Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

SITI ANNISA Z.N.


SALAS AULADI
SRI HANDINI PERTIWI
SILVIA JUNIANTY
SRI MELFA DAMANIK
SELLA GITA A
SUSI HANIFAH
SARAH RIDASHA F
TIARA RACHMAWATI
TIARA TRI P
TRIANDINI
TAMMY
TIARA ARUM KESUMA
UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
FLU BABI
Kelompok 11 :
(220110080145)
(220110080138)
(220110080105)
IA (220110080097)
RI (220110080079)
(220110080052)
(220110080035)
(220110080013)
(220110080118)
(220110080108)
(220110080095)
(220110080053)
IARA (220110080050)
JATINANGOR
2009
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dengan
baik Makalah ini berjudul “Makalah Kasus 3 Swine Influenza (Flu Babi)“ makalah
ini
disusun untuk memenuhi tugas dan diajukan untuk memenuhi standar proses
pembelajaran pada
mata kuliah Sistem Hematologi dan Imunitas
Dalam penyusunan makalah ini , penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Ibu Wiwi Mardiah, S.Kp .M.Kes. selaku koordinator sistem hematologi dan
imunitas
serta dosen yang memberikan bimbingan kepada penulis.
2. Orang tua kami tercinta yang selalu membeikan doa restu dan dukungan dalam
proses
pembelajaran kami di Fakultas Ilmu Keperawatan.
3. Teman-teman penulis kelompok 11 yang meluangkan waktu untuk menyusun
makalah
ini.
4. Pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas
dukungannya,
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan yang lebih baik.
Meskipun telah berusaha segenap kemampuan, namun penulis menyadari bahwa
makalah
ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran
dan
kritik dari semua pihak demi perbaikan di hari kemudian.
Akhir kata, penulis berharap makalah semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam
proses
pembelajaran di Fakultas Ilmu Keperawatan.
Jatinangor, Oktober 2009
penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
H1N1 flu bentuk babi merupakan salah satu turunan flu Spanyol yang menyebabkan
pandemi pada manusia sangat efektif dalam 1918-1919. Seperti halnya dalam
persisting babi,
keturunan yang memiliki 1918 virus juga diedarkan di manusia di abad ke-20,
kontribusi
terhadap wabah musiman biasa dari influenza. Namun, transmisi langsung dari babi
kepada
manusia adalah jarang, dengan hanya 12 kasus di AS sejak 2005.
Virus flu yang telah dianggap sebagai salah satu trickiest diketahui kedokteran
karena
terus perubahan bentuk sehingga eluding yang antibodies pelindung orang-orang
yang mungkin
telah dikembangkan dalam menanggapi sebelumnya eksposur ke influenza atau
untuk vaksin
influensa. Setiap dua atau tiga tahun virus undergoes perubahan kecil. Tetapi pada
interval kirakira
satu dekade, setelah besar dari populasi dunia telah mengembangkan beberapa
tingkat
perlawanan terhadap perubahan kecil ini, ia undergoes perubahan besar yang
memungkinkan
untuk dengan mudah menulari populasi di seluruh dunia, sering menjangkiti ratusan
juta orang
yang memiliki antibodi defenses tidak dapat menolak itu.Virus influenza yang juga
telah dikenal
untuk mengubah bentuk yang lebih singkat selama jangka waktu tertentu. Sebagai
contoh,
selama pandemi flu Spanyol, gelombang awal penyakit relatif ringan, sedangkan
gelombang
kedua dari satu tahun kemudian penyakit ini sangat mematikan.
Di tahun 1957, sebuah pandemi flu Asia terinfeksi beberapa 45 juta orang Amerika
tewas
dan 70.000. Itu disebabkan sekitar 2 juta kematian secara global. Sebelas tahun
kemudian,
selama 1968-1969, Hong Kong pandemi flu Amerika menderita 50 juta dan 33.000
menyebabkan kematian, biaya sekitar $ 3,9 miliar. Pada tahun 1976, sekitar 500
prajurit menjadi
babi terinfeksi flu selama beberapa minggu. Namun, pada akhir bulan penyidik
menemukan
bahwa virus itu “mysteriously hilang.” Di US rata-rata selama satu tahun, ada sekitar
50 juta
kasus “normal” yang mengarah ke flu sekitar 36.000 kematian, sebagian besar ke
sangat muda,
tua, atau orang lemah, dengan persentase yang besar akibat komplikasi seperti
radang paru-paru.
Peneliti medis di seluruh dunia, mengakui bahwa babi virus flu mungkin lagi
mengubah
menjadi sesuatu sebagai maut sebagai flu Spanyol, yang hati-hati menonton terbaru
2009 wabah
flu babi dan membuat rencana untuk kemungkinan kemungkinan pandemi global.
Beberapa
negara telah mengambil langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi
kemungkinan untuk
pandemi global dari penyakit.
B. Tujuan
_ Mahasiswa mengetahui konsep mengenai virus H1N1
_ Mahasiswa memahami cara kerja virus H1N1 menginfeksi tubuh
_ Mahasiswa mengetahui dan mampu memberikan intervensi keperawatan kepada
penderita flu babi
C. Identifikasi kasus
Tn. A (35 tahun) masuk rumah sakit dengan keluhan suhu tubuhnya meningkat
disertai batuk dan nyeri tenggorokan 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Dari hasil
pengkajian Perawat X didapatkan suhu tubuh 390, tekanan darah 110/80 mmHg, RR
24
x/menit dan pasien mengeluh myalgia, rinorhea, muntah-muntah, lemas dan diare.
Dari
hasil pemeriksaan laboratorium dari apus tenggorokan PCR dinyatakan (+) flu babi.
Hasil foto rontgen didapatkan adanya pneumonia
Terapi :(-) oselatamivir (tamiflu) icapsul (75 mg) x3 perhari
Riwayat kesehatan : pasien 5 hari yang lalu pergi ke luar negeri untuk menengok
teman
bisnisnya yang dirawat di rumah sakit karena menderita flu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. VIRUS
Semua virus merupakan parasit obligat intraseluler. Tidak mengandung enzim yang
berhubungan dengan metabolisme energi dan secara keseluruhan tergantung dari
sel hospes
dalam proses biosintesis makromolekul. Virus hanya mengandung satu asam
nukleat yaitu DNA
atau RNA.
1. Genom DNA mempunyai struktur yang berserat rangkap (dauble stranded).
2. Genom RNA mempunyai struktur yang berserat tunggal (single stranded).
3. Genom viral diselubungi oleh lapisan pelindung yang terdiri atas protein dan lipid.
4. Virus yang terdapat secara alami, sebetulnya menginfeksi semua organisme di
alam:
a. Virus bakteri biasa ditemukan pada hampir semua golongan bakteri dan biasanya
disebut
bakteriofage.
b. Sel tanaman dapat diinfeksi, baik oleh virus maupun viroid yang merupakan
molekul
RNA kecil, sirkuler dan tidak berselubung.
c. Golongan insekta dari vertebrata dan diinfeksi oleh berbagai virus, bahkan
beberapa virus
dapat menginfeksi kedua golongan tersebut.
Sifat-sifat komponen viral
Analisis komponen viral memerlukan proses purifikasi dari partikel viral. Langkah
awal
meliputi pembuangan debris seluler yang diikuti dengan konsentrasi viral dengan
cara presipitasi
dan sentrifugasi. Langkah purifikasi akhir pada umumnya meliputi kecepatan atau
keseimbangan
sentrifugasi gradient densitas.
1. Asam nukleat yang dikonsentrasikan dari virus yang dimurnikan mempunyai
variasi yang
luas, baik dalam struktur maupun ukuran
a. Asam nukleat virus dapat beruapa RNA/DNA yang berserat tunggal (SS) atau
berserat
ganda (DS).
b. Banyak DNA viral dan bebrapa RNA viral mempunyai urutan nukleotida yang
”terminally redundant”.
c. Beberapa DNA viral (contoh Poxvirus) mempunyai ikatan silang (cross-linking)
diantara
serat dan beberapa asam nukleat viral (exp. Piconavirus) terikat secara kovalent
pada
protein.
d. Kebanyakan dari asam nukleat viral merupakan molekul linear tunggal, kecuali:
DNA dari papovavirus mempunyai bentuk lingkaran tertutup secara kovalen yang
berserat rangkap dan disebut ”super coil”.
Virus RNA seperti orthomyxovirus, reovirus, rotavirus, bunyavirus dan golonan
arenavirus mempunyai genom yang bersegmen yang bervariasi antara dua
(arenovirus)
dan II (rotavirus) segmen tiap virion.
2. RNA berserat tunggal (ss) dari bebrapa golongan virus dapat bergabung dengan
ribosom dan
bertindak sebagai RNA pesuruh mRNA.
a. RNA yang dapat secara langsung bertindak sebagai serat yang mempunyai
polaritas
positif disebut sebagai RNA serat positif (+ssRNA).
b. RNA dengan polaritas negatif atau RNA srat-negatif (-ssRNA) harus mempunyai
serat
komplementer yang disintesis untuk bertindak sebagai mRNA, zat tersebut dibentuk
dengan bantuan enzim polimerase berasal dari virus.
3. Komposisi basa dari DNA viral berkisar antara 36% guanin plus sitosin (G + C)
pada poxvirus
sampai 70% G + C pada Herpesvirus.
4. Banyak asam nukleat viralnya sendiri yang bersifat infektif, bila diinokulasiakan
pada sel
herpes yang sesuai. Oleh karena asam nukleat tersebut mengandung semua
informasi genetik
yang diperlukan untuk memproduksi virus baru.
a. Kebanyakan asam nukleat tidak berselubung dari virus RNA erat-positif adalah
infektif.
b. Asam nukleat tidak berselubung dari kebanyakan golongan virus dna kecuali
poxvirus
juga bersifat infektif.
c. RNA dari virus RNA serat negatif dan juga berserat rangkap ada yang tidak
infektif.
d. ”host range” dari asam nukleat yang infektif, biasanya adalah lebih lebar bila
dibandingkam dengan partikel virusnya.
5. Komponen utama dari sebua virus, menurut beratnya adalah :
a. Protein
Protein merupakan satu-satunya komponen dari kapsid viral.
Protein mrupakan komponen utama dari envelop viral.
Protein viral dapat mempunyai fungsi struktural, enzimatik atau keduanya.
b. Banyak virus binatang, baik yang tak berenvelop maupun berenvelop dapat
menggumpalkan eritrosit (hemaglutinasi) melalui proses interaksi dari protein kapsid
atau
envelop dengan reseptor pada permuakaan sel darah merah.
c. Partikel virus seringkali mengandung enzim:
Orthomyxovirus dan paramyxovirus mengandung enzim neuraminidase yang
terdapat
dalam protein tonjolan (spike) struktur envelop virus.
Baik virus –ssRNA mupun +ssRNA, keduanya mengandung enzim polimerase
RNA,
yang RNA directed yang disebut transkiptase.
Retrovirus mengandung polimerase DNA yang ”RNA directed” yang disebut
transcriptase balik (reserve transkriptase).
6. Envelop viral juga mengandung campuran dari lipid netral, fosfolipid dan glikolipid
disamping protein khas.
a. Lipid yang ditemukan dalam semua envelop viral, kecuali envelop dari poxvirus,
semuanya berasal dari membran sel hospes.
b. Komposisi yang pasti dari lipd suatu virus berbeda yang semuanya tergantung
dari sel
hospes dan komposisi dari media pertumbuhan.
Morfologi virus
Gambaran struktural yang biasanya ditemukan pada semua virus adalah terutama
genom
asam nukleat dan protein pembungkus, walupun partikel virus (virion) dapat sangat
bervariasi
dalam hal bentuk dan ukuran.
1. Kapsid (selubung protein) terdiri banyak sub unit struktural yang berulang-ulang
dan tersusun
dalam pola yang sangat rapi.
a. Komponen struktural yang paling sederhana ialah suatu molekul protein tunggal
yang
disebut protomer.
b. Protomer individual membentuk unit struktural dasar dari virus yang disebut
kapsomer.
c. Banyaknya kapsomer yang jumlahnya +3 tergantung dari ukuran dan morfologi
virusnya
bergantung dan disebut kapsid.
2. Nukleokapsid merupakan gabungan dari ”inti” (ceote) asam nukleat dan protein
kapsid.
a. Pada banyak virus seperti virus mosaik tembakau dari virus influenza,
nukleokapsid
helikal, hubungan antara asam nukleat dan molekulprotein menghasilkan suatu
rotasi
tunggal.
b. Bentuk struktural utama kedua dari nukleokapsid viral ialah ikosahedral 9
ikosahedral:
ikosa =20, hedron : bidang).
Pada virus ikosahedral asam nukleotidanya didapatkan dalam ”inti” dari struktur
tersebut dan dikelilingi oleh pembungkus protein.
Virus dengan struktur ikosahedral ditandai dengan adanya bidang-bidang segitga
samasisi sebanyak 20 buah, 12 verteks, 30 sisi dan simetri rotasi rangkap 2, 3 dan 5
yang tepat.
3. Hanya ada sejumlah kecil virus yang mempunyai struktur yang kompleks dan
tidak
memperlihatkan bentuk simetri yang teratur (exp. Poxvirus yang berbentuk bata).
Nukleokapsid viral dapat merupakan suatu virion lengkap exp. Virus kapsid yang
tidak
berenvelop atau dapat pula dikelilingi dengan membran tipe seluler, exp. Virus yang
berenvelope.
a. Envelope viral seperti membran seluler yang mengandung lapisan rangkap lipida
dan
merupakan protein yang khas virus.
b. Protein envelop yang khas virus ada 2 tipe yaitu:
Glikoprotein pada umumnya ditemukan sebagai struktur permukaan, exp. Seperti
tonjolan atau molekul hemaglutinasi.
Protein matriks merupakan protein yang tidak diglikolisasi (nonglycosilated protein)
yang membentuk lapisan struktural pada permukaan dalam dari envelop viral.
B. REAKSI INFLAMASI
Dalam tubuh manusia yang terinfeksi, virus membangkitkan hampir keseluruhan
respon
apoptosis -bunuh diri- dalam sistem imunitas. Semakin banyak virus itu
menggandakan diri,
semakin banyak pula sitokin. Sitokin merupakan protein yang meningkatkan respons
imunitas dan berperan penting dalam peradangan yang diproduksi tubuh.
Perubahan struktur
virus itu mempengaruhi mekanisme sistem imun. Sitokin muncul sebagai reaksi
kekebalan
tubuh ketika virus menyerang. Ketika virus masuk, tubuh mengeluarkan sitokin yang
diproduksi oleh sel-sel sistem imun. Kurkumin TNF adalah sitokin yang dikeluarkan
sel
darah putih selama infeksi dan membantu tubuh melawan organisme penyerbu.
Dalam
jumlah berlebih, TNF dan sitokin pro-peradangan berbalik menyerang tubuh. Akibat
gangguan pada jalur itu, TNF meningkat sehingga menyebabkan badai sitokin.
C. VIRUS FLU BABI
Mekanisme virus H1N1 yang menyerang sistem respirasi manusia pada dasarnya
melalui
beberapa tahapan yang membentuk siklus, yaitu: 1) Perlekatan, 2) Penetrasi, 3)
Endositosis,
4) Pelepasan materi genetik, 5) Transkripsi, 6) Perakitan, dan 7) Pelepasan.
(siklus infeksi virus H1N1)
Tahapan perlekatan merupakan tahapan awal mula virus masuk kedalam sel.
Tahapan ini
melibatkan reseptor sel inang (Reseceptor Binding Site/RBS). Reseptor sel yang
berperan
dalam infeksi virus flu tersusun atas glikoprotein atau glikolipid yang mengandung
gugus
terminal sialyl-galactosyl [Neu5Ac(_ 2,3)Gal] atau [Neu5Ac(_ 2,6)Gal]. Kedua
reseptor
tersebut biasanya disebut _ 2,3 asam sialat/sialic acid atau _ 2,6 asam sialat/sialic
acid
(Thomson et al., 2006). Pada virus avian influenza (AI), haemaglutinin virus
cenderung
berikatan dengan _ 2,3 asam sialat sedangkan virus flu manusia berikatan dengan _
2,6 asam
sialat. Pada kasus flu burung, haemaglutinin virus AI terdapat kemungkinan
perubahan
akibat mutasi yang menyebabkan kompabilitas dengan reseptor _ 2,6 asam sialat
pada
manusia. Sementara pada babi ditemukan dua jenis reseptor yaitu _ 2,3 asam sialat
dan _ 2,6
asam sialat. Hal ini dapat menimbulkan adanya kemungkinan rearsosi genetik
(mixing vesel)
antara virus influenza antara unggas dengan virus asal manusia pada tubuh babi.
Setelah haemaglutinin virus H1N1 berikatan dengan RBS sel inang (hospes), maka
virus
akan masuk melalui fusi envelope virus dengan membran endosomal sel inang.
Proses ini
memerlukan bantuan protease sel inang untuk mengaktivasi prekusor hemaglutinin
(HAo)
menjadi fragmen 1 (HA1) dan fragmen 2 (HA2) yang dapat menyebabkan virus
melepaskan
ribonukleoproteinnya ke dalam sel inang, akibatnya akan terjadi replikasi di dalam
sel inang.
Tahapan selanjutnya adalah pelepasan materi genetik yang kemudian diikuti dengan
proses transkripsi menjadi RNAm (RNA messenger) yang siap untuk ditranslasi
menjadi
bagian-bagian tubuh virus. Tahapan ini membutuhkan mekanisme kaskade yang
melibatkan
protein kinase, yaitu ERK 1/2 (Extracellulear-signal Regulated Kinase 1 dan 2)
melalui jalur
Ras–Raf–MEK–ERK (Gambar 2). ERK ini berperan dalam tahap akhir replikasi
virus, yaitu
pada saat pengiriman ribonukleoprotein (RNP) yang telah direplikasi di nukleus sel
inang ke
sitosol pada saat fase perakitan. Bagian virus H1N1 yang mengaktivasi ERK adalah
hemagglutinin (HA) yang terakumulasi di membran sel pada tahap perakitan.
Hemagglutinin
menempel pada Lipid Rafts dan kemudian mengaktivasi kaskade ERK melalui PKC
(Protein
Kinase C). Kondisi ini akan mempercepat pertumbuhan virus H1N1 melalui proses
transkripsi gen.
Usai mengalami perakitan
proses penguncupan (budding) yang selanjutnya akan menginfeksi sel
Masa Inkubasi Virus
Masa inkubasi : 1-7 hari tetapi lebih sering 1
H1N1 pada manusia menular pada satu hari sebelum onset sakit sampai 7 hari se
onset, pada anak dapat menular sampai 10 hari
Tahapan Endemik
Level 1: virus di dalam tubuh binatang, tidak jelas menyebabkan infeksi pada
manusia
Level 2: flu binatang menyebabkan infeksi pada manusia.
Level 3: kasus sporadik atau klauster ke
ke manusia bila ada, tidak cukup menimbulkan wabah di tingkat masyarakat
Level 4: risiko untuk pandemi meningkat tapi tidak pasti. Virus penyabab penyakit
dapat
menimbulkan level wabah di komunitas dsal
Level 5: masih belum pandemik, penyakit menyebar antar manusia di lebih dari
satu
negara.
Level 6: pandemi, menyebar di seluruh dunia.
sai virus H1N1, maka virus tersebut akan dilepaskan melalui
sel-sel yang lain.
1-4 hari
: enyebabkan : kecil infeksi pada manusia. Transmisi dari manusia
: dsalam suatu negara.
: emi, lepaskan setelah
manusia.
cil masyarakat.
A. ISTILAH KHUSUS
1. Myalgia adalah suatu keadaan dimana badan terasa pegal
olahraga yang menyebabkan tubuh
cedera biasanya disebabkan oleh infeksi virus.
2. Rhinorhea adalah discharge bebas berupa le
3. PCR (polymerase chain reaction) adalah reaksi berantai polymerase, merupakan
perbanyakan untai DNA panjang tertentu secara in vitro menggunakan enzim
polymerase.
4. Tamiflu adalah obat yang digunakan untuk mencegahan penularan viru
diberikan lebih awal. Tamiflu lebih disukai karena bentuknya berupa tablet.
5. Pneumonia adalah peradangan pada paru
B. GUGUS BIOLOGI VIRUS H1N1
Genetic origins of the
BAB III
PEMBAHASAN
pegal-pegal, mulai diakhibatkan oleh
meregang terlalu banyak. Myalgia tanpa adanya
lender cair dari hidung
paru-paru.
en:2009 swine flu outbreak, 8 genes:[1]
HA: Hemagglutinine type 1 (or H1), swine,
also in the 1918 influenza. Catch host's cell
receptors.
NA: Neuraminidase type 1 (or N1), swine,
eurasian, help start the infection.
PA: avian, north america.
PB1: human, likely from the 1993 H3N2 influenza.
PB2: avian, from north america.
NP: swine, north america.
M: swine, eurasia.
virus flu babi jika
[
NS: swine, north america.
Source: La fiche d'identité d'un virus inédit, LEMONDE.FR, 30.04.2009.
Gambar virion flu babi
C. KONSEP PENYAKIT
Flu babi adalah penyakit alat pernapasan yang seng kali secara enzootic/endemic
kejadian penyakit dalam periode tertentu pada suatu daerah yang sering kali terjadi
pada
kasus penyakit dalam jumlah yang selalu relative sama dan biasa terjadi. Namun
demikian
kasus flu babi yang terjadi pada manusia saat ini sudah bersifat pandemic (penyakit
sudah
tersebar ke mancanegara). Menurut situs Center for Control and Prefention (CDC)
AS,
normalnya virus flu babi hanya berjangkit pada babi dengan kematian rendah.
Namun secara
sporadic terjadi infeksi pada manusia.
Penyebab flu babi adalah virus influenza tipe A subtype H1N1 dari familia
orthomyxoviridae. Flu atau influenza ada 2 type :
1. Type A : Menular pada unggas (ayam, itik, dan burung) serta babi
2. Type B dan type C : Menular pada manusia
Flu babi pertama kali diisolasi dari seekor babi yang terinfeksi pada tahun 1930 di
Amerika Serikat. Pada perkembangannya, penyakit ini dapat berpinadah ke manusia
terutama
menyerang mereka yang kontak dekat dengan babi. Lama tidak terdengar lagi
kabarnya
ternyata virus ini menaglami serangkaianmutasi sehingga muncul varian baru yang
pertama
kali menyerang manusia di Meksiko pada awal tahun 2009. Varian baru ini dikenal
dengan
nama vrus H1N1 yang merupakan singkatan dari dua antigen utama virus yaitu
hemagglutinin tipe 1 dan neuraminidase tipe 1.
D. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Penyebab penyakit saluran pernafasan pada babi adalah virus influenza tipe A yang
termasuk family orthomyxoviridae. Virus ini erat kaitannya dengan penyabab swine
flu,
equine flu, dan avian influenza (fowl plaque). Ukuran virus tersebut berdiameter
80120 nm.
Selain influenza A, terdapat influenza B dan influenza C yang juga sudah dapat di
isolasi dari
babi. Sedangkan 2 tipe influenza pada manusia adalah tipe A dan B. kedua tipe ini
diketahui
sangat progresif dalam perubahan antigenic yang sangat dramatic sekali (antigenik
shift).
Pergeseran antigenic tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara
pandemic
dan keganasan penyakit. Hal ini dapat terjadi seperti adanya genetic reassortment
antara
bangsa burung dan manusia. Ketiga tipe virus ini adalah virus yang mempunyai
bentuk yang
sama dibawah mikroskop electron dan hanya berbeda dalam hal kekebalannya saja.
Ketiga
virus tersebut mempunyai RNA dengan sumbu protein dan permukaan virionnya
diselubungi
oleh semacam paku yang mengandung antigen hemagglutinin (H) dan enzim
neuramidase
(N). Peranan hemagglutinin adalah sebagai alat melekatnya virion pada sel dan
menyebabkan
terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim nuromidase bertanggung
jawab
terhadap elusi, terlepasnya virus dari sel darah merah dan juga mempunyai peranan
dalam
melepaskan virus dari sel yang terinfeksi. Antibody terhadap hemagglutinin berperan
dalam
mencegah infeksi ulang oleh virus yang mengandung hemagglutinin yang sama.
Antibody
juga terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam
pencegahan
infeksi. Influenza babi yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan oleh influenza A
H1N1,
sedangkan di banyak Negara Eropa, dan Asia Tenggara disebabkan oleh virus
influenza A
H3N2.
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Demam yang muncul tiba-tiba lebih dari 38° C
2. Batuk
3. Nyeri otot dan tulang
4. Sakit tenggorokan
5. Kelelahan yang berlebihan
6. Penderita muntah-muntah dan diare serta masalah pencernaan
7. Sakit kepala
8. Menggigil dan lemas
9. Hidung berair (rhinorea)
10. Tidak nafsu makan
11. Bersin-bersin
Gejala lain pada anak-anak:
1. Nafas terengah-engah atau susah bernafas.
2. Kulit menjadi kehitaman atau keabuan
3. Malas minum
4. Muntah-muntah
5. Tidak bisa bangun dan berinteraksi dengan baik
6. Tidak mau disentuh
7. Terkadang gejala hilang tapi demam dan batuk maasih ada.
G.ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Pengumpulan Data
a. Bio Data
1) Nama : Tn. A
2) Usia : 35 tahun
3) Alamat :
4) Jenis Kelamin : Laki-laki
5) Pendidikan : -
6) Agama : -
7) Suku Bangsa : -
8) Tanggal pengkajian : -
9) Diagnosa Medis : Flu Babi
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama : Suhu tubuh meningkat
2) Riwayat Kesehatan Sekarang (PQRST)
P:
Q:
R:
S:
T:
3) Riwayat Kesehatan Dahulu : Pasien 5 hari yang lalu pergi ke luar negeri untuk
menengok teman bisnisnya yang di rawat di RS karena
menderita flu
4) Obat-Obatan : Tamiflu (1kapsulx3kali/hari)
c. Pemerikasaan Fisik
1) Inspeksi :
2) Palpasi :
3) Perkusi :
4) Auskultasi :
Tanda-tanda vital
Suhu : 39oC
RR : 24x/menit
TD : 110/80 mmHg
HR :
Keluhan : suhu tubuh meningkat, batuk, nyeri tenggorokan, myalgia, rhinorhea,
muntahmuntah,
lemas, diare
d. Pemeriksaan Diagnostik
1) Apus tenggorokan dan PCR : + flu babi
2) Photo rontgen : pneumonia
2. Analisa Data
Data Yang Menyimpang Etiologi Masalah
DO :
Rhinorhea
Pneumonia (hasil poto
rontgen)
DS :
Klien mengeluh batuk
H1N1
Inflamasi
Fagositosis oleh makrofage
Pengeluaran bradikinin
histamin
Eksudat
Suplai O2
Bersihan jalan napas tak
efektif
Data Yang Menyimpang Etiologi Masalah
Kerja napas
DO :
Diare
DS :
H1N1
Replikasi RNA dalam sel
hospes
Transkripsi menjadi RNAm
Translasi menjadi bagian
tubuh virus
Sebagian menjadi
neuraminidase
Berpisah dari host
Masuk ke lambung
Asam lambung
Iritasi lambung
Kekurangan volume
cairan
Data Yang Menyimpang Etiologi Masalah
Gerakan peristaltik
Diare
DO :
DS :
Klien mengeluh nyeri
tenggorokan dan muntahmuntah
H1N1
Replikasi RNA dalam sel
hospes
Transkripsi menjadi RNAm
Translasi menjadi bagian
tubuh virus
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
Sebagian
menjadi
neuromini
dase
inflamasi
Berpisah
dari host
Pengeluar
an
bradikinin
histamin
tumor
lambung
Data Yang Menyimpang Etiologi Masalah
DO :
Suhu klien 39oC
DS :
Klien mengeluh suhu
tubuhnya meningkat
H1N1
Inflamasi
Fagositosis oleh makrofage
Sitokinin
Terbentuk pirogen endogen
Hipertermi
Tonsil
bengkak
Sulit
menelan
Asam
lambung
Iritasi
lambung
Mual
muntah
anoreksia
Data Yang Menyimpang Etiologi Masalah
Merangsang hipothalamus
anterior
Set temperatur
DO :
DS :
Klien mengeluh myalgia
dan lemas
H1N1
Inflamasi
Fagositosis oleh makrofage
Pengeluaran bradikinin
histamin
Merangsang reseptor nyeri
Nyeri sendi
Intoleransi aktivitas
DO :
DS :
H1N1
Inflamasi
Fagositosis oleh makrofag
Resiko pola napas tak
efektif
Data Yang Menyimpang Etiologi Masalah
Pengeluaran bradikinin
histamin
Eksudat
Radang membran paru
RBC, WBC, dan cairan
masuk ke alveoli
Oklusi parsial
Konsolidasi
O2 CO2
3. Diagnosa Keperawatan
a) Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rhinorhea
b) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya cairan tubuh dengan
kebutuhan ditandai dengan diare
c) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat
absorbsi
nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan
d) Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan
peningkatan temperatur tubuh
e) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas
sehari-hari
ditandai dengan adanya nyeri
f) Resiko pola napas tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa
oksigen
Intervensi Keperawatan
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
Bersihan jalan
napas tak efektif
berhubungan
dengan inflamasi
ditandai dengan
rhinorhea
Jalan nafas efektif Bebaskan jalan nafas
dengan mengatur posisi
kepala ekstensi
Pemeriksaan fisik
dengan cara auskultasi
mendengarkan suara
nafas (adakah ronchi)
Bersihkan saluran nafas
dari sekret dan lendir
Secara anatomi posisi
kepala ekstensi
merupakan cara untuk
meluruskan rongga
pernafasan sehingga
proses respiransi tetap
berjalan lancar dengan
menyingkirkan
pembuntuan jalan nafas
Ronchi menunjukkan
adanya gangguan
pernafasan akibat atas
cairan atau sekret yang
menutupi sebagian dari
saluran pernafasan
sehingga perlu
dikeluarkan untuk
mengoptimalkan jalan
nafas
Tindakan bantuan
untuk mengeluarkan
sekret, sehingga
mempermudah proses
respirasi
Kekurangan
volume cairan
berhubungan
dengan tidak
seimbangnya
Volume cairan
seimbang dengan
kebutuhan tubuh
klien
Rencanakan target
pemberian asupan cairan
Kaji pemahaman klien
Mempermudah
memantauan kondisi
klien
Pemahaman tentang
cairan tubuh
dengan kebutuhan
ditandai dengan
diare
tentang alasan
mempertahankan hidrasi
yang adekuat
Catat intake dan output
cairan
Pantau intake per oral
Pantau output cairan
alasan tersebut
membantu klien dalam
mengatasi gangguan
Untuk mengetahui
perkembangan status
cairan klien
Untuk mengontrol
intake cairan klien
Untuk mengetahui
perkembangan status
cairan klien
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan
dengan inadekuat
absorbsi nutrient
oleh tubuh akibat
reaksi inflamasi
ditandai dengan
anoreksia, sulit
menelan
Kebutuhan nutrisi
terpenuhi secara
adekuat
Kaji riwayat nutrisi,
termasuk makanan yang
disukai
Observasi dan catat
masukan makanan
pasien
Berikan makan sedikit
dan frekuensi sering
dan/atau makan di
antara waktu makan
Berikan dan bantu
higiene mulut yang baik;
sebelum dan sesudah
makan, gunakan sikat
gigi halus untuk
penyikatan yang lembut
Kolaborasi
Konsul pada ahli gizi
Pantau pemeriksaan
laboratorium seperti Hb,
Hct, BUN, Albumin,
Protein, Transferin, Besi
Serim, B12, Asam Folat,
Mengidentifikasi
defisiensi, menduga
kemungkinan intervensi
Mengawasi masukan
kalori atau kualitas
kekurangan konsumsi
makanan
Makan sedikit dapat
menurunkan kelemahan
dan meningkatkan
pemasukan
Meningkatkan nafsu
makan dan pemasukan
oral, menurunkan
pertumbuhan bakteri,
meminimalkan
kemampuan infeksi
Membantu dalam
membuat rencana diet
untuk memenuhi
kebutuhan individual
Meningkatkan
efektivitas program
pengobatan, termasuk
sumber diet nutrisi
yang dibutuhkan
TIBC, Elektrolit Serum
Hipertermi
berhubungan
dengan perubahan
pada regulasi
temperatur ditandai
dengan
peningkatan
temperatur tubuh
Hipertermi dapat
teratasi
Observasi tanda-tanda
vital terutama suhu
tubuh
Pantau suhu lingkungan
Jelaskan kepada klien
pentingnya
mempertahankan intake
cairan adekuat
Pantau intake dan output
cairan
Kolaborasi
Berikan antipireutik
seperti aspirin atau
asetaminoven
Menentukan langkah
intervensi selanjutnya
Suhu ruangan harus di
ubah untuk
mempertahankan suhu
normal
Pemahaman tentang
alasan tersebut
membantu klien dalam
mengatasi gangguan
Untuk mengetahui
perkembangan status
cairan klien
Digunakan untuk
mengurangi demam
dengan aksisentralnya
pada hipotalamus
meskipun demam dapat
bergun untuk mengatasi
pertumbuhan
organisme dan
meningkatkan
autoimun dari sel-sel
yang terinfeksi
Intoleransi aktivitas
berhubungan
dengan
ketidakmampuan
melaksanankan
aktivitas sehari-hari
ditandai dengan
adanya nyeri
Setelah dilakukan
perawatan klien
dapat melakukan
aktivitas
maksimal sesuai
kemampuan
Kaji kemampuan pasien
untuk melakukan tugas
normal, catat laporan
kelelahan, keletihan, dan
kesulitan menyelesaikan
tugas
Berikan lingkungan
tenang. Pertahankan
tirah baring bila
diindikasikan. Pantau
dan batasi pengunjung,
telepon, dan gangguan
berulang tindakan yang
tak direncanakan
Mempengaruhi pilihan
intervensi/bantuan
Meningkatkan istirahat
untuk menurunkan
kebutuhan oksigen
tubuh dan menurunkan
regangan jantung dan
paru
Prioritaskan jadwal
asuhan keperawatan
untuk meningkatkan
istirahat. Pilih periode
istirahat dengan periode
aktivitas
Berikan bantuan dalam
aktivitas bila perlu,
memungkinkan pasien
untuk melakukannya
sebanyak mungkin
Rencanakan
kemampuan aktivitas
dengan pasien, termasuk
aktivitas yang pasien
pandang perlu.
Tingkatkan tingkat
aktivitas sesuai toleransi
Gunakan teknik
penghematan energi
Anjurkan pasien untuk
menghentikan aktivitas
bila palpitasi, nyeri
dada, napas pendek,
kelemahan, atau pusing
terjadi
Kaji kesiapan untuk
meningkatkan aktivitas
contoh: penurunan
kelemahan/ kelelahan,
TD stabil, frekuensi
nadi, peningkatan
perhatian pada
aktivitas dan perawatan
diri
Mempertahankan
tingkat energi dan
meningkatkan regangan
pada sistem jantung dan
pernapasan
Membantu bila perlu,
harga diri ditingkatkan
bila pasien melakukan
sesuatu sendiri
Meningkatkan secara
bertahap tingkat
aktivitas sampai normal
dan memperbaiki
stamina tanpa
kelemahan
Mendorong pasien
melakukan banyak
dengan membatasi
penyimpangan energi
dan mencegah
kelemahan
Regangan/stres
kardiopulmonal
berlebihan/stres dapat
menimbulkan
dekompensasi
/kegagalan
Stabilitas fisiologis
pada istirahat
penting untuk
memajukan tingkat
aktivitas individual
Resiko pola napas Evaluasi frekuensi Kecepatan upaya
tak efektif
berhubungan
dengan penurunan
kapasitas pembawa
oksigen
pernapasan, catat upaya
pernapasan, catat adanya
dispnea
Auskultasi bunyi napas,
catat area yang
menurun, ada tidaknya
bunyi napas, dan adanya
bunyi tambahan
Tinggikan kepala tempat
tidur, letakkan posisi
duduk semi fowler,
bantu peningkatan
waktu tidur
Catat respon pada
pelatihan napas dalam
atau pengobatan
pernapasan lain, catat
bunyi napas sebelum
atau sesudah pengobatan
Kolaborasi
Kaji ulang laporan foto
dada dan pemeriksaan
laboratorium setelah
indikasi
mungkin meningkatkan
nyeri, takut, demam,
menurunkan volume
respirasi, akumulasi
secret dan hipoksia,
penurunan kecepatan
dapat terjadi dri
penggunaan analgesic
berlebihan
Bunyi napas sering
menurun pada dasar
paru berhubungan
dengan terjadinya
atelektasis. Bunyi
tambahan seperti
crackels/ronchi dapat
menunjukkan
akumulasi cairan atau
obstruksi jalan napas
parsial
Merangsang fungsi
pernapasan atau
ekspansi paru, efektif
pada pencegahan dan
kongesti paru
Catat keefektifan terapi
atas kebutuhan untuk
pemilihan intervensi
lebih agresif
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Umum (laboratorium):
a. Pemeriksaan darah rutin (Hb, leukosit, trombosit, hitung jenis leukosit)
b. Spesimen serum
Pengambilan spesimen harus memperhatikan Universal Precaaution yang meliputi:
Menggunakan alat pelindung diri (jas lab lengan panjang, sarung tangan karet,
goggle,
masker, dan tutup kepala plastik)
Melakukan cuci tangan dengan menggunakan desinfektan sebelum dan sesudah
tindakan
Menjaga kebersihan rungan dengan menggunakan desinfektan sebelum dan
sesudah
tindakan
Alat dan bahan pengambilan spesimen:
Swab yang terbuat dari dacron/rayon steril dengan tangkai plastik
Cryotube (tabung tahan pendinginan)
2 ml media transprt virus (Hanks BSS + antibiotika)
Spuit injeksi
Kapas
Alkohol
Wing needle (pengambilan darah anak)
Tabung vacutainer nonkoagulan
Tabung vacutainer koagulan
Cara pengambilan spesimen darah
Pengambilan darah dengan jarum suntik biasa:
Masukkan darah yang diperoleh ke dalam tabung darah bertutup karet
Letakkan tabung dalam keadaan miring sekitar 30o untuk mendapatkan serum
yang
optimal. Diamkan darah dalam waktu 1 jam pada suhu kamar, agar darah dalam
tabung
membeku dengan baik.
Pemisahan darah bekuan dari serum pada tabung steril harus dilakukan di
Litbangkes
atau laboratorium yang ada sentrifus.
Semua tabung dibungkus dengan kertas tissu dan masukkan kertas koran yang
telah
diremas ke dalam kotak pengiriman primer.
c. Pemeriksaan apusan (aspirasi nasofaring atau bilasan/ aspirasi hidung)
Kalau tidak bisa dengan cara di atas maka dengan kombinasi apusan hidung dan
orofarin.
Pada pasien dengan intubasi dapat diambil secara aspirasi endotrakeal.
d. Pemeriksaan kimia darah: albumin, globulin, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin,
analisis gas
darah.
e. Pemeriksaan radiologik: PA dan lateral.
f. Pemerikaan CT-Scan toraks (bila diperlukan).
2. Pemeriksaan khusus
a. Pemeriksaan laboratorium virology
Untuk mendiagnosis konfirmasi influenza A (H1N1) dengan cara:
Real time (RT) PCR
Reaksi PCR meniru reaksi penggandaan atau replikasi DNA yang terjadi dalam
makhluk hidup. Secara sederhana PCR merupakan reaksi penggandaan daerah
tertentu
dari DNA cetakan (template) dengan batuan enzim DNA polymerase. PCR terdiri
atas
beberapa siklus yang berulang-ulang, biasanya 20 sampai 40 siklus.
Komponen PCR
Selain DNA template yang akan digandakan dan enzim DNA polymerase, komponen
lain yang dibutuhkan adalah:
Primer
Primer adalah sepasang DNA utas tunggal atau oligonukleotida pendek yang
menginisiasi sekaligus membatasi reaksi pemanjangan rantai atau polimerisasi
DNA.
PCR hanya mampu menggandakan DNA pada daerah tertentu sepanjang
maksimum
10000 bp saja, dan dengan teknik tertentu bisa sampai 40000 bp. Primer dirancang
untuk memiliki sekuen yang komplemen dengan DNA template, jadi dirancang agar
menempel mengapit daerah tertentu yang kita inginkan.
dNTP (deoxynucleoside triphosphate)
dNTP alias building blocks sebagai ‘batu bata’ penyusun DNA yang baru. dNTP
terdiri
atas 4 macam sesuai dengan basa penyusun DNA, yaitu dATP, dCTP, dGTP dan
dTTP.
Buffer
Buffer yang biasanya terdiri atas bahan-bahan kimia untuk mengkondisikan reaksi
agar
berjalan optimum dan menstabilkan enzim DNA polymerase.
Ion Logam
Ion logam bivalen, umumnya Mg++, fungsinya sebagai kofaktor bagi enzim DNA
polymerase. Tanpa ion ini enzim DNA polymerase tidak dapat bekerja.
Ion logam monovalen, kalsium (K+).
Tahapan Reaksi
Setiap siklus reaksi PCR terdiri atas tiga tahap, yaitu:
Denaturasi
Denaturasi dilakukan dengan pemanasan hingga 96oC selama 30-60 detik. Pada
suhu
ini DNA utas ganda akan memisah menjadi utas tunggal.
Annealing
Setelah DNA menjadi utas tunggal, suhu diturukan ke kisaran 40-60oC selama 20-40
detik untuk memberikan kesempatan bagi primer untuk menempel pada DNA
template di tempat yang komplemen dengan sekuen primer.
Ekstensi/elongasi
Dilakukan dengan menaikkan suhu ke kisaran suhu kerja optimum enzim DNA
polymerase, biasanya 70-72oC. Pada tahap ini DNA polymerase akan
memasangkan
dNTP yang sesuai pada pasangannya, jika basa pada template adalah A, maka
akan
dipasang dNTP, begitu seterusnya (ingat pasangan A adalah T, dan C dengan G,
begitu pula sebaliknya). Enzim akan memperpanjang rantai baru ini hingga ke ujung.
Lamanya waktu ekstensi bergantung pada panjang daerah yang akan diamplifikasi,
secara kasarnya adalah 1 menit untuk setiap 1000 bp.
Selain ketiga proses tersebut biasanya PCR didahului dan diakhiri oleh tahapan
berikut:
Pra-denaturasi
Dilakukan selama 1-9 menit di awal reaksi untuk memastikan kesempurnaan
denaturasi dan mengaktifasi DNA Polymerase (jenis hot-start alias baru aktif kalau
dipanaskan terlebih dahulu).
Final Elongasi
Biasanya dilakukan pada suhu optimum enzim (70-72oC) selama 5-15 menit untuk
memastikan bahwa setiap utas tunggal yang tersisa sudah diperpanjang secara
sempurna. Proses ini dilakukan setelah siklus PCR terakhir
PCR dilakukan dengan menggunakan mesin Thermal Cycler yang dapat menaikkan
dan menurunkan suhu dalam waktu cepat sesuai kebutuhan siklus PCR. Pada
awalnya
orang menggunakan tiga penangas air (water bath) untuk melakukan denaturasi,
annealing dan ekstensi secara manual, berpindah dari satu suhu ke suhu lainnya
menggunakan tangan. Tapi syukurlah sekarang mesin Thermal Cycler sudah
terotomatisasi dan dapat diprogram sesuai kebutuhan.
Aplikasi teknik PCR
Saat ini PCR sudah digunakan secara luas untuk berbagai macam kebutuhan,
diantaranya:
Isolasi Gen
Sebagaimana kita tahu bahwa fungsi utama DNA adalah sebagai sandi genetik,
yaitu
sebagai panduan sel dalam memproduksi protein, DNA ditranskrip menghasilkan
RNA, RNA kemudian diterjemahkan untuk menghasilkan rantai asam amino alias
protein. Dari sekian panjang DNA genome, bagian yang menyandikan protein inilah
yang disebut gen, sisanya tidak menyandikan protein atau disebut ‘junk DNA’, DNA
’sampah’ yang fungsinya belum diketahui dengan baik.
Kembali ke pembahasan isolasi gen, para ahli seringkali membutuhkan gen tertentu
untuk diisolasi. Sebagai contoh, dulu kita harus mengekstrak insulin langsung dari
pancreas sapi atau babi, kemudian menjadikannya obat diabetes, proses yang rumit
dan tentu saja mahal serta memiliki efek samping karena insulin dari sapi atau babi
tidak benar-benar sama dengan insulin manusia.
Berkat teknologi rekayasa genetik, kini mereka dapat mengisolasi gen penghasil
insulin dari DNA genome manusia, lalu menyisipkannya ke sel bakteri (dalam hal ini
E.coli) agar bakteri dapat memproduksi insulin juga. Hasilnya insulin yang sama
persis dengan yang dihasilkan dalam tubuh manusia, dan sekarang insulin tinggal
diekstrak dari bakteri, lebih cepat, mudah, dan tentunya lebih murah ketimbang cara
konvensional yang harus ‘mengorbankan’ sapi atau babi.
Untuk mengisolasi gen, diperlukan DNA pencari atau dikenal dengan nama ‘probe’
yang memiliki urutan basa nukleotida sama dengan gen yang kita inginkan. Probe ini
bisa dibuat dengan teknik PCR menggunakan primer yang sesuai dengan gen
tersebut.
DNA Sequencing
Urutan basa suatu DNA dapat ditentukan dengan teknik DNA Sequencing, metode
yang umum digunakan saat ini adalah metode Sanger (chain termination method)
yang sudah dimodifikasi menggunakan dye-dideoxy terminator, dimana proses
awalnya adalah reaksi PCR dengan pereaksi yang agak berbeda, yaitu hanya
menggunakan satu primer (PCR biasa menggunakan 2 primer) dan adanya
tambahan
dideoxynucleotide yang dilabel fluorescent. Karena warna fluorescent untuk setiap
basa berbeda, maka urutan basa suatu DNA yang tidak diketahui bisa ditentukan.
Forensik
Identifikasi seseorang yang terlibat kejahatan (baik pelaku maupun korban), atau
korban kecelakaan/bencana kadang sulit dilakukan. Jika identifikasi secara fisik sulit
atau tidak mungkin lagi dilakukan, maka pengujian DNA adalah pilihan yang tepat.
DNA dapat diambil dari bagian tubuh manapun, kemudian dilakukan analisa PCR
untuk mengamplifikasi bagian-bagian tertentu DNA yang disebut fingerprints alias
DNA sidik jari, yaitu bagian yang unik bagi setiap orang. Hasilnya dibandingkan
dengan DNA sidik jari keluarganya yang memiliki pertalian darah, misalnya ibu atau
bapak kandung. Jika memiliki kecocokan yang sangat tinggi maka bisa dipastikan
identitas orang yang dimaksud.
Konon banyak kalangan tertentu yang memanfaatkan pengujian ini untuk menelusuri
orang tua ’sesungguhnya’ dari seorang anak jika sang orang tua merasa ragu.
I. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Terapi
a. Pasien dengan ILI akan dievaluasi apakah termasuk kelompok dengan gejala
klinis
ringan, sedang atau berat.
b. Kelompok dengan gejala klinis ringan dipulangkan dengan diberi obat simptomatis
dan
KIE untuk waktu istirahat di rumah.
c. Kelompok gejala klinis sedang dirawat di ruang isolasi dan mendapat oseltamivir 2
x 75
mg.
d. Untuk kelompok dengan gejala klinis berat dirawat di ICU.
e. Pemeriksaan laboratorium sesuai jadwal yang sudah ditentukan.
f. Di ruang rawat inap : dilakukan evaluasi keadaan umum, kesadaran, tanda vital,
pantau
saturasi oksigen.
g. Terapi suportif.
2. Medikamentosa
Oseltamivir merupakan pro drug dari metabolit aktif Oseltamivir Karboksilat.
Metabolit
aktif ini merupakan penghambat selektif enzim neuramidase virus influenza yang
glycoproteinnya ditemukan di permukaan virion. Oseltamivir karboksilat
menghambat
neuramidase influenza A dan B secara in vitro. Oseltamivir yang diberikan secara
oral
menghambat replikasi dan pathogenicity virus influenza A dan B secara in vivo pada
binatang percobaan yang terinfeksi influenza yang sama bila terjadi pada manusia
dengan
pemberian dosis 75 mg dua kali sehari.
INDIKASI
Terapi influenza (khususnya influenza A) pada anak usia satu tahun keatas yang
menderita gejala influenza. Efikasi ditunjukkan jika terapi diberikan dalam 2 hari
setelah
timbul gejala.
Pencegahan influenza pada dewasa dan dewasa muda 13 tahun keatas setelah
kontak
dengan penderita influenza ketika influenza telah menyebar.
Tamiflu tidak dapat menggantikan vaksinasi influenza.
DOSIS
Terapi influenza.
_ dewasa dan dewasa muda 13 tahun ke atas: 75 mg oseltamivir 2 kali sehari
selama 5
hari.
_ anak di atas 1 tahun sampai 13 tahun dapat digunakan Tamiflu suspensi dua kali
sehari
selama 5 hari dengan dosis sesuai berat badan sebagai berikut:
- 15 kg 30 mg
- 15- 23 kg 45 mg,
- > 23 kg sampai 40 kg 60 mg,
- > 40 kg, dapat diberikan dosis dewasa 75 mg
Pencegahan influenza
_ dewasa dan dewasa muda 13 tahun keatas 75 mg sekali sehari selama 7 hari.
Terapi
diberikan sesegera mungkin setelah terpapar secara individual.
_ selama terjadi epidemi influenza: 75 mg sehari sampai dengan 6 minggu.
_ keamanan dan efektifitas oseltamivir pada anak usia dibawah 12 tahun belum
dapat
dibuktikan.
Pada gangguan fungsi hati tidak ada penyesuaian dosis
Pada gangguan fungsi ginjal
Dosis terapi:
_ penderita dengan creatinin clearens 10 - 30 ml/menit : 75 mg tiap 2 hari.
_ tidak dianjurkan pada penderita dengan creatinin clearens _10 ml/menit dan
pasien
dialisa.
Dosis pencegahan:
_ pada creatinin clearens 10 – 30 ml/ menit: 75 mg tiap 2 hari atau 30 mg suspensi
sekali sehari.
_ tidak dianjurkan pada penderita dengan creatinin clearens _10 ml/menit dan
pasien
yang mengalami dialisa.
Manula tidak ada penyesuaian dosis kecuali jika ada kerusakan ginjal parah
KONTRA INDIKASI
Pasien hipersensitif terhadap Oseltamivir dan komponen tablet TAMIFLU
PERINGATAN DAN PERHATIAN
Keamanan dan efikasi untuk pengobatan pada anak dibawah 1 tahun dan
pencegahan
pada anak dibawah 12 tahun belum dapat ditentukan.
Keamanan dan efikasi pada pasien immunocompromise belum dapat ditentukan.
Keamanan dan efikasi untuk pengobatan pada penderita penyakit jantung kronis
dan atau
penyakit saluran nafas belum dapat ditentukan.
Tidak dapat digunakan sebagai pengganti imunisasi influenza.
Pada penderita gangguan ginjal berat dilakukan penyesuaian dosis.
INTERAKSI OBAT
Belum ada data yang cukup untuk keamanan penggunaan oseltamivir pada wanita
hamil
dan menyusui.
Jika menggunakan obat ini, jangan mengemudikan kendaraan atau menjalankan
mesin.
EFEK SAMPING
Pada terapi dan pencegahan untuk dewasa, dewasa muda dan manula: mual,
muntah,
diare dan nyeri lambung, bronkhitis, pusing, kelelahan, sakit kepala, insomnia.
Pada anak-anak: mual, muntah dan nyeri lambung, otitis media, pneumonia,
sinusitis,
bronkhitis, asma, mimisan, ear disorder, tympanic membrane disorder, dermatitis,
lymphadenophaty dan conjunctivitis.
Efek samping yang dilaporkan selama post market: dermatitis, kemerahan,
eksema,
urtikaria, reaksi hipersensitif termasuk anaphylactic, jarang ditemukan stevens
johnson
syndrome dan erythema multiforme, kelainan fungsi hati termasuk hepatitis dan
peningkatan enzim hati.
J. ASPEK KOMUNITAS
Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus
yang
merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat
dan bantuan
sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan,
meningkatkan
kesehatan, penyempumaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi,
pencegahan
penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang
mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan.
Paradigma Keperawatan Komunitas
Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat komponen pokok, yaitu
manusia,
keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins, 1987). Sebagai sasaran
praktik
keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat.
1. Individu Sebagai Klien
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek
biologi,
psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien, pada
dasarnya
memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi
dan
spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan,
kurangnya kemauan menuju kemandirian pasien/klien.
2. Keluarga Sebagai Klien
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus
menerus
dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara
bersama-sama,
di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga
dalam
fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan
fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi
diri.
Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu fokus
pelayanan
keperawatan yaitu :
a. Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan lembaga yang
menyangkut kehidupan masyarakat.
b. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, memperbaiki
ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam kelompoknya sendiri.
c. Masalah kesehatan didalam keluarga saling berkaitan. Penyakit yang diderita
salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga
tersebut.
3. Masyarakat Sebagai Klien
Masyarakat memiliki ciri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur oleh adat istiadat,
norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat mengikat
semua
warga.
Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komunitas didefenisikan sebagai
kemampuan
melaksanakan peran dan fungsi dengan efektif. Kesehatan adalah proses yang
berlangsung mengarah kepada kreatifitas, konstruktif dan produktif. Menurut Hendrik
L.
Bulum ada empat faktor yang mempengaruhi kesehatan, yaitu lingkungan, perilaku,
pelayanan kesehatan dan keturunan. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan
lingkungan sosial. Lingkungan fisik yaitu lingkungan yang berkaitan dengan fisik
seperti
air, udara, sampah, tanah, iklim, dan perumahan. Contoh di suatu daerah
mengalami
wabah diare dan penyakit kulit akibat kesulitan air bersih. Keturunan merupakan
faktor
yang telah ada pada diri manusia yang dibawanya sejak lahir, misalnya penyakit
asma.
Keempat faktor tersebut saling berkaitan dan saling menunjang satu dengan yang
lainnya
dalam menentukan derajat kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Fokus Keperawatan Komunitas
1. Aspek interpersonal: hubungan didalam keluarga. Pada kasus ini contohnya,
dimana keluarga
pasien harus memberi perhatian yang lebih untuk si pasien, jangan menjauhinya.
Perawat
menjelaskan pada keluarga, meskipun penyakit ini menular, tapi si pasien harus
diberikan
perhatian.
2. Aspek social: hubungan keluarga dengan masyarakat sekitarnya. Teman-
temannya jangan
menjauhi. Jangan membatasi pergaulan, tapi harus menjaga sikapnya.
3. Aspek procedural: melatih keterampilan dasar keluarga sehingga mampu
mengatasi
perubahan yang terjadi. Misalnya menjaga asupan gizinya, memberikan
pemahaman
kepada keluarga tentang flu babi dengan tapat.
4. Aspek teknis: melatih keluarga teknik teknik dasar yang mampu dilakukan
keluarga
dirumah Mengajarkan batuk efektif. Pemberian obat yang teratur, jangan sampai
lupa,
pengompresan saat panas. Menyediakan kamar yg dapat dimasuki cahaya.
Konsep pencegahan penyakit pada keperawatan komunitas :
1. Primer: healthy promotion dan spesifik protection
Healthy promotion: promosi kesehatan dengan melakukan penyuluhan
Spesfik protection: melakukan Vaksin
2. Sekunder: early diagnosis trethment dan disability
Early diagnosis trethment: diagnosis lebih awal dan penangan yang tepat.
Disability: mengurangi ketidakmampuan pasien.
3. Tersier: rehabilitasi pasien yang sudah sembuh.
BAB IV
KESIMPULAN
Flu babi adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza
tipe A
termasuk family orthomyxoviridae. Penyakit ini menyrang saluran pernapasan atas
manusia.
Meskipun gejalanya tidak separah virus flu babi namun penyakit ini mempunyai
tingkat
kematian yang tinggi.
Virus ini pertama kali muncul dan diisolasi dari seekot babi pada tahun 1930 di
amerika
serikat. Pada perkemangannya penyakit ini berpindah kemanusia terutama
menyerang mereka
yang kontak dengan babi. Lama tak terdengar, virus ini muncul kembali ditahun
2009 da sudah
sampai di Indonesia.
Sebenarnya untuk penanganan penyakit ini hanya terletak pada pencegahannya.
Apabila
upaya pencegahan yang dilakukan para petugas kesehatan di Indonesia ini dapat
dilakukan
dengan maksimal, virus ini dapat diminimalisir penularannya.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada penderita swine influenza ini antara lain:
a) Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan
rhinorhea.
b) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya cairan tubuh dengan
kebutuhan ditandai dengan diare.
c) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat
absorbsi
nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan.
d) Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan
peningkatan temperatur tubuh.
e) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas
seharihari
ditandai dengan adanya nyeri.
f) Resiko pola napas tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa
oksigen.
DAFTAR PUSTAKA
Capernito,Linda juall.2001.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta.EGC
Corwin,Ellizabetz,2001.Buku Saku Patofisiologi.Jakarta.EGC
Doengoes,1999.Perencanaan Asuhan Keperawatan.Jakartan.EGC
http://beingmom.org/index.php/2006/12/08/penjelasan-imunisasi/
http://wikipedia.org
http://www.freelists.org/archives/ppi/03-2004/msg00000.html
http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=15HI setempat.
http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0204/26/cakrawala/laput1.
http://www.pppl.depkes.go.id/catalogcdc/kamus_detail_klik.asp?abjad=P&id=20051
11810220104830710&count=13&page=1