Anda di halaman 1dari 9

LEMBAR PENGESAHAN

Presentasi kasus dengan Judul

“LIMFADENOPATI COLI”

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing,

sebagai syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik ilmu bedah

di RSUP Fatmawati periode 9 Agustus 2010 – 24 November 2010

Jakarta, Januari 2010

(dr. Eka S Uttama, sp.B)


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan
rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah presentasi kasus
ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad
SAW.

Adapun judul makalah presentasi kasus ini adalah “limfadenopati coli”. Dalam
penyusunan makalah ini, penulis telah mencurahkan segala pikiran dan kemampuan yang
dimiliki. Namun tetap ada hambatan dan kendala yang harus dilewati.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Eka S. Uttama, sp.B selaku
pembimbing makalah makalah presentasi kasus dan seluruh pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini.

Jakarta, 20 September 2010

Penulis

STATUS MEDIK

Identitas pasien
1. Nama: Ny. H
2. Umur: 37 tahun
3. Jenis kelamin: perempuan
4. Alamat: KP Mesjid, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten
5. Agama: Islam
6. Pendidikan: Tamat SLTP
7. Status pernikahan: sudah bernikah, mempunyai seorang anak
8. Pekerjaan: ibu rumah tangga
9. No. RM: 00932784
10. Masuk RSUP: 23 Agustus 2010

Anamnesa

Anamnesa dilakukan secara autoanamnesa pada tanggal 23 Agustus


2010, jam 12.00 WIB

Keluhan utama:

Benjolan di leher kanan 7 bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke RSUP fatmawati pada tanggal 29 Maret 2010


dengan keluhan benjolan di leher sisi kanan sejak 1 bulan sebelum ke
rumah sakit. Kira-kira bulan februari kemarin, secara tidak sengaja pasien
menemukan benjolan lebih kurang sebesar biji kacang hijau di lehernya.
Karena merasa bahwa benjolan itu bukan merupakan sebuah kelainan,
maka pasien tidak menghiraukan benjolan tersebut. Kemudian setelah
beberapa minggu, pasien mulai menyadari bahwa benjolan tersebut
dirasakan makin lama semakin besar seperti tumbuh, tetapi pasien masih
tidak menghiraukan benjolan tersebut. Benjolan tersebut terus membesar
sampai menjadi sebesar ibu jari. Pasien mulai khuatir tentang keadaan
tersebut dan memutuskan untuk berobat.

Pasien mengatakan bahwa benjolan yang timbul itu cuma di leher di


sebelah kanan dan berjumlah satu biji sahaja. Benjolan tersebut baru
pertama kali ini timbul, sebelumnya tidak pernah mengalami seperti ini.
Benjolan tersebut lunak seperti berisi cairan dan licin apabila diraba, tidak
nyeri apabila disentuh ataupun ditekan dan tidak gatal. Apabila
digerakkan, benjolannya bisa digerakkan. Kulit di kawasan benjolan dan
sekitarnya juga tidak meradang.
Pasien sering meriang dan batuk-batuk. Meriang dan batuknya
timbul berbarengan dengan timbulnya benjolan di leher tersebut. Pasien
mengaku sejak timbul benjolan tersebut, tubuhnya menjadi cepat lelah.
Pasien sering merasa pegel-pegel sehingga sulit melakukan kerja rumah.
Padahal, sebelum ini, pasien baik-baik saja, tidak pernah menderita
penyakit gula maupun darah tinggi. Riwayat trauma atau kecelakaan juga
disangkal pasien.

Selepas diperiksa oleh dokter ketika itu, didapatkan benjolannya


lunak, permukaan licin, sebesar ibu jari tangan kira-kira 3cm x 3cm, tidak
nyeri dan bisa digerakkan. Menurut dokter, pasien dicurigakan terkena
infeksi tuberkulosa. Oleh itu, untuk memastikan diagnosa, pasien harus
melakukan pemeriksaan anti-TB IgG. Pasien melakukan pemeriksaan anti-
TB IgG pada hari yang sama dan ternyata hasilnya negatif. Oleh karena
hasil pemeriksaan anti-TB IgG pasien negatif, dokter menyarankan pasien
melakukan pemeriksaan darah dan biopsi aspirasi jarum halus cairan di
benjolannya.

Setelah dilakukan biopsi aspirasi jarum halus, didapatkan hasil yaitu


proses spesifik. Oleh itu, pasien di diagnosa pasti dengan infeksi
tuberkulosa dan diberi perawatan obat anti tuberkulosa. Pasien diberi 3
macam obat yaitu rifampicin, pirazinamid dan INH dan harus diminum
selama 6 bulan berturut-turut. Pasien juga diberi vitamin B6 untuk
menghilangkan pegel-pegel yang dialaminya. Pasien sudah minum obat
tersebut sejak 6 bulan terakhir.

Tanggal 23 Agustus 2010, pasien ke poliklinik bedah untuk kontrol


penyakit tuberkulosanya.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak mempunyai riwayat hipertensi atau diabetes mellitus tetapi


dia memberitahu mempunyai riwayat maag. Pasien juga mengatakan
bahawa dia tidak pernah diperiksa TB maupun diberi pengobatan TB
sebelum ini.

Riwayat Penyakit Keluarga

Menurut pasien, kakeknya pernah menderita TB paru tetapi ketika itu,


pasien masih kecil. Ibu pasien menderita hipertensi.
Pemeriksaan fisik

Dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2010

Keadaan Umum

Kesadaran : compos mentis

Kesan sakit : Tidak ada kesan sakit

Keadaan gizi : baik

Sikap pasien : kooperatif

Mobilisasi : aktif

Tanda Vital

Tekanan darah : 120/70 mmHg

Nadi : 80x/menit

Respirasi : 18x/menit

Suhu : normal

Status Generalis

Kepala : Bentuk normocephali

Rambut hitam, distribusi merata

Mata : Pupil bulat, isokor

Conjungtiva Anemis -/-

Sklera ikterik -/-

Telinga : Bentuk normotia

Serumen +/+ minimal

Membran tympani tidak dapat terlihat pada pemeriksaan

Nyeri tekan mastoid -/-

Nyeri tarik telinga -/-


Hidung : Normosepta

Pernafasan cuping hidung (-)

Leher : Lihat status lokalis

Thorax : Cor : S1-S2 reguler Pulmo : Suara nafas vesikuler

Murmur (-) Ronchi : -/-

Gallop (-) Wheezing : -/-

Abdomen:

Inspeksi :Bentuk simetris

Palpasi : Dinding perut supel

Massa (-)

Nyeri tekan (-)

Nyeri lepas (-)

Perkusi :Bunyi timpani

Auskultasi :Bising usus (+) normal

Ekstermitas : Akral hangat

Oedem (-)

Cyanosis (-)

Status Lokalis

Regio colli sinistra area jugularis inferior dan supraklavikula

Inspeksi: Terlihat jaringan sikatrik yang menggaung

Kulit tidak terlihat meradang

Benjolan sudah tiada

Palpasi: Perabaan hangat

Nyeri tekan (-)

Kulit menggaung dan terdapat jaringan sikatriks


Laboratorium

Anti-TB IgG (tanggal 29 Maret 2010)

Hasil: negatif

Pemeriksaan darah (tanggal 30 Maret 2010)

I. Hb: 13,2 g/dl

II. Ht: 42%

III. Lekosit: 8,9 ribu/ul

IV. Trombosit: 408 ribu/ul

V. Eritrosit: 4,78 juta/ul

VI. LED: 97 mm
Biopsi (FNAB) (tanggal 5 April 2010)

Hasil FNAB:

Masa nekrotik, sebaran sel limfosit, sel epiteloid dan sisa jaringan
limfoid. Tidak ditemukan sel ganas.

Kesan:

Proses spesifik

Resume

Pasien datang ke RSUP fatmawati pada tanggal 29 Maret 2010


dengan keluhan benjolan di leher sisi kanan sejak 1 bulan sebelum ke
rumah sakit. Benjolan tersebut lunak, tidak nyeri, dan tidak gatal. Apabila
digerakkan, benjolannya bisa digerakkan. Kulit di kawasan benjolan dan
sekitarnya juga tidak meradang. Pasien sering meriang dan batuk-batuk.
Tubuhnya sering merasa pegel-pegel dan cepat lelah sehingga sulit
melakukan kerja rumah. Padahal, sebelum ini, pasien baik-baik saja, tidak
pernah menderita penyakit gula maupun darah tinggi. Riwayat trauma
atau kecelakaan juga disangkal pasien.

Diagnosa pasti

Limfadenopati et causa TB

Penatalaksanaan

Terapi obat: Rifampicin 600 mg, 1x1

Pirazinamid 500 mg, 2x1

INH 400 mg, 1x1

Vit B6, 2x1

Prognosis

Ad. Vitam : bonam


Ad. Functionam :bonam

Ad. Sanationam :bonam