjaan belum spesifik terhadap

standar pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di

konstruksi sejalan dengan pernyataan wawancara dari informan utama

1, 6 dan 8 yaitu safety manager dan safety officer yang menyatakan

bahwa standar yang digunakan tidak ada atau belum spesifik terhadap

standar pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition.

Di dalam memastikan tingkat konsistensi komitmen perusahaan,

kinerja operasional harus dipertahankan sepanjang durasi proyek dan

di semua lokasi kerja. Standar operasional prosedur telah

dikembangkan dan memberikan standar minimum yang harus

diterapkan. SOP yang dimiliki perusahaan ini berfungsi untuk

memastikan panduan yang jelas diberikan kepada semua personil

proyek sesuai dengan apa yang diharapkan perusahaan dalam

mengendalikan risiko kesehatan dan keselamatan di proyek. Perlu

adanya pemahaman informan terhadap near miss, unsafe act dan

unsafe condition pada standar. Berdasarkan hasil wawancara dengan

pihak manajemen divisi SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP

101 dan CP 102 (informan utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Near miss itu sebenernya kondisi hampir celaka, celakanya


belum tapi hampir celaka” – (IU1)
“Kejadian yang nyaris akan tetapi jika sering terjadi near miss
akan berpotensi menjadi kejadian yang lebih parah” – (IU2)

“Oh kalau menurut saya near miss itu sama dengan persepsi
semua safety di dunia ini near miss itu adalah kejadian yang
91

hampir celaka, hampir celaka maksudnya hampir celaka mengenai


orang, mengenai peralatan dan juga dampak terhadap
lingkungan” – (IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa near miss adalah suatu kejadian yang hampir

celaka, berpotensi menjadi kejadian yang lebih parah dan berdampak

pada orang, peralatan serta lingkungan. Hal ini sejalan dengan hasil

wawancara dengan SHE engineer (informan utama 4 dan 5) yang

mengumpulkan, mengolah dan membuat laporan yang menyatakan

bahwa :

“Near miss itu ya kita udah tau ya hampir celaka dalam arti kita
bekerja tapi kita hampir kecelakaan, seperti itu. Itukan juga ngga
langsung kitanya dalam arti kan bisa benda atau apa gitu kan, apa
bisa kitanya yang lalai itu termasuk near miss, yang lalai” – (IU4)

“Near miss itu suatu kejadian hampir celaka jadi apabila ada
perubahan sedikit saja bisa jadi celaka gitu” – (IU5)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa near miss

adalah suatu kejadian yang hampir celaka yang dapat berasal dari

benda, manusia, atau apabila terjadi perubahan yang dapat

menimbulkan kecelakaan. Hal ini juga sejalan dengan hasil

wawancara kepada safety officer (informan utama 6-8) yang

menyatakan bahwa :

“Jadi kita tahu bahayanya kaya apa ya itu hampir celaka.


Misalnya kelalaian pekerja” – (IU6)

“Definisi near miss itu artinya sesuatu yang hampir mendekati


kecelakaan tapi belum terjadi” – (IU8)

”Near miss ini pengertiannya menurut saya ya dilapangan


misalnya ada orang yang luka ini ada tahapannya ada ringan ada
sedang ada berat” – (IU7)
92

Pernyataan wawancara dari safety officer (informan utama 7)

bahwa near miss berkaitan dengan orang luka dan ada tahapannya,

pernyataan tersebut belum sejalan dengan pernyataan wawancara dari

safety officer (informan utama 6 dan 8) bahwa near miss adalah suatu

kejadian yang hampir celaka. Sedangkan berdasarkan hasil

wawancara kepada informan kunci dan informan pendukung yang

menyatakan bahwa :

“Dari definisinya dulu near miss itu kan yang nyaris ya, nyaris
celaka apa sih yang nyaris celaka itu apa baru fungsinya
bagaimana tindaklanjutnya oleh eksekutornya ataupun kontraktor
gimana jangan ditemukan misalnya tidak pake sarung tangan itu
bisa kita kategorikan bisa ke near miss, ya tapi tindak lanjutnya apa
kita cari dulu kenapa dia ngga pake sarung tangan? Pengadaan
mgga ada atau emang habitnya. Tapi umumnya yang demikian kalau
saya perhatikan itu habit”

“Ya, near miss itu hampir celaka, kecelakaan kerja yang belum
terjadi. Akan berdampak kecelakaan kalau belum kita perbaiki”

“Near miss itu definisinya belum kejadian kan cuma bisa terjadi.
Near miss sendiri itu sebenernya suatu pelanggaran batas. Batas itu
batas K3 tapi belum kejadian, nyaris aja kejadian itu”

Pernyataan wawancara dari informan kunci dan informan

pendukung tersebut bahwa near miss adalah suatu kejadian yang

belum, nyaris atau hampir celaka yang melanggar suatu batas dapat

disebabkan karena habit manusia. Jadi, pernyataan-pernyataan

wawancara dari ketujuh informan utama, informan kunci dan 2

informan pendukung sudah sejalan yang menyatakan bahwa near

miss adalah suatu kejadian yang belum, nyaris atau hampir celaka.

Namun pernyataan tersebut belum sejalan dengan pernyataan


93

wawancara dari satu informan utama yang menyatakan bahwa near

miss berkaitan dengan orang luka dan ada tahapannya.

Pernyataan informan terkait unsafe act dan unsafe condition

berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi SHE

TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Unsafe action tindakan- tindakan tidak selamat. Misalnya kita


bekerja di ketinggian tidak pakai harness. Unsafe condition sendiri
kondisi tidak aman, berarti kita tidak mempersiapkan hal-hal
sebelum kerja. Istilahnya tidak mempersiapkan lokasi kerja aman,
platform kerja, tangga. Yang sering disini dua-duanya, unsafe
condition yang utamanya” – (IU1)
“Unsafe act itu perilaku tidak aman misalnya tidak menggunakan
APD, tidak sesuai prosedur. Kalau unsafe condition itu kondisi yang
tidak aman misalnya material tidak pada tempatnya, tidak ada
handrail dan sebagainya” – (IU2)

“Unsafe act itu adalah inner behavior seseorang yang secara


explosure atau secara terbuka memaparkan bahwa dia tidak selamat
atau melaksanakan kegiatan yang dapat merugikan dirinya sendiri,
orang lain dan juga lingkungan. Unsafe condition adalah berawal
dari mekanisme atau birokrasi di perusahaan yang mungkin agak
lama dan agak lamban didalam proses perbaikan atau maintenance
dan juga lamanya proses pada saat permintaan barang-barang
mengakibatkan barang-barang yang sudah korosi masih tetap layak
dipake, sementara dalam pandangan K3 itu tidak layak untuk dipake
lagi dan harus di reject”– (IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa unsafe act adalah suatu perilaku seseorang atau

tindakan-tindakan yang tidak selamat yang dapat merugikan dirinya

sendiri, orang lain dan lingkungan misalnya tidak sesuai prosedur dan

tidak menggunakan APD. Sedangkan bahwa unsafe condition adalah

kondisi yang tidak aman misalnya lokasi kerja belum siap untuk

melaksanakan pekerjaan dan kondisi alat yang tidak layak. Hal ini
94

sejalan dengan hasil wawancara dengan SHE engineer (informan

utama 4 dan 5) yang menyatakan bahwa :

“Unsafe action berarti kita udah tau ya kan misalkan kita bekerja
kaya gerinda ngga ada covernya dia tau tapi masih dilakukan. Ngga
harus alat juga apapun kerja dia, udah tau ngga aman ya dia tetep
kerja. Kondisi ya dalam arti kondisinya kita cukup liat dari kondisi
kerja kita seperti becek ya kan, udah tau becek masih kerja kondisi
lingkungan kerja gitu, seperti itu” – (IU4)

“Unsafe act atau perilaku tidak aman itu lebih kepada pekerja nya
sendiri… Keadaan tidak aman itu lokasi kerja, ya lokasi kerja itu
kurang memperhatikan housekeeping-nya segala macem ya
kaitannya dengan lingkungan” – (IU5)
Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa near miss

adalah suatu kejadian yang hampir celaka yang dapat berasal dari

benda, manusia, atau apabila terjadi perubahan yang dapat

menimbulkan kecelakaan. Hal ini juga sejalan dengan hasil

wawancara kepada safety officer (informan utama 6-8) yang

menyatakan bahwa :

“Perilaku tidak aman itu dia mengabaikan keselamatan tidak


mengikuti prosedur tidak memenuhi progres. Kalau kondisi tidak
aman itu kondisi yang kurang bagus ya” – (IU6)

“Kalo unsafe action itu tindakan-tindakan yang kalau saya liat disini
dari masalah APD. APD ya penggunaannya… Ya kondisi unsafe
condition dimana biasanya berhubungan dengan kontruksi, pier
yang masih keadaannya belum diisi tanah ditimbun dengan tanah
misalnya kan diratakan kan pada saat itu ditimbun namanya unsafe
condition tidak ada proteksi disitu kondisinya berarti ada lubang
bahaya bagi orang melintas pada saat mau melakukan aktivitas di
dalam proyek maupun area luar” – (IU7)

“Unsafe act itu artinya tindakan yang tidak aman berupa begini ya
dia terlalu memaksakan.Unsafe condition itu kondisi yang tidak
aman, lingkungan kerja kita yang tidak aman. Contohnya seperti
ibaratnya kita bekerja di ketinggian melihat lokasi kita sempit disitu
material berserakan” – (IU8)
95

Pernyataan wawancara dari ketiga informan safety officer diatas

menyatakan bahwa unsafe act adalah suatu perilaku yang

mengabaikan keselamatan, tidak mengikuti prosedur dan

memaksakan misalnya pada alat dan penggunaan APD. Sedangkan

bahwa unsafe condition adalah kondisi yang tidak aman, kurang

bagus misalnya lokasi kerja tidak terdapat proteksi yang layak dan

material yang berserakan. Sedangkan berdasarkan hasil wawancara

kepada informan kunci dan informan pendukung yang menyatakan

bahwa :

“Unsafe act artinya orang yang selalu melakukan dengan cara


shortcut atau jalan pintas contohnya ya ada gedung tinggi ada
tangga tapi dia ngga menggunakan tangga itu tapi akses lain.
Confined space unsafe condition semua botol bejana bertekanan itu
tidak boleh masuk kedalam confined space karena hanya ada satu
access ada galian bisa aja dia jalan dari pinggir slot galian kan” –
(IK)
“Perilaku tidak aman itu kan dari kita diri sendiri gitu. Definisinya
itu ya kita amankan dulu diri kita, kita merasa nyaman bekerja
disini…Ya perilaku yang tidak aman orang yang akan naik ke
scaffolding memaksakan naik ke scaffolding yang belum diceklis dan
belum ada tagnya misalnya padahal itu kondisi tidak aman” – (IP1)
“Definisi dari unsafe action pribadi ya definisi dari unsafe action itu
tindakan yang tidak terukur dan tidak tau batas karna yang namanya
K3 itu kalau K3 itu prinsipnya kan tau batas, know your limit
gitu…Jadi yang namanya unsafe action itu melanggar batas, batas
apapun. Unsafe condition adalah tidak memberikan batas itu” –
(IP2)
Pernyataan wawancara dari informan kunci dan informan

pendukung tersebut bahwa unsafe act adalah suatu tindakan yang

mengambil jalan pintas, tindakan yang memaksa, tindakan yang tidak

terukur dan tidak tahu batas. Sedangkan bahwa unsafe condition

adalah kondisi yang dipaksakan, tidak aman dan melanggar batas


96

apapun misalnya peralatan yang belum siap digunakan atau akses

kerja terhalang.

Pernyataan-pernyataan wawancara dari kesebelas yaitu informan

utama, informan kunci dan informan pendukung sudah sejalan yang

menyatakan bahwa unsafe act adalah suatu perilaku seseorang atau

tindakan-tindakan yang tidak selamat, memaksakan, diluar batas yang

dapat merugikan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan misalnya

tidak sesuai prosedur dan tidak menggunakan APD. Sedangkan

unsafe condition adalah kondisi yang dipaksakan, tidak aman dan

melanggar batasan misalnya kondisi peralatan yang tidak sesuai,

akses kerja terhalang, dsb. Berikut ini adalah beberapa dokumentasi

hasil observasi yang diperoleh di lokasi kerja konstruksi MRTJ TWJO

mengenai temuan unsafe act dan unsafe condition :

(A)

(B)
97

Gambar 5.8 Unsafe Act pada Pekerjaan Fabrikasi Besi dan Pengelasan (Penggunaan
APD)

Gambar 5.9 Unsafe Condition (Penempatan Material Scaffolding dan Kebersihan Lokasi Kerja)

Jadi, pada komponen input material berupa standar K3

perusahaan yang berkaitan dengan sistem pelaporan near miss, unsafe

act dan unsafe condition diketahui bahwa perusahaan memiliki

standar K3 telah diatur dalam dokumen site safety plan dan

pernyataan-pernyataan wawancara dari sebagian besar informan

wawancara terkait definisi near miss sudah sejalan namun hanya satu

informan wawancara yang belum sejalan. Terkait definisi unsafe act

dan unsafe condition semua pernyataan wawancara informan sudah

memiliki pemahaman yang sejalan.

2. Sumber Daya Manusia (SDM)

Sumber daya manusia pada penelitian ini diperoleh berdasarkan

hasil wawancara dan telaah dokumen perusahaan. Berdasarkan hasil

wawancara dengan SHE manager (informan utama 1), DSM CP 101

(informan utama 2) dan SHE engineer (informan utama 5)

menyatakan bahwa :

“Yang terlibat disini yang jelas ada departemen K3 disini divisi K3,
general affair sama QA, quality assurance. General affair itu bagian
umumnya” – (IU1)
98

“Chief, supervisor safety, manajer safety yang pasti SHE” – (IU2)

“Tim safety yang pasti SO, pelaksana, divisi lain dan pekerja di
lapangan” – (IU5)
Pernyataan dari ketiga informan utama tersebut terkait sumber

daya manusia yang terlibat dapat disimpulkan bahwa dalam

melakukan sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition diantaranya yang pasti melibatkan divisi SHE dan divisi-

divisi lainya. Divisi-divisi yang terlibat di mulai dari pimpinan

tertinggi hingga yang terendah. Hal ini sejalan dengan pernyataan

wawancara dari DSM CP 102 (informan utama 3) yang menyatakan

bahwa :

“mulai dari pucuk pimpinan tertinggi kita disini adalah project


manager kita, berikutnya adalah daily worker. Jadi kalau untuk
sumber daya disini bisa kita kategorikan ada tiga ya. Kategori
workforce atau daily worker kita dilokasi, yang kedua adalah bagian
dari hmm.. middle supervisi, atau site engineer, pelaksana. Yang
ketiga adalah manajerial level dimana semua itu adalah manajer
atau deputi-deputi atau manajer divisi, kalau untuk sumber daya
seperti itu, gitu” – (IU3)

Penyataan dari informan utama 3 mengenai SDM yang terlibat

yaitu dimulai dari pucuk pimpinan tertinggi PM hingga yang terendah

yaitu daily worker. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan

ketiga safety officer (informan utama 6,7 dan 8) yang menyatakan

bahwa :

“Semua man power disini terlibat” – (IU6)

“Semuanya, dari manajemen atas sampe para pekerja harian atau


daily worker” – (IU7)

“Semuanya, itu beberapa diantaranya meliputi safety, supervisor,


engineer, mandor dan pekerja” – (IU8)
99

Pernyataan wawancara dari ketiga safety officer juga sejalan

dengan hasil wawancara konsultan JMCMC (informan kunci), QA

(informan pendukung 1) dan risk engineer (informan pendukung 2)

yang menyatakan bahwa :

“Semua, harusnya semua pihak terlibat” – (IK)

“Ya kalau sistem pelaporannya itu semuanya sih kayanya, kita juga
terlibat seharusnya ya” – (IP1)

“Semua. Harusnya yang aware pertama itu adalah selain divisi HSE
ya pelaksana, construction dulu baru divisi-divisi lainnya” – (IP2)

Pernyataan-pernyataan wawancara yang telah dijelaskan

sebelumnya secara lebih detail tingkatannya dapat dilihat berdasarkan

telaah dokumen perusahaan yang memiliki struktur organisasi

(Gambar 5.2) yang menjelaskan bahwa terdapat beberapa divisi dalam

proyek pembangunan MRTJ. Divisi-divisi tersebut diantaranya, yaitu

project management, QA division, QC division, SHE division, project

control division, contruction division CP 101, contruction division CP

102, engineering division, commercial division, administration

division (contract department, QS department, MC department).

Jadi, semua pernyataan dari informan baik informan utama, kunci

dan informan pendukung menyatakan bahwa semua bagian terlibat di

dalam melakukan sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition namun untuk lebih spesifik dalam melakukan pelaporan

yang berperan penting adalah divisi SHE.

Jumlah sumber daya manusia yang terlibat dalam melakukan

pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition dapat diketahui
100

jumlahnya berdasarkan hasil laporan setiap bulan TWJO kepada

konsultan. Berdasarkan hasil wawancara dengan SHE manager, DSM

CP 101 dan CP 102 menyatakan bahwa :

“SDM disini banyak ada dan bisa dilihat di laporan bulan HSE
kita” – (IU1)

“Banyak pokoknya bisa diliat di laporan” – (IU2)

“Bisa juga kamu cek datanya di laporan bulanan kita” – (IU3)

Ketiga informan utama diatas menyatakan bahwa jumlah sumber

daya manusia yang terlibat didalam sistem pelaporan dapat dilihat

lengkapnya pada laporan bulanan divisi SHE. Hal ini sejalan dengan

pernyataan wawancara dari kedua informan utama yaitu SHE

engineer yang mengumpulkan data dan membuatkan laporan bulanan,

berikut adalah pernyataan wawancaranya :

“Kalau dihitung-hitung disini sebenernya sih banyak, banyak dalam


arti kita ngga bisa nilai itu dari totalnya berapa ya kan ada di
laporan bulanan yang saya buat” – (IU4)

“Jumlahnya banyak bisa dilihat dilaporan bulanan SHE kami yang


saya buat” – (IU5)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci dan

informan pendukung yaitu konsultan JMCMC, QA dan risk engineer

mereka juga sejalan dengan pernyataan sebelumnya. Dimana

konsultan disini juga yang menyetujui, memeriksa dan memantau

laporan bulanan SHE. Pernyataan wawancaranya adalah sebagai

berikut :

“Jumlahnya ada di monthly report HSE yang biasanya di submit ke


kami dulu” – (IK)
101

“Banyak yang pastinya bisa dilihat di laporan-laporan SHE juga


setau saya ya” – (IP1)

“Banyak saya ngga tau persisnya berapa” – (IP2)

Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengan informan utama

lainnya yang berada di lapangan yaitu safety officer ada menyatakan

bahwa jumlah SDM dapat diperoleh melalui SHE engineer dan ada

juga yang menyebutkan jumlahnya, penyataan wawancaranya adalah

sebagai berikut :

“Kurang lebih Jumlahnya ada 1000 pekerja” – (IU6)

“Saya kurang hafal itu berapa jumlahnya, admin biasanya tau


karena mereka yang membuat”– (IU7)

“Ya man powernya yang terlibat nya ya seperti di suatu area ya


kurang lebih untuk area 101 sekitar 800 an lah” – (IU8)

Pernyataan-pernyataan diatas didukung dan dapat diperoleh lebih

tepatnya pada HSE monthly report yang terbaru yaitu HSE monthly

report 2016. Dimana sumber daya manusia (SDM) pada perusahaan

disebut man power. Total akumulasi man power setiap bulannya dari

awal proses pekerjaan proyek hingga saat ini baik yang masih terlibat

di dalam proyek maupun yang telah selesai mencapai 13.743 orang

dapat diperoleh melalui tabel statistic safety record (Gambar 5.10).

Untuk total non staff TWJO pada saat ini berdasarkan data yang

diperoleh adalah sebanyak 759 orang , sedangkan total total staff

TWJO adalah sebanyak 294 orang. data tersebut dapat diperoleh pada

tabel monthly HSE performance report (Gambar 5.11).


102

Gambar 5.10 Statistic Safety Record

Gambar 5.11 Monthly HSE Performance Report

Safety officer (SO) berperan untuk melakukan pelaporan near

miss, unsafe act dan unsafe condition serta bekerja sama dengan

orang-orang divisi lain yang berada di lokasi pekerjaan. SO memiliki

tugas dan tanggung jawab di dalam melaksanakan pekerjaannya.

Tugas dan tanggung jawab seorang SO adalah berdasarkan hasil

wawancara dengan SO (informan utama 6,7 dan 8) sebagai berikut :

“Tugasnya kita ngasih pengarahan untuk perilaku pekerja. Untuk


near miss tugas SO mengurangi atau mencegah bahaya dari pekerja.
Untuk mengurangi atau mencegah kecelakaan. Tanggung jawabnya
tetep mengikuti prosedur pekerjaan” – (IU6)

“Tugas dan tanggung jawabnya yang pertama dia buat kronologis


pelaporan near miss-nya kemudian mencatat dan nanti melaporkan”
– (IU7)

“Ya tugas saya melaporkannya jika terjadi unsafe act ya berarti ya


harus bisa memproteksi dimana istilahnya sebelum terjadi kita
proteksi dululah mana yang menjadi tugas kita dan menjadi
tanggungjawab kita” – (IU8)

Ketiga SO tersebut menyatakan bahwa saat di lokasi tugas dan

tanggung jawabnya yaitu mencegah, memproteksi, melaporkan


103

apabila menemukan unsafe act, unsafe condition dan near miss. Hal

ini sejalan berdasarkan hasil wawancara dengan informan utama SHE

manager, DSM CP 101, DSM CP 102, dan SHE engineer yang

menyatakan bahwa:

“Mmm tugas dan tanggung jawab SO ini membikin semacam


pemberitahuan singkat biasanya dari SO misalnya pesan singkat.
Pak kami disini trus nanti dari safety enginering akan bikin primary
report karna laporan awal ini akal dikirim kan ke konsultan sama
owner kami itu yang harus dilakukan”
“Peran safety officer ya melihat, memberitahu dan menindaklanjuti.
Dari pembuat record tanggung jawabnya sampai administrasi dan
yang melakukan safety patrol”
“Tugas dan melaksanakan near miss adalah suatu tanggung jawab
semua pekerja dilokasi dimana tempat kita bernaung”

“…tugas-tugas yang beginikan orang SO ya kan orang-orang


dilapangan sendiri. Mereka melihat kondisi yang tidak aman nanti
mereka sendiri yang evaluasi mereka sendiri yg dalam arti men-cut
nya atau kasih solusinya. Artinya orang-orang lapangan ngga
sekedar SO juga tapi pelaksana juga harus bisa, gitu loh

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci dan

informan pendukung juga menyatakan bahwa tugas dan tanggung

jawab seorang SO harus memenuhi dan mentaati peraturan,

mengingatkan pekerja lainnya dan melaporkan temuan K3. Hal ini

sejalan dengan pernyataan wawancara berikut :

“Tugasnya harus melaporkan namun meningkatkan kesadaran itu


yang masih sulit” – (IK)

“Ya tugas dan tanggung jawab ya memenuhi dan mentaati apa


peraturan yang ada di TWJO ini, sistemnya gimana, pelaporannya
gimana SO mengikuti alurnya” – (IP1)

“SO itu mengingatkan dan juga advice dan harus ada stop authority
jadi kalau misalnya mereka ngeliat something not fit atau sesuatu
yang ngga sesuai dari aspek K3 nya mereka punya kuasa untuk stop
atau memberhentikan untuk memperbaiki keadaan site dulu itu
tercantum di dalam kontrak dan ada dikontrak kita. Semua staf HSE
104

kita itu punya authority untuk memperbaiki keadaan lapangan


sampai aman, nyaman” – (IP2)

Pernyataan-pernyataan wawancara dari semua informan diatas

semuanya sejalan bahwa divisi SHE khususnya SO saat di lokasi

kerja harus mengingatkan, melaporkan dan menindaklanjuti temuan

yang ada baik itu near miss, unsafe act dan unsafe condition.

Berdasarkan hasil telaah dokumen peran dan tanggung jawab divisi

SHE TWJO adalah secara efektif mengimplementasikan kebijakan

K3, memberikan arahan dan kepemimpinan yang tepat. Struktur

organisasi divisi SHE TWJO terdiri dari SHE manager, deputy safety

manager (DSM) CP 101, deputy safety manager (DSM) CP 102,

chief environmental, safety engineer, environmental engineer, safety

officer, paramedic, ,flagman, 5R. Struktur organisasi divisi SHE

TWJO adalah sebagai berikut (Bagan 5.2) :

SHE MANAGER

DEPUTY SAFETY DEPUTY SAFETY CHIEF PARAMEDIC


MANAGER CP 101 MANAGER CP 102 ENVIRONMENTAL

SAFETY ENGINEER ENVIRONMENTAL


ENGINEER

SAFETY OFFICER
5R

FLAGMAN

Bagan 5.2 Struktur Organisasi Divisi SHE


105

Masing-masing jabatan yang terdapat di divisi SHE TWJO

memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap keselamatan, kesehatan

dan lingkungan kerja baik di site, site office maupun main office.

Safety, health and environmental manager memiliki tugas dan

tanggung jawab sebagai berikut :

a. Memimpin, merencanakan dan memberikan motivasi di dalam

pelaksanaan keselamatan, kesehatan dan pengendalian

kerugian.

b. Membantu di dalam mengembangkan dengan meninjau

prosedur-prosedur dan merancang sistem untuk memfalisitasi

pekerjaan yang aman.

c. Konsultasi dengan manajemen proyek untuk meninjau

prosedur-prosedur kerja yang aman, secara langsung

mengkomunikasikan dan melaporkan kepada project

management dan semua member TWJO serta bertindak sebagai

penghubung dengan pengawas regulator.

d. Mengatur dan menyusun aktifitas-aktifitas pekerjaan secara

umum dan mengarahkan seluruh jabatan di divisi SHE,

memberikan program-program pelatihan keselamatan dan

memantau keselamatan, kesehatan dari lingkungan kerja.

e. Menginstruksikan atau mengambil tindakan yang tepat didalam

memberhentikan aktifitas pekerjaan di site yang dapat

menyebabkan cidera atau luka, memastikan bahwa semua

pelaporan kecelakaan-kecelakaan dan insiden-insiden serius


106

dilaporkan kepada project management, employer‟s

representative dan engineer.

f. Menyiapkan laporan-laporan bulanan yang diperlukan oleh

project manager mengenai keseluruhan project safety

performance dan menjaga safety diary record, semua yang

berkaitan dengan kejadian-kejadian dan aktifitas pekerjaan

sehari-hari.

Deputy safety manager (DSM) baik di CP 101 maupun CP 102

memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :

a. Membantu di dalam mengembangkan dengan meninjau

prosedur-prosedur dan sistem kerja termasuk pihak

subkontraktor serta memastikan bahwa prosedur-prosedur

keselamatan dan kesehatan kerja diusulkan oleh para

subkontraktor kepada semua tingkatan yang akan meninjau

dan memahami contractor‟s site safety plan.

b. Memantau semua kegiatan kerja perusahaan dan

subkontraktor, melakukan inspeksi rutin di lapangan serta

menghadiri semua site safety meeting.

c. Mengkonsultasikan secara rutin dengan site management

terkait SMK3 perusahaan.

d. Mengumpulkan dan mengajukan informasi statistik

keselamatan kepada SHE manager setiap bulan.


107

e. Menginstruksikan safety officer untuk memastikan setiap area

memahami safety plan dan memastikan semua record terkait

first aid, cidera atau luka.

f. Menyelidiki pelaporan kecelakaan dan menyiapkan laporan-

laporan yang telah disepakati oleh SHE manager serta

memperbaiki, menginstruksikan atau mengambil tindakan

yang tepat didalam memberhentikan aktifitas pekerjaan di area

kerja yang dapat menyebabkan cidera atau luka,

Chief environmental memiliki tugas dan tanggung jawab didalam

memantau, meginstruksikan environmental engineer dan tim 5R

(resik, rawat, ringkas, rajin, rapih) dalam menjaga lingkungan di area

kerja agar terbebas dari dampak-dampak pencemaran yang

ditimbulkan oleh aktifitas pekerjaan proyek. Environmental engineer

memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melakukan pengukuran di

area kerja proyek yang berupa pengukuran kebisingan, getaran, dll.

Selain itu berkaitan dengan administrasi di dalam membuat pelaporan

harian, mingguan maupun bulanan tentang aktifitas kerja atau

performa lingkungan proyek. Sama halnya dengan environmental

engineer, safety engineer bertugas dan bertanggung jawab terhadap

administrasi dalam membuat pelaporan harian, mingguan maupun

bulanan tentang keselamatan dari aktifitas kerja proyek.

Safety officer (SO) baik di CP 101 maupun CP 102 memiliki

tugas dan tanggung jawab yaitu untuk memantau semua kegiatan

kerja yang berkaitan dengan keselamatan termasuk subkontraktor,


108

menghadiri semua site safety meeting, memantau secara langsung

aktifitas pekerjaan dari tim konstruksi (site engineer, supervisor,

foreman, daily worker) di lapangan, memberhentikan aktifitas

pekerjaan di area kerja yang dapat menyebabkan cidera atau luka,

mencatat dan melaporkan hasil temuan di lapangan kepada safety

engineer dan DSM. Hal ini tentunya sejalan dengan pernyataan

wawancara yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Tim flagman CP 101 dan CP 102 bertugas dan bertanggung

jawab untuk mengatur aktifitas-aktifitas pekerjaan di jalan atau

fasilitas umum, mengatur lalu lintas kendaraan proyek dan mengawasi

keluar masuknya kendaraan proyek. Sedangkan untuk tim 5R CP 101

dan CP 102 bertugas dan bertanggung jawab untuk memindahkan,

mengangkut material yang sudah tidak terpakai dan membersihkan

lingkungan di area kerja dari sampah atau limbah-limbah proyek yang

dapat menyebabkan pencemaran lingkungan kemudian

melaporkannya kepada environmental engineer serta chief

environmental. Paramedic bertugas dan bertanggung jawab untuk

mengobati para pekerja apabila dalam keadaan sakit dan kecelakaan

kerja, mengurus jaminan kesehatan dan membantu tugas SHE di

lokasi kerja untuk mencari temuan.

Jadi, komponen input berupa sumber daya manusia yang terdapat

di perusahaan semuanya terlibat di dalam melaksanakan sistem

pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition hanya saja yang
109

banyak berperan adalah divisi SHE dengan tugas dan tanggung jawab

yang dimiliki masing-masing jabatan.

3. Metode

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Lebih banyak di observasi ya jadi kalau metode yang digunakan


petugas yang ada di lapangan yaitu investigasi ke lapangan, jadi
dari investigasi itu nanti muncul penyebab utamanya apa sih, ini
yang dicari kan akar masalahnya” – (IU1)

“Metode pelaporan yang digunakan yakni reporting tapi


pelaporannya sesempatnya dikirim dan masih banyak kekurangan
dalam sisi reporting sehingga banyak revisi atas pelaporan
tersebut” – (IU2)

“Kalau metode yang kita laporkan dan yang kita gunakan adalah
apabila anda melihat anda laporkan. Berdasarkan observasi atau
juga patrol yg dilakukan. Karena kalau kita observasi berarti kan
keinginan kita atau tekad kita sedang mengawasi orang bekerja.
Sedangkan patrol adalah pada saat kita melakukan perlintasan atau
keliling untuk mengamati lingkungan kerja kita secara tidak
langsung kita mengamati ada sesuatu yg membahayakan dan near
miss. Itu bisa kita jadikan kategori yang lain. Karena observasi
adalah kita meniatkan diri, kita mengawasi orang lain. Kalau patroli
adalah pada saat kita patroli ternyata didalam patrol itu ada yg kita
ketemukan. Nah itu ada dua metode ya, satu metode observasi kedua
adalah metode patrol” – (IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa metode yang digunakan dalam sistem pelaporan

adalah berupa observasi di lapangan, reporting dan juga patroli. Hal

ini sejalan dengan hasil wawancara dengan SHE engineer (informan

utama 4 dan 5) yang mengumpulkan, mengolah dan membuat laporan

yang menyatakan bahwa :


110

“Metodenya sih yang saya alami selama 11 bulan disini komunikasi


ya. Nanti yang bikin datanya saya sendiri, kaya kecelakaan-
kecelakan diarea misalnya 101 gitu ya kan saya sendiri yang laporin
nanti, saya yang buat. Saya bikin investigasinya, saya bikin
rektifikasinya baru nanti kita laporlah ke SHE manager dan
masuklah nanti ke laporan bulanan, seperti itu” – (IU4)

“Melihat temuan di lapangan di foto trus di share dan dicatet. Untuk


laporannya saya yang buat, intinya sih melihat kemudian mencatat
dan melaporkan”– (IU5)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa metode yang

digunakan dalam sistem pelaporan adalah dengan melihat temuan,

melaporkan atau mengkomunikasikan. Hal ini sejalan dengan hasil

wawancara kepada safety officer (informan utama 6-8) yang

melaksanakan pekerjaan di lapangan yang menyatakan bahwa :

“Yang pertama melihat ya memantau berkomunikasi dengan


supervisor atau pekerja trus kita catetin dan kita laporin”– (IU6)

“Kalo disini metode pelaporannya ya disini ada form. Sebenernya


prinsipnya sama antara di jalan ataupun di gedung contohnya dia
ditulis tanggal pokonya waktu tanggal kejadiannya, itu dimana
posisinya”– (IU7)

“Metodenya ya saya melihat di lapangan, saya foto untuk bukti lalu


saya melaporkan”– (IU8)

Pernyataan wawancara dari safety officer bahwa metode yang

digunakan dalam sistem pelaporan adalah dengan cara melihat,

memantau, mengkomunikasikan dan melaporkan. Hal ini sejalan

dengan hasil wawancara kepada informan kunci yang menyatakan

bahwa :

“Metode yang dilakukan adalah dengan observasi dan kemudian


membuat report yang akan di submit ke kami pihak konsultan” –
(IK)
111

Pernyataan wawancara dari konsultan tersebut (informan kunci)

bahwa metode yang digunakan dalam sistem pelaporan adalah dengan

cara observasi dan kemudian membuat report atau laporan. Hal ini

juga sejalan dengan hasil wawancara kepada informan pendukung

yang menyatakan bahwa :

“Ya caranya mungkin diberitahu dulu ke safety nanti safety


memberitahukan yang di lapangan itu kaya gimana baru pelaporan
ke atasannya safety dari safety ke bagian lainnya disosialisasikan” –
(IP1)

“Melihat atau observasi, mencatat kemudian memberikan solusi


dengan mengambil tindakan yang tepat di lapangan” – (IP2)

Jadi, komponen input berupa metode pelaporan yang dimiliki

perusahaan berdasarkan pernyataan wawancara dari semua informan

utama, informan pendukung dan informan kunci bahwa bentuk

metode yang digunakan dalam sistem pelaporan near miss, unsafe act,

dan unsafe condition adalah dengan cara melihat atau observasi,

memantau, mengkomunikasikan lalu membuat laporan.

C. Hasil Gambaran Tahap Proses dalam Sistem Pelaporan Near


Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016

Hasil ini merupakan gambaran pada tahap proses di dalam

penelitian untuk mengetahui sistem pelaporan near miss, unsafe act dan

unsafe condition. Informasi yang diperoleh untuk mengetahui gambaran

proses berdasarkan wawancara dengan sebelas informan yaitu dengan

mengajukan sejumlah pertanyaan, melakukan observasi dan telaah

dokumen. Telaah dokumen yang dilakukan terhadap beberapa data dan

informasi diperoleh dari hasil laporan yang ada di perusahaan.


112

Komponen proses penelitian ini terdiri dari pelaksanaan pelaporan,

pemantauan pelaksanaan pelaporan dan evaluasi pelaksanaan pelaporan.

1. Pelaksanaan Pelaporan

Proses pelaksanaan ini terdiri dari sistem pelaporan perusahaan,

alur atau sistematika pelaporan, komitmen perusahaan atau top

manajemen terhadap sistem pelaporan, partisipasi petugas, amnesti

(reward & punishment), sumber dan penyebab kejadian near miss,

unsafe act dan unsafe condition.

a. Sistem Pelaporan Perusahaan

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Sistem sudah baik namun orang-orangnya yang terkadang belum


sepenuhnya melaporkan” – (IU1)

“Form atau sistem ini sudah disosialisasikan akan tetapi masih


terdapat kekurangpahaman diantara officer dalam proses penulisan
dan penjabaran kejadian dan masih belum bisa mengkategorikan
kejadian ke dalam near miss, unsafe act, atau unsafe condition. Hal
ini juga mengakibatkan laporan jarang dibuat padahal
kenyataannya di proyek tidak mungkin tidak terjadi kejadian-
kejadian tersebut” – (IU2)

“Kalau diperusahaan ini bagus, pelaporan disini sudah bagus hanya


satu kekurangannya orang-orang yang terlibat mencari near miss itu
minim, satu. Kedua, harus disuruh-suruh. Ya near miss itu ga perlu
di training bisa dibaca baca diinternet segala macam” – (IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa sistem pelaporan perusahaan terkait near miss,

unsafe act dan unsafe condition sudah baik dan bagus namun

kekurangannya hanya pada orang-orang yang terlibat dan


113

ketidakpahaman akan pelaporan tersebut. Hal ini sejalan dengan hasil

wawancara dengan SHE engineer (informan utama 4 dan 5) yang

menyatakan bahwa :

“Kalau sistem pelaporan yang kita lakuin sih terkait near miss dan
lain-lain itu udah jalan dan tapi kadang ya SO ngga ngelaporin”–
(IU5)

“Belum sama sekali berjalan dengan baik, kalau dari kemaren-


kemaren itu dalam arti udah ada, sistemnya sih udah ada cuman ya
gitu orang-orang kita ini ya kan reaktif harus dikasih tau gitu loh
baru bekerja”– (IU4)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa sistem

pelaporan perusahaan terkait near miss, unsafe act dan unsafe

condition sudah ada dan sudah dilakukan hanya saja belum berjalan

dengan baik dan petugasnya masih reaktif dan tidak melapor. Hal ini

belum sejalan dengan hasil wawancara kepada safety officer

(informan utama 6-8) yang menyatakan bahwa :

“Sudah berjalan adapun safety yang sering melanggar”– (IU8)

“Sistem pelaporannya saya bilang tadi sudah berjalan sesuai


dengan form cuma yg amat saya sayangkan, saya juga pribadi
sendiri apa ya perlu disosialisasikan kembali lebih di detailkan lagi
kepada SO-SO nya agar pengertian near miss-nya aja dulu dasarnya
kan baru nanti dia kalau sudah mengerti apa itu near miss baru bisa
melaporkan gitu”– (IU7)

“Masih simpang siur masih belum jelas dan belum ada ketegasan
dari perusahaan baru-baru ini”– (IU6)

Pernyataan wawancara dari safety officer (informan utama 6)

bahwa sistem pelaporan perusahaan terkait near miss, unsafe act dan

unsafe condition masih belum jelas pernyataannya tidak sejalan

dengan pernyataan wawancara dari safety officer (informan utama 7

dan 8) bahwa sistem pelaporan perusahaan terkait near miss, unsafe


114

act dan unsafe condition sudah berjalan hanya saja SO kurang

memahami dan yang sering melanggar. Hal ini sejalan dengan hasil

wawancara kepada informan pendukung yang menyatakan bahwa :

“Sistem sudah ada lumayanlah ya cuma masih banyak yang perlu


diperbaiki mungkin dari sumber daya manusianya”– (IP2)

“Ya kalau untuk sistem pelaporannya sudah baik tapi masih ada
yang kita kurang ketahui. Contohnya ada yang near miss kaya gini
jadi mereka yang tau itu near miss belum menerapkan. Sama teman-
temannya belum dikasih tau kadang mungkin atau lupa atau gimana
belum dan dianggap itu ah sepele, ah biarin ajalah kaya gitu”–
(IP1)

Pernyataan wawancara dari informan pendukung bahwa sistem

pelaporan perusahaan terkait near miss, unsafe act dan unsafe

conditions sudah baik namun dari sumber daya manusianya yang

belum mengetahui. Hal ini belum sejalan dengan hasil wawancara

kepada informan kunci yang menyatakan bahwa :

“Belum baik. Mulai meeting kemaren saya marah-marahin itu


selama ini saya bikin bebas mereka ya setelah evaluasi 1 tahun
ternyata ya salah satu perangkat untuk mencabut sumber bahaya itu
kita harus menemukan sendiri bahaya itu dan membuangnya”– (IK)

Pernyataan wawancara dari informan kunci bahwa sistem

pelaporan perusahaan terkait near miss, unsafe act dan unsafe

conditions belum baik setelah di evaluasi selama 1 tahun. Jadi

berdasarkan pernyataan-pernyataan wawancara dari kesebelas

informan tersebut yang sudah sejalan yaitu ada sembilan informan

diantaranya tujuh informan utama dan dua informan pendukung yang

menyatakan bahwa sistem pelaporan perusahaan terkait near miss,

unsafe act dan unsafe condition sudah baik namun sumber daya

manusianya yang belum mengetahui, sering melanggar dan tidak


115

melaporkan. Sedangkan yang belum sejalan yaitu dua informan yaitu

informan utama 6 dan informan kunci yang menyatakan bahwa sistem

pelaporan perusahaan terkait near miss, unsafe act dan unsafe

condition masih belum baik dan belum jelas.

b. Alur atau Sistematika Pelaporan

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Alur dari pelapor yang melihat kejadian, data awal diambil dia
langsung ke deputi dari deputi ke manajer dengan berikan laporan
primary jadi ya SO buat catatan trus dikumpulkan di admin lapor ke
deputi dan saya setelah itu saya komunikasikan ke manajemen”–
(IU1)

“Alurnya dari SO yang di lapangan mencatat trus mengumpulkan ke


admin saya ya SHE engineer lalu ke saya dan nanti ke manajer saya
baru ke top manajemen”– (IU2)
“Segala apa yang kita lakukan yang berkaitan dengan near miss
serta pelaporan di kumpulkan di dalam suatu ploting safety admin
kita, setelah itu diproses abis diproses di input datanya, diverifikasi
ulang kepada pelapornya. Kedua, kepada deputinya sendiri dan juga
manajernya sebelum itu dilaporkan setiap bulannya pada saat kita
monthly HSE meeting di konsultan”– (IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa alur atau sistematika pelaporan near miss, unsafe

act dan unsafe condition yaitu dari pelapor atau SO yang melihat

kejadian lalu deputi manajer setelah itu buat laporan ke admin di input

datanya diverfikasi ulang lalu diserahkan kembali kepada deputi

selanjutnnya diserahkan ke manajer lalu dikomunikasikan ke top

manajemen dan konsultan. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara


116

dengan SHE engineer (informan utama 4 dan 5) yang menyatakan

bahwa :

“Jadi, alurnya ke SO terus admin atau SHE engineer ke DSM. Yang


penting ke DSM”– (IU4)

“Sistem pelaporan kalau di dalam sistemnya pastinya yang mencatat


dan ke lapangan SO itu juga kerjasama sama pelaksana dan pekerja
di lapangan. Trus manajer dari safety nya sendiri trus biasanya
koordinator sampe ke project manager-nya juga melapor atau
minimal ke manager-manager setiap divisi apa yang ada di
lapangan orang yang di kantor juga tau”– (IU5)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa alur atau

sistematika pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition

yaitu dari SO bekerjasama dengan pelaksana dan pekerja di lokasi

kerja lalu ke admin setelah itu ke DSM ke manajer, dari manajer nanti

dilaporkan kepada PM atau minimal manajer divisi. Hal ini sejalan

dengan hasil wawancara kepada safety officer (informan utama 6-8)

yang menyatakan bahwa :

“Laporannya dari safety ke lapangan kita supervisor atau engineer


trus dari mandoran yang kita ketahui terus kita lakuin semua selesai
trus kita laporin ke admin HSE trus ke deputi”– (IU6)

“Alurnya apabila menemukan sesuatu yang near miss unsafe act,


unsafe condition yang pertama sudah pasti SO dibekali yang
namanya form dia mengisi kemudian sesudah itu yang terkait
misalkan ada hubungan dengan leader misalkan mandor, ada
hubungannya misalnya dengan pelaksana ada hubungannya yang
terkait ya kita ada hubungannya gitu. “Kemudian setelah form itu
kita buat hari ini segera laporkan ke engineriing bahwa tadi ada
kejadian near miss, beritahu ke pelaksana, setelah itu langsung ke
pihak HSE departemen. Disini ada safety engineering sama deputi
nanti dari pihak engineering sama deputi di tindak lanjuti”– (IU7)

“Ya jadi kita melaporkannya dari pihak seumpamannya pasti yang


mengetahuinya pertama kali supervisor ya karena dia yang standby
disitu mengawasi pekerjaannya jadi dia yang lapor ke safety. Dari
safety ya kita menginfokan ke atasan kita ya ke deputy manager”–
(IU8)
117

Pernyataan wawancara dari ketiga safety officer (informan utama

6,7 dan 8) bahwa alur atau sistematika pelaporan near miss, unsafe

act dan unsafe condition yaitu dari SO menemukan kejadian

bekerjasama dengan pelaksana kemudian membuat catatan laporkan

ke admin dan deputi kemudian dikomunikasikan kembali pada orang

di lapangan untuk ditindaklanjuti temuannya. Hal ini sejalan dengan

hasil wawancara kepada informan pendukung 1 yang menyatakan

bahwa :

“Alurnya ya dari safety juga ya yang melakukan pelaporan. Kalau


menurut saya itu di lapangan ya pelaksana, pelaksananya itu lapor
ke safety dari safety lalu misalnya ke konstruksi atau ke safety baru
ke bagian-bagian lainnya”– (IP1)

Pernyataan wawancara dari informan pendukung bahwa alur atau

sistematika pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition

yaitu dari divisi safety bekerjasama dengan pelaksana yang melapor

kemudian kepada manajemen SHE dan ke bagian lainnya. Sedangkan

berdasarkan hasil wawancara kepada informan kunci dan informan

pendukung 2 menyatakan bahwa :

“Alur dan sistematikanya ini harus ada instruksi keras ya. Karena
saya bilang alurnya itu udah oke hanya mari mengajak semuanya
tim construction, karena yang melihat pekerjaan langsung itu tim
konstruksi bukan orang safety lalu mereka menganggapnya itu
tanggung jawab safety. Alur atau pelaksananya lah, konstruksilah
yang terlibat. Karena filosofinya orang safety kan hanya punya 4A
assist, analyses, audit, advise ya membantu memeriksa dan
menyelesaikan”– (IK)

“Hmm.. laporan ya? Gini kalau misalnya masalah pelaporan-


pelaporan itu saya bisa paparkan kalau orang Indonesia itu ya
paling alergi sama paperwork sama paperwork. Jadi mereka itu mau
apa-apa cepet jadi kalau dokumentasi itu ya alur dokumen itu entah
118

ngga aware, ngga tau apa pura-pura ngga tau. Dokumen pun ga
akan tercatat ngga akan rapih”– (IP2)

Pernyataan wawancara dari informan kunci bahwa alur atau

sistematika pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition

yaitu harus ada instruksi yang keras bahwa alurnya itu dari pelaksana

pihak konstruksi dulu yang terlibat, SHE hanya membantu memeriksa

dan menyelesaikan. Sedangkan pernyataan wawancara dari informan

pendukung 2 bahwa alur atau sistematika pelaporan near miss, unsafe

act dan unsafe condition yaitu bahwa petugas tidak peduli, tidak

mengetahui dan tidak akan mencatat dokumen apapun.

Jadi berdasarkan pernyataan-pernyataan wawancara dari

kesebelas informan tersebut yang sudah sejalan yaitu ada sembilan

informan diantaranya delapan informan utama dan satu informan

pendukung yang menyatakan alur atau sistematika pelaporan near

miss, unsafe act dan unsafe condition yaitu alurnya dari petugas yang

melihat bekerjasama dengan pelaksana konstruksi lalu di kumpulkan

ke admin untuk di input datanya setelah itu ke deputi dari deputi ke

manajer SHE lalu ke manajemen lainnya dan kembali ke divisi

konstruksi untuk ditindaklanjuti temuannya. Sedangkan yang belum

sejalan yaitu dua informan yaitu informan kunci dan informan

pendukung pernyataannya yaitu sesuai dengan penjelasan sebelumnya

terkait pernyataan informan kunci dan informan pendukung 2.


119

c. Komitmen Perusahaan atau Top Manajemen

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Komitmen dari top manajemen sangat mendukung divisi kita


selama ini. TWJO tingkat kepeduliannya lumayan tinggi, komit. Tapi
saya melihat lebih kepada ketakutan saja terkadang”– (IU1)

“Komitmen perusahaan sudah mendukung namun mungkin


komunikasinya yang masih kurang lancar”– (IU2)
“Semua pihak TWJO sudah berkomitmen terhadap keselamatan.
Karena suatu komitmen kebijakan tentang K3 itu dipicu oleh atau
dimulai dari pimpinannya sendiri berikut kepada para pekerja
dilokasi. Karena konsern kita cuma satu bagaimana mencapai hari-
hari kerja kita tanpa kecelakaan atau tanpa tetes darah dilokasi”–
(IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa komitmen perusahaan terhadap sistem pelaporan

sudah sangat mendukung, tingkat kepeduliannya lumayan tinggi,

berkomitmen terhadap keselamatan hanya komunikasinya yang masih

terhambat. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan SHE

engineer (informan utama 4 dan 5) yang menyatakan bahwa :

“Komitmen ya seperti itu sebenernya dukungan ada dukungan


dalam arti hanya omongan ya saya bisa bilang begitu…..sejauh ini
pelaporan gitu-gitu sih bagus didukung sama manajemen cuman
pelaksanaannya masih proses dalam arti tidak langsung di action”–
(IU4)

“Kalau manajemen komitmennya cukup bagus karena dari


punishment mereka dukung, apapun program kita di dukung. Kalau
misalnya safety management menemukan hal-hal yang tidak aman
paling engga ngelapor atau share di grup. Jadi bener-bener
manajemen itu komitmen sama apa program safety yang udah kita
lakuin”– (IU5)
120

Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa komitmen

perusahaan terhadap sistem pelaporan sudah ada dukungan yang

bagus untuk pelaporan, sudah berkomitmen terhadap program-

program SHE yang sudah berjalan. Hal ini juga sejalan dengan hasil

wawancara kepada safety officer (informan utama 6-8) yang

menyatakan bahwa :

“Kalau dari atas itu sih kalau buat saya ibarat kata belum terlalu
profesional lah dalam arti masih antara iya dan tidak” – (IU6)
“Komitmennya yang pasti ceritanya K3 dijunjung tinggi itu udah
pasti” – (IU7)
“Oh setau saja disini manajemen selalu mengutamakan K3 ya tidak
pernah bertentangan…..Ya mendukung full sekali kalo disini” –
(IU8)

Pernyataan wawancara dari safety officer (informan utama 6)

bahwa komitmen perusahaan terhadap sistem pelaporan masih belum

terlalu profesional tidak sejalan dengan pernyataan wawancara dari

safety officer (informan utama 7 dan 8) bahwa komitmen perusahaan

terhadap sistem pelaporan sudah dijunjung tinggi, mengutamakan dan

mendukung secara penuh K3. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara

kepada informan pendukung 1 yang menyatakan bahwa :

“Komitmennya baik, perusahaan sangat mendukung K3 disini. Dari


atasan sampe ke lapangan itu komitmennya sama” – (IP1)

Pernyataan wawancara informan pendukung 1 sejalan dengan

pernyataan wawancara safety officer (informan utama 7 dan 8) bahwa

komitmen perusahaan terhadap sistem pelaporan itu baik dan sangat

mendukung K3. Hal ini belum sejalan dengan pernyataan wawancara


121

dari informan kunci dan informan pendukung 2 yang menyatakan

bahwa :

“Mereka takut mereka nganggap bahwasanya itu menjadi leading


indicator atau key performance indeksnya sementara kalau leading
indicator untuk menentukan key performance itu semakin banyak
near miss itu semakin menentukan” – (IK)

“Sebatas ditegor, kalau ngga ditegor ya engga” – (IP2)

Pernyataan wawancara dari informan kunci dan informan

pendukung 2 belum sejalan dengan pernyataan-pernyataan

wawancara sebelumnya bahwa komitmen perusahaan terhadap sistem

pelaporan sebatas peneguran dan top manajemen masih takut karena

mengganggap pelaporan near miss sebagai leading indicator. Jadi

berdasarkan pernyataan-pernyataan wawancara dari kesebelas

informan tersebut yang sudah sejalan yaitu ada delapan informan

diantaranya tujuh informan dan satu informan pendukung yang

menyatakan bahwa komitmen sudah sangat baik dan mendukung

penuh divisi SHE. Sedangkan tiga informan diantaranya belum

sejalan yang menyatakan bahwa masih ada ketakutan manajemen

terhadap pelaporan dan masih sebatas teguran saja.

d. Partisipasi Petugas

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Kalau near miss laporan dasar aja yang dilakukan tapi ya gitu SO
ada yang lapor ada juga yang engga jadi partisipasi masih reaktif
sifatnya”– (IU1)
122

“SO itu masih perlu diarahkan, diingatkan dan dikasih tau karena
mereka kadang ngga inisiatif sama pekerjaannya. Kadang juga tetep
aja begitu udah dikasih tau dan sering diingatkan masih suka lupa
tapi sedikit-dikit mereka akan ngerti kok sama yang mereka
kerjain”– (IU2)

“Iya sebagai tolak ukur saja, SO itu belum tentu tau apa itu near
miss. Seorang manajer divisi belum tentu tau apa near miss, Karena
mereka tidak pada jurusan yang mereka kembangkan gituloh,
mereka pikir itu adalah hanya urusan K3. Terus terang kalau disini
sifatnya masih reaktif”– (IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa partisipasi dari petugas yang terlibat dalam

pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition yaitu ada yang

tidak dan ada yang melakukan pelaporan, tidak inisiatif, perlu

diarahkan, diberi tahu dan diingatkan. Hal ini sejalan dengan hasil

wawancara dengan SHE engineer (informan utama 4 dan 5) yang

menyatakan bahwa :

“Partisipasinya kalau yang di lapangan mereka sih konstribusinya


cukup bagus ya cuman itu pokonya kalau udah di lapangan tuh
yaudah gitu kalo untuk pencatatan itu biasanya pada males.Cuman
kayanya kalau untuk pelaporan ya gitu kita udah kasih formnya
kadang ga dikumpulin. Ada yang ngelaporin tapi banyaknya
engga”– (IU5)

“Reaktif, kalau ngga dikasih tau yaudah cuma liat-liat gitu, ngga
ada solusinya apa yang buat disini banyak jadi temuan yang unsafe
condition, unsafe action dan near miss di lapangan gitu. Harus
dikasih tau ini loh ini ada temuan ya, gitu. Harus dikasih tau baru
mereka kerjakan. Ya itu berarti yang harus perlu skill dalam arti
pelatihan-pelatihan”– (IU4)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa partisipasi dari

petugas yang terlibat dalam pelaporan near miss, unsafe act dan

unsafe condition yaitu kontribusinya cukup bagus ada yang

melaporkan namun banyak yang tidak melaporkan, malas dan reaktif.


123

Hal ini sejalan dengan hasil wawancara kepada safety officer

(informan utama 6-8) yang menyatakan bahwa :

“Kalau untuk mengumpulkan data partisipasi mereka kurang


tanggap, ngga proaktif dikasih tau baru dilaksanain”– (IU6)

”Partisipasinya ya mungkin rani bisa liat sendiri individualismenya


ya kan sebetulnya itu bisa diwujudkan dengan komunikasi.
Partisipasinya itu ya saya bilang tadi dengan komunikasi ya kan
udah pasti komunikasi”– (IU7)

“Untuk sejauh ini partisipasi dari SO ya itu sangat care sangat


perduli untuk mengenai near miss, unsafe act, unsafe conditon ya
untuk pelaporan data memang kita melaporkan data ya tiap hari
juga laporan harian, trus laporan bulanan, karena kita audit ya 3
bulan sekali”– (IU8)

Pernyataan wawancara dari safety officer (informan utama 6, dan

7) bahwa partisipasi dari petugas yang terlibat dalam pelaporan near

miss, unsafe act dan unsafe condition yaitu kurang tanggap dan tidak

proaktif dan kurang komunikasi namun hal ini belum sejalan dengan

pernyataan wawancara dari safety officer (informan utama 8) bahwa

partisipasi dari petugas yang terlibat dalam pelaporan near miss,

unsafe act dan unsafe condition yaitu sangat peduli dan setiap hari

melaporkan data. Berdasarkan hasil wawancara kepada informan

pendukung dan informan kunci menyatakan bahwa :

“Belum maksimal, belum. Karena menimbulkan kesadaran orang


tuh susah, karena pelaksana atau enjiner maupun kontruktor. Kalau
mereka sih oke, kalau orang safety nya ya instruksi saya diikutin”–
(IK)

“Kalau partisipasi SO ya SO tetap melaksanakan tugasnya


dilapangan Cuma terkadang SO masih sulit untuk bertindak
sendiri”– (IP1)

“SO itu kalau menurut saya masih banyak yang perlu di perbaiki.
SO itu bukan cuma mencatat tapi juga mencegah di lapangan”–
(IP2)
124

Pernyataan wawancara dari informan kunci dan informan

pendukung bahwa partisipasi dari petugas yang terlibat dalam

pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition yaitu belum

maksimal, sulit untuk bertindak sendiri dan banyak yang perlu

diperbaiki. Jadi berdasarkan pernyataan-pernyataan wawancara dari

kesebelas informan tersebut yang sudah sejalan yaitu ada sepuluh

informan diantaranya tujuh informan utama, satu informan kunci dan

dua informan pendukung yang menyatakan bahwa partisipasi dari

petugas yang terlibat dalam pelaporan near miss, unsafe act dan

unsafe condition yaitu belum maksimal dalam pelaporan banyak yang

tidak melaporkan, reaktif, perlu diarahkan, diberi tahu dan diingatkan.

Sedangkan yang belum sejalan yaitu informan utama 8 yang

menyatakan bahwa partisipasi yang terlibat dalam pelaporan near

miss, unsafe act dan unsafe condition sangatlah peduli dalam

melaporkan data setiap hari.

e. Amnesti (Reward and Punishment)

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“….punishment and reward ini sebenernya adalah wujud dari bukan


kejengkelan maaf tapi dari tanggung jawab kami kepada temen-
temen untuk keselamatan mereka…Dendanya beda-beda, tapi cukup
membuat jera, nanti bulan depan ada pemotongan” – (IU1)
“Jadi seperti sekarang ini kan lagi di dengung-dengungkan masalah
reward dan punishment. Dulunya memang ini tidak ada tanggal 15
april kemaren kita launching masalah reward dan
punishment….Untuk itu, untuk menertibkannya maka dibuatlah
125

reward & punishment, punishment berupa denda, denda yang di


terapkan apabila seseorang atau pekerja yang berada di TWJO baik
TWJO sendiri, subkontraktornya, daily worker-nya yang tidak
memakai APD akan ditindak tegas dan pemberian denda sesuai
dengan item pelanggaran yang dia dilakukan” – (IU3)

“Sanksi administrasi berupa teguran ran awalnya kemudian kalau


untuk sekarang ini sudah mulai berlaku denda sesuai jabatan
pekerjaannya yang nanti akan dipotong gaji pada saat gajian. Kalau
reward dari perusahaan sih ngga ada tapi biasanya saya inisiatif
dengan ngasih pin K3 gitu” – (IU2)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa kebijakan reward and punishment baru saat ini

diberlakukan oleh perusahaan, punishment yang berupa sanksi

teguran, denda-denda berupa pemotongan gaji sesuai dengan

tingkatan pekerjaan. Sedangkan pernyataan wawancara informan

utama 2 menyatakan reward nya belum ada atau biasanya ada karena

inisiatif dari divisi SHE sendiri. Hal ini sejalan dengan hasil

wawancara dengan SHE engineer (informan utama 4 dan 5) yang

mengumpulkan, mengolah dan membuat laporan yang menyatakan

bahwa :

“Belum ada sama sekali…. Dalam arti ini kan baru sebulan
punishment ini, bentuk punishment itu kan pelanggaran. Kalau
reward kan kita belum, dalam artikan 10 bulan ini kan belum ada
baru akhir-akhir ini juga punishment diberlakukan” – (IU4)

“Reward ngga ada. Kalau punishment baru mulai berjalan bulan


ini. Kalau sistem udah berjalan jadi siapa aja yang melihat keadaan
tidak aman ataupun lebih ke APD, bisa difoto, dicatet namanya dan
dilaporkan ke tim safety nanti tim safety yang melapor ke
manajemen bahwa pelanggaran tersebut ada dendanya. Dari
mandor-mandornya ya nanti ada pemotongan gaji dari punishment
mereka” – (IU5)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa kebijakan

reward and punishment baru sebulan ini atau akhir-akhir ini


126

diberlakukan oleh perusahaan, punishment yang pemotongan gaji

sesuai dengan tingkatan pekerjaan sedangkan untuk reward nya

belum ada. Hal ini juga sejalan dengan hasil wawancara kepada safety

officer (informan utama 6-8) yang menyatakan bahwa :

“Kalau untuk sanksi kita berbentuk administrasi ya. Cuma sanksi


administrasi ya. Kalau reward belum ada” – (IU6)

“Kita kalau untuk punishment yaitu memberikan dimana ada pekerja


melanggar otomatis kita memberikan sanksi pelanggaran ya
hukuman dimana kita sudah terapkan bahwa setiap orang kita
jumpai tidak memakai APD untuk data kita foto dan diakhir gajinya
kita potong opname dengan kata per itemnya ya misalnya helm 50
ribu, dua item ya 100 ribu, tiga item ya 150 ribu dan itupun sesuai
dari jabatannya.” – (IU8)

“Oh sanksi apabila kaitannya tentang tidak membuat laporan ya kan


saya baru ya disini kalau saya liat ya jadi saya belum tau” – (IU7)

Pernyataan wawancara dari safety officer (informan utama 7)

bahwa dia belum mengetahui kebijakan reward and punishment

dikarenakan baru bekerja di TWJO. Sedangkan pernyataan

wawancara dari safety officer (informan utama 6 dan 8) bahwa

kebijakan reward and punishment yang diberlakukan oleh

perusahaan, punishment yang berupa sanksi administrasi, sanksi

pelanggaran pemotongan gaji sesuai dengan tingkatan pekerjaan

apabila tidak menggunakan APD sedangkan untuk reward nya belum

ada dari perusahaan tapi secara pribadi dari SO. Sedangkan

berdasarkan hasil wawancara kepada informan kunci dan informan

pendukung yang menyatakan bahwa :

“Setau saya baru-baru ini diterapkan kebijakan, punishment yang


berupa denda pada setiap level pekerjaan di TWJO. Kalau reward
sih disini belum ada”– (IP1)
127

“Reward dan punishment sampe sekarang kita belum ada terima,


karena kemarin kita minta supaya bikin program yang harus di
submit dan di tanda tangani orang yang paling tinggi artinya PM,
safety manager untuk bisa di implementasi. Kalau saat ini yang saya
tagih adalah reward dan punishment, safety bisa berjalan kalau
begini”– (IK)

”Hmmm…kalau misalnya hasil diskusi aku juga ya hasil diskusi


misalnya reward dan punishment ke personil itu gampang diakalin.
Misalnya nanti si pengawas, eh lu peringatan pertama, peringatan
pertama, peringatan pertama lagi jadi peringatan pertama itu bisa
50 kali… Jadi sanksi teguran, cuma sanksi tegurannya itu ya gitu-
gitu aja. Disini masih berupa sanksi teguran individu. Apalagi
reward, gaji disini aja suka telat”– (IP2)

Pernyataan wawancara dari informan kunci dan informan

pendukung sejalan dengan pernyataan-pernyataan wawancara

sebelumnya bahwa kebijakan reward and punishment yang

diberlakukan oleh perusahaan baru ditandatangi kebijakannya oleh

PM perusahaan dan baru-baru ini diterapkan. Punishment yang berupa

sanksi teguran dan denda pada setiap level pekerjaan sedangkan untuk

reward di perusahaan belum ada.

Pernyataan-pernyataan wawancara dari kesebelas informan

tersebut sudah sejalan yang menyatakan bahwa kebijakan reward and

punishment yang diberlakukan oleh perusahaan baru diterapkan

berupa sanksi teguran, administrasi dan denda berupa pemotongan

gaji pada setiap level pekerjaan. Namun kebijakan reward and

punishment yang diberlakukan oleh perusahaan hanya berfokus untuk

mendisiplinkan para pekerja dalam pengunaan APD bukan untuk

kegiatan pelaporan. Berikut ini adalah dokumen perusahaan mengenai

kebijakan reward and punishment yaitu dokumen kebijakan terhadap

pelanggaran disiplin pemakaian alat pelindung diri (Gambar 5.12) :


128

Gambar 5.12 Kebijakan Terhadap Pelanggaran Disiplin Pemakaian Alat Pelindung


Diri

Jadi, komponen proses berupa amnesti perusahaan yang

berkaitan dengan sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition diketahui bahwa perusahaan tidak memiliki amnesti berupa

reward and punishment untuk sistem pelaporan. Perusahaan hanya

memiliki punishment terhadap pelanggaran kedisiplinan pemakaian

APD untuk para pekerja berupa sanksi teguran dan pemotongan gaji

serta perusahaan tidak memiliki reward. Hal ini sejalan pernyataan-

pernyataan wawancara dari informan.


129

f. Sumber dan Penyebab Kejadian Near Miss

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Kalau saya lebih banyak kepada perilaku orang itu sendiri dia
tidak memahami cara kerja yang benar karena tau sendirilah SDM
kita seperti ini rendah…”– (IU1)
“Kebanyakan ya unsafe act. Ya itu perilaku manusianya sendiri,
perilaku manusia ya pekerja seperti penggunaan APD ran”– (IU1)

“Sejauh ini adalah human behavior dimana human awareness atau


tingkat kepedulian orang tidak ada, kurang, trus tadi saya bilang itu
manusia. Semua kejadian ini berasal dari manusia ada manusia
yang suka lupa, ada manusia yang suka lalai, ada manusia yang
sangat pintar”– (IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa sumber dan kejadian near miss yaitu berasal dari

perilaku manusianya dimana tingkat kepeduliannya kurang atau tidak

ada. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan SHE engineer

(informan utama 4 dan 5) yang menyatakan bahwa :

“Orangnya sendiri dalam arti pekerjanya sendiri. Ya human error


bukan human orror ya tapi error”– (IU4)

“Habit. Unsafe act, perilaku dari si pekerjanya sendiri banyak


banget misalnya contoh APD, house keeping nya terus tata tertib
yang ngga dilakuin ya paling banyak itu APD”– (IU5)
Pernyataan wawancara dari SHE engineer sumber dan kejadian

near miss yaitu berasal dari kesalahan manusia dan perilaku

manusianya misalnya dalam permasalahan penggunaan APD dan

yang kedua adalah housekeeping. Hal ini sejalan dengan hasil


130

wawancara kepada safety officer (informan utama 6-8) yang

menyatakan bahwa :

“Sumbernya pertama dari prosedur, kedua kelalaian, ketiga


mengabaikan dari prosedur perusahaan”– (IU6)

“Paling banyak yang perilaku kalau menurut saya”– (IU7)

“Pertama ya itu unsafe act dan kedua unsafe condition. Ya human


error atau kesalahan manusianya itu sendiri berupa kadang dia”–
(IU8)

Pernyataan wawancara dari ketiga safety officer sumber dan

kejadian near miss yaitu berasal dari perilaku, kesalahan, kelalaian

manusianya dan yang kedua adalah kondisi tidak aman. Hal ini

sejalan dengan hasil wawancara informan kunci dan informan

pendukung yang menyatakan bahwa :

“Kelalaian. kelalaian manusia itu penyebab yg paling banyak”–


(IK)

„Menurut saya sih perilaku pekerjanya kedua yang lingkungan


kerjanya ”– (IP1)

“Paling banyak behavior setau saya yang kaya misalnya pekerja


ngga pake body harness dan segala macem itu”– (IP2)

Pernyataan wawancara dari informan kunci dan informan

pendukung sumber dan kejadian near miss yaitu berasal dari kelalaian

dan perilaku pekerja kedua lingkungan kerjanya. Jadi, pernyataan-

pernyataan wawancara dari kesebelas informan sudah sejalan bahwa

sumber dan kejadian near miss yaitu berasal dari kelalaian, kesalahan

dan perilaku manusia atau pekerjanya, serta yang kedua yaitu kondisi

tidak aman di lingkungan kerjanya.


131

Jadi di dalam tahap proses, pelaksanaan pelaporan berdasarkan

pernyataan wawancara yaitu terdapat sistem pelaporan yang baik

namun petugas yang terlibat dalam pelaporan belum maksimal,

banyak yang tidak melaporkan, reaktif, perlu diarahkan, diberi tahu

dan diingatkan. Dimana alur dari sistem pelaporan itu dimulai dari

petugas yang melihat bekerjasama dengan pelaksana konstruksi lalu

di kumpulkan ke admin untuk di input datanya setelah itu ke deputi

dari deputi ke manajer SHE lalu ke manajemen lainnya dan kembali

ke divisi konstruksi untuk ditindaklanjuti temuannya.

Temuan sumber dan kejadian near miss dalam pelaksanaannya

berasal dari kelalaian, kesalahan dan perilaku manusia atau

pekerjanya, serta yang kedua yaitu kondisi tidak aman di lingkungan

kerjanya. Sedangkan komitmen dari manajemen perusahaan

mendukung penuh divisi SHE namun terkadang masih juga terdapat

ketakutan manajemen dan untuk kebijakan reward and punishment

yang diberlakukan oleh perusahaan baru diterapkan berupa sanksi

teguran, administrasi dan denda berupa pemotongan gaji pada setiap

level pekerjaan.

2. Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan

Berikut ini adalah proses pemantauan pelaksanaan terhadap

sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi SHE

TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :


132

“Bentuk pemantauan setiap kejadian seperti apapun, PM memonitor


langsung Tanya kejadian ke saya. PM, konstruksi manajer dan saya
koordinasi membuat laporan dasar serta memantau laporan itu” –
(IU1)

“Kalau saya dipantau oleh SHE manager. Pemantauan dokumen


dan dilapangan juga dari konsultan sama owner kita MRT. Kalau
dari top manajemen kita ya PM” – (IU2)

“Ok. kalau pelaksanaannya, itu selalu dikontrol maka ya gunanya


ada divisi K3 itu gunanya mengontrol. Karena disini sifatnya masih
reaktif, pemantauan itu harus dilaksanakan setelah ada temuan dari
konsultan ataupun dari MRT dari inspeksi yang mereka lakukan.
Jadi tidak ada yang sifatnya proaktif. Karena untuk penanggulangan
near miss dituntut manajemen yang proaktif. Baik melapor juga
sistem pelaporannya” – (IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa pemantauan yang dilakukan yaitu berupa inspeksi

yang dilakukan oleh konsultan, MRT dan top manajemen yaitu PM

dan oleh divisi SHE. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan

SHE engineer (informan utama 4 dan 5) yang mengumpulkan,

mengolah dan membuat laporan yang menyatakan bahwa :

“Pemantauan pelaporan-pelaporannya itu gimana ya, contohnya ya


gitu sih pelaporannya langsung manajemen tapi tetep lapor. Mereka
ngeliat dalam arti mantaunya ngga terlalu fokus gitu sebenernya sih
karna kita pake konsultan, konsultan yang mantau jadi nanti mereka
yang di calling kaya top management-nya. Kok bisa ada
kecelakaan? kok bisa sih ada ini dan ini, gitu. Pokoknya top
management-nya yang langsung memantau gitu” – (IU4)

“Pemantauan dari manajemen paling ya dengan koordinasi kalau


meeting-meeting kecil biasanya sih kumpul-kumpul manajemen.
Kalau kaya konstruksi biasa minimal supervisor itu pasti ikut
toolbox mereka menjelaskan kegiatan mereka. Tim safety juga
menjelaskan pengawasan dan tindakan pencegahan kecelakaannya,
minimal ya tim safety dan konstruksi di lapangan karena kan yang
menjalankan di lapangan konstruksi” – (IU5)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa pemantauan

dilakukan oleh langsung oleh top manajemen, konsultan dan tim SHE.
133

Hal ini sejalan dengan hasil wawancara kepada safety officer

(informan utama 6-8) yang melaksanakan pekerjaan di lapangan yang

menyatakan bahwa :

“Menurut saya mereka kurang pro aktif ya dalam memantau.


Mereka mantaunya jarang-jarang sih selama ini dan semua terlibat
dalam memantau ya safety bisa pelaksana, engineer, medis sama
admin” – (IU6)

“Pemantauan ya biasanya kami dipantau langsung oleh atasan-


atasan atau manajemen baik yang di lapangan maupun kantor” –
(IU7)

“Pemantauannya secara langsung dari pihak konstruksi kita itu


kadang menegur langsung ke piimpinan kita, safety nya yang kurang
proaktif. Yang memantau ke kita itu manajer konstruksi langsung
baik di 101 maupun 102. Site manajer istilahnya dari supervisor
engineering konstruksi. Konsultan dari owner itu melihat nilainya
kan contohnya mereka melihat kalau kebersihan kita itu kurang
bagus jadi K3 nya yang menjadi sorotan utama. Materialnya
berserakan pasti yang disorot K3 nya. Kondisi yg tidak aman juga
gitu” – (IU8)

Pernyataan wawancara dari safety officer bahwa pemantauan

yang dilakukan oleh semua yang terlibat dalam pekerjaan, top

manajemen dan divisi konstruksi yang berada di lokasi kerja. Hal ini

sejalan dengan hasil wawancara kepada informan pendukung yang

menyatakan bahwa:

“Yang memantau itu kan orang tertinggi dikantorlah datang turun


ke lapangan melihat sejauh mana yang dilakukan oleh orang-orang
disini. Bagian-bagian manajer konstruksi memantau sejauh mana
sih yang dilakukan orang-orang ini, dilakukan ngga. Yang saya lihat
sih dilakukan biarpun kaya gini masih banyak yang kurangnya” –
(IP1)

Teguran dari JMCMC. Konsultan negor nih, tau-tau PM dapet email


dari pak konsultan dan pihak Jepang lainnya juga dapet email. Tau-
tau dari atas grasak grusuk ke SHE manager certify this, please
certify this certify that semuanya” – (IP2)
134

Pernyataan wawancara dari informan pendukung diatas bahwa

pemantauan yang dilakukan oleh manajemen tertinggi dan oleh

konsultan JMCMC. Hal ini belum sejalan dengan hasil wawancara

kepada informan kunci yang menyatakan bahwa :

“Ya itu dari level yang dari bawah kalau pelaporan. Karena level
dari bawah itu yang ininya dengan monitoring sistem dari top
maupun dari orang safety nya sendiri rasa care nya itu harus tinggi.
Kalau di TWJO belum, bentuk pemantauannya masih abu-abu belum
jelas” – (IK)

Pernyataan wawancara dari konsultan tersebut (informan kunci)

bahwa pemantauan yang dilakukan masih abu-abu belum jelas. Jadi,

berdasarkan pernyataan wawancara semua informan utama sudah

sejalan dengan pernyataan wawancara dari informan pendukung

bahwa bentuk pemantauan yang dilakukan adalah dengan melakukan

inspeksi saat turun ke lapangan oleh top manajemen, konsultan dan

owner. Namun belum sejalan dengan pernyataan wawancara dari

informan kunci yaitu konsultan JMCMC yang menyatakan bahwa

bentuk pemantauan perusahaan masih belum jelas.

Jadi di dalam tahap proses, bentuk pemantauan pelaksanaan

pelaporan berdasarkan pernyataan wawancara berupa inspeksi yang

dilakukan oleh top manajemen, konsultan dan owner. Hal ini

didukung berdasarkan hasil telaah dokumen sejalan bahwa

pemantauan dilakukan dengan melakukan inspeksi untuk mencari

temuan di lapangan. Setelah selesai melakukan site inspection,

konsultan akan mengirimkan hasil temuannya dalam berupa gambar

sebagai berikut (Gambar 5.13) :


135

Gambar 5.13 Foto Site Inspection dari JMCMC

3. Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan

Berikut ini adalah tahap proses berupa evaluasi pelaksanaan

terhadap sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi SHE

TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Jadi top manajemen kita membahasnya di rapat mingguan disitu


setiap hari selasa yang dibahas selain K3 juga kadang masalah
kecelakaan kerja apa sih penyebabnya, biasanya saya presentasi
dulu. Karena nanti saya harus menjelaskan di rapat bersama owner
TWJO kenapa bisa gitu”– (IU1)

“Evaluasi kita ya dari meeting kita yang seringkali membahas


temuan. Di meeting mingguan, bulanan di perusahaan maupun di
konsultan JMCMC”– (IU2)
136

“Evaluasi dilakukan pada divisi safety tidak ada dalam manajemen.


Evaluasi K3, di evaluasi di-review berdasarkan laporan bulanan”–
(IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa evaluasi yang dilakukan adalah mengadakan rapat

mingguan atau weekly meeting, rapat bulanan bersama owner maupun

konsultan JMCMC yang biasanya membahas temuan dan mereview

laporan bulanan divisi SHE. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara

dengan SHE engineer (informan utama 4 dan 5) yang mengumpulkan,

mengolah dan membuat laporan yang menyatakan bahwa :

“Evaluasinya ya? Ya susah sih di bilang buat evaluasi, disini kan


yang saya liat ya ada yang mikir dia punya istri ah kasian di
evaluasi. Orang-orangnya sering gitu, ya kan tapi di satu sisi kita di
kejar progres di satu sisi lagi kita dikejar atasan ya kan jadi ya
evaluasi kita step by step aja. Ya evaluasinya sih paling di audit ya
jadi kita harus di audit semuanya”– (IU4)

“Evaluasi yang dilakuin itu dari rapat bulanan ke konsultan. Kita


juga rapat mingguan dan kalau ada masalah yang urgent atau apa
biasanya kan internal atau eksternal meeting misalnya dengan
pekerjaannya subkon”– (IU5)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer bahwa evaluasi yang

dilakukan dirapat mingguan dan bulanan dengan baik dengan internal

perusahaan atau dengan konsultan serta diaudit. Hal ini sejalan

dengan hasil wawancara kepada safety officer (informan utama 6-8)

yang melaksanakan pekerjaan di lapangan yang menyatakan bahwa :

“Ya jadi untuk evaluasinya berbentuk weekly meeting atau meeting-


meeting nya SHE. Terkait tentang temuan untuk K3 dan sistem
pekerja dan ada solusi dari temuan” – (IU6)

“Biasanya kita ada weekly meeting yang membahas temuan-temuan


di lapangan” – (IU7)
137

“Evaluasi dari manajer safety itu memang seminggu sekali itu kita
evaluasi ya dari pak manajer, deputi 101 dan 102 dimana dari lokasi
kita yang istilahnya sangat riskan sangat kritikal mereka istilahnya
selalu mengkomplain dari kebersihan keselamatan dan mereka
selalu menyampaikan ke kita agar lebih memperbaiki. Kalaupun itu
memang istilahnya sangat kuranglah itu biasanya di lapangan
langsung ataupun juga kita dengan weekly meeting setiap jumat” –
(IU8)

Pernyataan wawancara dari safety officer bahwa evaluasi yang

dilakukan adalah membahas temuan di weekly meeting atau meeting

lainnya atau biasanya evaluasi bisa dilakukan saat dilapangan. Hal ini

juga sejalan dengan hasil wawancara kepada informan pendukung

yang menyatakan bahwa :

“Ya ada bukti pelaporan baru bisa di evaluasi. Jadi harus kita tulis
di record gitu. Jadi tuh setiap bulannya harus dilaporin ke kantor ya
atau dibahas di meeting mingguan dan bulanan” – (IP1)

“Bukan berat sih pertanyaannya sebenernya miris sih jawabannya.


Sebenernya gampang sih cuma bikin geleng-geleng kepala. Gimana
ya evaluasinya di meeting. Kita rapat dengan konsultaan itu pasti
ada dan rutin. Ada HSE monthly meeting, weekly meeting, HSE
meeting, HSE itu akan dibahas terus disitu cuman ya itu masalahnya
temuannya akan itu-itu lagi. Temuan itu bisa ditemukan 10 kali
dalam sebulan, misal pager. Pager itu lagi itu lagi yang dibahas” –
(IP2)

Pernyataan wawancara dari kedua informan pendukung bahwa

evaluasi dapat dilakukan pada meeting mingguan atau meeting

monthly meeting, HSE meeting,lainnya membahas temuan-temuan

dan biasanya temuan yang sama akan dibahas. Hal ini belum sejalan

dengan hasil wawancara dengan konsultan (informan kunci) yang

biasanya memantau dan mengevaluasi hasil temuan perusahaan yang

menyatakan bahwa :

“Evaluasinya sementara ini masih belum ada yang saya evaluasi


hanya sementara ini jelas mereka cenderung di cambuk dulu baru
138

jalan, masih manajemen paku harus di martil dulu baru jalan,


sementara manajemen safety itukan dari bawah keatas kalau dari
atas kebawah udah berbeda itu pengawasan. Sementara
pelaksanaan itu dari bawah ke atas kalau pengawasan dari atas ke
bawah” – (IK)

Pernyataan wawancara dari informan kunci diatas bahwa

evaluasi sementara masih belum ada namun saat ini upaya yang

dilakukan konsultan untuk evaluasi adalah harus menegur dulu

manajemen baru melaksanakan evaluasi. Jadi, untuk evaluasi

pernyataan wawancara dari informan utama dan informan pendukung

sudah sejalan mengenai evaluasi yang biasanya dilakukan adalah pada

rapat mingguan, rapat bulanan, rapat lain SHE dengan membahas

temuan-temuan dan didukung dengan hasil observasi yang dilakukan

hanya saja yang belum sejalan adalah pernyataan dari konsultan

bahwa sementara belum ada evaluasi namun upaya konsultan adalah

menegur kepada manajemen perusahaan untuk dievaluasi.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan bahwa evaluasi yang

sudah dilakukan oleh informan utama dan pendukung diperusahaan

saat ini adalah berupa rapat mingguan SHE dan rapat lainnya dengan

divisi konstruksi dan subkontraktor (Gambar 5.14) yaitu sebagai

berikut :
139

Gambar 5.14 Weekly meeting SHE with Construction and Subcontractor

Adapun terdapat hambatan di dalam sistem pelaporan,

berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi SHE

TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Hambatan ya kadang komunikasi dan kompetensi dari personil kita


yang masih kurang itu aja sehingga komunikasi ngga lancar atau
terhambat” – (IU1)

“Hambatan paling dari SO yang kompetensinya masih kurang dan


terkadang ngga mencatat atau melaporkan near miss, unsafe act dan
unsafe condition” – (IU2)

“Hambatan-hambatan kita adalah datang dari diri kita sendiri.


Maksudnya, hambatan itu terjadi karena tidak adanya pengertian
satu dengan yang lain terhadap visi dan misi K3 awal, tak ada. Jadi
kita bertindak sendiri, K3 lapor, K3 meeting dengan pak konsultan,
yaudah sampai disitu” – (IU3)

Pernyataan wawancara dari pihak manajemen divisi SHE diatas

yang bertugas mengawasi dan memantau berjalannya sistem di

perusahaan mengenai hambatan yang dirasakan dalam sistem


140

pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition yaitu berkaitan

dengan individunya, komunikasi dan kompetensi K3 nya dari petugas

yang melaksanakan sistem pelaporan. Hal ini sejalan dengan

pernyataan dari pihak konsultan (informan kunci) dan divisi lain yaitu

QA (informan pendukung 1) yang menyatakan bahwa :

“Kurangnya pengetahuan jadi susah untuk menerapkan, itu dari


eksekutor” – (IK)
“Kesulitannya ya karena kita kesibukannya masing-masing jadi kaya
gini kadang ngga ketemu antara satu orang dengan yang lain
sehingga komunikasi tidak lancar” – (IP1)

Selain itu hambatan yang dirasakan pihak manajemen divisi SHE

yang berkaitan dengan administrasi pelaporan yaitu SHE engineer

(informan utama 4 dan 5) yang menyatakan bahwa :

“Hambatannya banyak banget kita kan disitu ada pelaporan seperti


yang performance kita, seperti SMT, induction semua itu udah
tertera ya 20 item. Itu semua bolong dalam arti angot-angotan.
Mereka dikasih tanggung jawab tapi tidak dilaksanakan. Kan kita
udah sering kasih tau ini gimana sih TBM ngga ada, kita juga udah
kasih solusi dalam arti gini mempermudah” – (IU4)

“Ya paling hambatannya dari SO nya di lapangan tuh kadang ada


yang melapor kadang engga masih perlu sosialisasi dan penegasan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition” – (IU5)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer menyatakan bahwa

hambatannya adalah dari SO yang tidak melakukan pelaporan

sehingga pencatatannya menjadi tidak lengkap. Sedangkan

berdasarkan hasil wawancara dengan yang melaksanakan pelaporan di

lokasi kerja yaitu SO menyatakan bahwa hambatan yang dirasakan

yaitu sebagai berikut :

“Ya hambatan dari SO yang masih reakti ngga pro aktif”– (IU6)
141

“Bukan saya sok tahu dan gimana intinya hambatan yang pertama
bekal untuk SO dia mengerti akan job-nya dia dan dia mencintai
pekerjaannya. Kalau dia udah cinta sama pekerjaannya, prakteknya
dilapangan itu langsung bisa ditindak lanjuti sama dia” – (IU7)
“Hambatan yang sering kita rasakan ya itu kadang istilahnya kita
bertentangan dengan orang konstruksi dimana mereka punya
progres dimana saya sebagai orang safety tugasnya melarang ya.
Kita sering berargumentasi di lapangan sama pihak konstruksi” –
(IU8)

Pernyataan wawancara dari SO tersebut mengenai hambatan

yang mereka rasakan saat melaksanakan pelaporan di lokasi kerja ada

rekan kerja yang masih reaktif, tindak lanjutnya kurang, dan

pertentangan dengan divisi konstruksi yang melaksanakan pekerjaan.

Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengan informan pendukung

lainnya yaitu risk engineer bahwa hambatan yang dirasakan adalah

ketidakterbukaannya petugas yang melaksanakan pelaporan untuk di

evaluasi. Hal ini sejalan dengan pernyataan wawancara berikut :

“Hambatannya adalah untuk mendapatkan lesson learned itu


harus ada keterbukaan harus ada kemauan untuk di evaluasi, gitu.
Kalau misalnya kemauan untuk evaluasi itu ngga ada yang
namanya near miss itu ngga akan dilaporin ya dari personalnya”
– (IP2)

Jadi dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya hambatan yang

dirasakan oleh semua informan diantaranya adalah karena komunikasi

yang tidak lancar, kompetensi K3 yang kurang, ketidakdisiplinan dan

ketidakterbukaan petugas yang melaksanakan, rekan kerja yang masih

reaktif dan tindak lanjutnya kurang, serta pertentangan dengan divisi

yang melaksanakan pekerjaan.

Jadi di dalam tahap proses, evaluasi pelaksanaan pelaporan yang

dilakukan oleh perusahaan berdasarkan pernyataan wawancara adalah


142

dengan melakukan rapat mingguan, rapat bulanan, rapat lain SHE

untuk membahas temuan-temuan dan terdapat hambatan dari pihak

petugas dalam melaksanakan pelaporan yang dirasakan sejauh ini

oleh manajemen.

D. Hasil Gambaran Tahap Output dalam Sistem Pelaporan Nearmiss,


Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016

Hasil ini merupakan gambaran tahap output di dalam penelitian

untuk mengetahui sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition. Informasi yang diperoleh untuk mendapatkan komponen

output berdasarkan wawancara dengan enam informan yaitu lima

informan utama dan informan kunci dengan mengajukan sejumlah

pertanyaan dan telaah dokumen. Saat melakukan telaah dokumen

beberapa data dan informasi diperoleh dari hasil laporan yang ada di

perusahaan. Komponen output penelitian ini terdiri dari laporan near

miss, laporan unsafe act dan laporan unsafe condition.

1. Laporan Near miss

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) menyatakan bahwa :

“Near miss sejauh ini masih belum terlalu berjalan atau di laporkan
jadi masih banyak yang kurang datanya ngga lengkap”– (IU1)

“Masih belum berjalan padahal disini near miss banyak ditemukan”


– (IU2)

“Untuk laporan near miss masih sangat minim yang melaporkan,


baru bulan februari kemarin dimulai dan disosialisasikan kembali
pada semua SO. Laporan near miss belum ada sama sekali
pengkategoriaan cuman dalam scope leading indicator dan untuk
persentase belum” – (IU3)
143

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa laporan near miss sejauh ini belum berjalan, data

yang dilaporkan masih kurang lengkap dan sangat minim. Hal ini

sejalan dengan hasil wawancara dengan SHE engineer (informan

utama 4 dan 5) yang mengumpulkan, mengolah dan membuat laporan

near miss yang menyatakan bahwa :

“Laporannya sih bagus mungkin masih banyak yang harus revisi


agar bentuk pelaporan kita lebih detail, gitu. Ya dalam arti gini kita
kan belum tau nih kita pake apasih standar dokumennya gitu loh
bagaimana sih dokumennya. Tau sendiri data disini masih kurang”
– (IU4)

“Untuk bulan ini pencatatannya masih ya bolong-bolong lah kalo di


bilang masih belum semua SO bisa ngisi form itu, jadi seadanya saja
yang di laporin” – (IU5)

Pernyataan wawancara dari SHE engineer menyatakan bahwa

format dari laporan yang dimiliki perusahaan sudah baik namun

masih perlu revisi agar lebih detail tapi untuk data near miss nya

masih kurang karena data yang dilaporkan seadanya. Hal ini sejalan

dengan hasil wawancara kepada konsultan JMCMC (informan kunci)

yang menyatakan bahwa :

“Near miss belum rutin dilaporkan, near miss kebanyakan penyebab


utamanya gimana ya manusianya, manusia yang knowledge
pengetahuannya masih rendah sama nearmiss mereka filosofinya
belum sampe sana. Ada yg sudah tau tapi mereka menggangap itu
menambah pekerjaan bukan menambah nilai uang sebenrya mereka
menambah nilai uang” – (IK)

Pernyataan wawancara dari konsultan JMCMC mengenai laporan

near miss yaitu bahwa near miss masih belum rutin untuk dilaporkan

dan kebanyakan penyebab utamanya adalah perilaku manusianya


144

(unsafe act). Hal ini didukung dengan hasil laporan near miss TWJO

tahun 2016 pada dokumen HSE Monthly Report January-April 2016

(Gambar 5.15).

Gambar 5.15 Tabel Kejadian Near Miss pada HSE Monthly Report January-April
2016

Berdasarkan informasi diatas, data kejadian near miss yang

terdapat pada kategori Non-Lost Time Injuries pada dokumen HSE

Monthly Report January-April hanya tercatat sebanyak 1 kejadian

selama 4 bulan di tahun 2016. Near miss yang terjadi di TWJO faktor

penyebabnya adalah unsafe act. Berdasarkan record pelaporan SO

yang dikumpulkan, terdapat 8 kejadian near miss yang tercatat. Hal

ini membuktikan bahwa data near miss yang direkapitulasikan pada

laporan bulanan masih sangat minim. Berikut ini adalah bukti

lampiran data near miss yang dilaporkan SO (Gambar 5.16).


145

Gambar 5.16 Record Kejadian Near Miss pada HSE Monthly Report

Hasil output laporan near miss yang dilaporkan kepada

konsultan selama berjalan 4 bulan di tahun 2016 ini masih sangatlah

minim untuk rekapitulasinya tidak sesuai dengan record data near

miss yang terdapat di lapangan dan faktor penyebab dari kejadian

near miss yang dilaporkan pada perusahaan adalah diakibatkan oleh

unsafe act.

2. Laporan Unsafe Act

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) untuk hasil laporan unsafe act menyatakan bahwa :

“Penggunaan APD kalau unsafe act di pekerja” – (IU1)

“Unsafe act yang sering dijumpai di lapangan ya itu seperti


tindakan yang ini tuh kadang pekerja mencuri-curi dimana dia naik
ketinggian dia ngga pake body harness. Yang paling banyak ya
APD. Yang paling sangat riskan itu kalau kita sampe jatuh dari
ketinggian. Ya mereka kadang suka ini ya gitu, oh iya merokok
dilokasi kerja yang ibaratnya di bahan mudah terbakar memang
banyak itu” – (IU2)

“Untuk laporan unsafe act belum memiliki persentase sudah sering


ditemukan hanya berupa laporan langsung dan ditindak lanjut saat
itu juga namun tidak di record secara detail dan belum memiliki
146

form khusus untuk melakukan pencatatannya. Unsafe act yang


paling banyak terjadi adalah masalah penggunaan APD” – (IU3)
Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa laporan unsafe act sejauh ini belum memiliki

persentase atau rekapitulasi data selama ini datanya dilaporkan dan

ditindaklanjuti secara langsung, unsafe act yang terjadi di lokasi kerja

paling banyak adalah masalah penggunaan APD. Hal ini sejalan

dengan hasil wawancara dengan SHE engineer (informan utama 4 dan

5) yang mengumpulkan, mengolah dan membuat laporan unsafe act

yang menyatakan bahwa :

“Belum ada sama sekali. Safety patrol itu kan patrol doang, ada sih
itu tapi kan dalam arti kegiatan itu bukan unsafe act tapi unsafe
condition ya kan…..Sejauh yang saya temukan di lapangan memang
paling banyak APD untuk unsafe act-nya” – (IU4)

“Paling banyak permasalahan ngga pake APD. Hampir sebagian


besar itu pelanggarannya APD” – (IU5)

SHE engineer menyatakan bahwa unsafe act yang mereka

temukan di lapangan adalah mengenai permasalahan tidak

menggunakan dan pelanggaran terhadap APD, data yang dilaporkan

juga tidak dicatat karena form pelaporan untuk unsafe act belum ada,

hal ini sejalan dengan penjelasan sebelumnya mengenai komponen

tahap input yaitu material yang berupa bentuk form pelaporan yang

digunakan pada saat pelaporan.

Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengan konsultan

JMCMC (informan kunci), unsafe act yang paling banyak terjadi

adalah tidak menggunakan APD dan tidak mengikuti peraturan

perusahaan. Hal ini sejalan dengan pernyataan wawancara berikut :


147

“Unsafe act yang paling banyak itu tidak menggunakan dan tidak
ngikutin aturan yang ada. Kita udah jelas-jelas melekatkan banner
gunakan PPE tapi pasti ada yang ngga pake PPE ada yang bilang
itu ngga bebas ngalangin sementara itu kan menyelamatkan dia” –
(IK)

Jadi, berdasarkan hasil wawancara dengan keenam informan

yang terlibat untuk hasil laporan unsafe act tidak dapat diketahui

berapa jumlah atau persentasenya dikarenakan tidak terdapat form

pelaporan yang detail atau spesifik sehingga data, informasi dan

dokumentasi mengenai unsafe act tidak terdapat pada laporan bulanan

HSE hanya dilaporkan dan ditindaklanjuti secara langsung saat di

lapangan. Sedangkan unsafe act yang ditemukan terjadi diakibatkan

karena banyaknya pekerja yang tidak menggunakan APD dan tidak

megikuti aturan yang ada di perusahaan.

3. Laporan Unsafe Condition

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen divisi

SHE TWJO yaitu SHE manager, DSM CP 101 dan CP 102 (informan

utama 1-3) untuk hasil laporan unsafe condition menyatakan bahwa :

“Unsafe condition paling banyak adalah akses kerja, misalnya akses


kerja terhalang. Housekeeping itu bisa dijabarin macem-macem loh
licin, banjir. Paling banyak pokoknya housekeeping”– (IU1)

“Kondisi yang tidak aman diarea kerja pertama pipa scaffolding


ditaro diatas ketinggian, material tidak pada tempatnya” – (IU2)

“Sama halnya dengan laporan unsafe act, laporan unsafe condition


juga belum memiliki persentase hanya lampiran daily safety patrol
form dilampirkan pada laporan bulanan SHE. Unsafe condition
yang banyak terjadi adalah house keeping”– (IU3)

Pernyataan wawancara dari ketiga informan utama diatas

menyatakan bahwa laporan unsafe condition sejauh ini belum


148

memiliki persentase atau rekapitulasi data selama ini hanya berupa

lampiran daily safety patrol record yang disi (Gambar 5.16). Unsafe

condition yang terjadi di lokasi kerja diantaranya adalah masalah

penempatan material tidak pada tempatnya, akses kerja terhalang dan

housekeeping yang kurang baik. Hal ini sejalan dengan hasil

wawancara dengan SHE engineer (informan utama 4 dan 5) yang

mengumpulkan, mengolah dan membuat laporan unsafe condition

yang menyatakan bahwa :

“Selama ini sih ada SO yang lapor ada juga yang ngga ya
keseringan bolong-bolong. Tapi sejauh ini untuk unsafe condition
yang dilaporin kebanyakan permasalahan housekeeping kaitannya
sama tim 5R orang enviro” – (IU4)

“Kalau untuk unsafe condition itu paling banyak masalah


housekeeping di lingkungan kerja. Jadi penempatan material,
penempatan alat berat, akses kerja” – (IU5)

Pernyataan wawancara informan utama diatas menyatakan bahwa

permasalahan unsafe condition yang terjadi di lokasi kerja adalah

akses kerja, housekeeping, penempatan material dan alat berat. Hal ini

juga sejalan dengan pernyataan wawancara informan kunci yang

menyatakan bahwa :

“Unsafe condition itu yang belum selesai yang belum certified


yang belum komplit digunakannya alat misalnya scaffolding itu
belum green tag udah dikerjakan, nah kemudian working inside
excavation terjadi dalam galian itu akses nya ngga proper karena
tanah. Tanah kan bisa dibentuk pake kaki kan jadi dia jalan aja
tanpa memikirkan kalau terjadi sesuatu, evakuasinya gimana kalau
terjadi longsor gimana” – (IK)

Pernyataan-pernyataan wawancara menurut keenam informan

diatas didukung dengan hasil telaah laporan divisi SHE yaitu HSE

monthly report mengenai unsafe condition. Bukti pelaporan yang


149

terdapat di dalam laporan hanya berupa lampiran daily safety patrol

record (Gambar 5.17).

Gambar 5.17 Daily Safety Patrol Record pada HSE Monthly Report

Hasil output laporan unsafe condition menurut keenam informan,

unsafe condition yang terjadi yaitu berupa akses kerja, housekeeping,

penempatan material dan alat berat. Selain itu untuk jumlah atau

persentasenya pada laporan bulanan belum ada hanya berupa

lampiran sehingga data, informasi dan dokumentasi mengenai unsafe

condition tidak terdapat pada laporan bulanan HSE begitu pula

dengan persentase dan rekapitulasinya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tahap output sistem pelaporan

near miss, unsafe act dan unsafe condition perusahaan selama 4 bulan

yang dilaporkan kepada konsultan diantaranya adalah sebagai berikut:


150

1. Diketahui bahwa sumber dan kejadian near miss berasal dari

kelalaian, kesalahan dan perilaku manusia atau pekerjanya. Yang

kedua yaitu kondisi tidak aman di lingkungan kerjanya.

2. Hasil laporan near miss masih sangatlah minim dan faktor

penyebab dari kejadian near miss yang dilaporkan pada

perusahaan adalah diakibatkan oleh unsafe act.

3. Hasil laporan unsafe act tidak dapat diketahui berapa jumlah atau

persentasenya, hanya dilaporkan dan ditindaklanjuti secara

langsung saat di lapangan tanpa adanya bukti temuan yang di

record

4. Hasil laporan unsafe condition jumlah atau persentasenya pada

laporan bulanan juga belum ada hanya berupa lampiran.


151

Tabel 5.2 Input, Proses dan Output Sistem Pelaporan Near miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition

No. Unsur-unsur Sistem Deskripsi Input

1. Material a. Terdapat form pelaporan near miss dan unsafe condition namun belum
memiliki form pelaporan unsafe act
b. Kebijakan K3 perusahaan berisi tentang komitmen perusahaan terhadap
keselamatan dan kesehatan kerja pada pelaksanaan pekerjaan untuk
mencapai standar tertinggi dalam K3 konstruksi dan secara efektif
mengontrol kecelakaan kerja dan kualitas
c. Standar K3 perusahaan mengacu pada dokumen site safety plan yang
didukung dengan standar operasional prosedur dan form-form. Namun
belum memiliki standar operasional prosedur untuk pelaksanaan
pelaporan
d. Pemahaman petugas yang terlibat terkait definisi unsafe act dan unsafe
condition sudah sejalan. Namun pemahaman petugas yang terlibat terkait
definisi near miss belum sejalan.
e. Belum terdapat amnesti berupa reward dan punishment yang mengatur
pelaksanaan pelaporan
2. Sumber Daya Manusia a. Melibatkan semua manajemen mulai dari pucuk pimpinan tertinggi (top
manajemen) sampai terendah. Dalam pelaksanaan pelaporan yang banyak
berperan adalah divisi SHE sesuai tugas dan tanggung jawab masing-
masing jabatan
b. Komitmen top manajemen mendukung penuh divisi SHE dalam
pelaksanaan program-programnya
c. Partisipasi dari divisi SHE khususnya SO dalam pelaksanaan pelaporan.
Partisipasi SO belum maksimal dalam pelaporan
3. Metode Metode yang digunakan dalam melaksanakan pelaporan dengan cara
observasi dan kemudian membuat laporan
152

No. Unsur-unsur Sistem Deskripsi Proses

1. Pelaksanaan Pelaporan a. Direalisasikan melalui penerapan program-program K3


b. Alur pelaksanaan di lapangan yaitu dari petugas mengumpulkan ke
admin untuk di input dan kemudian di tindak lanjuti oleh manajemen-
manajemen puncak
2. Pemantauan Pelaporan Terdapat pemantauan di lapangan berupa inspeksi yang dilakukan oleh
pihak manajemen perusahaan, konsultan dan owner
3. Evaluasi Pelaporan Terdapat evaluasi yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan,
konsultan dan owner dengan membahas temuan-temuan dan hambatan
dari pelaksanaan pelaporan pada rapat-rapat perusahaan

No. Unsur-unsur Sistem Deskripsi Output

1. Laporan a. Sumber dan kejadian near miss berasal dari kelalaian manusia,
kesalahan dan perilaku pekerja
b. Record kejadian near miss yang dilaporkan selama tahun 2016
yaitu sebanyak 8 kejadian near miss yang tercatat di lapangan
namun hanya 1 kejadian near miss yang tercatat pada laporan
bulanan
c. Record mengenai unsafe act selama tahun 2016 tidak dapat
diketahui
d. Record mengenai unsafe condtion selama tahun 2016 tidak dapat
diketahui hanya terlampir
153

Bagan 5.3 Gambaran Sistem Pelaporan Near miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016

Tahap Input Tahap Proses Tahap Output

Material Pelaksanaan Pelaporan Laporan Near miss


1. Terdapat kebijakan K3 Direalisasikan melalui penerapan
Kejadian near miss yang
perusahaan yang sesuai program-program K3
dilaporkan yaitu sebanyak 8
2. Belum terdapat SOP yang
Alur pelaksanaan sudah berjalan kejadian namun hanya 1
mengatur sistem pelaporan
di lapangan namun pemahaman kejadian near miss
dan form pelaporan unsafe
petugas yang terlibat belum direkapitulasikan pada laporan
act
sejalan bulanan
3. Belum terdapat reward dan
punishment pada kegiatan
Laporan Unsafe Act
pelaporan Pemantauan Pelaporan
Pelaporan tidak tercatat dan
Pemantauan di lapangan berupa tidak terdokumentasikan hanya
Sumber Daya Manusia inspeksi yang dilakukan oleh ditindaklanjuti secara langsung
1. Semua manajemen terlibat pihak manajemen perusahaan, bila ada temuan
sesuai dengan tugas dan konsultan dan owner
tanggung jawabnya dalam Laporan Unsafe Condition
mengkomunikasikan Kondisi tempat kerja yang
Evaluasi Pelaporan
2. Partisipasi SO belum tercatat hanya dilampirkan
maksimal dalam pelaporan Evaluasi yang dilakukan oleh
pihak manajemen perusahaan,
Metode konsultan dan owner dengan
membahas temuan-temuan dan
Metode reporting and hambatan dari pelaksanaan
observation based-methods pelaporan pada rapat-rapat
perusahaan
BAB VI

PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan di dalam melakukan penelitian mengenai gambaran

sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition yaitu pada

saat melakukan wawancara. Salah satu informan utama tidak dapat

menyelesaikan wawancara karena pekerjaan yang dilakukannya sehingga

mengakibatkan keterbatasan waktu saat di lapangan. Beberapa pertanyaan

yang diajukan oleh peneliti tidak dapat terjawab dengan baik sehingga

mempengaruhi data wawancara atau hasil penelitian yang diperoleh

mengenai sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition

MRTJ TWJO tahun 2016.

B. Gambaran Sistem Pelaporan Near miss, Unsafe Act dan Unsafe


Condition MRTJ TWJO Tahun 2016 Secara Umum
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan

pendekatan sistem mengenai sistem pelaporan near miss, unsafe act dan

unsafe condition diperoleh bahwa pada tahap input terdapat komponen-

komponen yaitu berupa material, SDM dan metode. Berkaitan dengan

material yaitu kebijakan K3 perusahaan dan standar. Untuk komponen

tahap input berupa kebijakan sudah ada. Pada tahap proses yaitu

merupakan bagaimana pelaksanaan dari keempat komponen input tersebut

dan hasil akhirnya pada tahap output yaitu memperoleh laporan. Menurut

Kelly (2007) pencapaian sebuah manajemen dapat terlihat melalui

154
155

pendekatan sistem, bagaimana elemen-elemen didalamnya terhubung

dengan organisasi perusahaannya. Karena sistem dapat diartikan sebagai

suatu kumpulan dari unsur, komponen atau variabel-variabel yang

terorganisasi, terpadu, saling berinteraksi dan bergantung satu sama lain.

Sebuah sistem dibuat untuk menangani suatu yang berulang kali

atau secara rutin terjadi. Efektivitas dari suatu sistem harus merefleksikan

keseluruhan siklus input-proses-output. Input yang masuk dalam sistem

akan diproses dan diolah sehingga menghasilkan output (Kelly, 2007).

Terdapat kekurangan pada komponen tahap input sistem pelaporan near

miss, unsafe act dan unsafe condition TWJO yaitu standar. Dimana

perusahaan belum memiliki standar operasional prosedur untuk

pelaksanaan pelaporan dan form pelaporan pada komponen standar.

Komponen input tersebut kemudian diproses dan diolah dimana

mempengaruhi pelaksanaannya. Pada pelaksanaan standar, pemahaman

petugas yang terlibat terkait definisi near miss belum sejalan dan alur

pelaksanaan pelaporan sesuai dengan apa yang ada dilapangan saja belum

berdasarkan alur pelaporan pada SOP yang dibuat. Belum terdapat amnesti

berupa reward dan punishment yang mengatur pelaksanaan pelaporan.

Pada pelaksanaan amnesti pun belum dapat terlaksana. Selain itu

SO yang melaksanakan pelaporan belum maksimal. Semua tahap proses

diatas kemudian mempengaruhi output yang dihasilkan. Pada tahap output,

output yang dihasilkan yaitu bahwa record kejadian near miss yang

dilaporkan selama tahun 2016 yaitu hanya 1 kejadian near miss yang

tercatat pada laporan bulanan, record unsafe act selama tahun 2016 tidak
156

dapat diketahui dan record unsafe condtion selama tahun 2016 tidak dapat

diketahui hanya terlampir saja. Output yang diperoleh tersebut melalui

input yang diproses akan di analisa dan akan menjadi umpan balik bagi si

penerima dan dari umpan balik ini akan muncul segala macam

pertimbangan untuk input selanjutnya, dan siklus ini akan berlanjut dan

berkembang sesuai dengan permasalahan yang ada. Dari Output yang

dihasilkan memberikan umpan balik sebagai upaya untuk meningkatkan

kualitas input dan proses (Kelly, 2007). Berikut ini adalah pembahasan

mengenai masing-masing tahap input, proses dan output yang diperoleh

dalam sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition MRTJ

TWJO tahun 2016.

C. Gambaran Tahap Input dalam Sistem Pelaporan Near miss,


Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016
Berdasarkan hasil penelitian komponen tahap input di dalam sistem

pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition TWJO berupa

material, SDM dan metode. Dimana input merupakan sumber daya yang

diperlukan untuk pelaksanaan suatu kegiatan yang bertujuan dalam

mencapai tujuan sistem (Kelly, 2007). Didalam mengimplementasikan

sistem pelaporan near miss (NEMIR System) melaporkan semua kejadian

yang tidak diinginkan merupakan aspek yang paling penting dari setiap

program keselamatan. Semakin banyak near miss yang dilaporkan maka

semakin banyak kesempatan untuk menyelidiki, mengidentifikasi dan

memperbaiki akar penyebab sebelum kerugian serius terjadi. Dimana

informasi tentang sistem pelaporan near miss harus dibuat dan diketahui

oleh setiap orang (McKinnon, 2012). Untuk mencatat, melaporkan semua


157

kejadian yang tidak diinginkan dan memperoleh informasi, maka

dibutuhkan material didalam sistem pelaporan tersebut.

1. Material

Ketersediaan material sangat vital dalam suatu proses. Material

terdiri dari bahan setengah jadi dan bahan jadi. Material dan manusia

tidak dapat dipisahkan, tanpa material tidak akan tercapai hasil yang

diinginkan (Satrianegara, 2009). Oleh karena itu dalam proses

pelaksanaan kegiatan material dianggap sebagai salah satu sarana

manajemen untuk mencapai tujuan. Material perlu dikelola dengan benar

agar organisasi di perusahaan dapat berjalan dengan efisien (Purnastuti

and Mustikawati, 2007). Di dalam melakukan pelaporan TWJO

memiliki material berupa form pelaporan, kebijakan K3 dan standar

yang dimiliki perusahaan.

a. Form Pelaporan

Berdasarkan hasil telaah dokumen yang dilakukan, form

pelaporan yang dimiliki perusahaan berupa daily safety patrol form

dan near miss form. Daily safety patrol form biasa digunakan oleh

divisi SHE yaitu safety officer (SO) di dalam melakukan pencatatan

dari hasil patroli mereka setiap hari di lapangan yang berkaitan dengan

pelaporan unsafe condition. Form daily safety patrol terdiri dari judul,

tanggal/waktu, nomor, lokasi, checklist angka, keterangan dari angka

1-17 terkait kondisi alat maupun lingkungan kerja, PIC nya siapa, dan

diperiksa oleh siapa.


158

Near miss form digunakan untuk melaporkan kejadian near

miss, form pelaporannya terdiri dari judul, waktu/tanggal kejadian,

nama korban, sumber near miss, faktor penyebab (sumber, tipe,

kategori unsafe act atau unsafe condition), kronologis kejadian, tindak

lanjut dan status. Sedangkan untuk form pelaporan unsafe act

perusahaan tidak memiliki form tersendiri untuk melakukan record.

Rekaman atau catatan adalah bukti bahwa sistem tata kerja yang

tertuang dalam pedoman, prosedur dan instruksi kerja telah

dilaksanakan yang dapat berupa formulir yang telah diisi atau lembar

kerja yang ditandatangani (Tathagati, 2015).

Setiap proyek harus mengimplementasikan sistem pelaporan

dan pencatatan dengan menggunakan beberapa form dan format yang

telah dibentuk oleh perusahaan (OSHA, 2013). Dengan tujuan sebagai

bukti atau alat telusur berbagai tindakan yang dilakukan dalam

melaksanakan suatu sistem (Tathagati, 2015). Oleh karena itu

diperlukan form dan format pelaporan yang dibuat perusahaan untuk

melaksanakan pelaporan terhadap kejadian unsafe act. Karena menurut

Annishia (2011) perilaku tidak aman (unsafe act) memegang pengaruh

yang besar terhadap terjadinya kecelakaan kerja dibandingkan dengan

kondisi tidak aman (unsafe condition).

Sejauh ini form pelaporan near miss maupun unsafe condition

yang dimiliki TWJO di dalam proses penyusunannya dan kesesuaian

isinya melibatkan divisi yang berwenang yaitu divisi SHE dan divisi

QA. Dimulai dari tahapan penomoran, pengajuan ke konsultan dan


159

persetujuan dari konsultan terkait form pelaporannya. Dimana form

tersebut dapat didistribusikan dan diterapkan apabila telah

mendapatkan persetujuan dari pihak konsultan. Form pencacatan dan

pelaporan yang dimiliki terdiri dari selembar form dan sudah mendapat

persetujuan dari konsultan untuk digunakan. Karena lembar pelaporan

dalam jumlah yang banyak akan menyulitkan pelapor dalam mengisi form.

Form pelaporan dan pencatatan sebaiknya sederhana atau simple, mudah

dibawa dan selalu tersedia (McKinnon, 2012).

b. Kebijakan K3

Komponen material lain berdasarkan hasil penelitian berupa

kebijakan perusahaan salah satunya yaitu kebijakan K3. Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) harus dimulai

dari membuat suatu kebijakan yang dapat dilaksanakan dan

ditindaklanjuti oleh manajemen (McKinnon, 2012). Kebijakan K3

TWJO yaitu memiliki komitmen yang kuat untuk mendorong praktek

kerja yang aman pada Proyek Konstruksi Jakarta Mass Rapid Transit

CP 101 dan CP 102 sesuai dengan Undang-Undang keselamatan dan

kesehatan kerja serta aturan dan Peraturan Pemerintah Indonesia dan

otoritas terkait yang memiliki kewenangan hukum.

Dimana kebijakan (policy) merupakan pernyataan resmi

organisasi atau perusahaan yang merefleksikan tekad dan komitmen

yang dijadikan sebagai landasan utama dan acuan organisasi dalam

rangka pencapaian visi dan misi organisasi. Kebijakan yang dibuat

berisi tentang bagaimana komitmen perusahaan yang berkaitan untuk

melakukan pelaporan (McKinnon, 2012). Isi dari kebijakan juga


160

menyatakan tujuan organisasi dan mengapa organisasi melakukan hal

tersebut (Tathagati, 2015).

Di dalam kebijakan K3 TWJO menjelaskan bahwa perusahaan

bermaksud untuk memenuhi komitmen tersebut dengan memastikan

praktek dan prosedur kerja yang aman. Semua pegawai TWJO

diwajibkan untuk melakukan perlindungan terhadap K3 diri sendiri

dan pegawai lainnya. TWJO akan mendukung manajer dan supervisor

yang bertindak untuk kepentingan K3. Menurut McKinnon (2012)

kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja adalah komitmen bahwa

tim manajemen dan karyawan setuju dalam menciptakan keselamatan.

c. Standar Perusahaan

Komponen material lainnya berdasarkan hasil penelitian berupa

standar perusahaan. Berdasarkan hasil wawancara dan telaah

dokumen penelitian, standar yang dimiliki TWJO mengacu pada

dokumen site safety plan, standar yang terlampir hanya spesifik pada

standar operasional prosedur penggunaan alat dan jenis-jenis

pekerjaan belum spesifik terhadap standar pelaporan near miss,

unsafe act dan unsafe condition di konstruksi. Menurut McKinnon

(2012) di dalam NEMIR System terdapat dokumen-dokumen yang

mengacu pada standar sistem pelaporan near miss, dimana

mendeskripsikan tentang komitmen perusahaan untuk melaporkan

dan melakukan investigasi serta tanggung jawab apa saja yang ada.

TWJO belum memiliki standar prosedur yang mengatur sistem

pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition. Sedangkan


161

prosedur merupakan dokumen yang menjabarkan metode atau proses

yang digunakan untuk mengimplementasikan hal-hal yang telah

diterapkan dalam pedoman (Tathagati, 2015). Menurut Tathagati

(2015) dalam organisasi yang besar, prosedur harus dibuat untuk

membakukan proses atau aktivitas yang dilakukan sekaligus

memudahkan koordinasi antar unit kerja. Selain itu di dalam standar

prosedur NEMIR system yang digunakan perusahaan perlu adanya

penjelasan mengenai definisi near miss, unsafe act dan unsafe

condition. Definisi (definitions) diperlukan untuk mendefinisikan atau

menjelaskan istilah-istilah yang terdapat di dalam standar agar mudah

dipahami (McKinnon, 2012).

Berdasarkan hasil wawancara penelitian, pemahaman dari

informan yang sejalan menyatakan bahwa near miss adalah suatu

kejadian yang belum, nyaris atau hampir celaka. Namun pernyataan

wawancara dari satu informan menyatakan bahwa near miss berkaitan

dengan orang luka dan ada tahapannya tidak sesuai dengan definisi

near miss. Near miss adalah sebuah peristiwa yang hampir

menyebabkan cidera atau kerusakan (McKinnon, 2012). Dimana near

miss tidak mengakibatkan cidera, sakit atau kerusakan tetapi memiliki

potensi untuk mengakibatkan hal-hal tersebut. Oleh karena itu,

mengenali dan melaporkan near miss dapat meningkatkan

keselamatan pekerja dan meningkatkan budaya keselamatan

organisasi (NSC, 2013).


162

Berdasarkan hasil wawancara penelitian, pemahaman dari

informan mengenai unsafe act adalah suatu perilaku seseorang atau

tindakan-tindakan yang tidak selamat, memaksakan, diluar batas yang

dapat merugikan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan misalnya

tidak sesuai prosedur dan tidak menggunakan APD. Menurut Cooper

(2001), definisi perilaku tidak aman adalah tindakan yang dapat

menyebabkan terjadinya kecelakaan atau insiden (near miss). Perilaku

tidak aman tersebut diantaranya yaitu bekerja atau mengoperasikan

peralatan tanpa kewenangan, gagal dalam memperingatkan, gagal

dalam mengamankan, menggunakan APD secara tidak benar, dll

(Bird and Germain, 1990).

Sedangkan berdasarkan hasil wawancara penelitian, pemahaman

dari informan mengenai unsafe condition adalah kondisi yang

dipaksakan, tidak aman dan melanggar batasan misalnya kondisi

peralatan yang tidak sesuai, akses kerja terhalang, dsb. Menurut

definisinya unsafe condition (kondisi tidak aman) adalah desain

kondisi tempat kerja yang buruk dimana terdapat bahaya mekanik dan

fisik (Rausand dkk., 2011). Kondisi tidak aman diantaranya yaitu

barrier atau pengaman yang tidak memadai, alat pelindung diri

(APD) yang tidak memadai atau tidak layak, peralatan atau material

yang cacat, proses yang tersendat, housekeeping atau tata ruang yang

buruk, tempat kerja yang berantakan, dll (Bird and Germain, 1990).

Pemahaman unsafe act dan unsafe condition yang sejalan

diperlukan pada sistem pelaporan agar sesuai dalam mengidentifikasi


163

dan mengkategorikan hal tersebut. Karena manajemen organisasi

harus memahami dengan jelas definisi dari kejadian near miss, unsafe

act dan unsafe condition untuk mengembangkan standar tertulis

dalam melaporkan, memberikan pemahaman dan melatih para

pekerjanya terlibat di dalam sistem pelaporan (McKinnon, 2012).

2. Sumber Daya Manusia (SDM)

Sumber daya manusia menjadi unsur paling menentukan dalam

menjalankan perusahaan, karena memiliki akal, bakat, tenaga, keinginan,

pengetahuan, perasaan, dan kreatifitas untuk mencapai visi dan misi

perusahaan (Ilfani and Nugraheni, 2013). Peran SDM sangat penting

dalam upaya mencapai tujuan organisasi (Purnastuti and Mustikawati,

2007)

Menurut McKinnon (2012) NEMIR system tidak seharusnya

menjadi tanggung jawab penuh departemen safety, semua karyawan

semua tingkatan manajemen harus bersedia untuk berpartisipasi agar

sistem dapat berjalan dengan efektif. Berdasarkan hasil penelitian bahwa

berdasarkan hasil penelitian komponen input berupa sumber daya

manusia yang terdapat di perusahaan semuanya terlibat di dalam

melaksanakan sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition hanya saja yang banyak berperan adalah divisi SHE dengan

tugas dan tanggung jawab yang dimiliki masing-masing jabatan. Divisi

SHE khususnya SO saat di lokasi kerja harus mengingatkan, melaporkan

dan menindaklanjuti temuan yang ada baik itu near miss, unsafe act dan

unsafe condition.
164

Manajemen melibatkan sumber daya mencakup keseluruhan

manusia yang ada di dalam perusahaan yaitu mereka yang secara

keseluruhan terlibat dalam operasional perusahaan (Purnastuti and

Mustikawati, 2007). Oleh karena itu sumber daya manusia membuat

perencanaan dan melakukan proses untuk mencapai tujuan tersebut,

tanpa adanya sumber daya manusia maka tidak ada proses kerja maka

keterlibatannya dibutuhkan. Karena manusia merupakan sumber yang

penting, bervariasi dan terkadang menjadi masalah yang harus

digunakan oleh sebagian organisasi sampai tingkat yang lebih tinggi atau

lebih sedikit (Mathis and Jackson, 2006).

3. Metode

Metode yaitu cara untuk melaksanakan suatu pekerjaan dalam

rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan amat menentukan

kelancaran jalannya manajemen (Poerwanto, 2012). Untuk melakukan

kegiatan secara guna dan berhasil guna, manusia dihadapkan kepada

metode atau cara menjalankan pekerjaan tersebut sehingga cara yang

dilakukannya dapat menjadi sarana atau alat manajemen untuk mencapai

tujuan dengan efektif dan efisien (Purnastuti and Mustikawati, 2007).

Metode pelaporan yang dimiliki perusahaan berdasarkan hasil

wawancara penelitian dalam sistem pelaporan near miss, unsafe act, dan

unsafe condition adalah dengan cara melihat atau observasi, memantau,

mengkomunikasikan lalu membuat laporan. Dimana hal ini sesuai

dengan metode yang terdapat pada NEMIR system. Metode di dalam

mengumpulkan data near miss yaitu dengan reporting-based methods


165

dan observation-based methods. Reporting-based methods merupakan

metode yang melibatkan pegawai untuk melaporkan kejadian near miss

sebagai bagian dari pekerjaannya dalam mencegah terjadinya kecelakaan

di masa mendatang atau untuk melatih dirinya (McKinnon, 2012).

Sedangkan observation-based methods merupakan metode yang

melibatkan pegawai yang tidak hanya melaporkan namun melakukan

pengamatan terlebih dahulu untuk menyadari dan memahami tindakan

dan kondisi apa saja yang ada dalam mengurangi kecelakaan di tempat

kerja. (McKinnon, 2012). Program observasi atau pengamatan memiliki

tujuan untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan serta mengenali

near miss, perilaku dan kondisi berisiko ditempat kerja (OSHA, 2013).

Oleh karena itu TWJO sudah menggunakan metode untuk pelaporan dan

investigasi terhadap non injury (loss-producing) accident dan near

misses dapat mengidentifikasi penyebab langsung dan penyebab dasar

dari kejadian dan merekomendasikan pencegahan.

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam sistem pelaporan yang

dimiliki TWJO, komponen tahap input berupa material perusahaan

sudah memiliki kebijakan K3 yang sesuai. Untuk standar perusahaan

belum sepenuhnya sesuai karena masih terdapat pemahamanan terkait

definisi near miss yang berbeda. Untuk form pelaporan near miss dan

unsafe condition sudah sesuai karena telah memiliki form dan format

pelaporan yang dibuat perusahaan sedangkan untuk form pelaporan

unsafe act nya belum ada.


166

Pada komponen input berupa SDM sudah sesuai dimana

manajemen melibatkan semua tingkatan organisasi untuk terlibat di

dalam sistem pelaporan yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang

berbeda-beda. Sedangkan pada komponen input lainnya berupa metode

pelaporan TWJO sudah sesuai dengan reporting-based methods dan

observation-based method NEMIR system bahwa metode yang

digunakan adalah dengan observasi, memantau, mengkomunikasikan

lalu membuat laporan.

D. Gambaran Tahap Proses dalam Sistem Pelaporan Near miss,


Unsafe Act dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016

Berdasarkan hasil penelitian tahap proses di dalam sistem

pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition TWJO terdiri dari

pelaksanaan pelaporan, pemantauan pelaksanaan pelaporan dan evaluasi

pelaksanaan pelaporan. Dimana proses merupakan elemen dari sistem

yang bekerja membentuk suatu aliran kegiatan dan cara kegiatan yang

dikoordinasikan dan saling terkait (Baglieri dkk., 2014).

1. Pelaksanaan Pelaporan

Pelaksanaan adalah suatu tindakan dari perencanaan yang

disusun secara matang dan terperinci yang dapat diartikan secara

sederhana sebagai penerapan. Pelaksanaan merupakan aktivitas atau

usaha-usaha yang dilaksanakan untuk melaksanakan semua rencana

yang telah ditetapkan dengan dilengkapi kebutuhan dan alat-alat yang

diperlukan, siapa yang melaksanakannya, dimana pelaksanaannya dan

bagaimana cara melaksanakannya (Sumerti, 2016).


167

Menerapkan kebijakan dan standar-standar K3 secara efektif

mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang

diperlukan untuk mencapai tujuan dan sasaran K3. Dimana suatu tempat

kerja dalam menerapkannya harus dapat mengintergrasikan sistem

manajemen perusahaan yang sudah ada (Pangkey, 2012). Sebelumnya

terdapat proses perencanaan yang mengacu pada komponen input dalam

sistem perusahaan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan atau

penerapan melalui pengerahan semua sumber daya yang ada, melakukan

berbagai program K3 dan langkah pendukung untuk mencapai

keberhasilan (Riantiwi, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian proses pelaksanaan terdiri dari

sistem pelaporan perusahaan, alur atau sistematika pelaporan, komitmen

perusahaan atau top manajemen terhadap sistem pelaporan, partisipasi

petugas, reward & punishment, sumber dan penyebab kejadian near

miss, unsafe act dan unsafe condition. Semua mutu pelaksanaan

pekerjaan terletak pada mutu para pekerjanya yang meliputi kepandaian,

kelihaian dan disiplin serta ketekunan (Wiharto and Bunawas, 2013). Di

dalam pelaksanaan pelaporan TWJO, sistem pelaporan yang dimiliki

perusahaan sudah baik dan sesuai dengan kebijakan dan standar yang

ada namun petugas yang terlibat dalam pelaporan belum maksimal,

banyak yang tidak melaporkan, reaktif, perlu diarahkan, diberi tahu dan

diingatkan. Apabila petugas yang terlibat tidak melaporkan maka tidak

dapat memperoleh laporan.


168

Alur dari sistem pelaporan yang dimiliki TWJO itu dimulai dari

petugas yang melihat bekerjasama dengan pelaksana konstruksi lalu di

kumpulkan ke admin untuk di input datanya setelah itu ke deputi dari

deputi ke manajer SHE lalu ke manajemen lainnya dan kembali ke divisi

konstruksi untuk ditindaklanjuti temuannya. Hal tersebut berdampak

pada kinerja pelaksanaan pelaporan. Kinerja merupakan tingkat

keberhasilan dalam melaksanakan tugasnya dengan mencapai standar

hasil kerja, target, sasaran atau kriteria yang telah disepakati bersama.

Apabila perusahaan selalu memperhatikan faktor keselamatan dan

kesehatan kerja, maka kinerja karyawan akan meningkat (Ilfani and

Nugraheni, 2013). Penilaian terhadap kinerja yang dilakukan dapat

menjadi sumber informasi dan pengembangan di perusahaan (Mathis and

Jackson, 2006)

Pelaporan merupakan proses atau cara memberitahukan untuk

memperoleh laporan (KBBI, 2015). Selain itu, melaporkan semua kejadian

yang tidak diinginkan seperti near miss merupakan aspek yang paling penting

dari setiap program keselamatan. Semakin banyak near miss yang dilaporkan

maka semakin banyak kesempatan untuk menyelidiki, mengidentifikasi dan

memperbaiki akar penyebab sebelum kerugian serius terjadi (McKinnon,

2012). Karena sejauh ini temuan sumber dan kejadian near miss dalam

pelaksanaan pelaporan di TWJO berasal dari kelalaian, kesalahan dan

perilaku manusia atau pekerjanya, serta yang kedua yaitu kondisi tidak

aman di lingkungan kerjanya. Berkaitan dengan temuan tersebut untuk

dapat membuat laporan nantinya, ketekunan dari petugas yang terlibat

amat sangat diperlukan.


169

Sesuai dengan penjelasan diatas pelaksanaan pelaporan juga

membutuhkan komitmen dari pihak manajemen. Berdasarkan hasil

penelitian komitmen dari manajemen perusahaan mendukung penuh

divisi SHE namun terkadang masih juga terdapat ketakutan manajemen.

Komitmen perusahaan yang yakin dan menerima tujuan organisasi akan

tetap bersama organisasi tersebut untuk mengembangkan dalam

mencapai tujuan organisasinya (Mathis and Jackson, 2006).

Bentuk komitmen dari top manajemen TWJO yaitu salah satunya

dengan menerapkan kebijakan reward and punishment yang

diberlakukan oleh perusahaan baru diterapkan berupa sanksi teguran,

administrasi dan denda berupa pemotongan gaji pada setiap level

pekerjaan namun untuk reward nya belum ada pemberlakuannya dari

manajemen masih berupa inisiatif dari individu atau divisi SHE saja.

Menurut Nurmiyati (2011) sanksi atau punishment adalah hukuman yang

diberikan karena adanya pelanggaran terhadap aturan yang berlaku dapat

berupa teguran, surat peringatan, skorsing dan bahkan pemberhentian

hubungan kerja. Sedangkan reward dapat diartikan sebagai ganjaran,

hadiah, upah atas nilai-nilai usaha keterampilan, kompetensi dan

tanggung jawab terhadap organisasi.

Tujuan diberikannya sanksi adalah agar karyawan lebih giat dan

berusaha maksimal dalam melakukan pekerjaannya dan tidak

mengulangi hal yang serupa. Selain itu, pemberian reward atau

penghargaan kepada karyawan akan memberikan motivasi kepada

karyawan untuk lebih meningkatkan produktivitas dalam bekerja


170

(Nurmiyati, 2011) Menurut McKinnon (2012) jika manajemen

menginginkan sistem pelaporan dapat berjalan dan berkontribusi dengan

baik maka mekanisme pelaporan sebaiknya diberlakukan punishment

apabila tidak melaporkan dan begitu pula sebaliknya akan diberikan

reward bila dilaporkan dengan baik. Maka kedua hal tersebut diharapkan

dapat meningkatkan kinerja karyawan.

2. Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan

Sistem tata kerja harus di monitor secara berkala untuk

memastikan dan menjamin bahwa organisasi bergerak ke arah tujuannya

sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan (Tathagati, 2015). Fungsi

pengawasan dalam setiap organisasi sangat penting untuk menjamin

terselenggaranya pekerjaan dan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan

sebelumnya. Pengawasan dapat dianggap sebagai aktivitas untuk

menemukan, mengoreksi penyimpangan-penyimpangan penting dalam

hasil yang dicapai dari aktivitas-aktivitas yang direncanakan (Budiharto,

2008).

Berdasarkan hasil wawancara penelitian dalam tahap proses

bentuk pemantauan pelaksanaan pelaporan yang dilakukan oleh TWJO

yaitu berupa inspeksi. Inspeksi adalah kegiatan yang berupaya untuk

mendeteksi dini dan mengoreksi adanya potensi bahaya ditempat kerja.

Dimana inspeksi merupakan suatu cara terbaik untuk menemukan

masalah-masalah dan menilai risikonya sebelum kerugian atau

kecelakaan dan penyakit akibat kerja benar-benar terjadi. Karena, bukan

ditujukan untuk mencari kesalahan orang melainkan untuk menemukan


171

dan menentukan lokasi bahaya potensial yang dapat mengakibatkan

kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Sahab, 1997).

Pemantauan atau inspeksi di TWJO di lakukan oleh top

manajemen, konsultan dan owner. Hal ini sejalan dengan penelitian yang

menyatakan bahwa dalam memantau kinerja K3 pihak K3 dan

manajemen perusahaan melakukan inspeksi ke seluruh area perusahaan,

dimana inspeksi ini difokuskan pada penerapan SMK3 di perusahaan,

bahaya kecelakaan kerja baik dari pekerja, peralatan maupun lingkungan

(Pangkey, 2012). Karena semakin besar risiko maka akan semakin

banyak diperlukannya kontrol terhadap pekerjaan yang dilakukan

(Rijanto, 2010).

3. Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan

Evaluasi adalah salah satu tahap penting dalam manajemen yang

berguna untuk memberikan feed-back atas pelaksanaan suatu kegiatan

yang telah direncanakan agar pelaksanaan tersebut tetap berada pada

jalur yang telah ditetapkan. Karena itu, manajemen perlu melakukan

evaluasi secara rutin, berkesinambungan dan tegas (Umar, 2002). Untuk

meningkatkan kinerja perusahaan ke arah yang lebih baik, suatu sistem

harus dievaluasi berkala. Cara evaluasi yang efektif dilakukan oleh pihak

internal perusahaan atau pihak eksternal (Tathagati, 2015). Berdasarkan

hasil penelitian evaluasi biasanya dilakukan oleh TWJO yaitu pada rapat

mingguan, rapat bulanan, rapat lain SHE dengan membahas temuan-

temuan dan didukung dengan hasil observasi yang dilakukan baik

dengan pihak TWJO maupun eksternal.


172

Hasil evaluasi tersebut kemudian akan ditindaklanjuti oleh pihak-

pihak yang terlibat pada hasil temuan yang ditemukan. Hal ini sejalan

dengan pemantauan yang telah dilakukan, dimana tidak akan bermanfaat

apabila tidak disertai dengan tindak lanjut maupun perbaikan (Candra,

2009). Selain itu, dalam Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 juga

menyatakan bahwa tindakan perbaikan dari hasil laporan inspeksi

dipantau untuk menentukan efektifitasnya (Republik Indonesia, 2012).

Karena proses evaluasi ini berguna untuk mengetahui keberhasilan

penerapan SMK3, melakukan identifikasi tindakan perbaikan,

mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja SMK3 (Nujhani and

Juliantina, 2013).

Hambatan dapat terjadi didalam pelaksanaan suatu sistem. Di

dalam mengevaluasi perlu diperhatikan hambatan-hambatan yang

dirasakan oleh petugas yang terlibat di dalam pelaksanaan pelaporan

karena sistem tidak selalu berjalan dengan mulus. Hambatan yang

mungkin terjadi salah satunya adalah hambatan personal. Hambatan

personal adalah hambatan yang muncul dari anggota organisasi baik

secara personal maupun kelompok. Hambatan personal terjadi

dikarenakan individu tidak memiliki kemampuan untuk mengikuti

perubahan, tidak memiliki motivasi untuk berkembang atau berubah dan

adanya kepentingan atau keuntungan pribadi akibat kelemahan sistem

(Tathagati, 2015).

Berdasarkan hasil penelitian pada dasarnya hambatan yang

dirasakan diantaranya adalah karena komunikasi yang tidak lancar,


173

kompetensi K3 yang kurang, ketidakdisiplinan dan ketidakterbukaan

petugas yang melaksanakan, rekan kerja yang masih reaktif dan tindak

lanjutnya kurang, serta pertentangan dengan divisi yang melaksanakan

pekerjaan. Jadi, hambatan yang terjadi di TWJO merupakan hambatan

personal.

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam sistem pelaporan yang

dimiliki TWJO, proses pelaksanaan pelaporannya memiliki sistem yang

sudah baik sesuai dengan kebijakan dan standar K3 perusahaan dimana

alur pelaporannya dimulai dari petugas lalu di kumpulkan ke admin

setelah itu ke deputi lalu ke manajer SHE dan ke manajemen lainnya dan

kembali untuk ditindaklanjuti temuannya sesuai dengan lingkup

pekerjaannya.

Sejauh ini, pelaksanaan pelaporan mendapatkan dukungan penuh

dari top manajemen dengan kebijakan punishment yang diberlakukan

perusahaan namun belum diberlakukannya reward. Sedangkan untuk

proses pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pelaporan, perusahaan

telah melaksanakan hal tersebut dengan melakukan inspeksi dan

mengadakan pertemuan dengan pihak internal maupun eksternal untuk

memantau, mengevaluasi, menindaklanjuti berbagai hasil temuan yang

diperoleh dilapangan dan mengetahui hambatan didalam proses

pelaksanaan pelaporan TWJO yang sebagian besar merupakan hambatan

personal.
174

E. Gambaran Output dalam Sistem Pelaporan Near miss, Unsafe Act


dan Unsafe Condition MRTJ TWJO Tahun 2016

Output yaitu hasil dari input yang telah diproses oleh bagian

pengolah dan merupakan tujuan akhir sistem, output merupakan barang

dan jasa yang dihasilkan. Outcome dapat diperoleh berkaitan dengan

output yang dihasilkan untuk perkembangan dari waktu ke waktu secara

berkelanjutan (Baglieri dkk., 2014). Berdasarkan hasil penelitian, output di

dalam sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition TWJO

yaitu berupa laporan near miss, laporan unsafe act, laporan unsafe

condition dan juga laporan kecelakaan kerja.

Output yang dilaporkan kepada konsultan selama pelaporan yang

berjalan selama 4 bulan di tahun 2016, untuk hasil laporan near miss ini

masih sangatlah minim. dan faktor penyebab dari kejadian near miss yang

dilaporkan pada perusahaan adalah diakibatkan oleh unsafe act. Untuk

laporan unsafe act tidak dapat diketahui berapa jumlah atau persentasenya,

hanya dilaporkan dan ditindaklanjuti secara langsung saat di lapangan

tanpa adanya bukti temuan yang di record. Sedangkan untuk laporan

unsafe condition jumlah atau persentasenya pada laporan bulanan juga

belum ada hanya berupa lampiran.

Melaporkan semua kejadian yang tidak diinginkan seperti near

miss merupakan aspek yang paling penting dari setiap program

keselamatan (McKinnon, 2012). Dimana laporan adalah segala sesuatu

yang dilaporkan; berita. Laporan berkala merupakan laporan rutin yang

diberikan secara berkala (KBBI, 2015). Semakin banyak near miss yang

dilaporkan maka semakin banyak kesempatan untuk menyelidiki,


175

mengidentifikasi dan memperbaiki akar penyebab sebelum kerugian serius

terjadi. Berdasarkan perspektif safety management, tujuan spesifik di

dalam mengumpulkan dan menganalisis data near miss yaitu untuk

mengidentifikasi faktor kemungkinan atau elemen sistem yang dapat

menimbulkan kejadian near miss maupun sebagai prekursor kecelakaan

kerja di masa mendatang (McKinnon, 2012).

Menurut McKinnon (2012) semua kecelakaan dapat dicegah

merupakan prinsip dasar ilmu K3. Karena semua kecelakaan ada

penyebabnya maka penyebab tersebut dapat dihilangkan sehingga

kecelakaan tidak terjadi. Tujuan utama penerapan sistem manajemen K3

adalah untuk mengurangi atau mencegah kecelakaan yang mengakibatkan

cidera atau kerugian materi.

Di dalam accident/near miss incident ratio, high risk unsafe

condition atau unsafe act atau kombinasi dari keduanya yang dapat

menyebabkan terjadinya kerugian. Mengingat bahwa setiap kecelakaan

kerja yang dilaporkan, setiap cidera yang tercatat atau kerugian yang

terjadi terdapat banyak kejadian near miss yang tidak tercatat (McKinnon,

2012). Sejalan dengan hal tersebut identifikasi dan penilaian bahaya

dimana hasil dari identifikasi bahaya-bahaya dengan program yang

ditetapkan oleh perusahaan harus dilaporkan (OSHA, 2013).

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam sistem pelaporan yang

dimiliki TWJO, output yang dihasilkan belum sepenuhnya tercatat dan

terekam (di record) dengan baik dikarenakan masih terdapat kejadian-

kejadian yang tidak dilaporkan baik itu near miss, unsafe act maupun
176

unsafe condition dalam laporan. Karena kenyataannya semua kecelakaan

kerja yang terjadi faktor penyebabnya berasal dari kejadian near miss,

unsafe act maupun unsafe condition yang dapat diketahui, ditindaklanjuti

berdasarkan data-data yang diperoleh pada laporan yang tercatat dan

dilaporkan di perusahaan.
BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berikut ini adalah simpulan yang terdapat pada penelitian :

1. Tokyu-WIKA Joint Operation (TWJO) merupakan suatu bentuk

kerjasama antara dua perusahaan yaitu perusahaan Tokyu

Construction Co., Ltd dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk

yang bergerak di bidang konstruksi Mass Rapid Transit Jakarta

(MRTJ) tahap pertama yang bertanggung jawab pada pekerjaan

konstruksi surface section area CP 101 dan CP 102. Sistem

pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition yang terdapat

di proyek MRTJ TWJO belum terlaksana dengan baik sesuai

dengan NEMIR system, masih terdapat beberapa kekurangan pada

masing-masing tahapan sistem (input, proses, output).

2. Pada komponen tahap input sistem pelaporan near miss, unsafe act

dan unsafe condition TWJO, komponen input berupa material

belum memenuhi NEMIR system. Perusahaan sudah memiliki

kebijakan K3 yang sesuai namun belum memiliki standar prosedur

yang mengatur sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe

condition, pemahaman petugas yang berbeda terkait definisi near

miss dan belum adanya form pelaporan untuk unsafe act di dalam

melakukan pencatatan dan pelaporan untuk memperoleh record.

177
178

Sedangkan untuk SDM dan metode sudah sejalan dengan NEMIR

system.

3. Pada tahap proses sistem pelaporan near miss, unsafe act dan

unsafe condition TWJO, pelaksanaannya belum memenuhi NEMIR

system. Berkaitan dengan pelaksanaan pelaporan berupa amnesti,

perusahaan belum memiliki reward dan punishment untuk motivasi

pekerja yang diberlakukan untuk sistem pelaporan namun telah

mendapatkan dukungan penuh dari top manajemen. Sedangkan

untuk proses pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pelaporan

sudah sejalan dengan NEMIR system. Pada tahap proses-proses

pelaporan terdapat pula hambatan yang dirasakan oleh divisi SHE

yang sebagian besar merupakan hambatan personal dimana

seharusnya seluruh elemen yang ada diperusahaan terlibat di dalam

melakukan pelaporan.

4. Pada tahap output sistem pelaporan near miss, unsafe act dan

unsafe condition TWJO yang berupa laporan, belum memenuhi

NEMIR system. Output yang dihasilkan belum sepenuhnya tercatat

dan di record dengan baik. Masih terdapat kejadian near miss,

unsafe act maupun unsafe condition yang tidak tercatat dan tidak

dilaporkan dalam laporan akhir bulan SHE perusahaan.

B. Saran

Berikut ini adalah saran-saran untuk pihak yang terlibat di perusahaan

dalam penelitian ini :


179

1. Saran untuk Divisi SHE Perusahaan

a. Bekerjasama dengan divisi lain yang berwenang untuk

membuat standar prosedur yang mengatur sistem pelaporan

near miss, unsafe act dan unsafe condition agar dapat

membakukan proses atau aktivitas yang dilakukan untuk

memudahkan koordinasi antar unit kerja khususnya safety

officer yang terlibat di lapangan.

b. Melakukan sosialisasi dan pelatihan mengenai definisi near

miss, unsafe act dan unsafe condition agar semua SDM yang

terlibat memiliki satu pemahaman yang sejalan di dalam

mengidentifikasi dan menilai kejadian yang tidak sesuai atau

temuan-temuan yang ada di lapangan.

c. Membuatkan satu form pelaporan unsafe act yang sifatnya

sederhana, mudah dibawa dan mudah dipahami oleh petugas

yang terlibat agar memudahkan data yang diperoleh tercatat

dengan baik dan lengkap.

d. Memotivasi petugas yang melaksanakan pelaporan untuk

bersikap lebih proaktif dalam menindaklanjuti dan mencegah

kejadian-kejadian yang merugikan terjadi seperti halnya

kecelakaan kerja.

e. Memeriksa kembali kelengkapan data-data kejadian near miss,

unsafe act dan unsafe condition yang dilaporkan agar saat

dikumpulkan dan diinput data-data tersebut tidak kurang dan

dapat memberikan solusi terhadap temuan-temuan yang ada.


180

f. Meningkatkan pemantauan dan menjalin komunikasi yang

lebih baik lagi dengan divisi-divisi lain di perusahaan mengenai

sejauh mana progres pekerjaan yang telah dilaksanakan dan

hambatan yang dirasakan pada lokasi kerja proyek agar

informasi dan solusi yang diperoleh tepat dan sesuai.

2. Saran untuk Top Manajemen Perusahaan

a. Mengimbangi kebijakan punishment yang telah diberlakukan

perusahaan dengan menetapkan kebijakan reward atau

penghargaan bagi para pekerja yang patuh terhadap peraturan

dan melaksanakan K3 dengan baik dan benar untuk

meningkatkan motivasi dan meningkatkan kinerja pekerja.

b. Meningkatkan kesadaran, kepedulian dan komitmen dari

divisi-divisi lainnya terhadap peraturan-peraturan K3 yang

diterapkan perusahaan.

c. Meningkatkan pemantauan dan pengawasan terhadap

pekerjaan divisi SHE saat di lapangan atau lokasi kerja

proyek agar progres pekerjaan berjalan lancar tidak

terhambat.

d. Terus mendukung secara penuh kegiatan-kegiatan divisi K3

dan divisi lainnya agar tujuan yang diinginkan tercapai

dengan baik.

3. Saran untuk Konsultan Perusahaan

a. Memberikan solusi alternatif terhadap hambatan-hambatan

yang diperoleh oleh perusahaan.


181

b. Meningkatkan pemantauan dan pengawasan terhadap

perkembangan pekerjaan proyek.

c. Memeriksa dan mengevaluasi kembali laporan-laporan yang

diajukan oleh perusahaan.


DAFTAR PUSTAKA

Annishia, F. B. 2011. Analisis Perilaku Tidak Aman Pekerja Kontruksi PT PP


(Persero) di Proyek Pembangunan Tiffany Apartemen Jakarta Selatan
Tahun 2011. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Jakarta:
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Baglieri, D., Metallo, C. & Rossignoli, C. 2014. Information Systems,
Management, Organization and Control: Smart Practices and Effects,
Switzerland, Springer International Publishing.
Bird, F. E. & Germain, G. L. 1990. Practical Loss Control Leadership, USA,
Division of International Loss Control Institute.
BLS 2014. Revisions to The 2012 Census of Fatal Occupational Injuries (CFOI)
Counts. April 2014 ed. U.S: Bureau of Labour Statistics.
BLS 2015. Fatal Work Injuries in New York City - 2014, Census of Fatal
Occupational Injuries (CFOI) Counts. U.S: Bureau of Labour Statistics.
Budiharto, P. 2008. Analisis Kebijakan Pengawasan Melekat di Badan Pengawas
Provinsi Jawa Tengah.
Byrd, H. 2007. A Comparison of Three Well Known Behavior Based Safety
Programs : Dupont STOP Program, Safety Performance Solutions and
Behavioral Science Technology. Master of Science in Environmental,
Health & Safety Management Rochester Institute of Technology.
Candra, K. 2009. Pelaksanaan Inspeksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
sebagai Tindakan Pencegahan Kecelakaan Akibat Kerja di PT Coca-Cola
Bottling Indonesia Central Java. DIII Laporan Khusus, Universitas
Sebelas Maret.
Cooper, D. 2001. Improving Safety Culture : A Practical Guide, London, UK,
British Library.
Darvishi, E., Maleki, A., Dehestaniathar, S. & Ebrahemzadih, M. 2015. Effect of
STOP Technique on Safety Climate in a Construction Company. Journal
of Research in Health Sciences, 2.

182
DuPont, 2015. DuPont™ STOP® Behavior-Based Safety Training. Tersedia di
www.training.dupont.com/dupont-stop
Efendi, F. & Makhfudli 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan
Praktik dalam Keperawatan, Jakarta, Salemba Medika.
Finland, S. 2009. Case Studies. Safety Observation in Daily Use. Finland: EU-
OSHA - European Agency.
Fleming, M. & Lardner, R. 2001. Behaviour Modification Programmes
Establishing Best Practice, The Keil Centre Edinburgh, Health and Safety
Executive.
Green, L. & Kreuter, M. 2005. Health Program Planning : An Educational and
Ecological Approach, Michigan University, McGraw-Hill Education.
Hidayat, A. a. A. 2010. Metode Penelitian Kesehatan, Surabaya, Health Books
Publishing.
Ilfani, G. & Nugraheni, R. 2013. ANALISIS PENGARUH KESELAMATAN
DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN
(Studi pada PT. Apac Inti Corpora Bawen Jawa Tengah Unit Spinning 2).
Jurnal Studi Manajemen dan Organisasi, 10.
ILO 2013. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sarana untuk Produktivitas :
Pedoman Pelatihan untuk Manajer dan Pekerja MODUL LIMA.
ILO 2014. Hari Keselamatan dan Kesehatan se-Dunia 2014 : Mempromosikan
Budaya Keselamatan di Usaha Kecil Menengah di Indonesia. In: JULIA,
L. (ed.). Jakarta, Indonesia: ILO
Jamsostek 2010. Kecelakaan Kerja terbanyak di Sektor Konstruksi [Online].
Tersedia di : http://www.jamsostek.co.id/content/news.php?id=828.
Jamsostek 2010. Transparency for Trust Building. Laporan Tahunan 2010.
Jakarta: PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero).
Jamsostek 2013. Laporan Tahunan Sustainability Annual Report 2013. Jakarta:
PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero).
KBBI. 2015. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring Edisi III [Online].
Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud (Pusat
Bahasa). Tersedia: http://kbbi.web.id/ [diakses dari 16 Juni 2015].

183
Kelly, D. L. 2007. Applying Quality Management In Health Care, USA,
American College of Healthcare Executives.
Marchessault, L. 2013. The Power of an Effective Field Observation Program.
United States.
Mathis, R. L. & Jackson, J. H. 2006. Human Resource Management - Manajemen
Sumber Daya Manusia Jakarta, Salemba Empat.
Mckinnon, R. C. 2012. Safety Management Near Miss Identification, Recognition,
and Investigation, US, CRC Press.
Moleong, L. J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, PT Remaja
Rosdakarya.

NSC 2013. Near Miss Reporting Systems. National Safety Council.

Nujhani, J. & Juliantina, I. 2013. Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) pada Proyek Persiapan Lahan
Pusri IIB PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang. Teknik Sipil dan Lingkungan,
1.
Nurmiyati, E. 2011. Hubungan Pemberian Reward dan Punishment dengan
Kinerja Karyawan pada BPRS Harta Insan Karimah. Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
OSHA 2012. Injury and Illness Prevention Programs. USA.

OSHA 2013. Injury and Illness Prevention Programs. USA: OSHA U.S
Department of Labor.
OSHA 2016. Construction Definition. Tersedia di
https://www.osha.gov/doc/index.html
Pangkey, F. 2012. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (SMK3) pada Proyek Konstruksi di Indonesia (Studi Kasus :
Pembangunan Jembatan Dr. Ir Soekarno - Manado). Media Engineering,
2.
Pearlman, L. 2013. Safety Observation Programs : How to Drive Insight from
Observations Health and Safety.

184
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2014 Tentang Pedoman
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi
Bidang Pekerjaan Umum.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 tahun 2012 tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Poerwanto, H. 2012. Manajemen Kualitas: Diagram Fishbone. Available:
https://sites.google.com/site/kelolakualitas/Diagram-Fishbone [Accessed 5
Maret 2015].
Putri, T. L. K., Santoso, P. B. & Choiri, M. 2013. Perancangan Sistem Informasi
Manajemen Health & Safety Environment dengan Menggunakan
Microsoft Excel 2007 dan Makro VBA (Studi Kasus : PT Beiersdorf
Indonesia Malang). Malang, Indonesia: Universitas Brawijaya.
Purnastuti, L. & Mustikawati, R. I. 2007. Ekonomi SMA/MA Kelas XII (Diknas),
Jakarta, Grasindo.
Rausand, M., Wiley, J. & Sons 2011. Accident Models. Risk Assessment: Theory,
Methods, and Applications, First Edition. First Edition ed.: John Wiley &
Sons, Inc.
Republik Indonesia 2005. UU No. 1 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
HIMPUNAN PERATURAN PERUNDANGAN KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA (K3) RI Ver. 01. Jakarta.
Republik Indonesia 2012. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 50 tahun
2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.
Riantiwi, A. 2012. Hubungan Pelaksanaan Program K3 dengan Produktivitas
Kerja Karyawan pada Divisi Operasional PT Surveyor Indonesia. Depok,
Indonesia: Universitas Indonesia.
Rijanto, B. B. 2010. Pedoman Praktis Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan
Lingkungan (K3L) Jakarta, Mitra Wacana Media.
Sahab, S. 1997. Teknik Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Jakarta,
PT Bina Sumber Daya Manusia.
Sarwono, S. W. 2010. Pengantar Psikologi Umum, Jakarta, Rajawali Pers.

185
Satrianegara, M. F. 2009. Buku Ajar Organisasi Dan Manajemen Pelayanan
Kesehatan Serta Kebidanan, Jakarta, Salemba Medika.
Stranks, J. 2007. Human Factors and Behavioural Safety, Burlington, UK,
Elsevier Ltd.
Sumerti, N. M. A. 2016. Pelaksanaan Kebijakan Program Fasilitas Likuiditas
Pembiayaan Perumahan (FLPP) di Kota Bandar Lampung. Lampung:
Universitas Lampung.
Suryatno, Mifbakhuddin & Nurullita, U. 2015. Evaluasi Implementasi Kartu
Observasi Bahaya. Muhammadiyah Semarang.
Tathagati, A. 2015. Step by Step Membuat SOP (Standard Operating Procedure),
Yogyakarta, Efata Publishing.

Titas, D. 2013. Typical Solutions for the Construction Site Employees’ Safety.
Procedia Engineering, 57, 238-243.

TWJO 2016. HSE Monthly Report January-April 2016. Jakarta : Tokyu-WIKA


Joint Operation.

TWJO 2015. Laporan Kecelakaan Kerja, Near miss dan Penyakit Akibat Kerja
(PAK) bulan Januari-Desember 2015. Jakarta : Tokyu-WIKA Joint
Operation.

Umar, H. 2002. Evaluasi Kinerja Perusahaan, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.


Wiharto, K. & Bunawas 2013. Dampak Segera Kecelakaan Reaktor Chernobyl
dan Hikmahnya yang Diperoleh. Buletin ALARA, 7.

WIKA 2015. Data Statistik Kinerja Keselamatan & Laporan Kecelakaan Kerja
dan Nearmiss. Jakarta: PT Wijaya Karya Persero (Tbk).

186
LAMPIRAN
Lampiran 1

SURAT PERMOHONAN MENJADI INFORMAN

Yth.

Informan Penelitian

Di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Departemen HSE Tokyu-WIKA Joint
Operation, Jakarta Selatan

Dengan Hormat,

Yang bertanda tangan di bawah ini adalah Mahasiswi Peminatan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta :

Nama : Nurani Fitri

NIM : 1111101000055

Dengan maksud untuk melaksanakan penelitian sebagai persyaratan untuk

memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan judul penelitian “Gambaran Sistem

Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek Mass Rapid Transit

Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016”.

Informasi yang diperoleh dalam penelitian ini akan dijaga semua kerahasiaan dan

tidak menimbulkan akibat yang merugikan bagi informan. Partisipasi dalam penelitian ini

sifatnya bebas dan tanpa adanya paksaan. Apabila anda menyetujui, maka saya mohon

kesediaannya untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi informan dan bersedia

untuk diwawancarai. Atas perhatian dan kesediaan waktu bapak/ibu menjadi informan saya

mengucapkan terima kasih.

Peneliti (Nurani Fitri)


Lampiran 2

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI INFORMAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bersedia untuk menjadi informan

penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswi Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bernama Nurani Fitri sebagai persyaratan untuk

memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan judul penelitian “Gambaran Sistem

Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek Mass Rapid Transit

Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016”. Saya mengerti bahwa data diri

dan informasi yang diperoleh dalam penelitian ini akan dijaga kerahasiaannya oleh peneliti

dan tidak menimbulkan akibat yang merugikan bagi saya. Demikianlah dengan sukarela dan

tanpa adanya paksaan dari siapapun saya bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini.

Jakarta, 2016
Lampiran 3

PEDOMAN WAWANCARA I

Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek

Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016

No. :

Hari/Tanggal :

A. Pendahuluan

1) Memperkenalkan diri

2) Menjelaskan tujuan wawancara dan menjelaskan bahwa kerahasiaan informasi terjaga

3) Meminta kesediaan informan untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi informan

penelitian

4) Melakukan kontrak wawancara dengan informan untuk menentukan durasi wawancara

5) Setelah informan wawancara menandatangani lembar persetujuan menjadi informan

kemudian akan diwawancarai oleh peneliti dengan merekam isi pembicaraan

B. Identitas Informan

1) Nama/Inisial Informan

2) Jabatan Informan : a. SHE Manager (IU1) b. Deputy Safety Manager (IU2,IU3) (berikan

tanda)

3) No. Telp

C. Pertanyaan Wawancara

Sumber daya untuk melakukan pelaporan (Tahap Input)


Material
1. Bagaimana proses penyusunan form yang digunakan dalam melakukan pelaporan near
miss, unsafe act dan unsafe condition ?
2. Bagaimana bentuk form yang digunakan dalam melakukan pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition ?
3. Bagaimana menentukan kesesuaian form digunakan dalam melakukan proses pelaporan
near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
4. Bagaimana kebijakan K3 yang dibuat perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe
act dan unsafe condition ? Jelaskan.
5. Bagaimana standar yang digunakan perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe
act dan unsafe condition ? Jelaskan.
6. Bagaimana pemahaman yang anda ketahui tentang near miss di proyek MRTJ TWJO?
7. Bagaimana pemahaman yang anda ketahui tentang unsafe act dan unsafe condition di
proyek MRTJ TWJO?
SDM
8. Siapa saja menurut anda diperusahaan yang terlibat di dalam sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
9. Bagaimana menurut anda jumlah sumber daya manusia yang terlibat dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
10. Bagaimana menurut anda tugas dan tanggung jawab yang melakukan pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ?
11. Bagaimana menurut anda persyaratan dan kompetensi yang dibutuhkan dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
Metode
12. Bagaimana menurut anda metode pelaporan yang digunakan oleh perusahaan dalam
melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?

Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan (Tahap Proses)


Pelaksanaan Pelaporan
13. Bagaimana menurut anda sistem pelaporan near miss di proyek MRTJ TWJO yang telah
dilakukan saat ini ?
14. Bagaimana alur atau sistematika pelaksanaan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe
condition di proyek MRTJ TWJO ?
15. Bagaimana menurut anda komitmen perusahaan atau komitmen top management
perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
16. Bagaimana menurut anda partisipasi petugas yang terlibat di dalam mengumpulkan data,
informasi dan melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek
MRTJ TWJO ? Jelaskan.
17. Bagaimana bentuk reward dan punishment yang diberlakukan oleh pihak perusahaan terkait
sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
18. Bagaimana menurut anda yang menjadi penyebab dan sumber kejadian near miss di proyek
MRTJ TWJO sejauh ini ?
Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan
19. Bagaimana bentuk pemantauan manajemen atau perusahaan dan siapa saja yang terlibat di
dalam melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pelaporan near miss, unsafe act dan
unsafe condition di proyek MRTJ TWJO ? Jelaskan.
Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan
20. Bagaimana bentuk evaluasi yang dilakukan TWJO terkait sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
21. Bagaimana menurut anda hambatan yang dirasakan oleh departemen dari proses awal
perencanaan hingga memperoleh hasil dari sistem pelaporan near miss, pelaporan unsafe
act dan unsafe condition di proyek MRTJ TWJO ? Jelaskan.

Laporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition (Tahap Output)
22. Bagaimana laporan near miss di proyek MRTJ TWJO saat ini ?
23. Bagaimana laporan unsafe act di proyek MRTJ TWJO saat ini ?
24. Bagaimana laporan unsafe condition di proyek MRTJ TWJO saat ini ?
25. Bagaimana laporan kecelakaan kerja proyek MRTJ TWJO ?
PEDOMAN WAWANCARA I

Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek

Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016

No. :

Hari/Tanggal :

A. Identitas Informan

1) Nama/Inisial Informan

2) Jabatan Informan : a. Safety Engineer (IU4) b. Environmental Engineer (IU5) (berikan

tanda)

3) No. Telp

B. Pertanyaan Wawancara

Sumber daya untuk melakukan pelaporan (Tahap Input)


Material
1. Bagaimana proses penyusunan form yang digunakan dalam melakukan pelaporan near
miss, unsafe act dan unsafe condition ?
2. Bagaimana bentuk form yang digunakan dalam melakukan pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition ?
3. Bagaimana menentukan kesesuaian form digunakan dalam melakukan proses pelaporan
near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
4. Bagaimana kebijakan K3 yang dibuat perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe
act dan unsafe condition ? Jelaskan.
5. Bagaimana standar yang digunakan perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe
act dan unsafe condition ? Jelaskan.
6. Bagaimana pemahaman yang anda ketahui tentang near miss di proyek MRTJ TWJO?
7. Bagaimana pemahaman yang anda ketahui tentang unsafe act dan unsafe condition di
proyek MRTJ TWJO?
SDM
8. Siapa saja menurut anda diperusahaan yang terlibat di dalam sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
9. Bagaimana menurut anda jumlah sumber daya manusia yang terlibat dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
10. Bagaimana menurut anda tugas dan tanggung jawab yang melakukan pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ?
11. Bagaimana menurut anda persyaratan dan kompetensi yang dibutuhkan dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
Metode
12. Bagaimana menurut anda metode pelaporan yang digunakan oleh perusahaan dalam
melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?

Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan (Tahap Proses)


Pelaksanaan Pelaporan
13. Bagaimana menurut anda sistem pelaporan near miss di proyek MRTJ TWJO yang telah
dilakukan saat ini ?
14. Bagaimana alur atau sistematika pelaksanaan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe
condition di proyek MRTJ TWJO ?
15. Bagaimana menurut anda komitmen perusahaan atau komitmen top management
perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
16. Bagaimana menurut anda partisipasi petugas yang terlibat di dalam mengumpulkan data,
informasi dan melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek
MRTJ TWJO ? Jelaskan.
17. Bagaimana bentuk reward dan punishment yang diberlakukan oleh pihak perusahaan terkait
sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
18. Bagaimana menurut anda yang menjadi penyebab dan sumber kejadian near miss di proyek
MRTJ TWJO sejauh ini ?
Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan
19. Bagaimana bentuk pemantauan manajemen atau perusahaan dan siapa saja yang terlibat di
dalam melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pelaporan near miss, unsafe act dan
unsafe condition di proyek MRTJ TWJO ? Jelaskan.
Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan
20. Bagaimana bentuk evaluasi yang dilakukan TWJO terkait sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
21. Bagaimana menurut anda hambatan yang dirasakan oleh departemen dari proses awal
perencanaan hingga memperoleh hasil dari sistem pelaporan near miss, pelaporan unsafe
act dan unsafe condition di proyek MRTJ TWJO ? Jelaskan.
Laporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition (Tahap Output)
22. Bagaimana laporan near miss di proyek MRTJ TWJO saat ini ?
23. Bagaimana laporan unsafe act di proyek MRTJ TWJO saat ini ?
24. Bagaimana laporan unsafe condition di proyek MRTJ TWJO saat ini ?
25. Bagaimana laporan kecelakaan kerja proyek MRTJ TWJO ?

PEDOMAN WAWANCARA I

Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek

Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016

No. :

Hari/Tanggal :

A. Identitas Informan

1) Nama/Inisial Informan :

2) Jabatan Informan : Safety Officer (IU 6, IU7, IU8)

3) No. Telp :

B. Pertanyaan Wawancara

Sumber daya untuk melakukan pelaporan (Tahap Input)


Material
1. Bagaimana bentuk form yang digunakan dalam melakukan pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition ?
2. Bagaimana kebijakan K3 yang dibuat perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe
act dan unsafe condition ? Jelaskan.
3. Bagaimana standar yang digunakan perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe
act dan unsafe condition ? Jelaskan.
4. Bagaimana pemahaman yang anda ketahui tentang near miss di proyek MRTJ TWJO?
5. Bagaimana pemahaman yang anda ketahui tentang unsafe act dan unsafe condition di
proyek MRTJ TWJO?
SDM
6. Siapa saja menurut anda diperusahaan yang terlibat di dalam sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
7. Bagaimana menurut anda jumlah sumber daya manusia yang terlibat dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
8. Bagaimana menurut anda tugas dan tanggung jawab yang melakukan pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ?
9. Bagaimana menurut anda persyaratan dan kompetensi yang dibutuhkan dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
Metode
10. Bagaimana menurut anda metode pelaporan yang digunakan oleh perusahaan dalam
melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?

Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan (Tahap Proses)


Pelaksanaan Pelaporan
11. Bagaimana menurut anda sistem pelaporan near miss di proyek MRTJ TWJO yang telah
dilakukan saat ini ?
12. Bagaimana alur atau sistematika pelaksanaan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe
condition di proyek MRTJ TWJO ?
13. Bagaimana menurut anda komitmen perusahaan atau komitmen top management
perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
14. Bagaimana menurut anda partisipasi petugas yang terlibat di dalam mengumpulkan data,
informasi dan melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek
MRTJ TWJO ? Jelaskan.
15. Bagaimana bentuk reward dan punishment yang diberlakukan oleh pihak perusahaan terkait
sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
16. Bagaimana menurut anda yang menjadi penyebab dan sumber kejadian near miss di proyek
MRTJ TWJO sejauh ini ?
Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan
17. Bagaimana bentuk pemantauan manajemen atau perusahaan dan siapa saja yang terlibat di
dalam melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pelaporan near miss, unsafe act dan
unsafe condition di proyek MRTJ TWJO ? Jelaskan.
Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan
18. Bagaimana bentuk evaluasi yang dilakukan TWJO terkait sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
19. Bagaimana menurut anda hambatan yang dirasakan oleh departemen dari proses awal
perencanaan hingga memperoleh hasil dari sistem pelaporan near miss, pelaporan unsafe
act dan unsafe condition di proyek MRTJ TWJO ? Jelaskan.
Lampiran 4

PEDOMAN WAWANCARA II

Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek

Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016

No. :

Hari/Tanggal :

A. Identitas Informan

1) Nama/Inisial Informan :

2) Jabatan Informan : Konsultan Proyek MRTJ-JMCMC (IK)

3) No. Telp :

C. Pertanyaan Wawancara

Sumber daya untuk melakukan pelaporan (Tahap Input)


Material
1. Bagaimana proses penyusunan form yang digunakan dalam melakukan pelaporan near
miss, unsafe act dan unsafe condition ?
2. Bagaimana bentuk form yang digunakan dalam melakukan pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition ?
3. Bagaimana menentukan kesesuaian form digunakan dalam melakukan proses pelaporan
near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
4. Bagaimana kebijakan K3 yang dibuat perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe
act dan unsafe condition ? Jelaskan.
5. Bagaimana standar yang digunakan perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe
act dan unsafe condition ? Jelaskan.
6. Bagaimana pemahaman yang anda ketahui tentang near miss di proyek MRTJ TWJO?
7. Bagaimana pemahaman yang anda ketahui tentang unsafe act dan unsafe condition di
proyek MRTJ TWJO?
SDM
8. Siapa saja menurut anda diperusahaan yang terlibat di dalam sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
9. Bagaimana menurut anda jumlah sumber daya manusia yang terlibat dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
10. Bagaimana menurut anda tugas dan tanggung jawab yang melakukan pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ?
11. Bagaimana menurut anda persyaratan dan kompetensi yang dibutuhkan dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
Metode
12. Bagaimana menurut anda metode pelaporan yang digunakan oleh perusahaan dalam
melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?

Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan (Tahap Proses)


Pelaksanaan Pelaporan
13. Bagaimana menurut anda sistem pelaporan near miss di proyek MRTJ TWJO yang telah
dilakukan saat ini ?
14. Bagaimana alur atau sistematika pelaksanaan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe
condition di proyek MRTJ TWJO ?
15. Bagaimana menurut anda komitmen perusahaan atau komitmen top management
perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
16. Bagaimana menurut anda partisipasi petugas yang terlibat di dalam mengumpulkan data,
informasi dan melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek
MRTJ TWJO ? Jelaskan.
17. Bagaimana bentuk reward dan punishment yang diberlakukan oleh pihak perusahaan terkait
sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
18. Bagaimana menurut anda yang menjadi penyebab dan sumber kejadian near miss di proyek
MRTJ TWJO sejauh ini ?
Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan
19. Bagaimana bentuk pemantauan manajemen atau perusahaan dan siapa saja yang terlibat di
dalam melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pelaporan near miss, unsafe act dan
unsafe condition di proyek MRTJ TWJO ? Jelaskan.
Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan
20. Bagaimana bentuk evaluasi yang dilakukan TWJO terkait sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
21. Bagaimana menurut anda hambatan yang dirasakan oleh departemen dari proses awal
perencanaan hingga memperoleh hasil dari sistem pelaporan near miss, pelaporan unsafe
act dan unsafe condition di proyek MRTJ TWJO ? Jelaskan.
Laporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition (Tahap Output)
22. Bagaimana laporan near miss di proyek MRTJ TWJO saat ini ?
23. Bagaimana laporan unsafe act di proyek MRTJ TWJO saat ini ?
24. Bagaimana laporan unsafe condition di proyek MRTJ TWJO saat ini ?
25. Bagaimana laporan kecelakaan kerja proyek MRTJ TWJO ?

Lampiran 5

PEDOMAN WAWANCARA III

Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition di Proyek

Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation Tahun 2016

No. :

Hari/Tanggal :

A. Identitas Informan

1) Nama/Inisial Informan :

2) Jabatan Informan : a. Quality Assurance (IP1) b. Risk Engineer (IP2) (berikan tanda)

3) No. Telp :

B. Pertanyaan Wawancara

Sumber daya untuk melakukan pelaporan (Tahap Input)


Material
1. Bagaimana proses penyusunan form yang digunakan dalam melakukan pelaporan near
miss, unsafe act dan unsafe condition ?
2. Bagaimana bentuk form yang digunakan dalam melakukan pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition ?
3. Bagaimana menentukan kesesuaian form digunakan dalam melakukan proses pelaporan
near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
4. Bagaimana kebijakan K3 yang dibuat perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe
act dan unsafe condition ? Jelaskan.
5. Bagaimana standar yang digunakan perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe
act dan unsafe condition ? Jelaskan.
6. Bagaimana pemahaman yang anda ketahui tentang near miss di proyek MRTJ TWJO?
7. Bagaimana pemahaman yang anda ketahui tentang unsafe act dan unsafe condition di
proyek MRTJ TWJO?
SDM
8. Siapa saja menurut anda diperusahaan yang terlibat di dalam sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
9. Bagaimana menurut anda jumlah sumber daya manusia yang terlibat dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
10. Bagaimana menurut anda tugas dan tanggung jawab yang melakukan pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ?
11. Bagaimana menurut anda persyaratan dan kompetensi yang dibutuhkan dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?
Metode
12. Bagaimana menurut anda metode pelaporan yang digunakan oleh perusahaan dalam
melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ?

Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan (Tahap Proses)


Pelaksanaan Pelaporan
13. Bagaimana menurut anda sistem pelaporan near miss di proyek MRTJ TWJO yang telah
dilakukan saat ini ?
14. Bagaimana alur atau sistematika pelaksanaan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe
condition di proyek MRTJ TWJO ?
15. Bagaimana menurut anda komitmen perusahaan atau komitmen top management
perusahaan terkait sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
16. Bagaimana menurut anda partisipasi petugas yang terlibat di dalam mengumpulkan data,
informasi dan melakukan pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition di proyek
MRTJ TWJO ? Jelaskan.
17. Bagaimana bentuk reward dan punishment yang diberlakukan oleh pihak perusahaan terkait
sistem pelaporan near miss, unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
18. Bagaimana menurut anda yang menjadi penyebab dan sumber kejadian near miss di proyek
MRTJ TWJO sejauh ini ?
Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan
19. Bagaimana bentuk pemantauan manajemen atau perusahaan dan siapa saja yang terlibat di
dalam melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pelaporan near miss, unsafe act dan
unsafe condition di proyek MRTJ TWJO ? Jelaskan.
Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan
20. Bagaimana bentuk evaluasi yang dilakukan TWJO terkait sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ? Jelaskan.
21. Bagaimana menurut anda hambatan yang dirasakan oleh departemen dari proses awal
perencanaan hingga memperoleh hasil dari sistem pelaporan near miss, pelaporan unsafe
act dan unsafe condition di proyek MRTJ TWJO ? Jelaskan.
Lampiran 6

PEDOMAN OBSERVASI

Pedoman ini merupakan pedoman untuk melakukan observasi dalam rangka

melakukan penelitian “Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe

Condition di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation

Tahun 2016”.

Cara melakukan observasi :

1. Membuat daftar informasi yang akan dilakukan

2. Menentukan tempat observasi

3. Bila diperlukan dan memungkinkan observasi akan disertai dengan dokumentasi dalam

bentuk foto, rekaman atau bentuk lainnya.

4. Daftar observasi dapat ditambahkan sesuai dengan kebutuhan dan temuan yang terdapat

saat dilapangan dan akan ditambahkan pada tabel observasi yang telah dibuat

sebelumnya

5. Hasil observasi kemudian dicatat, dirangkum dan akan dimasukkan ke dalam tabel

observasi

Tabel Observasi

No. Kegiatan Foto Keterangan


1.
2.
3.
4.
5.
Lampiran 7

PEDOMAN TELAAH DOKUMEN

Pedoman ini merupakan pedoman untuk melakukan telaah dokumen dalam rangka

melakukan penelitian “Gambaran Sistem Pelaporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe

Condition di Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-WIKA Joint Operation

Tahun 2016”.

Cara melakukan telaah dokumen :

1. Membuat daftar dokumen yang diperlukan

2. Meminta dokumen kepada perusahaan sesuai dengan informasi yang

dibutuhkan untuk penelitian

3. Bila informasi sudah diperoleh maka peneliti memberikan tanda () pada

tabel daftar dokumen

4. Dokumen yang berisi informasi yang dibutuhkan kemudian ditulis nomor dan

judul dokumennya

5. Dokumen dapat ditambahkan sesuai dengan kebutuhan dan temuan yang

terdapat saat dilapangan dan akan ditambahkan pada tabel daftar dokumen

yang telah dibuat sebelumnya

6. Hasil telaah dokumen kemudian dicatat, dirangkum dan akan dimasukkan ke

dalam tabel daftar dokumen


Tabel Daftar Dokumen (Input, Proses, Output, Feedback)

Penanggung
Dokumen yang Checklist Nama
No. Jawab Catatan
Dibutuhkan () Dokumen
Dokumen

1. Kebijakan Perusahaan

2. Program-program SHE

Prosedur-prosedur SHE
3. yang berkaitan dengan
pelaporan
Laporan unsafe act
4.
proyek
Laporan unsafe condition
5.
proyek

6. Laporan near miss

Laporan kecelakaan kerja


7.
proyek

Aktivitas Pekerjaan
8.
Proyek

Dokumen-dokumen
9.
lainnya
Lampiran 8

Matriks Wawancara Informan Utama Komponen Tahap Input

No Pertanyaan Informan Utama


IU1 IU2 IU3 IU4
Material
1. Bagaimana proses penyusunan Jadi kalau form itu kita kan Proses penyusunan form Ya tim yang menyusun Kalo sebelumnya hmm… bikin
form yang digunakan dalam sudah ada formatnya ya, menggunakan form yang menentukan tanggal, kapan form itukan dapetnya dari
melakukan pelaporan near miss, sudah ada standar bakunya dari awal sudah ada dan pelaksanaannya, lokasi, atasan saya, saya dikirimin trus
unsafe act dan unsafe condition ? dari kita inikan 2 perusahaan digunakan oleh PT Wijaya pelapor dan deskripsinya dikasih tau abis itu saya baru
besar, TOKYU dan WIKA Karya. Hal ini dikarenakan setelah itu baru di submit ke jabarin ke SO-SO gitu nanti
nah masing-masing punya saya sebagai deputi safety konsultan untuk pelaporannya dan
standar baku sendiri-sendiri. officer berasal dari PT masuknya ke laporan bulanan.
Di TWJO ini format itu WIKA maka saya Kalo dasar-dasarnya sih soal
intinya disatukan standar menggunakan form yang apa namanya form-form kaya
bakunya WIKA sama dibuat oleh WIKA Karena gitu sih saya ngga ngerti
TOKYU terbentuk jadilah proyek ini bersifat joint
format khusus untuk form operation antara WIKA
dengan TOKYU akan tetapi
dua perusahaan ini belum
mengeluarkan satu
kebijakan form yang akan
disubmit ke konsultan, jadi
proyek ini menggunakan
pengadopsian form dari
WIKA
2. Bagaimana bentuk form yang Jadi awalnya kan hanya Bentuk form yang Ya dalam sistem pelaporan Ya yang ada di kita, seperti
digunakan dalam melakukan punya satu form umum digunakan sama dengan itu jelas kapan tanggal, tanggal ya kan, lokasi,
pelaporan near miss, unsafe act insiden atau accident nanti di yang dibuat dan digunakan kapan pelaksanaannya, deskripsinya kan. Sebenernya
dan unsafe condition ? poin terakhir muncul oleh WIKA kamu bisa liat lokasinya, trus kategori disini kan ada namanya tuh
kateroginya apa. Ya jadi sendiri formnya di admin berikutnya pelapornya siapa, siapa itu dijelaskan. Tapi kata
memang seperti itu mereka saya deskripsinya seperti apa. konsultan kemaren itu ngga
bikinnya umum, disini dalam Berikutnya ada witness, boleh ya kan, itu sebenernya sih
arti tidak detail bukan kenapa perlu witness? salah. Yah salahnya menurut
maksudnya detail tapi umum karena setiap pelaporan near saya dalam arti bukan salah sih
dan nanti itu kategorinya apa. miss pasti ada saksi atau dari mungkin revisi kali ya formnya,
Rani bisa lihat sendiri di orang yang menyaksikan dalam arti gini harusnya nama
dokumen kita kejadian near miss itu ngga usah dimasukin. Near
terjadi. Berikutnya kenapa miss itukan hampir menyelakai
perlu tanggal, kita harus orang, kalo kita sebutkan
spesifik terhadap tanggal korbannya berarti accident
dan lokasi karena apa? itu bukan near miss, gitu
untuk menunjang akurasi
data kita
3. Bagaimana menentukan Ya nanti disitu dipilah-pilah Pada dasarnya kesesuaian Ok. Kesesuaian form itu Kalau kesesuaian dasar-dasar
kesesuaian form digunakan dalam sama QA jadi laporan apa form digunakan secara seharusnya mengacu kepada formnya saya ngga ngerti,
melakukan proses pelaporan near dan nanti muncul global atau keseluruhan dan dokumen kontrol yang ada sesuai dengan orang-orang QC
miss, unsafe act dan unsafe kategorinya apa gitu tetep bekerja sama dengan divisi di perusahaan. Jadi didalam eh QA sorry ya maksudnya QA.
condition ? kerjasama sama SHE. Karena QA. Adanya QA yang akan perusahaan itu mengatur Orang QA yang dilibatkan
saya disini juga proyek sudah mensortir atau review bagaimana semua form dalam arti kan kita tetep kerja
berjalan satu tahun ya jadi laporansebelum dikirim ke diatur, nomer registernya, sama, yang penting kan kita
kalo form-form gitu yang konsultan tahun pembuatannya serta meeting-in gimana nih
bikin orang QA ya quality divisi yang memakai form kekurangan atau masukannya
assurance sama project tersebut
control
4. Bagaimana kebijakan K3 yang Kalau kebijakan K3 yang Kebijakan K3 ya secara Oh ya jadi TWJO sudah Saya sih belum baca kebijakan
dibuat perusahaan terkait sistem jelas tujuan utamanya adalah umum mencegah terjadinya berkomitmen terhadap K3 kita disini, hmmm.. sama
pelaporan near miss, unsafe act zero accident karena kecelakaan. Sistem keselamatan artinya artinya sekali belum baca jadi belum
dan unsafe condition ? Jelaskan. manajemen kami komit dari pelaporan baru berjalan apapun yang kita laporkan bisa dijabarkan
mulai PM sampe ke 30% itu adalah membawa nama
konstruksi cuma kalo di baik dari K3 di perusahaan.
kontruksi ini kan K3 baru Setiap pelaporan, setiap ada
mulai kan tahun 2006, mulai kejadian wajib dilaporkan
di galakkan dan mewajibkan. baik besar dan kecil, hanya
Tapi sekali lagi kalo tergantung klasifikasinya
dikonstruksi aturan K3 akan saja apakah itu recordable
berjalan kalau didukung oleh atau just reportable
top management mereka.
Karena K3 tidak bisa
berjalan kalau dibenturkan
dengan progres dan uang
atau biaya
5. Bagaimana standar yang Hmm.. yang berkaitan Masih berstandar pada Kalau standar kita mengacu Oh, pelaporan standarnya kita
digunakan perusahaan terkait dengan SOP near miss ya? standar WIKA. Memakai pada apa yang menjadi ngikutin konsultan. Dokumen
sistem pelaporan near miss, Mereka tidak spesifik kesitu, standar internasional akan kesepakatan yang kita standarnya itu aduh kalo untuk
unsafe act dan unsafe condition ? intinya zero accident ya. tetapi implementasinya submit ke MRT. Jadi sistem standarnya sih saya ngga tau
Jelaskan. Standar SOP disini ada tapi banyak yang belum pelaporan near miss kita itu kalo konsultan pake apa, tak
lebih spesifik ke alat-alat saja memenuhi atau mengena hanya selembar pelaporan paham
kalau untuk safety kita ada pada standar-standar near miss saja yang paling
dokumen site safety plan internasional tersebut sebenarnya dan yang paling
yang sudah di submit dari penting adalah hasil
konsultan observasi setiap SO itu
melaporkan unsafe condition
sama unsafe position setiap
harinya karena near miss itu
adalah berawal dari unsafe
condition dan unsafe
position
6. Bagaimana pemahaman yang Near miss itu sebenernya Kejadian yang nyaris akan Oh kalau menurut saya near Near miss itu ya kita udah tau
anda ketahui tentang near miss di kondisi hampir celaka, tetapi jika sering terjadi miss itu sama dengan ya hampir celaka dalam arti kita
proyek MRTJ TWJO? celakanya belum tapi hampir near miss akan berpotensi persepsi semua safety di bekerja tapi kita hampir
celaka menjadi kejadian yang lebih dunia ini near miss itu kecelakaan, seperti itu. Itukan
parah adalah kejadian yang hampir juga ngga langsung kitanya
celaka, hampir celaka dalam arti kan bisa benda atau
maksudnya hampir celaka apa gitu kan, apa bisa kitanya
mengenai orang, mengenai yang lalai itu termasuk near
peralatan dan juga dampak miss, yang lalai
terhadap lingkungan
7. Bagaimana pemahaman yang Unsafe action tindakan- Unsafe act itu perilaku tidak Unsafe act itu adalah inner Unsafe action berarti kita udah
anda ketahui tentang unsafe act tindakan tidak selamat. aman misalnya tidak behavior seseorang yang tau ya kan misalkan kita
dan unsafe condition di proyek Misalnya kita bekerja di menggunakan APD, tidak secara explosure atau secara bekerja kaya gerinda ngga ada
MRTJ TWJO? ketinggian tidak pakai sesuai prosedur. Kalau terbuka memaparkan bahwa covernya dia tau tapi masih
harness. Kita mengelas tidak unsafe condition itu kondisi dia tidak selamat atau dilakukan. Dia udah tau ngga
menggunakan sarung tangan. yang tidak aman misalnya melaksanakan kegiatan yang ada cover, udah tau tapi
Jatuh kalau di ketinggian jika material tidak pada dapat merugikan dirinya dilakuin. Ngga harus alat juga
tidak pakai APD. tempatnya, tidak ada sendiri, orang lain dan juga apapun kerja dia, udah tau ngga
Unsafe condition sendiri handrail dan sebagainya lingkungan. aman ya dia tetep kerja.
kondisi tidak aman, berarti Unsafe condition adalah Kondisi ya dalam arti
kita tidak mempersiapkan berawal dari mekanisme kondisinya kita cukup liat dari
hal-hal sebelum kerja. atau birokrasi di perusahaan kondisi kerja kita seperti becek
Istilahnya tidak yang mungkin agak lama ya kan, udah tau becek masih
mempersiapkan lokasi kerja dan agak lamban didalam kerja kondisi lingkungan kerja
aman, platform kerja, tangga. proses perbaikan atau gitu, seperti itu
Yang sering disini dua- maintenance dan juga
duanya, unsafe condition lamanya proses pada saat
yang utamanya permintaan barang-barang
mengakibatkan barang-
barang yang sudah korosi
masih tetap layak dipake,
sementara dalam pandangan
K3 itu tidak layak untuk
dipake lagi dan harus di
reject
Sumber Daya Manusia
8. Siapa saja menurut anda Yang terlibat disini yang Chief, supervisor safety, Ok. Sistem pelaporan near SDM nya itu ya kita-kita aja,
diperusahaan yang terlibat di jelas ada departemen K3 manajer safety yang pasti miss, unsafe act dan unsafe kita ngasih tau aja ke SHE
dalam sistem pelaporan near disini divisi K3, general SHE. Semua bisa condition itu adalah dari manager, nanti bapaknya yang
miss, unsafe act dan unsafe affair sama QA, quality melakukan pelaporan akan pucuk pimpinan tertinggi evaluasinya gimana. Iya
condition ? Jelaskan. assurance. General affair itu tetapi sekarang ini sampai pada bawahan yang jabatannya ke manajer, eh
bagian umumnya ada bagian pelaporan dibuat oleh safety paling rendah atau engga ke ini dulu deputi dulu
yang ngurus asuransi kalau officer. Safety officer di workforce di lokasi. Sama baru ke manajer baru ke
general affair oh lebih lapangan kurang bisa halnya dengan yang saya manajemen
banyak ke keuangan juga ya. mendefinisikan tingkatan- bilang sebelumnya, near
Oh ya top manajemen disitu tingkatan kejadian tersebut. miss juga sistem
ya sama konstruksi iya nanti Yang berperan sampai pelaporannya di mulai dari
kami kan bikin laporan pengolahan dokumennya itu yang tertinggi sampai yang
apakah sudah dilakukan WIKA, TOKYU, MRT dan paling rendah
perbaikan apa belum konsultan

9. Bagaimana menurut anda jumlah SDM disini banyak ada dan Banyak pokoknya bisa diliat Ok. Sumber daya kita selain Kalau dihitung-hitung disini
sumber daya manusia yang bisa dilihat di laporan bulan di laporan dari yang saya bilang tadi, sebenernya sih banyak, banyak
terlibat dalam melakukan HSE kita mulai dari pucuk pimpinan dalam arti kita ngga bisa nilai
pelaporan near miss, unsafe act tertinggi kita disini adalah itu dari totalnya berapa ya kan
dan unsafe condition ? project manager kita, ada di laporan bulanan yang
berikutnya adalah daily saya buat
worker. Jadi kalau untuk
sumber daya disini bisa kita
kategorikan ada tiga ya.
Kategori workforce atau
daily worker kita dilokasi,
yang kedua adalah bagian
dari hmm.. middle supervisi,
atau site engineer,
pelaksana. Yang ketiga
adalah manajerial level
dimana semua itu adalah
manajer atau deputi-deputi
atau manajer divisi, kalau
untuk sumber daya seperti
itu, gitu. Bisa juga kamu cek
datanya di laporan bulanan
kita
10. Bagaimana menurut anda tugas Mmm tugas dan tanggung Peran safety officer ya Ok. Tugas dan Tugasnya itu kan sebenernya
dan tanggung jawab yang jawab SO ini membikin melihat, memberitahu dan melaksanakan near miss tugas-tugas yang beginikan
melakukan pelaporan near miss, semacam pemberitahuan menindaklanjuti. Dari adalah suatu tanggung jawab orang SO ya kan orang-orang
unsafe act dan unsafe condition ? singkat biasanya dari SO pembuat record tanggung semua pekerja dilokasi dilapangan sendiri. Mereka
misalnya pesan singkat. Pak jawabnya sampai dimana tempat kita melihat kondisi yg tidak aman
kami disini trus nanti dari administrasi dan yang bernaung, karena apa? Near nanti mereka sendiri yang
safety engineering akan bikin melakukan safety patrol miss itu atau safety itu evaluasi mereka sendiri yg
primary report karna laporan adalah milik semua orang. dalam arti men-cut nya atau
awal ini akal dikirim kan ke Atau Sering digaung- kasih solusinya. Artinya orang-
konsultan sama owner kami gaungkan adalah safety is orang lapangan ngga sekedar
itu yang harus dilakukan everybody business, near SO juga tapi pelaksana juga
miss is every business harus bisa, gitu loh

11. Bagaimana menurut anda Kompetensi pengisian form Yang dibutuhkan dalam Semua orang-orang yang Yang dibutuhkan, apa yang kita
persyaratan dan kompetensi yang menurut saya harus punya melakukan pelaporan pada terlibat dalam area ini harus kasih dan kita jelaskan ke
dibutuhkan dalam melakukan kapabilitas dalam dasarnya safety officer harus di in house training kan mereka itu, mereka harus tau
pelaporan near miss, unsafe act membayangkan kejadian. minimal memiliki tehnik K3 terlebih dahulu, untuk apa kerja mereka, apa
dan unsafe condition ? Persyaratan yang pastinya dasar yaitu safety basic menyamakan persepsi kewajiban mereka ya kan, kita
sertifikasi K3, SO harus pro setelah dibekali safety basic tentang apa itu near miss kasih kewajiban mereka kasih
aktif dalam bertindak dan baru mengenal K3 umum dan bagaimana kewajiban dalam arti kita
memberikan solusi yang baik walaupun tidak semua tetapi mengkategorikannya. Untuk tanggung jawab. Dan kita
di lapangan paling tidak memiliki safety Men-develop ke depannya berikan hak mereka dalam arti
training. Setelah itu baru di dan juga untuk meng-case salary atau gaji jangan cuma
perdalam lagi. Akan tetapi down suatu komitmen, hanya pantau-pantau aja gitu
di TWJO hanya beberapa kebijakan maka kita perlu loh SO-nya kan, disini kan
yang memiliki safety basic seorang direktur yang kebanyakan seperti itu. Bukan
namun kurang tindak memiliki wawasan K3 yang kebanyakan sih rata-rata sih apa
lanjutnya. Sedangkan luas, peduli tentang K3 dan emang orang-orangnya belum
banyak yang tidak memiliki mau menerapkan K3 itu di paham di safety nya. Sertifikasi
safety basic tapi ingin segala aspek pekerjaannya juga perlu, perlu banget sih kalo
mencari tahu sehingga salah dia di dalam perusahaan itu kata saya kan soalnya mereka
dalam mengisi laporan kan sudah pelatihan ya mereka
sudah pahamlah berarti mereka
sudah diuji sama orang yang
ahli gitu dan mereka lulus ya
berarti mereka kan sudah
paham sudah bisa
melaksanakan untuk dilapangan
gituloh. Kalo hanya sekedar
basic sih ya kaya kalian sih juga
taulah
Metode
12. Bagaimana menurut anda metode Lebih banyak di observasi ya Metode pelaporan yang Kalau metode yang kita Metodenya sih yang saya alami
pelaporan yang digunakan oleh jadi kalau metode yang digunakan yakni reporting laporkan dan yang kita selama 11 bulan disini
perusahaan dalam melakukan digunakan petugas yang ada tapi pelaporannya gunakan adalah apabila anda komunikasi ya. Nanti yang
pelaporan near miss, unsafe act di lapangan yaitu investigasi sesempatnya dikirim dan melihat anda laporkan. bikin datanya saya sendiri, kaya
dan unsafe condition ? ke lapangan, jadi dari masih banyak kekurangan Berdasarkan observasi atau kecelakaan-kecelakan diarea
investigasi itu nanti muncul dalam sisi reporting juga patrol yg dilakukan. misalnya 101 gitu ya kan saya
penyebab utamanya apa sih, sehingga banyak revisi atas Karena kalau kita observasi sendiri yang laporin nanti, saya
ini yang dicari kan akar pelaporan tersebut berarti kan keinginan kita yang buat. Saya bikin
masalahnya ran, ini kan atau tekad kita sedang investigasinya, saya bikin
begini kejadiannya loh ran oh mengawasi orang bekerja. rektifikasinya baru nanti kita
ternyata akar masalahnya Sedangkan patrol adalah laporlah ke SHE manager dan
human error, oh ternyata pada saat kita melakukan masuklah nanti ke laporan
memang alat yang dipakai perlintasan atau keliling bulanan, seperti itu
kurang memadai oh ternyata untuk mengamati
alatnya sudah kadaluarsa tapi lingkungan kerja kita secara
tidak diganti. Nanti akan di tidak langsung kita
buatkan report oleh admin mengamati ada sesuatu yg
kita dan nanti setelah itu membahayakan dan near
dibuatkan report ke owner miss. Itu bisa kita jadikan
dan konsultan JMCMC kategori yang lain. Karena
observasi adalah kita
meniatkan diri, kita
mengawasi orang lain.
Kalau patroli adalah pada
saat kita patroli ternyata
didalam patrol itu ada yg
kita ketemukan. Nah itu ada
dua metode ya, satu metode
observasi kedua adalah
metode patrol

Matriks Wawancara Informan Utama Komponen Tahap Proses

No Pertanyaan Informan Utama


IU1 IU2 IU3 IU4
Pelaksanaan Pelaporan
13. Bagaimana menurut anda sistem Sistem sudah baik namun Form atau sistem ini sudah Kalau diperusahaan ini Belum sama sekali
pelaporan near miss di proyek orang-orangnya yang disosialisasikan akan tetapi bagus, pelaporan disini berjalan dengan baik,
MRTJ TWJO yang telah terkadang belum sepenuhnya masih terdapat kekurang sudah bagus hanya satu kalau dari kemaren-
dilakukan saat ini ? melaporkan pahaman diantara officer kekurangannya orang-orang kemaren itu dalam arti
dalam proses penulisan dan yang terlibat mencari near udah ada, sistemnya sih
penjabaran kejadian dan miss itu minim, satu. Kedua, udah ada cuman ya gitu
masih belum bisa harus disuruh-suruh. Ya orang-orang kita ini ya
mengkategorikan kejadian near miss itu ga perlu di kan reaktif harus dikasih
ke dalam near miss, unsafe training bisa dibaca baca tau gitu loh baru bekerja.
act, atau unsafe condition. diinternet segala macam.
Hal ini juga mengakibatkan
laporan jarang dibuat
padahal kenyataannya di
proyek tidak mungkin tidak
terjadi kejadian-kejadian
tersebut
14. Bagaimana alur atau sistematika Alur dari sumber berita dari Alurnya dari SO yang di Segala apa yang kita Jadi, alurnya ke SO terus
pelaksanaan pelaporan near miss, pelapor yang melihat lapangan mencatat trus lakukan yang berkaitan admin atau SHE engineer
unsafe act dan unsafe condition kejadian, data awal diambil mengumpulkan ke admin dengan near miss serta ke DSM. Tapi untuk
di proyek MRTJ TWJO ? dia langsung ke deputi dari saya ya SHE engineer lalu pelaporan di kumpulkan di pelaporan komunikasi bisa
deputi ke manajer dengan ke saya dan nanti ke dalam suatu ploting safety langsung dalam arti kita
berikan laporan primary jadi manajer saya baru ke top admin kita, setelah itu ngasih tau bahwa pak
ya SO buat catatan trus manajemen diproses abis diproses di disini ada kecelakaan
dikumpulkan di admin lapor input datanya, diverifikasi misalnya gitu. Sama juga
ke deputi dan saya setelah itu ulang kepada pelapornya. kalo unsafe action
saya komunikasikan ke Kedua, kepada deputinya condition-nya gitu kok.
manajemen sendiri dan juga manajernya Yang penting ke DSM
sebelum itu dilaporkan juga harus ke DSM dulu,
setiap bulannya pada saat gitu. Nanti SO-nya yang
kita monthly HSE meeting ngeliat ya kan tapi kan
di konsultan ngga harus ngeliat aja ya
kan nulis disini kan
sebelumnya dijelasin apa
sih kejadiannya, apa sih
itu jelaskan. Nah tapi ya
kebanyakan nulis aja ngga
ada action-nya di
lapangan agar selanjutnya
tidak terjadi lagi makanya
banyak terjadi temuan
15. Bagaimana menurut anda Komitmen dari top Komitmen perusahaan Semua pihak TWJO sudah Komitmen ya seperti itu
komitmen perusahaan atau manajemen sangat sudah mendukung namun berkomitmen terhadap sebenernya dukungan ada
komitmen top management mendukung divisi kita mungkin komunikasinya keselamatan. Karena suatu dukungan dalam arti
perusahaan terkait sistem selama ini. TWJO tingkat yang masih kurang lancar komitmen kebijakan tentang hanya omongan ya saya
pelaporan near miss, unsafe act kepeduliannya lumayan K3 itu dipicu oleh atau bisa bilang begitu. Ya
dan unsafe condition ? Jelaskan. tinggi, komit. Tapi saya dimulai dari pimpinannya kaya kemaren kasus yang
melihat lebih kepada sendiri berikut kepada para kecelakaan yah gitu ngga
ketakutan saja terkadang pekerja dilokasi. Karena tau lambat atau gimana
konsern kita cuma satu ngga paham juga ya
bagaimana mencapai hari- mungkin proses dari
hari kerja kita tanpa manajemennya agak
kecelakaan atau tanpa tetes lambat dan sejauh ini
darah dilokasi pelaporan gitu-gitu sih
bagus didukung sama
manajemen cuman
pelaksanaannya masih
proses dalam arti tidak
langsung di action masih
proses jadi butuh itu butuh
ini. Ya mungkin sibuk apa
gimana ya gitu
16. Bagaimana menurut anda Kejadian yang terjadi di SO itu masih perlu Iya sebagai tolak ukur saja, Reaktif, kalau ngga
partisipasi petugas yang terlibat lapangan harus langsung diarahkan, diingatkan dan SO itu belum tentu tau apa dikasih tau yaudah cuma
di dalam mengumpulkan data, dilaporkan, mereka tetep dikasih tau karena mereka itu near miss. Seorang liat-liat gitu, ngga ada
informasi dan melakukan melakukan pelaporan secara kadang ngga inisiatif sama manajer divisi belum tentu solusinya apa yang buat
pelaporan near miss, unsafe act prosedural apapun yang pekerjaannya. Kadang juga tau apa near miss, Karena disini banyak jadi temuan
dan unsafe condition di proyek terjadi di lapangan. Kalau tetep aja begitu udah dikasih mereka tidak pada jurusan yang unsafe condition,
MRTJ TWJO ? Jelaskan. near miss laporan dasar aja tau dan sering diingatkan yang mereka kembangkan unsafe action dan near
yang dilakukan tapi ya gitu masih suka lupa tapi sedikit- gituloh, mereka pikir itu miss di lapangan gitu.
SO ada yang lapor ada juga dikit mereka akan ngerti kok adalah hanya urusan K3. Harus dikasih tau ini loh
yang engga jadi partisipasi sama yang mereka kerjain Terus terang kalau disini ini ada temuan ya, gitu.
masih reaktif sifatnya sifatnya masih reaktif Harus dikasih tau baru
mereka kerjakan. Ya itu
berarti yang harus perlu
skill dalam arti pelatihan-
pelatihan
17. Bagaimana bentuk reward dan Jadi hmm.. punishment and Sanksi administrasi berupa Jadi seperti sekarang ini kan Belum ada sama sekali.
punishment yang diberlakukan reward ini sebenernya adalah teguran ran awalnya lagi di dengung-dengungkan Pelaporan pada sebulan
oleh pihak perusahaan terkait wujud dari bukan kemudian kalau untuk masalah reward dan sebelumnya ya belum ada
sistem pelaporan near miss, kejengkelan maaf tapi dari sekarang ini sudah mulai punishment. Dulunya kan. Dalam arti ini kan
unsafe act dan unsafe condition ? tanggung jawab kami kepada berlaku denda sesuai jabatan memang ini tidak ada baru sebulan punishment
Jelaskan. temen-temen untuk pekerjaannya yang nanti tanggal 15 april kemaren ini, bentuk punishment itu
keselamatan mereka. Jadi akan dipotong gaji pada saat kita launching masalah kan pelanggaran. Kalau
kami terus terang banyak gajian. Kalau reward dari reward dan punishment reward kan kita belum,
mendapatkan tekanan ya, perusahaan sih ngga ada tapi karena apa? kita melihat dalam artikan 10 bulan ini
proyek kami ada di ibukota biasanya saya inisiatif selama 6 bulan kita kan belum ada baru akhir-
pinggir jalan ya fatmawati dengan ngasih pin K3 gitu observasi ketidakdisiplinan akhir ini juga punishment
dan sekitarnya kita bekerja di di dalam penggunaan apd ini diberlakukan. Baru
ketinggian jadi banyak semakin melonjak dan berjalan belum ada
melibatkan orang ketiga melambung tinggi yang sebulan gitu sebenernya
karena bahaya sehingga mengakibatkan banyak nilai- sih. Saya sebelum
punishment dan reward ini niai atau norma-norma kebijakannya
kita terapkan untuk keselamatan itu sangat disosialisasikan kembali
menertibkan pekerja agar disepelekan oleh pekerja udah ngomong kok
tidak berbahaya bagi diri dilokasi. Untuk itu, untuk pelanggaran apa, ini yah
sendiri dan orang lain sesuai menertibkannya maka denda 50 ribu. Udah kita
dengan mandatory dibuatlah reward & kasih tau punishment tapi
penggunaan helm, rompi dan punishment, punishment cuman kan untuk gertakan
sepatu. Dendanya beda-beda, berupa denda, denda yang di aja itu hanya gertakan
tapi cukup membuat jera, terapkan apabila seseorang bukan kita tidak ada yang
nanti bulan depan ada atau pekerja yang berada di mendukung karena
pemotongan TWJO baik TWJO sendiri, kemaren baru dibikin dan
subkontraktornya, daily tanda tangan PM berarti
worker-nya yang tidak kan udah mendukung,
memakai APD akan ditindak gitu. Dalam arti kan kita
tegas dan pemberian denda baru bener-bener di submit
sesuai dengan item sekarang
pelanggaran yang dia
dilakukan
18. Bagaimana menurut anda yang Kalau saya lebih banyak Kebanyakan ya unsafe act. Sejauh ini adalah human Orangnya sendiri dalam
menjadi penyebab dan sumber kepada perilaku orang itu Ya itu perilaku manusianya behavior dimana human arti pekerjanya sendiri.
kejadian near miss di proyek sendiri dia tidak memahami sendiri, perilaku manusia ya awareness atau tingkat Pekerjanya yang bener-
MRTJ TWJO sejauh ini ? cara kerja yang benar karena pekerja seperti penggunaan kepedulian orang tidak ada, bener belum tau apa sih
tau sendirilah SDM kita APD ran kurang, trus tadi saya bilang itu safety apasih itu
seperti ini rendah, mereka itu manusia. Semua kejadian keselamatan, gitu.
mungkin terbiasa kerja di ini berasal dari manusia ada Kebanyakan dia cari duit,
kampung. Nomer dua K3 manusia yang suka lupa, ada cari duit, cari duit, cari
belum melekat di pekerja manusia yang suka lalai, ada duit. Ya human error
jadi masih belum bisa manusia yang sangat pintar. bukan human orror ya tapi
diterapkan dengan baik Yang sangat pintar error
maksudnya begini, pintar
mengucapkan tapi tidak
pintar melaksanakan. Nah
pintar mengucapkan, pintar
melaksanakan tapi tidak
pintar menjaga
Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan
19. Bagaimana bentuk pemantauan Bentuk pemantauan setiap Kalau saya dipantau oleh Ok. kalau pelaksanaannya, Pemantauan pelaporan-
manajemen atau perusahaan dan kejadian seperti apapun, PM SHE manager. Pemantauan itu selalu dikontrol maka ya pelaporannya itu gimana
siapa saja yang terlibat di dalam memonitor langsung Tanya dokumen dan dilapangan gunanya ada divisi K3 itu ya, contohnya ya gitu sih
melakukan pemantauan terhadap kejadian ke saya. PM, juga dari konsultan sama gunanya mengontrol. pelaporannya langsung
pelaksanaan pelaporan near miss, konstruksi manajer dan saya owner kita MRT dari Karena disini sifatnya masih manajemen tapi tetep
unsafe act dan unsafe condition koordinasi membuat laporan inspeksi yang mereka reaktif, pemantauan itu lapor. Mereka ngeliat
di proyek MRTJ TWJO ? dasar serta memantau lakukan. Kalau dari top harus dilaksanakan setelah dalam arti mantaunya
Jelaskan. laporan itu manajemen kita ya PM ada temuan dari konsultan ngga terlalu fokus gitu
ataupun dari MRT. Jadi sebenernya sih karna kita
tidak ada yang sifatnya pake konsultan, konsultan
proaktif. Karena untuk yang mantau jadi nanti
penanggulangan near miss mereka yang di calling
dituntut manajemen yang kaya top management-
proaktif. Baik melapor juga nya. Kok bisa ada
sistem pelaporannya. kecelakaan? kok bisa sih
ada ini dan ini, gitu.
Pokoknya top
management-nya yang
langsung memantau gitu
Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan
20. Bagaimana bentuk evaluasi yang Jadi top manajemen kita Evaluasi kita ya dari Evaluasi dilakukan pada Evaluasinya ya? Ya susah
dilakukan TWJO terkait sistem membahasnya di rapat meeting kita yang seringkali divisi safety tidak ada dalam sih di bilang buat evaluasi,
pelaporan near miss, unsafe act mingguan disitu setiap hari membahas temuan. Di manajemen. Evaluasi K3, di disini kan yang saya liat
dan unsafe condition ? Jelaskan. selasa yang dibahas selain meeting mingguan, bulanan evaluasi di-review ya ada yang mikir dia
K3 juga kadang masalah di perusahaan maupun di berdasarkan laporan punya istri ah kasian di
kecelakaan kerja apa sih konsultan JMCMC bulanan. evaluasi. Orang-orangnya
penyebabnya, biasanya saya sering gitu, ya kan tapi di
presentasi dulu. Karena nanti satu sisi kita di kejar
saya harus menjelaskan di progres di satu sisi lagi
rapat bersama owner TWJO kita dikejar atasan ya kan
kenapa bisa gitu jadi ya evaluasi kita step
by step aja. Ya
evaluasinya sih paling di
audit ya jadi kita harus di
audit semuanya
21. Bagaimana menurut anda Hambatan ya kadang Hambatan paling dari SO Hambatan-hambatan kita Hambatannya banyak
hambatan yang dirasakan oleh komunikasi dan kompetensi yang kompetensinya masih adalah datang dari diri kita banget kita kan disitu ada
departemen dari proses awal dari personil kita yang masih kurang dan terkadang ngga sendiri. Maksudnya, pelaporan seperti yang
perencanaan hingga memperoleh kurang itu aja sehingga mencatat atau melaporkan hambatan itu terjadi karena performance kita, seperti
hasil dari sistem pelaporan near komunikasi ngga lancar atau near miss, unsafe act dan tidak adanya pengertian satu SMT, induction semua itu
miss, pelaporan unsafe act dan terhambat unsafe condition dengan yang lain terhadap udah tertera ya 20 item.
unsafe condition di proyek MRTJ visi dan misi K3 awal, tak Itu semua bolong dalam
TWJO ? Jelaskan. ada. Jadi kita bertindak arti angot-angotan.
sendiri, K3 lapor, K3 Mereka dikasih tanggung
meeting dengan pak jawab tapi tidak
konsultan, yaudah sampai dilaksanakan. Kan kita
disitu udah sering kasih tau ini
gimana sih TBM ngga
ada, kita juga udah kasih
solusi dalam arti gini
mempermudah. Kalian
gabung, kalian pilih satu
daerah misalnya di aspol
satu hari itu minimal satu
pelaporan untuk kegiatan
TBM. Kita udah
permudah kita udah kasih
solusinya itu baru TBM
belum lagi safety talk. Itu
sih hambatan-
hambatannya yang dari
orang SO sendiri apa
memang karna saya
belum pernah
melaksanakan itu jadi
tidak merasakan tapi
ngga tau juga lah
sepertinya sih orang-
orangnya yang agak
males, atau bukan males
tapi capek itu sih
hambatannya
Matriks Wawancara Informan Utama Komponen Tahap Output

No Pertanyaan Informan Utama


IU1 IU2 IU3 IU4
Laporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition
22. Bagaimana laporan near miss di Near miss sejauh ini masih Masih belum berjalan Untuk laporan near miss Laporannya sih bagus
proyek MRTJ TWJO saat ini ? belum terlalu berjalan atau di padahal disini near miss masih sangat minim yang mungkin masih banyak
laporkan jadi masih banyak banyak ditemukan. melaporkan, baru bulan yang harus revisi agar
yang kurang datanya ngga februari kemarin dimulai bentuk pelaporan kita
lengkap dan disosialisasikan kembali lebih detail, gitu. Ya
pada semua SO. Laporan dalam arti gini kita kan
near miss belum ada sama belum tau nih kita pake
sekali pengkategoriaan apasih standar
cuman dalam scope leading dokumennya gitu loh
indicator dan untuk bagaimana sih
persentase belum. dokumennya. Tau sendiri
data disini masih kurang
23. Bagaimana laporan unsafe act di Penggunaan APD kalau Unsafe act yang sering Untuk laporan unsafe act Belum ada sama sekali.
proyek MRTJ TWJO saat ini ? unsafe act di pekerja dijumpai di lapangan ya itu belum memiliki persentase Safety patrol itu kan
seperti tindakan yang ini tuh sudah sering ditemukan patrol doang, ada sih itu
kadang pekerja mencuri-curi hanya berupa laporan tapi kan dalam arti
dimana dia naik ketinggian langsung dan ditindak lanjut kegiatan itu bukan unsafe
dia ngga pake body harness. saat itu juga namun tidak di act tapi unsafe condition
Yang paling banyak ya record secara detail dan ya kan. Spesifiknya itu
APD. Yang paling sangat belum memiliki form ngga ada tapi itu udah
riskan itu kalau kita sampe khusus untuk melakukan mencakup, udah
jatuh dari ketinggian. Ya pencatatannya. Unsafe act menjabarkan semuanya.
mereka kadang suka ini ya yang paling banyak terjadi Jadi istilahnya pelaporan
gitu, oh iya merokok adalah masalah penggunaan kondisi lapangan disatu
dilokasi kerja yang APD hari itu. Iya unsafe act
ibaratnya di bahan mudah masuk kesitu juga sama.
terbakar memang banyak itu Kalau spesifiknya kaya
near miss-near miss aja
unsafe act- unsafe act aja
itu ngga ada. Laporan sih
keseluruhan gitu aja,
general. Sejauh yang saya
temukan di lapangan
memang paling banyak
APD untuk unsafe act-
nya
24. Bagaimana laporan unsafe Unsafe condition paling Kondisi yang tidak aman Sama halnya dengan laporan Selama ini sih ada SO
condition di proyek MRTJ TWJO banyak adalah akses kerja, diarea kerja pertama pipa unsafe act, laporan unsafe yang lapor ada juga yang
saat ini ? misalnya akses kerja scaffolding ditaro diatas condition juga belum ngga ya keseringan
terhalang. Housekeeping itu ketinggian, material tidak memiliki persentase hanya bolong-bolong. Tapi
bisa dijabarin macem-macem pada tempatnya. Clamp, lampiran daily safety patrol sejauh ini untuk unsafe
loh licin, banjir. Paling penjepitnya itu kan kalo form dilampirkan pada condition yang dilaporin
banyak pokoknya material yang 6 meter masih laporan bulanan SHE. kebanyakan permasalahan
housekeeping bisa kita hindari kalo yang 2 Unsafe condition yang house keeping kaitannya
meter jatuh dari ketinggian, banyak terjadi adalah house sama tim 5R orang enviro
kalau material jatuh dari keeping
ketinggian maka
mengakibatkan beratnya
jadi berlipat-lipat dan
membahayakan
25. Bagaimana laporan kecelakaan Di tahun-tahun sebelumnya Man hours kita kembali ke Setiap terjadi kecelakaan Kalau kecelakaan kerja
kerja proyek MRTJ TWJO ? sudah ada 7 kejadian nol karna insiden di 102 ya selama ini dilaporkan kita pasti kan lebih
kecelakaan yang kita jadinya tidak ada reward. kepada konsultan kita. spesifik masuknya
laporkan Ya insiden yang pertama Accident yang sudah terjadi investigasi formnya,
orang yang kena rebar atau kurang lebih ada 12 kasus investigasi gitu, sejauh ini
besi. Yang hampir dengan yang sebelumnya dilaporkan kok ke
mendekati fatality ya 2 konsultan
insiden itu yang
mengembalikan jam kerja
kita kembali ke nol. Yang
pertama itu orang yang
terjatuh hingga
mengakibatkan apa, tulang
keringnya ya patah. Itu jatuh
dari ketinggian di 102 ya
tapi karena kita TWJO yang
terjadi 102, 101 ya kita kena
imbasnya. Jadi jam kerja
kita yang kemaren hampir
mencapai 1 juta jam kerja
kembali ke nol. Biasanya
setiap project yang udah ada
1 juta jam kerja itu
mendapatkan ibaratnya
reward lah. Satu lagi yang
kena besi rebar ukuran 2
inci dibagian paha. Jadi
akhirnya dia tidak bisa
dalam 24 jam itu ngga bisa
kembali ke lokasi kerja dan
itu mengakibatkan nol bagi
jam kerja kita. Yang
keduanya dirawat di RS,
yang pertama juga ngga
kerja karna dalam dunia
safety itu dalam 24 jam
ngga balik itu dinyatakan
accident

Lampiran 9

Matriks Wawancara Informan Utama Komponen Tahap Input

No Pertanyaan Informan Utama


IU5 IU6 IU7 IU8
Material
1. Bagaimana proses penyusunan Jadi di saya form, kalau buat
form yang digunakan dalam form-form gitu dibuat
melakukan pelaporan near miss, koordinasi dengan QA untuk
unsafe act dan unsafe condition ? penomoran dan formatnya
trus biasanya juga kita submit
dulu ke konsultan kalo form
ini disetujui baru bisa kita
terapkan. Kalo udah
diterapkan distribusiin ke SO
baru form itu bisa diisi dan
setelah diisi biasanya
dikumpulin terus setiap akhir
bulan itu kan kita bikin
laporan direkap berapa
jumlahnya trus apa aja yang
terjadi near miss atau unsafe
act, unsafe condition-nya gitu
2. Bagaimana bentuk form yang Terdiri dari tanggal, lokasi Bentuk formnya near miss Misalnya suatu kejadian Saya ngga hafal yang
digunakan dalam melakukan dan deskiripsi kejadiannya. ada tapi belum baca saya, seperti kejadiannya jam jelas disitu ada lokasi,
pelaporan near miss, unsafe act Kalau unsafe act atau unsafe tapi untuk perilaku pekerja berapa, waktunya apa dibuat deskripsi dan kejadian
dan unsafe condition ? condition sebenernya form ngga ada formnya. Untuk ya kan kemudian yang mana kalau untuk near miss.
nya ada cuman kondisi tidak aman itu ada organ tubuhnya dibagian Kalau unsafe act ngga ada
pelaksanaannya masih belum formnya daily safety patrol mana ini kalau bicara luka formnya cuma kita
terlaksana secara penuh. ya atau dampaknya. Mau biasanya langsung lapor.
Terus kalau near miss sih dijelaskan secara detail ini Unsafe condition seperti
formnya ada, sama halnya ada ringan, sedang, berat yang anda tau itu form
masalah pelaksanaan juga gituloh kalau near miss. daily safety patrol
belum terlaksana dengan Kalau unsafe condition
baik pelaporannya bisa di daily
patrol
3. Bagaimana menentukan Konsultasi dulu ke QA baru
kesesuaian form digunakan dalam submit ke konsultan kalau
melakukan proses pelaporan near konsultan ok ini bisa dipake
miss, unsafe act dan unsafe contohnya form ceklis, ceklis
condition ? safety juga seperti itu jadi
kita bikin trus koordinasi ke
QA diliat di kasih nomer. Itu
baru kita submit keluar
persetujuan dari konsultan
setelah itu baru kita terapkan
dan sampai saat ini udah
berjalan
4. Bagaimana kebijakan K3 yang Kalau kebijakan K3 nya ngga Dari kebijakannya, Kalo kebijakannya setau Kebijakan yang dibuat
dibuat perusahaan terkait sistem lebih ke safety secara umum perusahaanya kurang terlalu saya kalau diperusahaan ya TWJO tetep ya kita
pelaporan near miss, unsafe act ya. Kalau untuk unsafe act fokus mengenai K3. Ada sesuai dengan UU yang istilahnya menerapkan
dan unsafe condition ? Jelaskan. sama near miss-nya kan ngga dalam arti kurang untuk berlaku ya misalnya seperti basic-basic aja sih
tercantum di kebijakan yang pelatihan ada tapi tidak ketenagakerjaan ada sebenarnya. Kaya APD
tertulis gitu. Jadi mengerti tentang K3 keselamatan juga ya kalau gitu emang itu wajib ya
kebijakannya lebih bersifat kita contohkan ada di UU tapi istilahnya sih
safety secara umum tapi no.1 tahun 1970 tentang kebijakan yang basic-
keterkaitan cuman ngga keselamatan basic. Ya kalau kebijakan
tertulis secara detail harus untuk kita ya namanya
pelaporan ini, atau dilaporkan safety itu udah ngga bisa
dan sekarang konsultan juga tawar menawar gitu ya
cukup ketat lagi sekarang jadi sekarang kita
udah ada surat yang keluar menggunakan punishment
unsafe act unsafe condition
ya harus dilaporkan
5. Bagaimana standar yang Kalau disini kita masih pake Standarnya ya harus ada Kalo standarnya yang Belum ada, misalnya
digunakan perusahaan terkait form punya WIKA karena prosedur. Selama ini digunakan saya liat disini standar alat yang kita
sistem pelaporan near miss, manajemen 101-103 sampe prosedurnya masih agak kalau form itu udah sesuai gunakan itu harusnya kan
unsafe act dan unsafe condition ? ke MRT pun ngga mengarah susah dalam arti pihak yang dengan standar mengacu sesuai terhadap safety
Jelaskan. harus pake standar apa. Jadi ada diperusahaan dan kepada UU kemudian bisa
dengan komitmen kita kalau dilapangan kurang. SOP nya dikatakan sudah keputusan
di TOKYU ngga ada, di belum ada daripada kita disini kita
WIKA ada ya kita pake mengacunya ke MK3LH ya
punya WIKA. Kita kan itu bisa dikatakan itu
koordinasi dengan TOKYU mutu, keselamatan
jadi yaudah kita gunakan kesehatan kerja, lingkungan
hidup kaya gitu sistemnya
6. Bagaimana pemahaman yang Near miss itu suatu kejadian Jadi kita tahu bahayanya Near miss ini pengertiannya Definisi near miss itu
anda ketahui tentang near miss di hampir celaka jadi apabila kaya apa ya itu hampir menurut saya ya dilapangan artinya sesuatu yang
proyek MRTJ TWJO? ada perubahan sedikit saja celaka. Misalnya kelalaian misalnya ada orang yang hampir mendekati
bisa jadi celaka gitu pekerja luka ini ada tahapannya ada kecelakaan tapi belum
ringan ada sedang ada berat. terjadi
Tentang near miss ini
misalnya luka tersayat atau
luka tergores itu near miss.
Cuman kalo kategorinya
udah sedang itu dia
menimbulkan ada yang
semacam lukanya itu ada
jaitan kalau berat itu dia
masuknya fatality dan
mengakibatkan nyawa orang
hilang
7. Bagaimana pemahaman yang Unsafe act atau perilaku tidak Perilaku tidak aman itu dia Kalo unsafe action itu Unsafe act itu artinya
anda ketahui tentang unsafe act aman itu lebih kepada pekerja mengabaikan keselamatan tindakan-tindakan yang tindakan yang tidak aman
dan unsafe condition di proyek nya sendiri jadi di konstruksi tidak mengikuti prosedur kalau saya liat disini dari berupa begini ya dia
MRTJ TWJO? tuh kenapa bisa banyak tidak memenuhi progres. masalah APD. APD ya terlalu memaksakan
kecelakaan gini karna orang Kalau kondisi tidak aman penggunaannya karna bicara misalnya tindakannya ada
dari desa bisa macul aja, bisa itu kondisi yang kurang tentang APD pengertian sebuah mata gerinda itu
kerja di konstruksi kan, beda bagus ya tidak hanya kita di TBM di kalau memotong mengecil
dengan sektor lain misalnya kasih taunya pada saat kita batu gerindanya ya tapi
di migas. Mesti punya safety patrol pun kita dia merepair,
kompetensi yang bener-bener menjelaskannya juga. Ya memodifikasi.
kualifikasi dulu baru bisa kondisi unsafe condition Gerindanya itu dia
kerja kalau konstruksi kan dimana biasanya paksakan memotong itu.
orang dari kampung bisa berhubungan dengan Akhirnya karna dia terlalu
macul mau kerja itu bisa kontruksi, pier yang masih memaksakan, si mata
langsung kerja di konstruksi. keadaannya belum diisi gerinda itu pecah itu
Keadaan tidak aman itu tanah ditimbun dengan istilahnya tindakan yang
lokasi kerja, ya lokasi kerja tanah misalnya kan tidak aman.
itu kurang memperhatikan diratakan kan pada saat itu Unsafe condition itu
housekeeping-nya segala ditimbun namanya unsafe kondisi yang tidak aman,
macem ya kaitannya dengan condition tidak ada proteksi lingkungan kerja kita
lingkungan disitu kondisinya berarti ada yang tidak aman.
lubang bahaya bagi orang Contohnya seperti
melintas pada saat mau ibaratnya kita bekerja di
melakukan aktivitas di ketinggian melihat lokasi
dalam proyek maupun area kita sempit disitu material
luar. Selain itu, yang berserakan, rebar yang
pastinya disitu alat berat terpasang kan masih
kondisinya, contohnya kalau terpasang gitu jadi ya kita
di lokasi Aspol kondisi yang bekerja itu jadi tidak
unsafe condition yang pasti nyaman harusnya kita
ada kaitan sama alat berat pastikan lokasi itu bersih
bisa menimbulkan bahaya rapih, aman dan nyaman
kalau alat berat tidak ada
proteksi solusi manajemen
HSE nya misalkan
pemasangan rambu, rambu
peringatan jangan melintas
diarea tersebut. SO-nya ini
sebenernya kita ngga henti-
hentinya mengingatkan.
Itukan tujuan kita apa kan
zero accident, ngga ada lagi
Sumber Daya Manusia
8. Siapa saja menurut anda Tim safety yang pasti SO, Semua man power disini Semuanya, dari manajemen Semuanya, itu beberapa
diperusahaan yang terlibat di pelaksana, divisi lain dan terlibat atas sampe para pekerja diantaranya meliputi
dalam sistem pelaporan near pekerja di lapangan harian atau daily worker safety, supervisor,
miss, unsafe act dan unsafe engineer, mandor dan
condition ? Jelaskan. pekerja
9. Bagaimana menurut anda jumlah Jumlahnya banyak bisa Kurang lebih Jumlahnya ada Saya kurang hafal itu berapa Ya man powernya yang
sumber daya manusia yang dilihat dilaporan bulanan 1000 pekerja jumlahnya, admin biasanya terlibat nya ya seperti di
terlibat dalam melakukan SHE kami tau suatu area ya kurang lebih
pelaporan near miss, unsafe act untuk area 101 sekitar 800
dan unsafe condition ? an lah. Itu meliputi
pekerja harian plus sama
subkon ya. Yang
melakukan pelaporan itu
kurang lebih 5 orang 7
orang persatu area. Disini
dalam satu area misalnya,
satu titik pekerjaan rata-
rata dipekerjakan 10 orang
itu meliputi tim mandor
ya mandornya satu,
safety-nya satu, engineer-
nya satu, supervisor-nya
satu, site manager-nya
satu. Itu wajib setiap site
manager harus tau karna
setiap ada insiden atau
apa-apa itu yang pertama
ditanya dulu site
manager-nya kenapa
lokasimu bisa terjadi
begini, kenapa kamu ngga
proteksi lokasi ini
10. Bagaimana menurut anda tugas Tugas dan tanggung jawab Tugasnya kita ngasih Tugas dan tanggung Ya tugas saya
dan tanggung jawab yang SO yang pasti mereka kan pengarahan untuk perilaku jawabnya yang pertama dia melaporkannya jika
melakukan pelaporan near miss, kalo di lapangan itu menjaga, pekerja. Untuk near miss buat kronologis pelaporan terjadi unsafe act ya
unsafe act dan unsafe condition ? terus juga mengawasi, tugas SO mengurangi atau near miss-nya kemudian berarti ya harus bisa
melihat, ngelakuin upaya- mencegah bahaya dari mencatat dan nanti memproteksi dimana
upaya pencegahan pekerja. Untuk mengurangi melaporkan istilahnya sebelum terjadi
kecelakaan. Jadi kalau SO itu atau mencegah kecelakaan. kita proteksi dululah
berperan penting dalam Tanggung jawabnya tetep mana yang menjadi tugas
pelaporan juga membuat mengikuti prosedur kita dan menjadi
laporan trus juga menjaga pekerjaan tanggungjawab kita. Nah
agar semua pekerjaan yang untuk unsafe condition
dilakukan pekerja juga kita melihat kondisi tidak
dengan selamat aman ya berarti didalam
sebuah project didalam
sebuah lingkungan berarti
kita memastikan lokasi itu
aman atau tidak dan
memastikan bahwa itu
aman. Intinya dari safety
itu memastikan bahwa
lokasi kerja atau lokasi
yang akan kita kerjakan
aman dan nyaman
11. Bagaimana menurut anda Kompetensinya pasti minimal Persyaratannya untuk form- Persyaratannya kalau kita di Persyaratannya ya jadi
persyaratan dan kompetensi yang tau prinsip-prinsip K3, nilai- form itu semua harus lapangan ya yang pertama harus bisa memastikan
dibutuhkan dalam melakukan nilai K3 ya bisa di aplikasiin paham. Kompetensinya ya kita cepat tanggap ya tkarna misalnya unsafe act
pelaporan near miss, unsafe act di lapangan. Ya kalo tetep menjaga. Kemampuan inikan suatu apa ya bisa istilahnya dilokasi
dan unsafe condition ? kompetensi sih sertifikasi berkomunikasi dan perlunya dikatakan tanggap darurat misalnya di area mana
yang dipunyai masing-masing pemahaman dan istilahnya hal yang
dari sertifikat AK3U atau terjadi misalnya kondisi
sertifikat disnaker, sertifikat tidak aman dan tindakan
terkait keselamatan kerja buat manusia yang tidak aman
di lapangan itu dijadikan pelaporan
istilahnya buat ke para
pimpinan kita share ke
bagian konstruksi gitu.
Namanya seorang safety
minimalnya punya basic
artinya dasar. Dasar itu
dimana kita meliputi tau
mana metode kerja yang
membahayakan mana
metode kerja alat yang
digunakan itu tidak aman
kita harus tau. Misalnya
contohnya saya beritahu
saya berikan contoh alat,
alat seperti cutting well
yang buat motong besi itu
sama gerinda yang besar
yang ukuran diameternya
32 mau dipake ke alat
gerinda yang ukurannya
diameternya 7 inci ya. Itu
tidak akan sama karna
kalau dari cutting well itu
dipasang ke gerinda itu
akan pecah karena
putaran rpm nya ngga
sama atau putaran
permenit nya ngga sama.
Ya tidak sesuai ya itulah
perlunya ada potensi dan
kemahiran seseorang
disitu
Metode
12. Bagaimana menurut anda metode Melihat temuan di lapangan Yang pertama melihat ya Kalo disini metode Metodenya ya saya
pelaporan yang digunakan oleh di foto trus di share dan memantau berkomunikasi pelaporannya ya disini ada melihat di lapangan, saya
perusahaan dalam melakukan dicatet. Untuk laporannya dengan supervisor atau form. Sebenernya foto untuk bukti lalu saya
pelaporan near miss, unsafe act saya yang buat, intinya sih pekerja trus kita catetin dan prinsipnya sama antara di melaporkan
dan unsafe condition ? melihat kemudian mencatat kita laporin jalan ataupun di gedung
dan melaporkan contohnya dia ditulis
tanggal pokonya waktu
tanggal kejadiannya, itu
dimana posisinya
Matriks Wawancara Informan Utama Komponen Tahap Proses

No Pertanyaan Informan Utama


IU5 IU6 IU7 IU8
Pelaksanaan Pelaporan
13. Bagaimana menurut anda sistem Kalau sistem pelaporan yang Masih simpang siur masih Sistem pelaporannya saya Sudah berjalan adapun
pelaporan near miss di proyek kita lakuin sih terkait near belum jelas dan belum ada bilang tadi sudah berjalan safety yang sering
MRTJ TWJO yang telah miss dan lain-lain itu udah ketegasan dari perusahaan sesuai dengan form cuma yg melanggar istilahnya
diilakukan saat ini ? jalan dan tapi kadang ya SO baru-baru ini amat saya sayangkan, saya gimanalah ya istilahnya
ngga ngelaporin juga pribadi sendiri apa ya ngga sejalan dalam
perlu disosialisasikan memberikan larangan
kembali lebih di detailkan kepada konstruksi itu
lagi kepada SO-SO nya agar kalau yang masuk akal
pengertian near miss-nya mereka terima tapi kalau
aja dulu dasarnya kan baru orang safety menghambat
nanti dia kalau sudah semua pekerjaan tanpa
mengerti apa itu near miss ada alasan yang jelas atau
baru bisa melaporkan gitu tanpa alasan yang masuk
akal mereka pasti akan
complain dari konstruksi
ke pihak kita
14. Bagaimana alur atau sistematika Sistem pelaporan kalau di Laporannya dari safety ke Alurnya ya kalo setau saya Ya jadi kita
pelaksanaan pelaporan near miss, dalam sistemnya pastinya lapangan kita supervisor di lapangan apabila melaporkannya dari pihak
unsafe act dan unsafe condition yang mencatat dan ke atau engineer trus dari menemukan sesuatu yang seumpamannya pasti yang
di proyek MRTJ TWJO ? lapangan SO itu juga mandoran yang kita ketahui near miss unsafe act, unsafe mengetahuinya pertama
kerjasama sama pelaksana terus kita lakuin semua condition yang pertama kali supervisor ya karena
dan pekerja di lapangan. Trus selesai trus kita laporin ke sudah pasti SO dibekali dia yang standby disitu
manajer dari safety nya admin HSE trus ke deputi yang namanya form dia mengawasi pekerjaannya
sendiri trus biasanya mengisi kemudian sesudah jadi dia yang lapor ke
koordinator sampe ke project itu yang terkait misalkan safety. Dari safety ya kita
manager-nya juga melapor ada hubungan dengan menginfokan ke atasan
atau minimal ke manager- leader misalkan mandor, kita ya ke deputy
manager setiap divisi apa ada hubungannya misalnya manager. Alurnya ya kita
yang ada di lapangan orang dengan pelaksana ada ambil sebagai dokumen
yang di kantor juga tau hubungannya yang terkait dulu baru kita panggil
ya kita ada hubungannya siapa yg stay di area itu
gitu. Kemudian kita minta pelaksananya ya. Kita
pertanggungjawabannya ya berikan masukan bahwa
tanda tangannya lah seperti pak lokasi itu tidak aman,
itu. Bukti bahwa kita ada kita pun melihatnya jadi
komunikasi di lapangan itu dari kita tetep nge push
alurnya ya seperti itu. agar bisa di tindak lanjut
Kemudian setelah form itu dari pihak konstruksi, kita
kita buat hari ini segera infokan hasil temuannya
laporkan ke engineriing bahwa itu bahaya jangan
bahwa tadi ada kejadian sampai terulang
near miss. Bisa dikatakan
sebelum kejadian yang
diliatnya hampir berbahaya
itu kan tindak lanjutnya apa.
Jadi saya ada orangnya
langsung diberitahu
kemudian ke pelaksana,
setelah itu langsung ke
pihak HSE departemen.
Disini ada safety
engineering sama deputi
nanti dari pihak engineering
sama deputi di tindak
lanjuti. Kita memproses,
membuat kronologis
walaupun itu sifatnya
hampir atau sudah kejadian
kita buat kronologisnya
untuk bukti kerja SO di
lapangan setau saya gitu
15. Bagaimana menurut anda Kalau manajemen Kalau dari atas itu sih kalau Komitmennya yang pasti Oh setau saja disini
komitmen perusahaan atau komitmennya cukup bagus buat saya ibarat kata belum ceritanya K3 dijunjung manajemen selalu
komitmen top management karena dari punishment terlalu profesional lah dalam tinggi itu udah pasti. Kan mengutamakan K3 ya
perusahaan terkait sistem mereka dukung, apapun arti masih antara iya dan karna apapun ceritanya kita tidak pernah
pelaporan near miss, unsafe act program kita di dukung. tidak juga mengacu kan pada bertentangan. Adapun
dan unsafe condition ? Jelaskan. Kalau misalnya safety keselamatan dan kesehatan pihak konstruksinya yang
management menemukan hal- kerja. Kaya gitu setau saya liat apa yang terhambat
hal yang tidak aman paling apa lagi pekerjaannya
engga ngelapor atau share di yang urgent tentu mereka
grup. Jadi bener-bener selalu berkoordinasi
manajemen itu komitmen dengan safety. Mana
sama apa program safety menurut safety itu tidak
yang udah kita lakuin bisa dia harus bisa
mengikuti itu dan intinya
kalau disini setau saya
konstruksi yang ngikutin
safety bukan safety yg
ngikutin konstruksi. Ya
kesepakatannya sudah
mendukung TWJO
memperlakukan safety
ibaratnya gimana ya 80%
jadi yang 20% ya
istilahnya dispensasi lah.
Jadi misalnya ada
pekerjaan yang urgent ya
ngga mungkin lah kita
terlalu ini kan ya disitulah
dispensasi kita Cuma 20%
lah ngga banyak. Ya
mendukung full sekali
kalo disini
16. Bagaimana menurut anda Partisipasinya kalau yang di Kalau untuk mengumpulkan Partisipasinya ya mungkin Untuk sejauh ini
partisipasi petugas yang terlibat lapangan mereka sih data partisipasi mereka rani bisa liat sendiri partisipasi dari SO ya itu
di dalam mengumpulkan data, konstribusinya cukup bagus kurang tanggap, ngga individualismenya ya kan sangat care sangat perduli
informasi dan melakukan ya cuman itu pokonya kalau proaktif dikasih tau baru sebetulnya itu bisa untuk mengenai near
pelaporan near miss, unsafe act udah di lapangan tuh yaudah dilaksanain diwujudkan dengan miss, unsafe act, unsafe
dan unsafe condition di proyek gitu kalo untuk pencatatan komunikasi. Partisipasinya conditon ya untuk
MRTJ TWJO ? Jelaskan. itu biasanya pada males. itu ya saya bilang tadi pelaporan data memang
Kalau untuk fotosih di share dengan komunikasi ya kan kita melaporkan data ya
ya, perilakunya kalau udah pasti komunikasi tiap hari juga laporan
dibilang sih udah cukup harian, trus laporan
maksimal untuk mencegah bulanan, karena kita audit
kecelakaan, nyari kondisi ya 3 bulan sekali. Disitu
tidak aman, perilaku tidak kita dilihat kinerja safety
aman, mereka udah cukup kita ini mana istilahnya
bantu saya untuk orang yang cuma berkata
memperingatkan di lokasi. doang mana yang ada
Cuman kayanya kalau untuk bukti itu memang harus.
pelaporan ya gitu kita udah Iya peduli karena dalam
kasih formnya kadang ga dunia safety itu ya bukan
dikumpulin. Ada yang kuantiti tapi kualiti.
ngelaporin tapi banyaknya Banyaknya orang dan
engga penambahan safety tapi
kalau dia ngga ada
kualitas rasa perdulinya
ngga ada ya sama aja
ngga akan memberikan
substansi yang lebih
17. Bagaimana bentuk reward dan Reward ngga ada. Kalau Kalau untuk sanksi kita Oh sanksi apabila kaitannya Kita kalau untuk
punishment yang diberlakukan punishment baru mulai berbentuk administrasi ya. tentang tidak membuat punishment yaitu
oleh pihak perusahaan terkait berjalan bulan ini. Kalau Cuma sanksi administrasi laporan ya kan saya baru ya memberikan dimana ada
sistem pelaporan near miss, sistem udah berjalan jadi ya. Kalau reward belum ada disini kalau saya liat ya jadi pekerja melanggar
unsafe act dan unsafe condition ? siapa aja yang melihat saya belum tau otomatis kita memberikan
Jelaskan. keadaan tidak aman ataupun sanksi pelanggaran ya
lebih ke APD, bisa difoto, hukuman dimana kita
dicatet namanya dan sudah terapkan bahwa
dilaporkan ke tim safety nanti setiap orang kita jumpai
tim safety yang melapor ke tidak memakai APD
manajemen bahwa untuk data kita foto dan
pelanggaran tersebut ada diakhir gajinya kita
dendanya. Dari mandor- potong opname dengan
mandornya ya nanti ada kata per itemnya ya
pemotongan gaji dari misalnya helm 50 ribu,
punishment mereka dua item ya 100 ribu, tiga
item ya 150 ribu dan
itupun sesuai dari
jabatannya. Kalau untuk
sekelas engineering ya itu
200 ribu, untuk site
manager 500 ribu.
Reward-nya kadang saya
langsung berikan kepada
pekerja secara perorangan
dimana para pekerja itu
memang selama yang
saya alami karna disini ya
pihak TWJO nya yang
tidak memberikan reward
tapi untuk secara
interennya untuk safety
pribadi wah misalnya
bapak ini pake helm
lengkap, hari-hari rapih ya
sesekali secara interen SO
ya kita berikan kaos
bukan dari TWJO. Tapi
dalam setiap perusahaan
reward itu harus ada
seharusnya
18. Bagaimana menurut anda yang Habit. Unsafe act, perilaku Sumbernya pertama dari Paling banyak yang perilaku Pertama ya itu unsafe act
menjadi penyebab dan sumber dari si pekerjanya sendiri prosedur, kedua kelalaian, kalau menurut saya dan kedua unsafe
kejadian near miss di proyek banyak banget misalnya ketiga mengabaikan dari condition. Ya human
MRTJ TWJO sejauh ini ? contoh APD, house keeping prosedur perusahaan error atau kesalahan
nya terus tata tertib yang manusianya itu sendiri
ngga dilakuin ya paling berupa kadang dia.
banyak itu APD
Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan
19. Bagaimana bentuk pemantauan Pemantauan dari manajemen Menurut saya mereka Pemantauan ya biasanya Pemantauannya secara
manajemen atau perusahaan dan paling ya dengan koordinasi kurang pro aktif ya dalam kami dipantau langsung langsung dari pihak
siapa saja yang terlibat di dalam kalau meeting-meeting kecil memantau. Mereka oleh atasan-atasan atau konstruksi kita itu kadang
melakukan pemantauan terhadap biasanya sih kumpul-kumpul mantaunya jarang-jarang sih manajemen baik yang di menegur langsung ke
pelaksanaan pelaporan near miss, manajemen. Kalau kaya selama ini dan semua lapangan maupun kantor piimpinan kita, safety nya
unsafe act dan unsafe condition konstruksi biasa minimal terlibat dalam memantau ya yang kurang proaktif.
di proyek MRTJ TWJO ? supervisor itu pasti ikut safety bisa pelaksana, Yang memantau ke kita
Jelaskan. toolbox mereka menjelaskan engineer, medis sama admin itu manajer konstruksi
kegiatan mereka. Tim safety langsung baik di 101
juga menjelaskan maupun 102. Site manajer
pengawasan dan tindakan istilahnya dari supervisor
pencegahan kecelakaannya, engineering konstruksi.
minimal ya tim safety dan Konsultan dari owner itu
konstruksi di lapangan karena melihat nilainya kan
kan yang menjalankan di contohnya mereka melihat
lapangan konstruksi kalau kebersihan kita itu
kurang bagus jadi K3 nya
yang menjadi sorotan
utama. Materialnya
berserakan pasti yang
disorot K3 nya. Kondisi
yg tidak aman juga gitu
Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan
20. Bagaimana bentuk evaluasi yang Evaluasi yang dilakuin itu Ya jadi untuk evaluasinya Biasanya kita ada weekly Evaluasi dari manajer
dilakukan TWJO terkait sistem dari rapat bulanan ke berbentuk weekly meeting meeting yang membahas safety itu memang
pelaporan near miss, unsafe act konsultan. Kita juga rapat atau meeting-meeting nya temuan-temuan di lapangan seminggu sekali itu kita
dan unsafe condition ? Jelaskan. mingguan dan kalau ada SHE. Terkait tentang evaluasi ya dari pak
masalah yang urgent atau apa temuan untuk K3 dan sistem manajer, deputi 101 dan
biasanya kan internal atau pekerja dan ada solusi dari 102 dimana dari lokasi
eksternal meeting misalnya temuan kita yang istilahnya
dengan pekerjaannya subkon sangat riskan sangat
kritikal mereka istilahnya
selalu mengkomplain dari
kebersihan keselamatan
dan mereka selalu
menyampaikan ke kita
agar lebih memperbaiki.
Kalaupun itu memang
istilahnya sangat
kuranglah itu biasanya di
lapangan langsung
ataupun juga kita dengan
weekly meeting setiap
jumat
21. Bagaimana menurut anda Ya paling hambatannya dari Ya hambatan dari SO yang Bukan saya sok tahu dan Hambatan yang sering
hambatan yang dirasakan oleh SO nya di lapangan tuh masih reakti ngga pro aktif gimana intinya hambatan kita rasakan ya itu kadang
departemen dari proses awal kadang ada yang melapor yang pertama bekal untuk istilahnya kita
perencanaan hingga memperoleh kadang engga masih perlu SO dia mengerti akan job- bertentangan dengan
hasil dari sistem pelaporan near sosialisasi dan penegasan nya dia dan dia mencintai orang konstruksi dimana
miss, pelaporan unsafe act dan pelaporan near miss, unsafe pekerjaannya. Kalau dia mereka punya progres
unsafe condition di proyek MRTJ act dan unsafe condition udah cinta sama dimana saya sebagai
TWJO ? Jelaskan. pekerjaannya dia yakin orang safety tugasnya
kalau ada kawan atau ada melarang ya. Kita sering
rekan kerja melihat sesuatu berargumentasi di
yang bisa terjadi near miss lapangan sama pihak
itu dia udah pasti secara konstruksi
teoritis pun
implementasinya,
prakteknya dilapangan itu
langsung bisa ditindak
lanjuti sama dia. Karna
multi ya SO itu tidak hanya
mengandalkan paramedis
dia sendiri di lapangan harus
bisa memutuskan gimana
caranya ini ngga bahaya
atau tindak lanjutnya itu
gimana kalau menurut saya
ya

Matriks Wawancara Informan Utama Komponen Tahap Output

No Pertanyaan Informan Utama


IU5 IU6 IU7 IU8
Laporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition
22. Bagaimana laporan near miss di Untuk bulan ini
proyek MRTJ TWJO saat ini ? pencatatannya masih ya
bolong-bolong lah kalo di
bilang masih belum semua
SO bisa ngisi form itu, jadi
seadanya saja yang di laporin
23. Bagaimana laporan unsafe act di Paling banyak permasalahan
proyek MRTJ TWJO saat ini ? ngga pake APD. Hampir
sebagian besar itu
pelanggarannya APD
24. Bagaimana laporan unsafe Kalau untuk unsafe condition
condition di proyek MRTJ TWJO itu paling banyak masalah
saat ini ? housekeeping di lingkungan
kerja. Jadi penempatan
material, penempatan alat
berat, akses kerja
25. Bagaimana laporan kecelakaan Laporan kecelakaan kerja kita
kerja proyek MRTJ TWJO ? kalau ada kecelakaan
biasanya kita info dulu via
whatsapp atau via hp sisanya
yang tau di lapangan lapor ke
safety atau biasanya laporan
ke manajemen dulu baru ke
konsultan, baru setelah itu
bikin laporan resminya lalu di
email ke konsultan dan MRT

Lampiran 10

Matriks Wawancara Informan Kunci Komponen Tahap Input

No Pertanyaan Informan Kunci


IK
Material
1. Bagaimana proses penyusunan Ok. Jadi masing-masing kontraktor termasuk TWJO karena ini dalam bentuk
form yang digunakan dalam kontrak yaitu desain DNC design and construction. Itu diselesaikan sama
melakukan pelaporan near miss, kontraktor semua saya serahkan pada mereka, karena banyak yang lari dari
unsafe act dan unsafe condition ? dari sasaran pelan-pelan saya arahkan jadi generalik
2. Bagaimana bentuk form yang Bentuknya ya jelas nomor, tanggal, lokasi kejadian, sumber penyebab, dll
digunakan dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition ?
3. Bagaimana menentukan Biasanya kami yang akan meng-accept form yang dibuat dari perusahaan
kesesuaian form digunakan dalam
melakukan proses pelaporan near
miss, unsafe act dan unsafe
condition ?
4.. Bagaimana kebijakan K3 yang Ya masih accept lah, masih bisa diterima karena sudah mengarah ke sasaran
dibuat perusahaan terkait sistem yang diinginkan dari SMK3 itu sendiri sekalipun mereka masih abu-abu. Di
pelaporan near miss, unsafe act dalam SMK3 perusahaannya karna mengartikan bahwasanya itu konkret. Ya
dan unsafe condition ? Jelaskan. intinya SMK3 kalau ngeliat kebijakan udah accept lah form nya masih
diterima
5. Bagaimana standar yang Mendekatin, belum tapi udah mendekatinlah ke K3
digunakan perusahaan terkait
sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ?
Jelaskan.
6. Bagaimana pemahaman yang Dari definisinya dulu near miss itu kan yang nyaris ya, nyaris celaka apa sih
anda ketahui tentang near miss di yang nyaris celaka itu apa baru fungsinya bagaimana tindaklanjutnya oleh
proyek MRTJ TWJO? eksekutornya ataupun kontraktor gimana jangan ditemukan misalnya tidak
pake sarung tangan itu bisa kita kategorikan bisa ke near miss, ya tapi tindak
lanjutnya apa kita cari dulu kenapa dia ngga pake sarung tangan? Pengadaan
mgga ada atau emang habitnya. Tapi umumnya yang demikian kalau saya
perhatikan itu habit. Kalau habit, kita minta ke mereka supaya di training atau
induction dulu, kita induction dulu materinya tentang itu. Gimana merubah
habit mereka itu jadi behavior safe lah jangan seenaknya
7. Bagaimana pemahaman yang Unsafe act artinya orang yang selalu melakukan dengan cara shortcut atau
anda ketahui tentang unsafe act jalan pintas contohnya ya ada gedung tinggi ada tangga tapi dia ngga
dan unsafe condition di proyek menggunakan tangga itu tapi akses lain tujuannya tetep sama tidak sama ngga
MRTJ TWJO? tempat yang disediakan gitu semestinya yang dia jalanin itulah contoh kalau
working at high. Confined space unsafe act nya semua botol bejana
bertekanan itu tidak boleh masuk kedalam confined space tapi masih ada
sering kita temukan bejana karena peraturan di confined space itu kedalam
1,5 m harus memiliki satu access minimal kedalam itu kaitannya dengan
unsafe condition yang unsafe orang yang tidak melakukan access yang sudah
di provide karna ini ada galian bisa aja dia jalan dari pinggir slot galian kan
Sumber Daya Manusia
8. Siapa saja menurut anda Semua, harusnya semua pihak terlibat
diperusahaan yang terlibat di
dalam sistem pelaporan near
miss, unsafe act dan unsafe
condition ? Jelaskan.
9. Bagaimana menurut anda jumlah Jumlahnya ada di monthly report HSE yang biasanya di submit ke kami dulu
sumber daya manusia yang
terlibat dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition ?
10. Bagaimana menurut anda tugas Tugasnya harus melaporkan namun meningkatkan kesadaran itu yang masih
dan tanggung jawab yang sulit
melakukan pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition ?
11. Bagaimana menurut anda Kompetensinya harus paling tidak in house training orang yg certified di
persyaratan dan kompetensi yang conduct sama orang yang udah certified artinya yang layak certified itu orang
dibutuhkan dalam melakukan yang minimal experience 5 tahun dan udah pernah ngikutin minimal certified
pelaporan near miss, unsafe act by disnaker gitu
dan unsafe condition ?
Metode
12. Bagaimana menurut anda metode Metode yang dilakukan adalah dengan observasi dan kemudian membuat
pelaporan yang digunakan oleh report yang akan di submit ke kami pihak konsultan
perusahaan dalam melakukan
pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition ?

Matriks Wawancara Informan Kunci Komponen Tahap Proses

No Pertanyaan Informan Kunci


IK
Pelaksanaan Pelaporan
13. Bagaimana menurut anda sistem Belum baik. Mulai meeting kemaren saya marah-marahin itu selama ini saya
pelaporan near miss di proyek bikin bebas mereka ya setelah evaluasi 1 tahun ternyata ya salah satu
MRTJ TWJO yang telah perangkat untuk mencabut sumber bahaya itu kita harus menemukan sendiri
diilakukan saat ini ? bahaya itu dan membuangnya
14. Bagaimana alur atau sistematika Alur dan sistematikanya ini harus ada instruksi keras ya. Karena saya bilang
pelaksanaan pelaporan near miss, alurnya itu udah oke hanya mari mengajak semuanya tim construction, karena
unsafe act dan unsafe condition yang melihat pekerjaan langsung itu tim konstruksi bukan orang safety lalu
di proyek MRTJ TWJO ? mereka menganggapnya itu tanggung jawab safety. Melakonnya sih boleh
tapi bahwasanya yang melaksanakan itu orang construction. Alur atau
pelaksananya lah, konstruksilah yang terlibat. Karena filosofinya orang safety
kan hanya punya 4A assist, analyses, audit, advise ya membantu memeriksa
dan menyelesaikan
15. Bagaimana menurut anda Mereka takut mereka nganggap bahwasanya itu menjadi leading indicator
komitmen perusahaan atau atau key performance indeksnya sementara kalau leading indicator untuk
komitmen top management menentukan key performance itu semakin banyak near miss itu semakin
perusahaan terkait sistem menentukan. Near miss adalah akar-akar permasalahan yang harus kita cabut
pelaporan near miss, unsafe act agar tidak terjadi accident yang lebih parah lagi sesuai dengan teorinya siapa
dan unsafe condition ? Jelaskan. sih pakar-pakarnya safety terdahulu lah
16. Bagaimana menurut anda Belum maksimal, belum. Karena menimbulkan kesadaran orang tuh susah,
partisipasi petugas yang terlibat karena pelaksana atau enjiner maupun kontruktor. Kalau mereka sih oke,
di dalam mengumpulkan data, kalau orang safety nya ya instruksi saya diikutin
informasi dan melakukan
pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition di proyek
MRTJ TWJO ? Jelaskan.
17. Bagaimana bentuk reward dan Reward dan punishment sampe sekarang kita belum ada terima, karena
punishment yang diberlakukan kemarin kita minta supaya bikin program yang harus di submit dan di tanda
oleh pihak perusahaan terkait tangani orang yang paling tinggi artinya PM, safety manager untuk bisa di
sistem pelaporan near miss, implementasi. Kalau saat ini yang saya tagih adalah reward dan punishment,
unsafe act dan unsafe condition ? safety bisa berjalan kalau begini
Jelaskan.
18. Bagaimana menurut anda yang Kelalaian. kelalaian manusia itu penyebab yg paling banyak
menjadi penyebab dan sumber
kejadian near miss di proyek
MRTJ TWJO sejauh ini ?
Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan
19. Bagaimana bentuk pemantauan Ya itu dari level yang dari bawah kalau pelaporan. Karena level dari bawah
manajemen atau perusahaan dan itu yang ininya dengan monitoring sistem dari top maupun dari orang safety
siapa saja yang terlibat di dalam nya sendiri rasa care nya itu harus tinggi. Kalau di TWJO belum, bentuk
melakukan pemantauan terhadap pemantauannya masih abu-abu belum jelas
pelaksanaan pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe condition
di proyek MRTJ TWJO ?
Jelaskan.
Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan
20. Bagaimana bentuk evaluasi yang Evaluasinya sementara ini masih belum ada yang saya evaluasi hanya
dilakukan TWJO terkait sistem sementara ini jelas mereka cenderung di cambuk dulu baru jalan, masih
pelaporan near miss, unsafe act manajemen paku harus di martil dulu baru jalan, sementara manajemen safety
dan unsafe condition ? Jelaskan. itukan dari bawah keatas kalau dari atas kebawah udah berbeda itu
pengawasan. Sementara pelaksanaan itu dari bawah ke atas kalau pengawasan
dari atas ke bawah
21. Bagaimana menurut anda Kurangnya pengetahuan jadi susah untuk menerapkan, itu dari eksekutor.
hambatan yang dirasakan oleh Dari safetynya mereka, mereka tuh bisa nerima mau disosialisasikan neko-
departemen dari proses awal nekonya banyak di construction. Makanya kalau liat kaya kelapangan takut
perencanaan hingga memperoleh ngeliat ngapain saya ditakutin. mereka ngerasa kalo orang-orangmereka yg
hasil dari sistem pelaporan near negur kena safety tuh ah elu kan bawahan jadi menimbulkan kesadaran
miss, pelaporan unsafe act dan mereka itu butuh waktu yg lama dan harus ada pentungan dari saya salah
unsafe condition di proyek MRTJ satunya setahun yang lalu apa ya itu kalo liat bamboo area setelah saya
TWJO ? Jelaskan. suspend dia 2 minggu baru dia punya certified scaffolder kalo sebelumnya
kan materialnya ngga ga peduli dia sama materialnya nah ya saya sama
petinggi dari konsultan ini saya bilang ini ga layak this is not acceptable
rejected, komen dia sihol not signed your can’t continue this work stop your
work make your plan submit to sihol and make the work. Jadinya harus di
lecut kaya itu tadi kalau sekarang ini safety terus ada benturan sama
construction saya Tanya benturan kalian dimana jadi kalau di meeting weekly,
monthly dibahas di safety nya di monthly construction ya saya tinggal
menuangkan disana

Matriks Wawancara Informan Kunci Komponen Tahap Output

No Pertanyaan Informan Kunci


IK
Laporan Near Miss, Unsafe Act dan Unsafe Condition
22. Bagaimana laporan near miss di Near miss belum rutin dilaporkan, near miss kebanyakan penyebab utamanya
proyek MRTJ TWJO saat ini ? gimana ya manusianya, manusia yang knowledge pengetahuannya masih
rendah sama nearmiss mereka filosofinya belum sampe sana. Ada yg sudah
tau tapi mereka menggangap itu menambah pekerjaan bukan menambah nilai
uang sebenrya mereka menambah nilai uang
23. Bagaimana laporan unsafe act di Unsafe act yang paling banyak itu tidak menggunakan dan tidak ngikutin
proyek MRTJ TWJO saat ini ? aturan yang ada. Kita udah jelas-jelas melekatkan banner gunakan PPE tapi
pasti ada yang ngga pake PPE ada yang bilang itu ngga bebas ngalangin
sementara itu kan menyelamatkan dia
24. Bagaimana laporan unsafe Unsafe condition itu yang belum selesai yang belum certified yang belum
condition di proyek MRTJ TWJO komplit digunakannya alat misalnya scaffolding itu belum green tag udah
saat ini ? dikerjakan, nah kemudian working inside excavation terjadi dalam galian itu
akses nya ngga proper karena tanah. Tanah kan bisa dibentuk pake kaki kan
jadi dia jalan aja tanpa memikirkan kalau terjadi sesuatu, evakuasinya gimana
kalau terjadi longsor gimana. Ah itu tadi, mereka menganggap ah gapapa
udah biasa. Jadi mereka tidak membiasakan yang benar tapi membenarkan
kebiasaan. Jadi kebiasaannya itu yang diunggulkan
25. Bagaimana laporan kecelakaan Sejauh ini TWJO sudah melaporkan kecelakaan kerja bisa dilihat di HSE
kerja proyek MRTJ TWJO ? report kami totalnya
Lampiran 11

Matriks Wawancara Informan Pendukung Komponen Tahap Input

No Pertanyaan Informan Pendukung


IP1 IP2
Material
1. Bagaimana proses Ya menurut saya sih divisi kami yang menyusun dan harus Kalau misalnya untuk penyusunan form, dokumentasi gitu
penyusunan form yang dilibatkan dengan divisi yang berwenang pada proses yang mengerjakan itu disini quality assurance ya. Disini
digunakan dalam melakukan penyusunan tersebut karna dari situ kita tau nantinya salah satu aspek quality adalah dokumentasi. Form
pelaporan near miss, unsafe masukan baru nanti kita bisa bongkar lagi. Tahapannya mulai apapun, semua form dari departemen apa aja semuanya ya
act dan unsafe condition ? dari penomoran form kalau sudah sesuai akan kita submit ke salah satunya ya ini form pelaporan near miss ini dan
konsultan setelah di setujui baru dapat didistribusikan oleh kawan-kawannya itu yang menilai QA kerjasama dengan
pihak yang berwenang tim safety
2. Bagaimana bentuk form Yang saya tau itu kejadian, apa yang menyebabkan kejadian Kalau bentuk formnya saya kurang tau detailnya karena
yang digunakan dalam itu apa aja, apakah karna ada benda-benda yang tidak divisi safety yang sehari-hari terlibat untuk pelaporannya
melakukan pelaporan near nyamanlah. Kalau untuk detail formnya saya kurang
miss, unsafe act dan unsafe memperhatikan
condition ?
3. Bagaimana menentukan Jika form nya sudah sesuai dengan dokumen kami Pendokumentasian yang rapih terstruktur itu karna ada
kesesuaian form digunakan penyusunannya maka sudah boleh di submit ke konsultan standarnya. Kalau ngga salah standar ISO, makanya yang
dalam melakukan proses nantinya meng-handle itu adalah orang quality. Karena orang
pelaporan near miss, unsafe quality assurance juga yang akan mengaudit internal
act dan unsafe condition ? project ini, salah satu yang di audit itu adalah
dokumennya
4. Bagaimana kebijakan K3 Jadi kebijakan yang kita terapkan itu di lapangan masih Wah kalau kebijakan K3 saya ngga taulah, kebijakan
yang dibuat perusahaan belum memenuhilah masih minim untuk di lapangan. Tapi disini kalau spesifik diperusahaan ini saya jujur ngga tau
terkait sistem pelaporan near kebijakan itu menurut saya sudah baik tapi personal yang cuman ya kalau untuk saya perhatikan, soalnya ini udah
miss, unsafe act dan unsafe dilapangan ini yang masih susah pengalaman ya hasil diskusi saya dengan dosen ada itu
condition ? Jelaskan. dosen saya yang ngambil disertasi masalah K3, masalah
K3 emang ya udah fakta untuk K3 konstruksi di Indonesia
itu nomer 2 terburuk sedunia dia punya datanya. Jadi
kalau misalnya emang kalo kita liat ya K3 konstruksi
sebenernya bisa dikatakan kita itu disini udah paling
mending, paling mending dibandingkan proyek-proyek
yang lain
5. Bagaimana standar yang Masih kuranglah ya soalnya disini kebanyakan masih ngga Standar ISO, OHSAS biasanya yang mengetahui detail
digunakan perusahaan terkait tau apasih standarnya itu, misalnya standar APD aja ngga tau orang SHE yang pasti dan bisa juga QA
sistem pelaporan near miss,
unsafe act dan unsafe
condition ? Jelaskan.
6. Bagaimana pemahaman Ya, near miss itu hampir celaka, kecelakaan kerja yang Near miss itu definisinya belum kejadian kan cuma bisa
yang anda ketahui tentang belum terjadi. Akan berdampak kecelakaan kalau belum kita terjadi. Near miss sendiri itu sebenernya suatu pelanggaran
near miss di proyek MRTJ perbaiki batas. Batas itu batas K3 tapi belum kejadian, nyaris aja
TWJO? kejadian itu
7. Bagaimana pemahaman Perilaku tidak aman itu kan dari kita diri sendiri gitu. Definisi dari unsafe action pribadi ya definisi dari unsafe
yang anda ketahui tentang Definisinya itu ya kita amankan dulu diri kita, kita merasa action itu tindakan yang tidak terukur dan tidak tau batas
unsafe act dan unsafe nyaman bekerja disini. Kalau merasa nyaman untuk bekerja karna yang namanya K3 itu kalau K3 itu prinsipnya kan
condition di proyek MRTJ ya itu kita lakukan. Jadi ya kita beritahu dalam arti kita tau batas, know your limit gitu. Tau batas dimana itu luka
TWJO? sampaikan. Ya perilaku yang tidak aman orang yang akan akibat jatoh, kalau jatoh dari tangga mungkin memar, kalo
naik ke scaffolding memaksakan naik ke scaffolding yang jatoh dari pier yang sekian puluh meter mungkin bisa mati
belum diceklis dan belum ada tagnya misalnya padahal itu iya kan? Tau ada batas, ada pembatas. Jadi yang namanya
kondisi tidak aman unsafe action itu melanggar batas, batas apapun.
Unsafe condition adalah tidak memberikan batas itu.
Sumber Daya Manusia
8. Siapa saja menurut anda Ya kalau sistem pelaporannya itu semuanya sih kayanya, kita Semua. Harusnya yang aware pertama itu adalah selain
diperusahaan yang terlibat di juga terlibat seharusnya ya. Terlibat tapi yang paling divisi HSE ya pelaksana, construction dulu baru divisi-
dalam sistem pelaporan near dominannya kan sebenernya ya divisi safety divisi lainnya. Jadi construction sadar untuk K3 karena itu
miss, unsafe act dan unsafe bukan serta merta tanggung jawab HSE tapi harus dari
condition ? Jelaskan. construction-nya sendiripun juga harus aware karena
kalau disini kan orang construction itukan misalnya, ngga
usah disinilah hampir di semua project kalau bicara
pelaksana itu, secara mereka fokus ke progres mereka
yang penting cepet selesai nih yang penting cepet selesai
udah gitu. Cuma mereka mesti disadarkan, dijelaskan gini
kalau terjadi kecelakaan elu bakal lebih delay lagi dan
tanggung jawabnya bakal berat ke elu
9. Bagaimana menurut anda Banyak yang pastinya bisa dilihat di laporan-laporan SHE Banyak saya ngga tau persisnya berapa
jumlah sumber daya manusia juga setau saya ya
yang terlibat dalam
melakukan pelaporan near
miss, unsafe act dan unsafe
condition ?
10. Bagaimana menurut anda Ya tugas dan tanggung jawab ya memenuhi dan mentaati apa SO itu mengingatkan dan juga advice dan harus ada stop
tugas dan tanggung jawab peraturan yang ada di TWJO ini, sistemnya gimana, authority jadi kalau misalnya mereka ngeliat something not
yang melakukan pelaporan pelaporannya gimana SO mengikuti alurnya fit atau sesuatu yang ngga sesuai dari aspek K3 nya mereka
near miss, unsafe act dan punya kuasa untuk stop atau memberhentikan untuk
unsafe condition ? memperbaiki keadaan site dulu itu tercantum di dalam
kontrak dan ada dikontrak kita. Semua staf HSE kita itu
punya authority untuk memperbaiki keadaan lapangan
sampai aman, nyaman
11. Bagaimana menurut anda Ya harus paham K3 nya mungkin minimal harus tahu dasar- Wah kalau itu ngga tau, yang jelas harus punya K3 dasar
persyaratan dan kompetensi dasar K3 nya dulu itu mutlak harus ada, cuman kalau yang lainnya saya
yang dibutuhkan dalam kurang tau deh. Yang punya keahlian K3, sekarang gini
melakukan pelaporan near deh namanya seorang SO seorang K3 itu di bayar untuk
miss, unsafe act dan unsafe paranoid, mereka dituntut paranoid mereka harus peka
condition ? mereka harus peka. Salah satu mengasa keahlian itu
dengan sertifikasi resmi yaitu sertifikasi K3 dasar
Metode
12. Bagaimana menurut anda Ya caranya mungkin diberitahu dulu ke safety nanti safety Melihat atau observasi, mencatat kemudian memberikan
metode pelaporan yang memberitahukan yang di lapangan itu kaya gimana baru solusi dengan mengambil tindakan yang tepat di lapangan
digunakan oleh perusahaan pelaporan ke atasannya safety dari safety ke bagian lainnya
dalam melakukan pelaporan disosialisasikan
near miss, unsafe act dan
unsafe condition ?

Matriks Wawancara Informan Pendukung Komponen Tahap Proses

No Pertanyaan Informan Pendukung


IP1 IP2
Pelaksanaan Pelaporan
13. Bagaimana menurut anda sistem Ya kalau untuk sistem pelaporannya sudah baik tapi Sistem sudah ada lumayanlah ya cuma masih banyak
pelaporan near miss di proyek masih ada yang kita kurang ketahui. Contohnya ada yang yang perlu diperbaiki mungkin dari sumber daya
MRTJ TWJO yang telah near miss kaya gini jadi mereka yang tau itu near miss manusianya
diilakukan saat ini ? belum menerapkan. Sama teman-temannya belum
dikasih tau kadang mungkin atau lupa atau gimana belum
dan dianggap itu ah sepele, ah biarin ajalah kaya gitu
14. Bagaimana alur atau sistematika Alurnya ya dari safety juga ya yang melakukan Hmm.. laporan ya? Gini kalau misalnya masalah
pelaksanaan pelaporan near miss, pelaporan. Kalau menurut saya itu di lapangan ya pelaporan-pelaporan itu saya bisa paparkan kalau orang
unsafe act dan unsafe condition pelaksana, pelaksananya itu lapor ke safety dari safety Indonesia itu ya paling alergi sama paperwork sama
di proyek MRTJ TWJO ? lalu misalnya ke konstruksi atau ke safety baru ke paperwork. Jadi mereka itu mau apa-apa cepet jadi kalau
bagian-bagian lainnya dokumentasi itu ya alur dokumen itu entah ngga aware,
ngga tau apa pura-pura ngga tau. Dokumen pun ga akan
tercatat ngga akan rapih
15. Bagaimana menurut anda Komitmennya baik, perusahaan sangat mendukung K3 Sebatas ditegor, kalau ngga ditegor ya engga
komitmen perusahaan atau disini. Dari atasan sampe ke lapangan itu komitmennya
komitmen top management sama
perusahaan terkait sistem
pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition ? Jelaskan.
16. Bagaimana menurut anda Kalau partisipasi SO ya SO tetap melaksanakan tugasnya SO itu kalau menurut saya masih banyak yang perlu di
partisipasi petugas yang terlibat dilapangan Cuma terkadang SO masih sulit untuk perbaiki. SO itu bukan cuma mencatat tapi juga
di dalam mengumpulkan data, bertindak sendiri mencegah di lapangan
informasi dan melakukan
pelaporan near miss, unsafe act
dan unsafe condition di proyek
MRTJ TWJO ? Jelaskan.
17. Bagaimana bentuk reward dan Setau saya baru-baru ini diterapkan kebijakan, Hmmm…kalau misalnya hasil diskusi aku juga ya hasil
punishment yang diberlakukan punishment yang berupa denda pada setiap level diskusi misalnya reward dan punishment ke personil itu
oleh pihak perusahaan terkait pekerjaan di TWJO. Kalau reward sih disini belum ada gampang diakalin. Misalnya nanti si pengawas, eh lu
sistem pelaporan near miss, peringatan pertama, peringatan pertama, peringatan
unsafe act dan unsafe condition ? pertama lagi jadi peringatan pertama itu bisa 50 kali. Jadi
Jelaskan. sanksi teguran, cuma sanksi tegurannya itu ya gitu-gitu
aja. Internal memonya udah ada nih, jadi dendanya
misalnya apa, dalam pelaksanaannya itu masih suka
missed masih suka longgar ngga bisa apa-apa, kecuali
dari awal dari proses tanda tangan kontrak owner sudah
menyatakan kalau misalnya terjadi 1 kali, 1 kecelakaan
apapun yang menyebabkan sampe misalnya sampe cacat,
cacat total, meninggal itu ada berapa persen dari kontrak.
Disini masih berupa sanksi teguran individu. Apalagi
reward, gaji disini aja suka telat
18. Bagaimana menurut anda yang Menurut saya sih perilaku pekerjanya kedua yang Paling banyak behavior setau saya yang kaya misalnya
menjadi penyebab dan sumber lingkungan kerjanya pekerja ngga pake body harness dan segala macem itu
kejadian near miss di proyek
MRTJ TWJO sejauh ini ?
Pemantauan Pelaksanaan Pelaporan
19. Bagaimana bentuk pemantauan Yang memantau itu kan orang tertinggi dikantorlah Teguran dari JMCMC. Konsultan negor nih, tau-tau PM
manajemen atau perusahaan dan datang turun ke lapangan melihat sejauh mana yang dapet email dari pak konsultan dan pihak Jepang lainnya
siapa saja yang terlibat di dalam dilakukan oleh orang-orang disini. Bagian-bagian juga dapet email. Tau-tau dari atas grasak grusuk ke SHE
melakukan pemantauan terhadap manajer konstruksi memantau sejauh mana sih yang manager certify this, please certify this certify that
pelaksanaan pelaporan near miss, dilakukan orang-orang ini, dilakukan ngga. Yang saya semuanya.
unsafe act dan unsafe condition lihat sih dilakukan biarpun kaya gini masih banyak yang
di proyek MRTJ TWJO ? kurangnya
Jelaskan.

Evaluasi Pelaksanaan Pelaporan


20. Bagaimana bentuk evaluasi yang Ya ada bukti pelaporan baru bisa di evaluasi. Jadi harus Bukan berat sih pertanyaannya sebenernya miris sih
dilakukan TWJO terkait sistem kita tulis di record gitu. Jadi tuh setiap bulannya harus jawabannya. Sebenernya gampang sih cuma bikin
pelaporan near miss, unsafe act dilaporin ke kantor ya atau dibahas di meeting mingguan geleng-geleng kepala. Gimana ya evaluasinya di meeting.
dan unsafe condition ? Jelaskan. dan bulanan Kita rapat dengan konsultaan itu pasti ada dan rutin. Ada
HSE monthly meeting, weekly meeting, HSE meeting,
HSE itu akan dibahas terus disitu cuman ya itu
masalahnya temuannya akan itu-itu lagi. Temuan itu bisa
ditemukan 10 kali dalam sebulan, misal pager. Pager itu
lagi itu lagi yang dibahas
21. Bagaimana menurut anda Kesulitannya ya karena kita kesibukannya masing- Oh gini, namanya risk di project, risk assessment salah
hambatan yang dirasakan oleh masing jadi kaya gini kadang ngga ketemu antara satu satunya untuk continous evaluation, evaluasi secara
departemen dari proses awal orang dengan yang lain sehingga komunikasi tidak lancar berkelanjutan. Continous improvement. Karna yang
perencanaan hingga memperoleh namanya perusahaan besar itu ngga hanya mencegah
hasil dari sistem pelaporan near terjadi harus bisa jadi lesson learned atau pembelajaran.
miss, pelaporan unsafe act dan Hambatannya adalah untuk mendapatkan lesson learned
unsafe condition di proyek MRTJ itu harus ada keterbukaan harus ada kemauan untuk di
TWJO ? Jelaskan. evaluasi, gitu. Kalau misalnya kemauan untuk evaluasi
itu ngga ada yang namanya near miss itu ngga akan
dilaporin ya dari personalnya
Lampiran 12

Observasi Kegiatan Divisi SHE Proyek Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) Tokyu-
WIKA Joint Operation Tahun 2016
No. Kegiatan Foto Keterangan
Aktivitas Divisi SHE

Kegiatan ini dilakukan oleh


SO dengan mengisi form
Pencatatan dan pelaporan
yang sudah disediakan
1. near miss dan unsafe
setiap menemukan kejadian
condition
near miss dan unsafe
condition

Kegiatan ini rutin dilakukan


setiap hari oleh SO sebelum
memulai pekerjaan untuk
2. Toolbox Meeting
selalu mengingatkan kepada
para pekerja pentingnya K3
dalam bekerja

Kegiatan yang rutin


dilakukan dua kali satu
bulan (setiap jum’at) dengan
3. Safety Morning Talk semua divisi, rekan
kerja/subkontraktor dan
pekerja untuk membahas
permasalahan K3

Rapat yang rutin dilakukan


dua kali seminggu oleh
divisi SHE dan
4. SHE Weekly Meeting
subkontraktor untuk
membahas temuan-temuan
yang terdapat di area proyek

Kegiatan yang rutin setiap


hari dilakukan Safety Officer
(SO) untuk mencari temuan
5. Daily Safety Patrol
atau finding (unsafe act,
unsafe condition dan near
miss)
Kegiatan ini wajib dilakukan
untuk menjelaskan secara
singkat lokasi, proses
pekerjaan yang ada di
proyek, tata tertib
6. Safety Induction keselamatan dalam bekerja
dan prosedur tanggap
darurat kepada visitor,
subkontraktor dan pekerja
yang baru memasuki area
proyek

Kegiatan ini dilakukan


apabila terdapat alat yang
baru memasuki area proyek
7. Inspeksi Alat dan rutin dilakukan per tiga
bulan oleh SO pada heavy
equipment yang berada di
area proyek

Kegiatan penandaan dengan


warna ini dilakukan setiap
8. Color Code tiga bulan pada heavy
equipment yang berada di
area proyek

Kegiatan ini rutin dilakukan


oleh environmental engineer
Pengukuran terhadap di dalam pengukuran
9.
Lingkungan Kerja terhadap lingkungan kerja
seperti kebisingan, gas,
getaran dan kualitas air
Kegiatan ini dilakukan
untuk memeriksa kondisi
kesehatan para pekerja atau
10. Pemeriksaan Kesehatan
setiap sebelum melakukan
pekerjaan tertentu seperti
bekerja di ketinggian

Aktivitas Pekerjaan Konstruksi

Pekerjaan pengecoran
Pile Cap and Pier Work
11. column untuk pembuatan
Permanent
pier dan pile cap

Pekerjaan pemotongan besi


(rebar), pembentukan besi
12. Pekerjaan fabrikasi besi
untuk coloumn pier dan
penyimpanan materiall besi

Perilaku Pekerja

Kedua pekerja tidak


menggunakan APD berupa
safety helmet dan pada
.13. Pekerjaan fabrikasi besi
posisi tubuh yang tidak
ergonomis
(Unsafe Act)
Kedua pekerja tidak
Pekerjaan pengelasan
menggunakan APD berupa
14. besi untuk akses jalan
face shield dan safety gloves
kendaraan proyek
(Unsafe Act)

Kondisi Area Kerja

Penempatan material-
Penggunaan Scaffolding
material scaffolding yang
Di area LP 11 CP 101
15. tidak sesuai merupakan
pada pekerjaan
masalah housekeeping
pembuatan Pier
(Unsafe Condition)

Sisa-sisa sampah yang


belum diangkut oleh tim 5R
Pekerja dan
menumpuk di lokasi kerja
16. subkontraktor yang
CP 102 ini merupakan
beristirahat di lokasi
masalah housekeeping
(Unsafe Condition)
Lampiran 13

Daftar Dokumen (Input, Proses, Output, Feedback)

Penanggung
Dokumen yang Checklist Nama
No. Jawab Catatan
Dibutuhkan () Dokumen
Dokumen
Menjelaskan tentang
Kebijakan K3, bagaimana komitmen yang
Kebijakan disepakati oleh top
1. Kebijakan Perusahaan  Divisi SHE
Lingkungan dan management terhadap K3,
Kebijakan Mutu lingkungan dan mutu
perusahaan.
Menjelaskan tentang apa
saja program dan
TWJO SHE bagaimana jadwal
2. Program-program SHE  Divisi SHE
Program 2016 pelaksanaan dari program-
program SHE yang telah
disusun untuk tahun 2016
Menjelaskan tentang
perencanaan proyek dan
prosedur-prosedur untuk
mengisi keseluruhan sistem
Prosedur-prosedur SHE
manajemen proyek
3. yang berkaitan dengan  Site Safety Plan Divisi SHE
khususnya berkaitan
pelaporan
dengan divisi K3 yang
didukung dengan SOP
aktifitas pekerjaan secara
spesifik dan form-form
Menjelaskan tentang
project data, statistic safety
record, incident/accident
report, resume of safety
permit, safety violation
report, stop order report,
HSE Monthly evaluation, resume of
Laporan unsafe act
4.  Report January- Divisi SHE meeting and audits in this
proyek
April 2016 month, resume of meeting
and induction in this
month, resume of training,
next month highlight, three
months rolling programme
highlight, activities
photograps
Menjelaskan tentang
project data, statistic safety
HSE Monthly record, incident/accident
Laporan unsafe condition
5.  Report January- Divisi SHE report, resume of safety
proyek
April 2016 permit, safety violation
report, stop order report,
evaluation, resume of
meeting and audits in this
month, resume of meeting
and induction in this
month, resume of training,
next month highlight, three
months rolling programme
highlight, activities
photograps
Menjelaskan tentang
project data, statistic safety
record, incident/accident
report, resume of safety
permit, safety violation
report, stop order report,
HSE Monthly evaluation, resume of
6. Laporan near miss  Report January- Divisi SHE meeting and audits in this
April 2016 month, resume of meeting
and induction in this
month, resume of training,
next month highlight, three
months rolling programme
highlight, activities
photograps
Menjelaskan tentang
project data, statistic safety
record, incident/accident
report, resume of safety
permit, safety violation
report, stop order report,
HSE Monthly evaluation, resume of
Laporan kecelakaan kerja
7.  Report January- Divisi SHE meeting and audits in this
proyek
April 2016 month, resume of meeting
and induction in this
month, resume of training,
next month highlight, three
months rolling programme
highlight, activities
photograps
Menjelaskan tentang
deskripsi, standar operasi
Aktivitas Pekerjaan Method Divisi
8.  dan metode pelaksanaan
Proyek Statement Konstruksi
pekerjaan yang dilakukan
di area kerja
Company profile, Menjelaskan tentang
V3 employer’s struktur organisasi
Divisi SHE dan
Dokumen-dokumen requirement, perusahaan, deskripsi dan
9.  Departemen
lainnya Reward & lingkup pekerjaan proyek
Kontrak
Punishment MRTJ, kebijakan terkait
Policy hukuman dan penghargaan.