Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN

GLAUKOMA

Disusun oleh :

Dwi Cahyani Royaningrum

3B

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG

PRODI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO

2018
LAPORAN PENDAHULUAN GLAUKOMA

A. DEFINISI

Menurut Herman tahun 2010, glaukoma merupakan suatu kumpulan penyakit


yang mempunyai karakteristik umum neuropatik yang berhubungan dengan hilangnya
fungsi penglihatan. Walaupun kenaikan tekanan intra okuler adalah satu dari resiko
primer, ada atau tidaknya faktor ini tidak merubah definisi penyakit.

Glaukoma bukanlah sebuah penyakit, melainkan kekomplekan dari gangguan


tekanan intraokuler yang mana mempunyai karakteristik gejala peningkatan tekanan
intraokular pada orang dewasa.

Normalnya, tekanan intraokular adalah 10-20 mmHg. Jika hasil pemeriksaan


tekanan bola mata lebih dari 20, maka kita patut curiga terhadap adanya glaukoma.
Apabla hasil menunjukkan angka lebih dari 25, maka dipastikan orang tersebut
terkena glaukoma.

Untuk mengetahui, seseorang tersebut terkena glaukoma atau tidak, bisa


dengan pemeriksaan tonometri (pemeriksaan tekanan bola mata). Pengukuran
tonometri rutin ini penting, untuk mengidentifikasi adanya glaukoma sebelum mata
terkena bahaya permanen dari peningkatan tekanan di dalamnya.

Glaukoma biasanya diderita oleh klien yang berumur di atas 40 th. Pada orang
yang memiliki kecenderungan hereditas glaukoma dalam keluarganya, mereka harus
melakukan pengukuran tonometri ritin setiap hari.(Luckman, 1980).

Pendapat yang lain mengatakan bahwa Glaukoma adalah suatu penyakit


dimana tekanan di dalam bola mata meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf
optikus dan menyebabkan penurunan fungsi penglihatan. (Anonim,2009)

Dari beberapa definisi glaukoma diatas, dapat disimpulakan bahwa glaukoma


adalah penyakit mata yang terjadi karena peningkatan tekanan bola mata dan
mempengaruhi kepekaan atau kejelasan penglihatan.

B. ETIOLOGI

Ada beberapa sebab dan faktor yang beresiko terhadap terjadinya glaukoma.
Diantaranya adalah:

1. Umur

Risiko glaukoma bertambah tinggi dengan bertambahnya usia.


Terdapat 2% dari populasi usia 40 tahun yang terkena glaukoma. Angka ini
akan bertambah dengan bertambahnya usia.
2. Riwayat anggota keluarga yang terkena glaukoma

Untuk glaukoma jenis tertentu, anggota keluarga penderita glaukoma


mempunyai resiko 6 kali lebih besar untuk terkena glaukoma. Resiko terbesar
adalah kakak-beradik kemudian hubungan orang tua dan anak-anak.

3. Tekanan bola mata

Tekanan bola mata diatas 21 mmHg berisiko tinggi terkena glaukoma.


Meskipun untuk sebagian individu, tekanan bola mata yang lebih rendah
sudah dapat merusak saraf optik. Untuk mengukur tekanan bola mata dapat
dilakukan dirumah sakit mata dan/atau dokter spesialis mata. Obat-obatan

4. Pemakai steroid secara rutin

Pemakai obat tetes mata yang mengandung steroid yang tidak


dikontrol oleh dokter, obat inhaler untuk penderita asma, obat steroid untuk
radang sendi dan pemakai obat yang memakai steroid secara rutin lainnya.
Bila anda mengetahui bahwa anda pemakai obat-obatan steroid secara rutin,
sangat dianjurkan memeriksakan diri anda ke dokter spesialis mata untuk
pendeteksian glaukoma.

5. Riwayat trauma (luka kecelakaan) pada mata

Penyakit lain

1. Riwayat penyakit diabetes (kencing manis), hipertensi dan


migren.(Anonim,2010)

C. TANDA DAN GEJALA

Menurut Harnawartiaj (2008) umumnya dari riwayat keluarga ditemukan


anggota keluarga dalam garis vertical atau horizontal memiliki penyakit serupa,
penyakit ini berkembang secara perlahan namun pasti, penampilan bola mata seperti
normal dan sebagian besar tidak menampakan kelainan selama stadium dini. Pada
stadium lanjut keluhan klien yang mincul adalah sering menabrak akibat pandangan
yang menjadi jelek atau lebih kabur, lapangan pandang menjdi lebih sempit hingga
kebutaan secara permanen. Gejala yang lain adalah:
1. Mata merasa dan sakit tanpa kotoran.
2. Kornea suram.
3. Disertai sakit kepala hebat terkadang sampai muntah.
4. Kemunduran penglihatan yang berkurang cepat.
5. Nyeri di mata dan sekitarnya.
6. Udema kornea.
7. Pupil lebar dan refleks berkurang sampai hilang.
8. Lensa keruh.

Menurut Sidharta Ilyas (2004) glaucoma akan memperlihatkan gejala sebagai berikut:

1. Tekanan bola mata yang tidak normal


2. Rusaknya selaput jala
3. Menciutnya lapang penglihatan akibat rusaknya selaput jala yang dapat
4. Berakhir dengan kebutaan

D. PATOFISIOLOGI

Aqueous diproduksi oleh epitel tidak berpigmen dari prosesus siliaris, yang
merupakan bagian anterior dari badan siliar. Aqueous humor kemudian mengalir
melalui pupil ke dalam kamera okuli anterior, memberikan nutrisi kepada lensa, iris
dan kornea. Drainase aqueous melalui sudut kamera anterior yang mengandung
jaringan trabekular dan kanal Schlemm dan menuju jaringan vena episklera. (Barbara,
1999)

Perjalanan aliran aqueous humor 80-90% melalui jaringan trabekular, namun


terdapat 10% melalui ciliary body face, yang disebut jalur uveoskleral.

Berdasarkan fisiologi dari sekresi dan ekskresi cairan aqueous, maka terdapat
tiga faktor utama yang berperan dalam meningkatnya tekanan intraokular, antara lain:

1. Kecepatan produksi aqueous humor oleh badan siliar


2. Resistensi aliran aqueous humor melalui jaringan trabekular dan kanal
Schlemm
3. Tekanan vena episklera
4. Tekanan intraokular normal yang secara umum diterima adalah 10-21 mmHg
Pathway

E. KLASIFIKASI

Banyak sekali pola yang digunakan untuk mengklasifikasikan glaukoma,


namun, klasifikasi yang secara luas digunakan adalah glaukoma sudut terbuka dan
glaukoma sudut tertutup, karena pembagian tersebut terfokus pada patofisiologi
terjadinya glaukoma dan merupakan titik awal ditentukannya penatalaksanaan klinis
yang sesuai.

Klasifkasi Vaughen untuk glaukoma adalah:

1. Glaukoma Primer

Glaukoma primer adalah glaukoma yang tidak berhubungan dengan


penyakit mata atau sistenik yang menyebabkan meningkatnya resistensi aliran
aqueous humor. Glaukoma primer biasanya terjadi pada kedua mata.
a. Glaukoma Sudut Terbuka (Glaukoma Simpleks)

Glaukoma primer sudut terbuka merupakan glaukoma yang tidak


diketahui penyebabnya dan ditandai dengan sudut bilik mata terbuka.
Glaukoma primer sudut terbuka merupakan penyakit kronis dan progresif
lambat dengan atrofi dan cupping dari papil nervus optikus dan pola
gangguan lapang pandang yang khas. Glaukoma primer sudut terbuka
memiliki kecenderungan familial.

Pada umumnya, glaukoma primer sudut terbuka terjadi pada usia lebih
dari 40 tahun. Prevalensi juga lebih tinggi pada orang berkulit gelap atau
berwarna dibandingkan dengan orang berkulit putih.

Gambaran patologi utama pada glaukoma sudut terbuka adalah proses


degeneratif di jalinan trabekular, termasuk pengendapan bahan ekstrasel di
dalam jalan trabekular dan di bawah lapisan endotel kanalis Schlemm.
Akibatnya adalah penurunan drainase aqueous humor yang menyebabkan
peningkatan tekanan intra okuler.

Tekanan intraokuler merupakan faktor resiko utama untuk glaukoma


primer sudut terbuka. Terdapat faktor resiko lain yang berhubungan
dengan glaukoma primer sudut terbuka, yaitu; miopia, diabetes mellitus,
hipertensi dan oklusi vena sentralis retina.

Sifat onsetnya yang samar serta perjalanannya yang progresif lambat


maka timbulnya gejalanya pun lambat dan tidak disadari sampai akhirnya
berlanjut dengan kebutaan. Keluhan pasien biasanya sangat sedikit atau
samar, misalnya mata terasa berat, kepala pusing sebelah, dan anamnesis
tidak khas lainnya. Biasanya pasien tidak mengeluh adanya halo dan tidak
tampak mata merah. Tekanan intraokuler sehari-hari biasanya tinggi atau
lebih dari 20 mmHg. Akibat tekanan tinggi akan terbentuk atrofi papil
serta ekskavasio glaukomatosa. Kerusakan dimulai dari tepi lapang
pandang, dengan demikian penglihatan sentral tetap baik, sehingga
penderita seolah-olah melihat melalui teropong.

Diagnosis glaukoma primer sudut terbuka ditegakkan apabila


ditemukan kelainan-kelainan glaukomatosa pada diskus optikus dan
lapangan pandang disertai peningkatan tekanan intraokuler, sudut kamera
anterior terbuka dan tampak normal, dan tidak ditemukan sebab lain yang
dapat meningkatkan tekanan intraokuler.

b. Glaukoma Sudut Tertutup

Pasien yang menderita glaukoma primer sudut tertutup cenderung


memiliki segmen anterior yang kecil dan sempit, sehingga menjadi faktor
predisposisi untuk timbulnya pupillary block relatif. Resiko terjadinya hal
tersebut meningkat dengan bertambahnya usia, seiring dengan
berkembangnya lensa dan pupil menjadi miosis.

1) Glaukoma Primer Sudut Tertutup Akut

Glaukoma primer sudut tertutup akut adalah kondisi yang


timbul saat TIO meningkat secara cepat akibat blokade relatif
mendadak dari jaringan trabekular. Hal ini dapat menimbulkan
manifestasi berupa rasa sakit, penglihatan buram, halo, mual dan
muntah. Peningkatan TIO yang tinggi menyebabkan edema epitel
kornea yang bertanggung jawab dalam timbulnya keluhan penurunan
penglihatan.

Tanda-tanda pada glaukoma sudut tertutup akut antara lain:

1. TIO yang tinggi


2. Pupil yang lebar dan terkadang irreguler
3. Edema epitel kornea
4. Kongesti pembuluh darah episkleral dan konjungtiva
5. Kamera okuli anterior yang sempit

Selama serangan akut, TIO cukup tinggi sehingga dapat


menyebabkan gangguan nervus optikus dan oklusi pembuluh darah
retina. Sinekia anterior perifer dapat terbentuk dengan cepat dan TIO
yang tinggi menyebabkan terjadinya iskemia sehingga dapat terjadi
atrofi sektoral dari iris. Atrofi pada iris menimbulkan pelepasan
pigmen iris dan pigmen-pigmen tersebut menempel dan mengotori
permukaan iris dan endotel kornea. Akibat iskemia iris, maka pupil
dapat berdilatasi dan terfiksasi.

Diagnosis pasti didapatkan dengan gonioskopi. Gonioskopi juga


membantu menentukan apakah blokade iris dan jaringan trabekular
reversibel atau irreversibel.

2) Glaukoma Primer Sudut Tertutup Subakut

Glaukoma primer sudut tertutup subakut (intermiten) adalah


kondisi yang ditandai dengan adanya penglihatan yang buram, halo,
dan rasa sakit yang ringan, disertai dengan peningkatan TIO. Gejala ini
membaik dengan sendirinya, terutama selama tidur, dan muncul
kembali secara periodik dalam hitungan hari atau minggu. Diagnosis
yang tepat dapat dibantu ditegakkan dengan pemeriksaan gonioskopi.

3) Glaukoma Primer Sudut Tertutup Kronis

Glaukoma primer sudut tertutup kronis merupakan kondisi yang


timbul setelah glaukoma sudut tertutup akut atau saat sudut kamera
anterior tertutup secara bertahap dan tekanan intraokuler meningkat
secara perlahan. Gejala klinisnya serupa dengan glaukoma primer sudut
terbuka, yaitu keluhan yang samar, cupping papil nervus optikus yang
progresif dan gangguan lapang pandang glaukomatosa. Sehingga,
pemeriksaan gonioskopi diperlukan untuk menentukan diagnosis yang
tepat.

2. Glaukoma Kongenital

Glaukoma kongenital primer atau infantil adalah glaukoma yang


timbul sesaat setelah lahir sampai beberapa tahuh pertama setlah kelahiran.
Selain itu, glaukoma kongenital juga dapat timbul menyertai anomali
kongenital lainnya.

Glaukoma infantil atau dikenal dengan istilah buphthalmos, dipercaya


terjadi akibat displasia dari sudut kamera anterior tanpa disertai abnormalitas
okular dan sistemik lainnya. Terdapat dua teori yang menerangkan
patofisiologi terjadinya glaukoma infantil, yaitu; terjadi abnormalitas
0membran atau sel pada jaringan trabekular, sehingga jaringan trabekuler
menjadi impermeabel; teori lain mengatakan bahwa terjadi anomali luas pada
kamera okuli anterior termasuk insersi abnormal dari muskulus siliaris.
Dengan adanya anomali-anomali tersebut, maka aliran aqueous akan
terganggua dan terjadi pembendungan aqueous humor, maka akan timbul
buphtalmos karena jaringan sklera pada neonatus masih lunak.

Keadaan klinis yang khas dari glaukoma infantil adalah trias klasik
pada bayi baru lahir, yaitu; epifora, fotofobia, dan blefarospasme. Diagnosis
tergantung dari pemeriksaan klinis yang hati-hati, termasuk pemeriksaan TIO,
pengukuran diameter kornea, gonioskopi dan oftalmoskopi.

3. Glaukoma Sekunder

Glaukoma sekunder adalah glaukoma yang berhubungan dengan


penyakit mata atau sistemik yang menyebabkan menurunnya aliran aqueous
humor. Glaukoma sekunder sering terjadi hanya pada satu mata.

Glaukoma sekunder merupakan glaukoma yang diketahui penyebab


yang menimbulkannya.

Glaukoma sekunder dapat terlihat dalam bentuk sudut tertutup maupun


sudut terbuka. Kelainan-kelainan tersebut dapat terletak pada:

a) Sudut bilik mata, akibat goniosinekia, hifema, leukoma adheren dan


kontusi sudut bilik mata
b) Pupil, akibat seklusio dan oklusi relatif pupil
c) Badan siliar, seperti rangsangan akibat luksasio lensa

Beberapa penyakit yang dapat menimbulkan glaukoma, yaitu:

a) Uveitis, dimana glaukoma terjadi akibat adanya sinekia anterior maupun


posterior, penimbunan sel radang di sudut bilik mata dan seklusio pupil
yang biasanya disertai dengan iris bombé.
b) Pasca trauma serta ulkus kornea, yang mengakibatkan leukoma adheren
sehingga bilik mata tertutup dan mengganggu aliran aqueous humor.
c) Hifema, akan mengakibatkan TIO yang tinggi
d) Pupil yang lebar dan terkadang irreguler
e) Edema epitel kornea
f) Kongesti pembuluh darah episkleral dan konjungtiva
g) Kamera okuli anterior yang sempit

Selama serangan akut, TIO cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan


gangguan nervus optikus dan oklusi pembuluh darah retina. Sinekia anterior
perifer dapat terbentuk dengan cepat dan TIO yang tinggi menyebabkan
terjadinya iskemia sehingga dapat terjadi atrofi sektoral dari iris. Atrofi pada
iris menimbulkan pelepasan pigmen iris dan pigmen-pigmen tersebut
menempel dan mengotori permukaan iris dan endotel kornea. Akibat iskemia
iris, maka pupil dapat berdilatasi dan terfiksasi.

Diagnosis pasti didapatkan dengan gonioskopi. Gonioskopi juga


membantu menentukan apakah blokade iris dan jaringan trabekular reversibel
atau irreversibel.

4. Glaukoma Primer Sudut Tertutup Subakut

Glaukoma primer sudut tertutup subakut (intermiten) adalah kondisi


yang ditandai dengan adanya penglihatan yang buram, halo, dan rasa sakit
yang ringan, disertai dengan peningkatan TIO. Gejala ini membaik dengan
sendirinya, terutama selama tidur, dan muncul kembali secara periodik dalam
hitungan hari atau minggu. Diagnosis yang tepat dapat dibantu ditegakkan
dengan pemeriksaan gonioskopi.

5. Glaukoma Primer Sudut Tertutup Kronis

Glaukoma primer sudut tertutup kronis merupakan kondisi yang timbul


setelah glaukoma sudut tertutup akut atau saat sudut kamera anterior tertutup
secara bertahap dan tekanan intraokuler meningkat secara perlahan. Gejala
klinisnya serupa dengan glaukoma primer sudut terbuka, yaitu keluhan yang
samar, cupping papil nervus optikus yang progresif dan gangguan lapang
pandang glaukomatosa. Sehingga, pemeriksaan gonioskopi diperlukan untuk
menentukan diagnosis yang tepat.

6. Glaukoma Absolut
Glaukoma absolut merupakan stadium akhir glaukoma dimana sudah
terjadi kebutaan total. Pada glaukoma absolut, kornea terlihat keruh, bilik mata
dangkal, papil atrofi dengan ekskavasio galukomatosa, mata keras seperti batu
dan dengan rasa sakit. Mata dengan kebutaan ini mengakibatkan penyumbatan
pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskularisasi pada
iris.

a) Kelainan mata yang dapat menyebabkan glaukoma antara lain:


b) Kelainan lensa
c) Kelainan uvea
d) Trauma
e) Pasca bedah
f) Glaukoma absolut

Berdasarkan lamanya, glaukoma diklasifikasikan sebagai berikut:

7. Glaukoma Akut
a) Definisi

Glaukoma akut adalah penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan


intraokuler yang meningkat mendadak sangat tinggi.

b) Etiologi

Dapat terjadi primer, yaitu timbul pada mata yang memiliki bakat bawaan
berupa sudut bilik mata depan yang sempit pada kedua mata, atau secara
sekunder sebagai akibat penyakit mata lain. Yang paling banyak dijumpai
adalah bentuk primer, menyerang pasien usia 40 tahun atau lebih.

c) Faktor Predisposisi

Pada bentuk primer, faktor predisposisinya berupa pemakaian obat-obatan


midriatik, berdiam lama di tempat gelap, dan gangguan emosional. Bentuk
sekunder sering disebabkan hifema, luksasi/subluksasi lensa, katarak
intumesen atau katarak hipermatur, uveitis dengan suklusio/oklusio pupil
dan iris bombe, atau pasca pembedahan intraokuler.

d) Manifestasi klinik
1) Mata terasa sangat sakit. Rasa sakit ini mengenai sekitar mata dan
daerah belakang kepala.
2) Akibat rasa sakit yang berat terdapat gejala gastrointestinal berupa
mual dan muntah, kadang-kadang dapat mengaburkan gejala glaukoma
akut.
3) Tajam penglihatan sangat menurun.
4) Terdapat halo atau pelangi di sekitar lampu yang dilihat.
5) Konjungtiva bulbi kemotik atau edema dengan injeksi siliar.
6) Edema kornea berat sehingga kornea terlihat keruh.
7) Bilik mata depan sangat dangkal dengan efek tyndal yang positif,
akibat timbulnya reaksi radang uvea.
8) Pupil lebar dengan reaksi terhadap sinar yang lambat.
9) Pemeriksaan funduskopi sukar dilakukan karena terdapat kekeruhan
media penglihatan.
10) Tekanan bola mata sangat tinggi.
11) Tekanan bola mata antara dua serangan dapat sangat normal.

F. PENATALAKSANAAN
Penderita dirawat dan dipersiapkan untuk operasi. Dievaluasi tekanan
intraokuler (TIO) dan keadaan mata. Bila TIO tetap tidak turun, lakukan operasi
segera. Sebelumnya berikan infus manitol 20% 300-500 ml, 60 tetes/menit. Jenis
operasi, iridektomi atau filtrasi, ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaab gonoskopi
setelah pengobatan medikamentosa.

Untuk mengatasi Glaukoma kongenitalis perlu dilakukan pembedahan. Apabila obat


tidak dapat mengontrol glaukoma dan peningkatan TIO menetap, maka terapi laser
dan pembedahan merupakan alternatif.

1. Terapi Laser
a) Laser iridotomy melibatkan pembuatan suatu lubang pada bagian mata yang
berwarna (iris) untuk mengizinkan cairan mengalir secara normal pada mata
dengan sudut sempit atau tertutup (narrow or closed angles).
b) Laser trabeculoplasty adalah suatu prosedur laser dilaksanakan hanya pada
mata-mata dengan sudut-sudut terbuka (open angles). Laser trabeculoplasty
tidak menyembuhkan glaukoma, namun sering dilakukan daripada
meningkatkan jumlah obat-obat tetes mata yang berbeda-beda. Pada beberapa
kasus-kasus, dia digunakan sebagai terapi permulaan atau terapi utama untuk
open-angle glaukoma. Prosedur ini adalah metode yang cepat, tidak sakit, dan
relatif aman untuk menurunkan tekanan intraocular. Dengan mata yang dibius
dengan obat-obat tetes bius, perawatan laser dilaksanakan melalui lens kontak
yang berkaca pada sudut mata (angle of the eye). Microscopic laser yang
membakar sudut mengizinkan cairan keluar lebih leluasa dari kanal-kanal
pengaliran.
c) Laser cilioablation (juga dikenal sebagai penghancuran badan ciliary atau
cyclophotocoagulation) adalah bentuk lain dari perawatan yang umumnya
dicadangkan untuk pasien-pasien dengan bentuk-bentuk yang parah dari
glaukoma dengan potensi penglihatan yang miskin. Prosedur ini melibatkan
pelaksanaan pembakaran laser pada bagian mata yang membuat cairan
aqueous (ciliary body). Pembakaran laser ini menghancurkan sel-sel yang
membuat cairan, dengan demikian mengurangi tekanan mata.
2. Terapi Pembedahan
a) Trabeculectomy adalah suatu prosedur operasi mikro yang sulit, digunakan
untuk merawat glaukoma. Pada operasi ini, suatu potongan kecil dari
trabecular meshwork yang tersumbat dihilangkan untuk menciptakan suatu
pembukaan dan suatu jalan kecil penyaringan yang baru dibuat untuk cairan
keluar dari mata. Untk jalan-jalan kecil baru, suatu bleb penyaringan kecil
diciptakan dari jaringan conjunctiva (conjunctival tissue). Conjunctiva adalah
penutup bening diatas putih mata. Filtering bleb adalah suatu area yang timbul
seperti bisul yang ditempatkan pada bagian atas mata dibawah kelopak atas.
Sistim pengaliran baru ini mengizinkan cairan untuk meninggalkan mata,
masuk ke bleb, dan kemudian lewat masuk kedalam sirkulasi darah kapiler
(capillary blood circulation) dengan demikian menurunkan tekanan mata.
Trabeculectomy adalah operasi glaukoma yang paling umum dilaksanakan.
Jika sukses, dia merupakan alat paling efektif menurunkan tekanan mata.
b) Viscocanalostomy adalah suatu prosedur operasi alternatif yang digunakan
untuk menurunkan tekanan mata. Dia melibatkan penghilangan suatu potongan
dari sclera (dinding mata) untuk meninggalkan hanya suatu membran yang
tipis dari jaringan melaluinya cairan aqueous dapat dengan lebih mudah
mengalir. Ketika dia lebih tidak invasiv dibanding trabeculectomy dan
aqueous shunt surgery, dia juga bertendensi lebih tidak efektif. Ahli bedah
kadangkala menciptakan tipe-tipe lain dari sistim pengaliran (drainage
systems). Ketika operasi glaukoma seringkali efektif, komplikasi-komplikasi,
seperti infeksi atau perdarahan, adalah mungkin. Maka, operasi umumnya
dicadangkan untuk kasus-kasus yang dengan cara lain tidak dapat dikontrol.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pengukuran dengan tonometri Schiotz menunjukkan peningkatan tekanan.


Perimetri, Gonioskopi, dan Tonografi dilakukan setelah edema kornea menghilang.

H. ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk
itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga
dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses
keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:

1. Pengumpulan Data

a. Anamnesa

1) Identitas Klien

Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no.
register, tanggal MRS, diagnosa medis.

2) Keluhan Utama

Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri
tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk
memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:

a) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi


faktor presipitasi nyeri.

b) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan
klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
c) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.

d) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien,
bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa
sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.

e) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk


pada malam hari atau siang hari.

3) Riwayat Penyakit Sekarang

Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang
nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa
berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa
ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain
itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka
kecelakaan yang lain

4) Riwayat Penyakit Dahulu

Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi


petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit
tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur
patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes
dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun
kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang

5) Riwayat Penyakit Keluarga

Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah


satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang
sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung
diturunkan secara genetik

6) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran
klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam
kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat

7) Pola-Pola Fungsi Kesehatan

a) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat

Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada
dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu
penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan
hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu
metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu
keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak

b) Pola Nutrisi dan Metabolisme

Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-


harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk
membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi
klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan
mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama
kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan
faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain
itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.

c) Pola Eliminasi

Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi
walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau
feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji
frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga
dikaji ada kesulitan atau tidak. Pola Tidur dan Istirahat

Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini
dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga,
pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,
kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
d) Pola Aktivitas

Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan


klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh
orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien
terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko
untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain

e) Pola Hubungan dan Peran

Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat.


Karena klien harus menjalani rawat inap

f) Pola Persepsi dan Konsep Diri

Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan
kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang
salah (gangguan body image)

g) Pola Sensori dan Kognitif

Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal
fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu juga
pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa
nyeri akibat fraktur

h) Pola Reproduksi Seksual

Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan
seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta
rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status
perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya

i) Pola Penanggulangan Stress

Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu
ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme
koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
j) Pola Tata Nilai dan Keyakinan

Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan


baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena
nyeri dan keterbatasan gerak klien

2. Pemeriksaan Fisik

Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk


mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu
untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi
hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.

a. Gambaran Umum

Perlu menyebutkan:

1) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:

a) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis


tergantung pada keadaan klien.

b) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada
kasus fraktur biasanya akut.

c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun
bentuk.

2) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin

a) Sistem Integumen

Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak,


oedema, nyeri tekan.

b) Kepala

Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan,
tidak ada nyeri kepala.
c) Leher

Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan
ada.

d) Muka

Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi


maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.

e) Mata

Terdapat gangguan seperti konjungtiva anemis (jika terjadi perdarahan)

f) Telinga

Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau
nyeri tekan.

g) Hidung

Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.

h) Mulut dan Faring

Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut
tidak pucat.

i) Thoraks

Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.

j) Paru

(a) Inspeksi

Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat


penyakit klien yang berhubungan dengan paru.

(b) Palpasi

Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.


(c) Perkusi

Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.

(d) Auskultasi

Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya
seperti stridor dan ronchi.

k) Jantung

(a) Inspeksi

Tidak tampak iktus jantung.

(b) Palpasi

Nadi meningkat, iktus tidak teraba.

(c) Auskultasi

Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.

l) Abdomen

(a) Inspeksi

Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.

(b) Palpasi

Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.

(c) Perkusi

Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.

(d) Auskultasi

Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit.


m) Inguinal-Genetalia-Anus

Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.

3) Keadaan Lokal

Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status
neurovaskuler (untuk status neurovaskuler à 5 P yaitu Pain, Palor, Parestesia, Pulse,
Pergerakan). Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:

a. Look (inspeksi)

Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:

1. Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).

2. Cape au lait spot (birth mark).

3. Fistulae.

4. Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.

5. Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa


(abnormal).

6. Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)

7. Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)

b. Feel (palpasi)

Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari
posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang
memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.

Yang perlu dicatat adalah:

1) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Capillary


refill time Normal > 3 detik

2) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama


disekitar persendian.
3) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah,
atau distal).

Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di
permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status
neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan
permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau
permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.

c. Move (pergerakan terutama lingkup gerak)

Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan


ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan
lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya.
Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari
titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan
apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah
gerakan aktif dan pasif.

Pemeriksaan Laboratorium

1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.

2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan


osteoblastik dalam membentuk tulang.

3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat


Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL

Nyeri b.d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah.

Tujuan: Nyeri hilang atau berkurang

Kriteria hasil:

1. Pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri


2. Pasien mengatakan nyeri berkurang/hilang
3. Ekspresi wajah rileks

Intervensi:

1. Kaji tipe intensitas dan lokasi nyeri


2. Kaji tingkatan skala nyeri untuk menentukan dosis analgesik
3. Anjurkan istirahat ditempat tidur dalam ruangan yang tenang
4. Atur sikap fowler 300 atau dalam posisi nyaman.
5. Hindari mual, muntah karena ini akan meningkatkan tio
6. Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan
7. Berikan analgesik sesuai anjuran
8. Gangguan persepsi sensori: penglihatan b.d gangguan penerimaan; gangguan status
organ ditandai dengan kehilangan lapang pandang progresif.

Tujuan: Penggunaan penglihatan yang optimal

Kriteria Hasil:

1. Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan.


2. Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih
lanjut.

Intervensi:

1) Pastikan derajat/tipe kehilangan penglihatan.

Rasional: Sementara intervensi dini mencegah kebutaan, pasien menghadapi


kemungkinan/mengalami pengalaman kehilangan penglihatan sebagian atau total.

2) Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan/ kemungkinan kehilangan


penglihatan.

Rasional: Mempengaruhi harapan masa depan pasien dan pilihan intervensi.

3) Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, menikuti jadwal, tidak
salah dosis.

Rasional: Mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lanjut.


4) Lakukan tindakan untuk membantu pasien yang mengalami keterbatasan penglihatan,
contoh, kurangi kekacauan,atur perabot, ingatkan memutar kepala ke subjek yang
terlihat; perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam.

Rasional: Menurunkan bahaya keamanan b/d perubahan lapang pandang atau


kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil thd sinar lingkungan

5) Kolaborasi obat sesuai dengan indikasi.

Rasional: Memisahkan badan siliar dr sclera untuk memudahkan aliran keluar akueus
humor.

Ansitas b.d faktor fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri,


kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan ditandai dengan ketakutan, ragu-ragu,
menyatakan masalah tentang perubahan kejadian hidup.

Tujuan: Cemas hilang atau berkurang

Kriteria Hasil:

1. Pasien tampak rileks dan melaporkan ansitas menurun sampai tingkat dapat diatasi.
2. Pasien menunjukkan ketrampilan pemecahan masalah.
3. Pasien menggunakan sumber secara efektif.

Intervensi:

1) Kaji tingkat ansitas, derajat pengalaman nyeri/timbul nya gejala tiba-tiba dan
pengetahuan kondisi saat ini.

Rasional: Faktor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap ancaman diri, potensial
siklus insietas, dan dapat mempengaruhi upaya medik untuk mengontrol TIO.

2) Berikan informasi yang akurat dan jujur.

Rasional: Menurunkan ansiets b/d ketidak tahuan / harapan yang akan datang dan
memberikan dasar fakta untuk membuat pilihan info ttg pengobatan.

3) Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan.


Rasional: Memberi kesempatan pasien menerima situasi nyata, mengklarifikasi salah
konsepsi dan pemecahan masalah.

4) Identifikasi sumber/orang yang menolong.

Rasional: Memberikan keyakinan bhw pasien tdk sendiri dlm menghadapi masalah.

Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan b.d
kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang mengingat, salah interpretasi.

Ditandai dengan : pertanyaan, pernyataan salah persepsi, tak akurat mengikuti instruksi,
terjadi komplikasi yang dapat dicegah.

Tujuan: Klien mengetahui tentang kondisi,prognosis dan pengobatannya.

Kriteria Hasil:

1. Pasien menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan.


2. Mengidentifikasi hubungan antar gejala/tanda dengan proses penyakit.
3. Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan.

Intervensi:

1) Diskusikan perlunya menggunakan identifikasi,


2) Tunjukkan tehnik yang benar pemberian tetes mata.

Rasional: Meningkatkan keefektifan pengobatan. Memberikan kesempatan pasien


menunjukan kompetensi dan menanyakan pertanyaan.

3) Izinkan pasien mengulang tindakan.


4) Kaji pentingnya mempertahankan jadwal obat, contoh tetes mata. Diskusikan obat
yang harus dihindari, contoh midriatik, kelebihan pemakaian steroid topikal.

Rasional: Penyakit ini dapat di control dan mempertahankan konsistensi program obat
adalah control vital. Beberapa obat menyebabkan dilatasi pupil, peningkatan TIO dan
potensial kehilangan penglihatan tambahan

5) Identifikasi efek samping/reaksi merugikan dari pengobatan (penurunan nafsu


makan, mual/muntah, kelemahan, jantung tak teratur, dll).
Rasional: Dapat mempengaruhi rentang dari ketidak nyamanan sampai ancaman
kesehatan berat.

6) Dorong pasien membuat perubahan yang perlu untuk pola hidup.

Rasional: Pola hidup tenang menurunkan respon emosi thd stres, mencegah
perubahan okuler yang mendorong iris kedepan, yang dpt mencetuskan serangan akut.

7) Dorong menghindari aktivitas,seperti mengangkat berat/mendorong, menggunakan


baju ketat dan sempit.

Rasional: Dapat meningkatkan TIO yang mencetuskan serangan akut.

8) Diskusikan pertimbangan diet, cairan adekuat dan makanan berserat.

Rasional: Mempertahankan konsistensi feses untuk menghindari konstipasi.

9) Tekankan pemeriksaan rutin.

Rasional: Untuk mengawasi kemajuan penyakit dan memungkinkan intervensi dini


dan mencegah kehilangan penglihatan lanjut.
DAFTAR PUSTAKA

Luckman&Sorensen.1980.Medical-Surgical Nursing a Psychophysiologic Approach.United


States of America: W.B. Sunders Company (1986-1990)

Herman.2010.Prevalensi kebutaan akibat glaukoma di kabupaten tapanuli selatan(hal


2).Available from http:repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6399/1/10E00177.pdf
(diakses 10 oktober 2010)

Anonim.2009.Kumpulan artikel tentang glaukoma.Available from :


http://puskesmassimpangempat.wordpress.com/2009/08/14/kumpulan-artikel-tentang-
glaukoma/ (di akses 10 oktober 2010)

Barbara,dkk.1999.Medical-Surgical Nursing.United States of America: Lippincott(642-645)

Anonim.2007.World Glaucoma Day(hal 1-2).Available from http : www. Mazdabalikpapan


.com/ asuhan-keperawatan-pada-penyakit-mata-glukoma.html (diakses 7 oktober 2010)

Anonim.2008. Askep Glaukoma (haL 2). Available from http : // harnawatiaj .wordpress.
com/2008/03/09/glaukoma-2 (diakses 09 oktober 2010 )

Marilynn, dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3.Jakarta : EGC

Ilyas, sidarta. 2009. Dasar-dasar pemeriksaan dalam ilmu penyakit mata. Edisi 3.
Jakarta:Balai Pustaka.

Ilyas, sidarta. 2004. Masalah kesehatan mata anda dalam pertanyaan- pertanyaan. Edisi 2.
Jakarta : FKUI

Hartono. 2007. Oftalmoskopidasar dan klinis. Yogyakarta : Pustaka Cendekia

Ilyas, sidarta. 2009. Ilmu penyakit mata. Jakarta : Balai penerbit FKUI