Anda di halaman 1dari 32

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang mempunyai peranan yang
cukup besar baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu dan
teknologi (Akib, 2001:143). Menurut Soedjadi (Akib, 2001: 143) dewasa ini matematika
sering dipandang sebagai bahasa ilmu, alat komunikasi antara ilmu dan ilmuwan serta
merupakan alat analisis. Dengan demikian matematika menempatkan diri sebagai sarana
strategis dalam mengembangkan kemampuan dan keterampilan intelektual.
Pendidikan matematika pada jenjang pendidikan dasar mempunyai peranan yang
sangat penting sebab jenjang ini merupakan pondasi yang sangat menentukan dalam
membentuk sikap, kecerdasan, dan kepribadian anak. Karena itu Mendikbud Wardiman
Djojonegoro dalam sambutannya pada konferensi Matematika Asia Tenggara IV,
mengemukakan bahwa pelajaran matematika yang diberikan terutama pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah dimaksudkan agar pada akhir setiap tahap pendidikan,
peserta didik memiliki kemampuan tertentu bagi kehidupan selanjutnya. Namun kenyataan
menunjukkan banyaknya keluhan dari murid tentang pelajaran matematika yang sulit,
tidak menarik, dan membosankan. Keluhan ini secara langsung maupun tidak langsung
akan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika pada setiap jenjang
pendidikan.
Meskipun upaya untuk mengatasi hasil belajar matematika yang rendah telah
dilakukan oleh pemerintah. Seperti penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku paket,
peningkatan pengetahuan guru-guru melalui penataran, serta melakukan berbagai
penelitian terhadap faktor-faktor yang diduga mempengaruhi hasil belajar matematika.
Namun kenyataan menunjukkan bahwa hasil belajar matematika masih jauh dari yang
diharapkan.
Pembelajaran yang efektif menurut Jihad dan Haris (mengutip simpulan Wragg,
1997) adalah pembelajaran yang memudahkan siswa untuk mempelajarai sesuatu yang
bermanfaat seperti fakta, keterampilan, nilai, konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan
sesama, atau suatu hasil belajar yang diinginkan .
Akan tetapi kenyataan yang ditemukan di sekolah selama ini, proses
pembelajaran lebih mengutamakan materi bukan kompetensi. Sehingga guru lebih
memfokuskan pada penyelesaian penyampaian materi. Akibatnya, siswa merasa
terbebani dengan banyaknya materi yang diterima terus-menerus tanpa adanya
perhatian guru tentang sejauh mana pemahaman siswa. Matematika merupakan ilmu pasti
yang menjadi dasar pemikiran dan penerapan mata pelajaran lainya. Umumnya, apabila
seseorang menguasai matematika, maka akan cenderung lebih mudah untuk menguasai
mata pelajaran yang lain. Pelajaran Matematika yang diberikan dapat membekali dan
melatih siswa agar dapat berpikir sistematis, realitis, logis, analitis, kreatif dan kritis serta
memiliki kemampuan bekerjasama yang tinggi agar dapat menguasai serta memiliki dan
memanfaatkan bahkan menciptakan teknologi modern dalam kehidupan yang dinamis dan
kompetitif di masa mendatang.
Matematika sebagai ilmu universal yang mendasari perkembangan dunia modern,
mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia.
Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar secara optimal adalah
model pembelajaran Quantum Teaching tipe TANDUR. Model pembelajaran ini
menekankan kegiatannya pada pengembangan potensi manusia secara optimal melalui
cara-cara yang sangat manusiawi, yaitu: mudah, menyenangkan, dan memberdayakan.
Setiap anggota komunitas belajar dikondisikan untuk saling mempercayai dan saling
mendukung. Siswa dan guru berlatih dan bekerja sebagai pemain tim guna mencapai
kesuksesan bersama. Dalam konteks ini, sukses guru adalah sukses siswa, dan sukses
siswa berarti sukses guru.
Trianto (mengutip simpulan Soekamto dkk), mengemukakan arti dari model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis
dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan
berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam
merencanakan aktivitas belajar mengajar.
Quantum teaching merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat
digunakan guru untuk menciptakan suasana hubungan emosional yang baik ketika belajar.
Quantum teaching adalah pengubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya
yang menyertakan kaitan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan
momen belajar serta berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas-interaksi
yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar (Bobbi DePorter, Mark Reardor, &
Sarah Singer-Nouri, 2010)
Asas dari quantum teaching adalah “Bawalah Dunia Mereka Ke Dunia Kita dan
Antarkan Dunia Kita Ke Dunia Mereka”(Miftahul A’la, 2012: 27). Artinya bahwa
pentingnya bagi seorang guru memasuki dunia murid sebagai langkah pertama. Alasannya
adalah karena tindakan ini akan memberikan ijin untuk memimpin, menuntun, dan
memudahkan perjalanan siswa menuju kesabaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas.
Quantum teaching menggunakan kerangka rancangan “TANDUR”, yaitu tumbuhkan,
alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan. Berdasarkan kerangka pengetahuan
tersebut di harapkan quantum teaching dengan kerangka TANDUR tersebut dapat
mengatasi masalah yang terkait dengan hasil belajar siswa pada pokok bahasan peluang
sehingga dengan model pembeajaran quantum teaching tersebut dapat mencapai tujuan
pembelajaran matematika dalam materi peluang.
Menurut Maharani, (2017) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penerapan
model quantum teaching pada pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar
siswa. Selain itu menurut Murni, (2013) bahwa penerapan metode Quantum Teaching
tipe TANDUR, dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika
di kelas IV. Yani, (2016) Hasil penelitian menunjukkan bahwa Quantum Teaching
berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP IT Inayah Ujungbatu.
Serta menurut Darojah, (3013) hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model
pembelajaran quantum teaching dengan langkah yang tepat dapat meningkatkan
pembelajaran matematika tentang pecahan di kelas IV Sekolah Dasar, yang dibuktikan
dengan hasil observasi pelaksanaan model pembelajaran quantum teaching oleh guru
mencapai 86,3% dan persentase ketuntasan siswa mencapai 92%.
Penjelasan di atas mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul
“Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching Tipe Tandur Terhadap Hasil Belajar
Siswa Pada Pokok Bahasan Peluang”
1.2 Identifikasi Masalah
Permasalahan yang penulis ajukan ini dapat diidentifikasi permasalahannya sebagai
berikut:
1. Rendahnya aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran peluang
2. Kurangnya prestasi belajar siswa dalam pembelajaran peluang
1.3 Batasan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi fokus
penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran quantum teaching tipe TANDUR
terhadap hasil belajar dan aktivitas belajar siswa pada pokok bahasan peluang.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian di atas, maka dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1. Apakah terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran peluang melalui
penerapan model pembelajaran quantum teaching tipe TANDUR terhadap hasil belajar
siswa pada pokok bahasan peluang.
2. Apakah terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran peluang melalui
penerapan model pembelajaran quantum teaching tipe TANDUR terhadap hasil belajar
siswa pada pokok bahasan peluang.
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dari
penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran
peluang melalui penerapan model pembelajaran quantum teaching tipe TANDUR terhadap
hasil belajar siswa pada pokok bahasan peluang.
2. Untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran
peluang melalui penerapan model pembelajaran quantum teaching tipe TANDUR terhadap
hasil belajar siswa pada pokok bahasan peluang.
1.6 Manfaat penelitian
Apabila dalam penelitian ini ternyata penerapan model pembelajaran
quantum teaching tipe TANDUR terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan peluang
terbukti terjadi peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa, maka manfaat yang akan
diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagi Siswa
Pembelajaran quantum teaching memiliki unsur kolaboratif dan bertanggung
jawab antar anggota kelompok, maka manfaat penerapan pembelajaran tipe TANDUR
bagi siswa antara lain:
a) siswa mendapat pengalaman baru dalam membina sikap saling ketergantungan positif,
berpartisipasi aktif dan berkomunikasi, serta memupuk rasa tanggung jawab bersama;
b) memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial;
c) mengembangkan rasa gembira dan senang dalam belajar;
d) meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis
kelamin, etnis, kelas sosial, agama dan orientasi tugas;
e) meningkatkan motivasi belajar atas kemauan sendiri;
f) mengembangkan kesadaran bertanggung jawab dan saling menjaga perasaan;
g) meningkatnya prestasi belajar siswa.
2. Bagi Guru
Manfaat penerapan pembelajaran quantum teaching bagi guru antara lain:
a) dapat memberikan pengalaman dan peningkatan wawasan dalam melakukan penelitian
tindakan kelas;
b) melalui penerapan pembelajaran tipe TANDUR, guru dapat memperbaiki sikap dan mental
siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar;
c) hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai alternatif lain
dalam memilih strategi mengajar yang kreatif dan inovatif dalam upaya meningkatkan
aktivitas dan prestasi belajar siswa.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi
atau masukan bagi sekolah SMP terutama dalam rangka memperbaiki dan
mengembangkan model pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar
siswa sehingga meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah tersebut.
1.7 Definisi oprasional

1. Pembelajaran didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku individu yang disebabkan oleh
pengalaman (slavin)
2. penerapan adalah perbuatan menerapkan. Sedangkan menurut beberapa ahli berpendapat
bahwa, penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal
lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh
suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun sebelumnya. (KBBI)
3. Quantum Teaching merupakan proses pembelajaran dengan menyediakan latar belakang
dan strategi untuk meningkatkan proses belajar mengajar menjadi menyenangkan.
Pembelajaran Quantum Teaching mencakup petunjuk untuk menciptakan lingkungan
belajar yang efektif merancang pengajaran, menyampaikan isi dan memudahkan proses
belajar.( Muchlisin Riadi)
4. model pembelajaran adalah cara atau teknik penyajian sistematis yang digunakan oleh
guru dalam mengorganisasikan pengalaman proses pembelajaran agar tercapai tujuan dari
sebuah pembelajaran. Definisi singkat lainnya yaitu suatu pendekatan yang digunakan
dalam kegiatan pembelajaran.( Zakky)
5. Hasil belajar merupakan pengukuran dari penilaian kegiatan belajar atau proses belajar
yang dinyatakan dalam symbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang
sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Menurut (Susanto ) perubahan
yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor sebagai hasil dari belajar”.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Teori
2.1.1 Pengertian Belajar Menurut Para Ahli
Menurut Winkel
Pengertian belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengelolaan pemahaman.
Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252)
Belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian
menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh
lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula.
Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat
kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.
Menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977
Belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku,
yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah
melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman
atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang
bersifat naluriah.
Moh. Surya (1981:32)
Definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu
itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari
kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri
seseorang.
Menurut Nasution
Belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan.
Menurut W. Gulo (2002: 23)
Pengertian belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang
mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, dan berbuat
Menurut Notoatmodjo
Belajar adalah usaha untuk menguasai segala sesuatu yang berguna untuk hidup.
Menurut Djamarah
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.
Menurut Bell-Gredler dalam Udin S. Winataputra (2008)
Pengertian belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka
ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan
(skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai
dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat.
Menurut Ahmadi A.
Belajar adalah proses perubahan dalam diri manusia.
Menurut Oemar H.
Pengertian belajar adalah bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang
dinyatakan dalam cara – cara berprilaku yang baru berkat pengalaman dan latihan.
Menurut Neohi Nasution
Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah
laku sebagai hasil terbentuknya respon utama, dengan syarat utama bahwa perubahan atau
munculnya prilaku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau adanya
perubahan sementara.
Menurut Snelbecker
Belajar adalah harus mengcngkup tingkah laku dari tingkat yang paling sederhana sampai
yang kompleks dimana proses perubahan tersebut harus bisa dikontrol sendiri atau
dikontrol oleh faktor – faktor eksternal.
Menurut Whiterington
Belajar adalah suatu proses perubahan dalam kepribadian sebagaimana dimanifestasikan
dalam perubahan penguasaan pola-pola respontingkah laku yang baru nyata dalam
perubahan ketrampilan, kebiasaan, kesanggupan, dan sikap.
Slavin dalam Catharina Tri Anni (2004)
Belajar merupakan proses perolehan kemampuan yang berasal dari pengalaman.
Menurut James O. Whittaker.
Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan.
Menurut Sardiman A.M, (2005:20)
Belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek.
Menurut Cronbach
Belajar yang efektif adalah melalui penglaman.
Menurut Howard L. Kingsley
Pengertian belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau
diubah melalui praktek dan latihan.
Menurut M. Sobry Sutikno
Suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut Slameto (2003:2)
Suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Menurut Skinner ( 1985 )
Memberikan definisi belajar adalah “Learning is a process of progressive behavior
adaption”, Yaitu bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat
progresif atau Belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respons yang tercipta
melalui proses tingkah laku yang bersifat progresif.
Menurut Mc. Beach ( Lih Bugelski 1956 )
Memberikan definisi mengenai belajar. “Learning is a change performance as a result of
practice”, Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam performance, dan
perubahan itu sebagai akibat dari latihan ( practice ).
Menurut Morgan, dkk ( 1984 )
Memberikan definisi mengenai belajar “Learning can be defined as any relatively
permanent change in behavior which accurs as a result of practice or experience”, Yaitu
bahwa perubahan perilaku itu sebagai akibat belajar karena latihan (practice) atau karena
pengalaman ( experience ).
Menurut Hilgarde dan Bower, dalam buku Theories of Learning, ( 1975 )
Mengemukakan definisi belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang
terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-
ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau
dasar kecenderungan respons pembawaan, pematangan atau keadaan-keadaan sesaat
seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya.
Menurut Trianto (2010:16)
Proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak disengaja dan
berlangsung sepanjang waktu dan menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar.
Menurut Ngalim Purwanto (1992 : 84)
Setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil
dari latihan atau pengalaman.
Menurut Hintzman, Douglas L ( The Psychology of Learning and Memor y 1987 )
Arti belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau
hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme
tersebut.
Menurut Arno F. Wittig ( Psychology of Learning 1981 )
Definisi belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam
tingkah laku suatu organisme sebagai hasil belajar.
Menurut Vernon S. Gerlach & Donal P. Ely
Dalam bukunya teaching & Media-A systematic Approach (1971) dalam Arsyad (2011: 3)
mengemukakan bahwa “belajar adalah perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah
tindakan yang dapat diamati. Dengan kata lain perilaku adalah suatu tindakan yang dapat
diamati atau hasil yang diakibatkan oleh tindakan atau beberapa tindakan yang dapat
diamati”.
Menurut (Imron, 1996:2)
Definisi belajar adalah sebagai suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang
relative menetap sebagai hasil dari sebuah pengalaman.
Menurut James Patrick Chaplin ( Dictionary of Psychology 1985 )
Pengertian belajar dibatasi dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama Belajar adalah
perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan
pengalaman. Rumusan kedua Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai
akibat adanya latihan khusus.
Menurut Spears
Belajar adalah mengamati, membaca, imited, untuk mencoba sesuatu sendiri,
mendengarkan, mengikuti arahan.
Menurut Thursan Hakim, Belajar Secara Efektif ( 2005 )
Pengertian belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan
perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah
laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman,
keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan.
Menurut Muhibbin
Muhibbin berpendapat definisi belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan
unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang
pendidikan.
Menurut Bower (1987;150)
Bower berpendapat Belajar adalah ditunjukkan oleh perubahan yang relatif tetap dalam
perilaku yang terjadi karena adanya latihan dan pengalaman-pengalaman. Kemudian
menurut Bower (1987: 150) “Learning is a cognitive process”. Belajar adalah suatu proses
kognitif.

Menurut Margaret Gredler, 1994


Definisi belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan
sikap. Sehingga peserta didik dapat mengetahui hal-hal yang baru dan dapat meningkatkan
pengetahuan yang dimilikinya, mengubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang salah
menjadi benar, dan dari kurang baik menjadi baik.
2.1.2 Definisi Hasil Belajar
Menurut Bloom (Supriono,2009:6-7)
Definisi hasil belajar mencakup kemampuan kognitf, afektif, dan psikomotorik. Domain
kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman,
menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan,
menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk
bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain efektif adalah receiving (sikap
menerima), responding (memberikan respons), valuing (nilai), organitation (organisasi),
characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi initiatory, pre-routine, dan
rountinized. Psikomotor juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial,
manajerial, dan intelektual.
Menurut Sudjana, (2004 : 22)
Pengertian hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah
menerima pengalaman belajarnya .
Menurut W. Winkel (dalam buku Psikologi Pengajaran 1989:82)
Definisi hasil belajar dalah keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni prestasi belajar
siswa di sekolah yang mewujudkan dalam bentuk angka.
Menurut Lindgren (Supriono,2009:7)
Hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi, pengertian, dan sikap.”
Menurut Winarno Surakhmad (dalam buku, Interaksi Belajar Mengajar, Bandung:
Jemmars, 1980:25)
Hasil belajar siswa bagi kebanyakan orang berarti ulangan, ujian atau tes. Maksud ulangan
tersebut ialah untuk memperoleh suatu indek dalam menentukan keberhasilan siswa.
Menurut Suprijono (2013:7)
Pengertian hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah
satu aspek potensi kemanusiaan saja.
Menurut Jihad dan Haris (2012:14)
Pengertian hasil belajar merupakan pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung
menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris dari proses belajar yang dilakukan
dalam waktu tertentu.
Hamalik (2004: 31)
Definisi hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengetahuan-pengetahuan,
sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan keterampilan.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013: 3)
Definisi hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar.
Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
Menurut Hamalik (2004: 49)
Mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam
mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan.
Menurut Winkel (2009)
Mengemukakan bahwa hasil belajar adalah bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh
seseorang.
Menurut Susanto (2013: 5)
Pengertian hasil belajar adalah perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang
menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
Menurut Nawawi (dalam Susanto, 2013: 5)
Hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi
pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal
sejumlah materi pelajaran tertentu.
Menurut Djamarah Dan Zain (2006)
Pengertian hasil belajar ialah apa yang diperoleh siswa setelah dilakukan aktifitas belajar.
Menurut Mulyasa (2008)
Hasil belajar ialah prestasi belajar siswa secara keseluruhan yang menjadi indikator
kompetensi dan derajat perubahan prilaku yang bersangkutan. Kompetensi yang harus
dikuasai siswa perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai sebagai wujud hasil
belajar siswa yang mengacu pada pengalaman langsung.
Menurut Nana Sudjana (2009: 3)
Mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya ialah perubahan tingkah laku sebagai
hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Menurut Benjamin S. Bloom (Dimyati Dan Mudjiono, 2006: 26-27)
Yang dalam hal menyebutkan 6 jenis perilaku ranah kognitif sebagai berikut :
 Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tengtang hal yang telah dipelajari dan
tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian
kaidah, teori, prinsip atau metode.
 Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang
dipelajari.
 Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi
masalah yang nyata dan baru misalnya menggunakan prinsip.
 Analisis mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga
struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik, misalnya mengurangi masalah menjadi
bagian yang telah kecil.
 Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru, misalnya kemampuan
menyusun suatu program.
 Evaluasi mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan
kriteria tertentu, misalnya kemampuan menilai hasil ulangan.
2.1.3 Definisi Quantum Teaching
Menurut De porter. B (2004), kata quantum berarti interaksi antara paket-paket energi
dalam energi foton yang terquantisasi, sedangkan quantum teaching dalam pembelajaran
merupakan interaksi yang terjadi di dalam kelas antara siswa dengan lingkungan belajar
yang efektif. Dalam quantum teaching bersandar pada konsep ‘bawalah dunia mereka ke
dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka’. Hal ini menunjukkan, betapa
pengajaran dengan quantum teaching tidak hanya menawarkan materi yang mesti
dipelajari siswa. Tetapi jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan
hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.
2.1.3.1 Asas Utama Quantum Teaching
Menurut De porter. B (2004), asas utama quantum teaching adalah “bawalah dunia mereka
kedunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Dari asas utama ini, dapat
disimpulkan bahwa langkah awal yang harus dilakukan dalam pengajaran yaitu mencoba
memasuki dunia yang dialami oleh peserta didik. Cara yang dilakukan seorang pendidik
meliputi: untuk apa mengajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang
diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka.
Setelah kaitan itu terbentuk, maka dapat membawa mereka kedalam dunia kita dan
memberi mereka pemahaman mengenai isi dunia itu. “Dunia kita” dipeluas mencakup
tidak hanya para siswa, tetapi juga guru. Akhirnya dengan pengertian yang lebih luas dan
penguasaan lebih mendalam, siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari kedalam
dunia mereka Dan menerapkannya pada situasi baru.
2.1.3.2 Prinsip-Prinsip Quantum Teaching
Menurut De porter. B (2004), prinsip-prinsip quantum teaching adalah struktur chort dasar
dari simfoni. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
 Segalanya berbicara;
 Segalanya bertujuan;
 Pengalaman sebelum pemberian nama;
 Akui setiap usaha; dan
 Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.
Dengan demikian, segalanya berbicara seperti yang ada dari lingkungan kelas dan bahasa
tubuh, serta rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar.
Sedangkan segalanya bertujuan dapat digambarkan melalui segala sesuatu yang terjadi
dalam proses belajar mengajar memiliki tujuan tertentu. Oleh karena itu, proses belajar
paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh
nama untuk yang mereka pelajari.

Belajar pada hakikatnya mengandung konsekuensi ketika peserta didik mulai melangkah
untuk belajar yang bagaimanapun untuk setiap usaha dan pekerjaan untuk belajar yang
dilakukan selalu dianggap perlu dan akan berpengaruh terhadap hasil pekerjaan yang lebih
baik, maka pengakuan dari setiap usaha akan berperan menciptakan perasaan nyaman dan
percaya diri, serta dapat menciptakan lingkungan paling baik untuk membantu mengubah
diri menuju arah yang diinginkan. Pengakuan tersebut akan lebih lengkap dengan
dibuktikan melalui sebuah perayaan sebab perayaan merupakan ungkapan kegembiraan
atas keberhasilan yang diperoleh dan juga dengan perayaan akan memberikan umpan balik
mengenai kemajuaan dan akan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan Belajar
(DeporterB;2003)
2.1.3.3 Model Quantum Teaching
Menurut De porter, B (2004), quantum teaching mempunyai dua bagian penting yaitu
dalam seksi konteks dan dalam seksi isi. Dalam seksi konteks, akan menemukan semua
bagian yang dibutuhkan untuk mengubah: suasana yang memberdayakan, landasan yang
kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Sedangkan
dalam seksi isi, akan menemukan keterampailan penyampaian untuk kurikulum apapun,
disamping strategi yang dibutuhkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka
pelajari: penyanjian yang prima, fasilitas yang luwes, keterampilan belajar untuk belajar,
dan keterampilan hidup
2.1.3.4 Sintaks Pembelajaran Quantum Teaching
Sintaks pembelajaran quantum teaching adalah tumbuhkan, alami, namai, demostrasikan,
ulangi dan rayakan (TANDUR). Adapun maksudnya adalah:
1. Menumbuhkan minat dengan memuaskan “apakah manfaatnya bagiku (pelajar)” dan
memanfaatkan kehidupan pelajar;
2. Menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh semua
pelajar;
3. Menamai kegiatan yang akan dilakukan selama proses belajar mengajar dengan
menyediakan kata kunci, konser, model, rumus, strategi, sebuah “masukan”;
4. Menyediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan (mendemonstrasikan) bahwa
mereka tahu;
5. Menunjuk beberapa pelajar untuk mengulangi materi dan menegaskan “aku tahu bahwa
aku memang tahu ini”;
6. Merayakan atas keberhasilan yang sudah dilakukan oleh pelajar sebagai pengakuan untuk
penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan (De porter
B, 2003).
2.1.4 Definisi Peluang
Pengertian peluang adalah suatu cara untuk mengungkap pengetahuan atau
kepercayaan bahwa suatu kejadian akan berlaku atau telah terjadi. Peluang juga dikenal
sebagai kebolehjadian atau probabilitas. Berbicara tentang peluang, tentunya masih sangat
umum karena peluang bisa ada dalam berbagai hal seperti peluang dalam ilmu eksak
matematika, peluang usaha, peluang bisnis, dan juga peluang lainnya yang berhubungan
dengan sains, keuangan, ataupun filsafat.
Dalam ilmu matematika, peluang dianggap sebagai suatu probabilitas atau kejadian
dimana sebuah angka menunjukkan kemungkinan terjadinya suatu kejadian. Nilai peluang
ini berada diantara 0 sampai dengan 1. Kejadian yang mempunyai nilai probabilitas 1
merupakan kejadian yang sudah pasti terjadi atau sesuatu yang telah terjadi, contohnya
adalah matahari terbit dari timur. Sedangkan suatu kejadian yang nilai probabilitasnya 0
adalah sebuah kejadian yang mustahil atau tidak mungkin terjadi, contohnya sepasang
kambing melahirkan seekor sapi.Dalam matematika, peluang atau probabilitas atas suatu
kejadian A terjadi dilambangkan dengan notasi P(A), p(A), atau Pr(A). Sebaliknya,
probabilitas yang dilambangkan dengan [bukan A] atau komplemen A merupakan suatu
probabilitas bahwa suatu kejadian A tidak akan terjadi yang ditulis dengan rumus 1-P(A).
2.2 Kerangka Berfikir
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku di dalam kepribadian manusia,
dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas
tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman,
keterampilan, daya pikir, dan lain-lain.
kemampuanasas utama quantum teaching adalah “bawalah dunia mereka kedunia
kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Dari asas utama ini, dapat disimpulkan
bahwa langkah awal yang harus dilakukan dalam pengajaran yaitu mencoba memasuki
dunia yang dialami oleh peserta didik. Cara yang dilakukan seorang pendidik meliputi:
untuk apa mengajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari
kehidupan rumah, sosial, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan itu
terbentuk, maka dapat membawa mereka kedalam dunia kita dan memberi mereka
pemahaman mengenai isi dunia itu. “Dunia kita” dipeluas mencakup tidak hanya para
siswa, tetapi juga guru quantum teaching mempunyai dua bagian penting yaitu dalam
seksi konteks dan dalam seksi isi. Dalam seksi konteks, akan menemukan semua bagian
yang dibutuhkan untuk mengubah: suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh,
lingkungan yang mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Sedangkan dalam seksi
isi, akan menemukan keterampailan penyampaian untuk kurikulum apapun, disamping
strategi yang dibutuhkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari:
penyanjian yang prima, fasilitas yang luwes, keterampilan belajar untuk belajar, dan
keterampilan hidup Sintaks pembelajaran quantum teaching adalah tumbuhkan, alami,
namai, demostrasikan, ulangi dan rayakan (TANDUR). Adapun maksudnya adalah:
1. Menumbuhkan minat dengan memuaskan “apakah manfaatnya bagiku (pelajar)” dan
memanfaatkan kehidupan pelajar;
2. Menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh semua
pelajar;
3. Menamai kegiatan yang akan dilakukan selama proses belajar mengajar dengan
menyediakan kata kunci, konser, model, rumus, strategi, sebuah “masukan”;
4. Menyediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan (mendemonstrasikan) bahwa
mereka tahu;
5. Menunjuk beberapa pelajar untuk mengulangi materi dan menegaskan “aku tahu bahwa
aku memang tahu ini”;
6. Merayakan atas keberhasilan yang sudah dilakukan oleh pelajar sebagai pengakuan untuk
penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan (De porter
B, 2003).
2.3 Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir diatas maka hipotesis peneliti dalam penelitian ini adalah:
3. Terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran peluang melalui penerapan
model pembelajaran quantum teaching tipe TANDUR terhadap hasil belajar siswa pada
pokok bahasan peluang.
4. Terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran peluang melalui penerapan
model pembelajaran quantum teaching tipe TANDUR terhadap hasil belajar siswa pada
pokok bahasan peluang.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Subjek penelitian dari penelitian ini adalah SMA Negeri 1 Pemtangraya Peneliti
memilih SMA Negeri 1 Pemtangraya sebagai Subyek penelitian ini adalah siswa X Di
Sma Negri 1 Pematangraya Waktu penelitian juli-november 2018.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1
Pemtangraya yang terdiri atas 8 kelas, yaitu 5 kelas IPA (MIA) dan 3 kelas IPS (IIS) yang
mempelajari mata pelajaran Maematika Wajib. Penentuan populasi dilakukan dengan
mempertimbangkan kemampuan awal siswa, keaktifan siswa, dan motivasi belajar siswa
kelas X SMA Negeri 1 Pemtangraya. Hal ini dilakukan dengan wawancara tidak
terstruktur terhadap guru. Sedangkan sampel dari penelitian ini adalah 2 kelas, yakni kelas
X MIA 1 dan X MIA 2 yang dipilih secara acak dengan teknik cluster random sampling,
dengan syarat kedua kelas tersebut normal dan homogen. Teknik ini digunakan karena
siswa sudah berada dalam kelas-kelas dan setiap kelas mempunyai peluang yang sama
untuk terpilih menjadi sampel. Kelas X MIA 1 dijadikan sebagai kelas kontrol yang
pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional (pendekatan saintifik),
sedangkan kelas X MIA 2 diberi perlakuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik
melalui model quantum teaching tipe tandur. Cacah siswa di masing-masing kelas adalah
26 siswa.

3.3

Jarak.
Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen pembelajaran, yakni
RPP dan LKS (lembar kegiatan siswa), instrumen pengambilan data berupa instrumen tes,
yaitu soal pre-test dan post-test, serta instrumen non-tes berupa lembar observasi
keterlaksanaan pembelajaran. Ketiga instrumen ini disusun berdasarkan Kompetensi Inti
dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 mata pelajaran matematika SMA kelas X untuk
kelompok wajib pada pokok bahasan pelung

 Instrumen Pembelajaran
a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas 2 berkas untuk 4 pertemuan
pembelajaran, yakni RPP untuk kelas eksperimen yang menggunakan pendekatan saintifik
dengan model Quantum teaching tipe TANDUR serta untuk kelas kontrol yang
menggunakan pendekatan saintifik saja. Pembuatan RPP disesuaikan dengan format RPP
Kurikulum 2013 dengan memperhatikan pendapat dosen dan guru. Validasi RPP dilakukan
oleh 2 validator yang merupakan dosen Jurusan Pendidikan Matematika. Perangkat RPP
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran I. b. Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

LKS yang digunakan dalam penelitian ini dibuat sama dalam hal konten antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Yang membedakan keduanya adalah instruksi awal dan
kolom nama pada LKS. Pembuatan LKS disesuaikan dengan langkah-langkah pendekatan
saintifik dan materi yang akan dipelajari. LKS yang telah dibuat dikonsultasikan kepada
dosen dan guru, kemudian direvisi berdasarkan masukan yang diberikan. Validasi LKS
dilakukan oleh 2 validator yang merupakan dosen Jurusan Pendidikan Matematika.

 Instrumen Tes
Instrumen tes dalam penelitian ini adalah soal pre-test dan post-test, yang masing-masing
terdiri atas 3 soal dengan total butir soal adalah 5. Tes yang digunakan berbentuk uraian
(essay test) dengan penekanan pada konten. Tes ini bertujuan untuk menilai aspek kognitif
atau pengetahuan siswa dengan menekankan pada konten saja (AERA, dkk., 1999,
Reynolds, dkk., 2010). Penyusunan perangkat tes dilakukan dengan langkah:
1. melakukan pembatasan materi yang diujikan,
2. menentukan jumlah butir soal.
3. menentukan waktu mengerjakan soal,
4. membuat kisi-kisi soal,
5. menuliskan petunjuk mengerjakan soal, kunci jawaban, dan penentuan skor,
6. menulis butir soal,
7. mengkonsultasikan kepada dosen pembimbing,
8. dan memvalidasi soal dan merevisi sesuai saran validator.
Dalam penelitian ini, tes tidak diujicobakan secara terpisah (terhadap kelompok lain)
terlebih dahulu. Uji coba instrumen tes dilakukan dengan menggunakan uji coba langsung
terpakai, yakni langsung digunakan terhadap subjek penelitian pada saat penelitian. Hasil
tes tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui reliabilitas soal. Validitas instrumen
diperoleh dengan cara meminta pendapat ahli (expert judgement).

a. Validitas

Validitas instrumen terdiri atas validitas konstruk dan validitas isi. Secara teknis,
pengujian validitas konstruk dan validitas isi dapat dibantu dengan menggunakan kisi-kisi
instrumen, atau matriks pengembangan instrumen. Dalam kisi-kisi itu terdapat variabel
yang diteliti, indikator sebagai tolok ukur, dan nomor butir (item) pertanyaan atau
pernyataan yang telah dijabarkan dari indikator (Sugiyono, 2007: 182).

Validitas instrumen dalam penelitian ini mengacu pada validitas isi, yakni apakah isi
atau bahan yang diuji atau dites relevan dengan kemampuan, pengetahuan, pengalaman,
dan latar belakang responden. Pengujian terhadap validitas isi dilakukan dengan meminta
pendapat ahli (expert judgment). Ahli yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dosen
pembimbing dan dua dosen ahli dari Jurusan Pendidikan Matematika sebagai validator.
Selanjutnya, peneliti melakukan revisi terhadap instrumen berdasarkan evaluasi yang telah
dilakukan validator. Surat keterangan validasi instrumen tes dapat dilihat pada Lampiran
IV.

b. Reliabilitas
Menurut Sudjana dan Ibrahim (2001: 120), reliabilitas alat ukur adalah ketetapan
atau keajegan alat tersebut dalam mengukur apa yang diukurnya. Artinya, kapan pun alat
ukur tersebut digunakan akan memberikan hasil yang sama. Untuk menghitung reliabilitas
butir soal dapat digunakan rumus Cronbach's Alpha, yaitu:

Berikut ini merupakan tabel rentang harga reliabilitas tes dan kriterianya menurut
Sukardi (Sulistyaningsih, 2014: 52).

Tabel 7 Kriteria Reliabilitas Butir Soal

No Nilai Kriteria

1 0,80 ≤ 11 < 1 Reliabilitas sangat tinggi

2 0,60 ≤ 11 < 0.80 Reliabilitas tinggi


0,40 ≤ 11 < 0.60 Reliabilitas sedang
3

4 0.20 ≤ 11 < 0.40 Reliabilitas rendah

5 0.00 ≤ 11 < 0.20 Reliabilitas sangat rendah

Pada penelitian ini, nilai reliabilitas butir soal dianalisis menggunakan rumus
Cronbach's Alpha dengan bantuan program SPSS 17.00. Penggunaan program ini
bertujuan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan analisis karena dalam SPSS
17.00 sudah terdapat analisis Cronbach's Alpha. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai
reliabilitas soal pre-test adalah 0,617, yang berarti reliabilitasnya tinggi. Jadi, berdasarkan
tabel 6, dapat disimpulkan bahwa butir soal yang digunakan dalam pre-test berkategori
baik. Sedangkan, hasil analisis butir soal post-test menunjukkan nilai reliabilitas sebesar
0,656. Hal ini berarti bahwa butir soal post-test memiliki nilai reliabilitas tinggi, dan
karena itu baik untuk digunakan. Hasil analisis selengkapnya dapat dilihat di Lampiran II.

c. Instrumen Non-tes
Instrumen non-tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi
keterlaksanaan pembelajaran. Lembar observasi yang dibuat terdiri atas dua, yakni lembar
observasi keterlaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik melalui model quntum
teching dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik.
Penyusunan lembar observasi disesuaikan dengan RPP untuk masing-masing kelas,
kemudian dikonsultasikan dan divalidasi. Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran
dapat dilihat pada Lampiran I.

3.4 Desain Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika


dengan pendekatan saintifik melalui model Qantum teaching tipe TANDUR ditinjau dari
prestasi siswa, mengetahui efektivitas pembelajaran saintifik tanpa model Qantum
teaching tipe TANDUR ditinjau dari prestasi siswa, serta untuk mengetahui pembelajaran
yang lebih efektif antara pembelajaran matematika dengan pendekatan saintifik melalui
model Qantum teaching tipe TANDUR dan pembelajaran dengan pendekatan saintifik
tanpa model Qantum teaching tipe TANDUR ditinjau dari prestasi belajar siswa.
Berdasarkan tujuan tersebut, jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Metode ini
mengungkap hubungan antara dua variabel atau lebih atau mencari pengaruh suatu
variabel atau variabel lainnya (Sudjana & Ibrahim, 2001: 19).

Jenis penelitian eksperimen yang digunakan adalah quasi experiment yang berbentuk
prates-pascates kelompok kontrol tanpa acak (pretest-posttest control group design) karena
subjek kelompok tidak diacak (sudah dalam bentuk kelas). Rancangan penelitian yang
akan digunakan adalah membagi subjek menjadi dua kelompok, yakni kelompok kontrol
dan kelompok eksperimen. Berikut adalah tabel desain penelitian yang digunakan.

Tabel 6 Desain Penelitian

Kelompok Prates Perlakuan(variabel Pascates(variabel


bebas) terikat)

Eksperimen Y1 X Y2

Kontrol Y1 Y2
Keterangan:

Y1: Kemampuan awal siswa

X : Perlakuan yang diberikan

Y2 : Kemampuan akhir siswa

Sebelum perlakuan diberikan (X), kedua kelompok diberikan pretest. Hasil pretest
digunakan untuk melihat tingkat kesetaraan kelompok. Pretest dalam desain ini juga dapat
digunakan untuk pengontrolan secara statistik (statistical control).

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Data pada penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif
diperoleh dari prestasi belajar siswa kelas X MIA 1 dan X MIA 2 dan dari pelaksanaan.
Data tersebut diperoleh dengan cara tes. Tes adalah suatu proses memperoleh,
mengevaluasi, dan memberi skor terhadap suatu aspek perilaku individu dengan
menggunakan prosedur terstandar (AERA, dkk., 1999, Reynolds, dkk., 2010). Pada
penelitian ini, tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa kelas eksperimen dan
kelas kontrol. Metode tes yang digunakan adalah pre-test dan post-test. Sedangkan, data
kualitatif diperoleh melalui lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran di kedua kelas.

3.5.1 Teknik Analisis Data

1. Pengujian Persyaratan Analisis

Data awal berupa data hasil pre-test dianalisis untuk melihat normalitas dan
homogenitas. Hal ini dilakukan sebagai acuan peneliti untuk memberikan perlakuan
berikutnya.

a. Uji normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa pada
suatu kelas berdistribusi normal atau tidak yang akan berpengaruh pada penggunaan
statistik pengujian (parametrik atau non-parametrik). Pada penelitian ini, uji normalitas
dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov pada program SPSS 17.00.
Hipotesis yang digunakan yang digunakan sebagai acuan pengambilan keputusan yaitu:

H0: Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal.

Ha: Sampel tidak berasal dari populasi berdistribusi normal.

Data dikatakan berdistribusi normal apabila nilai probabilitas > 0,05 dan H0 dinyatakan
tidak ditolak. Apabila nilai probabilitas ≤ 0,05, maka data tidak berdistribusi normal dan
H0 dinyatakan ditolak.
b. Uji homogenitas

Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah kedua sampel memiliki varians
yang sama atau tidak. Pada penelitian ini, uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan
uji Levene pada program SPSS 17.00. Hipotesis yang digunakan sebagai acuan
pengambilan keputusan yaitu:

Data dikatakan homogen jika nilai probabilitas > 0,05 dan H0 dinyatakan tidak ditolak,
sedangkan apabila nilai probabilitas ≤ 0,05 maka data tidak homogen dan H0 ditolak.

C. Pengujian Hipotesis

a. Uji t

Pembelajaran matematika dikatakan efektif ditinjau dari prestasi belajar apabila rata-
rata nilai post-test siswa minimal mencapai KKM, yaitu 66,7. Uji t digunakan untuk
menguji apakah rata-rata nilai post-test siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol
minimal mencapai KKM (µ0 yang digunakan adalah 66,69), atau dikatakan
pembelajarannya efektif, serta untuk menguji signifikansi perbedaan rata-rata prestasi
belajar kedua kelas. Analisis dilakukan dengan bantuan program SPSS 17.00 dengan
menggunakan one sample t-test untuk uji hipotesis pertama dan kedua dan independent
sample t-test untuk uji beda.
1) Uji Hipotesis Pertama

Uji hipotesis pertama dilakukan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran di kelas


eksperimen ditinjau dari prestasi siswa. Hipotesisnya adalah sebagai berikut.

2) Uji Hipotesis Kedua

Uji hipotesis kedua dilakukan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran di kelas kontrol
ditinjau dari prestasi siswa. Hipotesisnya adalah:
3) Uji Beda

Uji beda dilakukan untuk mengetahui perbedaan rata-rata kedua kelas.

Pengujian dilakukan pada data hasil post-test, dengan hipotesis:

𝐻0: 𝜇𝑒=𝜇𝑘 (tidak terdapat perbedaan rata-rata kelas ekperimen dan kelas

kontrol)

𝐻𝑎: 𝜇𝑒≠𝜇𝑘 (terdapat perbedaan rata-rata kelas ekperimen dan kelas kontrol).

Kriteria pengujian hipotesisnya adalah jika 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 <−𝑡 𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 atau 𝑡 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 >𝑡 𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙,
maka berbeda secara signifikan (H0 ditolak). Kriteria pengujian juga dapat menggunakan
nilai signifikansi (sig.) atau probabilitas 𝑝 pada taraf signifikansi 0,05. Jika 𝑝≤0,05, maka
berbeda secara signifikan
(H0 ditolak), sedangkan jika 𝑝>0,05, maka tidak berbeda secara signifikan

(H0 tidak ditolak). Harga 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 dapat dicari dengan rumus berikut.
b. Pengaruh Treatment (Perlakuan)

Jika hasil uji t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam


hal prestasi belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran
matematika dengan pendekatan saintifik melalui model kooperatif tipe NHT dan
pembelajaran dengan pendekatan saintifik, maka dilanjutkan dengan effect size.

Data yang digunakan adalah data hasil post-test kedua kelompok. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh treatment terhadap prestasi
belajar siswa. Berikut adalah rumus untuk menentukan effect size, dinotasikan
dengan .

Tabel 8 merupakan interpretasi dari effect size menurut Robert Coe (Oktapina,
2014: 58).

Tabel 8 Kategori Effect Size

Effect size Presentasi Kategori

0,0 50 % Rendah

0,1 54 % Rendah

0,2 58 % Rendah

0,3 62 % Rendah

0,4 66 % Rendah
0,5 69 % Rendah

0,6 73 % Cukup Tinggi

0,7 76 % Cukup Tinggi

0,8 79 % Cukup Tinggi

0,9 82 % Cukup Tinggi

1,0 84 % Tinggi

1,2 88 % Tinggi

1,4 92 % Tinggi

1,6 95 % Tinggi

1,8 96 % Tinggi

2,0 98 % Tinggi

2,5 99 % Tinggi

3,0 99,99 % Tinggi