Anda di halaman 1dari 34

Tugas makalah

“mahasiswa FK Unismuh dan profil dokter muslim”


Konsep dokter muslim
Seorang dokter muslim adalah seorang muslim itu sendiri. Sehingga teladan yang paling utama
adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, apapun profesi dan jabatan seorang muslim.
Sedangkan akhlak seorang dokter muslim ialah akhlak seorang muslim yang menjunjung tinggi
adab Rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam tersebut sebagai teladan yang sempurna Dan akhlak
Beliau disarikan dari Al-Qur’an itu sendiri sebagai pedoman hidup seorang muslim.

Sifat – sifat Dokter Muslim

Etika/ adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Zuhair Ahmad al-Sibai dan.
Muhmmad Ali al-Bar dalam karyanya Al- Thabib , Adabuhu wa Fiqhuh ( Dokter, Etika dan
Fikih Kedokteran ), antara lain dikemukakan bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas
kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, lebih mendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan
metode ilmiah dalam berfikir ,kasih sayang, benar dan jujur, rendah hati, bersahaja, dan mawas
diri.

Sifat terhadap Allah Sebagai Pencipta

1. Beriman

Sebab tanpa iman segala amal saleh sebagai dokter dan tenaga para medis akan hilang sia-sia di
mata Allah.

Dalilnya Surat Al-‘Ashri: “Demi masa, Sesungguhnya manusia selalu dalam kerugian, Selain
mereka yang beriman, Dan berbuat amal shaleh, Dan nasehat-nasehati dengan kebenaran,Dan
naseha-nasehati dengan kesabaran”

2. Tulus-ikhlas karena Allah.

Dalilnya adalah firman Allah swt : “Mereka hanya diperintahkan untuk mengabdikan diri
kepada Allah dengan ikhlas, lurus mengerjakan agama, karena Dia. (QS. Al Bayyinah : 5)

Sifat terhadap diri sendiri

1. Berkeyakinan atas Kehormatan Profesi.

Bahwa prodesi kedokteran adalah salah satu profesi yang sangat mulia tetapi tergantung dengan
dua syarat , yaitu :

1. Dilkaukan dengan sungguh sungguh dan penuh kaikhlasan .

2. Menjaga akhlak mulia dalam perilaku dan tindakan tindakannya sebagai dokter .

Seorang dokter diberi amanah untuk menjaga kesehatan yang merupakan karunia Tuhan yang
paling berharga bagi manusia , sebagaimana dinyatakan dalam hadist Nabi :
Nabi saw bersabda : Mohonlah kepada Allah kesehatan , sebab tidak ada sesuatupun yang
dianugerahkan kepada hamba-Nya yang lebih utama dari kesehatan . ( HR Ahmad al-
Turmudzi , dan Ibn Majah ).

Disamping itu dokter selalu menjadi tumpuan pasien , keluarga , masyarakat , bahkan bangsa .
Mengingat kedudukan profesi kedokteran tersebut seharusnya dalam menjalankan profesinya
tidak hanya berfikir tentang materi tetapi lebih kepada pengabdian dan perbaikan umat .
Keyakinan akan kehormatan profesi tersebut merupakan motivasi untuk memelihara akhlak yang
baik dalam hubugannya dengan masyarakat .

2. Berusaha Menjernihkan Jiwa

Kejernihan jiwa akan menentukan kualitas perbuatan manusia secara keseluruhan , jika
seseorang termasuk dokter hatinya jernih maka perbuatannya akan selalu positif . Hal ini sejalan
dengan penegasan Rasulullah :

Artinya : Ingatlah bahwa tubuh manusia ada segumpal darah yang apabila baik maka seluruh
tubuh menjadi baik , dan apabila buruk maka seluruh tubuh menjadi buruk ,ingatlah atau adalah
hati . ( HR Al Bukhari , Muslim , Ahmad , al Darimi , dan Ibn Majah ).

3. Lebih Mendalam Ilmu yang Dikuasainya

Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban sepanjang hidup.
Sebagimana diketahui bahwa ilmu pengetahuan itu dari hari kehari selalu mengalami
perkembagan . Karena itu , agar setipa dokter tidak ketinggalan infromasi dan ilmu pengetahuan
dan lebih mendalami bidang profesinya , maka dituntut untuk selalu belajar . dalam ajaran Islam
sangat ditekankan dalam mengamalkan segala sesuatu agar dilakukan secara professional dan
penuh ketelitian .

Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah menyukai bila seseorang diantara kalian mengerjakan
pekerjaannya dengan teliti .( HR . al- Baihaqi )

4. Menggunakan Metode Ilmiah dalam Berfikir

Bagi dokter muslim diharuskan dalam berfikir menggunakan metode ilmiah sesuai dengan
kaidah logika ilmiah sebagaimana terjabar dalam disiplin ilmu kedokteran modern . Ajaran Islam
sangat menekankan agarberfikir atau merenung terhadap berbagai sebab , tujuannya agar
mendapatkan keyakinan yang benar . Diantara anjuran berfikir dengan metode ilmiah , antara
lain tersurat dalam firman Allah :

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi , silih bergantinya malam dan siang ,
bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia ,dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air ,lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati ( kering )
nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan , dan pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi ; Sungguh ( terdapat ) tanda tanda ( keesaan dan
kebesaran Allah ) bagi kaum yang memikirkan . ( QS. Al – Baqarah : 164 )
5. Mawas Diri

Meningat tugas dokter melayani masyarakat dan tanggung jawab menyangkut nyawa dan
keselamatan seseorang. Mereka sering menjadi sasaran tuduhan, itu disebabkan adanya anggapan
masyarakat yang menganggap mereka adalah orang yang paling mengetahui rahasia kehidupan
dan kematian. Dengan senantiasa mawas diri, seorang dokter muslim akan sadar atas segala
kekurangannya sehingga di masa mendatang akan memperbaikinya, juga akan terhindar dari
berbagai sifat tercela lain seperti sombong, riya, angkuh, dan lainnya.

Di sanping sifat-sifat di atas, sesuai dengan tuntunan dalam akhlak islami, khususnya yang
berhubungan dengan profesi kedokteran, dokter muslim harus tulus ikhlas karena Allah SWT,
penyantun, peramah, sabar, teliti, tegas, patuh pada peraturan, penyimpan rahasia, dan
bertanggung jawab, dan lain-lain.

6. Ikhlas, penyantun, ramah, sabar, dan tenang.

Dokter muslim juga harus ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya, semua dilakukan sebagai
ibadah untuk mencari ridha Allah SWT. Berbuat ikhlas sangat dituntut dalam Islam sebagaimana
dinyatakan dalam Al-Qur’an, dalam ayat berikut:

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan
memurnikan keta’atan kepada Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus (QS. Al Bayyinat
; 5)

Dokter muslim juga di tuntut penyantun, ikut merasakan penderitaan orang lain sehingga
berkeinginan menolongnya. Dokter muslim juga di tuntut ramah, bergaul dengan luwes dan
menyenangkan. Juga di tuntut bersikap sabar, tidak emosional dan lekas marah, tenang,
penyantun, ramah, sebagaiaman dianjurkan dalam ayat Al-Qur’an :

Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah SWT lah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. (QS.Ali ‘Imran : 159)

Dokter muslim di tuntut memiliki kesabaran dalam menghadapi segala masalah, tidak emosional
dan tidak cepat marah. Sikap sabar sangat dituntut dalam Islam, antara lain disebutkan dalam Al-
Qur’an :

Artinya : Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian
itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. Al- Syura : 43)

Dokter muslim juga dituntut bersikap tenang, tidak gugup dalam menghadapi segawat apapun.
Nabi barsabda : Bersikap tenang kamu sekalian (HR al-Thabrani da al-Baihaqi).

Dalam menjalankan profesinya, dokter muslim juga dituntut melakukannya dengan teliti, bersifat
hati-hati, cermat dan rapi.
Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang di antara kalian
mengerjakan pekerjannya dengan teliti (HR. al-Baihaqi)

Sikap tegas, tidak ragu-ragu dalam menentukan sikap juga dituntut kepada dokter muslim. Nabi
bersabda : Nabi bersabda : Jika ada keraguan dalam hatimu, tinggalkanlah itu.”(HR.Ahmad).

Banyak peraturan yang mesti ditegakkan oleh dokter muslim, baik yang berhubungan dengan
profesi kedokteran, berbangsa dan bernegara, lebih-lebih dalam beragama. Tunduk patuh pada
peraturan sangat dianjurkan dalam islam, sebagaimana anjuran Nabi : Dari Anas bin Malik, dari
Nabi SAW bersabda : Dengarkanlah dan patuhilah walaupun dijadikan kepala atasmu seorang
Habasyi…(HR. Bukhari)

Dalam menjalankan pekerjaannya, jika seorang dokter muslim mendapatkan sesuatu yang tidak
baik pada pasiennya maka dituntut agar merahasiakannya. Nabi bersabda : barang siapa
menutupi aurat seorang muslim di dunia maka Allah SWT akan menutupi auratnya di dunia dan
akhirat (HR. Ahmad).

Dokter muslim juga mesti bertanggung jawab atas segala resiko dan konsekwensi dari
profesinya. Allah SWT berfirman : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
smuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS. al –Isra : 36)

Nabi juga bersabda : Setiap kalian adalah penggembla, dan setiap kalian bertanggung jawab
atas gembalanya itu (HR Bukhari dan Ahmad).

Sifat tehadap pasien

1.Memiliki Rasa Cinta Kasih

Rasa cinta kasih adalah cahaya yang timbul dari hati yang terdalam , dia akan dapat menyinari
orang lain , alam semesta dan segala sesuatu . Cahaya itu kemudian memantul kepada dirinya
dan limpahan kepadanya kejernihan , kerelaan dan kemantapan . Ajaran Islam sangat
menekankan menyintai sesama ,

2. Keharusan Bersikap Benar dan Jujur

Benar dan jujur bagi seorang dokter yang selalu berkomunikasi dengan masyarakat merupakan
keharusan agar mendapat kepercayaan dari pasien dan masyarakat. Yang di maksud dengan
benar dan jujur di sini adalah sifat yang komprehensif mempunyai banyak makna, termasuk
menepati janji dan menunaikan amanah. Al-Qur’an sangat menekankan bersikap benar dan jujur,
di antaranya terdapat dalam firman Allah SWT :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah SWT, dan hendaklah kamu
bersama orang-orang yang benar. (QS. AL-Taubat : 119)
Orang yang tidak amanah dan tidak menepati janji sangat dikecam dalam hadist Nabi : Tidak ada
iman bagi orang yang tidak memelihara amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak
menunaikan janjinya. (HR. Ahmad)

3. Berendah hati (Tawadlu)

Setiap orang, terutama orang yang melayani kepentingan umum termasuk dolter dituntut bersifat
rendah hati. Sifat yang sering menyebabkan seseorang dijauhi dalam pergaulan biasanya karena
kesombongan dan keangkuhan. Kesombongan dan keangkuhan biasanya lahir karena ada
perasaan, ilmu, atau pengaruhnya. Ajaran Islam sangan mengecam perbuatan angkuh dan
sombong. Allah SWT berfirman : Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang
sombong. “(QS. Al-Nahl : 23 )

Di sisi lain dijelaskan Allah SWT akan mengangkat derajat orang yang merendahkan diri
(tawadlu). Nabi bersabda : Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa merendahkan diri karena
Allah SWT satu derajat maka Allah SWT mengangkatnya satu derajat sehingga menjadikannya
dalam kelompok ‘iliyyin (surga yang tinggi), dan barang siapa takabur atas Allah SWT satu
derajat, menjadikannya dalam kelompok kaum yang rendah (neraka) (HR Ahmad).

4.Keadilan dan keseimbangan

Dokter termasuk orang yang paling banyak berurusan dengan masalah manusia dan
kemanusiaan. Kehidupan seseorang, termasuk dokter sangat ditentukan oleh kualitas hubungan
dengan masyarakat itu. Ajaran Islam sangat menekankan berlaku adil dan berkeseimbangan
dalam berbagai urusan, tidak berlebihan atau over acting, dalam gaya hidup, khususnya dalam
masalah tarip praktek dan bayaran sehingga mengurangi dan menodai prinsip-prinsip yang mesti
dijunjung tinggi sebagai pelayan masyarakat

Allah SWT berfirman : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat
yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul
(Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu ….(QS. Al –Baqarah : 142)
PROFIL SEORANG DOKTER MUSLIM

dr.Titik Kuntari, MPH

Artinya: dan tidaklah Kami mengutus Para Rasul itu melainkan untuk memberikan
kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan Mengadakan
perbaikan, Maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka
bersedih hati. dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan
ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik {Al-An’am:48-49}

ZAMAN sekarang tentu sudah sangat berbeda dengan zaman Ibnu Sina (Avicena)
dulu, seorang dokter muslim yang sangat populer hingga hari ini. Di zaman sekarang, melalui
sistem pendidikan yang lebih berkiblat ke negara-negara eropa dan amerika menjadikan
adanya dikotomi antara ilmu dan agama. Sehingga, ke duanya kemudian berjalan pada track-
nya masing-masing. Apa yang dilakukan dan dikembangkan oleh Ibnu Sina melalui rangkaian
penelitian panjang, merupakan upaya menggali khasanah ilmu dan kebijaksanaan Qur’ani.
Sementara sekarang, dokter-dokter muslim di Indonesia dan negara-negara lain dengan
penduduk muslim hanya memanfaatkan produk-produk dan sistem pendidikan yang
disodorkan oleh barat. Sebagai contoh sederhana, setiap mahasiswa tentu mendambakan
untuk mengikuti proses wisuda sarjana dalam segala jenjang akademis. Kemudian fotonya
akan dipasang besar-besar di ruang tamu. Padahal tahukah anda, bahwa tradisi busana toga
wisuda itu adalah busana para kardinal katolik yang sudah digunakan sejak abad ke-3 masehi,
di zaman kekuasaan Kaisar Konstantine dari Roma. Dan kita, meskipun di universitas
berlabelkan Agama – bahkan untuk mewisuda seorang guru besar dengan bidang studi Islam
justru memakai toga wisuda tersebut, dan tradisi akademis kita belum berhasil membuat
protokol wisuda yang baru – yang tidak tasabbuh.

Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sangat keras untuk kembali meng-integrasikan antara
sistem pendidikan kedokteran dan Islam, sehingga kapanpun seorang calon dokter muslim
atau seorang dokter muslim berbicara tentang ilmu kedokteran dan kesehatan maka
rujukannya adalah Al-Qur’an dan hadiest Nabi Saw.

Profil seorang dokter muslim, harus merepresentasikan akhlakul karimah karena


profesi seorang dokter di tengah-tengah masyarakat adalah profesi yang sangat terhormat dan
menjadi banyak sorotan. Seorang dokter harus selalu menampilkan wajah yang ramah
meskipun hatinya sedang gundah gulana. Seorang dokter harus mau bergaul, dan tidak selalu
bersembunyi di menara gading – intitusi tempat mereka bekerja atau rumah-rumah mewah
yang mereka miliki, sehingga kadang-kadang dengan tetanggapun tidak saling mengenal.

Uswah atau teladan kita sepanjang zaman adalah Rasulullah Saw – apapun profesi
yang kita tekuni, termasuk juga profesi sebagai seorang dokter. Bahkan Al-Qur’an
menyebutnya sebagai:

Artinya: dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (Al-Qalam:4}

Ketika Aisyah r.a. ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia menjawab, “Kaana
khulukul Qur’an (akhlaknya adalah Al-Qur’an).” Dari sini kita dapat kita simpulkan, jika ingin
belajar dan membentuk akhlak yang mulia maka bergurulah kepada Rasulullah Saw karena
beliau adalah puncak kesempurnaan akhlak.

Untuk mencapai akhlak yang baik, maka berbagai perintah syari’at harus dijaga dengan
sebaik-baiknya. Akhlak di dalam bertutur dan berbicara. Akhlak di dalam memandang. Akhlak
di dalam berpakaian dan lain-lain. Nah, modernisme itu kemudian melahirkan triangulasi yang
seakan-akan sangat Islami namun sesungguhnya justru bukan tuntunan Islam. Seperti
misalnya, di dalam tradisi berbusana – di zaman sekarang karena kuliah di universitas
berlabelkan Islam misalnya ada kewajiban untuk menutup aurat (berjilbab). Tetapi kemudian
oleh karena berjilbabnya tidak lahir dari kesadaran hati yang paling dalam, dan kurang ikhlas
maka kemudian rambutnya dijilbabi tetapi tubuhnya tidak meskipun menggunakan busana
juga. Coba anda pandang ke sekeliling anda, berapa banyak pakaian dalam yang terlihat di
balik busana seorang muslimah yang memakai jilbab akibat terlalu minimnya busana yang
dipakai.

Pada saat ada kegiatan seremonial yang mengharuskan seorang calon dokter
menggunakan pakaian formal, seperti di dalam kegiatan sumpah dokter – justru mereka tampil
dengan dandanan yang sangat tidak mencerminkan akhlak berbusana seorang muslimah.
Memakai rok atau kain yang sangat ketat sehingga pinggulnya terlihat jelas. Begitupun baju
yang dipakai, ekstra ketat sehingga kemudian lekuk tubuhpun terekspose dengan sangat jelas.
Maka, ketika di dalam sistem pendidikan saja performancenya

sudah demikian maka apalagi ketika yang bersangkutan harus terjun ke masyarakat. Padahal
dakwah yang terbaik itu adalah dakwah bil hikmah (dakwah dengan teladan). Kita mengajak
orang untuk rajin sholat berjama’ah ke Masjid namun kita sendiri tidak pernah melakukannya
maka sulit kiranya pesan itu akan berkesan di hati. Maka melalui bidang profesi kerja seorang
dokter ini, kita dapat melakukan dakwah dan perbaikan tetapi untuk menuju ke sana maka
wajiblah bagi kita semua untuk memperbaiki kualitas diri kita masing-masing terlebih dahulu.

Selanjutnya, seorang dokter muslim itu harus jujur. Artinya semahal apapun biaya
kuliah yang dikeluarkan, pemikiran untuk BEP (Break Event Point) atau balik modal
secepatnya harus dibuang jauh-jauh. Maka di dalam menerapkan tarif jasa dokter harus
mematuhi keputusan konsil kedokteran Indonesia yang sudah dibuat berdasarkan
kemampuan masyarakat dan kompetensi dokter. Termasuk bekerjasama dengan pihak
produsen obat untuk menjual produk obat tertentu – padahal jenis obat itu lebih mahal dan
tidak terlalu linier dengan kebutuhan therapy pasien, termasuk perbuatan curang yang harus
dihindari. Dan kejujuran itu harus dilatih sejak usia dini, termasuk sejak menjalani proses studi
dokter. Jika sejak kuliah sudah mencontek terus, melakukan manipulasi presensi, membeli
soal dan kunci ujian, bahkan pada saat tes masuk menggunakan joki, saat penelitian skripsi
atau KTI (karya tulis ilmiah) melakukan plagiasi

– maka ke depannya dapat dipastikan, yang bersangkutan akan menjadi dokter yang tidak
amanah dan curang.

Padahal, di antara tanda baiknya iman pada diri seseorang adalah ketika dia selalu
berusaha menjaga setiap amanah yang diberikan kepadanya:

Artinya: dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya)


dan janjinya {Al-Mu’minuun:8}
Karakter amanah ini sudah sangat langka dan sulit untuk kita temukan pada saat ini. Namun
demikian, generasi dokter muslim yang unggul ke depan adalah mereka yang amanah karena
orang-orang yang dapat menjaga amanah dengan baik akan jauh lebih mendapatkan
kepercayaan dari masyarakat. Di antara implementasi sikap amanah itu, adalah juga dengan
tidak menyalah gunakan ilmu yang dimilikinya untuk hal-hal yang salah dan diharamkan.

Misal seorang dokter diminta menjual produk-produk jamu herbal atau metode
pengobatan tertentu yang tidak termasuk ke dalam klasifikasi pengobatan medis dan belum
diteliti secara ilmiah. Maka dengan gelar dokter yang dimilikinya, bisa saja dia

menipu para konsumennya. Dan ini sungguh perilaku yang salah dan buruk. Demikian juga
melakukan kegiatan mal-praktek seperti membantu orang-orang yang berzinah untuk meng-
aborsi kandungannya, maka ini termasuk ke dalam klasifikasi perbuatan yang diharamkan
untuk dilakukan.

Selain itu, seorang dokter juga wajib amanah menjaga kerahasiaan data dan fakta
seputar pasien. Faktanya, di dalam kehidupan nyata kerap kali seorang dokter tidak dapat
mengendalikan dirinya untuk membuka berbagai rahasia pasiennya. Rahasia itu tidak hanya
berhubungan dengan data rekam medis seorang pasien, tetapi segala hal yang memang harus
dirahasiakan. Misal, seorang dokter spesialis obsgyn yang membantu persalinan seorang
wanita berjilbab – tidak boleh membocorkan sekedar model rambut dari si pasien misalnya.
Sebagai contoh -- Jika ada seorang dokter, yang bercerita kepada koleganya bahwa pasiennya
itu ada yang seksi sekali atau betisnya bagu sekali, maka itu tidak saja menunjukkan yang
bersangkutan tidak amanah tetapi sekaligus juga tidak professional di dalam menjalankan
tugasnya.

Dan yang terpenting dari itu semua, seorang dokter muslim berkewajiban
menyandarkan semua ikhtiarnya kepada Allah SWT di dalam membantu pasien. Al-Qur’an
menjelaskan:
Artinya: Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?
dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong {Al-
Baqarah:107}

Sehingga, di dalam setiap langkah pengobatan yang dilakukannya dia harus pasrah kepada
Allah SWT karena sehat atau sakitnya seseorang itu kembali kepada takdir Allah SWT.

Salah satu aspek keindahan dakwah, di dalam komunikasi antara seorang dokter dan
pasien adalah dengan memberikan penjelasan terus menerus kepada pasien untuk tidak henti-
hentinya berdo’a dan memohon kesembuhan kepada Allah SWT. Apa yang dilakukan oleh
dokter hanyalah sebuah usaha dan hasilnya tentu kita serahkan kepada Allah SWT.

Artinya:kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu{Al-Maidah:120}

Sehingga, sehebat apapun gelar akademis yang dimiliki oleh seorang dokter.
Seterkenal dan seluas apapun popularitas yang dimilikinya – diharamkan bagi seorang dokter
muslim untuk memiliki sifat sombong dan tinggi hati. Karena sesungguhnya semua yang ada
pada dirinya adalah titipan dari Allah SWT. Maka seorang calon dokter muslim harus membina
sikap tawadhu dan rendah hati sejak usia dini. Semoga ini semua dapat menjadi inspirasi yang
baik untuk memperkuat karakter pengembangan ilmu kedokteran yang bersumberkan kepada
Al-Qur’an dan Sunnah. Cinta kita kepada Islam, harus kita buktikan dengan sikap dan
perbuatan tidak hanya terbatas kepada konsep dan kata-kata semata.Wallahu A’lamu
Bishawwab

DAFTAR PUSTAKA
Abdushshamad, M.K. Mukjizat Ilmiah dalam Al Quran. Akbar Media Eka Sarana. 2002 Al
Asyhar, T.2004. Fiqih Gaul. Be The New You. P.T. Syaamil Cipta Media. Bandung

Al Bukhary, Al Iman Muhammad. 2010. Shahih Al- Bukhari. Prilaku Kehidupan Rasulullah
SAW. Pustaka Adil. Surabaya

Almath, M.F. Qobasun Min Nuri Muhammad. 1974 (edisi bahasa Indonesia)

Asy sya’rawi, M.M., 1995. Anda Bertanya Islam Menjawab Jilid 1-5. Gema Insani Press.
Jakarta

Dahlan, A.R,2010. Ushul Fiqh. Edisi 1. Amzah. Jakarta

Kessler, J., Dillon, J. The Demographics of Abortion. The Great Divide Between Abortion
Rhetoric and Abortion Reality. Third Way Issues Brief. August 30,2005

Payande, Abulghasim. 2011. Nahjul Fashahah. Ensiklopedi Hadis Masterpiece Muhammad


SAW (edisi terjemahan). Pustaka Iman. Jakarta

Pernoll,M.L. 2001. Benson & Pernolls’s Handbook of Obstetrics & Gynecology.10th edition.
McGraw-Hill.

Qur’an Karim dan Terjemahan Artinya. UII Press

Wilopo, S.A. 2005. Makalah Kunci. Seminar Kita Selamatkan remaja dari Aborsi dalam
Rangka Pemantapan Keluarga Berkualitas 2015. Medan 11 April 2005.

Yasin, N. 2008. Fikih Kedokteran (edisi Terjemahan). Pustaka Al Kautsar. Jakarta


DOKTER MUSLIM

Ilmu kedokteran yang dewasa ini berkembang, umumnya bersifat universal atau digunakan
secara umum. Karena itu, bagi kaum Muslimin perlu menyeleksinya, dipilih hanya yang sesuai
dengan norma dan kaidah Islam. Sejak dulu kaum Muslimin, dengan disemangati oleh gerakan
islamisasi maka seluruh sendi kehidupan Muslim dijadikan sebagai bagian pengamalan agama,
untuk itu maka dicarilah pijakan-pijakan islamis, juga dalam praktek pengobatan, atau lebih
spesifik dokter.

Meski dalam prakteknya dan dikaitkan dengan asal sistem atau metode pengobatan bersifat
universal, namun dalam Islam terdapat nilai-nilai yang mesti dijunjung tinggi, khususnya dikaitkan
dengan praktek kedokteran, sehingga dikenal dengan kedokteran Islami.

Jika merujuk pada karya klasik, seperti yang terdapat dalam buku al-Qanun fi al- Thibb karya
Ibnu Sina, sarna sekali tidak menyinggung soal kedokteran Islam ini. Menurut analisis 'Abdul
Hamid, karena pada masa lalu etika kedokteran tidak mungkin terpisah dari ajaran umum al-Quran
dan Sunnah Nabi. Dengan kata lain, kedua sumber itu senantiasa berlaku sebagai pembimbing
dalam segala aspek kehidupan umat Islam termasuk bagi dokter dan pasiennya.

Konsep tentang dokter muslim ini terkait pula dengan etika kedokteran, menurut Dr Ahmad
Elkandi, salah seorang pendiri Himpunan Kedokteran Islam Amerika Serikat dan Kanada, bahwa
etika dianggap sebagai persyaratan penting untuk menjadi dokter. Sumpah Hippocrates yang
terkenal telah menekankan fakta ini dan sumpah ini masih berlaku sebagai basis bagi undang-
undang yang dibuat untuk kode etik profesionaI.

Karaktertstik Dokter Muslim

Banyak rumusan tentang dokter muslim telah dikemukakan oleh berbagai kalangan.
Menurut Ja'far Khadim Yamani, Ilmu kedokteran dapat dikatakan islami, mempersyaratkannya
dengan 9 karakteristik, yaitu:
1. Dokter harus mengobati pasien dengan ihsan dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan
dengan al-Quran.
2. Tidak menggunakan bahan haram atau dicampur dengan unsur haram.
3. Dalam pengobatan tidak boleh berakibat mencacatkan tubuh pasien, kecuali sudah tidak ada
alternatif lain.
4. Pengobatannya tidak berbau takhayyul, khurafat, atau bid'ah.
5. Hanya dilakukan oleh tenaga medis yang menguasai di bidang medis.
6. Dokter memiliki sifat-sifat terpuji, tidak pemilik rasa iri, riya, takabbur, senang merendahkan
orang lain, serta sikap hina lainnya.
7. Harus berpenampilan rapih dan bersih.
8. Lembaga-lembaga pelayan kesehatan mesti bersifat simpatik.
9. Menjauhkan dan menjaga diri dari pengaruh atau lambang-lambang non-islamis.

Dalam kode etik kedokteran (Islamic code of Medical Ethics), yang merupakan Hasil dari
First International Conferene on Islamic Medicine yang diselenggarakan pada 6-10 Rabi' al-
Awwal 1401 H. di Kuwait dan selanjutnya disepakati sebagai kode etik kedokteran Islam,
dirumuskan beberapa karakteristik yang semestinya dimiliki oleh dokter muslim. lsi Kode Etik
Kedokteran Islam tersebut terdiri atas dua belas pasal, Rinciannya disebutkan: Pertama, definisi
profesi kedokteran. Kedua, ciri-ciri para dokter. Ketiga, hubungan dokter dengan dokter. Keempat,
hubungan dokter dengan pasien. Kelima, rahasia profesi. Keenam, peranan dokter di masa perang.
Ketujuh, tanggungjawab dan pertanggungjawaban. Kedelapan, kesucian jiwa manusia.
Kesembilan, dokter dan masyarakat. Kesepuluh, dokter dan kemajuan biomedis modern.
Kesebelas, pendidikan kedokteran. Keduabelas, sumpah dokter.

Semua butir di atas, khususnya terhadap diri sendiri juga dengan pasien, antara lain
disebutkan bahwa seorang dokter muslim di samping sebagai seorang yang bertakwa juga harus
berakhlak mulia, seperti harus bijaksana, ramah, baik hati, pemaaf, pelindung, sabar, dapat
dipercaya, bersikap baik tanpa membedakan tingkat sosial pasien, bersikap tenang, dan
menghormati pasien.

Secara teologis dokter muslim harus menyadari bahwa soal kematian berada sepenuhnya di
tangan Tuhan dan fungsi dokter hanya sebagai penyelamat kehidupan, berfungsi
mempertahankan dan memelihara sebaik dan semampu mungkin. Di samping itu, dokter muslim
harus dapat menjadi suri tauladan yang baik juga harus prefesional, dengan tetap pada prinsip
ilmiah dan jujur. Lebih dari itu semua, dokter muslim juga diharuskan memiliki pengetahuan
tentang undang-undang, cara-cara beribadah dan pokok-pokok fikih sehingga dapat menuntun
pasien untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Ditekankan pula, dalam keadaan bagaimana
pun, dokter muslim harus berusaha menjauhkan diri dari praktek-praktek yang bertentangan
dengan ajaran Islam. Hal lain yang disarankan, dokter muslim harus rendah hati, tidak sombong,
serta bersikap tercel a lainnya. Dalarn bidang pengetahuan, dokter muslim diharuskan tetap
menggali dan mencari pengetahuan agar tidak ketinggalan dalam bidang kemajuan ilmiah, dan
upaya itu harus diyakini sebagai bentuk ibadah.

Abu al-Fadl merinci karakteristik dokter Islam atas tiga hal:

1. Percaya akan adanya kematian yang tidak terelakkan seperti banyak ditegaskan dalam al-
Quran dan hadits Nabi. Untuk mendukung prinsip ini ia mengutip pernyataan Ibnu Sina yang
menyatakan, yang harus diingat bahwa pengetahuan mengenai pemeliharaan kesehatan itu
tidak bisa mernbantu untuk menghindari kematian maupun membebaskan diri dari
penderitaan lahir. Ia juga tidak memberikan cara-cara untuk memperpanjang usia agar hidup
selamanya. Dengan pemahaman demikian, tidak berarti dokter muslim menentang teknologi
biomedis bila berarti upaya mempertahankan kehidupan dengan memberikan pasien suatu
pernapasan atau alat lain yang sejenis. Sebab, berupaya menyelamatkan hidup adalah tugas
mulia, siapa yang menyelamatkan hidup seorang manusia, seolah dia menyelamatkan hidup
seluruh manusia. Ini sejalan dengan penegasan ayat al-Quran:

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh)
orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia
telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan
seorang manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang
manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan seorang manusia semuanya.
(QS. Al Maidah 5 : 32)
2. Menghormati pasien, diantaranya berbicara dengan baik kepada pasien tidak membocorkan
rahasia dan perasaan pasien, dan tidak melakukan pelecehan seksual, itulah sebabnya
disarankan pasien didampingi orang ketiga. Dokter tidak memberati pasien, dan lain-lain.
3. Pasrah kepada Allah sebagai Dzat Penyembuh. Ini tidak berarti membebaskan dokter dari
segala upaya diagnosis dan pengobatan. Dengan kepasrahan demikian, maka akan
menghindarkan perasaan bersalah jika segala upaya yang dilakukannya mendapatkan
kegagalan.

Sifat dan Sikap Dokter Muslim


Etika / adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Dr. Zuhair Ahmad al-Sibai dan
Dr. Muhammad 'Ali al-Bar dalam karyanya Al-Thabib, Adabuh wa Fiqhuh (Dokter, Etika dan
Fikih Kedokteran), antara lain dikemukakan bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas
kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, labih mendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan
metode ilmiah dalam berfikir, kasih sayang, benar dan jujur, rendah hati, bersahaja dan mawas
diri.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Bahwa seluruh poin butir isi karakteristik dokter muslim, baik yang terdapat dalam Islamic
Code Of Medical Ethics atau yang disampaikan oleh tokoh lain secara individual, pada
intinya ada kesepakatan, bahwa karakteristik dokter muslim, disamping professional,
menguasai ilmu kedokteran dan mengembangkan pengetahuannya itu, juga berakhlak mulia,
sebagaimana dijabarkan butir-butirnya dalam kajian akhak mulia secara umum, baik dalam
hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan dengan profesi, yang secara khusus dapat
diterapkan pada profesi kedokteran dalam berhubungan dengan profesinya, pasien, sesama
dokter, juga kepada Tuhan.
2. Secara definitif istilah dokter muslim termasuk term yang baru di dunia islam. Istilah ini
lahir, nampaknya sebagai respon telah mulai adanya dikotomi yang sangat tajam dalam
bidang ilmu pengetahuan dan profesi, antara ilmu pengetahuan agama di satu sisi dan umum
di sisi lain, sisi ibadah di satu sisi dan dunia kerja di sisi yang lain. Disamping ingin
menjadikan akhlak sebagai tuntunan profesi kedokteran, istilah dokter muslim juga
dirumuskan berangkat dari adanya keinginan menjadikan seluruh aspek kehidupan
dilakukan untuk islam.
3. Terlepas dari rumusan tentang dokter muslim yang telah dirumuskan oleh para praktisi
maupun pemerhati tentang dokter muslim, ada atau tidak ada rumusan tentang dokter
muslim, tamatan sekolah yang menggunakan label dokter muslim atau tidak, asal setiap
dokter yang beragama islam itu menegakkan akhlak islami, khususnya yang berkaitan
dengan praktek kedokteran, otomatis dia adalah dokter muslim sejati.
4. Ciri-ciri Dokter Muslim: beriman dan bertakwa, penyayang, penghibur, murah senyum,
sabar, rendah hati, toleran, tenang sekalipun dalam keadaan kritis, peduli terhadap pasien,
memandang semua pasien sama, pemberi nasehat, menjaga kesehatan sendiri, suci hatinya,
dapat dipercaya dan berilmu pengetahuan.
ISLAM DAN PROFESI KEDOKTERAN

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah,puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT,berkat rahmat dan karunia-
Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ISLAM DAN PROFESI
KEDOKTERAN tepat waktu.

Penulisan makalah adalah salah satu tugas mata kuliah pendidikan agama Islam di Fakultas
Kedokteran pada semester pertama.

Makalah ini berisikan tentang pandangan Islam terhadap profesi kedokteran dan
pandangan Islam terhadap malpraktek yang dilakukan oleh dokter.Diharapkan makalah ini
bermanfaat bagi pembaca dan dapat menjadi referensi untuk membuat makalah yang lebih
sempurna.

Penulis menyadari makalah ini jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun penulis harapkan demi keempurnaan makalah ini. Semoga
Allah SWT meridhai usaha ini.

Penulis,

Kevin Maulanda
DAFTAR ISI

Kata Pengantar 2

PEMBAHASAN 4

Konsep Dokter Muslim 4

Ide Dokter Muslim 4

Karakteristik Dokter Muslim 4

Sikap dan Sifat Dokter Muslim 5

Pandangan Islam terhadap Pelanggaran Profesi Kedoktran 10

Kesimpulan 17

Daftar Kepustakaan 18
PEMBAHASAN

KONSEP DOKTER MUSLIM

1.IDE DOKTER MUSLIM

Ilmu kedokteran saat sekarang ini berkembang,umumnya bersifat universal karena itu,bagi
kaum Muslimin perlu menyeleksinya,dipilih hanya yang sesuai dengan kaidah dan norma Islam.

Meski dalam praktiknya dan di kaitkan dengan asal sistem atau metoda pengobatan yang
bersigat universal,tetepi dalam Islam terdapat nilai-nilai yang berkaitan dengan praktik kedoktern
yang dikenal dengan kedokteran Islam.

Jika merujuk pada buku klasik,seperti terdapat dalam buku al-Qanun fi al-Thibb karya Ibnu
Sina,dalam buku tersebut tidak menyinggung soal kedokteran Islam. Menurut analisis ‘Abdul
Hamid,karena masa lalu etika kedokteran tidak dapat dipasahkan dari ajaran Islam yaitu Al-Qurqn
dan sunah Nabi,sehingga kedua sumber itu senantiasa sebagai pembimbing dalam segala aspek
kehidupan manusia termasuk dokter dan pasiennya

2.KARAKTERISTIK DOKTER MUSLIM

Menurut Ja’far Khadim Yamani,ilmu kedokteran dapat dikatakan Islami,apabila terpenuhi


9 karakteristik,yaitu: Pertama,dokter harus mengobati pasien dengan insan dan tidak melakukan
hal-hal yang bertentangan dengan Al-Quran. Kedua,tiding menggunakan bahan-bahan yang
haram. Ketiga,tidak boleh berakibat kecacatan terhadap pasien,kecuali tidak ada alternatif lain.
Keempat,pengobatan tidak berbau takhayul,khufarat,dan bid’ah. Kelima,hnya dilakukan oleh
tenaga medis yang ahli di biang medis.Keenam,dokter memiliki sifat-sifat terpuji,tidak memiliki
rasa iri,riya,takabur,senang merendahkan orang lain,serta sikap hina lainnya. Ketujuh,harus
berpenampilan rapi dan bersih. Kedelapan,lembaga-lembaga kesehatan bersifat
simpatik.Kesembilan,menjauhkan dan menjaga diri dari pengaruh non-Islamis.
Abu al-Fadl merinci karakteristik dokter Islam atas 3 hal. Pertama,percaya akan adanya
kematian yang tidak terelakkan seperti yang ditegas kan dalan al-Quran dan hadist Nabi.Untuk
menmdukung prinsip ini ia mengutip pernyataan Ibnu Sina yang menyatakan bahwa pengetahuan
mengenai pemeliharaan kesehatan itu tidak bisa membantu untuk menghindari kematian maupun
membebaskan diri dari penderitaan lahir. Ia juga tidak memberikan cara-cara untuk
memperpanjang usia agar hidup selamanya. Dengan demikian tidak berarti dokter muslim
menentang teknologi biomedis,misalnya mempertahankan kehidupan dengan memberikan pasien
oksigen dari tabung oksigen untuk pernafasan,Sebab,berupaya mempertahankan hidup seseorang
adalah tugas mulia,siapa yang menyelamatkan hidup seorang manusia ,seolah dia menyelamatkan
seluruh manusia.ini sejalan dengan penegasan ayat al-Quran (Q.s.al-Maidat 5:32) yang artinya:

“Barang siapa yang membunuh seseorang manusia,bukan karena orang itu (membunuh)orang
lain,atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi,maka seakan-akan ia telah membunuh
manusia seluruhnya.Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia ,maka seolah-
olah dia telah memelihara kehidupan manusia di muka bumi”

Kedua,menghormati pasien,diataranya berbicara baik kepada pasientidak membocorkan


rahasia dan perasaan pasien,damn tidak melakukan pelecehan seksual,itulah sebabnya disarankan
pasien didampingi orang ketiga.

Ketiga,pasrah kepada Allah SWT sebgai Dzat penyembuh.tidak berarti membebaskan


dokter dari segala diagnosis dan pengobatan. Dengan kepasrahan demikian,maka akan
menghindari perasaan bersalah jika seala upaya dilakukan mendapatkan kegagalan.

3.SIKAP DAN SIFAT SEORANG DOKTER MUSLIM


Menurut Dr Zubair Ahmad al-Sibaidan Dr Muhammad ‘Ali al-Bar dalam karyanya Al-
Thabib,Adabuh wa Fiqhuh ada sikap dan sifat seorang dokter muslim yaitu:

a. Berkeyakinan atas Kehormatan Profesi


Bahwa profesi kedokteran adalah profesi yang sangay mulia tapi tergantung pada dua
syarat,yaitu
1. Dilakulan dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan
2. Menjaga akhlak mulia dalam prilaku dan tindakakan sebagai dokter
Seorang dokter diberi di beri amanah untuk memelihara kesehatan yang merupakan karunia
dari Allah SWT yang paling berharga bagi manusia,sebagaimana dinyatakan dalam hadist Nabi:
Nabi bersabda: “Mohonlah kepada Allah kesehatan,sebab tidak ada sesuatu pun yang di
anunerahkan kepada hamba-Nya yang lebih utama dari kesehatan”.(HR Ahmad,al-Tharmuzi,dan
ibn Majah)
Selain itu dokter juga menjadi tumpuan pasien,keluarga,masyarakat,bahkan bangsa. Mengingat
kedudukan profesi kedokteran tersebut,seharusnya dalam menjalankan profesi tidak hanya berfikir
tentang materi tetapi lebih pada pengabdian dan perbaikan umat. Keyakinan akan kehormatan
profesi tersebut merupakan motivator untuk memelihara akhlak yang baik dalam hubungannya
dengan masyarakat.
b. Berusaha menjernihkan jiwa
Kejernihan jiwa akan menntukan kualitas kualitas perbuatan manusiasecara keseluruhan,jika
dokter hatinya jernih maka perbuatannya akan selalu positif,hal ini sejalan dengan penegasan
Rasulullah:
“Ingatlah bahwa tubuh manusia ada segumpal darah yang apabila baik maka seluruhnya baik,dan
apabila buruk maka seluruh tubuh menjadi buruk,ingatlah itu adalah hati.”(HR al-
Bukhari,Muslim,Ahmad,al-Damiri,dan Ibnu Majah)

c. Lebih Mendalami Ilmu yang Dikuasainya


Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban sepanjang
hayat.Sebagaimana diketahui bahwa ilmu itu dari hari ke hari mengalami perkembangan. Oleh
karena itu, dokter dituntut untung mengupgrade ilmunya . Dalam ajaran Islam sangat ditekankan
dalam mengamalkan sesuatu dilakukan secara professional dan penuh ketelitian. Nabi bersabda:
“sesungguhnya Allahmenyukai bila seseorang di antara kalian mengerjakan pekerjaannya
dengan teliti”(HR al-Baihaqi)
d. Menggunakan Metoda Ilmiah dalam Berfikir
Bagi dokter muslim diharuskan dalam berfikir menggunakan metoda ilmiah sesuai dengan
kaidah logika ilmiah sebagaimana yang terjabar dalam disiplin ilmu kedokteran modern. Ajaran
Islam menekankan agar berfikir atau merenung terhadap berbagai sebab,tujuannya agar
mendapatkan keyakinan yang benar. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarqh
ayat 164 yang artinya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,silih berganti siang dan malam,bahtera yang
berlayar di laut membawa aap yang berguna bagi manusia,dan apa yang diturunkan Allah dari
langit berupa air,lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati(kering)-nya dan Dia sebarkan
sebarkan di bumi itu segala jenis hewan,damn pengisaran angin dan awan yang dikendalikan
antara langit dan bumi;Sungguh (terdapat ) tanda-tanda (keesaan dsn kebesaran ALLAH) bagi
kaum yang memikirkan.”(Q.s.al-Baqarah:164)
Juga firman Allah yang artinya:
“Katakanlah :perhatikan apa yang ada di lagit dan di bumi”(Q.s.yunus;101)

e. Memiliki Rasa Cinta Kasih


Rasa cinta kasih adalah rasa yang timbul dari hati yang paling dalam,dia akan menyinari hati
orang lain,alam semesta,dan segala sesuatu. Cahaya itu kemudian memantul kepada dirinya sendiri
dan melimpah kepada kejernihan,kerelaan,dan kemantapan. Anjuran Nabi :
“Tidaklah seseorang dari kalian sehingga mencintai bagi saudaranya apa yang disukai untuk
dirinya”( HR al-Bukhari,Muslim,Ahmad,al-Damiri,dan Ibnu Majah,al-Nasai,dan al-Tumudzi)
Jika seseorang telah memiliki rasa cinta kasih,maka ia akan bebuat baik dan
mengenyampingkan perbuatan tercela.

f. Keharusan Bersifat Benar dan Jujur


Benar dan jujur bagi seorang dokter dalam berkomunikasi engan masyarakat adalah hal yang
terpenting agar mendapatkan kepercayaan dri pasien serta masyarakat.Benar dan jujur adalahsifat
yang kompeherensif dan memiliki banyak makna,termasuk menepati janji dan menyampaikan
amanah. Al-Quran sangat menekankan sifat benar dan adil di dalam surat at-Taubah ayat 119 yang
artinya:
“Hai orang-orang beriman,bertakwalah kamu kepada Allah,dan hendaklah kamu bersama orang-
orang yang benar”
Dan Allah berfirman dalam surat al-Mu’minun ayat 8 yang berisikan memelihara amanat.

g. Berendah hati(tawadhu’)
Seorang dokter dituntut untuk rendah hati.Sifat yang sering menyebabkan seseorang dijauhi
oleh orang lain adalah sifat sombong dan keangkuhan. Ajaran Islam sangat mengecam perilaku ini
Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 23 yang artinya:

“sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”

h. Keadilan dan Kesetimbangan


Dokter adalah orang yang paling banyak berurusan dengan masalah manusia dan kemanusiaan.
Kehidupan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas hubungan bermasyarakat. Dokter dalam
Islam sangat dilarang untuk tidak adil dalam hal pelayanan masyarakat. Allah berfirman dalam
surat al-Baqarqh ayat 142 yang artinya:
“Dan demikian (pula)kami telah menjadikan kamu(umat Islam),umat adil dan pilihan agar kamu
menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul(Muhammad) menjadi saksi (perbuatan)kamu..
…(Q.s. al-Baqarah;142)

i. Mawas Diri
Mengingat tugas dokter melayani masyarakat dan tanggung jawab menyangkut nyawa dan
keselamatan orang lain. Mereka sering menjadi sasaran tuduhan ,disebabkan adanya anggapan
masyarakat menganggap mereka orang yang paling mengetahui rahasia kehidupan dan kematian.
Jadi dengan sering seorang dokter mawas diri,seorang dokter muslim menyadari kekurangannya
sebagai seorang dokter,dan terhindar dari segala sifat tercela. Sesuai dengan tuntunan dalam
akhlak islam,dokter harus tulus ikhlas karena Allah,penyantun,peramah,sabar,penyimpan
rahasia,dan bertanggung jawab.
Berbuat ikhlas sangat dituntut dalam Islam sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran dalam Al-
Quran surat al-Isra’;36 yang artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya.Sesungguhnya pendengaran,penglihatan,damb hati,semuanya itu akan diminta
pertanggung jawabanya(Q.s.al-Isra’;36)
Nabi juga bersabda:
“Setiap kalian adalah pengembala,dan setiap kalian bertanggung jawab atas gembalanya itu”.

PANDANGAN ISLAM TERHADAP PELANGGARAN PROFESI KEDOKTERAN

1. Aborsi Menurut Hukum Islam


Abdurrahman Al-Baghdadi (1998) dalam bukunya Emansipasi Adakah Dalam Islam
halaman 127-128 menyebutkan bahwa aborsi dapat dilakukan sebelum atau sesudah ruh (nyawa)
ditiupkan. Jika dilakukan setelah setelah ditiupkannya ruh, yaitu setelah 4 (empat) bulan masa
kehamilan, maka semua ulama ahli fiqih (fuqoha) sepakat akan keharamannya. Tetapi para ulama
fiqih berbeda pendapat jika aborsi dilakukan sebelum ditiupkannya ruh. Sebagian
memperbolehkan dan sebagian lagi tidak memperbolehkan.
Ulama fiqih memperbolehkan aborsi sebelum peniupan ruh, antara lain Muhammad Ramli
(w. 1596 M) dalam kitabnya An Nihayah dengan alasan karena belum ada makhluk yang
bernyawa. Ada pula yang memandangnya makruh, dengan alasan karena janin sedang mengalami
pertumbuhan. Yang mengharamkan aborsi sebelum peniupan ruh antara lain Ibnu Hajar (w. 1567
M) dalam kitabnya At Tuhfah dan Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya` Ulumiddin. Bahkan Mahmud
Syaltut, mantan Rektor Universitas Al-Azhar Mesir berpendapat bahwa sejak bertemunya sel
sperma dengan ovum (sel telur) maka aborsi adalah haram, sebab sudah ada kehidupan pada
kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi makhluk baru yang
bernyawa yang bernama manusia yang harus dihormati dan dilindungi eksistensinya.
Akan makin jahat dan besar dosanya, jika aborsi dilakukan setelah janin bernyawa, dan
akan lebih besar lagi dosanya kalau bayi yang baru lahir dari kandungan sampai dibuang atau
dibunuh (Masjfuk Zuhdi, 1993, Masail Fiqhiyah Kapita Selekta Hukum Islam, halaman 81; M. Ali
Hasan, 1995, Masail Fiqhiyah Al Hadisah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam,
halaman 57; Cholil Uman, 1994, Agama Menjawab Tentang Berbagai Masalah Abad Modern,
halaman 91-93; Mahjuddin, 1990, Masailul Fiqhiyah Berbagai Kasus Yang Yang Dihadapi
Hukum Islam Masa Kini, halaman 77-79).

Pendapat yang disepakati fuqoha, yaitu bahwa haram hukumnya melakukan aborsi setelah
ditiupkannya ruh (empat bulan), didasarkan pada kenyataan bahwa peniupan ruh terjadi setelah 4
(empat) bulan masa kehamilan. Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasulullah SAW telah
bersabda:

‫ضغَةً ِمثْ َل ذَلِكَ ث ُ َّم‬ْ ‫ط ِن أ ُ ِم ِه أ َ ْر َبعِينَ َي ْو ًما ث ُ َّم َي ُكونُ فِي ذَلِكَ َعلَقَةً ِمثْ َل ذَلِكَ ث ُ َّم َي ُكونُ فِي ذَلِكَ ُم‬
ْ ‫ِإ َّن أ َ َحدَ ُك ْم يُجْ َم ُع خ َْلقُهُ فِي َب‬

ُّ ‫س ُل ْال َملَكُ فَيَ ْنفُ ُخ فِي ِه‬


‫الرو َح‬ َ ‫ي ُْر‬
“Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam
bentuk ‘nuthfah’, kemudian dalam bentuk ‘alaqah’ selama itu pula, kemudian dalam bentuk
‘mudghah’ selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh kepadanya.” [HR al-Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, Ahmad, dan at-Tirmidzi dari ‘Abdullah bin Mas’ud]
Maka dari itu, aborsi setelah kandungan berumur 4 bulan adalah haram, karena berarti
membunuh makhluk yang sudah bernyawa. Dan ini termasuk dalam kategori pembunuhan yang
keharamannya antara lain didasarkan pada dalil-dalil syar’i berikut. Firman Allah SWT:
‫ق نَحْ نُ ن َْر ُزقُ ُك ْم َو ِإيَّا ُه ْم َو ََّل‬ ٍ ‫سانًا َو ََّل تَ ْقتُلُوا أ َ ْو ََّلدَ ُك ْم ِم ْن ِإ ْم ََل‬ َ ْ‫ش ْيئًا َو ِب ْال َوا ِلدَي ِْن ِإح‬
َ ‫قُ ْل ت َ َعالَ ْوا أَتْ ُل َما َح َّر َم َر ُّب ُك ْم َعلَ ْي ُك ْم أ َ ََّّل ت ُ ْش ِر ُكوا ِب ِه‬
َ‫صا ُك ْم بِ ِه لَعَلَّ ُك ْم ت َ ْع ِقلُون‬ ِ ‫َّللاُ إِ ََّّل بِ ْال َح‬
َّ ‫ق ذَ ِل ُك ْم َو‬ َّ ‫س الَّتِي َح َّر َم‬ َ ‫طنَ َو ََّل ت َ ْقتُلُوا النَّ ْف‬ َ َ‫ظ َه َر ِم ْن َها َو َما ب‬
َ ‫ش َما‬ َ ‫اح‬ ِ ‫ت َ ْق َربُوا ْالفَ َو‬
“Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu:
janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu
bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan
memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan
yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang
benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami
(nya).” (QS al-An’âm [6]: 15

ْ ‫ق نَحْ نُ ن َْر ُزقُ ُه ْم َو ِإيَّا ُك ْم ِإ َّن قَتْلَ ُه ْم َكانَ ِخ‬


ً ‫طئًا َك ِب‬
‫يرا‬ ٍ ‫َو ََّل ت َ ْقتُلُوا أ َ ْو ََّلدَ ُك ْم َخ ْش َيةَ ِإ ْم ََل‬

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan
memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu
dosa yang besar.” (QS al-Isrâ` [17]: 31).
‫ورا‬
ً ‫ص‬ُ ‫ف فِي ْالقَتْ ِل ِإ َّنهُ َكانَ َم ْن‬ َ ‫س ْل‬
ْ ‫طانًا فَ ََل يُس ِْر‬ ُ ‫ظلُو ًما فَقَ ْد َج َع ْلنَا ِل َو ِل ِي ِه‬
ْ ‫ق َو َم ْن قُتِ َل َم‬
ِ ‫َّللاُ ِإ ََّّل ِب ْال َح‬
َّ ‫س الَّتِي َح َّر َم‬
َ ‫َو ََّل ت َ ْقتُلُوا النَّ ْف‬
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan
dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya
Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui
batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (Qs. Al-
Israa` [17]: 33).

ٍ ‫( بِأَي ِ ذَ ْن‬8)‫ت‬
ْ َ‫ب قُتِل‬
(٩)‫ت‬ ُ ُ ‫َوإِذَا ْال َم ْو ُءودَة‬
ْ َ‫سئِل‬
“Dan apabila bayi-bayi yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah ia dibunuh.” (QS
at-Takwîr [81]: 8-9).
Berdasarkan dalil-dalil ini maka aborsi adalah haram pada kandungan yang bernyawa atau
telah berumur 4 bulan, sebab dalam keadaan demikian berarti aborsi itu adalah suatu tindak
kejahatan pembunuhan yang diharamkan Islam.
Adapun aborsi sebelum kandungan berumur 4 bulan, seperti telah diuraikan di atas, para
fuqoha berbeda pendapat dalam masalah ini. Akan tetapi menurut pendapat Abdul Qadim Zallum
(1998) dan Abdurrahman Al-Baghdadi (1998), hukum syara’ yang lebih rajih (kuat) adalah sebagai
berikut. Jika aborsi dilakukan setelah 40 (empat puluh) hari, atau 42 (empat puluh dua) hari dari
usia kehamilan dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram. Dalam hal
ini hukumnya sama dengan hukum keharaman aborsi setelah peniupan ruh ke dalam janin.
Sedangkan pengguguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh
(ja'iz) dan tidak apa-apa. (Abdul Qadim Zallum, 1998, Beberapa Problem Kontemporer Dalam
Pandangan Islam: Kloning, Transplantasi Organ, Abortus, Bayi Tabung, Penggunaan Organ
Tubuh Buatan, Definisi Hidup dan Mati, halaman 45-56; Abdurrahman Al-Baghdadi, 1998,
Emansipasi Adakah Dalam Islam, halaman 129 ).

Dalil syar’i yang menunjukkan bahwa aborsi haram bila usia janin 40 hari atau 40 malam
atau lebih adalah hadis Nabi s.a.w berikut:
« ‫ قَا َل‬.‫ظا َم َها ث ُ َّم‬َ ‫ص َرهَا َو ِج ْلدَهَا َولَحْ َم َها َو ِع‬ َ َ‫ص َّو َرهَا َو َخلَق‬
َ َ‫س ْم َع َها َوب‬ َ َ‫َّللاُ إِلَ ْي َها َملَ ًكا ف‬
َّ ‫ث‬ َ َ‫َان َوأ َ ْربَعُونَ لَ ْيلَةً بَع‬ ْ ُّ‫إِذَا َم َّر بِالن‬
ِ ‫طفَ ِة ثِ ْنت‬
‫ضى َربُّكَ َما شَاء‬ ِ ‫ب أَذَك ٌَر أَ ْم أ ُ ْنثَى فَيَ ْق‬
ِ ‫ يَا َر‬. . . ».

“Jika nutfah (gumpalan darah) telah lewat empat puluh dua malam, maka Allah mengutus seorang
malaikat padanya, lalu dia membentuk nutfah tersebut; dia membuat pendengarannya,
penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulang belulangnya. Lalu malaikat itu bertanya (kepada
Allah),'Ya Tuhanku, apakah dia (akan Engkau tetapkan) menjadi laki-laki atau perempuan?' Maka
Allah kemudian memberi keputusan...” [HR Muslim dari Ibnu Mas’ud r.a.].
Dalam riwayat lain, Rasulullah s.a.w bersabda:
“(jika nutfah telah lewat) empat puluh malam...”
Hadis di atas menunjukkan bahwa permulaan penciptaan janin dan penampakan anggota-
anggota tubuhnya, adalah setelah melewati 40 atau 42 malam. Dengan demikian, penganiayaan
terhadapnya adalah suatu penganiayaan terhadap janin yang sudah mempunyai tanda-tanda
sebagai manusia yang terpelihara darahnya (ma'shumuddam). Tindakan penganiayaan tersebut
merupakan pembunuhan terhadapnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka pihak ibu si janin, bapaknya, ataupun dokter, diharamkan
menggugurkan kandungan ibu tersebut bila kandungannya telah berumur 40 hari.
Siapa saja dari mereka yang melakukan pengguguran kandungan, berarti telah berbuat dosa
dan telah melakukan tindak kriminal yang mewajibkan pembayaran diyat bagi janin yang gugur,
yaitu seorang budak laki-laki atau perempuan, atau sepersepuluh diyat manusia sempurna (10 ekor
onta), sebagaimana telah diterangkan dalam hadis shahih dalam masalah tersebut. Rasulullah s.a.w
bersabda:
‫ط َميِتًا بِغُ َّرةٍ َع ْب ٍد أَ ْو أَ َم ٍة‬ َ َ‫ين ا ْم َرأَةٍ ِم ْن بَنِي لِحْ يَان‬
َ َ‫سق‬ ِ ِ‫سو ُل هللاِ صلى هللا عليه وسلم فِي َجن‬ َ َ‫ق‬. . .
ُ ‫ضى َر‬
“Rasulullah s.a.w memberi keputusan dalam masalah janin dari seorang perempuan Bani Lihyan
yang gugur dalam keadaan mati, dengan satu ghurrah, yaitu seorang budak laki-laki atau
perempuan...” [HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah r.a.]
Sedangkan aborsi pada janin yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh
(ja'iz) dan tidak apa-apa. Ini disebabkan bahwa apa yang ada dalam rahim belum menjadi janin
karena dia masih berada dalam tahapan sebagai nutfah (gumpalan darah), belum sampai pada fase
penciptaan yang menunjukkan ciri-ciri minimal sebagai manusia.

Di samping itu, pengguguran nutfah sebelum menjadi janin, dari segi hukum dapat
disamakan dengan 'azl (coitus interruptus) yang dimaksudkan untuk mencegah terjadinya
kehamilan. 'Azl dilakukan oleh seorang laki-laki yang tidak menghendaki kehamilan perempuan
yang digaulinya, sebab 'azl merupakan tindakan mengeluarkan sperma di luar vagina perempuan.
Tindakan ini akan mengakibatkan kematian sel sperma, sebagaimana akan mengakibatkan matinya
sel telur, sehingga akan mengakibatkan tiadanya pertemuan sel sperma dengan sel telur yang tentu
tidak akan menimbulkan kehamilan.
Rasulullah s.a.w telah membolehkan 'azl kepada seorang laki-laki yang bertanya kepada
beliau mengenai tindakannya menggauli budak perempuannya, sementara dia tidak menginginkan
budak perempuannya hamil. Rasulullah s.a.w bersabda kepadanya:
َ‫ َو ِإ ْن ِشئْتَ فََل‬، .‫ َو ِإ ْن ِشئْتَ فََلَ ت َ ْع ِز ْل‬، ‫ ِإ ْن ِشئْتَ فَاع ِْز ْل‬: ‫ث لَ ُك ْم فَأْتُوا َح ْرثَ ُك ْم أَنَّى ِشئْت ُ ْم( قَا َل‬
ٌ ‫ساؤُ ُك ْم َح ْر‬
َ ‫ب ) ِن‬ َ ‫س ِعي ِد ب ِْن ْال ُم‬
ِ َّ‫سي‬ َ ‫َع ْن‬
‫تَ ْع ِز ْل‬.
“Dari Sa’id bin al-Musayyab (isteri-isterimu adalah lading bagimu, maka datangilah
ladangmu dari menurut kehendakmu), Rasulullah s.a.w. bersabda: Lakukanlah 'azl padanya jika
kamu suka, jika kamu (tak) menghendaki jangan kamu lalukan!” [HR. Ahmad, Muslim, dan Abu
Dawud]
Namun demikian, dibolehkan melakukan aborsi baik pada tahap penciptaan janin, ataupun
setelah peniupan ruh padanya, jika dokter yang terpercaya menetapkan bahwa keberadaan janin
dalam perut ibu akan mengakibatkan kematian ibu dan janinnya sekaligus. Dalam kondisi seperti
ini, dibolehkan melakukan aborsi dan mengupayakan penyelamatan kehidupan jiwa ibu.
Menyelamatkan kehidupan adalah sesuatu yang diserukan oleh ajaran Islam, sesuai firman Allah
SWT:

‫اس َج ِميعًا َو َم ْن أَحْ يَاهَا‬َ َّ‫ض فَ َكأَنَّ َما قَتَ َل الن‬


ِ ‫سا ٍد فِي ْاْل َ ْر‬
َ َ‫سا بِغَي ِْر نَ ْف ٍس أ َ ْو ف‬ ً ‫ِم ْن أَجْ ِل ذَلِكَ َكت َ ْبنَا َعلَى بَنِي إِس َْرائِي َل أَنَّهُ َم ْن قَت َ َل نَ ْف‬
َ‫ض لَ ُمس ِْرفُون‬ ِ ‫يرا ِم ْن ُه ْم َب ْعدَ ذَلِكَ فِي ْاْل َ ْر‬ ً ِ‫ت ث ُ َّم إِ َّن َكث‬ ِ ‫سلُنَا بِ ْال َبيِنَا‬ ُ ‫اس َج ِميعًا َولَقَدْ َجا َءتْ ُه ْم ُر‬ َ َّ‫فَ َكأَنَّ َما أَحْ يَا الن‬

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang
membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena
membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah
memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-
rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara
mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.”
(QS al-Mâ’idah [5]: 32).
Di samping itu aborsi dalam kondisi seperti ini termasuk pula upaya pengobatan.
Sedangkan Rasulullah s.a.w telah memerintahkan umatnya untuk berobat. Rasulullah s.a.w
bersabda:

« ‫َّللاَ أ َ ْنزَ َل الدَّا َء َوالد ََّوا َء َو َج َع َل ِل ُك ِل دَاءٍ دَ َوا ًء فَتَدَ َاو ْوا َوَّلَ تَدَ َاو ْوا ِب َح َر ٍام‬
َّ ‫» ِإ َّن‬.
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia ciptakan pula obatnya.
Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram!” [HR. Ahmad].

Kaedah fikih dalam masalah ini menyebutkan:

‫ب أَخ َِف ِه َما‬ ْ ‫ض َرراً ِب‬


ِ ‫ارتِكَا‬ َ ‫ي أ َ ْع‬
َ ‫ظ ُم ُه َما‬ َ ‫َان ُر ْو ِع‬ َ ‫ت ال َم ْف‬
ِ ‫سدَت‬ ْ ‫ض‬ َ ‫ِإذَا ت َ َع‬
َ ‫ار‬

“Jika berkumpul dua mafsadat (keburukan), maka harus dipertimbangkan yang lebih besar
madharatnya dan dipilih yang lebih ringan (madharatnya).” (Abdul Hamid Hakim, 1927, Mabadi`
Awaliyah fi Ushul Al Fiqh wa Al Qawa’id Al Fiqhiyah, halaman 35).
Berdasarkan kaedah ini, seorang wanita dibolehkan menggugurkan kandungannya jika
keberadaan kandungan itu akan mengancam hidupnya, meskipun ini berarti membunuh janinnya.
Memang mengggugurkan kandungan adalah suatu mafsadat. Begitu pula hilangnya nyawa sang
ibu jika tetap mempertahankan kandungannya juga suatu mafsadat. Namun tidak rasa kurang
percaya lagi bahwa menggugurkan kandungan janin itu lebih ringan madharatnya daripada
menghilangkan nyawa ibunya, atau membiarkan kehidupan ibunya terancam dengan keberadaan
janin tersebut (Abdurrahman Al-Baghdadi, 1998).

Pendapat yang menyatakan bahwa aborsi diharamkan sejak pertemuan sel telur dengan sel
sperma dengan alasan karena sudah ada kehidupan pada kandungan, adalah pendapat yang tidak
kuat. Sebab kehidupan sebenarnya tidak hanya wujud setelah pertemuan sel telur dengan sel
sperma, tetapi bahkan dalam sel sperma itu sendiri sudah ada kehidupan, begitu pula dalam sel
telur, meski kedua sel itu belum bertemu. Kehidupan (al hayah) menurut Ghanim Abduh dalam
kitabnya Naqdh Al Isytirakiyah Al Marksiyah (1963) halaman 85 adalah “sesuatu yang ada pada
organisme hidup.” (asy syai` al qa`im fi al ka`in al hayyi).
Ciri-ciri adanya kehidupan adalah adanya pertumbuhan, gerak, iritabilita, membutuhkan
nutrisi, perkembangbiakan, dan sebagainya. Dengan pengertian kehidupan ini, maka dalam sel
telur dan sel sperma (yang masih baik, belum rusak) sebenarnya sudah terdapat kehidupan, sebab
jika dalam sel sperma dan sel telur tidak ada kehidupan, niscaya tidak akan dapat terjadi
pembuahan sel telur oleh sel sperma. Jadi, kehidupan (al hayah) sebenarnya terdapat dalam sel
telur dan sel sperma sebelum terjadinya pembuahan, bukan hanya ada setelah pembuahan.

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan:

1. Bahwa karakter dokter muslim,di samping professional,menguasai ilmu kedokteran,dan


pengembangan pengetahuannya itu,juga berakhlak mulia sebagaimana dijabarkan butir-
butirnya dalam kajian Islam secara umum,baik dalam hubungannya dengan ALLAH
SWT,sesama manusia dan dengan sesama profesi,secara khusus dapat diterapkan dalam
profesi kedoktean dalam berhubungan dengan teman sejawat,pasien,masyarakat,dan juga
kepada Allah. Seorang dokter muslim harus mempunyai sifat dan sikap yang baik yaitu:
berkeyakinan atas kehomatan profesi,berusaha menjernihkan jiwa,lebih mendalami ilmu yang
dikuasai,menggunakan metoda ilmiah dan berfikir,memiliki rasa cinta kasih.bersikap benar
dan jujur,berendah hati,keadilan dan kesetimbangan,mawas diri, serta
ikhlas,penyantun,ramah,sabar,dan tenang.
2. Aborsi bukan sekedar masalah medis atau kesehatan masyarakat, namun juga problem sosial
yang muncul karena manusia mengekor pada peradaban Barat. Maka pemecahannya haruslah
dilakukan secara komprehensif-fundamental-radikal, yang intinya adalah dengan mencabut
sikap taqlid kepada peradaban Barat dengan menghancurkan segala nilai dan institusi
peradaban Barat yang bertentangan dengan Islam, untuk kemudian digantikan dengan
peradaban Islam yang manusiawi dan adil.

Hukum aborsi dalam pandangan Islam menegaskan keharaman aborsi jika umur
kehamilannya sudah 4 (empat) bulan, yakni sudah ditiupkan ruh pada janin. Untuk janin yang
berumur di bawah 4 bulan, para ulama telah berbeda pendapat. Jadi ini memang masalah
khilafiyah. Namun menurut pemahaman kami, pendapat yang rajih (kuat) adalah jika aborsi
dilakukan setelah 40 (empat puluh) hari, atau 42 (empat puluh dua) hari dari usia kehamilan
dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram. Sedangkan
pengguguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh (ja'iz)
dan tidak apa-apa.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al Baghdadi, Abdurrahman, 1998, Emansipasi Adakah Dalam Islam, Gema Insani Press, Jakarta

Hasan, M. Ali, 1995, Masail Fiqhiyah Al Hadisah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum
Islam, RajaGrafindo Persada, Jakarta.

http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/aborsi-dalam-pandangan-hukum-islam-2 Jumat, 21 September


2012 pukul 17:15.

Zuhroni, dkk, Islam untuk disiplin ilmu kesehatan dan kedokteran 2 (Jakarta, 2003), hal. 87.