Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

MAHASISWA FK UNISMUH DAN PROFIL


DOKTER MUSLIM

OLEH :

Dyah Ayu Larasati


FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMADIYAH MAKASSAR

2017

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
1.1. Mahasiswa FK Unismuh

Mahasiswa adalah sekelompok generasi muda yang akan dapat menjadi estafet
kepemimpinan di massa yang akan datang, karena mereka terdiri dari orang-orang yang
menguasai berbagai bidang kedokteran yang berguna dalam kehidupan umat
manusia.Mahasiswa muslim harus mengambil posisi yang strategis ini, demi
mempersiapkan kejayaan umat di massa yang akan datang.Karena dengan memahami
pentingnya masalah strategis tentang kesehatan, mudah-mudahan mereka akan bisa
mempersiapkan dirinya menggapai visi dan misi. Keberhasilan salahsatu dokter dan
juga cendekiawan muslim yaitu ibnu sina dan elsyahrawii telah dibuktikan dengan
buku karangannya yang menjadi pusat rujukan dunia kedokteran, Ali bin Abi Tholib
sebagai Ilmuwan Mujahid, Mus’ab bin Umair sebagai Da’I dan masih banyak lainnya.

1.2.Profil DokterMuslim

Banyak rumusan tentang dokter muslim telah dikemukakan oleh berbagai


kalangan. Menurut Ja'far Khadim Yamani, Ilmu kedokteran dapat dikatakan islami,
mempersyaratkannya dengan 9 karakteristik, yaitu: Pertama, dokter harus mengobati
pasien dengan ihsan dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan al-Quran.
Kedua, tidak menggunakan bahan haram atau dicampur dengan unsur haram.
Ketiga,dalam pengobatan tidak boleh berakibat mencacatkan tubuh pasien, kecuali
sudah tidak ada alternatif lain. Keempat, pengobatannya tidak berbau takhayyul,
khurafat, atau bid'ah. Kelima, hanya dilakukan oleh tenaga medis yang menguasai di
bidang medis. Keenam, dokter memiliki sifat-sifat terpuji, tidak pemilik rasa iri, riya,
takabbur, senang merendahkan orang lain, serta sikap hina lainnya. Ketujuh, harus
berpenampilan rapih dan bersih. Kedelapan, lembagalembaga pelayan kesehatan mesti
bersifat simpatik Kesembilan, menjauhkan dan menjaga diri dari pengaruh atau
lambanglambang non-islamis.

Dalam kode etik kedokteran (Islamic code of Medical Ethics), yang merupakan Hasil
dari First International Conferene on Islamic Medicine yang diselenggarakan pada 6-
10 Rabi' al-Awwal 1401 H. di Kuwait dan selanjutnya disepakati sebagai kode etik
kedokteran Islam, dirumuskan beberapa karakterrstik yang semestinya dimiliki oleh
dokter muslim. lsi Kode Etik Kedokteran Islam tersebut terdiri atas duabelas pasal,
Rinciannya disebutkan:

Pertama, definisi profesi kedokteran. Kedua, ciri-ciri para dokter. Ketiga, hubungan
dokter dengan dokter. Keempat, hubungan dokter dengan pasien. Kelima, rahasia
profesi. Keenam, peranan dokter di masa perang. Ketujuh, tanggungjawab dan
pertanggungjawaban. Kedelapan, kesucian jiwa manusia. Kesembilan, dokter dan
masyarakat. Kesepuluh, dokter dan kemajuan biomedis modern. Kesebelas,
pendidikan kedokteran. Keduabelas, sumpah dokter.

Semua butir di atas, khususnya terhadap diri sendiri juga dengan pasien, antara
lain disebutkan bahwa seorang dokter muslim di samping sebagai seorang yang
bertakwa juga harus berakhlak mulia, seperti harus bijaksana, ramah, baik hati,
pemaaf, pelindung, sabar, dapat dipercaya, bersikap baik tanpa membedakan tingkat
sosial pasien, bersikap tenang, dan menghormati pasien. Secara teologis dokter muslim
harus menyadari bahwa soal kematian berada sepenuhnya di tang an Tuhan dan fungsi
dokter hanya sebagai penyelamat kehidupan, berfungsi mempertahankan dan
memelihara sebaik dan semampu mungkin. Di samping itu, dokter muslim harus dapat
menjadi suri tauladan yang baik juga harus prefesional, dengan tetap pada prinsip
ilmiah danjujur. Lebih dari itu semua, dokter muslim juga diharuskan memiliki
pengetahuan tentang undang-undang, caracara beribadah dan pokok-pokok fikih
sehingga dapat menuntun pasien untuk melaksanakan kewajiban agamanya.
Ditekankan pula, dalam keadaan bagaimana pun, dokter muslim harus erusaha
menjauhkan diri dari praktek-praktek yang bertentangan dengan ajaran Islam. Hal lain
yang disarankan, dokter muslim harus rendah hati, tidak sombong, serta bersikap tercel
a lainnya. Dalarn bidang pengetahuan, dokter muslim diharuskan tetap menggali dan
mencari pengetahuan agar tidak ketinggalan dalam bidang kemajuan ilmiah, dan upaya
itu harus diyakini sebagai bentuk ibadah.

Abu al-Fadl merinci karakteristik dokter Islam atas tiga hal. Pertama, percaya
akan adanya kematian yang tidak terelakkan seperti banyak ditegaskan dalam al-
Quran dan hadits Nabi. Untuk mendukung prinsip ini ia mengutip pernyataan Ibnu
Sina yang menyatakan, yang harus diingat bahwa pengetahuan mengenai
pemeliharaan kesehatan itu tidak bisa mernbantu untuk menghindari kematian
maupun membebaskan diri dari , penderitaan lahir. Ia juga tidak memberikan cara-
cara untuk ' memperpanjang usia agar hidup selamanya. Dengan pemahaman
demikian, tidak berarti dokter muslim menentang teknologi biomedis bila berarti
upaya mempertahankan kehidupan dengan memberikan pasien suatu pernapasan at
au alat lain yang sejenis. Sebab, berupaya menyelamatkan hidup adalah tugas mulia,
siapa yang menyelamatkan hidup seorang manusia, seolah dia menyelamatkan hidup
seluruh manusia. Ini sejalan dengan penegasan ayat al-Quran:

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh)
orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan
dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara
kehidupan seorang manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara
kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan
seorang manusia semuanya. (QS. Al Maidah 5 : 32)

Kedua, menghormati pasien, diantaranya berbicara dengan baik kepada pasien tidak
membocorkan rahasia dan perasaan pasien, dan tidak melakukan pelecehan seksual,
itulah sebabnya disarankan pasien didampingi orang ketiga. Dokter tidak memberati
pasien, dan lain-lain.

Ketiga, pasrah kepada Allah sebagai Dzat Penyembuh. Ini tidak berarti membebaskan
dokter dari segala upaya diagnosis dan pengobatan. Dengan kepasrahan demikian,
maka akan menghindarkan perasaan bersalah jika segala upaya yang dilakukannya
mendapatkan kegagalan.

1.3. Rumusan Masalah


Bagaimana mahasiswa fk unismuh sesuai profil dokter muslim ?

1.4. Tujuan

Mengetahui mahasisiwa fk unismuh sasuai profil dokter muslim

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Mahasiswa Kedokteran unismuh

Pendidikan dokter dibagi dalam 2 tahap, yakni pendidikan preklinik dan pendidikan
klinik. Untuk pre klinik 3,5 tahun (7 semester) dan pendidikan klinik 1,5 tahun (3 semester).
Selama pendidikan preklinik, mahasiswa kedokteran diberikan teori dan skill medik yang
tergabung dalam satu materi perkuliahan yang terintegrasi (Blok). Sedangkan pada pendidikan
klinik merupakan kesempatan untuk mempraktekan semua teori dan keterampilan selama
pendidikan preklinik. Pendidikan klinik sering disebut Coasisten bertempat di Rumah Sakit
jejaring. Setelah selesei masa pendidikan preklinik, mahasiswa mendapat gelar Sarjana
Kedokteran (S.Ked) dan untuk memulai coast, harus melewati ujian kepaniteraan umum
(Panum) yang merupakan ujian skill medik. Mahasiswa yang sudah dinyatakan lulus ujian
panum akan diambil janji sebagai dokter muda. Kemudian dokter muda akan menjalani sebagai
coasisten di rumas sakit yang ditunjuk.

Untuk menjadi seorang dokter harus sanggup melewati serangkaian panjang masa
pendidikan dan penggemblengan mental dan skill. Semua itu tidak lain untuk melahirkan
dokter-dokter yang kompeten yang siap terjun ke masyarakat. Tidak hanya itu, nilai lebih dari
pendidikan kedokteran yang di usung FK UNISMUH adalah visi mewujudkan pendidikan
kedokteran yang membawa nilai-nilai Islam. Cita-cita bersama yang sangat mulia dan menjadi
kebanggaan adalah membagkitkan kembali kedokteran Islam. Tidak banyak dari FK yang ada
di Indonesia memiliki visi demikian, mengingat tidak mudah untuk menyisipkan nilai-nilai
islam dalam lingkungan pendidikkan. Keinginan kuat untuk mengobarkan semangat
kedokteran Islam terwujud dalam tatanan kurikulum dan lingkungan yang agamis. Diharapkan,
dokter-dokter lulusan FK UNISMUH menjadi dokter muslim yang berkualitas, yang
menjunjung nilai-nilai keislaman dan memiliki kompetensi yang tinggi sebagai seorang dokter.
Untuk mencapai harapan itu, sedari awal, para mahasiswa FK UNISMUH diberikan nilai-nilai
dasar keislaman yang terintegrasi dalam setiap mata kuliah yang diajarkan.

Menjadi seorang dokter muslim berkewajiban untuk memiliki akhlakul karimah, hal
inilah yang membedakan sebagai seorang dokter muslim yang mengemban amanah kedokteran
Islam. Definisi akhlak menurut Imam Ghozali adalah kondisi jiwa yang telah tertanam kuat,
yang darinya terlahir sikap amal secara mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan
pertimbangan. Profesi dokter dalam pandangan Islam adalah sebagai dakwah yang bergerak.
Seorang muslim yang berprofesi sebagai dokter, berkewajiban merealisasikan nilai-nilai Islam
yang bersifat fitriyah (universal) dalam setiap langkah hidupnya. Prilaku dokter muslim yang
teralisasi dari akhlakul karimah akan senantiasa dilihat oleh orang-orang yang berinteraksi
dengannya, disinilah esensi dari dakwah. Implementasi akhlakul karimah bagi seorang dokter
bisa dengan berbagai cara, diantaranya mengembangkan sifat sidiq, adil, sabar, tawaduk, itsar,
Ramah, dan Ihsan.

2.2. Sifat dan Sikap Dokter Muslim

Etika / adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Dr. Zuhair Ahmad al-
Sibai dan Dr. Muhammad 'Ali al-Bar dalam karyanya Al-Thabib, Adabuh wa Fiqhuh (Dokter,
Etika dan Fikih Kedokteran), antara lain dikemukakan bahwa dokter muslim harus
berkeyakinan atas kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, labih mendalami ilmu yang
dikuasainya, menggunakan metode ilmiah dalam berfikir, kasih sayang, benar dan jujur, rendah
hati, bersahaja dan mawas diri.

1. Berkeyakinan atas Kehormatan Profesi.


2. Berusaha Menjernihkan Jiwa.
3. Lebih Mendalami Ilmu yang Dikuasainya.
4. Menggunakan Metode Ilmiah dalam Berfikir.
5. Memiliki Rasa Cinta Kasih.
6. Keharusan Bersikap Benar dan Jujur.
7. Berendah Hati (Tawadhu').
8. Keadilan dan Keseimbangan.
9. Mawas Diri.
10. Ikhlas, Penyantun, Ramah, Sabar dan Tenang.

Sebagai suatu pendidikan profesi, pendidikan kedokteran diharapkan dapat


menghasilkan dokter yang menguasai teori-praktik kedokteran beserta perilaku dan etika yang
mulia. Saat upacara wisuda, semua calon dokter harus mengucapkan sumpah dokter disaksikan
oleh dekan, Direktur Rumah Sakit, Kepala Kantor
Wilayah Departemen Kesehatan, para dosen dan anggota keluarga.

Dalam mengikrarkan sumpah yang didampingi oleh para pemuka agama, calon dokter
berjanji akan mengamalkan Kode Etik Kedokteran. Dengan adanya hal tersebut diharapkan
kelak para calon dokter akan menjadi dokter yang beretika mulia, bertanggungjawab dan taat
pada hukum yang berlaku.

2.3 Etika bagi para dokter Muslim

Dalam etika kedokteran Islam, tercantum nilai-nilai Alquran dan Hadits yang
merupakan sumber segala macam etika yang dibutuhkan untuk mencapai hidup bahagia dunia
akhirat.
Etika kedokteran mengatur kehidupan, tingkah laku seorang dokter dalam
mengabdikan dirinya terhadap manusia baik yang sakit maupun yang sehat. Etika kedokteran
islam terkumpul dalam Kode Etik Kedokteran Islam yang bernama Thibbun Nabawi, yang
mengatur hubungan dokter dengan orang sakit dan dokter dengan rekannya.
Berikut ini dibahas mengenai etika seorang Dokter muslim terhadap sang Pencipta,
terhadap pasien, dan terhadap sejawatnya:
1. Etika Dokter Muslim terhadap sang Pencipta
Seorang dokter muslim haruslah benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah hamba
Allah SWT. Dan betapa tidak berarti dirinya beserta ilmunya tanpa diiringi ridha Allah SAW.
Adapun contoh etika terhadap sang Pencipta disebutkan bahwa:
 Dokter muslim harus meyakini dirinya sebagai khalifah fungsionaris Allah dalam
bidang kesehatan dan kedokteran.
 Melaksanakan profesinya hanya karena Allah.
 Hanya melakukan pengobatan, penyembuhan adalah hak Allah.
 Melaksanakan profesinya dengan iman supaya jangan merugi.

2. Etika Dokter Muslim terhadap pasien:


Hubungan antara dokter dengan pasien merupakan hubungan antarmanusia dan
manusia. Dalam hubungan ini mungkin timbul pertentangan antara dokter dan pasien, karena
masing-masing mempunyai nilai yang berbeda.
Masalah semacam ini akan dihadapi oleh Dokter yang bekerja di lingkungan dengan
suatu sistem yang berbeda dengan kebudayaan profesinya. Untuk melaksanakan tugasnya
dengan baik, tidak jarang dokter harus berjuang lebih dulu melawan tradisi yang telah tertanam
dengan kuat. Dalam hal ini, seorang dokter Muslim tidak mungkin memaksakan kebudayaan
profesi yang selama ini dianutnya.
Mengenai etika kedokteran terhadap orang sakit antara lain disebutkan bahwa seorang
dokter muslim wajib:
 Memperlihatkan jenis penyakit, sebab musabab timbulnya
penyakit, kekuatan tubuh orang sakit, keadaan resam tubuh yang tidak
sewajarnya, umur si sakit dan obat yang cocok dengan musim itu, negeri si sakit dan
keadaan buminya, iklim di mana ia sakit, daya penyembuhan obat itu.
 Di samping itu dokter harus memperhatikan mengenai tujuan pengobatan, obat yang
dapat melawan penyakit itu, cara yang mudah dalam mengobati penyakit.
 Selanjutnya seorang dokter hendaknya membuat campuran obat yang sempurna,
mempunyai pengalaman mengenai penyakit jiwa dan pengobatannya, berlaku lemah
lembut, menggunakan cara keagamaan dan sugesti, tahu tugasnya.
3. Etika Dokter Muslim terhadap Sejawatnya:

Para Dokter di seluruh dunia mempunyai kewajiban yang sama. Mereka adalah kawan-
kawan seperjuangan yang merupakan kesatuan aksi dibawah panji perikemanusiaan untuk
memerangi penyakit, yang merupakan salah satu pengganggu keselamatan dan kebahagiaan
umat manusia. Penemuan dan pengalaman baru dijadikan milik bersama.
Panggilan suci yang menjiwai hidup dan perbuatan telah mempersatukan mereka
menempatkan para dokter pada suatu kedudukan yang terhormat dalam masyarakat. Hal-hal
tersebut menimbulkan rasa persaudaraan dan kesediaan tolong-menolong yang senantiasa
perlu dipertahankan dan dikembangkan.

Mengenai etika yang bagi Dokter Muslim kepada Sejawatnya yaitu:

 Dokter yang baru menetap di suatu tempat, wajib mengunjungi teman sejawatnya
yang telah berada di situ. Jika di kota yang terdapat banyak praktik dokter, cukup
dengan memberitahukan tentang pembukaan praktiknya kepada teman sejawat yang
berdekatan.
 Setiap Dokter menjadi anggota IDI setia dan aktif. Dengan menghadiri pertemuan-
pertemuan yang diadakan.
 Setiap Dokter mengunjungi pertemuan klinik, seminar, workshop, bila ada
kesempatan. Sehingga dapat dengan mudah mengikuti perkembangan ilmu
teknologi kedokteran.

Sifat-sifat penting lain yang harus dimiliki oleh seorang Dokter Muslim ialah:
 Adanya belas kasihan dan cinta kasih terhadap sesama manusia, perasaan sosial yang
ditunjukkan kepada masyarakat.
 Harus berbudi luhur, dapat dipercaya oleh pasien, dan memupuk keyakinan
profesional.
 Seorang dokter harus dapat dengan tenang melakukan pekerjaannya dan harus
percaya diri.
 Bersikap mandiri dan orisinal karena pengetahuan yang diwarisi secara turun
temurun dari buku-buku masih jauh memadai.
 Ia harus mempunyai kepribadian yang kuat, sehingga dapat melakukan pekerjaanya
di dalam keadaan yang serba sulit. Dan tentunya tidak menyimpang dari ketentuan-
ketentuan agama.
 Seorang dokter muslim dilarang membeda-bedakan antara pasien kaya dan pasien
miskin.
 Seorang dokter muslim harus hidup seimbang, tidak berlebih-lebihan, tidak
membuang waktu serta energi dengan menikmati kesenangan dan kenikmatan yang
menyebabkan lupa kepada Allah SWT.
 Seorang dokter muslim harus lebih banyak mendengar dan lebih sedikit bicara.
 Seorang dokter muslim tidak boleh berkecil hati dan harus merasa bangga akan
profesinya karena semua agama menghormati profesi dokter.

Istilah Arab untuk menyebut dokter adalah hakim, salah satu nama Allah yang berarti orang
yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan. Kasus yang menyangkut etika dokter muslim
dalam praktek. Kesalehan seorang dokter ditekankan oleh kalangan pengobatan Yunani,
sebagaimana seorang dokter dianggap sebagai penjaga tubuh dan jiwa. Ihwal etika medis
dalam islam, seperti halnya etika secara umum, terdapat dua pengaruh langsung, yaitu dari
bangsa Yunani dan Iran.

Etika pasien terhadap dokter


Menurut pendapat Abu Bakar Al-Razi, baik pasien maupun dokter harus memenuhi
etika. Beliau menganjurkan pasien agar mengikuti dangan ketat perintah dokter, menghormati
dokter, dan menganggap dokter sebagai sahabat terbaiknya. Pasien harus berhubungan
langsung dengan dokter dan tidak boleh merahasiakan penyakit yang dideritanya.
Tentu akan lebih baik jika orang meminta nasihat dokter tentang cara menjaga
kesehatan sebelum membutuhkan pengobatan. Bahwa pencegahan lebih baik daripada
pengobatan merupakan sebuah prinsip yang dianjurkan oleh semua dokter.
Kode etik islam bidang kedokteran

Kode etik islam untuk bidang kedokteran akan segera diberlakukan. Hal ini telah
dibahas melalui Konferensi ke-8 Organisasi Ilmu Kedokteran Islam, yang berlangsung di
Kairo, Mesir.

Konferensi ini ditutup dengan disetujuinya draft pedoman etika ilmu kedokteran
internasional pertama yang berbasis pada perspektif Islam. Draft yang berjudul ‘Kode etik
Islam bidang kedokteran dan kesehatan’ tersebut, materinya akan disempurnakan, diedit dan
akan diterbitkan oleh Organisasi Ilmu Kedokteran Islam (IOMS). Ide untuk menerbitkan kode
etik Islam di bidang kedokteran ini muncul sejak tahun 1981, ketika IOMS berinisiatif untuk
mengadaptasi dokumen tentang etika kedokteran Islam hasil dari konferensi di Kuwait.

Dokumen itu antara lain menyebutkan, ‘Manusia harus diperlakukan seperti apa yang
digariskan Tuhan di mana Dia menetapkan bahwa umatnya sebagai khalifahNya di bumi.’
Konferensi yang dimulai tanggal 11 Desember 2004, diselenggarakan oleh IOMS
bekerjasama dengan Organisasi Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Islam
(ISESCO), Dewan Organisasi Internasional Ilmu Kedokteran (CIOMS), Ajman University
Network dan Organisasi Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan PBB (UNESCO).

Konferensi itu dihadiri oleh tokoh-tokoh Islam terkemuka seperti Syeh Yusuf
Alqardawi dan Haytham Al-Khayat. Dalam acara penutupan, para peserta konferensi telah
menyepakati 14 rekomendasi untuk mengembangkan dan memungkinkan kode etik Islam
bidang kedokteran itu diberlakukan. Menteri-menteri pendidikan, rektor di sekolah-sekolah
kedokteran di negara Arab dan negara Islam diminta untuk mulai memasukkan dan
mengenalkan kode etik dalam kurikulum pendidikannya.

Usulan lainnya yang muncul adalah mensosialisasikan kode etik yang baru ini melalui
situs-situs milik lembaga kedokteran dan kesehatan. Kode etik islam bidang kedokteran ini
bukan hanya untuk kalangan kedokteran profesional, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat
pada umumnya, seperti diungkapkan oleh Dr. Mu’men S. Hadidi, Kepala Institut Nasional
Kedokteran Forensik dari Yordania.
Setelah konferensi ini, kantor WHO wilayah Mediterania Timur akan bekerja sama
dengan menteri-menteri kesehatan di wilayah itu akan membentuk komite ad hoc yang akan
menindaklanjuti penyusunan kode etik tersebut.

Sebelumnya, IOMS akan merancang sebuah workshop untuk menggali masukan


bagaimana kode etik ini nantinya akan bermanfaat dan menyebarluaskannya ke seluruh
kalangan profesional di dunia kesehatan.

Dalam pidatonya, Ketua IOMS, Dr. Abd Al-Rahman El-Awady mengusulkan adanya
penggalangan dana dari kalangan Muslim untuk membiayai riset-riset di bidang kesehatan di
negara-negara Islam.

Sementara itu, Kepala Ajman University Network, Dr. Saed Salman, mengusulkan
diselenggarakannya konferensi yang membahas masalah etika yang berkaitan dengan industri
farmasi dan riset tentang obat-obatan.

Konferensi ke-8 IOMS juga membahas tentang hubungan antara dokter dan pasiennya
termasuk soal praktek kedokteran, kewajiban dan tanggung jawabnya, serta masalah riset di
bidang biomedis yang melibatkan bagian tubuh manusia. Para dokter dan ilmuwan dalam
konferensi itu juga membahas isu-isu sensitif seperti soal bayi tabung, euthanasia dan rekayasa
jenis kelamin bayi.
BAB 3

PENUTUP

3.1.Kesimpulan

1. Bahwa seluruh poin butir isi karakteristik dokter muslim, baik yang terdapat dalam
Islamic Code Of Medical Ethics atau yang disampaikan oleh tokoh lain secara
individual, pada intinya ada kesepakatan, bahwa karakteristik dokter muslim,
disamping professional, menguasai ilmu kedokteran dan mengembangkan
pengetahuannya itu, juga berakhlak mulia, sebagaimana dijabarkan butir-butirnya
dalam kajian akhak mulia secara umum, baik dalam hubungannya dengan Allah,
sesama manusia dan dengan profesi, yang secara khusus dapat diterapkan pada profesi
kedokteran dalam berhubungan dengan profesinya, pasien, sesama dokter, juga kepada
Tuhan.
2. Secara definitif istilah dokter muslim termasuk term yang baru di dunia islam. Istilah
ini lahir, nampaknya sebagai respon telah mulai adanya dikotomi yang sangat tajam
dalam bidang ilmu pengetahuan dan profesi, antara ilmu pengetahuan agama di satu
sisi dan umum di sisi lain, sisi ibadah di satu sisi dan dunia kerja di sisi yang lain.
Disamping ingin menjadikan akhlak sebagai tuntunan profesi kedokteran, istilah dokter
muslim juga dirumuskan berangkat dari adanya keinginan menjadikan seluruh aspek
kehidupan dilakukan untuk islam.
3. Terlepas dari rumusan tentang dokter muslim yang telah dirumuskan oleh para praktisi
maupun pemerhati tentang dokter muslim, ada atau tidak ada rumusan tentang dokter
muslim, tamatan sekolah yang menggunakan label dokter muslim atau tidak, asal setiap
dokter yang beragama islam itu menegakkan akhlak islami, khususnya yang berkaitan
dengan praktek kedokteran, otomatis dia adalah dokter muslim sejati.

3.2. Saran

Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan


pengetahuan serta kekurangan dalam penulisan. Hal tersebut terjadi karena penulis
masih dalam tahap pembelajaran sehingga diharapkan untuk kritik dan saran untuk
dapat membimbing dan membantu pembelajaran lebih lanjut.