Anda di halaman 1dari 5

UJIAN AKHIR SEMESTER GEODINAMIKA 2018

PRODI TEKNIK GEOLOGI, UNIVERSITAS PERTAMINA

Aktivitas Tektonik dan Evolusi Cekungan Ujungkulon Untuk Sumberdaya Alam


Febri Haposan Nasution (101216044)
Departement of Geological Enginering
University of Pertamina
2018

Abstract – Based on the geomorphological appearance in western Java, the implications of the results of the
meeting between three plates, namely the Eurasia (continental) plate is relatively stable and the Indo-Australian
(ocean) plate which moves relatively north and the Pacific plate that moves westward. This interduction between
plates causes the formation of an island arc system. Ujungkulon Basin is one of the fore-arc basins in the western
part of Java which is Tertiary. The evolution of the basin begins with the occurrence of extensionality in the
kenozoic. This movement forms a listric fault and a normal fault. The Ujungkulon Basin itself has a petroleum
systems but has not been able to produce hydorcarbon at this time because the existing thermal energy is not enough
to ripen the source rock and this basin does not have enough thick overburden.
Key Word: fore-arc, subdaction,Ujungkulon & petroleum systems

Berdasarkan kenampakan geomorfologi yang ada di Jawa bagian barat merupakan implikasi dari hasil pertemuan
antar tiga lempeng yaitu lempeng Eurasia (continental) relatif stabil dan lempeng Indo-Australia (ocean) yang relatif
bergerak ke arah utara dan lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat. Subduksi antar lempeng ini menyebabkan
terbentuknya sistem busur kepulauan. Cekungan Ujungkulon sendiri merupakan salah satu cekungan depan busur
(fore-arc) di Jawa bagian Barat yang berumur Tersier. Evolusi cekungan dimulai dari terjadinya ekstensional pada
kenozoikum. Pergerakan ini membentuk listric fault dan normal fault. Cekungan Ujungkulon sendiri memiliki
petroleum system akan tetapi belum dapat menghasilkan hydorcarbon untuk saat ini dikarenakan energi termal yang
ada tidak cukup untuk mematangkan source rock dan cekungan ini tidak memiliki overburden yang cukup tebal

Kata Kunci : fore-arc, subduksi, Ujungkulon, petroleum system

pada tahun 1949 dari data geologi permukaan dan


INTRODUCTION bawah permukaan di Jawa Barat. Struktur yang
terbentuk di wilayah Jawa memiliki tren berarah
Tabrakan antara lempeng Eurasia dan lempeng
East-West Java dimana sejajar dengan poros pulau
Australia terjadi pada Kapur Awal atau setidaknya
jawa, hal ini dianggap berkaitan dengan subduksi
Kapur Akhir yang menyebabkan Lempeng Indo-
yang aktif terjadi pada saat ini dari Lempeng berada
Australia yang di subduksi di bawah Lempeng
di bawah pulau Jawa, dimana berlangsung selama
Eurasia membentuk sistem island-arc (Sukarna et
awal Kenozoikum. Struktur geologi pada bagian
all). Tabrakan ini jugalah yang mempengaruhi
barat pulau Jawa memiliki ciri khusus yang dapat di
terbentuknya pulau jawa bagian barat, hal ini juga
identifikasi dari arah perkembangannya, dimana pada
menyebabkan terbentuknya pola struktural yang
Kapur Akhir hingga Awal Eosen berkembang pola
bervariasi dimana berkembang mulai dari batuan
meratus yang berarah NE-SW, kemudian pada Awal
yang terbentuk pada awal Tersier hingga batuan
Eosen sampai Awal Oligosen memiliki tren struktur
berumur Kuarter. Penyebab keragaman litologi pada
berarah N-S, dan pada Oligisen sampai Holocene
wilayah ini diakibatkan oleh aktifitas vulkanisme dan
pulau Jawa terbentuk pola struktur berarah E-
proses magmatisme yang terus berlangsung dimana
W(Pulunggono & Martodjojo, 1994).
menyebabkan kompleksitas geologi yang ada
sekarang. Hal ini telah dikemukaan oleh Martodjojo
UJIAN AKHIR SEMESTER GEODINAMIKA 2018
PRODI TEKNIK GEOLOGI, UNIVERSITAS PERTAMINA

Cekungan Ujungkulon terletak pada bagian selatan DATA AND METHOD


Jawa Barat sampai dengan sesar strike-slip Sumatera
Beberapa metode tahapan penelitian digunakan
atau berada pada fore-arc basin. Cekungan ini
seperti menganalisis data sekunder yang diperoleh
merupakan cekungan bawah tanah yang berumur
dari literatur dalam bentuk jurnal, dan laporan
Tersier. Pada awal pembentukan cekungan dicirikan
penelitian yang telah dilakukan. Metode penilitian ini
oleh serangkaian struktur ekstensional pada
bertujuan untuk memberikan gambaran tentang
Kenozoikum yang berlangsung di shallow shelf.
fenomena yang terjadi, menjelaskan, dan membuat
Penciri dari struktur tersebut berupa wilayah tinggian
prediksi dari masalah yang akan diselesaikan.
dan rendahan atau half graben yang dimulai dari
Permasalahan terkait kondisi geologi cekungan
Barat ke Timur yaitu Puncak Ujungkulon,
Ujungkulon yang dikaitkan dengan kondisi geologi
Ujungkulon Rendah, Honje Tinggi dan berbatasan
regional di wilayah Jawa Barat dan potensi
dengan daerah Barat Malingping rendah. Pada bagian
hydrocarbon yang terbentuk.
Utara terdapat Sunda Strait (Gambar.1).

REGIONAL GEOLOGY

Indonesia terdapat tiga pertemuan lempeng utama


yang bergerak di area ini. Ketiga lempeng ini saling
bergerak dan bertabrakan, dimana lempeng Indo-
Australia masuk ke bawah lempeng Eurasia
menyebabkan terbentuknya busur kepulauan yang
terbentang dari Jawa bagian timur hingga Jawa
bagian barat. Pada Cretaceous sampai Paleogene
sesar yang mendominasi pembentukan morfologi
yaitu sesar Cimandiri (NE-SW), kemudian pada umur
Pliocene terbentuk pola Sunda (N-S) dan pola Java.
Kemudian pada akhir Oligocen sampai Miosen Awal
terbentuk reverse fault (W-S) (Parkham, 1993)
Regional yang bekerja pada wilayah ini bermula pada
Jurassic akhir ketika Gondwana bergerak kearah
utara menuju Eurasia (Hall, 2012). Subduksi yang
Gambar 1: Lokasi dari Cekungan Ujungkulon(Honje,1997) ada di pulau Jawa dan Sumatera berhenti di akhir
cretaceous dengan kenampakan struktur yang ada
yaitu strike-slip pada akhir cretaceous. Meski sudah
Cekungan-cekungan di Indonesia pada bagian barat
ada subduksi tepi lempeng India terus bergerak ke
yang berumur Tersier terkenal akan menghasilkan
arah utara. Pergerakan ini menyebabkan rifting pada
hydrocarbon. Cekungan busur belakang lebih
Sundaland, rifting ini membentuk cekungan dan
terkenal menghasilkan hydrocarbon dari pada busur
membuat struktur halfgraben yang menjadi struktur
bagian depan hal ini di karenakan pasokan sedimen
utama untuk geologi regional Indonesia bagian Barat
yang cukup banyak, sedangkan pada bagian busur
depan akan di pengaruhi oleh proses magmatisme
RESULT AND DISCUSSION
yang ada.
Evolusi cekungan Ujungkulon berlangsung mulai
dari Cenozoic, hal ini ditandai dengan adanya
ekstensional dimana pengangkatan terjadi di wilayah
Jawa Barat dan cekungan di North West Java pada
UJIAN AKHIR SEMESTER GEODINAMIKA 2018
PRODI TEKNIK GEOLOGI, UNIVERSITAS PERTAMINA

akhir Eosen. Pergerakan lempeng tektonik secara


ekstensi ini membentuk sesar normal yang mana hal
ini merupakan awal mula dari terbentuknya struktur
half-graben. Pada Awal Misosen, pengendapan
sedimen yang terjadi relatif seragam tanpa pengaruh
dari keretakan yang di akibatkan oleh pergerakan
rifting itu sendiri, disini cekungan mengalami fase
post-rif. Proses Rifting pada cekungan kemudian
terjadi kembali pada Miosen Tengah hingga Miosen
Akhir, hal ini menyebabkan tebal sedimen yang
terendapkan menebal kearah sesar yang aktif di barat
atau cekungan mengalami fase syn-rift (Gambar 2).
Pada Pliosen Awal sampai Pliosen Tengah terjadi
Gambar 4: cekungan saat post-rift(G.T.Copper)
kesetimbangan pada cekungan yang menandakan
proses sedimen yang terendapkan memiliki ketebalan
yang relatif sama pada cekungan hal ini menandakan
fase post-rift (Gambar 3, 4, 5)

Model Evolusi Cekungan

Gambar 5: cekungan saat post-rift(G.T.Copper)

Gambar 1: cekungan saat syn-rift(G.T.Copper)

Gambar 2: cekungan saat post-rift(G.T.Copper)

Gambar 6: Sekematik seismik dari area cekungan(Yulianto, 2007)

Gambar 3: cekungan saat post-rift(G.T.Copper)


UJIAN AKHIR SEMESTER GEODINAMIKA 2018
PRODI TEKNIK GEOLOGI, UNIVERSITAS PERTAMINA

Pada cekungan ini dapat di identifikasi


petroleum system yang bekerja terdiri dari.
Source rock yang berpotensi pada cekungan ini
yaitu berada di Formasi Batuasih, hal ini merujuk
pada penelitian yang dilakukan oleh Waples
D.W., 1985 mengenai kandungan TOC dari batu
lempung formasi ini sebesar 0,65-1,06%, angka
ini menunjukkan potensi sedang hingga baik
untuk membentuk hidrokarbon. Untuk formasi
yang dapat menjadi reservoir sendiri terdapat di
Formasi Rajamandala dan Formasi Bayah.
Sedangkan untuk caps rock sendiri upper
batuasih dengan tipe trap
structural(PERTAMINA-BEICIP,1992,and Yulianto
et al., 2007).

CONCLUSIONS

Gambar 7: Interpretasi data seismik cekungan Ujungkulon (Yulianto,2007) Cekungan Ujungkulon berada di wilayah selatan
Jawa bagian barat, pembentukan cekungan ini
dipengaruhi oleh rifting pada kenozoikum.
Kemudian terbentuk rendahan dan tinggian yang
membentuk struktur halfgraben di pengaruhi
oleh listric fault. Pengendapan sedimen terjadi
pada kenozoikum oleh sebab itu terdapat
petroleum system di cekungan Ujungkulon,
dimana source rock yang sangat berpotensi
disini batu lempung di formasi Batuasih dan trap
berupa struktural trap. Sourcerock di cekungan
ini belum matang karena energi termal disini
rendah.

Gambar 8: Interpretasi data seismik cekungan Ujungkulon (Yulianto,2007)


UJIAN AKHIR SEMESTER GEODINAMIKA 2018
PRODI TEKNIK GEOLOGI, UNIVERSITAS PERTAMINA

REFERENCES

Ahnaf, J. S., Patonah, A., & Permana, H. (2018).


Structure and Tectonic Reconstruction of Bayah
Complex Area , Banten, 3(2), 77–85.

Irham, S., Sulaksana, N., & Sudradjat, A. (2018).


Basin Classification Based On Quantitative
Geological Risk Factors, 16, 141–148.

J.T. Keetly, et all (1999). The Structural


Development of the Honje High, Bayah High, and
Offshore areas, West Java. VIEPS School of
Earth Scienes, La Trobe.

Martodjodjo. (1949). Bab II Geologi Regional, 5–8.

Satyana, A. H. (2018). Contribution of Post-2000’s


Petroleum Exploration in Indonesia to Some
Issues of Tectonics: Solutions to Problems, New
Knowledge, and Hydrocarbon Implications,
(May).

Waples D.W. (1985). Geochemistry in Petroleum


Exploration, (International Human Resources
Developmen Co.), 232.

Yulianto, I., Hall, R., Clements, B., & Elders, C. R.


(2007). STRUCTURAL AND
STRATIGRAPHIC EVOLUTION OF THE
OFFSHORE MALINGPING, (May).