Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktek Kerja Lapangan

Peran Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas dalam


Gerakan Sosial Pemanfataan Sampah di Kabupaten Banyumas

Dibuat oleh:

Edo Ricardianto (F1D012014)

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

JURUSAN ILMU POLITIK


Peran Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas dalam
Gerakan Sosial Pemanfataan Sampah di Kabupaten Banyumas

Oleh:
Edo Ricardianto
F1D012014

Diajukan
Untuk memenuhi salah satu persyaratan tugas PKL
Pada Jurusan Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Jenderal Soedirman

Diterima dan disetujui


08 Juni 2016

Dosen Pembimbing Ketua Jurusan Ilmu Politik

Drs. Solahuddin K, M.Si. Dr.Sofa Marwah, M.Si


NIP. 19630612 198901 1 01 NIP.19750426 200312 2 001
I. Abstrak
Permasalahan penaganan persampahan tidak hanya menjadi tanggung
jawab pemerintah, pemerintah daerah, maupun pemerintah desa tetapi menjadi
tanggung jawab seluruh masyarakat dimana berdomisili. Semakin sempitnya
lahan untuk pembuangan akhir mau tidak mau mengharuskan masyarakat
Banyumas mencari alternatif dalam menghadapi masalah sampah. Salah satu yang
sedang berkembang ialah Bank Sampah, mencoba mendaur ulang sampah dan
menjadi komoditas yang menguntungkan. Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Banyumas memiliki peran dan wewenang yang besar dalam memajukan bank
sampah ini. Wewenang itu tercantum pada Peraturan Daerah Kabupaten
Banyumas Nomor 18 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Tujuan penelitian ini mencoba melihat sejauh mana peranan
BLH dalam memajukan bank sampah. hasil yang didapatkan terdapat beberapa
strategy BLH dalam memajukan bank sampah. Pengawasan, kerja sama,
kampanye, membentuk organisasi intra, pendampingan hingga penyediaan alat
bantu. Ditunjang dengan sumber daya yang dimiliki oleh BLH Kabupaten
Banyumas startegy yang diterapkan menyasar para pemuda dan masyarakat yang
berminat membentuk bank sampah.
Kata kunci : Pengelolaan Sampah, Badan Lingkungan Hidup, Bank Sampah

II. PENDAHULUAN

Praktik Kerja Lapangan atau PKL menjadi suatu kegiatan penerapan ilmu
yang didapatkan mahasiswa dalam perkuliahan pada lapangan pekerjaan nyata.
Dengan maksud guna mendapatkan manfaat untuk menggali sekaligus
meningkatan kemampuan mahasiswa, juga dapat berfungsi sebagai pelatihan
bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. Dalam hal ini, penulis
mengambil tema atau judul menyangkut peran Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Banyumas dalam mendukung gerakan sosial pemanfaatan sampah di
Kabupaten Banyumas.

Sampah menurut halaman wikipedia merupakan ialah material sisa yang


tidak diharapkan setelah terjadinya suatu proses. Sampah yang tidak terpakai
berjumlah banyak karena setiap proses menghasilkan sampah. Secara alamiah
sampah itu merupakan hasil dari proses itu sendiri. Alam mengenalnya sebagai
hasil yang dipunyai oleh bumi dan dihasilkan oleh bumi. Menurut konsep manusia
mengenal sampah selayaknya kotoran, bau dan juga sesuatu yang tidak dinginkan
harus segera disingkirkan. Sampah tidak bisa dicegah keberadaanya, akan selalu
ada pada setiap proses di kehidupan manusia. Bahkan dalam proses pencernaan
manusia itu sendiri, manusia menghasilkan sampah dari dalam tubuhnya.

Sampah dikenal menjadi masalah perkotaan dikarenakan perkotaan


merupakan tempat berkumpulnya manusia dan terjadinya banyak proses. Proses
industri, proses alam, proses pertambangan, proses manusia segala macam bentuk
proses berada di perkotaan. Menumpuknya sampah kerap menjadi persoalan
perkotaan untuk segera menyingkirkannya dari tempat umum. Dibuang dibakar
ataupun dimanfaatkan kembali tindakan yang bisa dilakukan. Tetap saja sampah
berbanding lurus dengan produksi manusia dan semakin banyak sampah yang
harus dikelola.

Menurut Suwerda, terdapat beberapa dampak yang ditimbulkan apabila


buruknya pengelolaa sampah. Sampah dapat menjadi sumber penyakit,
lingkungan menjadi kotor. Hal ini anakan menjadi tempat yang subur bagi
mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan manusia, dan juga
menjadi tempat sarang lalat, tikus dan hewan liar lainnya. Pembakaran sampah
dapat berakibat terjadinya pencemaran udara yang dapat mengganggu kesehatan
masyarakat, dan memicu terjadinya pemansan global. Pembusukan sampah apat
menimbulkan bau yang tidak sedap dan berbahaya bagi kesehatan. Cairan yang
dikeluarkan dapat meresap ketanah, dan dapat menimbulkan pencemaran sumur,
air tanah, dan yang dibuang ke badan air akan mencemari sungai. Pembuangan
sampah kesungai atau badan air dapat menimbulkan pendangkalan sungai,
sehingga dapat memicu terjadinya banjir.

Permasalahan penaganan persampahan tidak hanya menjadi tanggung


jawab pemerintah, pemerintah daerah, maupun pemerintah desa tetapi menjadi
tanggung jawab seluruh masyarakat dimana berdomisili. Kita tidak dapat menutup
mata dimana-mana berserakan sampah sampah selain tidak enak dipandang juga
menganggu lingkungan. Banyaknya masyarakat yang membuang sampah
ditempat tempat yang dapat menyumbat aliran air dapat menyebabkan aliran air
tersumbat dampaknya menimbulkan banjir dimana=mana. Masyarakat baru akan
menyadari kalau terjadi banjir yang melanda wilayahnya. Mereka selalu
menyalahkan aparat pemerintah yang menangani tidak bekerja secar optimal,
yang tidak menangangi masalah sampah. Mereka tidak menganggap tidak
menyediai tempat pengelolaan sampah, ataupun tempat penanganan sampah
sehingga masyarakat bersikap masa bodoh.

Dalam undang-undang tentang lingkungan hidup Republik Indonesia


nomer... Tahun... Dikatakan bahwa lingkungan hidup tidak hanya masalah
pemerintah tetapi seluruh warga negara. Sebagai bentuk wujud kepedulian
pemerintah daerah Kabupaten Banyumas dalam penanganan persampahan telah
dibentuk organisasi perangkat daerah yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Banyumas yang menangani kebersihan lingkungan yang salah satu tugasnya
adalah menanganani kebersihan lingkungan/sampah. salah satu tugasnya dapat
dilihat dengan tersedianya tempat sampah disepanjang jalan baik yang bersifat
organik maupun non organik dan yang sudah pasti pemerintah daerah Kabupaten
Banyumas telah menyediakan TPA yaitu di Gunung Tugel.

Kita tidak dapat menghindari semakin majunya tekhnologi masyarakat


maka semakin banyak menghasilkan limbah ataupun sampah baik sampah yang
bisa didaur ulang dan tidak dapat didaur ulang untuk penanganan ini semua perlu
didukung berbagai pihak baik dari pemerintah, masyarakat, dan organisasi
perusahan swasta. Disamping perlunya didukung SDM yang memadai sarana dan
prasaran yang memnuhi syarat perlu oenanganan tekhnologi tinggi sehingga
penanganan sampah masyarakat tersebut dapat dikelola

III. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang tersebut dapat dirumuskan menjadi beberapa masalah

1. Bagaimana peran BLH dalam menangani persampahan ?

2. Faktor-faktor apa saja yang menghambat ?

IV. PEMBAHASAN
DESKRIPSI TEMPAT PKL

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas terletak di jalan Warga


Bhakti, No. 3 Purwokerto. Memiliki 1 gedung utama dan 2 gedung tambahan
yang terletak di komplek pemerintahan Kabupaten Banyumas yang terdiri dari
BLH, Pamong Praja, Disbudpar, dan Kesbangpol. Gedung utama terdiri dari 6
ruangan kerja, 1 ruang rapat, 1 ruang tunggu. 1 ruang perlengkapan. Sementara 2
gedung tambahan merupakan ruang arsip dan tempat berdirinya Bank Sampah
Sumber Berkah. 6 ruangan kerja dibagi untuk beberapa bagian kerja BLH yaitu, 1
ruangan sekretaris, 1 ruangan kepala badan, 1 ruangan bagian umum, 1 ruangan
bagian pengawasan, 1 ruangan bagian keuangan, dan 1 ruangan bagian
konservasi.

Berdasarkan Peraturan Bupati Banyumas Nomor 45 Tahun 2011 tentang


Penjabaran dan Fungsi Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas mempunyai tugas melaksanakan
penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang lingkungan hidup.
Dalam melaksanakan tugasnya, Badan Lingkungan Hidup menyelenggarakan
fungsi perumusan kebijakan teknis lingkup lingkungan hidup, pemberian
dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah lingkup lingkungan hidup,
pembinaan dan pelaksanaan tugas lingkup lingkungan hidup, pelaksanaan tugas
lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 27 Tahun 2009 tentang Organisasi


dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Banyumas sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 17 Tahun 2011
tentang Perubahan Kedua, susunan organisasi Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Banyumas terdiri dari :

1. Kepala Badan;

1. Sekretariat , terdiri dari :

1. Sub Bagian Umum;


2. Sub Bagian Keuangan dan

3. Sub Bagian Bina Program;

4. Bidang Konservasi Sumber Daya Alam ;

5. Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan ;

6. UPT Laboratorium Lingkungan Hidup;

Mengurusi adminstrasi, keluar masuknya surat dan sebagai humas dari


BLH ialah sub bagian umum. Sub bagian umum sekarang dikepalai oleh pa
Sunaryo, Untuk membina mitra BLH yang bergerak dalam bidang Lingkungan
ataupun keanekaragaman hayati, sekarang dikepalai oleh Pa Subarkah. Selain itu
pula terdapat bidang yang bergerak dalam pengawasan lingkungan, tidak hanya
polusi udara maupun polusi air tetapi polusi suara, menjadi yang harus diawasi
BLH.

Bidang Konservasi lebih mengedepankan tindakan pengawetan dan


perawatan terhadap lingkungan hidup di Kabupaten Banyumas. Dikepalai oleh Pa
Sigit. Biasa menerima laporan dan ditindak lanjuti merupakan tugas pokok dari
bidang konservasi ini. Selain itu menunggu laporan, bidang konservasi memiliki
agenda setting untuk membuat Kabupaten Banyumas lebih hijau. Kabupaten
Banyumas memiliki laboratorium sebagai penunjang kinerja dari pengawasan
dipergunakan untuk mengecek standar polusi yang dihasilkan oleh suatu limbah.
Mempergunakan sumber daya manusia yang dimiliki oleh BLH sendiri.
Laboratorium dikepalai oleh Pa Heri Sulistiono, yang dulu pernah menjadi dosen
di Universitas Jenderal Soedirman.

PERAN
Teori peran memberikan suatu kerangka konseptual pada studi perilaku di
dalam organisasi. Dikemukan bahwa peran itu, melibatkan pola penciptaan
produk sebagai lawan dari perilaku atau tindakan. Relevansi suatu peran itu akan
bergantung pada penekanan peran tersebut oleh para penilai dan pengamat
terhadap produk atau outcome yang dihasilkan. Dikaitkan dengan pembahasan ini
adalah mengenai peran Badan Kesatuan Bangsa dan Politik dalam menghasilkan
produk atau outcome, berupa situasi sosial-politik Kabupaten Banyumas yang
stabil serta kondusif sesuai dengan harapan dan cita-cita bersama. Peran itu
berkaitan dengan perilaku kerja (task behavior), yaitu perilaku yang diharapkan
dalam suatu pekerjaan tertentu. Pengertian Peranan diungkapkan sebagai aspek
dinamis kedudukan. Apabila seseorang (atau badan) melaksanakan hak dan
kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan.1

Ditinjau dari Perilaku Organisasi peran merupakan salah satu komponen


dari sistem sosial organisasi, selain norma dan budaya organisasi. Secara umum
peran dapat didefinisikan sebagai “expectations about appropriate behavior in a
job position”. Dengan peran yang dimainkan seseorang atau suatu organisasi,
akan terbentuk suatu komponen penting dalam hal identitas dan kemampuan
untuk bekerja. Terkait hal ini dapat disimpulkan bahwa peranan merupakan aspek
dinamis berupa tindakan atau perilaku yang dilaksanakan oleh orang atau
badan/lembaga yang menempati atau mengaku suatu posisi dalam sistem sosial.

Konservasi memiliki 3 pilar sebagai yang diperjuangkan. Pilar tersebut yaitu


Pengawetan, Pemanfaatan, Pelestarian, 3 pilar ini saling bergantungan menjadi
satu kesatuan. Badan Lingkungan Hidup Purwokerto bidang konservasinya
bergerak melalui 3 pilar ini, dari pembuatan perda Lingkungan hingga
pelaksanaan program kerja. Program kerja seperti rencana memajukan suatu
daerah menjadi suatu sentra perkembangan tanaman menjadi salah satu program
besar BLH. Selain itu BLH memiliki taman BLH yaitu taman KEHATI.

Taman Kehati ditunjukan sebagai sarana pembelajaran dan juga sebagai


tempat pelestarian lingkungan di Kabupaten Banyumas. Dikelola langsung oleh
BLH dan mendapat dana langsung dari APBD Taman Kehati menjadi maskot
Kabupaten Banyumas, memiliki luas sebesar 2,7 Ha Taman Kehati dihuni oleh
beberapa macam tumbuhan dan juga beberapa macam hewan. Menjadikannya
taman keanekaragaman hayati yang selalu dikunjungi oleh beberapa sekolah dasar
ataupun mahasiswa yang ingin mempelajari tentang keanekaragaman hayati.
1
Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar ( Jakarta: Rajawali Pers, 1990), 268
Bidang yang satu lagi yaitu Bidang Pengawasan Lingkungan, Bidang
Pengawasan Lingkungan ini `bertugas untuk menindak lanjuti laporan yang
diterima Badan Lingkungan Hidup. Laporan seperti polusi ataupun ketidak
kenyamanan masyarakat terhadap suatu hal yang disebabkan oleh produksi
ataupun kerja suatu tempat. Ditunjang dengan keberadaan Laboratorium yang
dimiliki khusus BLH pengawasan dilakukan dengan bantuan para relawan.
Relawan mengambil sampel dari tempat-tempat makanan dan sampel tersebut
diuji laboratorium. Dicek unutk mengetahui kadar polusi sesuai standar atau tidak,
jika tidak memenuhi standar akan diberikan peringatan.

Polusi yang dianggap oleh BLH tidak hanya limbah cair ataupun padat
tetapi polusi suara pun menjadi urusannya BLH. Polusi suara biasanya dilakukan
tes kepada inul vista ataupun tempat-tempat karaoke lainnya. Polusi udara
menjadi yang belum dapat BLH teliti secara langsung dikarenakan menggunakan
tes secara kasat mata saja.

PEMBAHASAN MASALAH

Terdapat beberapa strategy yang dilakukan oleh BLH untuk memajukan


Bank Sampah dan meningkatkan kesadaran masyarakat atas pengelolaan sampah
hal hal itu dibagi menjadi beberapa pembahasan yaitu BLH melakukan
pengawasan terhadap lingkungan hidup Banyumas, BLH melakukan kampanye
melawan ketidaksadaran lingkungan hidup, BLH melakukan beberapa kerja sama
dengan pihak ke-tiga untuk memajukan kesadaran lingkungan. BLH
menggunakan organisasi-organisasi pemuda untuk memajukan kinerja dari bank
sampah. Terdapat beberapa strategy yang dilakukan oleh BLH untuk
meningkatkan pengawasannya terhadap lingkungan hidup Kabupaten Banyumas.
Berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 18 Tahun 2014
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Terdapat beberapa asas yang dijadikan pedoman untuk BLH yaitu


tanggung jawab Pemerintah Daerah, kelestarian dan keberlanjutan, keserasian dan
keseimbangan, keterpaduan, manfaat, kehati-hatian, keadilan, ekoregion,
keanekaragaman hayati, pencemar membayar, partisipatif, kearifan lokal, tata
kelola pemerintahan yang baik, dan otonomi daerah. Asas ini digunakan BLH
untuk mengembangkan kegiatannya.

Adapun Tujuan Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di


Daerah, melindungi wilayah daerah dari pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup, menjamin keselamatan, kesehatan, dan keberlangsungan
kehidupan manusia, menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan
ekosistem, menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup, mencapai keserasian,
keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup, menjamin terpenuhinya
keadilan generasi masa kini dan generasi masa depan, menjamin pemenuhan dan
perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia,
mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, mewujudkan
pembangunan berkelanjutan dan mengantisipasi isu lingkungan global.

Badan Lingkungan HIdup Kabupaten Banyumas dalam menjalankan


memiliki beberapa pedoman tugas dan wewenang yang diatur dalam perda yaitu
menetapkan kebijakan PPLH, menyusun KLHS, menyusun RPPLH, menetapkan
jenis usaha dan/atau kegiatan wajib UKL-UPL, melakukan inventarisasi sumber
daya alam dan emisi GRK, mengembangkan kerjasama dan kemitraan;,
mengembangkan instrumen ekonomi lingkungan hidup, melakukan pembinaan
ketaatan penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan terhadap ketentuan perizinan
lingkungan dan peraturan perundang-undangan, melaksanakan standar pelayanan
minimal, menetapkan kebijakan dan melakukan pembinaan mengenai tata cara
pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal dan hak
masyarakat hukum adat yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup, mengelola, mengembangkan dan melaksanakan kebijakan
sistem informasi lingkungan hidup, memberikan fasilitasi sarana prasarana
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup kepada kelompok usaha skala
mikro dan/atau kecil.
Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah
Daerah berwenang, memfasilitasi penyelesaian sengketa lingkungan hidup,
menerbitkan izin lingkungan, menerbitkan izin PPLH, melakukan pengawasan
penaatan penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan, menetapkan baku mutu air,
air limbah, udara ambien, emisi sumber bergerak maupun tidak bergerak dan
tanah, melakukan pengujian kualitas air, udara ambien, emisi sumber bergerak
maupun tidak bergerak dan tanah, menetapkan kriteria teknis baku kerusakan
akibat kebakaran hutan, memberikan sanksi administratif, menyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan, menyediakan laboratorium lingkungan, mengangkat
Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil
lingkungan hidup, menetapkan Komisi Penilai Amdal, Sekretariat Komisi Penilai
Amdal, Tim Teknis dan Pakar Independen.

Kampanye pengelolaan sampah yang baik dan kampanye terkait sampah


yang didaur ulang berdasarkan 3R menjadi langkah utama BLH meningkatkan
gerakan sosial pemanfaatan sampah. Salah satunya itu penyuluhan bank sampah
yang dimotori oleh bank sampah sumber berkah milik Badan Lingkungan Hidup
Banyumas. Penyuluhan menyasar siswa siswa sma sebagai penggerak utama yang
tergabung pada Paguyuban Pramuka ataupun Reswara Praja Kendalisada. Saat
saya sedang magang di BLH fokus utama BLH yaitu penyuluhan adipura, strategy
yang dilakukan oleh BLH untuk mengkampanyekan itu menggunakan media
seperti kampus ataupun organisasi-organisasi pemuda. Kampanye didesa pun
salah satu cara yang dilakukan oleh BLH untuk memajukan gerakan sosial
pemanfaatan sampah. Menyediakan orang yang berkompeten untuk menjadi
pembicara, siap diterjunkan apabila desa-desa yang ada di Kabupaten Banyumas
membutuhkan penyuluhan.

Kampanye dipergunakan BLH untuk memajukan pemahaman masyarakat


tentang manfaat besar pengelolaan sampah yang dimanfaatkan. Selain kampanye
BLH menggunakan strategy kerja sama dengan pihak pihak untuk memberikan
pengaruhnya dalam bidang lingkungan. Salah satunya yang terjadi di FISIP
UNSOED melalui Bem BLH mencoba untuk membangun bank sampah baru
dimulai dari kampus. Selain itu pula kerja sama BLH tidak sekedar dampingan
tetapi juga penyediaan peralatan untuk berkembangnya bank sampah. Kerja sama
yang biasa dilakukan oleh BLH itu menerapkan fungsi kekeluargaan. Urusan
untung dan rugi itu ditempatkan diakhir yang paling utama kemauan orang untuk
menjalankan bank sampahnya.

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas sengaja membentuk


beberapa organisasi intra yang khusus membantu dalam bidang lingkungan hidup.
Salah satunya sakalpataru, sakalpataru diambil dari pramuka-pramuka sma dan
dididik khusus untuk memahami lingkungan hidup, salah satunya tentang bank
sampah. Sakalpataru ini tidak hanya berguna disaat event BLH tetapi berguna
dalam proses BLH memperjuangkan Bank sampah ini.

KESIMPULAN

Gerakan Sosial pengelolaan sampah merupakan kesadaran masyarakat


yang bisa dibentuk. Badan Lingkungan Hidup selaku lembaga daerah yang
tupoksinya khusus mengurusi lingkungan hidup menjadikan ini menjadi tujuan
utama masyarakat banyumas dalam melihat sampah. Terdapat beberapa strategy
yang dilakukan oleh BLH Kabupaten Banyumas yaitu, kampanye, pengawasan,
kerja sama, membentuk organisasi intra, pendampingan bank sampah. Memiliki
sdm yang memahami dibidang pengelolaan sampah menjadi keuntungan
tersendiri, selain itu baiknya antusias masyarakat dikalangan pemuda
memudahkan kinerja BLH yang sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan 3R.
Walaupun sulitnya untuk konsisten menjadi kendala utama BLH dalam
menghadapi gerakan sosial yang sangat sulit melihat keuntungannya apabila jika
masih kecil.
REFERENSI

Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers, 1990.

Sudradjat, Prof. Dr. Ir. H. R. Mengelola Sampah Kota. Bogor: Niaga Swadaya
Press, 2006
Kusmantoro, Muhammad Sri. Menggerakan Bank Sampah. Yogyakarta: Kreasi
Wacana, 2003

Kerraf, Sonny A. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010.