Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

ANALISIS PRODUK PEMBIAYAAN BANK SYARIAH

Disusun guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Analisis Produk Bank Syariah

Dosen Pengampu : Wahyudi Sutrisno, S.H., M.H.

Disusun oleh :

Dian Ika Saputri 2012113040

JURUSAN SYARIAH ( D3 PERBANKAN SYARIAH B )

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PEKALONGAN

2015
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak penetapan regulasi Bank Indonesia yang menyatakan bahwa
perekonomian Indonesia menganut prinsip dual banking system. Bank syariah
memilikoi peran yang sama vitalnya dengan bank-bank konvensional di
Indonesia. Bank syariah menawarkan produk-produk perbankan yang jauh
dari prinsisp bunga atau riba, hal ini menjadi potensi pasar yang sangat
menggiurkan bagi dunia perbankan Indonesia mengingat mayoritas warga
Indonesia menganut ajaran agama Islam.
Penerapan prinsip-prinsip agama Islam dalam setiap produk-produk yang
ditawarkan menuntut bank syariah untuk lebih selektif dalam penetapkan
produk yang siap diluncurkan ke masyarakat. Begitu pula produk pembiayaan
yang menjadi salah satu sumber penghasilan bank syariah selain perolehan
ujroh atas jasa-jasa keuangan.
Akad merupakan suatu proses penghalalan akan kepemilikan suatu harta.
Melalui akad, hubungan muamalah antar manusia dapat terjaga hak serta
kewajibannya. Oleh karena itu analisis produk pembiayaan berdasarkan akad
dan pembagiaannya sangat dibutuhkan untuk menambah khasanah
pengetahuan mengenai ekonomi Islam.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud pembiayaan?
2. Bagaimana pengelompokan pembiayaan di Bank Syariah?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembiayaan
Sebagai lembaga intermediary yang berfungsi menghimpun dan
menyalurkan dana masyarakat, bank syariah menyalurkan pembiayaan dalam
wujud pembiayaan. Pembiayaan yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana
untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit.1

B. Jenis-jenis Pembiayaan
1. Menurut sifat penggunaanya
Berdasarkan sifat dan tujuan penggunaannya pembiayaan dalam
perbankan Islam dibagi menjadi 2 macam: pembiayaan konsumtif dan
pembiayaan produktif.
a. Pembiayaan Produktif
Yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
produktif dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha
produksi, perdagangan maupun investasi.
Menurut keperluannnya pembiayaan produktif dapat dibedakan
menjadi 2 sebagai berikut.
1) Pembiayaan Modal Kerja
Yaitu pembiyaan untuk memenuhi kebutuhan antara lain:
a) Peningkatan produksi, baik secara kuantitatif (jumlah
produksi) maupun kualitatif (kualitas mutu hasil produksi)
b) Untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place
dari suatu barang.
Bank syariah memberikan pembiayaan modal kerja buakn dengan
meminjamkan uang seperti yang dipraktikkan bank konvensional,

1
Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani,2001),
hlm.160.
melainkan dengan menjalin hubungan partnership dengan
nasabah, diamana bank bertindak sebagaia pemilik dana (shahibul
maal) dan nasabah sebagai pengelola dana (mudharib). Skema
pembiayaan ini disebut dengan mudharabah (trust financing).
Atau dapat juga dengan menggunakan prinsip Jual Beli
(Murabahah) dimana bank syariah menjual barang-barang modal
kerja yang dibutuhkan oleh nasabah.
2) Pembiayaan Investasi
Yaitu jenis pembiayaan produktif yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan barang-barang modal (capital goods) serta
fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan itu seperti
rehabilitasi, perluasan usaha, ataupun pendirian proyek baru.
b. Pembiayaan Konsumtif
Yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan.
2. Menurut Prinsip Akad yang Digunakan
a. Pembiayaan dengan Prinsip Bagi Hasil
1) Pembiayaan Musyarakah
Al-Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau
lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak
memberikan kontribusi dana (amal/expetise) dengan
kesepakatan bahwa keuntungan dari risiko akan ditanggung
bersama sesuai dengan kesepakatan. Akad Musyarakah dibagi
menjadi 5 yaitu :
a) Syirkah I’nan
Adalah kontrak antara dua orang atau lebih, setiap pihak
memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan
berpartisipasi dalam kerja, kedua pihak berbagi keuntungan
dan kerugian sebagaimana disepakati diantara mereka.
b) Syirkah Mufawadhah
Adalah konrak kerjasama antara dua orang orang atau lebih.
Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana
dan bepartisipasi dalam kerja setiap pihak membagi
keuntngan dan kerugian secara sama.
c) Syirkah A’maal
Adalah kontrak kerja sama dua orang profesional untuk
menerima pekerjaan secara bersama dan berbagi
keuntungan dari pekerjaan itu. Musyarakah ini kadang-
kadang disebut musyarakah abdan atau sanaa’i
d) Syirkah Wujuh
Adalah kontrak antara dua orang atau lebih yang memiliki
reputasi dan prestise baik serta ahli dalam bisnis mereka
membeli barang secara kredit dri suatu perussahaan dan
menjualnya secara tunai.
e) Syirkah Al Mudharabah
Manfaat pembiayaan musyarakah
a) Bank akan menikmati peningkatan dalam jumlah tertentu
pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat.
b) Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash
flow atau kas usaha nasabah, sehingga tidak memberatkan
nasabah.
c) Bank akan lebih selektif dan hati-hati (predent) mencari
usaha yang benar-benar halal, aman dan menguntungkan.
Hal ini karena keuntungan yang riil dan benar-benar terjadi
itulah yang akan dibagikan.
d) Prinsip bagi hasil dalam musyarakah ini berbeda dengan
prinsip bunga tetap dimana bank akan menagih penerima
pembayaan (nasabah) dalam jumlah bunga tetap berapapun
keuntungan yang dihasilkan nasabah, bahkan sekalipun
merugi dan terjadi krisis ekonomi.
Aplikasi Pembiayaan Musyarakah pada Bank Syariah
 Pembiayaan Proyek
Musyarakah baisanya diaplikasikan untuk pembiyaan
proyek di mana nasabah dan bank sama-sama menyediakan
dana untuk membiayai proyek tersebut. Setelah proyek itu
selesai, nasabah mengembalikan dana tersebut bersama
dengan bagi hasil yang telah disepakati untuk bank.
 Modal Ventura
Pada lembaga keuangan khusus yang diperbolehkan
melakukan investasi dalam kepemilikan perusahaan,
musyarakan diterapkan dalam skema modal ventura.
Penanaman modal dilakukan untuk jangka waktu tertentu
dan setelah itu bank melakukan divestasi atau menjual
bagian sahamnya, baik secara singkat maupun bertahap.
2) Pembiayaan Al Mudharabah
Mudharabah berasal dari kata dharb yang artinya “
memukul atau berjalan” lebih tepatnya adalah proses seorang
memukul kakinya dalam menjalankan usahanya.
Secara teknis mudharabah adalah akad kerjasama usaha
antara dua pihak dimana pihak pertama sebagai shahibul maal
atau penyedia modal dan pihak lain sebagai pengelola.2
Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut
kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak,sedangkan apabila
rugi maka kerugian itu akan ditanggung oleh pemilik modal
selama kerugian tersebut tidak diakibatkan kelalaian
sipengelola. Seandainya kerugian diakibatkan karena
kecurangan atau kelalaian sipengelola maka sipengelola harus
bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

2
Op.cit., hlm 99
Jenis-jenis Mudharabah.

a) Mudharabah Muthlaqah
Mudharabah Muthlaqah adalah bentuk kerja sama antara
shahibul maal dengan mudharib yang cakupannya sangat
luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu,
dan daerah bisnis.
b) Mudharabah Muqayyadah
Mudharabah muqayyadah adalah bentuk kerja sama antara
shahibul maal dengan mudharib yang cakupannya sangat
sempit dan dibatasi jenis, waktu, dan daerah bisnisnya.

Manfaat Mudharabah

 Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat


keuntungan usaha nasabah meningkat
 Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil pada nasabah
pendanaan secara tetap
 Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash
flaw atau arus kas usaha nasabah sehingga tidak
memberatkan nasabah
 Bank akan lebih selektif dan hati-hati dalam mencari usaha
yang benar-benar halal, aman dll

Aplikasi Pembiayaan Mudharabah di Bank Syariah

 Pembiayaan Modal kerja


Diterapkan pada pembiayaan produktif penyediaan modal
kerja guna peningkatan usaha baik sesara kuantitas maupun
kualitas.
 Investasi Khusus
Akad yang digunakan adalah mudharabah muqayadah
dimana bank sebagai shahibul maal menetapkan syarat-
syarat khusus yang harus dipatuhi oleh nasabah selaku
mudharib.
3) Pembiayaan Al Muzaraah (Harvest Yield Profit Sharing)
Al Muzaraah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara
pemilik lahan dan penggarap diaman pemilik lahan
memberikan lahan pertanian kepada si penggarap untuk
ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu
(persentase) dari hasil panen.
Al Muzaraah seringkali diidentikkan dengan Al Mukhabarah.
4) Pembiayaan Al Musaqah (Plantation Management Fee
Based On Certain Portion of Yield)
Al Musaqah adalah bentuk yang lebih sederhana dari muzaroah
dimana si penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman
dan pemeliharaan , sebagai imbalan penggarap berhak atas
nisbah bagi hasil tertentu dari hasil panen.

b. Pembiayaan dengan Prinsip Sewa Menyewa (Ijarah)


1) Ijarah
Secara etimologi al-ijarah berasal dari al-ajru yang berarti al-
iwadhl penggantian. Adapun secara termilogi al-ijarah secara
sederhana dapat diartikan dengan akad atau transaksi manfaat atau
jasa dengan imbalan tertentu. Ijarah dalam bentuk sewa-menyewa
dan upah-mengupah merupakan muamalah yang telah disyaratkan
dalam Islam. Hukum asalnya menurut jumhur ulama adalah mubah
atau boleh bila dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang
ditentukan oleh syara’ berdasarkan ayat al-Qur’an, hadist-hadist
Nabi dan ketetapan ijma ulama.3 Rukun dan Syarat Ijarah4
 Mu’jir dan musta’jir, yaitu orang yang melakukan akad sewa-
menyewa atau upah-mengupah. Mu’jir adalah yang
3
Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan dan Sapiudin Shidiq, Fiqh Muamalat (Jakarta : Prenada
Media Group, 2010) hlm. 277
4
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005) hlm. 117-118
memberikan upah dan menyewakan, musta’jir adalah orang
yang menerima upah untuk melakukan sesuatu dan yang
menyewa sesuatu, disyaratkan pada mu’jir dan musta’jir
adalah baligh, berakal, cakap melakukan tasharruf
(mengendalikan harta) dan saling meridhai.
 Shighat ijab kabul antara mu’jir dan musta’jir, ijab kabul sewa-
menyewa dan upah-mengupah.
 Ujrah, disyaratkan diketahui jumlahnya oleh kedua belah
pihak, baik dalam sewa-menyewa maupun upah-mengupah.
 Barang yang disewakan atau sesuatu yang dikerjakan dalam
upah-mengupah, disyaratkan pada barang yang disewakan
dengan beberapa syarat berikut ini :
 Hendaklah barang yang menjadi objek dapat dimanfaatkan
kegunaannya.
 Hendaklah barang yang menjadi objek sewa-menyewa dan
upah-mengupah dapat diserahkan kepada penyewa dan
pekerja berikut kegunaannya (khusus sewa-menyewa).
 Manfaat benda yang disewa adalah perkara yang mubah
(boleh) menurut syara’ bukan barang yang dilarang
(diharamkan).
 Benda yang disewakan disyaratkan kekal ‘ain (zat)-nya
hingga waktu yang ditentukan menurut perjanjian dalam
akad.
Al-Ijarah akan menjadi batal dan berakhir bila ada hal-hal
sebagai berikut :5
 Terjadinya cacat pada barang sewaan ketika ditangan penyewa.
 Rusaknya barang yang disewakan seperti ambruknya rumah dan
runtuhnya bangunan gedung.

5
Op.cit. hlm. 284
 Rusaknya barang yang diupahkan seperti, bahan baju yang
diupahkan untu dijahitkan.
 Telah terpenuhinya manfaat yang diadakan sesuai dengan masa
yang telah ditentukan dan selesainya pekerjaan.
 Menurut hanafi salah satu pihak dari yang berakad boleh
membatalkan al-ijarah jika ada kejadian-kejadian yang luar
biasa seperti, terbakarnya gedung, tercurinya barang-barang
dagangan dan kehabisan modal.
2) IMBT (Ijarah Muntahiya Bit Tamlik)
Adalah sejenis perpaduan antara kontrak jual beli dan sewa atau
lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang
di tangan si penyewa pada akhir akad.

Aplikasi akad Sewa Menyewa pada Pembiayaan Perbankan


Syariah
 Pembiayaan Konsumtif Motor dengan prinsip IMBT
 Pembiayaan Konsumtif Ijarah Multijasa

c. Pembiayaan dengan Prinsip Jual Beli


Prinsip ini dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahan
kepemilikan barang. Tingkat keuntungan bank ditentukan di depan
dan menjadi bagian harta atas barang yang dijual. Transaksi jual beli
dibedakan berdasarkan bentuk pembayaran dan waktu penyerahan
barang.
1) Bai’ al –Murabahah
Jual beli barang pada harga asal dengan tambahan
keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah.
Dalam murabahah penjual menyebutkan harga pembelian
barang kepada pembeli, kemudian ia mensyaratkan laba dalam
jumlah tertentu. Pada perjanjian ini, bank membiayai pembelian
barang yang dibutuhkan oleh nasabahnya dengan membeli
barang itu dari pemasok, kemudian menjualnya kepada nasabah
dengan harga ditambah keuntungan,penjualan barang kepada
nasabah dilakukan atas dasar cost-plus profit.
Teknis perbankan pada pembiayaan Murabahah
 Bank bertindak sebagai penjual sementara nasabah sebagai
pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari produsen
ditambah keuntungan (mark up). Kedua pihak harus
menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran.
 Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah
disepakati tidak dapat berubahselama berlaku akad. Dalam
perbankan, murabahah lazimnya dilakukan dengan cara
pembayaran cicilan (bitsaman ajil)
 Dalam transaksi ini, bila sudah ada barang diserahkan
kepada nasabah,sedangkan pembayaran dilakukan secara
tangguh.
2) Bai’ as-Salam
Kata salama dengan salafa artinya sama. Disebut salam
karena pemesan barang menyerahkan uangnya ditempat akad.
Disebut salaf karena pemesan barang menyarahkan uangnya
terlebih dahulu. Penjualan sesuatu dengan kriteria tertentu (yang
masih berada) dalam tanggungan dengan pembayaran
disegerakan.
Teknis perbankan dengan akad Ba’i As-Salam
 Salam adalah transaksi jual beli dimana barang yang
diperjualbelikan belum ada. Oleh karena itu barang
diserahkan secara tangguh sedangkan pembayaran
dilakukan tunai.
 Saat barang diserahkan kepada bank oleh produsen maka
bank akan menjualnya kepada nasabah secara tunai atau
secara cicilan. Harga jual yang ditetapkan bank adalah
harga beli bank dari nasabah ditambah keuntungan.
 Dalam hal bank menjualnya secara tunai biasanya disebut
pembiayaan talangan (bridging financing). Bila bank
menjual secara cicilan, maka bank dan nasabah harus
menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran.
 Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah
disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad.
Ketentuan umum Ba’i As-Salam
 Pembelian hasil produksi harus diketahui secara
spesifikasinya secara jelas seperti jenis, macam, ukuran,
mutu, dan jumlahnya.
 Apabila hasil produksi yang diterima cacat atau tidak sesuai
dengan akad maka produsen harus bertanggung jawab
dengan cara lain mengembalikan dana yang telah
diterimanya atau mengganti barang yang tidak sesuai
dengan pesanan.
 Mengingat bank tidak menjadikan barang yang dibeli atau
dipesannya sebagai perrsediaan, maka dimungkinkan bagi
bank untuk melakukan akad slam kepada pihak ketiga
(pembeli kedua), seperti bulog, pedagang pasar induk, dan
rekanan.
3) Bai’ al-Istishna
Merupakan suatu jenis khusus dari ba’i salam. Biasanya
jenis ini dipergunakan di bidang manufaktur dan konstruksi.
Dengan demikian, ketentuan istishna mengikuti ketentuan dan
aturan akad bai’ as –salam. Ketentuan Umum Ba’i Istishna’
 Spesifikasi barang pesanan harus jelas seperti jenis, macam,
ukuran, dan jumlah
 Harga jual telah disepakati tercantum dlaam akad istishna
dan tidak boleh berubah selama berlakunya akad.
 Jika terjadi perubahan dari kriteria pesanan dan terjadi
perubahan hargasetelah akad ditandatangani, maka seluruh
biaya tambahan tetap ditanggung nasabah.

Aplikasi Akad Jual Beli pada Pembiayaan di Bank Syariah:


 Murabahah Reguler
 Murabahah Irreguler
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai lembaga intermediary yang berfungsi menghimpun dan
menyalurkan dana masyarakat, bank syariah menyalurkan pembiayaan dalam
wujud pembiayaan. Pembiayaan yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana
untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit.
Pembiayaan berdasarkan tujuan penggunaannya dibedakan menjadi
Pembiayaan Konsumtif dan Pembiayaan Produktif. Sedangkan mberdasarkan
akad yang digunakan , pembiayaan dibedakan menjadi 3 yaitu pembiayaan
dengan akad Bagi Hasil, pembiayaan dengan akad Jual Beli dan yang terakhir
pembiayaan dengan akad Sewa Menyewa.
DAFTAR PUSTAKA

Antonio, Muhammad Syafi’i. 2001. “Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik”.


Jakarta : Gema Insani Pers
Ghazali, Abdul Rahman, Ghufron Ihsan dan Sapiudin Shidiq. 2010. “Fiqh
Muamalat”. Jakarta : Prenada Media Group.

Suhendi, Hendi. 2005. “Fiqh Muamalah”. Jakarta : Raja Grafindo Persada.