Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

Tumor adalah sebutan untuk neoplasma atau lesi padat yang


terbentuk akibat pertumbuhan sel tubuh yang tidak semestinya, yang mirip
dengan simtoma bengkak. Tumor berasal dari kata tumere dalam bahasa
latin yang berarti "bengkak". Pertumbuhannya dapat digolongkan sebagai
ganas (malignan) atau jinak (benign).
Tumor ganas disebut kanker. Kanker memiliki potensi untuk
menyerang dan merusak jaringan yang berdekatan dan menciptakan
metastasis. Tumor jinak tidak menyerang tissue berdekatan dan tidak
menyebarkan benih (metastasis), tetapi dapat tumbuh secara lokal menjadi
besar. Mereka biasanya tidak muncul kembali setelah penyingkiran melalui
operasi.
Tumor disebabkan oleh mutasi dalam DNA sel. Sebuah penimbunan
mutasi dibutuhkan untuk tumor dapat muncul. Mutasi yang mengaktifkan
onkogen atau menekan gen penahan tumor dapat akhirnya menyebabkan
tumor. Sel memiliki mekanisme yang memperbaiki DNA dan mekanisme
lainnya yang menyebabkan sel untuk menghancurkan dirinya melalui
apoptosis bil DNA rusak terlalu parah. Mutasi yang menahan gen untuk
mekanisme ini dapat juga menyebabkan kanker. Sebuah mutasi dalam satu
oncogen atau satu gen penahan tumor biasanya tidak cukup menyebabkan
terjadinya tumor. Sebuah kombinasi dari sejumlah mutasi dibutuhkan.
DNA microarray dapat digunakan untuk menentukan apakah
oncogene atau gen penahan tumor telah termutasi. Di masa depan
kemungkinan tumor dapat dirawat lebih baik dengan menggunakan DNA
microarray untuk menentukan karakteristik terperinci dari tumor.
Penuaan menyebabkan lebih banyak mutasi di DNA mereka. Ini
berarti "prevalence" tumor meningkat kuat sejalan dengan penuaan. Ini juga

1
kasus di mana orang tua yang terdapat tumor, kebanyakan tumor ini
merupakan tumor ganas. Contohnya, bila seorang wanita berumur 20 tahun
memiliki tumor di dadanya kemungkinan besar tumor ini adalah jinak. Namun,
apabila wanita berumur 70 tahun makan kemungkinan besar tumor ini adalah
ganas.
Faktor penyebab timbulnya tumor ini berbeda di berbagai negara.
Yang berperan penting antara lain, usia, secara umum dapat dikatakan makin
tua, makin besar resikonya. Hal ini dapat dimengerti karna pajanan pada
karsinogen, inisiator, dan promotor lebih lama pada usia lanjut. Selain itu,
faktor gaya hidup seperti khususnya kebiasaan makan makanan dengan
kelebihan kalori (terutama yang berasal dari lemak binatang), kelebihan zat
lemak, kekurangan serat, dan peracunan diri (asap rokok) merupakan salah
satu sebab meningkatnya resiko timbulnya tumor atau kanker.
Pencegahan dilakukan berdasarkan fakta epidemiologi, terutama
faktor penyebab, yaitu dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat
maupun perorangan. Pencegahan primer dimaksudkan untuk menghilangkan
faktor penyebab, sedangkan pencegahan sekunder merupakan penapisan
pada kelompok tertentu yang beresiko tinggi terhadap keganasan tertentu.
Kebanyakan faktor penyebab keganasan merupakan faktor lingkungan yang
dapat dihilangkan dengan mengubah gaya hidup setiap pribadi, tindakan
kolektif masyarakat, peraturan pemerintah yang disertai kesepakatan
internasional. Penyuluhan untuk mengubah gaya hidup baru berhasil bila
terjadi proses motivasi dan keyakinan, disertai kesediaan untuk
melakukannya.
Untuk menggambarkan staging penyakit, dipakai sistem TNM dari
AAJC (American Joint Committee on Cancer). Penentuan TMN ini didasari
atas pemeriksaan fisik dan dilengkapi dengan pemeriksaan lanjut serta
histopatologik.

2
Tumor

TX Tumor primer tidak dapat dinilai.

T0 Tidak ada bukti tumor primer.

Tis Karsinoma in situ. B

T1 Tumor terbatas pada mesentrium, ≤ 2 cm dalam dimensi terbesar.

T2 Tumor terbatas pada mesentrium,> 2 cm dalam dimensi terbesar.

T3 Tumor mesentrium melampaui tetapi tanpa keterlibatan mukosa usus

T4 Tumor melibatkan mukosa usus (tumor primer unresectable).


Nodul

NX Daerah kelenjar getah bening tidak dapat dinilai.

N0 Tidak ada metastasis node getah bening regional.

N1 Daerah metastasis kelenjar getah bening.


Metastasis

M0 Tidak ada metastasis jauh.

M1 Metastasis jauh.

Stage T N M
a
Exocrine and endocrine pancreas. In: American Joint Committee on Cancer: AJCC
Cancer Staging Manual. 7th ed. New York, NY: Springer, 2010, p 245.

BAB II
LAPORAN KASUS

3
II.1 Identitas Pasien
Nama : Tn.S
Usia : 35 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl.Bojong sari baru
Status pernikahan : Menikah
Pendidikan terakhir : Tamat SMA
Pekerjaan :-
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
No.Rekam Medik : 01013765

II.2 Anamnesis
Dilakukan autoanamnesis dan alloanamnesis pada tanggal 22 september
2010.

II.3 Keluhan Utama


Perut kembung dan nyeri sejak 5 hari smrs

II.4 Keluhan Tambahan


Tidak bisa BAB sejak 4 hari smrs

II.5 Riwayat penyakit sekarang


Pasien laki-laki 35 tahun datang kerumah sakit fatmawati dengan
keluhan perut kembung dan nyeri sejak 5 smrs, tidak bisa BAB sejak 4 hari
smrs.

4
Awalnya pasien muntah-muntah sehabis makan, muntah berisi cairan
dan makanan, berbau asam, darah-, muntah 3 kali sehari. Besok paginya
pasien merasa perutnya kembung, tegang, membesar, hangat dan nyeri
terus-menerus. Perut kembung sebelumnya sudah diderita pasien selama 6
bulan yang lalu, perut kembung dialami hilang timbul secara tiba-tiba, jika
kembung perut pasien merasa sakit, pasien minum obat anti nyeri dan obat
maag ketika itu nyeri yang dirasa sudah menghilang. Saat ini perut kembung
dan nyeri dirasakan terus menerus, nyeri tidak bisa hilang dengan obat anti
nyeri.
Pasien tidak menyadari sebelunya ada benjolan di perutnya, pasien
hanya merasakan perutnya membesar secara perlahan semenjak dari 6
bulan yang lalu sampai sekarang.
Pasien juga tidak bisa BAB sejak 4 hari smrs, BAB keras, darah-,
flatus+. Sebelumya BAB pasien seperti kotoran kambing, warna cokelat
kehitaman, BAB 1 kali sehari. Pasien dulu sering makan-makanan berserat,
semenjak sakit perutya pasien jarang makan-makanan berserat karena
setiap makan selalu muntah, pasien selama ini hanya minum susu dan
kadang-kadang makan bubur, nafsu makan menurun.
Pasien mengatakan berat badannya menurun dalam 1 bulan (60-
52kg). BAK lancar, demam -, riwayat sakit maag-, sesak nafas, penyakit
kronis disangkal oleh pasien.
II.6 Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat darah tinggi, kencing manis, batuk lama, alergi, asma dan
trauma disangkal oleh pasien. Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami
hal seperti ini.

5
II.7 Riwayat Hidup dan Kebiasaan
Riwayat sering minum jamu-jamuan, minum alkohol, merokok di
sangkal pasien. Pola tidur cukup, Jarang berolahraga.

II.8 Riwayat penyakit keluarga


Pada anggota keluarga pasien tidak ada keluhan yang sama seperti
yang dialami pasien. Riwayat tumor atau kanker, kencing manis, darah tinggi
penyakt kronis disangkal.

II.9 Riwayat Pengobatan


Pasien pernah mencoba mengobati keluhan nyeri perutnya dengan
minum obat anti nyeri, jamu-jamuan (herbal) tetapi tidak mengalami
perbaikan, hanya mengurangi gejala yang ada dan hanya bersifat sementara.
Pasien sedang tidak mengkonsumsi obat-obatan lain jangka panjang. Tidak
ada riwayat alergi obat.

II.10 Pemeriksaan Fisik


Kesadaran : Compos Mentis ; GCS: 15
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Tinggi badan : 165 cm
Berat badan : 52 kg
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Frekuensi napas : 24 x/menit
Suhu : 37˚C

Status generalis
Kepala

6
Normosefali
Mata
Sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis +/+ , pupil bulat isokor
Telinga
Normotia, sekret (-), serumen -/-, nyeri tekan mastoid -/-
Hidung
Pernapasan cuping hidung (-), deviasi septum (-)
Mulut
Bibir kering, mukosa lembab, sianosis (-), pucat (-), faring hiperemis (-)
Lidah
Hiperemis (-)
Tenggorokan
Hiperemis (-)
Leher
JVP 5-2 cmH2O, KGB tidak teraba membesar
Thoraks
Pulmo : Inspeksi : gerak nafas simetris saat statis dan dinamis
Palpasi : vocal fremitus paru simetris di kedua hemithorax
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : suara vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-
Cor : Inspeksi : iktus cordis tidak tampak
Palpasi : iktus cordis teraba
Perkusi :
Batas atas jantung : ICS III linea parasternalis sinistra
Batas kiri jantung : ICS V 2 jari medial linea mid-clavikularis
sinistra
Batas kanan jantung : ICS IV linea sternalis dextra
Auskultasi : BJ I-II regular, Gallop (-), Murmur (-)
Abdomen

7
(lihat status lokalis)
Ekstremitas
Akral hangat, CRT < 2 dtk, sianosis (-), edema (-), ptekie(-)

Status Lokalis (regio abdomen)


Abdomen
Inspeksi
Cembung, tegang, spider nevi -, sikatrik -, jejas -.
Auskultasi
Bising usus + normal 2-3x/menit
Perkusi
Redup pada regio epigastrika, shifting dullness -
Palpasi
- Nyeri tekan +
- Nyeri lepas -
- Teraba massa dengan ukuran 24cmx11cm, berjumlah 1,
konsistensi kenyal dan keras, batas tidak jelas, permukaan tidak
berbenjol-benjol, massa tidak dapat digerakkan dari dasarnya,
nyeri tekan +, nyeri lepas -
- Hepar dan lien tidak teraba
- Murphy sign -
- Tes ballottement –
- Nyeri ketuk sudut CVA –

II.11 Pemeriksaan penunjang


Laboratorium
PEMERIKSAAN NILAI SATUAN NILAI RUJUKAN
Hematologi
Hb 9.0 g/dl 13,2-17,3

8
Ht 29 % 33-45
Leukosit 9.9 rb/uL 5.0-10.0
Trombosit 540 Rb/uL 150-440
Eritrosit 3.32 Rb/uL 4.40-5.90
VER 86.1 FL 80-100
HER 27.1 Pg 26-34
KHER 31.5 g/dl 32-36
RDW 35.2 % 11.5-14.5
Kimia klinik
Fungsi Hati
SGOT 46 U/I 0-34
SGPT 47 U/I 0-40
Fungsi ginjal
Ureum darah 24 Mg/dl 20-40
Creatine darah 2.3 Mg’dl 0.6-1.5
Elektrolit
Natrium (Na) 136 Mmol/l 135-147
Kalium 4.39 Mmol/l 3.10-5.10
Klorida 103 Mmol/l 95-108
Sero-Imonologi
Golongan darah O/RH(+)

 Foto Polos abdomen


- Tampak massa intra abdomen dengan densitas radio
opak dengan ukuran panjang 10 cm, lebar tidak dapat
ditentukan yang mendesak usus ke superior

9
 CT Scan whole abdomen
- Massa inhomogen (kistik campur solid) yang menyangat
setelah pemberian kontras IV, mulai dari rongga pelvis ke
inferior berbatasan dengan buli, ke lateral berbatasan
dengan otot-otot dinding dada kanan kiri, ke superior
berbatasan dengan usus-usus dimana massa dimana
massa mendesak usus-usus ke superior, ke posterior
berbatasan dengan vertebra, ukuran massa +/_ 24,1 x
11,8 x 30,8 cm. DD/ peritoneal Carcinomatosis
- Tidak tampak pembesaran KGB
- Hidronefrosis dextra
- Indentasi buli sisi antero superior e.c massa

10
II.12 Resume
Pasien datang dengan keluhan perut kembung dan nyeri terus
menerus sejak 5 hari smrs, sebelumnya perut kembung dan nyeri hilang
timbul sudah dirasakan pasien sejak 6 bulan yang lalu. Pasien juga merasa
perutnya membesar secara perlahan sejak 6 bulan yang lalu. Mual dan
muntah sehabis makan, sulit BAB sejak 4 hari smrs. Pemeriksaan fisik teraba
massa di intra abdomen dengan ukuran 24x11cm, berbentuk bulat,
permukaan rata, konsistensi keras dan kenyal, batas tidak jelas, mobile, nyeri
tekan+. Gambaran foto polos abdomen tampak massa intra abdomen dengan
ukuran panjang 10 cm, lebar tidak dapat ditentukan yang mendesak usus ke
superior. Gambaran CT scan whole abdomen Massa inhomogen (kistik
campur solid) yang menyangat setelah pemberian kontras IV, mulai dari
rongga pelvis ke inferior berbatasan dengan buli, ke lateral berbatasan
dengan otot-otot dinding dada kanan kiri, ke superior berbatasan dengan
usus-usus dimana massa dimana massa mendesak usus-usus ke superior,
ke posterior berbatasan dengan vertebra, ukuran massa +/_ 24,1 x 11,8 x
30,8 cm

11
II.13 Diagnosis Kerja
Peritoneal Cacinomatosis

II.14 Diagnosis Banding


- Ca mesentrium
- Ca Jejunum
- Ca Ileum

II.15 Penatalaksanaan
Pada pasien ini penatalaksanaannya harus di lakukan operasi
laparotomi dilhat dan dicari asal tumor tersebut dan di eksisi tumornya.
Preoperatif
 Anemia  diberikan transfusi dari PRC 250cc, Hb harus lebih dari 10
baru bisa dilakukan operasi.
 Diet cair 6x100cc  sambil menunggu persiapan operasi dan puasa
>= 10 jam sebelum operasi.

Operatif
 Laparotomi  eksisi tumor

Laporan operasi
Tanggal operasi : 23 September 2010
Jam operasi : 10.15
Nama operator : Dr.Ramadhana Effendi,SpB
Assistant operator : M.Yani
Anastesi : General anastesi
Diagnosa sebelum operasi : Tumor Intra Abdomen
Diagnosa sesudah operasi : Ca Mesentrium

12
Nama operasi : Laparotomi - Eksisi tumor

Laporan operasi
 Pasien terlentang dalam narkose
 Asepsis dan antiseptik daerah operasi
 Insisi mediana abdomen
 Didapatkan tumor kistik ukuran 40x30cm isi cairan hemato, tumor
melekat pada yeyunum, melekat pada mesentrium, melaslar pada
omentum, appendik dan mesocolon.
 Dilakukan reseksi dan anastomose yeyunum ± 20cm dari leg truss
 Tumor di eksisi, omentectomi, appendiktomi
 Rongga abdomen dicuci
 Pasang drain
 Luka dijahit
 Operasi selesai

Aseptik dan asepsis daerah operasi Laparotomi-insisi mediana

Operator anastesi Tumor kistik

13
Intruksi post op
 Awasi tanda vital tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan
 Pasien puasa 5 hari
 Infus Kaen 3B 1500cc+ Ringer laktat 500cc
 Cetoperazon 2x1gr
 Metronidiazole 2x1gr
 Ketorolak 3x1gr
 Ranitidin 3x1gr
 Bed full
 Cek Lab darah lengkap + albumin post op

Hasil Pemeriksaan Histopatologi


Diagnosa klinis: Ca Meseatenal
Makroskopik : jaringan tidak beraturan berukuran 22x20x12cm coklat lunak
rapuh, berongga-rongga dengan bagian padat sebagian
letak 6cup 6blok.
Mikroskopik : Sediaan massa tumor disusun sel-sel bentuk spindel
berbatas tidak jelas. Terlihat pembuluh-pembuluh darah
yang jelas berdinding tipis. Pada bagian lain tampak
pembentukan konfigurasi “staghorn”. Bentuk mitosis dapat
ditemukan (>5/10HPF) dengan bagian nekrosis.
Kesimpulan : Gambaran histopatologi yang paling sesuai adalah
hemangiopericytoma (high grade).

II.16 Prognosis
ad vitam : dubia
ad fungsionam : dubia
ad sanationam : dubia

14
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III.1 Anatomi Dinding Abdomen


Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuknya lonjong dan
meluas dari diafragma sampai pelvis di bawah. Rongga abdomen dilukiskan
menjadi dua bagian, abdomen yang sebenarnya yaitu rongga sebelah atas
yang lebih besar dan rongga sebelah bawah yaitu rongga pelvis yang lebih
kecil (Pearce, 1999).
Batas-batas rongga abdomen di superior (paling dekat dengan kepala)
didefinisikan oleh diafragma-otot pernapasan, posterior (belakang)
didefinisikan oleh dinding otot tubuh dan tulang belakang, lateral / anterior
(sisi / depan) - dibentuk oleh otot-otot perut, inferior (paling dekat dengan
kaki) batas dibentuk oleh otot-otot dasar panggul.
Dinding perut mengandung struktur muskulo - aponeurosis yang
kompleks. Di bagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang, di
sebelah atas pada iga dan di bagian bawah pada tulang panggul. Dinding
perut ini terdiri dari beberapa lapis, yaitu dari luar ke dalam, lapis kulit yang
terdiri dari kutis dan subkutis, lemak subkutan dan fasia superfisial (fasia
scarpa), kemudian ketiga otot dinding perut, m.oblikus abdominis eksternus,
m.oblikus abdominis internus dan m.tranversus abdominis, akhirnya lapis
preperitoneum dan peritoneum, yaitu fasia tranversalis, lemak preperitoneal
dan peritoneum. Otot di bagian depan tengah terdiri atas sepasang otot
rektus abdominis dengan fasianya yang digaris tengah dipisahkan oleh linea
alba.
Sumber pendarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Dari
kraniodorsal diperoleh pendarahan dari cabang aa.interkostales VI-XII dan
a.epigastrika superior. Dari kaudal, a.iliaka sirkumfleksa superfisialis,
a.pudenda eksterna, dan a.epigastrika inferior. Kekayaan vaskularisasi ini

15
memungkinkan sayatan perut horisontal maupun vertikal tanpa menimbulkan
gangguan pendarahan.
Persarafan dinding perut dilayani secara segmental oleh n.thorakalis
VI-XII dan n.lumbalis I. (Jong. 2004)

Rongga perut kita bagi dalam sembilan regio. Yaitu menarik dua garis
horisontal yang menghubungkan kedua spina iliaca anterior superior dan
pinggir bawah kedua lengkungan tulang iga (arkus kosta iga ke 10). Dan
kedua garis vertikal yang menghubungkan kedua tulang belikat dengan
kedua tuberkulum pubikum.(Widjaja. 1995)

Rongga Abdomen dan Pelvis (Pearce, 1999)

16
Keterangan :
1. Hipokhondriak kanan
2. Epigastrik
3. Hipokhondriak kiri
4. Lumbal kanan
5. Pusar (umbilikus)
6. Lumbal kiri
7. Ilium kanan
8. Hipogastrik
9. Ilium kiri

Di sebelah dalam fasia transversalis dinding abdomen terdapat

peritoneum yang membatasi rongga abdomen dan pelvis yang berisi alat-

alat visera. Peritoneum merupakan selaput serosa yang dapat dibedakan

dalam peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan peritoneum

viseral yang meliputi alat-alat. Celah diantara kedua selaput peritoneum

disebut rognga peritoneum atau cavum peritonealis. Ruang diluarnya disebut

ekstraperitoneal. Di dalam cavitas peritonealis terdapat cairan peritoneum

yang berfungsi sebagai pelumas sehingga alat-alat dapat bergerak satu

terhadap yang lain tanpa gesekan yang berarti. Peritoneum viseral

berhubungan dengan parietal pada dinding abdomen melalui suatu lapisan

yang disebut mesenterium untuk usus dan ligamen untuk alat lain.

17
Rongga peritoneal pada laki-laki tertutup seluruhnya tapi pada wanita
mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui tuba uterina, uterus , dan
vagina.
Organ yang terdapat di dalam rongga peritoneal disebut letak
intraperitoneal, tempat alat-alat dibungkus oleh peritoneum viseral, seperti
lambung, hati, kandung empedu, sebagian besar usus kecil dan sebagian
dari usus besar (kolon transversum dan sigmoid). Sedang yang terletak di
belakang peritoneum parietal disebut letak retroperitoneal yaitu aorta, v. kava
inferior, duodenum, pankreas , kelenjar adrenal, kolon ascenden dan
descenden, ginjal, ureter.
Peritoneum parietal sensitif terhadap nyeri, temperatur, perabaan dan
tekanan dan mencapai persarafan dari saraf segmental yang juga
mempersarafi kulit dan otot yang ada di sebelah luarnya. Peritoneum
parietale yang membatasi dinding depan abdomen mendapat persarafan dari
enam nervi thoracici (intercostales) terbawah dan nervus lumbalis 1.
Peritoneum yang meliputi permukaan inferior diafragma diurus oleh nervus
thoracici terbawah untuk bagian perifer dan nervus phrenicus untuk bagian
sentral/tengah. Iritasi pada Peritoneum parietal memberikan rasa nyeri lokal,
namun pada insisi tidak memberikan rasa nyeri. Peritoneum viseral sensitif
terhadap regangan dan sobekan tapi tidak sensitif untuk perabaan, tekanan
maupun temperatur. Peritoneum parietal mendapat persarafan dari saraf
aferen otonom yang mengurus alat viscera. Distensi dari suatu viscus akan
memberikan sensasi nyeri. Mesenterium dan mesocolon sensitif terhadap

18
regangan mekanikal. Iritasi pada Peritoneum parietale dari diafragma
kadang-kadang memberikan rasa nyeri di pundak yang sesuai, sebagai
akibat hubungan persarafan segmental yang sama dari dua daerah, yang
disebut sebagai nyeri alih atau referred pain.

Rongga Abdomen Bagian Depan


Keterangan :
A.Diafragma I.Kolon sigmoid P.Liver

B.Esofagus J.Kandung kencing Q. Lobus kanan

C.Lambung K.Apendiks R. Lobus kiri

D.Kaliks kiri L.Sekum

E.Pankreas M.Illium

F.Kolon desenden N.Kolon asenden

G.Kolon transversum O.Kandung empedu

H.Usus halus P.Liver

19
III.2 Tumor Intra Abdomen
a. Pengertian
Tumor intra abdomen adalah tumor yang berada di dalam rongga
abdomen, merupakan tumor dari organ-organ di dalamnya.
Tumor abdomen merupakan massa yang padat dengan ketebalan
yang berbeda-beda, yang disebabkan oleh sel tubuh yang yang
mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom lepas dari kendali
pertumbuhan sel normal, sehingga sel tersebut berbeda dari sel normal
dalam bentuk dan strukturnya. Secara patologi kelainan ini mudah
terkelupas dan dapat meluas ke retroperitonium, dapat terjadi obstruksi
ureter atau vena kava inferior. Massa jaringan fibrosis mengelilingi dan
menentukan struktur yang di bungkusnya tetapi tidak menginvasinya.

b. Etiologi
Penyebab terjadinya tumor karena terjadinya pembelahan sel yang
abnormal. Perbedaan sifat sel tumor tergantung dari besarnya
penyimpangan dalam bentuk dan fungsi autonominya dalam pertumbuhan,
kemampuannya mengadakan infiltrasi dan menyebabkan metastasis.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tumor antara
lain :
a. Karsinogen
b. Hormon
c. Faktor gaya hidup : Kelebihan nutrisi khususnya lemak dan
kebiasaan makan- makanan yang kurang berserat.
d. Parasit ; parasit schistosoma hematobin yang mengakibatkan
karsinoma planoseluler.
e. Genetik
f. Infeksi, trauma, hipersensivitas terhadap obat

20
c. Pemeriksaan
Tumor abdomen biasanya terdeteksi pada pemeriksaan fisik rutin.
Sebagian besar membesar dengan perlahan-lahan dan bisa asimptomatik.
Tumor abdomen bisa terdiri dari tumor jinak atau ganas. Seseorang
individu mungkin mengalami gejala dengan tumor abdomen, apakah itu jinak
atau ganas. Gejala biasanya akan lebih parah dengan tumor ganas.
Misalnya, tumor jinak dapat menyebabkan rasa sakit dan perut bengkak.
Namun, tumor ganas juga dapat menyebabkan kelelahan, demam dan darah
pada tinja.
Ada berbagai cara untuk mendiagnosis tumor abdomen. Langkah
pertama dalam mencari diagnosis adalah anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Petunjuk penting dalam riwayat penyakit dahulu adalah termasuk hilang
nafsu makan, penurunan berat badan, diare dan sakit perut.
Pemeriksa mungkin dapat merasakan massa di daerah abdomen pada
pemeriksaan fisik. Evaluasi lebih lanjut mungkin diperlukan melalui
pemeriksaan penunjang, seperti pencitraan. Pemeriksan penunjang ini dapat
menentukan ukuran tumor dan lokasi yang tepat.
Massa di perut dapat disebabkan oleh tumor maligna, kista, inflamasi,
atau aneurisma. Kadang, massa ini disebabkan oleh hepatomegali,
splenomegali atau pembesaran kelenjar limfe. Letak massa, hubungan
dengan struktur sekitarnya, mobilitas, dan sifat fisik lain, seperti bentuk,
besar, konsistensi dan keadaan permukaannya akan memberikan informasi
patologi yang berharga.
Selama pemeriksaan fisik, lokasi massa, serta ciri lokasinya (biasanya
ditentukan dalam hal kuadran) harus diidentifikasi. Massa harus dinilai untuk
apakah itu kaku atau mobile, ikut teraba denyut nadi atau gerak peristaltik,
karena ini akan membantu dalam mengidentifikasi lebih lanjut massa.
Pemeriksaan laboratorium biasanya langkah berikutnya dalam
diagnosis setelah riwayat medis yang menyeluruh dan pemeriksaan fisik.

21
Antara pemeriksaan yang diperlukan adalah darah lengkap , nitrogen urea
darah (BUN), kreatinin, dan tes fungsi hati seperti albumin, rasio normalisasi
internasional (INR), waktu tromboplastin parsial (PTT), amilase serum dan
bilirubin total (TBIL). Jika penyakit hati stadium dicurigai, maka glukosa
serum mungkin diperlukan.
Tumor jinak, meskipun prognosisnya lebih baik dari tumor ganas, masih
mungkin memerlukan pengobatan. Jika tumor cukup besar, dapat
mengganggu fungsi fisiologi, seperti pencernaan, mungkin menekan organ
lain disekitarnya dan menyebabkan keluhan, pengangkatan tumor mungkin
diperlukan. Biasanya tumor jinak perut tidak akan residif atau memerlukan
perawatan lebih lanjut setelah pengangkatan.
Jika tumor abdomen ditemukan menjadi ganas, operasi dan
pengobatan tambahan mungkin diperlukan. Tumor ganas abdomen sering
diobati dengan kemoterapi, terapi radiasi, atau keduanya. Protokol
pengobatan khusus akan bervariasi, tergantung pada faktor-faktor, seperti,
ukuran tumor, lokasi tepat dan apakah telah menyebar di luar daerah
abdomen.
Pemeriksaan diagnostik yang disebutkan dalam berbagai sumber
seperti yang digunakan dalam diagnosis massa abdomen meliputi:
1. Pemeriksaan generalis
Pemeriksaan pada seluruh anggota tubuh, dilihat adakah
kelainan yang menunjang diagnosis, seperti gejala ikterus dan tanda-
tanda hilangnya nafsu makan dan penurunan berat badan terakhir
Ikterus adalah perubahan warna kuning pada kulit, membrane
mukosa, sclera dan organ lain yang disebabkan oleh peningkatan
kadar bilirubin di dalam darah dan ikterus sinonim dengan jaundice.
Ikterus dapat berupa ikterus prahepatik, misalnya karena
destruksi eritrosit berlebihan, ikterus hepatic akibat kerusakan sel hati,
dan ikterus pasca hepatic, yaitu akibat obstruksi saluran empedu.

22
Yang perlu ditanyakan pada gejala ikterus yaitu riwayat keluarga
denga anemia dan batu empedu, feses pucat, transfusi darah,
pemakaian obat. Pada pemeriksaan fisik, dapat dilihat dari warnanya,
warna ikterus seperti kulit jeruk lemon menunjukkan ikterus sedang
disertai anemia yang mengarah pada ikterus prahepatik, sedangkan
ikterus warna tua mengarah pada ikterus hepatic atau pascahepatik.
Anoreksia adalah hilangnya nafsu makan yang dapat
disebabkan baik oleh gangguan organik maupun psikologik. Pada
penyakit kronis atau keganasan, anoreksia timbul lebih lambat dan
umumnya baru terasa apabila penyakit telah lanjut. Pada keganasan
intraabdomen, penurunan berat badan dapat timbul karena sifat
katabolik dari proses keganasan, gangguan fungsi organ yang
terkena, atau asupan kalori yang kurang.
2. Pemeriksaan lokalis yaitu pada regio abdomen
Urutan teknik pemeriksaan pada abdomen ialah inspeksi,
auskultasi, perkusi, dan palpasi. Auskultasi dilakukan sebelum kita
melakukan palpasi dan perkusi dengan tujuan agar hasil pemeriksaan
auskultasi lebih akurat karena kita belum melakukan manipulasi
terhadap abdomen.
INSPEKSI
Dilakukan pada pasien dengan posisi tidur terlentang dan
diamati dengan seksama dinding abdomen.
Pertama perhatikan bentuk abdomen, bertambah atau
berkurangnya volume abdomen, kembung atau cekung. Warna kulit,
benjolan, gambaran vena. Apakah terdapat perut tegang atau
mengalami penarikan ke dalam, gerakan abdomen ketika bernapas.
Dilihat juga umbilikus penderita, jaringan sikatrik. Kemudian penderita
diminta untuk bersikap setengah duduk atau mengangkat kepala
sebentar tanpa bantuan agar otot dinding perut menegang, dengan

23
demikian tumor yang terletak di antara kulit dan otot dinding perut
akan tampak lebih jelas atau akan mulai tampak. Dalam inspeksi juga
dilihat ekspresi penderita, reaks-reaksi yang terjadi sering jelas dapat
dilihat pada penderita daripada tanggapan-tanggapn yang diucapkan.
Wajah penderita yang pucat akan terlihat juga akan terlihat apabila
terdapat perdarahan intraabdomen. Minta pasien menunjukkan lokasi
nyeri pada satu titik, apabila nyeri dirasakan pada seluruh daerah
abdomen, seringkali penderita masih dapat menunjukkan nyeri yang
paling hebat atau tempat di mana pertama kali perasaan nyeri
dirasakan. Di bawah ini akan diuraikan secara lebih rinci.
- Keadaan kulit; warnanya (ikterus, pucat, coklat, kehitaman),
elastisitasnya (menurun pada orang tua dan dehidrasi),
kering (dehidrasi), lembab (asites), dan adanya bekas-bekas
garukan (penyakit ginjal kronik, ikterus obstruktif), jaringan
parut (tentukan lokasinya), striae (gravidarum/ cushing
syndrome), pelebaran pembuluh darah vena (obstruksi vena
kava inferior & kolateral pada hipertensi portal)
- Besar dan bentuk abdomen; rata, menonjol, atau scaphoid
(cekung).
- Simetris atau tidak: perhatikan adanya benjolan lokal (hernia,
hepatomegali, splenomegali, kista ovarii, hidronefrosis).
- Gerakan dinding abdomen pada peritonitis terbatas.
- Pembesaran organ atau tumor, dilihat lokasinya dapat
diperkirakan apakah organ atau tumor tersebut.
- Peristaltik: gerakan peristaltik usus meningkat pada obstruksi
ileus, tampak pada dinding abdomen dan bentuk usus juga
tampak (darm-contour)

24
- Pulsasi: pembesaran ventrikel kanan dan aneurisma aorta sering
memberikan gambaran pulsasi di daerah epigastrium dan
umbilikal.
Perhatikan juga gerakan pasien. Apakah Pasien sering
merubah posisi, yang menunjukkan adanya obstruksi usus. Pasien
sering menghindari gerakan, pada iritasi peritoneum generalisata.
Pasien sering melipat lutut ke atas agar tegangan abdomen
berkurang/ relaksasi, pada peritonitis. Pasien melipat lutut sampai ke
dada, berayun-ayun maju mundur pada saat nyeri, menunjukkan
adanya pankreatitis.
AUSKULTASI
Kegunaan auskultasi ialah untuk mendengarkan suara
peristaltik usus dan bising pembuluh darah. Dilakukan selama 2-3
menit.
- Mendengarkan suara peristaltik usus.
Diafragma stetoskop diletakkan pada dinding abdomen, lalu
dipindahkan ke seluruh bagian abdomen. Suara peristaltik usus
terjadi akibat adanya gerakan cairan dan udara dalam usus.
Bila terdapat obstruksi usus, peristaltik meningkat disertai rasa
sakit (borborigmi). Bila obstruksi makin berat, abdomen tampak
membesar dan tegang, peristaltik lebih tinggi seperti dentingan
keping uang logam (metallic-sound).
Bila terjadi peritonitis, peristaltik usus akan melemah,
frekuensinya lambat, bahkan sampai hilang.
- Mendengarkan suara pembuluh darah.
Bising dapat terdengar pada fase sistolik dan diastolik, atau
kedua fase. Misalnya pada aneurisma aorta, terdengar bising
sistolik (systolic bruit). Pada hipertensi portal, terdengar adanya
bising vena (venous hum) di daerah epigastrium.

25
PERKUSI
Perkusi berguna untuk mendapatkan orientasi keadaan
abdomen secara keseluruhan, menentukan adanya jumlah gas yang
jumlahnya tidak normal dalam rongga perut (hipertimpani) atau gas
yang terdapat pada tempat yang tidak normal, menentukan besarnya
hati, limpa, adanya massa padat (organ atau pembengkakan) atau
massa berisi cairan (kista). Dalam pemeriksaan perkusi dapat juga
menilai cairan bebas yang terdapat dalam rongga peritoneal, hanya
cairan yang jumlahnya besar saja yang dapat menimbulkan suara
redup pada pemeriksaan ketuk,eksudasi hampir tidak pernah
menibulkan redup pada pemeriksaan ketuk.
PALPASI
Beberapa hal-hal yang harus diperhatikan untuk melakukan
palpasi, yaitu:
- Pasien diusahakan tenang dan santai dalam posisi berbaring
terlentang. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan tidak buru-buru.
- Palpasi dilakukan dengan menggunakan palmar jari dan telapak
tangan. Sedangkan untuk menentukan batas tepi organ,
digunakan ujung jari. Diusahakan agar tidak melakukan
penekanan yang mendadak, agar tidak timbul tahanan pada
dinding abdomen dan diusahakan tangan pemeriksa hangat.
- Palpasi dimulai dari daerah superfisial, lalu ke bagian dalam. Bila
ada daerah yang dikeluhkan nyeri, sebaiknya bagian ini
diperiksa paling akhir.
- Bila dinding abdomen tegang, untuk mempermudah palpasi maka
pasien diminta untuk menekuk lututnya. Bedakan spasme
volunteer & spasme sejati; dengan menekan daerah muskulus
rectus, minta pasien menarik napas dalam, jika muskulus rectus

26
relaksasi, maka itu adalah spasme volunteer. Namun jika otot
kaku tegang selama siklus pernapasan, itu adalah spasme
sejati.
Yang kita dapatkan dalam pemeriksaan palpasi ini
adalah :
a. Keteganggan dinding perut
Menggembungnya serta ketegangan umum yang terjadi
pada dinding perut penderita dapat memberi kesan
kepada kita tentang pertambahan volume isi perut.
b. Perlawanan otot aktif dan pasif (defence muscular)
Defense muscular umumnya merupakan ketegangna
otot dinding perut yang terjadi diluar kemampuan
penderita dan ketegangan yang terjadi juga tidak dapat
ditekan. Pada umumnya perlawana oto aktif ini tidak
mengenai seluruh perut, sehingga kita dapat melihat
adanya perbedaan ketegangan otot dinding perut
tersebut. Defense ini akan timbul kalau peritoneum
parietal langsung mendapat rangsangan. Jadi defense
hanya dapat kita temukan pada tempat dimana
peritoneum parietal mendapat rangsangan, oleh karena
itu defense ini sering bersifat lokal, paling tidak pada
permulaan.
c. Nyeri tekan dan nyeri lepas tekan
Pemeriksaan ini tidak boleh dilakukan dengan tekanan
yang kuat. Nyeri tekan lokal atau nyeri tekan lepas lokal
yang dapat ditimbulakn kembali merupakan petunjuk
adanya peritonitis lokal, sedang perasaan nyeri difus
menunjukkan bahwa adanya rangssangan peritoneum
difus.

27
d. Fenomen klapotase
Dengan tangan datar di kedua sisi rongga perut
diguncang bergantian beberapa kali. Bila terdengar
suara kecipak cairan, ini menunjukkan adanya cairan
dan udara di dalam suatu rongga. Gejala ini dapat
ditemukan pada silatasi lambung.
e. Palpasi hati.
Palpasi dilakukan bimanual oleh pemeriksa yang duduk
atau berdiri di sebelah kanan penderita pada kuadran
kanan atas. Dilakukan palpasi dari bawah ke atas pada
garis pertengahan antara mid-line & SIAS. Bila perlu
pasien diminta untuk menarik napas dalam, sehingga
hati dapat teraba. Pembesaran hati dinyatakan dengan
berapa sentimeter di bawah lengkung costa dan berapa
sentimeter di bawah prosesus xiphoideus
f. Palpasi limpa
Limpa yang normal letaknya jauh di belakang sehingga
tidak dapat diraba. Limpa yang dapat diraba yaitu limpa
yang membesar.
g. Palpasi ginjal
Palpasi ginjal atau sering disebut juga pemeriksaan
balotemen dilakukan bimanual dalam sikap penderita
terlentang dengan satu tangan diletakkan dipinggang di
daerah ginjal kanan yang dibatasi oleh iga XII,Krista
iliaka, dan otot panjang punggung (erector trunk). Ujung
jari tangn ini ditekankan tepat di lateral otot tersebut dan
mendorong ke arah ventral. Tangan yang lain diletakkan
di dinding perut pada daerah paramedian dan dengna
tetap diam meraba isi erut di bawahnya tangan di

28
sebelah dorsal. Dengan tekanan yang makain kuat dari
tangan yang di dorsal dicoba meraba ginjal.
h. Undulasi
Undulasi adalah gerakan yang menyerupai gerakan
gelombang, yang dapat kita timbulkan kalau dalam
rongga perut terdapat banyak cairan bebas.
Setiap ada perabaan massa, dicari ukuran/ besar, bentuk,
lokasi, konsistensi, tepi, batas, permukaan, mobilitas, nyeri spontan/
tekan, dan warna kulit di atasnya. Sebaiknya digambarkan
skematisnya.

d. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin untuk menunjang diagnosis
tumor ganas tidak banyak artinya, tetapi penting dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui keadaan pasien apakah ada penyulit kanker
atau penyakit sekunder, dan juga untuk persiapan terapi yang akan
dilakukan baik itu tindakan bedah maupun tindakan medik. Beberapa
pemeriksaan yang perIu dilakukan, antara lain:
- Darah lengkap
- Faal hemostatik
- Urin lengkap
- Protein serum
- Tes fungsi hati
- Alkali fosfatase
- Tes fungsi ginjal
- Elektrolit serum
- Gula darah
- LDH

29
- Tromboplastin parsial (PTT)
- Billirubin total
- Serum Igm
e. Pencitraan
- Radiografi polos atau radiografi tanpa kontras
- Radiografi dengan kontras, contoh: Foto Upper Gr, bronkografi,
Colon in loop, kistografi.
- USG (Ultrasonografi)
- CT-scan (Computerized Tomography Scanning).
- MRI (Magnetic Resonance Imaging).
- Scinfigrafi atau sidikan Radioisotop.
- RIA (Radio Immuno Assay), untuk mengetahui petanda tumor
(tumor marker).
f. Tumor marker
Penanda tumor (PT) atau tumor marker ialah molekul protein
berupa enzim, hormon, dll yang dalam keadaan normal tidak atau
sedikit sekali diproduksi oleh sel tubuh. PT merupakan salah satu
penunjang pemeriksaan kanker tertentu, baik untuk screening,
menegakkan diagnosis, prognosis, pemantauan hasil pengobatan dan
juga deteksi kekambuhan. Untuk tujuan screening, diagnosis, maupun
untuk menilai hasil pengobatan, maka harus dipilih penanda tumor
yang memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi. Tetapi perlu
diingat bahwa hingga saat ini belum ditemukan PT tunggal yang
memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi. Pemeriksaan
kombinasi PT berupa panel pemeriksaan tertentu, untuk jenis tumor
tertentu, dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas diagnostik.
Beberapa tes yang dipakai adalah CEA (Carcinoma Embryonic

30
Antigen ), NSE (Neuron-spesific enolase), Cyfta 21-1 (Cytokeratin
fragments 19).

g. Terapi
Terapi bedah pada kanker dimaksudkan untuh menyembuhkan
(kuratif) atau meringankan penderitaan si sakit (paliatif).
Terapi khusus
a. Pembedahan
i) Operasi primer
Sekitar 75-80% dari seluruh penderita kanker yang
mungkin sembuh, harus ditangani secara bedah untuk
mengeluarkan seluruh kanker.bedah kuratif merupakan
terpai lokoregional. Penderita dapat sembuh bila kanker
masih terbatas pada organ tempat tumbuhnya tumor primer
(lokal) dan pada kelenjar linfe yang menyalir daerah atau
organ itu (regional).

ii) Pembedahan paliatif


Dilakukan untuk memoeringan atau menghilangkan
keluhan sehingga diharapkan meningkatkan mutu hidup
penderita.
iii) Pembedahan sekunder
Apabila terjadi kekambuhan setempat di daerah operasi
primer, dipertimbangkan untuk melakukan eksisi tumor
residif itu.
iv) Pembedahan diagnostik

31
Pembedahan diagnostik atau sering disebut biopsi
bertujuan memperoleh sediaan jaringan yang cukup untuk
melakukan diagnostik histologik lengkap. Saat pembedahan
dibuat sediaan beku agar segera diperoleh keterangan
tentang jinak atau ganasnya tumor untuk merencanakan
tindakan selanjutnya.
b. Radioterapi
Pada radioterapi digunakan radiasi ionisasi, yaitu penyinaran
yang menyebabkan ionisasi pada sasaran sehingga mengganggu
sel-sel yang berada dalam salah satu fase pembiakan sel.
c. Terapi sistemik
i) Kemoterapi
Kemoterapi yaitu membunuh sel kanker. Setelah
penggunaan setengah abad, kemoterapi dapat
menyembuhkan kira-kira 5% penderita kanker. Kemoterap
sering diberikan bersama dengan pengobatan bedah dan
radioterapi. Terapi adjuvan ini dimaksudkan untuk
mencegah, atau sekurang-kurangnya menunda,
kekambuhan tumor setelah pembedahan atau radioterapi
kuratif.

ii) Terapi hormonal


Sejak seratus tahun sudah diketahui bahwa penggunaan
sediaan hormon dapat mempengaruhi beberapa jenis
keganasan. Respon terhadap terapi hormonal menghasilkan
remisi parsial untuk waktu yang tidak tertentu. Keuntungan
pengobatan dengan sediaan anti hormon ialah obat ini tidak
disertai efek samping yang terlalu mengganggu.

32
h. Biopsi
sering diperlukan untuk menentukan apakah suatu tumor perut jinak
atau ganas.

i. Pencegahan
Pencegahan dilalukan berdasarkan fakta epidemologi terutama factor
penyebab yaitu dengan memberikan penyuluhan kepeda masyarakat
maupun perorangan.
1. Pencegahan primer dimaksudkan untuk menghilangkan factor
penyebab masalah yang nyata. Dalam gaya hidup adalah kebiasaan
merokok sehingga yang penting sekali ialah mencegah remaja mulai
merokok dan mencegah adanya perokok pasif, masalah kelebihan
makanan, pajangan sinar ultra violt dan rotgen.
2. Pencegahan sekunder merupakan panapisan pada kelompok
tertentu yang berisiko tinggi terhadap keganasan tersebut.
Penapisan ini bertitik tolak pada anggapan bahwa jika diagnosa
ditegakkan dan terapi langsung diberikan, maka hasil penanganan lebih
baik ketimbang hasil pengobatan pada tingkat penyakit yang telah
menyebabkan seseorang mencari pengobatan.

III.3 Klasifikasi Tumor Intraabdomen


Tumor intra abdomen bisa di klasifikasikan menjadi tumor
intraperitoneal dan retroperitoneal.

1. Tumor Intraperitoneal
Tumor intraperitoneal adalah tumor yang letaknya berada pada
intraperitoneal. Biasanya tumor ini berasal dari organ-organ di dalam
peritoneum seperti lambung, hepar, Jejenum, ileum, Colon transversum,
colon sigmoideum, Processus vermiformis dan sebagainya.
Beberapa diantranya tumor intraperitoneum yang sering di temukan adalah:

33
a. Tumor Usus Halus

Tumor usus halus adalah tumor yang mengenai organ usus halus atau
usus kecil yaitu duodenum, jejunum dan ileum.
Kanker usus kecil tergolong kanker yang sangat langka dan
diperkirakan hanya terjadi sekitar 2% dari kanker gastrointestinal (kanker
pencernaan). Usus halus berfungsi menerima makanan dari lambung dan
menyerap vitamin, mineral dan nutrisi untuk kebutuhan tubuh. Usus halus
memiliki panjang sekitar 15 kaki. Usus halus terdiri atas 3 bagian yaitu,
duodenum, jejunum dan ileum sehingga kanker pada usus halus dapat di
bagi menjadi atas 3 yaitu kanker duodenum, kanker jejunum dan kanker
ileum. Penyebab kanker usus halus hingga kini belum diketahui secara pasti,
namun terdapat beberapa faktor resiko (pemicu) yang dapat munculnya
kanker usus, seperti penyakit crohn (crohn desease), terpapar radiasi,
sindrom kanker herediter gastrointestinal (GI).
Tumor jinak pada usus halus meliputi lipoma (sel-sel lemak),
neurofibroma (sel-sel saraf), fibroma (jaringan ikat), leiomioma (sel-sel otot).
Kebanyakan tumor jinak tidak menyebabkan gejala. Tetapi tumor yang
berukuran besar bisa menyebabkan terdapatnya darah salam tinja,
penyumbatan usus (sebagian atau total), atau penjeratan usus bila satu
bagian usus masuk ke usus yang berada di depannya (intususepsi).
Bisa dilakukan pemeriksaan endoskopi untuk mengamati tumor dan
mengambil contoh untuk pemeriksaan mikroskopik. Foto rontgen barium
dapat menunjukkan seluruh usus halus dan bisa digunakan untuk
menggambarkan keadaan tumor. Arteriografi (foto rontgen yang diambil
setelah zat warna disuntikkan ke dalam pembuluh darah) bisa dilakukan pada
pembuluh darah usus, terutama bila tumornya berdarah. Teknetium radioaktif
bisa disuntikkan ke dalam pembuluh darah dan dilihat hasilnya pada foto
rontgen. Prosedur ini membantu menentukan lokasi dari tumor yang

34
berdarah. Perdarahan kemudian dikoreksi dengan pembedahan.
Pertumbuhan kecil bisa dihancurkan melalui endoskopi dengan elektrokauter,
panas atau fototerapi laser. Untuk pertumbuhan yang besar, mungkin perlu
dilakukan pembedahan.
Tumor ganas usus meliputi carcinoma, carcinoid (Argentaffinoma),
limfoma (umunya lymphosarcoma). Karsinoma pada usus halus jarang
terjadi, tetapi lebih sering terjadi pada penderita penyakit Crohn di usus
halus. Limfoma, kanker yang terjadi pada sistem getah bening, bisa tumbuh
pada bagian tengah usus halus (jejunum) atau bagian bawah usus halus
(ileum). Limfoma bisa menyebabkan bagian usus menjadi kaku dan
memanjang. Usus halus, terutama ileum, adalah bagian yang paling sering
terkena tumor karsinoid. Tumor bisa menyebabkan penyumbatan dan
perdarahan ke dalam usus, yang bisa menimbulkan gejala berupa darah
dalam tinja, nyeri kram perut, perut menggelembung dan muntah. Tumor
karsinoid bisa mengeluarkan hormon yang menyebabkan diare dan
kemerahan di kulit.
Diagnosis kanker usus halus dibuat berdasarkan hasil foto rontgen
barium, endoskopi atau pembedahan eksplorasi. Pengobatan terbaik adalah
pengangkatan tumor.

b. Adenokarsinoma Lambung
Adenokarsinoma merupakan tumor ganas kelenjar pada
gaster.tumor ganas ini biasanya terletak pada antrum di lapisan
membran mukosa gaster,yang semakin lama apabila dalam tahap
lanjut bisa infiltrasi sampai lapisan serosa gaster.
Adenokarsinoma merupakan tumor ganas lambung terbanyak (90-
99%) dan mempunyai angka mortalitas 866.000 orang setiap
tahun.jarang ditemukan pada usia di bawah 40 tahun,risiko meningkat

35
dengan meningkatnya umur.insidens tertinggi pada dekade ke-6 dan
lelaki umumnya lebih banyak terserang dibanding perempuan.
Untuk penyebab dari terjadinya adenokarsinoma lambung belum
diketahui namun ada beberapa faktor yang dipercaya sebagai
pencetus untuk terjadinya adenokarsinoma.yaitu,diit rendah
serat,makanan terlalu asin,pedas atau asam,alkohol,ulkus
pepticum,anemia pernisiosa dan golongan darah semua faktor
tersebut dipercaya dapat merusak mukosa perut,sehingga terjadi
proses inflamasi.yang pada akhirnya akan membuat peningkatan
terhadap sintesis DNA dan proliferasi sel
Adenokarsinoma gaster mempunya multifaktorial, yaitu makanan,
infeksi Helicobacter pylori, gastrektomi sebelumnya, anemia
pernisiosa, polip adenomatous, atrophic gastritis kronik, dan paparan
radiasi.
Secara patologi, terdapat tiga bentuk umum. Karsinoma ulseratif
merupakan jenis yang paling sering didapat dan harus dibedakan dari
tukak lambung jinak. Karsinoma polipoid tampak seperti kebang kol
yang menonjol ke dalam lumen dan dapat berasal dari polip adenoma.
Karsinoma infiltratif dapat menembus seluruh tebal dinding dan dapat
menyebabkan terbentuknya ”lambung botol kulit” (linitis plastika) yang
tidak lentur.
Tumor ini jarang didiagnosis pada stadium dini karena gejal timbul
lambat, tidak nyata dan tidak pasti. Gejala yang dapat ditemukan
berupa perasaann sedikit tidak enak pada abdomen bagian atas atau
perasaan penuh setelah makan, nyeri epigastrium, muntah, keluhan
pencernaan, anoreksia,keluhan umum, disfagia, nausea, kelemahan,
sendawa, hematemesis, regurgitasi, dan berat badan menurun.
Diagnostik dapat dilihat dari pemeriksaan fisis ditemukan berat badan
menurun dan anemia.daerah peigastrium mungkin ditemukan massa

36
apabila terjadi metastasis ke hati,teraba hati ireguler,terkadang teraba
kelenjar limfe servikal. Gastroskopi dan biopsi dengan biopsi
ditemukan 94% pasien dengan tumor ganas gaster sedangkan dengan
sitologi lavase hanya didapatkan 50%. Endoskopi ultrasound dengan
alat ini dapat melihat penjalaran tumor per lapis,seperti sub
mukosa,muskularis mukosa dan sub serosa. Sitologi, pemeriksaan
Papanicolaou dari cairan lambung dapat memastikan tumor ganas
lambung dengan hasil 80-90%. Pemeriksaan darah pada tinja sering
didapatkan perdarahan dalam tinja (occult blood),untuk itu perlu
dilakukan pemeriksaan tes Benzidin.

c. Tumor Ganas Hati


Karsinoma hepatoselular merupakan tumor ganas hati primer yang
berasal dari hepatosit, demikian pula dengan karsinoma fibroamelar
dan hepatoblastoma. Tumor ganas hati lebih banyak didapat daripada
tumor jinak. (Jong. 2004)
Karsinoma hepatoseluler banyak didapat di Afrika, Asia Timur, dan
Asia Tenggara. Frekuensi karsinoma hepatoseluler ini bergantung
pada faktor sosio-ekonomi dan lebih banyak pada laki daripada
perempuan dengan perbandingan 3:1.
Sirosis hati dan infeksi hepatitis B dan C berperan penting terhadap
terjadinya karsinoma hepatoseluler. Infeksi akut hepatitis B dan C
dapat menjadi kronik dan kemudian berkembang menjadi sirosis.
Hepatitis kronik dan sirosis merupakan faktor onkogenik bagi sel hati
sehingga dapat berubah menjadi ganas.
Sirosis yang tidak disebabkan oleh hepatitis B dan C juga dapat
menyebabkan karsinoma hepatoseluler. Kira-kira 4% sirosis berubah
menjadi ganas. Pada 60-90% penderita karsinoma hepatoseluler
didapat tanda sirosis hati.

37
Aflatoksin merupakan bahan karsinogenik yang poten. Makanan
seperti oncom, kacang kedelai, beras, gandum dan jagung mudah
ditumbuhi jamur Aspergillus flavus dan Aspergillus fumigatus yaitu
jamur yang mempunyai kandungan aflatoksin. Kadar aflatoksin yang
tinggi juga terdapat pada jamu tradisional yang disimpan terlalu lama.
Tumor ganas di hati ini berasal dari sel parenkim atau epitel
saluran empedu. Yang pertama dikenal sebagai hepatoma dan
merupakan 90% keganasan hati primer. Sekitar 75 % penderita
hepatoma mengalami sirosis hati, khususnya jenis alkoholik dan post
nekrotik. Pedoman diagnostik yang penting adalah terjadinya
kerusakan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya pada
penderita sirosis hati dan disertai pembesaran hati mendadak.
Gambaran umum karsinoma hepatoseluler dapat berupa nyeri
yang hebat dengan atau tanpa hepatomegali, perubahan yang
mendadak pada penderita sirosis berupa kegagalan faal hati,
perdarahan varises, asites yang hemoragis, perdarahan intraperitoneal
mendadak tanpa trauma, sakit mendadak dengan panas dan nyeri
perut, dan metastasis jauh di tempat lain dengan atau tanpa gejala
klinis.
Pada umumnya tampak benjolan pada perut bagian atas. Sring kali
terasa nyeri pada benjolan tersebut yang sifatnya terus-menerus,
menembus ke belakang atau ke daerah bahu. Nyeri meningkat apabila
penderita bernapas dalam karena rangsangan peritoneum pada
permukaan benjolan.berat badan cepat menurun.. kadang terdapat
asites atau perdarahan saluran cerna bagian atas karena varises
esofagus. Keadaan ini biasanya menunjukkan asinoma hepatoseluler
stadium lanjut.
Oleh karena karsinoma hepatoseluler sering berhubungan dengan
sirosis, sehingga dapat juga ditemukan gejala sirosis misalnya spider

38
nevi, splenomegali, eritema palmaris, dan ginekomastia. Pada
keadaan lebih lanjut dapat terjadi ikterus
Biasanya didapatkan pembesaran hati yang berbenjol, keras
kadang nyeri tekan. Palpasi menunjukkan adanya gesekan permukaan
peritoneum viseral yang kasar akibat rangsang dan infiltrasi tumor ke
permukaan hepar dengan dinding perut. Gesekan ini dapat juga
didengar melalui stetoskop. Pada auskultasi di atas benjoaln kadang
ditemukan suara ising aliran darah karena hipervaskularisasi tumor.
Gejala ini merupakan fase lanjut karsinoma hepatoseluler.
Diagnosa banding yaitu abses, hematoma, kista hati.

d. Tumor ganas saluran empedu


Insiden tumor ganas primer saluran empedu pada penderita
dengan kolelitiasis dan tanpa kolelitiasis,pada penderita laki atau
perempuan, tidak ada perbedaan. Umur kejadian rata-rata 60 tahun,
tetapi tidak jarang didapat pada usia muda.
Sebagian besar kanker berasal dari bagian kepala pankreas, yang
dilewati oleh saluran empedu. Yang lebih jarang, kanker berasal dari
saluran empedu sendiri, yaitu :
- pada pertemuan antara saluran empedu dan saluran pankreas
- di dalam kandung empedu
- di hati
Yang lebih jarang lagi, saluran empedu tersumbat oleh kanker yang
berasal dari bagian tubuh lainnya (metastatic cancer) atau tertekan
oleh kelenjar getah bening yang terkena limfoma.
Keluhan utama adalah ikterus obstruktif yang progresif secra
lambat disertai pruritus. Biasanya tidak ditemukan tanda kolangitis,
seperti febris menggigil dan kolik bilier, kecuali perasaan tidak enak di

39
perut kuadran kanan atas, selebihnya penderita merasa baik-baik saja.
Anoreksia dan penurunan berat badan terjadi lambat laun.
Gejala klinis yang menonjol adalah ikterus. Bila tumor mengenai
duktus koledokus, terjadi distensi kandung empedu sehingga mudah
diraba,sementara tumornya sendiri tidak pernah dapat diraba.
Kandung empedu yang diraba di bawah iga pun tidak nyeri dan
penderita tampak ikterus karena obstruksi. Kumpulan gejala tersebut
disebut trias atau hukum Courvuosier.
Diagnosis bandingnya pada tumor ini, ikterus obstruksi akibat batu
saluran empedu, sriktur, kolangitis sklerotikans, tumor jinak, tumor
periampula, tumor kaput pankreas, dan tumor metastasis di hati.

e. Tumor ganas kandung empedu


Tumor ganas primer kandung empedu adalah jenis
adenokarsinoma dengan penyebaran invasif langsung ke dalam hati
dan porta hati.
Tumor ini jarang ditemukan dan biasa pada usia lanjut.
Kebanyakan berhubungan dengan batu kandung empedu. Risiko
timbul keganasan sesuai dengan lamanya menderita batu kandung
empedu.
Etiologi antara lain riwayat penyakit keluarga dengan fibrosis
kongenital, parasit:, batu empedu dan hepatolitiasis, sklerosis
kolangitis primer, kolitis ulseratif, zat-zat beracun, obat-obatan.
Keluhan utama biasanya ditentukan oleh kolesistolitiasis. Sering
ditemukan nyeri menetap di perut kuadran kanan atas,mirip kolik bilier.
Apabila terjadi obstruksi duktus sistikus akan timbul kolesistitis akut.
Gejala lain yang dapat terjadi adalah ikterus obstruksi dan kolangitis
akibat invasi tumor ke duktus koledokus.

40
Pada pemeriksaan fisik, dapat diraba massa di daerah kandung
empedu. Massa ini tidak akan disangka tumor apabila disertai tanda
kolesistis akut.
Apabila gejalanya hanya kolangitis dan kandung empedu teraba
membesar, harus dicurigai kemungkinan keganasan kandung empedu
karena keadaan ini tidak biasa ditemukan pada koledokolitiasis.

2. Tumor Retroperitoneal
a. Tumor retroperitoneal
Tumor primer retroperitoneum berasal terutama dari jaringan ikat
longgar, lemak, fasia, otot, saraf somatis atau otonom, jaringan
vaskuler, dan pembuluh darah atau kelenjar limfe. Tumor jinak, antara
lain lipoma, limfangioma, fibroma, leiomyoma, hemangioma, desmoid,
dan feokromositoma, yaitu tumor kromafin dari sumsum adrenal yang
diwarnai gelap.
Tumor ganas retroperitoneal yang lebih sering ditemukan adalah
limfoma malignum, liposarkoma, dan fibrosarkoma.
Ditemukannya massa tumor retroperitoneal, kadang balotement
positif, di rongga abdomen. Bentuk dan konsistensinya tergantung dari
jenis tumor.
Gejala dan tanda dini pada tumor ini tidak ada, tumor ini jarang
menimbulkan keluhan. Keluhan utama yang biasa dirasakan adalah
pembesaran perut disertai perasaan penuh dengan atau tanpa nyeri
jelas. Selanjutnya dapat timbul gejala akibat pendorongan atau
penekanan tumor besar pada organ-organ retropreritoneal, seperti
mual, muntah, perubahan kebiasaan buang air besar apabila
penekanan pada saluran cerna. Hematuria, disuria, polakisuria, oliguri
dan anuri terjadi karena penekanan pada saluran kemih. Nyeri

41
menjalar pada ke kedua paha menunjukkan adanya penekanan pada
urat saraf lumbal dan sakral. Udem dan varises pada tungkai bawah
dapat terjadi karena penekanan pada pembuluh limfe atau vena.
Penderita mungkin sesak napas karena letak tinggi diafragma.
Semuanya akhirnya diikuti dengan hilangnya nafsu makan dan
penurunan berat badan.

b. Tumor pankreas
Ada tendensi insidens tumor pankreas ganas meningkat di AS dan
Eropa. Di Indonesia, karsinoma pankreas tidak jarang ditemukan dan
merupakan tumor ganas ketiga terbanyak pada pria setelah tumor
paru dan tumor kolon. Insidens tertinggi pada usia 50-60 tahun
Faktor risiko yaitu merokok berat, diet daging terutama daging
goreng,diabetes melitus dan pernah gastrektomi dalam kurun waktu
20 terakhir.
Sekitar 10% pasien kanker pankreas mempunayi predisposisi
genetik yang diturunkan
Penyebab sebenarnya masih belum jelas. Penelitian epidemiologik
menunjukkan adanya hubungan kanker pankreas dengan beberapa
faktor eksogen dan endogen pasien. Faktor eksogen yaitu kebiasaan
merokok, diet daging terutama daging goreng, lemak, alkohol, kopi,
diabetes melitus dan pernah gastrektomi dalam kurun waktu 20
terakhir. Faktor endogen yaitu usia, penyakit pankreas dan mutasi
genetik. Pada masa kini, faktor genetik juga makin berperan banyak.
Risiko kanker pankreas meningkat 2 kali pada pasien dengan riwayat
hubungan keluarga tingkat pertama.
Gejala awal kanker pankreas tidak spesifik dan samar, sehingga
sering terlambat terdiagnosis. Gejala awal dapat berupa rasa penuh,
kembung di ulu hati, anoreksia, mual, muntah , diare, dan badan lesu.

42
Keluhan awal biasanya berlangsung lebih dari 2 bulan sebelum
diagnosis kanker. Keluhan utama pasien kanker pankreas yang
peliang sering dijumpai adalah sakit perut, berat badan turun (75%)
dan ikterus, dan ini mencolok apada stadium lanjut. Jumlah, macam
dan kualitas keluhan pasien tergantung pada letak, besar, dan
penjalaran kanker pankreas.
Sakit perut : hampir 90% mengeluh sakit perut, lokasi sakit perut
biasanya pada ulu hati, awalnya difus, selanjutnya lebih terlokalisir.
Sakit perut biasanya disebabkan invasi tumor pada pleksus coeliac
dan pleksus mesenterik superior. Rasa sakit dapat menjalar ke
belakang pada punggung, disebabkan invasi tumor ke retroperitoneal
dan terjadi infiltrasi pada pleksus saraf splanknikus. Sakit perut berat
menunjukkan ke stadium lanjut dan sudah tidak dapat direseksi.
Berat badan turun : penurunan berat badan secara bertahap. Yang
disebabkan berbagai faktor antar lain : asupan makanan kurang,
malabsorbsi lemak dan protein, peningkatan kadar sitokin pro
inflamasi(tumor necrosis factor a dan interleukin 6)

Ikterus obstruktif : karena obstruksi saluran empedu oleh tumor


dijumpai pada 80-90% kanker caput pankreas dan sering terjadi lebih
awal. Ikterus dapat juga terjadi pada kanker di badan dan ekor
pankreas stadium lanjut., akibat metastasis di hati atau limfonodi di
hilus yang menekan saluran empedu. Ikterus pada kaput pankreas
biasanya disertai dengan sakit perut, tetapi buka kolik.
Diagnosis banding antara lain penyebaran karsinoma pankreas,
penyebaran limfe pertama adalah ke kelenjar limf di sekitar pankreas,
di sisi kranial, kaudal dan retroperitoneal. Kemudian ke kelenjar
paraduodenal, sekitar trunkus seliakus, kurvatura ventrikulus minor
dan mayor, dan ke kelenjar di hilus limpa.

43
c. Kanker ginjal
Kanker pada ginjal yang paling sering terjadi adalah tumor wilms
dan renal cell carcinoma(Hipernefroma).
Hipernefroma (bahasa Inggris: Renal cell carcinoma, RCC,
hypernephroma) adalah bentuk kanker yang muncul dari bagian ginjal
yang disebut tubulus renal proksimal. Jenis paling umum kanker ginjal
pada dewasa, bertanggungjawab atas sekitar 80% kasus yang
muncul. Perawatan awal adalah melalui nefrektomi radikal atau parsial
dan didukung oleh perawatan yang membantu. Ketika tumor ini
terbatas pada parenkima renal, kemungkinan selamat 5 tahun adalah
60-70%, tapi ini dianggap rendah dimana metastase menyebar. Tahan
terhadap terapi radiasi dan kemoterapi, meskipun sejumlah kasus
merespon pada imunoterapi. Terapi kanker seperti sunitinib,
temsirolimus, bevacizumab, interferon-alpha, dan mungkin sorafenib
telah membuktikan pencegahan RCC, meskipun buktinya belum
didemonstrasikan.
Tumor Wilms adalah tumor ganas embrional ginjal yang berasal
dari metanefros. Nama lain tumor ini adalah nefroblastoma atau
embrioma renal. Tumor wilms merupakan tumor ganas ginjal yang
terbanyak pada bayi dan anak. Sekitar 80% tumor ini terjadi pada anak
di bawah 6 tahun, dengan puncak insidens pada umur 2-4 tahun.
Tumor Wilms dapat juga dijumpai pada neonatus. Tumor Wilms
terhitung 6% dari seluruh penyakit keganasan pada anak. Insiden
penyakit ini hampir sama di setiap negara, karena tidak ada
perbedaan ras, iklim dan lingkungan, yaitu diperkirakan 8 per 1 juta
anak di bawah umur 15 tahun. Perbandingan insiden laki-laki dan
perempuan hampir sama. Lokasi tumor biasanya unilateral, lebih
sering di sebelah kiri, bisa juga bilateral (sekitar 5%). Tumor Wilms
berasal dari proliferasi patologik blastema metanefron akibat tidak

44
adanya stimulasi yang normal dari duktus metanefron untuk
menghasilkan tubuli dan glomeruli yang berdiferensiasi baik.

III.4 Carcinomatosis Peritoneal

carcinomatosis peritoneal adalah fitur terminal yang paling umum dari


kanker perut merupakan suatu penjalaran tumor dari tempat lain di dalam
intraperitoneum. Untuk ahli bedah gastrointestinal dan ahli onkologi medis,
carcinoma peritoneal adalah kondisi yang buruk. Meskipun penyakit ini
terbatas pada permukaan peritoneal, operasi pengangkatan lengkap
(debulking) dan kemoterapi sistemik mustahil tidak berdaya. Terapi dan
perawatan lebih lanjut setelah pembedahan sangat di anjurkan pada pasien
dengan peritoneal carcinomatosis.

III. 5 Mesenterika Tumor

Tumor mesenterika adalah lesi yang umumnya jarang ditemukan. Lesi


ini dapat kistik atau padat, dan sifat tumor ini bisa ganas atau jinak.

This small, well-circumscribed lesion of the small bowel mesentery


caused no symptoms and was incidentally discovered at operation.

45
Tumor ini telah dilakukan sepanjang abad ke-20, pada tahun 1936, Hart
memberikan gambaran yang jelas awal tumor mesenterika padat. Seperti
pengalaman ini terakumulasi dalam mengobati lesi, gambaran yang lebih
lengkap tentang berbagai jenis penyakit yang bermanifestasi sebagai massa
mesenterika telah muncul.
Meskipun jarang, tumor mesenterika ditemui pada semua kelompok
umur dari bayi sampai yang sangat tua. Tumor ini harus dianggap sebagai
massa perut yang teraba, tetapi biasanya diagnosa baru bisa di tegakkan
dengan melakukan pembedahan. Kesadaran peningkatan proses neoplastik
dan nonneoplastic yang menghasilkan massa mesenterika membantu klinis
dalam mengenali penyakit ini.
Tumor padat mesentery jarang terjadi. Berdasarkan laporan
ditampilkan memiliki terdiri dari sejumlah kecil kasus yang membuatnya sulit
untuk menentukan kejadian jenis tumor tertentu. Wajar perkiraan rentang
kejadian dari 1 kasus per 200,000-350,000 penduduk. Tumor mesenterika
telah digambarkan sebagai kistik dalam 40-60% kasus.
Banyak laporan anekdotal dari lipoma mesenterika pada orang
dewasa dan anak-anak telah muncul selama bertahun-tahun, menunjukkan
bahwa mungkin ini mewakili paling sering ditemui gejala-menyebabkan tumor
padat asal mesenterika primer.
Tumor ganas mesenterika primer sangat jarang, bahkan jika
dibandingkan dengan keganasan utama dari usus kecil. Diterbitkan laporan
menunjukkan bahwa sepertiga sampai setengah dari semua massa
mesenterika adalah tumor ganas. Seri kasus terbesar telah dari Perancis dan
Cina.
Laporan-laporan ini menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga dari tumor
ganas adalah mesenchymatous mesenterika (paling dicirikan sebagai
leiomyosarcoma atau liposarcoma), sedangkan sisanya terutama limfoma.

46
1. Anatomi
Mesenterium dari saluran pencernaan terdiri dari struktur, fibrofatty,
arteri, vena, limfatik, dan saraf mengalir ke dan dari usus. Mesenterium usus
kecil dan bagian dari mesenterium usus besar yang bergerak di dalam
rongga peritoneal. Para polip dari usus besar turun naik menjadi tetap
terhadap retroperitoneum selama perkembangan janin normal. Sebagian
besar tumor mesenterika dilaporkan berasal dari mesenterium usus kecil atau
omentum.

2. Etiologi
Tidak ada etiologi yang diketahui atau penyakit terkait telah dilaporkan
dalam kasus neoplasma mesenterika primer. Limfadenopati reaktif dalam
mesenterium mungkin merupakan manifestasi dari sistemik, merupkan
penyakit yang sering menular.

3. Gejala klinis
Temuan klinis dan gejala yang berhubungan dengan tumor
mesenterika dari semua jenis berhubungan dengan adanya lesi massa.
Karena massa tidak melibatkan bagian tubular dari saluran GI. Gejala
obstruktif umumnya merupakan temuan klinis yang terlambat dari tumor
ganas mesenterika dan tumor jinak yang besar.
Nyeri adalah manifestasi utama massa mesenterika pada orang
dewasa dan anak-anak. Nyeri visceral mungkin berhubungan dengan efek
massa dalam peritoneum atau traksi pada mesentery. Hal ini membuat
pasien nyeri dan tidak nyaman dalam perut. Massa yang berbenjol juga dapat
dilihat, meskipun secara umum bukan tanpa rasa sakit perut. Gejala obstruksi
usus seperti mual, muntah, diare, kembung, dan sembelit merupakan gejala
yang dapat ditemukan pada tumor mesenterika tumor jinak maupun ganas.

47
4. Tumor jinak mesenterika
Lesi ini hampir secara eksklusif ditemukan dalam mesenterium dari
usus kecil, walaupun kista dari mesenterium usus juga ditemukan.
Kebanyakan lymphangiomas, tetapi kista peritoneal sederhana dan kista
enterik juga ditemukan, serta mesotelioma mesenterika yang langka
ditemukan dengan ciri komponen kistik menonjol.
lipoblastoma primer mesentery telah dilaporkan pada bayi dan pada anak-
anak setua 12 tahun. Ini tumor jinak dari jaringan lemak janin-embrional
umumnya diakui pada saat massa perut teraba pada pemeriksaan fisik dan
sangat dianjurkan eksisi bedah, meskipun kekambuhan lokal dapat terjadi.
Neoplasma jinak lainnya mesentery yang sangat langka tumor asal saraf
hamartomas, dan tumor stroma ukuran kecil dengan perilaku klinis tidak
agresif.

5. Tumor ganas mesenterika


Jenis tumor ini relatif sedikit terdiri dari sebagian besar penyakit
berbahaya mesenterika. Mesenchymal tumor ganas primer atau stroma dari
mesenterium usus, serta dari omentum yang lebih besar, adalah subset
langka kanker perut yang menyerupai retroperitoneal baik sarkoma atau
tumor stroma gastrointestinal (GISTs) primer ke usus. Stroma tumor
digambarkan dalam computed tomography (CT) scan di bawah ini. Sebagian
besar telah digambarkan sebagai leiomyosarcomas. Miettinen dkk
melaporkan bahwa, dalam sebuah kelompok dari 26 kasus yang dianalisis
oleh Angkatan Bersenjata Institut Patologi, insiden dan tumor mesenterika
omentum kurang lebih sama.

48
Computed tomography (CT) scan of a mesenteric stromal tumor (circled
area). This is an infiltrative lesion surrounding vascular structures
within the proximal jejunal mesentery.

Karakterisasi protein penanda tumor jenis ini telah menunjukkan bahwa


mereka fenotipik sangat mirip dengan grup GIST dan kurang sering fenotipik
terkait dengan leiomyosarcomas retroperitoneal. Tidak adanya tumor usus
terdeteksi primer menandakan asal mesenterika utama lesi.
Pasien dengan tumor menunjukkan tanda-tanda dan gejala mesenterika
obstruksi usus, namun mungkin sebelumya usus telah membesar mungkin
ada sebelum temuan obstruktif yang ditemukan.

49
6. Desmoid tumor mesentery
Tumor desmoid mesenterika jarang terjadi tetapi berpotensi
mengancam kehidupan, komplikasi yang relatif terjadi poliposis adenomatosa
familial (TPI). Tumor ini bidang proliferasi fibroblastik dan progresif dalam
mesenterium yang secara lokal dapat melibatkan struktur pembuluh darah
dan dapat mengerut dan menghambat usus. Meskipun digambarkan sebagai
histologi lesi jinak, pola infiltrasi mereka pertumbuhan akhirnya bisa
menyebabkan mengancam jiwa karena keterlibatan visceral.
Desmoid terjadi secara sporadis tumor lebih banyak daripada yang
diamati pada FAP, walaupun risiko kumulatif perkembangan lesi ini jauh lebih
besar pada pasien dengan TPI. Tumor mesenterika desmoid awalnya
dilaporkan sebagai komponen sindrom Gardner, pola fenotipik FAP yang, di
samping adenomatosa polip usus, juga berhubungan dengan kelainan tulang,
lesi berpigmen fundus okular, dan kista epidermoid kulit dan fibroma.
Meskipun hubungan penyebab dalam pembentukan desmoid belum mapan,
berbagai mutasi gen APC telah diidentifikasi dalam tumor. Tumor Desmoid
lebih sering dikaitkan dengan penyakit-menyebabkan mutasi kodon 1444
distal dari gen APC.
Mesenterika limfoma primer, berbeda dengan limfoma usus primer
kecil, adalah penyakit kelenjar getah bening mesenterika yang mungkin
merupakan suatu proses lokal atau merupakan bagian dari pola penyakit
yang lebih disebarluaskan. Presentasi klinis limfoma mesenterika jauh lebih
banyak dari tumor mesenterika lain, dengan sakit perut dan massa teraba
sebagai temuan utama.
CT scan dapat mengkarakterisasi lesi dari sudut pandang ukuran dan
lokasi mesenterika dan dapat meningkatkan kemungkinan diagnosis limfoma.
The centrocytic folikular histologis centroblastic-jenis limfoma telah terbukti
mendominasi di lokasi mesenterika. Beberapa kasus limfoma mesenterika

50
diamati dalam hubungan dengan trombositopenia dan dermatitis
herpetiformis telah dilaporkan.
Sebagian besar lesi metastasis dari mesentery terdiri dari kelenjar getah
bening mesenterika yang telah menjadi sekunder terlibat dalam proses
neoplastik dari saluran GI. Membedakan pola pertumbuhan tumor dari tumor
mesenterika primer biasanya menyajikan kesulitan karena situs tumor primer
GI biasanya mudah diidentifikasi.
Tumor carcinoid dari usus kecil metastasis ke kelenjar getah bening
mesenterika pada saat diagnosis dalam 40-50% pasien, walaupun hampir
semua tumor tersebut lebih besar dari 2 cm diameter telah terkait keterlibatan
nodal. Dari jumlah tersebut, sebagian kecil mungkin memiliki penyakit jelas
minimal dalam usus besar dan kecil nodal metastasis mesenterika yang
mungkin terdiri dari sebagian besar beban tumor. Selain itu, carcinoids
mesenterika primer telah diuraikan yang telah dianggap timbul de novo pada
jaringan mesenterika, meskipun kebenaran asumsi ini tidak pasti.
Pola penyakit bisa disertai dengan kompresi ekstrinsik dan oklusi suplai
darah arteri mesenterika dan iskemia atau infark segmental dari usus. Luas
tumor keterlibatan karsinoid dari mesenterium usus kecil telah dilaporkan
dalam hubungan dengan gejala pencernaan.

7. Mesenterika lipodistrofi
lipodistrofi mesenterika (panniculitis mesenterika) adalah suatu kondisi
yang jarang ditemukan untuk neoplasma mesenterika berdasarkan klinis,
radiologis, dan karakteristik. Lipodistrofi mesentrika adalah penebalan
mesenterika atau massa yang dapat nodular tumbuh baik fokal atau
menyebar dalam mesenterium usus kecil. Akar mesenterium dan jaringan
sekitar pembuluh mesenterika superior ikut terlibat.
Massa dapat terdiri dari jaringan lemak hipertrofi, jaringan fibrosa
padat, nekrosis lemak, atau kombinasi ini, bersama dengan peradangan

51
kronis nonspesifik yang timbul. Gejalanya adalah nyeri perut, meskipun telah
dilaporkan anekdot berkaitan dengan demam, kalsifikasi mesenterika, dan
kehilangan protein karena enteropati.
Para agen penyebabnya tidak diketahui, meskipun asosiasi dengan
limfoma telah dilaporkan. Data saat ini menunjukkan bahwa kondisi ini
nonprogressive dan tidak berbahaya yang signifikan untuk pasien.
Perawatan tanpa pembedahan (meskipun diagnosis dikonfirmasi pada
biopsi operasi) dan secara umum mendukung. Pada pasien dengan gejala
lebih parah, antimetabolites seperti siklofosfamid telah dikaitkan dengan
penurunan dalam ukuran lesi dan dengan lega gejala. Lain dilaporkan agen
yang menguntungkan meliputi steroid, colchicine, dan tamoxifen.

8. Mesenterika limfadenopati
Etiologi Infeksi dari pembesaran kelenjar getah bening mesenterika
termasuk infeksi bakteri, Mycobacterium, dan histoplasmosis. Sejumlah besar
kasus ini telah dilaporkan sejak awal dari human immunodeficiency virus
(HIV) epidemi. Walaupun limfadenopati biasanya umum dalam TB,
limfadenitis mesenterika telah digambarkan sebagai pokok masalah yang
diajukan.
Penyakit Castleman (hiperplasia kelenjar getah node raksasa) adalah
suatu kondisi yang jarang terjadi biasanya diamati pada mediastinum.
Namun, kasus penyakit mesenterika terisolasi telah dilaporkan. Hal ini
terutama terjadi pada wanita dan dapat dikaitkan dengan malabsorpsi besi
dan anemia. Sarcoid telah dilaporkan sebagai penyebab limfadenopati lokal
mesenterika besar.

9. Penatalaksanaan
Kehadiran setiap lesi massa yang solid mesenterium yang tidak
dianggap reaktif kelenjar getah bening atau limfoma adalah indikasi untuk

52
operasi pengangkatan. Ketidakmampuan untuk mengecualikan definitif
keganasan membuat observasi yang berkepanjangan dan studi berulang
yang merupakan strategi manajemen yang keliru. Dalam keadaan tertentu,
biopsi diindikasikan untuk mengkonfirmasikan diagnosis dari lesi tertentu.
Sebagai contoh, limfoma mungkin merupakan diagnosis kemungkinan
berdasarkan temuan radiologis. Tumor yang membesar, gejala yang
signifikan (umumnya nyeri), atau evolusi gejala, eksisi bedah juga dianjurkan
untuk kista sederhana. Struktur kistik Kompleks terkait dengan omentum
harus segera dipertimbangkan kemungkinan proses neoplastik.

10. Hasil pemeriksaan


Laboratorium Studi
Penelitian laboratorium khusus biasanya tidak membantu dalam
menggambarkan tumor mesenterika, gejala klinis yang timbul seperti anemia
bisa terdeteksi dengan pemeriksaan lab.

Studi Imaging
 CT scan perut: karakterisasi Radiologic tumor ganas mesenterika
umumnya memerlukan CT scan, yang dapat memberikan informasi
penting tentang ukuran dan keterlibatan struktur yang berdekatan,
serta karakteristik jaringan beberapa tumor. CT scan juga dapat
membedakan antara massa padat dan cystic dan dapat
mengidentifikasi metastasis hati di hadapan penyakit ganas lanjut.
 CT scan perut bisa sangat sugestif atas diagnosa lipoma dibandingkan
dengan tumor padat lainnya, meskipun liposarcoma tidak dapat
sepenuhnya dikecualikan berdasarkan CT scan penampilan. Lesi ini
memiliki kepadatan lemak dan dapat mengelilingi kapal mesenterika
dan kelenjar getah bening. Untuk beberapa hal, vaskularisasi tumor

53
juga dapat ditandai dengan pemberian kontras intravena selama
pencitraan.
 Magnetic Resonance Imaging (MRI): MRI kadang-kadang digunakan
bersama dengan CT scan untuk membantu mencirikan massa
mesenterika. Ia menyediakan informasi yang serupa dengan CT scan,
tetapi juga dapat mendefinisikan karakteristik jaringan (misalnya, vs
lemak berserat) dengan sensitivitas yang lebih besar. Tidak ada data
dibandingkan CT scan untuk MRI dalam pemeriksaan massa
mesenterika, namun, MRI mungkin nilai besar, terutama pada pasien
dengan tumor mesenchymal.
 Arteriografi: arteriography jarang digunakan sebagai studi preoperative
pada pasien dengan tumor mesenterika kecuali ada kemungkinan
nyata bahwa keterlibatan vaskuler oleh tumor sangat dapat
mempersulit manajemen operasi. Prosedur ini dapat menentukan
bidang pasokan darah arteri mesenterika yang terganggu oleh tumor
dan mungkin menunjukkan kebutuhan baik untuk reseksi usus yang
luas dengan massa mesenterika atau rekonstruksi arteri.
 Ultrasonografi: Penggunaan berhasil ultrasonografi untuk menandai
massa mesenterika baik dijelaskan. Ultrasonografi digunakan jauh
lebih sering daripada CT scan, sebagian besar karena masalah ini
bergantung pada operator yang dapat mempengaruhi konsistensi
belajar.

11. Pengobatan
Terapi Medis
Secara umum, pengobatan yang efektif untuk massa mesenterika
neoplastik tidak tersedia. Nyeri dan lainnya GI keluhan dapat diobati dengan

54
analgesik dan antiemetik, tetapi agen ini tidak mempengaruhi penyakit yang
mendasarinya.

Bedah Terapi
Secara umum, pengobatan bedah massa mesenterika jinak terdiri dari
eksisi lokal untuk lesi yang lebih kecil dan reseksi untuk tumor bulkier,
menyediakan suplai darah ke usus tidak membahayakan.
Meskipun usus dapat disimpan dalam sebagian besar keadaan,
reseksi bisa sangat berbahaya, tergantung pada hubungan dari lesi untuk
cabang-cabang yang lebih besar dari arteri mesenterika superior.
Kebanyakan mesenterika lesi kistik dapat dengan mudah dipotong. Reseksi
usus kecil jarang diindikasikan untuk masalah ini.

12. Hasil dan Prognosis


Hasil pengobatan bedah kista jinak dan tumor solid mesenterium jarang
menimbulkan kematian. Karena begitu sedikit telah dilaporkan, hasil jangka
panjang pengobatan bedah tumor ganas mesenchymal mesenterika belum
dapat dipastkan. dari laporan penelitian yang ada menunjukkan bahwa
tingkat ketahanan hidup 5 tahun berada di kisaran 20-50%. Tidak ada ajuvan
pasca operasi tertentu atau terapi paliatif, seperti kemoterapi sitotoksik atau
terapi radiasi, telah terbukti bermanfaat.

II.6 Hemangiopericitoma
Hemangiopericitoma merupakan tumor ganas asal mesenchymal,
yang berasal dari pericytes yang membentuk lembaran solid dan sarang
sekitar saluran pembuluh darah berbentuk tidak teratur.
Tingkat Kekambuhan sangat tinggi dan merupakan tumor ganas yang
dapat bemetastasis ke paru-paru, hati dan tulang.

55
Etiologi
etiologi hemangiopericytomas sebagian besar tidak diketahui, sarkoma telah
dilaporkan paparan kimia sekunder terhadap radiasi atau luka.

Patofisiologi
Hemangiopericytoma adalah tumor ganas asal mesenchymal. Tumor ini
biasanya menyebar melalui penyebaran hematogen, terutama ke paru-paru,
tapi jarang menyebar melalui sistem limfatik. penyakit metastatik biasanya
merupakan penyebab kematian.

Presentasi
Hemangiopericytomas umumnya bermanifestasi sebagai tumbuh lambat dan
nyeri. Hemangiopericytomas juga dapat terjadi dalam fosa panggul dan
retroperitoneum. hemangiopericytomas subkutan jarang terjadi.
Hemangiopericytoma biasanya terjadi pada orang dewasa dan jarang pada
anak-anak. Penyakit ini tidak dipengaruhi gender. Frekuensi pria dan wanita
sama. Jika suatu lesi intra-abdominal atau retroperitoneal, pasien mungkin
hadir dengan nyeri local dengan gejala terkait seperti hidronefrosis, retensi
urin, dan distensi perut.Kulit juga sering hangat karena aliran darah
meningkat

Laboratorium
 Studi laboratorium biasanya tidak membantu dalam menentukan
diagnosis. Namun, nilai-nilai khas laboratorium pra operasi harus
diperoleh.

56
Studi Imaging
 Bila tumor ganas diduga, pementasan tumor dilakukan dengan
menggunakan radiografi, MRI, dan CT scan. CT scan di daerah yang
terlibat, dada, perut, dan pelvis dilakukan untuk mencari bukti penyakit
metastasis dan untuk perencanaan pra operasi dan stadium tumor
baik untuk jaringan-lunak dan lesi tulang.
 Dengan radiografi, lesi bertulang terutama hadir sebagai massa litik
intramedulla. Mereka mungkin juga terbatas, dengan reaksi periosteal
atau perbatasan sklerotik. Mereka juga dapat menampilkan kerusakan
cortical, yang memproduksi berbatasan menentu dan penampilan
sarang lebah, dengan atau tanpa keterlibatan jaringan lunak. Lesi
jaringan lunak biasanya tidak menunjukkan kalsifikasi. Temuan
hemangiopericytomas jaringan lunak pada film-film dataran biasanya
tidak spesifik.
 Biopsi harus dilakukan setelah sejarah panjang mengambil dan
pemeriksaan fisik; pencitraan radiografi, dan stadium tumor. Seorang
ahli bedah tumor yang berpengalaman harus melakukan biopsi.

Temuan histologis
Tampilan hemangiopericytoma yang asimetris, dengan rongga pembuluh
darah besar, tumor memberikan karakteristik hypervascular. Sel-sel tumor
baik spindel atau bulat telur berbentuk dan ditemukan di sarang dipadatkan
atau lembaran antara saluran pembuluh darah. Sel-sel neoplastik dapat
membentuk bawang-kulit atau pola tanduk seperti di sekitar pembuluh darah.
Kapal berdinding tipis yang dilapisi dengan lapisan pipih tunggal sel endotel
normal. Sebuah noda perak menunjukkan serat reticulin sekitarnya setiap sel
berbentuk gelendong berada di luar lamina basal.

57
Prognosis
Perilaku neoplastik dari hemangiopericytomas adalah variabel, yang
membuatnya sulit untuk memberikan prognosis. Perkiraan tingkat
kelangsungan hidup 5 tahun adalah 75%, dan tingkat kelangsungan hidup
10-tahun 44%.

58
DAFTAR PUSTAKA

1. Budihusodo, Unggul. Karsinoma Hati. In : Sudoyo,


Aru W. Ilmu Penyakit Dalam. Indonesia : Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Cristopher got. Hemangiopericytoma.2010.
available from: http://emedicine.medscape.com
3. Julius. 2006. Tumor Gaster. In : Sudoyo, Aru W.
Ilmu Penyakit Dalam. Indonesia : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
4. Liedman B. Andersson H. Berglund B. Bosnens I.
Hugosson I. Olbe L. Lundell L. Food Intake after Gastrectomy for Gastric
Carcinoma: The Role of a Gastric Reservoir. Br J Surg 1996;83:1138-
1143. Available from: www.highwire.com
5. Mehta VK. Fisher GF. Gastric Carcinoma. 2004.
Available from: www.Emedicine.com
6. Padmomartono, FS. Tumor Pankreas. In : Sudoyo,
Aru W. Ilmu Penyakit Dalam. Indonesia : Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
7. Price, Sylvia. A dan Lorraine M. Wilson,
Patofisiologi. Edisi 4. Jakarta: EGC. 1994.
8. Putz,R and Pabst,R. Sobotta Atlas Human
Anatomy. Twelfth English Edition. Germany : Williams & Wilkins. 1997
9. Sabiston. Buku Ajar bedah bagian 2. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1994.
10. Syamsuhidayat, R dan De Jong, Wim. Buku Ajar
Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2004

59