Anda di halaman 1dari 1

Analisa puisi “TAPI” karya Sutadji. C.

Bachri :

1. Tema
Tema dari puisi “Tapi” adalah tentang pertentangan si Aku dengan si Kau. Tentang
pertentangan ini memiliki arti luas, bisa saja tema ini bertentang kisah Asmara atau Kasmaran
sebab adanya pengorbanan si Aku terhadap si Kau tetapi selalu ditolak atau adanya penolakan.
Misalnya si Aku membawakan bunga ke pada si Kau tapi ditolak sebab ada kata “Tapi”. Namun
bisa juga bertema tentang Ke-Tuhanan sebab adanya ketidak sejajaran si Aku terhadap si Kau
seperti hubungan antara seorang manusia atau hamba dengan penciptannya atau Tuhan-nya. Dengan
si Aku menjadi hamba yang selalu membawakan sesuatu tapi selalu kandas. Sejatinya seorang
hamba tidak akan membawakan apa-apa untuk sang penciptanya atau Tuhan-nya.
2. Isi
Isi/ Analisa dari puisi “Tapi” karangan Sutadji. C. Bachri bisa dilihat dari beberapa sudut :
a) Dari sudut Ketuhanan. Dalam sudut ini, si Aku digambarkan sebagai Hamba dan si
Kau digambarkan sebagai Penciptanya yang sudah jelas kedudukannya tidak akan
pernah sejajar. Jelas seorang Hamba tidak mungkin membawa bunga (bisa dilihat
pada baris 1 bait 10 atau yang lainnya. Sejatinya seorang Hamba tidak akan
membawakan apa-apa untuk sang Penciptanya yang bisa dilihat dari kandasnya yang
dibawakan si Aku dengan kata “Tapi”.
b) Dari sudut Asmara/Kasmaran. Didalam puisi tersebut bisa saja si Aku ingin
mengejar si Kau atau bisa juga adanya pertentangan hubungan antara si Aku dan si
Kau yang sudah menjalin hubungan sebelumnya, yaitu dibuktikan dengan dengan
pengorbanan si Aku terhadap si Kau dengan kata kata membawakan bunga, resah,
darah, mimpi dan lain-lainnya. Namun si Kau menolak dengan kata “Tapi” dan
diikuti dengan alasan-alasan seperti kata “masih”, “hanya”, “cuma” dan lain-lain.
c) Dari segi gaya bahasanya atau majas, puisi ini menggunakan majas hiperbola yaitu
melebih-lebihkan. Bisa dilihat dari kata “mayat” dari sudut Ketuhanan, mana
mungkin si Aku yang menjadi manusia membawa mayatnya sendiri. Dan begitu
puka dengan kata “ Arwah”.
d) Dari segi tanda bacanya, puisi tersebut tidak diawali dengan huruf kapital kecuali
judul dan tidak diakhiri tanda baca titik (.) yang bisa dapat diartikan bahwa kesetian
Hamba kepada Penciptanya tidak ada akhirnya. Dan yang hanya ada tanda baca (!)
yang bisa dapat diartikan seorang Hamba harus mematuhi perintah Tuhan-nya.
e) Puisi menggunakan konjungsi Tapi.