Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kateter adalah salah satu alat yang banyak digunakan pasien di rumah
sakit untuk diversi urin. Kateterisasi ini dapat bersifat sementara atau menetap
dengan versi ukuran dari kecil sampai besar disesuaikan dengan penderitanya.
Baik pemasangan sementara maupun menetap karena sifatnya invasif maka
mengandung resiko untuk terjadinya komplikasi, antara lain infeksi
(bakteriuri), serta komplikasi lainnya seperti fistel urin (Ernawati, 2012).
Kateterisasi urin ini tindakan yang dilakukan dengan cara
memasukkan selang plastik atau karet melalui uretra ke dalam kandung
kemih. Tindakan kateterisasi ini berfungsi untuk mengalirkan urin pada
klien yang tidak mampu mengontrol perkemihan atau klien yang mengalami
obstruksi saluran kemih (Hidayati, 2014).
Pemasangan kateter merupakan tindakan yang dapat menimbulkan
nyeri dan dapat menimbulkan komplikasi permanen, maka pemasangannya
harus melalui persetujuan tertulis (informed consent). perhatian juga harus
diberikan pada pasien yang terpasang kateter untuk memastikan agar
setiap pasien yang berada dalam kondisi kebingungan tidak melepaskan
kateter tanpa disadari pada saat balon retensi mengembang, karena kejadian
ini akan menyebabkan perdarahan dan trauma yang cukup luas pada uretra
(Brunner & Suddarth, 2012), oleh karena itu tidak jarang klien akan merasa
cemas saat akan dilakukan pemasangan kateter.
Menurut Ellis dalam Anita (2015) menyatakan bahwa banyak klien
merasa cemas, takut akan rasa nyeri dan ketidaknyamanan dalam menghadapi
kateterisasi urin. Mereka terlihat emosional dalam menghadapi tindakan -
tindakan pengobatan maupun perawatan, terlebih yang berhubungan dengan
daerah urogenital, dimana ketika kateter masuk ke dalam tubuh.

1
2

Kecemasan atau ansietas merupakan kekhawatiran yang tidak jelas dan


menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya,
keadaan emosi ini tidak memiiki objek yang spesifik (Direja, 2011). Selain itu,
kecemasan dapat diartikan sebagai keadaan perasaan afektif yang tidak
menyenangkan disertai sensasi fisik terhadap bahaya yang akan datang,
keadaan yang tidak menyenangkan tersebut sering kabur dan sulit menunjuk
dengan tepat, tetapi kecemasan itu sendiri selalu dirasakan (Lestari, 2015).
Manifestasi pada kecemasan meliputi adanya perubahan fisiologis seperti
berkeringat, gemetar, nyeri abdomen, detak jantung meningkat, sesak nafas
dan perubahan perilaku seperti bicara cepat, gelisah, reaksi terkejut
(Hawari, 2011).
Kecemasan juga merupakan salah satu faktor paling berpengaruh
terhadap nyeri. Nyeri dan kecemasan bersifat kompleks, sehingga
keberadaanya tidak terpisahkan. Kecemasan meningkatkan persepsi nyeri,
tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan cemas. Apabila rasa
cemas tidak mendapatkan perhatian, maka rasa cemas tersebut akan
menimbulkan suatu masalah serius dalam penatalaksanaan nyeri
(Potter & Perry, 2010). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Apriansyah (2014) bahwa pasien dengan gangguan kecemasan
dalam kategori sedang ataupun berat akan mempunyai kemungkinan besar
mengalami komplikasi nyeri dengan skala kategori sedang dan berat juga.
Kecemasan yang dirasakan oleh klien tidak jarang membuat klien
meminta waktu atau mengundur tindakan pemasangan kateter kepada perawat
sampai klien merasa siap, walaupun demikian hal tersebut sangatlah jarang
dilakukan (Rumah Sakit Muhammdiyah Palembang, 2017). Namun hal ini
menunjukan bahwa setidaknya kecemasan yang dirasakan oleh klien harus di
atasi.
Menurut Isaacs dalam DS et al (2014), kecemasan dapat diatasi
dengan cara farmakologi dan non farmakologi. Dalam farmakologi
digunakan obat anti ansietas terutama benzodiazepin, digunakan untuk
jangka pendek, tidak digunakan untuk jangka panjang karena pengobatan ini
bersifat toleransi dan
3

ketergantungan. Sedangkan cara non farmakologi dapat dilakukan dengan


teknik relaksasi, psikoterapi dengan hipnotis atau hipnoterapi.
Menurut Benson & Proctor dalam Ma’rifah (2016) Teknik relaksasi
adalah salah satu jenis pengobatan yang tidak memasukan unsur obat-obatan
dalam palaksanannya yang bertujuan untuk mengatasi atau mengurangi
kecemasan, menurunkan ketegangan otot dan tulang, dapat mengatasi
tekanan darah tinggi, serta dapat mengurangi nyeri. Salah satu teknik
relaksasi yang digunakan adalah relaksasi b e n s o n .
Relaksasi benson merupakan respon relaksasi dengan menggunakan
metode spiritualitas, yaitu teknik respon relaksasi yang diperkenalkan oleh
Benson atau Relaksasi Benson. Manfaat dari relaksasi benson terbukti
memodulasi stres terkait kondisi seperti marah, cemas, disritmia jantung,
nyeri kronik, depresi, hipertensi dan insomnia serta menimbulkan
perasaan menjadi lebih tenang. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Otaghi (2016) bahwa tidak ada perbedaan yang signikfikan untuk pasien
depresi setelah dilakukan intervensi, namun berbeda dengan kelompok pasien
yang mengalami stress dan cemas yaitu hasil menunjukan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan sebelum dan setelah
intervensi relaksasi benson diberikan.
Penelitian mengenai efektfitas relaksasi benson terdahulu kebanyakan
digunakan untuk mengurangi nyeri post operasi, depresi, stress dan kecemasan
pre operasi seperti yang dilakukan oleh Otaghi (2016) dan Yusliana (2015), dan
belum ada penelitian yang menggunakan relaksasi benson untuk kecemasan
klien yang akan dipasang kateter uretra.
WHO (2010) menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 15% sampai
dengan 20% klien yang datang ke rumah sakit terpasang kateter uretra selama
masa perawatannya. Menurut Feneley, Hepley dan Wells (2015) mengatakan
bahwa pada tahun 2006-2007 terdapat sekitar 1,3 juta orang di Inggris yang
mengalami masalah inkontinensia dan terpasang kateter. Pada tahun 2010-
2011 terjadi peningkatan sebanyak 2,3 juta orang dengan variasi umur
berkisar antara 14% berumur 65-69 tahun dan 45% berumur 85 ke atas.
4

Sedangkan di Amerika Serikat diperkirakan sekitar empat juta pasien


setiap tahunnya menggunakan kateterisasi urin.
Di Indonesia sendiri dinyatakan bahwa seluruh rumah sakit
menunjukan bahwa proporsi pemasangan kateter berkisar 0,0 % hingga 12,06%
dengan rata-rata keseluruhan 4,26% yang melaksanakan pemasangan kateter
(Herlina, 2014).
Laporan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tahun 2016 data
yang terpasang kateter pada tahun 2014 sekitar 4.512 klien, pada tahun 2015
sekitar 3.367 klien dan pada tahun 2016 sekitar 4.676 klien, pada januari 2017
berjumlah 189 klien (Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, 2017).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 9
sampai 11 februari 2017 dari 9 klien yang akan di pasang kateter yang
diberikan kuesioner kecemasan didapatkan hasil 4 klien mengatakan cemas
berat dengan masing-masing skor (70, 74, 67, 67), 3 klien mengatakan cemas
sedang dengan skor (54, 57, 58), serta 2 lainnya mengatakan cemas ringan
dengan skor (45, 42).
Terlihat dari uraian di atas bahwa sebagian besar klien yang akan
dipasang kateter akan mengalami kecemasan baik kecemasan berat, sedang,
maupun ringan. Oleh karena itu perawat berperan untuk memberikan
pelayanan kepada individu atau kelompok individu untuk memperbaiki,
mengembangkan, dan memelihara kelangsungan hidup yang maksimal
selama perjalanan kehidupan individu atau kelompok tersebut.

B. Rumusan Masalah
Pasien merasa cemas, takut akan rasa nyeri dan ketidaknyamanan
dalam menghadapi kateterisasi urin. Mereka terlihat emosional dalam
menghadapi tindakan - tindakan pengobatan maupun perawatan, terlebih yang
berhubungan dengan daerah urogenital, dimana ketika kateter masuk ke
dalam tubuh.
Rasa cemas jika tidak mendapatkan perhatian, maka rasa cemas
tersebut akan menimbulkan suatu masalah serius dalam
penatalaksanaan nyeri. kecemasan dapat diatasi dengan cara farmakologi
5

dan non farmakologi. Dan cara non farmakologi dapat dilakukan salah
satunya dengan teknik relaksasi benson.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merumuskan untuk
melakukan penelitian tentang “Pengaruh Relaksasi Benson terhadap
Kecemasan pada Klien yang akan dipasang Kateter Uretra di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya Pengaruh Relaksasi Benson terhadap Kecemasan pada
Klien yang akan dipasang Kateter Uretra di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang.

2. Tujuan Khusus
a. Teridentifikasinya rata-rata kecemasan sebelum relaksasi benson pada
Klien yang akan dipasang Kateter Uretra .
b. Teridentifikasinya rata-rata kecemasan setelah relaksasi benson pada
Klien yang akan dipasang Kateter Uretra .
c. Teridentifikasinya pengaruh relaksasi benson terhadap penurunan
tingkat kecemasan pada Klien yang akan dipasang Kateter Uretra .

D. Ruang Lingkup
Penelitian ini termasuk area keperawatan medikal bedah yang
dilaksanakan untuk mengetahui efektifitas relaksasi benson terhadap tingkat
kecemasan pada klien yang akan dipasang kateter uretra. Variabel dalam
penelitian ini adalah relaksasi benson sebagai variabel independen dan
kecemasan sebagai variabel dependen. Penelitian ini merupakan penelitian
kuantitatif dengan desain penelitian Pra Experiment, dengan teknik
pengambilan sampel adalah dengan Accidental Sampling dan sampel dalam
penelitian ini adalah semua klien yang akan dipasang kateter uretra di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Penelitian ini dilakukan pada
tanggal 5 - 12 April 2017.
6

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi
referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu keperawatan dan
menambah kajian ilmu keperawatan khususnya dalam penetalaksanaan
kecemasan pasien yang akan dipasang kateter uretra.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Rumah Sakit
1) Sebagai informasi data mengenai adanya efektifitas relaksasi benson
terhadap tingkat kecemasan pada klien yang akan dipasang kateter
uretra, serta dapat dijadikan tolak ukur untuk lebih meningkatkan
pelayanan asuhan keperawatan khususnya penatalaksaan kecemasan
melalui penatalaksanaan non farmakologis, sehingga
penatalaksanaan kecemasan tidak perlu dengan pemakaian obat-
obatan tetapi menggunakan teknik relaksasi.
2) Sebagai masukan untuk operasional pelayanan kesehatan rumah
sakit dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan khususnya
pelayanan keperawatan dalam membantu mengurangi kecemasan
dengan relaksasi benson.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai informasi dan dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa
lain mengenai proses penatalaksanaan kecemasan melalui
penatalaksanaan yang tidak berfokus pada obat-obatan tetapi dengan
menggunakan konsep non-farmakologi misalnya teknik relaksasi seperti
terapi relaksasi benson sehingga pembelajaran dalam perkuliahan tidak
hanya didasarkan pada aspek teoritis saja namun dilengkapi dengan
hasil penelitian yang relevan.
c. Bagi Peneliti
Penelitian ini berguna sebagai sarana dalam mengembangkan dan
memperluas wawasan yang didapat selama pendidikan tahap akademik
dengan mengaplikasikannya dalam penelitian berdasarkan kenyataan
yang terjadi dilapangan. Serta menambah pengetahuan penulis dalam
7

bidang keperawatan dan sekaligus sebagai media untuk mengemukakan


pendapat secara objektif mengenai efektifitas relaksasi benson terhadap
kecemasan pada klien yang akan dipasang kateter uretra. Dan
menunjukan bahwa kecemasan bisa di obati tidak hanya berfokus
dengan farmakologi tetapi juga non-farmakologi relaksasi benson.
8

F. Keaslian Penelitian

No Peneliti Variabel Analisis Hasil Persamaan Perbedaan


1 Ike Yuyun - Variabel Bivariat : Hasil penelitian - Penelitian - Menggunakan
Mardiani, independen : paired t- menunjukkan ada kuantitatif , teknik
Ismonah, teknik test dan perbedaan tingkat eksperimental relaksasi
supriyadi : relaksasi Unpaired kecemasan sebelum . napas dalam
benson dan t-test dan sesudah - alat - Variabel
Perbedaan nafas dalam diberikan teknik pengumpulan dependen
efektifitas teknik relaksasi Benson data Kecemasan
relaksasi benson - Variabel maupun nafas dalam kuesioner Pasien Pre
dan nafas dalam Dependen : (p-value=0,000) dan - menggunakan Operasi
terhadap tingkat Kecemasan tidak ada perbedaan teknik Bedah
kecemasan pasien efektifitas antara relaksasi Abdomen
pre-operasi bedah teknik relaksasi benson - Tempat
abdomen di Benson dan nafas - variabel penelitian di
RSUD kota dalam (p- dependen : RSUD Kota
Salatiga tahun value=0,215). Jadi, kecemasan Salatiga
2014 antara relaksasi - Desain
benson dan napas Penelitian
dalam keduanya Quasy
sama-sama efektif Experiment.
untuk menurunkan - Teknik
kecemasan dan tidak sampling
ada perbedaan Total
anatar keduaya. Sampling.
- Rancangan
penelitian
Two group
pretest
posttest
design.

2 Masoumeh - Variabel - paired t- Hasil penelitian - Penelitian - variabel


Otaghi, Milad independen : test menunjukan sebelum Kuantitatif, dependen
Borji, Sadegh Relaksasi - Post hoc dilakukan intervensi Eksperimenta selain cemas
Bastami dan Leila benson test nilai rata-rata dari l. ada depresi
Solymanian : - pasien depresi, - menggunakan dan stress.
- Variabel Repeated cemas dan stres tidak teknik - Membagi
The Effect of dependen : ANOVA menunjukan relaksasi pasien
Benson's Kecemasan, perbedaan yang benson kedalam
Relaxation on Depresi, Stres signifikan. Dan ada - salah satu kelompok
depression, perbedaan yang dari variabel kontrol dan
anxiety and stress signifikan ditunjukan dependen perlakuan.
in patients pasien stress dan adalah : - Menggunaka
undergoing cemas antara kecemasan n terapi
hemodialysis kelompok relaksasi
2016 eksperimen dan napas dalam.
kelompok control - Pasien
setelah dilakukan dengan
intervensi dengan Hemodialisis.
9

nilai (p value < - Tempat


0,05). Dan tidak ada penelitian di
perbedaan yang Iran
signifikan untuk
pasien dengan
depresi setelah
dilakukan intervensi.

3 Grece Frida Variabel Wilcoxon Hasil penelitian - penelitian - variabel


Rasubala, Lucky Independen : Sign menunjukan bahwa kuantatif dependen
Tommy Relaksasi Rank test dengan tingkat eksperimental Nyeri
Kumaat, Benson kepercayaan 95% (α
Muliyadi = 0,05) diperoleh p - Relaksasi - penelitian
Variabel value 0,000 < 0,05. Benson Quasy
Pengaruh Dependen : Yang menunjukan Experiment
Teknik Skala Nyeri bahwa terdapat
Relaksasi pengaruh teknik - uji statistic
Benson relaksasi Benson Wilcoxon Sign
Terhadap Skala terhadap skala nyeri Rank Test
Nyeri Pada pada pasien post
Pasien Post operasi apendiksitis - Operasi Di
Operasi Di Rsup. Prof.
Rsup. Prof. Dr. Dr. R.D.
R.D. Kandou Kandou Dan
Dan Rs Tk.Iii Rs Tk.Iii
R.W. Mongisidi R.W.
Teling Manado Mongisidi
Tahun 2017 Teling
Manado
- Instrument
Numeric
Rating Scale.