Anda di halaman 1dari 12

TEKNOLOGI BATUBARA

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas yang Diberikan oleh Dosen Mata Kuliah Teknologi
Batubara

Oleh :
Tegar Arazaq (NIM 2016312001)
Program Studi : Teknik Kima
Jurusan : Kimia
Dosen Pembimbing : Aan Sefentri, M. T.
NIDN : 0230097301

UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

PALEMBANG

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa. Karena atas berkat

dan hidayah Nya kami bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tugas ini dikerjakan untuk

memenuhi salah satu tugas kuliah Teknologi Batubara

Di dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan, untuk itu kami ingin mengucapkan

permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Kritik dan saran akan kami terima sebagai suatu

masukan yang baik untuk kami kedepannya. Tidak lupa kami sampaikan terimakasih yang

sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikan tugas ini. Mudah-

mudahan semua bantuannya diberikan balasan yang terbaik oleh tuhan Yang Maha Esa.

Untuk itu, sekali lagi kami ucapkan maaf yang sebesar-besarnya, mudah-mudahan

tugas ini bermanfaat bagi kita semua. Terimakasih

Palembang, December 2018

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mengingat adanya kebijakan pemerintah, bahwasanya komoditi berbagai macam bahan


baku energi, mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembangunan perekonomian
Indonesia, maka kualitas serta kuantitas akan keberadaannya semakin dicari dan sangat
diperlukan mengenai informasinya.

Untuk itu maka harus selalu diantisipasi dengan kegiatan pekerjaan yang menyangkut
inventarisasi dari berbagai macam bahan baku energi, baik melakukan kegiatan yang
bersifat lapangan maupun bersifat study literature. Mengingat akan pentingnya bahan baku
energi alternatif pengganti minyak bumi, yang salah satunya adalah batubara yang
keberadaannya cukup melimpah dan sangat potensial sebagai bahan bakar industri.

Kegiatan eksplorasi batubara di Indonesia semakin meningkat terutama sejak tahun


1985, baik yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta.Hal ini disebabkan
karena semakin meningkatnya kebutuhan batubara, baik kebutuhan dalam negeri maupun
untuk diekspor.Endapan batubara di Indonesia cukup melimpah terutama di Pulau Sumatera
dan Kalimantan serta sebagian kecil di Pulau Jawa, Papua dan Sulawesi.

Batubara di Indonesia berdasarkan data 2005, kalori rendah (24,36%), kalori sedang
(61,42%), kalori tinggi (13,08%) dan kalori sangat tinggi (1,14%) dengan jumlah
sumberdaya sebesar 61.273,99 milyar ton. Sumber daya batubara tersebut tersebar di 19
propinsi.

Perkembangan produksi batubara nasional tersebut tentunya tidak terlepas dari


permintaan dalam negeri (domestik) dan luar negeri (ekspor) yang terus meningkat setiap
tahunnya. Sebagian besar produksi tersebut untuk memenuhi permintaan luar negeri yaitu
rata-rata 72,11% dan sisanya 27,89% untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Hal ini
mengingat sumber daya batubara Indonesia yang masih melimpah, dilain pihak harga BBM
yang tetap tinggi, menuntut industri yang selama ini berbahan bakar minyak untuk beralih
menggunakan batubara.

3
Adanya rencana pembangunan PLTU baru di dalam dan luar Pulau Jawa dengan total
kapasitas 10.000 MW, meningkatnya produksi semen setiap tahun, dan semakin
berkembangnya industri-industri lain, seperti industri kertas (pulp) dan industri tekstil
merupakan indikasi permintaan dalam negeri akan semakin meningkat. Demikian pula
halnya dengan permintaan batubara dari negara-negara pengimpor mengakibatkan produksi
akan semakin meningkat pula.

Terkait dengan hal tersebut, pemerintah mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional


(KEN) melalui PP Nomor 5 Tahun 2006 sebagai pembaruan Kebijakan Umum Bidang
Energi (KUBE) tahun 1998. KEN mempunyai tujuan utama untuk menciptakan keamanan
pasokan energi nasional secara berkelanjutan dan pemanfaatan energi secara efisien, serta
terwujudnya bauran energi (energy mix) yang optimal pada tahun 2025. Untuk itu
ketergantungan terhadap satu jenis sumber energi seperti BBM harus dikurangi dengan
memanfaatkan sumber energi alternatif diantaraanya batubara.Penimbunan danau dan
sedimen lainnya, bersama dengan pergeseran kerak bumi (dikenal sebagai pergeseran
tektonik) mengubur rawa dan gambut yang seringkali sampai ke kedalaman yang sangat
dalam.Dengan penimbunan tersebut, material tumbuhan tersebut terkena suhu dan tekanan
yang tinggi. Suhu dan tekanan yang tinggi tersebut menyebabkan tumbuhan tersebut
mengalami proses perubahan fisika dan kimiawi dan mengubah tumbuhan tersebut menjadi
gambut dan kemudian batubara.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Batubara
Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa
tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses
fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun, dengan rumus kimia untuk
antrasit adalah C240H90O4NS dan untuk bituminus adalah C137H97O9NS. Oleh karena
itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. Adapun proses yang
mengubah tumbuhan menjadi batubara tadi disebut dengan pembatubaraan
(coalification).
Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan zaman geologi
dan lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi pengendapan
(sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas bumi serta perubahan
geologi yang berlangsung kemudian, akan menyebabkan terbentuknya batubara yang
jenisnya bermacam-macam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda
sesuai dengan lapangan batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).

Gambar 2.1 Lapisan Batubara di Tanah


Dalam proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan
perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara. Berikut ini
ditunjukkan contoh analisis dari masing - masing unsur yang terdapat dalam setiap
tahapan pembatubaraan.

5
Semakin tinggi tingkat pembatubaraan, maka kadar karbon akan meningkat,
sedangkan hidrogen dan oksigenakan berkurang. Karena tingkat pembatubaraan secara
umum dapat diasosiasikan dengan mutu atau kualitas batubara, maka batubara dengan
tingkat pembatubaraan rendah disebut batubara bermutu rendah, seperti lignite dan
sub-bituminus.Biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram
seperti tanah, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon
yang rendah, sehingga kandungan energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu
batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin
hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar
karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar.

2.2 Sejarah Pembentukan Batubara

 Endapan Batubara Eosen

Endapan ini terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai sekitar
Tersier Bawah atau Paleogen pada cekungan-cekungan sedimen di Sumatera dan
Kalimantan.Ekstensi berumur eosen ini terjadi sepanjang tepian Paparan Sunda, dari
sebelah barat Sulawesi, Kalimantan bagian timur, Laut Jawa hingga Sumatera. Dari
batuan sedimen yang pernah ditemukan dapat diketahui bahwa pengendapan
berlangsung mulai terjadi pada eosen tengah. Pemekaran Tersier Bawah terjadi pada
Paparan Sunda ini ditafsirkan berada di tatanan busur dalam, yang disebabkan terutama
oleh gerak penunjaman Lempeng Indo-Australia. Lingkungan pengendapan mula-mula
pada saat Paleogen itu non marin, terutama fluviatil, kipas aluvial dan endapan danau
dangkal.

Endapan betubara eosen yang telah umum dikenal terjadi pada cekungan berikut :
Pasir dan Asam-asam (Kalimantan Selatan dan Timur), Barito (Kalimantan Selatan),
Kutai Atas (Kalimantan Tengah dan Timur), Melawi dan Ketungau (Kalimantan Barat),
Tarakan (Kalimantan Timur), Ombilin (Sumatera Barat) dan Sumatera Tengah (Riau).

 Endapan Batubara Miosen

6
Pada Miosen Awal, pemekaran regional tersier bawah – tengah pada Paparan Sunda
telah berakhir. Pada kala Oligosen hingga awal Miosen ini terjadi transgresi marin pada
kawasan yang luas dimana terendapkan sedimen marin klasik yang tebal dan
perselingan sekuen batu gamping. Pengangkatan dan kompresi adalah kenampakan
yang umum pada tektonik Neogen di Kalimantan maupun Sumatera.Endapan batubara
miosen yang ekonomis terutama terdapat di cekungan Kutai bagian bawah (Kalimantan
Timur), cekungan Barito (Kalimantan Selatan) dan cekungan Sumatera bagian
Selatan.Batubara miosen juga secara ekonomis ditambang di cekungan Bengkulu.

Batubara ini umumnya terdeposisi pada lingkungan fluvial, delta dan dataran pantai
yang mirip dengan daerah pembentukan gambut sat ini di Sumatera bagian timur. Ciri
utama lainnya adalah kadar abu dan belerang yang rendah. Namun kebanyakan
sumberdaya batubara miosen ini tergolong sub bituminus atau lignit sehingga kurang
ekonomis kecuali sangat tebal atau lokasi geografisnya menguntungkan. Namun
batubara miosen di beberapa lokasi juga tergolong kelas tinggi seperti pada Cebakan
Pinang, endapan batubara disekitar hilir Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dan
beberapa lokasi di dekat Tanjung Enim, Cekungan Sumatera bagian Selatan.

2.3 Tahap Pembentukan Sisa Tumbuhan

Proses pembentukan dari sisa tumbuh-tumbuhan menjadi gambut, kemudian menjadi


batubara muda sampai batubara tua dalam dua tahap:
1.Tahap Biokimia, merupakan tahap awal dari proses pembatubaraan. Pada tahap ini
menjadi proses pembusukan sisa-sisa tumbuhan yang disebabkan oleh bekerjanya
bakteri anaerob. Karena produk warna dari proses ini adalah gambut, maka tahap
awal pembatubaraan sering di sebut penggambutan (peatification). Gambut adalah
batuan sedimen organik yang dapat terbakar yang berasal dari tumpukan hancuran
atau bagian dari tumbuhan yang terhumifikasi dan dalam keadaan tertutup udara
(dibawah air), tidak padat, kandungan air lebih dari 75 %, dan kandungan mineral
lebih kecil dari 50% dalam kondisi kering. Tahap penggambutan (peatification)
adalah tahap dimana sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi tersimpan dalam
kondisi reduksi di daerah rawa dengan sistem pengeringan yang buruk dan selalu

7
tergenang air pada kedalaman 0,5 – 10 meter. Material tumbuhan yang busuk ini
melepaskan H, N, O, dan C dalam bentuk senyawa CO2, H2O, dan NH3 untuk
menjadi humus. Selanjutnya oleh bakteri anaerobik dan fungi diubah menjadi
gambut (Stach, 1982, op cit Tirasonjaya, 2006a).
2. Tahap Geokimia, proses inilah yang di sebut proses pembatubaraan
(coalification). Bertambah gelapnya warna dari massa pembentukan batubara,
naiknya kekerasan dan perubahan tekstur. Pada proses ini terjadi perubahan dari
gambut menjadi lignit, sub bituminus dan akhirnya antrasit menjadi meta antrasit.
Lapisan gambut yang terbentuk kemudian ditutupi oleh suatu lapisan sedimen,
maka lapisan gambut tersebut mengalami tekanan dari lapisan sedimen di atasnya.
Tekanan yang meningkat mengakibatkan peningkatan temperatur. Disamping itu
temperatur juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman, disebut
gradient geotermik. Kenaikan temperatur dan tekanan dapat juga disebabkan oleh
aktivitas magma, proses pembentukan gunung api serta aktivitas tektonik lainnya.
Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi
gambut menjadi batubara dimana terjadi proses pengurangan kandungan air,
pelepasan gas gas (CO2, H2O, CO, CH4), peningkatan kepadatan dan kekerasan
serta penigkatan nilai kalor. Komposisi batubara terdiri dari unsur C, H, O, N, S,
P, dan unsur-unsur lain (air, gas, abu). Secara Horisontal maupun Vertikal
endapan batubara bersifat heterogen. Tahap pembatubaraan (coalification)
merupakan gabungan proses biologi, kimia, dan fisika yang terjadi karena
pengaruh pembebanan dari sedimen yang menutupinya, temperatur, tekanan, dan
waktu terhadap komponen organik dari gambut. Proses ini akan menghasilkan
batu bara dalam berbagai tingkat kematangan material organiknya mulai dari
lignit, sub bituminus, bituminus, semi antrasit, antrasit, hingga meta antrasit.

2.4 Materi Pembentuk Batubara

Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan


pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut :

8
1. Alga, dari Zaman Pre-Kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal.Sangat
sedikit endapan batubara dari periode ini.
2. Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari
alga.Sedikit endapan batubara pada periode ini.
3. Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas.Materi utama pembentuk
batubara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga
dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
4. Gimnospermae, kurun waktu mulai Zaman Permian hingga Kapur Tengah.
Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, misal pinus, mengandung
kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan
glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian seperti di Australia, India dan
Afrika.
5. Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini.Jenis tumbuhan modern, buah
yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding
gimnospermae sehingga secara umum kurang terawetkan.

2.5Kelas dan Jenis Batubara

Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas


dan waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas yaitu antrasit, bituminus, sub
bituminus, lignit dan gambut. Tingkat perubahan yang dialami batubara dari gambut
sampai menjadi antrasit disebut sebagai pengarangan dan memiliki hubungan yang
penting dan hubungan tersebut disebagai ‘tingkat mutu’ batubara.

a. Antrasit adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster)
metalik, mengandung antara 86% – 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang
dari 8%. Batubara jenis ini adalah batubara dengan mutu yang lebih tinggi
umumnya lebih keras dan kuat dan seringkali berwarna hitam cemerlang seperti
kaca.Batubara jenis ini memiliki kandungan karbon yang lebih banyak, tingkat
kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi yang lebih banyak.
b. Bituminus mengandung 68% – 86% unsur karbon (C) dengan kadar air 8 – 10%
dari beratnya, Kelas batubara yang paling banyak ditambang di Australia.

9
c. Sub Bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air. Oleh karenanya
menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
d. Lignit atau batubara muda coklat adalah batubara yang sangat lunak dengan kadar
air 35 – 75% dari beratnya. Batubara muda memiliki tingkat kelembaban yang
tinggi an kandungan karbon yang rendah sehingga kandungan energinya pun
rendah.
e. Gambut, berpori dan memiliki kadar air diatas 75% serta nilai kalori yang paling
rendah.

Berdasarkan acuan tersebut dibuat dasar pembagian kualitas batubara Indonesia,


yaitu :

Batubara Kalori Rendah adalah jenis batubara yang paling rendah peringkatnya,
bersifat lunak-keras, mudah diremas, mengandung kadar air tinggi (10 – 70%),
memperlihatkan struktur kayu, nilai kalorinya < 5100 kal/gr (adb).

Batubara Kalori Sedang adalah jenis batubara yang peringkatnya lebih tinggi, bersifat
lebih keras, mudah diremas – tidak bisa diremas, kadar air relatif lebih rendah,
umumnya struktur kayu masih tampak, nilai kalorinya 5100 – 6100 kal/gr (adb).

Batubara Kalori Tinggi adalah jenis batubara yang peringkatnya lebih tinggi, bersifat
lebih keras, tidak mudah diremas, kadar air relatif lebih rendah, umumnya struktur kayu
tidak tampak, nilai kalorinya 6100- 7100 kal/gr (adb).

Batubara Kalori Sangat Tinggi adalah jenis batubara dengan peringkat paling tinggi,
umumnya dipengaruhi intrusi ataupun struktur lainnya, kadar air dangat rendah, nilai
kalorinya >7100 kal/gr (adb). Kualitas ini dibuat untuk membatasi batubara kalori
tinggi.

10
BAB III

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari rangkuman diatas, saya dapat menyimpulkan bahwa batubara adalah tumbuhan
yang sudah mati lalu diolah dengan cara yang benar agar memperoleh batubara yang
berkualitas dan batubara adalah salah satu kekayaan alam yang diperlukan bagi
kehidupan manusia, karena jika tidak ada maka, tidak akan ada pembangkit listrik tenaga
uap, industry semen, dan sebagainya. Jadi kita perlu menjaga,memanfaatkan, serta
mengolah batubara dengan benar dan tepat.

11
DAFTAR PUSTAKA

http://www.tekmira.esdm.go.id/data/files/Batubara%20Indonesia.pdf diakses pada 22


December 2018
http://uwityangyoyo.wordpress.com/2009/08/15/potensi-batubara-indonesia/ diakses pada 22
December 2018

http://kyoshiro67.files.wordpress.com/2010/04/te3111_materi-11-sekilas-tentang-genesa-
batubara.pdfdiakses pada 22 December 2018

http://www.englishindo.com/2011/07/penulisan-referensi-dari-pembicaraan.html diakses
pada 22 December 2018

12