Anda di halaman 1dari 15

KULIT

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasi dari lingkungan
hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira 15 % BB. Kulit
merupakan organ yang essensial dan vital serta sangat kompleks, elastis dan sensitive. Kulit
juga sangat bervariasi pada keadaan iklim, ras, umur, seks, dan bergantung pada lokasi
tubuh.5

Struktur kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu : kulit ari (epidermis), sebagai lapisan
yang paling luar, kulit jangat (dermis, korium atau kutis) dan jaringan penyambung di
bawah kulit (tela subkutanea, hipodermis atau subkutis) .Sebagai gambaran,
penampang lintang dan visualisasi struktur lapisan kulit tersebut dapat dilihat pada
gambar berikut :

Anatomi kulit terdiri dari 3 lapisan utama, yaitu: 5

1. lapisan epidermis atau kutikel, terdiri atas : stratum korneum, stratum lusidum,
stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale
2. lapisan dermis (korium, kutis vera, true skin) terbagi menjadi : pars papilare dan
pars retikulare
3. lapisan subkutis (hypodermis) merupakan lanjutan dermis, terdiri atas jaringan
ikat longgar berisi sel-sel lemak didalamnya.
Fungsi epidermis antara lain adalah sebagai proteksi barier, organisasi sel, sintesis vit. D
dan sitokin, pembelahan dan mitosis sel, pigmentasi (melanosit), dan pengenalan alergen
(sel langerhans). 6

Fungsi Dermis antara lain sebagai struktur penunjang, Mechanical strength, suplai
nutrisi, menahan shearing forces, dan sebagai respon inflamasi.6

Fungsi subkutis agar dapat melekat ke struktur dasar, isolasi panas, sebagai cadangan
kalori, kontrol bentuk tubuh, dan sebagai mechanical shock absorber.6

Arteri yang memberi nutrisi:

1. Antara lapisan papiler dan retikuler dermis

2. Antara dermis dan subkutis


6
3. Papilla dermis

Gambar lapisan kulit

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasi dari lingkungan hidup
manusia, beragam luas dan tebalnya. Luas kulit orang dewasa adalah 1,5-2 m2 dengan berat kira-
kira 15% berat badan. Tebalnya antara 1,5-5 mm, bergantung pada letak kulit, umur, jenis
kelamin, suhu, iklim, ras dan keadaan gizi.
Kulit bervariasi mengenai lembut,tipis dan tebalnya. Kulit paling tipis di muka, kelopak mata,
penis, labium minor, dan bagian medial lengan atas. Kulit yang lembut pada leher dan badan.
Kulit tebal terdapat di telapak tangan dan kaki, punggung, bahu dan bokong. Kulit yang
berambut kasar terdapat pada kepala.

Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas 3 lapisan utama, yaitu :

1. lapisan epidermis atau kutikel


2. lapisan dermis (korium,kutis vera, true skin)
3. lapisan subkutis
Tidak ada garis tengah yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis ditandai dengan
adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan jaringan lemak.

1. Lapisan Epidermis
a. Stratum Korneum (lapisan tanduk)
Lapisan kulit paling luar dan terdiri atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati,
tidak berinti dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk)

b. Stratum Lusidum
Terdapat langsung di bawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng
tanpa inti dengan protoplasmanya yan berubah menjadi protein yang disebut eleidin.
Lapisan tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki.

c. Stratum Granulosum (lapisan keratohialin)


Merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar yang
terdiri atas keratohialin dan terdapat inti di antaranya. Juga tampak jelas di telapak
tangan dan kaki.

d. Stratum Spinosum (Stratum Malphigi,pickle cell layer/lapisan akanta)


Terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk polygonal yang besarnya berbeda-
beda karena adanya proses mitosis. Di antara sel-sel stratum spinosum terdapat
jembatan-jembatan membentuk penebalan bulat kecil disebut nodulud Bizzozero. Di
antara sel-sel spinosum terdapat pula sel Langerhans.

e. Stratum Basale
Merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Terdiri atas sel-sel berbentuk
kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris
seperti pagar (palisade). Sel-sel basal mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif.
Terdiri atas 2 jenis sel, yaitu :

- Sel-sel yang berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan
besar, dihubungkan satu dengan yang lain oleh jembatan antar sel.
- Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan sel-sel berwarna
muda, dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butir pigmen
(melanosomes).
2. Lapisan Dermis
Lapisan di bawah epidermis yang lebih tebal daripada epidermis. Terdiri atas lapisan
elastik dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Dibagi menjadi 2
bagian, yakni :

a. Pars papilare
Bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.

b. Pars Retikulare
Bagian di bawahnya yang menonjol ke arah subkutan, terdiri atas serabut penunjang
misalnya serabut kolagen, elastin, dan retikulin

3. Lapisan Subkutis
Kelanjutan dermis yang terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya.
Di lapisan ini terdapat ujng-ujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening.

Adneksa kult terdiri dari kelenjar-kelenjar kulit, rambut dan kuku.

1. Kelenjar kulit
a. Kelenjar Ekrin dan Apokrin
Kelenjar ekrin terletak dangkal di dermis dengan sekret yang encer. Terdapat di
seluruh permukaan kulit dan terbanyak di telapak tangan,kaki, dahi dan aksila.

Kelenjar apokrin terdapat di aksila, areola mammae, pubis, labia minora, dan saluran
telinga luar.

b. Kelenjar Palit (Glandula Sebasea)


Terletak di seluruh permukaan kulit manusia kecuali di telapak tangan dan kaki.

2. Kuku
Bagian terminal lapisan tandukl (stratum korneum) yang menebal.
3. Rambut
Folikel rambut mempunyai fungsi lebih penting daripada hanya produksi struktur
rambut. Folikel rambut berisi tempat penyimpanan sel-sel yang mempunyai banyak potensi
yang bermanfaat untuk banyak fungsi. Sel-sel folikel rambut dapat regenerasi sendiri,
berperan dalam penyembuhan luka juga dalam hematopoiesis.

3.1 FUNGSI KULIT


Fungsi epidermis antara lain sebagai sawar proteksi dari dunia luar, mechanical strength,
untuk suplai nutrisi, serta memberikan respon inflamasi.

Fungsi subkutis adalah tempat melekat ke struktur dasar, isolasi panas, cadangan kalori,
mengontrol bentuk tubuh, dan mechanical shock absorber.

Fungsi kulit termasuk absorpsi per kutaneus, vasoregulator sirkulasi, sebagai organ perasa,
sekresi keringat, tempat untuk pengeluaran cairan tak terlihat (insensible loss water), dan turut
berperan pada pengaturan suhu.

Gambar anatomi kulit

B. Fungsi Kulit
Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut :
1. Pelindung atau proteksi
Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi jaringanjaringan
tubuh di sebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruhpengaruh
luar seperti luka dan serangan kuman. Lapisan paling luar
dari kulit ari diselubungi dengan lapisan tipis lemak, yang menjadikan
kulit tahan air. Kulit dapat menahan suhu tubuh, menahan luka-luka
kecil, mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh serta
menghalau rangsang-rangsang fisik seperti sinar ultraviolet dari
matahari.
2. Penerima rangsang
Kulit sangat peka terhadap berbagai rangsang sensorik yang
berhubungan dengan sakit, suhu panas atau dingin, tekanan, rabaan,
dan getaran. Kulit sebagai alat perasa dirasakan melalui ujung-ujung
saraf sensasi.
3. Pengatur panas atau thermoregulasi
Kulit mengatur suhu tubuh melalui dilatasi dan konstruksi pembuluh
kapiler serta melalui respirasi yang keduanya dipengaruhi saraf
otonom. Tubuh yang sehat memiliki suhu tetap kira-kira 98,6 derajat
Farenheit atau sekitar 36,50C. Ketika terjadi perubahan pada suhu
luar, darah dan kelenjar keringat kulit mengadakan penyesuaian
seperlunya dalam fungsinya masing-masing. Pengatur panas adalah
salah satu fungsi kulit sebagai organ antara tubuh dan lingkungan.
Panas akan hilang dengan penguapan keringat.
68
4. Pengeluaran (ekskresi)
Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjar-kelenjar
keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan membawa
garam, yodium dan zat kimia lainnya. Air yang dikeluarkan melalui kulit
tidak saja disalurkan melalui keringat tetapi juga melalui penguapan air
transepidermis sebagai pembentukan keringat yang tidak disadari.
5. Penyimpanan.
Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak.
6. Penyerapan terbatas
Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu, terutama zat-zat yang larut
dalam lemak dapat diserap ke dalam kulit. Hormon yang terdapat
pada krim muka dapat masuk melalui kulit dan mempengaruhi lapisan
kulit pada tingkatan yang sangat tipis. Penyerapan terjadi melalui
muara kandung rambut dan masuk ke dalam saluran kelenjar palit,
merembes melalui dinding pembuluh darah ke dalam peredaran darah
kemudian ke berbagai organ tubuh lainnya.
7. Penunjang penampilan
Fungsi yang terkait dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang
tampak halus, putih dan bersih akan dapat menunjang penampilan
Fungsi lain dari kulit yaitu kulit dapat mengekspresikan emosi seseorang
seperti kulit memerah, pucat maupun konstraksi otot penegak rambut.

BAB III

TUMOR KULIT

Tumor kulit merupakan salah satu dari beberapa jenis tumor pada manusia yang
dapat diikuti secara dini karena dapat dilihat dan diraba sejak permulaan.7

Klasifikasi 7

Tumor kulit dapat dibagi menjadi:

1. tumor jinak
2. tumor prakanker
3. tumor ganas
1. Tumor jinak

Tumor jinak adalah tumor yang berdiferensiasi normal (matang). Pertumbuhannya lambat
dan ekspansif serta kadang kadang berkapsul. Tumor jinak umumnya tidak menimbulkan
persoalan, akan tetapi perlu diketahui beberapa jenis yang sering ditemukan agar tidak
terjadi kekeliruan dalam tata cara diagnosis maupun pelaksanaannya. Diantara tumor- tumor
jinak tersebut, yang paling sering ditemukan adalah keratosis seboroik. Prognosisnya baik
terutama dengan penatalaksanaan yang baik. 7

Tumor jinak merupakan manifestasi dari kekacauan pertumbuhan kulit yang bersifat kongenital atau
akuisita, tanpa tendenasi invasif dan metastasis, dapat berasal dari vaskuler dan non vaskuler.
Beberapa tumor kulit jinak yang sering ditemukan yaitu : hemangioma, kista, limfangioma,
dermatofibroma, keloid, granuloma piogenikum, keratosis seboroika, nevus pigmentosus

1.1 Veruka vulgaris

Veruka yaitu pertumbuhan epitel berupa tonjolan dengan permukaan tidak rata,
kasar dan brgerigi. Veruka dapat timbul tunggal atau berkelompok. Sering timbul
pada kulit tangan atau jari, terutama pada anak. Kelainan ini disebabkan oleh virus
sehingga mudah ditularkan. Kadang terdapat di bibir atau lidah karena kebiasaan
menggigit-gigit kuku.

Bila daya tahan tubuh terhadap virus menurun, veruka dapat timbul sekaligus di
banyak tempat. Bila daya tahan tubuh meningkat kembali, veruka tiba-tiba dapat
sembuh sendiri. Veruka diobati dengan bedah beku menggunakan CO2 cair atau
dengan ekskokleasi. Jenis lain dari lesi ini adalah kondiloma akuminata.8

1.2 Nevus

secara umum istilah nevus dipakai untuk kelainan bawaan jinak pada kulit yang
memperlihatkan kelebihan atau kekurangan unsure kulit tertentu. Nevus merupakan
kelainan kulit yang berbentuk kurang lebih bulat, rata, atau menonjol, dapat
berpigmen atau tidak. Yang berpigmen disebut nevus pigmentosus (tahi lalat) dan
merupakan nevus sel melanosit, sedangkan contoh nevus yang tidak berpigmen,
antara lain hemangioma.
Dikenal juga tiga jenis nevus melanosit, yaitu jenis junctional (perbatasan),
intradermal, dan campuran. Pada jenis perbatasan sel melanositnya berada di
lapisan sel basal atau di atasnya. Bentuknya rata, tidak menonjol, dan umumnya
bersifat stasioner, artinya tidak berkembang melebar dan menebal. Pada jenis
intradermal, sel melanosit berada di dermis, menonjol, tumbuh menebal dan melebar
walaupun sangat perlahan-lahan. Jenis campuran memperlihatkan sifat jenis
perbatasan dan intradermal. Jenis ini berwarna paling gelapdi antara ketiganya,
mengilap dan tumbuh perlahan-lahan. Nevus pigmentosus raksasa merupakan
nevus bawaan yang biasanya ditemukan di wajah, kepala, dan tubuh bagian atas.
Perluasan nevus ini dapat lebih dalam mengikuti saraf sampai ke otot, tulang, dan
selaput mening.

Sebagian dari nevus dapat berdegenerasi ganas menjadi melanoma malignum.


Faktor yang merangsang degenerasi adalah iritasi kronik, seperti tekanan, gesekan,
dan sinar ultraviolet. Nevus pada tempat yang sering teriritasi seperti di telapak kaki,
sebaiknya dieksisi. 8

1.3 Hemangioma

Hemangioma merupakan tumor yang terdiri atas pembuluh darah. Ada dua golongan
besar, yaitu jenis kapiler dan jenis kavernosa. Hemangioma jenis kapiler disebut juga
nevus kapilare.

Jenis kapiler

Jenis hemangioma ini terdiri atas nevus simpleks atau nevus buah arbei, dan nevus
flameus. Nevus simpleks jika sudah terbentuk tampak seperti buah arbei menonjol,
berwarna merah cerah dengan cekungan kecil. Perkembangannya dimulai dengan
titik kecil pada waktu lahir, membesar cepat, dan menetap pada usia kira-kira
delapan bulan. Kemudian akan mengalami regresi spontan dan menjadi pucat
karena fibrosis setelah usia satu tahun. Proses regresi berjalan sampai usia 6-7
tahun.

Nevus flameus ada sejak lahir, menetap, dan rata dengan permukaan kulit, kecuali
bila teriritasi dapat menonjol di tempat yang teriritasi tersebut.

Hemangioma kavernosum

Hemangioma kavernosum ini terdiri atas jalinan pembuluh darah yang membentuk
rongga. Kelainannya berada di jaringan yang lebih dalam dari dermis. Dari luar
tampak sebagai tumor kebiruan yang dapat dikempiskan dengan penekanan, tetapi
menonjol kembali setelah tekanan dilepaskan. Hemangioma ini tidak dapat
mengalami regresi spontan, malah sering progresif. Jenis kavernosum bisa meluas
dan menyusup ke jaringan sekitarnya. Jaringan di atas hemangioma dapat
mengalami iskemia sehingga mudah rusak oleh iritasi, misalnya di daerah perineum,
dan menimbulkan tukak yang sulit sembuh dan kadang berdarah.

Tatalaksana

Hemangioma buah arbei sebaiknya dibiarkan mengalami regresi spontan. Jadi,


walaupun besar, mencolok, dan tampak menakutkan, jenis ini tidak memerlukan
tindakan selain pemasangan pembalut elastic dengan sedikit penekanan secara
terus menerus. Tindakan ini membantu mempercepat proses regresi.

Jenis flameus ditanggulangi dengan eksisi, kalu perlu ditambah dengan cangkok
kulit. Dapat juga dilakukan perajahan (tatoasi) untuk menyamarkan warna.
Penanggulangan dengan laser Argon umumnya cukup memuaskan.

Untuk hemangioma kavenosum, satu-satunya cara terapi adalah ekstirpasi. Pada


jenis yang luas dapat dibantu dengan embolisasi dengan panduan angiografi.
Embolisasi membantu memperkecil tumor untuk memudahkan tindakan bedah.
Kadang infiltrasi menyusup jauh ke dalam sehingga diperlukan pembedahan luas.
Kelainan ini dapat kambuh dari sisa hemangioma yang sukar dicapai pada
pembedahan. 8

Lipoma

Definisi
Lipoma adalah suatu tumor (benjolan) jinak yang berada dibawah kulit yang terdiri dari
lemak. Biasanya lipoma dijumpai pada usia lanjut (40-60 tahun), namun juga dapat dijumpai
pada anak-anak. Karena lipoma merupakan lemak, maka dapat muncul dimanapun pada
tubuh ini. Jenis yang paling sering adalah yang berada lebih ke permukaan kulit (superficial).
Biasanya lipoma berlokasi di kepala, leher, bahu, badan, punggung, atau lengan. Jenis yang
lain adalah yang letaknya lebih dalam dari kulit seperti dalam otot, saraf, sendi, ataupun
tendon.

Gejala Klinis
Lipoma bersifat lunak pada perabaan, dapat digerakkan, dan tidak nyeri. Pertumbuhannya
sangat lambat dan jarang sekali menjadi ganas. Lipoma kebanyakan berukuran kecil, namun
dapat tumbuh hingga mencapai lebih dari diameter 6 cm.

Penyebab
Tidak selalu jika kita mempunyai orangtua atau leluhur yang mempnyai lipoma ini, maka kita
akan mempunyai lipoma juga. Namun ada suatu sindrom yang disebut hereditary multiple
lipomatosis, yaitu seseorang yang mempunyai lebih dari 1 lipoma pada tubuhnya.
Kegemukan tidak menyebabkan terjadinya lipoma.

Penatalaksanaan
Pada dasarnya lipoma tidak perlu dilakukan tindakan apapun, kecuali berkembang menjadi
nyeri dan mengganggu pergerakan. Biasanya seseorang menjalani operasi bedah untuk alasan
kosmetik. Operasi yang dijalani merupakan operasi kecil, yaitu dengan cara menyayat kulit
diatasnya dan mengeluarkan lipoma yang ada. Namun hasil luka operasi yang ada akan sesuai
dengan panjangnya sayatan. Untuk mendapatkan hasil operasi yang lebih minimal, dapat
dilakukan liposuction. Sekarang ini dikembangkan tehnik dengan menggunakan gelombang
ultrasound untuk menghansurkan lemak yang ada. Yang perlu diingat adalah jika lipoma
yang ada tidak terangkat seluruhnya, maka masih ada kemungkinan untuk berkembang lagi di
kemudian hari.

?
Benign Tumors

Cysts (Epidermal, Dermoid, Trichilemmal)

Epidermal cysts are the most common type of cutaneous cyst and can occur anywhere on the
body as a single, firm nodule. 112 On the scrotum they are often multiple and can calcify.
Trichilemmal (pilar) cysts, the next most common, occur more often in females and usually
on the scalp. When ruptured, these cysts have a characteristic strong odor. Dermoid cysts are
present at birth and may result from epithelium trapped during midline closure in fetal
development. Dermoid cysts are most often found in the midline of the face (e.g., on the nose
or forehead) and are also common on the eyebrow (Fig. 15-5). 113

FIG. 15-5.

Dermoid cysts are commonly found on the eyebrow.

On gross examination, it is difficult to distinguish one type of cyst from another. They are all
subcutaneous, thin-walled nodules containing a white, creamy center. Histologic examination
is needed to differentiate them. The walls of all these cysts consist of a layer of epidermis
oriented with the basal layer superficial and the more mature layers deep (i.e., with the
epidermis growing into the center of the cyst). The desquamated cells (keratin) collect in the
center and form the creamy substance of the cyst. Epidermal cysts have a completely mature
epidermis containing a granular layer. Trichilemmal cyst walls do not contain a granular layer
but do have a distinctive outer layer resembling the outer root sheath of the hair follicle
(trichilemmoma). Dermoid cysts have a squamous epithelium, eccrine glands, pilosebaceous
units, and, occasionally, bone, tooth, or nerve tissue. Surgeons often refer to cutaneous cysts
as sebaceous cysts because they appear to contain sebum; however, this is a misnomer
because the substance is actually keratin.

Cysts usually are asymptomatic and ignored until they rupture and cause local inflammation.
The area becomes infected and an abscess forms. Incision and drainage is recommended for
an acutely infected cyst. After resolution of the abscess the cyst wall must be excised or the
cyst will recur. Similarly, when excising an unruptured cyst, care must be taken to remove the
entire wall in order to prevent recurrence.

Keratoses (Seborrheic, Solar)

Seborrheic keratoses commonly occur on the chest, back, and abdomen of older individuals.
The lesions are light brown or yellow and have a velvety, greasy texture. They are rarely
mistaken for other lesions, so biopsy and treatment are seldom needed. 114 Sudden eruptions
of multiple lesions in elderly patients may be associated with internal malignancies.

Solar (or actinic) keratoses also are found in the older age group. They arise in sun-exposed
areas of the body, such as the face, the forearms, and the back of the hands. Histologically
they contain atypical-appearing keratinocytes and evidence of solar damage in the dermis.
115 These are thought to be premalignant lesions, and squamous cell carcinoma may develop
over time. 116 Treatment is by local removal or application of topical 5-fluorouracil. 117
Malignancies that do develop rarely metastasize.

Nevi (Acquired, Congenital)

Acquired melanocytic nevi are classified as junctional, compound, or dermal, depending on


the location of the nevus cells. This classification does not represent different types of nevi
but rather different stages in the maturation of nevi. Initially, nevus cells accumulate in the
epidermis (junctional), migrate partially into the dermis (compound), and finally rest
completely in the dermis (dermal). Eventually most lesions undergo involution.

Congenital nevi are much rarer, occurring in only 1% of neonates. 118 These lesions are
larger and may contain hair. Histologically they appear similar to acquired nevi. Congenital
giant lesions (giant hairy nevus) most often occur in a bathing trunk distribution or on the
chest and back (Fig. 15-6). These lesions are cosmetically unpleasant. In addition, they
develop malignant melanoma in 1 to 5% of the cases. 119 Excision of the nevus is the
treatment of choice, but often the lesion is so large that closure of the wound with autologous
skin grafts is not possible because of the lack of adequate donor sites. Serial excisions over
several years with either primary closure or skin grafting and tissue expansion of the normal
surrounding skin are the present modes of therapy.

FIG. 15-6.

Giant hairy nevus in an infant.

Vascular Tumors
Hemangiomas (Capillary, Cavernous)

Hemangiomas are benign vascular neoplasms that arise soon after birth. They initially
undergo rapid cellular proliferation and slowly involute through early childhood. 120
Capillary (strawberry) hemangiomas are soft, compressible papular lesions with sharp
borders located mostly on the shoulders, face, and scalp. 121 Cavernous hemangiomas are
bright red or purple and have a spongy consistency. Histologically, capillary hemangiomas
are composed of endothelial cells seen primarily in fetal veins. Cavernous lesions contain
large, blood-filled spaces lined by normal-appearing endothelial cells.

Hemangiomas can enlarge during the first year of life, and more than 90% of them involute
over time. Allowing lesions to regress spontaneously usually gives optimal cosmetic results
(Fig. 15-7). Acute treatment is limited to lesions that interfere with function, such as vision,
feeding, and urination, or those that lead to systemic problems, such as thrombocytopenia and
high-output cardiac failure. The growth of rapidly enlarging lesions can be stopped with
prednisone or interferon alpha-2a treatment. 122 Hemangiomas that remain after early
adolescence will generally not involute, therefore surgical excision is recommended.

FIG. 15-7.

A. Large hemangioma. B. Regression without therapy.

Vascular Malformations (Port-Wine Stains, Arteriovenous Malformations, Glomus Tumors)

Vascular malformations are a result of structural abnormalities formed during fetal


development and hence are not neoplasms. Unlike hemangiomas, vascular malformations do
not undergo rapid growth and involution but rather grow in proportion to the body.
Histologically they contain enlarged vascular spaces lined by nonproliferating endothelium,
and not the mitotically active endothelial cells of a hemangioma.

The port-wine stain (nevus flammeus) is a flat, dull-red capillary malformation that can be
located on the trunk, extremities, and, most commonly, along a trigeminal distribution on the
face. Histologically these nevi are composed of ectatic capillaries lined by mature
endothelium. They may be part of the Sturge-Weber syndrome (leptomeningeal
angiomatosis, epilepsy, and glaucoma). Unsightly lesions can be covered with cosmetics,
treated with pulsed dye laser, or surgically excised.

Arteriovenous malformations are high-flow lesions. They appear as a mass under the skin,
with locally elevated temperature, a dermal stain, and a thrill and bruit. Overlying ischemic
ulcers, adjacent bone destruction, or local hypertrophy may occur. Large malformations can
cause cardiac enlargement and congestive heart failure.

Complications of arteriovenous malformations, such as pain, hemorrhage, ulceration, cardiac


effects, and destruction of surrounding structures, should be treated by elimination of the
lesion. Therapy consists of angiography with selective embolization or complete surgical
resection. 123 Embolization is particularly useful for lesions not accessible to surgery or in
patients in which resection would cause a significant deformity. Embolization also can be
used preoperatively to reduce blood loss during surgery. Occasionally, hypothermia and
cardiac bypass are required in order to minimize blood loss during surgical excision of large
lesions.

Glomus tumors are blue-gray nodules that are extremely tender. They can occur anywhere on
the body, but the most common location is subungual. The tumor arises from a glomus body
and histologically resembles the arterial portion of the glomus. Excision of the tumor relieves
the pain.

Soft-Tissue Tumors (Acrochordons, Dermatofibromas, Lipomas)

Acrochordons (skin tags) are fleshy, pedunculated masses located on the axillae, trunk, and
eyelids. They are composed of hyperplastic epidermis over a fibrous connective tissue stalk.
These lesions are usually small and are always benign.

Dermatofibromas are usually solitary nodules measuring approximately 1 to 2 cm in


diameter. They are found primarily on the legs and sides of the trunk. The lesions are
composed of whorls of connective tissue containing fibroblasts. The mass is not encapsulated
and vascularization is variable. Dermatofibromas can be diagnosed by clinical examination.
When lesions enlarge to 2 to 3 cm, excisional biopsy is recommended to assess for
malignancy. Lipomas are the most common subcutaneous neoplasm. They are found mostly
on the trunk but may appear anywhere. They may sometimes grow to a large size.
Microscopic examination reveals a lobulated tumor containing normal fat cells. Excision is
performed for diagnosis and to restore normal skin contour.

Neural Tumors (Neurofibromas, Neurilemomas, Granular Cell Tumors)

Benign cutaneous neural tumors arise primarily from the nerve sheath. Neurofibromas can be
sporadic and solitary but are more commonly noted in multiple formations associated with
café-au-lait spots and an autosomal dominant inheritance (von Recklinghausen's disease).
The lesions are firm, discrete nodules attached to a nerve. Histologically there is proliferation
of perineurial and endoneurial fibroblasts and Schwann cells embedded in collagen.
Neurilemomas are solitary tumors found along peripheral nerves of the head and extremities.
They are discrete nodules that may be locally painful or radiate along the distribution of the
nerve. Microscopically, the tumor contains Schwann cells with nuclei packed in palisading
rows.

Granular cell tumors are usually solitary lesions of the skin or, more commonly, the tongue.
They consist of granular cells derived from Schwann cells that often infiltrate the surrounding
striated muscle.
`