Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gempabumi

Gempabumi adalah suatu gerakan tiba-tiba atau suatu rentetan gerakan tiba-tiba

dari tanah yang bersifat transient (sambung-menyambung) yang berasal dari suatu

daerah terbatas dan menyebar dari titik tersebut ke segala arah (Zein (1983)

dalam Happrobo, 2013).

Seorang Seismolog Amerika, Reid (K.E Bullen (1965), B. Bolt (1988) dalam

Adzkia, 2010) mengemukakan suatu teori yang menjelaskan mengenai

bagaimana umumnya gempa itu terjadi. Teori ini dikenal dengan nama “Elastic

Rebound Theory”. Menurut teori ini, gempabumi terjadi pada daerah yang

mengalami deformasi. Deformasi batuan terjadi akibat adanya tekanan (stress)

dan tarikan (strain) pada lapisan bumi. Tekanan atau tarikan yang terus-menerus

menyebabkan daya dukung pada batuan akan mencapai batas maksimum hingga

akhirnya menimbulkan rekahan atau patahan secara tiba-tiba. Energi stress yang

tersimpan inilah yang akan dilepaskan sehingga terbentuklah gempabumi.

Gempabumi tektonik pada dasarnya disebabkan dari pelepasan energi yang

dihasilkan oleh tekanan lempeng yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian

membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak

dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempabumi akan

terjadi. Gempabumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan tersebut.


Berdasarkan arah pergerakannya, perbatasan antara lempeng tektonik yang satu

dengan lainnya (plate boundaries) terbagi dalam 3 jenis, yaitu :

1. Batas divergen, terjadi pada dua lempeng tektonik yang bergerak saling

menjauh. Ketika sebuah lempeng tektonik pecah, lapisan litosfer menipis dan

terbelah, membentuk batas divergen.

2. Batas konvergen, terjadi apabila dua lempeng tektonik tertelan ke arah kerak

bumi, yang mengakibatkan keduanya bergerak saling menumpu satu sama lain.

Wilayah dimana satu lempeng samudra terdorong ke bawah lempeng benua

atau lempeng samudra lain disebut zona tunjaman (subduction zone). Pada

zona inilah sering terjadi gempa.

3. Batas transform, terjadi bila dua lempeng tektonik bergerak sejajar namun

berlawanan arah. Keduanya tidak saling menjauh maupun saling menumpu.

Batas transform ini juga dikenal sebagai sesar ubahan-bentuk (transform fault).

Jika dua lempeng bertemu maka keduanya dapat bergerak saling menjauh,

saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat

dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 1-10 cm pertahun.

Kadang-kadang gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi

pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada

lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut

sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi

(Oktaviani, 2012).

II -2
2.1.1. Macam-Macam Gempa dan Penyebabnya

Ilmu yang mempelajari tentang gempa disebut dengan seismologi. Ilmu ini

mengkaji tentang apa yang terjadi pada permukaan bumi di saat gempa,

bagaimana energi guncangan merambat dari dalam perut bumi ke permukaan, dan

bagaimana energi ini dapat menimbulkan kerusakan, serta proses penghujaman

antarlempeng pada "sesar" bumi yang menyebabkan terjadinya gempa.

Kebanyakan gempabumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan karena

tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu

kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan di mana tekanan tersebut

tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempabumi

akan terjadi. Gempabumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan-lempengan

tersebut. Gempabumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan

kornpresional dan translasional. Gempabumi, kemungkinan besar terjadi karena

materi lapisan lithosfer yang terjepit ke dalam dan mengalami transisi fase pada

kedalaman lebih dari 600 km.

Beberapa gempabumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam

gunung berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya

letusan gunung berapi. Beberapa gempabumi (namun jarang) juga terjadi karena

menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam, seperti Dam Karibia di

Zambia, Afrika. Sebagian lagi juga dapat terjadi karena injeksi atau abstraksi

cairan dari atau ke dalam bumi. Sebagai contoh pada beberapa pembangkit listrik

tenaga panas bumi dan di Rocky Mountain Arsenal. Terakhir, gempa juga dapat

terjadi dari peledakan bahan peledak. Hal ini membuat para ilmuwan terus

II -3
memonitor tes rahasia senjata nuklir yang dilakukan pemerintah. Gempabumi

yang disebabkan oleh manusia seperti ini dinamakan seismisitas terinduksi.

2.1.1.1. Hiposenter dan Episenter (Focus and Epicenter)

Titik dalam perut bumi yang merupakan sumber gempa dinamakan hiposenter

atau fokus. Proyeksi tegak lurus hiposenter ke permukaan bumi ini dinamakan

episenter. Gelombang gempa merambat dari hiposenter ke patahan sesar fault

rupture. Bila kedalaman fokus dari permukaan adalah 0 - 70 km, terjadilah gempa

dangkal (shallow earthquake). Sedangkan bila kedalamannya antara 70-700 km,

teriadilah gempa dalam (deep earthquake). Gempa dangkal menimbulkan efek

guncangan yang lebih dahsyat dibanding gempa dalam. Hal ini dikarenakan letak

fokus gempa lebih dekat ke permukaan, di mana batuan-batuan bersifat lebih

keras sehingga melepaskan lebih besar regangan (strain).

Gambar 2.1. Hiposenter dan Episenter Gempa

Sumber : https://bagusrengga.wordpress.com/2010/03/26/earthquake/

II -4
2.1.1.2. Sesar Bumi (Earth Fault)

Sesar (fault) adalah celah pada kerak bumi yang berada di perbatasan antara dua

lempeng tektonik. Gempa sangat dipengaruhi oleh pergerakan batuan dan

lempeng pada sesar ini. Bila batuan yang menumpu merosot ke bawah akibat

batuan penumpu di kedua sisinya bergerak saling menjauh, sesarnya dinamakan

"sesar normal" (normal fault). Akan tetapi, bila batuan yang menumpu terangkat

ke atas akibat batuan penumpu di kedua sisinya bergerak saling mendorong,

sesarnya dinamakan "sesar terbalik” (reverse fault). Dan, bila kedua batuan pada

sesar bergerak saling menggelangsar, sesarnya dinamakan "sesar geseran-jurus "

(strike-slip fault).

Gambar 2.2. Beberapa jenis sesar

Sumber : https://bagusrengga.wordpress.com/2010/03/26/earthquake/

Sesar normal dan sesar terbalik, keduanya menghasilkan perpindahan vertikal

(vertical displacement). Sedangkan sesar geseran-jurus menghasilkan perpindahan

horizontal (horizontal displacement).

II -5
2.1.2. Jalur Utama Gempabumi

Indonesia merupakan daerah rawan gempabumi karena dilalui oleh jalur

pertemuan 3 lempeng tektonik yaitu : lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia,

dan lempeng Pasifik. Lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke arah utara dan

menyusup kedalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatif

ke arah barat. Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi

gempabumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi menimbulkan

tsunami sehingga Indonesia juga rawan Tsunami.

Terdapat tiga jalur utama gempa bumi yang merupakan batas pertemuan dari

beberapa lempeng tektonik aktif :

a. Jalur gempabumi Sirkum Pasifik

Jalur ini dimulai dari Cardilleras de Los Andes (Chili, Equador dan Caribia),

Amerika Tengah, Mexico, California British Columbia, Alaska, Alaution

Island, Kamchatka, Jepang, Taiwan, Filipina, Indonesia, Polynesia dan

berakhir di New Zaeland.

b. Jalur gempabumi Mediteran atau Trans Asiatic

Jalur ini dimulai dari Azores, mediteran (Maroko, Portugal, Italia, Balkan,

Rumania), Turki, Kaukasus, Irak, Iran, Afganistan, Himalaya, Burma,

Indonesia (Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Laut Banda) dan akhirnya

bertemu dengan jalur sirkum Pasifik di daerah Maluku.

c. Jalur gempabumi Mid-Atlantic

Jalur ini mengikuti Mid-Atlantic Ridge yaitu Spitsbergen, Iceland dan

Atlantik Selatan.

II -6
2.1.3. Kedalaman Gempabumi dan Kekuatan Gempabumi

Berdasarkan kedalaman sumber gempa dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu:

a. Gempabumi dangkal, biasanya gempabumi yang terjadi pada kedalaman

dibawah 60 km dan biasanya yang disebut dengan normal untuk gempa-

gempa yang mempunyai kedalaman 33 km.

b. Gempabumi menengah, untuk gempa-gempa yang mempunyai kedalaman 60

sampai dengan 300 km di bawah permukaan bumi.

c. Gempabumi dalam, untuk gempa-gempa yang mempunyai kedalaman lebih

dari 300 km. Gempa yang terdalam yang pernah dicatat mempunyai

kedalaman 700 km. Rata-rata gempabumi terletak pada kedalaman 25-33 km,

dan berangsur ke bawah tidak lebih dari 700 km. Semakin dangkal pusat

terjadinya gempabumi maka kekuatannya semakin besar. Maka gempabumi

dangkal akan lebih banyak menyebabkan kerusakan bila dibanding

gempabumi dalam.

Jenis gempabumi berdasarkan kekuatan gempa (magnitudo), terdiri atas :

a. Gempa sangat besar (Great Earthquake), yaitu gempabumi dengan

magnitudo M>8 SR.

b. Gempa besar (Major Earthquake), yaitu gempabumi dengan magnitudo M

antara 7 sampai 8 SR.

c. Gempa kecil (Small Earthquake), yaitu gempabumi dengan magnitudo M 3

sampai 5 SR.

d. Gempa Mikro (Micro Earthquake), yaitu gempa dengan magnitudo M antara

1 sampai 3 SR.

II -7
2.1.4. Mekanisme Terjadinya Gempabumi

Tumbukan antar lempeng bumi merupakan salah satu penyebab terjadinya

gempabumi, dimana lempeng samudera yang rapat massanya lebih besar ketika

bertumbukan dengan lempeng benua di zona tumbukan (subduksi) akan

menyusup ke bawah. Gerakan lempeng itu akan mengalami perlambatan akibat

gerakan dari selubung bumi. Perlambatan gerak itu menyebabkan penumpukan

energi di zona subduksi dan zona patahan. Akibatnya di zona-zona itu terjadi

tekanan, tarikan, dan geseran. Pada saat batas elastisitas lempeng terlampaui,

maka terjadilah patahan batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba.

Proses ini menimbulkan getaran partikel ke segala arah yang disebut gelombang

gempabumi atau gelombang seismik. Gelombang inilah yang kemudian diketahui

sebagai penyebab timbulnya gempabumi, seperti yang terlihat pada gambar

berikut ini :

Gambar 2.3. proses terjadinya Gempa Tektonik

https://dedekusn.files.wordpress.com/2012/04/proses-gempa.jpg

II -8
Energi yang ditimbulkan oleh gelombang seismik ini terpancar ke segala arah dari

sumbernya dalam bentuk gelombang yang merambat seperti dalam rambatan

gelombang bunyi di udara ketika sebuah bel/lonceng dipukul.

Pusat gempabumi biasanya dibawah permukaan, sedang pusat gempa yang

terdeteksi di permukaan disebut Epicenter, yang dapat ditentukan dengan

menggunakan alat seismogram dan grafik travel-time, dari kedua kurva diperoleh

jarak pusat gempa di permukaan, atau jarak epicenter dari seismograp.

Terkadang sebuah gempa bumi didahului oleh rangkaian tremor keci (foreshocks).

Foreshock adalah gempa kecil yang terjadi di tempat yang sama dengan gempa

yang lebih besar yang mengikuti kemudian. Para ilmuwan tidak bisa

menyimpulkan bahwa gempa bumi yang terjadi adalah foreshock hingga gempa

besar (utama) selesai terjadi. Gempa yang terbesar, merupakan gempa utama yang

disebut mainshock. Mainshocks selalu memiliki gempa susulan (aftershock) yang

mengikutinya. Gempa susulan adalah gempa kecil yang terjadi setelah gempa

utama yang terjadi di tempat yang sama dengan mainshock tersebut.

2.1.5. Gempabumi Susulan

Gempa bumi susulan (aftershock) merupakan suatu masalah yang hampir selalu

muncul jika terjadi bencana gempabumi tektonik. Gempabumi tidak dapat

diramalkan dan ditetapkan dalam pengertian waktu, lokasi, dan energi yang

dikeluarkannya. Pada umumnya, gempabumi signifikan (besar) akan diikuti

gempabumi susulan yang kekuatan gempanya lebih kecil dari kekuatan gempa

bumi utama, selama selang waktu tertentu.

II -9
Maka, gempabumi susulan adalah serentetan gempabumi yang terjadi setelah

gempa bumi besar yang pada umumnya menimbulkan bencana. Gempa bumi

besar (Magnitudo > 5,5 Skala Richter) yang tidak menimbulkan bencana dan

diikuti oleh gempa susulan juga sering terjadi, peristiwa demikian kurang menarik

perhatian karena tidak ada dampak langsung yang dirasakan manusia.

Daerah terjadinya gempa susulan ialah disekitar lokasi terjadinya sumber

gempabumi utama. Lokasi penyebaran gempa bumi susulan berkaitan langsung

dengan luas bidang sesar gempa utama (Abe 1979, Kanamori, 1977). Rentetan

gempa bumi susulan tersebut dapat dianggap sebagai mekanisme untuk mencapai

keadaan setimbang di tempat dimana gempa bumi utama setelah terjadinya

pelepasan energi yang sangat besar dalam waktu singkat. Setelah mengalami

gempa kuat, tanah hampir berada dalam keadaan terus bergerak mulai dari gempa

susulan hingga berapa jam kemudian. Hal yang sering terjadi didaerah

gempabumi adalah kepanikan yang terjadi yang disebabkan adanya isu gempa

susulan yang berkepanjangan dengan kekuatan yang lebih besar. Dampak dari

gempa susulan tersebut sangat berbahaya karena biasanya datang tidak terduga,

bisa dari besaran yang besar dan bisa meruntuhkan bangunan yang rusak akibat

gempa utama.

Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu diberikan informasi yang baik

untuk gempabumi susulan dengan melalui perhitungan dengan menggunakan

beberapa metode, kemudian kita pilih metode mana yang terbaik yang kita

gunakan untuk mendapatkan pengukuran dengan kenyataan dilapangan.

II -10
2.1.5.1. Pola Aktivasi Gempabumi Susulan

Beberapa kriteria dari gempabumi susulan menurut Mogi (1967) mempunyai tipe-

tipe berdasarkan urutan waktu terjadinya gempa yang dibagi menjadi tiga jenis,

yaitu :

a. Main Shock – Aftershock

Yakni gempabumi utama yang diikuti aktivitas gempa bumi susulan yang

menurun terhadap waktu. Gejala ini terjadi pada daerah pusat gempa dengan

struktur batuan yang homogen dan tegangan mekanisme yang tersebar merata.

b. Foresock – Mainshock – Aftershock

Yaitu gempabumi utama (Mainshock) yang diawali aktivitas gempa bumi

pendahuluan (Foresock) dan diikuti oleh gempa susulan. Jumlah gempabumi

pendahuluan tersebut meningkat menjelang terjadinya gempabumi utama,

sedangkan aktivitas gempabumi susulan menurun terhadap waktu. Gejala ini

terjadi pada daerah pusat gempa dengan struktur batuan yang tidak homogen

dan distribusi tegangan mekanis yang tidak merata.

c. Earthquake Swarm

Yakni aktivitas gempabumi dengan kekuatan kecil yang berkepanjangan tanpa

gempabumi utama. Gejala ini terjadi pada daerah pusat gempabumi dengan

struktur batuan yang sangat tidak homogen dibawah pengaruh tegangan

mekanis yang sangat tidak merata. Jumlah gempabumi susulan dapat

mencapai ratusan kali dalam sehari, jumlah ini akan menurun terhadap waktu

II -11
secara cepat atau perlahan tergantung pada struktur batuan dan distribusi

tegangan mekanis di sekitar sumber gempabumi.

2.1.5.2. Mekanisme Gempabumi Susulan

Pada dasarnya bahwa deretan gempabumi susulan merupakan gempabumi yang

mempunyai frekuensi banyak. Gempabumi susulan yang dapat dirasakan dapat

dinyatakan secara umum patahan lokal dari pada lapisan permukaan bumi. Bila

dimulai dengan patahan besar pada kedalaman tertentu dipermukaan bumi, bagian

yang terbnyak mengumpulkan tegangan energi pada saat pelepasan energi tersebut

akan menjadi gempa bumi utama.

Banyak sekali tegangan sisa yang tertinggal di dalam dan di sekitar daerah

patahan tersebut. Dan juga tegangan konsentrasi yang tinggi disekitarnya maka

akan membentuk retakan-retakan dan patahan-patahan. Meskipun tegangan rata-

rata didaerah ini menurun dengan kejadian gempabumi utama, dan tegangan

konsentrasi setempat pada suatu titik tidak tetap, karena bertambah secara tiba-

tiba setelah terjadinya gempa bumi utama. Jadi terdapat patahan-patahan lokal

yang diakibatkan oleh terjadinya gempa bumi utama.

Menurut Beniof (1951) tegangan elastis yang keluar merupakan bagian yang

terpenting dalam pemakaian tegangan sisa. Meskipun mekanisme gempabumi

susulan ini agak berbeda dengan pendapat Beniof pada beberapa ketentuan.

Dalam model Beniof model gempabumi susulan disebabkan oleh pergerakan

patahan yang sama yang ditimbulkan oleh gempabumi utama. Pada model lain

gempa susulan tidak selalu terjadi pada patahan yang sama dan biasanya terjadi

II -12
didalam daerah patahan yang luas yang mengelilingi gempabumi utama. Sifat-

sifat mekanisme gempa susulan dapat disebutkan sebagai berikut:

1. Gempabumi susulan terjadi pada daerah yang terangkat naik pada waktu

timbulnya gempabumi utama (Ishomoto, 1937) daerah ini bersesuaian

dengan daerah patahan karena volume daerah ini bertambah akibat sesuatu

proses patahan.

2. Gempabumi susulan terjadi pada daerah yang luas dan sering terjadi pada satu

sisi patahan disekeliling gempabumi utama (Matuzawa, 1962). Sedangkan

distribusi yang tidak serupa dari model patahan sebagai berikut dari sifat

struktur patahan yang peka.

3. Gempabumi susulan jarang terjadi pada gempa dalam (Matuzawa, 1954;

Mogi, 1963). Hal ini disebabkan kondisi batuan dalam yang berbeda dengan

di permukaan terutama tekanan dan suhu tinggi.

4. Dimana konstanta b dalam hubungan magnitudo dengan frekuensi dari gempa

susulan lebih besar dari pada gempabumi lainnya. Kecuali gempabumi

pendahuluan (Mogi 1963; Sujehiro 1964). Nilai b lebih besar menunjukkan

keadaan patahan dari pada daerah-daerah gempabumi susulan.

5. Bagian terpenting dari fenomena gempabumi susulan yaitu distribusi waktu

tertentu.

Jadi fenomena gempabumi susulan tampak menjelaskan sebagai bagian

fundamental dari suatu patahan pada lapisan bumi.

II -13
2.1.6. Hubungan Frekuensi Gempabumi Susulan dengan Waktu

Menurut Omori (1984), tingkat aktivitas gempabumi susulan dalam hubungan

antara frekuensi dan waktu adalah :

𝑘
n(t) = .......................... .............................................................................. 2.1
𝑡+𝑐

Dimana : n(t) = frekuensi gempa

t = waktu gempa bumi susulan (hari)

k = konstanta

c = konstanta

Proses terjadinya patahan pada tingkat konsentrasi tegangan energi dan

homogenitas dari patahan itu sendiri dimana kurva yang merupakan fungsi

frekuensi gempa dan waktu dari gempabumi pada daerah yang elastis yang

disertai patahan-patahan lokal di bawah tegangan konstan yang diperkirakan

merupakan suatu eksponensial.

Mogi (1962) sesuai dengan percobaan di laboratorium, kurva frekuensi

gempabumi elastis di bawah beban konstan dinyatakan dengan frekuensi

eksponensial, maka di daerah gempa susulan yang mempunyai tekanan konstan

diharapkan kurvanya juga merupakan kurva eksponensial.

Dengan mengambil rumus dari Mogi I untuk gempa bumi susulan yang terjadi

lebih dari 100 hari, hubungan antara frekuensi dan waktu adalah sebagai berikut :

n(t) = a.t-b.......................................................................................................... 2.2

II -14
Dimana : n(t) = frekuensi gempabumi susulan

t = waktu gempabumi susulan (hari)

a, b = konstanta

[a = tingkat seismisitas daerah yang diteliti, dan b = parameter

seismotektonik (Mogi-Miyamura)]

Mogi juga menghitung untuk gempabumi susulan dengan interval waktu sampai

dengan <100 hari.

Rumus Mogi 2 digunakan untuk menghitung hubungan frekuensi gempa susulan

dengan waktu ≥100 hari.

Rumus :

n(t) = a.e-bt ....................................................................................................... 2.3

Dimana : n(t) = frekuensi gempabumi susulan

t = waktu (hari gempa susulan)

b,t = konstanta

Utsu juga menghitung gempa susulan untuk interval <100 hari. Menurut Utsu

(1957) bahwa tingkat aktivitas gempa bumi susulan dengan t < 100 hari dalam

hubungan antara frekuensi terhadap waktu adalah :

Rumus :

n(t) = a.[t + 0.01]-b ........................................................................................... 2.4

Dimana : n(t) = frekuensi gempabumi susulan

t = waktu gempabumi susulan (hari)

a,b = konstanta

II -15
2.1.7. Metode Least Square

Apabila ada dua variabel X dan Y mempunyai hubungan, maka nilai variabel X

yang sudah diketahui dapat dipergunakan untuk memprediksikan atau menaksir

Y. Ramalan pada dasarnya merupakan perkiraan atau taksiran mengenai

terjadinya suatu kejadian.

Variabel Y yang nilainya akan diramalkan disebut variabel tidak bebas (dependent

variabel), sedangkan variabel X yang nilainya dipergunakan untuk meramalkan

nilai Y disebut variabel bebas (independent variabel) atau peramal (predicator)

dan seringkali disebut variabel yang menerangkan (explanatory).

Dalam penggunaan rumus-rumus peluruhan gempa bumi susulan ini maka bentuk

persaamaan harus dipermudah dengan cara mengubah persamaan Omori, Mogi 1,

Mogi 2, Utsu kedalam bentuk persamaan kuadrat terkecil atau lest square dimana

akan didapatkan :

Omori : n(t) = k / t + c .......................... ......................................................... 2.5

1 𝑐 1 t
= +
𝑛(𝑡) 𝑘 𝑘
+

Y A B X
Y Y Y Y
MOGI 1 : n(t) = a.t-b ; t < 100 hari .................................................................. 2.6

Log n (t) = Log a - b Log t

Y A B X

II -16
Mogi 2 : n(t) = α . e-bt ; t > 100 hari ................................................................. 2.7

ln n(t) = ln α - b t

Y A B X

UTSU : n(t) = a . [t + 0.01]-b ............................................................................ 2.8

log n(t) = log α - b log t + 0.01

Y A B X

Metode persamaan kuadrat terkecil (least square) mempunyai bentuk umum

Regresi Linier :

Q = ∑𝑛𝑖 𝑒 i2 ........................................................................................................ 2.9

∑𝑛𝑖(𝑦𝑖 − 𝐴 − 𝐵𝑥)2 ............................................................................................ 2.10

Dimana : i = 1,2,3.......n

E = error

A,B = Konstanta

Penurunan parsial positif pada A dan B, maka diperoleh nilai minimum Q, yaitu :

𝜕𝑄
= -2∑𝑛𝑖(𝑦𝑖 − 𝐴 − 𝐵𝑥𝑖 ) = 0........................................................................... 2.11
𝜕𝐴

𝜕𝑄
= -2∑𝑛𝑖(𝑦𝑖 − 𝐴 − 𝐵𝑥𝑖 ) = 0........................................................................... 2.12
𝜕𝐵

Diperoleh persamaan normal, yaitu :

nA + B ∑𝑛𝑖 𝑋𝑖 = ∑𝑛𝑖 𝑌𝑖 ......................................................................................... 2.13

II -17
A ∑𝑛𝑖 𝑋1 + B ∑𝑛𝑖 𝑋1 2 = ∑𝑛𝑖 𝑋𝑖 yi ........................................................................ 2.14

Persamaan 2.13 didapat :

1 1
A = 𝑛 ∑𝑛𝑖 𝑌𝑖 - B 𝑛 n∑𝑖 𝑥𝑖 .................................................................................. 2.15

A=y–Bx
.......................................................................................................................... 2.16

Hasil ini didistribusikan pada persamaan 2.14, didapat :

(y – B x)∑𝑛𝑖 𝑥𝑖 + B∑𝑛𝑖 𝑥𝑖 2 = ∑𝑛𝑖 𝑥𝑖 𝑦𝑖 .......................................................... 2.17

B = [ ∑𝑛𝑖 𝑥𝑖 2 - x ∑𝑛𝑖 𝑥𝑖 ]= ∑𝑛𝑖 𝑥𝑖 𝑦𝑖 – y ∑𝑛𝑖 𝑥𝑖 ................................................ 2.18

B = ( ∑xi yi - y * ∑ x) / ( ∑ x2 – x * ∑ x) ..................................................... 2.19

(𝑛∗ ∑𝑥𝑦− ∑𝑥∗ ∑𝑦)


r= ............................................................ 2.20
√((𝑛∗∑𝑥 2 –(∑𝑥)2 )∗(𝑛∗∑𝑦 2 −(∑𝑦)2 ))

Dimana : n = banyaknya data

r = koefisien korelasi

Koefisien korelasi ialah pengukuran statistik kovarian atau asosiasi antara dua

variabel. Besarnya koefisien korelasi berkisar antara +1 sampai dengan -1.

Koefesien korelasi menunjukkan kekuatan hubungan liniar dan arah hubungan

dua variabel acak. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai variabel Y akan

tinggi pula. Sebaliknya, jika koefisien korelasi nagatif, maka kedua variabel

mempunyai hubungan terbalik. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai

variabel Y akan menjadi rendah dan berlaku sebaliknya (Jonathan Sarwono,

2007).

II -18
-1≤r≤1

a. Bila nilai r mendekati -1, hubungan antara variabel y dan x adalah : negatif

sangat kuat.

b. Bila nilai r mendekati 1, hubungan antara variabel y dan x adalah : positif

sangat kuat.

c. Bila nilai r mendekati Nol, tidak ada hubungan antara variabel y dan x artinya

tidak ada hubungan diantara waktu (t) dan frekuensi gempa n(t).

Untuk mencari nilai a dan b rumusnya adalah sebagai berikut :

∑𝑥𝑦−ӯ∗∑𝑥)
b= ................................................................................................ 2.21
∑𝑥 2 −𝑥̄ ∗∑𝑥

a = ӯ − 𝑏 ∗ 𝑥̄ ..................................................................................................... 2.22

Dimana : x = Interval waktu

y = Nilai regresi linier dari frekuensi gempa

x̄ = Nilai rata-rata dari x

ӯ = Nilai rata-rata dari y

Selanjutnya bila sudah diperoleh nilai kontanta a dan b maka kontanta k dan c

juga dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut :

1
k= ................................................................................................................ 2.23
𝑏

c = a * k............................................................................................................ 2.24

2.2. Aplikasi Aftershock

Aftershock adalah program yang dibuat untuk menghitung peluruhan waktu

berakhirnya gempa susulan. Program ini mempermudah kita untuk mendapatkan

II -19
hasil perhitungan dari keempat metode hanya dengan memasukkan data berupa

jumlah interval hari terjadinya gempa susulan dan frekuensi gempa. Berikut ini

adalah tampilan dari program Aftershock:

Gambar 2.4. Tampilan program Aftershock

Berikut langkah-langkah pemoresan data menggunakan program Aftershock :

Pertama yang dilakukan membuka excel (tabel yang berisikan data nilai frekuensi

gempa perhari dan jumlah data) secara bersamaan.

Interval Frekuensi
Hari (T) Gempa n(t) Setelah masukan Nilai
1 N lalu klik tombol ini
0
2
0
3
18
4
6
5
3
6
10
7
9
...... ......
116 1

II -20
Masukkan nilai jumlah interval hari (T) kedalam kolom Nilai N sebagai contoh

gambar di atas nilai jumlah interval adalah 116, masukan nilai tersebut, setelah itu

tekan tombol “Set N” (kotak Hijau paling teratas).

Selanjutkan akan muncul perintah untuk memasukan nilai Y ke -1, maksud Y ke 1

ini yaitu nilai frekuensi dari hari ke 1 seperti berikut:

Interval Frekuensi
Hari (T) Gempa n(t)
1 0 Grafik
2 0
3 18
4 6 Setelah masukan Nilai
5 3
Y ke-1 lalu klik
tombol ini
6 10
7 9
...... ......
116 1

Setelah nilai dimasukan selanjutnya klik tombol “Simpan Nilai Y” (kotak hijau

kedua). Nilai Y yang dimasukkan akan tergambar pada grafik di kanan atas.

Setelah itu lanjutkan memasukkan nilai Y ke-2 hingga Y ke-116. Setelah semua

nilai Y dimasukkan lalu klik tombol “Proses” (kotak merah ketiga).

Setelah semua nilai


telah dimaskkan lalu
klik tombol ini

II -21
Selanjutnya akan muncul grafik dari metode Omori seperti berikut:

Untuk menampilkan grafik dari keempat metode (Omori, Mogi 1, Mogi 2, dan

Utsu) kita bisa klik tombol “view grafik” yang ditandai dalam lingkaran diatas

dan akan muncul gambar grafik keempat metode tersebut beserta nilai T (hari

berakhirnya gempa susulan) dan nila R untuk masing-masing metode seperti

dibawah ini :

II -22