Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
BATU BULI

II.1 Definisi
Vesicolitiasis merupakan batu yang menghalangi aliran air kemih akibat
penutupan leher kandung kemih, maka aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba
akan terhenti dan menetes disertai dengan rasa nyeri. Pada anak, menyebabkan anak
yang bersangkutan menarik penisnya sehingga tidak jarang dilihat penis yang agak
panjang. Bila pada saat sakit tersebut penderita berubah posisi maka suatu saat air
kemih akan dapat keluar karena letak batu yang berpindah. Bila selanjutnya terjadi
infeksi yang sekunder, maka akan ditemukan nyeri menetap di suprapubik.2

II.2 Anatomi Vesika Urinaria

Gambar 2.3. Vesika Urinaria

Vesica urinaria, merupakan tempat untuk menampung urin yang berasal dari
ginjal melalui ureter, untuk selanjutnya diteruskan ke uretra dan lingkungan eksternal
tubuh melalui mekanisme relaksasi sphincter. Vesica urinaria terletak di lantai pelvis
(pelvic floor), bersama-sama dengan organ lain seperti rektum, organ reproduksi,
bagian usus halus, serta pembuluh-pembuluh darah, limfatik dan saraf. 1

Dalam keadaan kosong vesica urinaria berbentuk tetrahedral yang terdiri atas
tiga bagian yaitu apex, fundus/basis dan collum. Serta mempunyai tiga permukaan
(superior dan inferolateral dextra dan sinistra), permukaan superior merupakan lokus
minoris (daerah terlemah) dinding buli-buli. serta empat tepi (anterior, posterior, dan
lateral dextra dan sinistra). Dinding vesica urinaria terdiri dari otot m.detrusor (otot
spiral, longitudinal, sirkular). Terdapat trigonum vesicae pada bagian posteroinferior dan
collum vesicae. Trigonum vesicae merupakan suatu bagian berbentuk mirip-segitiga
yang terdiri dari orifisium kedua ureter dan collum vesicae, bagian ini berwarna lebih
pucat dan tidak memiliki rugae walaupun dalam keadaan kosong. 1

Dalam menampung urine,buli-buli mempunyai kapasitas maksimal, yang


volumenya untuk orang dewasa kurang lebih adalah 300-450 ml, sedangkan kapasitas
buli-buli pada anak menurut formula dari Koff adalah : (umur+2) x 30 ml. 2

Vesicae urinaria diperdarahi oleh a.vesicalis superior dan inferior. Namun pada
perempuan, a.vesicalis inferior digantikan oleh a.vaginalis. 4

Sedangkan persarafan pada vesica urinaria terdiri atas persarafan simpatis dan
parasimpatis. Persarafan simpatis melalui n.splanchnicus minor, n.splanchnicus imus,
dan n.splanchnicus lumbalis L1-L2. Adapun persarafan parasimpatis melalui
n.splanchnicus pelvicus S2-S4, yang berperan sebagai sensorik dan motorik. 4

II.3 Etiologi

Etiologi pembentukan batu meliputi idiopatik, gangguan aliran kemih, gangguan


metabolisme, infeksi saluran kemih oleh mikroorganisme berdaya membuat urease
(Proteus mirabilis), dehidrasi, benda asing, jaringan mati (nekrosis papil) dan
multifaktor. 5
1. Gangguan aliran urin
a. Fimosis
b. Striktur meatus
c. Hipertrofi prostat
d. Refluks vesiko-uretral
e. Ureterokele
f. Konstriksi hubungan ureteropelvik
2. Gangguan metabolisme
Menyebabkan ekskresi kelebihan bahan dasar batu
a. Hiperparatiroidisme
b. Hiperuresemia
c. Hiperkalsiuria
3. Infeksi saluran kemih oleh mikroorganisme berdaya membuat urease
4. Dehidrasi
a. Kurang minum, suhu lingkungan tinggi
5. Benda asing
a. Fragmen kateter, telur sistosoma
6. Jaringan mati (nekrosis papil)
7. Multifaktor
a. Anak di negara berkembang
b. Penderita multitrauma
8. Batu idiopatik

Terdapat beberapa faktor yang mempermudahkan terjadinya batu saluran kemih


pada seseorang, yaitu :5
Faktor intrinsik antara lain adalah :
1. Herediter  penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya
2. Umur  penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
3. Jenis kelamin  jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan
pasien perempuan.
Beberapa faktor ekstrinsik adalah :5
1. Geografi  pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran
kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah
stone belt, sedangkan daerah Bantu di Afrika selatan hampir tidak dijumpai
penyakit batu saluran kemih.
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air  kurangnya asupan air dan tinggi kadar mineral kalsium pada air
yang dikosumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih
4. Diet  diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya batu
saluran kemih
5. Pekerjaan  penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak
duduk atau kurang aktivitas atau sedentary life. Immobilisasi lama pada
penderita cedera dengan fraktur multipel atau paraplegia yang menyebabkan
dekalsfikasi tulang dengan peningkatan ekskresi kalsium dan stasis sehingga
presipitasi batu mudah terjadi.

II.4 Patogenesis
Secara teoritis batu dapat terbentuk di seluruh saluran kemih terutama pada
tempat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urin (stasis urin)., yaitu pada
sistem kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises (stenosis
uretero-pelvis), divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada hiperplasia prostat
benigna, striktura dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang
mempermudahkan terjadinya pembentukan batu. 3

Beberapa teori pembentukan batu adalah :


a. Teori Nukleasi

Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu (nukleus). Agregat
polikristalin terdiri dari berbagai macam jumlah kristaloid dan matriks organik.
Pembentukan batu memerlukan keadaan supersaturasi urin. Supersaturasi
tergantung pada pH urin, kekuatan ion, konsentrasi zat terlarut, dan kompleksasi.
Kekuatan ion terutama ditentukan oleh konsentrasi relatif ion monovalen.
Dengan meningkatnya kekuatan ion, koefisien aktivitas menurun. Koefisien
aktivitas mencerminkan availibilitas ion tertentu. Peran konsentrasi zat terlarut
jelas, yaitu semakin besar konsentrasi 2 ion, semakin besar pula
kemungkinannya untuk mengendap. Konsentrasi ion rendah menyebabkan
saturasi menurun dan meningkatkan kelarutan. Dengan meningkatnya
konsentrasi ion, produk aktivitas mencapai suatu titik tertentu yang disebut
produk kelarutan (KSP). Konsentrasi di atas titik ini metastabil dan mampu
menginisiasi pertumbuhan kristal dan nukleasi heterogen. Karena zat terlarut
menjadi lebih terkonsentrasi, produk aktivitas akhirnya mencapai produk formasi
(K fp). Tingkat supersaturasi yang melebihi titik ini tidak stabil, dan dapat terjadi
nukleasi homogen spontan. 6

Faktor lain yang berperan utama dalam pembentukan batu saluran kemih
antara lain kompleksitas. Kompleksitas mempengaruhi availibilitas ion tertentu.
Sebagai contoh, natrium membentuk kompleks dengan oksalat dan
menurunkan bentuk ion bebasnya, sedangkan sulfat membentuk kompleks
dengan kalsium. Teori nukleasi menunjukkan bahwa batu saluran kemih
berasal dari kristal atau benda asing yang mengendap dalam urin
supersaturasi. Batu terutama terdiri dari komponen kristalin. Beberapa langkah
terlibat dalam pembentukan batu, yaitu nukleasi, pertumbuhan, dan agregasi. 6

b. Teori Matriks

Jumlah komponen matriks nonkristalin pada batu saluran kemih bervariasi


sesuai jenis batu, umumnya berkisar antara 2-10% menurut beratnya. Hal ini
lebih didominasi oleh protein, dengan sejumlah kecil heksosa dan heksosamin.
Jenis batu yang jarang terjadi, dan biasa disebut kalkulus matriks, berkaitan
dengan pembedahan ginjal sebelumnya atau infeksi saluran kemih kronik, dan
mempunyai tekstur gelatin. Pemeriksaan histologi menunjukkan laminasi
dengan sedikit kalsifikasi. Pada foto polos abdomen, kalkuli matriks biasanya
menunjukkan radiolusen dan sulit dibandingkan dengan filling defect lainnya,
seperti bekuan darah, tumor saluran atas, dan lain sebagainya. Computed
tomography (CT) menunjukkan kalsifikasi dan dapat membantu untuk
konfirmasi diagnosis. 6
Peran matriks dalam proses inisiasi batu saluran kemih tidak diketahui.
Hal itu mungkin dapat berfungsi sebagai kerangka tempat agregasinya kristal
atau mungkin sebagai lem alami untuk menempelkan komponen kristal kecil,
dengan demikian dapat menghalangi aliran saluran kemih. 6

c. Penghambatan kristalisasi

Urine orang normal mengandung zat penghambat pembentuk kristal,


antara lain magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa peptida.
Jika kadar salah satu atau beberapa zat itu berkurang, akan memudahkan
terbentuknya batu di dalam saluran kemih. Ion magnesium (Mg++) dikenal
dapat menghambat pembentukan batu karena jika berikatan dengan oksalat,
membentuk garam magnesium oksalat sehingga jumlah oksalat yang akan
berikatan dengan kalsium (Ca++) untuk membentuk kalsium oksalat menurun.
Demikian pula sitrat jika berikatan dengan Ca++ membentuk garam kalsium
sitrat; sehingga jumlah kalsium yang berikatan dengan oksalat ataupun fosfat
berkurang. Hal ini menyebabkan kristal kalsium oksalat atau kalsium fosfat
jumlahnya berkurang. 2
Jaringan abnormal atau mati seperti nefrosis papila pada ginjal dan benda asing
mudah menjadi nidus dan inti batu. Demikian pula telor sistosoma kadang merupakan
nidus batu. 5

II.5 Komposisi batu

a. Batu kalsium

Kalsium merupakan ion utama dalam kristal urin. Hanya 50% kalsium plasma
yang terionisasi dan tersedia untuk filtrasi di glomerulus. Lebih dari 95% kalsium
terfiltrasi di glomerulus diserap baik pada tubulus proksimal maupun distal, dan
dalam jumlah yang terbatas dalam tubulus pengumpul. Kurang dari 2%
diekskresikan dalam urin. Banyak faktor yang mempengaruhi availibilitas kalsium
dalam larutan, termasuk kompleksasi dengan sitrat, fosfat, dan sulfat. Peningkatan
monosodium urat dan penurunan pH urin mengganggu kompleksasi ini, dan oleh
karena itu menginduksi agregasi kristal. 7
Batu ini paling banyak dijumpai, yaitu kurang lebih 70 – 80 % dari seluruh
batu saluran kemih. Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium
fosfat, atau campuran dari kedua unsur itu. Predisposisi kejadian hiperkalsiuria
(kadar kalsium di dalam urin lebih besar dari 250 – 300 mg / 24 jam), menurut Pak
(1976) terdapat 3 macam penyebab :
a. Hiperkalsiuri absorbtif yang terjadi karena adanya peningkatan absorbsi
kalsium melalui usus.
b. Hiperkalsiuri renal karena adanya gangguan kemampuan reabsorbsi
kalsium melalui tubulus ginjal.
c. Hiperkalsiuri resorptif terjadi karena adanya peningkatan resorpsi
kalsium tulang, yang banyak terjadi pada hiperparatiriodisme primer
atau pada tumor paratiriod.6

b. Batu oksalat
Oksalat merupakan produk limbah metabolisme normal dan relatif tidak
terlarut. Normalnya, sekitar 10-15% dari oksalat yang ditemukan dalam urin
berasal dari diet.7
Sebagian besar oksalat yang masuk ke usus besar didekomposisi bakteri.
Diet, bagaimanapun dapat berdampak pada jumlah oksalat yang ditemukan dalam
urin. Setelah diserap melalui usus halus, oksalat tidak dimetabolisme dan
diekskresikan hampir secara eksklusif oleh tubulus proksimal. Adanya kalsium
dalam lumen usus merupakan faktor penting yang mempengaruhi jumlah oksalat
yang diabsorbsi. Pengaturan oksalat dalam urin memainkan peran penting dalam
pembentukan batu kalsium oksalat. Ekskresi normal 20-45 mg/hari dan tidak
berubah secara signifikan menurut usia. Perubahan kecil pada level oksalat dalam
urin dapat menyebabkan dampak dramatis terhadap supersaturasi kalsium
oksalat.7
Prekursor utama oksalat adalah glisin dan asam askorbat, namun dampak
masuknya vitamin C (<2 g/hari) diabaikan. Hiperoksaluria (ekskresi oksalat urin
yang melebihi 45 g/hari) dapat terjadi pada pasien dengan gangguan usus,
terutama inflammatory bowel disease, reseksi usus halus, bypass usus dan pasien
yang banyak mengonsumsi makanan yang kaya dengan oksalat, diantaranya
adalah : teh, kopi instan, minuman soft drink, kokoa, arbei, jeruk sitrun, dan
sayuran berwarna hijau terutama bayam.. Batu ginjal terjadi pada 5-10% pasien
dengan kondisi ini. Kalsium intralumen berikatan dengan lemak sehingga menjadi
tidak tersedia untuk mengikat oksalat. Oksalat yang tidak berikatan mudah
diserap. Oksalat yang berlebihan dapat terjadi pencernaan ethylene glycol
(oksidasi parsial oksalat). Hal ini dapat mengakibatkan deposit kristal kalsium
oksalat yang difus dan masif dan kadang-kadang dapat menyebabkan gagal
ginjal. 7
c. Fosfat
Fosfat merupakan buffer dan berikatan dengan kalsium dalam urin. Ini
adalah komponen penting dari batu kalsium fosfat dan batu amonium magnesium
fosfat. Ekskresi fosfat urin pada orang dewasa normal berkaitan dengan jumlah
diet fosfat (terutama pada daging, produk susu, dan sayuran). Sejumlah kecil
fosfat yang difiltrasi oleh glomerulus secara dominan diserap kembali oleh tubulus
proksimal. Hormon paratiroid menghambat reabsorpsi ini. Kristal utama yang
ditemukan pada mereka yang hiperparatiroidisme adalah fosfat, dalam bentuk
hidroksiapatit, amorf kalsium fosfat, dan karbonat apatit. 7
d. Asam urat
Asam urat merupakan produk sampingan dari metabolisme purin. Sekitar 5 –
10 % dari seluruh batu saluran kemih. Penyakit batu asam urat banyak diderita
oleh pasien – pasien penyakit gout, penyakit mieloproliferatif, pasien yang
mendapatkan terapi antikanker, dan yang banyak mempergunakan obat urikosurik
diantaranya adalah sulfinpirazone, thiazide dan salisilat. Kegemukan, peminum
alkohol dan diet tinggi protein mempunyai peluang yang lebih besar untuk
mendapatkan penyakit ini. 7
Asam urat relatif tidak larut di dalam urin sehingga pada keadaan tertentu
mudah sekali membentuk kristal asam urat, dan selanjutnya membentuk batu
asam urat. Faktor yang menyebabkan terbentuknya batu asam urat adalah (1) urin
yang terlalu asam(pH urin <6), (2) volume urin yang jumlahnya terlalu sedikit (< 2
liter / hari), (3) hiperurikosuri atau kadar asam urat tinggi (> 850 mg / 24 jam).7
Ukuran batu asam urat bervariasi mulai dari ukuran kecil sampai ukuran
besar sehingga membentuk batu staghorn yang mengisi seluruh pelvikalises
ginjal. Tidak seperti batu jenis kalsium yang bentuknya bergerigi, batu asam urat
bentuknya halus dan bulat sehingga sering keluar spontan. Batu asam urat murni
bersifat radiolusen, sehingga pada pemeriksaan PIV tampak sebagai bayangan
filling defect pada saluran kemih sehingga seringkali harus dibedakan dengan
bekuan darah, bentukan papila ginjal yang nekrosis, tumor, atau benzoar jamur.
Pada pemeriksaan USG memberikan gambaran bayangan akustik (acoustic
shadowing). 2
e. Batu struvit

Batu struvit disebut juga sebagai batu infeksi, karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah
kuman golongan pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim
urease dan merubah urin menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi
amoniak, seperti pada reaksi:
CO(NH2)2 + H20  2NH3 + CO2
Suasana basa ini yang memudahkan garam – garam magnesium, amonium,
fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amonium fosfat (MAP). Kuman
pemecah fosfat anatranya adalah: Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter,
Pseudomonas dan Stafilokokus. 2
f. Batu jenis lain

Batu sistin, batu xanthin, batu triamteren, dan batu silikat sangat jarang
dijumpai. Batu sisitin didapatkan karena kelainan metabolisme sistin, yaitu
kelainan dalam absorbsi sistin di mukosa usus. Demikian batu xanthin terbentuk
karena penyakit bawaan berupa defisiensi enzim xanthin oksidase yang
mengkatalisis perubahan hipoxanthin menjadi xanthin menjadi asam urat.
Pemakaian antasida yang mengandung silikat (magnesium silikat atau
aluminometilsalisilat) yang berlebihan dan dalam jangka waktu lama dapat
menyebabkan timbulnya batu silikat. 2
Keadaan lain yang menyebabkan terjadinya batu saluran kemih adalah :
I. Hipositraturia  di dalam urin, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium
sitrat, sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Hal ini
dimungkinkan karena ikatan kalsium sitrat lebih mudah larut daripada kalsium
oksalat. Oleh karena itu sitrat bertindak sebagai penghambat pembentukan batu
kalsium. Hipositraturia terjadi pada: penyakit asidosis tubuli ginjal atau renal
tubular acidosis, sindrom malabsorpsi, atau pemakaian diuretik golongan thiazide
dalam jangka waktu lama. Estrogen meningkatkan ekskresi sitrat dan dapat
menjadi faktor yang mengurangi timbulnya batu pada wanita, terutama selama
kehamilan. Alkalosis juga meningkatkan sitrat ekskresi. 7

II. Hipomagnesuria  Magnesium bertindak sebagai penghambat timbulnya batu


oksalat, karena dalam urin magnesium bereaksi dengan oksalat menjadi
magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan kalsium dengan oksalat. Penyebab
tersering hipomagnesuria adalah penyakit inflamasi usus (inflamatory bowel
disease) yang diikuti dengan gangguan malabsorbsi. 2

II.6 Gejala Klinis


Gejala khas vesikolitiasis adalah berupa gejala iritasi, antara lain disuria hingga
stranguri, perasaan tidak enak waktu kencing, dan kencing tiba-tiba berhenti kemudian
menjadi lancar kembali dengan perubahan posisi tubuh ataupun menetes dan disertai
dengan nyeri karena batu menghalangi aliran kemih akibat penutupan leher kandung
kemih. Nyeri pada saat miksi sering kali dirasakan pada ujung penis, skrotum,
perineum, pinggang, sampai kaki.3
Pada anak, nyeri yang bersangkutan akan menyebabkan anak menarik penisnya
sehingga tidak jarang dilihat penis yang agak panjang. Bila pada sakit tersebut
penderita berubah posisi, suatu saat air kemih akan dapat keluar karena letak batu
yang berpindah. Bila selanjutnya terjadi infeksi sekunder, selain nyeri, sewaktu miksi
juga akan terdapat nyeri menetap suprapubik.3

II.7 DIAGNOSIS
II.7.1 Anamnesis dan Pemeriksaan fisik
Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya,
besarnya, dan morfologinya. Walaupun demikian, penyakit ini mempunyai tanda umum,
yaitu hematuria, baik hematuria nyata maupun mikroskopik. Selain itu, bila disertai
infeksi saluran kemih, dapat juga ditemukan kelainan endapan urin, bahkan mungkin
demam atau tanda sistemik lain.2
II.7.2 Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium

Pemeriksaan urinalisis makroskopik didapatkan gross hematuria.


Pemeriksaan sedimen urin menunjukkan adanya leukosituria, hematuria, dan
dijumpai kristal-kristal pembentuk batu. 85 % pasien dengan batu ginjal
didapatkan hematuria maksoskopik dan mikroskopik. Namun, tidak ditemukannya
hematuria tidak berarti menghilangkan kemungkinan menderita batu ginjal.
Pemeriksaan kultur urin mungkin menunjukkan adanya pertumbuhan kuman
pemecah urea.5 Pemeriksaan kimiawi ditemukan pH urin lebih dari 7,6
menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea dan kemungkinan
terbentuk batu fosfat. Bisa juga pH urin lebih asam dan kemungkinan terbentuk
batu asam urat.6
Pemeriksaan faal ginjal bertujuan untuk mencari kemungkinan terjadinya
penurunan fungsi ginjal dan untuk mempersiapkan pasien menjalani pemeriksaan
foto PIV. Proteinuria juga disebut albuminuria adalah kondisi abnormal dimana
urin berisi sejumlah protein. Kebanyakan protein terlalu besar untuk melewati filter
ginjal ke dalam urin. Namun, protein dari darah dapat bocor ke dalam urin ketika
glomeruli rusak. Proteinuria merupakan tanda penyakit ginjal kronis (CKD), yang
dapat disebabkan oleh diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit yang
menyebabkan peradangan pada ginjal. Sebagai akibat fungsi ginjal menurun,
jumlah albumin dalam urin akan meningkat. Perlu juga diperiksa kadar elektrolit
yang diduga sebagai faktor penyebab timbulnya batu saluran kemih, antara lain
kalsium, oksalat, fosfat, maupun urat.6
Pemeriksaan darah lengkap, dapat menentukan kadar hemoglobin yang
menurun akibat terjadinya hematuria. Bisa juga didapatkan jumlah lekosit yang
meningkat akibat proses peradangan di ureter.6
b. Radiologis6

Foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya batu


radioopak di saluran kemih. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat
bersifat radioopak, sedangkan batu asam urat bersifat radio lusen.
Foto BNO-IVP untuk melihat lokasi batu, besarnya batu, apakah terjadi
bendungan atau tidak. Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat
dilakukan, pada keadaan ini dapat dilakukan retrograde pielografi atau dilanjutkan.
Dengan anterograd pielografi, bila hasil retrograd pielografi tidak memberikan
informasi yang memadai. Pada foto BNO batu yang dapat dilihat disebut sebagai
batu radioopak, sedangkan batu yang tidak tampak disebut sebagai batu
radiolusen. Berikut ini adalah urutan batu menurut densitasnya, dari yang paling
opak hingga yang paling bersifat radiolusen, kalsium fosfat, kalsium oxalat,
Magnesium, amonium fosfat, sistin, asam urat, xantine.
Jenis Batu Radioopasitas
Kalsium Opak
Magnesium Amonium Fosfat Semiopak
Urat/Sistin Non Opak
Tabel 2.1. Gambaran Batu

Pielografi Intravena (IVP), pemeriksaan ini bertujuan menilai keadaan


anatomi dan, fungsi ginjal. Juga untuk mendeteksi adanya batu semi-opak ataupun
batu non-opak yang, tidak terlihat oleh foto polos abdomen.
Gambar 2.7. Pielografi Intravena

USG dikerjakan bila tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP yaitu pada
keadaan seperti allergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan
pada wanita yang sedang hamil. Terlihat pada gambar echoic shadow jika
terdapat batu.
Teknik CT-scan adalah tehnik pemeriksaan yang paling baik untuk melihat
gambaran semua jenis batu dan juga dapat terlihat lokasi dimana terjadinya
obstruksi.

II.8 DIAGNOSIS BANDING


Beberapa diagnosa banding dari batu kandung kemih antara lain ialah: 5
1. Kolik Ginjal dan Ureter
2. Hematuria
Bila terjadi hematuri perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan
apalagi bila hematuria terjadi tanpa nyeri. Selain itu batu saluran kemih yang
bertahun-tahun, dapat menyebabkan terjadinya tumor yang umumnya karsinoma
epidermoid, akibat rangsangan dan inflamasi.
3. Tumor ginjal
Perlu dipertimbangkan kemungkinan tumor ginjal mulai dari jenis ginjal
polikistik hingga tumor Grawitz, bila ada batu ginjal dengan hidronefrosis.
4. Tumor ureter
Pada batu ureter, terutama dari jenis radiolusent, bila disertai hematuria
yang tidak disertai dengan kolik, perlu dipertimbangkan kemungkinan tumor
ureter walaupun tumor ini jarang ditemukan.
5. Tumor kandung kemih
Perlu dibandingkan dengan tumor kandung kemih terutama bila batu yang
terdapat dari jenis radiolusen.

II.9 TATALAKSANA
Medikamentosa2
Ditujukan untuk batu yang ukurannya < 5 mm, karena batu diharapkan dapat
keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan mengurangi nyeri, memperlancar aliran
urine dengan pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya dapat mendorong batu
keluar. Dapat juga diberi pelarut batu seperti batu asam urat yang dapat dilarutkan
dengan pemberian bikarbonas natrikus disertai makanan alkalis.

ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi)7


Alat ESWL adalah pemecah batu yang yang diperkenalkan pertama kali oleh
Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal,
atau batu buli-buli tanpa melalui tindakan invasif atau pembiusan. Prinsip dari ESWL
adalah memecah batu menjadi fragmen-fragmen kecil dengan menggunakan
gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin dari luar tubuh, sehingga mudah
dikeluarkan melalui saluran kemih.
Komplikasi ESWL untuk terapi batu ureter hampir tidak ada. Tetapi SWL
mempunyai beberapa keterbatasan, antara lain bila batunya keras ( misalnya kalsium
oksalat monohidrat ) sulit pecah dan perlu beberapa kali tindakan. Juga pada orang
gemuk mungkin akan kesulitan. Penggunaan ESWL untuk terapi batu ureter distal pada
wanita dan anak-anak juga harus dipertimbangkan dengan serius. Sebab ada
kemungkinan terjadi kerusakan pada ovarium. Meskipun belum ada data yang valid,
untuk wanita di bawah 40 tahun sebaiknya diinformasikan sejelas-jelasnya.

Gambar 9: Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi

Gambar 2.8. ESWL


Endourologi7
1. Ureteroskopi atau uretero-renoskopi: memasukkan alat ureteroskopi per uretram
guna melihat keadaan ureter atau sistem pielokaliks ginjal. Dengan memakai energi
tertentu, batu yang berada di dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat dipecah
melalui tuntutan ureteroskopi atau uretero-renoskopi ini.
2. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) : mengeluarkan batu yang berada di saluran
ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kaliks melalui insisi pada
kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu.
3. Litotripsi : yaitu memecah batu bull-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat
pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli. Pecahan batu dikeluarkan dengan
evakuator Ellik.
4. Ekstraksi Dormia : mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya dengan
keranjang Dormia.

Bedah terbuka
Pembedahan terbuka ini antara lain pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk
mengambil batu pada saluran ginjal, dan ureterolitotomi untuk mengambil batu di ureter.

II.11 Pencegahan
Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih,tindakan selanjutnya yang tidak
kalah pentingnya adalah upaya menghindari timbulnya kekambuhan. Angka
kekambuhan batu saluran kemih rata- rata 7% per tahun atau kurang lebih 50% dalam
10 tahun.2
Pencegahan yang dilakukan adalah berdasarkan atas kandungan unsur yang
menyusun batu saluran kemih yang diperoleh dari analisis batu. Pada umumnya
pencegahan itu berupa : (1) menghindari dehidrasi dengan minum cukup dan
diusahakan produksi urine sebanyak 2-3 liter per hari, (2) diet untuk mengurangi kadar
zat- zat komponen pembentuk batu, (3) aktivitas harian yang cukup, dan (4) pemberian
medikamentosa.3
Beberapa diet yang dianjurkan untuk mengurangi kekambuhan adalah : (1)
rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan menyebabkan
suasana urine menjadi lebih asam, (2) rendah oksalat, (3) rendah garam karena
natriuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuria, dan (4) rendah purin. Diet rendah
kalsium tidak dianjurkan kecuali pada pasien yang menderita hiperkalsiuria absorbtif
tipe II.2
DAFTAR PUSTAKA

1. Scanlon VC, Sanders T. Essential of anatomy and physiology. 5 th ed. US: FA


Davis Company; 2007.

2. Purnomo, Basuki B . Dasar-dasar Urologi. Sagung Seto, Jakarta. 2008. 57-67.

3. Purnomo, Basuki B . Dasar-dasar Urologi. Sagung Seto, Jakarta. 2008. 5-6.

4. Netter FH. Atlas of Human Anatomy. 4th ed. US: Saunders; 2006.

5. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi Revisi, EGC, Jakarta,
1997. 1024-1034.

6. Tanagho ME dkk. Urinary tract obstruction. In : Tanagho ME dkk, (editor). Smith


General Urology, Edisi ke tujuh belas. USA: The McGraw Hill Companies; 2008.
Hal 179-188

7. Campbell, Meredith. Urology Volume One. W.B Saunders Company.


Philadelphia and London. 824-831