Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH SWAMEDIKASI

GASTRITIS

DISUSUN OLEH :

Endah Trisanti F120155035

Fatimah Nuurunnisa’ F120155036

Khoriatun Naimah F120155037

Progam Studi:S1-Farmasi Kelas 3B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KUDUS

2018

1
DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN ............................................................................. 3
A. Epidemiologi ................................................................................ 3
B. Definisi ......................................................................................... 4
C. Etiologi ......................................................................................... 4
D. Gejala dan Tanda .......................................................................... 7
E. Patogenesis .................................................................................... 8
II. TERAPI .............................................................................................. 9
A. Strategi Terapi ............................................................................... 9
B. Tata Laksana Terapi ...................................................................... 9

III. DESKRIPSI KASUS ......................................................................... 12


IV. ANALISIS SOAP .............................................................................. 13
A. Subyektif ....................................................................................... 13
B. Obyektif ......................................................................................... 13
C. Assesment ...................................................................................... 13
D. Plan ................................................................................................ 13

V. PEMBAHASAN ................................................................................. 16
A. Evaluasi Produk ............................................................................. 16
B. Monitoring dan Follow up ............................................................. 17
C. Komunikasi, edukasi, dan informasi .............................................. 17
D. Contoh Percakapan Swamedikasi untuk kasus gastritis ................. 18
E. Contoh leaflet/brosur obat ............................................................... 19
VI. KESIMPULAN ................................................................................... 20
VII.DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 21

2
I. PENDAHULUAN

A. Epidemiologi
Badan penelitian kesehatan WHO mengadakan tinjauan terhadap
delapan negara dunia dan mendapatkan beberapa hasil persentase dari
angka kejadian gastritis di dunia, dimulai dari negara yang angka
kejadian gastritisnya paling tinggi yaitu Amerika dengan persentase
mencapai 47% kemudian diikuti oleh India dengan persentase 43%,
lalu beberapa negara lainnya seperti Inggris 22%, China 31%, Jepang
14,5%, Kanada 35%, Perancis 29,5% dan Indonesia 40,8%.
Penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh Depertemen
Kesehatan RI angka kejadian gastritis di beberapa kota di Indonesia
yang tertinggi mencapai 91,6% yaitu di kota Medan, lalu di beberapa
kota lainnya seperti Surabaya 31,2%, Denpasar 46%, Jakarta 50%,
Bandung 32,5%, Palembang 35,3%, Aceh 31,7% dan Pontianak
31,2%. Hal tersebut disebabkan oleh pola makan yang kurang sehat
(Karwati,2013).
Berdasarkan laporan SP2TP tahun 2012 dengan kelengkapan
laporan sebesar 50% atau tujuh kabupaten kota yang melaporkan
gastritis berada pada urutan kedua dengan jumlah kasus 134.989 jiwa
(20,92% kasus) (Piero, 2014). Berdasarkan data yang didapat dari
Dinas Kesehatan kota Bandar lampung, gastritis merupakan salah satu
dari sepuluh besar penyakit terbanyak pada tahun 2013 maupun tahun
2014 (Dinkes kota Bandarlampung, 2014). Lanjut usia meningkatkan
resiko gastritis disebabkan karena dinding mukosa lambung semakin
menipis akibat usia tua dan pada usia tua lebih mudah untuk terinfeksi
Helicobacter pylori atau penyakit autoimun daripada usia muda.
Diperkirakan lebih dari 85% dewasa tua mempunyai sedikitnya satu
masalah kesehatan kronis yang dapat menyebabkan nyeri (Jackson,
2006). Prevalensi gastritis pada wanita lebih tinggi dibandingkan pria,
hal ini berkaitan dengan tingkat stres. Secara teori psikologis juga
disebutkan bahwa perempuan lebih banyak menggunakan perasaan dan

3
emosi sehingga mudah atau rentan untuk mengalami stres psikologis
(Gupta, 2008).

B. Definisi
Gastritis merupakan salah satu penyakit yang paling banyak
dijumpai di klinik penyakit dalam dan kehidupan sehari-hari. Gastritis
adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung atau
gangguan kesehatan yang disebabkan oleh faktor iritasi dan infeksi.
Secara histopatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel
radang pada daerah tersebut (Hirlan, 2009).
Gastritis atau lebih dikenal sebagai magh berasal dari bahasa
yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti
inflamasi/peradangan. Gastritis adalah suatu keadaan peradangan atau
peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronis, difus dan
lokal. Ada dua jenis gastritis yang terjadi yaitu gastritis akut dan
kronik (Price dan Wilson, 2005). Inflamasi ini mengakibatkan sel
darah putih menuju ke dinding lambung sebagai respon terjadinya
kelainan pada bagian tersebut. Berdasarkan pemeriksaan endoskopi
ditemukan eritema mukosa, sedangkan hasil foto memperlihatkan
iregularitas mukosa (Wibowo,2007).

C. Etiologi
1. Gastritis akut
Banyak faktor yang menyebabkan gastritis akut, seperti
merokok, jenis obat, alkohol, bakteri, virus, jamur, stres akut,
radiasi, alergi atau intoksitasi dari bahan makanan dan minuman,
garam empedu, iskemia dan trauma langsung (Muttaqin, 2011).
Faktor obat-obatan yang menyebabkan gastritis seperti OAINS
(Indomestasin, Ibuprofen, dan Asam Salisilat), Sulfonamide,
Steroid, Kokain, agen kemoterapi (Mitomisin, 5-fluoro-2-
deoxyuridine), Salisilat dan digitalis bersifat mengiritasi mukosa
lambung (Sagal, 2006). Hal tersebut menyebabkan peradangan

4
pada lambung dengan cara mengurangi prostaglandin yang
bertugas melindungi dinding lambung. Hal tersebut terjadi jika
pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau pemakaian
yang berlebihan sehingga dapat mengakibatkan gastritis dan peptic
ulcer (Jackson, 2006).
Faktor-faktor penyebab gastritis lainnya yaitu minuman
beralkohol, seperti whisky, vodka dan gin. Alkohol dan kokain
dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan
membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung
walaupun pada kondisi normal sehingga, dapat menyebabkan
pendarahan (Wibowo, 2007). Penyebab gastritis paling sering yaitu
infeksi oleh bakteri H.Pylori, namun dapat pula diakibatkan oleh
bakteri lain seperti H.heilmanii, Streptococci, Staphylococci,
Protecus species, Clostridium species, E.coli, Tuberculosis dan
Secondary syphilis (Anderson, 2007). Gastritis juga dapat
disebabkan oleh infeksi virus seperti Sitomegalovirus. Infeksi
jamur seperti Candidiasis, Histoplasmosis dan Phycomycosis juga
termasuk penyebab dari gastritis (Feldman, 2001). Gastritis dapat
terjadi pada kondisi refluks garam empedu (komponen penting
alkali untuk aktivasi enzim-enzim gastrointestinal) dari usus kecil
ke mukosa lambung sehingga menimbulkan respons peradangan
mukosa (Mukherjee, 2009). Terjadinya iskemia, akibat penurunan
aliran darah ke lambung, trauma langsung lambung, berhubungan
dengan keseimbangan antara agresi dan mekanisme pertahanan
untuk menjaga integritas mukosa, yang dapat menimbulkan
respons peradangan pada mukosa lambung (Wehbi, 2008).
Penyebab gastritis akut menurut Price (2006) adalah stres fisik dan
makanan, minuman. Stres fisik yang disebabkan oleh luka bakar,
sepsis, trauma, pembedahan, gagal nafas, gagal ginjal, kerusakan
susunan saraf pusat dan refluks usus-lambung. Hal ini disebabkan
oleh penurunan aliran darah termasuk pada saluran pencernaan
sehingga menyebabkan gangguan pada produksi mukus dan fungsi

5
sel epitel lambung (Price dan Wilson, 2005; Wibowo, 2007).
Mekanisme terjadinya ulcer atau luka pada lambung akibat stress
adalah melalui penurunan produksi mukus pada dinding lambung.
Mukus yang diproduksi di dinding lambung merupakan lapisan
pelindung dinding lambung dari faktor yang dapat merusak dinding
lambung antara lain asam lambung, pepsin, asam empedu, enzim
pankreas, infeksi Helicobacter pylori, OAINS, alkohol dan radikal
bebas (Greenberg, 2002).
2. Gastritis kronik
Penyebab pasti dari penyakit gastritis kronik belum
diketahui, tetapi ada dua predisposisi penting yang bisa
meningkatkan kejadian gastritis kronik, yaitu infeksi dan non
infeksi (Muttaqin, 2011).
a. Gastritis infeksi
Beberapa peneliti menyebutkan bakteri Helicobacter pylori
merupakan penyebab utama dari gastritis kronik (Anderson,
2007). Infeksi Helicobacter pylori sering terjadi pada masa
kanak-kanak dan dapat bertahan seumur hidup jika tidak
dilakukan perawatan. Saat ini Infeksi Helicobacter pylori
diketahui sebagai penyebab tersering terjadinya gastritis
(Wibowo, 2007; Price dan Wilson, 2005). Infeksi lain yang
dapat menyebabkan gastritis kronis yaitu Helycobacter
heilmannii, Mycobacteriosis, Syphilis, infeksi parasit dan
infeksi virus (Wehbi, 2008).
b. Gastritis non-infeksi
1) Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika system
kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat yang berada
dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan
peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding
lambung, menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam
lambung dan mengganggu produksi faktor intrinsik yaitu
sebuah zat yang membantu tubuh mengabsorbsi vitamin B-

6
12. Kekurangan vitamin B-12 akhirnya dapat
mengakibatkan pernicious anemia, sebuah kondisi serius
yang jika tidak dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem
dalam tubuh.Autoimmue atrophic gastritis terjadi terutama
pada orang tua (Jackson, 2006)
2) Gastropati akibat kimia, dihubungkan dengan kondisi
refluk garam empedu kronis dan kontak dengan OAINS
atau Aspirin (Mukherjee, 2009).
3) Gastropati uremik, terjadi pada gagal ginjal kronis yang
menyebabkan ureum terlalu banyak beredar pada mukosa
lambung dan gastritis sekunder dari terapi obat-obatan
(Wehbi, 2008).
4) Gastritis granuloma non-infeksi kronis yang berhubungan
dengan berbagai penyakit, meliputi penyakit Crohn,
Sarkoidosis, Wegener granulomatus, penggunaan kokain,
Isolated granulomatous gastritis, penyakit granulomatous
kronik pada masa anak-anak, Eosinophilic granuloma,
Allergic granulomatosis dan vasculitis, Plasma cell
granulomas, Rheumatoid nodules, Tumor amyloidosis, dan
granulomas yang berhubungan dengan kanker lambung
(Wibowo, 2007).
5) Gastritis limfositik, sering disebut dengan collagenous
gastritis dan injuri radiasi pada lambung (Sepulveda,
2004).

D. Gejala Dan Tanda


Manifestasi klinik gastritis terbagi menjadi yaitu gastritis akut dan
gastritis kronik (Mansjoer, 2001):
1) Gastritis akut
Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung,
muntah, merupakan salah satu keluhan yang sering muncul.
Ditemukan pula perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan

7
melena, kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca
perdarahan. Biasanya, jika dilakukan anamnesis lebih dalam,
terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia
tertentu.
2) Gastritis kronik
Bagi sebagian orang gastritis kronis tidak menyebabkan gejala
apapun (Jackson, 2006). Hanya sebagian kecil mengeluh nyeri ulu
hati, anoreksia, nausea dan pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai
kelainan. Gastritis kronis yang berkembang secara bertahap
biasanya menimbulkan gejala seperti sakit yang tumpul atau
ringan (dull pain) pada perut bagian atas dan terasa penuh atau
kehilangan selera setelah makan beberapa gigitan.

E. Patogenesis
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerusakan mukosa
lambung, yaitu :
1) Kerusakan mukosa barrier sehingga difusi balik ion H meninggi.
2) Perfusi mukosa lambung yang terganggu.
3) Jumlah asam lambung.
Faktor-faktor tersebut biasanya tidak berdiri sendiri. Misalnya stres
fisik akan menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu, sehingga
timbul daerah-daerah infark kecil. Di samping itu, sekresi asam
lambung juga terpacu. Mukosal barrier pada penderita stres fisis
biasanya tidak terganggu. Hal inilah yang membedakannya dengan
gastritis erosif karena bahan kimia atau obat. Pada gastritis refluks,
gastritis karena bahan kimia, obat, mukosal barrier rusak sehingga
difusi balik ion H meninggi. Suasana asam yang terdapat pada
lumen10 lambung akan mempercepat kerusakan mukosal barrier oleh
cairan usus.
Pada umumnya patogenesis gastritis kronik belum diketahui.
Gastritits kronik sering dijumpai bersama-sama dengan penyakit lain,
misalnya anemia, penyakit Addison dan Gondok, anemia kekurangan

8
besi idiopatik. Gastritis kronik antrum-pilorus hampir selalu terdapat
bersamaan dengan ulkus lambung kronik. Beberapa peneliti
menghubungkan gastritis kronik fundus dengan proses imunologi. Hal
ini didasarkan pada kenyataan kira-kira 60% serum penderita gastritis
kronik fundus mempunyai antibodi terhadap sel parietalnya. Gastritis
kronik antrum-pilorus biasanya dihubungkan dengan refluks usus-
lambung

II. TERAPI
A. Strategi Terapi
Untuk tukak lambung meliputi terapi non-farmakologis dan
farmakologis. Terapi non-farmakologis dapat dilakukan dengan
menghentikan penggunaan NSAIDs dan obat-obat lain yang
memiliki efek samping tukak lambung, menghindari stress yang
berlebihan, menghindari makanan dan minuman yang dapat
memperburuk gejala tukak lambung dan menjaga sanitas baik diri
sendiri maupun lingkungan.
B. Tatalaksana Terapi
1. Terapi Non Farmakologi
 Konsumsi banyak cairan
Terapi non farmakologi penyakit gastritis yang pertama
adalah dengan konsumsi cairan sebanyak mungkin, hal
ini berguna untuk mengurangi gejala penyakit gastritis,
seperti nyeri ataupun perih. Cairan yang paling baik
untuk penderita penyakit gastritis adalah air putih. karena
air putih lebih bersifat netral. Usahakan untuk
mengonsumsi air putih sehari minimal 8-10 gelas.
 Konsumsi buah kaya akan serat
Selain konsumsi air putih sebanyak mungkin, Anda juga
harus mengonsumsi buah yang banyak mengandung
serat. Karena walau bagaimana pun buah yang
mengandung serat akan memperlancar proses

9
metabolisme dan juga pencernaan di dalam tubuh,
terutama pada bagian lambung. Buah yang mengandung
banyak serat antara lain seperti pepaya, mangga, jambu
biji dan lain sebagainya.
 Perbanyak olahraga dan hindari kebiasaan buruk
 Olahraga tidak hanya untuk terapi non farmakologi
penyakit gastritis saja akan tetapi juga sangat berguna untuk
pengobatan berbagai macam penyakit lainnya.
 Lakukan olahraga ringan saja seperti jogging, jalan sehat,
yoga, senam dan lain sebagainya.
 Selain berolahraga, pasien juga harus menghindari
kebiasaan-kebiasaan buruk seperti merokok, mabuk
(minum alkohol), minum kopi, begadang dan lain
sebagainya.
2. Terapi Farmakologi
Obat yang dipergunakan untuk gastritis adalah obat yang
mengandung bahan-bahan yang efektif menetralkan asam
dilambung dan tidak diserap ke dalam tubuh sehingga cukup
aman digunakan (sesuai aturan pakai tentunya). Semakin
banyak kadar antasida di dalam obat maag maka semakin
banyak asam yang dapat dinetralkan sehingga lebih efektif
mengatasi gejala sakit gastritis dengan baik.
Pengobatan gastritis tergantung pada penyebabnya.
Gastritis akut akibat konsumsi alkohol dan kopi berlebihan,
obat-obat NSAID dan kebiasaan merokok dapat sembuh
dengan menghentikan konsumsi bahan tersebut. Gastritis
kronis akibat infeksi bakteri H. pylori dapat diobati dengan
terapi eradikasi H. pylori. Terapi eradikasi ini terdiri dari
pemberian 2 macam antibiotik dan 1 macam penghambat
produksi asam lambung, yaitu PPI (proton pump inhibitor).
Untuk mengurangi gejala iritasi dinding lambung oleh asam
lambung, penderita gastritis lazim diberi obat yang

10
menetralkan atau mengurangi asam lambung, misalnya (Mayo
Clinic, 2007) :

1) Antasid : Obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau


tablet dan merupakan obat yang umum dipakai untuk
mengatasi gastritis ringan. Antasida menetralkan asam
lambung sehingga cepat mengobati gejala antara lain
promag, mylanta, dll.
2) Penghambat asam (acid blocker) : Jika antasid tidak
cukup untuk mengobati gejala, dokter biasanya
meresepkan obat penghambat asam antara lain simetidin,
ranitidin, atau famotidin.
3) Proton pump inhibitor (penghambat pompa proton) :
Obat ini bekerja mengurangi asam lambung dengan cara
menghambat pompa kecil dalam sel penghasil asam. Jenis
obat yang tergolong dalam kelompok ini adalah
omeprazole, lanzoprazole, esomeparazol, rabeprazole, dll.
Untuk mengatasi infeksi bakteri H. pylori, biasanya
digunakan obat dari golongan penghambat pompa proton,
dikombinasikan dengan antibiotika.

11
ALGORITMA

III. DESKRIPSI KASUS


Pak Ali (30 tahun) datang ke apotek anda dan mengeluh pusing 2 hari
ini, perutnya mulas, lidahnya pahit dan dadanya panas. Pak Ali adalah
sales marketing. Pak Ali jarang sarapan dan suka minum kopi. Pak Ali
sudah minum obat Panadol ekstra yang warna merah tapi pusingnya
belum membaik.

12
IV. ANALISIS SOAP
A. Subyektif
Pasien atas nama tn Ali usia 30th datang ke apotek dan mengeluh
pusing 2 hari. Dan sudah minum obat Panadol Extra tapi
pusingnya belum membaik.
B. Obyektif
Pasien merasakan perutnya mulas, lidahnya pahit dan dadanya
terasa panas.
C. Assesment
Dari keterangan yang diberikan diketahui pasien tanda bahwa
pasien mendrita gastritis karena pasien jarang sarapan dan suka
minum kopi. Seperti yang sudah dijelaskan di etiologi bahwa
gastritis meimiliki tanda salah satunya adalah nyeri yang
menggerogoti dan panas didalam lambung. Kebanyakan orang
dengan gastritis adalah asimptomatik. Pada individu simtomatik,
gejala yang muncul umumnya adalah sebagai berikut:
a. Nyeri, atau rasa tidak enak, atau rasa seperti terbakar pada
epigastrium
b. Mual
c. Muntah
d. Hilang nafsu makan
e. Sering bersendawa
f. Rasa kembung

Pada pasien Pak ali tidak disertai muntah darah, nyeri yang sangat
berat di ulu hati, melena, maupun gejala syok dan anemia. Pada
kasus Pak Ali gastritis yang dialami adalah gastritis ringan.

D. Plan
Tata laksana terapi meliputi :
1. Terapi non farmakologi
a. Kurangi stress dan rokok serta menghentikan atau
mengurangi penggunaan NSAID ( Panadol extra). Jika
NSAID tidak dapat dihindari , pakai dosis efektif

13
minimum atau ganti dengan NSAID yang selektif
menghambat COX-2 sperti celecoxib dan refecoxib
b. Menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan
dyspepsia dan memperberat symptom ulcer .
2. Terapi farmakologi
Umumnya, penatalaksanaan gastritis tidak memerlukan rawat
inap. Pada pasien yang keadaan umum dan kesadaran masih
baik, pasien dapat dipulangkan dan diberikan obat sesuai
simtom yang dirasakan.
Obat yang diberikan adalah ;

1. Mylanta tab
Komposisi :
Mylanta tablet mengandung zat aktif (nama generik)
sebagai berikut :
Mg(OH)2 200 mg, Al(OH)3 200 mg, Simetikon 20 mg.
Dosis : 2-4 tablet per oral 4 kali per hari, , tidak boleh
melebihi 12 tablet/hari.
Indikasi : Untuk mengurangi gejala-gejala yang
berhubungan dengan kelebihan asam lambung, gastritis,
tukak lambung, tukak usus dua belas jari dengan gejala-
gejala seperti mual, nyeri lambung, nyeri ulu hati.
Kontra indikasi : Jangan diberikan pada penderita
gangguan fungsi ginjal yang berat, karena dapat
menimbulkan hipermagnesia (kadar magnesium dalam
darah meningkat).
Cara kerja : Al(OH)3 dan Mg(OH)2 mengikat asam
lambung dan meningkatkan ketahanan mukosa terhadap
asam. Dimetilpolisiloksan atau simetikon bersifat flatulen
dan mendorong terjadinya flatus.
Efek samping : Mg menyebabkan diare bagi orang yang
peka dan sebaliknya Al menyebabkan konstipasi. Orang

14
dengan gagal ginjal harus menghindari antacid yang
mengandung Mg. Pemakaian bersama dengan
ciprofloxacin, tetrasiklin,obat yang mengandung zat besi
dan antagonis H2 harus diberi jarak 2-3 jam karena
menggangu absorpsi. Selain itu sifat basa dari antacid
dapat mengurangi absorpsi obat seperti digoksin, fenitoin,
INH dan ketokonazol.
Alasan memilih Mylanta karena umumnya obat
golongan antasida diberikan sebagai profilaksis. Obat ini
tidak mahal dan aman. Antasida juga meredakan simptom
gastritis dengan menetralisir asam lambung. Selain itu,
ion-ion aluminium akan menghambat kontraksi otot halus
gaster dan menghambat pengosongan lambung sehingga
campuran obat ini digunakan untuk menghindari
perubahan-perubahan fungsi usus.

2. Pumpitor 20mg
Komposisi : Omeprazole 20 mg
Dosis : setengah jam sebelum makan 2x sehari 20 mg per
oral
Indikasi :
a. Membantu mengurangi produksi asam lambung
b. Mencegah dan membantu mengobati gangguan
pencernaan atau nyeri ulu hati, tukak lambung
c. sindrom Zollinger-Ellison (tumor pada
pankreas)
d. penyakit asam lambung atau yang disebut
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

Kontra indikasi :

a. Penyakit hati
b. Rendahnya kadar magnesium dalam darah Anda

15
c. Osteoporosis atau kepadatan mineral tulang rendah
(osteopenia)

Cara kerja : mengikat K⁺/H⁺-ATPase secara irreversible


sehingga mneghambat pompa proton (H⁺) dan
selanjutnya menghambat sekresi HCl.

Efek samping : diantaranya diare, nyeri lambung, mual,


sakit kepala dan dizines. Semua PPI berikatan dengan
enzim sitokrom P₄₅₀ sehingga potensial berinteraksi
dengan obat lain yang dimetabolisme oleh enzim
tersebut. Omeprazol mempunyai afinitas dan
dimetabolisme oleh sub tipe sitokrom CYP₂C₁₉ dan dapat
menurunkan metabolism dari diazepam, fenitoin, heparin
dan tolbutamid. PPi diformulasikan enteric-coated
karena tidak stabil terhadap asam.

Alasan memilih Pumpitor 20mg karena obat ini adalah


jenis yang paling efektif dalam menghambat sekresi
lambung. Dan kerja obat ini adalah dengan menghambat
sekresi asam lambung, dan berdurasi panjang.

V. PEMBAHASAN
A. Evaluasi produk
Produk Bentuk Komposisi Harga (Rp)
sediaan
Mylanta Tablet Mg(OH)2 200 mg, Al(OH)3 200 650/tablet
mg, Simetikon 20 mg.
Pumpitor Kapsul Omeprazole 20 mg 17.500/kaps
20 mg

16
B. Monitoring dan follow up
1. Memantau asupan makan pasien dengan melihat pola
makan.
2. Mengurangi kebiasaan minum kopi pada saat belum
makan.
3. Mengurangi penggunaan obat N-SAID.
4. Memantau kedisiplinan pasien dalam penggunaan obat
secara tepat.
C. Komunikasi, edukasi,dan informasi
1. Dosis penggunaan obat
Mylanta 2 x sehari 1 tablet sesudah makan dikunyah.
Pumpitor 20mg 2 x sehari 1 kapsul setengah jam
sebelum makan.
2. Konsumsi banyak cairan adalah dengan konsumsi cairan
sebanyak mungkin, hal ini berguna untuk mengurangi gejala
penyakit gastritis, seperti nyeri ataupun perih.
3. Konsumsi buah kaya akan serat
Selain konsumsi air putih sebanyak mungkin, Anda juga harus
mengonsumsi buah yang banyak mengandung serat. Karena
walau bagaimana pun buah yang mengandung serat akan
memperlancar proses metabolisme dan juga pencernaan di
dalam tubuh, terutama pada bagian lambung.
4. Perbanyak olahraga hindari kebiasaan buruk
Olahraga tidak hanya untuk terapi non farmakologi penyakit
gastritis saja akan tetapi juga sangat berguna untuk
pengobatan berbagai macam penyakit lainnya. Lakukan
olahraga ringan saja seperti jogging, jalan sehat, yoga, senam
dan lain sebagainya.
5. Hindari kebiasan buruk.
Pasien juga harus menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk
seperti merokok, mabuk (minum alkohol), minum kopi,
begadang dan lain sebagainya. Kurangi stress dan rokok serta

17
menghentikan atau mengurangi penggunaan NSAID ( Panadol
extra). Jika NSAID tidak dapat dihindari , pakai dosis efektif
minimum atau ganti dengan NSAID yang selektif
menghambat COX-2 sperti celecoxib dan refecoxib.
Menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan
dyspepsia dan memperberat symptom ulcer .

D. Percakapan swamedikasi
Sore hari di Apotek Aji pasien bernama pak Ali datang untuk
berkonsultasi penyakit yang di deritanya.
Apoteker : “Selamat sore, perkenalkan saya apoteker disini, ada
yang bisa saya bantu?”
Pak Ali : “Oh iya, saya merasakan pusing selama dua hari, perut
saya nyeri, lidah saya pahit dan dada saya panas.”
Apoteker : “Ada keluhan lain pak? Sebelumnya sudah pernah
minum obat apa?”
Pak Ali : “Saya sudah minum obat panadol extra warna merah
tapi masih merasakan pusing”
Apoteker : ”Apakah bapak selama ini selalu sarapan teratur setiap
hari?”
Pak Ali : “Tidak bu, saya jarang sarapan tetapi saya sering
minum kopi.”
Apoteker : “Nah itu dia penyebabnya pak.”
Pak Ali : “Lalu apa yang harus saya lakukan bu?”
Apoteker : “Seharusnya bapak sarapan teratur dan jangan minum
kopi sebelum sarapan. Lalu jangan terlalu sering
minum kopi.”
Pak Ali : “Lalu obat apa yang harus saya minum bu? Tolong
kasih obat yang bagus.”
Apoteker : “Melihat dari keluhan bapak, sebaiknya bapak
meminum obat lambung. (sambil menunjukkan obat)
ini obatnya pumpitor 20 mg diminum 2 kali sehari 1

18
kapsul setengah jam sebelum makan dan mylanta
diminum 2 kali sehari 1 tablet sesudah makan di
kunyah. Apakah sudah jelas pak?”
Pak Ali : “Sudah bu. Yang ini (sambil menunjuk pumpitor)
diminum 2 kali sehari 1 kapsul setengah jam
sebelum makan dan yang ini (sambil menunjuk
mylanta) diminum 2 kali sehari 1 tablet sesudah
makan di kunyah.”
Apoteker : “Ya berarti sudah jelas ya pak, jangan lupa obatnya
diminum secara teratur sesuai dengan petunjuknya.
Semoga cepat sembuh ya pak. Administrasi dapat di
selesaikan di kasir. Terima kasih atas
kunjungannya.”
Pak Ali : “Ya bu, terima kasih.”

E. Leaflet tentang gastritis


Mylanta tablet

19
Pumpitor 20 mg

VI. KESIMPULAN
Gastritis atau lebih dikenal sebagai maagh berasal dari
bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti perut atau lambung
dan it is yang berarti inflamasi/peradangan. Gastritis bukan
merupakan penyakit tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa
kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada
lambung.

20
Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung ini
kewalahan dan mengakibatkan rusak dan meradangnya dinding
lambung. Gastritis yang terjadi tiba-tiba (akut) biasanya
mempunyai gejala mual dan sakit pada perut bagian atas,
sedangkan gastritis kronis yang berkembang secara bertahap
biasanya mempunyai gejala seperti sakit yang ringan pada
perut bagian atas dan terasa penuh atau kehilangan selera.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Anderson, C., Braun, C. 2007. Pathophysiology: Functional
Alterations in Human Health Philadelphia; Lippincott
Williams Ana Wilkins.
Feldman RA. 2001. Epidemiologic observations and open questions
about disease and infection caused by Helicobacter pylori In:
Achtman M, Suerbaum S, eds. Helicobacter pylori: molecular
and cellular biology. Wymondham, United Kingdom: Horizon
Scientific Press,:29-51.
Greenberg, JS. 2002. Comprehensive Stress Management. 7 th ed. Mc
Grew-Hill Inc.New York.
Gupta, MK.2008. Kiat mengendalikan pikiran dan bebas stres.
Jakarta : PT Intisari Mediatama
Hirlan. 2009. Gastritis dalam Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V .
Jakarta: Interna Publishing
Jackson, S. 2006. Gastritis. Diambil dari
http://www.gicare.com/pated/ecd9546.htm. Diakses tanggal 21
September 2014.
Karwati, D., Lina, N., Korneliani, K. 2013. Hubungan Frekuensi
Konsumsi Makanan Berisiko Gastritis Dan Stress Dengan
Kejadian Gastritis Pada Wanita Usia 20-44 Tahun Yang
Berobat Di Puskesmas Cilembang Tahun 2012. [online]
http://journal.unsil.ac.id/download.php?id=1550 Diakses pada
21 September 2014.

21
Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Ed. II Jilid II. Jakarta:
Media Aesculapius FKUI. Hlm 492.
Mukherjee, S. 2012. Gastritis Chronic. Diambil dari
http://emedicine.medscape.com/article/176156-overview
diakses tanggal 21 September 2014.
Muttaqin, A., Sari, K. 2011. Gangguan Gastrointestinal. Jakarta:
Salemba Medika.
Piero, D. 2014. Sepuluh Besar Penyakit Provinsi Lampung Tahun 2012.
[online] http://dikapiero4.blogspot.com/2014/05/sepuluh-besar-
penyakit-provinsi-lampung.html diakses pada 21 September 2014.
Price and Wilson. 2005. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Vol.2.
Jakarta: EGC.
Sagall, RJ. 2006. Ibuorofen and stomach ulcers. Pediatrics for parental
journals; vol 22,5; p 1-22. Academic Research library.
Sepulveda AR., 2008. Gastritis Chronic. Diambil dari:
http://www.emedicine.com/med/topic3394.htm diakses tanggal
21 September 2014.
Wehbi, M. 2008. Acute Gastritis. Medscape. Diakses tanggal 21
September 2014.
Wibowo, Y.A. (2007). Gastritis. Diambil dari
http://fkuii.org/tikidownloadwiki_attachment.php?attld=1078&
page=Yoga%20Agua%20Wibowo. Diakses tanggal 21
September 2014.

22