Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK SETELAH MENGIKUTI

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK


SETELAH MENGIKUTI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

Marfi Ario 1)
1
Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Pasir Pengaraian
e-mail: marfiario@gmail.com

ABSTRACT
Mathematical reasoning ability is one of the important and fundamental skills in
mathematics. Mathematical reasoning skills students can improve through a learning
that requires involvement of the student in building his own knowledge. One is
through problem based learning. This research is a descriptive qualitative with the
aim to determine the level of mastery of mathematical reasoning abilities of students
after participating in problem based learning and determines the range of the
mistakes made by students in answering questions of mathematical reasoning
abilities. The method used is method of testing, observation, and interviews. The
results showed that students' mathematical reasoning skills after participating in
problem-based learning is good. Variety mistakes made by students are do not
understand of questions, misconceptions, mistakes perform arithmetic operations, and
error using the formula.

Keywords: Mathematical Reasoning, Problem Based Learning, Students Mistake.


PENDAHULUAN (2006) yaitu salah satunya agar peserta
Matematika merupakan salah satu didik memiliki kemampuan mengguna-
mata pelajaran wajib yang diajarkan di kan penalaran pada pola dan sifat,
bangku sekolah. Penguasaan matematika melakukan manipulasi matematika dalam
yang kuat sejak dini diperlukan untuk membuat generalisasi, menyusun bukti
dapat menguasai dan mencipta teknologi atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
di masa depan (BSNP, 2006). matematika. Baik di dalam NCTM
Curriculum and Evaluation Standards (2000) maupun BSNP (2006), penalaran
for School Mathematics dari NCTM merupakan salah satu kemampuan yang
(Wahyudin, 2008) mengarahkan tujuan harus dicapai dalam pembelajaran
umum pembelajaran matematika adalah matematika.
supaya: (1) siswa belajar menghargai Keraf (Shadiq, 2004) menyatakan
matematika; (2) siswa membangun bahwa penalaran adalah proses berpikir
kepercayaan diri terhadap kemampuan yang berusaha menghubung-hubungkan
matematika mereka; (3) siswa menjadi fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang
pemecah masalah; (4) siswa belajar diketahui menuju kepada suatu
berkomunikasi secara matematis; (5) kesimpulan. Kusumah (Mikrayanti, 2012)
siswa belajar bernalar matematis. mengartikan penalaran sebagai penarikan
Selanjutnya NCTM (2000) menyatakan kesimpulan dalam sebuah argumen dan
bahwa standar proses pembelajaran cara berpikir yang merupakan penjelasan
matematika terdiri dari pemecahan dalam upaya memperlihatkan hubungan
masalah, penalaran dan pembuktian, antara dua hal atau lebih berdasarkan
komunikasi, koneksi, dan representasi. sifat-sifat atau hukum-hukum tertentu
Tujuan pembelajaran matematika yang diakui kebenarannya, dengan
dan standar proses dari NCTM (2000) menggunakan langkah-langkah tertentu
selaras dengan tujuan pembelajaran yang berakhir dengan sebuah kesimpulan.
matematika yang dinyatakan olehBSNP

Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2 Desember 2016 125


ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK SETELAH MENGIKUTI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

Sumarmo (2013) menyatakan Begitu juga yang dikatakan Turmudi


bahwa secara garis besar penalaran (2008) bahwa penalaran dan pembuktian
matematis dapat digolongkan pada dua merupakan aspek fundamental dalam
jenis, yaitu penalaran induktif dan matematika. Lebih lanjut, Sumarmo
penalaran deduktif. Penalaran induktif (2013) mengatakan bahwa “kemampuan
adalah penalaran yang berdasarkan penalaran matematis sangat penting
sejumlah kasus atau contoh-contoh dalam pemahaman matematis, meng-
terbatas yang teramati. Penalaran eksplor ide, memperkirakan solusi, dan
deduktif adalah proses penalaran dari menerapkan ekspresi matematis dalam
pengetahuan prinsip atau pengalaman konteks matematis yang relevan, serta
umum yang menuntun kita kepada memahami bahwa matematika itu
kesimpulan untuk sesuatu yang khusus bermakna.”Memperhatikan pendapat
(Ramdani, 2012). beberapa ahli diatas, dapat kita simpulkan
Beberapa penalaran induktif bahwa penalaran merupakan hal yang
menurut Sumarmo (2013) adalah: sangat penting dalam belajar matematika.
penalaran analogi, generalisasi, estimasi Mengingat pentingnya penalaran
atau memperkirakan jawaban dan proses matematis maka perlu dilakukan analisa
solusi, dan menyusun konjektur. mendalam tentang kemampuan penalaran
Penalaran induktif di atas dapat matematis siswa. Analisa ini berupa
tergolong pada berfikir matematis tingkat penguasaan kemampuan penala-
tingkat rendah atau tinggi bergantung ran matematis siswa setelah mengikuti
pada kekompleksan situasi yang terlibat. suatu pembelajaran serta ragam kesalahan
Beberapa penalaran deduktif diantaranya siswa dalam menjawab soal-soal kemam-
adalah: melakukan operasi hitung; puan penalaran matematis. Hasil analisa
menarik kesimpulan logis; memberi ini nantinya akan berguna untuk
penjelasan terhadap model, fakta, sifat, menyusun suatu strategi atau metode
hubungan atau pola; mengajukan lawan pembelajaran yang dapat memperbaiki
contoh; mengikuti aturan inferensi; kesalahan-kesalahan yang terjadi pada
memeriksa validitas argumen; menyusun siswa. Sehingga diharapkan kemampuan
argumen yang valid; merumuskan penalaran matematis siswa dapat
definisi; dan menyusun pembuktian ditingkatkan lagi di waktu mendatang.
langsung, pembuktian tak langsung, dan Pembelajaran yang diberikan
pembuktian dengan induksi matematik. kepada siswa sebelum dilakukan analisis
Penetapan kemampuan penalaran kemampuan penalaran matematis adalah
sebagai tujuan dan visi pembelajaran pembelajaran yang menuntut siswa agar
matematika merupakan sebuah bukti belajar lebih banyak. Suatu pembelajaran
bahwa kemampuan penalaran sangat yang menjadikan siswa sebagai aktor
penting untuk dimiliki siswa. Hal ini utama dalam proses pembelajaran, bukan
diperkuat oleh pendapat Shadiq (2004) sebagai subjek yang hanya menerima
yang menyatakan bahwa kemampuan pemberian dari guru. Salah satu model
penalaran sangat dibutuhkan oleh siswa pembelajaran yang memenuhi karakter
dalam belajar matematika, karena pola tersebut adalah model pembelajaran
berpikir yang dikembangkan dalam berbasis masalah.
matematika sangat membutuhkan dan Arends (2012) menyatakan Pembe-
melibatkan pemikiran kritis, sistematis, lajaran Berbasis Masalah (PBM) tidak
logis, dan kreatif. dirancang untuk membantu guru
Wahyudin (2008) menyatakan menyampaikan informasi dengan jumlah
bahwa kemampuan penalaran sangat besar kepada siswa seperti pada
penting untuk memahami matematika. pembelajaran langsung dan ceramah.

126 Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2 Desember 2016


ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK SETELAH MENGIKUTI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

PBM dirancang terutama untuk 1. Melaksanakan pembelajaran berbasis


membantu siswa mengembangkan masalah
keterampilan berpikir, keterampilan Pembelajaran berbasis masalah
menyelesaikan masalah dan dilaksanakan sebanyak 4 pertemuan
keterampilan intelektualnya, melalui dengan masing-masing 3 jam
pengorganisasian pelajaran di seputar pelajaran. Selama pembelajaran
situasi-situasi kehidupan nyata. berlangsung, observasi dan wawacara
Dari pendapat tersebut dapat dilakukan kepada siswa terkait
diketahui bahwa pembelajaran berbasis kemampuan penalaran matematis.
masalah menuntut siswa untuk aktif 2. Membuat alat tes
dalam membangun pengetahuannya Alat tes berupa soal uraian yang
sendiri. Dalam prakteknya, pada kedua mengukur kemampuan penalaran
model pembelajaran ini, siswa akan matematis. Soal yang dibuat kemudian
dikelompokkan untuk berdiskusi divalidasi secara teoritik dan empirik.
bersama teman-temannya dalam meme- Soal yang dinyatakan valid digunakan
cahkan masalah ataupun menemukan sebagai alat tes.
konsep. Siswa akan menggunakan 3. Pelaksanaan tes
berbagai fakta yang ada, menggunakan Setelah selesai mengikuti pembelaja-
sumber belajar yang tersedia, meng ran berbasis masalah, siswa diberikan
hubung-hubungkan satu fakta dengan tes kemampuan penalaran matematis.
fakta lain, saling bertukar pendapat, 4. Analisis data tes
menerima dan membantah argumen Data hasil tes dianalisis dengan
temannya, menyusun konjektur, hingga menghitung persentase ketercapaian
bersepakat dalam membuat keputusan kemampuan penalaran matematis
akhir sebagai hasil kerja kelompok. siswa disetiap indikator kemampuan
penalaran matematis. Selanjutnya
METODE PENELITIAN jawaban-jawaban siswa dikelompok-
Penelitian ini merupakan penelitian kan dalam beberapa kategori sesuai
kualitatif deskriptif. Penelitian ini ragam kesalahan yang dilakukan
dilaksanakan di kelas XI SMK Farmasi siswa. Setiap kategori kesalahan
Ikasari Pekanbaru dengan siswa diuraikan secara rinci.
sebanyak 38 orang. Tujuan dari 5. Menarik kesimpulan
penelitian ini adalah untuk mendes- Berdasarkan hasil analisa terhadap
kripsikan tingkat penguasaan kemam- lembar jawaban siswa serta hasil
puan penalaran matematis siswa setelah observasi dan wawacara, ditarik
mengikuti pembelajaran berbasis masa- kesimpulan mengenai tingkat
lah dan ragam kesalahan siswa dalam penguasaan kemampuan penalaran
menjawab soal kemampuan penalaran matematis siswa serta ragam
matematis. Metode yang digunakan kesalahan dalam menjawab soal
dalam penelitian ini meliputi metode tes, kemampuan penalaran matematis.
metode observasi, dan metode wawan-
cara. Adapun analisis data meliputi HASIL DAN PEMBAHASAN
menghitung skor dan persentase keter- Sebelum melakukan analisis terha-
capaian kemampuan penalaran mate- dap kemampuan penalaran matematis,
matis, pengelompokan data, penyajian siswa terlebih dahulu mengikuti pembe-
data, dan penarikan kesimpulan. lajaran berbasis masalah. Peneliti bertin-
Langkah-langkah dalam penelitian dak sebagai guru dalam pembelajaran ini.
ini diuraikan sebagai berikut: Setelah selesai melaksanakan pembelaja-
ran berbasis masalah sebanyak 4

Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2 Desember 2016 127


ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK SETELAH MENGIKUTI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

pertemuan, siswa diberikan tes Perhatikan gambar disamping. Pada


kemampuan penalaran matematis. gambar tersebut sebuah tabung dimasuk-
Indikator penalaran matematis kan kedalam sebuah kubus dengan
yang diukur pada penelitian ini adalah: panjang rusuk p cm sehingga sisi-sisi
1) memeriksa validitas argumen; 2) tabung bersentuhan dengan sisi-sisi
membuat analogi dan generalisasi; 3) kubus.
menarik kesimpulan logis; 4) mengikuti “volume kubus lebih besar daripada
aturan inferensi. Setiap indikator diukur volume tabung”Apakah pernyataan
melalui satu atau beberapa soal. Skor tersebut benar? Berikan
minimal untuk setiap soal yaitu 0 dan penjelasanmu!
skor maksimum yaitu 3. Hasil tes
kemampuan penalaran matematis dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Tes Kemampuan Penalaran
Matematis
Indikator
% s Rata-rata skor siswa untuk soal ini
Penalaran
Indikator I 0 3 2,21 73,68 0,90 adalah 2,21 (73,68%). Skor siswa cukup
Indikator II 0 3 2,33 77,63 1,05 beragam. Mulai dari skor minimum (0)
Indikator III 0 3 1,76 58,77 1,36 hingga skor maksimum (3). Tabel berikut
Indikator IV 0 3 2,63 87,72 0,73 meyajikan persebaran skor siswa.
Keseluruhan 2 18 13,90 77,19 3,96 Tabel 2. Persebaran Skor Siswa pada soal
Berdasarkan Tabel 1 dapat Indikator I
diketahui bahwa untuk setiap indikator Skor
Banyak Siswa
terdapat siswa yang tidak mampu 0 1 2 3
menjawab sama sekali dan terdapat N 4 1 16 17
% 10,5 2,6 42,1 44,7
siswa yang bisa menjawab dengan
Berdasarkan Tabel 2, sebagian besar
sempurna. Dari keempat indikator
siswa telah mampu menjawab soal
penalaran matematis yang diukur,
dengan baik. Dilihat dari lembar jawaban
indikator “menarik kesimpulan logis”
siswa, secara umum jawaban siswa
merupakan indikator tersulit bagi siswa.
terbagi dalam 4 kategori, yaitu:
Sedangkan indikator termudah yaitu
1. Jawaban salah.
indikator “mengikuti aturan inferensi”.
2. Jawaban benar, tapi alasan kurang
Secara keseluruhan skor ketercapain
tepat atau kurang lengkap.
kemampuan penalaran matematis siswa
3. Jawaban dan alasan benar, tetapi siswa
setelah mengikuti pembelajaran berbasis
belum mampu menjelaskan alasan
masalah termasuk baik dengan
secara matematik.
persentase rata-rata 77,19.
4. Jawaban benar dan siswa telah
Meski secara keseluruhan
mencoba memberi alasan secara
ketercapain kemampuan penalaran
matematik, namun masih terbatas pada
matematis siswa baik, namun masih ada
kasus khusus.
siswa yang salah dalam menjawab soal.
Gambar 1 berikut menunjukkan
Untuk itu perlu dilakukan analisis untuk
jawaban siswa yang termasuk dalam
mengetahui ragam kesalahan siswa.
kategori I.
Analisis terhadap jawaban siswa disetiap
indikator kemampuan penalaran
matematis diuraikan sebagai berikut:
Indikator pertama yaitu memeriksa
validitas argumen. Soal untuk indikator
ini adalah sebagai berikut. Gambar 1.
Jawaban Siswa pada Soal Indikator I Kategori I

128 Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2 Desember 2016


ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK SETELAH MENGIKUTI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

Pada Gambar 1 siswa menganggap


kedua bangun memiliki volume yang
sama karena keduanya sama-sama
merupakan prisma. Hal ini menandakan
siswa belum memiliki pemahaman yang
baik tentang volume bangun ruang.
Gambar 2 berikut menunjukkan
salah satu jawaban siswa yang termasuk
dalam kategori II. Gambar 4.
Jawaban Siswa pada Soal Indikator I Kategori IV
Gambar 4 menunjukkan bahwa
siswa telah mampu memvalidasi argumen
dengan baik. Siswa telah mencoba
memvalidasi argumen secara matematis,
namun masih terbatas pada kasus khusus.
Siswa memisalkan panjang rusuk dengan
sebuah bilangan. Meskipun jawaban
Gambar 2. siswa benar, namun alasan yang
Jawaban Siswa pada Soal Indikator I Kategori II
diberikan belum begitu sempurna secara
Gambar 2 menunjukkan bahwa
matematis.
siswa telah benar dalam menjawab soal,
Indikator kemampuan penalaran
tetapi tanpa alasan yang kuat dan kurang
yang kedua pada penelitian ini yaitu
lengkap. Siswa belum terbiasa dalam
membuat analogi dan generalisasi.
memberikan alasan yang tepat. Karena
Indikator ini terdiri dari dua butir soal.
seringnya selama ini siswa diberikan
Soal a) mengukur kemampuan analogi
soal-soal hitungan. Bukan soal yang
matematis siswa dan soal b) mengukur
menuntut nalar siswa dalam
kemampuan generalisasi matematis
memvalidasi argumen.
siswa. Setiap soal akan dibahas satu-
Gambar 3 berikut menunjukkan
persatu. Soal pada indikator ini adalah
jawaban siswa yang termasuk dalam
sebagai berikut:
kategori III.
“Andre membuat kotak berbentuk
kubus yang terbuat dari karton dengan
panjang rusuk 2 cm. Lalu, Andre ingin
membuat kotak kubus dengan ukuran
yang lebih besar. Jika kotak kubus besar
ukuran rusuknya bertambah 1 cm dari
kotak kubus kecil, maka luas karton yang
diperlukan adalah 54 cm2.
Gambar 3. a. Jika kotak kubus besar ukuran
Jawaban Siswa pada Soal Indikator I Kategori III rusuknya bertambah 2 cm dari kotak
Gambar 3 menunjukkan bahwa kubus kecil, maka luas karton yang
siswa telah mampu memvalidasi diperlukan Andre adalah...
argumen dengan baik. Namun, alasan b. Jika kotak kubus besar ukuran
yang diberikan siswa baru jawaban rusuknya bertambah n cm dari kotak
secara verbal. Siswa belum mampu kubus kecil, luas karton yang
menunjukkan alasan yang lebih diperlukan Andre adalah...”
matematis. Rata-rata skor siswa untuk soala) dan
Gambar 4 berikut menunjukkan b) berturut-turut adalah 2,68 (89,47%)
jawaban siswa yang termasuk dalam dan 1,97 (65,79%). Skor siswa untuk soal
kategori IV. nomor 5.a dan 5.b cukup beragam. Mulai

Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2 Desember 2016 129


ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK SETELAH MENGIKUTI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

dari skor minimum (0) hingga skor Sedangkan pada Gambar 5.b siswa
maksimum (3). Tabel berikut meyajikan terlihat tidak memahami konsep luas
persebaran skor siswa. permukaan kubus. Disoal diketahui
Tabel 3. Persebaran Skor Siswa pada bahwa untuk panjang rusuk 3 cm, maka
Indikator II luas karton adalah 54 cm2. Lalu siswa
Ba Skor Soal a) Skor Soal b)
nyak
berpikir untuk panjang rusuk 1 cm, maka
0 1 2 3 0 1 2 3 luasnya adalah 54/3 = 18 cm2. Sehingga
Siswa
N 3 0 3 32 8 6 3 21 untuk panjang rusuk 2 cm, luasnya = 18.2
% 7,89 0,00 7,89 84,21 21,05 15,79 7,89 55,26 = 36 cm2. Jika panjang rusuk bertambah
Berdasarkan Tabel 3, sebagaian 2 cm, maka luasnya = 2 . 36 = 72 cm2.
besar siswa telah menjawab soal a) Hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak
dengan benar. Namun demikian masih memiliki kemampuan analogi yang baik
ada siswa yang salah dalam menjawab disebabkan kurangnya pemahaman
soal ini. Kesalahan yang banyak terjadi terhadap konsep luas permukaan kubus.
adalah siswa salah dalam memahami Untuk soal b) yang mengukur
maksud soal. Seperti yang terlihat pada kemampuan generalisasi siswa,
Gambar 5.a. Kesalahan yang lain adalah berdasarkan Tabel 3, terdapat 8 siswa
siswa tidak memahami konsep luas yang menjawab salah. Kesalahan yang
permukaan seperti yang terlihat pada dilakukan siswa terbagi dalam dua
Gambar 5.b. macam. Pertama, kesalahan dalam
melakukan operasi hitung. Kedua,
kesalahan konsep. Berikut gambar lembar
jawaban siswa yang menunjukkan kedua
jenis kesalahan tersebut.

(a)

(a)

(b)
Gambar 5.
Jawaban Siswa pada Indikator II
Pada Gambar 5.a siswa
menambahkan panjang rusuk tidak dari
panjang rusuk kotak kecil (2 cm), tetapi
dari panjanga rusuk kotak besar yang
telah bertambah panjang 1 cm dari
ukuran semula. Seharusnya panjang
rusuk setelah ditambah 2 cm adalah
(b)
menjadi 4 cm, bukan 5 cm. Tapi, untuk
langkah berikutnya, siswa menjawab Gambar 6.
dengan benar. Jawaban Siswa pada Soal Indikator II

130 Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2 Desember 2016


ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK SETELAH MENGIKUTI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

Gambar 6.a menunjukkan siswa menentukan mana yang merupakan jarak


tau bagaimana menyelesaikan soal yang dari titik C ke garis FH. Beberapa
diberikan. Namun siswa mengalami kesalahan tersebut dapat dilihat pada
kesalahan dalam operasi hitung. Yang gambar berikut.
pertama, siswa mengerjakan 2 + n = 2n.
Yang kedua, siswa salah mengkuadrakan
bilangan yang memuat variabel. Siswa
mengerjakan (2+n)2 = 4 + n. Kedua
jawaban siswa ini menunjukkan bahwa
siswa masih mengalami kesulitan
melakukan operasi hitung yang (a)
melibatkan angka dan variabel secara
bersamaan.
Gambar 6.b menunjukkan siswa
tidak memahami maksud soal atau siswa
tidak memahami konsep tentang luas
permukaan kubus. Hal lain yang diduga
membuat siswa salah dalam soal b)
adalah karena siswa kesulitan jika
perhitungan melibatkan variabel. Ketika
panjang rusuk bertambah n cm, siswa (b)
memaksakan untuk menentukan nilai n. Gambar 7.
Sehingga terjadilah jawaban seperti pada Jawaban Siswa pada Soal Indikator III
Gambar 7.b. Gambar 7.a menunjukkan bahwa
Indikator kemampuan penalaran siswa menganggap jarak dari titik C ke
yang ketiga pada penelitian ini yaitu garis FH adalah panjang ruas garis CF.
menarik kesimpulan logis. Soal untuk Sedangkan Gambar 7.b menunjukkan
indikator III adalah sebagai berikut: bahwa siswa menganggap jarak dari titik
Jika panjang rusuk kubus ABCD. C ke garis FH adalah panjang ruas garis
EFGH adalah 8 cm, maka jarak titik C CH. Hal ini memperlihatkan bahwa siswa
ke garis FH adalah.... belum bisa menentukan jarak antara titik
Rata-rata skor siswa pada indikator dan garis. Selain salah dalam menentukan
ketiga adalah 1,76 (58,78%). Skor siswa mana yang merupakan jarak antara titik C
cukup beragam. Mulai dari skor dan garis FH, Gambar 7.b juga
minimum (0) hingga skor maksimum menunjukkan bahwa siswa salah ketika
(3). Tabel berikut meyajikan persebaran menganggap bahwa segitiga CFH siku-
skor siswa. siku di F. Hal ini menunjukkan bahwa
Tabel 4. Persebaran Skor Siswa pada siswa sulit untuk menentukan garis yang
Indikator III tegak lurus pada bangun ruang. Padahal
Skor kemampuan siswa menentukan garis
Banyak Siswa
0 1 2 3
tegak lurus pada bangun ruang
N 12 4 3 19
% 31,58 10,53 7,89 50,00 merupakan syarat penting untuk siswa
Berdasarkan Tabel 4, lebih dari bisa menentukan jarak pada bangun
50% siswa mampu menjawab soal ruang. Kesulitan ini menurut peneliti
dengan benar. Kesalahan siswa dalam disebabkan karena cara melukis bangun
menjawab soal disebabkan oleh ruang berbeda dengan cara melukis
gagalnya siswa dalam menentukan ruas bangun datar. Pada bangun ruang, dua
garis yang merupakan jarak antara titik garis yang tegak lurus belum tentu
dan garis. Siswa salah dalam digambarkan tegak lurus. Sementara

Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2 Desember 2016 131


ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK SETELAH MENGIKUTI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

siswa lebih sering melihat sudut antar Rata-rata skor siswa untuk soal
garis dari apa yang tergambar. iniadalah 2,7 (90%) Skor siswa untuk
Kesalahan lain yang dilakukan soal nomor inicukup beragam. Mulai dari
siswa dalam menjawab soal indikator skor minimum (0) hingga skor
ketiga adalah kesalahan perhitungan dan maksimum (3). Tabel berikut meyajikan
kesalahan dalam menentukan panjang persebaran skor siswa.
ruas garis. Beberapa kesalahan tersebut Tabel 5. Persebaran Skor Siswa pada
dapat dilihat pada Gambar 8.Gambar 8.a Indikator IV soal pertama
Skor
menunjukkan siswa telah benar menen- Banyak Siswa
0 1 2 3
tukan jarak antara titik C ke garis FH, N 1 2 6 29
namun salah dalam menggunakan tanda % 2,63 5,26 15,79 76,32
pada rumus phytagoras. Harusnya siswa Berdasarkan Tabel 5 sebagian besar
menggunakan tanda – (kurang), bukan siswa di kedua kelas eksperimen
tanda + (tambah). Sedangkan Gambar menjawab soal dengan benar. Namun
8.b, siswa juga sudah benar menentukan demikian masih terdapat siswa yang salah
jarak antara titik C ke garis FH, namun dalam menjawab. Kesalahan siswa
salah dalam menentukan panjang ruas disebabkan karena siswa tidak paham
garis FC dan FH. Siswa menganggap mengenai konsep luas permukaan bangun
panjangnya sama dengan panjang rusuk ruang, akibatnya siswa salah dalam
kubus. menggunakan rumus. Berikut ini jawaban
siswa yang salah dalam menjawab soal
pada indikator keempat.

(a)

(a)

(b)
Gambar 8.
Jawaban Siswa yang pada soal Indikator III
Indikator kemampuan penalaran (b)
yang keempat pada penelitian ini yaitu Gambar 9.
Jawaban Siswa yang pada Indikator IV
mengikuti aturan inferensi. Soal
pertamapada indikator ini adalah sebagai Pada Gambar 9.a awalnya siswa
berikut. telah menulis rumus luas permukaan
Perhatikan prisma segitiga PQR.STU prisma dengan benar. Namun, rumus itu
di samping ini. kemudian dicoret, sehingga menjadi
Tentukan luas permukaannya! salah. Hal ini menandakan bahwa siswa
tidak paham konsep luas permukaan
prisma. Siswa hanya menghafal rumus.
Begitu juga halnya dengan jawaban siswa
seperti yang terlihat pada Gambar 9.b
siswa menggunakan rumus volume
prisma. Jika siswa paham terhadap

132 Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2 Desember 2016


ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK SETELAH MENGIKUTI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

konsep luas permukaan bangun ruang, Jawaban Siswa yang pada Indikator IV soal
maka kesalahan seperti pada Gambar 9.a nomor 2
dan 9.b tidak akan terjadi. Pada Gambar 10.a siswa salah
Soal kedua pada indikator keempat dalam menggunakan rumus. Baik untuk
yaitu sebagai berikut: rumus volume bola maupun kerucut.
Tentukan volume gambar disamping ini! Rumus yang digunakan siswa untuk
mencari volume bola adalah rumus
mencari volume kerucut. Selain salah
menggunakan rumus, algoritma
penyelesaian soal juga salah. Seharusnya
setelah diperoleh volume bola dan
kerucut, maka volume keduanya
Rata-rata skor siswa untuk soal ini dijumlahkan, sehingga dapatlah volume
adalah 2,7 (90%). Skor siswa untuk soal bangun yang diminta pada soal. Tapi
ini cukup beragam. Mulai dari skor pada lembar jawaban siswa, volume bola
minimum (0) hingga skor maksimum dan kerucut ditentukan masing-masing
(3). Tabel berikut meyajikan persebaran tanpa kemudian dijumlahkan.
skor siswa. Pada Gambar 10.b, siswa telah
Tabel 6. Persebaran Skor Siswa pada memahami maksud soal. Algoritma
Indikator IV soal kedua penyelesaian soal telah benar. Hal ini
Banyak Skor
Kelas terlihat dari jawaban siswa yang mencari
Siswa 0 1 2 3
N 1 2 6 29
volume setengah bola, kemudian volume
PBM kerucut, lalu menjumlahkan keduanya.
% 2,63 5,26 15,79 76,32
Berdasarkan Tabel 6 sebagian Namun, siswa salah dalam menggunakan
besar siswa telah menjawab soal dengan rumus. Rumus yang digunakan untuk
benar. Namun masih terdapat siswa yang mencari volume bola adalah rumus
salah menjawab soal ini. Kesalahan mencari luas lingkaran. Hal ini mungkin
siswa pada soal nomor 2 disebabkan karena bola dan lingkaran memiliki
oleh kesalahan rumus. Berikut ini karakter yang mirip, sehingga rumus
gambar lembar jawaban siswa yang yang diingat siswa ketika mengerjakan
salah pada soal ini. soal adalah rumus lingkaran. Dari
Gambar 10 ini dapat diketahui bahwa
siswa kurang memahami konsep volume
bangun ruang. Siswa hanya berusaha
menghafal rumus. Sehingga ketika rumus
yang akan digunakan lupa, siswa menjadi
salah dalam menjawab soal.
(a) Berdasarkan hasil observasi selama
pembelajaran, masalah yang terjadi pada
siswa adalah kurangnya ketelitian dalam
memahami soal, dalam melakukan
perhitungan, dan lupa rumus-rumus.
Sedangkan berdasarkan hasil wawancara
dengan beberapa siswa diketahui bahwa
siswa sering lupa rumus, tidak mengerti
maksud soal, tidak mengerti konsep,
tidak tahu bagaimana menyelesaikan
(b) soal, dan sulit mengungkapkan suatu
Gambar 10.
alasan dalam bentuk kata-kata. Hasil
observasi dan wawancara ini sesuai

Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2 Desember 2016 133


ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMK SETELAH MENGIKUTI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

dengan ragam kesalahan yang Universitas Pendidikan Indonesia,


ditemukan dalam lembar jawaban siswa. Bandung.
NCTM, 2000. Principles and standards
SIMPULAN for school mathematics. Reston,
Kemampuan penalaran matematis VA: NCTM.
siswa setelah mengikuti pembelajaran Ramdani, Y., 2012. Pengembangan
berbasis masalah termasuk baik dengan instrumen dan bahan ajar untuk
tingkat ketercapaian 77,19 %. Adapun meningkatkan kemampuan
ragam kesalahan yang dilakukan siswa komunikasi, penalaran, dan
adalah kesalahan memahami maksud koneksi matematis dalam konsep
soal, kesalahan menggunakan rumus, integral. Jurnal Penelitian
kesalahan dalam melakukan operasi Pendidikan, 13 (1), hlm. 44-52.
hitung, ketidakpahaman konsep, dan Shadiq, F., 2004. Pemecahan masalah,
kesulitan menuliskan alasan dalam penalaran, dan komunikasi
bentuk tertulis. Berdasarkan ragam matematis. Makalah pada Diklat
kesalahan yang ditemukan tersebut maka Instruktur/ Pengembangan
dalam pembelajaran siswa harus Matematika SMP Jenjang Dasar.
dibiasakan mengungkapkan argumen Yogyakarta: PPPG Matematika.
mereka secara tertulis. Pemahaman Sumarmo, U., 2013. Kumpulan makalah:
konsep harus menjadi prioritas dalam Berpikir dan disposisi matematik
pembelajaran karena menjadi modal serta pembelajarannya. Bandung:
utama untuk dapat memiliki kemampuan Jurusan Pendidikan Matematika,
penalaran matematis. FPMIPA UPI.
Turmudi, 2008. Landasan filsafat dan
DAFTAR RUJUKAN teori pembelajaran matematika:
Arends, R.I., 2012. Learning to teach. Berparadigma eksploratif dan
(Nineth Edition).New York: Mc investigatif. Jakarta: PT Leuser
Graw-Hill. Cita Pustaka.
Badan Standar Nasional Pendidikan, Wahyudin, 2008. Pembelajaran &
2006. Standar isi. Jakarta: BSNP. Model-model pembelajaran:
Mikrayanti, 2012. Meningkatkan Pelengkap untuk meningkatkan
kemampuan penalaran dan kompetensi pedagogis para guru
komunikasi matematis siswa dan calon guru profesional.
sekolah menengah atas melalui Bandung: Mandiri.
pembelajaran berbasis masalah.
(Tesis). Sekolah Pascasarjana,

134 Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2 Desember 2016