Anda di halaman 1dari 4

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT

NOMOR : 179/RSQ/Dir-SK/XII/2016

TENTANG

KEBIJAKAN PEMBENTUKAN KOMITE FARMASI DAN TERAPI

RUMAH SAKIT

DIREKTUR RUMAH SAKIT

MENIMBANG : a. Bahwa dalam rangka meningkatkan mutu Rumah Sakit dan melaksanakan Visi dan
Misi Rumah Sakit , maka dipandang perlu untuk dibentuk Komite Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit

b. Bahwa dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, perlu ditetapkan dengan surat keputusan.

MENGINGAT : 1. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

2. Peraturan Presiden RI No. 77 Tahun 2015 tentang

Pedoman Organisasi Rumah Sakit.

3. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 72 tahun 2016 tentang Pelayanan Kefarmasian di Rumah
Sakit.

4. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1197 tahun

2004, tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.

5. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 631 tahun 2015 tentang Pedoman Peraturan Internal Staf
Medis di Rumah Sakit.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN :

KESATU : Membentuk Komite Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit sebagaimana terlampir.

KEDUA : Semua pihak yang terkait dalam Komite

Farmasi dan Terapi

Rumah Sakit tersebut wajib melaksanakannya dengan penuh dedikasi dan tanggung

jawab.

KETIGA : Komite Farmasi dan Terapi Rumah Sakit , mempunyai tugas pokok sebagai berikut:

1. Menyusun program kerja tentang farmasi dan terapi di RS. .

2. Melaksanakan usaha – usaha peningkatan mutu pelayanan farmasi dan terapi di RS.

3. Melaporkan hasil kegiatan Komite Farmasi dan Terapi kepada Wadir. Pelayanan & Medis.

KEEMPAT : Kebijakan ini berlaku selama 3 tahun dan akan dilakukan evaluasi minimal 1 tahun sekali.

KELIMA : Apabila hasil evaluasi mensyaratkan adanya perubahan, maka akan dilakukan perubahan
dan perbaikan sebagaimana mestinya.
TEMBUSAN Yth :

1. Wadir Pelayanan Medis

2. Komite Medis

3. Seluruh Dokter di Rumah Sakit

4. Kepala Bagian Keperawatan

5. Seluruh Kepala Ruang Keperawatan

6. Instalasi Farmasi

7. Arsip

LAMPIRAN SURAT PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT

NOMOR : 179/RSQ/Dir-SK/XII/2016

TANGGAL : 30 Desember 2016

Pengertian

Komite Farmasi dan Terapi adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara para staff
medis dengan farmasi sehingga anggotanya terdiri dari para dokter yang mewakili spesialisasi –
spesiliasi yang ada di rumah sakit dan apoteker wakil dari farmasi rumah sakit,

serta tenaga kesehatan lainnya.

Ketua komite farmasi dan terapi dipilih dari dokter yang ada jika ada ahli Farmakologi klinik maka
sebagai ketua. Sekretaris Apoteker dari IFRS. Mengadakan rapat secara teratur sedikitnya 2 (dua)
bulan sekali. Untuk RS besar 1(satu) bulan sekali.

1. Tujuan

Menerbitkan kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat serta evaluasinya. Melengkapi
staff fungsional di bidang kesehatan dengan pengetahuan terbaru yang berhubungan dengan obat
dan penggunaan obat sesuai dengan kebutuhan.

2. Kebijakan

a. Mengatur penggunaan obat dirumah sakit sesuai dengan peraturan yang berlaku.

b. Memberikan rekomendasi pada pimpinan Rumah Sakit untuk mencapai budaya pengelolaan dan
penggunaan obat secara rasional.

c. Khusus untuk pasien kelas tiga agar menggunakan obat generik.

3. Landasan Hukum

a. KEPMENKES no. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang standar pelayanan farmasi.

b. Peraturan Presiden RI no 77 tahun 2015 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit.

c. KEPMENKES no. 631/Menkes/SK/IV/2015 tentang pedoman peraturan internal staff medis di


rumah sakit.

4. Kewajiban Komite Farmasi dan Terapi


a. Memberikan rekomendasi pada pimpinan rumah sakit untuk mencapai budaya pengelolaan dan
pengunaan obat secara rasional.

b. Mengkoordinir pembuatan pedoman diagnosis dan terapi, formularium rumah sakit, penggunaan
obat antibiotik dan lain - lain.

c. Melaksanakan pendidikan dalam bidang pengelolaan dan penggunaan obat terhadap pihak –
pihak yang terkait.

d. Melaksanakan pengkaijan pengelolaan dan penggunaan obat dan memberikan umpan balik atas
hasil pengkajian tersebut.

5. Pedoman Pembuatan Formularium

a. Membuat Formularium di rumah sakit berdasarkan efek terapi keamanan serta harga obat dan
juga harus meminimalisasi duplikasi dalam tipe obat, kelompok dan produk yang sama.

b. Mengajukan Formularium kepada Wadir Pelayanan.

c. Mengevaluasi untuk produk baru dan merevisi formularium tiap 3 tahun sekali.

d. Membantu instalasi farmasi dalam mengembangkan tinjauan terhadap kebijakan – kebijakan dan
peraturan – peraturan mengenai obat dirumah sakit sesuai peraturan yang berlaku.

e. Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat dirumah sakit dengan mengkaji Medical Record
dibandigkan dengan standar diagnosa dan terapi (tinjauan ini dimaksud untuk meningkatkan secara
terus menerus penggunaan secara rasional).

f. Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat.

g. Menyebar luaskan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada staf medis dan perawat.

6. Struktur Organisasi Komite Farmasi dan Terapi

Ketua :

Wakil Ketua :

Sekretaris :

Anggota :

7. Fungsi dan Ruang Lingkup

a. Mengembangkan formularium di Rumah Sakit dan merevisinya. Pemilihan obat untuk dimasukkan
dalam formularium harus didasarkan pada evaluasi secara subjektif, terhadap efek terapi, keamanan
serta harga obat dan juga harus meminimalkan duplikasi dalam tipe obat, kelompok dan produk
obat yang sama.

b. Komite Farmasi dan Terapi harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk obat baru
atau dosis obat yang disusulkan oleh anggota staf medis.

c. Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di Rumah Sakit

d. Membantu instalasi dalam mengembangkan tinjauan terhadap kebijakan – kebijakan dan


peraturan – peraturan mengenai penggunaan obat di rumah sakit sesuai peraturan yang berlaku
secara lokal maupun nasional.
e. Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat di rumah sakit dengan mengkaji medical record
dibandingkan dengan standar diagnosa dan terapi. Tinjauan ini dimaksudkan untuk meningkatkan
secara terus – menerus penggunaan obat secara nasional.

f. Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat.

g. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada staf medis dan perawat.

8. Tugas Apoteker Dalam Komite Farmasi dan Terapi

a. Sebagai Sekretaris.

b. Menetapkan jadwal pertemuan.

c. Mengajukan / menyusun acara yang akan dibahas dalam pertemuan.

d. Menyiapkan dan memberikan informasi yang dibutuhkan untuk pembahasan dalam pertemuan.

e. Mencatat semua hasil keputusan dalam pertemuan dan melaporkan kepada Wadir Pelayanan
Medis.

f. Menyebarluaskan keputusan yang sudah disetujui oleh Wadir Pelayanan Medis kepada seluruh
pihak yang terkait.

g. Melaksanakan keputusan – keputusan yang sudah disepakati dalam pertemuan.