Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena

berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun

makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami

membahas Konsep Map dan Rencana Asuhan Keperawatan Pielonepritis.

Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai

pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama

mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan

makalah ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah

ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta

kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami

harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

Semarang,22 November 2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pielonefritis merupakan infeksi piala pada ginjal, tubulus dan jaringan

interstisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kemih

melalui uretra dan naik ke ginjal. Meskipun ginjal menerima 20% sampai 25%

curah jantung, bakteri jarang yang mencapai ginjal melalui aliran darah; kasus

penyebaran secara hematogen kurang dari 3%.

Pielonefritis sering sebagai akibat dari refluks ureterivesikal, dimana katup

uretevesikal yang tidak kompeten meynyebabkan urine mengalir balik (refluks) ke

dalam ureter. Obstruksi traktus urinarius ( yang meningkatkan kerentanan ginjal

terhadap in

feksi), tumor kandung kemih, striktur, hiperplasia prostatik benigna, dan batu

urinarius merupakan penyebab yang lain. Pielonefritis dapat akut dan kronis.

1.2 Rumusan Masalah

a. Bagaimana konsep dasar Pielonefritis dan bagaimana asuhan keperawatan

pada pielonefritis ?

2.2 Tujuan

a. Untuk Mengetahui konsep dasar Pielonefritis danasuhan keperawatan pada

pielonefritis ?

2
BAB II

KONSEP DASAR

2.1 PENGERTIAN

Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tubulus dan

jaringan interstinal dari salah satu atau kedua ginjal (Smeltzer. S C & Bare. B G,

2002).

Pielonefritis adalah suatu bentuk infeksi ginjal yang menyebar keluar dari dalam

pelvis renis dan mengenai bagian korteks renal (Hinchliff. S, 1999).

Pielonefritis adalah inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang

disebabkan karena adanya infeksi oleh bakteri. Infeksi bakteri pada jaringan ginjal

yang di mulai dari saluran kemih bagian bawah terus naik ke ginjal.

2.2 ETIOLOGI

Penyebab pielonfritis secara umum menurut Smeltzer. S C & Bare. B G, 2002

dan menurut Price. S A, 2006 adalah

a) Infeksi bakteri, 80% oleh Escherichia coli dan organisme lain seperti

golongan Proteus, Klebsiella, Enterobacter dan Pseudomonas.

b) Refluks uretrovesikal, dimana katup uretrovesikal yang tidak kompeten

menyebabkan urine mengalir balik ke dalam ureter

c) Obstruksi traktus urinarius yang meningkatkan kerentanan ginjal

terhadap infeksi

d) Tumor kandung kemih

3
e) Striktur

f) Hiperplasia prostatik benigna

g) Batu urinarius

Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi ginjal menurut

Price. S A, 2006

a) Jenis kelamin perempuan

b) Umur yang lebih tua

c) Kehamilan

d) Peralatan kedokteran terutama kateter menetap

e) Penyalahgunaan analgesik secara kronik

f) Penyakit ginjal

g) Penyakit metabolik seperti diabetes

2.3 MANIFESTASI KLINIS

Pyelonefritis dapat di manifestasikan sebagai demam tinggi, sampai

dengan menggigil, nyeri pada daerah costovertebra menjalar keperut, malaise.

Selain tanda dan gejala tersebut biasanya didahului keluhan urgensi dan

frekwensi,disuria, rasa panas seperti terbakar waktu berkemih, urin tampak

keruh dan berbau menyengat. (Prabowo, 2014)

Manifestasi klinis Pielonefritis akut (C.Smeltzer, n.d.)

a. Menggigil, demam, leukositosis, bakteriuria dan piuuria

4
b. Nyeri punggung bawah, nyeri pinggang, mual dan muntah, sakit kepala,

malaise, dan nyeri pada saat berkemih adalah gejala yang sering

diremukan.

c. Nyeri dan nyeri tekan pada area sudut kostrovertebral.

d. Gejala pada saluran kemih bawah seperti urgensi berkemih atau sering

berkemih, sering dikeluhkan.

Manifestasi klinis pielonefritis kronis (C.Smeltzer, n.d.)

a. Psien biasanya tidak menunjukkan gejala infeksi kecuali jika terjadi

eksaserbasi akut.

b. Keletihan, sakit kepala, dan nafsu makan menurun

c. Poliurea, sensasi harus berlebihan, dan kehilangan berat badan mungkin

terjadi.

d. Infeksi persistem dan berulang lambat laun dapat menyebabkan

pembentukkan jaringan parut yang mengarah ke gagal ginjal.

2.4 PATOFISIOLOGI

Masuk ke dalam pelvis ginjal dan terjadi inflamasi. Inflamasi ini menyebabkan

pembekakan daerah tersebut, dimulai dari papila dan menyebar ke daerah korteks.

Infeksi terjadi setelah terjadinya cytitis, prostatitis (asccending) atau

karena infeksi steptococcus yang berasal dari darah (descending).

5
Umumnya bakteri seperti Eschericia coli, Streptococus fecalis,

Pseudomonas aeruginosa, dan Staphilococus aureus yang menginfeksi ginjal

berasal dari luar tubuh yang masuk melalui saluran kemih bagian bawah

(uretra), merambat ke kandung kemih, lalu ke ureter (saluran kemih bagian atas

yang menghubungkan kandung kemih dan ginjal) dan tibalah ke ginjal, yang

kemudian menyebar dan dapat membentuk koloni infeksi dalam waktu 24-48

jam. Infeksi bakteri pada ginjal juga dapat disebarkan melalui alat-alat seperti

kateter dan bedah urologis. Bakteri lebih mudah menyerang ginjal bila terdapat

hambatan atau obstruksi saluran kemih yang mempersulit pengeluaran urin

seperti adanya batu atau tumor.

Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal yang tidak

lazim. Korteks dan medula mengembang dan multipel abses. Resolusi dari

inflamasi menghasilkan fibrosis dan scarring. Pielonefritis kronis muncul

setelah periode berulang dari pielonefritis akut. Ginjal mengalami perubahan

degeneratif dan menjadi kecil serta atrophic. Jika destruksi nefron meluas, dapat

berkembang menjadi gagal ginjal.

2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Urinalisis

 Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya

ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang

pandang besar (LPB) sediment air kemih

6
 Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB

sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan

patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.

b. Bakteriologis

 Mikroskopis : satu bakteri lapangan pandang minyak emersi. 102 -

103 organisme koliform / mL urin plus piuria

 Biakan bakteri

 Tes kimiawi : tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna

pada uji carik

c. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik

d. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin

dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter

dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.

e. Metode tes

 Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes

Griess untuk pengurangan nitrat).

 Tes esterase lekosit positif: maka pasien mengalami piuria.

 Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang

mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.

f. Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme

menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria

gonorrhoeae, herpes simplek).

g. Tes- tes tambahan :

7
 Urogram intravena (IVU).

 Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan

untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus

urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau

hiperplasie prostate.

 Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur

urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab

kambuhnya infeksi yang resisten.

2.6 PENATALAKSANAAN MEDIS

Infeksi ginjal akut setelah diobati beberapa minggu biasanya akansembuh

tuntas. Namun residu infeksi bakteri dapat menyebabkan penyakitkambuh

kembali terutama pada penderita yang kekebalan tubuhnya lemahseperti

penderita diabetes atau adanya sumbatan atau hambatan aliran urinmisalnya

oleh batu, tumor dan sebagainya.

1. Penatalaksanaan medis menurut Barbara K. Timby dan Nancy E. Smith

tahun 2007:

a. Mengurangi demam dan nyeri dan menentukan obat-obat

antimikrobial seperti trimethroprim-sulfamethoxazole (TMF-SMZ,

Septra), gentamycin dengan atau tanpa ampicilin, cephelosporin, atau

ciprofloksasin (cipro)selama 14 hari.

b. Merilekskan otot halus pada ureter dan kandung kemih,

meningkatkan rasanyaman, dan meningkatkan kapasitas kandung kemih

8
menggunakan obatfarmakologi tambahan antispasmodic dan

anticholinergic sepertioxybutinin (Ditropan) dan propantheline (Pro-

Banthine).

c. Pada kasus kronis, pengobatan difokuskan pada pencegahan

kerusakanginjal secara progresif.

2. Penatalaksanaan keperawatan menurut Barbara K. Timby dan Nancy

E.Smith tahun 2007:

a. Mengkaji riwayat medis, obat-obatan, dan alergi.

b. Monitor Vital Sign.

c. Melakukan pemeriksaan fisik.

d. Mengobservasi dan mendokumentasi karakteristik urine klien.

e. Mengumpulkan spesimen urin segar untuk urinalisis.

f. Memantau input dan output cairan.

g. Mengevaluasi hasil tes laboratorium (BUN, creatinin, serum

electrolytes).

h. Memberikan dorongan semangat pada klien untuk mengikuti

prosedur pengobatan. Karena pada kasus kronis, pengobatan

bertambah lama danmemakan banyak biaya yang dapat membuat

pasien berkecil hati.

9
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Dalam melakukan pengkajian pada klien pielonefritis menggunakan

pendekatan bersifat menyeluruh yaitu :

a Data biologis meliputi :

 Identitas Klien

 Identitas penanggung

b. Riwayat kesehatan :

 Riwayat infeksi saluran kemih

 Riwayat pernah menderita batu ginjal

 Riwayat penyakit DM, Jantung

c. Pengkajian fisik :

 Palpasi kandung kemih

 Infeksi darah

Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernian urine

Pengkajian pada costovertebralis

d. Riwayat psikososial

Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan persepsi terhadap kondisi penyakit

mekanisme kopin dan system pendukung

e. Pengkajian pengtahuan klien dan keluarga

Pemahaman tentang penyebab / perjalanan penyakit

Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi medis

10
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

aktif(00028)

b. Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera biologis (00132)

c. Hipertermia berhubungan dengan penyakit (00006)

1. Kekurangan volume cairan (00028)

NOC :

1. Keseimbangan cairan

`masalah kekurangan volume cairan dapat teratasi dengan indikator

a. (060101) Tekanan darah ditingkatkan keskala 5

b. (060102)Tidak terjadi hipertensi ortostatik ditpertahankan

pada skala 4

c. (060107)Intake-output seimbang dalam 24 jam ditingkatkan

keskala 5

d. (060118)Serum, elektrolit dan urinalisa dalam batas normal

dipertahankan keskala 5

e. (060109) Berat badan dalam batas normal/stabil

dipertahankan ke sekala 5

Keterangan :

a. Sangat terganggu (1)

b. Banyak terganggu (2)

c. Cukup terganggu (3)

11
d. Sedikit terganggu (4)

e. Tidak terganggu (5)

NIC :

Manajemen Cairan (4120)

Meningkatkan keseimbangan cairan dan pencegahan.Komplikasi

yang dihasilkan dari tingkat cairan tidak normal atau tidak

diinginkan.

1. Pertahankan resusistasikardiopulmonar ketika defibrilasi

ekternal tidak diberikan

2. Tentukan tipe dan teknik prosedur defibrilasi yang tersedia

3. Monitor hasildan ulangi sesuai imdikasi

4. Menimalkan interpusi kompresi dad pada pasienyang tidak

responsif

5. catat kejadian dengan tepat

 Medication management

1. Tentukan obat yang dibutuhkan dan berikan sesuai resep

dokter

2. Monitor keefektifan pengobatan yang diberikan

3. Monitor efek samping obat

4. Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang hasil yang

diharapkan dan efek samping obat

12
2. Nyeri akut (00132)

NOC :

1. Kontrol nyeri (1605)

Tindakan pribadi untuk mengontrol nyeri

masalah nyeri akut dapat teratasi dengan indikator

a. (160502) Mengenai kapan nyeri terjadi ditingkatkan

keskala 1

b. (160501)Menggambarkan faktor penyebab ditingkatkan

kesekala 1

c. (160513) Melaporkan perubahan terhadap gejala nyeri pada

profesional kesehatan dipertahankan kesekala 2

d. (160509) Mengenali apa yang terkait dengan gejala nyeri

dipertahankan kesekala 2

e. (160511) Melaporkan nyeri yang terkontrol dipertahankan

kesekala 1

Keterangan :

a. Tidak pernah menunjukan (1)

b. Jarang menunjukan (2)

c. Kadang kadang menunjukan (3)

d. Sering menunjukan (4)

e. Secara konsisten menunjukan (5)

13
NIC :

Intervensi keperawatan yang disarankan untuk menyelesaikan masalah

 pemberian Analgesik (2210)

Penggunaan agen farmakologi untuk mengurangi atau menghilangkan

nyeri

1. Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan berat nyeri

sebelum memberikan pengobatan

2. Cek catatan medis untuk jenis obat, dosis, dan frekuensi

pemberian analgetik

3. Kaji adanya alergi obat

4. Berikan analgetik sesuai jam pemberian

 Manajemen nyeri

1. Kaji secara komphrehensif tentang nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik

dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan

faktor-faktor presipitasi

2. Gunakan komunkiasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan

nyeri

3. Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup: pola tidur,

nafsu makan, aktifitas kognisi, mood, relationship, pekerjaan, tanggung

jawab peran

14
4. Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama terjadi,

dan tindakan pencegahan

5. Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi (ex: relaksasi, guided

imagery, terapi musik, distraksi, aplikasi panas-dingin, massase, TENS,

hipnotis, terapi bermain, terapi aktivitas, akupresusure)

3. Hipertermia (00006)

Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal

NOC :

 Thermoregulasi (0800)

Keseimbangan antara produksi panas,Mendapatkan panas ,dan

kehilangan panas.

masalah hipertermia teratasi dengan indikator

a) (080015) Suhu tubuh dalam batas normal 36 – 37º C dipertahankan

kesekala 5

b) (080012) Nadi dan RR dalam rentang normal dipertahankan

kesekala 5

c) (080007) Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

dipertahankan kesekala 5

d) (080015) Merasa nyaman dipertahankan kesekala 5

Keterangan :

a. Sangat terganggu (1)

b. Banyak terganggu (2)

15
c. Cukup terganggu (3)

d. Sedikit terganggu (4)

e. Tidak terganggu (5)

NIC :

perawatan demam (3740)

Manajement gejala dan kondisi terkait yang berhubungan dengan

peningkatan suhu tubuh dimediasi oleh pirogen endogen

1. Monitor suhu sesering mungkin

2. Monitor tekanan darah, nadi dan RR

3. Berikan anti piretik

4. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila

5. Tingkatkan sirkulasi udara

 Pengendalian infeksi

1. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan klien

2. Lakukan universal precautions

3. Lakukan perawatan aseptik pada semua jalur IV

4. Tingkatkan asupan nutrisi

5. Anjurkan asupan cairan

6. Anjurkan istirahat

7. Berikan terapi antibiotik

16
D. Implementasi

Implementasi yang dilakukan berdasarkan rencana keperawatan yang telah

dibuat dan disesuaikan dengan kondisi pasien.

E. Evaluasi

Evaluasi adalah hasil dari asuhan keperawatan yang di berikan apakah

sesuai dengan kriteria hasil ataukah masalah belum teratasi.

17
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Pielonefritis merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus, dan jaringan

interstisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung

kemih melalui uretra dan naik ke ginjal. Meskipun ginjal menerima 20% -

25% curah jantung, bakteri jarang mencapai ginjal melalui darah; kasus

penyebaran secara hematogen kurang dari 3%.

Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus

besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan

penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit.

Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih.

Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah

oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh

penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih.

Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi ginjal adalah:

 kehamilan

 kencing manis

 keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan

tubuh untuk melawan infeksi.

18
Pengobatan dapat dilakukan sebagai berikut :

 Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun

gram negatif.

 Apabila pielonefritis kronisnya di sebabkan oleh obstruksi atau

refluks, maka diperlukan penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi

masalh-masalah tersebut.

 Di anjurkan untuk dering munum dan BAK sesuai kebutuhan untuk

membilas mikroorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk

wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari

kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces.

3.2 SARAN

a) Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang pembaca,terutam

mahasiswa keperawatan

b) Semoga dapat menjadi bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa

keperawatan

c) Semoga makalah ini dapat menjadi poko bahasan dalam berbagai

diskusi dan forum terbuka

19
DAFTAR PUSTAKA

International. NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan 2012-2014, Jakarta: EGC

Moorhead. S, 2006, Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth edition, Mosby

Elsevier

Dochterman. J M, 2004, Nursing Interventions Classification (NIC) Fourth edition,

Mosby Elsevier

Smeltzer. S C & Bare, 2002, B G, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8

Volume 2, Jakarta: EGC

Price. S A & Wilson. L M, 2006, Buku Patofisiologi Edisi 6 Volume 2, Jakarta: EGC

20