Anda di halaman 1dari 33

BAB I

KASUS

I. IDENTITAS
Nama : Ny. Muhsiati
Umur : 33 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
No RM : 01006176
Alamat : Kunciran Jaya, Kunciran
Agama : Islam
Suku : Jawa
Status pernikahan : menikah
Pekerjaan : IRT

II. ANAMNESIS
Pada tanggal 14 Agustus 2010 pukul 17.00 dilakukan auto anamnesis
di IGD RSUP Fatmawati.

Keluhan Utama
Benjolan di payudara kiri sejak 1 tahun SMRS.

Keluhan Tambahan
Nyeri terus-menerus seperti disilet-silet dan sesak nafas sejak 1 hari
SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUP Fatmawati pada tanggal 14 Agustus
pada pukul 17.00 dengan keluhan nyeri payudara kiri seperti disilet-silet
yang terus-menerus sejak 1 hari SMRS. Selain itu 2 hari belakangan ini
pasien merasa sesak. Pasien merasa jika tidak segera dioperasi hari ini,
payudara kiri pasien yang telah berukuran diameter 20 cm akan segera
pecah. Sebelumnya pasien telah dijadwalkan operasi pada tanggal 25
Oktober 2010.
Pada awalnya pasien telah menyadari adanya benjolan di payudara
kiri pada 9 bulan yang lalu. Benjolan berukuran kira-kira diameter 2 cm dan
hanya terasa nyeri ketika pasien merasa tidak enak badan. Nyeri
menjelang haid disangkal. Konsistensi benjolan kenyal dan dapat
digerakkan. Pasien pun mengkonsultasikan ke dokter untuk diangkat,
namun karena pasien tengah hamil 1 bulan maka pasien mengikuti saran
untuk menjalankan operasi pengangkatan benjolan jika tidak dalam
keadaan hamil.
Pada 5 bulan kemudian pertumbuhan benjolan di payudara kiri dirasa
sangat cepat. Berat badan pasien yang sedang hamil tidak mengalami
kenaikan walaupun pasien sudah makan banyak sekali. Kemudian pasien
menjalankan terapi alternatif dengan lasan keadaan hamil tidak
memungkinkan dilakukan operasi. Namun pengobatan alternatif yang
dilakukan tidak memberikan kesembuhan.
Pada bulan keenam payudara pasien memerah dan kemudian
muncul benjolan-benjolan yang membesar, payudara terasa sakit dan
ketiak pasien juga mulai membengkak. Benjolan tidak dapat digerakkan,
puting melebar +, retraksi puting -, meninggi -, sekret puting -.
Dua bulan yang lalu kulit payudara yang memerah berubah menjadi
kehitaman.
Dua minggu yang lalu benjolan-benjolan mulai pecah dan
mengeluarkan cairan putih kekuningan yang berbau dan mengeluarkan
darah. Dan kini areola mammae melebar menjadi kira-kira diameter 8 cm.
Selain itu pasien juga mulai merasakan sesak napas sejak 2 hari kemarin.
Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi, DM, asthma dan alergi disangkal oleh pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga


Hipertensi, DM, asthma, alergi dan keganasan disangkal. Dalam
keluarga, baru pasien yang mengalami penyakit ini.

Riwayat Kebidanan
Pasien mengalami menstruasi pertama kali pada umur 13 tahun
dengan frekuensi menstruasi teratur ±28 hari, lama tiap menstruasi 7
hari.Sebelum hamil anak kedua pasien memakai KB suntik selama ±8
tahun. Di 3 bulan pertama pemakaian KB suntik pasien tidak pernah mens
namum setelah itu pasien mengalami menstruasi teratur. Pasien memilih
KB suntik karena tidak cocok dengan pilihan pertama Pil KB.
Pasien memiliki 2 anak. Anak pertama sekarang berumur 15 tahun.
Mengkonsumsi ASI sampai umur 2 tahun. Anak kedua berumur 2 bulan.
Lahir prematur 8 bulan. Berat anak , panjang .

III. PEMERIKSAAN FISIK


KU : Compos mentis
Kesan : tampak sakit berat
TD : 110/70 mmHg
N : 68 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,5 °C

Status Generalis
Kepala : normocephali
Mata : CA +/+, SI -/-
Leher : KGB ttm, Tiroid ttm
Thoraks : Jantung: BJ I & II reguler, m -, g -
Paru : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-
Abdomen : datar, supel, NT (-), H/L ttm, BU (+) N
Extremitas : atas: akral hangat +/+ oedem -/-
bawah: akral hangat +/+ oedem -/-

Status Lokalis
Tampak mammae tidak simetris, mammae sinistra membesar,
benjolan+, kulit lebih hitam dari daerah sekitar, venektasi vena +, ulkus
+, keluar sekret putih dan darah dari ulkus, cekungan -, kulit jeruk -,
pengerutan -, inversi puting -, eksema areola -, retraksi areola -, cairan
puting susu -.
Ukuran mammae sinistra 18 x 18 x 20 cm, areola mamae sinistra 8 x 8
cm, hangat, keras, berbenjol-benjol, batas tegas, nyeri tekan +.

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Darah:
Hb:11,9
Ht: 36
Leukosit: 9200
Trombosit: 530.000
Eritrosit: 4.570.000
LED: 45
HER: 26
KHER: 32,5
RDW: 13,7
VER: 79,9
Hitung jenis: 0/4/65/24/6/1
BT/ CT: 1,5/ 5
OT/ PT/ Protein total: 18/ 12/ 6,6
Albumin/ Globulin: 4/ 2,6
Bilirubin total/ direk/ indirek/ fosfatase alkali: 0,6/ 0,2/ 0,4/ 53
Asam urat/ Ureum/ Creatinin: 3/ 11/ 0,6
GDP: 86
Lemak TG/ kolesterol total/ HDL/ LDL: 97/ 212/ 51/ 142

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiologi
Mammografi
Foto thorak
Kesan: Jantung dan pulmo normal. Tampak perselubungan
hemithoraks kiri inferior oleh massa dari mammae kiri.
Ultrasonografi
Kesan: tidak tampak metastasis pada organ liver, gall bladder,
pankreas, lien, kedua ren & para aorta, adneksa kanan kiri.
Patologi Anatomi
FNAB
Kesan: tumor maligna (jenis sulit ditentukan oleh karena jumlah
sel terbatas) kebanyakan terdiri dari massa rekrotik dan sel darah.

VII. DIAGNOSIS
Ca Mammae. T4b N1 Mx

VI. DIAGNOSIS BANDING


Giant FAM
Galaktokel
Kelainan fibrokistik

VIII. PENATALAKSANAAN
Mastektomi tanggal 25 Oktober 2010

IX. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad malam
Ad fungsionam : dubia ad malam
Ad sanasionam : dubia ad malam
Gambar 1&2: Tampak payudara kiri 18x18x20 cm, berbenjol-benjol, tampak venektasi
vena, keluar sekret putih kekuningan dan darah dari pinggiran ulkus, areola mammae
ukuran 8x8 cm dan puting susu tidak mengeluarkan cairan.

Kesan: Jantung dan pulmo normal. Tampak perselubungan hemithoraks kiri inferior oleh
massa dari mammae kiri.
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI DAN FISIOLOGI PAYUDARA

Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Setiap payudara


terdiri atas 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masing-masing mempunyai
saluran ke papila mammae , yang disebut duktus laktiferus. Diantara kelenjar
susu dan fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebutmungkin
terdapat jaringan lemak. Di antara lobulus tersebut ada jaringan ikat yang
disebut dengan ligamen cooper yang memberi rangka bagi payudara. 1
Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang a.perforantes
anterior dari a.mamaria interna, a.torakalis lateralis yang bercabang dari
a.aksilaris, dan beberapa a.interkostalis. 1
Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan
n.interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus oleh saraf simpatik.
Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit
paralisis dan mati rasa pascabedah, yakni n.interkostobrakialis dan
n.kutaneus brakius medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan
bagian medial lengan atas. Pada diseksi aksila, saraf ini sedapat mungkin
disingkirkan sehingga tidak terjadi mati rasa di daerah tersebut. 1
Saraf n.pektoralis yang mengurus m.pektoralis mayor dan minor,
n.torakodorsalis yang mengurus m.latisimus dorsi, dan n. Torakalis longus
yang mengurus m.serratus anterior sedapat mungkin dipertahankan pada
masektomi dengan diseksi aksila.1
Penyaliran limf dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi
ke kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan
ada pula penyaliran yang ke kelenjar interpektoralis. Pada aksila terdapat
rata-rata 50 buah kelenjar getah bening yang berada di sepanjang arteri dan
vena brakialis. Saluran limf dari seluruh payudara menyalir ke kelompok
anterior aksila, kelompok sentral aksila, kelenjar aksila bagian dalam, yang
lewat sepanjang v.aksilaris dan yang berlanjut langsung ke servikal bagian
kaudal dalam di fosa supraklavikuler.1
Jalur limf yang lainnya berasal dari daerah sentral dan medial yang
selain menuju ke kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga
menuju ke aksila kontralateral, ke m.rektus abdominis lewat ligamentum
falsiparum hepatis ke hati, pleura, dan payudara kontralateral. 1
Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipengaruhi hormon.
Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas
n masa fertilitas, sampai ke klimakterum, dan menopause. Sejak pubertas
pengaruh esterogen dan progesteronyang diproduksi ovarium dan juga
hormon hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya
asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai daur haid. Sekitar hari ke-8
haid, payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum haid
berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan
yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang haid, payudara
menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak
mungkin dilakukan. Pada waktu itu, pemeriksaan foto mamografi tidak
berguna karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu haid mulai, semuanya
berkurang.
Perubahan ketiga terjadi pada masa hamil dan menyusui. Pada
kehamilan, payudara menjadi besar karena apitel duktus lobul dan duktus
alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru. 1,2
Sekresi hormon prolaktin dari hipofise anterior memicu laktasi. Air susu
diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan
melalui duktus ke puting susu.
A. EPIDEMIOLOGI
Karsinoma payudara pada wanita menduduki tempat nomor dua
setelah karsinoma serviks uterus. Di amerika serikat, karsinoma payudara
merupakan 28% kanker pada wanita kulit putih, dan 25% pada wanita kulit
hitam.1
Kurva insiden usia bergerak naik terus sejak usia 30 tahun. Kanker ini
jarang sekali ditemukan pada wanita usia di bawah 20 tahun. Angka tertinggi
terdapat pada usia 45-66 tahun. Insidens karsinoma mamma pada laki-laki
hanya 1% dari kejadian pada perempuan.1,2
Kemungkinan untuk menderita kanker payudara dua sampai tiga kali
lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya menderita
kanker payudara.1,2

B. ETIOLOGI
Dari epidemiologi tampak bahwa kemungkinan untuk menderita kanker
payudara dua sampai tiga kali lebih besar pada wanita yang ibunya atau
saudara kandungnya menderita kanker payudara. Kemungkinan ini lebih
besar bila ibu atau saudara kandung itu menderita kanker bilateral atau
kanker pada pramenopause. Wanita yang penah ditangani karsinoma
payudaranya, memang mempunyai risiko tinggi mendapat karsinoma di
payudara lain.1
Insidens menurut usia naik sejalan dengan bertambahnya usia. 1
Pertumbuhan kanker payudara sering dipengaruhi oleh perubahan
keseimbangan hormon. Perubahan pertumbuhan tampak setelah
penambahan atau pengurangan hormon yang merangsang atau
menghambat karsinoma mamma. Misalnya, pada wanita yang diangkat
ovariumnya. Di usia muda lebih jarang ditemukan kanker payudara. Akan
tetapi, hal itu tidak membuktikan bahwa hormon seperti esterogen dapat
menyebabkan karsinoma mamma pada manusia. Namun, menarke yang
cepat dan menopause yang lambat ternyata disertai dengan peninggian
resiko. Risiko terhadap karsinoma mamma lebih rendah pada wanita yang
melahirkan anak pertama pada usia lebih muda. Laktasi tidak mempengaruhi
risiko. Kemungkinan risiko meninggi pada terhadap adanyta kanker payudara
pada wanita yang menelan pil KB dapat disangkal berdasarkan penelitian
yang dilakukan selama puluhan tahun. 1
Sampai sekarang tidak terbukti bahwa diet terbukti bahwa diet lemak
berlebihan dapat memperbesar atau memperkecil risiko kanker payudara. 1
Pada air susu ibu ditemukan (partikel) virus yang sama dengan yang
terdapat pada air susu tikus yang menderita karsinoma mamma. Akan tetapi,
peranannya sebagai faktor penyebab pada manusia tidak dapat dipastikan. 1
Dari penelitian epidemiologi setelah ledakanbom atom atau penelitian
pada orang seteah pajanan sinar Rontgen, peranan sinar ionisasi sebagai
faktor penyebab pada manusia lebih jelas. 1

C. GEJALA KLINIS
Benjolan di payudara biasanya mendorong penderita untuk ke dokter.
Benjolan di payudara yang keras dengan permukaan kasar, berbenjol-benjol
atau melekat pada kanker. Adanya rasa nyeri yang tidak tergantung daur
haid. Perubahan kulit bercawak, benjolan yang kelihatan, kulit jeruk,
kemerahan, dan tukak. Pada puting/ areola terdapat kelainan seperti retraksi,
inversi dan eksema serta keluarnya sekret yang hemoragik. 1
D. PATOFIOLOGI
Hampir semua kasus kanker disebabkan oleh mutasi atau aktivasi
abnormal gen selular yang mengendalikan pertumbuhan sel dan mitosis
sel. Gen abnormal disebut onkogen. Dan yang menekan aktivasi dari
onkogen tertentu disebut antionkogen, yang dapat ditemukan di dalam
semua sel.3
Kemungkinan mutasi dapat ditingkatkan bila seseorang terpapar
dengan faktor kimia, fisik atau biologis tertentu, seperti radiasi ionisasi
(sinar-x, sinar gamma, sinar ultraviolet, partikel radiasi dari bahan
radioaktif), bahan kimia karsinogen (asap rokok, pewarna anilin), bahan
iritan fisik (kerusakan jaringan dapat menuju pada penggantian mitosis
yang cepat pada sel. Semakin cepat mitosis, semakin besar kemungkinan
mutasi), herediter (sebagian besar kanker membutuhkan tidak hanya satu
mutasi tetapi dua atau lebih mutasi sebelum terjadi kanker. Pada keluarga
yang memiliki kecenderungan terhadap kanker, diduga bahwa satu gen
atau lebih sudah bermutasi dalam genom yang diwarisi), virus (virus DNA
dapat menyisipkan dirinya sendiri ke dalam salah satu kromosom dan oleh
karenanya menyebabkan mutasi yang mengarah pada kanker. Pada virus
RNA pembawa transkriptase pembalik dapat menyebabkan DNA
ditranskripsi dari RNA. Kemudian DNA menyisipkan dirinya sendiri). 3
Jaringan kanker berkompetisi dengan jaringan normal untuk
makanan. Karena sel kanker terus berploriferasi untuk jangka waktu yang
tidak terbatas, jumlah sel kanker bertambah setiap hari. Sel kanker akan
segera membutuhkan semua makanan yang tersedia untuk tubuh atau
untuk bagian penting tubuh. Sebagai akibatnya, jaringan normal secara
bertahap mengalami kematian kekurangan makanan. 3
E. DIAGNOSIS
Klasifikasi berdasarkan stadium2
Stadium I : T1a N0 (N1a) Mo
T1b N0 (N1a) M0
Stadium II : T0 N1b M0
T1a N1b M0
T1b N1b M0
T2a N0 (N1a) M0
T2b N0 (N1a) M0
T2a N1b M0
Stadium III : setiap T3 dengan N apa saja, M0
T4 dengan N apa saja, M0
T dengan N2 M0
T dengan N3 M0
Stadium IV : setiap T dengan N apa saja, M1
F. DIAGNOSIS BANDING
Giant FAM:
Jinak
Wanita muda
Bulat atau berbenjol-benjol
Memiliki simpai licin
Konsistensi kenyal padat
Mudah digerakkan karena tidak melekat ke jaringan sekitarnya
Tidak nyeri
Kadang multiple
Pertumbuhan dipengaruhi esterogen (kehamilan, laktasi,
menjelang menopause)
Terus membesar4

Kelainan fibrokistik:
Tidak berbatas tegas
Konsistensi padat kenyal atau kistik
Nyeri menjelang haid
Ukuran membesar
Bilateral/ multipel4

Kistosarkoma filoides
Bentuk bulat lonjong
Batas tegas
Dapat digerakkan
Ukuran mencapai 20-30 cm4

Galaktokel:
Kistik
Akibat tersumbatnya duktud laktiferus
Pada ibu yang baru/ sedang menyusui4
Mastitis:
Tanda radang lengkap
Dapat terjadi abses
Pada ibu menyusui4

G. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Darah
Hb, Ht, Leukosit ,Trombosit, Eritrosit, LED
HER, KHER, RDW, VER
Hitung jenis
BT/ CT
OT/ PT/ Protein total
Albumin/ Globulin
Bilirubin total/ direk/ indirek/ fosfatase alkali
Asam urat/ Ureum/ Creatinin
GDP
Lemak TG/ kolesterol total/ HDL/ LDL

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Mammografi
Dengan mammografi dapat ditemukan benjolan yang kecil sekalipun.
Tanda berupa mikrokalsifikasi tidak khas untuk kanker. Bila secara klinis
dicurigai ada tumor dan mammografi tidak ditemukan apa-apa, pemeriksaan
harus dilanjutkan dengan biopsi sebab sering karsinoma tidak tampak pada
mammogram. Sebaliknya, bila mammografi positif dan secara klinis tidak
teraba tumor, pemeriksaan harus dilanjutkan dengan pungsi atau biopsi di
tempat yang ditunjukkan oleh foto tersebut. Mammografi pada pramenopause
umumnya tidak bermanfaat karena gambaran kanker di antara jaringan
kelenjar kurang tampak.1,5
Ultrasonografi
Berguna terutama untuk menentukan adanya kista; kadang tampak
kista sebesar 1-2 cm.1

Sitologi
Sediaan diperoleh dari pungsi dengan jarum halus (FNA) dapat
dipakai untuk menentukan apakah akan segera disiapkan pembedahan
dengan sediaan beku atau akan dilanjutkan dengan pemeriksaan lain atau
langsung akan dilakukan ekstirpasi. Hasil positif pada pemeriksaan sitologi
bukan indikasi untuk bedah radikal karena hasil positif palsu selalu dapat
tejadi, sementara hasil negatif palsu sering terjadi. 1

Histologik
Sediaan untuk pemeriksaan histologik dapat diperoleh secara pungsi
jarum besar yang menghasilkan suatu silinder jaringan yang cukup untuk
pemeriksaan termasuk teknik biokimia. Biopsi ini disebut dengan core biopsi,
dapat digunakan untuk biopsi kelainan yang tidak dapat diraba seperti
temuan pada foto mamma.1
I. PENATALAKSANAAN
Bila bertujuan kuratif, tindakan radikal yang berkonsekuensi mutilasi
harus dikerjakan demi kesehatan. Akan tetapi, bila tindakannya paliatif,
alasan nonkuartif menentukan terapi yang dipilih.
Pembedahan mamma pertama yaitu biopsi, dilakukan sebagai
tindakan pertama untuk mendapatkan diagnosis histologi. Dengan sediaan
beku, hasil pemeriksaan histopatologi dapat diperoleh dalam waktu 15 menit.
Bila pemeriksaan menunjukkan tanda tumor jinak, operasi diselesaikan. Akan
tretapi, pada hasil yang menunjukkan tumor ganas, operasi dapat dilakukan
dengan tindakan bedah kuratif.
Bedah kuratif yang mungkin dilakukan ialah masektomi radikal, dan
bedah konservatif merupakan eksisi tumor kuratif.
Terapi kuratif dilakukan jika tumor terbatas pada payudara dan tidak
ada infiltrasi ke dinding dada dan kulit mamma, atau infiltrasi dari kelenjar limf
ke struktur sekitarnya. Tumor disebut mampu-angkat (operable) jika dengan
tindak bedah radikal seluruh tumor dan penyebarannya di kelenjar limf dapat
dikeluarkan.1

Bedah radikal
Bedah radikal menurut Halsted meliputi pengangkatan payudara
dengan sebagian besar kulitnya, m.pektoralis mayor, m.pektoralis minor, dan
semua kelenjar ketiak sekaligus. Pembedahan ini merupakan pembedahan
baku sejak permulaan abad ke-20 hingga tahun lima puluhan.
Setelah tahun ke enam puluhan biasannya dilakukan operasi radikal
yang dimodifikasi oleh Patey. Pada operasi ini, m.pektoralis mayor dan
m.pektoralis minor dipertahankan jika tumor mamma jelas bebas dari otot
tersebut.
Sekarang, biasanya dilakukan pembedahan kuratif dengan
mempertahankan payudara. Bedah konservatif ini selalu ditambah diseksi
kelenjar aksila dan radioterapi pada (sisa) payudara tersebut. Tiga tindakan
tersebut merupakan satu paket terapi yang harus dilaksanakan serentak.
Secara singkat paket tindakan tersebut disebut "terapi dengan
mempertahankan payudara". Syarat mutlak untuk operasi ini adalah tumor
kecil dan tersedia sarana radioterapi yang khusus (megavolt) untuk
penyinaran. Penyinaran diperlukan untuk mencegah kambuhnya tumor di
payudara dari jaringan tumor di payudara dari jaringan tumor yang tertinggal
atau dari sarang tumor lain (karsinoma multisentrik).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada saat terakhir
biasanya dilakukan bedah radikal yang dimodifikasi (Patey). Bila ada
kemungkinan dan tersedia sarana penyinaran pasca bedah, dianjurkan terapi
yang mempertahankan payudara, yaitu berupa lumpektomi luas,
segmentektomi, atau kuadrantektomi dengan diseksi kelenjar aksila, yaitu
terapi kuratif dengan mempertahankan payudara.
Bila dilakukan pengangkatan mamma, pertimnangkan kemungkinan
rekonstruksi mamma dengan implantasi prostesis atau cangkok flap
muskulokutan. Iomplantasi prostesis atau rekonstruksi mamma secara
cangkok dapat dilakukan secara sekaligus dengan bedah kuratif atau
beberapa waktu setelah penyinaran, kemoterapi ajuvan, atau rehabilitasi
penderita selesai. Jika hal ini tidak mungkin atau tidak dipilih, usahakan
prostesis eksterna, yaitu prostesis buatan yang disangga kutang. Bentuk dan
beratnya disesuaikan dengan bentuk dan berat payudara di sisi lain. 1

Bedah paliatif
Bedah paliatif pada kanker payudara hampir tidak pernah dilakukan.
Kadang residif lokoregional yang soliter diesksisi, tetapi biasanya pada
awalnya saja tampak soliter, padahal sebenarnya sudah menyebar sehingga
pengangkatan tumor residif tersebut sering tidak berguna. Kadang dilakukan
amputasi kelenjar mamma pada tumor yang tadinya tak mampu-angkat
karena ukurannya kemudian telah diperkecil oleh radioterapi. Walaupun
tujuan terapi tersebut paliatif, kadang ada yang berhasil untuk waktu yang
cukup berarti.1

Radioterapi
Radioterapi untuk kanker payudara biasanya digunakan sebagai
terapi kuratif dengan mempertahankan mamma, dan sebagai terapi
tambahan atau paliatif.
Radioterapi kuratif sebagai tarapi tunggal lokoregional tidak begitu
efektif, tetapi sebagai terapi tambahan untuk tujuan kuratif pada tumor yang
relatif besar berguna.
Radioterapi paliatif dapat dilakukan dengan hasil baik untuk waktu
terbatas bila tumor sudah tak mampu-angkat secara lokal. Tumor disebut tak
mampu-angkat. Bila mencapai tingkat T4, misalnya ada perlekatan dinding
toraks atau kulit, pada penyebaran di luar daerah lokoregional, yaitu di luar
kawasan payudara dan ketiak, bedah payudara tidak berguna karena
penderita tidak dapat sembuh.
Radiasi harus dipertimbangkan pada karsinoma mamma yang tak
mampu-angkat atau jika ada metastasis. Karena pada radiasi seluruh
payudara dan kelenjar aksila dan supraklavikula terdapat penyulit yaitu
pembengkakan lengan karena limfudem akibat rusaknya kelenjar ketiak
supraklavikula.1

Kemoterapi
Kemoterapi merupakan terapi sistemik yang digunakan bila ada
penyebaran sistemik, dan sebagai terapi ajuvan.
Kemoterapi ajuvan diberikan kepada pasien yang pada pemeriksaan
histologik pascabedah mastektomi ditemukan metastasis. Obat yang
diberikan adalah kombinasi siklosfosfamid, metotreksat, dan 5-fluorourasil
(CMF) selama enam bulan pada perempuan pramenopause, sedangkan
kepada yang pasca menopause diberikan terapi ajuvan hormonal berupa pil
antiesterogen.
Kemoterapi paliatif dapat diberikan kepada pasien yang telah
menderita metastasis sistemik. Obat yang dipakai secara kombinasi, antara
lain CMF atau vinkristin and adriamisin (VA), atau 5-fluorourasil, adriamisin
(adriablastin), dan siklofosfamid (FAC). 1

Terapi hormonal
Indikasi pemberian terapi hormonal adalah bila penyakit menjadi
sistemik akibat metastasis jauh. Terapi hormonal biasanya diberikan secara
paliatif sebelum kemoterapi karena efek terapinya lebih lama dan efek
sampingnya kurang, tetapi tidak semua karsinoma mamma peka terhadap
terapi hormonal. Hanya kurang lebih 60% yang bereaksi baik dan penderita
mana yang ada harapan memberi respons dapat diketahui dari "uji reseptor
esterogen" pada jaringan tumor.
Terapi hormonal paliatif dapat dilakukan pada penderita yang
premenopause dengan cara ovarektomi bilateral atau dengan pemberian
antiesterogen, seperti tamoksifen atau aminoglutetimid.
Terapi hormon diberikan sebagai ajuvan kepada pasien
pascamenopause yang uji reseptor esterogennya positif dan pada
pemeriksaan histopatologik ditemukan kelenjar aksila yang berisi metastasis.
Obat yang dipakai adalah sediaan antiesterogen tamoksifen; kadang
menghasilkan remisi selama beberapa tahun. Esterogen tidak dapat
diberikan karena efek samping terlalu berat.1
J. PROGNOSIS
Faktor-faktor:2
1. Besarnya tumor primer
2. Banyaknya/ besarnya kelenjar aksila yang positif
3. Fiksasi ke dasar tumor primer
4. Tipe histologik tumor atau invasi ke pembuluh darah
5. Tingkatan tumor anaplastik
6. Umur atau keadaan menstruasi penderita
7.Kehamilan

Tingkat penyebaran secara klinik1 Ketahanan hidup


lima tahun (%)
I T1 N0 M0 (kecil, terbatas pada mamma) 85

II T2 N1 M0 (tumor lebih besar, kelenjar terhinggapi 65


tetapi bebas dari sekitarnya)
III T0-2 N2 M0 40
T3 N1-2 M0
(kanker lanjut dan penyebaran ke kelenjar lanjut,
tetapi semuanya terbatas di lokoregional)
IV T(semua) N(semua) M1(tersebar di luar 10
lokoregional)

Lokoregional dimaksudkan untuk daerah yang meliputi struktur dan


organ tumor primer, serta pembuluh limf, daerah saluran limf dan kelenjar limf
dari struktur atau organ yang bersangkutan. 1

Ad vitam dubia ad malam


Ad fungsionam dubia ad malam
Ad sanasionam dubia ad malam
BAB III
PENUTUP

Ca Mammae menduduki tempat nomor dua dari insidens semua tipe


kanker di Indonesia. Umur penderita terbanyak berumur 40-49 tahun.
Yang memiliki resiko tertinggi adalah wanita yang memiliki faktor
herediter dan infertil.
Pemeriksaan penunjang dapat dikatakan sangat membantu. Dengan
pemeriksaan penunjang seperti mammografi, USG dan sitologi FNAB dapat
diketahui letak, besar, jenis tumor, penyebaran, perencanaan terapi dan
prognosis.
DAFTAR PUSTAKA

1. Manuaba TW. 2005. De Jong W, Sjamsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu


Bedah. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal: 388-402
2. Wiknjosastro H. Ilmu Kandungan. Edisi kedua. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2006. Hal: 486-494
3. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006. Hal: 49-50
4. Mansjoer A et al. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III.
Jakarta: Media Aesculapius; 2005. Hal: 287
5. Rasad S. Radiologi Diagnostik. Edisi kedua. Jakarta: balai Penerbit
FKUI; 2006. Hal: 514-516
6. Sibernagl S, Lang F. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007. Hal: 16-17