Anda di halaman 1dari 10

Sifat-sifat kimia dan fisika

Air

Informasi dan sifat-sifat

Nama sistematis air

aqua, dihidrogen monoksida,


Nama alternatif
Hidrogen hidroksida

Rumus molekul H2O

Massa molar 18.0153 g/mol

0.998 g/cm³ (cariran pada 20 °C)


Densitas dan fase
0.92 g/cm³ (padatan)

Titik beku 0 °C (273.15 K) (32 °F)

Titik didih 100 °C (373.15 K) (212 °F)

Kalor jenis 4184 J/(kg·K) (cairan pada 20 °C)

Halaman data tambahan

Disclaimer and references


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Air (molekul)

Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun
atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air
bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu
pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini
merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk
melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa
jenis gas dan banyak macam molekul organik.

Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang tidak umum
dalam kondisi normal, terlebih lagi dengan memperhatikan hubungan antara
hidrida-hidrida lain yang mirip dalam kolom oksigen pada tabel periodik, yang
mengisyaratkan bahwa air seharusnya berbentuk gas, sebagaimana hidrogen
sulfida. Dengan memperhatikan tabel periodik, terlihat bahwa unsur-unsur yang
mengelilingi oksigen adalah nitrogen, flor, dan fosfor, sulfur dan klor. Semua
elemen-elemen ini apabila berikatan dengan hidrogen akan menghasilkan gas
pada temperatur dan tekanan normal. Alasan mengapa hidrogen berikatan dengan
oksigen membentuk fase berkeadaan cair, adalah karena oksigen lebih bersifat
elektronegatif ketimbang elemen-elemen lain tersebut (kecuali flor).

Tarikan atom oksigen pada elektron-elektron ikatan jauh lebih kuat daripada yang
dilakukan oleh atom hidrogen, meninggalkan jumlah muatan positif pada kedua
atom hidrogen, dan jumlah muatan negatif pada atom oksigen. Adanya muatan
pada tiap-tiap atom tersebut membuat molekul air memiliki sejumlah momen
dipol. Gaya tarik-menarik listrik antar molekul-molekul air akibat adanya dipol ini
membuat masing-masing molekul saling berdekatan, membuatnya sulit untuk
dipisahkan dan yang pada akhirnya menaikkan titik didih air. Gaya tarik-menarik
ini disebut sebagai ikatan hidrogen.

Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat
kimia. Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di
bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan
sebagai sebuah ion hidrogen (H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion
hidroksida (OH-).
Tingginya konsentrasi kapur terlarut membuat warna air dari Air Terjun Havasu
terlihat berwarna turquoise.

Berikut adalah tetapan fisik air pada temperatur tertentu [8]:

0o 20o 50o 100o


Massa jenis (g/cm3) 0.99987 0.99823 0.9981 0.9584
Panas jenis (kal/g•oC) 1.0074 0.9988 0.9985 1.0069
Kalor uap (kal/g) 597.3 586.0 569.0 539.0
Konduktivitas termal
1.39 × 10−3 1.40 × 10−3 1.52 × 10−3 1.63 × 10−3
(kal/cm•s•oC)
Tegangan permukaan (dyne/cm) 75.64 72.75 67.91 58.80
178.34 ×
Laju viskositas (g/cm•s) −4
100.9 × 10−4 54.9 × 10−4 28.4 × 10−4
10
Tetapan dielektrik 87.825 80.8 69.725 55.355

Elektrolisis air

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Elektrolisis air

Molekul air dapat diuraikan menjadi unsur-unsur asalnya dengan mengalirinya


arus listrik. Proses ini disebut elektrolisis air. Pada katode, dua molekul air
bereaksi dengan menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2 dan ion
hidroksida (OH-). Sementara itu pada anode, dua molekul air lain terurai menjadi
gas oksigen (O2), melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke katode. Ion
H+ dan OH- mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul
air. Reaksi keseluruhan yang setara dari elektrolisis air dapat dituliskan sebagai
berikut.

Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi ini membentuk gelembung
pada elektrode dan dapat dikumpulkan. Prinsip ini kemudian dimanfaatkan untuk
menghasilkan hidrogen dan hidrogen peroksida (H2O2) yang dapat digunakan
sebagai bahan bakar kendaraan hidrogen.[9][10][11]

Kelarutan (solvasi)

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kelarutan

Air adalah pelarut yang kuat, melarutkan banyak jenis zat kimia. Zat-zat yang
bercampur dan larut dengan baik dalam air (misalnya garam-garam) disebut
sebagai zat-zat "hidrofilik" (pencinta air), dan zat-zat yang tidak mudah tercampur
dengan air (misalnya lemak dan minyak), disebut sebagai zat-zat "hidrofobik"
(takut-air). Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat
tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-
dipol) antara molekul-molekul air. Jika suatu zat tidak mampu menandingi gaya
tarik-menarik antar molekul air, molekul-molekul zat tersebut tidak larut dan akan
mengendap dalam air.

Butir-butir embun menempel pada jaring laba-laba.

Kohesi dan adhesi


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kohesi dan Adhesi

Air menempel pada sesamanya (kohesi) karena air bersifat polar. Air memiliki
sejumlah muatan parsial negatif (σ-) dekat atom oksigen akibat pasangan elektron
yang (hampir) tidak digunakan bersama, dan sejumlah muatan parsial positif (σ+)
dekat atom hidrogen. Dalam air hal ini terjadi karena atom oksigen bersifat lebih
elektronegatif dibandingkan atom hidrogen—yang berarti, ia (atom oksigen)
memiliki lebih "kekuatan tarik" pada elektron-elektron yang dimiliki bersama
dalam molekul, menarik elektron-elektron lebih dekat ke arahnya (juga berarti
menarik muatan negatif elektron-elektron tersebut) dan membuat daerah di sekitar
atom oksigen bermuatan lebih negatif ketimbang daerah-daerah di sekitar kedua
atom hidrogen.

Air memiliki pula sifat adhesi yang tinggi disebabkan oleh sifat alami ke-polar-
annya.

Tegangan permukaan

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tegangan Permukaan

Bunga daisy ini berada di bawah permukaan air, akan tetapi dapat mekar dengan
tanpa terganggu. Tegangan permukaan mencegah air untuk menenggelamkan
bunga tersebut.

Air memiliki tegangan permukaan yang besar yang disebabkan oleh kuatnya sifat
kohesi antar molekul-molekul air. Hal ini dapat diamati saat sejumlah kecil air
ditempatkan dalam sebuah permukaan yang tak dapat terbasahi atau terlarutkan
(non-soluble); air tersebut akan berkumpul sebagai sebuah tetesan. Di atas sebuah
permukaan gelas yang amat bersih atau bepermukaan amat halus air dapat
membentuk suatu lapisan tipis (thin film) karena gaya tarik molekular antara gelas
dan molekul air (gaya adhesi) lebih kuat ketimbang gaya kohesi antar molekul air.

Dalam sel-sel biologi dan organel-organel, air bersentuhan dengan membran dan
permukaan protein yang bersifat hidrofilik; yaitu, permukaan-permukaan yang
memiliki ketertarikan kuat terhadap air. Irvin Langmuir mengamati suatu gaya
tolak yang kuat antar permukaan-permukaan hidrofilik. Untuk melakukan
dehidrasi suatu permukaan hidrofilik — dalam arti melepaskan lapisan yang
terikat dengan kuat dari hidrasi air — perlu dilakukan kerja sungguh-sungguh
melawan gaya-gaya ini, yang disebut gaya-gaya hidrasi. Gaya-gaya

tersebut amat besar nilainya akan tetapi meluruh dengan cepat dalam rentang
nanometer atau lebih kecil. Pentingnya gaya-gaya ini dalam biologi telah
dipelajari secara ekstensif oleh V. Adrian Parsegian dari National Institute of
Health.[12] Gaya-gaya ini penting terutama saat sel-sel terdehidrasi saat
bersentuhan langsung dengan ruang luar yang kering atau pendinginan di luar sel
(extracellular freezing).

Air dalam kehidupan

Kehidupan di dalam laut.


Dari sudut pandang biologi, air memiliki sifat-sifat yang penting untuk adanya
kehidupan. Air dapat memunculkan reaksi yang dapat membuat senyawa organik
melakukan replikasi. Semua makhluk hidup yang diketahui memiliki
ketergantungan terhadap air. Air merupakan zat pelarut yang penting untuk
makhluk hidup dan adalah bagian penting dalam proses metabolisme. Air juga
dibutuhkan dalam fotosintesis dan respirasi. Fotosintesis menggunakan cahaya
matahari untuk memisahkan atom hidroden dengan oksigen. Hidrogen akan
digunakan untuk membentuk glukosa dan oksigen

Efisiensi boiler adalah sebuah besaran yang menunjukkan hubungan antara supply
energi masuk ke dalam boiler dengan energi keluaran yang dihasilkan oleh boiler.
Namun demikian, efisiensi pada boiler dapat didefinisikan ke dalam tiga cara
yaitu:

1. Efisiensi Pembakaran
2. Efisiensi Termal
3. Efisiensi Bahan Bakar-Uap Air (Fuel-to-Steam)

Efisiensi Pembakaran Boiler secara umum menjelaskan kemampuan sebuah


burner untuk membakar keseluruhan bahan bakar yang masuk ke dalam ruang
bakar (furnace) boiler. Efisiensi tipe ini dihitung dari jumlah bahan bakar yang
tidak terbakar bersamaan dengan jumlah udara sisa pembakaran (excess air).
Pembakaran boiler dapat dikatakan efisien apabila tidak ada bahan bakar yang
tersisa di ujung keluaran ruang bakar boiler, begitu pula dengan jumlah udara sisa.

Untuk mendapatkan efisiensi pembakaran yang tinggi, burner dan ruang bakar
boiler harus didesain seoptimum mungkin. Di sisi lain perbedaan penggunaan
jenis bahan bakar juga mempengaruhi efisiensi pembakaran. Diketahui bahwa
bahan bakar cair dan gas (seperti LNG dan HSD) menghasilkan efisiensi
pembakaran yang lebih tinggi jika dibandingkan bahan bakar padat seperti
batubara.
Menghitung efisiensi pembakaran boiler tidaklah sulit, kita hanya perlu
mengurangi jumlah total energi panas yang dilepas oleh pembakaran dengan
energi panas yang lolos melewati stack (cerobong asap), dibagi dengan total
energi panas.
ηcombustion=Qin−QlossesQin×100%

dimana,
ηcombustion : Efisiensi pembakaran boiler (%)
Qin : Energi panas total hasil pembakaran (kalori; Joule)
Qlosses
: Energi panas lolos melewati cerobong asap (kalori; Joule)

Satu-satunya yang sulit dari efisiensi pembakaran adalah bagaimana mengejar


angka yang paling optimal. Efisiensi pembakaran ditandai dengan terbakarnya
keseluruhan bahan bakar di ruang bakar. Sedangkan parameter kontrol yang
digunakan untuk memastikan keseluruhan bahan bakar terbakar, adalah jumlah
udara sisa pembakaran (excess air) yang keluar melalui stack. Semakin banyak
jumlah excess air yang keluar melewati cerobong asap, maka semakin kecil pula
kemungkinan jumlah bahan bakar yang belum terbakar bisa melewati cerobong
asap. Namun juga, semakin banyak jumlah excess air yang lolos melewati
cerobong asap, jumlah energi panas yang lolos terbawa oleh udara sisa tersebut
juga semakin banyak. Maka dari itu ada angka optimum dari besaran excess air,
sehingga didapatkan efisiensi pembakaran boiler yang paling optimal.

Nampak pada ilustrasi grafik di atas bahwa semakin tinggi jumlah udara (oksigen)
yang lolos melewati stack, maka akan semakin kecil jumlah bahan bakar termasuk
karbon monoksida yang belum terbakar sempurna. Namun juga seperti yang telah
kita bahas di atas, semakin tinggi jumlah excess air maka grafik efisiensi
pembakaran kembali turun, tidak lain hal ini dikarenakan energi panas yang ikut
lolos dengan udara sisa tersebut. Maka dapat dipastikan ada nilai paling optimum
dari excess air sehingga didapatkan efisiensi pembakaran paling baik. Sebagai
gambaran saja, nilai excess air optimum untuk pembakaran gas alam adalah 5
hingga 10%, bahan bakar cair di angka 5 hingga 20%, dan 15 hingga 60% untuk
pembakaran batubara.

Efisiensi Termal Boiler menunjukkan bagaimana performa boiler dalam hal


fungsinya sebagai heat exchanger. Perhitungan efisiensi ini akan menunjukkan
seefektif apa perpindahan energi panas dari proses pembakaran bahan bakar ke
air. Namun perhitungan efisiensi ini tidak terlalu akurat, karena ia tidak
memperhitungkan kerugian panas radiasi maupun konveksi yang tidak terserap
oleh air. Selain itu, perhitungan efisiensi termal boiler tidak bisa digunakan untuk
analisa ekonomis, sebab perhitungan ini tidak memperhatikan secara teliti jumlah
bahan bakar yang dikonsumsi. Atas dasar inilah kita tidak akan membahas lebih
dalam mengenai perhitungan efisiensi termal boiler.

akan dilepas ke udara.

Makhluk air