Anda di halaman 1dari 35

Biografi Singkat &Naskah Drama:

Yang Mulia Atisha Dipamkara SriJnana

Ditulis dalam rangka menyambut Waisak 2562 BE/2018, yang diselenggarakan


oleh PUBJ (Perkumpulan Umat Buddha Jambi) di Candi Muara Jambi

Atisha Dipamkara SriJnana Bertemu


Guru Swarnadwipa, Serlingpa
Dharmakirti
Ditulis oleh:

Suwardi, dkk.

(Kadam Choeling Jambi)

Wisak 2562 BE/ 2018

Jambi,Indonesia
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

DAFTAR ISI ii

KATA PENGANTAR iii-v

I. Biografi Yang Mulia Atisha 1-5


II. Analisis Teks 6-9
A. Batasan Naskah Drama 6
B. Unsur Intrinsik Drama 6-7
B.1. Tema 6
B.2. Tokoh dan Penokohon 6
B.3. Setting / latar 7
B.4. Plot / alur 7
B.5. Amanat 7
C. Pembuatan Naskah Drama 7-8
C.1. Teknik Dialog 7
C.2. Tipe Drama 7
C.3. Konflik Drama 8
C.4. Tujuan dan Manfaat Drama 8
C.5. Penetapan Babak dan Adegan 8
D. Implementasi Pementasan Drama 8-9
D.1. Kostum 8
D.2. Panggung 9
III. Naskah Drama (Wawancang dan Kramagung) 10-16
A. Babak 1 10-11
A.1. Adegan-1a 10
A.2. Adegan-1b 10-11
B. Babak 2 12-13
B.1. Adegan-2a 12
B.2. Adegan-2b 12-13
C. Babak 3 14-15
C.1. Adegan – 3a 14
C.2. Adegan – 3b 14-15
C.3. Adegan – 3c 15
D. Babak 4 16
D.1. Adegan-4a 16
D.2. Adegan-4b 16

DAFTAR RUJUKAN vi

LAMPIRAN vii-xix

A. Permohonan Kepada Guru Silsilah vii-ix


B. Pujian Kepada Guru Atisha x-xix
KATA PENGANTAR

Atisha (982-1054 M) dilahirkan pada keluarga kerajaan di kota Zahor dengan


nama Chandragarbha, adalah anak ke dua dari raja yang berkuasa di India
bagian timur yang sekarang adalah Bengal. Ayah beliau adalah Raja
Kalyanasri dan Ibu beliau adalah Sri Prabhawati. Saudara tua Atisa adalah
Padmagarbha dan yang terkecil adalah Srigarbha. Kerajaan tersebut
bernama Vikramapura. Pada catatan dari Tibet juga menginformasikan pada
kita bahwa tempat kelahiran Atisa adalah Bengal, negeri bagian dari India,
yang sekarang dikenal sebagai Bangladesh. Figur terkenal Buddhis
Mahayana dan Vajrayana pada abad ke -11 ini, dikenal dengan nama
pentashbisan kebhikuan: Atīśa Dīpaṃkara Śrījñāna , yang dalam bahasa
Bengali: অতীশদীপংকরশ্রীজ্ঞান; Tibetan: ཇོ་བོ་རྗེ་དཔལ་ལྡན་ཨ་ཏི་ཤ།; Mandarin: 燃燈吉祥智;
pinyin: Rándēng Jíxiángzhì). Karya penting beliau yang terkenal antara lain:
 Bodhipathapradīpa ( byang chub lam gyi sgron ma)
 Bodhipathapradhipapanjikanama ( byang chub lam gyi sgron ma)
 Charyasamgrahapradipa (mengandung versi kirtan)
 Satyadvayavatara
 Bodhisattvamanyavali
 Madhyamakaratnapradipa
 Mahayanapathasadhanasangraha
 Shiksasamuccaya Abhisamya
 Prajnaparamitapindarthapradipa
 Ekavirasadhana
 Vimalaratnalekha (sebuah surat dalam bahasa sangsekerta kepada
Nayapala, Raja Magadha)

Atisha sejak usia muda telah belajar Buddhis. Sebelum ditahbiskan menjadi
biksu, Atisa mencari guru untuk belajar Mahayana dan Tantra. Adalah
Vidyakokila Muda yang bernama Avadhutipa mengajarkan banyak Dharma
pada Atisa dan beliau tinggal bersama dengan guru ini selama 7 tahun. Pada
usia 29 tahun, Atisa ditahbiskan menjadi biksu oleh Silaraksa dari tradisi
Mahasamghika. Dipankara atau Dipankara Sri Jana adalah nama tahbis yang
diberikan oleh Silaraksa padanya. Dikatakan bahwa Atisa telah belajar pada
157 orang guru di India dan beliau menjadi seorang cendikiawan besar
Buddhis pada masa itu. Atisa mengenyam pendidikan di biara Nalanda, biara
Buddhis yang sangat terkenal waktu itu. Sistem pendidikan filosofis Buddhis
yang ketat dan mendalam akhirnya membentuk Atisa menjadi seorang
cendikiawan hebat. Atas petunjuk Tara, beliau berangkat ke Swarnadwipa
untuk memperoleh pelajaran tentang Bodhicitta pada Guru Dharmakirti. Dari
Gurunya Rahulagupta, Atisa menerima semua pelajaran tentang Tantra dan
mengintruksikan untuk menjadikan Maha Karunika sebagai Istadewata.

Apa yang membuat Atisa, seorang biksu yang sangat terpelajar bersusah
payah datang ke Sumatera untuk bertemu dengan Dharamkirti? Adalah
mengenai Dharma apa yang seharusnya dilatih oleh seseorang agar dapat
mencapai pencerahan dengan cepat, dan kesimpulan yang dicapai adalah
sama-beliau harus melatih diri dalam batin pencerahan. Salah satu dewi
tersebut juga menggambarkan kepada rekannya sebuah metode efektif untuk
melatih diri sendiri dalam batin ini. Atisa menghentikan pradaksinanya dan
mendengarkan dengan seksama, menerima apa yang mereka katakan
bagaikan cairan yang dituangkan dari satu bejana ke bejana lainnya.

Dari catatan yang diperoleh menjelaskan bahwa hanya di Swarnadwipa-lah,


oleh Dharmakirti yang telah memperoleh pelajaran inti untuk penerangan
(bodhicitta), yakni menggabungkan dua metode yang ada menjadi satu dalam
melatih kemajuan batin untuk mengembangkan bodhicitta. Pada Riwayat
Guru-Guru Lamrim mengatakan : “Lebih dari itu Beliau juga menerima secara
khusus silsilah dua pionir Maha Guru Mahayana: Silsilah Praktek
Kebijaksanaan Mendalam oleh Maha Guru Nagarjuna dan Silsilah Praktek
Metode Luas oleh Arya Asangha. Tambahan lagi Ajaran tentang Tiga jenis
makhluk sesuai tahapan Jalan Menuju Pencerahan Agung yang mana
kesemuanya ditransmisikan hingga masuk ke dalam hati sanubarinya dengan
tanpa ada yang terlewatkan. Beliau menerapkan gabungan instruksi
Abhisamayalamkara dan Prajnaparamita Sutra yang menyebabkan beliau
menjadi yang terbaik dari para cendekiawan. Yang juga istimewa adalah
kekuatan tekad serta keyakinan akan kebenaran bahwa dengan
membangkitkan batin maha mulia Bodhicitta bagai gelombang samudra yang
dahsyat maka Beliau mampu memberikan kasih sayang yang besar dan
bekerja demi kepentingan segenap makhluk lain sebagaimana instruksi
silsilah mendalam yang ditransmisikan dari bodhisattva Manjushri hingga
Bodhisattva Shantidewa.” Lebih lanjut dalam teks menjelaskan keagungan
dari Dharmakirti : “Beliau yang memiliki bodhicitta nan penuh cinta kasih dan
welas asih yang mendalam dan luas kepada segenap makhluk juga
memperoleh gelar Sang Metripa yang dicabut dari akar nama Bodhisattva
Maitreya. Sejak itulah beliau terkenal sebagai Lama Serlingpa Metripa (Sang
Pengasih dan Penyayang dari Pulau Emas).”

Setelah kembali dari Sumatera ke India, Raja India Mahapala meminta beliau
menjadi kepala biara Vikramasila dan menduduki posisi Pendeta Tinggi.
Setelah beberapa tahun kemudian, Atisa diundang ke Tibet untuk
menghidupkan kembali Buddhis di tanah bersalju setelah terjadi kemerosotan
oleh Raja Langdharma dari tahun 838-842 M. Beliau berangkat dari biara
Vikramasila, yang menjadi kepala biara waktu itu adalah Ratnakara.

Atisa memberikan sumbangan yang sangat besar pada perkembangan


Buddhis di masanya dan masa sekarang, terutama pada kebangkitan kembali
Buddhis di Tibet. Setelah kembali dari Sumatera, beliau menyusun Bodhi-
patha-pradipa (Lampu Penerangan Sang Jalan), yang menjadi teks dasar
oleh Tsong Khapa (1357-1419) menyusun Jalan Bertahap Menuju
Pencerahan (Lamrim) selesai pada tahun 1402 yang memberi pengaruh yang
luar biasa pada para biarawan, pendeta, maupun para cendikiawan yang
mempelajari filosofis Buddhis.

Penulis berkesempatan membuat sebuah naskah drama singkat, yang


memuat sepotong momen penting kedatangan Guru Atisha ke Swarnadwipa.
Drama ini singkat, dan hanya mencakup bagian penting kedatangan Beliau ke
Nusantara untuk memperoleh ajaran dan intruksi dari Guru Swanardwipa,
Dharmakirti. Penulisan ini mencakup proses dalam menghantarkan sebuah
naskah drama yang singkat, namun padat dan jelas. Oleh sebab itu, bentuk
tulisan ini ditampilkan seperti karya ilmiah pada umumnya, agar dapat
menunjukkan alur berfikir dalam menghantarkan hasil naskah drama yang
matang.

Naskah drama ini dibuat atas permintaan ketua PUBJ,yaitu Pak Rudi Zhang.
Tujuan dari pembuatan naskah ini adalah untuk keperluan internal
“Perkumpulan Umat Buddha Jambi”, dalam rangka menyambut Waisak 2562
BE/2018 , yang akan diadakan di Candi Muara Jambi.

Dalam naungan Triratna, Sang Buddha, Dharma dan Sangha, akhirnya


penulis menyelesaikan naskah ini. Terima kasih terhadap kesempatan yang
diberikan kepada penulis. Apabila ada kesalahan dan keterbatasan dalam
penulisan naskah drama ini, dalam kesempatan ini, penulis memohon maaf
secara pribadi. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca-nya.
Semoga semua mahluk berbahagia, semoga Sinar Dharma selalu
membimbing kita dari kegelapan menuju ke cahaya yang terang. Sadhu –
Sadhu – Sadhu.

Penulis;
1 April 2018

Disetujui Oleh: Disetujui oleh:

Ketua KCJ; Ketua PUBJ;

(Jessica Chandra) (Rudi Zhang)


I. Biografi Yang Mulia Atisha

Guru Atisha dilahirkan dilahirkan di Zahor, sebuah daerah di wilayah bagian Timur
India yang dikenal sebagai Bengal. Kota tersebut dihuni oleh 35.000 rakyat.Kerajaan
tersebut merupakan salah satu kerajaan n dalam yang sangat kaya dan berkuasa di
zaman itu. Beliau dilahirkan dari pasangan Raja Kalyanasri dan istrinya, Sri
Prabhavati. Hari kelahirannya ditandai deengan hal – hal yang menakjubkanj dan
keberuntungan.

Saat berumur 18 bulan, Pangeran muda diajak bertamasya oleh kedua orang tua-
Nya. Mereka menuju sebuah cetya yang letaknya cukup jauh di Kota Vikramapura.
Saat berada di sana, banyak sekali orang yang memberi salam kepadanya. Sang
pangeranpun menanyakan siapakah orang – orang tersebut. Orang tuanya
menjawab, bahwa orang – orang itu merupakan rakyatnya. Dengan welas asih,
Sang Pangeran untuk pertama kalinya memberkahi semua rakyatnya dengan doa –
doa yang penuh kebajikan sesuai Dharma yang sejati. Pada peristiwa inilah, Beliau
sudah bisa mengutarakan kata – kata yang menunjukkan Trisarana dan
membangkitkan batin pencerahan yang berharga dengan berkeyakinan besar
kepada Triratna.

Ketika berusia tiga tahun, Yang Mulia Atisha sudah menguasai Astrologi, bahasa,
dan tata bahasa. Seiring dengan kedewasaannnya, Guru Atisha kecil merupakan
pangeran muda yang terpelajar dan berbakat.

Suatu ketika Beliau keluar dengan ditemani 130 pasukan berkuda dengan baju
perang, mengelilingi serangkaian gunung secara menyeluruh. Ada tujuan tersendiri
dengan perjalanan Pangeran yang mahir itu. Sang pangeran menuju ke sana untuk
mencari seorang guru. Akhirnya beliau bertemu dengan Brahma Jetari, yang tinggal
di salah satu gunung. Brahma Jetari menganugrahkan Pangeran upacara Trisarana.
Kemudian Sang Brahma menyuruhnya pergi ke Biara Nalanda dan mencari
Bodhidhadra, seorang guru yang mana Sang Pangeran memiliki ikatan karma masa
lampau.

Sang pangeran akhirnya bertemu dengan Guru Bodhibhadra dan menghormatinya


dengan persembahan permata yang berharga. Guru tersebut, sebagai balasannya
memasuki keadaan meditasi ketenangan dan memberkahi tubuh , ucapan dan batin
Sang pangeran. Guru tersebut akhirnya mengirim sang pangeran kepada guru
Vidyakokila, setelah memberikan ajaran yang ekstensif. Setelah diajarkan oleh Guru
Vidyakokila, sang pangeran dikirim oleh gurunya kepada Guru Avadhutipa. Akhirnya
Sang Guru Avadhutipa menasehati sang pangeran untuk pulang ke kerajaan-nya.
Sang pangeran boleh kembali kepada Guru Avadhutipa, setelah merenungkan
kerugian – kerugian duniawi.

Orang tua Sang pangeran sangat senang atas kembalinya anak mereka ke
kerajaan. Kemudian Sang pangeran menjelaskan kisah perjalanannya selama ini.
Beliau meminta izin kepada orang tuanya untuk mengejar Dharma yang Agung.
Dengan persetujuan orang tuanya, pangeran kembali ke hutan ditemani oleh seribu
pasukan berkuda dan memberikan penghormatan kepada Guru Avadhutipa. Sang
guru membimbingnya dengan upacara Mahayana untuk membangkitkan batin
pencerahan. Kemudian Guru Avadhutipa meminta sang pangeran untuk
mengunjungi Guru Rahula. Sang Guru Rahula mengagumi sang pangeran yang
memilih kehidupan sebagai seorang pertapa daripada menikmati kehidupan
kerajaan. Akhirnya Sang pangeran ditahbiskan menjadi Bhikhu diusianya yang ke-
29, dengan nama pentasbisan Dipamkara Srijnana. Atisha yang agung belajar
dengan 157 guru di Nalanda. Beliau merampungkan pembelajaran semua ilmu
pengetahuan, juga kitab – kitab Sutra dan Tantra, bersama dengan intruksi – intruksi
yang berkaitan.

Yang mulia Athisa belajar selama 12 tahun dengan Guru Dharmaraksita dan
menguasai semua topik ajaran yang sulit. Setelah memahami semua ajaran Sutra
dan Tantra yang ada di India pada era itu, Beliau-pun mulai berfikir, tentang jalan
apa yang paling cepat untuk mencapai Ke-Buddha-an.

Guru Athisa kemudian bertanya kepada diri-nya sendiri, Apakah ada guru yang
mungkin memiliki satu intruksi lengkap dan akan membuatnya membangkitkan
aspek – aspek dari batin pencerahan berharga yang belum dicapainya. Hal ini untuk
mengembangkan lebih jauh apa yang telah beliau miliki, dan akhirnya mencapai
batin pencerahan dalam bentuknya yang sejati.

ketika Atisa duduk dekat tembok batu yang dibangun oleh Nagarjuna, beliau melihat
dua wanita tidak jauh dari sana, satunya muda dan yang satunya lagi tua. Yang tua
mengatakan kepada yang muda bahwa siapapun yang ingin mencapai pencerahan
dengan cepat seharusnya melatih diri mereka dalam batin pencerahan. Lalu pada
waktu lain, ketika melakukan pradaksina Maha Bodhi Vihara beliau mendengar kata-
kata ini diucapkan dari gambar seorang Tathagata di bawah sebuah beranda: “O
Bhadanta, seseorang yang berharap untuk mencapai pencerahan dengan cepat
harus melatih dirinya sendiri dalam kebaikan hati, cinta kasih, dan batin
pencerahan.”. Dan ketika melakukan pradaksina pada sebuah bangunan kecil dekat
tembok batu tersebut, tidak jauh dari sana beliau mendengar gambar Buddha
Sakyamuni berwarna gading berkata, “Yogi, seseorang yang ingin mencapai
pencerahan dengan cepat harus melatih dirinya dalam batin pencerahan.”

Tekat batin Yang Mulia Atisha ternyata berbuah hasil. Di Era itu, sulit untuk
mendapat informasi, karena akses yang terbatas akibat jarak dan waktu. Akan
tetapi jalur perdagangan telah membuka akses lebar bagi Guru Atisha dalam
Menemukan Guru Spiritual utama-Nya, yaitu Guru Swarnadwipa Dharmakirti.
Setelah mendengar kabar burung, bahwa Guru Agung Swarnadwipa sebagai guru
batin pencerahan, beliau memutuskan untuk pergi ke Pulau Emas (Swarnadwipa)
dan belajar di kaki guru ini untuk mendengar intruksi-Nya yang lengkap.
Guru Atisha meninggalkan India dengan sekelompok pedagang yang mengenal rute
laut ke Pulau Emas (Swarnadwipa). Mereka tiba di tujuan setelah melakukan
perjalanan dengan perahu selama 13 bulan. Selama perjalanan, beliau mengalami
berbagai macam rintangan. Ombak yang besar, kilat dan badai dapat dilalui Yang
Mulia Atisa. Selain gejala alam yang tidak lazim, banyak sekali monster laut yang
menghalangi perjalanan mereka. Dengan kekuatan meditasinya, dan perlindungan
Triratna, Beliau beserta rombongan akhirnya sampai di Pulau Emas (Swarnadwipa).

Setelah mendarat, Guru Atisha bertemu beberapa praktisi meditasi yang merupakan
murid dari Guru Swarnadwipa Yang Agung di dekat pinggiran pulau. Yang Mulia
Atisha yang terpelajar dan muridnya beristirahat di sana selama dua minggu, dan
selama kurun waktu itu mereka bertanya kepda para yogi di sana tentang kehidupan
spiritual Guru Swarnadwipa untuk menambah kualitas - kualitas keyakinan Beliau
terhadap Sang Guru Swarnadwipa.

Beberapa praktisi meditasi terswebut segera pergi kepada Guru Swarnadwipa dan
memberitahukan beliau bahwa seorang pandit agung Dipamkara Srijnana, yang tak
tertandingi di seluruh bagian timur dan barat India, baru saja datang dengan 125
muridnya setelah melewati waktu yang cukup lama, yaitu 13 bulan. Mereka
menjelaskan bahwa Yang Mulia Atisha ingin menerima intruksi – intruksi yang
berharga serta panduan praktik batin pencerahan Mahayana dari Sang Guru
Swarnadwipa. Kemudian Sang Guru Swarnadwipa Dharmakirti menyambut calon
muridnya tersebut dengan hangat.

Iringan bhiksu yang bersama Guru Swarnadwipa menyambut Yang mulia Atisha
berjumlah 567 Bhikhu. Dari kumpulan tersebut 535 Bhikhu telah ditahbiskan penuh.
Mereka semua membawa wadah air bhiku dan memegang dengan caraq yang
anggun, tongkat khakkhara. Terdapat 62 Samanera yang menemani mereka.
Pemandangan tersebut membangkitkan keyakinan yang luar biasa. Hal ini
membangkitkan perasaan hormat yang mendalam dan sukacita yang unggul dalam
diri Guru Atisha dan murid – muridnya.

Sebagai persembahan, Yang Mulia Atisa memberikan kepada Guru Swarnadwipa


sebuah bejana kristal yang sangat bersih yang bahkan isinya dapat dilihat dari luar.
Di dalamnya berisi barang – barang berharga seperti emas, perak, mutiara, batu
karang, dan lapis lazuli. Tindakan ini merupakan pertanda baik, bahwa Guru Atisha
akan mendengarkan semua intruksi mengenai latihan batin pencerahan, dan
menjadikan dirinya bagaikan teko yang diisi hingga penuh.

Setelah pertemuan antara Guru dan Murid, Guru Swarnadwipa membimbing murid
barunya ke ruang pribadinya di dalam istana yang dikenal sebagai” Payung Perak”.
Di sana beliau melakukan tindakan yang merupakan suatu pertanda luar biasa
ketika beliau memberikan pelajaran Dharmanya yang pertama, tentang “ornamen
realisasi”.
Guru dan murid saling mengembangkan perasaan hormat yang luar biasa satu
sama lain. Guru Atisha mendengarkan, merenungkan, dan memeditsikan berbagai
intruksi lengkap dari Gurunya Awarnadwipa Dharmakirti selama 12 tahun. Salah
satu yang paling berharga adalah” ajaran Sutra Kesempurnaan Kebijaksanaan”
(Prajnaparamita Sutra) yang pertama kali diturunkan kepada Arya Asanga. Selain
itu, intruksi melatih batin pencerahan yang dikenal sebagai “menyetarakan dan
menukar diri dengan orang lain” (disebut Lojong, dalam bahasa Tibet), yang pertama
kali diajarkan oleh Guru Santideva.

Di bawah kaki Guru Swarnadwipa-lah Atisha membangkitkan dalam batinnya sikap


pencerahan yang sejati. Guru ini juga resmi menyatakan muridnya sebagai seorang
guru dari silsilah ajaran. Selain itu , Beliau meramalkan bahwa Yang Mulia Atisha
akan pergi ke Tibet dan mendidik banyak murid di sana.

Setelah Atisha kembali ke India Tengah, Guru Atisha pertama-tama berdiam di


Vajrasana, dimana beliau melakukan banyak aktivitas yang bermanfaat bagi Ajaran.
Beliau memenangkan tiga debat yang berbeda melawan pengikut ajaran tirtika,
mengatasi pandangan salah mereka, dan mengubah kepercayaan mereka menjadi
Buddhis. Kemudian beliau diundang oleh Raja Mahapala untuk tinggal di Biara
Vikramasila.

Guru Atisha sendiri mengikuti tradisi Mahasamghika, meskipun beliau juga benar –
benar memahami semua aliran. Dengan ttidak memihak, beliau menjadi mahkota
permata bagi seluruh sangha di seluruh bagian timur, barat, dan tengah India. Guru
Atisha telah menjadi seorang ahli dari keseluruhan ajaran Buddhis pada saat itu. Ia
menguasai Tripitaka, Sutrayana, maupun empat bagian Mantrayana.

Raja Tibet Hlalama Yeshe Wo, merasa tidak gembira dengan situasi ajaran Buddhis
yang merosot di Tibet, mengirimkan 21 pemuda berintelektual tinggi ke India. Beliau
bertujuan mengundang seorang pandita Buddhis untuk mengunjungi Tibet,
seseorang yang benar – benar bermanfaat bagi Negrinya. Dari ekspedisi tersebut,
hanya 2 orang pemuda yang selamat, yaitu Rinchen Sangbo dan Lekbey Sherab.
Kemudian mereka memberitahu sang raja, bahwa hanya satu orang yang dapat
menolong kondisi tibet di kala itu, yaitu seorang pandita India yang bernama, Atisha
Dipamkara Srijnana.

Dengan penuh keyakinan, Raja mengutus seseorang ke Vikramasila,India untuk


mengundang Guru Atisha. Namun sang Utusan tak pernah kembali. Sampai akhir
hayatnya, sang raja tidak pernah bertemu Sang Guru. Walaupun demikian, beliau
mendedikasikan hidupnya untuk Tibet, Ajaran Buddha, dan Yang Mulia Atisha agar
dapat diundang ke Tibet. Berkat seorang utusan rahasia dari keluarga sang raja
yang bernama Nagpo lotsawa, akhirnya dapat mewujudkan mimpi sang Raja. Beliau
berhasil membawa pesan rahasia Raja kepada Yang Mulia Atisha. Beliau berhasil
mengundang Yang Mulia Atisha untuk datang ke Tibet.
Kemudian Yang Mulia Atisha melakukan perjalanan ke Tibet Tengah dan memutar
Roda Dharma secara Intensif. Ketika di sana beliau banyak melakukan aktivitas
yang sangat bermanfaat baik bagi ajaran maupun bagi orang-orang. Terutama,
ajaran Beliau yang terpenting dari semua upaya yang dibuat untuk mengundang
Beliau ke Tibet adalah “Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan”, atau yang dikenal
dengan nama Lamrim di dalam Bahasa Tibet.

Sang Guru Agung Atisha, memurnikan ajaran berharga, yaitu Dharma, dengan
mengembalikan tradisi – tradisi yang telah hilang. Beliau mengembalikan tradisi –
tradisi tersebut sampai pada tingkatan tertentu, dan mengembalikan tradisi – tradisi
yang telah ternoda pada zaman kemerosotan di Tibet. Oleh sebab itu, kehadiran
beliau sangat diharapkan oleh masyarakat tibet pada zaman tersebut. Dengan karya
beliau, yaitu Lamrim, yang merupakan inti Ajaran Buddha yang sistematis, beliau
membawa reformasi tersendiri dalam sejarah peradaban masyarakat Tibet.

Silsilah untuk intruksi Lamrim dianugrahkan oleh Yang Mulia Atisha kepada Drom,
murid-Nya. Kemudian beliau mengajarkan kepada beberapa kelompok murid,
sehingga menimbulkan tiga silsilah yang berbeda. Dalam perkembangannya, silsilah
Lamrim mengalami reformasi monastik sehingga terbentuklah Gelugpa, yang
diprakarsai oleh Je Tsongkhapa. Akan tetapi induk dari aliran tersebut terbentuk
setelah Murid dari Yang Mulia Atisha, Dromtonpa mendirikan aliran Kadampa dalam
ajaran Buddhisme Vajrayana.

Guru Atisha berkarya di Tibet hingga akhir hidup-Nya. Sedangkan sang Guru
Swarnadwipa tetap mengajar dan selalu dihormati akan intruksinya mengenai Batin
pencerahan. Catatan penting tentang reinkarnasi, Guru Serlingpa Dharmakirti di Era
modern ini adalah sebagai seorang guru besar yang dikenali oleh Yang Mulia Dalai
Lama xiv,sebagai Dagpo Rinpoche Lobsang Jhampel.

Kidung Permohonan Terhadap Guru Swarnadwipa, Dharmakirti dari


Indonesia:
“Swarnadwipa, sumber harta karun, yaitu kedua intruksi mengenai
Bodhicitta yang berharga, intisari dari praktik Para Buddha dan
Bodhisatwa. Oh Dharmakirti, aku memohon kepada-Mu.”

Kidung Permohonan terhadap Guru Atisha:


“Atisha, Pemegang intruksi terunggul untuk penjelasan dalam praktik-
Nya, Yang Mulia Dromtonpa, Pendiri Tradisi Kadam, Keempat Yogi,
ketiga saudara Spiritual, dan yang lain-Nya, Oh Para Guru Kadampa,
aku memohon kepada-Mu.”
II. Analisis Teks Biografi “Yang Mulia Atisha”

A. Batasan Naskah Drama


1. Batasan awal Drama: Y.M. Atisha bergejolak batin dalam menemukan
Guru Spiritual utamanya, yaitu Guru Swarnadwipa
2. Batasan akhir Drama: Aktivitas Yang Mulia Atisha bersama Guru
Swarnadwipa, Dharmakirti
3. Penutup Drama: Kembalinya Lama Atisha ke India & berkarya di Tibet

B. Unsur Intrinsik
B.1. Tema: Spiritualitas
Tema drama yang akan ditampilkan berdasarkan sisnopsis yang telah ditulis,
adalah Mencari Guru Spiritual. Hal ini dikarenakan konten terpenting dari
keseluruhan teks sinopsis lebih menekankan pada pertemuan Y.M Atisha
dengan Guru-Nya, yaitu Dharmakirti, hingga menempuh perjalanan yang
cukup jauh melalui darat dan laut hingga sampai ke Swanardwipa.

B.2. Tokoh dan Penokohon


No. Tokoh Penokohan

Watak Ciri fisik


1. Lama Atisha - Idealis - Perawakan
- Analitis asia (ras India
- Spiritualis mediterania
- Sederhana kaukasoid)
- terpelajar - Kulit putih
- Dll. - Perawakan
tubuh tinggi
2. Guru Swarnadwipa - Berdedikasi - Perawakan
tinggi Asia (ras
- Spiritualis melayu)
- Penuh wibawa - Kulit Sawo
dan kharisma. matang
- Perawakan
tubuh sedang
tinggi
3. Para Murid Y.M. Atisha - Memiliki rasa - Perawakan
hormat yang fisik asia
tinggi terhadap - Kulit sawo
guru mereka matang dan
- Terpelajar kuning
4. Yogi & pedagang - Yakin dan - Perawakan
penuh rasa fisik asia
hormat - Kulit sawo
terhadap Guru matang
mereka
- Ramah
B.3. Setting / latar

a. Latar Tempat:
Babak 1: Bengal, India;
Babak2: Dermaga, Pesisir Pantai, Samudera luas;
Babak3: Pesisir pantai Pulau Swarnadwipa;
Babak4: Istana Payung Perak, Kediaman Guru Dharmakirti di Pulau
Swarnadwipa

b. latar Waktu: Pagi, siang dan sore hari

c. Latar Suasana:
Babak 1:Gejolak batin, antusias;
Babak 2: mencekam, penuh keyakinan;
Babak 3: kedamaian, mengharukan;
Babak 4: kedamaian, mengharukan.

B.4. Plot / alur


a. Pengenalan: Gejolak Batin Yang Mulia Atisha mengenai batin pencerahan;
b. Konflik: rintangan selama perjalanan menuju Pulau Emas, Swarnadwipa;
c. Klimaks:Pertemuan antara Y.M. Atisha dan Guru Swarnadwipa;
d. Antiklimaks: Y.M.Atisha mendapat ajaran Dharma dari Guru Swarnadwipa
e. Peleraian: Ramalan dari Guru Swarnadwipa & Kembalinya Y.M. Atisha ke
India

B.5. Amanat
Amanat dalam Kisah Drama Guru Atisha yang singkat ini adalah “Spiritual itu
harus diperjuangkan”.

C. Pembuatan Naskah
C.1. Tipe Drama
Dalam menyajikan kisah Tokoh Spiritual seperti Yang Mulia Atisha, Drama ini
disajikan dalam bentuk Spiritual Heroic Play. Jenis Drama ini lebih
menekankan perjalanan tokoh dalam menggapai sisi spiritual-Nya, yaitu
perjalanan Beliau dalam menemukan seorang Guru Spiritual, hingga berlayar
menuju Swarnadwipa.

C.2. Teknik Dialog


Teknik dialog yang digunakan adalah:
a. Monolog: Percakapan sendiri yang dilakukan tokoh untuk menunjukan
maksud tertentu dari batin sang tokoh.
b. Dialog konvensional: Percakapan antara dua orang atau lebih dengan
menggunakan ekspresi dan saling berinteraksi.
c. Pantonim yang diiringi musik
C.3. Konflik Drama
Konflik dalam drama ini adalah rintangan yang dihadapi dalam perjalanan
Guru Atisha ke Swarnadwipa. Di mana banyak sekali rintangan yang dilalui
selama 13 bulan dengan mengarungi samudra hingga menuju Swarnadwipa

C.4. Tujuan dan Manfaat Drama

Naskah Drama ini dibuat dengan tujuan memenuhi permintaan dari Ketua
PUBJ (Perkumpulan Umat Buddha Jambi), yaitu Pak Rudi Zhang, dalam
menyukseskan Peringatan Hari Trisuci Waisak 2562 BE/2018, yang akan
diselenggarakan oleh di Candi Muara Jambi.

Manfaat pementasan drama ini adalah:


a. Mengenalkan Kisah Yang Mulia Atisha secara Singkat dan jelas;
b. Mengenalkan kepada masyarakat tentang Tokoh Nusantara yang
Tersohor di zaman Sriwijaya, yaitu Guru Besar Dharmakirti di
Swarnadwipa (sekarang terkenal dengan nama Pulau Sumatera);
c. Menggambarkan kemansyuran Nusantara yang tersohor di mata dunia,
Khususnya kerajaan Sriwijaya di Sumatera pada zaman tersebut;
d. Mengenalkan pentingnya mencari kehidupan Spiritual kepada masyarakat,
melalui kisah perjalanan Sang Tokoh Spiritual, Yang Mulia Atisha;
e. Menghidupkan “sense of belonging” sebagai masyarakat Jambi dengan
warisan budaya yang dimiliki, yaitu Candi Muaro Jambi, yang telah dikenal
oleh dunia pada zamannya.

C.5. Penetapan BabaK dan Adegan


Sesuai dengan permintaan dan kemungkinan keseluruhan proses penampilan
drama singkat ini dapat terlaksana dalam program acara Waisak 2018 di
Candi Muara Jaambi, maka ditetapkan 4 babak dan setiap babak terdiri dari
beberapa adegan. Tiap babak minimal 2 adegan dan maksimal 3 adegan. Hal
ini dilakukan untuk mempersingkat waktu penampilan, namun terkesan padat
akan cerita yang ditampilkan.

D. Implementasi Pementasan Drama


D.1. Kostum
Kostum yang dipergunakan pada para pemain di dalam tokoh haruslah
bernuansa pada kerajaan, dimana unsur budaya Nusantara , khususnya
Jambi harus ditampilkan sebagai nuansa utama dalam menghidupkan cerita
di Swarnadwipa. Selain itu, penggambaran tokoh utama (Y.M. Atisha) perlu
disesuaikan dengan beberapa atribut kebiaraan di India saat itu, saat
menggambarkan sebelum dan sesudah Beliau datang ke Nusantara. Hal ini
untuk menghidupkan atmosfer cerita di dalam naskah.
D.2. Panggung
Panggung disesuaikan dengan Program Acara waisak 2018 di Muara Jambi.
Akan tetapi akan lebih baik disediakan visual latar yang dapat menghidupkan
isi keseluruhan babak. Hal ini dapat dilakukan dengan metode lighting, 3D
visual, atau Gambar latar 2D. Panggung di areal Candi sudah cukup
membantu dalam menghidupkan kisah drama ini. Selain itu, Audio dapat
direkam terlebih dahulu agar dapat memudahkan tokoh mengekspresikan isi
dialog, serta para penonton dapat dengan jelas mendengar isi dialog.
Musik dan lagu – lagu Buddhis sebagai pendukung audio dalam menampilkan
drama ini. Pada bagian adegan tanpa dialog, maupun pada saat narator
mendeskripsikan cerita, dapat dipadukan dengan musik sehingga
menghidupkan suasana. Musik dan file pendukung lainnya dapat disesuaikan
oleh sutradara drama ini sesuai selera dan sense serta feeling dalam memilih
adegan.
III.Naskah Drama

A. BABAK -1

A.1. Adegan-1a

Narator: Setelah melayani sebanyak 157 Guru, Lama Atisha merampungkan


pembelajaran semua ilmu pengetahuan, kitab – kitab Sutra , dan juga Tantra di India
saat itu. Muncul dalam pemikiran Beliau mencari metode cepat Jalan menuju
Kebuddhaan.

Lama Atisha : Sudah sekian banyak Guru yang membimbingku. Begitu


banyak sutra, Tantra, dan ilmu pengetahuan lain yang
kupelajari. Mengapa batinku masih belum menemukan
metode paling tepat dalam mencapai pencerahan?

(Tiba – tiba seberkas cahaya dari rupang Buddha menyinari seisi ruangan)

Rupang Sang Buddha: Oh Bandanta, seseorang yang berharap untuk


mencapai pencerahan dengan cepat seharusnya melatih
dirinya sendiri dalam cinta kasih, welas asih, dan batin
pencerahan yang bebas dari sikap mementingkan diri
sendiri.

(Lama Atisha tersadarkan dengan pertanyaan batinnya tersebut. Setelah itu,


berkas cahaya dan suara tersebut lenyap)

A.2. Adegan-1b

Narator: Berbagai peristiwa memberikan jawaban atas pertanyaan Lama Atisha


akan Jalan cepat menuju Ke-Buddha-an. Beliau akhirnya memutuskan untuk
mencari Guru yang tepat dalam mengantarkan beliau kepada Tujuan Agung
tersebut.

Lama Atisha : Mungkinkah ada seorang guru yang mungkin memiliki


suatu intruksi lengkap dan akan membuat- ku membangkitkan aspek - aspek dari
batin pencerahan berharga yang belum kucapai? Dimana guru tersebut? Guru yang
membimbingku dan melatih batinku dalam menuju kemulian sejati tersebut?

(Beberapa saat setelah Lama Atisha melewati pesisir pantai, ia bertemu para
pedagang yang baru saja mendarat di sana. Para pedagang yang baru saja pulang
dari lau lepas selatan dari Pulau Emas ( Swarnadwipa), dimana mereka telah
menjajakan barang dagangan mereka, serta berinteraksi dengan masyarakat di
pulau tersebut.)
Para pedagang : Oh Guru, terimalah hormat kami. Hari ini kami sampai
dengan selamat di pesisir. Air laut tanpa ombak yang mendorong perahi kami
kembali ke India, sungguh merupakan suatu berkah yang sangat luar biasa, setelah
kami bertemu seorang Guru Suci di Pulau Emas. Ini merupakan berkah tersendiri
dari Sang Guru Swarnadwipa Dharmakirti Yang Agung.

(Tiba – tiba setelah mendengar nama Sang Guru Swarnadwipa, Lama Atisha
mendadak tertegun dan timbul di dalam batin beliau suatu rasa hormat yang luar
biasa terhadap nama tersebut.)

Pedagang 1 : Tampaknya Guru tidak sehat setelah mendengar nama


Sang Guru yang telah memberkati kami?

Lama Atisha : Oh tidak, aku hanya sangat terkesan dengan nama


tersebut. Beliau pastinya adalah seorang Guru yang
besar?

Pedagang 2 : Ia sungguhlah Mulia. Parasnya yang Agung


menjinakkan para mahluk yang tak terkendali batinnya.
Dharma-nya yang sejati membimbing batin menuju
pencerahan yang bebas dari segala bentuk klesha.
Kebuddhaan serasa dekat dan sempurna melalui Ajaran
Beliau.

Lama Atisha : Dapatkah kalian mengantarku ke Pulau Emas untuk


bertemu dengan beliau?

Pedagang 1 : Untuk keinginan Lama yang mulia, kami pasti bersedia


mengantarkan Lama ke tempat Guru Swarnadwipa
berada.
B. BABAK-2

B.1. Adegan-2a

Narator: Persiapan selama perjalanan dipersiapkan oleh Lama Atisha beserta para
muridnya. Atisha berlayar selama 13 bulan dengan melewati berbagai rintangan
alam. Beliau selama perjalanan berprilaku dan berpakaian sebagaimana para
Bhiksu umunya dengan mengenakan secarik jubah, dan menunjukkan seseorang
yang benar- benar telah meninggalkan kehidupan berumah tangga.

Lama Atisha : Semua persiapan perjalan telah disediakan, aku


serahkan semuanya kepada Sang Triratna, tumpuan di
dalam hidup-ku.

Pedagang 1 : Lama, dengan niat tulus-mu ini. Izinkan-lah kami


menjadi murid- Mu! Berikan nektar pertama dari segala
yang telah kau pahami selama ini. Kikiskanlah ketidak-
tahuan dan kebodohan batin kami.

Pedagang 2 : Benar Guru, biarkanlah-kami melayani diri-Mu!


Bimbinglah kami. Dirimu-lah nahkoda kami selama
perjalanan menuju Swarnadwipa, Pulau Emas yang akan
mengantar- Mu menuju batin pencerahan.

Lama Atisha : (dengan sikap yang rendah hati) Aku terima kalian
menjadi muridku. Selama perjalanan menuju
Swarnadwipa, kita adalah sebuah keluarga yang
bersama mengarungi ombak dan badai di samudera.

B.2. Adegan-2b

(Perahu berlayar mengarungi samudra, dan bertemu monster laut menghalangi


perahu yang ditumpangi oleh kelompok Guru Atisha)

Monster laut : wrkrkkrkrkrrkkakakkakakkakkakakakakkaka............

Lama Atisha : Murid – murid-ku duduklah semua di posisi masing –


masing dengan tenang. Kita Akan melewati semua ini.

Monster laut :wooooooooooooooooookkkkkk....... (mulai menyinkiri


perahu yang ditumpangi Lama Atisha dan tenggelam)

(Setelah mereka melewati monster laut berkerongkongan besar, kelompok Lama


Atisha dihadapi dengan rintangan berikutnya, yaitu pusaran air laut. Kapal mereka
keluar dari jalur yang sebenarnya)

Murid 1 : Guru....., peganglah tiang layar ini. Jangan lepas setelah


badai ini berakhir!
Lama Atisha : Pastikan diri kalian tidak terbawa oleh kuatnya angin
pusaran air ini! Tenangkan diri kalian!!!!

(Badai yang membentuk pusaran air akhirnya berhenti, Para Rombongan Lama
Atisha melanjutkan perjalanan mereka)

(Di tengah perjalanan Rombongan Lama Atisha melewati sebuah tempat di tepi
samudera yang tidak lazim. Kilat petir tiba – tiba menghantam perairan tanpa henti.
Suara – suara ketakutan di perahu-pun terdengar oleh para penumpangnya)

Murid2 : Tolong ........................... !!!! (Baju murid 1 terkena


sembaran api kilatan petir)

Murid1 : (mengambil air dan menyiram murid 2)

Lama Atisha : Berpeganglah pada tepi perahu, dan lafalkan mantra


Perlindungan terhadap Triratna!!!

Rombongan : Buddhang Saranang Gacchami, Dhammang Saranang


Gacchami, Sanghang Saranang Gacchami..................(melafalkan bait perlindungan
berulang – ulang) (musik mantram Buddhis)

(Akhirnya suasana mencekam tadi berubah menjadi tenang. Langit yang


sebelumnya gelap dan dipenuhi kilat halilintar berubah menjadi biru nan tenang.
Dalam sekejap timbul rasa keyakinan yang luar biasa dari para rombongan)

Narator: Dengan berbekal keyakinan dan motivasi yang luar biasa untuk
mendapatkan intruksi serta bimbingan dari Guru Swarnadwipa, Lama Atisha dapat
menghadapi berbagai rintangan alam eksternal, seperti monster laut yang
menghambat jalan mereka; pusaran angin yang menyebabkan kapal keluar jalur;
serta kilat yang menghantam kapal mereka dari angkasa. Akan tetapi
semuafenomena alam tersebut dapat dilalui Beliau dengan kekuatan meditasi dan
kebajikan Beliau yang begitu besar.

B.3. Adegan – 2c

Narator: Setelah 13 bulan menjelajahi samudra, akhirnya Lama Atisha menepi di


pesisir Pulau Emas, Swarnadwipa. Beliau beserta 125 muridnya telah hampir
sampai di tempat tujuan mereka, dan mulai menempuh perjalanan darat.

Murid 3 : Lihat Guru.........! Seberang Adalah Pulau Emas Swarnadwipa!!


Kita akan segera mendarat.

Lama Atisha: ...............Buddha memberkati kita semua!!! (Sambil berdiri di


dek menatapi indahnya pemandangan di pesisir Pulau Emas, Beliau merasa
bersyukur atas segala hal yang telah dilewati Beliau)
C. BABAK-3

C.1. Adegan- 3a

Sesampai di pesisir Pulau Emas, Swarnadwipa, Rombongan Guru Atisha bertemu


dengan praktisi meditasi yang merupakan murid dari Guru Swarnadwipa. Atisha dan
Para murid – Nya beristirahat selama dua minggu di pesisir sambil menyelami
kehidupan Guru Swarnadwipa sebelum melakukan perjalanan menuju Istana
Payung perak.

Yogi1 : Terimalah hormat saya Bhante, Siapakah Anda


sebenarnya? Kami para Yogi siap membantu Kalian semua jika membutuhkannya?

Lama Atisha : Saya Atisha Dipamkara Srijnana dari India. Maksud


kedatangan kami ke Swarnadwipa adalah ingin bertemu dengan Guru Agung
Swarnadwipa.

Yogi1 : ooooh...Lama Atisha. Engkau sangat diterima di Sini.


Guru Swarnadwipa yang agung adalah Guru kami , Sang Guru Dharmakirti. Beliau
pasti sangat senang mendengar kedatangan Kalian semua.

Lama Atisha : Dapatkah kalian menunjukkan kami jalan ke tempat


kediaman beliau?

Yogi 2 : Guru kami mendiami kediamannya yang terkenal


dengan nama istana payung perak. Kami akan mengantarkan kalian ke sana. Akan
tetapi butuhwaktu yang cukup untuk mempersiapkan kedatangan Lama ke sana.
Istirahatlah di pondok kami di pesisir ini!

Yogi 3 : Kami mengundang Lama dan rombongan untuk tinggal


di perkampungan ini untuk beberapa waktu, sebelum mencapai kediaman Guru
Kami. Biarkanlah kami melayani Anda dan Para Murid Anda sekalian!

Lama Atisha : Terima kasih sekali atas keramahan kalian kalian


semua. Passtilah Guru Swarnadwipa sangat mulia, sehingga murid- muridnya
sangat baik perhatian dan baik seperti kalian ....oh Para Yogi.....

C.2. Adegan - 3b

Narator: Guru Swarnadwipa mendengar bahwa ada seorang pertapa India yang
termasnyur berserta para muridnya ingin bertemu Beliau untuk memohon ajaran dan
intruksi yang berharga.

Yogi 4 : Terimalah hormat-ku Guru.....!!! Guru, Saya


datang ke sini untuk menyampaikan suatu berita mengenai diri Anda. Ada berita
yang tersebar hangat di negri ini selama sepekan mengenai Anda. Seorang Lama
besar dan terpelajar dari India akan menemui Anda. Beliau adalah Lama Atisha
yang mulia dari negri Benggal di India. Beliau ditemani oleh 125 orang murid yang
telah mengarungi lautan luas hingga dapat sampai di Pulau Emas, Swarnadwipa.
Beliau ingin menerima intruksi “Sang ibu” ( Prajanaparamita), yang melahirkan
semua penakhluk (Para Buddha) dari ketiga kurun waktu, juga intruksi untuk
membangkitkan batin pencerahan aspirasi dan yang berorientasi – tindakan (salah
satu dari 2 jenis batin pencerahan) dan mempraktikkan latihan batin Mahayana.

Guru Swarnadwipa : Sangat baik bahwa seorang pelajar agung telah


datang ke negri kiita. Kita harus pergi dan menyambut Beliau.

C.2. Adegan – 3c

Momen pertemuan Sang Guru Swarnadwipa dan Lama Atisha, mencatat suatu
peristiwa yang berharga. Akhirnya Lama Atisha dapat bertemu dengan Guru yang
dapat melatih Beliau pada batin pencerahan. Prosesi penyambutan oleh para bhiku
yang berjumlah 597 orang, serta terdapat 62 Samanera, dipimpin oleh Guru
Swarnadwipa.

Yang mulia Atisha bersama murid-muridnya yang menguasai lima pengetahuan dan
Tripitaka, masing – masing memakai sepatu dring-migma dan tiga kain religius yang
dicelup dengan safron dari Kashmir, mengikuti praktik yang direkomendasikan
dalam tradisi Mahasamghika. Sebagai pertanda baik mereka juga membawa
mangkuk orang bijaksana yang terbuat dari besi berukuran besardan bebas dari
lubang, pot air kuningan seukuran dengan kotak pengukur dari Magadha, dan
semua perlengkapan lainnya dari seorang bikhu, seperti tongkat Khakkhara, yang
dipuji Buddha. Tanpa merasa bangga, mereka memakai topi pandit dan memegang
di tangan mereka bulu ekor dari yak putih. Semua 125 murid tersebut mengikuti
dalam jarak dekat di belakang Yang Mulia Atisha dalam kelompok yang teratur –
tidak bergerombolan dan juga tidak terpisah jauh hanya berjarak satu dengan yang
lainnya selebar tubuh – dan terlihat seperti kanopi pelangi dengan lima warna.
Bersama – sama maju ke arah Guru Swarnadwipa. Suatu pemandangan yang
menyenangkan hati para dewa dan manusia. (Tarian dan nyanyian)

Berkat kebajikan beliau, hujan bunga dari angkasa oleh para dewa terlihat. Semua
penghuni Pulau Emas juga dipenuhi oleh kekaguman dan keyakinan yang luar biasa
akan perbuatan kedua Guru tersebut.

Lama Atisha : (sambil berjalan menuju Sang Guru Swarnadwipa di


“Istana Payung Perak” dengan teratur, diikuti oleh para murid Beliau)

Guru Swarnadwipa: Selamat Datang........Anak-ku!!!!

Sebagai persembahan, Yang Mulia Atisha memberikan kepada Guru Swarnadwipa


sebuah bejana kristal yang sangat bersih yang bahkan isisnya dapat terlihat dari
luar. Di dalamnya berisi barang – barang berharga, seperti emas, perak, mutiara,
batu karang, dan lapis lazuli. Tindakan ini mkerupakan pertanda baik bahwa Guru
Atisha akan mendengar semua intruksi mengenai latihan batin pencerahan, dan
menjadi dirinya bagaikan cerek yang diisi hingga penuh (murid yang berkualitas).
D. BABAK-4

D.1. Adegan-4a

(Musik tanpa lagu)

Narator: Setelah pertemuan mereka , Guru Atisha membimbing murid barunya ke


ruang pribadi-Nya yang dikenal sebagai “Istana Payung Perak”. Di sana beliau
melakukan tindakan yang merupakan suatu pertanda yang luar biasa ketika beliau
memberikan pelajaran Dharma-Nya yang pertama, sebuah ceramah tentang
Ornamen Realisasi, yang mencakup intruksi pribadi dan memerlukan lima belas sesi
untuk menyelesaikannya.

(musik dan mantram Buddhis hingga akhir adegan)

Guru Swarnadwipa : ( bertindak dengan hormat mengajarkan Dharma-


Nya yang pertama)

Lama Atisha : (mendengarkan dengan penuh seksama, dengan


perenungan yang mendalam akan ajaran yang diberikan)

D.2. Adegan-4b

(Musik Buddhis)

Selama 12 tahun, Guru Atisha mendengar, merenungkan, serta memeditasikan


berbagai intruksi lengkap. Di bawah kaki Guru Swarnadwipa –lah, Yang Mulia Atisha
membangkitkan dalam batin-nya sikap pencerahan yang sejati. Akhirnya Sang Guru
Swarnadwipa menyatakan muridnya sebagai seorang guru dari silsilah ajaran dan
meramalkan bahwa Yang Mulia Atisha akan pergi ke Tibet dan mendidik banyak
murid di sana.

Guru Swarnadwipa : Jangan tinggal disini,... oh Orang Suci! Pergilah


ke Utara! Berangkatlah ke tanah bersalju di bagian utara!

Guru Atisha : ( sujud dengan penuh rasa hormat)

Akhirnya Guru Atisha kembali ke India. Beliau melanjutkan karya di Tibet atas
prakarsa seorang Raja Tibet Hlalama Yeshe Wo. Di Tibet beliau merampungkan
karya beliau yang Agung, yaitu “Tahap-Tahap Menuju Pencerahan”, atau yang
dikenal sebagai “Lamrim”, dan merupakan intisari / esensi dari Tripitaka.

(musik dan mantram Buddhis: Atisha)


DAFTAR RUJUKAN

Rinpoche, Phabongkha. 2008. Pembebasan Di Tangan Kita (Liberation In Our Hands).


Vol.I:
41-95.
Indonesia, Kadam Choeling. 2014. Tim Kidung Mangghala Bhakti (Nyanyian Bhakti
Putra Sadhana). Ed.3: 32-41,& 84.

https://www.kadamchoeling.or.id/cs_team/atisha/

https://www.kadamchoeling.or.id/basis-mahakarunika-di-indonesia

https://www.kadamchoeling.or.id/ilf/

https://www.kadamchoeling.or.id/pusaka-warisan-kadam

https://www.kadamchoeling.or.id/encounter-atisha-and-suvarnadvipa

https://studybuddhism.com/id/buddhisme-tibet/guru-rohani/atisha/kisah-hidup-atisha

http://www.lamrim.com/hhdl/atishaslamp.html

https://treasuryoflives.org/biographies/view/Atisa-Dipamkara/5717

https://www.repository.cam.ac.uk/bitstream/handle/1810/242900/bot_1986_03_03.pdf?s
equence=1

https://www.thlib.org/static/reprints/bot/bot_03_03_04.pdf&ved=2ahUKEwjTo8Hf__3ZAh
VDs48KHeK6C_8QFjADegQIBhAB&usg=AOvVaw20vgeulo3T_6U7LRAmfl4I

http://www.lamrim.com/hhdl/LordAtishasLife.pdf&ved=2ahUKEwjTo8Hf__3ZAhVDs48KH
eK6C_8QFjAHegQIBBAB&usg=AOvVaw2sovSY0KgWb3kDmUqhVll5

http://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/art-architecture/the-buddhist-
kingdoms-of-indonesia.html

http://www.kagyumonlam.or.id/index2.php/biografi-atisha/

https://www.kompasiana.com/santuso/analisis-struktural-naskah-drama-orang-
orang-yang-bergegas-karya-puthut-ea_54f8cc4ba33311b80b8b48c2

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Atiśa

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Dharmakirti
LAMPIRAN

A. Permohonan Kepada Guru Silsilah


(Kidung Manggala Bhakti , halaman 83 – 85)
B. Pujian Kepada Guru Atisha
(Kidung Manggala Bhakti, halaman 32 – 41)