Anda di halaman 1dari 4

SURAT KEPUTUSAN

DIREKTUR RSB. PERMATA SARANA HUSADA


NOMOR: 10/ SK-DIR/ PPI/ RSB-PSH/ XII/ 2015
TENTANG
KEBIJAKAN PENGELOLAAN LIMBAH PADAT INFEKSIUS DAN
LIMBAH PADAT NON INFEKSIUS RSB. PERMATA SARANA HUSADA

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya pengelolaan limbah padat


infeksius dan limbah padat non infeksius yang
tidak tepat seringkali berisiko menimbulkan
penularan penyakit akibat kerja, infeksi bahkan
pencemaran lingkungan.
b. Bahwa agar risiko yang ditimbulkan dari
pengelolaan yang tidak tepat maka perlu dibuat
kebijakan pengelolaan limbah padat infeksius
dan limbah padat non infeksius di RSB. Permata
Sarana Husada.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang


Kesehatan.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44
tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.
3 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 270/ 2007
Tentang Pedoman Managerial tentang
Pencegahan Pengendalian Infeksi di Rumah
Sakit.
M E M U T U S K A N:

Menetapkan:
Pertama : KEPUTUSAN DIREKTUR RSB. PERMATA
SARANA HUSADA TENTANG
KEBIJAKAN PENGELOLAAN LIMBAH
PADAT INFEKSIUS DAN LIMBAH PADAT
NON INFEKSIUS.
Kedua : Kebijakan pengelolaan limbah padat infeksius
dan limbah padat non infeksius di RSB
Permata Sarana Husada sebagaimana
tercantum dalam keputusan ini.
Ketiga : Kebijakan pengelolaan limbah infeksius dan
non infeksius dijadikan sebagai pedoman dan
acuan dalam pengendalian penyakit infeksi di
RSB Permata Sarana Husada.
Keempat : Keputusan ini berlaku sejak tanggal
ditetapkannya dan apabila di kemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan
ini akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di Tangerang Selatan


Pada tanggal 01 Desember 2015

dr. Novi Gracia, SpOG


Direktur

LAMPIRAN
PERATURAN DIREKTUR RSB. PERMATA SARANA HUSADA
NOMOR : 10/ SK-DIR/ PPI/ RSB-PSH/ XII/ 2015
TANGGAL : 01 DESEMBER 2015
TENTANG : KEBIJAKAN PENGELOLAAN LIMBAH PADA INFEKSIUS
DAN NON INFEKSIUS

KEBIJAKAN UMUM
1. Mencegah terjadinya penularan penyakit di lingkungan rumah sakit baik
kepada pasien, pengunjung dan petugas rumah sakit.

KEBIJAKAN KHUSUS
1. Dilaksanakan oleh petugas IPL dibantu oleh Cleaning Servis sebagai tugas
pokok, petugas menggunakan APD lengkap.
2. Petugas ruangan/ unit penghasil limbah harus membedakan limbah padat
infeksius dan limbah padat non infeksius. Dimana limbah padat infeksius di
buang ke kantong warna kuning dan non infeksius ke kantong warna hitam,
untuk jarum dan benda tajam ke safety box.
3. Menggunakan sarana dan prasarana yang sesuai standar.
4. Limbah padat infeksius dan limbah padat non infeksius yang dihasilkan ruang
perawatan dan ruang operasi diangkut setiap hari dengan menggunakan wadah
yang bersifat kuat, tidak mudah bocor atau berlumut, terhindar dari sobek atau
pecah dan mempunyai tutup.
5. Dalam penampungan sampah infeksius dilakukan perlakuan standarisasi
kantong dimana kantong berwarna kuning untuk limbah padat infeksius
dengan lambang biohazard.
6. Sampah infeksius dan cairan tubuh yang sudah terkumpul pada plastik kuning
diangkut menuju TPS Limbah B3 di rumah sakit oleh petugas setiap hari.
7. Pengangkutan internal berawal dari titik penampungan awal ketempat
pembuangan atau penampungan sementara setelah pemusnahan dilakukan
oleh pihak ketiga. Dalam pengangkutan ini menggunakan kereta dorong yang
diberi label dan dibersihkan secara berkala serta petugas dilengkapi dengan
APD.
8. Pengangkutan eksternal yaitu pengangkutan sampah medis ketempat
pembuangan luar. Pengangkutan eksternal memerlukan prosedur pelaksanaan
yang tepat dan harus dipatuhi petugas yang terlibat, dalam hal ini bekerjasama
dengan pihak ketiga.
9. Khusus untuk botol infus masih bisa di daur ulang dengan ketentuan sebagai
berikut:
 Botol infus yang didaur ulang tidak terpapar darah atau cairan tubuh
pasien.
 Telah dilakukan dekontaminasi/ desinfeksi termal/ kimiawi sebelum di
pindah/ didaur ulang dari rumah sakit.
 Botol infus harus dalam keadaan tercacah atau tidak utuh sebelum dibawa
keluar dari rumah sakit.
 Pengelola botol infus harus jelas dan bisa dipertanggung jawabkan proses
daur ulang atau kegunaannya.