Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas
segala Rahmat, Petunjuk, dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
untuk memenuhi tugas mata kuliah Al-Islam Kemuhammadiyahan IV dengan judul “Integrasi
Islam dan Ilmu Pengetahuan”. Makalah ini dapat digunakan sebagai wahana untuk
menambah pengetahuan, dan referensi tambahan dalam belajar.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada semua sumber yang namanya tidak bisa
kami sebutkan satu per satu yang telah membantu dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan
menyelesaikan penulisan makalah ini. Segala upaya telah dilakukan untuk menyempurnakan
makalah ini, namun tidak mustahil apabila dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan
kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang dapat dijadikan
masukan dalam penyempurnaan makalah selanjutnya.

Potianak, 1 Oktober 2018

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ 1

BAB I ...................................................................................................................................................... 3

PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 3

A. Latar Belakang ............................................................................................................................ 3

B. Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 4

C. Tujuan Penulisan ......................................................................................................................... 4

PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 5

A. Hakikat Ayat – Ayat Allah.......................................................................................................... 5

B. Kesatuan Ayat Qauliyah Dan Kauniyah .................................................................................. 7

1. Ayat Qauliyah ......................................................................................................................... 7

2. Ayat Kauniyah ........................................................................................................................ 7

C. Interkoneksitas Dalam Memahami Ayat Qauliyah Dan Kauniyah ............................................. 8

1. Fenomena Kauniyah ............................................................................................................... 9

2. Fenomena Qauliyah ................................................................................................................ 9

BAB IV ................................................................................................................................................. 11

PENUTUP ............................................................................................................................................ 11

A. Kesimpulan ............................................................................................................................... 11

B. Saran ......................................................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 12


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebelum memaparkan ilmu pengetahuan, perlu diketahui sekilas tentang


perbedaan antara pengetahuan dan ilmu agar tidak terjebak pada kesalahpahaman
mengenai keduanya, sehingga bisa memahami dengan mudah dan benar apa yang
dimaksud dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu adalah bagian dari
pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem, dan terukur serta dapat dibuktikan
kebenarannya secara empiris. Ilmu menurut Al-Qur’an adalah rangkaian keterangan
yang bersumber dari Allah yang diberikan kepada manusia baik melalui Rasulnya
atau langsung kepada manusia yang menghendakinya tentang alam semesta sebagai
ciptaan Allah yang bergantung menurut ketentuan dan kepastian-Nya.
Sementara itu, pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum
tersusun, baik mengenai metafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan
adalah informasi yang berupa common sense, sedangkan ilmu sudah merupakan
bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan mekanisme tertentu.
Jadi ilmu lebih khusus daripada pengetahuan, tetapi tidak berarti semua ilmu adalah
pengetahuan. Menurut Sutrisno Hadi, ilmu kumpulan dari pengalaman-pengalaman
dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara
harmonis dalam suatu bangunan yang teratur. Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha
sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari
berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Ilmu memberikan kepastian dengan
membatasi lingkup pandangannya, dan kapasitas ilmu-ilmu diperoleh dari
keterbatasnnya.
Dari Semua agama yang ada di dunia ini, Islam adalah satu-satunya agama
samawi yang benar dan diridhai oleh Allah SWT untuk dijadikan sebagai pedoman
dan tuntunan hidup manusia hingga akhir zaman. Sebagai agama yang telah
diharapkan menjadi tuntunan hidup, Islam telah sempurna dan mencakup segala
sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. islam adalah agama yang mengajarkan bahwa
ilmu pengetahuan dan agama merupakan sesuatu yang saling berkaitan dan saling
melengkapi. Agama merupakan sumber ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan
merupakan sarana untuk mengaplikasikan segala sesuatu yang tertuang dalam ajaran
agama. Agama dan ilmu pengetahuan akan saling menguatkan dan bersinergi
sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang taat dalam beragama dan terdepan dalam
ilmu pengetahuan. Di dalam Al-Qur’an terdapat sekitar 750 ayat yang berkaitan
dengan ilmu pengetahuan dan itu merupakan bukti bahwa Islam adalah agama yang
sangat menekankan pada pengembangan ilmu pengetahuan. Bahkan Allah SWT
menantang manusia dan jin untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagai sarana untuk menjelajahi alam semesta yang luasnya tak terhingga.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana hakikat ayat-ayat Allah?
2. Kesatuan antara ayat qauliyah dan kauniyah?
3. Interkoneksitas dalam memahami ayat qauliyah dan kauniyah?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tentang integritas islam dan ilmu pengetahuan.
2. Tujuan khusus
a. Memahami hakikat ayat-ayat Allah.
b. Memahami kesatuan antara ayat qauliyah dan kauniyah.
c. Memahami interkoneksitas dalam ayat qauliyah dan kauniyah.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakikat Ayat – Ayat Allah


Masyarakat zaman sekarang memperlakukan Al-Qur'an sama sekali berbeda
dengan tujuan yang sebenarnya dari diturunkannya Al-Qur'an. Secara umum, di dunia
Islam sedikit sekali orang yang mengetahui isi Al-Qur'an. Sebagian di antara mereka
seringkali menggantukan Al-Qur'an yang dibungkus dengan sampul yang bagus pada
dinding rumah mereka dan orang-orang tua sesekali membacanya. Mereka
beranggapan bahwa Al-Qur'an melindungi orang yang membacanya dari "kemalangan
dan kesengsaraan". Dengan kepercayaan ini mereka memperlakukan Al-Qur'an
seperti halnya jimat penangkal sial.
Namun ayat-ayat Al-Qur'an menyatakan bahwa tujuan diwahyukannya Al-
Qur'an sama sekali berbeda dengan apa yang tersebut di atas. Sebagai contoh, dalam
surat Ibrahim ayat 52 Allah menyatakan: "(Al-Quran) ini adalah penjelasan yang
sempurna bagi manusia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah
Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran". Di banyak
ayat yang lain Allah menegaskan bahwa salah satu tujuan paling utama diturunkannya
Al-Qur'an adalah untuk mengajak manusia berpikir dan merenung.
Dalam Al-Qur'an Allah mengajak manusia untuk tidak mengikuti secara buta
kepada kepercayaan dan norma-norma yang diajarkan masyarakat. Akan tetapi
memikirkannya dengan terlebih dahulu menghilangkan segala prasangka, hal-hal yang
tabu dan yang mengikat pikiran mereka. Manusia harus memikirkan bagaimana ia
menjadi ada, apa tujuan hidupnya, mengapa ia suatu saat akan mati dan apa yang
terjadi setelah kematian. Ia hendaknya mempertanyakan bagaimana dirinya dan
seluruh alam semesta menjadi ada dan bagaimana keduanya tersu-menerus ada.
Ketika melakukan hal ini, ia harus membebaskan dirinya dari segala ikatan dan
prasangka. Dengan berpikir menggunakan akal dan nurani yang terbebaskan dari
segala ikatan sosial, ideologis dan psikologis; seseorang pada akhirnya akan
merasakan bahwa seluruh alam semesta termasuk dirinya telah diciptakan oleh sebuah
kekuatan Yang Maha Tinggi. Bahkan ketika ia mengamati tubuhnya sendiri atau
segala sesuatu di alam ia akan melihat adanya keserasian, perencanaan dan
kebijaksanaan dalam perancangannya.
Al-Qur'an memberikan petunjuk kepada manusia dalam masalah ini. Dalam
Al-Qur'an Allah memberitahu kepada kita apa yang hendaknya kita renungkan dan
amati. Dengan cara perenungan yang diajarkan dalam Al-Qur'an, seseorang yang
memiliki keimanan kepada Allah akan merasakan secara lebih baik kesempurnaan,
hikmah abadi, ilmu dan kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya.
Ketika orang yang beriman mulai berpikir menurut cara yang diajarkan Al-
Qur'an, ia segera menyadari bahwa keseluruhan alam semesta adalah sebuah isyarat
karya seni dan kekuasaan Allah, dan bahwa "alam semesta adalah sebuah hasil kreasi
seni, dan bukan pencipta kreasi seni itu sendiri." Setiap karya seni memperlihatkan
keahlian yang khas dan unik serta menunjukkan pesan-pesan dari sang pembuatnya.
Dalam Al-Qur'an, manusia diseru untuk merenungi berbagai kejadian dan benda-
benda alam yang dengan jelas menunjukkan kepada keberadaan dan ke-Esaan Allah
beserta Sifat-sifat-Nya. Di dalam Al-Qur'an segala sesuatu yang menunjukkan kepada
suatu kesaksian (adanya sesuatu yang lain) disebut sebagai "ayat-ayat", yang berarti
"bukti yang telah teruji (kebenarannya), pengetahuan mutlak dan pernyataan
kebenaran." Jadi ayat-ayat Allah terdiri atas segala sesuatu di alam semesta yang
memperlihatkan dan mengkomunikasikan keberadaan dan sifat-sifat Allah. Mereka
yang dapat mengamati dan senantiasa ingat akan hal ini akan memahami bahwa
seluruh jagad raya hanya tersusun atas ayat-ayat Allah.
Sungguh, adalah kewajiban bagi manusia untuk dapat melihat ayat-ayat Allah,
dengan demikian orang tersebut akan mengenal Sang Pencipta yang menciptakannya
dan segala sesuatu yang lain, menjadi lebih dekat kepada-Nya, menemukan arti
keberadaan dan kehidupannya, dan menjadi orang yang beruntung (dunia dan akhirat).
Segala sesuatu, nafas manusia, perkembangan politik dan sosial, keserasian kosmik di
alam semesta, atom yang merupakan materi terkecil, semuanya adalah ayat-ayat
Allah, dan semuanya berjalan di bawah kendali dan pengetahuan-Nya, mentaati
hukum-hukum-Nya. Menemukan dan mengenal ayat-ayat Allah memerlukan kerja
keras individu. Setiap orang akan menemukan dan memahami ayat-ayat Allah sesuai
dengan tingkat pemahaman dan nalarnya masing-masing.
Tidak diragukan, sejumlah petunjuk mungkin akan membantu. Pertama-tama,
seseorang dapat mempelajari subyek-subyek tertentu yang ditekankan dalam Al-
Qur'an dalam rangka memperoleh mentalitas berpikir yang memungkinkannya untuk
dapat merasakan seluruh alam semesta sebagai penjelmaan dari segala sesuatu ciptaan
Allah.
Di dalam Al-Qur'an, Allah mengajak orang-orang yang berakal agar
memikirkan hal-hal yang biasa diabaikan orang lain, atau yang biasa dikatakan
sebagai hasil "evolusi", "kebetulan", atau "keajaiban alam" belaka. Sebagaimana kita
lihat dalam ayat tersebut, orang-orang yang berakal melihat ayat-ayat Allah dan
berusaha untuk memahami ilmu, kekuasaan dan kreasi seni-Nya yang tak terhingga
dengan mengingat dan merenungkan hal-hal tersebut, sebab ilmu Allah tak terbatas,
dan ciptaan-Nya sempurna tanpa cacat. Bagi orang yang berakal, segala sesuatu di
sekeliling mereka adalah tanda-tanda penciptaan oleh Allah..

B. Kesatuan Ayat Qauliyah Dan Kauniyah


Allah Swt. tidak menampilkan wujud DzatNya Yang Maha Hebat di hadapan
makhluk-makhluk-Nya secara langsung dan dapat dilihat seperti kita melihat sesama
makhluk. Maka, segala sesuatu yang tampak dan dapat dilihat dengan mata kepala
kita, pasti itu bukan tuhan. Allah menganjurkan kepada manusia untuk mengikuti
Nabi Muhammad SAW supaya berpikir tentang makhluk-makhluk Allah. Jangan
sekali-kali berpikir tentang Dzat Allah. Makhluk-makhluk yang menjadi tanda
kebesaran dan keagungan Allah inilah yang disarankan di dalam banyak ayat Al-
Qur’an agar menjadi bahan berpikir tentang kebesaran Allah.

Pengertian Ayat Qauliyah dan Kauniyah


1. Ayat Qauliyah
Ayat-ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt.
di dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat ini menyentuh berbagai aspek, termasuk
tentang cara mengenal Allah. QS. At-Tin (95) ayat 1-5 , yang artinya :
Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota
(Mekah) ini yang aman; sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat
yang serendah-rendahnya (neraka).
2. Ayat Kauniyah
Ayat kauniyah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang
diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian,
peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. Oleh karena alam ini
hanya mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala sistem dan
peraturanNya yang unik, maka ia menjadi tanda kehebatan dan keagungan
Penciptanya. QS. Nuh (41) ayat 53 , yang artinya :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka
bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya
Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu ?

C. Interkoneksitas Dalam Memahami Ayat Qauliyah Dan Kauniyah


Secara garis besar, Allah menciptakan ayat dalam dua jalan keduanya saling
menegaskan dan saling terkait satu sama lainnya. Hal ini membuktikan bahwa
kemampuan manusia untuk memaham keduanya adalah keniscayaan. Allah tidak
hanya memberikan perintah untuk sekedar memahami ayat-ayat Allah berupa
Qauliyah, tetapi juga untuk melihat fenomena alam ini. Alam adalah ayat Allah SWT
yang tidak tertuang dalam bentuk perkataan Allah untuk dibaca dan dihafal. Tetapi
alam adalah ayat Allah yang semestinya dieksplore dan digali sedalam-dalamnya
untuk semakin manusia mendekatkan diri pada kemahakuasaan Allah SWT .
Berangkat dari kesadaran tentang realitas atas tangkapan indra dan hati, yang
kemudian diproses oleh akal untuk menentukan sikap mana yang benar dan mana
yang salah terhadap suatu obyek atau relitas. Cara seperti ini bisa disebut sebagai
proses rasionalitas dalam ilmu. Sedangkan proses rasionalitas itu mampu
mengantarkan seseorang untuk memahami metarsional sehingga muncul suatu
kesadaran baru tentang realitas metafisika, yakni apa yang terjadi di balik obyek
rasional yang bersifat fisik itu. Kesadaran ini yang disebut sebagai transendensi.
Firman Allah (QS. Al-Imran : 191), yang artinya :
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka
Dalam pandangan seorang muslim ayat qauliyah akan memberikan
petunjuk/isyarat bagi kebenaan ayat kauniyah, misalnya surat An-Nur (24):43
mengisyaratkan terjadinya hujan, surat Al-Mukminun (23) : ayat 12-14
mengisyaratkan tetang keseimbangan dan kesetabilan pada istem tata surya, surat Al-
Ankabut (29) : ayat 20 mengisyaratkan adanya evolusi pada penciptaan makhluk di
bumi, surat AZ-Zumar (39) : ayat 5 dan surat an-Naml (27) : ayat 28 mengisyaratkan
adanya rotasi bumi dan bulatnya bumi, sebaliknya ayat kauniyah akan menjadi bukti
(Al-Burhan) bagi kebenaran ayat qauliyah (lihat surat Al-Fushshilat 41: ayat 53)

1. Fenomena Kauniyah
Dari hasil observasi dan penelitian yang berulang-ulang bahwa “siklus
hidrologi” atau sikulasi air (hydrologi cycle) dapat dijelaskan sebagai berikut:
Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang terjadi akibat radiasi/panas matahari,
sehingga air yang dilaut, sungai, dan juga air pada tumbuh-tumbuhan mengalami
penguapan ke udara (transpiration), sehingga dikenal sebagai evapotranspiration, lalu
uapair tersebut pada ketinggian tertentu menjadi dinggin dan terkondensasi menjadi
awan. Akibat angin,bekumpulan awan dengan ukuran tertentu dan terbuat awan
hujan, karena pengaruh berat dan gravitasi kemudian terjadilah hujan (presipitasion).
Beberapa air hujan ada yang mengalir di atas permukaan. Tanah sebagai aliran
limpasan (overland flow) dan ada yang terserap kedalam tanah (infiltrasioan). Aliran
limpasan selanjutnya dapat mengisi tampungan-cekungan (depresioan storage). Apabila
tampungan ini telah terpenuhi, air akan menjadi limpasan-permukaan (surface runoff)
yang selanjutnya mengalir kelaut. Sedangkan air yang terinfiltrasi, bisa keadaan
formasi geologi memungkinkan, sebagian dapat mengalir literal di lapisan tidak
kenyang air sebagai aliran antara (subsurface flow/interflow).
Sebagian yang lain mengalir vertikal yang disebut dengan “perkolasi”
(percolation) yang akan mencapai lapisan kenyang air (saturated zone/aquifer). Air
dalam akifer akan mengalir sebagai air tanah (grounwter flow/base flow) kesungai atau
ketampungan dalm (deep storage). Siklus hirologi ini terjadi terus-menerus atau
berulang-ulang dan tidak terputus.

2. Fenomena Qauliyah
Pada penjelasan fenomena kauliyah, dapat kita tarik kesimpulan bahwaq
“siklus hidrologi” memiliki 4 (empat) macam proses yang saling menguatkan, yaitu :
a. hujan/presipitasi.
b. penguapan/evaporasi.
c. infiltrasi dan perkolasi (peresapan).
d. lipahan permukaann (surface runoff) dan limpasan iar tanah (subsurface rzrnoff)
Isyarat adanya fenomena “siklus hidrologi” dapat kata lihat pada surat An-Nur (24)
ayat 43, yaitu:
Artinya :
Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, Kemudian mengumpulkan
antara (bagian-bagian)nya, Kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka
kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan
(butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti)
gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang
dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat
awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. ( QS. An – Nur : 43 )
Pada ayat diatas, menunjukkan adanya proses inti yang sedang berlangsung dan
merupakan bagian dari proses “siklus hidrologi.”Kedua proses itu, yaitu proses
penguapan (evaparasi)yang ditunjukkan dengan kata “awan”dan proses hujan
(presipitasi)yang berupa keluarnya air dan butiran es dari awan. Dengan demikian, pada
pasal ini akan dijelaskan dan diberikan contoh hubungan antara ayat Qauliyah sebagai
petunjuk wahyu yang memberikan isyarat global tentang fenomena iptek, untuk
membantu menjelaskan dan mencocokkan terhadap ayat Kauniyah. Banyak sekali
contoh yang dapat dikemukakan, akan tetapi karena keterbatasan ruang, maka dalam
hal ini akan dikemukakan dua contoh saja yang amat terkenal yaitu “Siklus Hidrologi”
dan “Konsep Tentang Alam Semesta”.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari pemaparan di atas maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa :
1. Allah SWT menuangkan sebagian kecil dari ilmu Nya kepada umat manusia.
Dalam Al-Qur'an, manusia diseru untuk merenungi berbagai kejadian dan benda-
benda alam yang dengan jelas menunjukkan kepada keberadaan dan ke-Esaan
Allah beserta Sifat-sifat-Nya.
2. Hubungan antara ayat Qauliyah sebagai petunjuk wahyu yang memberikan isyarat
global tentang fenomena iptek, untuk membantu menjelaskan dan mencocokkan
terhadap ayat Kauniyah.

B. Saran
Mungkin inilah yang bisa kami sampaikan pada penulisan tugas makalah
“Integrasi Islam Dan Ilmu Pengetahuan ”. Meskipun penulisan ini jauh dari sempurna
minimal kita dapat mengambil manfaat dan ilmu dari tulisan ini. Masih banyak
kesalahan dari penulisan yang saya tuliskan, karena saya hanyalah manusia yang
adalah tempat salah dan dosa, dan saya juga butuh saran/ kritikan agar bisa menjadi
motivasi untuk masa depan yang lebih baik daripada masa sebelumnya.
Dengan selesainya makalah ini kami berharap dapat mendekatkan diri kepada
sang Khalik sebagai rasa syukur kita terhadap belas kasihnya yang telah mengutus
orang pilihan-Nya kepada kita, dan tak lupa kami sebagai manusia yang tak luput dari
salah tentunya meminta maaf atas ketidaksempurnaan penyusunan makalah ini karena
kami sadar kita masih dalam tahap belajar.
DAFTAR PUSTAKA

Alavi, Z. (2003). Pemikiran pendidikan Islam pada abad klasik dan pertengahan.
Bandung: Angkasa.
Baiquni, A. (1997). Alquran dan ilmu pengetahuan kealaman. Yogyakarta: Dana Bakhti
Prima Yasa.
Azra, Azyumardi. 2005. Reintegrasi Ilmu-Ilmu, Integrasi Ilmu dan Agama, Interprestasi
dan Aksi. Bandung: Mizan.
Abdullah, M. Amin. (2006). Islamic Studies Di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-
Interkonektif. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.