Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan data Statistik di Amerika mencatat tiap tahun terdapat 20-35 juta
kasus diare dan 16,5 juta diantaranya adalah balita (Pickering et al, 2004).
Sedangkan menurut Parashar (2007), di dunia terdapat 6 juta balita yang
meninggal tiap tahunnya karena penyakit diare. Menurut data WHO tahun 2009,
hampir satu triliun dan 2,5 milyar kematian karena diare dalam dua tahun pertama
kehidupan. Diare juga menyebabkan 17% kematian anak balita di dunia. Tercatat 1,8
milyar orang meninggal setiap tahun karena penyakit diare (termasuk kolera), banyak
yang mendapat komplikasi seperti malnutrisi, retardasi pertumbuhan, dan kelainan
imun. Berdasarkan Center of Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2013,
diare menyebabkan 801.000 kematian anak setiap tahunnya atau membunuh 2.195
anak per harinya.
Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2011, terjadi peningkatan
insiden diare pada tahun 2000 s.d 2010. Pada tahun 2010 Insidence Rate (IR) penyakit
diare 411/1000 penduduk dengan korban yang meninggal sebanyak 209 jiwa, dan
terjadi KLB di 15 propinsi, sedangkan pada tahun 2011 KLB diare terjadi di 11
propinsi dengan jumlah penderita sebanyak 4.204 orang, jumlah kematian sebanyak
73 orang dengan CFR sebesar 1,74%. Pada tahun 2012 dengan jumlah penderita
sebanyak 5.870 orang. Menurut Riskesdas (2007), diare merupakan penyebab
kematian nomor satu pada bayi (36,4%), pada balita (25,2%), sedangkan pada semua
golongan umur merupakan penyebab kematian keempat (13,2%).
Penyakit diare sampai dengan saat ini masih menjadi penyebab kedua
morbiditas dan mortalitas pada anak seluruh dunia terutama negara berkembang.
Penyebab kematian anak terbanyak saat ini masih diakibatkan oleh diare dan
pneumonia (Anik, 2010). Penyakit diare pada anak terjadi karena kurangnya
pengetahuan dan kesadaran hidup bersih dan sehat terutama kebiasaan cuci tangan
dan makan jajanan sembarangan yang dapat menimbulkan dampak negatif, yaitu
dapat menghambat proses tumbuh kembang anak yang akhirnya dapat menurunkan
kualitas hidup anak (Permata, 2010).
Menurut Wong (2009) beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya diare
adalah mengkonsumsi makanan yang tidak terjamin kebersihan, kurangnya air bersih,
kebersihan yang buruk dan lingkungan yang jelek. Berdasarkan hasil penelitian
BPOM Makasar, lebih dari 90% makanan jajanan sekolah yang menggunakan
pemanis buatan (sakarin/siklamat) dan pewarna tekstil (Madjid, 2004).
Anak usia sekolah mempunyai kebiasaan makan yang tergantung pada
kehidupan sosial di sekolah, kadang-kadang anak malas makan di rumah karena
kondisi yang tidak disukai. Kadang-kadang usia sekolah juga malas untuk makan
akibat stres atau sakit sehingga perlu pemantauan, dan anak sekolah cenderung suka
makan secara bersamaan dengan teman sekolahnya (Hidayat, 2005). Hal ini diperkuat
oleh penelitian Widodo (2006), bahwa makanan jajanan yang dimakan anak sekolah
mempunyai pengaruh yang signifikan untuk pemenuhan energi, penurunan perilaku
positif anak, seperti gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi,
gangguan bicara, hiperaktif hingga memperberat gejala pada penderita autism.
Partisipasi orang tua sangatlah penting dalam menjaga perilaku dan kebiasaan
anak terkait dengan faktor resiko dalam pencegahan diare. Teori pembelajaran sosial
menunjukkan bahwa perilaku orang tua menjadi contoh bagi anak mereka sehingga
mereka mengaplikasikannya kedalam pola yang sama dengan perilaku kesehatan yang
diturunkan kepada mereka (Gunarsa, 2009). Perilaku positif yang menunjang untuk
pencegahan diare.
Tindakan penanganan diare di rumah oleh ibu dipengaruhi oleh tingkat
pengetahuan ibu, semakin baik pengetahuan ibu semakin baik pula tindakannya
terhadap penanganan diare, sedangkan pengetahuan ibu dipengaruhi oleh usia,
pekerjaan, pendidikan ibu. Pengetahuan ini khususnya meliputi pengetahuan gizi,
kecerdasan, persepsi, emosi, dan motivasi dari luar. Pendidikan dan pengetahuan
merupakan faktor tidak langsung yang mempengaruhi perilaku seseorang (Wawan &
Dewi, 2010).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah ‘’Apakah Terdapat Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua Tentang
Makanan Jajanan Dengan Kejadian Diare Pada Anak Usia Pra Sekolah Di SD Negeri
139 Palembang”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan ’Apakah Terdapat Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang
Tua Tentang Makanan Jajanan Dengan Kejadian Diare Pada Anak Usia Pra
Sekolah Di SD Negeri 139 Palembang”
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat pengetahuan orang tua tentang makanan jajanan di SD
Negeri 139 Palembang
b. Mengetahui kejadian diare pada anak SD Negeri 139 Palembang

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Orang Tua
Memberikan motivasi untuk lebih menjaga makanan jajanan yang dikonsumsi
anaknya dan monitoring perilaku anak dalam membeli makanan jajanan.
2. Bagi Intitusi Pendidikan
Memberikan referensi dan bahan masukan dalam meningkatkan pengetahuan
hubungan pengetahuan orang tua tentang makanan jajanan dengan kejadian diare
pada anak SD Negeri 139 Palembang
3. Bagi Penulis
Mendapatkan pengalaman langsung dalam penelitian dan dapat mengaplikasikan
ilmu yang telah dipelajari terkait dengan penelitian serta dapat menjadi suatu
sarana pembelajaran di lapangan.

E. Keaslian Penelitian
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas, (2012) dengan Judul ‘’Hubungan
Frekuensi Jajan Anak dengan Kejadian Diare Akut pada Anak Sekolah Dasar di
SD N Sukatani 4 dan SD N Sukatani 7, Kelurahan Sukatani, Depok’’. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui hubungan frekuensi jajan anak SD dengan
kejadian diare akut. Pengumpulan data dilakukan dengan cara data primer yang
berupa hasil pengujian sampel jajanan di laboratorium dengan metode membran
saring dan wawancara mengenai diare dan kebiasaan mencuci tangan pada anak
SD dengan bantuan kuisioner. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa frekuensi
jajan anak SD berhubungan dengan kejadian diare akut (nilai p = 0,009). Faktor
resiko lain seperti umur (p = 0,512), jenis kelamin (p = 0,909), dan kebiasaan
mencuci tangan (p = 0,805) tidak menunjukkan hubungan bermakna secara
statistik dengan kejadian diare akut dengan nilai p >0,05. Untuk SD N Sukatani 4
dan SD N Sukatani 7, hendaknya menyediakan tempat mencuci tangan khusus dan
sabun agar anak sekolah untuk menanamkan kebiasaan mencuci tangan.
Perbedaan dengan penelitian ini adalah tempat penelitian, waktu penelitian,
sampel penelitian, variabel-variabel penelitian, judul penelitian, jenis penelitian
deskriptif korelatif dengan pendekatan retrospektif dan menggunakan teknik
simple random sampling. Persamaan dengan penelitian ini adalah meneliti jajanan
dan kejadian diare pada anak Sekolah Dasar.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Aditya dengan Judul “ Hubungan Perilaku Jajan
Dengan Kejadian Diare Pada Anak Sekolah Dasar” . Tujuan peneliian ini
dilakukan untuk mengetahui hubungan perilaku jajan dengan kejadian diare pada
anak pra sekolah dasar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian
observasional analitik. Penelitian observasional ini dilakukan terhadap
sekumpulan objek biasanya cukup banyak dan dalam jangka waktu tertentu
memiliki sebuah tujuan utama. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross
sectional. Dari hasil penelitian kelompok responden yang higienis, sebanyak 20
siswa (34,5%) menderita diare dan sebanyak 38 siswa (63,5%) tidak menderita
diare. Sedang pada kelompok responden tidak higienis, sebanyak 98 siswa
(78,4%) menderita diare dan hanya 27 siswa (21,6%) yang tidak menderita diare.
Adapun uji korelasi pada analisa ini digunakan Chi Square karena variabel
kebiasaan jajan mempunyai bentuk data berskala nominal. Hasil yang didapatkan
nilai p = 0,000, hasil ini ternyata lebih kecil dari nilai  = 0,05. Hal ini dapat
diartikan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan jajan dengan
kejadian diare. Angka kejadian diare sebagian besar dikategorikan menderita diare
sebesar 65,5%. Angka higienitas sebagian besar dikategorikan tidak higienis
sebesar 68,7% Ada hubungan yang bermakna perilaku jajan dengan kejadian
diare.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhandayani (2008), yang berjudul “Hubungan
Antara Higiene Anak Sekolah Dasar Dan Kebiasaan Jajan Di Luar Kantin Dengan
Kejadian Diare (Studi Di Sdn Parangtritis, Bantul, Yogyakarta”. Tujuan Penelitian
ini adalah menganalisis tentang hubungan antara higiene anak Sekolah Dasar dan
kebiasaan jajan di luar kantin dengan kejadian diare pada siswa SDN Parangtritis
Bantul Yogyakarta. Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan
penelitian cross sectional. Pengambilan data dilakukan bulan Juni 2008. Jumlah
responden yang diambil sebanyak 84 responden secara Sistematik Random
Sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji ChiSquare dengan tingkat
kepercayaan 95% dan uji Fisher Exact. Berdasarkan hasil penelitian dari 84
responden terdapat 31 siswa (36,9%) dengan higiene perorangan kurang, dan 53
siswa (63,1%) dengan hiegene perorangan baik. Sebagian besar responden
(88,1%) sering membeli makanan jajanan dari pedagang di luar sekolah. Uji
statistik yang dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square didapatkan nilai
p=0,425 dan p=0,741 yang berarti tidak ada hubungan antara higiene anak
Sekolah Dasar dan kebiasaan jajan di luar sekolah dengan kejadian diare.