Anda di halaman 1dari 68

RESUME

PSIKOSOSIAL DAN BUDAYA


DALAM KEPERAWATAN

NAMA : NI KETUT YULIANA

NIM : 17.321.2686

KELAS : A11-A

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI

TAHUN AJARAN 2018/2019


PERTEMUAN 1 : KONSEP DIRI
Pengertian Konsep Diri Menurut Para Ahli :
Stuart & Sundeen (2005)
Menurut Stuart & Sundeen, Konsep diri adalah semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang
merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan orang
lain.
Keliat (2005)
Menurut Keliat, Konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, fisikal,
emosional, intelektual, sosial dan spiritual.
Potter & Perry (2005)
Menurut Potter & Perry, Konsep diri adalah itra subjektif dari diri dan pencampuran yang
kompleks dari perasaan, sikap dan persepsi bawah sadar maupun sadar. Konsep diri memberi
kita kerangka acuan yang mempengaruhi manejemen kita terhadap situasi dan hubungan kita
dengan orang lain.
Burns
Menurut Burns dalam Pudjijogyanti (1993:2), Konsep diri adalah hubungan antara sikap dan
keyakinan tentang diri kita sendiri.
Cawagas
Menurut Cawagas dalam Pudjijogyanti (1993:2), Konsep diri mencakup seluruh pandangan
individu akan dimensi fisik, karakteristik pribadi, motivasi, kelemahan, kepandaian, kegagalan
dan lain sebagainya.

Jenis-Jenis Konsep Diri


Adapun macam-macam jenis konsep diri, diantaranya:
Konsep Diri Positif
Jenis konsep diri ini, baik jika di miliki oleh seorang individu karena memiliki:
 Merasa setara dengan orang lain
 Yakin dapat mengatasi segala macam masalah
 Bisa menerima pujian tanpa rasa malu
 Bisa menyadari bahwa setiap orang memiliki perasaan, keinginan, serta perilaku yang
tidak semuanya dapat di
 setujui oleh anggota masyarakat.
 Bisa memperbaiki dirinya sendiri. Maksudnya dia mampu untuk mengungkapkan tentang
aspek kepribadian yang tidak disukainya dan akan berusaha untuk dapat mengubahnya.
Konsep Diri Negatif
Berikut ini beberapa hal yang di miliki oleh seseorang yang memiliki jenis konsep diri negatif,
diantaranya yaitu:
 Sangat rerponsif akan pujian
 Peka terhadap kritikan.
 Lebih bersikap hiperkritis.
 Merasa tidak di sukai oleh orang lain.
 Memiliki sikap pesimis disetiap kompetisi.
Komponen Konsep Diri
Komponen konsep diri diantaranya yaitu:
Citra Tubuh (Body Image)
Body Image (citra tubuh) merupakan sikap individu terhadap dirinya baik disadari maupun tidak
disadari mencakup persepsi masa lalu atau sekarang mengenai ukuran dan dinamis karena secara
konstan berubah seiring dengan persepsi dan pengalaman baru.
Ideal Diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya bertingkah laku berdasarkan
standar pribadi. Pembentukan ideal diri dimulai pada masa anak-anak dipengaruhi oleh orang
yang dekat dengan dirinya yang memberikan harapan atau tuntunan tertentu.
Harga Diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa
banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya. Harga diri dibentuk sejak kecil dari adanya
penerimaan dan perhatian. Harga diri akan meningkat sesuai dengan meningkatnya usia.
Peran
Peran merupakan serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan masyarakat
dihubungkan dengan fungsi individu di dalam kelompok sosial.
Identitas Diri
Identitas diri merupakan kesadaran mengenai diri sendiri yang bisa didapatkan individu dari
observasi dan penilaian dirinya, menyadari bahwa individu dirinya berbeda dengan orang lain.
Identitas berkembang sejak masa kanak-kanak, bersamaan dengan berkembangnya konsep diri.
Sedangkan Menurut Brian Tracy, konsep diri memiliki tiga bagian atau komponen utama yaitu:
 Self-Ideal (Ideal Diri)
 Self-Image (Citra Diri)
 Self-Esteem (Jati Diri)
Self Ideal (Diri Ideal)
Self ideal atau ideal diri terdiri atas harapan, impian, visi dan idaman. Self ideal ini terbentuk
dari kebaikan, nilai dan sifat yang paling dikagumi dari diri sendiri maupun orang lain yang
dihormati.
Self Image (Citra Diri)
Dengan self image atau citra diri kita akan membayangkan diri kita sendiri dan dan menentukan
bagaimana kita akan bersikap pada suatu situasi.
Self Esteem (Jati Diri)
Jati diri merupakan penilaian bagaimana kita menyukai diri sendiri. Semakin kita menyukai diri
sendiri maka akan kita akan bertindak dalam bidanhg apapun yang kita tekuni.
Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri
Konsep diri atau self concept tidaklah bawaan sejak lahir, melainkan hasil dari proses belajar.
Saat manusia mengenal lingkungannya, maka saat itu pula dia belajar berbagai hal mengenai
kehidupan. Berdasarkan pengalaman hidupnya, seorang individu akan menetapkan konsep
dirinya berdasarkan berbagai faktor.
Menurut E.B. Hurlock yang merupakan seorang psikolog, faktor yng mempengaruhi konsep diri
tersebut diataranya yaitu bentuk tubuh, cacat tubuh, pakaian, nama dan julukan, inteligensi
kecerdasan, taraf aspirasi/cita-cita, emosi, jenis/gengsi sekolah, status sosial, ekonomi keluarga,
teman dan tokoh/orang yang berpengaruh.
Apabila faktor-faktor tersebut cenderung menimbulkan perasaan yang positif seperti bangga atau
senang maka akan muncul konsep diri yang positif. Pada masa kanak-kanak seorang individu
umumnya cenderung menganggap benar apa saja yang dikatakan oleh orang lain.
Apabila seorang anak merasa dia diterima, dihargai dan dicintai maka anak tersebut akan
menerima, menghargai dan juga mencintai dirinya (berkonsep diri positif). Dan akan sebaliknya,
jika orang yang berpengaruh di sekelilingnya seperti orang tua, guru, orang dewasa, teman dan
lain sebagainya ternyata meremehkan, merendahkan, mempermalukan dan menolaknya, maka
pengalaman tersebut akan disikapi dengan negatif dan akan memunculkan konsep diri yang
negatif.

PERTEMUAN 2 : SEKSUALITAS
Seksualitas adalah bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka
mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tindakan yang dilakukannya
seperti sentuhan, pelukan, ataupun perilaku yang lebih halus seperti isyarat gerak tubuh, cara
berpakaian, dan perbendaharaan kata, termasuk pikiran, pengalaman, nilai, fantasi, emosi.
Seks adalah menjelaskan ciri jenis kelamin secara anatomi dan fisiologi pada laki-laki dan
perempuan atau hubungan fisik antar individu (aktivitas seksual genital). Setelah kita memahami
apa arti dari seksualitas dan seks, mari kita bahas tentang konsep seksualitas dilihat dari kajian
psikologi.
Pada dasarnya, aspek seksualitas mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek biologi, psikologi,
sosiologi, kultural dan spiritual. Sudah kita ketahui bahwa psikologi adalah ilmu yang
menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu
maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan.
Seksualitas dari dimensi psikologis erat kaitannya dengan bagaimana menjalankan fungsi
sebagai makhluk seksual, identitas peran atau jenis, serta bagaimana dinamika aspek-aspek
psikologis (kognisi, emosi, motivasi, perilaku) terhadap seksualitas itu sendiri.
Teori Sigmund Freud
Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud adalah salah satu teori yang paling terkenal,
akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang
berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi
dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau libido,
digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku.
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari
proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori
Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi
dewasa.
Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.
Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun, meliputi beberapa tahap
yaitu tahap oral, tahap anal, tahap phalik, tahap laten, dan tahap genital.
1. Fase Oral
Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan
refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi berasal
kesenangan dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan mengisap.
Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk memberi
makan anak), bayi juga mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi
oral. Konflik utama pada tahap ini adalah proses penyapihan, anak harus menjadi kurang
bergantung pada para pengasuh.
Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya individu akan memiliki masalah dengan
ketergantungan atau agresi. fiksasi oral dapat mengakibatkan masalah dengan minum, merokok
makan, atau menggigit kuku.
2. Fase Anal
Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada pengendalian
kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet – anak
harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini
menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.
Menurut Sigmund Freud, keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua
pendekatan pelatihan toilet. Orang tua yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk
menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak
merasa mampu dan produktif.
Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini menjabat sebagai dasar orang untuk
menjadi orang dewasa yang kompeten, produktif dan kreatif. Namun, tidak semua orang tua
memberikan dukungan dan dorongan bahwa anak-anak perlukan selama tahap ini.
Beberapa orang tua ‘bukan menghukum, mengejek atau malu seorang anak untuk kecelakaan.
Menurut Freud, respon orangtua tidak sesuai dapat mengakibatkan hasil negatif. Jika orang tua
mengambil pendekatan yang terlalu longgar, Freud menyarankan bahwa-yg mengusir
kepribadian dubur dapat berkembang di mana individu memiliki, boros atau merusak
kepribadian berantakan.
Jika orang tua terlalu ketat atau mulai toilet training terlalu dini, Freud percaya bahwa
kepribadian kuat-analberkembang di mana individu tersebut ketat, tertib, kaku dan obsesif.
3. Fase Phalic
Pada tahap phallic, fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga
menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai
melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu.
Kompleks Oedipus menggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan untuk
menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran bahwa ia akan dihukum oleh ayah untuk
perasaan ini, takut Freud disebut pengebirian kecemasan.
Istilah Electra kompleks telah digunakan untuk menggambarkan satu set sama perasaan yang
dialami oleh gadis-gadis muda. Freud, bagaimanapun, percaya bahwa gadis-gadis bukan iri
pengalaman penis. Akhirnya, anak menyadari mulai mengidentifikasi dengan induk yang sama-
seks sebagai alat vicariously memiliki orang tua lainnya.
Untuk anak perempuan, Namun, Freud percaya bahwa penis iri tidak pernah sepenuhnya
terselesaikan dan bahwa semua wanita tetap agak terpaku pada tahap ini. Psikolog seperti Karen
Horney sengketa teori ini, menyebutnya baik tidak akurat dan merendahkan perempuan.
Sebaliknya, Horney mengusulkan bahwa laki-laki mengalami perasaan rendah diri karena
mereka tidak bisa melahirkan anak-anak.
4. Fase Latent
Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah
lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam
pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri.
Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif stabil. Tidak ada organisasi
baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan
ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai
suatu periode terpisah.
5. Fase Genital
Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang kuat
pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu,
kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini.

PERTEMUAN 3 : KONSEP KEHILANGAN, KEMATIAN DAN BERDUKA


Kehilangan adalah adalah kenyataan/situasi yang mungkin terjadi dimana sesuatu yang
dihadapi, dinilai terjadi perubahan, tidak lagi memungkinkan ada atau pergi/hilang. (Wilkinson,
2005).
Berduka adalah respon fisik dan psikologis yang terpola spesifik pada individu yang mengalami
kehilangan. Respon/reaksi normal, karena melalui proses berduka individu mampu memutus
ikatan dengan benda/orang yang terpisah dan berikatan dengan benda/orang baru.

6 Tingkatan Berduka :
1. Syok
2. Tidak yakin
3. Mengembangkan kesadaran diri
4. Restitusi
5. Mengatasi kehilangan
6. Idealisasi dan hasil

Proses Berduka
1. Fase Awal
Dimulai dengan adanya kehilangan seperti kematian

Berlangsung beberapa minggu

Reaksi : syok, tidak yakin atau tidak percaya perasan dingin,


perasaan kebal (mati rasa) dan bingung Berakhir setelah beberapa hari
Kembali berduka berlebihan menangis dan ketakutan

2. Fase Pertengahan
- kira-kira 3 minggu sesudah kematian Berakhir kurang lebih 1 tahun Pola tingkah
laku yang ditunjukan
- Perilaku obsesi, meliputi : pengulangan pikiran tentang peristiwa kematian
- Suatu pencarian arti dari kematian
3. Fase Pemulihan
- Fase Pemulihan Terjadi sesudah kurang lebih satu tahun
- Individu memutuskan untuk tdk mengenang masa lalu.
- Meningkat partisipasi pada kegiatan sosial

Proses berduka yang disebabkan oleh kehilangan :


1. Penyangkalan (denial)
Terkejut, tidak percaya, merasa terpukul, menyangkal pernyataan kehilangan. Kadang
berhalusinasi (seolah-olah masih melihat atau mendengar suara orang tsb)
Reaksi fisik : keletihan, kelemahan, wajah pucat, mual, diare,sesak nafas, detak jantung
cepat, menangis, gelisah
2. Marah (anger)
Tahap Marah Individu mulai sadar dengan kenyataan kehilangan. Menunjukkan perasaan
marah meningkat yang diproyeksikan pada orang tertentu atau yang ada
dilingkungannya.
Reaksi fisik : wajah merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal.
3. Tawar menawar (bargaining)
Reaksi: Menyatakan kata-kata ”seandainya saya hati-hati”, “kenapa harus terjadi pada
keluarga saya”.
4. Depresi
Reaksi : menarik diri, tidak mau bicara, putus asa.
Reaksi fisik: menolak makan, susah tidur, letih, libido menurun.
5. Penerimaan (acceptance)
Reorganisasi perasaan kehilangan gambaran objek atau orang yang hilang mulai dilepas
perlahan, perhatian dialihkan pada objek baru.

Sumber Gangguan dan Kehilangan


Eksternal : Pikiran, sikap, tindakan yang tidak sesuai dengan nilai individu,keyakinan atau
moral dan konflik interpersonal yang mengancam konsistensi individu, harga diri,rasa aman.
Internal : Kematian orang yang disayangi, penghentian kerja (PHK), penyakit atau kehilangan
tubuh tertentu.

Jenis Kehilangan
- Kehilangan orang bermakna, mis: akibat kematian atau dipenjara.
- Kehilangan kesehatan bio-psiko-sosial, mis: menderita penyakit, amputasi,
kehilangan pendapat, kehilangan perasaan tentang diri, kehilangan pekerjaan,
kehilangan kedudukan, kehilangan kemampuan seksual.
- Kehilangan milik pribadi (mis: uang,perhiasan).

Faktor Predisposisi
- Genetik riwayat keluarga depresi sulit mengembangkan sikap optimistik dalam
menghadapi permasalahan.
- Kesehatan fisik keadaan fisik sehat cenderung mampu mengatasi stress.
- Kesehatan mental individu gangguan jiwa dengan riwayat depresi merasa masa depan
suram peka dengan situasi kehilangan.
- Pengalaman kehilangan masa lalu kehilangan masa kanak-kanak mempengaruhi
kemampuan menghadapi kehilangan dimasa dewasa.

Faktor Presipitasi
- Stres dari perasaan kehilangan: Stres nyata atau Imajinasi Kehilangan bersifat bio-
psiko-sosial.
- Kehilangan kesehatan.
- kehilangan harga diri
- kehilangan pekerjaan.
- kehilangan peran dalam keluarga.
- kehilangan posisi di masyarakat.

Implikasi Keperawatan
1. Pengkajian
2. Mengkaji pasien dan anggota keluarga berduka menentukan tingkat berduka.
3. Mengkaji gejala klinis berduka: sesak di dada, nafas pendek, berkeluh kesah, perasaan
penuh diperut, kehilangan kekuatan otot, distres perasaan yg hebat.
4. Kaji karakteristik berduka, kaji respon fisiologis, respon tubuh terhadap kehilangan
(reaksi stress).
5. Faktor yg mempengaruhi reaksi stress : umur, culture, keyakinan spiritual, peran seks,
status sosek.
6. Faktor predisposisi.
7. Faktor presipitasi dan mekanisme koping.

PERTEMUAN 4 : STRESS ADAPTASI


Konsep Stress
a. Setiap orang dalam hidupnya akan mengalami stres.
b. Umumnya orang dapat menghadapi stres jangka panjang dan menghadapi stres jangka pendek.
c. Stres dapat memberikan rangsangan terhadap perubahan dan pertumbuhan (positif).
d. Stres berlebihan dapat mengakibatkan penyakit fisik, dan ketidakmampuan mengatasi masalah
(negatif).
e. Hasil penelitian menyebutkan ada hubungan stres dgn kelainan fisik dan psikiatrik.
Stres dan Stresor
a. Stres adalah segala situasi dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan individu berespon atau
melakukan tindakan (Selye, 1976) .
b. Stres dapat menyebabkan perasaan negatif/berlawanan degan apa yang diinginkan atau
mengancam kesejahteraan emosional.
c. Stres dapat mengganggu cara orang dalam menyerap realitas, menyelesaikan masalah,
berpikir, mengganggu pandangan hidup, sikap pada orang yang disayangi, dan status
kesehatan.
d. Persepsi atau pengalaman individu terhadap perubahan besar menimbulkan stres.
e. Stimulus yg mengawali/mencetus perubahan disebut stresor.
f. Stresor menunjukkan suatu kebutuhan yg tidak terpenuhi.
g. Kebutuhan tersebut dpt berupa kebutuhan fisiologis, psikologis, sosial, lingkungan,
perkembangan, spiritual, dan kultural.
h. Stresor dpt diklasifikasikan mjd stresor internal dan stresor eksternal.
Tahapan Stress
Menurut Robert J Van Amberg 1979, stres dapat dibagi menjadi 6 tahapan:
1. Tahap pertama
Merupakan tahap yang ringan dari stres dan biasanya ditandai dengan adanya semangat bekerja
yang berlebihan, penglihatan tajam, dan merasa mampu menyelesaikan pekerjaan yang tidak
seperti biasanya, merasa senang akan pekerjaan tetapi kemampuan yang dimiliki semakin
berkurang.
2. Tahap kedua
Pada tahap ini seseorang memiliki ciri : perasaan letih saat bangun pagi, terasa lelah sesudah
makan siang, cpt lelah menjelang sore, sering mengeluh perut atau lambung tdk nyaman, denyut
jantung berdebar-debar lbh dari biasanya, otot punggung dan tengkuk semakin tegang.
3. Tahap ketiga
Pada tahp ini seseorang mengalami gangguan lambung dan usus seperti gastritis, buang air besar
tidak teratur, ketegangan otot semakin terasa, perasaan tidak tenang, gangguan pola tidur seperti
sukar tidur, bangun tengah malam dan sukar tidur kembali, lemah, terasa seperti tidak memiliki
tenaga.
4. Tahap keempat
Pada tahap ini akan mengalami gejala : segala pekerjaan yangg menyenangkan terasa
membosankan, semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk
merespons secara adekuat, tidak mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari, gangguan pola tidur,
sering menolak ajakan karena tidak bergairah, kemampuan mengingat dan konsentrasi menurun
karena adanya perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak diketahui penyebabnya.
5. Tahap kelima
Tahap ini ditandai dengan kelelahan fisik secara mendalam, tidak mampu menyelesaikan
pekerjaan ringan dan sederhana, gangguan pada sistem pencernaan semakin berat, perasaan
ketakutan dan kecemasan semakin meningkat.
6. Tahap keenam
Ini merupakan tahap puncak, ditandai dengan rasa panik dan takut mati dengan gejala seperti
detak jantung semakin keras, susah bernafas, terasa gemetar seluruh tubuh dan berkeringat,
kemungkinan bisa terjadi kolaps/ pingsan.
Reaksi Tubuh Terhadap Stres
1. Perubahan warna rambut yang semula hitam menjadi kecoklatan dan kusam.
2. Perubahan ketajaman mata karena kekenduran otot-otot mata.
3. Gangguan pada telinga : suara berdenging
4. Penurunan konsentrasi
5. Sering sakit kepala dan pusing
6. Ekspresi wajah tampak tegang, mulut dan bibir terasa kering, berkeringat dan kadang-
kadang panas.
7. Sistem pernafasan : sesak karena penyempitan saluran nafas.
8. Sistem kardiovaskuler : berdebar-debar, pembuluh darah melebar atau menyempit kadang-
kadang terjadi kepucatan atau kemerahan pada muka, terasa kedinginan dan kesemutan
pada jari tangan atau kaki.
9. Sistem pencernaan : gangguan seperti lambung, terasa kembung, mual dan pedih.
10. Sistem perkemihan : gangguan seperti BAK yang sering.
11. Sistem endokrin/hormonal : peningkatan kadar gula dan terjadi penurunan libido dan
penurunan kegairahan pada seksual.
Adaptasi Terhadap Stress
1. Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam merespon
terhadap stress.
2. Adaptasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan fungsi yang optimal.
3. Adaptasi melibatkan refleks, mekanisme otomatis untuk perlindungan, mekanisme koping,
dan idealnya mengarah pada penyesuaian dan penguasaan situasi.
4. Agar adaptasi berfungsi optimal, seseorg harus mampu berespon terhadap stresor dan
beradaptasi terhadap tuntutan atau perubahan yang dibutuhkan respon stres terbagi menjadi 4:
- Adaptasi fisiologis
- Adaptasi psikologis
- Adaptasi sosial budaya
- Adaptasi spiritual

PERTEMUAN 5 : KONSEP KESEHATAN SPIRITUAL


Spiritualitas, keyakinan dan agama merupakan hal yang terpisah, walau pun seringkali diartikan
sama. Pemahaman tentang perbedaan antara tiga istilah tersebut sangat penting bagi perawat
untuk menghindarkan salah pengertian yang akan mempengaruhi pendekatan yang digunakan
perawat.
Mempunyai kepercayaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai komitmen
terhadap sesuatu atau seseorang. Secara umum agama atau keyakinan spiritual merupakan upaya
seseorang untuk memahami tempat seseorang di dalam kehidupan, yaitu bagaimana seseorang
melihat dirinya dalam hubungannya dengan lingkungan secara menyeluruh.
Keterkaitan Antara Spiritualitas, Kesehatan dan Sakit
Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan
dan perilaku selfcare klien. Beberapa pengaruh dari keyakinan spiritual yang perlu dipahami
adalah sebagai berikut:
1. Menuntun kebiasaan hidup sehari-hari
Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin
mempunyai makna keagamaan bagi klien. Sebagai contoh, ada agama yang menetapkan
makanan diit yang boleh dan tidak boleh dimakan. Begitu pula metode keluarga
berencana ada agama yang melarang cara tertentu untuk mencegah kehamilan termasuk
terapi medik atau pengobatan.
2. Sumber dukungan
Pada saat mengalami stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.
Dukungan ini sangat diperlukan untuk dapat menerima keadaan sakit yang dialami,
khususnya jika penyakit tersebut memerlukan proses penyembuhan yang lama dengan
hasil yang belum pasti. Sembahyang atau berdoa, membaca kitab suci, dan praktik
keagamaan lainnya sering membantu memenuhi kebutuhan spiritual yang juga
merupakan suatu perlindungan terhadap tubuh.
3. Sumber kekuatan dan penyembuhan
Nilai dari keyakinan agama tidak dapat dengan mudah dievaluasi (Taylor, Lilis & Le
Mone, 1997). Walaupun demikian pengaruh keyakinan tersebut dapat diamati oleh tenaga
kesehatan dengan mengetahui bahwa individu cenderung dapat menahan distress fisik
yang luar biasa karena mempunyai keyakinan yang kuat. Keluarga klien akan mengikuti
semua proses penyembuhan yang memerlukan upaya ekstra, karena keyakinan bahwa
semua upaya tersebut akan berhasil.
4. Sumber konflik
Pada suatu situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik
kesehatan. Misalnya ada orang yang memandang penyakit sebagai suatu bentuk hukuman
karena pernah berdosa.

Ketika memberikan asuhan keperawatan kepada klien, perawat diharapkan untuk peka terhadap
kebutuhan spiritual klien, terkadang menghindar. Alasan tersebut antara lain karena perawat
merasa kurang nyaman dengan kehidupan spiritualnya, kurang menganggap penting kebutuhan
spiritual, tidak mendapatkan pendidikan tentang aspek spiritual dalam keperawatan, atau merasa
bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual klien bukan menjadi tugasnya tetapi menjadi tanggung
jawab pemuka agama. Perawat juga perlu peka terhadap keluhan klien tentang kematian atau
merasa tidak berharga dan kehilangan arti hidup. Kepekaan perawat sangat penting dalam
menarik kesimpulan dari verbalisasi klien tentang distress yang dialami klien. Perubahan
perilaku juga dapat merupakan manifestasi gangguan fungsi spiritual. Klien yang merasa cemas
dengan hasil pemeriksaan atau menunjukkan kemarahan setelah mendengar hasil pemeriksaan
mungkin saja sedang menderita distress spiritual. Ada yang bereaksi dengan perilaku
mengintrospeksi diri dan mencari alasan terjadinya suatu situasi dan berupaya mencari fakta
yang dapat menjelaskan situasi tersebut, namun ada yang beraksi secara emosional dan mencari
informasi serta dukungan dari keluarga atau teman. Perasaan bersalah, rasa takut, depresi dan
ansietas mungkin menunjukkan perubahan fungsi spiritual.
Perawat Sebagai Contoh Peran (Role Model)

• Setiap Manusia mempunyai tiga kebutuhan spiritual yang sama yaitu kebutuhan akan arti
dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan berhubungan, serta kebutuhan untuk
mendapatkan pengampunan.
• Menghargai keyakinan dan praktik spiritual orang lain walaupun berbeda dengan
keyakinan spiritual perawat.
• Meningkatkan pengetahuan perawat tentang bagaimana keyakinan spiritual klien
mempengaruhi gaya hidup mereka, berespon terhadap penyakit, pilihan pelayanan
kesehatan dan pilihan terapi/treatment.
• Menunjukkan kepekaan terhadap kebutuhan spiritual klien.
• Menyusun strategi asuhan keperawatan yang paling sesuai untuk membantu klien yang
sedang mengalami distress spiritual.

PERTEMUAN 6 & 7 : BUDAYA UMUM TENTANG KESEHATAN DAN BUDAYA


UMUM TENTANG KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
Unsur Keberlangsungan Rumah Sakit
• PASIEN / CUSTOMER  Manajemen Rs berusaha seoptimal mungkin memenuhi
segala kebutuhan pasien  kepuasan pasien.
• PERSAINGAN ANTAR RS / COMPETITION  Anggapan bahwan Rs lain memiliki
mutu lebih baik dapat memicu mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas & selalu
beradaptasi atas perkembangan zaman.
• PENGHEMATAN BIAYA /COSTS  Tidak selalu dibebankan pada pasien, hal ini
dapat diatasi dengan meningkatkan produktifitas & perbaikan mutu pelayanan
• MENGATASI KEGAWATAN/CRISIS Rs harus dapat mengantisipasi kegawatan
dengan prediksi yang tepat.
Budaya Kerja : Budaya Kerja dengan 5R : Budaya Kerja dengan 5S :
1. Profesional 1. Ringkas 1. Salam
2. Ikhlas 2. Rapi 2. Sapa
3. Bersih jiwa 3. Resik 3. Senyum
4. Disiplin 4. Rawat 4. Sopan
5. Transparan 5. Rajin 5. Santun
6. Konsisten

Budaya Melayani
Sesuai dengan perkembangan baru dalam paradigma pelayanan, budaya kerja rumah sakit yang
positif adalah budaya kerja melayani. Caranya adalah dengan :
Contoh membiasakan arah orientasi tindakan dan sikap serta perilaku kepada kepentingan orang
lain yang dilayani, bukan kepentingan diri sendiri.
Contoh tindakan yang negatif adalah karyawan rumah sakit yang suka membolos atau terlambat
datang. Kemudian perawat yang kurang perhatian terhadap pasien orang miskin, dan dokter
menyuruh pasien membeli obat atau alat di apotik tertentu.
Apabila tindakan yang positif dari setiap individu dapat dilaksanakan secara konsisten dan terus
menerus akan menghasilkan tabiat positif. Pada akhirnya secara kelompok akan menghasilkan
budaya kerja positif.
Budaya menjaga keselamatan pasien
7 Standar Sasaran Keselamatan Pasien
• Hak pasien
• Mendidik pasien dan keluarga
• Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan
• Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien
• Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
• Mendidik staf tentang keselamatan pasien
• Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien
Menurut Joint Commission International (2013) terdapat enam sasaran keselamatan pasien
yaitu:
• Identifikasi pasien dengan benar
• Meningkatkan komunikasi yang efektif
• Meningkatkan keamanan obat yang perlu diwaspadai
• Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi
• Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
• Pengurangan risiko pasien jatuh.
Prinsip Benar Pemberian Obat
1. Benar obat
2. Benar dosis
3. Benar pasien
4. Benar cara pemberian obat
5. Benar waktu
6. Benar dokumentasi
7. Benar pengkajian
8. Hak klien untuk menolak
9. Benar evaluasi
10. Benar reaksi terhadap makanan
11. Benar reaksi terhadap obat lain
12. Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien
6 Langkah Prosedur Mencuci Tangan
TEMU 8 : ETIOLOGI PENYAKIT BERBASIS BUDAYA
a. Konsep Kebudayaan

Konsep budaya telah menjadi arus utama dalam bidang antropologi sejak awal mula dan
memperoleh perhatian dalam perkembangan awal studi perilaku organisasi. Bagaimanapun juga,
baru-baru ini saja konsep budaya timbul ke permukaan sebagai suatu dimensi utama dalam
memahami perilaku organisasi (Hofstede 1986). Schein (1984) mengungkapkan bahwa banyak
karya akhir-akhir ini berpendapat tentang peran kunci budaya organisasi untuk mencapai
keunggulan organisasi. Mengingat keberadaan budaya organisasi mulai diakui arti pentingnya,
maka telaah terhadap konsep ini perlu dilakukan terutama atas berbagai isi yang dikandungnya.

Kata Kebudayaan atau budaya adalah kata yang sering dikaitkan dengan Antropologi. Secara
pasti, Antropologi tidak mempunyai hak eksklusif untuk menggunakan istilah ini. Seniman
seperti penari atau pelukis dll juga memakai istilah ini atau diasosiasikan dengan istilah ini,
bahkan pemerintah juga mempunyai departemen untuk ini. Konsep ini memang sangat sering
digunakan oleh Antropologi dan telah tersebar kemasyarakat luas bahwa Antropologi bekerja
atau meneliti apa yang sering disebut dengan kebudayaan. Seringnya istilah ini digunakan oleh
Antropologi dalam pekerjaan-pekerjaannya bukan berarti para ahli Antropolgi mempunyai
pengertian yang sama tentang istilah tersebut. Seorang Ahli Antropologi yang mencoba
mengumpulkan definisi yang pernah dibuat mengatakan ada sekitar 160 defenisi kebudayaan
yang dibuat oleh para ahli Antropologi. Tetapi dari sekian banyak definisi tersebut ada suatu
persetujuan bersama diantara para ahli Antropologi tentang arti dari istilah tersebut. Salah satu
definisi kebudayaan dalam Antropologi dibuat seorang ahli bernama Ralph Linton yang
memberikan defenisi kebudayaan yang berbeda dengan pengertian kebudayaan dalam kehidupan
sehari-hari :

“Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian
tata cara hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan”.

Jadi, kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara
berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang
khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu.
b. Pengertian Rumah Sakit

Rumah sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya
disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Berikut ini ialah beberapa
jenis-jenis rumah sakit yang akan dijelaskan untuk memberikan gambaran mengenai
Kebudayaan rumah sakit

 Rumah sakit umum

Rumah sakit umum biasanya merupakan fasilitas yang mudah ditemui di suatu negara,
dengan kapasitas rawat inap sangat besar untuk perawatan intensif ataupun jangka panjang.
Rumah sakit jenis ini juga dilengkapi dengan fasilitas bedah, bedah plastik, ruang bersalin,
laboratorium, dan sebagainya. Tetapi kelengkapan fasilitas ini bisa saja bervariasi sesuai
kemampuan penyelenggaranya.

Rumah sakit yang sangat besar sering disebut Medical Center (pusat kesehatan), biasanya
melayani seluruh pengobatan modern. Sebagian besar rumah sakit di Indonesia juga
membuka pelayanan kesehatan tanpa menginap (rawat jalan) bagi masyarakat umum
(klinik). Biasanya terdapat beberapa klinik/poliklinik di dalam suatu rumah sakit.

 Rumah sakit terspesialisasi

Jenis ini mencakup trauma center, rumah sakit anak, rumah sakit manula, atau rumah sakit
yang melayani kepentingan khusus seperti psychiatric (psychiatric hospital), penyakit
pernapasan, dan lain-lain. Rumah sakit bisa terdiri atas gabungan atau pun hanya satu
bangunan. Kebanyakan mempunyai afiliasi dengan universitas atau pusat riset medis
tertentu. Kebanyakan rumah sakit di dunia didirikan dengan tujuan nirlaba.

 Rumah sakit penelitian/pendidikan

Rumah sakit penelitian/pendidikan adalah rumah sakit umum yang terkait dengan kegiatan
penelitian dan pendidikan di fakultas kedokteran pada suatu universitas/lembaga
pendidikan tinggi. Biasanya rumah sakit ini dipakai untuk pelatihan dokter-dokter muda,
uji coba berbagai macam obat baru atau teknik pengobatan baru. Rumah sakit ini
diselenggarakan oleh pihak universitas/perguruan tinggi sebagai salah satu wujud
pengabdian masyararakat / Tri Dharma perguruan tinggi.

 Rumah sakit lembaga/perusahaan

Rumah sakit yang didirikan oleh suatu lembaga/perusahaan untuk melayani pasien-pasien
yang merupakan anggota lembaga tersebut/karyawan perusahaan tersebut. Alasan pendirian
bisa karena penyakit yang berkaitan dengan kegiatan lembaga tersebut (misalnya rumah
sakit militer, lapangan udara), bentuk jaminan sosial/pengobatan gratis bagi karyawan, atau
karena letak/lokasi perusahaan yang terpencil/jauh dari rumah sakit umum. Biasanya rumah
sakit lembaga/perusahaan di Indonesia juga menerima pasien umum dan menyediakan
ruang gawat darurat untuk masyarakat umum.

 Klinik

Fasilitas medis yang lebih kecil yang hanya melayani keluhan tertentu. Biasanya dijalankan
oleh Lembaga Swadaya Masyarakat atau dokter-dokter yang ingin menjalankan praktek
pribadi. Klinik biasanya hanya menerima rawat jalan. Bentuknya bisa pula berupa
kumpulan klinik yang disebut poliklinik.

A. Kebudayaan Rumah Sakit

Rumah sakit adalah suatu organisasi yang unik dan kompleks karena ia merupakan institusi
yang padat karya, mempunyai sifat-sifat dan ciri-ciri serta fungsifungsi yang khusus dalam
proses menghasilkan jasa medik dan mempunyai berbagai kelompok profesi dalam pelayanan
penderita. Di samping melaksanakan fungsi pelayanan kesehatan masyarakat, rumah sakit juga
mempunyai fungsi pendidikan dan penelitian (Boekitwetan 1997).

Rumah sakit di Indonesia pada awalnya dibangun oleh dua institusi. Pertama adalah
pemerintah dengan maksud untuk menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum
terutama yang tidak mampu. Kedua adalah institusi keagamaan yang membangun rumah sakit
nirlaba untuk melayani masyarakat miskin dalam rangka penyebaran agamanya. Hal yang
menarik akhir-akhir ini adalah adanya perubahan orientasi pemerintah tentang manajemen rumah
sakit dimana kini rumah sakit pemerintah digalakkan untuk mulai berorientasi ekonomis. Untuk
itu, lahirlah konsep Rumah Sakit Swadana dimana investasi dan gaji pegawai ditanggung
pemerintah namun biaya operasional rumah sakit harus ditutupi dari kegiatan pelayanan
kesehatannya (Rijadi 1994).

Dengan demikian, kini rumah sakit mulai memainkan peran ganda, yaitu tetap melakukan
pelayanan publik sekaligus memperoleh penghasilan (laba ?) atas operasionalisasi pelayanan
kesehatan yang diberikan kepada masyarakat.

Mengingat adanya dinamika internal (perkembangan peran) dan tuntutan eksternal yang
semakin berkembang, rumah sakit dihadapkan pada upaya penyesuaian diri untuk merespons
dinamika eksternal dan integrasi potensi-potensi internal dalam melaksanakan tugas yang
semakin kompleks. Upaya ini harus dilakukan jika organisasi ini hendak mempertahankan
kinerjanya (pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus memperoleh dana yang memadai
bagi kelangsungan hidup organisasi).

Untuk itu, ia tidak dapat mengabaikan sumber daya manusia yang dimiliki termasuk
perhatian atas kepuasan kerjanya. Pengabaian atasnya dapat berdampak pada kinerja organisasi
juga dapat berdampak serius pada kualitas pelayanan kesehatan. Dalam konteks tersebut,
pemahaman atas budaya pada tingkat organisasi ini merupakan sarana terbaik bagi penyesuaian
diri anggota-anggotanya, bagi orang luar yang terlibat (misalnya pasien dan keluarganya) dan
yang berkepentingan (seperti investor atau instansi pemerintah terkait) maupun bagi
pembentukan dan pengembangan budaya organisasi itu sendiri dalam mengatasi berbagai
masalah yang sedang dan akan dihadapi.

Namun sayangnya penelitian atau kajian khusus tentang persoalan ini belum banyak
diketahui, atau mungkin perhatian terhadap hal ini belum memadai. Mengingat kondisi
demikian, maka tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan berbagai aspek dan karakteristik
budaya organisasi rumah sakit sebagai lembaga pelayanan publik.

Seiring dengan membaiknya tingkat pendidikan, meningkatnya keadaan sosial ekonomi


masyarakat, serta adanya kemudahan dibidang transportasi dan komunikasi, majunya IPTEK
serta derasnya arus sistem informasi mengakibatkan sistem nilai dalam masyarakat berubah.
Masyarakat cenderung menuntut pelayanan umum yang lebih bermutu termasuk pelayanan
kesehatan.
Pelayanan rumah sakit yang baik bergantung dari kompetensi dan kemampuan para
pengelola rumah sakit. Untuk meningkatkan kemampuan para pengelola rumah sakit tersebut
selain melalui program pendidikan dan pelatihan, juga diperlukan pengaturan dan penegakan
disiplin sendiri dari para pengelola rumah sakit serta adanya yanggung jawab secara moral dan
hukum dari pimpinan rumah sakit untuk menjamin terselenggaranya pelayanan yang baik.

Kepercayaan dan pengobatan berhubungan sangat erat. Institusi yang spesifik untuk
pengobatan pertama kali, ditemukan di India. Rumah sakit Brahmanti pertama kali didirikan di
Sri Lanka pada tahun 431 SM, kemudian Raja Ashoka juga mendirikan 18 rumah sakit di
Hindustan pada 230 SM dengan dilengkapi tenaga medis dan perawat yang dibiayai anggaran
kerajaan.

Perubahan rumah sakit menjadi lebih sekular di Eropa terjadi pada abad 16 hingga 17. Tetapi
baru pada abad 18 rumah sakit modern pertama dibangun dengan hanya menyediakan pelayanan
dan pembedahan medis. Inggris pertama kali memperkenalkan konsep ini. Guy's Hospital
didirikan di London pada 1724 atas permintaan seorang saudagar kaya Thomas Guy. Rumah
sakit yang dibiayai swasta seperti ini kemudian menjamur di seluruh Inggris Raya. Di koloni
Inggris di Amerika kemudian berdiri Pennsylvania General Hospital di Philadelphia pada 1751.
setelah terkumpul sumbangan £2,000. Di Eropa Daratan biasanya rumah sakit dibiayai dana
publik. Namun secara umum pada pertengahan abad 19 hampir seluruh negara di Eropa dan
Amerika Utara telah memiliki keberagaman rumah sakit.

Selain itu dalam perkembangan teknologi dan berbagai bidang yang lainnya tercipta sebuah
istilah yang menandakan sebagai suatu Budaya dalam lingkup kesehatan istilah tersebut ialah
Komite Etik Rumah Sakit (KERS), dapat dikatakan sebagai suatu badan yang secara resmi
dibentuk dengan anggota dari berbagai disiplin perawatan kesehatan dalam rumah sakit yang
bertugas untuk menangani berbagai masalah etik yang timbul dalam rumah sakit. KERS dapat
menjadi sarana efektif dalam mengusahakan saling pengertian antara berbagai pihak yang
terlibat seperti dokter, pasien, keluarga pasien dan masyarakat tentang berbagai masalah etika
hukum kedokteran yang muncul dalam perawatan kesehatan di rumah sakit.

Ada tiga fungsi KERS ini yaitu pendidikan, penyusun kebijakan dan pembahasan kasus. Jadi
salah satu tugas KERS adalah menjalankan fungsi pendidikan etika. Dalam rumah sakit ada
kebutuhan akan kemampuan memahami masalah etika, melakukan diskusi multidisiplin tentang
kasus mediko legal dan dilema etika biomedis dan proses pengambilan keputusan yang terkait
dengan permasalahan ini.

B. Karakteristik Kebudayaan Rumah Sakit (Organisasi)

Pertama, asumsi karyawan tentang keterkaitan lingkungan organisasi yang menunjukkan


bahwa organisasi mereka didominasi dan sangat dipengaruhi oleh beberapa pihak eksternal, yaitu
pemilik saham, Departemen Kesehatan sebagai pembina teknis, dan masyarakat pengguna jasa
kesehatan sebagai konsumen. Peran masyarakat kini begitu dirasakan sejak RS menjadi institusi
yang harus mampu menghidupi dirinya sendiri tanpa mengandalkan subsidi lagi dari PTPN XI.
Pada situasi seperti ini, karyawan menyadari betul fungsi yang harus dimainkan ketika
berhadapan dengan konsumen, yaitu mereka harus memberikan pelayanan terbaik kepada pasien
dan keluarganya, serta para pengunjung lainnya.

Nilai-nilai yang sudah ditanamkan kepada karyawan dalam memberikan pelayanan kepada
konsumennya tadi dapat terungkap dari pandangan mereka bahwa justru konsumenlah orang
terpenting dalam pekerjaan mereka. Pasien adalah raja yang mana semua karyawan bergantung
padanya bukan pasien yang bergantung pada karyawan. Pasien bukanlah pengganggu pekerjaan
karyawan namun merekalah tujuan karyawan bekerja. Karyawan bekerja bukan untuk menolong
pasien, namun keberadaan pasienlah yang menolong karyawan karena pasien tersebut telah
memberikan peluang kepada karyawan untuk memberikan pelayanan. Oleh karena itu jika
terdapat perselisihan antara karyawan dan pasien maka karyawan haruslah mengalah karena
tidak ada yang pernah menang dalam berselisih dengan konsumen. Dengan melihat nilai yang
ditanamkan pada setiap karyawan tersebut maka dapat dijelaskan tentang berlakunya asumsi
fungsi pelayanan di RS.

Kedua, tentang pandangan karyawan mengenai bagaimana sesuatu itu dipandang sebagai
fakta atau tidak (kriteria realitas) dan bagaimana sesuatu itu ditentukan sebagai benar atau tidak
(kriteria kebenaran). Kriteria realitas yang dominant berlaku di RS X adalah realitas sosial yang
berarti bahwa sesuatu itu dapat diterima sebagai fakta bila sesuai dengan kebiasaan yang telah
ada atau opini umum yang berkembang di lingkungan RS X. Sementara itu, karyawan RS X juga
berpandangan dominan bahwa kebenaran lebih ditentukan oleh rasionalitas. Dengan kata lain,
sesuatu itu dapat dipandang sebagai benar bergantung pada rasioanalitas kolektif di lingkungan
RS X dan bila telah ditentukan melalui proses yang dapat diterima dalam saluran organisasi.

Ketiga, tentang pandangan karyawan berkenaan dengan hakikat sifat dasar manusia.
Sebagian besar karyawan rupanya berasumsi bahwa manusia atau teman sekerja mereka itu
memiliki sifat yang pada dasarnya baik, yaitu rajin bekerja, sangat memperhatikan waktu kerja
(masuk dan pulang kerja tepat waktu), siap membantu pekerjaan rekan-rekan lainnya. Namun
demikian mereka juga berpandangan bahwa sifat ini tidak selamanya berlaku konsisten. Akan
ada selalu godaan atau kondisi yang dapat mengubah sifat manusia. Mereka percaya betul bahwa
tidak ada sifat yang kekal, sifat baik dapat saja berubah menjadi buruk, begitu pula sifat buruk
bisa berubah menjadi baik.

Keempat, mengenai asumsi karyawan tentang hakikat aktivitas manusia yang menunjukkan
bahwa aktivitas manusia itu harmoni atau selaras dengan aktivitas organisasi. Tidak hanya
aktivitas manusia saja yang mampu menentukan keberhasilan organisasi. Namun mereka juga
menolak bahwa aktivitas organisasi semata yang menentukan keberhasilan organisasi karena
mereka memandang bahwa aktivitasnya juga memberikan kontribusi atas keberhasilan
organisasi. Pada intinya, mereka memandang bahwa aktivitasnya yang meliputi curahan waktu,
tenaga, dan pikiran harus selaras dengan aktivitas organisasi secara keseluruhan yang berupa
kinerja sumber daya manusia, keuangan, aktiva tetap, infra dan supra struktur organisasi.

Kelima, berkenaan dengan asumsi hakikat hubungan manusia yang hasilnya menunjukkan
bahwa hubungan antar karyawan lebih bersifat kekeluargaan. Kekeluargaan 10 tidak dipahami
sebagai nepotisme atau usaha keluarga, namun kekeluargaan dipahami sebagai hubungan antar
inidividu dalam suatu kelompok kerja sebagai suatu kerja sama kelompok yang lebih berorientasi
pada konsensus dan kesejahteraan kelompok. Dalam suatu kelompok kerja seorang karyawan
terkadang tidak hanya menjalankan tugas hanya pada bidang tugas yang tertera secara formal
karena ia harus siap membantu bidang tugas yang lain yang dapat ditanganinya. Seorang perawat
di unit bedah dengan tugas khusus sterilisasi tidak hanya menangani tugasnya saja. Ia harus siap
membantu karyawan lainnya untuk juga menangani instrumen dan pulih sadar. Semua pekerjaan
itu dilakukan sebagai suatu kerja sama kolektif dalam mencapai efektivitas organisasi. Hubungan
antar karyawan tidak sebatas hubungan kerja, kerapkali mereka jauh lebih terikat secara pribadi
dan saling mengerti tentang karakteristik pribadi lainnya. Suasana guyub terlihat dalam suasana
saling membantu tidak hanya dalam konteks kerja tetapi juga di luar pekerjaan.

TEMU 9 & 10 : KONSEP DIRI DAN KONSEP SPRITUAL, KONSEP KEHILANGAN,


KEMATIAN DAN BERDUKA

Konsep diri

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui
individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain
(Stuart dan Sudeen, 1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya,
interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan
objek, tujuan serta keinginannya. Sedangkan menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986)
menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal,
emosional intelektual , sosial dan spiritual.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi


perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari teori perkembangan, Significant
Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan Self Perception (persepsi diri sendiri),
untuk lebih jelasnya mari kita baca lebih lanjut tentang “Faktor yang mempengaruhi Konsep
Diri” berikut ini:

1. Teori perkembangan

Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti
mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya
memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi
lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman
budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri
atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.

2. Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat)


Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri
sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri
pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja
dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting
sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi.

3. Self Perception (persepsi diri sendiri)

Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu terhadap
pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan
pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku
individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat
berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual
dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan
individu dan sosial yang terganggu.Menurut Stuart dan Sundeen Penilaian tentangkonsep diri
dapat di lihat berdasarkan rentang respon konsep diri yaitu :

 Komponen tubuh

Konsep diri terdiri dari beberapa kompenen. Kompenen konsep diri adalah, bagian-
bagian yang menyusun persepsi terhadap diri (konsep diri). komponen-komponen
konsep diri adalah sebagai berikut:

 Citra tubuh

Citra tubuh adalah sikap individu terhadap tubuhnya baik disadari atau tidak disadari
meliputi persepsi masa lalu atau sekarang mengenai ukuran dan bentuk, fungsi,
penampilan dan potensi tubuh. Citra tubuh sangat dinamis karena secara konstan
berubah seiring dengan persepsi da pengalaman-pengalaman baru. Citra tubuh harus
realistis karena semakin dapat menerima dan menyukai tubuhnya individu akan lebih
bebas dan merasa aman dari kecemasan. (Suliswati, dkk, 2005).

Citra tubuh adalah persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal maupun
eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh.
Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang karakteristik dan
kemampuan fisik serta persepsi dari pandangan orang lain (Perry & Potter, 2005).
Konsep diri yang baik tentang citra tubuh adalah kemampuan seseorang menerima
bentuk tubuh yang dimiliki dengan senang hati dan penuh rasa syukur serta selalu
berusaha untuk merawat tubuh dengan baik.

Faktor predisposisi gangguan citra tubuh meliputi kehilangan atau kerusakan bagian
tubuh (anatomi dan fungsi), perubahan ukuran, bentuk dan penampilan tubuh (akibat
pertumbuhan dan perkembangan serta penyakit), proses patologik penyakit dan
dampaknya terhadap struktur maupun fungsinya, prosedur pengobatan seperti
radiasi, kemoterapi dan transplantasi (Suliswati, dkk, 2005).

 Ideal diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya bertingkah laku
berdasarkan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang
diinginkan atau sejumlah inspirasi, tujuan, nilai yang diraih. Ideal diri akan mewujudkan
cita- cita atau pengharapan diri berdasarkan norma-norma sosial di masyarakat tempat
individu tersebut melahirkan penyesuaian diri. Seseorang yang memiliki konsep diri
yang baik tentang ideal diri apabila dirinya mampu bertindak dan berperilaku sesuai
dengan kemampuan yang ada pada dirinya dan sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Pembentukan ideal diri dimulai pada masa kanak-kanak dipengaruhi oleh orang yang
penting pada dirinya yang memberikan harapan atau tuntutan tertentu. Seiring dengan
berjalannya waktu individu menginternalisasikan harapan tersebut dan akan membentuk
dasar dari ideal diri (Suliswati, dkk, 2005).

 Harga diri

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis
seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya. Harga diri diperoleh dari
diri sendiri dan orang lain yaitu dicintai, dihormati dan dihargai. Individu akan merasa
harga dirinya tinggi bila sering mengalami keberhasilan, sebaliknya individu akan
merasa harga dirinya rendah bila sering mengalami kegagalan, tidak dicintai atau
diterima lingkungan. Pada masa dewasa akhir timbul masalah harga diri karena adanya
tantangan baru sehubungan dengan pensiun, ketidakmampuan fisik, brepisah dari anak,
kehilangan pasangan dan sebagainya (Suliswati, dkk, 2005). Seseorang memiliki konsep
diri yang baik berkaitan dengan harga diri apabila mampu menunjukkan keberadaannya
dibutuhkan oleh banyak orang, dan menjadi bagian yang dihormati oleh lingkungan
sekitar.

Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Manusia cenderung bersikap negatif,
walaupun ia cinta dan mengenali kemampuan orang lain namun ia jarang
mengekspresikannya. Harga diri akan rendah jika kehilangan kasih sayang dan
penghargaan dari orang lain serta mengalami ketidakmampuan pada dirinya dan juga
sebaliknya (Perry & Potter, 2005).

Faktor predisposisi gangguan harga diri meliputi penolakan dari orang lain, kurang
penghargaan, pola asuh yang salah, terlalu dilarang, terlalu dikontrol, terlalu dituruti,
terlalu dituntut dan tidak konsisten, persaingan antar saudara, kesalahan dan kegagalan
yang berulang, dan tidak mampu mencapai standar yang ditentukan (Suliswati, dkk,
2005).

 Peran

Peran adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh
masyarakat dihubungkan dengan fungsi individu didalam kelompok sosialnya. Peran
memberikan sarana untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan merupakan cara
untuk menguji identitas dengan memvalidasi pada orang yang berarti (Suliswati, dkk,
2005). Individu dikatakan mempunyai konsep diri yang baik berkaitan dengan peran
adalah adanya kemampuan untuk berperan aktif dalam lingkungan, sekaligus
menunjukkan bahwa keberadaannya sangat diperlukan oleh lingkungan.

Faktor predisposisi gangguan peran meliputi tiga kategori transisi peran yaitu
perkembangan. Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap
tahap perkembangan harus dilalui individu dengan menyelesaikan tugas perkembangan
yang berbeda-beda. Hal ini dapat merupakan stressor bagi peran diri. Kedua adalah
transisi situasi, yaitu transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan bertambah /
berkurang orang yang berarti melalui kematian / kelahiran. Misalnya status sendiri
menjadi berdua / menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran
yang dapat menimbulkan ketegangan peran. Ketiga adalah transisi sehat sakit, yaitu
stressor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan konsep diri, termasuk didalamnya
gambaran diri, identitas diri, harga diri dan peran diri (Perry & Potter, 2005).

 Identitas diri

Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat diperoleh dari observasi
dan penilaian terhadap dirinya, menyadari individu bahwa dirinya berbeda dengan orang
lain. Identitas diri merupakan sintesis dari semua aspek konsep diri sebagai suatu
kesatuan yang utuh, tidak dipengaruhi oleh pencapaian tujuan, atribut atau jabatan serta
peran. Seseorang yang memiliki perasaan identitas diri yang kuat akan memandang
dirinya berbeda dengan orang lain, dan tidak ada duanya. Kemandirian timbul dari
perasaan berharga, kemampuan dan penguasaan diri. Dalam identitas diri ada otonomi
yaitu mengerti dan percaya diri, respek terhadap diri, mampu menguasai diri, mengatur
diri dan menerima diri (Suliswati, dkk, 2005).

Pencapaian identitas diperlukan untuk hubungan yang intim karena identitas seseorang
diekspresikan dalam berhubungan dengan orang lain. Seksualits adalah bagian dari
identitas seseorang. Identitas seksual adalah gambaran seseorang tentang diri sebagai
pria atau wanita dan makna dari citra tubuh (Perry & Potter, 2005).

Faktor predisposisi gangguan identitas diri meliputi ketidakpercayaan, tekanan dari


teman dan perubahan struktur sosial. Masalah spesifik sehubungan dengan konsep diri
adalah situasi yang membuat individu sulit menyesuaikan diri atau tidak dapat menerima
khususnya trauma emosi seperti penganiayaan fisik, seksual dan psikologis pada masa
anak-anak atau merasa terancam kehidupannya atau menyaksikan kejadian berupa
tindakan kejahatan (Suliswati, dkk, 2005).
Stressor mempengaruhi konsep diri

Stres Mempengaruhi Konsep Diri Stressor Konsep diri adalah segala perubahan nyata
atau yg mengancam identitas, citra tubuh, harga diri, atau perilaku peran.Setiap perubahan dalam
kesehatan dapat menjadi stressor yg mempengaruhi konsep diri misalnya saja:

• Perubahan fisik dlm tubuh menyebabkan perubahan citra tubuh, dimana identitas dan harga diri
juga dapat dipengaruhi.

• Penyakit kronis sering mengganggu peran,yg dpt mengganggu identitas dan harga diri
seseorang.

1. Stressor Identitas

Seorang dewasa biasanya mempunyai identitas yg lebih stabil karena konsep diri berkembang
lebih kuat.Stresor kultural dan sosial dibanding stresor personal dpt mempunyai dampak lebih
besar pd identitas org dewasa. Misalnya, seorang dewasa harus memutuskan antara karier dan
pernikahan, kerja sama dan kompetisi, atau ketergantungan dan kemandirian dlm suatu
hubungan (stuart & sundeen, 1991)

2.Stressor Citra tubuh

Perubahan dalam penampilan, struktur atau fungsibagian tubuh akan membutuhkan perubahan
dlm citra tubuh. Perubahan dlm citra tubuh seperti; amputasi atau perubahan penampilan
wajah,adalah stressor yg sangat jelas mempengaruhi citra tubuh. Masektomi,Kolostomi, dan
ileostomy menggubah pemanpilan dan fungsi tubuh.

3.Sterssor Harga diri

• Sterssor mempengaruhi harga diri seorg bayi, usia sekolah, prasekolah dan remaja adalah
ketidakmampuan untuk memenuhi harapan org tua, kritik yang tajam, hukum yanng tidak
konsisten, persaingan antar-saudara sekandung dan kekalahan berulang dapat menurunkan harga
diri.

• Sterssor mempengaruhi harga diri pd org dewasa adalah ketidakberhasilan dalam pekerjaan dan
Kegagalan dalam hubungan.
4. Sterssor Peran

Konflik Peran adalah tidak adanya kesesuaian harapan peran.

Ada 3 jenis dasar konflik peran yaitu :

1. Konflik interpersonal

ketika satu org atau lebih mempunyai harapan berlawanan atau tidak cocok secara individu dlm
peran tertentu. Misalnya teman dari seorang wanita dan ibunya mungkin mempunyai perbedaan
yg besar bagaimana ia harus merawat anak-anaknya.

2. Konflik antar-peran

terjadi ketika tekanan atau harapan yg berkaitan dg satu peran melawan tekanan atau harapan yg
saling berkaitan. Misalnya, seorg pria bekerja 10 sampai 12 jam sehari mungkin akan
mempunyai masalah jk istrinya mengharapkan dirinya utk berada dirumah bersama keluarga.

3. Konflik peran personal

Terjadi ketika tuntutan peran melanggar nilai personal individu. Misalnya, seorang perawat yang
menghargai penyelamatan hidup mengalami konflik ketika dihadapkan pada merawat klien yang
memilih untuk menolak terapi pendukung hidup.

Ambiguitas Peran

Mencakup harapan peran yg tdk jelas. Ketika terdapat ketidak jelasan harapan maka org mjd tdk
pasti apa yg harus dilakukan, bagaimana harus melakukannya atau keduanya.

Ketegangan peran

Perpaduan antara konflik peran dan ambiguitas peran. Ketegangan peran dapat diekspresikan
sebagai perasaan frustasi ketika seseorang merasakan tidak adekuat atau merasa tidak sesuai
dengan peran.contohnya: seorg wanita mempunyai posisi dimana lazimnya posisi tersebut
dipegang oleh pria mungkin dianggap oleh org lain sebagai kurang kompeten, kurang objektif
atau kurang berpengetahuan dibandingkan dengan rekan kerja pria mereka. Maka mereka
berpikir bahwa mereka harus bekerja keras dan lebih baik untuk dapat berkompetensi.
4. Pengaruh perawat pada konsep diri klien

Penerimaan perawat terhadap klien dengan perubahan konsep diri membantu


menstimulasi rehabilitasi yang positif. Klien yang penampilan fisiknya telah mengalami
perubahan dan yang harus beradaptasi terhadap citra tubuh yang baru, hampir pasti baik klien
maupun keluarganya akan melihat pada perawat dan mengamati respons dan reaksi mereka
terhadap situasi yang baru. Dalam hal ini perawat mempunyai dampak yang signifikan. Rencana
keperawatan yang dirumuskan untuk membantu klien dengan perubahan konsep diri dapat
ditingkatkan atau digagalkan oleh nilai dan perasaan bawah sadar perawat. Penting artinya bagi
perawat untuk mengkaji dan mengklarifikasi hal-hal berikut mengenai diri mereka :

1. Perasaan perawat sendiri mengenai kesehatan dan penyakit

2. Bagaimana perawat bereaksi terhadap stress

3. Kekuatan komunikasi nonverbal dengan klien dan keluarganya dan bagaimana hal tersebut
ditunjukkan.

4. Nilai dan harapan pribadi apa yang ditunjukkan dan mempengaruhi klien

5. Bagaimana pendekatan tidak menghakimi dapat bermanfaat bagi klien

Untuk menciptakan hubungan antara perawat dan pasien diperlukan komunikasi yang
akan mempermudah dalam mengenal kebutuhan pasien dan menentukan rencana tindakan serta
kerja sama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Hubungan perawat dan klien yang terapeutik
akan memepermudah proses komunikasi tersebut.

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan
kegiatannya dipusatkan untuk untuk kesembuhan pasien. Tujuan komunikasi terapeutik itu
sendiri adalah :

1.Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat
mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang
diperlukan.
2.Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan
mempertahankan kekuatan egonya.

3.Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.

Menurut Carl rogers prinsip-prinsip komunikasi terapeutik diantaranya :

1. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, memahami dirinya sendiri
serta nilai yang dianut.

2. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan saling
menghargai.

3. Perawat harus memahami, manghayati nilai yang dianut oleh pasien.

4. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental.

5. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan suasana yang memungkinkan pasien
bebas berkembang tanpa rasa kuat.

6. Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi
untuk mengubah dirinya sendiri baik sikap, tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan
dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

7. Mampu menetukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.

8. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik.

9. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan orang lain
tentang kesehatan, oleh karma itu perawat perlu mempertahankan suatu keadaan sehat fisik
mental, spiritual dan gaya hidup.

10. Bertanggung jawab dalam dua hal yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan
yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Konsep diri dan proses keperawatan

a. Pengkajian
Dalam mengkaji konsep diri, perawat mengumpulkan data objektif dan subjektif yang
berfokus pada stresor konsep diri baik yang aktual maupun potensial dan pada perilaku yang
berkaitan dengan perubahan konsep diri. Data objektif selanjutnya termasuk terhadap perubahan
citra tubuh, keengganan untuk mencoba hal-hal baru dan interaksi verbal dan nonverbal antara
klien dengan orang lain, data subjektif dikumpulkan untuk menetukan pandangan klien tentang
diri dan lingkungan. Persepsi orang terdekat adalah sumber data yang penting.

b. Diagnosa Keperawatan

Data pengkajian membutuhkan interpretasi yang cermat oleh perawat. Klien dengan
batasan karakteristik untuk gangguan konsep diri mungkin menunjukan diagnosa keperawatan
yang berkaitan dengan defisiensi identitas, citra tubuh harga diri atau kinerja peran. Peristiwa
yang mempunyai dampak pada diri menimbulkan stressor cukup besar atau jika stressor di
timbulkan pada klien dalam periode yang cukup lama, maka klien akan menjadi simptomatis.

Pengkajian harus menunjukan adanya batasan karakteristik dan perilaku klien yang
mengarah pada diagnosa keperawatan. Perawat harus cermat untuk membuat diagnosa yang
akuraat berdasarkan data pengkajian. Misalnya, pertimbangkan klien dengan diagnosa penyakit
paru kronis. Perawat mungkindengan cepat berasumsi bahwa klien mempaunyai citra tubuh yang
buruk sebagai akibat kehilangan fungsi tubuh. Namun demikian, informasi ini saja tidak akan
membantuk diagnosa keperawatan yang konklusif.

c. Perencanaan

Setelah menentukan diagnosa keperawatan, perawat, klien, dan keluarganya harus


merencanakan perawatan yang diarahkan pada membantu kllien meraih kembali atau
mempertahankan konsep diri yang sehat. Rencana perawatan didasarkan pada tujuan dan hasil
yang diperkirakan. Hasil akan memberikan ukuran untuk menentukan apakah rencana perawatan
pada akhirnya berhasil. Perawat harus menentukan apakah hasil yang ditetapkan realistis, sesuai
dengan keadaan fisik dan psikososial klien saat ini.

Setelah menetapkan tujuan perawat merencanakan strategi yang ditujukan pada


penyelesaian diagnosa keperawatan. Secara spesifik, intervensi keperawatan diarahkan pada
faktor yang berhubungan dengan diagnosis. Misalnya dalam gangguan citra tubuh yang
berhubungan dengan persepsi negatif terhadap diri setelah histerektomi, maka intervensi perawat
ditujukkan untuk membantu klien mencapai kembali feminitasnya dan menerima perubahan fisik
yang berkaitan dengan insisi abdomen. Rencana perawatan menyajikan tujuan, hasil yang
diharapkan, dan intervensi untuk klien dengan gangguan konsep diri. Intervensi difokuskan pada
membantu klien mengaadaptasi stressor yang menyebabkan gangguan konsep diri dan pada
dukungan dan dorongan perkembangan metoda koping.

d. Implementasi

Menciptakan lingkungan dan hubungan yang terapeutik dan mendukung penggalian diri
penting untuk mengintervensi klien yang mempunyai masalah konsep diri. Banyak variabel yang
mempengaruhi pandangan klien tentang diri bersifat pribaadi dan personal. Perawat harus
dengan jelas dan tulus menunjukan perawatanya pada klien. Kemudian akan berkembang rasa
saling percaya untuk memberdayakan perawat bermitra dengan klien dalam menetapkan
intervensi yang sangat berguna.

Definisi kehilangan dan berduka

a. Kehilangan

Menurut Iyus yosep dalam buku keperawatan jiwa 2007, Kehilangan adalah suatu
keadaan Individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada,
baik terjadi sebagian atau keseluruhan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami
oleh setiap individu selama rentang kehidupan, sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan
dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda.Berdasarkan
penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kehilangan merupakan suatu keadaan gangguan jiwa
yang biasa terjadi pada orang- orang yang menghadapi suatu keadaan yang berubah dari keadaan
semula (keadaan yang sebelumya ada menjadi tidak ada)

Kehilangan dan kematian adalah peristiwa dari pengalaman manusia yang bersifat
universal dan unik secara individu.

• Kehilangan pribadi adalah segala kehilangan signifikan yang membutuhkan adaptasi melalui
proses berduka. Kehilangan terjadi ketika sesuatu atau seseorang tidak dapat lagi ditemui, diraba,
didengar, diketahui, atau dialami.
• Kehilangan maturasional adalah kehilangan yang diakibatkan oleh transisi kehidupan normal
untuk pertama kalinya.

• Kehilangan situasional adalah kehilangan yang terjadi secara tiba-tiba dalam merespon
kejadian eksternal spesifik seperti kematian mendadak orang yang dicintai atau keduanya.Anak
yang mulai belajar berjalan kehilanga citra tubuh semasa bayinya,wanita yang mengalami
menopause kehilangan kemampuan untuk mengandung, dan seorang pria yang tidak bekerja
mungkin akan kehilangan harga dirinya.

• Kehilangan karena kematian adalah suatu keadaan pikiran, perasaan, dan aktivitas yang
mengikuti kehilangan. Keadaan ini mencakup duka cita dan berkabung. Dukacita adalah proses
mengalami psikologis, social dan fisik terhadap kehilangan yang dipersepsikan(Rando, 1991).
Berkabung adalah proses yang mengikuti suatu kehilangan dan mencakup berupaya untuk
melewati dukacita.

Bentuk-bentuk kehilangan

1. Kehilangan orang yang berarti

2. Kehilangan kesejahteraan

3. Kehilangan milik pribadi

Sifat kehilangan

1. Tiba – tiba (Tidak dapat diramalkan)

Kehilangan secara tiba-tiba dan tidak diharapkan dapat mengarah pada pemulihan
dukacita yang lambat. Kematian karena tindak kekerasan, bunuh diri, pembunuhan atau pelalaian
diri akan sulit diterima.

2. Berangsur – angsur (Dapat Diramalkan)

Penyakit yang sangat menyulitkan, berkepanjangan, dan menyebabkan yang ditinggalkan


mengalami keletihan emosional (Rando:1984). Penelitian menunjukan bahwa yang ditinggalkan
oleh klien yang mengalami sakit selama 6 bulan atau kurang mempunyai kebutuhan yang lebih
besar terhadap ketergantungan pada orang lain, mengisolasi diri mereka lebih banyak, dan
mempunyai peningkatan perasaan marah dan bermusuhan.

Kemampuan untuk meyelesaikan proses berduka bergantung pada makna kehilangan dan
situasi sekitarnya. Kemampuan untuk menerima bantuan menerima bantuan mempengaruh
apakah yang berduka akan mampu mengatasi kehilangan. Visibilitas kehilangan mempengaruh
dukungan yang diterima. Durasi peubahan (mis. Apakah hal tersebut bersifat sementara atau
permanen) mempengaruhi jumlah waktu yang dibutuhkan dalam menetapkan kembali
ekuilibrium fisik, pshikologis, dan social.

Berduka

Berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang


dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, dan lain-lain.

Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA


merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka
disfungsional.Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu
dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang,
hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan.
Tipe ini masih dalam batas normal.

Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang
responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan,
objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal, abnormal,
atau kesalahan/kekacauan.

Jenis-jenis kehilangan dan Berduka

Terdapat 5 katagori kehilangan, yaitu:

1. Kehilangan seseorang seseorang yang dicintai

Kehilangan seseorang yang dicintai dan sangat bermakna atau orang yang berarti adalah
salah satu yang paling membuat stress dan mengganggu dari tipe-tioe kehilangan, yang mana
harus ditanggung oleh seseorang.Kematian juga membawa dampak kehilangan bagi orang yang
dicintai. Karena keintiman, intensitas dan ketergantungan dari ikatan atau jalinan yang ada,
kematian pasangan suami/istri atau anak biasanya membawa dampak emosional yang luar biasa
dan tidak dapat ditutupi.

2. Kehilangan yang ada pada diri sendiri (loss of self)

Bentuk lain dari kehilangan adalah kehilangan diri atau anggapan tentang mental
seseorang. Anggapan ini meliputi perasaan terhadap keatraktifan, diri sendiri, kemampuan fisik
dan mental, peran dalam kehidupan, dan dampaknya. Kehilangan dari aspek diri mungkin
sementara atau menetap, sebagian atau komplit. Beberapa aspek lain yang dapat hilang dari
seseorang misalnya kehilangan pendengaran, ingatan, usia muda, fungsi tubuh.

3. Kehilangan objek eksternal

Kehilangan objek eksternal misalnya kehilangan milik sendiri atau bersama-sama,


perhiasan, uang atau pekerjaan. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap benda
yang hilang tergantung pada arti dan kegunaan benda tersebut.

4. Kehilangan lingkungan yang sangat dikenal

Kehilangan diartikan dengan terpisahnya dari lingkungan yang sangat dikenal termasuk
dari kehidupan latar belakang keluarga dalam waktu satu periode atau bergantian secara
permanen. Misalnya pindah kekota lain, maka akan memiliki tetangga yang baru dan proses
penyesuaian baru.

5. Kehilangan kehidupan/ meninggal

Seseorang dapat mengalami mati baik secara perasaan, pikiran dan respon pada kegiatan
dan orang disekitarnya, sampai pada kematian yang sesungguhnya. Sebagian orang berespon
berbeda tentang kematian.

Jenis- Jenis Berduka

1. Berduka normal, terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap
kehilangan.Misalnya, kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian, dan menari diri dari aktivitas
untuk sementara.
2. Berduka antisipatif, yaitu proses’melepaskan diri’ yng muncul sebelum kehilangan atau
kematian yang sesungguhnya terjadi.Misalnya, ketika menerima diagnosis terminal, seseorang
akan memulai proses perpisahan dan menyesuaikan beragai urusan didunia sebelum ajalnya tiba

3. Berduka yang rumit, dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ke tahap berikutnya,yaitu
tahap kedukaan normal.Masa berkabung seolah-olah tidak kunjung berakhir dan dapat
mengancam hubungan orang yang bersangkutan dengan orang lain.

4. Berduka tertutup, yaitu kedudukan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara
terbuka.Contohnya:Kehilangan pasangan karena AIDS, anak mengalami kematian orang tua tiri,
atau ibu yang kehilangan anaknya di kandungan atau ketika bersalin.

Respons Berduka

Respons berduka seseorang terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap


berikut(Kubler-Ross, dalam Potter dan Perry,1997)

1. Tahap Pengingkaran.

Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya, atau
mengingkarikenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi.Reaksi fisik yang terjadi pada tahap
ini adalah letih,lemah,pucat,mual,diare,gangguan pernafasan,detak jantung cepat,
menangis,gelisah,dan sering kali individu tidak tahu harus berbuat apa.Reaksi ini dapat
berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa tahun.

2. Tahap Marah.

Pada tahap ini individu menolak kehilangan. Kemarahan yang timbul sering
diproyeksikan kepada orang lain atau dirinya sendiri.Orang yang mengalami kehilangan juga
tidak jarang menunjukkan perilaku agresif, berbicara kasar, menyerang orang lain, menolak
pengobatan, bahkan menuduh dokter atau perawat tidak berkompeten. Respon fisik yang sering
terjadi antara lain muka merah, denyut nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal, dan
seterusnya.

3.Tahap Tawar-menawar.
Pada tahap ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan dan
dapat mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus atau terang-terangan seolah kehilangan
tersebut dapat dicegah.Individu mungkin berupaya untuk melakukan tawar-menawar dengan
memohon kemurahan Tuhan.

4.Tahap depresi.

Pada tahap ini pasien sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang bersikap
sangat menurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusan, rasa tidak berharga, bahkan bisa
muncul keinginan bunuh diri. Gejala fisik ditunjukkan antara lain menolak makan, susah tidur,
letih, dan lain-lain.

5. Tahap Penerimaan.

Tahap ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang selalu
berpusat pada objek yg hilang akan mulai berkurang atau bahkan hilang. Perhatiannya akan
beralih pada objek yg baru.Apabila individu dapat memulai tahap tersebut dan menerima dengan
perasaan damai, maka dia dapat mengakhiri proses kehilangan secara tuntas.Kegagalan untuk
masuk ke proses ini akan mempengaruhi kemampuannya dalam mengatasi perasaan kehilangan
selanjutnya.

TEMU 11 & 12 : ANTROPOLOGI KESEHATAN

Pengertian Antropologi Kesehatan

Antropologi kesehatan menurut Landy yaitu mengkombinasikan dalam satu disiplin ilmu
pendekatan-pendekatan ilmu biologi, ilmu sosial, dan humaniora dalam menstudi manusia,
dalam proses perkembanganya merupakan perpaduan antara aspek biologi dan aspek sosio-
budaya.

Foster dan Anderson mendefinisikan antropologi kesehatan adalah suatu disiplin biobudaya
yang memperhatikan aspek-aspek biologis dan budaya berkenaan dengan perilaku manusia,
khususnya bagaimana cara kedua aspek ini berinteraksi sehingga berpengaruh terhadap
kesehatan dan penyakit.
Selain itu Mc Elroy dan Townsend juga mendefinisikan antropologi kesehatan merupakan
studi bagaimana faktor-faktor sosial dan lingkungan mempengaruhi kesehatan dan mengetahui
tentang cara-cara alternatif untuk mengerti dan merawat penyakit.

Hubungan Antara Social Budaya dan Biologi yang Merupakan Dasar dari Perkembangan
Antropologi Kesehatan

Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai
masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, social budaya,
perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Derajat kesehatan masyarakat yang
disebut sebagai psycho socio somatic health well being , merupakan resultante dari 4 faktor,
yaitu :

 Environment atau lingkungan

 Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological
balance

 Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan
sebagainya

 Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif,
dan rehabilitatif

Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling
besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Tingkah
laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh faktor -faktor seperti kelas
social, perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka ancaman kesehatan yang sama (yang
ditentukan secara klinis), bergantung dari variable – variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi
yang berbeda di kalangan pasien.

Misalnya dalam bidang biologi, antropologi kesehatan menggambarkan teknik dan


penemuan ilmu-ilmu kedokteran dan variasinya, termasuk mikrobiologi, biokimia, genetik,
parasitologi, patologi, nutrisi, dan epidemiologi.
Hal ini memungkinkan untuk menghubungkan antara perubahan biologi yang didapatkan
dengan menggunakan teknik tersebut terhadap faktor-faktor sosial dan budaya di masyarakat
tertentu.

Perkembangan Antropologi Kesehatan dari Sisi Biological Pole

Biological or physical anthropology, berusaha untuk memahami jasad/fisik manusia


melalui evolusi, kemampuan adaptasi, genetika populasi, dan primatologi (studi tentang makhuk
primate / binatang yang menyerupai manusia).

Sub bidang dari Anthropologi fisik ini mencakup: anthropometrics, forensic


anthropology, osteology, and nutritional anthropology. Ada beberapa ilmu yang berhubungan
dengan antropologi dan saling berkontribusi dalam memberikan sumbangan untuk
perkembangan ilmu lain.

Misalnya dalam bidang biologi, antropologi kesehatan menggambarkan teknik dan


penemuan ilmu-ilmu kedokteran dan variasinya, termasuk mikrobiologi, biokimia, genetik,
parasitologi, patologi, nutrisi, dan epidemiologi.

Hal ini memungkinkan untuk menghubungkan antara perubahan biologi yang didapatkan
dengan menggunakan teknik tersebut terhadap faktor-faktor sosial dan budaya di masyarakat
tertentu. Contoh: penyakit keturunan albinism di suatu daerah di Nusa Tenggara Timur
ditransmisikan melalui gen resesif karena pernikahan diantara anggota keluarga.

Secara umum, antropologi kesehatan senantiasa memberikan sumbangan pada ilmu


kesehatan lain sebagai berikut:

Memberikan suatu cara untuk memandang masyarakat secara keseluruhan termasuk


individunya. Dimana cara pandang yang tepat akan mampu untuk memberikan kontribusi yang
tepat dalam meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat dengan tetap bertumpu pada akar
kepribadian masyarakat yang membangun.Contoh pendekatan sistem, holistik, emik, relativisme
yang menjadi dasar pemikiran antropologi dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan
masalah dan mengembangkan situasi masyarakat menjadi lebih baik.
Memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk menguraikan proses
sosial budaya bidang kesehatan.

Sumbangan terhadap metode penelitian dan hasil penelitian. Baik dalam merumuskan
suatu pendekatan yang tepat maupun membantu analisis dan interpretasi hasil tentang suatu
kondisi yang ada di masyarakat.

Ada beberapa ilmu yang memberikan sumbangan terhadap antropologi kesehatan, antara
lain:

1. Antropologi fisik/biologi/ragawi. Contoh: nutrisi mempengaruhi pertumbuhan, bentuk tubuh,


variasi penyakit. Selain itu juga mempelajari evolusi penyakit sebagai akibat faktor budaya,
migrasi dan urbanisasi.

2. Etnomedisin, awalnya mempelajari tentang pengobatan pada masyarakat primitif atau yang
masih dianggap tradisional, meski dalam perkembangan lebih lanjut stereotipe ini harus
dihindari karena pengobatan tradisional tidak selamanya terbelakang atau salah.

3. Kepribadian dan budaya, adalah observasi terhadap tingkah laku manusia di berbagai belahan
dunia. Misalnya: perawatan schizophrenia di suatu daerah untuk mencari penyembuhan yang
tepat dapat digunakan untuk mengevaluasi pola perawatan penyakit yang sama.

4. Kesehatan Masyarakat, dimana beberapa program kesehatan bekerjasama dengan antropologi


untuk menjelaskan hubungan antara kepercayaan dan praktek kesehatan.

Perkembangan Antropologi Kesehatan dari Sisi Sosiocultural Pole

Antropologi kesehatan membantu mempelajari sosio-kultural dari semua masyarakat yang


berhubungan dengan sakit dan sehat sebagai pusat dari budaya, diantaranya :

Penyakit yang berhubungan dengan kepercayaan (misfortunes)

Di beberapa masyarakat misfortunes disebabkan oleh kekuatan supranatural maupun


supernatural atau penyihir
Kelompok healers ditemukan dengan bentuk yang berbeda di setiap kelompok masyarakat

Healers mempunyai peranan sebagai penyembuh

Adapun perhatian terhadap suatu keberadaan sakit atau penyakit tidak secara individual,
terutama illness dan sickness pada keluarga ataupun masyarakat.

Jika diumpamakan sebagai kewajiban, maka tugas utama ahli antropologi kesehatan
diantaranya: bagaimana individu di masyarakat mempunyai persepsi dan bereaksi terhadap ill
dan bagaimana tipe pelayanan kesehatan yang akan dipilih, untuk mengetahui mengenai budaya
dan keadaan sosial di lingkungan tempat tinggalnya.

Beda Antara Perkembangan Antropologi Kesehatan Biological Pole dan Sosiocultural Pole

Menurut Foster/Anderson, Antropologi Kesehatan mengkaji masalah-masalah kesehatan dan


penyakit dari dua kutub yang berbeda yaitu kutub biologi dan kutub sosial budaya.

Pokok perhatian kutub biologi :

 Pertumbuhan dan perkembangan manusia

 Peranan penyakit dalam evolusi manusia

 Paleopatologi (studi mengenai penyakit-penyakit purba)

 Pokok perhatian kutub sosial-budaya :

 Sistem medis tradisional (etnomedisin)

Masalah petugas-petugas kesehatan dan persiapan profesional mereka

 Tingkah laku sakit

 Hubungan antara dokter pasien

 Dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan kesehatan barat kepada masyarakat


tradisional.
Kegunaan Antropologi Kesehatan

Antropologi mempunyai pandangan tentang pentingnya pendekatan budaya. Budaya


merupakan pedoman individual sebagai anggota masyarakat dan bagaimana cara memandang
dunia, bagaimana mengungkapkan emosionalnya, dan bagaimana berhubungan dengan orang
lain, kekuatan supernatural atau Tuhan serta lingkungan alamnya. Budaya itu sendiri diturunkan
dari suatu generasi ke generasi selanjutnya dengan cara menggunakan simbol, bahasa, seni, dan
ritual yang dilakukan dalam perwujudn kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, latar belakang budaya
mempunyai pengaruh yang penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia (kepercayaan,
perilaku, persepsi, emosi, bahasa, agama, ritual, struktur keluarga, diet, pakaian, sikap terhadap
sakit, dll). Selanjutnya, hal-hal tersebut tentunya akan mempengaruhi status kesehatan
masyarakat dan pola pelayanan kesehatan yang asa di masyarakat tersebut.

Secara umum, antropologi kesehatan senantiasa memberikan sumbangan pada ilmu


kesehatan lain sebagai berikut :

Memberikan suatu cara untuk memandang masyarakat secara keseluruhan termasuk


individunya. Dimana cara pandang yang tepat akan mampu untuk memberikan kontribusi yang
tepat dalam meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat dengan tetap bertumpu pada akar
kepribadian masyarakat yang membangun.

Memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk menguraikan proses
sosial budaya bidang kesehatan. Memang tidak secara tepat meramalkan perilaku individu dan
masyarakatnya, tetapi secara tepat bisa memberikan kemungkinan luasnya pilihan yang akan
dilakukan bila masyarakat berada pada situasi yang baru.

Sumbangan terhadap metode penelitian dan hasil penelitian. Baik dalam merumuskan
suatu pendekatan yang tepat maupun membantu analisis dan iterpretasi hasil tentang suatu
kondisi yang ada di masyarakat
TEMU 13 : MENERAPKAN KONSEP TEORITIS KEPERAWATAN

TRANSKULTURAL DALAM ASUHAN KEPERAWATAN YANG PEKA BUDAYA


PADA PASIEN

Belakang Teori

Madeleine Leininger (13 Juli 1925 di Sutton , Nebraska, Amerika Serikat ) adalah perintis teori
keperawatan, pertama kali diterbitkan pada tahun 1961 [1] . kontribusi nya untuk teori
keperawatan melibatkan diskusi tentang apa itu peduli. Terutama, ia mengembangkan konsep
keperawatan transkultural , membawa peran faktor budaya dalam praktek keperawatan ke dalam
diskusi tentang bagaimana terbaik hadir untuk mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan.
Dr Madeleine Leininger memegang gelar akademis berikut dan judul:

1. PhD – Doctor of Philosophy (cultural and social Anthropology) PhD – Doctor ofPhilosophy
(Antropologi budaya dan sosial).

2. LHD – Doctor of Human Sciences LHD – Dokter Ilmu Pengetahuan Manusia.

3. DS – Doctor of Science DS – Dokter Sains.

4. RN – Registered Nurse RN – Perawat Terdaftar.

5 CTN – Certified Transcultural Nurse CTN – Perawat Transcultural Bersertifikat.

6.FRCNA – Fellow of the Royal College of Nursing in Australia FRCNA – Fellow dari Royal
College of Nursing di Australia.

7.FAAN – Fellow American Academy of Nursing FAAN – Fellow American Academy of


Nursing.

Leininger Madeline adalah seorang antropolog perawat perintis. Menjabat dekan dari
University of Washington, Sekolah Keperawatan pada tahun 1969, dia tetap dalam posisi itu
sampai 1974. janji nya mengikuti perjalanan ke New Guinea pada tahun 1960 yang membuka
matanya untuk kebutuhan perawat untuk memahami ‘pasien dan latar belakang budaya mereka
dalam rangka untuk menyediakan perawatan. Dia dianggap oleh beberapa orang sebagai
“Margaret Mead keperawatan” dan diakui di seluruh dunia sebagai pendiri keperawatan
transkultural, sebuah program yang dia menciptakan di Sekolah pada tahun 1974.

Pendidikan Madeliene M. Leininger :

1. Tahun 1948 lulus dari St. Anthony·s School of Nursing, Denver, CO.

2. Tahun 1950 mendapat BSN dari Benedictine College, Atchison, KS.M.

3. Tahun 1953 memperoleh MSc Keperawatan dari Catholic University, Washington, DC.

4. Tahun 1965 mendapat gelar PhD dalam Antropology dari University of Washington, Seattle.

Definisi Teori Trans Culture

Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar
dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya
dengan menghargai asuhan,sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan
dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya
atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002).

Tujuan dari keperawatan transkultural adalah untuk mengidentifikasi, menguji, mengerti


dan menggunakan pemahaman keperawatan transkultural untuk meningkatkan kebudayaan yang
spesifik dalam pemberian asuhan keperawatan. Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku
Caring. Caring adalah esensi dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta
mempersatukan tindakan keperawatan.

Tindakan Caring di katakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan


dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan kepada manusia
sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan,masa pertahanan sampai dikala manusia itu
meninggal.

Human caring secara umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan
dukungan dan bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang
universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan
tempat lainnya.
Asumsi Dasar Teori Culture

Asumsi mendasar dari teori Transcultural Nursing adalah perilaku Caring. Caring adalah
esensi dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan
keperawatan.

Tindakan Caring di katakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan


dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan kepada manusia
sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan,masa pertahanan sampai dikala manusia itu
meninggal.

Asumsi mayor untuk mendukung teori cultural care: diversity and universality yang
dikeskan oleh Leininger.

a. Perawatan (caring) yang didasarkan pada kebudayaan adalah suatu aspek esensial untuk
memperoleh kesejahteraan, kesehatan, pertumbuhan, dan ketahanan, serta kemampuan untuk
menghadapi rintangan maupun kematian.

b. Perawatan yang berdasarkan budaya adalah bagian yang paling komprehensif dan holisatic
untuk mengetahui, menjelaskan, menginterpretasikan dan memprediksikan fenomena asuhan
keperawatan serta memberikan panduan dalam pengambilan keputusan dan tindakan perawatan.

c. Keperawatan transcultural adalah disiplin ilmu perawatan humanistic dan profesi yang
memiliki tujuan utama untuk melayani individu, dan kelompok.

d. Caring yang berdasarkan kebudayaan adalah suatu aspek esensial untuk mengobati dan
menyembuhkan dimana pengobatan tidak akan mungkin dilakukan tanpa perawatan, sebaliknya
perawatan dapat tetap eksis tanpa pengobatan.

e. Konsep keperawatan cultural, arti, ekspresi, pola-pola, proses dan struktur dari bentuk
perawatan transkultural yang beragam dengan perbedaan dan persamaan yang ada.

f. Setiap kebudayaan manusia meiliki pengetahuan dan praktek perawatan tradisional serta
praktik professional yang bersifat budaya dan individual.
g. Praktik perawatan keyakinan dan nilai budaya dipengaruhi oleh dan cenderung tertanam
dalam pandangan dunia, bahasa, filosofi, agama, kekeluargaan, sosial, politik, pendidikan,
ekonomi, tehnologi, etnohistory, dan lingkungan kebudayaan.

h. Keuntungan, kesehatan dan kepuasan terhadap budaya perawatan mempengaruhi kesehatan


dan kesejahteraan individu, keluarga, dan kelompok, komunitas di dalam lingkungan.

i. Kebudayaan dan keperawatan yang konggruen dapat terwujud apabila pola-pola, ekspresi, dan
nilai-nilai perawatan digunakan secara tepat, aman dan bermakna.

j. Perbedaan dan persamaan perawatan culture tetap berada diantara masyarakat tradisional dan
profesional pada setiap kebudayaan manusia.

k. Konflik cultural, beban praktek kebudayaan, stres kultural merefleksikan kurangnya untuk
memberikan perawatan, rasa aman, tanggung jawab yang koggruen dengan kebudayaan.

l. Metode penelitian kualitatif ethnonursing memberikan interpretasi dan temuan yang penting
mengenai pemberian asuhan keperawatan dengan kebudayaan kompleks yang berbeda.

Konsep Teori Keperawatan Transcultural

Keperawatan transcultural merupakan suatu area utama dalam keperawatan yang


berfokus pada study komparatif dan analisis tentang budaya dan sub-budaya yang berbeda di
dunia yang menghargai perilaku caring. Layanan keperawatan, nilai-nilai, keyakinan tentang
sehati sakit, serta pola-pola tingkah laku yang bertujuan mengembangkan body of knowledge
yang ilmiah dan humanistik guna memberi tempat praktik keperawatan transkultural ini
menenkankan pentingnya peran keperawatan dalam memahami budaya klien.

Pemahaman yang benar pada diri perawat mengenai budaya klien, baik individu,
keluarga, maupun masyarakat, dapat mencegah terjadinya culture shock maupun culture
imposition. Culture shock terjadi saat pihak luar (perawat) mencoba mempelajari atau
beradaptasi secara efektif dengan kelompok budaya tertentu (klien). Klien akan merasakan
perasaan tidak nyaman, gelisah, dan disorientasi karena perbedaan nilai budaya, keyakinan, dan
kebiasaan. Sedangkan culture imposition adalah kecenderungan tenaga kesehatan (perawat), baik
secara diam-diam maupun terang-terangan, memaksakan nilai-nilai budaya, keyakinan dan
kebiasaan atau perilaku yang diilikinya kepada individu, keluarga atau kelompok dari budaya
lain karena mereka meyakini bahwa budayanya lebih tinggi dari pada budaya kelopok lain.

Leininger menggambarkan teori keperawatan transkultural matahari terbit, sehingga


disebut juga sebagai sunrise model. Model matahari terbit ini melembagakan esensi keperawatan
dalam transkultural yang menjelaskan bahwa sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada
klien (individu, keluarga, kelompok, komunitas, lembaga), perawat terlebih dahulu harus
mempunyai pengetahuan mengenai pandangan dunia (world view) tentang dimensi dan budaya
serta struktur sosial yang berkembang di berbagai belahan dunia (secara global) maupun
masyarakat dalam lingkup yang sempit.

Dimensi budaya dan struktur sosial tersebut leininger dipengaruhi oleh tujuh faktor,
faktor tersebut antara lain:

1. Faktor tekhnologi

2. Faktor gama dan falsafah hidup

3. Faktor sosial dan kekerabatan

4. Nilai budaya dan gaya hidup

5. Faktor politik dan hukum

6. Faktor ekonomi

7. Faktor pendidikan.

Faktor-faktor tersebut merupakan totalitas dari suatu keadaan, situasi, atau pngalaman
yang memberi arti bagi perilaku manusia, interpretasi dan interaksi sosial dalam tatanan fisik,
ekologi, sosial-politik, dan /strutur kebudayaan termasuk di dalamnya adalah etnohistori atau
riwayat kebudayaan yang mengacu pada keseluruhan fakta pada masa lampau, kajadaian, dan
pengalaman individu, kelompok, kebudayaan, serta suatu institusi yang difokuskan pada
manusia/masyarakat yang menggambarkan, menjelaskan, dan menginterpretasikan cara hidup
manusia dalam suatu bentuk kebudayaan tertentu dalam jangka panang maupun pendek.
Semua faktor tersebut berbeda pada setiap negara atau area, sesuai dengan kondisi
masing-masing daerah, dan akan memengaruhi pola/cara dan praktik keperawatan semau
langkah-langkah perawatan tersebut ditunjukkan untuk pemeliharaan kesehatan holistik,
penyembuhan penyakit dan persiapan menghadapi kematian. Oleh karena itu, ketujuh faktor
tersebut harus dikaji oleh perawat sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada klien sebab
masing-masing faktor memberi pengaruh terhadap ekspresi, pola dan praktik keperawatan (care
expression, patterns, and practices). Dengan demikian, ketujuh faktor tersebut besar
kontribusinya, terhadap pencapaian kesehatan secara holistik atau kesejahteraan manusia, baik
pada level individu, keluarga, kelompok, komunitas, maupun institusi, di berbagai sistem
kesehatan. Jika disesuaikan dengan proses keperawatan ketujuh faktor tersebut masuk ke dalam
level pertama yaitu tahap pengkajian.

Peran perawat pada transcultural nursing ini adalah menjembatani antara sistem
perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan sistem perawatan profesional melalui
asuhan keperawatan. Ekstensi peran perawat tersebut digambarkan oleh Leininger dengan
gambar seperti dibawah ini.

Oleh karena itu, perawat harus mampu membuat keputusan dan rencana tindakan
keperawatan yang akan diberikan kepada masyarakat. Jika disesuaikan dengan proses
keperawatan, hal tersebut merupakan tahap perencanaan tindakan keperawatan.

1. Culture care preservation/maintenance, yaitu merupakan prinsip membantu, memfasilitasi


atau memperhatikan fenomena budaya guna membantu individu menentukan tingkat
kesehatan dan gaya hidup yang diinginkan.

2. Culture care accomodation, yaitu prinsip membantu, memfasilitasi atau memperhatikan


budaya fenomena ada, yang merefleksikan cara-cara untuk beradaptasi, bernegosiasi atau
mempertimbangkan kondisi kesehatan atau mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya
hidup individu atau klien.

3. Culture care repatterning/restructuring, yaitu prinsip merekonstruksikan atau mengubah


desain untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien ke arah yang
lebih baik.
Hasil akhir yang diperoleh melalui keperawatan transkultural pada asuhan keperawatan adalah
tercaoainya culture congruent nursing care health and well being, yaitu suhan keperawatan yang
kompeten berdasarkan budaya dan pengetahuan kesehatan yang sensitif, kreatif, serta cara-cara
bermakna guna mencapai tingkat kesehatan dan kesejahteraan bagi masyarakat

Konsep Dalam Teori Transcultural Nursing

Teori Leininger adalah untuk menyediakan langkah-langkah perawatan yang selaras


dengan individu atau kelompok budaya kepercayaan, praktik, dan nilai-nilai. Pada tahun 1960-an
diamenciptakan budaya kongruen perawatan jangka panjang, yang merupakan tujuan utama
transkultural keperawatan praktek. Budaya perawatan sebangun adalah mungkin bila tindakan
terjadi dalam hubungan perawat-klien (Leininger, 1981).

Leininger mengembangkan istilah baru untuk prinsip dasar teorinya. Ini definisi dan
prinsip-prinsip istilah kunci untuk memahami teori tersebut. Di bawah ini adalah ringkasan
dasar prinsip yang penting untuk memahami teori Leininger :

1. Care adalah untuk membantu orang lain dengan kebutuhan nyata atau diantisipasi dalam
upaya untuk memperbaiki kondisi manusia yang menjadi perhatian atau untuk menghadapi
kematian.

2. Merawat adalah tindakan atau kegiatan diarahkan memberikan perawatan.

3. Budaya mengacu pada belajar, berbagi, dan dipancarkan nilai-nilai, keyakinan, norma, dan
kehidupan dari individu tertentu atau kelompok yang membimbing mereka berpikir, keputusan,
tindakan, dan cara berpola hidup.

4. Perawatan Budaya mengacu pada beberapa aspek budaya yang mempengaruhi seseorang atau
kelompok untuk meningkatkan kondisi manusia atau untuk menangani penyakit atau kematian.

5. Keragaman budaya peduli merujuk pada perbedaan dalam makna, nilai, pantas tidaknya
perawatan di dalam atau di antara kelompok-kelompok orang yang berbeda.

6. Universalitas peduli Budaya mengacu pada perawatan umum atau arti serupa yang jelas di
antara banyak budaya. Keperawatan adalah profesi yang dipelajari dengan disiplin terfokus
dengan perawatan fenomena.
7. Worldview mengacu pada cara orang cenderung untuk melihat dunia atau alam semesta dalam
menciptakan pandangan pribadi tentang hidup.

8. Budaya dan dimensi struktur sosial termasuk faktor yang berhubungan dengan agama, struktur
sosial, politik / badan hukum, ekonomi, pola pendidikan-terns, penggunaan teknologi, nilai-nilai
budaya, dan ethnohistory yang di-fluence tanggapan budaya manusia dalam konteks budaya.

9. Kesehatan mengacu pada keadaan kesejahteraan yang didefinisikan budaya dan dihargai oleh
budaya yang ditunjuk.

10.Pelestarian budaya perawatan atau pemeliharaan mengacu pada kegiatan pelayanan


keperawatan yang membantu orang dari budaya tertentu untuk menyimpan dan menggunakan
inti kebudayaan nilai perawatan terkait dengan masalah kesehatan atau kondisi.

11. Budaya akomodasi perawatan atau negosiasi merujuk kepada tindakan keperawatan
kreatifyang membantu orang-orang dari budaya tertentu beradaptasi dengan atau bernegosiasi
dengan lain- ers dalam kesehatan masyarakat dalam upaya untuk mencapai tujuan bersama dari
hasil kesehatan yang optimal untuk klien dari budaya yang ditunjuk. Memahami Kerja Theorists
Perawat

12. Budaya perawatan restrukturisasi mengacu pada tindakan terapi yang diambil oleh budaya
perawat yang kompeten atau keluarga. Tindakan ini memungkinkan atau sebagai klien untuk
mengubah perilaku kesehatan pribadi terhadap menguntungkan hasil sementara menghormati
nilai-nilai budaya klien.

Leininger mengusulkan bahwa ada tiga modus untuk membimbing penilaian asuhan
keperawatan, keputusan, atau tindakan untuk memberikan perawatan yang tepat, bermanfaat, dan
bermakna yaitu :

 Pelestarian dan / atau pemeliharaan.


 Akomodasi dan / atau negosias.

 Re-pola dan / atau restrukturisasi.

TEMU 14 :MENERAPKAN KONSEP TEORITIS KEPERAWATAN

TRANSKULTURAL DALAM PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN YANG PEKA


BUDAYA KEPADA PASIEN

Sejarah Kajian Budaya

Sejarah lahirnya ilmu kajian budaya tidak akan pernah terlepas dari bagaimana
lingkungan/kehidupan pada masa tertentu mempengaruhi teori yang dilahirkan oleh para
pemikir-pemikirnya . Seorang pemikir takan pernah jauh dari apa yang ada dekat dengan dirinya
sebelum meninggalkan jauh dari apa yang mereka diami sehari-hari. Begitu pula sama seorang
sastrawan tidak akan menulis apa yang ia tak kuasai Sebut saja Madzhab Frankurt, siapa yang
tidak kenal medzhab ini dalam ilmu budaya kontemporer? Saya yakin madzhab ini dikenal
cukup baik dalam dunia akademik, karena yang dibawa mereka dalam pemikirannya telah
menambah suatu khazanah keilmuan yang luar biasa berdampak penting bagi dunia akademik
yang sampai sekarang masih relevan.

Madzhab Frankurt ini dikenal namanya karena pemikiran kritisnya terhadap budaya
kontemporer, kritik terhadap industri budaya yang dianggapnya telah dinodai/manipulasi oleh
campur tangan para penguasa. Pionir dari madzhab ini yang paling terkenal adalah Theodor
Adorno, Benjamin, Herbert Marcuse, Habermas, Horkheimer dan lain-lain. Madzhab frankurt
didirikan pada tahun 1923 untuk peneilitian sosial. Para pendirinya cenderun para intelektual
Yahudi, bangsa Jerman sayap kiri yang berasal dari kelas atas dan menengah masyarakat Jerman.

Oleh karena rezim Hitler yang pada waktu itu tidak memihak posisi mereka yang
kebanyakan Yahudi, lantaslah mereka pindah ke Amerika, tapatnya di New York. Kritik mereka
tidak terlepas dari kondisi yang terjadi pada waktu itu. Perang dunia berkecamuk dengan
memakan korban tak sedikit, akibat dari ulah ciptaan manusia yang disalah gunakan menjadi
sebuah pencapaian kekuasaan maka mereka semena-mena dalam menggunakan tekhnologi.
Kenyataannya ketika kepindahan mereka dari Jerman ke Amerika tidak membuat kepuasaan
yang didamba.
Kontradiksi lain muncul sebagaimana yang kita ketahui dengan istilah kapitalisme.
Perkembangan Amerika yang masih ditahap seperti tidak sekarang ini dirasakan pula oleh
mereka, Madzhab Frankurt yang berada tidak jauh dari pusat kebudayaan baru yang sedang
berkembang dalam basis tekhnologi mengalami langsung bagaimana dinamika penting budaya
popular yang sedang berkembang di Amerika. Benar pulalah apa yang diungkapkan Ian Craib
dalam bukunya (1986:276) bahwa pemandangan yang suram itu telah berubah kedalam suatu
mimpi buruk: dunia sosial menjadi suatu raksasa elektronik yang meamakan anggotanya sendiri,
yang memanipulasi dan menyerap setiap perlawanan yang mungkin diberikan.

Pengertian Kajian Budaya

Kajian Budaya ( Inggris:Cultural Studies ) adalah suatu cara pandang teoritis mengenai
suatu objek dengan perspektif bidang kritik sastra, sosiologi, sejarah, kajian media, dan berbagai
bidang lainnya. Kajian budaya merupakan bidang interdisipliner yang mengambil berbagai cara
pandang dari ilmu lain untuk meneliti hubungan antara kebudayaan dengan politik atau
kekuasaan. Objek kajian budaya tidak hanya dipahami secara sempit mengenai seni atau
kebudayaan, namun juga menyetuh kehidupan sehari-hari manusia yang menyangkut budaya
populer. Namun, kajian budaya tidak bisa direduksi menjadi kajian budaya populer walaupun
proyek utama kajian budaya adalah mengkaji budaya populer. Teks, sebagai objek kajian, dalam
kajian budaya tidak hanya dipandang secara sempit, namun dipandang menyentuh unsur
subjektivitas dan latar belakang sosial yang membentuk sebuah teks. Asumsi dasar kajian budaya
adalah Marxisme.

Kajian Budaya bukanlah bagian dari Marxisme, tetapi dasar-dasar kajian budaya banyak
berasal dari Marxisme. Kajian budaya dan Marxisme sama-sama memandang bahwa kehidupan
manusia dilingkari oleh struktur dan regulasi di luar dirinya. Dalam paradigma yang sama ini
baik sebagaimana Marxisme kajian mempunyai komitmen untuk merombak struktur dan
melakukan perubahan lewat kombinasi antara teori dan praktik. Dengan pengaruh dari Marxisme
kajian budaya menganalisa untuk memamahami makna dari suatu teks dan praktik budaya dalam
konteks sosial dan sejarahnya. Selain itu kajian budaya setuju dengan pandangan Marxis bahwa
masyarakat kapitalis telah dikelompokan secara tidak adil menurut, garis keturunan, ras, kelas
dan gender. Kajian budaya merombak pengelompokan suatu karya, prkatik budaya, atau teks
atas dasar dominasi politis suatu kelompok tertentu.
Kajian Budaya Menurut Para Ahli

1. Stanley Baran dan Dennis Davis ( 2003 )

Stanley Baran dan Dennis Davis menyimpulkan bahwa “media telah menjadi alat utama
dimana kita semua mengalami atau belajar mengenai banyak aspek mengenai dunia disekitar
kita. Tetapi, cara yang digunakan media dalam melaporkan suatu peristiwa dapat berbeda secara
signifikan. Kajian budaya adalah perspektif teoritis yang berfokus bagaimana budaya
dipengaruhi oleh budaya yang kuat dan dominan.

2. Stuart Hall ( 1981, 1989 )

Stuart Hall menyatakan bahwa media merupakan alat yang kuat bagi kaum elite. Media
berfungsi untuk mengkomunikasikan cara-cara berfikir yang dominan, tanpa mempedulikan
efektifitas pemikiran tersebut. Media merepresentasikan ideologi dari kelas yang dominan
didalam masyarakat.Karena media dikontrol oleh korporasi (kaum elite), informasi yang
ditampilkan kepada publik juga pada akhirnya dipengaruhi dan ditargetkan dengan tujuan untuk
mencapai keuntungan.Pengaruh media dan peranan kekuasaan harus dipetimbangkan ketika
menginterpretasikan suatu budaya.

3. Warisan Marxis: Kekuatan bagi Masyarakat

Filsuf Karl Marx (1963) dihargai sebagai orang yang mampu mengidentifikasi bagaimana
mereka yang memiliki kekuasaan (kaum elite) mengeksploitasi yang lemah (kelas pekerja). Marx
percaya bahwa keadaan lemah dapat menuntun pada terjadinya alienasi (kondisi psikologis
dimana orang mulai merasa bahwa mereka memiliki sedikit control terhdap masa depan mereka).
Salah satu keinginan Marx adalah memastikan bahwa tindakan revolusioner dari kaum
proletariat dapat dilakukan untuk memutus mata rantai perbudakan dan untuk mmengurangi
alienasi di dalam masyarakat yang kapitalistik

Penerapan prinsip-prisnsip Marxis apada kajian budaya cuma samapai pada batasan tertentu
saja (neo-marxis), yaitu: (1) mereka yang ada dalam kajian budaya telah menginterogasikan
berbagai macam perspektif kedalam pemikiran mereka, termasuk perspektif dari kesenian,
humaniora, dan ilmu sosial. (2) para teoritikus kajian budaya juga memasukkan kelompok
marginal yang tidak memiliki kekuasaan tambahan, tidak terbatas pada para pekerja saja.
Karakter Akademik Kajian Budaya

Kajian budaya sebagai suatu disiplin ilmu ( akademik ) yang mulai berkembang di
wilayah Barat ( 1960-an ), seperti Inggris, Amerika, Eropa ( kontinental ), dan Australia
mendasarkan suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi
serta kebudayaan mereka. Pada tahap kelanjutannya di era awal abad 21 kajian budaya dipakai di
wilayah Timur untuk meneliti dan menelaah konteks sosial di tempat-tempat yang jarang
disentuh para praktisi kajian budaya Barat, antara lain Afrika, Asia, atau Amerika Latin. Secara
institusional, kajian budaya menelurkan berbagai karya berupa buku-buku, jurnal, diktat,
matakuliah bahkan jurusan di universitas-universitas. Menurut Barker, inti kajian budaya bisa
dipahami sebagai kajian tentang budaya sebagai praktik-praktik pemaknaan dari representasi (
Barker, 2000: 10 ).

Teori budaya marxis yang menggali kebudayaan sebagai wilayah ideologi yang lebih
banyak dijelaskan pada aliran wacana ( discourse ) dan praktik budaya seperti layaknya media
berupa teks – teks ( sosial, ekonomi, politik). Chris Barker ( 2000 ) mengakui bahwa kajian
budaya tidak memiliki titik acuan yang tunggal. Selain itu, kajian budaya memang terlahir dari
indung alam pemikiran strukturalis/pascastrukturalis yang multidisipliner dan teori kritis
multidisipliner, terutama di Inggris dan Eropa kontinental. Artinya kajian budaya
mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih
longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada dari para
pemikir strukturalis/pascastrukturalis. Sedangkan teori sosial kritis sebenarnya sudah mendahului
tradisi disiplin “kajian budaya” melalui kritik ideologinya yang dikembangkan Madzhab
Frankfurt. Sebuah kritik yang dimaknai dari pandangan Kantian, Hegelian, Marxian, dan
Freudian. Sehubungan dengan karakter akademis, pandangan lain dari Ben Agger ( 2003 )
membedakan kajian budaya sebagai gerakan teoritis, dan kajian budaya sebagai mode analisis
dan kritik budaya ateoritis yang tidak berasal dari poyek teori sosial kritis, yaitu kritik ideologi (
Agger, 2003 ).

Komposisi teoritis yang diajukan sebagai karakter akademis dalam kajian budaya
mengekspresikan temuan-temuan baru dalam hal metodologi terhadap cara pemaknaan sebuah
praktik-praktik kebudayaan yang lebih koheren, komprehensif, polivocality (banyak suara) dan
menegasikan keobjektifan suatu klaim pengetahuan maupun bahasa. Karakter akademis kajian
budaya memang sangat terkait dengan persoalan metodologi. Penteorisasian tidak hanya merujuk
pada satu wacana disiplin tunggal namun banyak disiplin, maka ini pun yang disebut sebagai ciri
khas kajian budaya dengan istilah polivocality.

Senada dengan yang disampaikan oleh Paula Sakko ( 2003 ), kajian budaya mengambil
bentuk kajian yang dicirikan dengan topik lived experience (pengalaman yang hidup), discourse
( wacana ), text ( teks ) dan social context ( konteks sosial ). Jadi, metodologi dalam kajian
budaya ini tersusun atas wacana, pengalaman hidup, teks, dan konteks sosial dengan
menggunakan analisis yang luas mengenai interaksi antara ‘yang hidup’, yang dimediasi,
keberyakinan ( agama ), etnik, tergenderkan, serta adanya dimensi ekonomi dan politik dalam
dunia jaman sekarang ( modern/kapitalis ).

Bagi Saukko, hal yang paling fundamental dalam “kajian budaya”, pertama, ketertarikan
dalam budaya yang secara radikal berbeda dari budaya yang ada ( high culture to low
culture/popular ), kedua, analisis dengan kritis budaya yang menjadi bagian integral dari
pertarungan dan budaya ( teks dan konteks sosial ).

Hal yang harus dipenuhi dalam memandang konteks sosial adalah sensitifitas pada
konteks sosial dan kepedulian pada kesejarahan. Sedangkan yang menjadi bagian terpenting dari
metodologi kajian budaya dan dianggap good/valid research adalah truthfulness, self-reflexivity,
polivocality. Dan, menerapkan sebuah validitas dekonstruktif yang biasa digunakan oleh peneliti
pascastrukturalis, yaitu postmodern excess ( Baudrillard ), genealogical historicity ( Foucalt ),
dan deconstructive critique ( Derrida ).

Pada kerangka bagan yang dibuat Saukko dalam bukunya itu, Truthfullness digambarkan
dengan paradigma; ontologi, epistemologi, metapora, tujuan penelitian dan politik yang
disandingkan dengan model triangulasi, prism, material semiotic dan dialogue. Self-reflexivity
ditempatkan pada jalur seperti yang digunakan teori sosial kritis yang dilandaskan pada kritik
ideologi dan peran atas basis kesadaran yang merepresentasikan ruang dialog dan wacana saling
bertemu, mempengaruhi, mengaitkan berbagai kepentingan, pola kekuasaan serta konteks sosial
dan sejarahnya. Polivocality menyematkan berbagai pandangan yang berbeda (atau suara)
dengan cakupan teori-teori yang saling mengisi dan dengan mudah dapat didukung satu sama
lain, meski ini membutuhkan ketelitian dalam mengkombinasikan pandangan-pandangan lain
agar memberikan kesesuaian bagi karekater akademis Kajian budaya.

Paradigma yang digunakan mengambil model triangulasi yang berupaya


mengkombinasikan berbagai macam bahan atau metode-metode untuk melihat apakah saling
menguatkan satu sama lain. Maka, kajian budaya sangat berpotensi memberikan peluang bagi
suatu kajian yang baru dan menarik minat mahasiswa. Validitas (keabsahan) penelitian dalam
Cultural Studies yang menuju ‘kebenaran’ (truth) maka yang dipakai adalah triangulation.

Pengertian Transkultural

Bila ditinjau dari makna kata , transkultural berasal dari kata trans dan culture, Trans
berarti aluar perpindahan , jalan lintas atau penghubung.Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia; trans berarti melintang , melintas , menembus , melalui.

Culture berarti budaya . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur berarti :

- Kebudayaan , cara pemeliharaan , pembudidayaan.

- Kepercayaan , nilai – nilai dan pola perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok dan
diteruskan pada generasi berikutnya , sedangkan cultural berarti : Sesuatu yang berkaitan dengan
kebudayaan.

Budaya sendiri berarti : akal budi , hasil dan adat istiadat.

Dan kebudayaan berarti :

- Hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia seperti kepercayaan , kesenian dan
adat istiadat.

- Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk menjadi
pedoman tingkah lakunya

Jadi , transkultural dapat diartikan sebagai :

- Lintas budaya yang mempunyai efek bahwa budaya yang satu mempengaruhi budaya yang lain

- Pertemuan kedua nilai – nilai budaya yang berbeda melalui proses interaksi sosial
- Transcultural Nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan
maupun kesamaan nilai– nilai budaya ( nilai budaya yang berbeda , ras , yang mempengaruhi
pada seorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada klien / pasien ). Menurut
Leininger ( 1991 ).

Konsep Transkultural

Kazier Barabara ( 1983 ) dalam bukuya yang berjudul Fundamentals of Nursing Concept
and Procedures mengatakan bahwa konsep keperawatan adalah tindakan perawatan yang
merupakan konfigurasi dari ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi pengetahuan ilmu
humanistic , philosopi perawatan, praktik klinis keperawatan , komunikasi dan ilmu sosial .
Konsep ini ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia yang menjadi target
pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio – psycho – social – spiritual . Oleh karenanya ,
tindakan perawatan harus didasarkan pada tindakan yang komperhensif sekaligus holistik.

Budaya merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata sebagai
manusia yang bersifat sosial. Budaya yang berupa norma , adat istiadat menjadi acuan perilaku
manusia dalam kehidupan dengan yang lain . Pola kehidupan yang berlangsung lama dalam
suatu tempat , selalu diulangi , membuat manusia terikat dalam proses yang dijalaninya .
Keberlangsungaan terus – menerus dan lama merupakan proses internalisasi dari suatu nilai –
nilai yang mempengaruhi pembentukan karakter , pola pikir , pola interaksi perilaku yang
kesemuanya itu akan mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi keperawatan ( cultural
nursing approach )

Peran dan Fungsi Transkultural

Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu . Oleh sebab itu , penting
bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat ( Pasien ) . Misalnya kebiasaan
hidup sehari – hari , seperti tidur , makan , kebersihan diri , pekerjaan , pergaulan social , praktik
kesehatan , pendidikan anak , ekspresi perasaan , hubungan kekeluargaaan , peranan masing –
masing orang menurut umur . Kultur juga terbagi dalam sub – kultur . Subkultur adalah
kelompok pada suatu kultur yang tidak seluruhnya mengaanut pandangan keompok kultur yang
lebih besar atau member makna yang berbeda . Kebiasaan hidup juga saling berkaitan dengan
kebiasaan cultural.
Nilai – nilai budaya Timur , menyebabkan sulitnya wanita yang hamil mendapat
pelayanan dari dokter pria . Dalam beberapa setting , lebih mudah menerima pelayanan
kesehatan pre-natal dari dokter wanita dan bidan . Hal ini menunjukkan bahwa budaya Timur
masih kental dengan hal – hal yang dianggap tabu.

Dalam tahun – tahun terakhir ini , makin ditekankan pentingknya pengaruh kultur
terhadap pelayanan perawatan . Perawatan Transkultural merupakan bidang yang relative baru ;
ia berfokus pada studi perbandingan nilai – nilai dan praktik budaya tentang kesehatan dan
hubungannya dengan perawatannya . Leininger ( 1991 ) mengatakan bahwa transcultural nursing
merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai –
nilai budaya ( nilai budaya yang berbeda ras , yang mempengaruhi pada seseorang perawat saat
melakukan asuhan keperawatan kepada pasien. Perawatan transkultural adalah berkaitan dengan
praktik budaya yang ditujukan untuk pemujaan dan pengobatan rakyat (tradisional) . Caring
practices adalah kegiatan perlindungan dan bantuan yang berkaitan dengan kesehatan.

Menurut Dr. Madelini Leininger , studi praktik pelayanan kesehatan transkultural adalah
berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan
kesehatannya . Dengan mengidentifikasi praktik kesehatan dalam berbagai budaya ( kultur ) ,
baik di masa lampau maupun zaman sekarang akan terkumpul persamaan – persamaan . Lininger
berpendapat , kombinasi pengetahuan tentang pola praktik transkultural dengan kemajuan
teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang
banyak dan berbagai kultur.

Kepercayaan Kuno dan Praktik Pengobatan

Sistem pengobatan tradisional merupakan sub unsur kebudayaan masyarakat sederhana ,


pengetahuan tradisional . Dalam masyarakat tradisional , sistem pengobatan tradisional ini
adalah pranata sosial yang harus dipelajari dengan cara yang sama seperti mempelajari pranata
social umumnya dan bahwa praktek pengobatan asli ( tradisional ) adalah rasional dilihat dari
sudut kepercayaan yang berlaku mengenai sebab akibat. Beberapa hal yang berhubungan dengan
kesehatan (sehat – sakit) menurut budaya – budaya yang ada di Indonesia diantaranya adalah :
Budaya Jawa

Menurut orang Jawa , “sehat “ adalah keadaan yang seimbang dunia fisik dan batin .
Bahkan , semua itu berakar pada batin . Jika “ batin karep ragu nututi “ , artinya batin
berkehendak , raga / badan akan mengikuti . Sehat dalam konteks raga berarti “ waras “ . Apabila
seseorang tetap mampu menjalankan peranan sosialnya sehari – hari , misalnya bekerja di ladang
, sawah , selalu gairah bekerja , gairah hidup , kondisii inilah yang dikatakan sehat . Dan ukuran
sehat untuk anak – anak adalah apabila kemauannya untuk makan tetap banyak dan selalu
bergairah main .

Untuk menentukan sebab – sebab suatu penyakit ada dua konsep , yaitu konsep
personalistik dan konsep naluralistik . Dalam konsep personalistik , penyakit disebabkan oleh
makhluk supernatural ( makhluk gaib , dewa ) , makhluk yang bukan manusia ( hantu , roh
leluhur , roh jahat ) dan manusia ( tukang sihir , tukang tenung ) . Penyakit ini disebut “ ora
lumrah “ atau “ ora sabaene “ ( tidak wajar / tidak biasa ) . Penyembuhannya adalah berdasarkan
pengetahuan secara gaib atau supernatural , misalnya melakukan upacara dan sesaji. Dilihat dari
segi personalistik jenis penyakit ini terdiri dari kesiku , kebendhu , kewalat , kebulisan , keluban ,
keguna – guna , atau digawe wong , kampiran bangsa lelembut dan lain sebagainya .
Penyembuhan dapat melalui seorang dukun atau “ wong tuo “.

Pengertian dukun bagi masyarakat Jawa adalah yang pandai atau ahli dalam mengobati
penyakit melalui “Japa Mantera “ , yakni doa yang diberikan oleh dukun kepada pasien. Ada
beberapa kategori dukun pada masyarakat Jawa yang mempunyai nama dan fungsi masing –
masing :

a) Dukun bayi : khusus menangani penyembuhan terhadap penyakit yang berhubungan


dengan kesehatan bayi , dan orang yang hendak melahirkan.

b) Dukun pijat / tulang (sangkal putung) : Khusus menangani orang yang sakit terkilir , patah
tulang , jatuh atau salah urat.

c) Dukun klenik : khusus menangani orang yang terkena guna – guna atau “ digawa uwong
“..
d) Dukun mantra : khusus menangani orang yang terkena penyakit karena kemasukan roh
halus.

e) Dukun hewan : khusus mengobati hewan.

Berdasarkan hari dimulainya sakit juga dapat ditentukan tentang jenis – jenis penyakit
sebagaimana diuraikan dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna , yang dibuat sebagai
berikut :

Nama hari Sebab Penyakit

Senin : Mempunyai nadzar yang belum dilaksanakan

Selasa : Diguna – guna oleh oran lain

Rabu : Diganggu oleh makhluk halus / setan

Kamis : Terkena itulah dari orang lain

Jumat : Diganggu makhluk halus yang ada di kolong rumah

Sabtu : Diganggu oleh setan yang berasal dari hutan

Minggu : Diganggu oleh makhluk halus / setan

Selain hari – hari biasa , Budaya Jawa juga memiliki hari– hari yang disebut hari pasaran
dengan urutan : Pon , Wage,kliwon , legi , pahing. Budaya jawa beranggapan bahwa nama yang
“berat “ bisa mendatangkan sial. Pendapat yang lain mengatakan “nama yang buruk” akan
mempengaruhi aktivitas pribadi dan sosial pemilik nama itu. Dan juga kebiasaan bagi orang jawa
yakni jika ada salah satu pihak keluarga atau sanak saudara yang sakit , maka untuk
menjenguknya biasanya mereka mengumpulkan dulu semua saudaranya dan bersama – sama
mengunjungi saudaranya yang sakit tersebut. Karena dalam budaya Jawa dikenal prinsip “
mangan ora mangan , seng penting kumpul “

Adapun beberapa contoh pengobatan tradisional masyarakat jawa yang tidak terlepas dari
tumbuhan dan buah –buahan yang bersifat alami adalah :

• Daun dadap sebagai penurun panas dengan cara ditempelkan di dahi.


• Temulawak untuk mengobati sakit kuning dengan cara di parut , diperas dan airnya diminum 2
kali sehari satu sendok makan , dapat ditambah sedikit gula batu dan dapat juga digunakan
sebagai penambah nafsu makan.

• Akar ilalang untuk menyembuhkan penyakit hepatitis B.

• Mahkota dewa untuk menurunkan tekanan darah tinggi , yakni dengan dikeringkan terlebih
dahulu lalu diseduh seperti teh dan diminum seperlunya.

• Brotowali sebagai obat untuk menghilangkan rasa nyeri , peredam panas , dan penambah nafsu
makan.

• Jagung muda ( yang harus merupakan hasil curian = berhubungan dengan kepercayaan )
berguna untuk menyembuhkan penyakit cacar dengan cara dioleskan dibagian yang terkena
cacar.

• Daun sirih untuk membersihkan vagina.

• Lidah buaya untuk kesuburan rambut.

• Cicak dan tokek untuk menghilangkan gatal – gatal.

• Mandi air garam untuk menghilangkan sawan.

• Daun simbung dan daun kaki kuda untuk menyembuhkan influenza.

• Jahe untuk menurunkan demam / panas , biasanya dengan diseduh lalu diminum ataupun
dengan diparut dan detempelkan di ibu jari kaki.

• Air kelapa hijau dengan madu lebah untuk menyembuhkan sakit kuning yaitu dengan cara 1
kelapa cukup untuk satu hari , daging kelapa muda dapat dimakan sekaligus , tidak boleh kelapa
yang sudah tua.

Peninjauan Kasus Transkultural terhadap Diabetes Mellitus

Arti diabetes mellitus dalam bahasa Indonesia adalah sirkulasi darah madu. Kata ini
digunakkan karena pada pasien diabetes mellitus, meningginya kadar gula darah termanefestasi
juga dalam air seni. Ginjal tidak dapat lagi menahan kadar gula yang tinggi (Ade Tobing, dkk,
2008: 12). Pembuangan glukosa melalui ginjal selalu disertai dengan pembuangan air, maka
salah satu ciri diabetes mellitus adalah meningkatnya kuantitas dan frekuensi buang air seni .
Kadar gula darah tentu jauh lebih tinggi dari kadar glukosa dalam urine (10 mmol/liter). Diabetes
mellitus disebabkan karena gangguan dalam meregulasi kadar glukosa dalam darah dan
gangguan pada proses transportasi glukoa dari darah ke dalam sel-sel. Semua ini disebabkan oleh
produksi in sulin yang tidak mencukupi kebutuhan. WHO menggolongkan diabetes mellitus
berdasarkan kelas klinis yakni, diabetes mellitus tipe I, diabetes mellitus tipe II, diabetes mellitus
terkait malnutrisi serta diabetes mellitus tipe lain yang berkaitan dengan syndrome.

Masalah pada Kasus

a. Laki-laki berusia 50 tahun,

b. Pingsan saat rapat di kantornya,

c. Kadar gula mencapai 450 mg/DL,

d. Dua tahun didiagnosis menderita diabetes mellitus, dan

e. Kesulitan mengatur pola makan dan aktivitas karena kebiasaan buadaya Jawanya.

Analisis Kasus.

Pasien mengidap diabetes mellitus tipe II dimana diabetes mellitus tipe ini kebanyakan
diderita pada klien dengan usia di atas 40 tahun. Penderita diabetes mellitua tipe II biasanya
dapat terkendali dengan mennurunkan obesitas. Namun dalam menangani kasus ini, terdapat
beberapa kendala berupa kebiasaan budaya Jawa yang menyukai makanan manis serta pola
hidup yang kurang aktivitas fisik. Seharusnya, seseorang yang menderita diabetes mellitus tipe
II, perilaku mengurangi makanan manis dan dianjurkan melakukan banyak latihan fisik agar
dapat menurunkan obesitas.

Aplikasi Transkutural yang Dilakukan Perawat

a. Memberi pendidikan kesehatan mengenai deskripsi diabetes mellitus, metode diet serta
bahaya diabetus mellitus,
b. Mengkaji jenis makanan yang akan dikonsumsi serta menghimbau pola makan yang sesuai
untuk diet yang tentunya diterima oleh buadaya pasien. Hal ini dapat dilakukan dengan
mennganti gula yang di tolelir oleh poeb deriata diabetes mellitus. Selain tiu, dapat dianjurkan
pula diet diabetes dengan memvariasikan makanan dengan protein rendah lemak, seperti kacang
kedelai, tahu ataupun ikan panggang,

c. Memberikan penyuluhan begi penderita untuk melakukan aktivitas fisik berupa olahraga, dan

d. Memberikan asuhan kesehatan selama masa medikasi untuk menjaga kondisi kesehatan pasien
agar terjadi peningkatan kesehatan. Seorang perawat profesional perlu memperhatikan perbedaan
nilai budaya sang klien serta mengaplikasikan keperawatan transkultural dalam memberikan
asuhan keperawatan. Keperawatan transkultural dapat direvitalisasi dalam penanganan penyakit
kronis misalnya diabetes mellitus.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.pelajaran.id/2017/09/pengertian-konsep-diri-jenis-komponen-dan-faktor-yang-
mempengaruhi-konsep-diri-terlengkap.html

https://dosenpsikologi.com/konsep-seksualitas-dalam-kajian-psikologi

Poerwanto, Helena dan Syaifullah. Hukum Perburuhan Bidang Kesehatan dan Keselamatan
Kerja. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005.

Gibson & Ivanicevich & Donnely. (1996) Organisasi : Perilaku, Struktur, Proses. Penerjemah
Adiarni, N. Binarupa Aksara, Jakarta.

Anderson, Foster. 2006. Antropologi Kesehatan. Jakarta : UI Press

FKM UI, 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:Raja Grafindo Persada.

Christensen, Paula. J dan Kenney, Janet W. 1996. Proses Keperawatan: Aplikasi Model
Konseptual. Jakarta: EGC

Effendi, Ferry dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik
dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

http://keperawatansemester1.blogspot.com/2011/04/perkembangan-antropologi-kesehatan.html