Anda di halaman 1dari 74

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Pre-eklamsia berat


2.1.1 Definisi
Pre-eklamsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya
hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/atau edema pada
kehamilan 20 minggu atau lebih (Ai Yeyeh.R, 2011). Sedangkan menurut Rozihan
(2007), Pre-eklampsia berat ialah penyakit dengan tanda-tanda khas seperti tekanan
darah tinggi (hipertensi), pembengkakan jaringan (edema), dan ditemukannya protein
dalam urin (proteinuria) yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi
dalam triwulan ke-3 kehamilan, tetapi dapat juga terjadi pada trimester kedua
kehamilan. Pre-eklamasi berat menurut Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiharjo, Fak. UI Jakarta (1998), diikuti dengan timbulnya hipertensi
disertai protein urin dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu
atau segera setelah persalinan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pre-eklamsia berat
adalah komplikasi yang terjadi pada saat kehamilan dengan ciri yang khas yaitu disertai
dengan hipertensi ≥160/110 mmHg dan atau disertai dengan adanya protein urine
positif 2 dan atau 3 dan lazim disertai dengan oedema pada kehamilan ≤20 minggu.

B. Etiologi preeklamsia berat


Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori-teori
dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Oleh karena itu
disebut “penyakit teori” namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan.
Tetapi terdapat suatu kelainan yang menyertai penyakit ini yaitu :
- Spasmus arteriola
- Retensi Na dan air
- Koagulasi intravaskuler
Walaupun vasospasme mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini, akan
tetapi vasospasme ini yang menimbulkan berbagai gejala yang menyertai eklampsia
(Obstetri Patologi : 1984)

1
Teori yang dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab preeklampsia ialah iskemia
plasenta. Akan tetapi, dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal yang bertalian
dengan penyakit itu. Rupanya tidak hanya satu faktor, melainkan banyak faktor yang
menyebabkan preeklampsia dan eklampsia. (Ilmu Kebidanan : 2005).
Faktor pertama adalah genetik, jika ibu atau mertua kita memiliki riwayat preeklampsia,
kita juga berisiko mengalaminya pada satu kali atau lebih kehamilan, yang kedua adalah
adanya kelainan pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah bisa mengakibatkan
suplai darah ke organ-organ vital seperti ginjal dan hati jadi berkurang.
Preeklamsia biasanya terjadi pada kehamilan pertama. Penyebab pasti preeklamsia
hingga saat ini belum diketahui dengan jelas. Diduga karena kondisi plasenta yang tidak
tertanam dengan baik, kekurangan oksigen atau ada gangguan pada pembuluh darah si
ibu. Faktor makanan diduga juga bisa menyebabkan preeklamsia pada kehamilan.
Kekurangan kalsium pada tubuh ibu hamil yang dapat menyebabkan peningkatan
tekanan darah yang berujung pada preeklamsia. Kalsium dapat membantu menjaga
pembuluh darah dan menjaga tekanan darah tetap normal. Demikian pula, kekurangan
protein, protein yang berlebihan, minyak ikan, vitamin D dan faktor makanan lainnya
juga berperan sebagai penyebab preeklamsiaa.
Obesitas juga disebut-sebut sebagai penyebab lain preeklamsia. Indeks masa tubuh yang
tinggi berkaitan dengan diabetes, tekanan darah tinggi serta resistensi insulin, dapat
mempengaruhi sistem inflamasi.

C. Tanda Dan Gejala


Adapun tanda dan gejala yang terjadi pada ibu hamil yang mengalami pre-eklamsi berat
yaitu tekanan darah sistolik >160 mmHg dan diastolik >110 mmHg, terjadi peningkatan
kadar enzim hati dan atau ikterus, trombosit <100.000/mm3, terkadang disertai oligouria
<400ml/24 jam, protein urine >2-3 gr/liter, ibu hamil mengeluh nyeri epigastrium,
skotoma dan gangguan visus lain atau nyeri frontal yang berat, perdarahan retina dan
oedema pulmonum. Terdapat beberapa penyulit juga yang dapat terjadi, yaitu kerusakan
organ-organ tubuh seperti gagal ginjal, gagal jantung, gangguan fungsi hati, pembekuan
darah, sindrom HELLP, bahkan dapat terjadi kematian pada bayi, ibu dan atau keduanya
bila pre-eklamsi tidak segera ditangani dengan baik dan benar (Ai Yeyeh.R, 2011).

2
D. Patofisiologis Preeklamsia Berat
Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan
air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa
kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel
darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tenanan
darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan
dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh
penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya,
mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme
arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman
199).
Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis pada
sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan iskemia
(Cunniangham,2003).
Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon terhadap
berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin, tromboxan) yang dapat menyebabkan
vasospasme dan agregasi platelet. Penumpukan trombus dan perdarahan dapat
mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit syaraf
lokal dan kejang. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomelurus
dan proteinuria. Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri
epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Manifestasi terhadap kardiovaskuler
meliputi penurunan volume intavaskuler, meningkatnya kardiakoutput dan peningkatan
tahanan pembuluh perifer. Peningkatan hemolisis microangiopati menyebabkan anemia
dan trobositopeni. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan
janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim (Michael,2005).

3
Perubahan pada organ :
1. Perubahan kardiovaskuler
Gangguan fungsi kardiovaskuler yang parah sering terjadi pada preeklamsia dan
eklampsia. Berbagai gangguan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan peningkatan
afterload jantung akibat hipertensi, preload jantung yang secara nyata dipengaruhi oleh
berkurangnya secara patologis hipervolemia kehamilan atau yang secara iatrogenik
ditingkatkan oleh larutan onkotik/kristaloid intravena, dan aktifasi endotel disertai
ekstravasasi kedalam ekstravaskuler terutama paru (Cunningham,2003).
2. Metablisme air dan elektrolit
Hemokonsentrasi yang menyerupai preeklampsia dan eklampsia tidak diketahui
penyebabnya. jumlah air dan natrium dalam tubuh lebih banyak pada penderita
preeklamsia dan eklampsia dari pada wanita hamil biasa atau penderita dengan
hipertensi kronik. Penderita preeklamsia tidak dapat mengeluarkan dengan sempurna air
dan garam yang diberikan. Hal ini disebabkan oleh filtrasi glomerulus menurun,
sedangkan penyerapan kembali tubulus tidak berubah. Elektrolit, kristaloid, dan protein
tidak mununjukkan perubahan yang nyata pada preeklampsia. Konsentrasi kalium,
natrium, dan klorida dalam serum biasanya dalam batas normal (Trijatmo,2005).
3. Mata
Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Selain itu dapat
terjadi ablasio retina yang disebabkan oleh edema intraokuler dan merupakan salah satu
indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. Gejala lain yang menunjukkan pada
preeklampsia berat yang mengarah pada eklampsia adalah adanya skotoma, diplopia dan
ambliopia. Hal ini disebabkan oleh adaanya perubahan peredaran darah dalam pusat
penglihatan dikorteks serebri atau didalam retina (Rustam,1998).
4. Otak
Pada penyakit yang belum berlanjut hanya ditemukan edema dan anemia pada korteks
serebri, pada keadaan yang berlanjut dapat ditemukan perdarahan (Trijatmo,2005).
5. Uterus
Aliran darah ke plasenta menurun dan menyebabkan gangguan pada plasenta, sehingga
terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin.

4
Pada preeklampsia dan eklampsia sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaan
terhadap rangsangan, sehingga terjad partus prematur.
6. Paru-paru
Kematian ibu pada preeklampsia dan eklampsia biasanya disebabkan oleh edema paru
yang menimbulkan dekompensasi kordis. Bisa juga karena aspirasi pnemonia atau abses
paru (Rustam, 1998).

E. Pencegahan Preeklamsia Berat


Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini
preeklampsia, dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. Kita perlu
lebih waspada akan timbulnya preeklampsia dengan adanya faktor-faktor predisposisi
seperti yang telah diuraikan di atas. Walaupun timbulnya preeklamsia tidak dapat
dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian
penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasannya yang baik pada wanita hamil.
Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak
selalu berarti berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi,
dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein dan rendah lemak,
karbohidrat, garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.
Mengenal secara dini preeklampsia dan segera merawat penderita tanpa memberikan
diuretika dan obat antihipertensif, memang merupakan kemajuan yang penting dari
pemeriksaan antenatal yang baik.

F. Faktor Resiko
Menurut Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo (2005), faktor resiko pre- eklamsia
berat adalah :
1. Riwayat Preeklampsia
2. Primigravida, karena pada primigravida pembentukan antibody penghambat
(blocking antibodies) belum sempurna sehingga meningkatkan resiko terjadinya
Preeklampsia

5
3. Kegemukan
4. Kehamilan ganda, Preeklampsia lebih sering terjadi pada wanita yang mempunyai
bayi kembar atau lebih.
5. Riwayat penyakit tertentu. Penyakit tersebut meliputi hipertensi kronik, diabetes,
penyakit ginjal atau penyakit degenerate seperti reumatik arthritis atau lupus.

G. Penatalaksanaan
Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala pre-eklamsia berat
selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi perawatan aktif yaitu kehamilan
segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medicinal dan perawatan
konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan medicinal
(AYeyeh.R, 2011). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :
1. Perawatan aktif
Pada setiap penderita sedapat mungkin sebelum perawatan aktif dilakukan pemeriksaan
fetal assesment yakni pemeriksaan nonstrees test (NST) dan ultrasonograft (USG),
dengan indikasi (salah satu atau lebih), yakni :
a) Pada ibu
Usia kehamilan 37 minggu atau lebih, dijumpai tanda-tanda atau gejala impending
eklamsia, kegagalan terapi konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi
kenaikan desakan darah atau setelah 24 jam perawatan edicinal, ada gejala-gejala status
quo (tidak ada perbaikan).
b) Janin
Hasil fetal assesment jelek (NST dan USG) yaitu ada tanda intra uterine growth
retardation (IUGR)/janin terhambat.
c) Hasil laboratorium
Adanya HELLP syndrome (haemolisis dan peningkatan fungsi hepar dan
trombositopenia).
2. Pengobatan medicinal pasien pre-eklamsi berat (dilakukan dirumah sakit dan atas
instruksi dokter), yaitu segera masuk rumah sakit dengan berbaring miring ke kiri ke
satu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, reflek patella setiap jam, infus dextrose
5% dimana setiap 1 liter diselingi dangan infus RL (60-125 cc/jam) 500cc, berikan

6
antasida, diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam, pemberian obat anti
kejang (MgSO4), diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru,
payah jantung kongestif atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg/IM.
3. Antihipertensi diberikan bila tekanan darah sistolis lebih 180 mmHg atau MAP lebih
125 mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis kurang 105 mmHg (bukan
kurang 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta, dosis antihipertensi sama
dengan dosis antihipertensi pada umumnya.
4. Bila dibutuhkan penurun darah secepatnya, dapat diberikan obat-obat antihipertensi
parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang biasa dipakai 5 ampul dalam
500cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan darah.
5. Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara
sublingual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersama dengan awal pemberian
sublingual maka obat yang sama mulai diberikan secara oral (Syakib Bakri, 1997).
6. Pengobatan jantung jika ada indikasinya yakni ada tanda-tanda menjurus payah jantung,
diberikan digitalisasi cepat dengan celidanid D.
7. Lain-lain seperti konsul bagian penyakit dalam/jantung atau mata. Obat-obat antipiretik
diberikan bial suhu rectal lebih dari 38,5 0C dapat dibantu dengan pemberian kompres
dingin atau alkohol atau xylomidon 2 cc secara IM, antibiotik diberikan atas indikasi
saja. Diberikan ampicillin 1 gr/6 jam secara IV perhari. Anti nyeri bila penderita
kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. Dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg
sekali saja, selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin lahir.
8. Pengobatan Obstetrik
Pengobatan obstetri dilakukan dengan cara terminasi terhadap kehamilan yang belum
inpartu, yaitu :
a) Induksi persalinan: tetesan oksitocyn dengan syarat nilai bishop 5 atau lebih dan dengan
fetal heart monitoring.
b) Seksio Sesaria (dilakukan oleh dokter ahli kandungan), bila: fetal assessment jelek.
Syarat tetesan oksitocyn tidak dipenuhi (nilai bishop <5) atau adanya kontraindikasi
tetesan oksitocyn; 12 jam setelah dimulainya tetesan oksitocyn belum masuk fase aktif.
Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesaria.

7
H. Komplikasi
1) Komplikasi pada ibu
 Atonia uteri

 Sindrom hellp(hemolysis,elevated liver enzymes,low platelet count)

 Ablasi retina

 Gagal jantung

 Syok dan kematian


2) Komplikasi pada janin
 Pertumbuhan janin terhambat

 Prematuritas

 Kematian janin

 Solusio plasenta

8
2.2 Kala II Memanjang
2.2.1 Definisi
Persalinan kala II adalah dimulai ketika pembukaan servik dari pembukaan 4-10
cm dan berakhir dengan lahirnya bayi.(Buku APN,revisi 2007,hal 2-3)
Persalinan kala II memanjang terjadi jika persalinan kala II berlangsung lebih dari
2 jam untuk primigravida dan 1 jam untuk multipara.
Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada
primigravida dan lebiha dari 18 jam pada multipara.(Rustam mochtar 2008)

Fisiologi

Tanda-tanda kala II :

a. Ibu merasa ada dorongan kuat dan menekan


b. Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan vagina
c. Perinium tampak menonjol
Faktor-faktor penyebab kala II memanjang :
a. Kelainan letak janin
b. Kelainan-kelainan panggul
c. Kelainan his dan mengejan
d. Pemimpin persalinan yang salah
e. Janin besar
f. Ketuban pecah dini

Tanda dan gejala

a. Pada ibu
Gelisah,letih,suhu badan meningkat,berkeringat,nadi dan pernafasan cepat di
daerah lokal sering dijumpai odema servik,ketub berbau terdapa mekonium.
b. Pada janin
Denyut jantung bayi cepat dan tidak teratur

9
Klasifikasi kala II memanjang
a. Fase laten
Yaitu fase yang mempunyai 24 jam pada primigravida dan 20 jam pada
multipara.
b. Fase aktif memanjang
Yaitu fase yang berlangsung lebih dari 12 jam pada primigravida dan lebih
dari 6 jam pada 6 jam pada multipara.dan laju dilatasi servik kurang dari 1,5
cm perjam.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dilakukan pada ibu dengan kala II memanjang yaitu dapat
dilakukan partus spontan, ekstraksi vakum,ekstrasi forseps, sectio caesaria.
penatalaksanaan tetap melakukan asuhan sayang ibu yaitu anjurkan agar ibu
selalu didampingi oleh keluarganya selama proses persalinan dan kelahiran
bayinya.dukungan dari suami,keluarga sangat diperlukan dalam menjalani
proses persalinan.(Enkin,et al,200).
Jika setelah 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multipara belum terjadi
pengeluaran bayi pada kala II (tidak ada kemajuan penurunan kepala) maka :
 Jika kepala tidak lebih dari 1/5 di atas simpisis pubis atau bagian tulang
kepala di stasion (0),dilakukan ekstrasi vakum atau cunam
 Jika kepala diantara 1/5 -3/5 diatas simfisi pubis atau lebi
Dari 3/5 diatas simf tulang kepala diata simpisis pubis atau bagian

10
2.3 BENDUNGAN ASI

2.3.1 Pengertian

Bendungan ASI adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi
atau oleh kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena
kelainan pada putting susu. Bendungan air susu adalah terjadinya pembengkakan
pada payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan
bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan. (Sarwono, 2005).
Pembendungan ASI menurut Pritchar (1999) adalah pembendungan air susu karena
penyempitan duktus lakteferi atau oleh kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan
sempurna atau karena kelainan pada puting susu
Bendungan ASI adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi
atau oleh kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna atau kelainan pada
putting susu (Mochtar, 1998).

Etologi
Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke dua atau ke tiga ketika payudara telah
memproduksi air susu. Bendungan disebabkan oleh pengeluaran air susu yang tidak
lancar, karena bayi tidak cukup sering menyusu, produksi meningkat, terlambat
menyusukan, hubungan dengan bayi (bonding) kurang baik dan dapat pula karena
adanya pembatasan waktu menyusui. (Sarwono, 2009)
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan bendungan ASI, yaitu:
1. Pengosongan mamae yang tidak sempurna
Dalam masa laktasi, terjadi peningkatan produksi ASI pada ibu yang produksi
ASI-nya berlebihan. Apabila bayi sudah kenyang dan selesai menyusu dan
payudara tidak dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI di dalam payudara.
Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat menimbulkan bendungan ASI.
2. Faktor hisapan bayi yang tidak aktif
Pada masa laktasi, bila Ibu tidak menyusukan bayinya sesering mungkin atau
jika bayi tidak aktif mengisap, maka akan menimbulkan bendungan ASI.
3. Faktor posisi menyusui bayi yang tidak benar
Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting susu menjadi
lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu. Akibatnya Ibu tidak
mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI.

11
4. Puting susu terbenam
Puting susu yang terbenam akan menyulitkan bayi dalam menyusu. Karena bayi
tidak dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak mau menyusu dan akibatnya
terjadi bendungan ASI.
5. Puting susu terlalu panjang
Puting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada saat bayi menyusu karena
bayi tidak dapat menghisap areola dan merangsang sinus laktiferus untuk
mengeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan bendungan ASI.

Patofisiologi
Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun
dalam 2-3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi prolaktin
waktu hamil, dan sangat di pengaruhi oleh estrogen tidak dikeluarkan lagi, dan
terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis.
Hormon ini menyebabkan alveolus-alveolus kelenjar mammae terisi dengan air
susu, tetapi untuk mengeluarkan dibutuhkan refleks yang menyebabkan
kontraksi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-
kelenjar tersebut.
Refleks ini timbul bila bayi menyusui. Apabila bayi tidak menyusu dengan baik,
atau jika tidak dikosongkan dengan sempurna, maka terjadi bendungan air susu.
ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap
ASI. Ibu kadang-kadang menjadi demam, tapi biasanya akan hilang dalam 24
jam. (wiknjosastro,2005).

Manifestasi Klinis
1. Mamae panas serta keras pada saat perabaan dan nyeri.
2. Puting susu bisa mendatar sehingga bayi sulit menyusu.
3. Pengeluaran air susu kadang terhalang oleh duktus laktifer menyempit.
4. Payudara bengkak,keras,panas.
5. Nyeri bila ditekan.
6. Warnanya kemerahan.
7. Suhu tubuh sampai 38oC.

12
Pencegahan
1. Gunakan teknik menyusui yang benar.
2. Puting susu dan areola mamae harus selalu kering setelah selesai menyusui.
3. Jangan pakai bra yang tidak dapat menyerap keringat.
4. Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30 menit) setelah
dilahirkan.
5. Susui bayi tanpa jadwal atau ( on demand)
6. Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan
bayi.
7. Hindari tekanan local pada payudara.
8. Melakukan perawatan payudara.
Dengan tangan yang sudah dilicinkan dengan minyak lakukan pengurutan 3 macam
cara:
 Tempatkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara kemudian urut keatas,
terus kesamping, kebawah dan melintang hingga tangan menyangga payudara,
kemudian lepaskan tangan dari payudara.
 Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan saling dirapatkan,
kemudian sisi kelingking tangan kanan mengurut payudara dari pangkal ke arah
puting, demikian pula payudara kanan.
 Telapak tangan menopang payudara pada cara ke-2 kemudian jari tangan kanan
dikepalkan kemudian buku-buku jari tangan kanan mengurut dari pangkal ke arah
puting.

Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaa untuk bendungan ASI secara umum yaitu:
 Kompres hangat payudara agar menjadi lebih lembek.
 Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah ditangkap dan dihisap oleh
bayi.
 Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI.
 Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin.
 Untuk mengurangi statis di vena dan pembuluh getah bening lakukan pengurutan
(masase) payudara yang dimulai dari putin kearah korpus. (Sastrawinata, 2004)
13
 Sebaiknya selama hamil atau dua bulan terakhir dilakukan masase atau perawatan
puting susu dan areola mamae untuk mencegah terjadinya puting susu kering dan
mudah mencegah terjadinya payudara bengkak.

2. Penatalaksanaan untuk ibu yang menyusui:


 Sebelum menyusui, pijat payudara dengan lembut, mulailah dari luar kemudian
perlahan-lahan bergerak ke arah puting susu dan lebih berhati-hati pada area yang
mengeras.
 Menyusui sesering mungkin dengan jangka waktu selama mungkin, susui bayi
dengan payudara yang sakit jika ibu kuat menahannya, karena bayi akan
menyusui dengan penuh semangat pada awal sesi menyususi, sehingga bisa
mengeringkannya dengan efektif.
 Lanjutkan dengan mengeluarkan ASI dari payudara itu setiap kali selesai
menyusui jika bayi belum benar-benar menghabiskan isi payudara yang sakit
tersebut.
 Tempelkan handuk halus yang sudah dibasahi dengan air hangat pada payudara
yang sakit beberapa kali dalam sehari (atau mandi dengan air hangat beberapa
kali), lakukan pemijatan dengan lembut di sekitar area yang mengalami
penyumbatan kelenjar susu dan secara perlahan-lahan turun kearah putting susu.
 Kompres dingin pada payudara di antara waktu menyusui.
 Bila diperlukan berikan paracetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.
 Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi hasilnya.

3. Penataksanaan bagi ibu yang tidak menyusui


 Sangga payudara.
 Kompres dingin payudara untuk mengurangi pembengkakan dan rasa sakit.
 Bila di perlukan berikan paracetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.
 Jangan di pijat atau memakai kompres hangat payudara.
 Pompa dan kosongkan payudara.

14
2.4 KEJANG DEMAM
2.4.1 Pengertian/Definisi:

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rectal diatas 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstracranium. Kejang
demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak
terutama terjadi pada anak berumur 6 bulan s/d 5 tahun dan jarang sekali terjadi
untuk pertama kalinya pada usia kurang dari 6 bulan atau lebih dari 3 tahun.

Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak
mengalami demam tanpa infeksi system saraf pusat. Kejang demam biasanya
terjadi pada awal demam. Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsy, yaitu
yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam. Selama anak mengalami
kejang demam, ia dapat kehilangan kesadaran disertai gerakan lengan dan kaki dan
kekakuan tubuhnya.

Secara umum kejang demam dapat diklasifikasikan dalam 2 jenis yaitu Kejang
Demam Sederhana ( Simple Febrile Seizures ) yang merupakan kejang demam yang
berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan umumnya akan berhenti sendiri.
Kejang berbentuk umum tonik dan klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak
berulang dalam waktu 24 jam dan merupakan 20% diantara seluruh kejang demam.
Sedang jenis yang satunya disebut Kejang Demam Kompleks ( Complex Febrile
Seizures ) yaitu kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit dan bersifat fokal atau
partial satu sisi atau kejang umum didahului kejang parsial. Kejang berulang adalah
kejang 2 kali atau lebih dalam 24 jam dan diantara bangkitan kejang anak sadar.

ETIOLOGI

Hingga kini belum diketahui dengan pasti penyebab kejang demam. Demam sering
disebabkan infeksi virus saluran pernafasan atas,radang telinga tengah
(OMA),infeksi saluran cerna dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul
pada suhu yang tinggi,kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat
menyebabkan kejang.

15
Jadi pada kenaikan suhu tubuh dapat terjadi perubahan keseimbangan dari
membrane sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion Kalium
maupun ion Natrium melalui membrane tadi,dengan akibat terjadi nya lepas muatan
listrik. Lepasnya muatan listrik ini dapat meluas ke seluruh sel maupun ke
membrane sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan
terjadilah kejang.

PATOFISILOGI

Patofisilogi kejang demam belum diketahui secara pasti, diperkirakan pada saat
demam terjadi peningkatan reaksi kimia tubuh , akan timbul kenaikan konsumsi
energi dijaringan otak dan tubuh lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan energi
tersebut oksidasi terjadi lebih cepat akibatnya oksigen akan lebih cepat habis
sehingga terjadilah keadaan hipoksia, pada saat hipoksia ransport aktif sel akan
terganggu akibatnya potensial membran otak akan menurun dan kepekaan sek saraf
meningkat sehingga terjadilah kejang.

KOMPLIKASI

Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak
menimbukan gejala sisa tetapi pada kejang yang berlangsung lebih >15 menit yaitu:

1. Kerusakan otak

2. Retradaksi mental

3. Hemiparese

4. Biasanya disertai apneu, hipoksemia, hiperkapnea, asidosis laktat, hipotensi


artrial, suhu tubuh lenih meningkat.

5. kematian

16
GAMBARAN KLINIS

Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan
kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar
susunan saraf pusat,serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu
demam,berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-
klonik,tonik,klonik,fokal atau akinetik. Kejang demam biasanya terjadi pada awal
demam.anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat ,kemudian kaku,anak tidak
responsive untuk beberapa waktu,nafas akan terganggu dan kulit tampak lebih gelap
dari biasanya. Setelah kejang anak akan normal kembali,kejang biasanya berakhir
kurang dari 1 menit,tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.

DIAGNOSIS

Pengamatan kejang tergantung pada banyak factor,termasuk umur penderita,tipe


dan frekuensi kejang,ada atau tidak adanya temuan neurologis dan gejala yang
bersifat dasar. Sebagaimana yang kita ketahui klasifikasi kejang dapat
dikelompokkan menjadi Kejang Demam Sederhana jika kejang berlangsung
singkat,kurang dari 15 menit,umumnya berhenti sendiri,kejang bersifat tonik atau
klonik tanpa gerakan fokal,kejang berulang dalam waktu 24 jam. Gejala klinis
Kejang Demam Kompleks jika menunjukkan lama kejang > 15 menit,kejang fokal
atau partial satu sisi,serta kejang umum didahului kejang partial dan berulang atau
lebih dari 1 kali dalam 24 jam,diantara bangkitan kejang anak tidak sadar.

2.4.1.1 PEMERIKSAAN PENUNJANG

FUNGSI LUMBAL

Pemeriksaan cairan cerebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan


kemungkinan meningitis.Risiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0.6 %-6.7
%. Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis
meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas.oleh karena itu pungsi lumbal
dianjurkan pada:

17
1. Bayi kurang dari 12 bulan

2. Bayi antara 12-18 bulan

3. Bayi > 18 bulan tidak rutin

Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal.

ELEKTROENSEFALOGRAFI

Pemeriksaan ensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang


atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsy pada pasien kejang demam.
Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan demam kejang yang
tidak khas,misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun
atau kejang demam fokal.EEG terindikasi untuk kejang demam atipik atau pada
anak yang berisiko untuk berkembang epilepsy. Kejang demam atipik meliputi
kejang yang menetapselama lebih dari 15 menit,kejang berulang selama
beberapa jam atau hari dan kejang setempat.

PENCITRAAN

Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan (CT- Scan)
atau magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan,tidak rutin dan
hanya atas indikasi seperti:(2,3)

1. Kelainan neurologic fokal yang menetap(hemiparesis)

2. Paresis nervus VI

3. Papil edema

18
DIAGNOSA BANDING

1. Meningitis

2. Ensefalitis

3. Abses otak

PENATALAKSANAAN

 Memastikan jalan napas anak tidak tersumbat


 Pemberian oksigen melalui face mask
 Pemberian diazepam 0,5 mg/kg berat badan per rektal (melalui anus) atau jika
telah terpasang selang infus 0,2 mg/kg per infus
 Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan
 Sebagian sumber menganjurkan pemeriksaan kadar gula darah untuk meneliti
kemungkinan hipoglikemia. Namun sumber lain hanya menganjurkan
pemeriksaan ini pada anak yang mengalami kejang cukup lama atau keadaan
pasca kejang (mengantuk, lemas) yang berkelanjutan .

Jika kejang masih berlanjut :

 Pemberian diazepam 0,2 mg/kg per infus diulangi. Jika belum terpasang
selang infus, 0,5 mg/kg per rektal
 · Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan

Jika kejang masih berlanjut :

 Pemberian fenobarbital 20-30 mg/kg per infus dalam 30 menit atau fenitoin
15-20 mg/kg per infus dalam 30 menit.
 Pemberian fenitoin hendaknya disertai dengan monitor EKG (rekam jantung).

Jika kejang masih berlanjut, diperlukan penanganan lebih lanjut di ruang perawatan
intensif dengan thiopentone dan alat bantu pernapasan.

19
Pemberian obat-obatan jangka panjang untuk mencegah berulangnya kejang demam
jarang sekali dibutuhkan dan hanya dapat diresepkan setelah pemeriksaan teliti oleh
spesialis . Beberapa obat yang digunakan dalam penanganan jangka panjang adalah
sebagai berikut.

 Antipiretik Antipiretik tidak mencegah kejang demam . Penelitian menunjukkan


tidak ada perbedaan dalam pencegahan berulangnya kejang demam antara pemberian
asetaminofen setiap 4 jam dengan pemberian asetaminofen secara sporadis.
Demikian pula dengan ibuprofen.
 Diazepam . Pemberian diazepam per oral atau per rektal secara intermiten
(berkala) saat onset demam dapat merupakan pilihan pada anak dengan risiko tinggi
berulangnya kejang demam yang berat . Edukasi orang tua merupakan syarat penting
dalam pilihan ini. Efek samping yang dilaporkan antara lain ataksia (gerakan tak
beraturan), letargi (lemas, sama sekali tidak aktif), dan rewel. Pemberian diazepam
juga tidak selalu efektif karena kejang dapat terjadi pada onset demam sebelum
diazepam sempat diberikan . Efek sedasi (menenangkan) diazepam juga
dikhawatirkan dapat menutupi gejala yang lebih berbahaya, seperti infeksi sistem
saraf pusat.
 Profilaksis (obat pencegahan) berkelanjutan. Efektivitas profilaksis dengan
fenobarbital hanya minimal, dan risiko efek sampingnya (hiperaktivitas,
hipersensitivitas) melampaui keuntungan yang mungkin diperoleh . Profilaksis
dengan carbamazepine atau fenitoin tidak terbukti efektif untuk mencegah
berulangnya kejang demam. Asam valproat dapat mencegah berulangnya kejang
demam, namun efek samping berupa hepatotoksisitas (kerusakan hati)
 Dari berbagai penelitian tersebut, satu-satunya yang dapat dipertimbangkan
sebagai profilaksis berulangnya kejang demam hanyalah pemberian diazepam secara
berkala pada saat onset demam, dengan dibekali edukasi yang cukup pada orang tua.
Dan tidak ada terapi yang dapat meniadakan risiko epilepsi di masa yang akan
datang .

20
2.5.1 TUMOR OVARIUM
Tumor ovarium merupakan masa padat yang besar, meninggi dan berukuran lebih
dari 2 cm ( corwin, 2000 ). Tumor ovarium adalah benjolan yang terdapat dalam
ovarium. Tumor ovarium padat adalah neoplasma.
Tumor ini dapat mencapai diameter 2 cm sampai 30 cm, dan beratnya dapat
mencapai 20 kg, dengan 90% unilateral. Permukaannya tidak rata, konsistennya
keras, terdiri dari jaringan ikat, jaringan kolagen dan kadang ada degerasi hialin,
warnanya merah jambu keabu – abua. Tentang kepadatan tumor , ada yang
konsistennya memang betul – betul keras disebut fibroma durum, sebaliknya ada
yang lebih lunak disebut fibroma molle.
A. Tumor jinak pada ovarium
1) Definisi
Kista ovarium adalah tumor jinak pada ovarium.Jenis tumor ini berupa kantong
abnormal yang berisi cairan atau benda seperti bubur.Kista ovarium secara
funsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus
menstruasi.
Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal, folikel de graf
atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari
epithelium ovarium.Tumor ovarium sering jinak bersifat kista, ditemukan terpisah
dari uterus dan umumnya diagnosis didasarkan pemeriksaan fisik.
2) Klasifikasi
Klasifikasi tumor jinak di bagi menjadi yaitu :
1) Tumor kistik ovarium
Merupakan jenis yang paling sering terjadi terutama yang bersifat non neoplastik,
seperti kista retensi yang berasal dari korpus luteum. Tetapi di samping itu
ditemukan pula jenis yang betul yang merupakan neoplastik. Oleh karena itu ,
tumor kistik dari ovarium yang jinak di bagi dalam golongan non neoplastik (
fungsional ) dan neoplastik.

21
a. Kista ovarium non neoplastik ( fungsional )
Macam – macam kista ovarium non neoplastik ( fungsional ) yaitu :
1. Kista folikel
Adalah struktur normal , fisiologis , sementara dan sering kali multiple, yang
berasal dari kegagalan resorbsi cairan folikel yang tidak berkembang sempurna.
Paling sering terjadi pada wanita muda yang masih menstruasi dan merupakan kista
yang paling lazim dijumpai oleh ovarium normal. Diameter kista berkisar dari
ukuran mikroskopik sampai 8 cm ( rata – rata 2 cm ).
Kista folikel biasanya tidak bergejala dan menghilang dengan spontan dalam waktu
< 60 hari. Jika muncul gejala , biasanya menyebabkan interval antar menstruasi
yang sangat pendek atau sangat panjang. Perdarahan intraperitoneal dan torsi
merupakan komplikasi yang jarang terjadi.Kista terus yang terus membesar dan
menetap > 60 hari memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.Pemeriksaan yang biasa
dilakukan untuk kista < 4 cm adalah pemeriksaan ultrasonografi awal, pemeriksaan
ulang dalam waktu 6 minggu dan sekali lagi dalam waktu 8 minggu jika kista tetap
ada. Pada kista folikel > 4 cm atau kista kecil menetap, pemberian kontrasepsi oral
selama 4 – 8 minggu akan menyebabkan kista menghilang sendiri.
2. Kista korpus luteum
Disebut kista korpus luteum jika berukuran > 3 cm. kadang – kadang diameter kista
ini dapat sebesar 10 cm ( rata – rata 4 cm ). Penyulit proses ini dapat terjadi akibat
perdarahan atau dari kista korpus luteum.
Tindakan operatif biasanya berupa kistektomi ovarii dengan mempertahankan
ovarium.Operasi perlu dilakukan jika hemotorik cairan yang didapat melalui
kuldosentesis >15 %. Namun jika perdarahan tidak begitu berat, rasa sakit dan nyeri
tekan berhubungan dengan menstruasi yang terlambat atau amenorea , karena itu
kista korpus luteum harus dibedakan dengan kehamilan ektopik, rupture
endometruim dan torsi adneksa. Biasanya dilakukan dengan pemeriksaan HCG (
Human Chorionik Gondotropin ) dan ultrasonografi ( USG ). Kista yang menetap
dapat menghilang setelah pemberian kontrasepsi oral selama 4 – 8 minggu.

22
3. Kista teka luteum
Kista teka lutein biasanya bilateral , kecil dan lebih jarang disbanding kista folikel
atau kista korpus luteum. Kista teka lutein diisi oleh cairan berwarna kekuning –
kuningan. Berhungunan dengan penyakit trofoblastik kehamilan ( misalnya mola
hidatidosa, koriokarsinoma). Kehamilan ganda atau kehamilan dengan penyulit
diabetes meletus atau sensitasi Rh, penyakit ovarium polikistik ( Sindroma Stein
Leventhal ), dan pemberian zat perangsang ovulasi ( misalnya klomifen atau terapi
HCG ).
Gejala – gejala yang timbul biasanya minimal ( misalnya rasa penuh atau menekan
pada pelvis ), meskipun ukuran ovarium seluruhnya dapat sebesar 10 – 20 cm.
b. Kista ovarium neoplastik
Macam – macam kista neoplastik , yaitu :
1. Kistoma ovarii simpleks
Kistoma Ovarii simpleks adalah kista yang permukaannya rata dan halus, biasanya
bertangkai, seringkali bilateral, dan dapt menjadi besar.Dinding kista tipis berisi
cairan jernih yang serosa dan berwarna kuning.
2. Kistadenoma Ovarii Musinosum
Kista ini berasal dari teratoma. Namun, pendapat lain mengatakan kista ini berasal
dari epitel germinativum atau mempunyai asal yang sama dengan tumor Brenner.
Bentuk kista multilokelar, biasanya unilateral, dapat tumbuh sangat besar.
Gambaran klinis terdapat perdarahan dalam kista dan perubahan degenerative
sehingga timbul perlakatan kista dengan omentum, usus – usus dan peritoneum
parietale.Selain itu, bisa terjadi ileus karena perlekatan dan produksi musim yang
terus bertambah akibat pseudomiksoma peritonei.
3. Kistadenoma Ovarii serosum
Kista ini berasal dari epitel germinativum.Bentuk kista umumnya unilakulor, bila
multilokular perlu dicurigai adanya keganasan.Kista ini dapat membesar, tetapi
tidak sebesar kista musinosum.Gambaran klinis pada kasus ini tidak klasik. Selain
teraba massa intraabdominal dapat timbul asites.

23
4. Kista Dermoid
Kista dermoid adalah kistik jinak dengan struktur ektodermal berdiferensiasi
sempurna dan lebih menonjol dari pada mesoderm dan entoderm.Dinding kista
keabu – abuan dan agak tipis, konsistensi sebagian kistik kenyal dan sebagai lagi
padat.Dapat terjadi perubahan kearah keganasan, seperti karsinoma epidermoid.
Kista ini diduga berasal dari sel telur melalui proses parthenogenesis. Gambaran
klinis adalah nyeri mendadak diperut bagian bawah karena torsi tanghkai kista.
2) Tumor solid ovarium
a. Fibroma ovarii
Tumor ini dapat mencapai diameter 2 – 30 cm, dan beratnya dapat mencapai 20 kg,
dengan 90 % unilateral. Permukaannya tidak rata, konsistensi keras, warnanya
merah jambu keabu – abuan. Tentang kepadatan tumor, ada yang konsistensinya
memang betul – betul keras yang disebut fibroma durum , sebaliknya ada yang
cukup lunak dan disebut fibroma molle. Kalau tumor dibelah, permukaannya
biasanya homogeny. Akan tetapi , pada tumor yang agak besar mungkin terdapat
bagian – bagian yang menjadi cair karena nekrosis.
b. Tumor Brenner
Besar tumor ini beraneka ragam, dari yang kecil ( garis tengahnya kurang dari 5 cm
) sampai yang beratnya beberapa kilogram. Lazimnya tumor unilateral, yang pada
pembelahan berwarna kuning muda menyurupai fibroma, dengan kista – kista kecil
( multikistik ). Kadang – kadang pada tumor ini ditemukan sindrom meigs.
c. Maskulinovoblastoma ( adreanal cell rest tumor )
Tumor ini sangat jarang, dalam kepustakaan dunia hingga kini hanya dilaporkan 30
kasus. Tumor ini biasanya unilateral dan besarnya bervariasi antara 0,5 – 16 cm
diameter.
3) Etiologi
Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti tapi ada beberapa faktor pemicu
yaitu :
a. Gaya hidup tidak sehat.
Diantaranya yaitu :
1. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat

24
2. Zat tambahan pada makanan
3. Kurang olahraga
4. Merokok dan konsumsi alcohol
5. Terpapar dengan polusi dan agen infeksius
6. Sering stress
7. Zat polutan
b. Faktor genetic
Dalam tubuh kita terdapat gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang disebut
protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat
karsinogen, polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, potoonkogen
ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.
4) Patofisiologi
1. Kista non neoplasma
a. Kista non fungsional
Kista serosa inklusi, di dalam kortek yang dalam timbul invaginasi dari permukaan
epiteliumyang berkurang.Biasanya tunggal atau multiple, berbentuk variable dan
terbatas pada cuboidal yang tipis endometri atau epithelium tuba, berukuran 1 cm
sampai beberapa cm.
b. Kista fungsional
 Kista folikel
Dibentuk ketika folikel yang yang matang menjadi rupture atau folikel yang tidak
matang di reabsorbsi cairan folikuler diantara siklus menstruasi. Bila rupture
menyebabkan nyeri akut pada pelvis. Evaluasi lebih lanjut dengan USG atau
laparaskopi.Operasi dilakukan pada wanita sebelum pubertal, setelah menopause
atau kista lebih dari 8 cm.
 Kista korpus luteum
Terjadi setelah ovulasi dikarenakan meningkatnya hormone progesterone.Ditandai
dengan keterlambatan menstruasi atau menstruasi yang panjang, nyeri abdominal
bawah atau pelvis. Jika rupture pendarahan intraperitonial, terapinya adalah operasi
ooverektomi.

25
 Kista teka lutein
Ditemui pada kehamilan mola, terjadi pada 50 % dari semua kehamilan.Dibentuk
sebagai hasil lamanya slimulasi ovarium dari berlebihnya HCG.Tindakannya adalah
mengangkat mola.
 Kista stein laventhal
Disebabkan kadar LH yang berlebihan menyebabkan hiperstimulasi dari ovarium
dengan produksi kista yang banyak. Hyperplasia endometrium atau koriokarsinoma
dapat terjadi pengobatan dengan kontrasepsi oral untuk menekan produksi LH dan
ooverektomi.
2. Kista neoplasma jinak
a. Kistoma ovarii simplek
Kista ini bertangkai dan dapat menyebabkan torsi ( putaran tankai ). Diduga kista
ini adalah jenis kistadenoma serosum yang kehilangan kelenjarnya karena tekanan
cairan dalam kista.Tindakannya adalah pengangkatan dengan reseksi ovarium.
b. Kistadenoma ovarii musinosum
Asal tumor belum diketahui secara pasti, namun diduga berasal dari teratoma yang
pertumbuhan satu elemen mengalahkan elemen yang lain, atau berasal dari epitel
germinativum.
c. Kistadenoma ovarii serosum
Berasal dari epitel permukaan ovarium ( germinal ovarium ). Bila kista terdapat
implantasi pada peritoneum disertai asites maka harus dianggap sebagai neoplasma
yang ganas, dan 30 % sampai 35 % akan mengalami keganasan.
d. Kista endometroid
Kista biasanya unilateral dengan permukaan licin, pada dinding dalam terdapat satu
lapisan sel – sel yang menyerupai lapisan epitel endometrium.
e. Kista dermoid
Adalah suatu teratoma kistik yang jinak dimana struktur – struktur ektoderma
dengan diferensiasi sempurna seperti epitel kulit, rambut , gigi dan produk glandula
sebasea putih menyurupai lemak Nampak lebih menonjol dari pada elemen – elemen
ectoderm dan mesoderm. Tumor berasal dari sel telur melalui proses pathogenesis.

26
5) Manifestasi klinis
Kebanyakan kista ovarium tidak menunjukan tanda dan gejala.Sebagaian besar
gejala yang ditemukan adalah akibat pertumbuhan aktivitas hormone atau
komplikasi tumor terebut.Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak
menimbulkan gejala dalam waktu yang lama.Gejala umunya sangat berfariasi dan
tidak spesifik.
Tanda dan gejala yang sering muncul pada kista ovarium antara lain :
a. Menstruasi yang tidak teratur
b. Perasaan penuh dan tertekan diperut bagian bawah
c. Nyeri saat bersenggama
d. Perdarahan
 Pada stadium awal gejalanya dapat berupa :
a. Gangguan haid
b. Jika sudah menekan rectum mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih.
c. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri
spontan dan sakit perut.
d. Nyeri saat bersenggama.
Pada stadium lanjut :
a. Asites
b. Penyebaran ke omentum ( lemak perut ) serta organ – organ didalam rongga perut (
usus dan hati )
c. Perut membuncit , kembung , mual , gangguan nafsu makan
d. Gangguan buang air besar dan kecil
e. Sesa nafas akibat penumpkan cairan dirongga dada
6) Komplikasi
Komplikasi dari kista ovarium yaitu :
a. Perdarahan intra tumor
Perdarahan yang menyebabkan gejala klinik nyeri abdominal mendadak dan
memerlukan tindakan yang cepat.
b. Perputaran tangkai
Tumor bertangkai mendadak menimbulkan nyeri abdomen.

27
c. Infeksi pada tumor
Menimbulkan gejala : badan panas , nyeri abdomen, mengganggu aktifitas sehari –
hari.
d. Robekan dinding kista
Pada torsi tangkai ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista tumpah
kedalam rangan abdomen.
e. Keganasan kista ovarium
Terjadi pada kista pad usia sebelum menarche dan pada usia diatas 45 tahun.
7) Diagnosis
Apabila pada pemeriksaan ditemukan tumor dirongga perut bagin bawah dan atau
dirongga panggul, maka setelah diteliti sifat – sifatnya ( besarnya, lokalisasi,
permukaan, konsistensi, apakah dapat digerakan atau tidak), perlulah ditentukan
jenis tumor tersebut. Pada tumor ovarium biasanya uterus dapat diraba tersendiri,
terpisah dari tumor.Jika tumor ovarium terletak digaris tengah dalam rongga perut
bagian bawah dan tumor itu konsistennya kistik, perlu dipikirkan adanya kehamilan
atau kandung kemih penuh, sehingga pada anamnesa perlulah lebih cermat disertai
pemeriksaan tambahan.
Dinegara- negara berkembang, karena tidak segera dioperasi tumor ovarium bisa
menjadi besar, sehingga mengisi seluruh rongga perut. Dalam hal ini kadang –
kadang sukar untuk menentukan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor
atau acsitis, akan tetapi dengan pemeriksaan yang dilakukan dengan teliti,
kesukaran ini biasanya dapat diatasi.
Apabila sudah ditentukan bahwa tumor yang ditemukan ialah tumor ovarium , maka
perlu diketahui apakah tumor itu bersifat neoplastik atau non neoplastik. Tumor non
neoplastik akibat peradangan umunya dalam anamnesa menunjukan gejala – gejala
kearah peradangn genital, dan pada pemeriksaan tumor – tumor akibat peradangan
tidak dapat di gerakan karena perlengketan.Kista non neoplastik umunmya tidak
menjadi besar, dan diantaranya pada suatu waktu biasanya menghilang sendiri.

28
8) Pemeriksaan penunjang
Tidak jarang tentang penegakan diagnosis tidak dapat diperoleh kepastian sebelum
dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam
dari gejala – gejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan differensial
diagnosis.
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu menegakan diagnosis
adalah :
a. Laparaskopi
Pumemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal
dari ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat – sifat tumor itu.
b. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor
berasal dari uterus ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid,
dan dapat pula dibedakan antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang
tidak.
c. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks.Selanjutnya, pada
kista dermoid kadang – kadang dapt dilihat adnya gigi dalam tumor.
d. Parasintesis
Fungsi acsites berguna untuk mrnrntukan sebab acsites.Perlu diperhatikan bahwa
tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi kista bila
dinding kista tertusuk.
9) Penanganan
Prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor non
neoplastik tidak, jika menghadapi tumor ovarium yang tidak memberikan gejala /
keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi 5 cm diameternya,
kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus luteum.
Tidak jarang tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan
menghilang, sehingga perlu diambil sikap untuk menunggu selam 2- 3 bulan, jika
selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut,

29
kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan tumor besar itu bersifat
neoplastik dan dapat di pertimbangkan untuk pengobatan operatif.
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah
pengankatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang
mengandung tumor, akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu
dilakukan pengankatan ovarium , biasanya disertai dengan pengankatan tuba (
salphygoooforektomi ). Jika terdapat keganasan operasi yang lebih tepat ialah
histerektomi dan salphygoooforektomi bilateral.Akan tetapi pada wanita muda
yang masih ingin mendapatkan keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor
yang rendah, dapat dipertanggung jawabkan untuk mengambil resiko dengan
melakukan operasi yang tidak seberapa radikal.
10) Cara pencegahan
Beberapa faktor muncul untuk mengurangi risiko kanker ovarium , termasuk :
a. Kontrasepsi oral ( pil KB )
Dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah menggunakan mereka , para
wanita yang menggunakan kontrasepsi selama lima tahun atau lebih mengurangi
risisko kenker ovarium sekitar 50 %, sesuai dengan ACS.
b. Kehamilan dan menyusui
Memiliki paling tidak satu anak menurunkan resiko anda mengalami kanker
ovarium.Menyusui anak – anak juga dapat mengurangi resiko kanker ovarium.
c. Tubal ligasi atau histerektomi
Setelah tabung anda diikat atau memiliki histerektomi dapat mengurangi resiko
kanker ovarium. Perempuan yang berada pada resiko yang sangat tinggi
mengalami kanker ovarium dapat memilih untuk memiliki indung telur mereka
diangkat sebagai cara untuk mencegah penyakit. Operasi ini, dikenal sebagai
profilaksis ooforektomi, dianjurkan terutama bagi perempuan yang telah di tes
positif untuk mutasi gen BRCA atau wanita yang mempunyai sejarah keluarga
yang kuat payudara dan kanker ovarium , bahkan jika tidak ada mutasi genetic
yang telah diidentifikasi. Studi menunjukan bahwa ooferektomi profilaksis
menurunkan resiko kanker ovarium hingga 95 %, dan mengurangi resiko kanker
payudara hingga 50%, jika ovarium diangkat sebelum menopause.Profilaksis

30
ooforektomi mengurangi, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan resiko kanker
ovarium.Karena kanker ovarium biasanya berkembang dilapiasan tipis rongga
perut yang meliputi ovarium, wanita yang pernah diangkat indung telur mereka
masih bisa mendapatkan yang serupa, tetapi jarang bentuk kanker yang disebut
kanker peritoneal primer. Selain itu, profilaksis ooforektomi menginduksi
menopause dini, yang dengan sendirinya mungkin memiliki dampak negative
pada kesehatan anda, termasuk peningkatan resiko osteoporosis, penyakit
jantung dan kondisi lain.

B. Tumor ganas pada ovarium


1) Definisi
Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium ( organ yang berfungsi dalam
produksi sel telur ). Kanker ini merupakan 3 – 4 % dari seluruh jenis kanker pada
wanita. Secara umum, kanker ovarium adalah penyakit pada wanita post
menopause, dengan angka kejadian tertimggi pada usia 65 – 74 tahun.
2) Gejala
Letak tumor yang tersembunyi dalam rongga perut dapat menjadi besar tanpa
disadari oleh penderita. Sebagian besar tumor hanya menimbulkan sedikit gejala
sampai tumor menyebar. Pada tahap awal, gejala hanya minimal , tidak spesifik,
atau tidak bergejala. Oleh karena itu, sebagian besar penderita didiagnosis pada
tahap yang sudah lanjut.
Gejala dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :
1. Gejala desakan
Tumor yang semakin membesar akan mendesak organ – organ lain disekitar. Hal
ini dirasakan penderita sebagai keluhan saluran cerna seperti mual, kembung,
perubahan pola buang air kecil dan besar ( konstipasi atau diare ), atau rasa tidak
nyaman pada perut. Tumor yang sangat besar dapat menimbulkan rasa berat atau
tertekan pada perut.
Pada sebagian kecil penderita , kanker ovarium dapat terpelintir ( inkarserasi )
sehingga menimbulkan nyeri hebat, rasa tidak nyaman pada dubur dan tidak
kemampuan buang air besar atau kecil. Pada perabaan perut dapat teraba benjolan

31
jika tumor sangat besar, benjolan ini tidak dapat digerakan, keras , dan berbenjol –
benjol. Jika tumor besar ini menekan pembuluh darah balik dari tungkai, maka
dapat di temui pembengkakan tungkai. Secara umum, wanita post menopause dan
perempuan pre pubertas berisiko paling besar menderita kanker ovarium ganas.
Sedangkann benjolan pada perut wanita usia reproduktif umumnya merupakan
kista ovarium atau pembelahan sel rahim berlebihan ( endometrioma 0 yang lebih
jinak.
2. Gejala penyebaran
Penyebaran sel tumor pada lapisan rongga perut ( peritoneum ) menyebabkan
terkumpulnya cairan pada rongga perut ( as citis ). Hal ini ditandai dengan
bertambahnya lingkar perut, rasa kembung dan rasa kenyang. Umumnya gejala
penyebaran dirasakan jika kanker mencapai tahap lanjut.
3. Gejala hormonal
Ovarium merupakan organ yang menghasilkan hormon esterogendan progesteron,
adanya sel yang berlebihan pada kanker menyebabakan peningkatan hormon –
hormon ini juga. Gejala peningkatan hormon antara lain gangguan menstruasi dan
perdarah dari vagina.
Gejala umum lain seperti penurunan berat badan, kelemahan , dan sesak nafas
dapat ditemui. Komplikasi yang dapat terjadi adalah penyebaran ke organ lain
(metastasis), cairan pada perut, dan penyumbatan usus . kanker ovarium dapat
menyebar ke organ – organ sekitarnya melalui lapisan dinding perut, melalui
kelenjar getah bening, dan melalui aliran darah ke berbagai organ jauh,. Organ
yang menjadi targetpenyebaran adalah lapisan dinding perut ( 85 % ), jaringan
lemak di dalam rongga perut ( 70 % ), hati (35 % ), lapisan pembungkus paru (
25% ) dan tulang ( 15% ).
Kanker ovarium dibagi menjadi 4 stadium. Penentuan stadium kanker ini
memerlukan pemeriksaan lanjut seperti USG atau CTscan. Pada waktu diagnosis,
70 % penderita kanker ovarium sudah memasuki stadium III.
a. Stadium I
Kanker yang terbatas pada ovarium ( satu atau dua ovarium ) dengan atau tanpa
cairan pada rongga perut.

32
b. Stadium II
Kanker ovarium yang telah menyebar ke rongga panggul ( rahim, saluran rahim
atau organ panggul lain ) dengan atau tanpa adanya cairan pada rongga perut
c. Stadium III
Kanker ovarium yang telah meluas ke usus halus dalam panggul atau penyebaran
melalui lapisan rongga perut
d. Stadium IV
Kanker telah menyebar ke organ – organ jauh.

3) Penyebab
Penyebab pasti kanker ovarium tidak diketahui; namun , diduga bahwa kanker
ovarium berkaitan dengan peristiwa pelepasan sel telur ( ovulasi ). Adanya
kerusakan berulang pada lapisan permukaan ovarium saat ovulasi menyebabkan
perubahan pada gen yang mengatur pembelahan sel ovarium sehingga terjadi
pembelahan sel yang berlebihan dan ganas.
Kanker ovarium ditemui 60 % pada wanita usia sekitar menopause, 30 % pada usia
reproduktif dan 10 % pada usia yang lebih muda. Kanker ovarium banyak ditemui
pada orang kulit putih dan orang yang tigal di Amerika Serikat atau Eropa ( jarang
ditemui diindia dan asia ). Kanker endometrium dapat terjadi pada wanita mulai
usia 15 tahun, namun rata – rata usia penderita adalah 56 tahun. Sebanyak 25 %
kanker ovarium ditemui pada kedua ovarium.
Selain berkembang dari sel ovarium sendiri ( kanker ovarium primer ), kanker
ovarium juga dapat merupakan hasil penyebaran kanker organ lain ( kanker
ovarium sekunder ) seperti kanker payudara dan kanker saluran cerna. Sebanyak
7% dari penderita kanker ovarium adalah sekunder dari tempat lain. Terdapat
beberapa faktor risiko yang berperan dalam terjadinya kanker ovarium primer,
antara lain :
a. Faktor reproduksi
Riwayat melahirkan adalah faktor resiko yang penting. Resiko kanker ovarium
lebih tinggi pada wanita yang tidak pernah melahirkan, wanita dengan menstruasi
pertama pada usia sangat muda, atau wanita dengan menopause terlambat. Riwayat

33
kehamilan berkaitan dengan penurunan resiko kanker ovarium sebanyak 13 – 19 %
per 1 kehamilan. Riwayat penggunaan kontrasepsi pil dan riwayat menyusui juga
menurunkan resiko kanker ovarium. Wanita yang menggunakan kontrasepsi pil
selama lebih dari 5 tahun menurunkan resiko kanker ovarium sebanyak 50%.
b. Faktor genetic
Riwayat keluarga juga berperan penting dalam kanker ovarium. Resiko lebih tinggi
pada orang dengan keluarga inti penderita kanker ovarium ( resiko sebesar 4-5% ).
Sebanyak 10 – 20 % penderita kanker ovarium memiliki riwayat keluarga positif.
Kanker ovarium yang diturunkan dapat menimbulkan gejala lebih dini, namun
memiliki perjalanan penyakit dan hasil yang lebih baik di banding kanker ovarium
yang diturunkan. Wanita dengan kanker payudara berisiko menderita kanker
ovarium karena kemiripan kerusakan genetik.
c. Faktor lain
Konsumsi makanan dengan lemak hewani yang tinggi meningkatkan resiko kanker
ovarium. Penggunaan bedak pada alat kelamin luar dan sekitar dubur juga diduga
berperan dalam terjadinya kanker ovarium. Pada hal ini , bedak berperan sebagai
benda asing yang memicu terjadinya kanker.
4) Pengobatan
Pengobatan kanker ovarium terdiri dari :
a. Operasi
Operasi adalah pengobatan dasar kanker ovarium pada stadium apapun. Dokter
bedah dapat mengangkat 1 ovarium, 2 ovarium, saluran rahim, atau rahim
tergantung dari stadium kanker. Pada stadim lanjut , dilakukan operasi luas dimana
diambil sebanyak mungkin tumor dan organ sekitar yang terkena ( debulking
surgery ).
Untuk kanker stadium lanjut,operasi dilanjutkan dengan kemoterapi.
b. Kemoterapi
Kemoterapi untuk menuntaskan pengobatan terhadap sel – sel kanker yang tersisa
setelah operasi.

34
c. Radioterapi
Radioterapi umunya digunakan sebagai terapi lanjutan pada kanker ovarium
stadium I atau II yang diberikan pada daerah panggul saja atau seluruh rongga
perut. Untuk stadium lanjut, radioterapi kurang efektif namun dapat digunakan
sebagai penambahan pengobatan sebelum atau sesudah kemoterapi dan
bedah.namun, radiasi hanya efektif pada jenis tumor yang peka terhadap sinar (
radiosensitif ). Jika terdapat cairan dalam rongga perut yang sangat banyak , dapat
dilakukan penyedotan cairan untuk mengurangi volume cairan dan memeriksa
karakteristik cairan tersebut. Dengan dikeluarkannya cairan, dokter dapat
melakukan pemeriksaan perut dengan lebih baik dan penderita merasa lebih
nyaman.
Tingkat kematian kanker ovarium tergolong tinggi karena kurangnya deteksi dini.
Sebanyak 60 % penderita saat ditedeksi telah mencapai stadium III atau IV. Tingkat
kematian tergantung dari usia dan terutama luas proses kanker. Stadium I dan II
memiliki angka harapan hidup dalam 5 tahun sebesar 60 – 70%; stadium III sebesar
30 – 60%; stadium IV hamper 0%.
Deteksi dini belum direkomendasi secara rutin oleh perhimpunan dokter spesialis,
karena penelitian menunjukan peningkatan harapan hidup tidak meningkat pada
wanita yang menjalankan deteksi dini. Deteksi dini untuk kanker memerlukan
metode yang akurat dan terpecaya; namun , sampai saat ini tidak ada teknik untuk
deteksi dini ovarium yang dapat memenuhi criteria tersebut. Namun, pada beberapa
Negara seperti inggris, wanita dengan resiko tinggi kanker ovarium dapat
mendeteksi kanker stadium awal. Cara deteksi dini yang tersedia saat ini adalah
pengukuran kadar penanda tumor CA-125 didaerah dan USG melalui vagina.
Namun metode tersebut kurang spesifik dalam mendeteksi kanker ovarium.

35
36
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN PATOLOGIS TERHADAP NY. S


G1P0A0 DENGAN PREEKLAMPSIA BERAT DI RSUD ABDUL
MOELOEK BANDAR LAMPUNG

No register : 451954

Tanggal : 24 maret 2016

Oleh : Desi Asmana Hutabarat

I. DATA SUBJEKTIF

A. PENGKAJIAN

Nama : Ny. S Nama : Tn. A

Umur : 27 tahun Umur : 38 tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Suku : Jawa Suku : Jawa

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : buruh

Alamat : Jl. Ikan kapasan jualang lk II, Bumi waras

B. DATA SUBJEKTIF

a) Ibu mengatakan pusing dan pandangan mulai kabur

Riwayat Menstruasi

- HPHT : 15-09- 2015


- TP : 22-06-2016
- Lamanya : 7 hari

37
- Banyak : 2-3 kali ganti pembalut
- Siklus : teratur, 28 hari
- Warna : merah
- Bau : khas (anyir)

Riwayat perkawinan

Status : menikah/kawin
Lama menikah : 2 tahun
Usia menikah : 25tahun

Riwayat obstetri

N Anak UK Jenis persalinan komplikasi


o ke (minggu)
1 1 28 - Preeklampsia berat ( PEB )
minggu

Riwayat kontrasepsi kb
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun
a. Riwayat Kehamilan Sekarang
Anc : pada saat usia kehamilan 6 minggu
Kunjungan ANC
Trimester I
Frekuensi : 2x
Keluhan : mual muntah
Terapi : pomol, antacid 1x1
Trimester II
Frekuensi : 1x
Keluhan : tidak ada
Terapi : tablet fe
Trimester III

38
Frekuensi : 2x
Keluhan : merasa pusing dan penglihatan mulai kabur
Komplikasi : tidak ada
Terapi : nifedipine

b. Riwayat imunisasi
-Injeksi TT : TT1 : 25 februari 2015
-Pergerakan janin selama 24 jam dalam sehari
Ibu mengatakan merasakan gerakan janin > 10 kali dalam 24 jam
c. Riwayat kesehatan klien
- Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit kronik seperti jantung, hipertensi,
TBC
- Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menahun seperti DM, asma,
hipertensi
- Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti HIV, hepatitis

d. Riwayat kesehatan keluarga


Dalam keluarga ibu dan suami tidak memiliki riwayat penyakit kronik, menahun dan
menular seerta tidak ada riwayat kehamilan kembar

e. Riwayat psikososial budaya


Ini merupakan perrnikahan yang pertama bagi ibu dan suami. Kehamilan ini diinginkan
dan direncanakan keluarga dan suami mendukung kehamilan ini. Ibu dan keluarga tidak
memiliki kepercayaan / budaya yang dapat berpengaruh buruk terhadap kehamilannya

f. Pola kebutuhan sehari-hari


1. Pola nutrisi
- Sebelum hamil
Ibu makan 3x sehari porsi cukup dengan menu seimbang meliputi nasi, lauk-pauk,
sayuran dan minum 7-8 gelas/hari
- Saat hamil

39
Ibu makan 6x sehari porsi sedikit dengan menu seimbang meliputi nasi, lauk-
pauk, sayuran dan minum 7-8 gelas/hari
2. Pola eliminasi
- Sebelum hamil
BAB rutin 1x/hari, BAK 5x/hari
- Saat hamil
BAB rutin 1x/hari, BAK 7x/hari
3. Pola istirahat
- Sebelum hamil
Ibu biasa tidur malam 7-8 jam/hari, tidur siang 1-2 jam/hari
- Saat hamil
Ibu tidur malam 6 jam/hari, dan jarang tidur siang
4. Pola aktifitas
- Sebelum hamil
Ibu beraktifitas seperti biasa tanpa ada gangguan
- Saat hamil
Aktifitas ibu berkurang
5. Pola personal hygiene
- Sebelum hamil
Mandi 2x/hari, ganti pakaian dalam 2x/hari
- Saat hamil
Mandi 2x/hari, ganti pakaian dalam 2x/hari

II. DATA OBYEKTIF

a) Tanda-tanda Vital
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah : 150/100 mmHg
Nadi : 80x/ menit
Pernafasan : 20x/ menit

40
Suhu : 36℃
Berat badan : 64 kg
Tinggi badan : 155 cm
Lingkar lengan atas (LILA): 26 cm
b) Pemeriksaan Fisik
1. Kepala
Rambut : warna hitam, tidak ada ketombe, tidak rontok.
Muka : simetris, tidak oedem, tidak pucat, tidak ada cloasma
gravidarum.
Mata : simetris, konjungtiva ananemis, sclera anikterik.
Mulut : simetris, bersih, tidak berlubang, tidak ada carries gigi,
tidak ada stomatitis.
Hidung : simetris, bersih, lubang hidung dipisahkan oleh septum

nasal.

Telinga : simetris, bersih, tidak ada kotoran.

2. Leher : tidak ada pembengkakan vena jugularis dan kelenjar


tyroid.
3. Dada : simetris, tidak ada kelainan.
4. Payudara : simetris, tidak ada benjolan, hiperpigmentasi aerola
mamae, putting susu menonjol, belum ada pengeluaran
ASI.
5. Abdomen : terdapat bekas luka operasi, terdapat striae gravidarum
Leopold I: TFU 3 jari di bawah prosesus xipoideus, fundus teraba dua bagian,
pertama sedikit bulat, dan tidak melenting yaitu bokong. Kedua teraba
bulat, keras, dan melenting yaitu kepala.
Leopold II : pada bagian kanan dan kiri perut ibu teraba bagian keras,
memanjang seperti ada tahanan yaitu punggung.
Leopold III: pada bagian bawah perut ibu, teraba dua bagian, pertama bulat, keras,
dan melenting yaitu kepala. Kedua teraba kurang bulat, tidak melenting
yaitu kepala.

41
Leopold IV: bagian terendah janin (kepala) belum masuk pintu atas panggul
(PAP).
Mc. Donald : 25 cm
TBJ : (25-12) x 155 = 2015gr
Detak Jantung Janin (DJJ): sebelah kanan 136x/ menit, sebelah kiri 140x/ menit.

6. Genitalia : tidak oedema, tidak ada varises.


7. Anus : tidak ada haemoroid.
8. Ekstremitas: simetris, tidak ada oedema.

c) Pemeriksaan Penunjang

pemeriksaan Hasil Nilai normal


Hemoglobin 16,1 12-16gr/dl
Leukosit 12.000 5-10.000/ul
Basofil 0 0-1%
Eosinefil 0 1-3%
Batang 0 1-5%
Segmen 75 50-70 %
Limfosit 19 20-4%
Monosit 6 2-8%
Trombosit 244.000 150-400.000/ul
hemotrokis 47 37-48%
urine ++ -

III. ASSESMENT
Ny. S G1 P0 A0 Hamil 28 minggu janin tunggal hidup intrauteri dengan preeclampsia berat

42
IV. PENATALAKSANAAN
1) Memberitahu ibu hasil pemeriksaan dan kondisi saat ini yaitu
Tekanan darah : 150/100 mmHg
Nadi : 80x/ menit
Pernafasan : 20x/ menit
Suhu : 36℃
Protein urine : ++
-Ibu sudah mengetahui kondisinya saat ini.
2) Member ibu KIE tentang keluhannya dan preeclampsia yaitu ibu merasa pusing, ibu
dapat mengatasinya dengan bangun secara perlahan dari posisi istirahat, ambil posisi
miring kiri saat berbaring dan tentang preeklapsia yaitu:
- Preeklapsia yaitu tekanan darah tinggi yang disertai dengan proteinuria, odema, yang
terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.
- Klasifikasi preeclampsia ada uda yaitu preeclampsia ringan dan berat.
- Tanda dan gejala preeclampsia adalah pertambahan berat badan yang berlebihan,
oedema, hipertensi, dan proteinuria
-Ibu mengerti dengan apa yang disampaikan.
3) Menganjurkan ibu untuk rawat inap
Ibu bersedia untuk rawat inap
4) Menganjurkan ibu untuk diet makanan tinggi protein, tinggi karbohidrat, cukup vitamin
dan rendah lemak.
5) Memantau tekanan darah 4 jam sekali dan protein urine 25 jam sekali
Tekanan darah dan protein dipanyau.
6) Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
Ibu bersedia untuk istirahat yang cukup
7) Member ibu therapy
Pasang infuse RL
Injeksi MgSO4 4gr secara IM
Injeksi cefotoxim 1gr secara IU
Therapy telah diberikan kepada ibu.

43
ASUHAN PERSALINAN PERSALINAN PATOLOGI TERHADAP NY.R

DENGAN G4P3A0 EKSTRAKSI VACUM DI RUANG DELIMA

RSUD Dr. Hi ABDUL MOELOEK

BANDAR LAMPUNG

PENGKAJIAN

Tanggal : 19 Maret 2016

Oleh : Desi Asmana Hutabarat

Pukul : 09.00 WIB

DATA SUBJEKTIF

g. Identitas
Nama : Ny. r Nama suami : Tn. s
Umur :35 tahun Umur :37 tahun
Suku : Jawa Suku : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan: SD Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT Pekerjan : Buruh
Alamat : JL. Ikan Bawal gg madu gudang lelang Teluk Betung

h. Keluhan Utama
Ibu mengatakan mulas, keluar lender bercampur darah sejak pukul 05.00 wib
Ibu merasa lemas tidak ada tenaga, sudah dipimpin mengedan sejak 2 Jam sebelum
masuk rumah sakit oleh bidan

44
i. Riwayat Menstruasi
- HPHT : 24 Juni 2015
- Lamanya : 7 hari
- Banyak : 2-3 kali ganti pembalut
- Siklus : teratur, 28 hari
- Warna : merah
- Bau : khas (anyir)

j. Pergerakan fundus dirasakan pertama kali : usia kehamilan 16 minggu


- Berapa kali dalam 24 jam terakhir : ± 10 kali

k. Riwayat perkawinan
Status : menikah/kawin
Lama menikah : 17 tahun
Usia menikah : 18 tahun

l. Riwayat obstetri
N Anak UK Penolong Jenis Tempat Jenis BB PB
o ke (minggu) persalinan kelamin (kg) (cm)
1 1 aterm Bidan Spontan BPS Perempu 3kg 49
an cm

2 2 aterm Bidan Spontan BPS Perempu 3kg 49


an cm
3 3 aterm Bidan Spontan BPS Laki-laki 3,5 48
kg cm

KB
Tahun pasang Anak ke Alat KB tahunlepas Alasan lepas
2000 1 Pil 2003 Ingin punya anak
2004 2 pil 2009 Ingin punya anak

45
2010 3 suntik 2015 Ingin punya anak

m. Riwayat Kehamilan Sekarang


Hpht : 24 juni 2015
Td : 31 maret 2016
Anc : pada saat usia kehamilan 3 bulan
Kunjungan ANC
Trimester I
Frekuensi : 2x
Keluhan : mual muntah
Terapi : b6, asam folat
Trimester II
Frekuensi : 3x
Keluhan : tidak ada
Terapi : tablet fe
Trimester III
Frekuensi : 2x
Keluhan : kadang merasa kenceng ( his palsu)
Terapi : tablet fe

n. Riwayat imunisasi
-Injeksi TT : TT1 : 16 minggu, TT2 : 24 minggu
-Pergerakan janin selama 24 jam dalam sehari
Ibu mengatakan merasakan gerakan janin > 10 kali dalam 24 jam

o. Riwayat kesehatan klien


- Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit kronik seperti jantung, hipertensi,
TBC
- Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menahun seperti DM, asma,
hipertensi
- Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti HIV, hepatitis

46
p. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga ibu dan suami tidak memiliki riwayat penyakit kronik, menahun dan
menular seerta tidak ada riwayat kehamilan kembar

q. Riwayat psikososial budaya


Ini merupakan perrnikahan yang pertama bagi ibu dan suami. Kehamilan ini diinginkan
dan direncanakan keluarga dan suami mendukung kehamilan ini. Ibu dan keluarga tidak
memiliki kepercayaan / budaya yang dapat berpengaruh buruk terhadap kehamilannya

r. Pola kebutuhan sehari-hari


6. Pola nutrisi
- Sebelum hamil
Ibu makan 3x sehari porsi cukup dengan menu seimbang meliputi nasi, lauk-pauk,
sayuran dan minum 7-8 gelas/hari
- Saat hamil
Ibu makan 6x sehari porsi sedikit dengan menu seimbang meliputi nasi, lauk-
pauk, sayuran dan minum 7-8 gelas/hari
7. Pola eliminasi
- Sebelum hamil
BAB rutin 1x/hari, BAK 5x/hari
- Saat hamil
BAB rutin 1x/hari, BAK 7x/hari
8. Pola istirahat
- Sebelum hamil
Ibu biasa tidur malam 7-8 jam/hari, tidur siang 1-2 jam/hari
- Saat hamil
Ibu tidur malam 6 jam/hari, dan jarang tidur siang
9. Pola aktifitas
- Sebelum hamil

47
Ibu beraktifitas seperti biasa tanpa ada gangguan
- Saat hamil
Aktifitas ibu berkurang
10. Pola personal hygiene
- Sebelum hamil
Mandi 2x/hari, ganti pakaian dalam 2x/hari
- Saat hamil
Mandi 2x/hari, ganti pakaian dalam 2x/hari

DATA OBJEKTIF

1. Keadaan umum : Baik


2. Kesadaraan : Composmentis
3. Tanda-tanda vital
TD : 150/100 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,5°c
4. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : rambut hitam, bergelombang, tidak ada lesi dan tidak
odem
b. Wajah : tidak odem dan tidak ada cloasma gravidarum
c. Mata : konjungtiva anemis, sklera anikterik, simetris kanan dan
kiri
d. Telinga : simetris, bersih, pendengaran baik
e. Mulut : bersih, gusi tidak bengkak, tidak ada caries, bibir tidak
pucat
f. Leher : tidak ada kelenjar limfe, maupun kelenjar tyroid
g. Payudara : simetris, puting susu menonjol, ada pengeluaran berupa
colostrum
h. Abdomen : terdapat linea nigra dan striae gravidarum, tidak ada bekas

48
operasi
Leopold I : TFU 2 jari dibawah px, bagian fundus teraba bagian janin
lunak, bulat, tidak melentig/bokong (bokong)
Leopold II : bagian kiri perut ibu teraba bagian janin yang lurus dan
datar seperti punggung, bagian kanan perut ibu teraba
bagian kecil janin (ekstremitas)
Leopold III:bagian bawah perut ibu teraba satu bagian yang keras, bulat, dan
melenting ( kepala ), kepala sudah masuk PAP dan tidak dapat
digoyangkan
melentig/kepala (presentasi kepala)
Leopold IV: bagian terendah janin sebagian besar sudah masuk pap

- Mc. Donald : 36 cm
- DJJ : 144x/menit
- TBJ : ( Tfu-11) x 135
36-11 x 135
25x15 = 3875
- Auskultasi DJJ : teratur, frekuensi 144x/menit, punctum maksimum 3 jari diatas
pusat kiri perut ibu
- Kontraksi : 5x dalam 10 menit lamanya 45 detik
i. Genetalia
Pemeriksaan dalam
- Vagina : dinding vagina tidak ada benjolan, tidak ada
sistokel dan rektokel, pengeluaran lendir
bercampur darah
- Portio : tipis dan lunak
- Pembukaan : 10 cm
- Pendataran : 100%
- Presentasi : kepala
- Ketuban : (-) pecah spontan pukul 04.00 WIB
- Penunjuk : UUK

49
- Posisi : depan
- Penurunan : hodge III
- Penyusupan : tidak ada

j. Ekstremitas : tidak odem, kuku tidak pucat, tidak ada varises,


reflek patella +/+

ASSASMENT

Ny R G4P3A0 hamil 38 minggu inpartu kala II janin tunggal hidup intrauterine presentasi kepala

PLANNING

1. Melakukan pemeriksaan pada ibu


TD : 160/110 mmHg DJJ : 144x/menit
Nadi : 80x/menit Presentasi : kepala
RR : 20x/menit
Suhu : 36,5°c
- Ibu sudah mengetahui hassil pemeriksaan
2. Beri ibu infomconsent dan keluarganya untuk tindakan ekstraksi vacuum
Alat sudah disiapkan
3. Kolaborasi tindakan sesuai advice dr yaitu pemasangan infuse rl pemberian 1 am
oxytoxin melakukan amniotomo
Infuse sudah terpasang dan oxytoxyn sudah diberikan
4. Pertolongan persalinan dilakukan oleh dr ridho dengan tindakan ekstraksi vacuum bayi
lahir pukul 08.00
B: 2900 gram pb: 48cm
Apgar score:7/8 cacat: - anus +

Asuhan kebidanan pad any r G4P3A0 kala III

50
DATA SUBJEKTIF

1. Ibu mengatakan bahagia dengan kelahiran anaknya


2. Ibu mengatakan merasa masih mulas pada perut nya

DATA OBJEKTIF

1. Keadaan umum : lemah


2. Kesadaraan : Composmentis
3. Tanda-tanda vital
TD : 160/100 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,5°c
Kandung kemih : kosong
Kontraksi uterus : baik
Tanda-tanda pelepasan plasenta
- Tali pusat memanjang
- Semburan darah tiba-tiba
- Uterus membulat

ASSASMENT

P3A0 kala III

PLANNING

Melakukan manajemen aktif kala III

1. Melakukan palpasi untuk memastikan tidan ada jannin kedua dan kontraksi uterus baik
Sudah dilakukan palpasi bahwa tidak ada janin kedua dan kontraksi baik
2. Memberitahu ibu bahwa ibu akan disuntik oxytocyn 10 iu
Ibu mengerti dan sudah disuntik oleh tenaga kesehatan
3. Melakukan peregangan tali pusat terkendali

51
Peregangan tali pusat sudah dilakukan
4. Observasi tanda-tanda pelepasan plasenta
Sudah diobservasi tali pusat memanjang , semburan darah tiba-tiba, dan uterus membulat
5. Kemudian mengeluarkan plasenta
Plasenta sudah dikeluarkan
6. Massase fundus uteri setelah plasenta lahir selama 15 detik
Fundus sudah di massase
7. Menilai kelengkapan plasenta
Panjang talipusat 50cm, berat plasenta 500gr, tebal 2,5 cm, diameter 20cm insersi
marginalis
8. Terdapat robekan derajat II
Robekan sudah di heating
9. Melakukan observasi, tfu 2 jari dibawah pusat kontraksi keras

Asuhan kebidanan Ny R P3AO kala IV

DATA SUBJEKTIF

1. Ibu mengatakan perutnya mulas

DATA OBJEKTIF
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaraan : Composmentis
3. Tanda-tanda vital
TD : 140/100 mmHg
Nadi : 78x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,5°c

Pemeriksaan fisik
- Mata : konjungtiva anemis, sklera anikterik, simetris kanan dan
kiri
- Mulut : bersih, gusi tidak bengkak, tidak ada caries, bibir pucat

52
- Payudara : simetris, terjadi hiperpigmentasi, terdapat pengeluaran
colostrum
- Abdomen : TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, uterus
teraba keras dan bulat
- Genetalia : tidak terdapat laserasi

ASSESMENT

Ny R P3AO kala IV

PLANNING

1. Melakukan observasi kala IV setiap 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam
ke 2
Jam Waktu T TD N TFU Kontraksi Kandung Pendarahan
ke uterus kemih
1 20.30 140/100 80 3 jari ↓ Baik kosong normal
36°c pusat
20.45 140/100 80 3 jari ↓ Baik kosong normal
pusat
21.00 140/100 80 3 jari ↓ Baik kosong normal
pusat
21.15 140/100 80 3 jari ↓ Baik kosong normal
pusat
21.30 140/100 80 2 jari ↓ Baik kosong normal
36°c pusat
2 22.00 140/100 84\ 2 jari ↓ Baik kosong normal
0 pusat
22.30 140/100 80 2 jari ↓ Baik kosong normal
pusat

53
2. Membersihkan badan ibu dari lendir dan darah serta mengganti pakaian ibu dan
mendekontaminasi tempat tidur ibu
- Ibu sudah dibersihkan dan pakaian sudah diganti
3. Mendekontaminasi alat-alat yang digunakan
- Alat sudah steril

4. Memberikan obat oral pada ibu sesuai advis dokter, yaitu :


 ampicilin 500 mg 3x1
 paracetamol 500 mg 3x/hari
 tablet fe 1x/ hari
- Obat sudah diberikan
5. Memberikan konseling pada ibu tentang :
a. Memberikan ASI ekslusif pada bayinya
b. Cara merawat bayinya
c. Mengenali tanda bahaya masa nifas
d. Mengkonsumsi makanan sehat
e. KB
f. Mengajarkan breast care
g. Mengajarkan senam nifas
- Ibu sudah mengerti
6. Mendokumentasikan dilembar syair obstetric dengan partograf
7. Pendokumentasian sudah dilakukan.

54
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR PATOLOGI

TERHADAP BY. E DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH

DI RUANG DELIMA RSUD Dr. H ABDUL MOELOEK

BANDAR LAMPUNG

PENGKAJIAN

Tanggal : 12 April 2016

Jam : 10.00 WIB

Ruang : Delima

Oleh : Desi Asmana Hutabarat

I. DATA SUBJEKTIF

a. IDENTITAS BAYI
Nama : By. Ny. E
Tanggal lahir : 11 April 2016
Jenis Kelamin : Perempuan
Anak ke : 2 (dua)

b. IDENTITAS ORANG TUA


Nama ibu : Ny. E Nama Ayah : Tn. S
Umur : 26 tahun Umur : 30 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMP

55
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Suku : Jawa Suku : Jawa
Alamat : Merbau Mataram Lampung Selatan

c. Riwayat Kehamilan
- HPHT : 8 juli 2015
- TP : 15 april 2016
- Pemeriksaan Kehamilan : 4x selama hamil
- Tempat pemeriksaan : BPS
- Imunisasi : 2x
TT1 : UK 24 minggu
TT2 : UK 28 minggu
- Usia kehamilan : aterm
d. Riwayat Kelahiran
1. Bayi lahir spontan pervaginam, tidak segera menangis
PB/BB : 45 cm/ 1800 gram
2. Usia kehamilan : aterm
Tempat persalianan : RSUD ABDUL MOELOEK
Penolong : Dokter dan Bidan
3. Keluhan utama bayi
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
4. Riwayat bayi baru lahir
- BBL dengan BBLR
- Bayi belum diberi ASI sejak lahir
5. Riwayat Persalinan
- Kala I : 8 jam
- Kala II : 20 menit
- DJJ : 144x/menit
- Warna air ketuban : jernih
- Molase/penyusupan : tidak ada

56
- Bayi lahir pukul : tidak ada
- Jenis persalinan : spontan
e. Eliminasi
- BAK pertama kali : 13 April 2016, pukul : 04.00 WIB
- Warna : kekunigan
- BAB pertama kali : 13April 2016, pukul : 04.00 WIB
- Warna : kehitaman
- Konsistensi : cair
- Bau : khas

II. DATA OBJEKTIF

a. Keadaan umum : Lemah


b. Pemeriksaan umum hari pertama
No Aspek yang Score Keterangan Score Keterangan
dinilai pada pada
menit 1 menit 2
1 Frekuensi 1 >100x/menit 2 >100x/menit
jantung
2 Usaha nafas 1 Menangis 2 Menangis
kuat kuat
3 Tonus otot 1 Gerak aktif 1 Gerak aktif
4 Warna kulit 1 Ektremitas 1 Badan
biru kemerahan
5 Respon 1 Menangis 2 Mengangis
terhadap kuat kuat
rangsangan
Jumlah 5 8 5/8

c. Pemeriksaan umum

57
- Suhu : 36°c
- Pernafasan : 36x/menit
- Nadi : 140x/menit

Antopometri

- BB : 1300 gram
- PB : 45 cm

d. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : bersih, UUB datar, lingkar kepala 29 cm
b. Wajah : tidak ikterus, wajah tidak pucat
c. Mata : simetris, sklera anikterik, konjungtiva ananemis
d. Hidung : lubang hidung simetris, dan tampak bersih
e. Telinga : simetris, tampak bersih
f. Mulut : refleks menghisap rendah,bibir berwarna merah
g. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar
h. Dada : payudara simetris, gerakan dada lemah, lingkar dada 29
cm
i. Perut : tali pusat masih basah, lingkar perut 30 cm
j. Punggung : tidak ada benjolan tulang belakang
k. Genetalia : terdapat 2 testis dalam skrotum, penis berlubang pada
ujung
l. Anus : ada, tidak ada cacat bawaan
m. Ekstremitas
- Atas : simetris, jari tangan lengkap, tidak ada fraktur, gerakan
lemah, reflek menggenggam (+), reflek terkejut (+)
- Bawah : simetris, jari kaki lengkap, gerakan lemah

III. ASSESMENT

By. Ny. E Lahir cukup bulan usia 1 hari dengan BBLR.

58
IV. PLANNING

1. Menjelaskan kondisi bayi nya pada orang tua bayi bahwa bayinya dengan berat < 2500gr
sehingga harus dapat penanganan khusus
Ku: lemah R: 50x/m S: 36,0C
Keluarga sudah mengetahui keadaan bayinya dan tindakan yang dilakukan
2. Mencegah terjadinya hypotermi dengan meletakkan bayi dalam incubator
Bayi te;lah diletakkan diinkubator dengan suhu incubator 30c dan suhu bayi 36,5c
3. Berkolaborasi dengan dr dalam memberika terapi dan nutrisi
Kolaborasi telah dilakukan dengan pemberian antibiotic cefrazidin 80mg/12 jam dan
pemberian asi/ formula 16,25cc/ 3 jam secara oral.
4. Melakukan perawatan tali pusat untuk mencegah infeksi dengan cara membungkus tali
pusat dengan kassa steril.
Perawatan tali pusat telah dilakukan.
5. Mendokumentasi setiap tindakan yang dilakukan pada lembar asuhan kebidanan secara
jelas.
Pendokumentasian telah dilakukan.

59
ASUHAN KEBIDANAN NIFAS PATOLOGI TERHADAP

NY. E DENGAN BENDUNGAN ASI N RUANG

DELIMA RSUD. Dr. H. ABDUL MOELOEK

BANDAR LAMPUNG

PENGKAJIAN

Tanggal : 22 maret 2016

Pukul : 07.30 WIB

Oleh : Desi Asmana Hutabarat

I. DATA SUBJEKTIF

1. IDENTITAS

Nama : Ny. E Nama : Tn. A

Umur : 38 tahun Umur : 42 tahun

Agama : islam Agama : islam

Suku :jawa Suku : jawa

Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Tani

Alamat : Ketapang

2. keluhan utama

60
Keluarga mengatakan payudara keras dan terasa nyeri serta mengeluarkan asi sedikit

3. riwayat menstruasi

Siklus haid : 28 hari

Lamanya : 7 hari

Banyaknya : 2-3x ganti pembalut

4. riwayat kesehatan ibu sekrang

Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menular, menahun, seperti HIV/AIDS, jantung,
hipertensi, hepatitis B, dan DM

5. riwayat kesehatan dahulu

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular/ menahun seperti HIV/AIDS,
hipertensi, DM dan TBC

6. Pola kehidupan sehari-hari

a. Nutrisi
Ibu mengatakan sebelum melahirkan makan 2x sehari dan minum 6-8 gelas sehari
b. Istirahat
Ibu mengatakn sebelum hamil istirahat malam 7-8 jam sehari dan siang 1-2 jam
c. Eliminasi
- BAB : Sebelum hamil ibu BAB 1x sehari
- BAK : Sebelum hamil ibu BAK 5-8X sehari
d. Personal hygine
Ibu mengatakan mandi 2x sehari serta menggosok gigi

61
II. DATA OBJEKTIF

1. Keadaan umum
Kesadaran : composmentis
2. Tanda-tanda vital
- TD : 110/80mmHg
- N : 80x/menit
- RR : 24X/menit
- S : 36,0°c
3. Pemeriksaan fisik
a. Rambut : kusam dan berketombe
b. Wajah : pucat, ada sedikit cloasma gravidarum
c. Mata : konjungtiva pucat, tidak ada odema pada kelopak mata
d. Telinga : simetris kanan dan kiri, tidak ada serumen berlebih
e. Hidung : simetris, terdapat 2 lubang yang dipisahkan oleh septum nasal, berish
f. Mulut : bibir pecah-pecah dan kering
g. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis serta kelenjar
getah bening
h. Dada : simetris, puting susu menonjol, colostrum sudah keluar
i. Abdomen : TFU 3jari dibawah pusat dan kontraksi lemah
j. Ekstremitas : - Atas : sedikit tremor, ujung jari pucat dan
dingin

- Bawah : simetris, pucat dan dingin

k. Genetalia : tampak adanya heating perineum, pengeluaran darah pervaginam encer,


pada anus tidak terdapat hemoroid

62
III. ASSESMENT
Ibu P1A0 usia 38 tahun post sc hari ke III dengan bendungan asi

IV. PLANNING

1. Memberitahu ibu bahwa ibu mengalami bendungan asi pada payudaranya


Ibu mengerti keadaannya
2. Menjelaskan mengenai bendungan ASI, yaitu asi yang tidak keluar karena adanya
sumbatan saluran asi sehingga kelenjar asi membesar atau membengkak dan
menyebabkan rasa nyeri
Ibu mengerti mengenai penjelasan tersebut
3. Memberitahu ibu cara mengatasi keluhan yang dirasakan, yaitu sebelum menyusui pijat
payudara dengan lembut, mulailah dari luar kemudian perlahan-lahan bergerak kearah
putting susu dan lebih berhati-hati pada area yang mengeras, kemudian kompres air
hangat dan air dingin bergantian.
4. Menyusui sesering mungkin dengan jangka waktu selama mungkin sampai kenyang,
susui ibu dengan payudara yang sakit bila ibu kuat menahannya.
- Lanjutkan dengan mengeluarkan asi dari payudara setiap kali selesai menyusui jika bayi
belum benar-benar menghabiskan isi payudara yang sakit tersebut.
- Tempelkan handuk hangat lalu kompres beberapa kali pada payudara yang sakit lakukan
pemijatan dengan lembut.
- Kompres dengan air dingin disela waktu menyusui
- Pakai bra yang menyangga payudara
Ibu mengerti dan mau melakukannya
5. Mengajarkan ibu cara menyusui yang benar
Ibu mengerti
6. Menganjurkan ibu banyak beristirahat, ibu dapat tidur dan beristirahat saat bayi tidur,
selain itu ibu jangan kerja berat
Ibu mengerti dan mau beristirahat

63
7. Menjelaskan kepada ibu manfaat menyusui dapat memperlancar produksi asi
mendekatkan hubungan batin ibu dan bayi serta mengurangi resiko terkena kanker
payudara.
Ibu sudah mengerti dan paham

64
ASUHAN KEBIDANAN PADA ANAK SAKIT TERHADAP An. R

DENGAN KEJANG DEMAM DI RSUD ABDUL MOELOEK

BANDAR LAMPUNG

PENGKAJIAN

Tanggal : 11 April 2016

Pukul : 13.00 WIB

Oleh : Desi Asmana Hutabarat

A. IDENTITAS

1. Pasien

Nama : An. S

Umur : 4 bulan

Jenis kelamin : Laki-laki

2. Orang Tua

Nama : Ny. S / Tn. H

Umur : 32 tahun / 34 tahun

Agama : islam / islam

Pendidikan : SMP / SMA

Pekerjaan : IRT / Buruh

Suku : jawa

65
Alamat : Jl. Bayangkara no 4 Raja Basa

B. Keluhan utama
Ibu mengatakan dating dengan keluhan kejang sekitar jam 03.00 WIB, keluarga mengatakan
anaknya kejang mengalami demam sebelumnya kejang sejak pukul 10.00 malam

C. Riwayat penyakit yang lalu

Ibu mengatakan anaknya pernah mengalami hal yang sama umur 3 tahun dan ibu mengatakan
sudah ada riwayat kejang demam sejak umur 10 bulan

G. riwayat keluarga

Keluarga pasien mengatakn tidak / sedang menderita penyakit menahun, menular, dan menurun
seperti jantung, TBC, hipertensi, diabetes militus, asma, dll.

II. DATA OBJEKTIF

1. Keadaan umum : lemah


Tanda-tanda vital
N : 128x/menit TB: 103 cm
S : 38,4°c BB: 15 kg
RR : 30x/menit
2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : simetris, tidak terdapat benjolan, tidak terdapat luka
b. Muka : warna kulit merata, tidak ada luka
c. Mata : simetris, konjungtiva ananemis, sklera anikterik
d. Hidung : lubang hidung simetris
e. Mulut : simetris atas dan bawa, bibir sedikit pucat
f. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar limfe, thyroid, kepala bebas bergerak

66
g.Telinga : simetris kiri dan kanan, terdapat lubang telinga, fungsi pendengaran
baik
h. Dada : semitris, tidak terdapat luka
i. Abdomen : terdapat luka operasi diameter ±7 cm dibawah pusat sebelah kiri
j. Gentalia : terdapat 2 testis, tidak ada kelainan
k. Ekstremitas : atas : simetris kanan dan kii, jari tangan lengkap
Bawah: simetris kanan dan kiri,jari kaki legkap

Data penunjang
No RM :00454
Tgl Order :10/04/2016 .07. 16 WIB

HHH HEMATOLOGI HASIL NILAI RUJUKAN

Hemoglobin 11,8 L:14.0-18.0 g/dl


P: 12.0-16,0
Leukosit 16.500 4.800-10.800/nl

Eriktrosit 4.8 L: 4.7-6.1 juta/nl


P: 4,2-5,2
Hemaktrokrit 35 L: 42-52
P: 31-47
Trombosit 370.000 150.000-450.000/NL

Mcu 73 79-99 el

Mch 25 27-31 pg

mchc 34 33-37 g/dl

Tgl order : 10/04.2016 07:16


Imonoglobin dan seroglobi
1. Tes widal
- Typhi H Antigen: 1/320
- Typhi A Antigen: 1/320
- Parathphi A-O : 1/80
Antigen
- Dara typhi B-0: 1/320

Antigen

67
Tgl order : 10/04/2016 07:16 WIB
Specimen serum
kimia hasil Nilai rujukan
Gula darah sewaktu 124 <140 mg/dl

III. ASSESMENT

An. R usia 4 tahun dengan kejang demam

IV. PENATALAKSANAAN

1. Mengkaji TTV yaitu


Suhu : 38,4°c
RR : 50x/menit
Nadi : 128x/menit
Bb : 15 kg
Tb : 103 cm
-Keluarga pasien sudah mengetahui kondisi pasien
2. Melakukan kompre hangat bila pasien demam atau panas
-Keluarga pasien sudah mengerti dan sudah mengopmpres anaknya
3. Memberitahu kepada ibu dan keluarga jika pasien kejang dimiringkan untuk mencegah
aspirasi ludah atau muntah
-ibu dan keluarga sudah mengerti dan akan memiringkan bila kejang
4. Member makanan yang mudah dicerna frekuensi sedikit tapi sering, dan memberikan
banyak minum pada anak agar kebutuhan anak tetap terpenuhi

68
-anak sudah diberikan minum dan makanan yang mudah dicerna dengan frekuensi sedikit
tapi sering
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapy antibiotic pemberian therapy obat
injeksi IV dan oral telah dilakukan antaranya:
- Ceftriaxon 750mg/12jm
- Ranitidine 15mg/12jm
- Farmadol 150mg/6jm
- Stesulid spp 10mg k/p
- Por syrup 4x ½ sendok teh
- Dlazefcm 3x2 mg

69
ASUHAN KEBIDANAN GANGGUAN REPRODUKSI TERHADAP NY. N
DENGAN TUMOR OVARIUM DIRUANG DELIMA RSUD.
Dr. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
PENGKAJIAN

Tanggal : 18 maret 2016

Pukul : 15.00 WIB

Oleh : Desi Asmana Hutabarat

I. DATA SUBJEKTIF

A. IDENTITAS

Nama : Ny N Nama suami : Tn. S

Suku/bangsa : Jawa Suku/bangsa : Jawa

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : buruh

Alamat : Pringsewu

B. ANAMNESA
70
a. Keluhan utama
Ibu mengatakan perutnya membesar seperti hamil sejak 1 bulan yang lalu dan nyeri perut
sebelah kiri bawah dan persiapan untuk kemoterapi

b. Riwayat penyakit sekarang


Ibu mengatakan mengalami penyakit tumor pada ovarium

c. Riwayat mentruasi
- Menarche : 16 tahun
- Siklus : 28 hari
- Lama : 6-7 hari
- Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut
- Teratur/tidak : tidak
- Sifat darah : warna merah
d. Riwayat pernikahan
- Menikah : 1kali
- Umur menikah : 20 tahun
- Lama pernikahan : 3 tahun
- Status pernikahan : kawin
e. Riwayat kehamilan
Ibu mengatakan tidak pernah mengalami keguguran
f. Riwayat pernikahan
kawin ke :1
umur menikah : 19 tahun
lama pernikahan : 26 tahun
g. Pola kebutuhan sehari-hari
11. Pola nutrisi
- Sebelum hamil
Ibu makan 3x sehari porsi cukup dengan menu seimbang meliputi nasi, lauk-pauk,
sayuran dan minum 7-8 gelas/hari

71
- Saat hamil
Ibu makan 6x sehari porsi sedikit dengan menu seimbang meliputi nasi, lauk-
pauk, sayuran dan minum 7-8 gelas/hari
12. Pola eliminasi
- Sebelum hamil
BAB rutin 1x/hari, BAK 5x/hari
- Saat hamil
BAB rutin 1x/hari, BAK 7x/hari

13. Pola istirahat


- Sebelum hamil
Ibu biasa tidur malam 7-8 jam/hari, tidur siang 1-2 jam/hari
- Saat hamil
Ibu tidur malam 6 jam/hari, dan jarang tidur siang

II. DATA OBJEKTIF

1. Keadaan umum : Baik


Kesadaran : composmentis
2. Tanda- tanda vital
a. Tekanan darah : 130/90mmHg
b. Pernapasan : 24x/menit
c. Nadi : 80x/menit
d. Suhu : 36,5°c

3. Pemeriksaan fisik
a. Wajah : tidak odem dan tidak ada cloasm gravidarum
b. Muka : konjungtiva anemis dan sklera anikterik
c. Hidung : simetris, bersih terdapat 2 lubang yang dipisahkan
oleh septum nasal.
d. Telinga : simetris, serumen tidak berlebih

72
e. Mulut dan gigi : bersih, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi
f. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, vena
jugularis, dan kelenjar getah bening
g. Dada : simetris kanan dan kiri, pembesaran payudara
normal, dan tidak ada benjolan abnormal
h. Abdomen : tidak ada luka bekas operasi, terdapat nyeri tekan
pada perut bagian bawah
i. Ekstremitas : Atas : simetris, ibu tidak mengalami
polidaktili dan sidaktili, tidak ada odema dan tidak
ada nyeri tekan.
Bawah : simetris, tidak ada varises, tidak
oedema
j. Genetalia : tidak terdapat jengger ayam, anus (+ ), tidak
Hemoroid

4. Pemeriksaan penunjang
a. LAB
- HB : 9 gr%
- Trombosit : -
- Leokosit : -

III. ASESSMENT
Ny. N dengan tumor padat ovarium

IV. PLANNING
1. Menjelaskan keadaan ibu dan hasil pemeriksaan yang telah dilkukan
- TD : 130/90mmHg
- N : 80x/menit
- RR : 24x/menit
- S : 36,5°c
-Ibu mengerti dengan keadaanya saat ini

73
2. Melakukan informkonsen untuk persetujuan dilakukan tindakan
Informkonsen telah dilakukan
3. Melakukan transfuse darah dengan 2 kolf dikarenakan hb ibu dibawah normal
Ibu sudah mengerti dan mengetahui keadaanya
4. Jelaskan efek kemoterapi
- Rambut rontok
- Kehilangan nafsu makan
- Sesak nafas dan detak jantung tidak biasa karena anemia
- Mual dan muntah
- Kulit kering dan terlihat pucat
- Gusi berdarah
Ibu sudah mengerti efek kemoterapy

74