Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

IBADAH AKHLAK MUAMALAH


HAJI

Disusun Oleh :
NAMA : EVITA WIDIYASARI
NIM : 1702010163
KELAS : MANAJEMEN C

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan karunia-Nya lah
kami dapat menyesaikan penulisan makalah ini. Tak lupa shalawat dan salam semoga tetap
tercurah pada Nabi akhir zaman Muhammad SAW, kepada keluarga, para sahabat dan seluruh
umatnya.

Penulis mengakui dalam makalah ini mungkin masih banyak terjadi kekurangan sehingga
hasilnya jauh dari kesempurnaan. Penulis sangat berharap kepada semua pihak kiranya
memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun.

September, 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………ii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………..iii

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG…………………………………………………………………1
B. TUJUAN ………………………………………………………………………………1
C. RUMUSAN MASALAH……………………………………………………………....1

BAB II PEMBAHASAN

A. HAKEKAT HAJI……………………………………………………………………….2
B. SYARAT-SYARAT WAJIB HAJI…………………………………………………….2
C. RUKUN HAJI…………………………………………………………………………..3
D. WAJIB HAJI……………………………………………………………………………4
E. MACAM-MACAM HAJI………………………………………………………………5
F. MENCAPAI HAJI MABRUR…………………………………………………………..
G. HIKMAH IBADAH HAJI………………………………………………………………

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN ……………………………………………………………………….
SARAN………………………………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Haji merupakan rukun Islam yang kelima yang diwajibkan bagi seorang Muslim sekali
sepanjang hidupnya bagi yang mampu melaksanakanya, Setiap perbuatan dalam ibadah haji
sebenarnya mengandung rahasia, contoh seperti ihrom sebagai upacara pertama maksudnya adalah
bahwa manusia harus melepaskan diri dari hawa nafsu dan hanya mengahadap diri kepada Allah
Yang Maha Agung. Memperteguh iman dan takwa kepada allah SWT karena dalam ibadah
tersebut diliputi dengan penuh kekhusyu'an, Ibadah haji menambahkan jiwa tauhid yang tinggi

Ibadah haji adalah sebagai tindak lanjut dalam pembentukan sikap mental dan akhlak yang
mulia. Ibadah haji adalah merupakan pernyataan umat islam seluruh dunia menjadi umat yang satu
karena memiliki persamaan atau satu akidah. Memperkuat fisik dan mental, kerena ibadah haji
maupun umrah merupakan ibadah yang berat memerlukan persiapan fisik yang kuat, biaya besar
dan memerlukan kesabaran serta ketabahan dalam menghadapi segala godaan dan rintangan.
Ibadah haji Menumbuhkan semangat berkorban, baik harta, benda, jiwa besar dan pemurah, tenaga
serta waktu untuk melakukannya.

Dengan melaksanakan ibadah haji bisa dimanfaatkan untuk membangun persatuan dan
kesatuan umat Islam sedunia. Ibadah haji merupakan muktamar akbar umat islam sedunia, yang
peserta-pesertanya berdatangan dari seluruh penjuru dunia dan Ka'bahlah yang menjadi simbol
kesatuan dan persatuan.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah hakekat haji ?
2. Bagaimanakah sejarah tentang haji ?
3. Bagaimana mencapai haji mabrur ?
4. Bagaimanakah hikmah haji dalam bebagai aspek ?
5. Bagaimana makna spiritual haji bagi kehidupan ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui hakekat haji
2. Untuk mengetahui sejarah haji
3. Untuk mengetahui cara mencapai haji mabrur
4. Untuk mengetahui hikmah haji dalam berbagai aspek
5. Untuk mengetahui makna spiritual haji bagi kehidupan sosial
BAB II

PEMBAHASAN

A. HAKEKAT HAJI

PENGERTIAN HAJI
Menurut bahasa kata Haji berarti menuju, sedang menurut pengertian syar’i berarti
menyengaja menuju ke ka’bah baitullah untuk menjalakan ibadah (nusuk) yaitu ibadadah
syari’ah yang terdahulu. Hukum haji adalah fardhu ‘ain, wajib bagi setiap muslim yang mampu,
wajibnya sekali seumur hidup. Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Mengenai wajibnya haji
telah disebutkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’ (kesepakatan para ulama).

Mengenai hukum ibadah haji, asal hukumnya adalah wajib ‘ain bagi yang mampu.
Melaksanakan haji wajib, yaitu karena memenuhi rukun Islam dan apabila kita “nazar” yaitu
seorang yang bernazar untuk haji, maka wajib melaksanakannya, kemudian untuk haji sunat,
yaitu dikerjakan pada kesempatan selanjutnya, setelah pernah menunaikan haji wajib.
Haji merupakan rukun Islam yang ke lima, diwajibkan kepada setiap muslim yang mampu
untuk mengerjakan. Jumhur Ulama sepakat bahwa mula-mulanya disyari’atkan ibadah haji
tersebut pada tahun ke enam Hijrah, tetapi ada juga yang mengatakan tahun ke sembilan hijrah.

B. Syarat-Syarat Wajib Haji Syarat


wajibnya haji dan umrah itu ada tujuh perkara, yaitu :
1. Islam
2. Baligh (sudah dewasa)
3. Berakal sehat
4. Merdeka
“Maka tidak wajib haji bagi orang yang mempunyai sifat bertentangan dengan sifat-sifat tersebut
itu”.
5. Ada bekalnya beserta tempatnya bila memang butuh tempat, sebab kadang-kadang ada juga
yang tidak butuh tempat bekal, sebagaimana orang yang dekat dengan negeri Makkah, dan
disyaratkan pula adanya air di tempat yang biasanya dapat membawa air dengan harga yang
umum.
6. Ada kendaraannya, yakni kendaraan yang pantas untuk dibeli atau disewa. Hal ini jika antara
orang itu dengan negeri Makkah jaraknya dua kali angkatan atau bahkan lebih dari itu, baik
dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau tidak.
Jika antara dia dan negeri Makkah tidak ada dua kali angkatan (perjalanan) sedang orang itu
kuat menempuh dengan berjalan kaki, maka wajib baginya menunaikan haji tanpa kendaraan.
Dan disyaratkan juga bahwa bekal itu tadi lebih setelah untuk membayar hutangnya dan dari
ongkos pembiayaan orang yang menjadi tanggungannya selama waktu perginya dan pulangnya.
Juga harus sudah lebih untuk mencukupi kebutuhan rumah (dengan biaya yang wajar) juga lebih
dari pembiayaan yang pantas untuk budak yang ada di dalam rumah itu tadi.
7. Keadaan jalannya sunyi, maksudnya ialah keadaan perjalanan menurut perkiraan sangat aman
(tidak ada gangguan) sekiranya masih terdapat benda-benda yang pantas di tiap-tiap tempat. Jika
sekiranya seseorang merasa tidak aman akan dirinya, hartanya atau kehormatannya maka
tidaklah wajib berhaji.
Adapun perkataan mushannif “dan mampu menunaikan” itu tetap ada di dalam sebagian
keterangan. Sedang yang dikehendaki dengan “mampu” ialah suatu keadaan yang tetap wujud
sesudah adanya bekal, dan kendaraan yang pada suatu saat memungkinkan berjalan sesuai yang
dijanjikan.
Jika seseorang itu mampu hanya saja dia butuh memutuskan perjalanan dua kali angkatan dalam
sebagian hari-hari (yang ditempuh), maka baginya tidak wajib haji karena dalam keadaan
sengsara.
C. Rukun Haji

Rukun-rukun haji itu ada empat, yaitu:


1. Ihram yang disertai dengan niat, yakni niat masuk menuanaikan haji.
2. Wukuf di tanah Arafah, yang dimaksudkan ialah datangnya orang yang ihram haji dalam
Dzulhijjah dengan syarat, bahwa orang yang wukuf itu ahli ibadah, tidak gila dan tidak pula
ayan.
Waktu wukuf (di tanah Arafah) itu berlangsung terus sampai datangnya fajar hari raya Qurban
yang tanggal 10 Dzulhijjah.
3. Thawaf di Baitullah (Ka’bah) sebanyal 7 kali putaran. Thawaf tersebut dimulai dari arah Hajar
Aswad, seluruh badannya ditepatkan (ketika memulai) pada Hajar Aswad itu.
Seandainya seseorang memulai thawaf selain di Hajar Aswad, maka thawafnya ini tidak ada
artinya.
Syarat Thawaf :

a. Menutup aurat,
b. Suci dari hadas dan najis,
c. Ka’bah hendaknya di sebelah kiri orang yang thawaf,
d. Permulaan thawaf itu hendaknya dari Hajar Aswad,
e. Thawaf itu hendaklah tujuh kali
f. Thawaf itu hendaklah di dalam masjid karena Rasulullah saw melakukan thawaf
masjid.

Sunnah Thawaf:

a. Mengusap dan mencium (mengecup) Hajar Aswad


b. Mengusap rukun Yamani
c. Berjalan kaki
d. Tanpa alas kaki
e. Berselendang (kedua ujungnya terletak di pundak kiri dan bagian tengahnya
terletak di bawah bagian ketiak kanan) di dalam thawaf yang ada lari kecilnya.
(Pria)
f. Lari kecil (di dalam thawaf yang akan disambung dengan sa’i) pada putaran ke- 1,
2 dan 3. (Pria)
g. Mengucapkan do’a-do’a dari Nabi SAW di dalam thawaf
h. Shalat sunnat thawaf 2 rakaat seteleh selesai thawaf. (Dapat dilakukan sesudah
beberapa minggu, walaupun tidak di dalam Masjidil Haram. Tapi, yang lebih
utam di belakang Maqam Ibrahim).
Macam-macam thawaf :

a. Thawaf qudum (thawaf ketika baru sampai) sebagai shalat tahiyatul masjid.
b. Thawaf Ifadah (thawaf rukun haji).
c. Thawaf Wada’ (thawaf ktika akan meninggalkan makkah.
d. Thawaf Tahallul (penghalalan barang yang haram ketika ihram.
e. Thawaf Nadzar (thawaf yang dinazarkan)
f. Thawaf sunah

4. Sa’i antara Shafa dan Marwah sebanyak kali.


Adapun syaratnya Sa’i, yaitu hendaknya seseorang memulai pada permulaan Sa’inya dari Shafa
dan mengakhirinya di Marwah. Dan dihitung perginya orang dari Shafa ke Marwah satu kali,
kemudian kembalinya dari Marwah ke Shafa dihitung lagi satu kali.
“Shafa” dengan dibaca pendek, pengertiannya ialah bagian pinggir dari bukit Abi Qubaisy,
sedang “Marwah” dengan dibaca fat-hah mimnya artinya itu nama bagi suatu tempat yang sudah
terkenal di negeri Makkah.
Dan masih ada lagi beberapa rukun haji, seperti mencukur atau menggunting rambut. Hal ini jika
memang saya menjadikan masing-masing dari keduanya sebagai ibadah (rukun) dan demikian
itu adalah pendapat yang masyhur.
Jika aku berkata, bahwa sesungguhnya masing-masing dari keduanya itu sebagai usaha
memperbolehkan perkara yang dilarang, maka keduanya bukanlah termasuk dari golongan
rukun-rukun haji.
Sunnah Sa’i:

a. Suci dari kedua hadas dan suci dari najis


b. Menutup aurat
c. Naik ke atas trap (jalan tanjakan) Shafa dan Marwah
d. Lari kecil antara dua tanda Pal/Lampu Hijau (bagi pria)
e. Membaca do’a dan dzikir yang datang dari Nabi Muhammad SAW.
f. Berturut-turut antara pelaksanaan Thawaf 7 kali dan disambung Sa’i, dan
berturut-turut antara Sa’i yang satu dengan yang berikutnya.

D. Wajib Haji
1. Ihram dan miqat.
2. Berhenti di Muzdalifah sesudah tengah malam.
3. Melontar Jumrah Aqobah.
4. Melontar tiga jumrah.
5. Bermalam di mina.
6. Thawaf wada’.
7. Menjauhkan diri dari semua larangan atau yang diharamkan
E. Macam-macam Haji

1. Ifrad
2. Yaitu ihrom untuk haji saja dahulu dari miqotnya, terus diselesaikannya pekerjaan haji.
Lalu ihrom lagi untuk umroh, serta terus mengerjakan segala urusannya. Berarti dalam hal
ini mendahulukan haji daripada umroh, dan inilah yang lebih baik.
3. Tamattu’
4. Yaitu mendahulukan umroh daripada haji dalam waktu haji.
5. Qiran
6. Yaitu dikerjakan bersama-sama antara haji dan umroh dalam satu waktu.

F. Mencapai haji mabrur


Haji mabrur adalah surge dambaan setiap umat islam
Kriteria mencapai haji mabrur :

1. Ikhlas.

Seorang hanya mengharap pahala Allah, bukan untuk pamer, kebanggaan, atau agar
dipanggil “pak haji” atau “bu haji” oleh masyarakat.

“Artinya : Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan penuh
keikhlasan” [Al-Bayyinnah : 5]

2. Ittiba’ kepda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia berhaji sesuai dengan tata cara haji yang dipraktekkan oleh Nabi Shallallahu
‘alaihiwa sallam dan menjauhi pekara-perkara bid’ah dalam haji. Beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda.

“Artinya : Contohlah cara manasik hajiku” [HR Muslim : 1297]

3. Harta untuk berangkat haji adalah harta yang halal.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.


“Artinya : Sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak menerima kecuali dari yang baik”
[HR Muslim : 1015]

4. Menjauhi segala kemaksiatan, kebid’ahan dan penyimpangan

“Artinya : Barangsiapa menetapkan niatnya untuk haji di bulan itu maka tidak boleh
rafats (berkata-kata tidak senonoh), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan pada masa
haji..”[Al-Baqarah : 197]

5. Berakhlak baik antar sesama, tawadhu’ dalam bergaul, dan suka membantu
kebutuhan saudara lainnya.

Alangkah bagusnya ucapan Ibnul Abdil Barr rahimahullah dalam At-Tamhid (22/39) :
“Adapun haji mabrur, yaitu haji yang tiada riya dan sum’ah di dalamnya, tiada kefasikan,
dan dari harta yang halal” [Latho’iful Ma’arif Ibnu Rajab hal. 410-419, Masa’il Yaktsuru
Su’al Anha Abdullah bin Sholih Al-Fauzan : 12-13]

G. Hikmah Ibadah Haji

1. Mengikhlaskan Seluruh Ibadah


Beribadah semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menghadapkan hati
kepada-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang diibadahi dengan haq, kecuali Dia
dan bahwa Dia adalah satu-satunya pemilik nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang
mulia. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada
tandingan-Nya.
2. Mendapat Ampunan Dosa-Dosa Dan Balasan Jannah
3. Menyambut Seruan Nabi Ibrahima Alaihissalam
4. Menyaksikan Berbagai Manfaat Bagi Kaum Muslimin
5. Saling Mengenal Dan Saling Menasehati
Dan diantara hikmah haji adalah bahwa kaum muslimin bisa saling mengenal dan saling
berwasiat dan menasehati dengan al-haq.
6. Menyebarkan Ilmu
Di antara manfaat haji adalah menyebarkan ilmu kepada saudara-saudaranya yang
melaksanakan ibadah haji
7. . Memperbanyak Ketaatan
Di antara manfaat haji adalah memperbanyak shalat dan thawaf
8. Menolong Dan Berbuat Baik Kepada Orang Miskin
Di antara manfaat haji adalah bisa menolong dan berbuat baik kepada orang miskin baik
yang sedang menjalankan haji atau tidak di negeri yang aman
9. Memperbanyak Dzikir Kepada Allah SWT
10. Berdo’a Kepada-Nya
Di antara manfaat haji, hendaknya bersungguh-sungguh merendahkan diri dan terus
menerus berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia menerima amal,
membereskan hati dan perbuatan ; agar Dia menolong untuk mengingat-Nya, bersyukur
kepada-Nya dan memperbagus ibadah kepada-Nya ; agar Dia menolong untuk
menunaikan kewajiban dengan sifat yang Dia ridhai serta agar Dia menolong untuk
berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya.
11. Menunaikan Manasik Dengan Sebaik-Baiknya
Di antara manfaat haji, hendaknya melaksanakannya dengan sesempurna mungkin,
dengan sebaik-baiknya dan seikhlas mungkin baik sewaktu melakukan thawaf, sa’i,
wukuf di Arafah, berada di Muzdalifah, melempar jumrah, maupun sewaktu shalat,
qira’atul qur’an, berdzikir, berdo’a dan lainnya. Juga hendaknya mengupayakannya
dengan kosentrasi dan ikhlas.
12. Menyembelih Kurban
Di antara manfaat haji adalah menyembelih (binatang) kurban, baik yang wajib tatkala
berihram tammatu dan qiran, maupun tidak wajib yaitu untuk taqarrub kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Shalat dan ibadah haji termasuk rukun Islam dan perintah Allah, yang wajib kita laksanakan
apabila kita mampu “Ibadah Haji”.
Dengan meksanakan ibadah haji kita bisa bertemu dengan umat islam yang lain dari seluruh
dunia
Dengan melaksanakan ibadah haji kita akan dibalas dengan balasan surga firdaus dan itu untuk
haji yang mabrul

Saran
Haji menyengajak menuju ke ka’bah baitullah untuk menjalakan ibadah (nusuk) yaitu ibadadah
syari’ah yang terdahulu. Hukum haji adalah fardhu ‘ain, wajib bagi setiap muslim yang mampu,
wajibnya sekali seumur hidup. Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Mengenai wajibnya haji
telah disebutkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’
Tata cara pelaksanaan haji harus sesuai dengan syarat, rukun, wajib dan sunnat haji. Islam,
Syarat haji diantaranya : Baligh, Berakal, Merdeka, Kekuasaan (mampu}sedangkan Rukun Haji
adalah : Ihram yaitu berpakaian ihram, dan niyat ihram dan haji, Wukuf di Arafah pada tanggal 9
Dzulhijjah; Thawaf, Sa'i, Tahallul dan Tertib atau berurutan
DAFTAR PUSTAKA

http://jasmencomputer.blogspot.com/2016/02/makalah-tentang-haji.html
http://www.carahaji.com/5-kriteria-cara-meraih-haji-mabrur.htm
https://almanhaj.or.id/2296-hikmah-ibadah-haji.html