Anda di halaman 1dari 29

Lab.

Teknologi Mekanik Welding


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah logam bergabung kembali beberapa milenium, dengan

contoh-contoh paling awal pengelasan dari Zaman Perunggu dan Zaman

Besi di Eropa dan Timur Tengah. Welding digunakan dalam

pembangunan pilar besi di Delhi, India, didirikan sekitar 310 AD dan berat

5,4 metrik ton.

Pada Abad Pertengahan membawa kemajuan di bengkel las, di

mana ditumbuk pandai besi logam dipanaskan berulang kali sampai ikatan

terjadi. Pada tahun 1540, Vannoccio Biringuccio diterbitkan De la

pirotechnia, yang mencakup deskripsi operasi penempaan. Renaisans

pengrajin yang terampil dalam proses, dan industri terus tumbuh selama

berabad-abad berikut.

Namun, berubah selama abad ke-19. Tahun 1802, ilmuwan

Rusia Vasily Petrov menemukan busur listrik dan kemudian diusulkan

kemungkinan aplikasi praktis, termasuk pengelasan menciptakan the first

electric arc welding method known as carbon arc welding, menggunakan

elektroda karbon. Dalam penemu 1881-82 Rusia Nikolai

Bernardos menciptakan busur listrik pertama yang dikenal sebagai metode

pengelasan busur karbon pengelasan, dengan menggunakan elektroda

karbon.

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 1 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
Kemajuan dalam pengelasan busur dilanjutkan dengan penemuan

elektroda logam pada akhir 1800-an oleh seorang Rusia, Nikolai

Slavyanov (1888), dan seorang Amerika, CL Coffin. mengeluarkan a

coated metal electrode di Britain, yang lebih stabil. Sekitar 1900, AP

Strohmenger merilis sebuah elektroda logam dilapisi di Britain, yang

memberikan busur yang lebih stabil.

Pada tahun 1905 ilmuwan Rusia Vladimir Mitkevich mengusulkan

penggunaan tiga fase untuk pengelasan busur listrik. Pada tahun 1919, arus

bolak-balik pengelasan diciptakan oleh CJ Holslag tetapi tidak menjadi

populer untuk satu dasawarsa. Perlawanan las juga berkembang selama

dekade terakhir abad ke-19, dengan paten pertama akan Elihu

Thomson pada 1885, yang menghasilkan kemajuan lebih lanjut selama 15

tahun. Las termit ditemukan pada 1893, dan sekitar waktu itu proses

lain, oxyfuel pengelasan, menjadi mapan.

Asetilen ditemukan pada 1836 oleh Edmund Davy, tetapi

penggunaannya tidak praktis dalam pengelasan sampai sekitar tahun 1900,

ketika seorang sesuai obor las dikembangkan. Pada mulanya, oxyfuel

pengelasan adalah salah satu metode pengelasan lebih populer karena yang

portabilitas dan biaya yang relatif rendah. Ketika abad ke-20 berlangsung,

bagaimanapun, itu jatuh dari nikmat untuk aplikasi industri.

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 2 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari pengelasan?

2. Apa saja bagian-bagian dari mesin las?

3. Apa saja jenis-jenis pengelasan, sambungan, elektroda, dan kampuh

las?

C. Tujuan penulisan

Untuk mengetahui lebih dalam soal welding (pengelasan)

mencakup teori, bagian dari mesin las, jenis – jenis, sambungan, elektroda

dan juga kampuh

D. Manfaat penulisan

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini, sebagai berikut:

1. Sebagai bahan bacaan

2. Referensi bagi pembuat makalah selajutnya

3. Menambah wawasan bagi pembaca dan penulis

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 3 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
BAB II

PEMBAHASAN

A. Teori Dasar

Definisi dari kata “las” itu sendiri adalah penyambungan dua buah

logam dengan cara membakar atau melelehkan kedua logam tersebut.

Walaupun ada beberapa metode lain dalam penyambungan benda-benda

logam seperti keling (rivet) atau solder, tetapi metode pengelasan ini

masih menjadi pilihan utama dalam proses penyambungan logam karena

faktor kekuatan, efisiensi, dan fleksibilitas. Proses pengelasan ini juga

terdapat beberapa metode yang berbeda. Pertama, pengelasan dengan cara

menggunakan energi listrik, yaitu dengan cara melelehkan dua potong

logam secara bersamaan serta menambahkan logam pengisi (filler) di

antara sendi-sendi kedua logam tersebut sehingga keduanya akan saling

mengikat satu sama lain. Yang kedua adalah dengan cara menggunakan

gas bertekanan sebagai bahan bakar untuk melelehkan dua logam tersebut

dan yang ketiga adalah dengan cara mengombinasikan cara pertama

dengan cara kedua yaitu kombinasi antara listrik dengan gas bertekanan.

Tidak seperti proses penyambungan dengan metode brazing

ataupun soldering yang hanya mencairkan logam pengisinya saja tetapi

tidak melelehkan bagian dari logam induknya, metode pengelasan ini

melelehkan sebagian dari logam induk hingga membentuk ikatan kohesif

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 4 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
yang kuat. Pada artikel ini , kita akan melihat lebih dekat bagaimana

proses pengelasan tersebut.

a. Teori pengelasan menurut para ahli

1. Definisi pengelasan menurut American Welding Society, 1989

Pengelasan adalah proses penyambungan logam atau non logam

yang dilakukan dengan memanaskan material yang akan disambung

hingga temperatur las yang dilakukan secara dengan atau tanpa

menggunakan tekanan (pressure), hanya dengan tekanan (pressure), atau

dengan atau tanpa menggunakan logam pengisi (filler)

2. Definisi pengelasan menurut British Standards Institution, 1983

Pengelasan adalah proses penyambungan antara dua atau lebih

material dalam keadaan plastis atau cair dengan menggunakan panas (heat)

atau dengan tekanan (pressure) atau keduanya. Logam pengisi (filler metal)

dengan temperatur lebur yang sama dengan titik lebur dari logam induk

dapat atau tanpa digunakan dalam proses penyambungan tersebut.

3. Definisi pengelasan menurut DIN (Deutsche Industrie Norman)

Adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam

paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dengan kata

lain, las merupakan sambungan setempat dari beberapa batang logam

dengan menggunakan energi panas.

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 5 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
B. Bagian – Bagian mesin las dan fungsinya

a. Saklar utama

Berfungsi memutuskan dan mengalirkan arus dari sumber ke mesin

Gambar 2.1 Skalar utama

b. Transformator

Berfungsi untuk menyesuaikan tegangan pada mesin

Gambar 2.2 Transformator

c. Saklar on/off

Berfungsi untuk memutuskan dan mengalirkan arus dalam mesin

Gambar 2.3 Skalar On/Off

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 6 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
d. Saluran 3 fase

Berfungsi mengatur arus dalam pengelasan jarak jauh

Gambar 2.4 Saluran 3 fase

e. Lampu indicator

Berfungsi untuk mengetahui apakah mesin las telah dialiri arus atau

belum

Gambar 2.5 Lampu indicator

f. Kutub positif dan negatif

Berfungsi untuk mengalirkan arus positif dan negatif ke penjepit

Gambar 2.6 Kutub positif dan negatif


g. Kabel massa

Berfungsi mengalirkan arus dari mesin ke penjepit

Gambar 2.7 Kabel massa

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 7 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
h. Penjepit elektroda

Berfungsi menjepit elektroda sekaligus mengalirkan arus ke elektroda

Gambar 2.8 Penjepit elektroda

i. Penjepit benda kerja

Befungsi menjepit benda kerja sekaligus mengantarkan arus ke benda

kerja

Gambar 2.9 Penjepit benda kerja

C. Pengelasan

a. Proses – proses pengelasan

1. Pengelasan cair adalah cara pengelasan dimana sambungan

dipanaskan sampai mencair dengan sumber panas dari busur listrik

atau sumber api gas yang terbakar.

Contoh Aplikasi Pengelasan Cair :

- Las Busur

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 8 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
- Las Gas

- Las Listrik Terak

- Las Listrik Gas

- Las termit

2. Pengelasan tekan adalah cara pengelasan dimana sambungan

dipanaskan dan kemudian ditekan hingga menjadi satu.

Pengelasan tekan :

Contoh Las Resistansi Listrik

- Las Tekan Gas

- Las Tempa

- Las Gesek

- Las Ledakan

3. Pematrian adalah cara pengelasan dimana sambungan diikat dan

disatukan denngan menggunakan paduan logam yang mempunyai

titik cair rendah. Dalam hal ini logam induk tidak turut mencair.

-Pembrasingan dan Penyolderan

b. Jenis – jenis pengelasan

1. Berdasarkan Panas Listrik

- SMAW (Shield Metal Arch Welding) adalah las busur nyala api

listrik terlindung dengan mempergunakan busur nyala listrik

sebagai sumber panas pencair logam. Jenis ini paling banyak

dipakai dimana–mana untuk hampir semua keperluan pekerjaan

pengelasaan. Tegangan yang dipakai hanya 23 sampai dengan

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 9 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
45 Volt AC atau DC, sedangkan untuk pencairan pengelasan

dibutuhkan arus hingga 500 Ampere. Namun secara umum

yang dipakai berkisar 80 – 200 Ampere.

Gambar 2.10 Shield metal arch welding

- SAW (Submerged Arch Welding) adalah las busur terbenam

atau pengelasan dengan busur nyala api listrik. Untuk mecegah

oksidasi cairan metal induk dan material tambahan,

dipergunakan butiran–butiran fluks / slag sehingga busur nyala

terpendam di dalam ukuran–ukuran fluks tersebut.

Gambar 2.11 Submerged arch welding

- ESW (Electro Slag Welding) adalah pengelasan busur terhenti,

pengelasan sejenis SAW namun bedanya pada jenis ESW

busurnya nyala mencairkan fluks, busur terhenti dan proses

pencairan fluk berjalan terus dan menjadi bahan pengantar arus

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 10 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
listrik (konduktif). Sehingga elektroda terhubungkan dengan

benda yang dilas melalui konduktor tersebut. Panas yang

dihasilkan dari tahanan terhadap arus listrik melalui cairan fluk

/ slag cukup tinggi untuk mencairkan bahan tambahan las dan

bahan induk yang dilas temperaturnya mencapai 3500° F atau

setara dengan 1925° C

Gambar 2.12 Electro slag welding

- SW (Stud Welding) adalah las baut pondasi, gunanya untuk

menyambung bagian satu konstruksi baja dengan bagian yang

terdapat di dalam beton (baut angker) atau “ Shear Connector “

Gambar 2.13 Stud welding

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 11 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
- ERW (Electric Resistant Welding) adalah las tahanan listrik

yaitu dengan tahanan yang besar panas yang dihasilkan oleh

aliran listrik menjadi semakin tinggi sehingga mencairkan

logam yang akan dilas. Contohnya adalah pada pembuatan pipa

ERW, pengelasan plat–plat dinding pesawat, atau pada pagar

kawat

- EBW (Electron Beam Welding) adalah las dengan proses

pemboman elektron, suatu pengelasan uang pencairannya

disebabkan oleh panas yang dihasilkan dari suatu berkas

loncatan elektron yang dirapatkan dan diarahkan pada benda

yang akan dilas. Pengelasan ini dilaksanakan di dalam ruang

hampa, sehingga menghapus kemungkinan terjadinya oksidasi

atau kontaminasi

Gambar 2.14 Electron beam welding

2. Berdasarkan Panas Listrik dan Gas

- GMAW (Gas Metal Arch Welding) terdiri dari ; MIG (Metal

Active Gas) dan MAG (Metal Inert Gas) adalah pengelasan

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 12 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
dengan gas nyala yang dihasilkan berasal dari busur nyala

listrik, yang dipakai sebagai pencair metal yang di–las dan

metal penambah. Sebagai pelindung oksidasi dipakai gas

pelindung yang berupa gas kekal (inert) atau CO2. MIG

digunakan untuk mengelas besi atau baja, sedangkan gas

pelindungnya adalah mengunakan Karbon dioksida CO2. TIG

digunakan untuk mengelas logam non besi dan gas

pelindungnya menggunakan Helium (He) dan/atau Argon (Ar)

Gambar 2.15 Gas metal arch welding

- GTAW (Gas Tungsten Arch Welding) atau TIG (Tungsten Inert

Gas) adalah pengelasan dengan memakai busur nyala dengan

tungsten/elektroda yang terbuat dari wolfram, sedangkan bahan

penambahnya digunakan bahan yang sama atau sejenis dengan

material induknya. Untuk mencegah oksidasi, dipakai gas kekal

(inert) 99 % Argon (Ar) murni

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 13 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding

Gambar 2.16 Gas tungsten arch welding

- FCAW (Flux Cored Arch Welding) pada hakikatnya hampir

sama dengan proses pengelasan GMAW. Gas pelindungnya

juga sama-sama menggunakan Karbon dioksida CO2. Biasanya,

pada mesin las FCAW ditambah robot yang bertugas untuk

menjalankan pengelasan biasa disebut dengan super anemo

Gambar 2.17 Flux cored arch welding

- PAW (Plasma Arch Welding) adalah las listrik dengan plasma

yang sejenis dengan GTAW hanya pada proses ini gas

pelindung menggunakan bahan campuran antara Argon (Ar),

Nitrogen (N) dan Hidrogen (H) yang lazim disebut dengan

plasma. Plasma adalah gas yang luminous dengan derajat

pengantar arus dan kapasitas termis / panas yang tinggi dapat

menampung tempratur diatas 5000° C

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 14 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding

Gambar 2.18 Plasma arch welding

3. Berdasarkan Panas Yang Dihasilkan Campuran Gas

- OAW (Oxigen Acetylene Welding) adalah sejenis dengan las

karbid / las otogen. Panas yang didapat dari hasil pembakaran

gas acetylene (C2H2) dengan zat asam atau Oksigen (O2). Ada

juga yang sejenis las ini dan memakai gas propane (C3H8)

sebagai ganti acetylene. Ada pula yang memakai bahan

pemanas yang terdiri dari campuran gas hidrogen (H) dan zat

asam (O2) yang disebit OHW (Oxy Hidrogen Welding)

Gambar 2.19 Oxigen acetylene welding

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 15 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
4. Berdasarkan Ledakan dan reaksi isotermis

- EXW (Explosion Welding) adalah las yang sumber panasnya

didapatkan dengan meledakkan amunisi yang dipasang pada

suatu mold / cetakan pada bagian tersebut dan mengisi cetakan

yang tersedia. Cara ini sangat praktis untuk menyambung

kawat baja / wire rope, slenk. Cara pelaksanaannya adalah

ujung-ujung tambang kawat dimasukkan ke dalam mold yang

telah terisi amunisi selanjutnya serbuk ledak tersebut

dinyalakan dengan pemantik api, maka terjadilah reaksi kimia

eksotermis yang sangat cepat sehingga menghasilkan suhu

yang sangat tinggi sehingga terjadilah ledakan. Ledakan

tersebut mencairkan kedua ujung kawat baja yang terdapat

didalam mold tadi, sehingga cairan metal terpadu dan mengisi

ruangan yang tersedia didalam mold

Gambar 2.20 Explosion welding

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 16 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
D. Sambungan

Sambungan las adalah sambungan antara dua logam dengan cara

pemanasan, dengan atau tanpa logam pengisi. Sambungan terjadi pada

kondisi logam dalam keadaan plastis atau leleh. Sambungan las banyak

digunakan pada: Konstruksi baja, Ketel uap dan tangki

a. Macam – macam sambungan

Gambar 2.21 Pengelasan busur nyala

1. Sambungan Sebidang

Sambungan sebidang dipakai terutama untuk menyambung ujung-ujung

plat datar dengan ketebalan yang sama atau hampir sarna. Keuntungan

utama jenis sambungan ini ialah menghilangkan eksentrisitas yang timbul

pada sambungan lewatan tunggal seperti dalam Gambar 2.21(b). Bila

digunakan bersama dengan las tumpul penetrasi sempurna (full

penetration groove weld), sambungan sebidang menghasilkan ukuran

sambungan minimum dan biasanya lebih estetis dari pada sambungan

bersusun. Kerugian utamanya ialah ujung yang akan disambung biasanya

harus disiapkan secara khusus (diratakan atau dimiringkan) dan

dipertemukan secara hati-hati sebelum dilas. Hanya sedikit penyesuaian

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 17 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
dapat dilakukan, dan potongan yang akan disambung harus diperinci dan

dibuat secara teliti. Akibatnya, kebanyakan sambungan sebidang dibuat di

bengkel yang dapat mengontrol proses pengelasan dengan akurat.

2. Sambungan Lewatan

Sambungan lewatan merupakan jenis yang paling umum. Sambungan ini

mempunyai dua keuntungan utama:

- Mudah disesuaikan. Potongan yang akan disambung tidak

memerlukan ketepatan dalam pembuatannya bila dibanding dengan

jenis sambungan lain. Potongan tersebut dapat digeser untuk

mengakomodasi kesalahan kecil dalam pembuatan atau untuk

penyesuaian panjang.

- Mudah disambung. Tepi potongan yang akan disambung tidak

memerlukan persiapan khusus dan biasanya dipotong dengan nyala

(api) atau geseran. Sambungan lewatan menggunakan las sudut

sehingga sesuai baik untuk pengelasan di bengkel maupun di

lapangan. Potongan yang akan disambung dalam banyak hal hanya

dijepit (diklem) tanpa menggunakan alat pemegang khusus. Kadang-

kadang potongan-potongan diletakkan ke posisinya dengan beberapa

baut pemasangan yang dapat ditinggalkan atau dibuka kembali

setelah dilas.

- Keuntungan lain sambungan lewatan adalah mudah digunakan untuk

menyambung plat yang tebalnya berlainan.

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 18 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
3. Sambungan Tegak

Jenis sambungan ini dipakai untuk membuat penampang bentukan (built-

up) seperti profil T, profil 1, gelagar plat (plat girder), pengaku tumpuan

atau penguat samping (bearing stiffener), penggantung, konsol (bracket).

Umumnya potongan yang disambung membentuk sudut tegak lurus seperti

pada Gambar 2.21(c). Jenis sambungan ini terutama bermanfaat dalam

pembuatan penampang yang dibentuk dari plat datar yang disambung

dengan las sudut maupun las tumpul.

4. Sambungan Sudut

Sambungan sudut dipakai terutama untuk membuat penampang berbentuk

boks segi empat seperti yang digunakan untuk kolom dan balok yang

memikul momen puntir yang besar.

5. Sambungan Sisi

Sambungan sisi umumnya tidak struktural tetapi paling sering dipakai

untuk menjaga agar dua atau lebih plat tetap pada bidang tertentu atau

untuk mempertahankan kesejajaran (alignment) awal.

E. Elektroda

Elektroda adalah konduktor yang digunakan untuk bersentuhan

dengan bagian atau media non-logam dari sebuah sirkuit (misal

semikonduktor, elektrolit atau vakum). Ungkapan kata ini diciptakan oleh

ilmuwan Michael Faraday dari bahasa Yunani elektron (berarti amber, dan

hodos sebuah cara).

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 19 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
a. Macam – macam elektroda

1. E 6010 dan E 6011

Elektroda ini adalah jenis elektroda selaput selulosa yang

dapat dipakai untuk pengelesan dengan penembusan yang dalam.

Pengelasan dapat pada segala posisi dan terak yang tipis dapat

dengan mudah dibersihkan. Deposit las biasanya mempunyai

sifat sifat mekanik yang baik dan dapat dipakai untuk pekerjaan

dengan pengujian Radiografi. Selaput selulosa dengan kebasahan

5% pada waktu pengelasan akan menghasilkan gas pelindung. E

6011 mengandung Kalium untuk mambantu menstabilkan busur

listrik bila dipakai arus AC.

2. E 6012 dan E 6013

Kedua elektroda ini termasuk jenis selaput rutil yang dapat

manghasilkan penembusan sedang. Keduanya dapat dipakai

untuk pengelasan segala posisi, tetapi kebanyakan jenis E 6013

sangat baik untuk posisi pengelesan tegak arah ke bawah atau las

down. Jenis E 6012 umumnya dapat di pakai pada ampere yang

relatif lebih tinggi dari E 6013. E 6013 yang mengandung lebih

benyak Kalium memudahkan pemakaian pada voltage mesin

yang rendah. Elektroda dengan diameter kecil kebanyakan

dipakai untuk pangelasan pelat tipis.

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 20 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
3. E 6020

Elektroda jenis ini dapat menghasilkan penembusan las

sedang dan teraknya mudah dilepas dari lapisan las. Selaput

elektroda terutama mengandung oksida besi dan mangan. Cairan

terak yang terlalu cair dan mudah mengalir cocok untuk

pengelasan datar tapi menyulitkan pada pengelasan dengan posisi

lain misalnya posisi vertikal dan overhead.

4. Elektroda Selaput Serbuk Besi

Elektroda jenis ini antara lain: E 6027, E 7014. E 7018. E

7024 dan E 7028 mengandung serbuk besi untuk meningkatkan

efisiensi pengelasan. Umumnya selaput elektroda akan lebih

tebal dengan bertambahnya persentase serbuk besi. Dengan

adanya serbuk besi dan bertambah tebalnya selaput akan

memerlukan ampere yang lebih tinggi.

5. Elektroda Hidrogen Rendah

Elektroda jenis ini antara lain: E 7015,E 7016 dan E 7018.

Selaput elektroda jenis ini mengandung hydrogen yang rendah

(kurang dari 0,5 %), sehingga deposit las juga dapat bebas dari

porositas. Elektroda ini dipakai untuk pengelasan yang

memerlukan mutu tinggi, bebas porositas, misalnya untuk

pengelasan bejana dan pipa yang bertekanan. Disamping itu

penggunaan elektroda ini juga banyak dipakai di bengkel

fabrikasi dan konstruksi.

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 21 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
b. Cara membaca Elektroda

Elektroda baja lunak dan baja paduan rendah untuk las busur

listrik manurut klasifikasi AWS (American Welding Society)

dinyatakan dengan tanda E XXXX yang artinya sebagai berikut :

- E : menyatakan elaktroda busur listrik

- XX (dua angka) : sesudah E menyatakan kekuatan tarik

deposit las dalam ribuan Ib/in2 lihat table.

- X (angka ketiga) : menyatakan posisi pangelasan.

(angka 1 untuk pengelasan segala posisi. Angka 2 untuk pengelasan

posisi datar di bawah tangan dan 3 posisi di atas tangan)

- X (angka keempat) menyataken jenis sela-put dan jenis arus

yang cocok dipakai un-tuk pengelasan lihat table.

Contoh : E 6013 Artinya:

- Kekuatan tarik minimum den deposit las adalah 60.000

Ib/in2 atau 42 kg/mm2

- Dapat dipakai untuk pengelasan segala po-sisi

- Jenis selaput elektroda Rutil-Kalium dan pengelasan

dengan arus AC atau DC + atau DC –

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 22 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
c. Bahan pembuat elektroda

Terdapat pada tabel berikut

Gambar 2.22 Bahan pembuat elektroda

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 23 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding

Gambar 2.23 Bahan pembuat elektroda

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 24 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
F. Kampuh las

Kampuh Las ini berguna untuk menampung bahan pengisi agar

lebih banyak yang merekat ke benda kerja. Dengan demikian kekuatan las

akan lebih terjamin.

Gambar 2.24 Macam-macam kampuh las

- Kampuh persegi ( a)

- Kampuh V tunggal (b)

- Kampuh V ganda (c)

- Kampuh lereng tunggal (d)

- Kampuh lereng ganda (e)

- Kampuh U tunggal (f)

- Kampuh U Ganda (g)

- Kampuh J tunggal (h)

- Kampuh J ganda(i)

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 25 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengelasan adalah proses penyambungan logam atau non logam

yang dilakukan dengan memanaskan material yang akan disambung

hingga temperatur las yang dilakukan secara dengan atau tanpa

menggunakan tekanan (pressure), hanya dengan tekanan (pressure), atau

dengan atau tanpa menggunakan logam pengisi (filler).

Adapun bagian dari mesin las yaitu, Saklar utama, transformator,

saklar on/off, saluran 3 fase, lampu indicator, kutub positif dan negatif,

kabel massa, penjepit elektroda, dan penjepit benda kerja.

Selain itu jenis-jenis pengelasan berdasarkan panas listrik terbagi

menjadi 6 yaitu, SMAW (Shield Metal Arch Welding), SAW (Submerged

Arch Welding), ESW (Electro Slag Welding), SW (Stud Welding), ERW

(Electric Resistant Welding), EBW (Electron Beam Welding). Berdasarkan

panas listrik dan gas terbagi menjadi 4 yaitu, GMAW (Gas Metal Arch

Welding), GTAW (Gas Tungsten Arch Welding), FCAW (Flux Cored

Arch Welding), PAW (Plasma Arch Welding). Berdasarkan panas yang

dihasilkan campuran gas yaitu OAW (Oxygen Acetylene Welding) dan

berdasarkan ledakan dan reaksi isotermis yaitu EXW (Explosion Welding).

Jenis-jenis sambungan yaitu sambungan sebidang, sambungan

lewatan, sambungan tegak, sambungan sudut, dan sambungan sisi. Selain

itu jenis-jenis elektroda yaitu E 6010, E 6011, E 6012, E 6013, E6020,

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 26 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
Elektroda selaput serbuk besi, dan elektroda hydrogen rendah. Dan jenis-

jenis kampuh las yaitu kampuh persegi, kampuh V tunggal, kampuh V

ganda, kampuh lereng tunggal kampuh lereng ganda, kampuh U tunggal,

kampuh U ganda, kampuh J tunggal, kampuh J ganda.

B. Saran

a. Laboratorium

Untuk selalu menjaga kebersihan di laboratorium, dan selalu merawat

alat dan mesin yang ada di laboratorium.

b. Asisten

1. Kak Suardi Hasjum untuk bisa hadir dan melihat praktikan ketika

praktikum berlangsung.

2. Kak Simon untuk bisa menggunakan helm las atau topeng las ketika

mengelas demi menjaga keselamatan dalam kerja.

3. Kak Iskandar untuk bisa hadir tepat waktu ketika praktikum

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 27 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding

DAFTAR PUSTAKA

 Faizal. “Prinsip Kerja Mesin Las”. Diakses pada 29 Oktober 2016 jam 18.19

WITA

http://www.insinyoer.com/prinsip-kerja-mesin-las/

 Indah, Nur. “MACAM DAN JENIS ELEKTRODA CARA

PEMAKAIANNYA”. Diakses pada 29 Oktober 2016 jam 18.10 WITA

http://hima-tl.ppns.ac.id/?p=704

 Jones, David. “Pengertian Pengelasan Adalah dan Macam Macam Jenis

Pengelasan”. Diakses pada 29 Oktober 2016 jam 18.31 WITA

http://www.pengelasan.com/2014/06/pengertian-pengelasan-

adalah.html

 Kamil. “Sambungan Las, Paku Keling dan Baut Pada Konstruksi Baja”.

Diakses pada 29 Oktober 2016 jam 18.25 WITA

http://srcivilenginering.blogspot.co.id/2013/12/sambungan-las-paku-

keling-dan-baut-pada.html

 Nursyahid. “Tentang Elektroda Dan Jenis-jenis Kawat Las SMAW”.

Diakses pada 29 Oktober 2016 jam 19.05 WITA

http://chawqnoors.blogspot.com/2015/10/pengertian-dan-macam-

macam-elektrode.html

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 28 Kelompok V


Lab. Teknologi Mekanik Welding
 Raharjo. “JENIS - JENIS PENGELASAN DAN PROSESNYA” . Diakses

pada 29 Oktober 2016 jam 18.47 WITA

http://robbypenyot.blogspot.co.id/2013/05/normal-0-false-false-false-

in-ja-x-none_18.html

 Roman. “Kampuh Las” Diakses pada 29 Oktober 2016 jam 18.55 WITA

http://www.bengkelbangun.com/2011/05/kampuh-las.html#

 Romi, Rizal . “Sekelumit Artikel Tentang Teknologi Pengelasan”. Diakses

pada 29 Oktober 2016 jam 19.11 WITA

https://dewantoropwsr.wordpress.com/category/teknik-pengelasan/

Muh Khairul Cangara (D211 16 025) 29 Kelompok V