Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH INTERAKSI OBAT

“ANTHELMINTIK”

Dosen Pengajar :
Prof. Dr. Afifah B. Sutjiatmo,M.S., Apt

Disusun Oleh:
Kelompok IV (Empat )

Rosalin Monica 3351182032


Nurul Azizah 3351182158
Ni Wayan Indri Agustin 3351182109
Aprilia Budhiyarti 3351182191
Yolanda Sylvie Riskanadilla 3351182189

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini “Anthelmintik”.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu,
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini tentang “Anthelmintik” ini
dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Cimahi, Desember 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i


DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 2
1.3 Tujuan ................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 3
2.1 Definisi Kecacingan............................................................................... 3
2.2 Prevalensi ............................................................................................... 3
2.3 Patofisiologi ........................................................................................... 3
2.4 Etiologi/Faktor Resiko ........................................................................... 9
2.5 Manifestasi Klinik ................................................................................. 9
2.6 Diagnosis ............................................................................................... 10
2.7 Terapi ..................................................................................................... 10
2.8 Interaksi Obat......................................................................................... 14
2.9 Study Kasus ........................................................................................... 17
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 19
3.1 Kesimpulan ............................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Infeksi parasit usus masih menjadi salah satu masalah kesehatan bagi
masyarakat dinegara berkembang khususnya pada daerah tropis dan
subtropics, termasuk Negara Indonesia. Dengan demikian kondisi tersebut
menjadian Indnesia sebaga tempat endemic berbagai macam penyakit. Salah
satu penyakit yang prevalensinta masih tinggi adalah infeksi cacingan.
Di Indonesia prevalensi infeksi cacingan masih terglong tinggi terutama pada
penduduk miskin dan hidup di lingkungan padat penghuni dengan sanitasi
yang buruk, tidak mempunyai jamban dan juga fasilitas air bersih yang tidak
memadai. Dari hasil survey Departemen Kesehatan Republik Indonesia di
beberapa provinsi yang ada di Indonesia menunjukkan prevalensi kecacingan
untuk semua umur di Indonesia berkisar antara 40%-60%. Sedangkan
kecacingan pada anak di seluruh Indonesia pada usia 1-6 tahun atau usia 7-12
tahun berada pada tingkat yang tinggi, yaiu 30%-90%.
Penyakit cacingan yang banyak dijumpai pada manusia di Indonesia adalaha
Enterobis vermicularis dan Soil Transmitted helminthes ( cacing yang
ditularkan melalui tanag) yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan
cacing tambang.
Pada anak infeksi cacingan dapat meyebabkan berbagai gangguan kesehatan.
Diantaranya dapat menyebabkan gangguang daya cerna, adsorbs dan
metabolism zat dalam makanan yang sangat diperlukan dalam ertumbuhan
yang akan berakibat kekurangan gizi dan berdampak pada pertumbuhan fisik
maupun mental. Kematian bahkan dapat terjadi pada penderita yang
mengalami infeksi berat.
Berkembangnya penyakit infkesi cacing dapat dipengaruhi oleh banyak
faktor, salah satunya adalah kepadatan penduduk. Meningkatnya
pertumbuhan penduduk dan tingginya arus urbanisasi menjadi salah satu
faktor utama peyebab terjadinya penyakit kecacingan.

1
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian cacingan?
2. Bagaimana cara penuluran dari penyakit kecacingan ?
3. Bagaimana terapi farmakologi cacingan?
4. Bagaimana interaksi antara obat cacingan dengan obat yang lain?

1.3. Tujuan
1. Memahami dan mengerti apa yang dimaksud dengan penyakit cacingan
2. Mengetahui cara penularan penyakit cacingan
3. Mengetahui macam-macam obat penyakit cacingan
4. Mengetahui interaksi antara obat cacingan dengan obat yang lain

1.4. Manfaat
Manfaat dari makalah ini memberikan informasi yang berhubungan dengan infeksi
kecacingan dan memberikna informasi pengobatan tentang kecacingan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kecacingan


Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa
cacing. Cacing umumnya tidak menyebabkan penyakit berat sehingga sering kali
diabaikan walaupun sesungguhnya memberikan gangguan pada kesehatan. Tetapi
dalam keadaan infeksi berat atau keadaan yang luar biasa, kecacingan cenderung
memberikan analisa keliru ke arah penyakit lain dan tidak jarang dapat berakibat
fatal (Margono, 2008).
Anthelmintik atau obat cacing adalah obat yang digunakan untuk
memberantas atau mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh.
Kebanyakan obat cacing efektif dalam satu macam cacing, sehingga diperlukan
diagnosis tepat sebelum menggunakan obat tertentu. Kebanyakan obat cacing
diberikan secara oral, pada saat sebelum makan atau sesudah makan. Beberapa obat
cacing diberikan bersamaan dengan obat pencahar. Obat cacing baru umumnya
lebih aman dan efektif dibanding dengan yang lama, efektif untuk beberapa macam
cacing, rasanya tidak menganggu, pemberian tidak memerlukan pencahar dan
beberapa dapat diberikan secara oral sebagai dosis tunggal.

2.2 Prevalensi
Data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2016, lebih dari 1,5
milyar orang atau sekitar 24% penduduk dunia terinfeksi STH. Angka kejadian
terbesar berada di sub-Sahara Afrika, Amerika, China dan Asia Timur.

Diindonesia prevalensi kecacingan menunjukan angka diatas 20% dengan


prevalensi tertinggi mencapai 76,67%, infeksi kecacingan ini mengalami
penurunan yang dilakukan diberbagai provinsi. Prevalensi disumatra mencapai
78%, Kalimantan 79%, Sulawesi 88%, Nusa Tenggara Barat 92% dan Jawa barat
90% (Riskesdas, 2013).

2.3 Patofisologi
Larva cacing menembus kulit akan menyebabkan reaksi erythematous. Larva

3
di paru-paru akan menyebabkan perdarahan, eosinophilia, dan pneumonia.
Kehilangan banyak darah dapat menyebabkan anemia (Soedarmo, 2010).
 Patofisiologi Ascaris lumbricoides
Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan. Dapat
berupa gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare
dan konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi
gangguan penyerapan makanan (malabsorbtion). Keadaan yang serius,
bila cacing menggumpal dalam usus sehingga terjadi penyumbatan pada
usus (Ileus obstructive). Selain itu menurut Effendy yang dikutip Surat
Keputusan Menteri Kesehatan (2006) gangguan juga dapat disebabkan
oleh larva yang masuk ke paru-paru sehingga dapat menyebabkan
perdarahan pada dinding alveolus yang disebut Sindroma Loeffler.

Gambar Cara Penularan Ascaris lumbricoides


 Diagnosis Ascaris lumbricoides
Cara menegakan diagnosis penyakit adalah dengan pe,eriksaan tinja secara
langsung. Adanya telur dalam tinja memastikan diagnosis ascariasis.
Selain itu diagnosis dapat dibuat bila cacing dewasa keluar sendiri baik
melalui mulut atau hidung karena muntah maupun melalui tinja.
 Pengobatan Ascaris lumbricoides
Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau secara masal. Untuk
perorangan dapat digunakan bermacam-macam obat misalnya piperazin,
pyrantel pamoat 10mg/kgBB, dosis tunggal mebendazole 500mg atau

4
albendazole 400mg. Oksantel-pirantel pamoat adalah obat yang dapat
digunakan untuk infeksi campuran A.lubricoides dan T.truchiura. untuk
pengobatan masal perlu beberapa syarat yaitu:
- Obat mudah diterima masyarakat
- Aturan pemakaian sederhana
- Mempunyai efek samping yang minim
- Bersifat polifalen, sehingga berkhasiat terhadap beberapa cacing
- Harganya murah
Pengobatan masal dilakukan oleh pemerintah pada anak sekolah dasar dengan
pemberian albendazole 400mg 2 kali setahun.
 Prognosis
Pada umumnya ascariasis mempunyai prognosis baik. Tanpa pengobatan,
penyakit dapat sembuh sendiri dalam waktu 1,5 tahun dengan pengobatan,
angka kesembuhan 70-99%
 Epidemiologi
Di Indonesia prevalensi ascariasis tinggi, terutama pada anak.
Frekuensinya 60-90%. Kurangnya pemakaian jamban keluarga
menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja disekitar halaman rumah,
dibawah pohon, ditempat mencuci, dan ditempat pembuangan sampah. Di
negara-negara terntentu terdapat kebiasaan memakai tinja sebagai pupuk.
Tanah liat, kelembabapn tinggi dan suhu 25o-30oC merupakan kondisi
yang baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides menjadi
bentuk infektif.

 Patofisiologi Ancylostoma (cacing tambang)


Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus. Selain mengisap darah,
cacing tambang juga menyebabkan perdarahan pada luka tempat bekas
tempat isapan. Infeksi oleh cacing tambang menyebabkan kehilangan
darah secara perlahanlahan sehingga penderita mengalami kekurangan
darah (anemia) akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta
menurunkan produktifitas. Kekurangan darah akibat cacingan sering

5
terlupakan karena adanya penyebab lain yang lebih terfokus (Menteri
Kesehatan, 2006).

Gambar Cara Penularan Ancylostoma


 Diagnosis Ancylostoma
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja segar. Dalam
tinja yang lama mungkon ditemukan larva.

 Pengobatan Ancyclostoma
Pyrantel pamoat 10mg/kgBB memberikan hasil cukup baik, bila mana
digunakan beberapa hari berturut-turut.
 Epidemiologi
Insiden tinggi ditemukan pada penduduk Indonesia, terutama didareah
pedesaan, khususnya diperkebunan. Seringkali pekerja perkebunan
yang langsung berhubungan dengan tanah mendapatkan infeksi lebih
dari 70%.
Kebiasaan defekasi ditanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun
(diberbagai daerah tertentu) penting dalam penyebaran infeksi.

 Patofisiologi Trichuris trichiura


Trichuris trichiura pada manusia terutama hidup di sekum dapat juga
ditemukan di dalam kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada
anak cacing ini tersebar diseluruh kolon dan rektum, kadang-kadang
terlihat pada mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat

6
mengejannya penderita sewaktu defekasi. Cacing ini memasukkan
kepalanya ke dalam mukosa usus hingga terjadi trauma yang menimbulkan
iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat pelekatannya dapat
menimbulkan perdarahan. Di samping itu cacing ini juga mengisap darah
hospesnya sehingga dapat menyebabkan anemia (Menteri Kesehatan,
2006).

Gambar Cara Penularan Trichuris trichiura


 Diagnosis Trichuris trichiura
Diagnosis dibuat dengan menemukan telur didalam tinja.
 Pengobatan Trichuris trichiura
Albendazol 400mg (dosis tunggal)
Mebendazole 100mg ( 2 kali sehari selama tiga hari berturut-turut)
 Epidemiologi Trichuris trichiura
Faktor penting untuk penyebaran penyakit adalah kontaminasi tanah
dengan tinja. Telur tumbuh ditanah liat, lembab dan teduh dengan suhu
optimum 30oC. pemakaian tinja sebagai pupuk kebun merupakan sumber
infeksi. Frekuensi di Indonesia tinnggi. Dibeberapa daerah pedesaan di
Indonesia frekuensinya berkisar 30-90%.
Didaerah yang sangat endemik infeksi dapat dicegah dengan pengobatan
penderita tricuriasis, pembuatan jamban yang baik , Pendidikan tentang
sanitasi dan kebersihan perorangan, terutama anak. Mencuci tangan

7
sebelum makan, dan mencuci sayuran yang dimakan mentah adalah
penting apalagi dinegeri yang memakai tinja sebagai pupuk.

 Patofisiologi Enterobius vermicularis (Cacing Kremi)


Cacing ini mirip kelapa parut, kecil-kecil dan berwarna putih. Awalnya,
cacing ini akan bersarang di usus besar. Saat dewasa, cacing kremi betina
akan pindah ke anus untuk bertelur. Telur-telur ini yang menimbulkan rasa
gatal. Bila balita menggaruk anus yang gatal, telur akan pecah dan larva
masuk ke dalam dubur. Saat digaruk, telur-telur ini bersembunyi di jari
dan kuku, sebagian lagi menempel di sprei, bantal atau pakaian. Lewat
kontak langsung, telur cacing menular ke orang lain.

Gambar Cara Penularan Enterobius vermicularis


 Diagnosis Enterobius vermicularis
Infeksi cacing dapat diduga pada anak yang menunjukkan rasa gatal
disekitar anus pada waktu malam hari. Diagnosis dibuat dengan
menemukan telur dan cacing dewasa. Telur cacing dapat diambil dengan
mudah dengan alat anal swab yang ditempelkan disekitar anus pada waktu
pagi hari sebelum anak buang air besar dan mencuci pantat (cebok).
 Pengobatan dan Prognosis Enterobius vermicularis
Seluruh anggota keluarga sebaiknya diberi pengobatan bila ditemukan
salah seorang anggota mengandung cacing kremi. Obat piperzin sangat

8
efektif bila diberikan waktu pagi kemudian minum segelas air ehingga
obat sampai kesekum dan kolon. Pyrantel pamoat juga efektif. Efek
samping mual dan muntah. Mebendazole efektif terhadap semua stadium
perkembangan cacing kremi, sedangkan pyrantel dan piperazin yang
diberikan dalam dosis tunggal tidak efektif terhadap telur. Pengobatan
secara periodic memberikan prognosis yang baik.
 Epidemioloogi Enterobius vermicularis
Penyebaran cacing kremi lebih luas daric acing lain. Penularan dapat
terjadi pada keluarga atau kelompok yang hidup dalam satu lingkungan
yang sama (asrama, rumah piatu). Telur cacing dapat diisolasi dari debu
diruangan sekolah atau cafetaria sekolah dan menjadi sumber infeksi bagi
anak-anak sekolah. Diberbagai rumah tangga dengan beberapa anggota
keluarga yang mengandung cacing kremi, telur cacing dapat ditemukan
(92%) dilantai, meja, kursi, buffet, tempat duduk kakus, bak mandi, alas
Kasur, pakaian dan tilam. Hasil penelitian menunjukkan angka prevalensi
pada berbagai golongan manusia 3%-80%.

2.4 Etiologi
Cacing penyebab penyakit pada manusia terdiri dari :
 Cacing gelang (Askariasis lumbriocoides)
 Cacing cambuk (Tricularis sp)
 Cacing kremi (Entrobius vermicularia)
 Cacing tambang (Nekatoria dan ankilostomia)
 Cacing pita (Taenia sp)
 Trematoda

2.5 Manifestasi Klinis


Gambaran klinis walaupun tidak khas, tidak cukup mendukung untuk
memastikan untuk dapat membedakan dengan anemia karena defisiensi
makanan atau karena infeksi cacing lainnya. Secara praktis telur cacing 23
Ancylostoma duodenale tidak dapat dibedakan dengan telur Necator
americanus. Untuk membedakan kedua spesies ini biasanya dilakukan

9
tekhnik pembiakan larva (Onggowaluyo, 2002). Larva cacing tambang
kemudian bermigrasi ke bagian kerongkongan dan kemudian tertelan. Larva
kemudian menuju usus halus dan menjadi dewasa dengan menghisap darah
penderita. Cacing tambang bertelur di usus halus yang kemudian
dikeluarkan bersama dengan feses ke alam dan akan menyebar kemanamana
(Gracia, 2006).

2.6 Diagnosis
Diagonsis dapat ditegakkan dengan mengidentifikasi adanya telur pada feses
dan kadang dapat dijumpai cacing dewasa keluar bersama feses, muntahan ataupun
melalui pemeriksaan radiologi dengan kontras barium (Soedarmo, 2010).

2.7 Terapi
2.7.1 Terapi Non Farmakologi
Terapi non farmakologis merupakan bagian awal untuk mencapai hasil yang
optimal pada pasien dengan anthelmintik. Terapi non farmakologi meliputi:
1. Menjaga kebersihan diri dengan memotong kuku, menggunakan sabun pada
waktu mencuci tangan sebelum makan, setelah buang air besar dan pada waktu
mandi
2. Menghindari makanan yang telah dihinggapi lalat dan cuci bersih bahan makanan
untuk menghindari telur cacing yang mungkin ada serta biasakan memasak
makanan dan minuman 3. Menggunakan karbol di tempat mandi
4. Menggunakan alas kaki untuk menghindari sentuhan langsung dengan tanah saat
bekerja dihalaman, perkebunan pertanian, pertambangan, dll

2.7.2 Farmakologi
Terapi obat pada anthelmintik ditargetkan untuk mematikan atau
menghilangkan cacing yang ada pada usus manusia atau hewan. Karena
anthelmintik sering terjadi pada individu usia anak-anak sampai dewasa yang
memiliki kondisi medis lainnya, diperlukan suatu pendekatan konservatif terhadap
pengobatan obat, antaranya :
1. Mebendazol

10
Mebendazol, suatu senyawa benzimidazole sintetik, efektif melawan
spektrum nematoda yang luas. Obat ini adalah obat terpilih pada terapi infeksi
oleh cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacing kremi (Enterobius
vermicularis), cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma
duodenale), dan cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Mebendazole bekerja
dengan mengikat dan menganggu pembentukkan mikrotubulus parasit dan juga
menurunkan ambilan glukosa. Parasit yang terkena dikeluarkan dengan feses.
Mebendazole hampir tidak dapat larut dalam larutan cair. Sedikit dosis oral
(yang dikunyah) diabsorpsi oleh tubuh, kecuali jika diminum bersama dengan
makanan tinggi-lemak. Obat ini mengalami metabolism lintas-pertama untuk
menginaktifkan senyawa. Mebendazole relatif bebas dari efek toksik, walaupun
pasien dapat mengeluhkan nyeri perut dan diare.

2. Pyrantel Pamoate
Pyrantel Pamoate, bersama dengan mebendazole, efektif pada pengobatan
infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang, cacing kremi, dan cacing tambang.
Pyrantel Pamoate diabsorbsi secara buruk melalui oral dan berefek dalam
saluran cerna. Obat ini bekerja sebagai agen penghambat-neuromuskular dan
pendepolarisasi, menyebabkan aktivasi permanen pada reseptor nikotinik
parasit. Kemudian, cacing yang terparalisis dikeluarkan dari saluran cerna
pejamu. Efek samping obat ini bersifat ringan dan berupa mual, muntah dan
diare.

3. Levamisol
Levamisol digunakan sebagai imuostimulan pada manusia pada manusia,
sebagai terapi adjuvant penyakit-pemyakit imunologik termasuk keganasan.
Dalam hal ini levamisol tampakmya bekerja dengan memperbaiki mekanisme
pertahanan seluler dan memacu pematangan limfosit T.

4. Albendazol
Albendazol adalah obat cacing derivate benzimidazol berspektrum lebar yang
dapat diberikan peroral. Dosis tunggal efektif untuk injeksi cacing kremi, cacing

11
gelang, cacing trikuris, cacing trikuris, cacing S. stercoralis dan cacing tambang.
Juga merupakan obat pilihan untuk penyakit hidatid dan sistiserkosis.

5. Thiabendazole
Thiabendazole, benzilmendazole sintetik lainnya, efektif melawan
strongiloidiasis yang disebabkan oleh Strongyolides stercoralis ( cacing
benang), larva migran kutaneus, dan stadium awal trikinosis ( disebabkan oleh
Trichinella spiralis). Tiamendazole, seperti benzimidazole lainnya,
mempengaruhi agregasi mikotubulus. Walaupun hampir tidak larut dalam air,
obat ini sangat mudah diabsorpsi pada pemberian oral. Obat ini dihidroksilasi
dalam hati dan diekskresikan dalam urin. Efek samping yang paling sering
dijumpai adalah pusing, anoreksia, mual dan muntah. Ada beberapa laporan
mengenai gejala sistem saraf pusat (SSP). Diantara kasus eritema multiformis
dan sindrom Steven-Johnson yang dilaporkan akibat thiabendazole, terjadi
sejumlah kematian. Penggunaan dikontarindikasikan selama kehamilan.

6. Ivermectin
Ivermectin adalah obat pilihan untuk pengobatan onkoserkiasis (river
blindness) yang disebabkan Onchocerca volvulus dan dan merupakan obat
pilihan pertama untuk pengobatan larva migran kutaneus dan strongiloidosis.
Ivermectin membidik reseptor kanal Cl- yang bergerbang-glutamat (glutamate-
gated Cl- channel) pada parasit. Aliran masuk klorida meningkat, dan terjadi
hiperpolarisasi, menyebabkan paralisis cacing. Obat ini diberikan secara oral.
Obat ini tidak melewati sawar darah otak sehingga tidak memiliki efek
farmakologi pada SSP. Meskipun demikian, obat ini di kontraindikasikan pada
pasien dengan meningitis karena sawar darah otak pasien bersifat lebih permabel
dan mungkin dapat terjadi efek pada SSP. Ivermectin juga dikontraindikasikan
pada kehamilan. Kematian mikrofilaria dapat menyebabkan reaksi mirip-
Mazotti (demam, sakit kepala, pusing, samnolen, dan hipotensi).

12
7. Diethylkarbamazine
Diethylkarbamazine digunakan pada pengobatan filariasis karena
kemampuannya melumpuhkan mikrofilaria dan membuat mikrofilaria rentan
terhadap mekanisme pertahanan penjamu. Dikombinasikan dengan albendazole,
diethylkarbamazine efektif pada pengobatan infeksi Wucheria bancrofti dan
Brugia malayi. Obat ini diabsorbsi secara cepat pada pemberian secara oral
bersama dengan makanan dan diekskresikan terutama dalam urine. Alkalosis
urinaria atau gagal ginjal dapat memerlukan penurunan dosis. Efek samping
disebabkan terutama oleh reaksi pejamu terhadap organisme yang terbunuh.
Keparahan gejala berhubungan dengan muatan parasit dan dapat berupa demam,
malaise, ruam, mialgia, atralgia, dan sakit kepala. Sebagian besar pasien
mengalami leukositosis. Antihistamin atau steroid dapat diberikan untuk
meredakan berbagai gejala.

8. Prazikuantel
Obat ini adalah agen pilihan untuk pengobatan seluruh bentuk
skistosomiasis dan infeksi termatoda lainnya, serta infeksi cestoda, seperti
sistiserkosis. Permeabilitas membrane sel terhadap kalsium meningkat,
menyebabkan kontraktur dan paralisis parasite. Prazikuantel diabsorbsi secara
secara cepat pemberian pada oral dan disistribusikan ke dalam cairan
serebrospinal. Kadar obat yang tinggi terdapat dalam empedu. Obat
dimetabolisme secara menyeluruh dan secara oksidatif, menyebabkan waktu
paruhnya pendek. Metabolitnya bersifat inaktif dan diekskresikan melalui urin
dan empedu. Efek samping yang paling sering berupa rasa kantuk, pusing,
malaise, dan anoreksia, serta gangguan gastrointestinal. Obat ini tidak
direkomendasikan untuk wanita hamil atau sedang menyusui. Interaksi obat
akibat metabolism yang meningkat pernah dilaporkan pada penggunaan
deksametason, fenitoin, dan karbamazepin. Simetidin, yang menghambat isozim
sitokrom P450, menyebabkan pengingkatan kadar praziquantel. Prazikuantel
dikontraindikasikan pada pengobatan sistiserkosis okular karena destruksi
organisme dalam mata dapat merusak organ tersebut.

13
2.8 Interaksi Obat

No Interaksi Obat Mekanisme Solusi


1 Albendazol + Sinergis -
Acalabrutinib Farmakodinamik
sehingga meningkatkan
efek toksisitas satu
sama lain
2 Albendazol+Altretamine Sinergis secara -
Framkodinamik
sehingga meningkatkan
efek toksisitas satu
sama lain
3 Albendazol / Mebendazol Menurunkan kadar perlu untuk
+ phenytoin albendazol dengan meningkatkan dosis
meningkatkan albendazole atau
metabolismenya mebendazole pada
pasien yang
memakai fenitoin,
carbamazepine atau
phenobarbital.
Pantau hasil
penggunaan
bersamaan.
Interaksi tidak
penting ketika
anthelmintik ini
digunakan untuk
infeksi cacing usus
(di mana tindakan
mereka adalah efek
lokal pada cacing

14
dalam usus), yang
merupakan
penggunaan paling
umum dari
mebendazol pada
khususnya.
4 Albendazol /Mebendazol simetidin Interaksi
+ simetidin smeningkatkan kadar farmakokinetik ini
obat anthelmentik tampaknya akan
dengan menghambat ditetapkan, tetapi
metabolisme. relevansi klinisnya
tidak pasti.
Kemanjuran yang
meningkat telah
ditunjukkan dalam
beberapa penelitian
untuk infeksi
cacing sistemik.
Tampaknya tidak
ada alasan untuk
menghindari
penggunaan
bersamaan, tetapi
peningkatan
pemantauan untuk
kemanjuran dan
toksisitas mungkin
lebih bijaksana.

5 Praziquantel + apalutamide dapat hindari penggunaan


apalutamide menurukan kadar atau bersama atau
efek farmakologi dari mengganti salah

15
praziquantel dengan satu obat,
mempengaruhi penyesuaian dosis.
metabolism enzim
heptik CYP3A4.

6 Praziquantel + idelalisib idelalisib akan hindari penggunaan


meningkatkan kadar bersama atau
atau efek farmakologi mengganti salah
dari paziquantel dengan satu obat,
mempengaruhi
metabolism enzim
heptik CYP3A4.
7 Praziquantel + ivacaftor ivacaftor akan hindari penggunaan
meningkatkan kadar bersama atau
atau efek farmakologi mengganti salah
dari paziquantel dengan satu obat,
mempengaruhi
metabolism enzim
heptik CYP3A4.

8 Praziquantel +ivocidenib Mekanisme : mengganti salah


apalutamide dapat satu obat
menurukan kadar atau
efek farmakologi dari
praziquantel dengan
mempengaruhi
metabolism enzim
heptik CYP3A4.

9 Praziquantel + simetidin simetidin meningkatkan -


kadar praziquantel

16
dengan menghabat
metabolisme.

10 Ivermectin + ivacaftor/ ivacaftor meningkatkan mengganti


quinidine kadar ivermectin salah satu
dengan P-gp enzim obat

2.9 Study Kasus


1. Seorang ibu datang ke Apotek dengan keluhan bahwa anaknya yang
berumur 5 tahun mengalami gatal-gatal pada area dubur, tidak nafsu makan,
muka pucat dan berat badan menurun. Akhir-akhir ini anak ibu tersebut
sering bermain tanah Bersama temannya tanpa menggunakan alas kaki. Ibu
tersebut meminta rekomendasi pengobatan kepada petugas Apotek untuk
mengatasi keluhan anaknya tersebut.
Penanganan :
Dari keluhan yang disampaikan ibu tersebut, anaknya diduga mengalami
cacingan, sehingga direkomendasikan untuk mengkonsumsi obat cacing
Pyrantel Pamoat (125mg) sebanyak 1 tablet sekaligus (untuk 1 kali
pemakaian saja). Dan disarankan juga untuk memperhatikan kebersihan
anaknya seperti mencuci tangan sebelum makan dan menggunakan alas kaki
saat berada diluar rumah agar tidak memperparah kekacingan yang diderita
anak ibu tersebut.
2. Seorang bapak berumur 40 tahun datang puskesmas mengeluhkan muntah-
muntah dan diare disertai gatal pada bagian dubur. Bapak tersebut bekerja
sebagai tukang kebun dan kesehariannya sering berkerja tanpa
menggunakan alas kaki dan sebelum makan biasaya bapak tersebut mencuci
tangannya dengan air yang tidak bersih, sehingga meminta rekomendasi
pengobatan.

17
Penanganan :
Dari keluhan tersebut, bapak tersebut didiagnosa mengalami cacingan,
sehingga direkomendasikan untuk mengkonsumsi obat cacing Pyrantel
Pamoat (250mg) sebanyak 2 tablet sekaligus (untuk 1 kali pemakaian saja).
Dan disarankan juga untuk memperhatikan kebersihan seperti mencuci
tangan dengan sabun dan air bersih sebelum makan dan menggunakan alas
kaki saat sedang bekerja agar tidak memperparah kekacingan yang diderita
Bapak tersebut.

18
BAB III
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah ini antara lain :


1. Infeksi cacing atau biasa disebut dengan penyakit cacingan termasuk dalam
infeksi yang disebabkan oleh parasit.
2. Gejala umum jika terinfeksi cacing adalah tumbulnya rasa mual, hilangnya
nafsu makan, perut buncit, turunnya berat badan karena penyerapan nutrisi
yang tidak mencukupi dari makanan, badan kurus, rambut seperti rambut
jagung, lemas dan cepat lelah, muka pucat, serta mata belekang, sakit perut,
diare berulang dan kembung, kolik yang tidak jelas dan berulang.
3. Obat-obat penyakit cacing diantaranya mebendazol, albendazol, prazikuantel,
pirantel pamoat, piperazin, dietilkarbamazin, ivermektin.

19
DAFTAR PUSTAKA

Surya, A. 2011. Dasar Parasitologi Klinis. Jakarta: Gramedia.


Departemen Kesehatan RI. 2015.Sistem Kesehatan Nasional.http://
www.depkes.go.id. Accesed at : 12 Desember 2018.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. http://
www.depkes.go.id. Accesed at : 12 Desember 2018.
Djarismawati. 2008. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Soedarto. 2010. Parasitologi Klinik. Surabaya: Airlangga University Press.
Yudhasturi, 2012, Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Kecacingan Anak di
Surabaya. Vol. 7, No. 1. Accessed at: 13 Desember 2018.

20