Anda di halaman 1dari 20

PENYUSUNAN PETA LAHAN KRITIS KAWASAN LINDUNG HUTAN DAS

(DAERAH ALIRAN SUNGAI) CITARUM DAN PENENTUAN LAHAN KRITIS


Ayang Fitri1), Krisdayanti1), Lidya Astu Widyanti1), Muhammad Adi Rini1), Muhamad Eki Nugraha1), Theo
Syamuda1)
1)
Program Studi Rekayasa Kehutanan, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati
Institut Teknologi Bandung
E-mail: adirinim@gmail.com

Abstrak : Penetapan lahan kritis mengacu pada penilaian kekritisan lahan yang akan bergantung pada
fungsi lahan yang terbagi dalam tiga fungsi. Kekritisan lahan pada fungsi kawasan lindung dapat dinilai
berdasarkan aspek tutupan lahan, kelerengan lahan, tingkat erosi, dan manajemen lahan. Pada jurnal ini, kami
melakukan analisis seluruh kabupaten yang ada di kawasan DAS (Daerah aliran Sungai) Citarum, maka data
kawasan DAS Citarum diklasifikasikan ke dalam tingkat- tingkat lahan kritis tertentu. Terdapat 5 tingkatan
lahan kritis yaitu Tidak Kritis, Potensial Kritis, Agak Kritis, Kritis, dan Sangat Kritis. Proses penentuan tersebut
dapat dibantu dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dapat memberikan informasi
spasial untuk dapat menyajikan data dalam bentuk peta yang mampu memberikan informasi lebih akurat
dibandingkan dengan bentuk data lainnya. Jurnal ini bertujuan untuk menentukan sebaran dan luas wilayah
lahan kritis berdasarkan tingkat kekritisan kawasan hutan lindung DAS Citarum
Kata kunci : tutupan lahan, kelerengan lahan, tingkat erosi, manajemen lahan

Abstract : Determination of critical land refers to land that criticality assessment will depend on the
function of land is divided into three functions. Criticality of land in protected areas function can be evaluated
based on land cover, slope steepness, erosion rates, and land management. In this paper, we perform the analysis
of entire districts in the region Citarum, then the data area of Citarum classified into levels of certain critical
areas. There are 5 levels of degraded land that is Not Critical, Critical Potential, Somewhat Critical, Critical, and
Very Critical. The determination process can be aided by using Geographic Information System (GIS) that can
provide spatial information to be able to present the data in map form that is capable of providing more accurate
information than the other data forms. This journal aims to determine the distribution and the area of degraded
lands based on the degree of criticality of protected forest areas Citarum
Keywords : land cover, slope steepness, erosion rates, land management

PENDAHULUAN kriteria menurut SK Dirjen RRL No.


Upaya perbaikan kondisi lingkungan 041/Kpts/V/1998 tanggal 21 April 1998)
melalui program Rehabilitasi Hutan dan Lahan hanya berupa data atribut, sehingga
(RHL) akan dapat terlaksana dengan baik distribusinya secara spasial tidak dapat
apabila informasi obyektif kondisi hutan dan diketahui. Hal tersebut berakibat pada sulitnya
lahan sasaran RHL dapat teridentifikasi secara sinkronisasi program RHL yang bersifat
menyeluruh (Nugraha 2008). Penyediaan data multisektor, mengingat analisa spasial
dan informasi tersebut sangat diperlukan merupakan salah satu main tool dalam
terutama dalam menunjang formulasi strategi sinkronisasi program multisektor.
RHL yang berdayaguna, sehingga diharapkan Penetapan lahan kritis mengacu pada
dapat diperoleh acuan dalam pengalokasian penilaian kekritisan lahan yang akan
sumberdaya secara proporsional. Dengan bergantung pada fungsi lahan yang terbagi
demikian diharapkan tercipta daya dukung dalam tiga fungsi. Kekritisan lahan pada
sumberdaya hutan dan lahan yang optimal dan fungsi kawasan lindung dapat dinilai
lestari bagi kesejahteraan manusia. Data lahan berdasarkan aspek tutupan lahan, kelerengan
kritis yang saat ini telah tersedia di lahan, tingkat erosi, dan manajemen lahan.
Departemen Kehutanan dan dalam beberapa Proses penentuan tersebut dapat dibantu
kesempatan disampaikan kepada berbagai dengan menggunakan Sistem Informasi
pihak dan masyarakat (ditetapkan berdasarkan Geografis (SIG) yang dapat memberikan
informasi spasial untuk dapat menyajikan data data dilakukan di kawasan kampus ITB
dalam bentuk peta yang mampu memberikan Jatinangor, di laboraturium komputer ITB
informasi lebih akurat dibandingkan dengan Jatinangor dan gedung Asrama ITB Jatinagor
bentuk data lainnya. Aspek-aspek penilaian TB 2 yang terletak di Jl. Let. Jen. Purn. Dr.
yang akan menentukan tingkat kekritisan lahan (HC) Mashudi no.1 Jatinangor, Sumedang,
terdiri dari data spasial maupun non-spasial. Jawa Barat.
(Dalimunthe, 2011). Pada Praktikum Sistem
Infomasi Geografis ini perlu dilakukan Tugas Langkah Kerja
Besar untuk penyusunan data spasial lahan Hal pertama yang dilakukan dalam
kritis, dan penentuan persebarannya. pembuatan peta lahan kritis kawasan hutan
Tujuan dari pembuatan jurnal ini adalah lindung adalah kita mengambil data raster
menentukan sebaran dan luas wilayah lahan DAS (Daerah Aliran Sungai Citarum) yang
kritis berdasarkan tingkat kekritisan kawasan berasal dari website United States Geological
hutan lindung DAS Citarum. Survey, yaitu earthexplorer.usgs.gov.us. Data
yang diambil adalah data landsat 8, sehingga
METODOLOGI dipilih OLI/TIRS. Untuk daerah DAS Citarum
Alat dan Bahan ada 3 file yang perlu didownload sehingga
Alat yang digunakan dalam pembuatan seluruh wilayah DAS kelompok dua dapat
peta lahan kritis kawasan hutan lindung adalah tercover.
Laptop disertai software ArcGIS 10.3 Ketiga file yag didapat dari USGS dapat
(Software pembuat peta lahan kritis kawasan disatukan dengan program ENVI, namun
hutan lindung) dan dikung oleh software sebelumnya data yang sudah didownload
Global Mapper, Google Earth, serta ENVI. dilakukan ekstraksi. Tugas besar ini
Bahan data spasial yang akan diolah pada membutuhkan data tiga band untuk membuat
praktikum ini adalah data dari Citra Landsat 8 citra natural color sehingga yang perlu diolah
OLI TIRS yang diambil pada tanggal 10 adalah band 4, band 3, dan band 2. Pekerjaan
September 2013, path 122 dan row 65, yang menyatukan band dari ketiga data dapat
bersumber dari earthexplorer.usgs.gov.us dilakukan dimulai dari band 4. Data band 4
dengan resolusi 30m, kriteria lainnya yaitu, untuk data pertama dibuka sebagai file ADS40
persen awan 10%, data set L8 OLI/TIRS dalam aplikasi ENVI, kemudian dapat dibuka
(raster); Digital Elevation Model SRTM juga untuk data kedua dan ketiga. Setelah
resolusi 30 meter (raster); peta kajian DAS semua terbuka maka Seamless Mosaic Tool
Citarum; peta batas Jawa Barat; peta diaktifkan, Input ketiga band 4 dan crop
administrasi Jawa Barat; peta DAS Jawa Barat bagian DAS yang diperlukan agar
bagian kelompok 2 (DAS Citarum); peta memperkecil data yang nantinya akan diolah
erosivitas Jawa Barat; peta erodibilitas Jawa dalam ArcMap. Setelah disimpan dengan
Barat; peta solum tanah Jawa Barat; peta format geotiff, maka data dibuka dalam Global
kawasan lindung hutan Jawa Barat; peta Mapper. Dalam global mappaer data
landsystem Jawa Barat; tabel manajemen dihapuskan background yang merupakan layer
kawasan lindung hutan Jawa Barat serta table selain DAS kelompok dua dan disimpan dalam
manajemen kawasan lindung berbentuk data format TIFF. Langkah yang sama akan
excel. dibutuhkan untuk memperoleh gambar DAS
band 3 maupun band 2.
Waktu dan Deskripsi Lokasi Apabila semua data yang dibutuhkan
Pengolahan data praktikum Sistem telah didapatkan maka kita dapat memulai
Informasi Geografis ini dilaksanakan pada untuk membuat peta lahan kritis kawasan
tanggal 17 November 2015 hingga 24 hutan lindung DAS Citarum, gambaran umum
November 2015. Lokasi dalam pengolahan
pembuatan peta dapat dilihat pada gambar 2 dan secara rinci terdapat pada lampiran B.

Gambar 1. Langkah Kerja Secara Umum

a) Peta Kemiringan Lahan penutupan tajuk pohon terhadap luas setiap


Peta kelerengan dapat diperoleh melalui land system (menurut RePPProT) dan
analisis terrain. Peta kemiringan lahan dibuat diklasifikasikan menjadi lima kelas sesuai
dengan digunakannya data kontur atau DEM dengan tabel 2 lampiran A, kemudia hasil
(Digital Elevation Model) bagian jawa barat. klasifikasi dan peta landsystem DAS Citarum
Data DEM jawa barat kemudian dipotong dilakukan analisis superposisi (Overlay)
dengan digunakannya fitur clip raster sesuai dengan cara Intersect atau Union pada
dengan wilayah DAS (Daerah Aliran Sungai) ArcToolbox. Masing – masing kelas penutupan
Citarum. Kemudian dilakukan analisis lahan selanjutnya diberi skor untuk keperluan
kelerengan pada data raster tersebut dengan penentuan lahan kritis sesuai tabel 2 lampiran
menggunakan analisis spasial kelerengan yang A.
terdapat pada ArcToolbox. Setelah dilakukan
analisis kelerengan, kelas kelerengan dibagi c) Peta Manajemen Kawasan
menjadi 5 dengan menggunakan fitur Manajemen merupakan kriteria yang
reclassify pada ArcToolbox sesuai tabel 1 digunakan untuk lahan kritis di kawasan hutan
lampiran A serta diubah dari raster ke polygon lindung dinilai. Peta manajemen kawasan
agar data tesebut dapat dilakukan analisis dibuat dengan digunakannya peta administrasi
superposisi (Overlay) dan juga diberikan skor Jawa Barat yang kemudian dipotong sesuai
sesuai dengan tabel 1 lampiran A dan bobot dengan wilayah DAS Citarum. Kemudian
sesuai tabel 6 lampiran A sesudah dipotong dilakukan penyatuan data
peta dengan data manajemen kawasan yang
b) Peta Penutupan Lahan berupa kelengkapan aspek pengelolaan wilyah
Peta penutupan lahan dibuat dengan meliputi keberadaan tata batas kawasan,
menggunakan data raster yang berasal dari pengamanan dan pengawasan serta
landsat 8 yang berupa kombinasi band 4, 3 dan dilaksanakan atau tidaknya penyuluhan. Sesuai
2 yang berupa natural color dan membentuk dengan karakternya, data tersebut merupakan
peta wilayah DAS Citarum yang berupa raster. data atribut. Kemudian data peta Kawasan
Dari data raster tersebut dilakukan klasifikasi Administrasi Kawasan DAS Citarum
terawasi (supervised) wilayah hutan dan bukan disatukan dengan menggunakan fitur join tabel
hutan kemudian akan terlihat wilayah kepada data atribut yang berupa data
penutupan lahan hutan dan juga diubah dari manejemen kawasan. Setelah itu dilakukan
raster ke polygon. Parameter penutupan lahan skoring sesuai dengan tabel 3 lampiran A.
hutan dinilai berdasarkan persentase
d) Peta Bahaya Erosi 3) Peta Erodibilitas
Ketika membuat peta bahaya erosi ada Penghitung nilai erodibilitas dapat
beberapa komponen peta yang diperlukan dilakukan ketika nilai K diperoleh. Peta
yaitu petaa erosi dan peta solum tanah. Peta erodobilitas yang kita gunakan nilai K sudah
erosi (Model Usle) dibentuk oleh peta dimiliki. Cukup dilakukan pemotongan
pengelolaan lahan, peta erosivitas, peta wilayah sesuai DAS Citarum.
erodibilitas dan peta kemiringan lahan dengan
menggunakan analisis spasial superposisi 4) Peta Kemiringan Lahan
(Overlay) dan setelah itu dilakukan lagi Sama dengan peta kemiringan lahan
analisis spasial superposisi (Overlay) dengan sebelumnnya hanya saja dilakukan pembagian
peta solum tanah Jawa Barat kemudian kelas yang berbeda sesuai dengan tabel 7
dilakukan skoring sesuai dengan tabel 4 lampiran A.
lampiran A.
Apabila keempat peta tersebut sesudah
Secara deskriptif, model USLE dibentuk, nilai Ea (Banyaknya tanah tererosi
diformulasikan sebagai berikut: per satuan luas per satuan waktu
𝐸𝑎 = 𝑅 × 𝐾 × 𝐿𝑆 × 𝐶 × P (ton/ha/tahun)) dihitung dengan rumus yang
dengan sudah ada.Setelah itu Peta Erosi yang sudah
Ea = banyaknya tanah tererosi per satuan terbentuk dilakukan penggabungan dengan
luas per satuan waktu (ton/ha/tahun) peta solum tanah dengan cara analisis spasial
R = indeks erosivitas hujan dan aliran superposisi (Overlay) dapat dilakukan dengan
permukaan fitur yang terdapat pada ArcToolboox yaitu
K = indeks erodibilitas (kepekaan) tanah Union atau Intersect. Kemudian dilakukan
LS = faktor panjang-kemiringan lereng klasifikasi kelas tingkat bahaya erosi
C = faktor tanaman penutup lahan dan berdasarkan tabel 7 lampiran A.
pengelolaan tanaman
P = faktor tindakan khusus konservasi e) Peta Lahan Kritis
tanah Dalam membuat peta lahan kritis kawasan
hutan lindung dilakukan beberapa tahap
1) Peta Pengelolaan Lahan pembuatan peta (Empat Komponen Peta),
Peta pengelolaan dibentuk oleh peta seperti pembuatan peta kemiringan lahan,
tutupan lahan yang diklasifikasikan menjadi 6 penutupan lahan, peta manajemen kawasan
kelas yaitu air, awan, hutan, bangunan, lahan dan peta bahaya erosi serta pengambiian data
terbuka dan sawah. Kemudian dilakukan raster peta kawasan das citarum melalui
penilaian tingkat pengelolaan lahan landsat 8. Kemudian empat komponen tersebut
berdasarkan tingkat pengelolaan baik atau disatukan dengan cara analisis spasial
buruk sesuai dengan tabel 8 lampiran A dapat superposisi (Overlay) setelah itu dilakukan
dilakukan dengan cara menggunakan skoring sesuai dengan bobot masing masing
pengecekan menggunakan software Google yang dapat dilihat pada tabel 5 pada lampiran
Earth. A. Sehingga semua komponen harus diubah
terlebih dahulu menjadi data vektor apabila
2) Peta Erosivitas berasal dari data raster.
Penghitung nilai erosivitas dapat dengan
mudah dilakukan ketika nilai R sudah f) Peta Lahan Kritis Kawasan Hutan
diperoleh. Peta Erosivitas yang kita gunakan Lindung
nilai R sudah dimiliki. Cukup dilakukan Apabila Empat Komponen Peta Lahan
pemotongan wilayah sesuai DAS Citarum. Kritis telah terbentuk maka Peta Lahan kritis
Kawasan Hutan Lindung harus dibuat dengan
cara melakukan analisis spasial superposisi
(Overlay) yang berupa Intersect antara Peta HASIL DAN PEMBAHASAN
Lahan Kritis yang telah kita buat dengan Peta
Kawasan Hutan Lindung yang ada di Jawa Hasil
Barat. Setelah itu akan terbentuk Peta Lahan a) Sebaran Lahan Kritis
Kritis Kawasan Hutan Lindung Das Citarum, Hasil dari pembuatan peta lahan kritis
dan lakukan klasifikasi tingkat lahan kritis kawasan lindung hutan DAS Citarum dapat
sesuai skor total dari setiap wilayah sesuai dilihat pada Gambar 1.
dengan tabel 6 lampiran A.

Gambar 2. Peta Lahan Kritis Kawasan Lindung Hutan DAS Citarum


Pada peta lahan kritis kawasan lindung kawasan lindung hutan DAS Citarum dapat
hutan DAS Citarum, dapat dilihat bahwa lahan dilihat pada lampiran C.
kritis mencakup hampir seluruh wilayah
lindung hutan seperti Sukabumi, Sumedang, b) Luasan Lahan Kritis
Bogor, Purwakarta, Garut, Bandung, Cianjur, Untuk luasan lahan kritis kawasan
Subang, Karawang dan Bekasi. Pada daerah hutan lindung pada setiap wilayah administrasi
daerah tersebut juga terdapat lahan yang dapat dilihat pada tabel 1.
sangat kritis (berwarna orange muda), kecuali
daerah Sukabumi, Bogor Dan Cianjur. Pada Tabel 1. Luas Lahan Kritis Berdasarkan
kawasan lindung hutan yang berada pada DAS Tingkat Kritis dan Wilayah Administrasi
Citarum tersebut sebagian besar merupakan No.
Wilayah
Tingkat Kritis
Luasan
(Kabupaten/Kota) (Hektar)
lahan yang berpotensi menjadi kritis, yang
1 BOGOR Potensial Kritis 671,21
terlihat pada peta berwarna orange tua.
2 BOGOR Agak Kritis 1511,96
Komponen peta penyusun peta lahan kritis
3 BOGOR Kritis 159,27
Tingkat Kritis Luas Wilayah
4 BOGOR Sangat Kritis 0,11 (Hektar)
5 BANDUNG Tidak Kritis 1451,68 Tidak Kritis 1940,83
6 BANDUNG Potensial Kritis 40622,27 Potensial Kritis 54008,97
7 BANDUNG Agak Kritis 14266,98 Agak Kritis 29488,32
8 BANDUNG Kritis 3542,11 Kritis 8829,12
9 BANDUNG Sangat Kritis 6,27
Sangat Kritis 14,68
10 KOTA BANDUNG Potensial Kritis 9,65 Luas Total
94281,91
11 KOTA BANDUNG Agak Kritis 6,60 (Hektar)
12 BEKASI Agak Kritis 14,68

13 BEKASI Kritis 2589,27


Seluruh kabupaten yang ada di kawasan
14 CIANJUR Tidak Kritis 489,15
DAS Citarum dimasukkan ke dalam tingkat-
tingkat lahan kritis tertentu. Terdapat 5
15 CIANJUR Potensial Kritis 8797,68
tingkatan lahan kritis yaitu Tidak Kritis,
16 CIANJUR Agak Kritis 5081,24
Potensial Kritis, Agak Kritis, Kritis, dan
17 CIANJUR Kritis 2012,21
Sangat Kritis. Lahan dengan tingkat potensial
18 CIANJUR Sangat Kritis 4,97
kritis merupakan lahan yang paling luas di
19 SUKABUMI Potensial Kritis 185,44
wilayah DAS Citarum dengan luas total
20 SUKABUMI Agak Kritis 11,29
54008.97 ha. Diikuti lahan agak kritis dengan
21 SUKABUMI Kritis 8,28 luas total 29488.32 ha, lahan kritis dengan luas
22 SUKABUMI Sangat Kritis 0,20 8829.12, tidak kritis dengan luas 1940.83, dan
23 GARUT Potensial Kritis 681,09 sangat kritis 14.68 ha.
24 GARUT Agak Kritis 361,92 Dikarenakan banyaknya lahan yang
25 GARUT Kritis 10,80 bertingkat potensial kritis, maka diperlukan
26 SUMEDANG Potensial Kritis 1949,91 penanganan khusus terhadap lahan- lahan
27 SUMEDANG Agak Kritis 1302,66
tersebut. Lahan dengan potensial kritis berarti
28 SUMEDANG Kritis 344,80
lahan tersebut masih normal namun memiliki
29 SUMEDANG Sangat Kritis 0,53
potensi yang besar untuk menjadi rusak atau
kritis. Pengawasan berbasis spasial menjadi
30 SUBANG Potensial Kritis 28,57
kunci utama agar lahan yang belum kritis ini
31 SUBANG Agak Kritis 42,25
tidak berubah menjadi kritis. Pengamanan dan
32 SUBANG Kritis 4,51
penjagaan langsung terhadap vegetasi yang
33 PURWAKARTA Potensial Kritis 1052,52
ada juga perlu dilakukan secara langsung di
34 PURWAKARTA Agak Kritis 2797,18
lapangan. Pengamanan dan penjagaan dapat
35 PURWAKARTA Kritis 145,33
dilakukan oleh masyarakat setempat yang
36 PURWAKARTA Sangat Kritis 2,58 diperdayakan oleh pemerintah maupun pihak
37 KARAWANG Agak Kritis 4091,57 berwajib seperti polisi hutan.
38 KARAWANG Potensial Kritis 10,63 Luas lahan sangat kritis merupakan
39 KARAWANG Kritis 12,54 luasan terkecil yang terdapat di kawasan DAS
Citarum. Hal ini menjadi baik mengingat lahan
Untuk luasan lahan kritis hanya sangat kritis adalah lahan yang paling tidak
berdasarkan kelas lahan kritis dapat dilihat diinginkan dalam pengelolaan DAS Citarum.
pada tabel 2. Oleh karena itu diperlukan penanganan khusus
agar lahan yang berstatus sangat kritis ini
Tabel 2. Luas Wilayah Lahan Kritis Sesuai dapat diturunkan tingkat kekrtitisannya
Tingkatan/Kelas menjadi tidak kritis. Hal ini dapat dilakukan
dengan berbagai cara seperti revegetasi.
paling besar terhadap lahan kritis sesuai
Pembahasan dengan pengertian lahan kritis. Menurut
a) Pembahasan Metode Poerwowidodo (1990) lahan kritis adalah
Berdasarkan Permenhut Nomor suatu keadaan lahan yang terbuka atau
P.32/Menhut-II/2009, untuk menentukan peta tertutupi semak belukar, sebagai akibat dari
lahan ktitis diperlukan parameter sebagai solum tanah yang tipis dengan batuan
berikut : bermunculan dipermukaan tanah akibat
1. Penutupan lahan tererosi berat dan produktivitasnya rendah.
2. Kemiringan lereng Parameter kemiringan memiliki bobot
3. Tingkat bahaya erosi sebesar 20% karena panjang lereng, bentuk
4. Produktivitas dan arah lereng dapat mempengaruhi
5. Manejemen terjadinya erosi yang merupakan cikal-bakal
terjadinya lahan kritis. Panjang lereng dihitung
Pembuatan peta lahan kritis untuk mulai dari titik pangkal aliran permukaan
kawasan hutan lindung pada praktikum kali ini sampai pada suatu titik dimana air masuk
ditentukan oleh beberapa parameter seperti kedalam saluran atau sungai atau kemiringan
penutupan lahan, kelerangan, manajemen dan lereng yang berkurang sehingga kecepatan
tingkatan bahaya erosi yang terdiri dari indeks aliran air berubah (Arsyad,1989).
erosivitas hujan, indeks erodibilitas tanah, Parameter tingkat bahaya erosi memiliki
faktor panjang-kemiringan lereng, faktor bobot sebesar 20% karena salah satu yang
pengelolaan. Bobot dari masing-masing tiap dapat menimbulkan degradasi tanah adalah
parameter berbeda-beda, bobot untuk erosi.Menurt Saried (1985) erosi adalah proses
kemiringan lahan sebesar 20%, bobot untuk pengikisan lapisan tanah dipermukaan sebagai
penutupun lahan sebesar 50%, bobot unutk akibat dari tumbukan butir hujan dan aliran air
manajemen kawasan sebesar 10%, bobot untuk di permukaan.
tingkat bahaya erosi sebesar 20%. Pada
praktikum kali ini tidak menggunakan b) Pembahasan Hasil
paremeter produktivitas, karena data ini Berdasarkan peraturan perundangan yang
biasanya dipergunakan unutk menilai ke ada, diantaranya Undang-Undang No. 41/1999
kritisan lahan di kawasan budidaya pertanian. pasal 1, hutan lindung didefinisikan sebagai
Penyusunan data spasial lahan kritis dapat kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
dilakukan apabila parameter tersebut di atas sebagai perlindungan sistem penyangga
sudah disusun terlebih dahulu. Data spasial kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah
untuk masing-masing parameter harus dibuat banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi
dengan standar tertentu guna mempermudah air laut dan memelihara kesuburan tanah.
proses analisis spasial untuk menentukan lahan Mengacu pada fungsi dari kawasan lindung
kritis. Standar data spasial untuk masing- hutan yang disebutkan pada Undang-Undang
masing parameter meliputi kesamaan dalam tersebut, maka apabila kawasan lindung hutan
sistem proyeksi dan sistem koordinat yang tersebut rusak maka secara otomatis fungsi-
digunakan serta kesamaan data atributnya. fungi hutan lindung tersebut hilang. Daerah
Sistem proyeksi dan sistem koordinat data daerah yang berada di sekitar kawasan lindung
spasial yang digunakan adalah Geografi hutan akan terkena dampaknya, seperti,
(lintang/latitude dan bujur/longitude). kekeringan pada saat kemarau, banjir pada saat
Paremeter penutupan lahan sebagai hujan, dan terkena longsor, mengingat
parameter penentu lahan kritis memiliki bobot ketentuan kelerengan kawasan untuk kawasan
yang paling besar diantara paremeter lain, hal lindung hutan menurut PP 44/2004 tentang
ini disebabkan karena penutupan lahan Perencanaan Kehutanan dan Keppres No.
memberikan efek langsung atau efek yang 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan
Lindung adalah 40 % atau lebih. Selain itu zat hara alinnya selalu terkikis ketika hujan
untuk daerah kawasan pantai maka akan dating. Oleh karena itu lahan yang kritis akan
terkena intrusi air laut. Berkaitan dengan sangat sulit untuk bersuksesi secara alami.
kesuburan tanah, dengan rusaknya kawasan Peta manajemen lahan hutan dapat kita
lindung hutan akan menyebabkan run off manfaatkan untuk mencari tahu apakah suatu
ketika hujan yang berakibat topsoil terkikis wilayah hutan lindung dikelola oleh baik atau
dan pada daerah yang terkana run off terjadi tidak, indikator yang dipakai adalah ada
penimbunan tanah serta materi lain yang tidaknya tanda batas kawasan, pengamanan
menghalangi topsoil lahan yang digunakan. pengawasan, dan penyuluhan. Kawasan yang
Maka dari itu akan mengganggu pada memiliki indicator tersebut merupakan
pertanian warga sekitar dan lebih jauhnya akan kawasan yang baik dan akan lebih mudah
berakibat pada masalah ekonomi masyarakat untuk direhabilitasi lahan kritisnya. Perbaikan
sekitar kawasan lindung hutan. lahan kritis dapat dilakukan dengan berbagai
Peta lahan kritis yang kami buat didapat cara, penanaman lahan dengan biota- biota
dari beberapa peta yang digabungkan dengan tumbuhan asli kawasan adalah salah satunya.
presentase pembobotan tertentu. Peta Suatu kawasan tidak akan mudah tererosi jika
kemiringan lahan bernilai 20%, peta ada vegetasi diatasnya. Vegetasi yang ada
penutupan lahan bernilai 50%, peta akan menopang tanah bagian atas yang
manajemen kawasan bernilai 10%, dan peta biasanya terkikis untuk tidak berpindah.
tingkat bahaya erosi benilai 20 %. Oleh karena Jika lahan tersebut tidak ditumbuhi
itu dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud vegetasi sama sekali, maka perlu dilakukan
kawasan kritis pada peta lahan kritis adalah suseksi buatan yang dikontrol. Manajemen
kawasan yang memiliki kemiringan tinggi, lahan suseksi harus diperhatikan dan
penutupan lahan rendah, manajemen kawasan dilaksanakan dengan benar agar terciptanya
yang rendah, dan memiliki tingkat bahaya vegetasi yang dapat mencegah erosi tersebut.
erosi yang tinggi. Potensi- potensi berbahaya Jika lahan tersebut sudah ditumbuhi oleh
yang dapat terjadi di lahan kritis adalah tanah vegetasi yang ringan seperti herba atau perdu-
longsor, rusaknya ekosistem, gundulnya hutan, perduan, maka penghijauan dengan tanaman
terkikisnya zat hara di permukaan tanah, pohon merupakan langkah yang harus
kesulitan terjadinya suksesi alami, dan dilakukan.
sebagainya. Lahan yang sangat miring akan Vegetasi yang nantinya berada pada lahan
mengakibatkan run off lebih mudah terjadi, kritis juga membantu agar lahan tersbut tidak
dan run off akan diperparah jika tidak ada longsor, tanah secara kolektif dapat tertahan
tutupan lahan yang menaunginya. oleh akar- akar pohon yang kokoh.
Jenis tanah yang ada di kawasan suatu Kemungkinan akan terjadinya longsor lebih
wilayah juga mempengaruhi potensi besar besar pada lahan dengan kemiringan yang
tidaknya erosi yang dapat terjadi. Tanah tinggi sehingga tanah dengan kemiringan
alluvial misalkan, adalah tanah yang tidak tinggi menjadi prioritas untuk dilakukan
peka terhadap erosi, sedangkan tanah regosol rehabilitasi.
adalah tanah yang sangat peka terhadap erosi. Diharapkan dengan dilakukannya suseksi
Ekosistem yang berada di dalam lahan kritis buatan maupun penghijauan oleh pohon,
biasanya merupakan ekosistem yang rusak. didapat lahan yang sehat kembali dengan
Vegetasi tidak dapat tumbuh karena tanah vegetasi yang sehat pula.
yang ada selalu terkikis sehingga tidak dapat
menopang akar tumbuhan semai. Hal lain yang KESIMPULAN
juga berperan adalah tidak adanya nutrisi yang Peta lahan kritis kawasan hutan lindung
cukup bagi tumbuhan yang ingin tumbuha di DAS Citarum dapat dilihat pada gambar 2.
kawasan tersebut, dikarenakan oleh mineral
Luas wilayah sebesar 94281,91 ha dan dibagi Pengelolaan Kawasan LindungUndang-
menjadi 5 tingkatan/kelas. Undang No. 41/1999 pasal 1
Lahan dengan tingkat potensial kritis
merupakan lahan yang paling luas di wilayah
DAS Citarum dengan luas total 54008.97 ha.
Diikuti lahan agak kritis dengan luas total
29488.32 ha, lahan kritis dengan luas 8829.12,
tidak kritis dengan luas 1940.83, dan sangat
kritis 14.68 ha. Dikarenakan lahan potensial
kritis paling besar agar tidak terjadi
peningkatan kelas perlu adanya tindakan
pengamanan dan penjagaan langsung terhadap
vegetasi yang ada juga perlu dilakukan secara
langsung di lapangan. Pengamanan dan
penjagaan dapat dilakukan oleh masyarakat
setempat yang diperdayakan oleh pemerintah
maupun pihak berwajib seperti polisi hutan

SARAN
Saran dalam pembuatan peta lahan kritis
dalam tahap pembuatan peta pengelolaan
lahan dalam menilai pengelolaan lahan dapat
dilakukan dengan survey langsung kelapangan
tidak menggunakan software google earth agar
hasil yang didapatkan lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad S., 1989. Konservasi Tanah dan Air.
IPB Press, Bogor.
Dalimunthe, Jannatul Laila. 2011. Penentuan
Tingkat Kekritisan Lahan Daerah
Aliran Sungai Bilah Di Kabupaten
Labuhan Batu. Jurusan Kehutanan,
Fakultas Pertanian, Universitas
Sumatera Utara.
Dr. Ir. E. Saifuddin Sarief. (1985). Konservasi
Tanah dan Air. Bandung: PT. Pustaka
Buana.
Nugraha S., 2008. Penggunaan Metode Fuzzy
Dalam Penentuan Kekritisan Lahan
Dengan Menggunakan Sistem
Informasi Geografis Di Daerah Subdas
Cipeles. Makalah.
Poerwowidodo. 1990. Gatra Tanah dalam
Pembangunan Hutan Tanaman di
Indonesia,Rajawali Press, Hal 104-105
PP 44/2004 tentang Perencanaan Kehutanan
dan Keppres No. 32/1990 tentang
LAMPIRAN A

TABEL SKORING DARI SETIAP JENIS PETA

Tabel 1. Skoring Pada Peta Kemiringan Lahan

Tabel 2. Skoring Pada Peta Penutupan Hutan

𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑑𝑠𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚 (𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑇𝑢𝑡𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑇𝑎𝑗𝑢𝑘 𝑃𝑎𝑑𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑑𝑠𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚)


= 𝑃𝑟𝑒𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑡𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑇𝑎𝑗𝑢𝑘 (%)
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐿𝑎𝑛𝑑𝑠𝑦𝑡𝑒𝑚

Tabel 3. Skoring Pada Peta Manajemen Kawasan

Tabel 4. Skoring Pada Peta Bahaya Erosi


Tabel 5. Skoring Pada Peta Lahan Kritis Kawasan Lindung Hutan

Tabel 6. Skoring Penilaian Tingkat Peta Lahan Kritis

Total Skor Tingkat Lahan Kritis

120-180 Sangat Kritis

181-270 Kritis

271-360 Agak Kritis

361-450 Potensial Kritis

450-500 Tidak Kritis


Tabel 7. Kemiringan Peta Pengelolaan Lahan

Kemiringan Lereng
LS
0–5 0,25
5 – 15 1,20
15 – 35 4,25
35 – 40 9,50
>40 12

Tabel 8. Penentuan Nilai CP

Kode B TA Tata Guna Lahan Kemiringan B aik B uruk

0-2 0.05000 0.05000

2 - 15 0.05000 0.05000

15 - 40 0.05000 0.05000
Settlement area (Kawasan
1
pemukiman) > 40 0.05000 0.05000

0-2 0.01000 0.01000

2 - 15 0.01000 0.01000

15 - 40 0.01000 0.01000
Irrigated agriculture
2
> 40 0.01000 0.01000
(Sawah)
0-2 0.04450 0.31000

2 - 15 0.06250 0.33000

15 - 40 0.09550 0.36000
Non-irrigated agriculture
3
> 40 0.13650 0.44000
(Tegalan)
0-2 0.00450 0.22500

2 - 15 0.01040 0.25400

15 - 40 0.01990 0.28600
Estates and plantations
4
> 40 0.03380 0.32000
(Perkebunan)
0-2 0.02230 0.15500

2 - 15 0.03130 0.16500

15 - 40 0.04780 0.19800
5 Mixed gardens (Kebun)
> 40 0.06830 0.22000
6 Natural forest (Hutan alam) 0-2 0.00020 0.00050

Kode B TA Tata Guna Lahan Kemiringan B aik B uruk

2 - 15 0.00050 0.00100

15 - 40 0.00100 0.00150

> 40 0.00100 0.00150

0-2 0.00100 0.00100

2 - 15 0.00100 0.00200

15 - 40 0.00200 0.00300
Production forest (Hutan
7
produksi) > 40 0.00200 0.00300

0-2 0.00100 0.00100

2 - 15 0.00150 0.00150

15 - 40 0.00200 0.00200
8 Shrub (Semak belukar)
> 40 0.00200 0.00200

0-2 0.00500 0.02000

2 - 15 0.01000 0.05000

15 - 40 0.02000 0.07000
9 Grassland (Padang rumput)
> 40 0.02000 0.07000

0-2 0.00000 0.00000

2 - 15 0.00000 0.00000

15 - 40 0.00000 0.00000
Swamps and ponds (Rawa
10
dan kolam) > 40 0.00000 0.00000

0-2 1.00000 1.00000

2 - 15 1.00000 1.00000

15 - 40 1.00000 1.00000
Unproductive land (Lahan
11
tidak produktif) > 40 1.00000 1.00000

0-2 0.00100 0.00100

2 - 15 0.00100 0.00100
1
15 - 40 0.00100 0.00100
2 Clouds (Awan) > 40 0.00100 0.00100

LAMPIRAN B

LANGKAH KERJA

Peta Manajemen Kawasan

Gambar 1. Langkah Kerja Peta Manajemen Kawasan

Peta Kemiringan Lahan

Gambar 2. Langkah Kerja Peta Kemiringan Lahan


Peta Penutupan Lahan

Gambar 3. Langkah Kerja Penutupan Lahan


Peta Bahaya Erosi

Gambar 4. Langkah Kerja Peta Baha Erosi

Peta Pengelolaan Lahan

Gambar 5. Langkah Kerja Peta Pengelolaan Lahan

Peta Erodibilitas dan Erosivias


Gambar 6. Langkah Kerja Peta Erodibilitas dan Erosivias

Peta Lahan Kritis

Gambar 7. Langkah Kerja Peta Lahan Kritis

Peta Lahan Kritis Kawasan Hutan Lindung

Gambar 8. Langkah Kerja Peta Lahan Kritis Kawasan Hutan Lindung


LAMPIRAN C

KOMPONEN PENYUSUN PETA LAHAN KRITISKAWASAN LINDUNG HUTAN DAS


CITARUM

Peta Manajemen

Gambar 1. Peta Manajemen

Peta Penutupan Lahan

Gambar 2. Peta Penutupan Lahan


Peta Pengelolaan Lahan

Gambar 3. Peta Pengelolaan Lahan

Peta Kemiringan dan Faktor Panjang

Gambar 4. Peta Kemiringan dan Faktor Panjang


Peta Bahaya Erosi

Gambar 5. Peta Bahaya Erosi