Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Luka adalah suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan tubuh yang
dapat mengganggu fungsi tubuh sehingga dapat menyebabkan aktifitas sehari-
hari tidak berjalan normal (Hidayat, 2014). Vulnus Apertum (luka terbuka)
atau Vulnus Laceratum (luka sobek) adalah terjadi kekerasan, benda tumpul,
goresan, jatuh, kecelakaan sehingga kontinuitas jaringan terputus. Tetapi tepi
luka robekan berbentuk garis tidak teratur dan jaringan kulit disekitar luka
juga mengalami kerusakan (Junaidi, 2015).
Tanda dan gejala yang sering muncul pada Vulnus Apertum atau Vulnus
Laceratum adalah sobekan pada kulit yang mungkin membuat cidera jaringan
kulit di bawahnya, terjadinya pendarahan bisa sedikit atau banyak, akan terasa
nyeri dan sakit pada sekitar luka (Margareta, 2013).
Penyebab cedera yang disengaja meliputi bunuh diri, tindakan
kekerasan, penyerangan, dan lain-lain, sedangkan penyebab cedera yang tidak
disengaja seperti, tersiram air panas, tergigit oleh binatang, jatuh dari
ketinggian, kecelakaan akibat kerja, terluka karena benda, dan lain sebagainya.
Cedera yang tidak dapat ditentukan (undeterminated intent) yaitu peyebab
cedera yang sulit untuk dimasukkan kedalam kelompok penyebab yang
disengaja atau tidak disengaja (RIKESDAS, 2013). Kecelakaan kerja terjadi
karena perilaku personal yang kurang hati-hati atau ceroboh atau bisa juga
karena kondisi yang tidak aman, apakah itu berupa fisik, atau pengaruh
lingkungan (Widodo, 2015).
Di Indonesia jumlah kasus kecelakaan kerja pada tahun 2011 sampai
dengan 2014 yang paling tinggi adalah terjadi pada tahun 2013 yaitu 35.917
kasus kecelakaan kerja sedangkan pada tahun 2011 terdapat 9.891 kasus,
tahun 2012 terdapat 21.735 kasus, dan tahun 2014 terdapat 24.910 kasus.
Provinsi dengan jumlah kasus kecelakaan kerja tertinggi pada tahun 2014
adalah Provinsi Sulawesi Selatan, Riau dan Bali (Kementerian Kesehatan,
2014).
1
2

Berdasarkan data dari BPJS Ketenagakerjaan jumlah kasus kecelakaan


kerja terus menurun. Tahun 2015 terjadi kecelakaan kerja sebanyak 110.285
kasus, sedangkan tahun 2016 sejumlah 105.182 kasus, sehingga mengalami
penurunan sebanyak 4,6%. Sedangkan sampai Bulan Agustus tahun 2017
terdapat sebanyak 80.392 kasus (BPJS Ketenagakerjaan, 2018).
Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan,
angka kejadian kasus kecelakaan kerja di kota Banjarmasin pada tahun 2017
terdapat 241 kasus (Badan Pusat Statistik, 2018).
Rumah Sakit Suaka Insan, data yang didapatkan dari Rekam Medik
terhitung mulai dari bulan Januari 2018 sampai dengan bulan Juni 2018
terdapat 3 orang mengalami Vulnus Apertum. Laki-laki sejumlah 2 orang
(66.7%) dan perempuan sejumlah 1 (33.3%) (Rekam Medik Rumah Sakit
Suaka Insan Banjarmasin, 2018).
Hal ini berdampak pada minimnya pengetahuan dan penanganan perawat
dalam menangani kasus Vulnus sehingga perawat harus menggali lebih banyak
informasi mengenai pananganan masalah dan perawatan akibat Vulnus.
Terutama dalam hal merawat klien secara holistik dan komprehensif dengan
perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan yang profesional.
Vulnus Apertum yang terjadi pada klien di Ruang perawatan Fransiskus
Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin akibat terjadinya kecelakaan kerja
yang menyebabkan terjadinya robekan pada daerah bibir atas (labium
superius), dan bibir bagian bawah (labium inferius) sehingga telah dilakukan
penanganan operasi Debridement yang dilakukan pada tanggal 26 Juni 2018
pukul 16.25 WITA dan untuk saat ini keluhan klien adalah masih mengatakan
nyeri pada daerah bibir atas (labium superius), dan bibir bagian bawah
(labium inferius) serta penulis melihat personal hegine klien yang kurang
khususnya pada daerah mulut, hal dapat memicu berkembang biaknya bakteri
yang mengakibatkan infeksi.
Dari hasil uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat
Asuhan Keperawatan Medikal Bedah pada Tn. S dengan Diagnosa Medis
Vulnus Apertum Labialis Oris di Ruang Perawatan Fransiskus Rumah Sakit
Suaka Insan Banjarmasin.
3

B. MANFAAT PENULISAN
1. Bagi Klien Dan Keluarga
Keluarga dapat berpartisipasi aktif dalam perawatan klien dan juga
memberikan dukungan pada klien selama dalam masa perawatan,
pengobatan serta dapat mendampingi klien dalam menghadapi penyakit
yang di alami. Klien dan keluarga perawatan melalui intervensi yang tepat
dan secepat mungkin sehingga tidak terdapat komplikasi lebih lanjut. Bagi
keluarga, selain mendapat bantuan dalam perawatan klien, keluarga juga
memperoleh pengetahuan tentang cara perawatan yang tepat pada klien
Vulnus Apertum Labialis Oris.
2. Bagi Mahasiswa
Menambah wawasan dan pengetahuan serta pengalaman dalam
mengembangkan potensi bagaimana pemberian Asuhan Keperawatan dan
manajemen kolaborasi seperti; terapi medikasi dan non medikasi,
pemberian diet, terapi aktivitas, dan pendidikan kesehatan dibidang
keperawatan medikal bedah terutama klien dengan Vulnus Apertum
Labialis Oris.
3. Bagi Para Perawat Profesional Yang Bertugas Di Pelayanan
Keperawatan
Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang holistik dari
segi bio-psiko-sosio-spiritual sehingga mampu memberikan perawatan
yang tepat bagi klien dengan masalah Vulnus Apertum Labialis Oris. Dan
menerapkan keperawatan yang sesuai dengan proses keperawatan maka
perawat lebih teliti dalam menggali data, menganalisa dan
memprioritaskan tidak hanya dalam tindakan terapi saja tetapi juga perlu
menerapkan teori yang telah di pelajari dengan keadaan Klien.
4. Bagi Profesi-Profesi Terkait:
a. Dokter
Dalam bidang medis dapat berkolaborasi dengan perawat dalam
memberikan terapi terutama dalam pemberian terapi atau medikasi
yang tepat.
4

b. Laboratory Technician
Dapat melakukan pemeriksaan laboratorium yang mendukung
terapi klien dengan teliti agar hasilnya akurat sehingga terapi yang
diberikan pun tepat.
c. Dietician
Dapat menyajikan diet yang tepat bagi klien dengan masalah
Vulnus Apertum Labialis Oris sesuai dengan pedoman pemberian diet
klien, sehingga mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan..
d. Physiotherapist
Pada bidang Physiotherapist dapat berkolaborasi dengan perawat
dalam pemberian terapi tambahan dalam bidang fisioterapi bila
memang dibutuhkan pada klien dengan masalah Vulnus Apertum
Labialis Oris.
e. Pharmacist
Berguna dalam menyediakan dan memberikan terapi yang
diperlukan sesuai dengan kebutuhan klien Vulnus Apertum Labialis
Oris.

C. BATASAN MASALAH
Batasan masalah pada asuhan keperawatan medikal bedah klien Tn. S
dengan Gangguan Sistem Integument: Vulnus Apertum Labialis Oris di
bangsal Fransiskus Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin pada tanggal 27
Juni 2018.

D. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan laporan ini untuk mendapatkan
pengalaman yang nyata dalam merawat klien Vulnus Apertum Labialis
Oris yang di rawat di bangsal Fransiskus Rumah Sakit Suaka Insan.
5

2. Tujuan Khusus
a) Mampu mengidentifikasikan dan mengumpulkan data dasar tentang
penyakit Vulnus Apertum Labialis Oris.
b) Mampu Menganalisa data yang sudah diperoleh tentang penyakit
Vulnus Apertum Labialis Oris
c) Mampu Merumuskan masalah keperawatan pada penyakit Vulnus
Apertum Labialis Oris.
d) Mampu Memprioritaskan masalah kesehatan yang muncul pada klien
dengan Vulnus Apertum Labialis Oris.
e) Mampu Membuat diagnosa keperawatan pada klien dengan Vulnus
Apertum Labialis Oris.
f) Mampu Menentukan rencana dan melaksanakan rencana keperawatan
yang dapat dilakukan pada klien dengan dengan Vulnus Apertum
Labialis Oris.
g) Mampu Mengevaluasi Asuhan Keperawatan yang telah diberikan pada
klien dengan Vulnus Apertum Labialis Oris.
h) Mampu Mendokumentasikan hasil Asuhan Keperwatan yang telah
diterapkan pada klien dengan Vulnus Apertum Labialis Oris

E. METODE
Adapun metode pengumpulan data yang di gunakan dalam penulisan
laporan studi kasus klien dengan Vulnus Apertum Labialis Oris adalah sebagai
berikut
1. Wawancara
Pengumpulan data secara langsung melalui tatap muka dan tanya
jawab dengan klien dan keluarga sebagai sumber informasi yang akurat
mengenai status kesehatan klien saat ini dan masa lalu, serta perawat perlu
mempunyai dasar pengetahuan yang cukup mengenai prinsip-prinsip
patofisiologi, psikososial, keterampilan komunikasi dan hubungan
interpersonal.
6

2. Observasi
Cara mengumpulkan data melalui hasil pengamatan secara
langsung tentang kondisi klien baik sikap, perubahan tingkah laku dan
pelaksanaan hasil yang di capai dalam kerangka asuhan keperawatan.

3. Pemeriksaan Fisik
Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
pemeriksaan fisik dalam keperawatan yaitu : Inspeksi, Palpasi, Perkusi,
dan Auskultasi.
a) Inspeksi:
Merupakan proses observasi dengan menggunakan mata. Inspeksi
dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan
dengan status fisik klien.
b) Palpasi :
Dilakukan dengan menggunakan sentuhan atau rabaan, metode ini
dikerjakan untuk mendetermanisikan ciri-ciri jaringan atau organ yang
terdapat pada tubuh klien.
c) Perkusi :
Metode pemeriksan dengan cara mengetuk. Tujuan perkusi adalah
untuk menentukan batas-batas organ atau bagian tubuh dengan cara
merasakan vibrasi yang dirasakan akibat adanya gerakan yang
diberikan kebawah jaringan.
d) Auskultasi :
Merupakan metode pengkajian yang menggunakan stetoskop untuk
memperjelas pendengaran yang Adalah metode pemeriksaan dengan
cara mengetuk. Tujuannya adalah untuk menentukan batas-batas organ
atau bagian tubuh dengan cara merasakan vibrasi yang ditimbulkan
akibat adanya gerakan yang ada di bawah jaringan (udara, cairan atau
zat padat).
7

4. Tinjauan Tes Diagnostik


Pemeriksaan data dengan mempelajari catatan-catatan medis dan
keperawatan yang ada hubungan dengan keadaan klien seperti hasil
laboratorim seperti darah, dan lain-lain atau instruksi dokter yang
diberikan.

5. Studi Kepustakaan
Metode yang menggunakan literature-literature buku Diagnosis
Keperawatan Nanda serta jurnal yang berhubungan dengan asuhan
keperawatan medikal bedah dengan Vulnus Apertum Labialis Oris.

6. Rekam Medik
Pusat penyimpanan data pasien di Rumah Sakit Suaka Insan
Banjarmasin dan untuk mengambil data yang terbaru mengenai kasus
Vulnus Apertum yang masuk di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin
sebagai data referensi.