Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

PERILAKU KEKERASAN

Oleh :
Fatimatussany
17 1101 1058

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2018
LAPORAN PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN
a. Menurut Kelliat 1995, amuk merupakan kemarahan yang paling
maladaftip yang ditandai dengan perasaan marah dan bermusuhan yang
kuat disertai hilangnya kontrol individu dimana individu tersebut dapat
merusak dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan.
b. Menurut Townsend 2000, amuk (aggresion) adalah tingkah laku yang
bertujuan untuk mengancam atau melukai diri sendiri dan orang lain juga
diartikan sebagai perang atau menyerang.
c. Menurut Varcolaris 1994, amuk adalah tindakan kekerasan yang
bertujuan untuk menyelesaikan tujuan dimana individu tidak dapat
menemukan cara lain, biasanya dipicu oleh perasaan marah, frustasi dan
harga diri rendah.

Jadi berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat kita simpulkan
bahwa amuk merupakan suatu tindakan kekerasan yang dapat membayakan
diri sendiri maupun orang lain yang ditandai dengan ekspresi kemarahan,
melakukan tindakan yang berbahaya, mengeluarkan kata-kata ancaman dan
melukai dari tahap yang paling ringan sampai berat/serius.

B. RENTANG RESPON

Respon adaptif Respon Maladaptif

Asertif Frustrasi Pasif Agresif Kekerasan

1. Respon marah yang adaptif meliputi :


a. Pernyataan (Assertion)
Respon marah dimana individu mampu menyatakan atau
mengungkapkan rasa marah, rasa tidak setuju, tanpa menyalahkan
atau menyakiti orang lain. Hal ini biasanya akan memberikan
kelegaan.
b. Frustasi
Respons yang terjadi akibat individu gagal dalam mencapai tujuan,
kepuasan, atau rasa aman yang tidak biasanya dalam keadaan tersebut
individu tidak menemukan alternatif lain.

2. Respon marah yang maladaptif meliputi :


a. Pasif
Suatu keadaan dimana individu tidak dapat mampu untuk
mengungkapkan perasaan yang sedang di alami untuk menghindari
suatu tuntutan nyata.
b. Agresif
Perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan individu
untuk menuntut suatu yang dianggapnya benar dalam bentuk
destruktif tapi masih terkontrol.
c. Amuk dan kekerasan
Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai hilang kontrol,
dimana individu dapat merusak diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan.

C. ETIOLOGI
Untuk menegaskan keterangan diatas, pada klien gangguan jiwa, perilaku kekerasan
bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga diri adalah
penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh
perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan
sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal
mencapai keinginan.

D. TANDA DAN GEJALA


1. Klien mengatakan benci / kesal dengan seseorang
2. Suka membentak
3. Menyerang orang yang sedang mengusiknya jika sedang kesal atau kesal
4. Mata merah dan wajah agak merah
5. Nada suara tinggi dan keras
6. Bicara menguasai
7. Pandangan tajam
8. Suka merampas barang milik orang lain

E. MEKANISME SEBAB AKIBAT


1. Sebab : Gangguan Konsep Diri : Harga diri rendah
Harga diri rendah adalah perilaku negatif terhadap diri dan perasaan
tentang diri atau kemampuan diri yang negatif, yang dapat diekspresikan
secara langsung maupun tak langsung. (Towsend, M.C. 1998). Harga diri
klien yang rendah menyebabkan klien merasa malu, dianggap tidak
berharga dan berguna. Klien kesal kemudian marah dan kemarahan
tersebut diekspresikan secara tak konstruktif, seperti memukul orang lain,
membanting-banting barang atau mencederai diri sendiri.
a. Tanda dan Gejala
1) Mengejek dan mengkritik diri sendiri
2) Merendahkan atau mengurangi martabat diri sendiri
3) Rasa bersalah atau khawatir
4) Manifestasi fisik : tekanan darah tinggi, psikosomatik, dan
penyalahgunaan zat.
5) Menunda dan ragu dalam mengambil keputusan
6) Gangguan berhubungan, menarik diri dari kehidupan social
7) Menarik diri dari realitas
8) Merusak diri
9) Merusak atau melukai orang lain
10) Kebencian dan penolakan terhadap diri sendiri.
2. Akibat : Resiko menciderai diri sendiri orang lain dan lingkungan
a. Pengertian : Suatu keadaan dimana seorang individu melakukan suatu
tindakan yang dapt membahayakan bagi keselamatan jiwanya maupun
orang lain disekitarnya (Townsend, 1994). Klien dengan perilaku
kekerasan menyebabkan klien berorientasi pada tindaakan untuk
memenuhi secara listrik tuntutan situasi stress, klien akan berperilaku
menyerang, merusak diri sendiri, orang lain maupun lingkungan
sekitar.
b. Tanda dan Gejala
1) Adanya peningkatan aktifitas motorik
2) Perilaku aktif ataupun destruktif
3) Agresif

F. FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI


1. Faktor Predisposisi
Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan factor
predisposisi, artinya mungkin terjadi perilaku kekerasan jika factor
berikut di alami oleh individu:
a. Faktor psikologis
1) Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mendapat suatu tujuan
mengalami hambatan akan timbul dorongan agresif yang
memotivasi PK.
2) Berdasarkan penggunaan mekanisme koping individu dan masa
kecil yang tidak menyenangkan.
3) Frustasi
4) Kekerasan dalam rumah atau keluarga.

b. Faktor sosial budaya


Seseorang akan berespons terhadap peningkatan emosionalnya secara
agresif sesuai dengan respons yang dipelajarinya. Sesuai dengan teori
menurut Badura bahwa agresi tidak berbeda dengan respons-respons
yang lain. Faktor ini dapat dipelajari melalui observasi atau imitasi,
dan semakin sering mendapat penguatan maka semakin besar
kemungkinan terjadi. Budaya juga dapat memengaruhi perilaku
kekerasan. Adanya norma dapat membantu mendefinisikan ekspresi
marah yang dapat diterima yang tidak dapat diterima.
c. Faktor biologis
Berdasarkan hasil penelitian pada hewan, adanya pemberian stimulus
elektris ringan pada hipotalamus(pada sistem limbik) ternyata
menimbulakn perilaku agresif, dimana jika terjadi kerusakan fungsi
limbik(untuk emosi dan perilaku), lobus frontal(untuk pemikiran
rasional), dan lobus temporal(untuyk interpretasi indra penciuman dan
memori) akan menimbulkan mata terbuka lebar, pupil berdilatasi, dan
hendak menyerang objek yang ada disekitarnya.

2. Faktor Presipitasi
Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam, baik
berupa injury secara fisik, psikis, atau ancaman konsep diri. Beberapa faktor
pencetus perilaku kekerasan adalah sebagai berikut.
a. Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kehidupan
yang penuh dengan agresif dan masa lalu yang tidak menyenangkan.
b. Interaksi : penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti,
konflik, merasa terancam baik internal dari permasalahan diri klien
sendiri maupun eksternal dari luar.
c. Lingkungan : panas, padat, dan bising

G. TINGKAH LAKU
1. Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebar.
2. Memaksakan kehendak, merampas makanan, memukul jika tidak senang
perilaku yang berkaitan dengan marah antara lain :
a. Menyerang atau menghindar (flight or fight)
Timbul karena kegiatan sistem saraf otonom bereaksi terhadap sekresi
epineprin menyebabkan tekanan darah meningkat, takikardi, wajah
merah, pupil melebar, mual, sekresi HCL meningkat, peristaltik usus
menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat, konstipasi,
kewaspadaan meningkat disertai ketegangan otot, seperti rahang
terkatub, tangan dikepal, tubuh menjadi kaku dan disertai reflek yang
cepat.
b. Menyatakan dengan jelas (assertiveness)
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan
kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif, agresif dan asertif. Perilaku
asertif adalah cara yang terbaik untuk mengekspresikan marah
disamping dapat dipelajari juga akan mengembangkan pertumbuhan
diri pasien.
c. Memberontak (acting out)
Perilaku biasanya disertai kekerasan akibat konflik perilaku acting out
untuk menarik perhatian orang lain.
d. Amuk atau kekerasan (violence)
Perilaku dengan kekerasan atau amuk dapat ditujukan pada diri sendiri,
orang lain maupun lingkungan.

H. MEKANISME KOPING
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diharapkan pada
penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelasaian masalah langsung dan
mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri (tuart dan
sundeen, 1998)
Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk
melindungi diri antara lain :
1. Sublimasi : menerima suatu sasaran pengganti yang mulia. Artinya
dimata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan
penyaluranya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah
melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas remas
adona kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuanya adalah untuk
mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
2. Proyeksi : menyalahkan orang lain kesukaranya atau keinginanya yang
tidak baik, misalnya seorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia
mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik
menuduh bahwa temanya tersebut mencoba merayu, mencumbunya
3. Represi : mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan
masuk kealam sadar. Misalnya seorang anak yang sangat benci pada
orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau
didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua
merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh tuhan. Sehingga
perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakanya.
4. Reaksi formasi : mencegah keinginan yang berbahaya bila di
ekspresikan. Dengan melebih lebihkan sikap dan perilaku yang
berlawanan dan menggunakanya sebagai rintangan. Misalnya seseorang
yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut
dengan kuat.
Deplacement : melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan.
Pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang
membangkitkan emosi itu. Misalnya : timmy berusia 4 tahun marah
karena ia baru saja mendapatkan hukuman dari ibunya karena
menggambar didinding kamarnya. Dia mulai bermai perang-perangan
dengan temanya.

Sumber Koping
Menurut Suart Sundeen 1998 :
1. Aset ekonomi
2. Kemampuan dan keahlian
3. Tehnik defensif
4. Sumber sosial
5. Motivasi
6. Kesehatan dan energi
7. Kepercayaan
8. Kemampuan memecahkan masalah
9. Kemampuan sosial
10. Sumber sosial dan material
11. Pengetahuan
12. Stabilitas budaya
I. PENATALAKSANAAN UMUM
1. Farmakoterapi
Klien dengan ekspresi marah perlu perawatan dan pengobatan yang tepat.
Adapun pengobatan dengan neuroleptika yang mempunyai dosis efektif
tinggi contohnya Clorpromazine HCL yang berguna untuk
mengendalikan psikomotornya. Bila tidak ada dapat digunakan dosis
efektif rendah, contohnya Trifluoperasine estelasine, bila tidak ada juga
maka dapat digunakan Transquilizer bukan obat anti psikotik seperti
neuroleptika, tetapi meskipun demikian keduanya mempunyai efek anti
tegang, anti cemas, dan anti agitasi.
2. Terapi Okupasi
Terapi ini sering diterjemahkan dengan terapi kerja, terapi ini bukan
pemberian pekerjaan atau kegiatan itu sebagai media untuk melakukan
kegiatan dan mengembalikan kemampuan berkomunikasi, karena itu
dalam terapi ini tidak harus diberikan pekerjaan tetapi segala bentuk
kegiatan seperti membaca Koran, main catur dapat pula dijadikan media
yang penting setelah mereka melakukan kegiatan itu diajak berdialog
atau berdiskusi tentang pengalaman dan arti kegiatan uityu bagi dirinya.
Terapi ini merupakan langkah awal yangb harus dilakukan oleh petugas
terhadap rehabilitasi setelah dilakukannyan seleksi dan ditentukan
program kegiatannya.
3. Peran serta keluarga
Keluarga merupakan system pendukung utama yang memberikan
perawatan langsung pada setiap keadaan(sehat-sakit) klien. Perawat
membantu keluarga agar dapat melakukan lima tugas kesehatan, yaitu
mengenal masalah kesehatan, membuat keputusan tindakan kesehatan,
memberi perawatan pada anggota keluarga, menciptakan lingkungan
keluarga yang sehat, dan menggunakan sumber yang ada pada
masyarakat. Keluarga yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah
akan dapat mencegah perilaku maladaptive (pencegahan primer),
menanggulangi perilaku maladaptive (pencegahan skunder) dan
memulihkan perilaku maladaptive ke perilaku adaptif (pencegahan
tersier) sehingga derajat kesehatan klien dan kieluarga dapat ditingkatkan
secara opti9mal. (Budi Anna Keliat,1992).
4. Terapi somatic
Menurut Depkes RI 2000 hal 230 menerangkan bahwa terapi somatic
terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan
mengubah perilaku yang mal adaftif menjadi perilaku adaftif dengan
melakukan tindankan yang ditunjukkan pada kondisi fisik klien, tetapi
target terapi adalah perilaku klien
5. Terapi kejang listrik
Terapi kejang listrik atau elektronik convulsive therapy (ECT) adalah
bentuk terapi kepada klien dengan menimbulkan kejang grand mall
dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempatkan pada
pelipis klien. Terapi ini ada awalnya untukmenangani skizofrenia
membutuhkan 20-30 kali terapi biasanya dilaksanakan adalah setiap 2-3
hari sekali (seminggu 2 kali).
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Faktor predisposisi
a. Riwayat kelahiran dan tumbuh kembang (biologis).
b. Trauma karena aniaya fisik, seksual atau tindakan kriminal.
c. Tindakan antisosisal.
d. Penyakit yang pernah diderita.
e. Gangguan jiwa dimasa lalu
f. Pengadaan sebelumnya.
1) Aspek psikologis
Keluarga, pengasuh, lingkungan klien sangat mempengaruhi respon
psiklogis klien. Sikap atau keadaan yang dapat memepengaruhu
jiwa amuk adalah: penolakan dan kekerasan dalam kehidupan
klien. Pola asuh pada usia anak-anak yang tidak adekuat misalnya
tidak ada kasih sayang , diwarnai kekerasan dalam keluarga
merupakan resiko gangguan jiwa amuk.
2) Aspek sosial budaya
Kemiskinan, konflik sosial budaya, kehidupan terisolasi, disertai
strees yang menumpuk, kekerasan dan penolakan.
3) Aspek spiritual
Klien merasa berkuasa dan dirinya benar, tidak bermoral.
2. Faktor fisik
a. Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, diagnosa medis, pendidikan
dan pekerjaan.
b. Keturunan
Adalah keluarga berpenyakit sama seperti klien atau gangguan jiwa
lainya, jika ada sebutkan.
c. Proses psikologis
1) Riwayat kesehatan masa lalu
a) Apakah klien pernah sakit/ kecelakaan
b) Apakah sakit tersebut mendadak/ menahun dan meninggalkan
cacat.
2) Bagaimana makan minum klien
3) Istirahat tidur
4) Pola BAB/BAK
5) Latihan
6) Pemeriksaan fisik
a) Fungsi sistem, seperti pernapasan, kardiovaskular,
gastrointestinal, genitourineri, integumen dan paru udara.
b) Penampilan fisik, berpakaian rapi/tidak rapi, bersih, postur
tubuh (kaku, lemah, rileks, lemas).
3. Faktor emosional
Klien merasa tidak aman, merasa terganggu, dendam, jengkel.
4. Faktor mental
Cenderung mendominasi, cerewet, kasar, keremehan dan suka berdebat.
5. Latihan
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

B. MASALAH KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi kekeasan: mencedarai diri sendiri/ orang lain ybd perilaku
kekerasan.
2. Koping keluarga tidak efektif: gangguan persepsi

C. PERENCANAAN
1. Resiko menciderai diri dan orang lain b.d perilaku kekerasan.
TUM : Klien dapat melanjutkan peran sesuai dengan tanggung jawab.
TUK : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria hasil :
a. Klien mau menjawab salam
b. Klien mau menjabat tangan
c. Klien mau menyabutkan nama
d. Klien mau tersenyum
e. Ada kontak mata
f. Mau mengetahui nama perawat
g. Mau menyediakan waktu untuk kontak
Intervensi :
a. Memberi salam atau panggil nama klien
b. Sebutkan nama perawat sambil menjabat tangan
c. Jelaskan tujuan interaksi
d. Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat
e. Beri sikap aman dan empati
f. Lakukan kontrak singkat tapi sering
TUK 2 : Klien dapat mengnidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
Kriteria Evaluasi :
a. Klien dapat mengungkapkan perasaannya
b. Klien dapat mengungkapkan penyebab marah, baik dari diri sendiri
nmaupun orang lain dan lingkungan.
Intervensi :
a. Anjurkan klien mengnungkapkan yang dialami saat marah.
b. Obsevasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien.
c. Simpulkan tanda-tanda jengkel atau kesal yang dialami klien.
TUK 3 : klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
Kriteria Evaluasi :
a. Klien dapat mengunngkapkan yang dialami saat marah.
b. Klien dapat menyimpulkan tanda-tanda marah yang dialami.
Intervensi :
a. Anjurkan klien mengnungkapkan yang dialami saat marah.
b. Obsevasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien.
c. Simpulkan tanda-tanda jengkel atau kesal yang dialami klien.
TUK 4 : Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan.
Kriteria evaluasi :
a. Klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan
b. Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan.
c. Klien dapat mengetahui cara yang biasa dapat menyelesaikan
masalah atau tidak.
Intervensi :
a. Anjurkan klien mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan.
b. Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang
biasa dilakukan.
c. Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan
masalahnya selesai.
TUK 5: Klien dapat mengidentifikasi akibat dari perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi : Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang
digunakan klien.
Intervensi :
a. Berbicara akibat atau kerugian dari cara yang dilakukan klien.
b. Bersama klien menyimpulkan akibat cara yang digunakan oleh klien.
c. Tanyakan pada klien ”Apakah ia ingin mempelajari cara baru yang
sehat”.
TUK 6 : Klien dapat mengidentifikasi cara kontruktif dalam berespon
terhadap kemarahan.
Kriteria evaluasi :
Klien dapat melakukan cara berespon terhadap kemarahan secara
konstruktif.
Intervensi :
a. Tanyakan pada klien ”Apakah ia ingin mempelajari cara baru yang
sehat”.
b. Berikan pujian jika klien mengetahui cara lain yang sehat.
c. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat :
1) Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal atau memukul
bantal atau kasur atau olahraga atau pekerjaan yang memerlukan
tenaga.
2) Secara verbal : katakan bahwa anda sedang kesal atau
tersinggung atau jengkel (saya kesal Anda berkata seperti itu :
saya marah karen mami tidak memenuhi keinginan saya).
3) Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang
sehat ; latihan asertif.
4) Secara spiritual : anjurkan klien sembahyang, berdoa atau
ibadah lain meminta pada Tuhan untuk beri kesabaran, mengadu
pada Tuhan kekerasan atau kejengkelan.
TUK 7 : Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku
kekerasan.
Kriteria evaluasi :
a. Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
Fisik : tarik nafas dalam olahraga menyiram tanaman,
Verbal : mengatakan secara langsung dengan tidak menyakiti.
Spiritual : sembahyang, berdoa atau ibadah klien.
Intrevensi :
a. Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien.
b. Bantu klien mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih.
c. Bantu klien untuk memaksimulasi cara tersebut (role play).
d. Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien mensimulasi cara
tersebut.
e. Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat
jengkel atau marah.
D. IMPLEMENTASI
Ada 5 prinsip utama dalam pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien
khususnya, pada kien amuk/ kekerasan yaitu:
1. Psikoterapiutik
a. Membina hubungan saling percaya
b. Membantu meningkatkan harga diri
c. Membantu koping klien
2. Lingkungan terapiutik
a. Lingkungan yang bersahabat
b. Pujian atas keberhasilan klien
3. Kegiatan hidup sehari-hari
a. Membantu memenuhi aktivitas sehari-hari
b. Membimbing klien dalam perawatan diri.
4. Somatik
Memberi obat sesuai ketentuan, membujuk klien untuk minum obat.
5. Pendidikan kesehatan
a. Membantu klien mengenal penyakitnya.
b. Mengikutsertakan keluarga dalam mengatasi masalah klien.

E. EVALUASI
1. Pada klien
a. Klien tidak menciderai diri dan orang lain.
b. Klien mampu mempertahankan hubungan akrab dengan orang lain.
c. Klien mampu merawat diri secara optimal.
d. Klien dapat mengontrol terjadinya amuk dengasn koping aktivitas
kelompok.
2. Pada keluarga
a. keluarga dapat memberi support sistem yang positif untuk
menyembuhkan klien.
b. Keluarga mampu merawat klien
c. Keluarga mampu mengetahui kegiatan apa yang perlu klien lakukan
dirumah (buat jadwal).
d. Keluarga mengetahui cara pemberian obatdengan benar dan waktu
follow up.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Asuhan Keperawatan Jiwa Klien dengan Perilaku Kekerasan.


http://barryvanilow.blogspot.com/p/asuhan-keperawatan-jiwa-klien-
dengan.html Di akses tanggal 27 Februari 2014
Mubarok, Sofa. 2013. Askep Jiwa dengan Perilaku Kekerasan.
http://keperawatanprofesionalislami.blogspot.com/2013/02/askep-jiwa-
dengan-perilaku-kekerasan.html. Di Akses tanggal 27 Februari 2014
Septiani, Mutia. 2013. Perilaku Kekerasan.
http://akti12.blogspot.com/2013/05/perilaku-kekerasan.html. Di Akses
tanggal 27 Februari 2014.