Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH BIOFARMASI

PERJALANAN OBAT DALAM TUBUH UNTUK SEDIAAN SUPPOSITORIA REKTAL

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6
YOS SURYANA 16334009

FARAKH SHOFA A 16334010

DOSEN : Prof. Dr. TETI INDRAWATI, MS., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan
kekuatan dan kemampuan sehingga makalah ini bisa selesai tepat pada waktunya. Adapun tujuan
dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah BIOFARMASI tentang
SUPOSITORIA REKTAL.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing kami Prof. Dr. Teti Indrawati
MS., Apt. yang telah memberikan tugas untuk makalah ini.
Kami menyadari makalah ini belum sempurna dan memerlukan berbagai perbaikan, oleh
karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan. Akhir kata, semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak.

Jakarta, November 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. 1


DAFTAR ISI............................................................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................................... 3
I.A Latar Belakang............................................................................................................................. 3
I.B Tujuan .......................................................................................................................................... 3
I.C Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................................. 5
II.A Anatomi Dan Fisiologi Rektal...................................................................................................... 5
II.B Supositoria ................................................................................................................................... 6
II.C Tujuan Penggunaan Suppositoria ............................................................................................... 7
BAB III PEMBAHSAAN ...................................................................................................................... 18
III.A Faktor Absorpsi Sediaan Supositoria .......................................................................................... 18
III.B Mekanisme Kerja Supositoria Rektal .......................................................................................... 19
KESIMPULAN...................................................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................ 23

2
BAB I PENDAHULUAN

I.A Latar Belakang

Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi, perkembangan di dunia


farmasi pun tak ketinggalan. Semakin hari semakin banyak jenis dan ragam jenis penyakit
yang muncul. Perkembangan pengobatan pun terus dikembangkan. Berbagai macam bentuk
sediaan obat, baik itu liquid, solid dan semisolid telah dikembangkan oleh ahli farmasi dan
industri. Ahli farmasi mengembangkan obat untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, yang
bertujuan untuk memberikan efek terapi obat, dosis yang sesuai untuk di konsumsi oleh
masyarakat.

Supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan
melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat
terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar supositoria yang umum digunakan
adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran
polietilenglikol berbagai bobot molekul dan ester asam lemak polietilen glikol(Anonim).
Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh.
Bahan dasar yang sering digunakan adalah lemak coklat (oleum cacao), polietilenglikol atau
lemak tengkawang (oleum shoreae) atau gelatin.

Penggunaan suppositoria bertujuan untuk tujuan lokal seperti pada pengobatan wasir
atau hemoroid lain dan penyakit infeksi lainnya. Supositoria untuk tujuan sistemik karena
dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum. Supositoria digunakan untuk memperoleh
kerja awal yang lebih cepat, dan juga untuk menghindari perusakan obat oleh enzim didalam
saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hati.
I.B Tujuan

Untuk memahami perjalanan obat dalam tubuh yang diberikan secara supositoria
rektal.

I.C Rumusan Masalah

1. Bagaimana anatomi dan fisiologi rektal?

3
2. Bagaimana pelepasan obat untuk sediaan supositoria rektal?

3. Faktor apa saja yang berpengaruh dalam proses ADME?

4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.A Anatomi Dan Fisiologi Rektal

Secara anatomi rektum terbentang dari vertebre sakrum ke-3 sampai garis anorektal.
Secara fungsional dan endoskopik, rektum dibagi menjadi bagian ampula dan sfingter.
Bagian sfingter disebut juga annulus hemoroidalis, dikelilingi oleh muskulus levator ani
dan fasia coli dari fasia supra-ani. Bagian ampula terbentang dari sakrum ke-3 ke difragma
pelvis pada insersi muskulus levator ani. Panjang rrektum berkisa 10-15 cm, dengan keliling
15 cm pada recto-sigmoid junction dan 35 cm pada bagian ampula yang terluas.
Rektum (Bahasa Latin: regere, meluruskan, mengatur) adalah sebuah ruangan yang
berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Letaknya dalam
rongga pelvis di depan os sakrum dan os koksigius. Struktur rektum serupa dengan yang ada
pada kolon, tetapi dinding yang berotot lebih tebal dan membran mukosanya memuat lipatan
lipatan membujur yang disebut kolumna morgagni. Semua ini menyambung ke dalam
saluran anus struktur rektum bagian sepertiga atas dari rektum, sisi samping dan depannya
diselubungi peritoneum. Di bagian tengah, hanya sisi depannya yang diselubungi
peritoneum. Di bagian bawah, tidak diselubungi peritoneum sama sekali.
Terbagi menjadi dua bagian: sfingter dan ampula. Memiliki panjang 10-15 cm.
Ampula pada rektum memiliki bentuk seperti balon atau buah pir dikelilingi oleh visceral
pelvic fascia. Memiliki empat lapisan: mukosa, submukosa, muskular, dan serosa
kolumnalrektal membantu dalam kontraksi dan dilatasi pada saluran anal dan otot sfingter
rectum. Terdiri atas sel-sel otot bermukosa yang cukup padat, dan mengandung lebih banyak
pembuluh limfa, pembuluh darah, dan jaringan saraf dari pada sel-sel penyusun dinding
rectum di sekitarnya. Anus adalah bukan pada bagian akhir dari usus besar.
Saluran anal merupakan pipa kosong yang menghubungkan rectum (bagian bawah
akhir dari usus besar) dengan anus dan luar tubuh. Letaknya di abdomen bawah bagaian
tengah di dasar pelvis setelah rektum-anus manusia terletak di bagian tengah pantat, bagian
posterior dari periotoneum. Struktur anus saluran anal memiliki panjang sekitar 2-4,5 cm.
Saluran anal dikelilingi oleh otot yang berbentuk seperti cincin yang disebut internal anal
sphincters dan external anal sphincters. Saluran anal dilapisi oleh membrane mukosa, Bagian
atas saluran anal memiliki sel yang menghasilkan mucus yang membantu memudahkan
ekskret keluar tubuh. Bagian bawah saluran anal terdiri dari sel epitel berbentuk kubus.

5
Saluran anal memiliki bagian berbentuk lipatan yang disebut anal colums (kolumnal
anal) Bagian atas kolumnal anal membentuk garis anorectal yang merupakan perbatasan
antara rektum dengan anus, Bagian bawah kolumnal anal memiliki garis dentate yang
menjadi penanda dari daerah dimana terdapat sel-sel saluran anal yang bisa berubah dari sel
penghasil mucus menjadi selepitelkubus, Sel-selepitel anus lebih tebal dari yang di saluran
anal dan memiliki rambut Ada area perianal yang merupakankulit di sekeliling anus sejauh
5 cm. Dinding otot anus diperkuat oleh 3 sfingter yaitu :
1. Sfingter ani internus (tidak mengikuti keinginan)

2. Sfingter levator ani (tidak mengikuti keinginan)

3. Sfingter ani eksternus (mengikuti keinginan)

Gambar 1. Penampang rektal


II.B Supositoria

Pemilihan bentuk sediaan dan rute pemberian memiliki peran yang besar dalam
keberhasilan terapi karena dapat mempengaruhi onset kerja obat serta efek samping yang
dihasilkan. Ibuprofen yang diberikan secara oral merupakan penyebab potensial dari
perdarahan saluran pencernaan dan dapat meningkatkan risiko ulkus lambung. Supositoria
adalah bentuk sediaan padat dimana satu atau lebih bahan aktif terdispersi dalam basis yang

6
sesuai dan memiliki bentuk yang sesuai untuk dimasukkan melalui rektal sehingga
memberikan efek lokal atau sistemik(Fairuz et al.)
Supositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan tetapi untuk
vagina khususnya vaginal insert atau tablet vagina yang diolah dengan cara kompresi dapat
dimasukkan lebih jauh ke dalam saluran vagina dengan bantuan alat khusus.
Dikalangan umum biasanya supositoria rektum panjangnya ± 32 mm (1,5 inci)
berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. Beberapa supositoria untuk rektum
diantaranya ada yang berbentuk seperti peluru, torpedo atau jari-jari kecil tergantung kepada
bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan beratnya pun berbeda-beda. USP
menetapkan beratnya 2 gram untuk oleh orang dewasa bila oleum cacao yang digunakan
sebagai basis, sedang supositoria untuk bayi dan anak ukuran dari beratnya ½ dari ukuran
dan berat untuk orang dewasa, bentuknya kira-kira seperti pensil.
Keuntungan penggunaan obat dalam supositoria dibanding penggunaan obat peroral, yaitu:
 Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung.

 Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan.

 Langsung dapat masuk saluran darah berakibat akan memberi efek lebih cepat dari
pada penggunaan obat per os.
 Bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar.

Kerugian penggunaan sediaan obat dalam bentuk suppositoria:


 Cara pakai tidak menyenangkan

 Absorbsi obat seringkali tidak teratur / sukar diramalkan

 Tidak dapat disimpan dalam suhu ruangan

 Tidak semua obat bisa dibuat suppositoria

II.C Tujuan Penggunaan Suppositoria

1. Kerja Lokal

Setelah dimasukkan, basis supositoria meleleh, melunak atau melarut sehingga


bahan akti terdistribusi ke jaringan daerah tersebut. Bahan aktif tersebut dapat ditunjukkan
7
untuk bertahan dalam rongga untuk efek lokal atau untuk dapat terabsorbsi sehingga
menghasilkan efek sistemik. Supositoria rektal yang ditunjukkan untuk kerja lokal sering
kali digunakan untuk menangani konstipasi atau nyeri, iritasi, gatal dan inflamasi yang
terikat dengan hemoroid atau kondisi rektal lainnya.
Supositoria antihemoroid sering kali mengandung sejumlah komponen meliputi
anastetik lokal, astrigen, analgesik, pelembut yang menyejukkan dan bahan pelindung.
Laksatif yang terkenal, supositoria gliserin, memicu laktasi melalui iritasi lokal membran
mukosa yang kemungkinan disebabkan efek hidrasi gliserin pada membran tersebut.
Supositoria kontarapsepsi, antiseptik pada kebersihan wanita, dan sebagai bahan spesifik
untuk melawan dan menyerang bakteri patogen.(Ansel et al.)

2. Kerja Sistemik
Untuk efek sistemik membrane mukosa rektal dan vaginal memungkinkan absrobsi
berbagai obat terlarut. Meskipun rektal sering digunakan sebagai daaerah absrobsi obat
sistemik, vagina tidak terlalu sering digunakan untuk tujuan tersebut. Supositoria efek
sistemik adalah supositoria yang mengandung senyawa yang diserap dan berefek pada
organ tubuh selain rektum. Pada kelompok ini termasuk supositoria nutritif, supositoria
obat.
Supositoria nutritif digunakan pada penyakit tertentu dimana saluran cerna tidak
dapat menyerap makanan. Jumlah senyawa yang diserap tentu saja sedikit, namun sudah
cukup untuk mempertahankan hidup

Supositoria obat mengandung zat aktif yang harus diserap, mempunyai efek
sistemik dan bukan efek stempat. Bila supositoria obat dimasukan ke dalam rektum
pertama-tama akan timbul efek refleks, selanjutnya supositoria melebur atau melarut dalam
cairan rektum hingga zat aktif tersebar dipermukaan mukosa, lalu berefek setempat dan
selanjutnya memasuki sistem getah bening. Obat yang masuk ke peredaran darah akan
berefek spesifik pada organ tubuh tertentu sesuai dengan efek terapetiknya. Efek sistemik
yaitu untuk pengobatan antimual dan muntah, anti asma, analgesik, hormone, sedative, anti
spasmolitik.

8
Basis yang digunakan tersedia dan ekonomis. Zat aktif harus terdispersi baik dalam
basis dan dapat lepas dengan baik (pada kecepatan yang diinginkan) dalam cairan tubuh di
sekitar suppositoria. Jika zat aktif larut air, gunakan basis lemak dengan kadar air rendah.
Jika zat aktif larut lemak, gunakan basis larut air. Dapat ditambahkan surfaktan untuk
mempertinggi kelarutannya. Untuk meningkatkan homogenitas zat aktif dalam basis
sebaiknya digunakan pelarut yang melarutkan zat aktif atau zat aktif dihaluskan sebelum
dicampur dengan basis yang meleleh. Zat aktif yang larut sedikit dalam air atau pelarut lain
yang tercampur dalam basis, dilarutkan dulu sebelum dicampur dengan basis. Zat aktif
yang langsung dapat dicampur dengan basis, terlebih dahulu digerus halus sehingga 100 %
dapat melewati ayakan 100 mesh. Contohnya meringankan penyakit asma (teofilin,
efedrin, amonifilin), Analgetik dan antiinflamasi (turunan salisilat, parasetamol), Anti
arthritis, radang persendian (fenilbutason, indometasin) Hipnotik & sedatif (turunan
barbiturate), Trankuilizer dan anti emetik (fenotiazin, klorpromazin), Khemoterapetik
(antibiotik, sulfonamida).
1. Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi
lainnya. Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik karena dapat diserap
oleh membrane mukosa dalam rektum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat
per oral tidak memungkinkan seperti pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat karena obat
diserap oleh mukosa rektal dan langsung masuk ke dalam sirkulasi pembuluh darah.
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan
perubahan obat secara biokimia di dalam hati.
Faktor yang mempegaruhi absorpsi obat per rektal yaitu :

1. Faktor fisiologis, antara lain pelepasan obat dari basis atau bahan dasar, difusi obat
melalui mukosa, deteoksifikasi atau metabolisme, distribusi di cairan jaringan, dan
terjadinya ikatan protein di dalam darah atau cairan jaringan. Rektum mengandung sedikit
cairan dengan pH 7,2 dan kapasitas daparnya rendah. Epitel rektum keadannya berlipoid,
maka di utamakan permeable terhadap obat yang terionisir, jumlah obat yang di absorbs
dan langsung masuk peredaran darah umumnya tergantung dimana obat itu dilepas dalam
rektum.
Kadar obat didalam darah tergantung dari faktor :

9
a. Pelepasan obat dari basis.

b. Difusi obat melalui mukosa, lalu di angkat melalui venda dan saluran limfe ke dalam
peredaran darah.
c. Detoksikasi atau metabolism.

d. Distribusi atau metabolisme jaringan.

e. Kemungkinan terjadinya ikatan protein baik di dalam darah dan cairan jaringan.

2. Faktor fisika kimia obat dan basis antara lain kelarutan obat, kadar obat dalam basis,
ukuran partikel, dan basis suppositoria
a. Kelarutan obat

Pelepasan obat dari tergantung pada KP (koeisien partisi) lipid air dari obat. Artinya
obat sangat larut didalam basis lipid dan kadarnya rendah mempunyai tendensi kecil
untuk difusi didalam cairan rektal. Dan obat sedikit larut dalam basis lipid dan
kadarnya tinggi akan segera masuk didalam cairan rektal. Makan gram Barbital Na
akan segera diabsorpsi bila di gunakan basis oleum Cacao.
b. Kadar obat dalam basis

Diusi obat dari basis suppositoria merupakan fungsi kadar obat dan siat kelarutan
obat dalam basis. Pengangkutan melintasi mukosa rektum adalah proses difusi
sederhana, maka bila kadar obat dalam cairan rektal naik maka absorbsi obat akan
menjadi cepat dan kecepatan absorpsi makin tinggi bagi bentuk obat yang
terdisosiasi.
c. Ukuran partikel

Bila kelarutan obat dalam air terbatas, dan tersuspensi didalam basis supositoria,
maka ukuran partikel akan mempengaruhi kecepatan kelarutan dari obat ke cairan
rektal.
d. Basis supositoria

Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak akan dilepas segera
kecairan rektal bila basis cepat melepas setelah masuk kedalam rektum, dan obat
akan segera diabsropsi serta kerja awal dari obat akan segera nyata. Basis berlemak
merupakan basis yang paling banyak dipakai, karena pada dasarnya oleum cacao
10
termasuk kelompok ini, utama dan kelompok ketiga merupakan golongan basis-
basis lainnya.

Diantara bahan-bahan berminyak atau berlemak lainnya yang biasa digunakan


sebagai basis suppositoria : macam-macam asam lemak yang dihidrogenasasi dari
minyak nabati seperti minyak palem dan minyak biji kapas. Juga kumpulan basis
berlemak yang mengandung gabungan gliserin dengan asam lemak dengan berat
molekul tinggi, seperti asam palmitat dan asam stearat, mungkin ditemukan dalam
basis suppositoria berlemak.
Basis Supositoria
Basis supositoria mempunyai peranan penting dalam pelepasan obat yang
dikandungnya. Salah satu persyaratan pertama bagi suatu basis supositoria adalah basis yang
selalu padat dalam suhu ruangan tetapi akan melunak, melebur atau melarut dengan mudah
pada suhu tubuh sehingga obat yang dikandungnya dapat sepenuhnya diperoleh segera
setelah dimasukkan.
Beberapa pembawa hidrofilik yang dapat digunakan dalam pembentukan sistem
dispersi padat adalah PEG (polietilen glikol), PVP (polivinilpirolidon), hidroksipropil
selulosa, hidroksipropilmetil selulosa (HPMC), gum, golongan gula, urea,
hidroksipropilmetil selulosa ftalat dan kitosan.7 Salah satu contoh pembawa golongan gula
adalah xylitol. Xylitol juga terbukti dapat meningkatkan profil disolusi obat lebih besar
dibandingkan sukrosa, HPMC, PEG 4000 dan PEG 6000(Puspayani et al.).
Menurut Farmakope Indonesia IV, basis supositoria yang umum digunakan adalah
lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol
berbagai bobot molekul dan ester asam lemak polietilen glikol.
Basis supositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan zat terapeutik. Yang
perlu diperhatikan untuk basis supositoria adalah :
a. Asal dan komposisi kimia

b. Rentang pelelehan

c. Titik pemadatan

d. Bilangan sabun (saponifikasi)

e. Bilangan iodide

11
f. Bilangan air (jumlah air yang dapat diserap dalam 100 g lemak)

g. Bilangan asam

Syarat basis yang ideal antara lain :

a. melebur pada temperatur rektal

b. tidak toksik, tidak menimbulkan iritasi dan sensitisasi

c. dapat dicampur dengan berbagai obat

d. tidak berbentuk metastabil

e. mudah dilepas dari cetakan

f. memiliki sifat pembasahan dan emulsifikasi

g. bilangan airnya tinggi

h. stabil baik secara fisika ataupun kimia.

i. tidak mempengaruhi efektivitas obat

j. memberi bentuk yang sesuai untuk memudahkan pemakaiannya

k. mempengaruhi pelepasan bahan aktif

Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat

Oleum cacao sebagai basis suppositoria memiliki beberapa keunggulan yaitu


meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan oleh cairan tubuh (Syamsuni, 2005).
Suhu yang cukup tinggi dapat mempengaruhi stabilitas fisik suppositoria dengan basis
oleum cacao, oleh karena itu diperlukan suatu bahan untuk meningkatkan suhu leburnya
(Milala dan avanti, 2006). Pada suhu 30oC oleum cacao akan mulai mencair dan biasanya
meleleh sekitar suhu 34–35oC. Jika suhu pemanasannya tinggi, oleum cacao akan
mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti kristal stabil yang
berguna untuk memadat (Syamsuni, 2005). Salah satu senyawa yang berfungsi sebagai
pengeras atau stiffening agent adalah cera alba yang dapat digunakan untuk menaikkan
dan menurunkan titik leleh oleum cacao. Dilaporkan kurang dari 3% cera alba dapat
menurunkan titik leleh oleum cacao, sedangkan pada penambahan lebih dari 5% dapat

12
menaikkan titik leleh di atas suhu tubuh, dan disarankan penggunaan sebesar 4%
(Nuryanti et al.).
Lemak coklat merupalkan trigliserida, berwarna kekuningan, bau yang khas. Jika
dipanasi sekitar 30º mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 34º- 35º C, tetapi pada
suhu dibawah 30º merupakan masa semi padat, mengandung banyak kristal dari
trigleserida padat dan merupakan bagian nyata dari cairan. Dan yang cair diikat dengan
tenaga tegangan muka. Sering dilupakan dalam melelehkan lemak coklat terdapat kondisi
pemanasan, karena akan memperoleh hasil yang kurang menyenangkandengan adanya
modifikasi sifat fisika yang karakteristik dari asam coklat. Jika pemanasannya tinggi,
lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan kehilangan semua inti krital yang
stabil yang berguna untuk memadat. Bila didinginkan dibawah 15ºakan mengkristal dalam
bentuk kristal metastabil.
Untuk meninggikan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan cera atau
cetaceum. Penambahan cera flava dapar menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air.
Pada pengisiaan masa supositoria ke dalam cetakan, kemak coklat cepat membeku dan
pada pendinginan terjadi susut volume hingga terjadi lubang di atas masa, maka pada
pengisian cetakan harus diisi lebih, baru setelah dingin kelebihannya dipotong.

Suppositoria dengan bahan dasar PEG

PEG adalah polyaethylenglikolum merupakan polimerisasi etilenglikol dengan berat


molekul antara 300 sampai 6000. PEG dibawah 1000 adalah cair sedangkan diatas 1000
adalah padat lunak seperti malam. Kentungan dari bahan dasar mudah larut dalam cairan
alam rektum, dan tidak ada modifikasi titik lebur yang bererti tidak mudah meleleh pada
penyimpanan suhu kamar.
Pembuatan supositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar lalu
dituangkan dalam cetakan seperti pada pembuatan supositoria dengan bahan dasar lemak
coklat. Percobaan hassler dan sperandio dengan bermacam macam garam barbital yang
larut dalam air menunjukkan dengan bahab dasar lemak coklat, aksi kerja awal lebih cepat,
sedangkan dwngan bahan dasar PEG menunjukan aksi lama kerja lebih lama. Ini
disebabkan bahwa coklat adalah cepat meleleh dan obat akan terlepas dan dapat diabsorbsi
sedangkan dengan PEG basis harus larut baru obatnya dapat diabsorpsi.
PEG merupakan basis suppositoria polimer hidrofilik yang paling banyak digunakan.
13
Campuran polietilenglikol (PEG) 400 dan polietilenglikol (PEG) 6000 banyak digunakan
sebagai basis suppositoria karena dapat meningkatkan titik lebur suppositoria sehingga
lebih tahan terhadap suhu ruangan yang hangat, dengan demikian pelepasan obat tidak
tergantung dari titik lelehnya, stabilitas fisik dalam penyimpanan lebih baik, sediaan
suppositoria akan segera bercampur dengan cairan rektal. Oleh karena itu, PEG memiliki
banyak keunggulan dibandingkan lemak, karena basis lemak mudah tengik dan mudah
meleleh pada udara panas sedangkan PEG lebih tahan terhadap udara panas (Nuryanti et
al.).
Keuntungan PEG :

- Tidak berbentuk polimorfisa

- Stabil dan tahan terhadap mikroba

PEG baik untuk pentobarbital, secobarbital, aminofilin, kloralhidrat, asam tanat,


klorbutanol. Tidak bercampur dengan fenol, resorsinol, balsam peru, tannin, kampora,
parasetamol, barbiturate
-Na, asam salisilat, kamfer mengkristal dalam PEG.

Asam salisilat konsentrasi tinggi PEG akan melunak sedangkan aspirin membentuk
komplek dengan PEG.

Supositoria dengan bahan dasar gelatin

Basis gelatin tergliserinasi mengandung air 10%, gliserin 70%, dan gelatin 20%. Basis ini
terlalu lunak untuk dimasukkan dalam rektal sehingga hanya digunakan melalui vagina dan
uretra. Dalam farmakope belanda terdapat formula suppositra dengan bahan dasar gelatin,
yaitu:panasi 2 bagian gelatin dengan 4 bagian air dari 5 bagian gliserin sampai diperoleh
masa yang homogen. Tambahkan air panas sampai diperoleh 11 bagian. Biarkan masa
cukup dingindan tuangkan dalam cetakan, hingga diperolehsupositoria dengan berat 4 g.
Obat yang ditambahkan dilarutkan atau digerus dengan sedikit air atau gliserin yang
disisakan dan dicampurkan pada masa yang sudah dingin. Bila obatnya sedikt dikurangkan
pada berat air dan bila obatnya banyakdikurangkan berat masa bahan dasar.

14
Bentuk Sediaan Untuk Penghantaran Rektal
Bentuk sediaan yang biasanya adalah supositoria, baik suspensi padat atau emulsi
padat, sedangkan kapsul gelatin yang diberikan rektal dapat berisi formulasi cair. Micro-
enema memiliki volume antara 1 dan 20 mL, dan makro enema 50 mL atau lebih, yang
keduanya dapat diberikan baik sebagai larutan atau suspense. Suppositoria suspensi adalah
formulasi yang paling banyak digunakan, dan telah menunjukkan karakteristik pelepasan
yang tergantung pada faktor fisiologis, sifat fisikokimia obat, basis supositoria dan
lingkungan lokal di dalam rektum.

Secara umum, larutan berair dari obat diserap lebih cepat dalam rute rektal daripada
rute oral, tetapi absorpsi biasanya lebih lambat dengan formulasi tak berair, karena
terbatasnya jumlah air yang tersedia untuk disolusi obat.
Obat-obat yang dapat diberikan secara rektal
a. Antikonvulsan

Satu-satunya cara yang paling efektif untuk pengobatan epilepsi atau kejang
berseri adalah memberikan obat antikonvulsan secara intravena Namun, masalah teknis
yang terkait dengan pemberian intravena mendorong bentuk sediaan rektal sebagai
alternatif praktis.

b. Obat praoperasi dan induksi anestesi


Obat pra operasi biasanya diberikan parenteral, namun rute penghantaran yang
lebih dapat diterima, terutama untuk anak-anak, sedang dicari. Pemberian rektal
midazolam menghasilkan efek penenang memuaskan 30 menit setelah pemberian untuk
anak-anak. Pemberian rektal secara berangsur-angsur dari larutan midazolam
hidroklorida (5 g/L: 0,3 mg/kg) pada sukarelawan sehat menghasilkan bioavailabilitas
sekitar 50%, namun studi metabolik menyarankan bahwa absorpsi rektal lengkap dari
obat induk tidak melalui metabolisme lintas-pertama. Absorpsinya cepat, Tmax rata-
rata menjadi 31 menit dan Cmax mencapai 120 μg/L.

c. Analgesik dan antiarthritis


Pemberian oral narkotika analgesik dalam pengobatan nyeri pasca operasi dan
kanker sering dibatasi oleh mual dan muntah, atau kondisi pasien yang lemah. Studi
15
menunjukkan bahwa morfin yang diberikan secara rektal memiliki bioavailabilitas yang
bervariasi jika dibandingkan dengan injeks intramuskular, 30-70% bila diberikan dalam
gel mengandung-pati dan 40-88% dari lemak supositoria yang keras. Meningkatnya pH
microenema morfin rektal dari 4,5 ke 7,4 secara signifikan meningkatkan laju absorpsi.
Hidrogel juga telah digunakan untuk berhasil menghantarkan morfin, menghasilkan
konsentrasi plasma yang lebih rendah dan lebih berkelanjutan daripada morfin
intramuskular yang diberikan sesuai permintaan.

d. Antiemetik
Antiemetik yang diberikan oral mempunyai kelemahan dan karenanya telah
diteliti alizapride, promethazine dan metoclopramide yang diberikan rektal. Pemberian
rektal alizapride sebagai supositoria dalam basis yang tidak spesifik mengakibatkan
bioavailabilitas rata-rata 61% relatif terhadap dosis bolus intravena. Antara alizapride
dan promethazine memiliki profil absorpsi dari pemberian rektal jauh lebih lambat
dibandingkan dengan oral atau intramuscular. Selain itu, promethazine menghasilkan
iritasi rektal yang signifikan

e. Senyawa antibakteri
Metronidazole digunakan secara luas dalam pencegahan dan pengobatan infeksi
bakteri anaerob. Untuk alasan praktis dan ekonomis, beberapa upaya telah dilakukan
untuk mengembangkan formulasi metronidazole rektal, suspensi berair diabsorpsi
dengan cepat, tetapi tidak sempurna.

f. Xantin

Absorpsi Teofilin dari larutan rektal mirip dengan absorpsi dari larutan oral, dan

umumnya terjadi dengan cepat dan secara sempurna. Namun, absorpsi dari supositoria
dapat bervariabel dan tidak lengkap. Menariknya, teofilin diabsorpsi dengan baik ketika
dihantarkan dalam perangkat penghantaran rektal osmotik, meskipun fakta bahwa
tingkat air yang tersedia di rektum sangat rendah.
g. Obat untuk penyakit radang usus

Mesalazine adalah bagian aktif sulphasalazine yang secara lokal digunakan dalam
pengobatan penyakit radang usus, mesalazine dibebaskan dari obat induk yang
diberikan secara oral dalam kolon dengan memisahkan bakteri dari ikatan azo. Hal ini
16
sering dihantarkan oleh enema, terutama pada pasien dengan kolitis ulseratif distal
kolon, karena efek samping dari sulphasalazine oral dianggap berasal dari gugus
sulphapyridine, formulasi spesifik kolon yang telah dikembangkan memiliki
bioavailabilitas sistemik rendah tanpa gugus sulphapyridine.
h. Iritasi dan kerusakan rektal

Aplikasi obat rektal jangka panjang telah dilaporkan menyebabkan iritasi,


pendarahan rektal, rasa sakit, dan bahkan ulserasi. Suppositoria Ergotamine tartrat yang
digunakan pada kisaran dosis 1,5 sampai 9 mg selama periode antara 1 dan 8 tahun dapat
menghasilkan kerusakan rektal, mungkin karena iskemia mukosa yang dihasilkan oleh
alkaloid. Ulserasi rektal dan stenosis juga telah dilaporkan pada pasien yang
menggunakan supositoria mengandung dextropropoxyphene, parasetamol, aspirin,
kafein, carbromal , bromisoval, dan kodein phosphate. Kerusakan rektal muncul hanya
terjadi setelah penggunaan suppositoria setiap hari dalam jangka panjang dan aspirin,
ergotamine dan parasetamol tampaknya yang penjadi penyebab masalah paling umum.

17
BAB III PEMBAHSAAN

III.A Faktor Absorpsi Sediaan Supositoria

Lima puluh persen aliran darah dari rektum melintas sirkulasi portal (biasanya pada
rute oral), sehingga biotransformasi obat (melalui hati dikurangi). Bagian obat yang
diabsorpsi dalam 2/3 bagian bawah rektum langsung mencapai vena cava inferior dan tidak
melalui vena porta. Keuntungan pemberian melalui rektal (juga sublingual) adalah mencegah
penghancuran obat oleh enzim usus atau pH dalam lambung. Obat yang diabsorpsi melalui
rektal beredar dalam darah tidak melalui hati dahulu hingga tidak mengalami detoksikasi
atau biotransformasi yang mengakibatkan obat terhindar dari tidak aktif.
Penyerapan direktum dapat terjadi dengan tiga cara yaitu:

 Lewat pembuluh darah secara langsung

 Lewat pembuluh getah bening

 Lewat pembuluh darah secara tidak langsung melalui hati.

Mukosa rektum dalam keadaan tertentu bersifat permeable sempurna. Penyerapan


rektum kadang-kadang lebih baik dari penyerapan bukal. Selain itu penyerapan juga
tergantung pada derajat pengosongan saluran cerna jadi tidak dapat diberlakukan secara
umum. Bahkan bebrapa obat tertentu tidak diserap oleh mukosa rektum.
Banyak obat yang tidak diresorbsi secara teratur dan lengkap dari rektum, sebaiknya
diberikan dosis yang melebihi dosis oral dan digunakan pada rektum kosong, akan tetapi
setelah obat diresorbsi efek sistemisnya lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan per oral,
berhubung vena-vena bawah dan tengah dari rektum tidak tersambung pada sistem porta dan
obat tidak melalui hati pada peredaran darah pertama, sehingga tidak mengalami perombakan
FPE (first pass effect).
Pengecualian adalah obat yang diserap dibagian atas rektum dan oleh vena rectalis
superior disalurkan ke vena portae dan kemudian ke hati, misalnya thiazinamium.
Penyerapan zat aktif terjadi setelah proses pelepasan, pemindahan, pelarutan dan
penembusan ke cairan rektum dan keseluruhan proses itu dirangkum dalam istilah ”kinetik
pelepasan atau kinetik predisposisi” (A) sedangkan fenomena difusi dan penyerapan disebut
” Kinetika penyerapan” (B). Keseluruhan proses kinetik yang berurutan tersebut tidak dapat

18
saling dipisahkan dan terdapat sejumlah faktor yang berpengaruh pada berbagai tahap
tersebut.

1. pelelehan/peleburan bahan pembawa dan sediaan obat →leleh → pelarutan (zat aktif
berpindah ke cairan rektum) → proses difusi →absorbsi.

III.B Mekanisme Kerja Supositoria Rektal


Dosis obat yang dihantarkan melalui rektal dapat lebih besar atau lebih kecil
dibandingkan obat yang sama yang diberikan secara oral bergantung pada beberapa factor,
seperti keadaan pasien, sifat fisikokimia dan kemampuan obat melalui halangan fisologi
untuk dapat terabsorbsi, serta sifat pembawa supositoria dan kemampuan basis untuk
melepaskan obat sehingga dapat diabsorbsi.
Faktor yang mempengaruhi absorbsi obat melalui rektal dapat dibagi menjadi dua
kelompok besar:
a. faktor fisologis

Antara lain ada tidaknya feses dalam rektum, sirkulasi darah di rektum, beberapa kondisi
patologik seperti diare sehingga terjadi dehidrasi pada tubuh, pH cairan rektal, juga
selaput lendir pada dinding rektum. Untuk memberikan efek yang optimal rektum harus
dikosongkan dulu. Cairan rektal memiliki kapasitas dapar yang rendah, sehingga zat
aktif yang ada di dalamnya ditentukan oleh pH sekelilingnya. Bila diatur pH kritis untuk
memperoleh efisiensi absorpsi yang optimal maka dibutuhkan penambahan dapar ke
dalam formula. Selaput lendir bisa menghambat absorpsi terutama bila selaput lendir
tersebut kental dan tebal. Penempatan supositoria di dalam rektum, bila terlalu dalam
akan menuju vena hemoroidal atas.
b. faktor fisikokimia obat

Antara lain koefisien partisi lemak-air dari zat aktif, kecepatan hancurnya basis,
kecepatan disolusi zat aktif dalam cairan rektal, keadaan zat aktif dalam supositoria (jika
terlarut, maka dalam basis biasanya proses pelepasan dan disolusi zat aktif menjadi lebih
lambat), kelarutan zat aktif dalam cairan rektal, ukuran partikel zat aktif.
Adanya zat tambahan khusus ke dalam basis misalnya surfaktan, dapat merubah
tegangan permukaan selaput mukosa pada rektal sehingga absorpsi zat berkhasiat
menjadi lebih baik. Surfaktan dapat memperbesarkelarutan suatu zat berkhasiat
19
sehingga diabsorpsi lebih cepat, tapi juga dapat membentuk suatu kompleks senyawa
baru yang lambat diabsorpsi.

c. Faktor aliran darah

Makin banyak pembuluh darah di sekitar supositoria maka absorpsi obat akan semakin
cepat. Tetapi luas permukaan absorpsi terbatas di daerah kolon dan tidak ada perbedaan
luas permukaan yang mencolok di daerah kolon, baik di pinggir, di tengah maupun di
dalam daerah kolon. Setelah obat diabsorpsi dari usus halus obat dialirkan melalui vena
hepatic portal ke hati. Hati memetabolisme obat tersebut, dapat berupa modifikasi atau
mengurangi efek obat tersebut. Di lain pihak jumlah yang lebih banyak dari obat yang
sama dengan di atas akan diabsorpsi melalui anorektal.
Vena haemoroid halus yang mengelilingi kolon dan rectum masuk vena kava inferior
sehingga tidak masuk ke hati. Vena haemoroid menuju ke vena portal dan bermuara di
hati. Tetapi lebih dari setengah pemberian melalui rectal diabsorpsi langsung ke
sirkulasi tubuh. Sirkulasi limfa juga membantu absorpsi obat melalui rectal dan
mengalihkannya dari hati. Rectal tidak mempunyai daya kapasitas buffer. Menurut
Schumber, asam dan basa lemah lebih cepat diabsorpsi daripada asam/basa kuat dan
yang terionisasi kuat lainnya.

Karena pemberiannya secara khusus ada kemungkinan terjadinya refleks penolakan


melebihi cara pemberian bentuk sediaan lain maka sediaan obat harus melepaskan zat
aktifnya agar segera menimbulkan efek seefektif cara pemberian oral.

Kinetik predisposisi terdiri atas dua tahap yaitu:

1. Penghancur sediaan yang ditujukan untuk menimbulkan efek farmakologi jauh lebih
cepat.
2. Pemindahan dan pelarutan zat aktif kedalam cairan rektum diikuti difusi menuju
membran yang akan dibacanya (untuk efek setempat) atau berdifusi melintasi embran
agar dapat mencapai sistem peredaran darah(efek sistemik).

Transfer zat aktif dari zat pembawa yang melebur atau terlarut pada mukosa rektum
(merupakan tahap penentu dalam rangkaian proses yang terkait) tidak hanya sebagai fungsi
dari sifat lapisan yang terpapar namun juga keadaannya dalam bentuk sediaan obat dan
20
beberapa sifat fisiko kimianya.
 Sifat zat aktifnya

 Kelarutan zat aktif

 Koefesien partisi zat aktif dalam fase lemak dan cairan rektum

Penyerapan rektum dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang juga mempengaruhi proses
penyerapan pada cara pemberian lainnya, kecuali intra vena dan intaarteri.
Penyerapan perektum dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut:

a. Kedudukan sediaan obat setelah pemakaian

b. Waktu-tinggal sediaan obat didalam rektum

c. pH cairan rektum

d. Konsentrasi zat aktif dalam cairan rektum.

21
KESIMPULAN

Secara anatomi rektum terbentang dari vertebre sakrum ke-3 sampai garis anorektal. Secara
fungsional dan endoskopik, rektum dibagi menjadi bagian ampula dan sfingter
Produk untuk penghantar obat rektal dapat diberikan dalam bentuk padat. Pemakain obat
rektal dapat digunakan baik untuk penghantaran obat lokal atau sistemik. Penghantar obat rektal
lebih disukai untuk obat-obat yang tidak dapat ditoleransi secara oral (misal, suatu obat
menyebabkan rasa mual). Suatu sediaan sustained-release dapat dibuat untuk pemberiaan rektal.
Laju pelepasaan obat dari sediaan ini bergantung pada sifat komposisi dasar dan kelarutan
obat yang terlibat. Absorbsi obat melalui rektal dapat menghindari frist pass effect yang
disebabkan enzim didalam hati. Obat yang diasorbsi melalui daerah rektal bagian atas melewati
vena porta hepatik. Pelepasaan obat supositoria bergantung pada komposisi basis supositoriannya.
Pada umumnya, suatu basis larut air, seperti polietilen glikol dan gliserin, melarut dan melepas
obat; pada sisi lain, basis berminyak pada titik leleh rendah dapat meleleh pada suhu tubuh dan
melepas obat.
Faktor yang mempengaruhi penyerapan obat yaitu:

a) Faktor fisiologi

b) Faktor fisiko kimia obat

c) Faktor aliran darah


Beberapa supositoria mengandung suatu bahan pengelmusi yang menjaga minyak lemak
teremulsi dan melarut didalamnya.

22
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. “Farmakope Indonesia Edisi V.” Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2014, p.

50.

Ansel, Howard C., et al. “Bentuk Sediaan Farmasetis & Sistem Penghantaran Obat Edisi 9.”

Penerbit Buku Kedokteran, 2013.

Fairuz, Danintyi, et al. “Formulasi Dan Evaluasi Dispersi Padat Ibuprofen Dengan Dekstrosa
Sebagai Pembawa Dalam Sediaan Suppositoria.” Pharmaceutical Journal of Indonesia, vol.
Vol.2, no. No.2, 2017, doi:10.1287/mnsc.49.7.936.16380.

Nuryanti, et al. “Formulasi Dan Evaluasi Suppositoria Ekstrak Terpurifikasi Daun Lidah Buaya (
Aloe Vera ).” Acta Pharmaciae Indonesia, vol. 4, no. 1, 2016, pp. 7–14.

Puspayani, Ni Luh Indah, et al. “PENGARUH JUMLAH POLIMER XYLITOL DALAM


SISTEM DISPERSI PADAT TERHADAP DISOLUSI SUPPOSITORIA IBUPROFEN.”
Majalah Kesehatan FKUB, vol. 4, no. 3, 2017, pp. 128–38.

23