Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

SDKI 2012 merupakan survei ketujuh yang diselenggarakan di Indonesia melalui


program Demographic and Health Surveys (DHS). Data yang dikumpulkan dalam SDKI
2012 menghasilkan estimasi terbaru dari indikator utama kependudukan dan kesehatan
yang dicakup dalam SDKI sebelumnya. Angka-angka kematian bayi dan anak dihitung
untuk tiga periode lima tahunan sebelum survei. Hasil SDKI 2012 lebih rendah dari hasil
SDKI 2007. Untuk periode lima tahun sebelum survei, angka kematian bayi hasil SDKI
2012 adalah 32 kematian per 100.000 kelahiran hidup dan kematian balita adalah 40
kematian per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi menurut hasil SDKI 2012
hasilnya sama dengan pola angka kematian bayi SDKI 2007. Untuk itu, Kemenkes RI
menyusun RAN PP AKI 2013-2015 (Depkes RI, 2013).
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012
dengan perhitungan exponensial, AKI di Jawa Tengah diperkirakan baru mencapai 359
per 100.000 kelahiran hidup, sementara target MDGs pada tahun 2015 yang harus dicapai
adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2012).
Setiap kehamilan yang terjadi pada seorang calon ibu merupakan tanda kehadiran
sang buah hati yang sedang bertumbuh di dalam rahim. Namun tak semua kehamilan
dapat berlangsung sukses. Pada keadaaan tertentu buah kehamilan ada yang mengalami
gangguan dalam proses pertumbuhan dan akhirnya gugur. Kehamilan dengan (vili
korionik) abnormal yang menggantung seperti anggur disebut dengan istilah mola
hidatidosa (Eny, 2009).
Mola hidatidosa diyakini sebagai penyebab aborsi paling spontan pada trimester
pertama. Nyeri tekan pada ovarium dan ovarium kerap membesar kejadian itu sering
terjadi pada penderita mola hidatidosa. Perdarahan tanpa nyeri yang tidak teratur paling
banyak terjadi pada 12 minggu kehamilan. Mungkin terus menerus atau (intermiten),
biasanya bewarna kecoklatan, dan tidak banyak seperti wanita yang sedang menstruasi
(Morgan, 2009).
Penulis berharap dapat mempelajari, mengobservasi kejadian dan memahami
bagaimana penanganan yang tepat untuk kasus ibu hamil dengan mola hidatidosa.
Sehingga, bila di kemudian hari ditemukan kasus serupa dapat memberikan asuhan
kebidanan yang komprehensif sesuai dengan kemandirian bidan.

1
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan latar belakang di atas maka dirumuskan masalah sebagai


berikut : Bagaimana Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Mola Hidatidosa Di RS Saiful
Anwar Malang?
1.3 Tujuan

1. Tujuan Umum
Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil Mola Hidatidosa menggunakan
pendekatan manajemen kebidanan
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengumpulan data dasar pada ibu hamil Mola Hidatidosa.
b. Menginterprestasikan data dasar pada ibu hamil Mola Hidatidosa.
c. Mengindentifikasi diagnosa potensial pada ibu hamil Mola Hidatidosa
d. Menetapkan kebutuhab dan tindakan segera pada ibu hamil Mola Hidatidosa
e. Merencanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil Mola Hidatidosa.
f. Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil Mola Hidatidosa.
g. Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan pada ibu hamil Mola Hidatidosa
1.4 Manfaat

1. Bagi Penulis
Pembuatan asuhan kebidanan ini diharapkan dapat digunakan peneliti dalam
memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil Mola Hidatidosa.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
a. Pembuatan asuhan kebidanan ini diharapkan dapat memberikan informasi
mengenai penanganan ibu hamil khususnya dalam penanganan ib hamil Mola
Hidatidosa
b. Penulisan asuhan kebidanan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi tenaga
kesehatan khususnya bidan untuk dapat memberikan pengetahuan tentang
penanganan asuhan pada ibu hamil Mola Hidatidosa.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil asuhan kebidanan ini diharapkan sebagai sumber inspirasi maupun
referensi untuk asuhan kebidanan selanjutnya. Bagi mahasiswa/dosen dapat
menambah wawasan tentang penatalaksanaan pada kehamilan patologi dan
menambah kepustakaan.

2
1.5 Metode Pengumpulan Data

Menggunakan proses manajemen kebidanan komprehensif data yang


dikumpulkan hingga evaluasi didapat dengan metode :
1. Wawancara
Merupakan pengumpulan data dengan ara tanya jawab secara langsung dengan
klien maupun dengan tenaga kesehatan sehingga mendapatkan permasalahan tentang
pasien.
2. Pemeriksaan Fisik
Merupakan pemeriksaan pada pasien yang meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi
dan perkusi untuk mendapatkan data obyektif.
3. Studi Kepustakaan
Dengan mempelajari buku-buku yang ada hubungannya dengan Mola Hidatidosa.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Medis
1. Kehamilan Normal
a. Pengertian
Kehamilan normal adalah masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya
janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari
hari pertama haid terakhir (Pudiastuti, 2012).
b. Klasifikasi kehamilan
1. Kehamilan Trimester I antara 0-12 minggu
2. Kehamilan Trimester II antara 12-28 minggu
3. Kehamilan trimester III antara 28-40 minggu (Lukluk, 2013; Aspuah; 2013).
c. Proses terjadinya kehamilan
Proses kehamilan diawali dengan proses pembuahan. Pembuahan sering disebut
fertilisasi, pembuahan dimulaai dengan terbentuknya zigot setelah inti sel telur bertemu
dengan inti sel sperma. Ovum yang sudah dibuahi (zigot) memerlukan waktu 6 sampai 8
hari untuk berjalan kedalam uterus (Hutahean, 2013).
d. Tanda-tanda kehamilan
Menurut (Winkjosastro, 2005), tanda-tanda kehamilan dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Tanda tidak pasti kehamilan
a) Amenorea (terlambat datang bulan), gejala ini penting karena wanita hamil
tidak haid lagi dan perlu diketahui tanggal hari pertama haid terakhir untuk
menentukan tuanya kehamilan.
b) Mual (nausea) dan muntah (emesis), sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak
selalu.
c) Mengidam terjadi pada bulan-bulan pertama dan menghilang dengan makin
tuanya kehamilan.
d) Mammae menjadi tegang dan membesar.
e) Sering kencing terjadi karena pengaruh dari hormon kortikosteroid plasenta
yang merangsang melanofor dan kulit
f) Anoreksia (tidak nafsu makan)
g) Obstipasi terjadi karena tonus otot menurun

4
h) Pigmentasi kulit terjadi karena pengaruh dari hormon kortikosteroid plasenta
yang merangsang melanofor dan kulit.
2) Tanda kemungkinan kehamilan
a) Pembesaran perut, sesuai dengan tuanya hamil
b) Uterus membesar
c) Tanda Hegar (hipertropi ismus, menjadi panjang dan lunak)
d) Tanda Chadwick (hipervaskularisasi pada vagina dan vulva, tampak lebih
merah dan kelam)
e) Tanda Picaseck (uterus membesar ke salah satu jurusan)
f) Kontraksi Braxton Hicks (kontraksi-kontraksi kecil)
g) Teraba Ballotement.
h) Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif, tetapi sebagian hasil tesnya
kemungkinan positif palsu.
(Hutahean, 2013)
3) Tanda pasti kehamilan
a) Adanya denyut jantung janin.
b) Adanya pergerakan janin (usia 19 minggu).
c) Visualisasi fetus dalam USG (usia 5-6 minggu). (Hutahean, 2013)
e. Asuhan pada ibu hamil
Pelayanan antenatal adalah salah satu tahapan penting menuju kehamilan yang
sehat pemeriksaan kehamilan dapat dilakukan melalui dokter kandungan atau bidan
dengan minimal pemeriksaan 3 kali selama kehamilan, yaitu pada usia kehamilan
trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga, itupun jika kehamilan normal.
Sesuai dengan standar minimal pelayanan antenatal yang meliputi 9T yaitu timbang berat
badan, ukur tinggi badan, pemeriksaan urine, pemeriksaan detak jantung janin,
pemeriksaan dalam, pemeriksaan perut (palpasi), pemeriksaan kaki, pemeriksaan darah,
uji TORCH (Toksoplasma Rubella Cytomegalovirus Herpesimpleks) (Hutahean, 2013;
Saifuddin, 2005)
Tujuan asuhan antenatal
1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang bayi.
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan
bayi.

5
3) Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum,
kebidanan dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu
maupun bayi dengan trauma seminimal mungkin.
5) Mempersiapkan agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar
tumbuh kembang secara normal. (Pudiastuti, 2012)
Jadwal pemeriksaan :
a) Usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir sampai 28 minggu : 4 minggu
sekali
b) 28-36minggu : 2 minggu sekali
c) Di atas 36 minggu : 1 minggu sekali
Kecuali jika ditemukan kelainan / faktor resiko yang memerlukan
penatalaksanakan medik lain, pemeriksaan harus lebih sering dan intensif.
f. Kebutuhan gizi ibu hamil
Pada wanita, masa hamil merupakan saaat dimana zat gizi diperlukan didalam
jumlah yang lebih banyak, secara kuantitas maupun kualitas dibandingkan dengan saat
tidak hamil. Asupan zat gizi tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan ibu dan juga
untuk tumbuh kembang janin dalam kandungan.
Tabel 2.1 Kebutuhan zat gizi ibu hamil
Makanan Normal Hamil
Kalori (kal) 2500 2500
Protein (gram) 60 85
Kalsium (gram) 0,8 1,5
Feerum (Fe) (mg) 12 15
Vitamin A (IU) 5000 6000
Vitamin B (mg) 1,5 1,8
Vitamin C (mg) 70 100
Vitamin D (SI) 2,2 2,5
Riboflavin (mg) 15 18
Sumber : Manuaba (2009)

6
2. Mola Hidatidosa

a. Pengertian

Mola hidatidosa adalah suatu tumor plasenta yang terjadi saat perkembangan
embrionik, berasal dari sel trofoblas yang bekembang dalam plasenta. Mola diyakini
sebagai penyebab aborsi paling spontan pada trimester pertama (Morgan, 2009)

Mola hidatidosa adalah perubahan pertumbuhan embrionik dini, yang


menyebabkan gangguan pada plasenta, proliferesi sel-sel abnormal yang cepat dan
penghancuran embrio (Williams, 2004)

Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan dimana setelah fertilisasi hasil


konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi dari vili korialis
disertai dengan degenerasi hidropik. Uterus melunak dan berkembang lebih cepat dari usia
gestasi yang normal, tidak dijumpai adanya janin, kavum uteri hanya terisi oleh jaringan
seperti rangkaian buah anggur (Saifuddin, 2006).

b. Faktor resiko

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor penyebabnya
adalah :

1) Umur

Mola hidatidosa lebih banyak ditemukan pada wanita hamil berumur di bawah 20
tahun dan di atas 35 tahun.

2) Etnik

Lebih banyak ditemukan pada Mongoloid daripada Kaukasus.

3) Genetik

Wanita dengan balanced translocation mempunyai risiko lebih tinggi.

4) Gizi

Mola hidatidosa banyak ditemukan pada mereka yang kekurangan protein, β-


carotene, dan vitamin A.

7
5) Penggunaan kontrasepsi oral

Penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko
terjadinya kehamilan mola hidatidosa.

6) Paritas tinggi.

Ibu dengan paritas tinggi, memiliki kemungkinan terjadinya abnormalitas pada


kehamilan berikutnya, sehingga ada kemungkinan kehamilan berkembang menjadi mola
hidatidosa.

7) Keadaan sosio-ekonomi yang rendah

Keadaan sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap pemenuhan gizi ibu yang pada
akhirnya akan mempengaruhi pembentukan ovum abnormal yang mengarah pada
terbentuknya mola hidatidosa. (Sastrawinata, 2004; Norwitz, 2010)

c. Patofisiologi

Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit
trofoblast : Teori missed abortion. Mudah mati pada kehamilan 3-5 minggu karena itu
terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi
dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung. Teori neoplasma dari Park. Sel-sel
trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi
cairan yang berlebihan kedalam villi sehingga timbul gelembung-gelembung. Studi dari
Herting lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi
cairan yang menyertai degenerasi awal atau tidak adanya embrio komplit pada minggu ke
tiga dan kelima. Adanya sirkulasi material yang terus menerus dan tidak adanya fetus
menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan
cairan (Morgan, 2009).

d. Klasifikasi

Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi 2 jenis yaitu :

1) Mola hidatidosa komplet, yaitu penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan


kehamilan yang tidak disertai janin dan seluruh vili korialis mengalami perubahan
hidropik.

8
2) Mola hidatidosa parsialis, yaitu sebagian pertumbuhan dan perkembangan vili
korialis berjalan normal sehingga janin dapat tumbuh dan berkembang bahkan
sampai aterm (Manuaba, 2009).

e. Gambaran klinis

Gambaran klinik dari mola hidatidosa dapat dilihat dari tanda dan gejala yang muncul,
serta diagnosis yang telah ditegakkan.

1. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala kehamilan mola hidatidosa antara lain :

a) Amenore dan tanda-tanda kehamilan


b) Mual dan muntah

c) Peningkatan tajam kadar Human Chorionic Gonadotrophin (HCG) karena


proliferasi cepat sel placenta, yang mengekskresikan HCG.

d) Perdarahan tanpa nyeri yang tidak teratur paling banyak terjadi pada 12 minggu
kehamilan. Mungkin terus- menerus atau intermiten, biasanya berwarna
kecoklatan, dan tidak banyak.

e) Uterus kerap bertambah besar dari usia kehamilan karena pertumbuhan mola yang
cepat (terjadi kurang lebih pada sepertiga kasus).

f) Sesak napas.

g) Ovarium biasanya nyeri tekan dan membesar (techa lutein cysts).

h) Tidak ada bunyi denyut jantung janin.

i) Tidak ada aktivitas janin.

j) Pada palpasi tidak ditemukan bagian-bagian janin.

k) Hipertensi akibat kehamilan, pre-eklamsi atau eklamsi sebelum usia kehamilan 24


minggu.

Mungkin anemik sekunder akibat kehilangan darah dan/atau nutrisi yang buruk
karena hiperemesis. (Morgan, 2009; Yulianti, 2005; Murkoff, 2005)

9
2. Diagnosis

Diagnosis mola hidatidosa dapat ditegakkan berdasarkan :

1) Gejala hamil muda yang sangat menonjol

a) Emesis gravidarum/Hipermis gravidarum

b) Terdapat komplikasi

(a) Tirotoksikosis (2-5%)

(b) Hipertensi/Preeklamsia

(c) Anemia akibat perdarahan

2) Pemeriksaan palpasi

a) Uterus

(a) Lebih besar dari usia kehamilan (50%-60%)

(b) Besarnya sama dengan usia kehamilan (20-25%)

(c) Lebih kecil dari pada usia kehamilan (5-10%)

b) Palpasi lunak seluruhnya

(a) Tidak teraba bagian janin

(b) Terdapat bentuk asimetris, bagian menonjol agak padat

c) Pemeriksaan USG

(a) Sudah dipastikan mola hidatidosa tampak seperti TV rusak

(b) Tidak terdapat janin

(c) Tampak sebagian plasenta normal dan kemungkinan dapat tampak


janin (Manuaba, 2007)

10
f. Prognosis

Risiko kematian / kesakitan pada penderita mola hidatidosa meningkat karena


perdarahan, perforasi uterus, pre-eklamsi berat, atau infeksi. Akan tetapi, sekarang
kematian karena mola hidatidosa sudah jarang sekali (Sastrawinata, 2004).

Sebagian besar penderita mola hidatidosa akan baik kembali setelah kuretase. Bila
hamil lagi, umumnya berjalan normal. Mola hidatidosa berulang dapat terjadi, tetapi
jarang. Walaupun demikian, 15-20% dari penderita pasca mola hidatidosa dapat
mengalami degenerasi keganasan menjadi tumor trofoblas gestasional, baik berupa mola
invasif, koriokarsinoma, maupun placental site trophoblastic tumors (Duff, 2004).

Keganasan ini biasanya terjadi pada satu tahun pertama setelah terjadinya mola yang
terbanyak dalam enam bulan pertama. Mola hidatidosa parsial lebih jarang menjadi ganas
(Sastrawinata, 2004).

g. Penatalaksanaan

Dalam pengobatan mola hidatidosa yang lebih diutamakan adalah menegakkan


diagnosis sebelum gelembung mola dikeluarkan, sehingga perdarahan yang timbul pada
waktu mengeluarkan mola dapat dikendalikan (Manuaba, 2009).

Langkah pengobatan mola hidatidosa terdiri dari 4 tahap sebagai berikut :

a) Perbaikan keadaan umum.

Pengeluaran gelembung mola yang disertai perdarahan memerlukan transfusi,


sehingga penderita tidak syok yang dapat menjadi penyebab kematian. Di samping itu
setiap evakuasi jaringan mola dapat diikuti perdarahan sehingga persiapan perdarahan
menjadi program vital terapi mola hidatidosa. Pada waktu mengeluarkan mola dengan
kuretase didahului dengan pemasangan infus 10 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I.V.
(NaCl 40-60 tpm atau Ringer Laktat), sehingga pengecilan rahim dapat mengurangi
perdarahan (Manuaba, 2009).

b) Pengeluaran jaringan mola hidatidosa

Dalam menghadapi kasus mola hidatidosa terdapat beberapa pertimbangan yang


berkaitan dengan umur penderita dan paritas. Ada dua cara pengeluaran jaringan mola
hidatidosa yaitu :

11
(1) Evakuasi jaringan mola hidatidosa

Pada mola hidatidosa dengan umur muda dan jumlah anak sedikit, rahim perlu
diselamatkan dengan tindakan evakuasi jaringan mola.

Pada umumnya evakuasi jaringan mola dilakukan dengan kuret vakum,


kemudian sisanya dibersihkan dengan kuret tajam (Sastrawinata, 2004).

Evakuasi jaringan mola dilakukan sebanyak dua kali dengan interval satu
minggu, dan jaringan diperiksa kepada ahli patologi anatomi (Manuaba, 2009).

Pada kasus mola hidatidosa yang belum keluar gelembungnya, harus dipasang
dahulu laminaria swift (12 jam sebelum kuret), sedangkan pada kasus yang sudah
keluar gelembungnya, dapat segera dikuret setelah keadaan umumnya distabilkan.
Bila perlu dapat diberikan narkosis neuroleptik (Sastrawinata, 2004).

Setelah dilakukan kuretase penderita mola yang menolak dilakukan


histerektomi atau wanita muda dengan PA yang mencurigakan diberikan obat-obatan:
Methotrexate 20 mg/hari, Actinomycin D1 flc/hari, selama 5 hari berturut-turut
(Sastrawinata, 2004)

(2) Histerektomi

Dengan pertimbangan umur relatif tua (35 tahun) paritas diatas 3, dan uterus
yang sangat besar (mola besar), yaitu setinggi pusat atau lebih, pada penderita mola
hidatidosa dilakukan tindakan radikal histerektomi. Pertimbangan ini didasarkan
kemungkinan keganasan koriokarsinoma menjadi lebih tinggi. Hasil operasi
diperiksakan kepada ahli patologi anatomi (Manuaba, 2009).

c) Pengobatan profilaksis dengan sitostatistika (kemoterapi)

Mola hidatidosa merupakan penyakit trofoblas yang dapat berkelanjutan menjadi


koriokarsinoma. Untuk menghindari terjadinya degenerasi ganas, penderita mola yang
mempunyai faktor risiko seperti umur di atas 35 tahun atau gambaran patologi anatomi
yang mencurigakan diberi profilaksis dengan sitostatistika (kemoterapi) :

a) Methotrexate 20 mg/hari atau

12
b) Actinomycin D 1 flc/hari, 5 hari berturut-turut. (Sastrawinata, 2004; Manuaba,
2009)

d) Pengawasan lanjutan

Pengawasan lanjutan pada wanita dengan mola hidatidosa yang uterusnya


dikosongkan sangat penting karena mungkin timbul keganasan. Pengawasan 1-2 tahun,
dilakukan pemeriksaan ginekologik, kadar β-hCG, dan radiologik berkala. Penentuan
kadar kuantitatif β-hCG dilakukan dengan jadwal sebagai berikut :

a) Tiap minggu sampai β-hCG negatif selama 3 minggu berturut- turut.

b) Tiap 2 minggu sampai bulan ke III

c) Tiap bulan sampai bulan ke VI

d) Tiap 3 bulan sampai 2 tahun

Setelah dilakukan penanganan mola hidatidosa, perlu dilakukan penundaan kehamilan


paling sedikit satu tahun dengan kondom, diafragma, atau pil kontrasepsi supaya β-hCG
kehamilan tidak mengacaukan β-hCG karena keganasan (Kurniawati, 2009).

e) Komplikasi

Menurut Yulaikhah (2008) komplikasi yang mungkin terjadi pada kehamilan mola
yaitu :

1) Perdarahan hebat sampai syok, yang jika tidak segera ditangani dapat berakibat fatal.

2) Perdarahan berulang-ulang dapat menyebabkan anemia.

3) Infeksi sekunder.

4) Perforasi karena keganasan dan tindakan.

5) Menjadi ganas pada kira-kira 15-20% kasus, yang akan menjadi mola destruens atau
koriokarsinoma.

13
B. Teori Manajemen Kebidanan

1. Pengertian Asuhan Kebidanan

Asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan
oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasar ilmu dan kiat
kebidanan (Kepmenkes, 2007).

Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung
jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan atau
masalah dalam bidang kesehatan ibu pada masa hamil, masa persalinan, nifas, bayi setelah
lahir serta keluarga berencana (Sofyan, 2006).

2. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan

Manajemen kebidanan adalah metode dengan pengorganisasian pemikiran dan


tindakan dengan urutan yang logis serta menguntungkan, baik bagi klien maupun bidan
(Saminem, 2008).

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai


metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah temuan,
ketrampilan dalam rangkaian / tahapan yang logis untuk mengambil keputusan yang
terfokus pada klien (Salmah, 2006).

3. Manajemen Kebidanan 7 Langkah Varney

Proses manajemen yang dipakai oleh bidan mengacu pada tujuh langkah Varney yang
terdiri dari:

a. Langkah I : Pengumpulan dan Pengkajian Data

Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari
semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien yang meliputi data subjektif, objektif,
dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi klien yang sebenarnya dan
valid (Salmah, 2006).

Data yang diperoleh dapat berupa data subjektif maupun objektif :

1) Data Subjektif

14
Data subjektif adalah informasi yang dicatat mencakup identitas, keluhan yang
diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada klien (Wildan, 2008; Hidayat 2008)

a) Identitas atau biodata

Menurut Nursalam 2004; Sastrawinata 2004; Varney 2007 terdiri dari :

(1) Nama

Dikaji dengan nama yang jelas dan lengkap, untuk mengetahui identitas pasien
dan penanggung jawab, sedangkan umur untuk mengetahui pengaruh fertilitas
dan prognosis terjadinya kehamilan. Wanita hamil berumur di bawah 20 tahun
dan di atas 35 tahun mempunyai risiko lebih besar terjadi kehamilan mola
hidatidosa.

(2) Umur

Ditulis dalam tahun, untuk mengetahui adanya resiko karena pada umur 20
tahun, alat reproduksi belum siap mnerima kejadiannya. Pada umur lebih dari
25 tahun kerja jantung meningkat karena adanya hemodilusi dan kemungkinan
terjadinya perdarahan.

(3) Suku/bangsa

Ditujukan untuk mengetahui adat istiadat yang menguntungkan dan merugikan


bagi ibu hamil.

(4) Agama

Untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan


pasien/klien. Dengan diketahuinya agama pasien/klien, akan memudahkan
bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

(5) Pendidikan

Untuk mengetahui tingkat intelektual karena pengaruh pekerjaan pasien


terhadap permasalahan keluarga pasien/klien.

15
(6) Pekerjaan

Untuk mengetahui status sosial ekonomi. Keadaan sosial ekonomi akan


berpengaruh terhadap pemenuhan gizi ibu yang pada akhirnya bila ibu
kekurangan protein dan vitamin yang lainnya akan mempengaruhi
pembentukan ovum abnormal yang mengarah pada terbentuknya mola
hidatidosa.

b) Keluhan Utama

Ditanyakan alasan wanita mengunjungi klinik, pusat pelayanan persalinan, rumah


sakit, seperti yang diungkapkan dengan kata-katanya sendiri (Varney, 2007). Ditujukan
pada data utama yang mengarah pada gejala yang berhubungan dengan mola hidatidosa
yaitu : amenorea, rasa mual muntah yang berlebihan, terjadi perdarahan tanpa nyeri yang
hilang timbul ataupun terus menerus berwarna kecoklatan. (Murkoff, 2006).

c) Riwayat menstruasi

Riwayat menstruasi penting untuk mengetahui pada umur berapa ibu mulai
menstruasi, apakah menstruasinya normal, dan apakah lama siklus menstruasi normal. Ini
merupakan beberapa petunjuk mengenai fertilitas dan keseimbangan hormon wanita
tersebut. Hari pertama menstruasi terakhir dicatat, sehingga hari prakiraan lahir (HPL)
dapat ditaksir. Hari tersebut penting untuk menilai lamanya kehamilan dalam
hubungannya dengan besar uterus selama kehamilan (Varney, 2007). Pada penderita mola
hidatidosa mengalami amenorea.

d) Riwayat perkawinan

Ditanyakan untuk mengetahui umur ibu saat menikah, merupakan perkawinan yang
ke-berapa, lama menikah dan merupakan istri atau suami yang ke-berapa (Depkes RI,
2013).

e) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

Riwayat kehamilan yang lalu dikaji, apakah ibu pernah mengalami kehamilan
patologis, jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanya melahirkan, cara
melahirkan. Dengan mengetahui riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu, bidan
dapat mengupayakan pencegahan dan penanggulangannya (Varney, 2007).

16
Pada wanita yang pernah mengalami hamil mola hidatidosa pada kehamilan
sebelumnya serta wanita dengan paritas tinggi, terdapat peningkatan risiko terjadi mola
hidatidosa pada kehamilan selanjutnya (Walsh, 2007).

f) Riwayat kehamilan sekarang

Riwayat kehamilan yang perlu dikaji meliputi ANC (tempat dan frekuensi), imunisasi
TT, keluhan selama kehamilan, gerakan janin, penatalaksanaan dan terapi yang diberikan
(Depkes RI, 2013). Pada trimester pertama kehamilan, biasanya penderita mola hidatidosa
mengalami keluhan mual, muntah, pusing, kadang-kadang berlanjut lebih hebat (Manuaba,
2009)

g) Riwayat Keluarga Berencana

Data yang diperlukan dari riwayat kontrasepsi adalah pengetahuan tetang pilihan
penggunaan kontrasepsi, metode kontrasepsi yang sebelumnya digunakan (tipe, lama
penggunaan masing-masing kontrasepsi, efek samping masing-masing kontrasepsi, dan
alasan penghentian kontrasepsi). Menurut Norwitz (2010) penggunaan kontrasepsi oral
dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan mola
hidatidosa.

h) Riwayat Kesehatan

Adakah riwayat kesehatan/penyakit yang diderita sekarang atau yang lalu seperti
masalah kardiovaskuler, hipertensi, diabetes mellitus, malaria, HIV/AIDS dan lain- lain
(Salmah, 2006).

(1) Riwayat kesehatan sekarang

Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang


diderita pada saat ini yang ada hubungannya dengan masa nifas dan bayinya
(Ambarwati, 2008; Wulandari, 2008)

(2) Riwayat kesehatan yang lalu

Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau


penyakit akut, kronis seperti : Jantung, DM, hipertensi, asma yang dapat
mempengaruhi pada masa nifas ini (Ambarwati, 2008; Wulandari, 2008)

17
i) Pola Kebiasaan Sehari-hari

Pola kebiasaan sehari-hari berkaitan dengan kebiasaan, baik sebelum hamil maupun
saat hamil dalam segi pola makan, pola personal hygiene, kebiasaan hidup, beban kerja
dan kegiatan sehari-hari (Salmah, 2006).

Pola kebiasaan sehari-hari yang dikaji meliputi :

(1) Nutrisi

Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekwensi, banyaknya, jenis


makanan, makanan pantangan (Ambarwati, 2010).

(2) Eliminasi

Dikaji untuk menggambarkan pola eliminasi meliputi kebiasaan BAB dan BAK serta
masalah yang dialami atau dikeluhkan selama kehamilan (Ambarwati, 2010).

(3) Istirahat dan aktivitas

Dikaji untuk mengetahui kegiatan ibu dalam kesehariannya, karena pola istirahat dan
aktivitas ibu hamil sangat mempengaruhi kehamilan (Ambarwati, 2010)

(4) Personal hygiene

Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan tubuh terutama daerah
genetalia (Ambarwati, 2010)

(5) Perilaku seks

Untuk mengetahui berapa kali ibu melakukan hubungan suami istri dan kapan boleh
melakukannya (Ambarwati, 2008)

j) Data psikososial dan agama

Kehamilan akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga dan setiap anggota keluarga
harus beradaptasi, yang prosesnya bergantung pada budaya lingkungan yang sedang
menjadi tren masyarakat (Salmah, 2006).

18
2) Data Objektif

Data objektif adalah data yang diperoleh melalui pemeriksaan (vital sign) dan
pemeriksaan fisik dari kepala sampai kaki (head to toe) serta pemeriksaan laboratorium
yang dilakukan jika diperlukan.

a) Pemeriksaan fisik

(1) Keadaan umum : pada pemeriksaan umum dilakukan untuk mengetahui keadaan
umum dan kesadaran, pengukuran tanda-tanda vital yang
meliputi tekanan darah, suhu, nadi dan respirasi (Varney,
2007).

(2) Kesadaran : untuk mengetahui tingkat kesadaran ibu apakah composmentis,


somnolen, koma. Pada ibu hamil dengan abortus imminens
adalah composmentis (Saifuddin, 2005)

(3) Tensi : untuk mengukur faktor hipertensi atau hipotensi (Saifuddin,


2005), batas normal antara 90/60 mmHg sampai 130/90 mmHg
dan peningkatan diastolik tidak lebih dari 150 mmHg dari
keadaan pasien normal (Wiknjosastro, 2005)

(4) Suhu : untuk mengetahui suhu basal pada ibu hamil, suhu badan yang
normal adalah 360C sampai 370C (Wikjosastro, 2005).

(5) Nadi : untuk mengetahui nadi pasien yang dihitung dalam 1 menit,
batas normal 60-100 x/menit (Wiknjosastro, 2005)

(6) Respirasi : untuk mengetahui frekwensi pernapasan yang dihitung dalam


1 menit, batas normal 12-20 x/menit (Saifuddin, 2005).

b) Pemeriksaan Sitematis

Pemeriksaa fisik yang dilakukan pada penderita mola hidatidosa meliputi :

(1) Inspeksi

Adalah suatu proses observasi yang dilakukan secara sistematik. Inspeksi


dilakukan dengan menggunakan indera pengelihatan, pendengaran, dan penciuman
(Nursalam, 2004)

19
(a) Rambut : untuk mengetahui apakah rambutnya bersih, rontok dan berketombe.

(b) Muka : keadaan muka pucat dan kekuning- kuningan.

(c) Mata : konjungtiva merah muda atau tidak, adakah kuning pada sklera.

(d) Hidung : untuk menilai adanya kelainan, adakah benjolan, adakah hidung
tersumbat.

(e) Telinga : untuk mengetahui apakah didalam ada serumen.

(f) Mulut : untuk mengetahui mulut bersih atau tidak, ada karies dan karang gigi
tidak.

(g) Leher : perlu dikaji untuk mengetahui adanya pembesaran kelenjar gondok atau
tidak, ada pembesaran getah bening atau tidak, dan ada tumor atau tidak.

(2) Dada dan axilia

Adakah benjolan pada payudara atau tidak, payudara simetris atau tidak, puting
susu menonjol atau tidak, pengeluaran ASI/kolostrum sudah keluar atau belum
(Nursalam, 2004).

(a) Mamae : untuk mengetahui apakah ada nyeri, dischage putting, gumpalan,
biopsy (Varney, 2007)

(b) Axilla : untuk mengetahui apakah ada tumor atau nyeri tekan (Varney, 2007)

(3) Abdomen

Perlu dilakukan untuk mengetahui apakah ada luka bekas operasi apa tidak,
striae gravidarum, linea nigra, apakah bagian-bagian janin sudah teraba apa belum.
(Wiknjosastro, 2005).

(4) Ekstermitas

Apakah terdapat odema atau tidak, adakah varises, betis merah atau lembek
atau keras, reflek patella positif atau negatif (Wiknjosastro, 2006)

(5) Genetalia

20
Untuk mengetahui daerah genetalia ekterna yang meliputi kesimetrisan labia
mayora dan labia minora, ada atau tidak varises dan odema, pembesaran kelenjar
bartholini, dan cairan yang keluar berbau busuk atau tidak (Saifuddin, 2005). Pada
mola hidatidosa terjadi perdarahan sedikit demi sedikit atau mendadak berdarah
sambil mengeluarkan jaringan seperti buah anggur. (Wiknjosastro, 2006)

(6) Palpasi

Pemeriksaan palpasi menurut (Hutahean, 2013) meliputi:

(a) Leopold I : untuk menentukan usia kehamilan, apakah ada janin


didalam fundus. Pada mola hidatidosa biasanya rahim
lebih besar dari umur kehamilan

(b) Leopold II : untuk menentukan punggung janin dan bagian terkecil


pada janin.

(c) Leopold III : untuk menentukan bagian janin pada bagian terbawah

(d) Leopold IV : untuk menentukan presentasi dan mengetahui seberapa


bagian kepala janin masuk ke pintu atas panggul.

(e) TBJ : dapat ditentukan berdasarkan Johnson Toshack yang


berguna untuk mengetahui pertimbangan persalinan
secara spontan pervaginam.

Rumus TBJ (Tafsiran Berat Janin) : tinggi fundus uteri dalam cm –N x


155gram TBJ = Taksiran Berat Janin dalam gram

TFU = Tinggi Fundud Uteri dengan Mac Donald dalam cm

N = Kepala janin belum masuk panggul : (TFU – 12)

Kepala janin sudah masuk panggul : (TFU – 11) (Julianty, 2009)

(7) Auskultasi

Adalah pemeriksaan dengan jalan mendengarkan suara yang dihasilkan oleh


tubuh dengan menggunakan stetoskop atau alat lain seperti leanec atau Doppler

21
(Saminem, 2008). Pada pemeriksaan auskultasi penderita mola hidatidosa tidak
terdengar bunyi denyut jantung janin (Varney, 2007).

(8) Perkusi

Pemeriksaan dengan jalan mengetuk atau membandingkan kiri-kanan pada


setiap daerah permukaan tubuh dengan tujuan menghasilkan suara dan
mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk, dan konsistensi jaringan seperti pada reflek
pattela kanan dan kiri negatif atau positif (Mufdilah, 2009). Pada pemeriksaan perkusi
penderita mola hidatidosa seperti pada reflek patella kanan dan kiri positif atau
negatif.

(9) Pemeriksaan dalam

Pemeriksaan dalam pada penderita mola hidatidosa didapatkan hasil seberapa


besar ukuran rahim, rahim terasa lembek, tidak ada bagian-bagian janin, terdapat
perdarahan, dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina (Varney, 2007).

3) Pemeriksaan Penunjang

Data penunjang adalah data atau fakta yang diperoleh dari hasil pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan rontgen, USG dan lain-lain. Dalam pemeriksaan penunjang
ibu hamil dengan mola hidatidosa dilakukan oleh laboratorium yaitu dengan pemeriksaan
darah lengkap, foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udara, Foto rontgen
abdomen : tidak terlihat tulang-tulang janin (pada kehamilan 3 – 4 bulan), β-HCG urin
atau serum : pada mola terdapat peningkatan kadar β-HCG darah atau urin, USG (tanpa
gambaran janin) : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak
terlihat janin (Manuaba, 2009)

b. Langkah II : Intepretasi Data

Interpretasi data adalah proses identifikasi yang akurat atas masalah atau diagnosis
serta kebutuhan perawatan kesehatan yang diidentifikasi khusus, masalah sering kali
berkaitan dengan bagaimana ibu menghadapi kenyataan diagnosisnya dan ini sering kali
bisa diidentifikasi berdasarkan pengalaman bidan dalam mengenali masalah seseorang
(Varney, 2007). Interpretasi data dari data-data yang telah dikumpulkan pada langkah
pengkajian data mengacu pada:

22
1) Diagnosa Kebidanan

Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek
kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan (Salmah, 2006).
Diagnosa kebidanan ditulis dengan lengkap berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
data penunjang antara lain : umur, gravida, para, abortus, jumlah anak hidup, dan diagnosa
medis. Diagnosa kebidanan yang dapat ditegakkan pada kasus ibu hamil dengan mola
hidatidosa yaitu Ny. F umur 18 tahun G1P0A0 umur kehamilan 12 minggu dengan mola
hidatidosa. Dasar diagnosa tersebut adalah :

a) Data subjektif

(1) Ibu mengatakan sudah hamil berapa kali dan apakah pernah mengalami
keguguran.

(2) Ibu mengatakan gejala yang dialaminya antara lain amenorea, mual muntah
yang berlebihan.

(3) Ibu mengatakan apakah pernah memiliki riwayat mola hidatidosa.

(4) Ibu mengatakan apakah sering mengkonsumsi kontrasepsi oral dalam jangka
waktu lama.

(5) Ibu mengatakan tentang keluhan yang dialami yaitu : terjadi perdarahan tanpa
nyeri yang hilang timbul ataupun terus menerus berwarna kecoklatan, rahim
lebih besar dari umur kehamilan (Murkoff, 2006).

b) Data objektif

(1) Inspeksi : pada muka tampak pucat dan kekuning-kuningan.

(2) Palpasi : pada mola hidatidosa biasanya rahim lebih besar dari umur
kehamilan.

(3) Auskultasi :pada mola hidatidosa biasanya tidak terjadi denyut jantung janin.

(4) Genetalia : pada mola hidatidosa biasanya terjadi perdarahan sedikit demi
sedikit atau mendadak berdarah sambil mengeluarkan jaringan seperti
buah anggur.

23
(5) Pemeriksaan dalam : pada mola didapatkan seberapa besar ukuran rahim, rahim
terasa lembek, tidak ada bagian-bagian janin, terdapat
perdarahan.

(6) Data Penunjang : pada mola biasanya ibu hamil dilakukan pemeriksaan oleh
laboratorium yaitu dengan pemeriksaan darah lengkap, foto
thoraks pada mola ada gambaran emboli udara, Foto Rontgen
abdomen tidak terlihat tulang- tulang janin (pada kehamilan 3
– 4 bulan), HCG urin atau serum pada mola terdapat
peningkatan kadar beta hCG darah atau urin, USG (tanpa
gambaran janin) pada mola hidatidosa akan terlihat badai salju
(snow flake pattern) dan tidak terlihat janin.

2) Masalah

Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang ditemukan dari
hasil pengkajian atau yang menyertai diagnosis (Salmah, 2006). Masalah yang muncul
pada ibu hamil dengan mola hidatidosa berkaitan dengan kecemasan pasien terhadap
perdarahan yang dialami sewaktu kehamilan muda (Saifuddin, 2006).

3) Kebutuhan

Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum teridentifikasi dalam
diagnosis dan masalah yang didapatkan dengan melakukan analisis data (Salmah, 2006)

Karena perdarahan yang berulang-ulang, sehingga dibutuhkan pemberian tablet Fe


atau tranfusi darah (Manuaba, 2009). Serta dibutuhkan pula KIE tentang keadaan
kehamilan ibu dengan mola hidatidosa dan pemberian dukungan psikologis (mental dan
support) atas rasa duka akibat kehilangan kehamilannya (Walsh, 2007).

c. Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa Potensial atau Masalah Potensial dan


Mengantisipasi Penanganannya.

Diagnosa potensial ditegakkan berdasarkan diagnosa atau masalah yang telah


diidentifikasi (Varney, 2007). Pada langkah ini bidan dituntut untuk mampu
mengantisipasi masalah potensial tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan
terjadi, tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis potensial
tidak terjadi. Bidan diharapkan waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosis/masalah

24
potensial ini benar-benar terjadi. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan
yang aman (Salmah, 2006).

Diagnosa potensial pada ibu hamil dengan mola hidatidosa adalah terjadinya
perdarahan serta potensi terjadi tumor ganas dari trofoblast yang disebut juga
koriokarsinoma (Sastrawinata, 2004).

d. Langkah IV : Menerapkan Kebutuhan terhadap Tindakan Segera Antisipasi

Yang bisa dilakukan bidan adalah dengan mengobservasi keadaan umum, vital sign
serta perdarahan pervaginam. Pada langkah ini bidan menetapkan kebutuhan terhadap
tindakan segera, melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain
berdasarkan kondisi klien. Pada langkah ini, mengidentifikasi perlunya tindakan segera
oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota
tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien (Salmah, 2006).

Kebutuhan terhadap tindakan segera pada ibu hamil dengan mola hidatidosa adalah
melaksanakan kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pemeriksaan USG dan pemberian
terapi, yaitu : pemberian infus, uterotonik dan pelaksanaan tindakan kuretase. Selain itu
juga melakukan kolaborasi dengan bagian laboratorium untuk cek darah lengkap
(Manuaba, 2009).

e. Langkah V : Rencana Asuhan yang Menyeluruh

Merupakan pengembangan rencana asuhan yang menyeluruh dan ditentukan oleh


langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap
masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Rencana harus mencakup
setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek kesehatan dan disetujui oleh kedua belah
pihak bidan dan klien (Varney, 2007).

Rencana asuhan kebidanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan mola hidatidosa
antara lain :

(1) Berikan informasi tentang keadaan kehamilan dan tindakan yang mungkin dilakukan
kepada ibu dan keluarga.

(2) Berikan dukungan moril kepada ibu dengan melibatkan suami atau keluarga dalam
perawatan.

25
(3) Observasi keadaan umum, vital sign, dan pengeluaran pervaginam.

(4) Kolaborasi dengan bagian radiologi untuk pemeriksaan USG dan rontgen.

(5) Kolaborasi dengan dokter SpOG dalam perbaikan keadaan umum, pengeluaran
jaringan mola hidatidosa, kemoterapi, dan pengawasan lanjutan.

(6) Kolaborasi dengan bagian laboratorium untuk cek darah. (Saifuddin, 2006; Sinclair,
2009).

f. Langkah VI : Implementasi

Pada langkah keenam ini, rencana dapat dilakukan seluruhnya oleh bidan atau
sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya. Apabila tidak dapat
melakukannya sendiri bidan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa implementasi
benar-benar dilakukan. Pada keadaan melakukan kolaborasi dengan dokter dan memberi
kontribusi terhadap penatalaksanaan perawatan ibu dengan komplikasi, bidan dapat
mengambil tanggung jawab mengimplementasikan rencana perawatan kolaborasi yang
menyeluruh. Suatu komponen implementasi yang sangat penting adalah
pendokumentasian secara berkala, akurat dan menyeluruh (Varney, 2007).

Pelaksanaan asuhan yang sesuai dengan perencanaan yang ditujukan untuk kehamilan
dengan mola hidatidosa antara lain :

(1) Memberikan informasi tentang keadaan kehamilan dan tindakan yang mungkin
dilakukan kepada ibu dan keluarga.

(2) Memberikan dukungan moril kepada ibu dengan melibatkan suami atau keluarga
dalam perawatan.

(3) Melakukan observasi keadaan umum, vital sign, dan pengeluaran pervaginam.

(4) Kolaborasi dengan bagian radiologi untuk pemeriksaan USG dan rontgen.

(5) Kolaborasi dengan dokter SpOG dalam perbaikan keadaan umum, pengeluaran
jaringan mola hidatidosa, kemoterapi, dan pengawasan lanjutan.

(6) Melakukan kolaborasi dengan bagian laboratorium untuk cek darah.

(Saifuddin, 2006; Sinclair, 2009)

26
g. Langkah VII : Evaluasi

Merupakan tindakan untuk memeriksa apakah rencana perawatan yang dilakukan


telah mencapai tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan ibu, seperti :

1) Ibu dan keluarga mengerti tentang keadaan kehamilannya dan tindakan yang akan
dilakukan.

2) Keluarga memberikan dukungan moril kepada ibu.

3) Observasi keadaan umum baik, vital sign normal dan sudah tidak terjadi perdarahan
pervaginam.

4) Hasil pemeriksaan radiologi membaik, hasil USG tidak ada mola hidatidosa lagi.

5) Hasil laboratorium baik Hb normal

Rencana tersebut dapat dianggap efektif, jika memang benar efektif dalam
pelaksanaannya (Salmah, 2006).

4. Data perkembangan

Di dalam memberikan asuhan lanjutan digunakan tujuh langkah Varney, sebagai


catatan perkembangan dilakukan asuhan kebidanan SOAP dalam pendokumentasian
(Varney, 2004)

SOAP disarikan dari proses pemikiran penatalaksanaan kebidanan dipakai untuk


mendokumentasikan asuhan pasien dalam rekam medis pasien sebagai catatan kemajuan
atau perkembangan, SOAP terdiri dari :

S : Subyektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa


sebagai langkah satu Varney.

O : Obyektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan


tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan sebagai
langkah 1 Varney.

27
A : Assessment

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subjektif dan


objektif dalam suatu identifikasi dan masalah kebidanan serta kebutuhan sebagai langkah
2 Varney.

P : Planning

Penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah


dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara komprehensif,
penyuluhan dan dukungan, kolaborasi, evaluasi atau follow up dari rujukan sebagai
langkah 3, 4, 5, 6, dan 7 Varney (KepMenKes RI No. 938/Menkes/SK/VII/2007).

28
DAFTAR PUSTAKA

Hutahean, S. 2013. Perawatan Antenatal. Salemba Medika:

Jakarta Selatan. Kurniawati D. 2009. Obgynacea. Yogyakarta :

TOSCA Enterprise

Lukluk, Z.A, Aspuah, S. 2013. Anatomi Fisiologi dan Obsgyn. Nuha Medika:
Yogyakarta.

Manuaba I. 2009. Buku Ajar Ginekologi untuk Mahasiswa


Kebidanan. Jakarta : EGC.

Morgan, G. 2009. Obsteri & Ginekologi. Edisi 2: Jakarta. EGC.

Mufdilah, 2009. Panduan Asuhan Kebidanan Ibu Hamil. Nuha


Medika : Yogyakarta.

Murkoff H. 2006. Kehamilan : Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan, Ed.3.

Jakarta : Arca

29
30