Anda di halaman 1dari 24

RENCANA PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA PAGUYUPAN PASAR KAMBING

UNTUK MENUJU DESA MANDIRI ENERGI DAN EKONOMI DI DESA SUMBERSEKAR


KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Aspek pasar di dalam agribisnis kambing dan domba penting untuk diperhatikan.Hal
itudidasarkan pada potensi komoditas kambing dan domba yang baik serta peranan pasar di
dalam sistem tataniaga produk agribisnis.Potensi pasar dinilai penting sebab pasar merupakan
tujuan utama kegiatan pemasaran agribisnis yang mencakup keinginan beberapa pihak dalam
saluran pemasaran agribisnis untuk menyalurkan produk dari produsen hingga konsumen
akhir (end user).Hal itu sejalan dengan pemikiran Rahardi dan Hartono (2003) yang
menjelaskan bahwa pemasaran merupakan ujung tombak kegiatan ekonomi dalam agribisnis
peternakan yang dilihat dari upaya distribusi produk dari produsen hingga konsumen akhir
(end user).Selain itu, Adam (2011) menambahkan bahwa pendekatan sistem agribisnis yang
beriorentasi pasar pada dasarnya harus berorientasi pada pasar sebagai penggerak utama
pengembangan agribisnis yaitu mempertemukan kebutuhan pelanggan atau permintaan pasar
dengan pasokan yang tersedia baik pasar lokal maupun pasar luar negeri (supply and
demand).
Potensipopulasi kambing dan domba di Indonesia cukup baik. Menurut Badan
PusatStatistika atau BPS (2014) pada tahun 2009-2013, kambing dan domba diIndonesia
memiliki laju populasi/tahun yang cukup tinggi yakni sebesar 3.83 % dan 9,04 % (Tabel 1.1).
Tabel 1.1 Jumlah dan Laju Populasi Jenis Ternak di Indonesia Tahun 2009-2013
Sumber : Badan Pusat Statistika (BPS), 2014.
Terkait dengan potensi produk peternakan, Saragih (2000) menyebutkanbahwa sektor
peternakan memiliki kelebihan yakni produk yang dihasilkanmemiliki nilai elastisitas
pendapatan yang tinggi, artinya konsumsi produkpeternakan termasuk kambing akan
meningkat bila pendapatanmeningkat. Selain itu, Adiati et al. (2001) menambahkan bahwa
kambingmemiliki potensi pasar secara domestik dan ekspor serta potensi produk
dandiversifikasi pemenuhan kebutuhan protein hewani (Tabel 1.2).

Tabel 1.2 Prospek Pasar Kambing Indonesia

Sumber : Adiati et al. (2014).


Salah satu pasar kambing yang berlokasi di Kabupaten Malang adalah pasar kambing di
Desa Sumbersekar.Peran pasar ini dinilai penting, sebab pasar tersebut memiliki peran di
dalam penyediaan kambing bagimasyarakat di sekitar daerah tersebut juga sebagai salah satu
penunjang perekonomian dan sumber pemasukan di desa tersebut.
Pentingnya dari penelitian yang akan dilakukan adalah untuk menjadi informasi yang
penting bagi pelaku atau lembaga pemasaran yang terlibat dalampemasaran kambing seperti
bahan pertimbangan bagi lembaga yangmengurus pasar kambing untuk mengembangkan
pasar serta menjadikan pasar dan aktivitasnya lebih efisien. Selain itu, penelitian ini juga
sangat berguna bagi pemerintah daerah setempat yakni Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau,
Kabupaten Malang di dalam menjaga dan mengembangkan potensi Pasar Kambing. Manfaat
selanjutnya adalah informasi bagi peneliti pada situasipasar kambing dan domba serta pada
penelitian tentang pengembangan pasar
1.2 Tujuan
1.2.1 Mengetahuikondisi umum yang terjadi di dalam Pasar Kambing Desa Sumbersekar.
1.2.2 Mengetahuiaktivitas ekonomi yang terjadi di dalam Pasar Kambing Desa
Sumbersekar.
1.2.3 Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpotensi menjadi penghambat di dalam
pengembangan pasar.

1.3 Manfaat
1.3.1 Menjadi informasi yang penting bagi pelaku atau lembaga pemasaran yang terlibat
dalampemasaran kambing seperti bahan pertimbangan bagi lembaga yangmengurus
pasar kambing untuk mengembangkan pasar serta menjadikan pasar dan aktivitasnya
lebih efisien.
1.3.2 Menjaga dan mengembangkan potensi Pasar Kambing.
BAB II
STRATEGI PENCAPAIAN

2.1 Pendekatan dan Langkah-Langkah Pencapaian


Strategi pelaksanaan yang dilakukan dalam program ini adalah dengan melakukan
pendekatan kepada warga desa Sumbersekar khususnya pada anggota paguyupan pasar
kambing. Pada program ini dilakukan penggalian informasi dengan cara observasi
(pengamatan) dan wawancara (interview) dengan petugas pasar kambing secara formal dan
informal yang ternyata mendapatkan respon yang positif jika di desa Sumbersekar
Kecamatan Dau Malang tersebut diadakan kegiatan penyuluhan mengenai paguyupan pasar
kambing. Untuk pelaksanaan program ini, melalui beberapa tahap yaitu:

a. Tahap Observasi
Pada tahap ini dilakukan dengan mengadakan kunjungan ke pasar hewan di Malang
dengan tujuan mengetahui kondisi pasar kambing, aktifitas ekonomi dalam pasar kambing,
dan faktor penghambat dalam pengembangan pasar.

b. Tahap Koordinasi
Tahapan ini dilakukan dengan melakukan koordinasi, meminta izin, petunjuk, dan kerja
sama dengan Kepala Desa Sumbersekar. Koordinasi dilanjutkan dengan oknum dinas pasar
yang mana Penyuluhan dilakukan dengan cara menanyakan/wawancara terkait dengan
permasahalan yang dihadapi oleh paguyupan pasar kambing Desa Sumbersekar.

c. Tahap Persiapan
Tahap persiapan dilakukan dengan melakukan pendataan tentang pasar kambing yang
ada di Malang. Kemudian mempersiapkan daftar pertanyaan yang akan digunakan untuk
wawancara kepada dinas pasar.

d. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan diwali dengan mengunjungi pasar hewan yang ada di Malang,
kemudian mewawancarai oknum dinas pasar untuk mengetahui informasi tentang kondisi
pasar kambing, aktifitas ekonomi dalam pasar kambing, dan faktor penghambat dalam
pengembangan pasar.

e. Tahap Evaluasi dan Pelaporan


Evaluasi dari program ini yaitu dikarenakan program Bumdes hanya merencanakan dan
menyarankan terkait dengan paguyupan pasar kambing, maka hasil dari kegiatan Bumdes
ini tidak bisa dilihat secara langsung karena tindak lanjut dari kegiatan ini sepenuhnya.
Kemudian dilanjutkan dengan membuat laporan yang disusun secara sistematis dan
diserahkan kepada DPL.

2.2 Program dan Sasaran


Terkait dengan Bumdes (Badan Usaha Milik Desa), program yang kami jalankan adalah
memberikan saran mengenai paguyupan pasar kambing yang ada di Desa Sumbersekar. Yaitu
yang berkaitan dengan kondisi pasar kambing, aktifitas ekonomi dalam pasar kambing, dan
faktor penghambat dalam pengembangan pasar.
Dan sasaran kami dari program Bumdes ini adalah masyarakat Desa Sumbersekar yang
mengikuti paguyupan pasar kambing.

2.3 Organisasi Pelaksana Kegiatan


Berikut adalah rincian organisasi pelaksana dan penanggung jawab kegiatan:
Pelindung : - Rektor Universitas Negeri Malang
- Kapus P2SW-KKN Universitas Negeri Malang
- Kepala Desa Sumbersekar Kecamatan Dau
Pembimbing : H. Subagyo, S.E., S.H., M.M.
Penanggung jawab : Afandi Rahmat.
Ketua Pelaksana : Muhammad Fajar Arifianto
Wakil ketua pelaksana : Nida Khoiriya
Sekretaris : Hidayatin
Bendahara : Ria Nur Aini

Sie Acara : Bela Prayogo (Co)


Anggota : 1. Sulistyowati
2. Setiawati

Sie Perlengkapan : Moch. Ardi Nur Fatoni (Co)


Anggota : 1. Fitta Yuma Oktavia
2. Resty maredahlia

Sie Dokumentasi : Muhammad Alfan Noor (Co)


Anggota : 1. Sarifa Salma

Sie Humas : Aditya Pratama P (Co)


Anggota : 1. Agnia Rakanita Mulya

Sie Konsumsi : Angga Josi Frandika (Co)


Anggota : 1. Mustaffa Afzar
2. Agung Yuono

Sie Kesekret : Sulistyowati

2.4 Sumber Dana/Donatur

PEMASUKAN
Dana LPM Rp 50.000,00
Iuran Mahasiswa Rp 100.000,00
Total Pemasukan Rp 150.000,00

2.5 Jadwal Kegiatan


Waktu
No Program Kegiatan Sasaran
Pelaksanaan
Konsultasi kepada kepala desa
14 Oktober
1 tentang konsep Badan Usaha Konsep Badan Usaha Milik
Milik Desa yang telah ada dan Desa Sumbersekar 2017
bisa dikembangkan
21 Oktober
2 Berkunjung ke beberapa tempat Mengetahui tempat usaha yang
usaha di sekitar desa ada di sekitar desa Sumbersekar 2017
Melaporkan kepada kepala desa
Laporan kepada kepala desa 28 Oktober
3 tentang konsep Badan Usaha
tentang konsep Badan Usaha
Milik Desa yang telah ada dan 2017
Milik Desa yaitu pasar kambing
bisa dikembangkan. Disetujui
tentang Sistem Pasar Kambing.
Survei ke pasar hewan di
Singosari, Malang dan
menanyakan tentang system pasar
Saran dari oknum dinas pasar 4 November
4 kambing di daerah tersebut.
untuk sistem pasar kambing di
Mendapatkan saran dari oknum 2017
Desa Sumbersekar.
dinas pasar di daerah tersebut
untuk system pasar kambing di
Desa Sumbersekar.
Menjelaskan tentang system pasar
kambing yang ada di Singosari
dan menjelaskan saran yang Kepala Desa memahami dan
11 November
5 diberikan oleh oknum dinas pasar setuju tentang saran yang
kepada Kepala Desa diberikan terkait dengan sistem 2017
Sumbersekar. Kepala Desa pasar kambing
memahami dan setuju tentang
saran yang diberikan.

BAB III
PAPARAN DAN PEMBAHASAN HASIL PELAKSANAAN PROGRAM

3.1 Paparan Hasil Pelaksaanaan Program


Program Badan Usaha Milik Desa ini diawali dengan melakukan konsultasi dengan
kepada desa Sumbersekar untuk mengetahui tentang badan usaha apa yang dapat
dikembangkan di Desa Sumbersekar. Setelah itu kami berkunjung ke beberapa tempat usaha
yang ada disekitar Desa Sumbersekar. Dari kunjungan yang telah dilakukan, dapat ketahui
bahwa badan usaha yang dapat dikembangkan adalah paguyupan pasar kambing, dan hal
tersebut telah disetujui oleh kepala desa.
Untuk mengetahui sistem pasar kambing, kami melakukan observasi ke beberapa pasar
hewan yang ada di Malang. Dengan begitu kami mengetahui kondisi pasar kambing, aktifitas
ekonomi dalam pasar kambing, dan faktor penghambat dalam pengembangan pasar
kambing.
Setelah mendapatkan banyak informasi terkait dengan paguyupan pasar kambing, hasil
tersebut kami berikan kepada kepala desa sebagai saran yang digunakan untuk
pengembangan paguyupan pasar kambing. Pelaksanaan dari pemberian saran tersebut,
tergantung bagaimana keputusan atau tindak lanjut dari kepala desa Sumbersekar.

3.2 Pembahasan Hasil Pelaksanaan Program


Program tentang pemberian saran mengenai paguyupan pasar kambing ini berjalan
dengan baik dan sukses sehingga memperoleh hasil sebagai berikut:

3.2.1 Kondisi Umum Pasar Kambing Sumbersekar

Lokasi Pasar
Lokasi Pasar Kambing Desa Sumbersekar terletak berbatasan langsung dengan
balai Dusun Krajan, Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.Pasar ini
terletak di sekitar wilayah perkampungan warga.Di sebelah Selatan pasar kambing
(kurang lebih hanya 15 meter) terdapat Jl. Raya Sumbersekar.Secara geografis, Pasar
Kambing Desa Sumbersekar adalah sebagai berikut :
 Sebelah Utara berbatasan dengan Rumah Pemerahan Susu.
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Balai Dusun Krajan dan Jalan Raya
Sumbersekar.
 Sebelah Barat berbatasan denganlahan kosong.
 Sebelah Timur berbatasan dengan Lapangan bola Desa Sumbersekar.
Lokasi pasar kambing ini mudah dijangkau dan dapat ditempuh dengan
menggunakan kendaraan bermotor baik yang besar seperti trukmaupun mobil dan
motor.Lokasinya yang cukup strategis ini memberikan kemudahan bagi para pembeli
yang ingin belanja kambing di pasar tersebut.Pasar yang terletak di wilayah tersebut
memiliki potensi lokasi yang cukup strategis sehingga dinilai mampumendukung
penjualan kambing.

Sarana dan Fasilitas


Sarana dan fasilitas yang dimiliki oleh pasar kambing Desa Sumbersekar
diantaranya adalah patok untuk mengikat kambing, gudang, kamar mandi, tempat
duduk, dan parkiran.Luas areal pasar kurang lebih mencapai 300 m2. Daya tampung
pasar tersebut adalah kurang lebih mencapai 150 ekor kambing.

Struktur Organisasi dan Kelembagaan Pasar


Secara umum,Pasar Kambing Desa Sumbersekar belum memiliki hirarkiorganisasi
yang terstruktur. Namun, bukan berarti pengorganisasian pasar tidak dilakukan sama
sekali. Terdapat pedagang yang sedikit memiliki peran untuk membuat kerja sama
antar pedagang sehingga pengorganisasian pasar terjalan dengan baik. Meski
demikian pula, kerja sama itu tidak dituliskan ke dalam aturan baku organisasi. Hal
itu disebabkan oleh pedagang yang memiliki peran lebih tersebut, tidak mau dijuluki
sebagai ketua, melainkan hanya ingin mengambil inisiatif untuk mengelola pasar.

3.2.2 Aktivitas Pemasaran

Kegiatan Pasar
Pada umumnya kegiatan pedagang di Pasar Kambing Desa Sumbersekar adalah
kegiatan jual-belikambing, menjaga dagangan kambingdan mengambil kambing dari
pedagang pemasok.Adapun waktu operasional sehari hari pasar adalah setiap hari
Senin dan Jum’at dan berlangsung sejak Pukul06.00 WIB-Pkl. 12.00 WIB.Kegiatan
jual-beli kambing dan menjaga dagangan kambing adalah kegiatan utama
pedagang.biasanya jual-beli kambing mulai ramai pada Pkl. 08.00 WIB hingga Pkl.
11.00 WIB. Sistem jual-beli yang ditawarkan pedagang adalah konsumen dianjurkan
untuk datang langsung ke pasar dan memilih sendiri kambing yang diinginkan.Hal itu
dilakukan guna menghindari ketidakpuasan darikonsumen.Selain itu, ada beberapa
pedagang yang juga menawarkan jasa pengiriman kambing ketempat
konsumen.Fasilitas penunjang selama berdagang adalah telepon seluler.
Sebab, banyak konsumen yang memesan terlebih dahulu dan melakukan transaksi
beberapa hari berikutnya.Perawatan kambing meliputi pemberian pakan dan obat-
obatan serta memandikan kambing.Pakan yang diberikan adalah rerumputan,
dedaunan dan kulit jagung.Adapun pemberian obat-obatan meliputi penggunaan obat
untuk mencegahpenyakit seperti menambah stamina dan kebugaran kambing dan
penggunaan obatuntuk mengobati penyakit yakni seperti penyakit buduk, katarak,
tidak nafsu makan dan mencret atau buang air.Perawatan lainnya adalah memandikan
kambing yang di lakukan di rumah pedagang.Perawatan tersebut hanya dilakukan jika
telah terjadi kesepakatan saja.

Daerah Asal dan Tujuan Kambing


Daerah asal kambing di pasar adalah sekitar Kabupaten Malang saja.Adapun
wilayahnya meliputiBatu, Pujon, Kepanjen, dan Gunung Kawi.Daerah-daerah tersebut
menjadi pilihan pasokan kambing pedagang didasarkanpada pengalaman pedagang
dan kualitas kambing yang diinginkan pedagangpasar. Terdapat dua cara pedagang
untuk menerima pasokan kambing yaknimenerima pasokan langsung dan belanja
sendiri ke daerah.Setiap daerah memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Daerah Tujuan kambing dari Pasar Kambing Sumbersekarsama seperti daerah
asalnya karena konsumen kebanyakan berasal dari pedagang yang berjualan di pasar
itu sendiri dan hanya 30 % saja yang konsumen umum. Daerah tujuan biasanya
bergantung darikarakteristik pembelian kambing dan domba yang akan dibeli oleh
konsumen.Karaktersitik pembelian kambing dan domba biasanya berdasarkan
kebutuhan konsumen.Kebutuhan konsumen tersebut meliputi kebutuhan untuk aqiqah,
nazar, maulidan,qurban, dan cathering.

Karakteristik Konsumen
Terdapat dua jenis konsumen di dalam Pasar Kambing Desa Sumbersekar yakni
konsumen akhir (end user) dan konsumen antara.Klasifikasi jenis konsumen ini
didasarkan atas produk yang dibeli oleh mereka di pasar.

Alasan klasifikasi jenis konsumen di Pasar Kambing Desa Sumbersekar adalah


karena produk yangdibeli oleh konsumen.Konsumen akhir pada umumnya hanya
membeli produkkambing jantan saja sedangkan konsumen antara membeli
produkkambing betina. Alasan lain yang menyebabkan produk jantandiminati oleh
konsumen akhir sedangkan betina diminati oleh konsumen antaraadalah harga jual
pedagang untuk produk jantan lebih mahal disbanding produk betina.
Berdasarkan hal diatas, konsumen akhir merupakan masyarakat yangmembeli
kambing jantan untuk keperluan aqiqah dan qurban.Sedangkan konsumen antara
terdiri atas pedagang daging, pengusaha warung makan ataupun rumah makan atau
cathering. Adapun konsumen antara membeli kambing betina untuk keperluan
komersil yakni mereka menjadikan produk yang dibeli tersebut sebagai bahan baku
usaha atau bisnis mereka. Hal itu disebabkan oleh harga jual di tingkat pedagang
Pasar Kambing Desa Sumbersekaruntuk produk betina lebih murah dibanding produk
jantan.

Retribusi Pasar
Setiap pasar memiliki pungutan biaya bersama sebagai salah satu bagi-an dari
manajemen atau pengelolaan pasar. Pungutan biaya di dalam pasar pada umumnya
disebut sebagai retribusi pasar.Namun, perlu digaris bawahi, pengadaan retribusi
pasar haruslah didasarkan atas peraturan yang legal dan tertulis secara hukum guna
menghindari pungutan liar. Oleh karena itu, pasar memiliki koordinasi dengan
lembaga lain dalam hal ini lembaga kepemerintahan seperti pemerintah daerah.
Koordinasi dengan lembaga ini dibuat untuk menjamin pengelolaan pasar yang
terpadu dan terhindar dari aspek aspek yang merugikan pedagang pedagang di dalam
pasar.Terdapat pasar yang kurang memiliki koordinasi langsung dengan lembaga
pemerintahan dan juga mengadakan retribusi atau pungutan bersama di dalam
pasar.Pasar yang dimaksud adalah Pasar Kambing Desa Sumbersekar. Oleh karena
itu, perlu dikaji mengenai alasan kurang efektifnya pungutan atau retribusi tersebut.
Pengkajian alasan tersebut dilakukan dengan melihat situasi dan kondisi pasar
tersebut hingga akhirnya saat ini adanya retribusi atau pungutanyang kurang efektif.
Retribusi pasar kambing menurut wawancara dari Bapak Herman yaitu pengelola
pasar kambing saat ini, menyebutkan bahwa setiap ekor kambing atau domba yang
dibawa dikenakan Rp 1000 serta dikenakan Rp 2000 untuk parkir. Penyebab uang
hasil retribusi tersebut kurang maksimal karena uang tersebut digunakan oleh
pengelola pasar untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana di pasar kambing
itu dan sisanya diberikan ke desa.Selain itu terdapat beberapa pedagang yang tidak
mau membayar uang retribusi karena yang menarik uang retribusi tersebut adalah
pedagang juga dan tidak adanya peraturan legal dari pemerintahan desa.

3.2.3 Faktor Penghambat dalam Pengembangan Pasar Kambing Sumbersekar

Tidak Adanya Rumah Potong Hewan Resmi


Kegiatan di dalam pasar ternak maupun pasar hewan termasuk pula
PasarKambing Desa Sumbersekar tidak mungkin terlepas dari Rumah Potong Hewan
(RPH).Sebab, pada dasarnya keberadaan pasar hewan sangat dibutuhkan mengingat
kebutuhan utama terhadap kambing hidup adalah berupa daging dan
karkas.Setidaknya ada beberapa alasan mengapa RPH ini harus adadan bahkan secara
legal diakui oleh pemerintah.Pertama, produk utama yang dibutuhkan dari permintaan
kambing hidup adalah berupa daging dan karkas.Kedua, konsumen dan masyarakat
harus memperoleh jaminan kesehatan daging hewan yang telah dipotong.Dengan
adanya RPH resmi yang dilegalkan pemerintah, peredaran daging dari kegiatan
pemotongan dapat terawasi dengan baik.Sebab di dalam RPH sudah terdapat
mekanisme dan standar operasional yang baik dan terjamin.Ketiga, pentingnya
keberadaan RPH resmi tersebut juga harus mudah diakses oleh Pasar Kambing Desa
Sumbersekar.Bahkan, bila memungkinkan, dengan mengingat potensi permintaan
kambing hidup, perlu dibangun RPH di dalam Pasar tersebut.Tentunya pembangunan
RPH ini harus didasarkan atas prinsip tidak mengganggu kenyamanan warga
sekitar.Namun, meski tidak mungkin untuk membangun RPH di dalam pasar tersebut,
setidaknya RPH resmi tersebut mudah diakses oleh para pedagang Pasar Kambing
Desa Sumbersekar.

Tidak Adanya Kelembagaan Formal di Pasar


Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwasanya saat ini belumada
lembaga formal yang terbentuk di dalam pasar.Padahal Pasar Kambing Desa
Sumbersekar merupakan jenis usaha milik masyarakat dan bukan jenis usaha milik
perseorangan maupun korporasi. Oleh karena itu, seharunsya di dalam Pasar Kambing
Desa Sumbersekar terbentuk kelembagaan formal untuk memudahkan koordinasi
dengan lembaga lain di luar pasar dalam hal ini adalah instansi pemerintahan.
Fungsi Kelembagaan formal seharusnya adalah menjalankan fungsi pengawasan
atas kesehatan daging kambing dan domba yang dijual dari pasar kambing ini.Selain
itu fungsi lainnya adalah sebagai lembaga yang mengeluarkan kebijakan peraturan
terkait kesehatan ternak dan daging. Ketigalembaga ini bila mampu terintegrasi
dengan baik tentunya akan mampu mengembangkan pasar kambing berikut
potensinya sehingga dapat menciptakankondisi kinerja pasar yang sangat baik. Di luar
dari perhatian atas lembaga yang seharusnya menangani pasar kambing, perlu
diperhatikan kembali aspek internal di dalam pasar. Aspek internalyang dimaksud
adalah adanya kesepahaman diantara pedagang untuk membentuk struktur organisasi
pasar kambing sehingga terbentuk kelembagaan yang baik guna melancarkan
kerjasama antar lembaga lain dalam hal ini adalah lembaga yang seharusnya
menangani pasar kambing tersebut.

Pasar yang Kurang Berkontribusi bagi PAD dan Retribusi Daerah


Alasan mengapa pasar kambing ini kurang berkontribusibagi desa karena secara
umum disebabkan minimnya kelembagaan di dalam pengelolaan pasar serta bahkan
pemerintah desa tidak terlibat langsung di dalam pengelolaan pasar sehingga uang
dari hasil retribusi tersebut digunakan oleh pengelola pasar tersebut untuk melengkapi
sarana dan prasarana secara langsung tanpa melalui desa. Oleh karena itu pengelolaan
pasar dilakukan secara mandiri oleh pedagang tanpa melibatkan koordinasi dengan
pihak desa sehingga pedagang pun ada yang tidakmembayar retribusi pasar karena
tidak adanya peraturan legal.

Kegiatan Promosi yang Minim


Kelemahan lain yang ditemukan di dalam Pasar Kambing Desa Sumbersekar
adalah seluruh pedagangtidak melakukan kegiatan promosi dengan baik. Sebab, pada
umumnya seluruh pedagang hanya menggantungkan penjualan pada transaksi di
dalam pasar tersebut tanpa menetapkan strategi promosi penjualan ke luar wilayah
dan area pasar.Namun, meski tidak adanya kegiatan promosi, penjualan kambing dan
domba di pasar tetap terjadi dengan baik.Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor
yakni penjualan Worth of Mouth atau mulut ke mulut, pengalaman berdagang
sehingga memiliki relasi pelanggan yang mumpuni.

Tidak Adanya Pembukuan Penjualan


Pencatatan dan pembukuan akuntansi penjualan sangat penting dilakukan guna
merekam perjalanan usaha ke dalam sebuah pencatatan yang sistematissehingga dapat
membantu ke dalam penyusunan strategi dan pengembanganbisnis.Namun, pencatatan
dan pembukuan akuntansi penjualan ini tidakdilakukan oleh seluruh pedagang di
Pasar Kambing Desa Sumbersekar.Hal itu disebabkan oleh ketidakmampuan
pedagang di dalam menyajikan informasi penjualan ke dalambentuk buku akuntansi
penjualan.Adapun pencatatan penjualan selama inidilakukan hanya pada saat kambing
di kirim melalui bon biaya beli.Kemudian,pedagang membuat estimasi berapa harga
jual, omzet penjualan dan laba usaha.Namun, pencatatan tersebut tidak di arsipkan
dengan rapi sehingga data penjualan periode satu tahun terakhir tidak ditemukan dan
bahkan catatan tersebut langsung dibuang pada saat menerima bon tersebut.Sebab,
pedagang kurang menyukai pencatatan akuntansi yang dianggap sulit sehingga
pedagang lebih senang mengandalkan daya ingat mereka saja.

Minimnya Penggunaan Obat-obatan


Pada dasarnya pemberian obat-obatan tidak hanya pada saat kambing terserang
penyakit, melainkan obat-obatan juga diberikan pada saat ternak tersebut tidak sakit
sebagai upaya pencegahanpenyakit.Berdasarkan hal tersebut jenis obat-obatan yang
dimaksud adalah obat penyembuh penyakit dan obat pencegah sakit.Adapun penyakit
yang biasanya menyerang kambing adalah buduk, diare, tidak nafsu makan dan
katarak.Sedangkan obat pencegah sakit biasanya adalah obat untuk penambah nafsu
makan dan obatpenambah stamina untuk ternak tersebut.
Pedagang yang rutin memberikan obat-obatan untuk kambing akan mengeluarkan
biaya obat-obatan yang rutin pula dalam satu bulan sekali. Namun, pedagang hanya
menggunakan obat jika kambing itu sakit.

Peran Pemerintah Desa yang Minim


Berdasarkan aturan yang berlaku yakni UU No 18 Tahun 2009, pemerintahsangat
memiliki peran dan kewajiban di dalam mengatur peredaran produk ternaksehingga
mampu menjamin peredaran produk yang sehat dan berkualitas. Olehkarena itu,
menurut Pasal 58 Ayat 1, pemerintah memiliki peran yakni Pengawasan,
Pemerikasaan Pengujian, Standarisasi, Sertifikasi, dan RegristasiProduk.
Peran pemerintah desa terhadap Pasar Kambing Desa Sumbersekar adalah berupa
peran pengawasan dan pemeriksaan.Hal itu sesuai dengan Pasal 58Ayat 2 UU No 18
Tahun 2009. Pengawasan dan pemeriksaan ini harus dilakukan secara rutin, sebab
berdasarkan fakta yang terjadi di Pasar Kambing Desa Sumbersekar dan wawancara
dengan pengelola pasar, peran pemerintahtermasuk di dalamnya terkait pengawasan
dan pemeriksaan jarang dilakukan.Kegiatan Pasar Kambing Desa Sumbersekartidak
terkoordinasi oleh pemerintah sehingga legalitas dan jaminan atas produkyang
dihasilkan dipertanyakan.Oleh karena itu, langkah awal yang harusdilakukan oleh
pemerintah adalah pemerintah harus terjun langsung di dalampengawasan dan
pemeriksaan produk pasar tersebut secara rutin sehingga aktivitas dankegiatan pasar
berlangsung secara baik.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Secara umum, Pasar Kambing Desa Sumbersekar belum memiliki hirarki organisasi
yang terstruktur. Namun, bukan berarti pengorganisasian pasar tidak dilakukan sama sekali.
Terdapat pedagang yang sedikit memiliki peran untuk membuat kerja sama antar pedagang
sehingga pengorganisasian pasar terjalan dengan baik. Meski demikian pula, kerja sama itu
tidak dituliskan ke dalam aturan baku organisasi. Hal itu disebabkan oleh pedagang yang
memiliki peran lebih tersebut, tidak mau dijuluki sebagai ketua, melainkan hanya ingin
mengambil inisiatif untuk mengelola pasar.
Pada umumnya kegiatan pedagang di Pasar Kambing Desa Sumbersekaradalah kegiatan
jual-beli kambing, menjaga dagangan kambing dan mengambil kambing dari pedagang
pemasok.Adapun waktu operasional sehari hari pasar adalah setiap hari Senin dan Jum’at dan
berlangsung sejak Pukul 06.00 WIB-Pkl. 12.00 WIB.
Daerah asal kambing di pasar adalah sekitar Kabupaten Malang saja.Adapun wilayahnya
meliputi Batu, Pujon, Kepanjen, dan Gunung Kawi.Daerah-daerah tersebut menjadi pilihan
pasokan kambing pedagang didasarkanpada pengalaman pedagang dan kualitas kambing
yang diinginkan konsumen pasar.Terdapat dua jenis konsumen di dalam Pasar Kambing Desa
Sumbersekar yakni konsumen akhir (end user) dan konsumen antara.Klasifikasi jenis
konsumen ini didasarkan atas produk yang dibeli oleh mereka di pasar.
Retribusi pasar kambing menurut wawancara dari Bapak Herman yaitu pengelola pasar
kambing saat ini, menyebutkan bahwa setiap ekor kambing atau domba yang dibawa
dikenakan Rp 1000 serta dikenakan Rp 2000 untuk parkir. Penyebab uang hasil retribusi
tersebut kurang maksimal karena uang tersebut digunakan oleh pengelola pasar untuk
memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana di pasar kambing itu dan sisanya diberikan ke
desa.Selain itu terdapat beberapa pedagang yang tidak mau membayar uang retribusi karena
yang menarik uang retribusi tersebut adalah pedagang juga dan tidak adanya peraturan legal
dari pemerintahan desa.
Sedangkan factor-faktor yang menghambat Pasar Kambing Desa Sumbersekar yang
terdiri atas tidak adanya RPH resmi di pasar, tidak adanya kelembagaan formal di pasar,
pasar yang kurangmemberikan kontribusi pada PAD dan retribusi daerah, minimnya kegiatan
promosi, tidak adanya pembukuan penjualan, minimnya penggunaan obat-obatan serta peran
pemerintah yang minim.
4.2 Saran
4.2.1 Pembuatan Karcis Masuk untuk Retribusi Perizinan yang Legal
Berdasarkan kunjungan ke pasar hewan di Singosari Malang, terdapat beberapa
perbedaan yang mencolok antara pasar hewan di desa Sumbersekar dengan pasar
hewan di Singosari. Pada pasar hewan di Singosari sudah ada biaya untuk perizinan
legal dari dinas pasaryang dikenakan pada produsen (peternak) untuk setiap ekor
hewan yang dibawa oleh produsen (peternak). Tarif yang dikenakan sebesar Rp.
1.500,- per ekor.
Biaya tersebut berbentuk karcis, karcis tersebut dibuat oleh Dinas Pasar sebagai
alat untuk mengontrol penjualan hewan supaya pembeli tidak tertipu oleh calo, selain
itu hasil biaya dari karcis tersebut bisa digunakan untuk kepentingan lain pada pasar
hewan tersebut.

4.2.2 Pembuatan Data Ternak yang Masuk


Penghitungan dan pendataan tersebut diperlukan untuk mengetahui berapakah
dalam satu periode jumlah hewan yang masuk, sehingga tidak terjadi penjualan illegal
melalui calo dan bisa menjadi patokan untuk pengembangan sarana dan prasarana ke
depannya.Contoh :
Tabel 3.1 Tabel Ternak yang Masuk Pasar Kambing

Tabel 2.1 Tabel Ternak Masuk Pasar Hewan

4.2.3 Pembuatan Data Perkembangan Ternak Terjual


Data ini diperlukan untuk menunjukkan seberapa banyak hewan ternak yang
terjual dalam satu periode, dengan adanya data ini BUMDES (Badan Usaha Milik
Desa) bisa melakukan tindakan atau keputusan-keputusan penting untuk pengendalian
yang terkait dengan keuangan.Contoh :
Tabel 3.2TabelPerkembangan Ternak Terjual

4.2.4 Pembuatan Nilai Transaksi Ternak


Data ini diperlukan untuk mengetahui berapakah dalam satu periode kinerja uang
yang sedang berjalan, dengan adanya laporan ini BUMDES (Badan Usaha Milik
Desa) bisa mengontrol jika ada penyelewengan atau penyalahgunaan uang. Contoh :
Tabel 3.3Tabel Nilai Transaksi Ternak

4.2.5 Pembuatan Bangunan Timbangan Ternak


Timbangan hewan atau timbangan ternak, adalah jenis timbangan yang digunakan
untuk menimbang hewan baik sapi, kerbau maupun kambing serta
sejenisnya.Timbangan ini sangat berguna untuk mendapatkan hasil yang akurat dari
penimbangan hewan tersebut untuk menghindari kerugian dari berbagai pihak.

4.2.6 Pembuatan Tempat Penampungan Kotoran


Selain pakan, masalah lain pada hewan ternak adalah kotorannya.Pengelolaan
yang masih kurang menyebabkan beberapa peternak tidak segan membuang kotoran
ke selokan atau kebun milik orang.Membuang bahan perusak atau pencemar ke
lingkungan adalah perbuatan melanggar peraturan. Lingkungan disini berarti sungai,
kolam, danau, kali, got dan sebagainya. Bahan limbah kandang dapat menimbulkan
polusi.Selain itu, bahan limbah kandang berkaitan dengan usaha pertanian yang baik.
Memang sudah ada peraturan yang mengatur tentang limbah, akan tetapi perlu juga
disiplin dari peternak. Karena itu, diharapkan pemerintah desa bisa menyediakan
tempat penampungan kotoran ini.
4.2.7 Pengadaan Keamanan
Jaminan keamanan merupakan syarat mutlak untuk pelaksanaan pelayanan
kegiatan di Pasar Hewan.Karakter pengguna pasar hewan berbeda dengan di pasar
umum, selain itu biasanya berbagai kepentingan selalu menyertai aktivitas yang
terjadi di pasar hewan.Untuk itu perlu antisipasi dari awal terhadap pihak-pihak yang
tidak bertanggung jawab dan mengganggu jalannya kegiatan di pasar hewan.
Khususnya pada hari pasaran, pemantauan dan pengawasan secara terus menerus
dilakukan oleh aparat terkait dan hasilnya selalu dibahas bersama-sama dengan pihak
BUMDES termasuk petugas Satpam.Untuk evaluasi setiap tiga bulan sekali dilakukan
rapat koordinasi antara pihak BUMDES dengan personil-personil dari POLSEK,
KORAMIL, POL PP yang terlibat langsung di lapangan.
Dengan adanya jaminan keamanan para pelaku pasar di Pasar Hewan
Sumbersekarbisa merasa aman dan nyaman dalam melakukan transaksi dan membawa
uang karena tidak ada pungutan-pungutan liar maupun pemalakan yang dilakukan
oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

4.2.8 Penarikan Retribusi untuk Pemeriksaan Kesehetan Hewan


Fasilitas yang tersedia dan lengkap sangat berperan terhadap perkembangan dan
kemajuan pasar hewan, tidak hanya untuk kenyamanan dan kepuasan pengguna pasar
tetapi juga sangat mendukung keberadaan Pasar Hewan itu sendiri sebagai pasar
ternak modern.

4.2.9 Penarikan Retribusi untuk Parkir yang Legal


Tentunya dengan penyediaan lahan parkir ini ada penarikan retribusi bagi yang
menggunakan tempat parkir di tepi jalan umum yang telah disediakan oleh
Pemerintah Desa. Besaran tarif Retribusi pun telah ditetapkan oleh Pemerintah Desa
dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan
masyarakat, aspek keadilan, dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut

4.2.10 Penarikan Retribusi untuk Sampah


Setiap individu pasti menghasilkan sampah.Realitas ini tak dapat dipungkiri lagi.
Karena itu, selama masih ada kehidupan di atas dunia ini, maka sampah akan selalu
ada.
Lantaran individu adalah produsen sampah, yang patut dipikirkan adalah
bagaimana manajemen pengelolaan sampah itu.Besarnya timbunan sampah yang
dihasilkan di Pasar khususnya Pasar hewan dan dalam upaya mencegah permasalahan
yang dapat terjadi dari aktivitas perdagangan tersebut maka dirasa perlu untuk
melakukan upaya penanganan sampah yaitu dengan penarikan retribusi kepada
produsen (peternak) untuk pelayanan pembersihan sampah dari aktivitas
perdangannya.
Lampiran Gambar

A. Kondisi Pasar Kambing Sumber Sekar


B. Hasil Survey Pasar Hewan Singosari