Anda di halaman 1dari 25

8

BAB II

KAJIAN TEORITIK

2.1 Deskripsi Konseptual


2.1.1 Sikap Berwirausaha
2.1.1.1 Pengertian Sikap
Menurut Oxford Advanced Learner Dicitionary mencantumkan bahwa

sikap (attitude) berasal dari bahasa Italia attitudine yaitu “ Manner of placing or

holding the body, dan way of feeling, thinking or behaving”. Sikap adalah

tingkatan afeksi (perasaan), baik yang bersifat positif maupun negatif dalam

hubungannya dengan objek psikologi (Mar’at, 2000). Menurut (Syah, 2006) sikap

adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau

buruk terhadap orang atau barang tertentu.


Sedangkan menurut (Sarwono, 2009) sikap (attitude) adalah istilah yang

mencerminkan rasa senang, tidak senang, atau perasaan biasa-biasa saja (netral)

dari seseorang terhadap sesuatu. Sesuatu itu bisa benda, kejadian, situasi, orang-

orang atau kelompok, jika yang timbul terhadap sesuatu itu adalah perasaan

senang, maka disebut sikap positif. Sedangkan perasaan tidak senang disebut

sikap negatif, dan jika tidak timbul perasaan apa-apa berarti itu adalah sikap

netral. Sikap merupakan cara menempatkan atau membawa diri, atau cara

merasakan, jalan pikiran dan perilaku. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan

(Harsono, 2000), bahwa sikap merupakan suatu kecenderungan untuk bereaksi

dengan cara tertentu terhadap sesuatu perangsang atau situasi yang akan dihadapi.
Dari penjelasan diatas dapat disintesa bahwa sikap sebagai perwujudan

tingkah laku yang ditandai dengan munculnya kecenderungan yang relatif stabil

dan berlangsung terus menerus terhadap suatu objek, orang lain, lembaga, atau

persoalan tertentu.
9

2.1.1.2 Ciri-ciri Sikap (Atittude)


Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinan timbulnya suatu

perbuatan atau tingkah laku (dalam Dayaksini &Hudaniah, 2003). Seperti yang

dikemukakan oleh Heri Purwanto (dalam buku Notoatmodjo, 2003) sikap

memiliki ciri-ciri sebagai berikut:


1. Sikap tidak dibawa sejak lahir, akan tetapi dibentuk atau dipelajari

sepanjang perkembangan dalam hubungannya dengan obyeknya.


2. Sikap dapat berubah-ubah oleh karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap

dapat berubah pada orang-orang jika terdapat suatu keadaan dan syarat

tertentu yang mempermudah sikap kepada orang tersebut.


3. Sikap tidak berdiri sendiri, akan tetapi senantiasa mempunyai hubungan

tertentu terhadap suatu obyek. Dengan kata lain bahwa sikap itu terbentuk,

dipelajari atau senantiasa berubah.


4. Obyek sikap merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga berupa

kumpulan-kumpulan dari hal-hal tersebut.


5. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi perasaan, sifat alamiah yang

membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-

pengetahuan yang dimiliki orang lain.

Dalam membentuk sikap dan mental seorang Entrepreneur sikap

wirausahawan merupakan landasan sustantif dan respon evaluative. Menurut

(Walgito, 2003), pembentukan sikap ditentukan oleh dua faktor, yaitu:


1. Faktor internal, oleh individu itu sendiri dalam menanggapi dunia luar

dengan selektif sehingga tidak semua yang datang akan diterima atau

ditolak.
2. Faktor eksternal, yaitu dimana keadaan-keadaan yang ada diluar

merupakan stimulus untuk membentuk atau mengubah sikap.

2.1.1.3 Fungsi Sikap


10

Menurut Katz (dalam buku Wawan dan Dewi, 2010) sikap mempunyai

beberapa fungsi , yaitu:


1. Fungsi penyesuaian diri, berarti bahwa orang cenderung memandang

obyek sikap dapat membantu untuk mencapai tujuannya


2. Fungi pertahanan ego, merupakan sikap yang diambil oleh seseorang

untuk mempertahankan egonya ketika seseorang tersebut dalam keadaan

terancam.
3. Fungsi Ekspresi nilai, berarti bahwa dengan mengekspresikan diri, orang

tersebut mendapatkan kepuasan tersendiri dalam dirinya.


4. Fungsi pengetahuan, merupakan keinginan untuk mengerti pengalaman-

pengalamannya.

2.1.1.4 Kewirausahaan
Pada hakikatnya di diri setiap insan telah tertanam jiwa wirausaha yang

berarti memiliki kreativitas dan mempunyai tujuan tertentu serta untuk mencapai

keberhasilan dalam hidupnya. Menurut (Alma, 2011) wirausahawan

(entrepreneur) adalah seorang innovator yang mempunyai naluri untuk melihat

peluang-peluang dan mempunyai semangat, kemampuan dan pikiran untuk

menaklukan cara berfikir yang lamban dan rasa malas. Sedangkan menurut

(Kasmir, 2006), wirausahawan adalah orang memiliki jiwa berani dalam

mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan yang ada.

Dalam berjiwa mengambil resiko artinya seseorang yang mempunyai mental yang

mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun

dalam kondisi yang tidak pasti.


Wirausaha adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam

menggunakan dan mengkombinasikan sumber daya seperti keuangan, material,

tenaga kerja, keterampilan untuk menghasilkan produk, proses produksi, bisnis,


11

dan organisasi baru menurut Marzuki Usman dalam (Suryana, 2006). Sedangkan

menurut Schumpeter (dalam Alma, 2011), wirausahawan adalah orang yang

mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa

yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku

baru. Arti kata sukses dalam berwirausaha tidak diperoleh secara tiba-tiba atau

instan secara kebetulan, melainkan dengan penuh perencanaan yang matang dan,

memiliki visi, misi, dan kerja keras. Serta memiliki keberanian dalam mengambil

resiko dan bertanggung jawab atas semua tindakan yang diambilnya. Menurut

(Mutis, 1995) mengatakan bahwa kewirausahaan sebagai seorang yang merasakan

adanya peluang, mengejar peluang-peluang yang sesuai dengan situasi dirinya,

dan yang percaya bahwa kesuksesan merupakan suatu hal yang bisa dicapai.
Dari definisi diatas dapat disintesa bahwa seorang wirausahawan harus

mampu menciptakan sesuatu yang baru atau mempunyai ide-ide yang brilian

kemudian dituangkan kedalam bentuk bisnis atau menciptakan suatu produk yang

kemudian bisa dipasarkan dan membuka lapangan pekerjaan yang baru.

Bahwasannya kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu

aktif dalam usaha untuk meningkatkan pendapatan didalam kegiatan usahanya,

selain itu berwirausaha menjadi peluang menuju kesuksesan.

2.1.1.5 Sikap Berwirausaha


Sikap berwirausaha adalah kecenderungan untuk bertindak berkenaan

dengan perilaku wirausaha. Menurut (Ani, 2013) sikap berwirausaha ialah sikap

yang terbentuk melalui proses belajar dan ditanamkan dalam kepribadian tentang

wirausaha. Ada tujuh sifat karakter yang perlu dimiliki sikap dasar wirausaha

menurut McGraith & Mac Milan (dalam Kasali, dkk 2010), yaitu:
1. Orientasi pada aksi (action oriented), berarti bahwa seorang

entrepreneur harus selalu bertindak sekalipun situasinya tidak pasti.


12

Dalam hal ini prinsip yang dianut oleh mereka adalah see and do lihat

dan lakukan. Ketika ada resiko bukanlah untuk dihindari, melainkan

diahadapi dan dilakukan dengan tindakan.


2. Berpikir simpel, ketika ada masalah sebesar apapun dan sekecil apapun

akan selalu belajar untuk menyederhanakannya.


3. Mencari peluang-peluang baru, selalu belajar untuk hal-hal yang baru

meskipun sudah ada, dan mereka selalu menambah wawasan

pengetahuannya dan memperluas jaringan usahanya.


4. Peluang dengan disiplin tinggi, memiliki mata yang tajam dalam

melihat sebuah peluang, bukan hanya melihat sebuah peluang tetapi

mereka juga mampu untuk menciptakan peluang itu dengan memiliki

disiplin yang tinggi.


5. Hanya mengambil peluang yang terbaik, bagi mereka yang

mempunyai rasa suka terhadap sebuah peluang yang dilihatnya dan

mampu untuk merealisasikannya terhadap apa yang dilihat untuk

sebuah peluang itu, maka akan tercipta sebuah kesuksesan.


6. Fokus pada eksekusi, bahwasannya seorang wirausahawan bukanlah

orang selalu bergulat dengan pikiran-pikirannya, merenung atau

menguji hipotesis, melainkan orang yang fokus pada action nya untuk

merealisasikannya menjadi nyata.


7. Memfokuskan energi setiap orang pada bisnis yang dijalankan, ketika

seorang wirausahawan membangun jaringan dengan orang lain

bahwasannya mereka paham bahwa seorang wirausahawan tidak

bekerja sendirian, untuk itu dia harus memiliki kemampuan

membangun jaringan dan mengumpulkan orang-orang, memotivasi

dan berkomunikasi.
13

Sedangkan menurut M. Scarborough dan Thomas W.Zimmerer (dalam

Suryana, 2006) mengemukakan tujuh karakteristik sikap kewirausahaan, yaitu:


1. Desire for responbility (keinginan untuk bertanggung jawab), memiliki

rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya. Bila seorang

yang memiliki rasa tanggung jawab akan selalu berhati-hati.


2. Prference for moderate risk (preferensi untuk resiko moderat), artinya

seseorang selalu menghindari resiko dari yang terlalu rendah maupun

yang terlalu tinggi.


3. Confidence in their ability to succes ( percaya diri pada kesuksesan),

percaya akan kemampuan dirinya untuk sukses dan berhasil, dengan

selalu menghendaki umpan balik yang ada.


4. High level of energy ( tingkat energi yang tertinggi), memiliki

semangat kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa

depan yang lebih baik.


5. Future orientation ( orientasi masa depan), yaitu berorientasi ke masa

depan denga perspektif dan wawasan jauh kedepan.


6. Skill at organizing (keterampilan dalam mengatur), memiliki

keterampilan dalam mengorganisisakan sumber daya untuk

menciptakan nilai tambah.


7. Value of achievement over money (nilai pencapaian atas uang), yaitu

lebih menghargai prestasi dari pada uang. Bahwa wirausahawan selalu

berkomitmen dalam melakukan tugasnya sampai berhasil.

Seperti yang dikemukakan By Grave (dalam Basrowi, 2011) karakteristik

wirausahan meliputi sepuluh D, yaitu:


1. Dream (mimpi), artinya bahwa seorang wirausaha harus memiliki visi

keinginan untuk masa depannya dan juga mampu mewujudkan

impiannya.
14

2. Decisiveness (ketegasan), artinya adalah orang yang tidak bekerja

lambat. Dan ketika membuat sebuah keputusan secara cepat dan penuh

perhitungan.
3. Doers (orang yang berbuat), bila seorang wirausaha dalam membuat

keputusan maka akan segera melaksanakannya tanpa menunda-nunda

kesempatan yang baik pada bisnisnya.


4. Determination (penentuan), seorang wirausaha akan melaksanakan

kegiatannya dengan penuh rasa tanggung jawab yang tinggi dan tidak

mudah menyerah bila ada rintangan.


5. Dedication (dedikasi), artinya seorang wirausaha yang mempunyai

dedikasi tinggi terhadap bisnisnya.


6. Devotion (kesetiaan), artinya seorang wirausaha yang sangat mencintai

bisnisnya dan produk yg dihasilkan olehnya.


7. Details (terperinci), yaitu wirausaha yang sangat memperhatikan

faktor-faktor kritis secara rinci.


8. Destiny (nasib), yaitu wirausaha yang bertanggung jawab terhadap

nasib dan tujuan yang akan dicapainya, bebas dan tidak mau

tergantung kepada orang lain.


9. Dollars (dolar), seorang wirausaha yang tidak mengutamakan

pencapaian kekayaan. Karena mereka tahu motivasinya bukan hanya

karena uang.
10. Distribute (distribusi), artinya bersedia mendstribusikan bisnisnya

kepada orang kepercayaannya. Dalam artian yaitu orang-orang yang

mau dan diajak untuk mencapai sukses dalam berbisnis.

Keberhasilan atau kegalalan seorang wirausahawan dipengaruhi oleh sifat

dan kepribadian seseorang. Dalam buku The officer of Advocacy of Small

Business Administration yang dikutip oleh Dan Stein hoff dan Jhon F Burgers

(dalam Udayani, 2010) seorang wirausaha mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:


15

1. Percaya diri, memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk bekerja

mandiri dan tahu persis bahwa pengambilan resiko merupakan bagian

penting untuk jalan menuju kesuksesan.


2. Kemampuan berorganisasi, mempunyai kemampuan untuk merancang

tujuan, berorientasi pada hasil, dan bertanggung jawab atas hasil yang

diperoleh
3. Kreatif, mampu melihat ketika ada peluang dan mampu menciptakan

ketika melihat sebuah peluang.


4. Tantangan, siap mengambil resiko atas keputusan yang telah diambil

dan senang terhadap keputusan yang telah diambilnya bila idenya

berjalan sempurna.

Untuk mengetahui sikap berwirausaha digunakan instrumen model

Entrepreneurial attitudes Orientation (EAO) yang dikembangkan oleh (Robinson

et al, 1991). Model EAO ini menggunakan empat dimensi mengenai sikap, yaitu:
1. Keinginan untuk berprestasi (achievement)
Menurut Mc Clelland dalam (Sumarsono,2010), penggerak

psikologis utama yang memotivasi wirausahawan adalah kebutuhan

untuk berprestasi. Kebutuhan ini didefinisikan sebagai keinginan atau

dorongan dalam diri orang yang memotivasi perilaku ke arah

pencapaian tujuan. Ada dua persyaratan pokok yang harus dipenuhi

oleh seseorang apabilan ingin berprestasi sebaik mungkin, (Sumarno,

2010), yaitu:
a) Kemampuan untuk berprestasi, kemampuan dalam suatu

bidang yang ia tekuni. Seorang wirausaha dianggap

berkemampuan apabila ia menguasai bagaimana cara

merencanakan, mengkoordinasi, melaksanakan,

mengarahkan, dan mengendalikan bidang usaha yang


16

dijalaninya. Untuk bisa menguasai cara kerja ini, seorang

wirausaha haru memiliki pengetahuan dan keterampilan

yang didapat dari pendidikan, latihan, atau pengalaman

kerja.
b) Kemauan untuk berprestasi, kemauan untuk berprestasi

sering juga disebut sebagai motivasi untuk berprestasi. Kata

dasarnya adalah motive yang dapat dikatakan sebagai

dorongan yang ada pada diri seseorang untuk bertingkah

laku untuk mencapai suatu tujuan tertentu.


2. Inovasi (Innovation)
Inovasi memerlukan pencarian kesempatan baru. Hal tersebut

berarti perbaikan barang dan jasa yang ada, menciptakan barang dan jasa

baru, atau mengkombinasikan unsur-unsur produksi yang ada dengan cara

baru dan lebih baik (Sumarsono, 2010). Untuk menjadi wirausaha yang

sukses melalui inovasi menurut (Daryanto, 2012) harus menerapkan hal

berikut:
a) Seorang wirausaha harus mampu berpikir secara kreatif,

yaitu dengan berani keluar dari kerangka bisnis yang sudah

ada.
b) Seorang wirausaha juga harus bisa membaca arah

perkembangan dunia usaha.


c) Seorang wirausaha harus dapat menunjukan nilai lebih dari

produk yang dimilikinya agar konsumen tidak merasa

produk yang ditawarkan terlalu mahal.


d) Seorang wirausaha perlu menumbuhkan sebuah kerjasama

tim, sikap kepemimpinan, kebersamaan, dan membangun

hubungan yang baik dengan karyawannya.


17

e) Seorang wirausaha harus mampu membangun personal

approach yang baik dengan lingkungan sekitarnya dan

tidak cepat berpuas diri dengan apa yang telah diraihnya.


f) Seorang wirausaha harus selalu meng-upgrade ilmu yang

dimilikinya untuk meningkatkan hasil usaha yang

dijalankannya.
3. Kontrol Pribadi (Personal Control)
Menurut (Hendro, 2011), dalam situasi apapun, seorang wirausaha

haru bisa mengendalikan diri terhadap kritikan, cercaan, tekanan,

teguran, komplain, protes, dan pengaruh negatif dari lingkungan

terdekatnya. Kemampuan dalam mengendalikan diri seorang

wirausahawan akan sangat membantu dalam menjaga komitmen yang

tinggi. Dalam kewirausahaan personal control mengarah kepada

pribadi dari seorang wirausaha yang memutuskan kapan dia harus

bekerja lebih keras, kapan dia harus meminta bantuan kepada orang

lain, serta kapan dia harus merubah strategi dalam bekerja.


4. Penghargaan diri (Self-Esteem)
Penghargaan diri merupakan salah satu evaluasi inti diri seorang

individu. Penghargaan diri (self-esteem) menurut (Robbins, 2008)

adalah tingkat menyukai atau tidak menyukai diri sendiri dan tingkat

sampai mana individu menganggap diri mereka berharga atau tidak

berharga sebagai seorang manusia. Individu yang memiliki pandangan

positif akan diri dan kecakapan mereka cenderung menyukai diri

mereka sendiri dan menganggap diri mereka berharga. Sesuai dengan

teori Maslow dalam (Hendro, 2011) setelah kebutuhan sandang,

pangan, dan papan terpenuhi, maka kebutuhan yang ingin seorang raih

berikutnya adalah self-esteem, yaitu ingin lebih dihargai lagi. Hal


18

tersebut kadang tidak didapatkan didunia pekerjaan atau lingkungan,

baik keluarga, teman, ataupun yang lainnya. Maka dari itu, dalam

kewirausahaan self-esteem memacu seseorang untuk mengambil karir

menjadi pengusaha (Entrepreneur).

2.1.1.6 Karakteristik Wirausaha


Banyak para ahli yang mengemukakan tentang karakteristik

kewirausahaan dengan konsep yang berbeda-beda. Menurut (Suryana, 2003) nilai

yang penting dalam wirausaha sebagai berikut:


1. Motif berprestasi tinggi, artinya ialah suatu nilai sosial yang

menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik dalam mencapai

kepuasan secara pribadi.


2. Selalu perspektif, bahwa seorang wirausaha yang mampu menatap

masa depan dengan optimis dan yakin bahwa dia bisa melihat peluang

dan menciptakan peluang itu.


3. Memiliki kreativitas tinggi, artinya mampu meciptakan sesuatu dari

yang asalnya tidak ada menjadi ada, serta menciptakan nilai tambah

pada barang atau jasa yang dari yang diciptakannya tersebut.


4. Memiliki perilaku inovatif tinggi, artinya ialah memanfaatkan segala

potensi yang dimiliki dengan daya imajinasi yang kreatif dengan

menggunakan pikiran untuk berpikir, pikiran tersebut dapat diarahkan

ke masa lalu, masa kini dan masa depan untuk menciptakan bisnisnya.
5. Selalu komitmen dalam pekerjaan, memiliki etos kerja dan tanggung

jawab, bahwa seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam

usahanyadan tekad yang kuat dalam memberikan perhatian kepada

usaha yang akan di jalaninya.


19

6. Mandiri dan tidak ketergantungan, artinya sesuai dengan inti dari jiwa

kewirausahaan yaitu mempunyai kemampuan untuk menciptakan

sesuatu yang baru dan berbeda, melalui berpikir kreatif dan bertindak

inovatif.
7. Berani menghadapi resiko, artinya bahwa seorang wirausaha dalam

mengambil tindakan tidak didasari oleh spekulasi, melainkan dengan

perhitungan yang matang, oleh karena itu seorang wirausaha selalu

berani mengambil resiko.


8. Selalu mencari peluang, artinya seorang wirausaha mampu

memberikan tanggapan yang positif terhadap sebuah peluang untuk

keuntungan dirinya sendiri atau untuk pelayanan pada masyarakat.


9. Memiliki jiwa kepimimpinan, seorang wirausaha yang berhasil selalu

memiliki sifat kepemimpinan dan keteladanan. Selalu ingin tampil

berbeda dan lebih menonjol dengan menggunakan kemampuan

kreativitasnya dan inovasi.


10. Memiliki kemampuan managerial, seorang wirausaha harus memiliki

kemampuan untuk memanagerial usaha yang sedang dijalaninya,

mempunyai kemampuan perencanaan usaha, mengorganisasikan

usahanya, visualisasikan usaha, mengelola usahanya dan sumber daya

manusianya.

Sedangkan menurut M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer dalam

(Suryana, 2011) karakteristik sikap seorang wirausahawan dari kegiatannya

sehari-hari ialah sebagai berikut:


1. Disiplin, dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan

harus memiliki kedisiplinan yang tinggi. Arti kata disiplin adalah

ketepatan dalam komitmen wirausahawan terhadap tugas dan


20

pekerjaannya. Ketepatan yang dimaksud yaitu ketepatan terhadap

waktu, kualitas pekerjaan, sistem kerja dan sebagainya.


2. Komitmen Tinggi, artinya setiap kesepakatan mengenai sesuatu hal

yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun

orang lain dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan

harus memiliki komitmen yang jelas, terarah dan bersifat progesif.


3. Jujur, kejujuran merupakan landasan moral yang terkadang dilupakan

oleh seorang wirausahawan. Dalam hal ini kejujuraan mengenai

karakteristik produk atau jasa yang ditawarkan, melalui promosi yang

dilakukan kepada konsumen.


4. Kreatif dan Inovatif, seorang wirausahawan harus memiliki daya

kreatifitas yang tinggi dilandasi dengan cara berpikir yang maju,

dengan gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah

ada selama ini di pasar. Gagasan-gagasan yang jenius membutuhkan

daya inovasi yang tinggi, kemampuan wirausahawan dalam

menambahkan nilai guna atau nilai manfaat terhada suatu produk.


5. Mandiri, seorang wirausahawan dapat dikatakan mandiri apabila orang

tersebut dapat melakukan keinginan dengan baik tanpa adanya

ketergantungan orang lain dalam mengambil keputusan atau bertindak.

Kemandirian ini merupakan sifat mutlak yang harus dimiliki oleh

wirausahawan.
6. Realistis, artinya seorang wirausahawan mampu menggunakan fakta

atau realita sebagai landasan berpikir yang rasional setiap pengambilan

keputusan dan tindakan. Banyak calon wirausahawan yang berpotensi

tinggi, namun pada akhirnya mengalami kegagalan hanya karena tidak

realistis, objektif dan rasionil dalam pengambilan keputusan bisnisnya.


21

2.1.1.7 Faktor-faktor Yang Mendorong Seseorang Menjadi Wirausahawan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keinginan seseorang untuk

menjadi wirausahawan sebagai pilihan hidupnya. Menurut Clelland dalam

(Handayani, 2013) menyebutkan dua faktor yang menentukan yaitu:


1. Faktor Internal, meliputi:
a. Motivasi, keberhasilan bisnis seseorang membutuhkan motif-motif

untuk mendorong atau memberi semangat dalam melakukan pekerjaan.

Motif tersebut untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam memberikan

gagasan yang spontan dalam menemukan ide-ide.


b. Pengetahuan atau pengalaman, ketika seseorang berbisnis tentu

mempunyai pengetahuan yang lebih mengenai bisnisnya tersebut.

Sedangkan pengalamn muncul setelah seseorang tersebut mencari tahu

mengenai bisnisnya yang dia jalankan.


c. Kepribadian, pribadi seseorang yang baik dan dapat menyesuaikan diri

dengan lingkungannya maka akan berdampak baik juga untuk

pekerjaan atau bisnisnya.


2. Faktor Eksternal, meliputi:
a. Lingkungan keluarga, keluarga dapat mempengaruhi keberhasilan

usaha seseorang dalam hal apapun. Lingkungan keluarga yang

harmonis akan memberikan dampak positif untuk pekerjaan maupun

bisnis seseorang. Interaksi dalam keluarga memberikan motivasi

kesuksesan dan meningkatkan produktivitas kerja.


b. Lingkungan tempat bekerja, lingkungan tempat dimana seseorang

menjalani usahanya mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam

menjalankan usahanya. Dapat melihat situasi kerja secara fisik yaitu

dengan mencari peluang yang ada disekitarnya agar usahanya bisa

maju. Hubungan dengan sesama mitra kerja sangatlah baik dalam


22

memotivasi untuk dapat menyelesaikan konflik yang ada dalam suatu

pekerjaan.

2.1.2 Pendidikan Orang Tua


2.1.2.1 Definisi Pendidikan
Dikatakan bahwa pendidikan berasal dari kata dasar “didik” yang

mempunyai arti memelihara dan memberi latihan. Dalam kedua hal tersebut

memerlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan tentang kecerdasan pikiran

(Syah dalam Chandra, 2009). Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap

dan perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam mendewasakan manusia

melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun

2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar para peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang

diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Sedangkan menurut (H. Fuad Ihsan, 2005), memaparkan dalam artian

yang sederhana dan umum bahwa pendidikan sebagai “Usaha manusia untuk

menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani

maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam masyarakat dan

kebudayaan”. Usaha-usaha yang dilakukan dapat berupa nilai-nilai dan norma-

norma yang akan diwariskan kepada generasi yang berikutnya, untuk

dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses

pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya. Menurut (SA.

Bratanata dkk, 1991), mendefinisikan bahwa pendidikan ialah usaha yang sengaja

diadakan baik langsung maupun dengan cara tidak langsung untuk membantu

anak dalam perkembangan mencapai kedewasaannya.


23

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disintesa bahwa pendidikan adalah

usaha sadar dan terencana untuk memberikan bimbingan atau pertolongan dalam

mengembangkan potensi jasmani dan rohani yang diberikan oleh orang dewasa

kepada anak untuk mencapai kedewasaannya serta mencapai tujuan agar sang

anak mampu melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri.

2.1.2.2 Hakekat Pendidikan


Secara formal pendidikan dilaksanakan sejak usia dini sampai perguruan

tinggi. Adapun secara hakiki pendidikan dilakukan seumur hidup sejak lahir

hingga dewasa. Dalam UU 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pendidikan anak usia

dini yang dari kecil sudah didasari dengan pendidikan yang mengajarkan nilai-

nilai moral yang baik agar dapat membentuk kepribadian dan potensi diri sesuai

dengan perkembangan anak. Menurut PP 27 Tahun 1990 menjelaskan bahwa

sekolah peserta didik yang masih kecil adalah salah satu bentuk pendidikan pra

sekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia empat tahun

sampai memasuki pendidikan dasar (Harianti, 1996). Terdapat enam fungsi

pendidikan oleh (Depdiknas, 2004), yaitu:


1. Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak
2. Mengenalkan anak pada dunia sekitar.
3. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.
4. Mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan kemampuan yang

dimiliki anak.
5. Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar.

Pendidikan merupakan penanaman nilai-nilai positif akan tepat dimulai

ketika anak usia dini. Dengan demikian pendidikan bagi peserta didik yang masih

kecil merupakan landasan yang tepat sebelum masuk pada jenjang pendidikan

yang lebih tinggi.

2.1.2.3 Bentuk-bentuk Pendidikan


24

Pendidikan merupakan suatu proses dalam membentuk, mengarahkan,

dan mengembangkan suatu kepribadian dan kemampuan siswa. Sesuai dengan

bunyi UU RI nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional mengenai

satuan, jalur dan jenis pendidikan, terdapat pada bab 4 pasal 10 ayat 1 bahwa

penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur yaitu, jalur

pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Bentuk-bentuk pendidikan

dikategorikan menjadi tiga yaitu:


1. Pendidikan Informal, merupakan pendidikan yang tidak mempunyai

bentuk program yang jelas dan resmi. Pendidikan informal

berlangsung ditengah keluarga. Keluarga merupakan lembaga

pendidikan yang paling bersifat kodrati, yakni terdapat hubungan

darah antara pendidik dan anak didik (Suwarno, 1992).


2. Pendidikan Formal, adalah usaha pendidikan yang diselenggarakan

secara sengaja, berencana, terarah dan sistematis melalui suatu

lembaga pendidikan yang disebut sekolah (Ihsan, 2013). Dengan

demikian , sekolah sebagai pendidikan formal mempunyai bentuk

program yang jelas resmi, didalamnya terdapat peraturan-peraturan,

tujuan-tujuan dan jenjang yaitu dalam kurun waktu tertentu,

berdasarkan aturan resmi yang telah diterapkan.


3. Pendidikan Non Formal, adalah pendidikan yang diselenggarakan

secara sengaja dan berencana akan tetapi tidak sistematis di luar

lingkungan keluarga dan sekolah (Ihsan, 2013).

2.1.2.4 Macam-macam Tingkat Pendidikan


Jenjang pendidikan adalah tahap pendidikan yang berkelanjutan, yang

ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan

bahan pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran (Ihsan, 2003). Jenjang
25

pendidikan merupakan tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat

perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang

dikembangkan, yaitu:
1. Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah)
Lembaga ini di selenggarakan untuk menghubungkan kehidupan keluarga

dengan kehidupan di sekolah. Oleh karena itu kegiatannya sebagian besar

merupakan perluasan dari kehidupan dirumah dan diselenggarakan secara

tidak terlalu terikat pada kurikulum.


2. Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan

keterampilan, menumbuhkan sikap dasar yang diperlukan dalam

masyarakat. Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD), dan madrasah

ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat.


3. Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta

didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan

mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial budaya, dan

alam sekitar, serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam

dunia kerja atau pendidikan. Pendidikan menengah merupakan pendidikan

lanjutan dari pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas

pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.

Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA),

Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan

Madrasah Aliyah Kejuruan(MAK), atau bentuk pendidikan lainnya yang

sederajat.
4. Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan

menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister,


26

spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi.

Pendidikan tinggi berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut,

atau universitas.

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberikan

respon terhadap sesuatu yang datang dari luar, bahwa yang mempunyai

pendidikan lebih tinggi akan memberi respon yang rasional daripada yang

berpendidikan rendah. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi diharapkan

lebih peka terhadap kondisi keselamatannya, sehingga baik dalam memanfaatkan

fasilitas keselamatan (Green, 1980).

2.1.2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pendidikan


Faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan menurut Hasbullah (2003)

terdiri dari lima faktor, yaitu:


1. Ideologi, semua manusia dilahirkan kedunia mempunyai hak yang sama

khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan

pengetahuan dan pendidikan.


2. Sosial Ekonomi, semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan

seseorang mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.


3. Sosial Budaya, masih banyak orang tuayang kurang menyadari akan

pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya.


4. Perkembangan IPTEK, bahwa perkembangan IPTEK menuntut untuk

selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilan agar tidak kalah

dengan negara maju.


5. Psikologi, sesungguhnya konseptual pendidikan merupakan alat untuk

mengembangkan kepribadian individu agar lebih bernilai.

2.1.2.6 Definisi Orang Tua


Orang tua adalah orang yang lebih tua atau orang yang dituakan, terdiri

dari ayah dan ibu yang merupakan guru dan contoh utama untuk sang anak-
27

anaknya karena orang tua yang menginterprestasikan tentang dunia dan

masyarakat pada anak-anaknya (Friedman et al., 2010). Orang tua didalam

kehidupan keluarga mempunyai posisi sebagai kepala keluarga atau pemimpin

rumah tangga, orang tua sebagai pembentuk pribadi pertama dalam kehidupan

seorang anak. Widnaningsih dalam Indah Pertiwi (2010) menyatakan bahwa orang

tua merupakan seorang atau dua orang ayah-ibu yang bertanggung jawab pada

keturunannya semenjak terbentuknya hasil pembuahan atau zigot baik berupa

tubuh maupun sifat-sifat moral dan spiritual.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut bahwa orang tua artinya

ayah dan ibu kandung. Menurut Singgih (1983) mengatakan bahwa orang tua

adalah dua individu yang berbeda memasuki kehidupan bersama dengan

membawa pandangan, pendapat dan kebiasaan sehari-hari. Menurut Miami dalam

Zaldy Munir (2010) menjelaskan bahwa orang tua adalah pria dan wanita yang

terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung jawab sebagai

ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya. Dalam lingkungan keluarga

orang tua bertanggung jawab dalam sebuah keluarga atau rumah tangga, dan

sudah selayaknya bila orang tua mencurahkan perhatian dan membimbing serta

mendidik sang anak agar memperoleh dasar-dasar dan pola pergaulan hidup serta

pendidikan yang baik dan benar, melalui penanaman disiplin.


Berdasarkan beberapa penjelasan diatas dapat disentesa bahwa orang tua

mempunyai tanggung jawab yang berat dalam memberikan bimbingan kepada

anak-anaknya, tokoh ayah dan ibu sebagai pendidik pertama dalam membentuk

kepribadian anak dengan penuh tanggung jawab. Dalam keluarga anak pertama

kali mengenal lingkungannya, kehidupan diluar dirinya. Sebagai makhluk sosial

anak menyesuaikan diri dengan yang lainnya, dan yang memperkenalkan semua
28

itu adalah orang tua, sehingga perkembangan anak ditentukan oleh situasi dan

kondisi yang ada serta pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh orang tuanya.

2.1.2.7 Macam-macam Peran Orang Tua


Peran adalah suatu fungsi atau bagian dari tugas utama yang dipegang oleh

orang tua dalam mendidik anaknya. Menurut BKKBN (1997) dijelaskan bahwa

peran orang tua terdiri dari:


1. Peran sebagai pendidik, orang tua perlu menanamkan kepada anak-

anak arti penting dari pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mereka

dapatkan dari sekolah. Selain itu nilai-nilai agama dan moral, terutama

nilai kejujuran perlu ditanamkan kepada anaknya sejak dini sebagai

bekal dan benteng untuk menghadapi perubahan-perubahan yang

terjadi.
2. Peran sebagai pendorong, sebagai anak yang sedang menghadapi masa

peralihan, anak membutuhkan dorongan orang tua untuk

menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri dalam menghadapi

masalah.
3. Peran sebagai panutan, orang tua perlu memberikan contoh dan teladan

bagi anak, baik dalam berkata jujur maupun dalam menjalankan

kehidupan sehari-hari dan bermasyarakat.


4. Peran sebagai teman, menghadapi anak yang sedang menghadapi masa

peralihan. Bahwa orang tua perlu lebih sabar dan mengerti tentang

perubahan anak. Orang tua dapat menjadi informasi, teman bicara atau

teman bertukar pikiran tentang kesulitan atau masalah anak, sehingga

anak merasa nyaman dan terlindungi.


5. Peran sebagai pengawas, kewajiban orang tua adalah melihat dan

mengawasi sikap dan perilaku anak agar tidak keluar jauh dari jati
29

dirinya, terutama dari pengaruh lingkungan keluarga, sekolah, maupun

lingkungan masyarakat.
6. Peran sebagai konselor, orang tua dapat memberikan gambaran dan

pertimbangan nilai positif dan negatif sehingga anak mampu

mengambil keputusan yang terbaik.

Menurut Maulani dkk (dalam Indah Pratiwi, 2010), Peran orang tua adalah

seperangkat tingkah laku dua orang ayah-ibu dalam bekerja sama dan

bertanggung jawab berdasarkan keturunannya sebagai tokoh panutan anak

semenjak terbentuknya pembuahan atau zigot secara konsisten terhadap stimulus

tertentu baik berupa bentuk tubuh maupun sikap moral dan spiritual serta

emosional anak yang mandiri

2.2 Penelitian Yang Relevan


Penelitian yang relevan akan menjadi masukan dalam melengkapi penelitian

ini. Penelitian yang terdahulu tersebut di antaranya:

2.2.1 Penelitian oleh Dina Ramadhani, Hari Mulyadi, Girang Razati


Penelitian yang berjudul “Pengaruh Status Sosial Ekonomi Orang Tua Siswa

Terhadap Sikap Kewirausahaan” di SMKN 11 Bandung, bahwa gambaran status

sosial ekonomi orang tua SMKN 11 Bandung dinilai baik. Bahwa pendidikan

orang tua merupakan indikator yang memiliki nilai tertinggi. Sedangkan indikator

pekerjaan memiliki nilai terendah. Hasil penelitian menyatakan bahwa status

sosial ekonomi orang tua berpengaruh secara positif terhadap sikap kewirausahaan

dengan pengaruh yang kuat.

2.2.2 Penelitian oleh Rosmiati, Donny Teguh Santosa Junias, Munawar


Penelitian yang berjudul “Sikap, Motivasi, dan Minat Berwirausaha

Mahasiswa” yang dilakukan di Politeknik Negeri Kupang dengan tujuan

penelitian ini antara lain untuk menadapatkan gambaran minat mahasiswa dalam
30

menjalankan wirausaha. Dengan rumusan masalahnya adalah apakah sikap dan

motivasi menumbuhkan minat mahasiswa untuk menjalankan wirausaha.


Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel sikap dan motivasi tidak

berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha.


2.2.3 Penelitian oleh Wensislaus C.Sunu Eko S
Penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Status Sosial Ekonomi Orang

Tua, Faktor Lingkungan Belajar Dan Prestasi Belajar Dengan Minat Berwirausaha

Pada Mahasiswa”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) hubungan status

sosial ekonomi orang tua dengan minat berwirausaha; (2) hubungan faktor

lingkunganbelajar dengan minat berwirausaha; (3) hubungan prestasi belajar

dengan minat berwirausaha.


Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) tidak ada hubungan antara status

sosial ekonomi orang tua dengan minat berwirausaha. (2) tidak ada hubungan

antara faktor lingkungan belajar dengan minat berwirausaha. (3) tidak ada

hubungan antara prestasi belajar dan minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

2.3 Kerangka Berifikir


Pendidikan menuntut manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan yang

dapat digunakan untuk mendapatkan informasi sehingga dapat meningkatkan

kualitas hidupnya. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan

mempermudah seseorang menerima informasi sehingga menambah luas wawasan

pengetahuannya. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam

memberikan dorongan dan masukan terhadap anaknya untuk menentukan masa

depan sang anak. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting

dalam mempengaruhi mahasiswa untuk menentukan pilihan setelah lulus dari

perguruan tinggi. Oleh karena itu, orang tua yang memiliki pendidikan yang tinggi

tentunya akan menjadi panutan bagi mahasiswa untuk memiliki kehidupan dan
31

pekerjaan yang lebih baik dimasa depan. Berdasarkan uraian tersebut maka

kerangka teoritiknya adalah sebagai berikut:

INDEPENDEN DEPENDEN
X Y

PENDIDIKAN ORANG TUA


SIKAP BERWIRAUSAHA
(X) MAHASISWA
- Pendidikan Dasar (Y)
- Pendidikan Menengah - Pencapaian hasil
Sumber: Robinson et al.,1991
- Pendidikan Tinggi - Inovasi
- Presepsi kontrol
Gambar 1.1 Kerangka Teoritik pribadi
- Rasa percaya diri

2.4 Hipotesis Penelitian


Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,

dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan

(Sugiyono, 2012).
Berdasarkan dari pengertian serta kerangka teoritik sebagaimana telah

diuraikan diatas serta permasalahan yang ingin diteliti dalam penelitian ini, maka

peniliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

Jika Ha : ρxy ≠ 0 (berarti terdapat hubungan)

Jika Ho : ρxy = 0 (berarti tidak terdapat hubungan)

Keterangan:

Ha : Terdapat hubungan yang berarti antara pendidikan orang tua terhadap

sikap berwirausaha pada mahasiswa

Ho : Tidak terdapat hubungan yang berarti antara pendidikan orang tua

terhadap sikap berwirausaha pada mahasiswa


32

ρ : Koefisien korelasi dua variabel (Pendidikan Orang Tua dengan

Perkembangan Sikap Berwirausaha).